Anda di halaman 1dari 14

SISTEM TEKNOLOGI DAN INFORMASI KESEHATAN

Input, Proses, Output Sistem Informasi Surveilans Kesehatan

KELOMPOK 10 A2

Fitria Rahmi 1711211026

Syafa Tasya Salsabila 1711212016

Atika Febria 1711212042

Saskia putri ananda 1711213016

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS ANDALAS

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kelompok ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat
kesehatan dan kesempatan, sehingga kelompok dapat menyelesaikan tugas makalah Sistem
Teknologi dan Informasi Kesehatan yang telah diberikan olehdosenpembimbing. Terima
kasih kelompok ucapkan kepada dosen mata kuliah yang telah membimbing dan membantu
mahasiswa dalam memahami semua hal yang terkait dengan Sistem Teknologi dan Informasi
Kesehatan.

Harapan kelompok semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kelompok, kelompok yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kelompok sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah
ini. Akhir kata kelompok ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita
semua.

Padang, April 2019

Kelompok10 A2

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2


DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 3
BAB I ......................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 5
1.3 Tujuan.......................................................................................................................... 5
BAB II........................................................................................................................................ 6
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 6
2.1 Surveilans .................................................................................................................... 6
2.2 Sistem Informasi Surveilans........................................................................................ 6
2.3 Hubungan Surveilans dan sistem informasi ................................................................ 8
2.4. Input,Proses dan Output Sistem Informasi Surveilans ................................................ 9
BAB III .................................................................................................................................... 13
PENUTUP................................................................................................................................ 13
3.1 Kesimpulan................................................................................................................ 13
3.2 Saran .......................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 14

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Surveilans merupakan pengamatan terus-menerus, aktif, sistematis terhadap kejadian
dan masalah kesehatan pada suatu populasi serta peristiwa yang mempengaruhi
terjadinya masalah kesehatan(Kusnanto,1997). Surveilans memantau terus-menerus
kejadiandan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada
populasi, mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti
perubahan- perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir. Selanjutnya surveilans
menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan
langkah-langkah pencegahan dan pengendalianpenyakit(Last, 2001).
Surveilans dilakukan agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif
dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan, dan penyebaran informasi
epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Surveilans memungkinkan
pengambil keputusan untuk memimpin dan mengelola dengan efektif. Surveilans
kesehatan masyarakat memberikan informasi kewaspadaan dini bagi pengambil
keputusan dan manajer tentang masalah- masalah kesehatanyang perlu diperhatikan
padasuatu populasi atau instansi kesehatan.

Sistem Surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan


Surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara Surveilans
dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan
penyelenggara program kesehatan, meliputi hubungan Surveilans epidemiologi antar
wilayah kabupaten/kota, propinsi dan Pusat.

Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan ini tidak bisa bekerja sendiri. Ada banyak
sistem yang dapat dan mesti menyokongnya, salah satunya adalah sistem informasi.
Dengan kedinamisan zaman, apabila kita masih menggunakan sistem surveilans secara
tradisional dan manual maka akan terhambatlah kemajuan dan pengembangan kesehatan.
Karena tak bisa dipungkiri ada banyak kemudahan yang kita dapatkan dengan adanya
sistem informasi surveilans apabila dapat dikembangkan.
Selain data didesiminasikan, sebenarnya surveilans juga memegang peranan yang
sangat penting dalam pengambilan keputusan dalam dunia kesehatan. Maka dari itu
apabila sistem informasi surveilasn telah dilaksanakan secara terintegrasi dan baik akan
memudahkan kita untuk mencapai cita-cita bersama yaitu Universal Health Coverage

4
serta penanganan dan penanggulangan penyakit dapat terlaksana sebaik mungkin.
Tentunya derajat kesehatan masyarakat Indonesia juga makin baik pula.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi surveilans?
2. Apa pengertian sistem informasi?
3. Apakah hubungan surveilans dan sistem informasi kesehatan?
4. Bagaimana sistem informasi surveilans kesehatan?

1.3 Tujuan
Untuk memberikan informasi dan pengetahuan pada pembaca tentang Sistem
Informasi Surveilans Kesehatan.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Surveilans
Ada beberapa pengertian terhadap Surveilans, yaitu sebagai berikut :
1. Definisi Surveilans menurut Langmuir tahun 1965, adalah kegiatan pengamatan
berkelanjutan terhadap tren dan distribusi dari insiden melalui pengumpulan data,
pengolahan data, evaluasi data laporan sakit, mati dan data lainnya.
2. Definisi Surveilans menurut WHO (World Health Organization), adalah kegiatan
pengamatan berkelanjutan melalui pengumpulan data, pengolahan data, analisis
data, interpretasi data, serta informasi yang perlu untuk melakukan tindakan
(action).
Menurut WHO Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan
interprestasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi
kepada Unit yang membutuhkan untuk diambil tindakan. Oleh karena itu perlu
dikembangkan suatu definisi Surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan
analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa
melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Sehingga dalam
sistem ini yang dimaksud dengan Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis
secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah–masalah
kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan
penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data,
pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program
kesehatan.

2.2 Sistem Informasi Surveilans


Sistem informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi diseluruh
tingkat pemerintah secara sistematis dalam rangka penyelengggaraan pelayanan
kepada masyarakat. Perkembangan Sistem Informasi Rumah Sakit yang berbasis
komputer (Computer Based Hospital Information System) di Indonesia telah dimulai
pada akhir dekade tahun 80’ an. Salah satu rumah sakit yang pada waktu itu telah
memanfaatkan komputer untuk mendukung operasionalnya adalah Rumah Sakit

6
Husada. Departemen Kesehatan dengan proyek bantuan dari luar negeri, juga
berusaha mengembangkan Sistem Informasi Rumah Sakit pada beberapa rumah sakit
pemerintah dengan dibantu oleh tenaga ahli dari UGM.
Namun, tampaknya komputerisasi dalam bidang rumah sakit, kurang
mendapatkan hasil yang cukup memuaskan semua pihak. Ketidak berhasilan dalam
pengembangan sistem informasi tersebut, lebih disebabkan dalam segi perencanaan
yang kurang baik, dimana identifikasi faktor-faktor penentu keberhasilan (Critical
Success Factors) dalam implementasi sistem informasi tersebut kurang lengkap dan
menyeluruh. Perkembangan dan perubahan yang cepat dalam segala hal juga terjadi
didunia pelayanan kesehatan. Hal ini semata-mata karena sektor pelayanan kesehatan
merupakan bagian dari sistem yang lebih luas dalam masyarakat dan pemerintahan
dalam suatu negara, bahkan lebih jauh lagi sistem yang lebih global.
Adapun Peraturan perundang-undangan yang menyebutkan sistem informasi
kesehatan adalah:
1. Kepmenkes Nomor 004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan dan strategi
desentralisasi bidang kesehatan. Desentralisasi pelayanan publik merupakan salah
satu langkah strategis yang cukup populer dianut oleh negara-negara di Eropa
Timur dalam rangka mendukung terciptanya good governance. Salah satu
motivasi utama diterapkan kebijaksanaan ini adalah bahwa pemerintahan dengan
sistem perencanaan yang sentralistik seperti yang telah dianut sebelumnya
terbukti tidak mampu mendorong terciptanya suasana yang kondusif bagi
partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan pembangunan. Tumbuhnya
kesadaran akan berbagai kelemahan dan hambatan yang dihadapi dalam
kaitannya dengan struktur pemerintahan yang sentralistik telah mendorong
dipromosikannya pelaksanaan strategi desentralisasi.
2. Kepmenkes Nomor 932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang petunjuk pelaksanaan
pengembangan sistem laporan informasi kesehatan kabupaten/kota. Salah satu
yang menyebabkan kurang berhasilnya Sistem Informasi Kesehatan dalam
mendukung upaya-upaya kesehatan adalah karena SIK tersebut dibangun secara
terlepas dari sistem kesehatan.SIK dikembangkan terutama untuk mendukung
manajemen kesehatan. Pendekatan sentralistis di waktu lampau juga
menyebabkan tidak berkembangnya manajemen kesehatan di unit-unit kesehatan
di daerah

7
2.3 Hubungan Surveilans dan sistem informasi
Mengutip pernyataan dari CDC / ATSDR (Center for Diseas Control / Agency
for toxic Substance and Disease Regristary) menerangkan bahwa Surveilans atau
Surveillance is the ongoing systematic collection, analysis, and interpretations of
outcome-spesific data for use in the planning, implementation, and evaluation of
public practice.
Sedangkan SIK (Sistem Informasi Kesehatan) adalah gabungan perangkat dan
prosedur yang digunakan dalam program kesehatan untuk mengumpulkan, mengolah,
mengirimkan, dan menggunakan data untuk keperluan perencanaan, monitoring,
evaluasi, dan pengendalian (pengambilan keputusan).
Dengan melihat, kedua pengertian di atas kita bisa mengambil sebuah
kesimpulan bahwa SIK (Sistem Informasi Kesehatan) dan Surveilans memilki sebuah
kesamaan dalam penerapannya. Yaitu sama-sama digunakan untuk melakukan
perencanaan (planning) di bidang kesehatan. Di Indonesia Sistem Surveilans
Epidemiologi merupakan subsistem dari SIKNAS (Sistem Informasi Kesehatan
Nasional) dan mempunyai fungsi strategis dalam intelijen penyakit dan masalah
kesehatan untuk penyediaan data dan informasi epidemiologi dalam rangka
mewujudkan Indonesia Sehat.
Jadi, SIK (Sistem Informasi Kesehatan) dengan Surveilans dapat kita
gambarkan melalui diagram sebagai berikut :

Akan tetapi, surveilans tidak berjalan secara semestinya seperti pengertiannya.


Masih banyak permasalahan yang muncul di tengah-tengahnya. Berdasarkan
observasi WHO (World Health Organization), 2004 menemukan beberapa temuan
terkait surveilans seperti :
a. Kurangnya kesadaran akan pentingnya informasi surveilans penyakit di kalangan
pengelola program kesehatan, pejabat kesehatan, staf pelayanan kesehatan dan
staf surveilans sendiri di semua tingkat.

8
b. Informasi surveilans tidak digunakan dalam pengambilan keputusan.
c. Kualitas data Surveilans tidak memuaskan dan sulit diperbaiki.
d. Tidak dilakukan analisis data surveilans secara memadai.
e. Penyelidikan kejadian luar biasa (KLB) dilakukan sembarangan.
f. Tidak ada motivasi di kalangan staf surveilans untuk meningkatkan kemampuan
diri.
g. Berbagai sistem surveilans penyakit khusus sulit dikoordinasikan dan
diintegrasikan.

2.4. Input,Proses dan Output Sistem Informasi Surveilans


Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi Kesehatan wajib dilakukan oleh setiap
instansi kesehatan Pemerintah, instansi Kesehatan Propinsi, instansi kesehatan
kabupaten/kota dan lembaga masyarakat dan swasta baik secara fungsional atau
structural. Mekanisme kegiatan Surveilans epidemiologi Kesehatan merupakan kegiatan
yang dilaksanakan secara sistematis dan terus menerus dengan mekanisme sebagai
berikut :

a. Identifikasi kasus dan masalah kesehatan serta informasi terkait lainnya.

b. Perekaman, pelaporan dan pengolahan data

c. Analisis dan intreprestasi data

d. Studi epidemiologi

e. Penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkannya

f. Membuat rekomendasi dan alternatif tindak lanjut.

g. Umpan balik.

Jenis penyelenggaraan Surveilans epidemiologi adalah sebagai berikut :

a. Penyelenggaraan Berdasarkan Metode Pelaksanaan

a) Surveilans Epidemiologi Rutin Terpadu,


adalah penyelenggaraan Surveilans epidemiologi terhadap beberapa kejadian,
permasalahan dan atau faktor resiko kesehatan.

9
b) Surveilans epidemiologi Khusus,
adalah penyelenggaraan Surveilans epidemiologi terhadap suatu kejadian,
permasalahan , faktor resiko atau situasi khusus kesehatan
c) Surveilans sentinel,
adalah penyelenggaraan Surveilans epidemiologi pada populasi dan wilayah
terbatas untuk mendapatkan signal adanya masalah kesehatan pada suatu
populasi atau wilayah yang lebih luas.
d) Studi epidemiologi, adalah penyelenggaraan Surveilans epidemiologi pada
periode tertentu serta populasi atau wilayah tertentu untuk mengetahui lebih
mendalam gambaran epidemiologi penyakit, permasalahan dan atau faktor
resiko kesehatan.

b. Penyelenggaraan berdasarkan Aktifitas Pengumpulan Data

1) Surveilans aktif, adalah penyelenggaraan Surveilans epidemilogi dimana unit


Surveilans mengumpulkan data dengan cara mendatangi unit pelayanan
kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.

2) Surveilans Pasif, adalah Penyelenggaraan Surveilans epidemiologi dimana


unit Surveilans mengumpulkan data dengan cara menerima data tersebut dari
unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.

c. Penyelenggaraan Berdasarkan Pola Pelaksanaan

1) Pola Kedaruratan, adalah kegiatan Surveilans yang mengacu pada ketentuan


yang berlaku untuk penanggulangan KLB dan atau wabah dan atau bencana

2) Pola Selain Kedaruratan, adalah kegiatan Surveilans yang mengacu pada


ketentuan yang berlaku untuk keadaan di luar KLB dan atau wabah dan atau
bencana,

d. Penyelenggaraan berdasarkan Kualitas Pemeriksaan

1) Bukti klinis atau tanpa perlatan pemeriksaan, adalah kegiatan Surveilans


dimana data diperoleh berdasarkan pemeriksaan klinis atau tidak menggunakan
peralatan pendukung pemeriksaan.

10
2) Bukti labortorium atau dengan peralatan khusus, adalah kegiatan Surveilans
dimana data diperoleh berdasarkan pemerksaan laboratorium atau peralatan
pendukung pemeriksaan lainnya.

Komponen Sistem Setiap Penyelenggaraan Surveilans epidemiologi Penyakit dan


masalah kesehatan lainnya terdiri dari beberapa komponen yang menyusun bangunan
sistem Surveilans yang terdiri atas komponen sebagai berikut :

1. Tujuan yang jelas dan dapat diukur


2. Unit Surveilans epidemiologi yang terdiri dari kelompok kerja Surveilans
epidemiologi dengan dukungan tenaga profesional.
3. Konsep Surveilans epidemiologi sehingga terdapat kejelasan sumber dan cara-
cara memperoleh data, cara mengolah data, cara-cara melakukan analisis, sarana
penyebaran atau pemanfaatan data dan informasi epidemiologi serta mekanisme
kerja Surveilans epidemiologi.
4. Dukungan advokasi peraturan perundang-undangan, sarana dan anggaran.
5. Pelaksanaan mekanisme kerja Surveilans epidemiologi
6. Jejaring Surveilans epidemiologi yang dapat membangun kerjasama dan
pertukaran data dan informasi epidemiologi, analisis, dan peningkatan
kemampuan Surveilans epidemiologi.
7. Indikator kinerja. Penyelenggaraan Surveilans epidemiologi dilakukan melalui
jejaring Surveilans epidemiologi anatara unit-unit suirveilens dengan sumber
data, antara unit-unit Surveilans dengan pusat-pusat penelitian dan kajian,
program intervensi kesehatan dan unit-unit survelens lainnya.

Sumber Data, Pelaporan dan Penyebaran Data-Informasi

a. Sumber Data Sumber data Surveilans epidemiologi meliputi :

1) Data kesakitan yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan
masyarakat.
2) Data kematian yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan serta
laporan dari kantor pemerintah dan masyarakat.

11
3) Data demografi yang dapat diperoleh dari unit statistik kependudukan dan
masyarakat.
4) Data geografi yang dapat diperoleh dari Unit meteorologi dan Geofisika
5) Data laboratiorium yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan
masyarakat
6) Data Kondisi lingkungan
7) Laporan wabah
8) Laporan Penyelidikan wabah/KLB
9) Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan
10) Studi epidemiologi dan haisl penelitian lainnya
11) Data hewan dan vektor sumber penularan penyakit yang dapat diperoleh dari
unit pelayanan kesehatan dan masyarakat.
12) Laporan kondisi pangan
13) Data dan informasi penting lainnya.

b. Pelaporan Untuk sumber data menyediakan data yang diperlukan dalam


penyelenggaraan Surveilans epidemiologi termasuk rumah sakit, puskesmas,
laboratorium, unit penelitian, unit program-sektor dan unit statistik lainnya.

c. Penyebaran Data dan Informasi Data, informasi dan rekomendasi sebagai hasil
kegiatan Surveilans epidemiologi disampaikan kepada pihak-pihak yang dapat
melakukan tindakan penanggulangan penyakit atau upaya peningkatan program
kesehatan, pusat-pusat penelitian dan pusat-pusat kajian serta pertukaran data dalam
jejaring Surveilans epidemiologi

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
SIK (Sistem Informasi Kesehatan) dan Surveilans memilki sebuah
kesamaan dalam penerapannya. Yaitu sama-sama digunakan untuk melakukan
perencanaan (planning) di bidang kesehatan. Di Indonesia Sistem Surveilans
Epidemiologi merupakan subsistem dari SIKNAS (Sistem Informasi Kesehatan
Nasional) dan mempunyai fungsi strategis dalam intelijen penyakit dan masalah
kesehatan untuk penyediaan data dan informasi epidemiologi dalam rangka
mewujudkan Universal Health Coverage.

3.2 Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini, mahasiswa memiliki pengetahuan
tentang Sistem Informasi Surveilans Kesehatan. Dalam penyusanan makalah ini
saya merasa masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik
yang dapat membangun perbaikan makalah ini sangat diharapkan demi
kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Konsep Dasar Surveil. 68 Slides.

Scribd. 2012. Sistem Informasi Kesehatan. http://www.SISTEM-INFORMASI-


KESEHATAn.htm

SIMKES UGM 2008 (Health Management and Information System). 2008. Gambaran
Sistem Informasi Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur Provinsi
Kalimantan Timur.http://www.SIMKESUGM2008.mht

Trisnantoro, Laksono dkk. Suveilans: Bagaimana Agar Sistem yang Dirancang Pemerintah
Pusat Dapat Berjalan di Daerah? Hal 75-124. DESKES_Bab 1.3-Surveilans Pdf

14