Anda di halaman 1dari 15

RANGKUMAN DASAR-DASAR SAINS

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-Dasar Sains


Kamis, 31 Agustus 2017
Disusun oleh kelompok 2 :
anggota:
1.Putri Elok Septiana Dewi (170342615551)
2. Garin Nur Aini (170342615543)
3. Dwita Novitasari (170342615560)
4. Annisah Rachmawatiariyadi (170342615556)
5. Hanif Amirusdi Puteno (170342615586)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU ALAM
JURUSAN BIOLOGI
TAHUN AJARAN 2017/2018
Resume Dasar – Dasar Sains
I. HAKIKAT SAINS
Pengertian IPA/sainsadalahilmu yang mempelajaritentangsebabakibatperistiwaperistiwa yang
terjasidialam.IPA jugadidefinisikansebagaipengetahuan yang sistematis.

Hakikatsainsada 3 yaitu :

1. Proses :outputsainsberupaprosesmenginginkanparapesertadisikmendapatkankemampuan (
mengamati, mengumpulkan data, mengolah data, menginterpretasikan data, menyumpulkan,
2. Produk :dalamprosspenemuansainsmenghasilkanprosukberupa ( konsep, hukum, teori, prinsip )

3. Sikap :selainadaketerampilanproses yang dimilikisertaproduk yang dihasilkan, diharapkan pula


tumbuhsikap yang munculsetelahprosestersebutdilalui,yaitu : terbuka , obyektif,
berorientasipadakenyataan, beetanggungjawab , bekerjasama, dan lain lain.

II. FUNGSI DAN SIFAT SAINS

Ciri-ciri dan sifat SAINS antara lain:

1. Memiliki objek

setiap ilmu memiliki objek yang menjadi pusat kajian. Objek yang dikaji dalam mempelajari
suatu ilmu biasanya bersifat spesifik. Contohnya ilmu biologi, matematika, kesenia, dll.

2. Memiliki metode

Dalam mempelajari ilmu pengetahuan tidak dilakukan secara asal-asalan. Tetapi memerlukan
metode khusu. Metode yang digunakan untuk mempelajari ilmu pengetahuan disebut METODE
ILMIAH. Metode ilmiah digunakan untuk meneliti dan mempelajari suatu objek sehingga
ditemukan kebenaran. Ilmu yang dikembangkan dengan metode ini kebenarannya akan diakui
secara ilmiah oleh seluruh pakar ilmu pengetahuan yang berlaku sampai ada bukti baru yang
menentang/menggugurkannya.

3. Bersifat sistematis
Ilmu pengetahuan harus bersifat sistematis. Maksudnya adalah ilmu oengetahuan harus tersusun
secara sistematis dari yang sederhana hingga yang kompleks yang diatur sedemikian rupa hingga
yang satu dan yang lainnya dapat saling mendukung. Sifat sistematis ini bertujuan untuk
mempermudah dalam mempelajari Ilmu pengetahuan.

4. Bersifat universal

Ilmu pengetahuan harus bersifat universal, maksudnya adalah kebenaran yang disajikan dalam
ilmu pengetahuan harus secara umum dan dapat diterima di semua intitusi pendidikan. Sifat
universal ini bertujuan untuk mempermudah dalam pembelajaran juga agar tercipta suatu
keseragaman. Sehingga kebenaran yang diungkapkan dapat di terima diseluruh pelosok dunia.
5. Bersifat objektif

Ilmu pengetahuan harus bersifat objektif, maksudnya dalah semua pernyataan yang
dikemukakan harus bersifat jujur, sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, mengandung data dan
informasi yang akurat, bebas dari prasangka, tidak menimbulkan kesenjangan dan tidak
berhubungan dengan kepentingan pribadi orang per orang.

6. Bersifat analisis

Ilmu pengetahuan harus bersifat analisis, maksudnya adalah ilmu yang dipelajari akan menuju
hal-hal yang lebih khusus, seperti bagian, sifat, peranan, dan berbagai hubungan. Untuk memahami
hal yang bersifat khusu pula, sehingga terdapat antar hubungan bagian yang dikaji sebagai hasil
analisis.

7. Bersifat Verifikatif

Artinya pernyataan yang berupa kebenaran dalam ilmu pengerahuan tidak bersifat mutlak, tetapi
bersifat terbuka/verifikatif. Sehingga bila sesuatu masa ditemukan bukti-bukti baru yang tidak
mendukung kebenaran yang semula maka teori tersebut dapat ditumbangkan untuk memberi tempat
pada kebenaran yang baru yang lebih relevan.

Fungsi Ilmu Pengetahuan Alam


Untuk mengenal apa IPA itu, kita juga dapat menjelaskan melalui segi fungsinya. Dari berbagai
pustaka dapat dirangkum bahwa fungsi IPA itu ada lima, yaitu untuk:

A. Membangun pola berpikir


Dapat kita simak dari fakta sejarah, bagaimana IPA terbagun dari pola berpikir manusia yang
berkembang dari zaman ke zaman. Di sisi lain, IPA itu sendiri juga dapat membangun pola berpikir
manusia dengan ciri-ciri khusus.

B. Menjelaskan adanya hubungan antara berbagai gejala alam


Dalam menjelaskan sesuatu, IPA mempunyai ciri-ciri yang khusus, yaitu :
1. Analitis, artinya lengkap mendeskripsikan semua bagian dari objek penelitiannya,
serta hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.
2. Logis, artinya dapat diterima oleh akal.
3. Sistematis, artinya disusun secara logis dan sistematis sehingga tampak jelas tata
urutan serta hubungan satu dengan yang lain dan jelas pula bahwa tidak ada kebenaran ilmu
pengetahuan yang bertumpang tindih dalam arti berlawanan satu dengan yang lain.
4. Kausatif, maksudnya IPA menjelaskan mengapa segala gejala alam itu terjadi.
5. Kuantitatif, yang meliputi tiga arti:
 Kesimpulan yang diuji kebenarannya melalui statistika,
 Penjelasannya disertai dengan angka-angka dengan besaran hasil pengukuran atau dengan
rumusan-rumusan matematika,
 Kuantitatif dalam artiannya yang tak langsung menyatakan kecermatan pengukuran.
Menurut Carl Hempel ada dua tujuan IPA dalam menjelaskan berbagai gejala alam ini, yaitu:
 Untuk hal yang bersifat praktis, maksudnya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia.
 Untuk memenuhi hasrat ingin tahu.
C. Meramalkan
Peramalan dari IPA ini adalah peramalan yang didasarkan atas adanya konsistensi
atau keteraturan dari gejala-gejala alam. Kunci pokok dari sesuatu yang dapat digunakan untuk
meramalkan itu adalah adanya keteraturan yang konsisten.

D. Menguasai atau mengontrol alam guna kesejahteraan manusia


Dengan IPA orang bisa mengolah sumber daya alam. Orang juga dapat mendirikan industri-
industri untuk menghasilkan barang-barang bagi kesejahteraan manusia. Dengan IPA orang dapat
mempermudah hubungan komunikasi maupun transportasi. Dengan IPA orang dapat mencegah atau
menghindari malapetaka akibat gejala alam.

E. Melestarikan berbagai gejala alam


Suatu gejala alam mungkin sekali tak terulang kejadiannya sehingga IPA dalam hal ini selaku
kumpulan pengetahuan yang logis dan sistematis secara tak langsung merekam gejala-gejala alam,
misalnya kehadiran komet, pergeseran benua, perubahan flora dan fauna.

III. SUMBER PENGETAHUAN

A. Alam: Paradigma yang perlu digali

Alam merupakan objek pengenalan pertama


manusia akan lingkungannya. Alam yang diamati manusia dapat diklasifikan menjadi alam makro,
semimakro, semimikro, dan alam mikro. Alam makro menyangkut alam luas dari bumi dan bahkan
galaksi kita yang dipelajari dalam ilmu astronomi. Alam mikro penyusun materi akan dipelajari
dalam ilmu kimia. Ilmu fisika juga mempelajari energi dari materi dalam alam mikro ini yang juga
dikaji dalam ilmu fisika maupun kimia.

Kristal salju di batang ilalang yang membentuk kristal seperti jarum karena udara dingin
namun lembab. Gejala alam ini dapat dijlaskan dalam wilayah kajian geografi, fisika, kimia, dan
matematika. Perhitungan teoritis adalah logika yang paling ampuh untuk memberikan penjelasan
yang masuk akal. Gejala alam bisa menggerakan manusia, bukan saja tentang pikiran namun juga
untuk berepreksi.

B. Manusia: Pengamat yang Berpikir

1. Manusia Sebagai Sumber pengetahuan


Sumber pengetahuan yang kedua dan merupakan subjek yang paling aktif bergerak dalam
mencari pengetahuan adalah manusia sendiri. Albert Einstein pernah mengeluarkan pernyataan:
saya hanya ingin tahu apa yang ada dalm pikiran Tuhan, dan selebihnya hanyalah detil-detil saja.
Usaha manusia mengamati alam sedikit demi sediki dan secara maksimal membentuk struktur
pengetahuan yang valid yang berguna bagi semua orang.

Manusia yang mengamati alam akan berusaha mencari penjelasan akan gejala alam. Manusia
yang secara otomatis mengembangkan pengetahuannya, akan membentuk dua macam jalan.
Kemungkinan pertama adalah bersatunya manusia dengan apa yang diketahuinya, termasuk alam
dan lingkungannnyadan dengan demikian manusia menjadi bagian dari alam itu sendiri yang
mengamati alam dan dirinya sendiri. Kemungkinan kedua adalah terpisahnya manusia dengan apa
yang diketahuinya dan diamatinya, dan dalam hal ini manusia menempatkan diri sebagai pengamat
(observer) bagi alam dan ilmu pengetahuan alam menjadi ilmu objektif karena alam adalah
pengamatan dan analisis dari subjek manusia.

2. Pernyataan sebagai Dasar Penelaahan Ilmiah


a. Dunia itu ada dan kita dapat mengetahui bahwa dunia benar benar ada.
b. Dunia dapat diketahui melalui pancaindera dan abstraksi manusia yang berpikir.
c. Gejala gejala yang ada di dunia dan alam mempunyai hubungan kausal satu sama lain.

C. Interaksi antara Manusia dan Alam

Pola hubungan antara alam dan manusia tidak dapat digambarkan sebagai komunikasi dua
pihak yang dapat diamati. Manusia hidup di alam dan berhubungan dengan alam. Manusia
berinteraksi dengan alam.

Antara manusia dan alam menempati lapangan tersendiri dalam filsafat pengetahuan, karena
dari hasil pengamatanakan alam manusia lebih berusaha menyelidikimakna hidupnya.

D. Sarana Berpikir Ilmiah

Sarana berpikir ilmiah adalah faktor yang paling menentukan dalam kecepatan
perkembangan sainsdan merupakan media berkembangnya ilmu pengetahuan.
Bahasa ilmiah adalah sarana ilmiah untuk penyampain informasi ilmiah dan seluruh proses
ilmiah, sedangkan logika berguna untuk menentukan ke arah mana proses ilmiah akan maju
sesuai dengan kaidah alam yang sudah diketahuinya. Metodologi ilmiah adalah pada saat
kegiatan ilmiah berlangsung, diperlukan kerangka logika untuk bergerak.

1. Bahasa ilmiah
Bahasa adalah kumpulan terminologi yang bisa dimengerti oleh pihak yang diajak
berkomunnikasi dan menerima pernyataan serta ekspresi kita.
Perbedaan antara bahasa alami dan ilmiah . bahasa ilmiah cenderung tidak spontan seperti
bahasa alami. Bahasa mempunyai fungsi-fungsi pokok: a. Fungsi ekspresi, b. Fungsi emosi,
c. Fungsi afeksi/praktis, dan d. Fungsi simbiolis atau logis.
Macam macam definisi:
a. Definisi nominalis: menjelaskan arti suatu kata dengan kata lain yang lebih simengerti.
b. Definisi realis: menjelaskan hal yang ditandai oleh suatu istilah.
c. Definisi praktis: penjelasan tentang suatu hal yang ditinjau dari segi kegunaan dan tujuan.
2. Logika ilmiah
a. Logikan dan penalaran
Logika merupakan sarana sangat penting dalam pendekatan ilmiah.
b. Penalaran dan pemikiran
Penalaran adalah suatu bentuk pemikiran.
c. Sistem logika
- Logika kelas : dasarnya adalah proposisi kategorik yang terdiri dari subjek dan predikat
yang dibanding bandingkan dengan kelas subjek dan kelas predikat.
- Logika proporsional: menentukan konklusi bukanlah kelas kelas melainkan silogisme
kategorik/kondisional

IV. PERKEMBANGAN IPA

A. LINGKARAN WINA : VERIFIKASI TERUS MENERUS


Lingkaran Wina (Wiener Kreis/Vienna Circle) terdiri dari para sarjans ilmu alam yang
berdiskusi dalam kurun waktu 1922-1938 mengenai perkembangan ilmu alam terutama fisika.
Tujuan utama Lingkaran Wina adalah kesatuan ilmu alam serta memperbaiki laju ilmu pengetahuan
di jalur positivisme di Inggris yang sangat empiritis, dengan memberi masukan dari beberapa aliran
lain

B. POPPER : PRINSIP FALSIFIKASI DAN METODE ILMU PENGETAHUAN


1. Pengertian Falsifikasi
Falsificationism atau fallibilsm adalah prinsip yang menyalahkan apa yang telah ada
sebelumnya dan menyebabkan keharusan dicarinya alternatif yang lebih benar daripada yang sudah
ada tersebut.
2. Jenis Falsifikasi
a. Falsifikasi Metode, menyangkut penyempurnaan metodologi yang bertujuan mencapai tujuan
yang lebih sempurna, penjelasan yang lebih komprehensif dan jelas dari bagian dasar sampai bagian
detailnya
b. Falsifikasi Objek, kiranya jelas berasal dari objek yang diteliti, yaitu alam.

C. KUHN : REVOLUSI SAINS


Kuhn menyatakan bahwa metode induksi serta upaya falsifikasi dan penyempurnaan dalam
sains yang berkembang tidak memberikan bukti yang berarti dalam sejarah. Dengan demikian apa
yang sebenarnya ada di benak manusia mengenai alam selama ini terpecah-pecah dan tidak
mempunyai struktur.

D. LAKATOS : PROGRAM PENELITIAN


Ilmu 2000 SM- 300-1400 1400-1600 Abad ke-17 Abad ke-18 Abad ke- Abad ke -20
300 19
Lakatos berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan teori merupakan struktur ilmiah yang
terbentuk dalam sejarah. Dalam struktur ini pengetahuan mengalami evolusi dalam pemikiran
Popper ataupun tidak seradikal revolusi sains dalam bahasa Kuhn.

E. FEYERABEND : PENDEKATAN ANARKISTIK


Feyerbend berpendapat bahwa sebaiknya ilmuwan tidak dibatasi ketat oleh aturan dan
hukum walaupun mungkin pada awalnya dibimbingoleh metode yang ada.

F. BACHELARD : PENTINGNYA SEJARAH


Menurut Bachelard, alam tinggal dan berjalan seperti adanya, sedangkan pengetahuan
manusia berkembang menciptakan sistem yang dapat menjelaskan alam menurut pemahaman
manusia untuk memahami. Semua proses pencarian pengetahuan alam ditentukan oleh konteksnya
dalam sejarah.

Demikianlah beberapa ahli yang memperhatikan sains dan perkembangannya dan mereka
menyumbangkan pikiran serta berpendapat mengenai perkembangan sains yang mereka pikirkan di
sepanjang sejarah sains. Setiap zaman mempunyai ciri khas sains sendiri, dan biasanya ditandai
dengan objek yang menjadi pusat perhatian di zaman itu atau produk perkembangan uins yang
sangat berpengaruh pada masyarakat di setiap iaman. Memahami bagaimana sains berkembang
sangat membantu kita dalam menyikapi permasalahan yang ada saat ini, dan juga dalam
menjalankan langkah-langkah ilmiah dalam masyarakat ilmiah kita sendiri.
Dasar pencarian ilmiah dari zaman ke zaman berubah dari fakta yang diamati, ke
permasalah alam, dan kemudian ke paradigma. Sedangkan tu juan pencarian ilmiah dari zaman ke
zaman bergeser dari teori dan hukum ke elaborasi paradigma modern. Adapun sarana pencarian
ilmiah manusia bergeser dari penggunaan fakta dan metode ilmiah ke kritik terhadap teori mapan
serta pemecahan masalah dalam paradigma mapan tertentu. Beberapa ahli yang sepanjang sejarah
sains membantu merumuskan banyak konsep baru antara lain Lingkaran Wina, Popper, Kuhn,
Lakatos, Feyerabend, dan Bachelard. Banyak lagi pendapat para ahli sepanjang sejarah dan tidak
dapat dibahasa satu per satu dalam buku ini.
Pendapat para ahli mempunyai dasar kuat tersendiri dan dipertentang kan satu sama lain
untuk menggali kekayaan proses berkembangnya sains sampai yang dapat kita amati sampai saat
ini. Kekayaan aspek perkembangan sains membuat kita lebih sadar akan tahapan apa yang sedang
kita alami dalam menjalankan sains, Dan masing-masing keadaan memerlukan penye- lesaian
sendiri dan metodologi sendiri. Tiap tahapan yang kita jalani meru pakan bagian dari keseluruhan
sejarah perkembangan sains sampai ke masa depan

V. PRODUK SAINS DARI WAKTU KE WAKTU


matemat -ilmu -Teori -Probabilitas -Teori
ika hitung bilangan dam statistika informasi
-geometri -Aljabar -persamaan -Teori Fungsi
deferensi
-Logika -Geometri -Geometri
analitik -Kalkulus noneuclid
-Trogono -Geometri -Logika
metri analitis Matematika
-Topologi
Fisika -Mekanika - - -Cryogenik
Termodinamik Kristalogr
-Optika -Mekanika
a afi
statistika
-Listrik dan
-mekanika
kemagnetan
kuantum
-fisika partikel
-fisika nuklir
-fisika plasma
-fiska atom
-fisika molekul
-fisika zat padat
-fisika
relativitas
Kimia -alkimia -Kimia -kimia analitis - -kimia kuantum
anirganik Farmakolo
-kimia fisika
gi
-Kimia
-kimia nuklir
kedokteran -Biokimia
-kimia polimer
-kimia
organik
Astrono - -mekanika - -astronautika
mi kosmologi benda- astronom
-radio
benda langit mi fisika
-astronomi astronomi
posisi
astrofosika
Geologi eksplorasi -Geodesi -Geofisika -struktur
geologi
-Mineralogi -stratigrafi
-geokimia
- -sejarah
Meteorologi geologi -Hidrologi
- -oceanologi
planetolog
i
-
mineralogi
-petrologi
-
geomorfol
ogi
-geografi
fisis
Biologi Ilmu obat- -phisiologi -Mikrobiologi Taksonomi -biofisika -radiobiologi
obatan
-anatomi -anatomi -Biologi
perbandin molekul
-
gan
botani+zool -Genetika
ogi -citologi
-Embriologi -histologi
-Oathologi -biokimia
-ekologi
Sosial - -politik ekonomi -arkeologi -Antropologi
pemerinta
- Budaya
han
antropolog
-psikologi
-Sejarah i fisik
-filsafat -sosiologi

VI. METODE ILMIAH

A. METODE
1. Pengertian Metode
Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup penalaran ilmiah berupa
pemikiran dan disertai tindakan, pola kerja empiris dan prosedur pengujian yang sudah
dipilih dalam rangka mengembangkan pengetahuan yang sudah ada beserta strukturnya.
Kata “metode” berasal dari kata Yunani meta yang berarti “sesudah”dan hodos yang berarti
“jalan”.
Metode adalah langkah-langkah berurutan yang diambil untuk mencapai
pengetahuan yang benar. Metode utama dalam sains biasanya diwarnai pendekatan empiris.
Hal ini disebabkan oleh sejarah sains yang sangat berkembang karena adanya eksperimen
yang berkembang di laboratorium untuk meniru situasi dan kondisi alami. Dimulai dengan
aliran empiris dari John Locke dan David Hume, sains merupakan hasil “permainan”
berbagai variabel dan parameter buatan manusia.
2. Kaidah Pokok Metode
Dalam sebuah buku utamanya yaitu “wacana metode”( Discours de la Methode,
1673). Descartes mengatakan bahwa beberapa kaidah pokok perihal metode adalah sebagai
berikut :
a. Pertama, jangan pernah menerima apapun sebagai benar kecuali jika Anda mengetahui
secara jelas bahwa hal itu memang benar, artinya hindari secara berhati-hati penyimpulan
terlalu cepat dan prasangka, dan jangan memasukkan apapun ke dalam pandangan Anda
kecuali apa yang tampil amat jelas dan gamblang di dalam nalar Anda, sehingga tak akan
ada kesempatan untuk meragukan.
b. Kedua, pilah-pilahkan satu per satu kesulitan yang akan Anda telaah menjadi bagian-
bagian kecil sebanyak mungkin atau sejumlah yang diperlukan, untuk lebih memudahkan
penyelesaiannya.
c. Ketiga. Pikirkan secara runtut, mulai dari objek-objek yang paling sederhana dan paling
mudah dikenali, lalu meningkat setahap sampai ke masalah yang lebih ruumit, dan bahkan
dengan menata urutan objek-objek yang secara alami tidak beraturan.
d. Keempat, dimana-mana buatlah perincian selengkap mungkin dan periksalah secara
menyeluruh sampai Anda yakin bahwa tidak ada yang terlupakan.

3. Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah metode yang objektif dalm pencarian pengetahuan manusia
tanpa diwarnai tujuan-tujuan tertentu. Metode yang memadai akan diterima semua pihak
tanpa keraguan. Para ilmuwan yang bekerja dengan metode ilmiah sangat jarang melibatkan
emosi karena masing-masing telah meningkatkan subjektivitasnya dalam bekerja dengan
obektif.

4. Objek Kajian dan Metode


Dalam ilmu alam, data pengamatan awal adalah hasil persepsi indrawi manusia, dan
diolah dan dicari tahu sebab-sebabnya dan komponennya. Untuk penyelidikannya, kita perlu
juga berpikir abstrak, mengidentifikasi, memilahkan, menggolongkan, menjelaskan, dengan
atau tanpa alat bantu.

5. Siklus Empirik
Siklus empirik adalah metode yang digunakan dalam ilmu alam. Komponen umum
siklus empirik meliputi :
a. Tahap I adalah observasi. Mengumpulkan, mendaftar, mengidentifikasi, memilahkan,
menggolongkan, mengklasifikasi secara ilmiah, serta mengadakan evaluasi awal.
b. Tahap II adalah induksi awal, yang selalu dibantu oleh logika dan kadang-kadang oleh
matematika
c. Tahap III adalah deduksi logis, untuk mengolah lebih lanjut data empiris awal tadi. Disini
akan dilakukan perumusan hipotesis.
d. Tahap IV adalah verifikasi, tahap pengukuhan dugaan sementara tadi dengan
memperlakukan eksperimen empiris terhadap objek
e. Tahap V adalah klasifikasi empirik, hasil yang didapat akan diamati dan dianalisis,
dimana hasil analisis akan menentukan diterima atau ditolaknya hipotesis sebelumnya.

6. Siklus Empirik dan Ilmu Sosial/Humanistik


Dalam ilmu sosial dan humanistik, prosedur semacam siklus empirik ini tidak dapat
dilakukan dengan ketat. Mungkin dalam kerangka ide hal tersebut memang dilakukan untuk
menjaga kelogisan proses, namun apa yang diamti secara empiris sering tidak menunjukkan
kemurnian sebab-akibat seperti yang ada di objek-objek ilmu alam.
7. Metode dan Metodologi
Metode adalah ekspresi \pemikiran dala bentuk cara kerja dan langkah-langkah
praktis yang dilakukan. Metodologiadalah kajian akan aturan-aturan dalam metode tersebut.
Adapun epistemologi adalah kajian mengenai cara manusia mendapatkan pengetahuan.

B. METODE ABDUKSI
Metode ini terutama dibahas oleh C.S. Pierce yangberpendapat bahwa semua proses
yang terdiri dari mencari dan merumuskan hipotesis terjadi dalam pemikiran ilmuwan.
Pemikiran Pierce memang berkisar seputar hipotesis dan proses penyimpulan.
C. METODE DEDUKSI DALAM SAINS
Setelah hipotesis dirumuskan maka dilakukan langkah untuk bisa menentukan
apakah dugaan tersebut benar. Proses ini disebut langkah deduksi. Sebenarnya, langkah
deduksi harus dilakukan dengan hati-hati juga, karena kita harus memperhitungkan kelas
yang bersifat umum. Tugas ilmuwan adalah membuat hipotesis semudah mungkin,
sesedarhana mungkin, karena hipotesis pada akhirnya berfungsi sebagai premis minor.
D. METODE INDUKSI DALAM SAINS
Proses induksi merupakan kekuatan besar dalam perkembangan sains. Metode
induksi bertolak dari sejumlah proporsi kecil dan khusus untuk menarik kesimpulan umum
tertentu. Induksi juga mengandung “jika-maka” namun dalam tataran berbeda dengan
metode deduksi.
1.) Rambu-Rambu dalam Metode Induksi
a. Bebas dari spekulasi awal
b. Sedapatnya perhatian dan catat fakta yang kontradiktif
c. Adakan evaluasi setelah pengumpulan dan pencatatan fakta
d. Ingatlah bahwa dalam proses induksi, sifat sementara harus senantiasa ada dalam pikiran
2.) Manfaat Metode Induksi
a. Fakta dilihat dengan sangat objektif oleh pengamat
b. Sains dalam kegiatan ilmiah tidak menjadi semacam ideologi
3.) Kelemahan Metode Induksi
a. Fakta yang diamati tidak lepas dari persepsi manusia
b. Fakta tidak pernah tampil sebagai fakta saja

4.) Langkah-Langkah Terpenting Metode Induksi


a. Pahami situasi masalah untuk tujuan identifikasi
b. Ajukan hipotesis
c. Telitilah hipotesis
5.) Akar Kesalahan Penarikan Kesimpulan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk melegitimasi induktivisme :
a. Jumlah pernyataan yang berasal dari pengamatan harus banyak
b. Pengamatan harus diulangi dalam kondisi yang berbeda-beda
c. Tidak boleh ada pernyataan yang berdasarkan pengamatan namun bertentangan dengan
hukum universal.

E. METODE STATISTIKA DALAM SAINS


Dalam statistika, kesimpulan umum ini berlaku untuk populasi yang diteliti melalui
sampelnya. Dengan demikian tingkat ketelitian penelitian dapat terjaga. Dengan statistika
pula, data yang ada dalam kelompoknya dapat dianalisis hubungannya. Korelasi dan regresi
adalah metode untuk melihat apakah beberapa faktor yang diteliti mempengaruhi fenomena
yang diamati.
F. ALIRAN-ALIRAN ILMIAH
1. Rasionalisme
Sesuai dengan namanya, aliran rasionalisme mengutamakan akal bud (rasio) untuk
mencapai pengetahuan sejati. Dengan menggunakan metoda dalam mengatur pemikiran
kita, pengetahuan yang dimaksud dapat diper- oleh, termasuk kebenaran dan kesalahannya.
Menurut pengikut aliran in kepastian tertinggi akan sesuatu hanya dapat dicapa eh akal
budidan untuk akal budi. Mereka tidak percaya pengetahuan dapat dicapai dengan bantuan
informasi dari penangkapan pancaindera. Lagipula penampilan informasi yang dapat
ditangkap pancaindera bisa menipu kita.

2. Empirisme
Dalam aliran empirisme diyakini pengalamanlah yang menjadi dasar dan sumber
pengetahuan manusia. Bagi kaum empiritis bukanlah budi yang utama dalam mengetahui
sesuatu, namun pengalamanlah merupakan sumber pengetahuan yang paling akurat. Satu-
satunya pengetahuan yang menurut mereka, adalah pengalaman dan pengama pancaindera
berisi data dan fakta pengetahuan. Sudah sering terbukti bahwa ide atau konsep yang benar
bersumber pada objek pancaindera.
Ada beberapa hal penting yang menjadi prinsip dalam aliran empirisme ini :
a. Semua proposisi disimpulkan dari pengalaman yang sudah diolah di otak manusia
b. Tanpa pengamatan akan objek tidak mungkin timbul ide mengenai objek tersebut
c. Akal budi atau rasio dapat berfungsi jika mempunyai acuan ke realitas nyata dalam
bentuk pengalaman.
Jika aliran rasionalis mempunyai tokoh-tokoh dari Plato sampai Des- cartes, maka aliran
empirisme mempunyai takok John Locke dan David Hume yang mengembangkan aliran ini
di Inggris (Eropa kepulauan) untuk mengim- bangi pengaruh rasionalisme di Jerman dan
Eropa.

3. Sintesis Rasionalisme dan Empiris


Di zama ramainya konflik antara rasionalisme dan empirisme, di Inggris, Sir Isaac
Newton (1643-1727) menggabungkan keduanya ke dalam bukunya Principia Mathematica
Philosophiae Naturalis (1687). Ternyata berdampak sangat luas dan baik, yang membuat
manusia sadar akan kekuatan dan kelemahan kedua ekstrim tersebut.

VIII. KEBENARAN ILMIAH


A.Pengertian Kebenaran
Kata “ benar” adalah kata sifat yang mempunyai arti segala sesuatu yang tidak salah dan
tepat serta sesuai dengan kenyetaan yang diacu.
B.Teori-teori Kebenaran
Beberapa teori kebenaran yang sampai sekarang sering disebut:
1. Teori kebenaran kesesuaian/ korespondensu
2. Teori kebenaran keteguhan/koherensi
3. Teori kebenaran pragmatik
4. Teori kebenaran non-deskripsi
5. Teori kebenaran performatif
C. Sifat-Sifat Kebenaran Ilmiah
Sifat-sifat dasar yang seharusnya terkandung dalam kebenaran saat ini:
a) Strukturnya rasional dan logis
b) Mengandung isi empiris
c) Dapat diterapkan,hasilnya berguna (pragmatis)
D.Presesi dan Akurasi
Presisi dalam sains menentukan keterulangan hasil yang didapat.
Akurasi dalam sains ditentukan oleh kedekatan hasil pengamatan atau analisin ke hasil
sebenarnya.
E. Masalah Kekeliuran
Kekeliruan diartikan sebagai menerima apa yang senyatanya salah atau menyangkal
apa yang kenyataan benar.
Kesalahan (error) sering dihubungkan denan presisi dan akurasi yang kita bahas di
atas.

F. Masalah Kepastian
Kaum empiris kebenarannya lebih moderat, karena kebenaran kaumempiris adalah
kebenaran yang berdasarkan apa yang dilihat dan dianalisis.
G. Penggunaan Statistika
Kebenaran informasi yang dihasilkan yang dihasilkan sedikit banyak tergantung
pada metoda statistiknya, disamping pengendalian variabel yang dilakukan lewat sejumlah
perlakuan. Metoda statistika kadang digunakan untuk menyajikan data dalam rangka
memberikan perkiraan dan ketidakpastian pengukuran.

IX. HUKUM DAN TEORI ILMIAH


Metode ilmiah menggunakan dua macam metode, yakni metode induksi dan deduksi. Metode
induki menghasilkan hukum dan teori. Sedangkan metode deduksi beralawanan dengan induksi.
Hukum dan teori muncul setelah mengetahui pengetahuan alam, metode penggalian, pengetahuan
dan kebenaran besrta kesalahan yang secara ilmiah. Definisi hukum dalam banyak hal adalah
prinsip teoritis yang berasal dari pengamatan faktadan diekspresikan ke pertanyaan atau persamaan
dimana tiap gejala yang sama akan muncul jika tuntutan hukum terpenuhi.
A. Terbentuknya Hukum Ilmiah

Hukum alam mengenai pola keteraturan dan dinamika pada keteraturan tersebut. Secar
uumum hukum dalam artian ilmu diartikan sebagai pernyataan mengenai urutan yang tidak
berubah atas kondisi dan gejala tertentu seperti hukum gerak dari Newton, hukum kepler, dsb
(Oxford Dictionary of Current English). Hukum alah adalah keteraturan di alam (laws of nature
in regularity in nature).
Hukum di alam diperoleh dengan pengamatan objek, gejala, metode dan hasil. Gejala faktor
dilingkungan perlu diperhatikan, karena tidak semua hukum dan bersesuaian dengan lingkungan
lain.

B. Sifat-Sifat Hukum Alam

Hukum ilmu alam dirumuskan dengan mempelajari secara seksama setiap gejala alam
sejenis dan menganalisinya akan menghasilkan hukum yang bersifat menyeluruh dan mendetail.
Hukum alam terutama bersifat netral, tidak diperuntukkan golongan tertentu serta bersifat
unviresal karena sikap yang objektif dengan adanya prinsip sebab-akibat.
Kepastian hukum berdasarkan kemampuan hukum tersebut menjelaskan gejala yang sama
dari waktu ke waktu. Kepastian hukum setiap kali diperkuat dengan fakta baru yang diperoleh
dari analisis perlakuan terhadap objek tersebut di alam.
Hukum berbeda dengan hipotesis. Hukum sudah memverifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi hukum. Hipotesis merupakan langkah menuju dirumuskannya teori dan
kemudian menjadi hukum.
C. Teori dan Hukum Ilmiah

Teori adalah pernyataan yang menerangkan sesuatu mengenai alam maupun gejala alam
berdasarkan prinsip bebas dan bukan berdasarkan fenomena itu sendiri. Teori perlu dibuktikan
kebenarannya dengan serangkaian percobaan. Teori dijadikan dasaran untuk menyusun hipotesis.
Hukum alam bersifat pasti. Karena hukum dapa menjelaskan kepastian alam yang umum
dan melalui tahap uji yang lama dan teliti.

D. Hukum dan Prediksi Ilmiah

Hukum yang telah dirumuskan harus dapat digunakan untuk memprediksi gejala alam yang
termasuk didalam hukum tersebut. Salah satu fungsi hukum adalah untuk memprediksikan gejala
yang akan terjadi jika diberi perlakuan tertentu.

Teori dan hukum mengenai gejala alam merupakan sarana penghubung dalam
perkembangan ilmu pengetahuan. Penemuan hukum baru juga harus mendasarkan pada hukum
sebelumnya. Semakin spesifik suatu ilmu, akan semakin banyak parameter penyusun hukum dan
teorinya serta semakin menyempit lapangan klaimnya.

E. Dari ketidakaturan menjadi Hukum

Hukum merupakan hasil pengamatan baik secara nyata maupun abstrak terhadap gejala alam
tunggal yang sama. Dengan kata lain, ketikaturan fakta dirumuskan menjadi rumusan universal
yang merupakan bentuk yang lebih teratur dari alam.
Hukum tidak lahir hanya karena pengamatan saja, namun harus diakui proses terbentuknya
hukum.