Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN JENIS KELAMIN, JUMLAH SAUDARA, DAN URUTAN

KELAHIRAN DENGAN PERILAKU ANTI SOSIAL PADA SISWA-SISWI


KELAS VII DAN VIII DI SMP MUHAMMADIYAH I KUDUS
TAHUN 2018

BERKAS KONSUL

Oleh :

Nama Mahasiswa : Mohamad Habibi


NPM : 720153073

PEMBIBMBING SEKRIPSI

1. Ns. Indanah. M.kep.Ns.Sp.Kep.An


2. Rizka Himawan, S.Psi., M. Psi

JURUSAN S1 KEPERAWATAN
SEKOLAHTIMGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN AKADEMIK 2018 / 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang (gejala, rumusan masalah, fenomena, alsan pemilihan


judul, pentingnya pembahasan masalah)

Salah satu periode dalam perkembangan adalah masa remaja.


Kata remaja (adolescence) berasal dari kata adolescere (latin) yang
berarti tumbuh kearah kematangan (Muss,1968 Dalam Sarwono,2011).
Istilah kematangan disini meliputi kematangan fisik maupun sosial-
psikologis.

Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10


hingga 19 tahun. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 25
tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun.
Sementara itu, menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN), rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum
menikah. Perbedaan definisi tersebut menunjukkan bahwa dak ada
kesepakatan universal mengenai batasan kelompok usia remaja. Namun
begitu, masa remaja itu diasosiasikan dengan masa transisi dari anak-
anak menuju dewasa. Masa ini merupakan periode persiapan menuju
masa dewasa yang akan melewa beberapa tahapan perkembangan
dalam hidup. Selain kematangan fisik dan seksual, remaja juga
mengalami tahapan menuju kemandirian sosial dan ekonomi,
membangun identitas, akuisisi kemampuan (skill) untuk kehidupan masa
dewasa serta kemampuan bernegosiasi (WHO, 2015).

Mohammad Ali dkk. (2010) yang mengemukakan bahwa secara


psikologis remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi
ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa
bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan
merasa sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini
mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari pubertas.

Pada tahun 1974, WHO memberikan defenisi konseptual tentang


remaja, yang meliputi keteria biologis, pesikologis, dan sosial ekonomi.
Menurut WHO (Sarwono.2011), remaja adalah suatu masa dimana : 1.
Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda
seksual sekundernya sanpai saat ia mencapai kematangan seksual.
(keteria biologis), 2. Individu mengalami perkembangan psikologis dan
pola indentifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.(keteria sosial-
psikososial), 3. Teerjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekoonomi
yang penuh kepada keadaan yang relative lebih mandiri (keteria sosial-
ekonomi).

Hasil survei penduduk antar sensus 2015 menunjukkan bahwa


penduduk usia 15-24 tahun mencapai 42.061,2 juta atau sebesar 16,5
persen dari total penduduk Indonesia. Hasil Proyeksi Penduduk
menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia remaja ini akan mengalami
peningkatan hingga tahun 2030 dan kemudian menurun sesudahnya.
Perubahan jumlah penduduk usia remaja tersebut terkait dengan transisi
demografi di Indonesia, dimana angka fertilitas yang menurun telah
mengubah struktur usia penduduk. Awalnya, proporsinya terbesar adalah
penduduk muda (usia 0-14 tahun). Namun seiring dengan menurunnya
fertilitas, terjadi perubahan dimana proporsi penduduk yang dominan
bukan lagi penduduk muda tetapi penduduk usia produktif (15-64). Di
antara mereka yang ada dalam kelompok usia produktif tersebut adalah
remaja usia 15-24 tahun. Mereka inilah yang kelak akan menjadi
kelompok penduduk dewasa dan tua pada tahun 2030.

Usia remaja merupakan saat pengenalan/pertemuan identitas diri


dan pengembangan diri. Pandangan tentang diri sendiri yang sudah
berkembang pada masa anak-anak, makin menguat pada masa remaja.
Hal ini seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup atas
dasar kenyataan-kenyataan yang dialami. Semua itu membuat remaja
dapat menilai dirinya sendiri apakah baik atau kurang baik. Pesatnya
perkembangan fisik dan psikisseringkali menyebabkan remaja mengalami
krisis peran dan identitas.Sesungguhnya, remaja senantiasa berjuang
agar dapat memainkan peranannya agar sesuai dengan perkembangan
masa peralihannya dari masa anak-anak menjadi masa
dewasa.Tujuannya adalah memperoleh identitas diri yang semakin jelas
dan dapat dimengerti dan serta diterima oleh lingkungannya, baik
lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dalam konteks ini,
penyesuaian diri remaja secara khas berupaya untuk dapat berperan
sebagai subjek yang kepribadiannya memang berbeda dengan anak-
anak ataupun orang dewasa (Mohammad Ali dkk, 2010).

Erikson dalam Sudarwan Danim (2010) mencatat bahwa konflik


utama yang dihadapi peserta didik berusia remaja pada tahap ini adalah
munculnya salah satu dari apa yang disebut sebagai identitas versus
kebingungan identitas (identity versus identityconfusion). Oleh karena itu,
tugas psikososial bagi peserta didik yang memasuki usia remaja adalah
mengembangkan individualitas. Mereka harus menetapkan peranan
pribadi dalam masyarakat dan mengintegritaskan berbagai dimensi
kepribadiannya menjadi keseluruhan yang masuk akal. Mereka harus
bergulat dengan isu seperti memilih karir, kuliah, agama yang dianut dan
pengalamannya, aspirasi politik, dan lain-lain.

Prilaku anti sosial merupakan prilaku yang menyimpang dari


norma-norma yang berlaku dalam sistem sosial di masyarakat. Prilaku
anti sosial muncul sebagai akibat ketidak mampuan individu atau
kelompok dalam menyesuaikan diri dan menganut norma yang ada di
masyarakat. Perilaku pelanggaran, penentangan, dan berlawanan yang
dimiliki individu atau kelompok terhadap perilaku yang berlaku di
masyarakat maka menyebabkan individu atau kelompok dianggap
memiliki perilaku anti sosial. Perilaku anti sosial mencakup problem yang
disebabkan adanya penyimpangan perilaku yang terkait dengan
mencakup perkembangan sosial, emosi, dan moral. Hal ini akan menjadi
permasalahan yang komplek pada anak dan akan berdampak pada
perilaku agresif Burt, Donnellan, Iacono & McGue (2011).

Menurut Wiramihardja (2012) terdapat beberapa jenis perilaku anti


sosial, yaitu perilaku terbuka (overt) dan perilaku tertutup (covert).
Perilaku terbuka ini ditampilkan oleh otot maupun kerangka badan seperti
berjalan, memukul dan lain-lain. Perilaku tertutup adalah perilaku yang
gerak-geriknya tidak langsung menyatakan maksudnya seperti marah
yang diperlihatkan dengan muka merah atau perilaku non-agresif seperti
perilaku melanggar peraturan dengan berbohong.
Perilaku antisosial merupakan gangguan kepribadian yang
ditandai dengan ketidak perdulian, bertindak kasar, suka berkelahi,
membuat kegaduhan dalam masyarakat atau sekolah, mengolok-olok
secara berlebihan, mengabaikan perintah, melanggar peraturan,
berbohong, sering memerintah, sering mementingkan diri sendiri
(Bahiyatun, 2010).
Supratiknya (2012), berpendapat bahwa penyebab perilaku anti
sosial adalah frustasi karena keluarga tidak rukun, penolakan sosial,
orang tua kurang memberi bimbingan, dan pengaruh teman.
Gangguan perilaku antisosial di Indonesia mempunyai prevalensi
pada tahun 2005, kejadian perkelahian antar pelajar di seluruh wilayah
Indonesia sebanyak 58 desa/kelurahan. Pada Tahun 2008 semakin
meluas terjadi sebanyak 108 desa/kelurahan diseluruh Indonesia. Pada
tahun 2010, perilaku antisosial tercatat dalam BPS diantaranya adalah
pencurian sekitar 60% dari seluruh remaja yang nakal, penyalah gunaan
narkoba 9,5%, pemerkosaan 6%, kecelakaan lalu lintas yang
menyebabkan kematian orang lain 5%, pengeroyokan 4%, dan
penganiayaan 4% (Profil kriminalitas remaja, 2010, dalam BPS,2011).
Penelitian yang dilakukan Baskoro di SMA Mardisiswa Semarang
(2010) menyatakan distribusi perilaku antisosial sebagai berikut,dari 37
responden yang terdiri dari 18 responden laki-laki dan 19 responden
perempuan, didapatkan bahwa dari 18 responden laki-laki yang
mengalami gangguan perilaku antisosial adalah sebanyak 40,5%.
Sedangkan dari 19 responden perempuan yang mengalami gangguan
perilaku antisosialadalah sebanyak 24,3%. Penelitian lain yang dilakukan
Simalullang& Daulay(2011). Setatus anak juga berperan sebagai suatu
factor yang dapat empengaruhi perkembangan sosial dalam keluarganya.
Yang dimaksud setatus anak adalah setatus anak sebagai anak tunggal,
anak sulung, atau anak bungsu diantara saudara-saudaranya. Mengenai
status anak terhadap perkembangan sosial.
Peranan status anank tunggal dalam keluarga telah dilakukan
penelitian oleh Hermann, Leipzig, 1939 (12) yang meneliti 100 orang anak
tunggal dengan membandingkannya dengan 100 anak yang ber kakak-
adik, yaitu dengan cara angket dan analisis dari laporan kepribadiannya.
Menurut penelitian tersebut, yang pertama dirugikan pada perkembangan
anak tunggal adalah mengenai hal-hal “perasaan aku” didalam dirinya. Ia
memperoleh hasil bahwa anak-anak tunggal dibandingkan dengan anak-
anak yang bersaudara biasanya sangat egois, mencari penghargaan
dirinya dengan berlebihan, dan sebagainya. Disamping itu, mereka
mudah sekali dihinggapi perasaan rendah diri (Gerungan, 2010).
 alsan pemilihan judul,
 pentingnya pembahasan masalah)
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dapat dapat diambil rumusan
masalah yaitu.
1. Bagaimana hubungan jenis kelamin dengan prilaku antisosial pada
siswa-siswi usia remaja kelas VII dan VIII di SMP Muhammadiyah 1
Kudus tahun 2018?
2. Bagaimana hubungan jumlah saudara dengan perilaku antisosial
pada siswa-siswi usia remaja kelas VII dan VIII di SMP
Muhammadiyah 1 Kudus tahun 2018?
3. Bagaimana hubungan urutan kelahiran dengan perilaku antisosial
pada siswa-siswi usia remaja kelas VII dan VIII di SMP
Muhammadiyah 1 Kudus tahun 2018?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang dilakukan di SMP Muhammadiyah Kudus
1 tahun 2018.
Adalah sebagai berikut :

1. Tujuan umum
Mengetahui hubungan jenis kelamin, jumlah saudara,dan urutan
kelahiran dengan perilaku antisosial pada siswa-siswi usia remaja
kelas VII dan VIII di SMP Muhammadiyah 1 Kudus tahun 2018.

2. Tujuan khusus
a. Mengetahui gambaran umum tentang jenis kelamin.
b. Mengetahui gambaran umum tentang jumlah saudara.
c. Mengetahui gambaran umum tentang urutan kelahiran.
d. Mengetahui gambaran hubungan jenis kelamin dengan prilaku
antisosial pada siswa-siswi usia remaja kelas VII dan VIII SMP
Muhammadiyah 1 Kudus.
e. Mengetahui gambaran hubungan jumlah saudara dengan prilaku
antisosial pada siswa-siswi usia remaja kelas VII dan VIII di SMP
Muhammadiyah 1 Kudus.
f. Mengetahui gambaran hubungan urutan kelahiran dengan prilaku
antisosial pada siswa-siswi usia remaja kelas VII dan VIII di SMP
Muhammadiyah 1 Kudus.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis :
memberikan pengalaman baru bagi penulis dalam menerapkan
ilmu yang diaplikasikan dalam melakukan penelitian dan penulisan
karya ilmiah tentang hubungan jenis kelamin, jumlah saudara, dan
urutan kelahiran dengan prilaku antisosial pada remaja.

2. Bagi sekolah :
Penelitian ini dapat dipakai sebagai informasi siswa-siwi dan guru
di SMP Muhammadiyah 1 Kudus mengenai jenis hubungan kelamin,
jumlah saudara, dan urutan kelahiran dengan kejadian prilaku
antisosial pada remaja dan juga sebagai upaya mencegah dan
penurunan prilaku antisosial pada siswa-siswi di SMP Muhammadiyah
1 Kudus.

3. Bagi istitusi pendidikan :


Menambah wawasan dibidang keperawatan anak dalam bidang
ilmu psikologi khususnya dalam kasus prilaku anti sosial dan Sebagai
dasar pemikiran untuk penelitian selanjutnya, baik untuk peneliti
sendiri maupun peneliti lainnya.

4. Bagi pengembangan riset keperawatan :


Menambah referensi, pengetahuan, informasi, dan
penyempurnaan penelitian selanjutnya mengenai prilaku antisosial
pada remaja.

E. Ruang Lingkup Penelitian (wilayah tempat, wilayah ilmu, metodologi,


waktu).

1. Lingkup masalah
Masalah yang dikaji hubungan jenis kelamin, jumlah saudara,dan
urutan kelahiran dengan prilaku antisosial pada siswa-siswi usia
remaja kelas VII dan VIII di SMP Muhammadiyah 1 Kudus tahun
2018.

2. Lingkup keilmuan
Penelitian ini termasuk dalam ilmu keperawatan anak dalam
bidang ilmu psikologi.

3. Lingkup metodologi

4. Lingkup lokasi
Penelitian ini dilakukan di SMP Muhammadiyah 1 JL. KHR Asnawi
No.7, Pejaten, Damaran, Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa
Tengah 59316.

5. Lingkup sasaran
Sasaran penelitian ini adalah siswa-siwi usia remaja kelas VII dan
VIII SMP Muhammadiyah 1 Kudus dengan prilaku antisosial.

6. Lingkup waktu
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan… tahun 2018.
F. Keaslian Penelitian
Penelitian dengan judul “Hubungan Jenis Kelamin, Jumlah Saudara,Dan
Urutan Kelahiran Dengan Prilaku Antisosial Pada Siswa-Siswi Usia
Remaja Kelas VII Dan VIII Di SMP Muhammadiyah 1 Kudus Tahun
2018”, belum ditemukan dalam kepustakaan STIKes Muhammadiyah
Kudus, namun dalam jurnal penelitian lain ditemukan beberapa yang
hampir sama yaitu:

Table 1.1 keaslian penelitian


Peneliti Judul Metode Hasil Penelitian Perbedaan
Penelitian
MUHAMMAD HUBUNGAN Penelitian Dari hasil Penelitian
DWI PANJI ANTARA korelasional analisis terdahulu,
BASKORO DEPRESI dengan menunjukan peneliti
DENGAN pendekatan terdapat menggunakan
PRILAKU cross section hubungan yang variable bebas
ANTISOSIAL signifikan dengan depresi
PADA REMAJA anatara depresi sebagai factor
DI SEKOLAH dengan mempengaruhi,
gangguan sedangkan
prilaku penelitian
antisosial pada sekarang
remaja dengan menggunakan
nilai p= 0,042 tipe jenis
kelamin, jumlah
saudara, dan
urutan kelahiran
sebagai factor
yang
mempengaruhi.
DEWI PERILAKU Deskripsi Hasil penelitian Penelitian
SIMANULLANG ANTISOSIAL komparatif menunjukan terbaru peneliti
WARDIYAH REMAJA DI bahwa factor membahas
DAULAY SMA SWATA yang paling apasaja factor
RAKSANA dominan yang
MEDAN mempengaruhi mempengaruhi
prilaku antisosial dan
antisosial mana factor
adalah proses yang lebih
keluarga dominan,
dengan nilai b sedangkan
=0,667 penelitian
sekarang
terfokus pada
menggunakan
tipe jenis
kelamin, jumlah
saudara, dan
urutan kelahiran
sebagai factor
yang
mempengaruhi.

G. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan antara lain :
1. Kurangnya keterbukaan dari responden dalam melakukan penelitian.
2. Penelitian ini hanya membahas tentang variable jenis kelamin, jumlah
saudara, dan urutan kelahiran dengan kejadian prilaku antisosial.
3. Sasran hanya tertuju pada siswa-siswi usia remaja kelas VII dan VIII
SMP Muhammadiyah Kudus dengan prilaku anti sosial.
4. Jenis penelitian ini menggunakan..
LEMBAR KONSULTASI

Nama Mahasiswa : Mohamad Habibi


NPM : 720153073
Prodi : S1 Ilmu Keperawatan
Judul : HUBUNGAN JENIS KELAMIN, JUMLAH
SAUDARA,URUTAN KELAHIRAN DENGAN PRILAKU ANTI SOSIAL
REMAJA DI SMP MUHAMMADIYAH KUDUS.
Pembimbing : Ns. Indanah. M.kep.An., S.Kep

Hari/ Materi TTD


No. Saran
Tanggal Konsultasi Pembimbing Mahasiswa
LEMBAR KONSULTASI

Nama Mahasiswa : Mohamad Habibi


NPM : 720153073
Prodi : S1 Ilmu Keperawatan
Judul : HUBUNGAN JENIS KELAMIN, JUMLAH
SAUDARA,URUTAN KELAHIRAN DENGAN PRILAKU ANTI SOSIAL
REMAJA DI..
Pembimbing : Rizka Himawan, S.Psi., M. Psi

Hari/ Materi TTD


No. Saran
Tanggal Konsultasi Pembimbing Mahasiswa