Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Perubahan sosial merupakan sebuah isu yang tidak akan pernah selesai untuk

diperdebatkan. Ada sekelompok orang yang optimis dengan perubahan sosial, ada pula

sekelompok orang yang justru pesimis dengan perubahan sosial. Perubahan sosial itu

menyangkut kajian dalam ilmu sosial yang meliputi tiga dimensi waktu yang berbeda :

dulu(past), sekarang(present), dan masa depan(future). Untuk itulah masalah yang terkait

dengan isu perubahan sosial merupakan masalah yang sulit untuk diatasi dan diantisipasi.

Namun, disisi lain masalah sosial yang muncul dimasyarakat hampir semuannya merupakan

konsekuensi perubahan sosial. Bahkan lebih dari pada itu masalah lingkungan pun hampir

selalu terkait dengan isu perubahan sosial ini.

Dewasa ini perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat tidak hanya terjadi pada

kondisi yang dapat dikatakan nyata atau kontak fisik masyarakat itu sendiri”langsung”.

Namun isu-isu yang terjadi dan berkembang dalam masyarakat serta masalah masalah yang

dialami€ oleh masyarakat itu sendiri lebih cenderung diangkat pada media hasil cipta

manusia yang termasuk golongan masyarakat tersebut yaitu Dunia Maya

Perubahan cara berinteraksi sosial ini merupakan salah satu sosiologi perubahan

sosial dalam prespektif modern dan itu merupakan efek modernisasi globalisasi. Isu

perubahan sosial telah menjadi sasaran kajian sosiologi sejak awal lahirnya. Sosiologi lahir

pada abad 19 sebagai upaya memahami tranformasi fundamental dari masyarakat tradisional

ke masyarakat modern, yakni munculnya tatanan masyarakat urban, industrial dan kapitalis.

Kita kini hidup di era perubahan sosial yang mengagumkan, yang ditandai oleh

transformasi yang sangat berbeda dari yang pernah terjadi di era sebelumnya. Keruntuhan
1
sosialisme Soviet, makin berkurangnya pembagian kekuasaan dunia atas dua blok,

pembangunan sistem komunikasi global yang makin intensif, makin berjayanya kapitalisme

ketika kesenjangan dunia makin parah dan meluasnya masalah ekologi. Semua persoalan

itu menjadi tantangan ilmu sosial dan tantangan itu harus di hadapinya. (1991:XV)

*Piotr, Sztompka, 1993. Sosiologi Perubahan Sosial. Prenada Media Gruop, Jakarta : V-V

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian diatas dapat dirumuskan beberapa masalah :

1. Bagaimana perubahan sosial di era globalisasi dan permasalahan apa yang akan

terjadi

2. Contoh kasus dari saling terjang kata didunia yang tidak nyata (dunia maya) yang

merupakan sosiologi perubahan sosial sesuai UU ITE No 11 Tahun 2008

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini :

1. Untuk mengetahui salah satu perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat

yang merupakan sebuah isu yang kontemporer yang yang mendasar dan sedang

hangat terjadi dikalangan masyarakat. Yaitu dimana kemajuan era globalisasi

yang ikut dan mempunyai peran vital dalam perubahan sosial dimana kemajuan

dalam bidang teknologi informasi yang perubahan tersebut secara disengaja

maupun tidak disengaja melanggar ketentuan yang telah berlaku

2
2. Memperlihatkan kepada kita bahwasanya perubahan yang terjadi harus selalu

dibarengi sikap berhati-hati dalam menyikapi karena bukan tidak mungkin

perubahan ini bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.

1.4 Manfaat

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk :

1. Menjelaskan kepada kita bahwa perubahan sosial harus dibarengi dengan

kebijakan kebijakan dalam menyikapi baik secara pribadi maupun institusi, agar

perubahan yang terjadi bukan menjadi masalah yang bisa merusak jiwa sosial itu

sendiri. Semakin maju kemajuan teknologi semakin banyak perubahan sosial

yang terjadi dan dibutuhkan hukum sebagai wadah untuk mengikat agar

masyarakat tidak asal terpikat dengan hal yang belum jelas asal muasal.

2. Mengetahui ketentuan hukum yang berlaku

3. Mendapati contoh untuk bahan pembelajaran diri untuk berhati-hati dalam

berhubungan dan berinteraksi dalam dunia maya.

3
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Memaknai paradigma perubahan


Perubahan sosial dan perubahan kebudayaan hanya dapat dibedakan dengan

membedakan secara tegas pengertian antara masyarakat dan kebudayaan. Dengan

membedakan kedua konsep tersebut, maka dengan sendirinya akan membedakan antara

perubahan sosial dengan perubahan kebudayaan. Terdapat perbedaan mendasar antara

keduanya, perubahan sosial merupakan bagian perubahan budaya. Perubahan sosial meliputi

perubahan dalam perbedaan usia, tingkat kelahiran, dan penurunan rasa kekeluargaan

antaranggota masyarakat sebagai akibat terjadinya arus urbanisasi dan modernisasi.

Perubahan kebudayaan jauh lebih luas daripada perubahan sosial. Perubahan budaya

menyangkut banyak aspek dalam kehidupan seperti kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi,

aturan-aturan hidup berorganisasi, dan filsafat. Perubahan sosial dan perubahan budaya

dalam masyarakat saling berkaitan, tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan

dan sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan tanpa masyarakat.

Proses perubahan sosial dapat diketahui dari ciri-cirinya sebagai berikut: pertama,

tidak ada msayarakat yang berhenti perkembangannya karena setiap masyarakat mengalami

perubahan yang terjadi secara lambat maupun cepat. Kedua, perubahan yang terjadi pada

lembaga-lembaga kemasyarakatan tertentu akan diikuti oleh perubahan pada lembaga-

lembaga sosial yang lain. Ketiga, perubahan yang berlangsung sangat cepat, biasanya

mengakibatkan disorganisasi karena dalam masyarakat ada proses penyesuaian atau

adaptasi. Disorganisasi yang diikuti oleh proses reorganisasi akan menghasilkan pemantapan

kaidah-kaidah nilai yang baru. Keempat, suatu perubahan tidak dapat dibatasi pada aspek

4
kebendaan atau sprituralnya saja, karena keduanya mempunyai hubungan timbal balik yang

kuat. Dan yang terakhir kelima, yaitu secara tipologis.

Dalam hal semua ini perubahan sosial masyarakat tentang menghadapi dan

menyikapi perubahan sosial itu sendiri dan gejala-gejalah yang ada didalamnya seperti

berada dalam titik tersendiri dimana sebuah layanan yang merupakan karya manusia

dibidang teknologi dalam perkembangan globalisasi menjadi fokus yang dapat dikatakan

fundamental karena bisa menjadi tolak ukur dalam masyarakat tentang bagaimana

masyarakat itu sendiri dalam bersikap dan melakukan suatu hal. Dunia yang tidak nyata

disebut dengan dunia maya karena semua orang yang berinteraksi berada dalam posisi dan

kondisi masing masing namun bisa berinteraksi layaknya interaksi langsung antar induvidu

atau kelompok tersebut. Namun dalam perkembangannya dan berjalan dengan realita yang

ada timbul suatu perubahan baru dalam masyarakat menyangkut perubahan sosial dan

hadirlah beberapa masalah baru bersamaan dengan itu semua.

2.1.1 Lahirnya Problematika baru

Gejolak dalam perubahan ini sedikit banyaknya menghadirkan model pergesekan-

pergesekan diantara masyarakat itu sendiri. Saling terjang kata karena kata merupakan alat

penyampai dalam media ini dan sewaktu-waktu dapat bertansformasi menjadi pedang yang

dapat menyakiti pihak lain. Jika dulu ada peribahasa yang mengatakan “mulutmu adalah

harimaumu” maka didunia maya itu sirna dan berubah menjadi”ketikanmu adalah

pedangmu” pedang itu bisa menyakiti bahkan membunuh dia yang ditujuh oleh induvidu

tersebut namun juga bisa berbalik arah menikam orang yang berada dibalik kata.

Bagaikan gayung bersambut setiap perubahan sosial yang terjadi memungkinkan

akan melahirkan problematika baru yang ada dikehidupan masyarakat. Perubahan sosial

5
bukanlah sebuah proses yang terjadi dengan sendirinya secara tiba-tiba. Secara umum ada

beberapa faktor yang berkontribusi dalam memunculkan perubahan sosial. Faktor tersebut

dapat digolongkan pada faktor dari dalam dan faktor dari luar. (Soekanto, 1999).

Faktor yang berasal dari dalam. Pertama, bertambah dan berkurangnya penduduk.

Kedua, penemuan penemuan baru. Penemuan penemuan baru yang berupa teknologi yang

mana faktor ini dapat mengubah cara induvidu berinteraksi dengan orang lain. Ketiga,

pertentangan dan konflik. Proses perubahan sosial dapat terjadi sebagai akibat adanya

konflik konflik sosial dapat terjadi manakala ada perbedaan kepentingan atau terjadi

ketimpangan sosial dan faktor yang ketiga ini sedikit berketerkaitan dengan faktor penyebab

perubahan sosial yang kedua. Dimana, dari cara berinteraksi induvidu berinteraksi dengan

orang lain yang berada di media hasil penemuan baru yang berupa teknologi menimbulkan

beberapa konflik sosial dan itu menyangkut tentang kepentingan-kepentingan baik secara

pribadi maupun kelompok(organisasi). Konflik itu lahir dari cara dan pola interaksi sosial

yang salah dan lebih mementingkan kepentingan lalu terjadilah yang namanya saling terjang

kata didunia yang tidak nyata(dunia maya). Opini bertranformasi menjadi ragumentasi yang

pada dasarnya secara hakiki tidak sesuai hati namun demi kepentingan membenarkan semua

cara dan merelakan diri menabrakan argumen dengan opini orang dari sisi lain melakukan

hal sama menyatakan bahwa yang disampaikan melalui ketikan adalah sebuah kebenaran.

Konflik pribadi, konflik organisasi, bahkan konflik dengan penguasa negeri sendiri itu

terjadi. Konflik-konflik sosial tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan

menghasilkan sebuah perubahan sosial, misalnya pergantian penguasa, akomodasi

antarpihak yang bertikai, serta munculnya berbagai kesepakatan atau perubahan baru. Suatu

perubahan dapat muncul karena suatu konflik atau kompetisi diantara induvidu atau

kelompok dalam masyarakat.

6
Faktor yang berasal dari luar. Pertama, terjadinya bencana alam atau kondisi

lingkungan. Kedua, perperangan

Gambar 1.0

Induvidu masyarakat yang beradu opini dengan masyarakat lain

Ketika induvidu masyarakat beradu opini dengan induvidu-induvidu lain dalam

masyarakat akan senantiasa menghadirkan dampak perubahan sosial. Dampak perubahan

sosial terjadi baik dari sisi positif maupun sisi negarif. Untuk itu, dalam merespon

perubahan diperlukan kearifan dan pemahaman yang mendalam mengenai nilai, arah,

program, dan strategi yang sesuai dengan sifat dasar perubahan itu sendiri. Dampak inipun

dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Dampak tidak langsung ini

7
merupakan efek domino sebuah perubahan sosial yang terjadi secara bertahap atau gradual,

dampak ini tidak dapat langsung dirasakan masyarakat. Bahkan, dampak ini dapat

berwujud secara laten.

Pada saat pertabrakan opini dimasyrakat inilah akan rawan menimublkan korban

yang salah satu pihak atau kedua bela pihak melanggar ketentuan hukum yang berlaku.

Seperti kejadian yang sering terjadi dibelakang hari ini. Banyak induvidu yang tersandung

kasus hukum karena ciutan di media sosial yang mana ada sebagian induvidu lain atau

pihak yang lain yang tidak terima akan ciutan tersebut dan melaporkan ciutan yang dapat

dikategorikan melanggar hukum itu kepada pihak yang berwajib. Ini merupakan hasil

dampak negatif dari perubahan sosial itu sendiri.

2.2 Pandangan sosiologi dalam perubahan sosial.

Sosiologi perubahan sosial memikul “dosa warisan”. Pewarisnya justru bapaknya

sendiri, Aguste Comte (1798-1857) yang membagi sistem teorinya menjadi dua bagian

terpisah : statika sosial dan dinamika sosial. Berdasarkan perbedaan itulah kemudian

Herbert Spencer (1820-1903) menganalogikan masyarakat dengan organisme biologis.

Statika sosial memperlajari anatomi masyarakat yang terdiri dari bagian-bagian dan

susunannya seperti mempelajari anatomi tubuh manusia yang terdiri dari organ, kerangka

dan jaringannya. Dinamika sosial memusatkan perhatian pada psikologi, yakni pada proses

yang berlangsung dalam masyarakat seperti berfungsinya tubuh(pernafasan, metabolisme,

sirkulasi darah) dan menciptakan hasil akhir berupa perkembangan masyarakat yang

dianalogikan dengan pertumbuhan organik(dari embrio kekedewasaan). Implikasinya

adalah masyarakat dibayangkan berada dalam keadaan tetap yang dapat dianalasis sebelum

terjadi, atau terlepas dari perubahan.

8
*Piotr, Sztompka, 1993. Sosiologi Perubahan Sosial. Prenada Media Gruop, Jakarta : 1

Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi didalam atau

mencakup sistem sosial. Lebih tepatnya, terdapat perbedaan antara keadaan sistem tertentu

dalam jangka waktu yang berlainan. Untuk itu, konsep dasar mengenai perubahan sosial

menyangkut tiga hal yaitu, : pertama, studi mengenai perbedaan; kedua, studi harus

dilakukan pada waktu yang berbeda; dan ketiga, pengamatan pada sistem sosial yang

sama(Sztompka, 1994). Artinya untuk dapat mengetahui studi perubahan sosial, kita harus

melihat adanya perbedaan atau perubahan kondisi objek yang menjadi fokus studi. Kedua,

studi perubahan sosial harus dilihat dalam konteks waktu yang berbeda. Ketiga, objek yang

menjadi fokus studi komparasi tersebut haruslah objek studi yang sama.

Perubahan memiliki makna yang sangat luas, meliputi perubahan secara makro

(perubahan dalam sistem sosial) dan mikro (menyangkut perubahan dalam dimensi interaksi

antar induvidu). Perubahan sosial dapat dipelajari dari dua tingkat analisis tersebut. Studi

perubahan sosial melibatkan tiga dimensi waktu, dulu, sekarang, dan masa depan. Ketiga

dimensi waktu ini merupakan kunci untuk mengamati jalannya perubahan sebuah

masyarakat. Ada sebuah teori mengenai perubahan sosial ini yakni Teori Posmodern “post

this, post that, post-the-other, yet in the end. Not past a thing. Not understanding or telling

or forgiveness. But often past oneself, pounded like a shore by the roller griefs. In language

that can still knock language sideways (Heaney, in O’Donnell, 2003)

2.3 Paham posmodern

Istilah posmodern memang tidak memiliki definisi yang pasti dan mampu merangkul

seluruh hasil pemikiran para teoritikus yang menanamkan diri mereka sebagai kelompok

posmodernisme. Secara sekilas konsep posmodern dirangkai dari konsep post dan modern;

9
post dapat dimaknai sebagai era sesduah, sehingga posmodern mengandung makna setelah

modrenitas atau setelah sekarang (O’Donnel, 2003; Ritzer, 2003). Namun definisi

posmodern tidak sesederhana itu. Konsep ini tidak terbatas kepada dimensi waktu(post-

sesudah), namun meliputi juga dimensi sosial budaya yang menjadi objek pemikiran di era

posmodern ini.

Piliang (2006) menyebut istilah posmodernisme sebagai istilah yang digunakan untuk ;

“... Menjelaskan kecenderunan baru pemikiran dan realitas budaya sebagai

konsekuensi berakhinya modernnisme; yang ditandai dengan semakin terbatasnya gerak

kemajuan(progress) dan kebaruan(newness), di dalam berbagai bidang kultural, sehingga

kebudayaan memalingkan mukannya kewilayah-wilayah masa lalu dalam upaya memungut

kembali berbagai bentuk, simbol dan maknannya untuk menjelaskan kecenderunggan

perkembangan modernisme ke arah yang melampaui(hyper) atau melewati(beyond) yaitu

perkembangan unsur-unsur modernitas ke arah garis-garis batas yang seharusnya tidak

dilewati, sehingga menggiringnta pada kondisi ekstrim..”

Posmodern merupakan sebuah tahap perkembangan sosiologi yang sangat penting..

ia mencerminkan sebuah pemikiran baru yang seolah-olah berusaha mambuang mitos bahwa

modernisasi selalu menghasilkan sebuah kemajuan bagi manusia. Selama ini, modernisasi

selalu diposisikan sebagai kiblat kemajuan yang merupakan hasil pembongkaran kegagalan

tradisionalisme yang dipandang telah ketinggalan zaman atau kuno. Modernisasi

menawarkan berbagai pola hidup baru yang jauh berbeda dengan masa tradisional.

Posmodern ingin merombak semua pandangan tersebut dengan melakukan berbagai

kritik mengenai fenomena perkembangan dan perubahan gaya hidup modern. Menurut

posmodern, masyarakat modern adalah masyarakat yang sangat induvidualis dan

10
mengagungkan teknologi dan rasionalitas. Sementara, mereka sendiri sebenarnya berada

pada irasionalitas.

2.3.1 Adanya peran Modernisasi dan Globalisasi

Dalam modernisasi inilah konflik didunia baru terjadi, dimana pandangan hidup

seseorang makin jauh makin lama makin banyak saling bertentangan karena dasar

individualitas yang melupakan dasar hidup manusia yang terlahir menjadi masyarakat dan

memegang teguh tatanan yang mengatur kehidupan masyarakat itu sendiri.

“kini indonesia tak sama lagi. Ia terasa jauh dibandingkan 30 tahun lalu. Saya takut

ia menjadi tanah yang asing”

*Barack, obama. 2006. Dari Jakarta menuju gedung putih. Jakarta, Ufuk Press : 11

Hari ini bangsa indonesia menghadapi salah satu perubahan sosial yang terjadi di

masyarakat indonesia. Sesuai dengan petikan kalimat karya salah satu senator terbaik

amerika serikat yang begitu dekat dengan bangsa ini Barack Hussein Obama. Dalam

bukunya The Audity of Hope ; Thoughts on Reclaming The American Dream.

Setiap induvidu memliki masalah begitu juga dengan konflik yang terjadi dalam satu

kelompok termasuk dengan perubahan perubahan tatanan hidup berbangsa dan bernegara

dalam cakupan interaksi sosial dalam masyarakat. Perubahan pandangan yang cenderung

induvidualis yang pandangan itu tidak jarang bertentangan dengan pandangan suatu

kelompok masyarakat atau bahkan pemimpin yang ada dalam masyarakat itu sendiri.

Sudah hampir satu dekade teknologi dibidang komunikasi lebih berkuasa dalam

menyampaikan aspirasi yang ada. Lahirnya media-media yang menjadi wadah

mengungkapkan kata-kata lebih sering menjadi petunjuk menuju sensara rasa. Bagaimana

11
tidak, jika opini yang diumbar kehadapan publik merupaka sebuah hal yang melanggar

norma yang ada dalam masyarakat atau lebih jauh lagi melanggar Undang-Undang yang

berlaku. Dan jika itu terjadi argumentasi tanpa didasari pemikiran jernih malah akan

berujung buih. Perubahan sosial yang menghasilkan dampak negatif bagi induvidu itu

sendiri.

Gambar 1.1

Postingan induvidu yang menyinggung sebuah kelompok masyarakat

Saat teknologi menjadi tempat luas untuk segala hal, berkreasi, berkarya, berdakwah,

bertukar kata, bertukar rasa, beropini, dan beragumentasi. Saat itu juga induvidu itu

dihadapkan pada sesuatu yang disebut rules of control . perubahan sosial yang terjadi

menghasilkan tatanan hidup baru dan barang tentu beriringan dengan hukum yang

mengaturnya.

12
2.4 Contoh perilaku induvidu yang menjadi sorotan publik

Jakarta, Model News – Pekan lalu perhatian masyarakat tertuju ke Polda

Yogyakarta terkait dengan penahanan Florence Sihombing. Mahasiswi S2 UGM ini ditahan

karena diadukan LSM akibat “kicauan”-nya di Path yang mengiha rakyat Yogyakarta.

Kehadiran media sosial, seperti Facebook, Twitter, Blog, Path,BBM, dll., membawa

perubahan yang sangat radikal dalam berkomunikasi. Apalagi media sosial tsb. dapat dilihat

melalui telepon genggam atau telepon seluler (ponsel) yang setiap orang bisa memiliknya.

Celakanya, apresiasi sebagian orang terhadap etika ber-media sosial sangat rendah

karena tidak ada regulasi yang langsung meng-intervensi. Selain itu sosialisasi terkait

dengan aturan main agar tetap pada koridor hukum juga tidak ada sehingga masyarakat pun

menganggap media sosial sebagai “cerobong asap”.

Akibatnya, sebagaian orang tidak memahami dampak hukum jika memakai media

sosial sebagai tempat menuliskan sesuatu yang merugikan pihak lain, seperti menyebarkan

fitnah, memutarbalikkan fakta, menyebarkan kabar bohong, dll.

Sosialisasi UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) No 11 Tahun 2008 juga

tidak merata sehingga banyak orang yang tidak mengetahui pasal-pasal di UU itu yang bisa

menjerat perbuatan yang melawan hukum.

Salah satu pasal yaitu pasal 27 ayat 3 disebutkan: “Setiap Orang dengan sengaja dan

tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya

Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan

dan/atau pencemaran nama baik.”

13
Sanksi pidana bagi yang melakukan pasal 27 ayat 3 diatur di Pasal 45 ayat 1: Setiap

Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat

(3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda

paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Perbuatan yang sesuai dengan pasal 27 ayat 3 merupakan perbuatan yang melawan

hukum dengan sanksi pidana yang juga disebut sebagai kriminal.

Pasal 27 ayat 3 inilah yang dipakai banyak kalangan untuk melaporkan tulisan dan

status di media sosial. Catatan yang ada pada penulis (berdasarkan berita) menunjukkan

sudah ada 25 kasus yang dilaporkan ke polisi.

Kasus terakhir yang menghebohkan adalah kasus penghinaan yang dilakukan oleh

Florence Sihombing, mahasiswi S2 Kenotariatan UGM Yogyakarta, yang menghina rakyat

Yogyakarta melalui status-nya di Path. Florence bersiteru dengan karyawan SPBU yang

menegurnya karena tidak mau antre. Tapi, Florence justru menyerang rakyat Yogyakarta

dengan menyebut bangsat, miskin, tolol dan tak berbudaya.

Kita bisa berkaca dari kasus-kasus yang tersandung dengan UU ITE (diolah dari

berbagai sumber):

Dalam kasus diatas jelas perubahan sosial yang terjadi memicu model konflik baru

yang berkembang ditengah-tengah masyarakat khususnya indonesia. Undang-Undang yang

berlaku menjerat pelaku walau mungkin si pelaku merupakan korban dari perubahan sosial

itu sendiri.

Contoh Kasus Lain Pelanggaran UU ITE Pasal 28 ayat (2)

14
Bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE adalah sebagai berikut:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan

untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok

masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Contoh kasus lainnya :

Pertama, kasus Sandy Hartono yang diadili Pengadilan Negeri Pontianak tahun 2011.

Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Pontianak tanggal 20 September 2011 Nomor :

347/Pid.B/2011/PN.PTK ia terbukti membuat akun facebook palsu dan memasukkan

gambar-gambar maupun kalimat yang berisikan penghinaan terhadap agama Islam. Ia di

pidana penjara selama 6 (enam) tahun dan pidana denda sebesar Rp. 500.000.000,00 (lima

ratus juta rupiah) karena dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang

ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok

masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA),

Kedua, kasus Alexander Aan yang diadili di Pengadilan Muaro Sumatera barat tahun

2012, berdasarkan putusan No 45 /PID.B/2012/PN.MR ia di hukum dua tahun penjara dan

3 bulan serta denda 100 juta karena terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan

Tindak Pidana “Dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk

menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat

tertentu berdasarkan atas Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA)” berdasarkan

putusan pengadilan ia terbukti telah Terdakwa telah membuat di Akun Facebook Terdakwa

(Group Ateis Minang) yang bernama Alex Aan, email indesgate@yahoo.co.id berupa tulisan

yang menghina agama.

15
Ketiga kasus, Kasus Muhamad Rokhisun yang diadili di pengadilanm negeri Pati

tahun 2013, berdasarkan Putusan Nomor: 10/Pid.Sus/2013/PN.Pt. ia pidana penjara selama:

5 (lima) dan denda sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) subsidair 6 (enam) bulan

kurungan. Ia terbukti Dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan

untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok

masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA)”; dengan

cara membuat status atau kata-kata yang menyerang serta menista agama.

Keempat, kasus I Wayan Hery Christian, ia divonis penjara tujuh bulan karena

terbukti bersalah dalam persidangan di Pengadilan Negeri Palu. Putusan menyatakan bahwa

ia terbukti melakukan tindakan penistaan agama melalui sarana informasi teknologi sesuai

pasal 28 ayat (2) juncto pasal 45 Ayat (2) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi

Transaksi dan Elektronik (ITE). Ia membuat status yang melecehkan di media sosial karena

merasa terganggu suara takbir menyambut Idul Adha. Ternyata status I Wayan Hery tersebut

tersebar luas di masyarakat dan akhirnya dilaporkan warga ke polisi. ia dan pihak keluarga

juga telah meminta maaf kepada masyarakat luas atas perbuatannya.

Sumber : http://icjr.or.id/tren-penggunaan-pasal-28-ayat-2-ite-terkait-penyebar-

kebencian-berbasis-sara-akan-meningkat/

2.5 Manusia sebagai makhluk sosial

Manusia sebagai makhluk sosial, manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang maha esa,

dengan struktur dan fungsi yang sangat sempurna bila dibandingkan dengan makhluk tuhan

laiinnya. Manusia juga diciptakan sebagai makhluk multidimensional, memiliki akal pikiran

dan kemampuan berinteraksi secara personal maupun sosial. Karena itu manusia disebut

makhluk yang unik, yang memiliki kemampuan sosial sebagai makhluk induvidu dan

16
makhluk sosial. Disamping itu, semua manusia dengan akal pikirannya mampu

mengembangkan kemampuan tertingginya sebagai makhluk ciptaan tuhan yaitu memiliki

kemampuan spritural, sehingga manusia disamping makhluk induvidu, makhluk sosial, juga

sebagai makhluk spiritural.

Menurut Soerjono Soekanto (soekanto, 1992: 471) sosiologi komunikasi merupakan

kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi sosial yaitu suatu hubungan atau

komunikasi yang menimbulkan proses saling pengaruh mempengaruhi antara para induvidu,

induvidu dengan kelompok maupun antar kelompok. Menurut Soekanto, sosiologi

komunikasi juga ada kaitannya dengan public speaking.yaitu bagaimana seseorang berbicara

kepada publik. Lebih jauh lagi Soerjono Soekanto (2002: 65), menjelaskan bahwa kontak

sosial berasal dari bahasa latin con atau cum (bersama-sama) dan tango (menyentuh). Jadi,

artinya secara harfiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak sosial baru

terjadi apabila adanya hubungan fisikal, sebagai gejalah sosial hal itu bukan semata-mata

hubungan hadaniah, karena hubungan sosial terjadi tidak saja secara menyentuh seseorang,

namun orang dapat berhubungan dengan orang lain tanpa harus menyentuhnya. Misalnya

kontak sosial sudah terjadi ketika seseorang berbicara dengan orang lain, bahkan kontak

sosial dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi. Seperti melalui telepon, telegram,

radio, surat, televisi, internet dan sebagainya. Artinya Soeryono Soekanto pun membenarkan

bahwa komunikasi yang terjadi dalam dunia baru atau dunia maya itu merupakan salah satu

bentuk kontak sosial yang melalui wadah internet.

“mempelajari kehidupan manusia disaat tertentu jelas lebih bermanaat, karena

lebih realistis, ketimbang mempelajari dengan membayangkannya berada dalam keadaan

diam (1963: 81)

*Piotr, Sztompka, 1993. Sosiologi Perubahan Sosial. Prenada Media Gruop, Jakarta : 9

17
Dari petikan kalimat tersebut jelas menyampaikan bahwa mempelajari retorika

problematika dalam kontak sosial di sosiologi perubahan sosial pada era ini perlu. Karena

kejadian-kejadian sosial yang cenderung lebih membebaskan induvidu untuk memberikan

argument tanpa terkadang menyadari bahwa argument telah melanggar hukum yang berlaku.

Semakin banyak kontak sosial, dewasa ini dimana globalisasi menjadi talk line dunia dan

dunia maya menjadi basis utama dalam kontak sosial yang menghubungkan jutaan umat dari

seluruh penjuru dunia dan dapat terhubung secara langsung. Globalisasi membawa atau

mempengaruhi sipengguna komunikasi untuk terus menkonsumis berita demi berita dan

opini sampai induvidu yang terjerus arus era teknologi lupa mana yang reality dan mana

opini giringan orang-orang yang lupa diri. Maka dari itu sebagai pengguna dunia maya

seharusnya lebih bijaksana dalam menggunakan sosial media. Karena, seluruh induvidu dari

berbagai tempat dapat terhubung langsung dengan apa yang kita sampaikan.

Perkembangan tekonologi media, sesuai riwayat perkembangan komunikasi antar

manusia adalah sama dengan sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Menurut Nordenstreng

dan Varis (1973) dalam buku Nasution (1989: 15) memiliki empat titik penentu yang utama

dalam sejarah komunikasi manusia yaitu :

1. Ditemukannya bahasa sebagai alat interaksi tercanggiih manusia

2. Berkembangnya seni tulisan dan berkembangnya kemampuan bicara manusia

3. Berkembangnya kemampuan reproduksi kata-kata tertulis (written wrods)

dengan menggunakan alat pencetak sehingga memungkinkan terwujudnya

komunikasi masa yang sebenarnya

4. Lahirnya komunikasi elektronik, seperti melalaui telegraf, telepon, radio, televisi

hingga satelit

18
2.6 Teori sosiologi

Soiologi cannot be satisfied with any theoretical prespective that remains static in

nature and that present the world as fixed and unchanging. We live in a world that is in

contstant flux, and sociology developed as a prespective on the predominant direction of

change in is undergoing a proces of social development. For comte this was a development

towards a fully “industrial” society, and for marx it was a development towards a fully

“capitalis” society. Each of this two theorists saw the current statge of society as a prelude

to a reconstruction-revolutionary in the case of marx-that would bring about more humans

froms of social existence.

*Jhoon Scoot: professor of sociology, pro vice chancellor (research) 305 building.

Playmonth University

Kritikan terhadap modrenisasi gejolak masyarakat modren dalam perkembangan

ternyata menuai banyak kritik-kritik. Kritik ini lebih disebabkan bahwa modernisasi dinilai

membawa banyak efek negatif bagi manusia itu sendiri. Beberapa hal yang menjadi ciri

manusia modren sebenarnya justru menjadi kelemahan modrenisasi itu sendiri yang

kemudian membawa manusia modren pada kehancuran. Bila kita melihat pendapat Marx,

bahwa perkembangan modernisasi justru semakin memperlebar jurang ketidaksetaraan

manusia itu sendiri. Kemudian, modernisasi jutru dianggap berpotensi menjauhkan manusia

dengan manusia lain, maka moderniasasi itu perlu dikaji ulang. Marx menyebutkan bahwan

modernisasi telah menyebabkan adanya alienasi (keterasingan) dalam diri manusia. Manusia

menjadi semakin jauh dengan manusia lainnya, mereka terpisahkan oleh teknologi. Alienasi

menyebabkan hilangnya dorongan manusia untuk bergaul atau (motif egoisme, atomisme),

kehilangan kreatifitas (motif monoton, kerutinan) dan kehilangan kontrol terhadap tindakan

19
(motif pasifisme), kehilangan otonomi (motif pemauan komoditas yang merasuki semua

orang) dan singkatnya modernisasi telah menghancurkan “potensi kemanusiaan” (sztompka,

1994)

Lalu benarkah manusia modern yang dicita-citakan sebagian masyarakat didunia

merupakan simbol kemajuan serta menjadi sebuah tipe ideal bagi perkembangan

masyarajat? Masih layakkah nasyarakat modren diyakini sebagai simbol kemajuan dan

sebuah tujuan akhir dari suatu peradaban manusia? Ternyata hal ini masih mengundang

banyak persoalan dan modernisasi kemudian menuai berbagai masalah, ada banyak pihak

yang pesimis jika masyarakat modren dikatakan tujuan akhir masyarakat. Bebrbagai

kekecewaan atas realitas yang terjadi dalam masa modrenisasi kemudian memunculkan

sebuah mahzab atau aliran yang sering disebut dengan istilah posmodernisme.

Globalosasi efek modrenisasi diartikan sebagi proses yang menghasilkan dunia

tunggal, masyarakat dunia menjadi saling tergantung di sebuah aspek kehidupan politik,

ekonomi, dan budaya (robertson dalam Sztompka 1994, hallak 1998) yang mereka

menyebutnya “the bordless world” atau dunia tanpa batas. Masyarakat kini telah

menunjukan kenyataan yang sama sekali telah berbeda. Dalam bidang politik terhadap

sebuah kesatuan supranasional dengan berbagai cakupan blok politik dan meliter. Kualisi

kekuasaan dominan, organisasi kesatuan ragional, organisasi berskala internasional.

Dibidang ekonomi terlihat peningkatan peran koordinasi dan integrasi supernasional,

perjanjian kerja sama ekonomi ragional dan dunia, dan peningkatan peran kerja sama

multinasional.

Globalisasi dapat didefinisikan sebagai penyebaran kebiasaan-kebiasaan yang

mendunia. Gagasan mengenai globalisasi mencakup sejumlah proses transnasional yang

20
dipisahkan satu sama lain, ekspansi hubungan inii menyebabkan berbagai penyesuaian dan

penyeragaman nilai-nilai yang dianut masyarakat diseluruh dunia. Globalisasi juga telah

melemahkan identitas nasional (lauder, et. Al., 2006; rini and zoga, 2011) dan

menghilangkan batas wilayah antar negara (hallak, 1998 : ritzer, 2004)

Globalisasi menghasilkan dua fenomena kontradiktif standarisasi dan diverifikasi.

Standarisasi budaya melalui persamaan prodik dan sistem organisasi dalam kehidupan

masyrakat. Disisi lain verifikasi usaha melestarikan berbagai aspek dalan masyarakat dengan

mempromosikan akses kefotir beragam warisan dunia (hallak, 1998)

Gidens (1998) juga menjelaskan bahwa modernitas menunjuk bahwa :

“... sebuah istilah yang menyebut masyarakat modren atau sebuah peradaban

industri. Modrenitas digambarkan secara lebih rinci yang meliputi : sebuah rangkaian

tertentu mengenai sikap terhadap dunia, gagasan mengenai dunia semakin terbuka untuk

transformasi melalui campur tangan manusia; sebuah kompleksitas lembaga ekonomi,

terutama produksi industri dan pasar ekonomi; ada jatak tertentu dari lembaga-lembaga

politik, termasuk negara-bangsa dan masa demokrasi. Sebagian besar akibat karateristik

ini adalah modrenitas jauh lebih dinamis daripada kondisi tatanan sosial sebelumnya.

Modrenitas adalah sebuah masyarakat yang lebih teknis, sebuah lembaga yang kompleks

yang tidak seperti budaya yang sebelumnya, mereka hidup dimasa depan”

Globalisasi yang merupakan sebuah hasil dari modrenitas yang makin tajam

menghadirkan tatanan-tatanan hidup baru yang dianut dalam masyarakat dunia termasuk

indonesia. Kecanggihan modrenitas ini memberikan sebuah akses bagi setiap induvidu

masyarakat untuk ikut berpartipasi dalam perkembangan dunia dan melahirkan pemikiran

pemikiran baru tentang masalah yang terjadi dan berkembang diseluruh dunia. Akses yang

21
salah satunya untuk memberi opini tentang isu baik dalam negeri maupun internasional maka

dalam rangka itu untuk menjaga rusaknya tatanan hidup dalam masyarakat yang disebabkan

opini tanpa pertanggung jawaban dilahirkanlah sebuah ketentuan untuk mengatur itu semua.

Di indonesia diatur sebuah aturan hukum sebagai hal yang perlu diperhatikan dalam

segala aktifitas yang dilakukan dimedia elektronik yang sebagai wadah opini pada era

globalisasi. Jangan sampai apa yang dilakukan dalam komunikasi online kita menjadi hal

yang berbenturan dengan hukum yang berlaku yaitu UU No 11 tahun 2008 Tentang

Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dengan diaturnya hal yang induvidu atau masyarakat lakukan dalam media

elektronik masyarakat akan terkontrol dalam mengiring opini dan digiring opini walau dalam

reality masih ada pribadi yang melanggar hal ini dan mendapat sanksi sesuai ketentuan yang

barlaku.

Dewasa ini tidak hanya induvidu maupun golongan masyarakat yang disoroti dalam

memperlakukan dunia maya. Penguasa negara dan pejabat-pejabat pemerintahannya juga

tidak luput atau bahkan menjadi sorotan utama masyarakat. Gerak tingkah semua dalam

berinteraksi disosial media menjadi konsumi kita semua juga lalu akan lahirlah sikap yang

tidak bertanggung jawab.

Kita dapat menyaksikan berjalannya globalisasi di setiap tempat. Dari Bank Dunia

dan PBB hingga Greenpeace dan Disneyworld, dari marathon internasional dan konser

global hingga wisata umum dan internet, kita dapat munjumpai orang-orang bergerak dalam

jaringan tanpa dibatasi ruang komunitas. Manusia membentuk jaringan ke seluruh dunia,

dan membuat wilayah lokal menjadi global, dan wilayah global menjadi lokal (Plummer,

2010).

22
Bab 3
Penutup
3.1 Kesimpulan

Dari Pembahasan diatas kami mengambil kesimpulan bahwa :

3.1.1 Salah satu hasil sosiologi perubahan sosial adalah tata cara berinteraksi yang

terjadi dan berkembang dalam masyarakat. Bahkan ini langsung dikontrol

secara hukum agar masyarakat bisa bijaksana dalam bersikap dalam wadah

hasil modrenisasi di era globalisasi

3.1.2 Setiap induvidu wajib mempertanggung jawabkan semua hal-hal yang

dilakukan dalam interaksi sosial ini.

3.1.3 Perubahan sosial yang terjadi melahirkan masalah-masalah baru

3.1.4 Perubahan sosial dapat diartikan sebagai segalah perubahan pada lembaga-

lembaga sosial itu selanjutnya mempunyai pengaruh pada sistem-sistem

sosialnya.

3.2 Saran

Perubahan sosial dalam masyarakat tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, oleh

karena itu kia sebagai induvidu sebagai agen dari sosial itu sendiri harus bijaksana

dalam menyikapi berubahan ini dan harus berusaha mengendalikan perubahan itu ke

arah yang positif serta tidak dengan mudah terpengaruhi atau mempengaruhi dalam

memberikan pandangan pribadi terhadap apa yang terjadi dan disoroti agar budaya

yang terbentuk dapat memberikan manfaat bagi kelangsungan manusia makmur dan

damai.

23
Daftar Pustaka
Rakhmat, Hidayat. 2011. Pengantar sosiologi kurikulam. Jakarta : Rajawali pers

Nanang, Martono. 2016. Sosiologi perbuhan sosial: prespektif klasik, modern, posmodern,
dan Psikolonial. Jakarta : Rajawali Pers

Piotr, Sztompka. 2010. Sosiologi perubahan sosial. Jakarta : Prenada

Burhan, Bungin. 2006. Sosiologi komunikasi : Teori paradigma dan diskursus teknologi
komunikasi di masyarakat. Jakarta : Prenada

Barack, obama. 2006. Dari Jakarta menuju gedung putih. Jakarta : Ufuk Press

http://icjr.or.id/tren-penggunaan-pasal-28-ayat-2-ite-terkait-penyebar-kebencian-
berbasis-sara-akan-meningkat/

http://jibnis.pnri.go.id/infornasi-rujukan/indeks-makalah/thn/2007/bln/03/tgl/29/id/1002

24