Anda di halaman 1dari 12

BAB I

TEORI UMUM SECONDARY SURVEILLANCE RADAR

Di dalam fungsinya sebagai alat navigasi udara, radar (Radar Primary dan Radar
Secondary) akan memberikan informasi yang akurat kepada pemandu lalu lintas
udara berupa :
1. Jarak sebuah pesawat dari stasiun radar dengan Nautical Mile (NM)
(Radar Primary).
2. Azimuth ialah merupakan sudut dari titik utara ke arah pesawat berada
searah dengan perputaran jarum jam yang diukur dalam satuan derajat
(Radar Primary).
3. Ketinggian sebuah pesawat dengan permukaan air laut dengan satuan
ukurannya dalam Feet (Radar Secondary).
4. Identifikasi (kode) pesawat untuk membedakan pesawat udara yang satu
dengan yang lainnya biasanya dimulai dengan huruf A dan diikuti dengan
empat angka.
5. Pada keadaan darurat/emergency, akan terlihat kode khusus yang telah
dimengerti oleh kode petugas menara. Kesemuai informasi ini akan
didapatkan pada layar pantau radar yang dapat memberikan informasi
sekeliling antena (360°) dengan radius yang sesuai dengan kemampuan
jangkauan pemancar radar. Gambar I-1 adalah salah satu contoh sistem
radar secara blok diagram dimana posisi antena primary dan secondary
menjadi satu (colocated).

I-1
Gambar I-1. Blok diagram Sistem Radar

Secondary Radar RS870 ditujukan untuk mengidentifikasikan pesawat di


dalam radius 200 NM atau 360 km, dimana radar tersebut dapat disebut sebagai :
1. SSR (Secondary Surveillance Radar) dalam sistem sipil.
2. IFF / SIF (Identifikasi Friend or Foe / Selective Identification Feature)
dalam sistem militer.

I-2
Radar SSR dapat digabungkan dengan radar primer, dimana data radar
primer dilengkapi dengan data SSR yaitu informasi mengenai “identifikasi dan
ketinggian” pesawat. Radar primer PSR merupakan radar yang deteksi targetnya
secara pasif artinya menggunakan sifat gelombang RF yang dipantulkan dari
target.
Dari deteksi pasif, data yang didapat :
1. Range echo-echo, jarak echo-echo terhadap stasiun radar.
2. Arah echo-echo, posisinya terhadap arah utara, sesuai dengan arah antena.
Dengan radar SSR yangmerupakan radar deteksi aktif dengan pesawat terpasang
transponder, informasi yang didapatkan lebih dari deteksi PSR, yaitu :
1. Range dan arah echo-echo.
2. Kode pesawat, pesawat sipil atau militer atau musuh.
3. Ketinggian pesawat, diperlukan oleh ATC untuk pengaturan lalulintas
udara yang sudah penuh dengan pesawat.
Dari SSR dalam tanya jawab dengan pesawat, yaitu dengan menggunakan deretan
pulsa yang disebut sebagai MODE sedangkan jawaban dari pesawat oleh
transpondernya merupakan deretan pulsa yang disebut sebagai CODE.
Prinspi dari radar SSR adalah sebagai berikut :
1. Transmitter – Receiver (Interogator) mengirim deretan pulsa dengan
frekuensi 1030 MHz menuju pesawat, yaitu pertanyaan berupa “mode”
(kode dan ketinggian pesawat).
2. Pesawat dengan transponder terpasang, menerima mode tersebut langsung
menjawab pertanyaan berupa message “kode” yang berisi identifikasi dan
ketinggian pesawat serta kode-kode emergensi dengan frekuensi 1090
MHz.
Dengan antena SSR menumpang di antena PSR, maka echo-echo dari SSR
dapat digabungkan dengan echo-echo PSR, yang sering disebut “Echo
Associated”.

I-3
A. Prinsip Umum
1. Interogasi SSR atau “MODES”
Interogator SSR mengirimkan deretan pulsa-pulsa ke udara secara
periodik yang disebut “MODES”. Pulsa-pusa yang dipancarkan tersebut
terdiri dari tiga pulsa, seperti gambar I-2 di bawah ini :

P1 P2 P3 P1 P2 P3

2μs

Gambar I-2. Pulsa-pulsa Interogator SSR

Terlihat bahwa jarak pulsa P1 – P2 adalah tetap 2μs. Sedangkan


jarak P1 – P3 adalah variable (τ). Biasanya untuk SSR yang
ditumpangkan di PSR, pulsa P3 disinkronkan dengan sinkro PSR. Waktu
interval P1 – P3 adalah merupakan pertanyaan dari interogator (disebut
“mode”) sebagai berikut :

MODE P1-P3 (μS) TIPE INTEROGATOR

1 3 Militer
2 5 Militer
3/A 8 Identifikasi (kode pesawat)
B 17 Identifikasi (kode pesawat)
C 21 Identifikasi (ketinggian)
D 25 N/U

Pulsa P2 digunakan untuk menghilangkan efek Side Lobe dari


antena, seprti diterangkan pada gambar II-3 di bawah ini :

I-4
Gambar I-3. Pancaran pulsa P2 digunakan untuk menghilangkan
Efek Side Lobe

Disamping F1 dan F2 terdapat pulsa identifikasi tambahan yang


disebut pulsa “Special Position Identification” atau SPI yang biasanya
dipakai dipakai pesawat dalam kondisi emergensi.

Gambar I-4. Code code dari Transponder

I-5
2. Side Lobe Suppression (SLS)
Problem dari pancaran antena SSR adalah side lobe, hal ini dapat
berakibat :
a. Transponder menerima pancaran dari side lobe beam pancaran.
b. Jawaban transponder diambil dari side lobe ke beam penerima.

Dalam kasus di atas, kesalahan tersebut harus dihilangkan yaitu dengan


cara SLS. SLS dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Waktu interogasi (proses ISLS) transponder menolak pancaran side
lobe.
b. Waktu penerimaan (proses RSLS), receiver SSR menolak jawaban via
side lobe.
Proses SLS dapat diatasi dengan 2 jenis pancaran, yaitu :
a. Pancaran sum (kanal Σ).
b. Pancaran difference (kanal Δ).
Kanal Σ memancarkan sinyal utama dan kanal Δ memancarkan sinyal
acuan, perbandingan level dari kedua kanal tersebut memungkinkan untuk
mengidentifikasi pancaran dari main lobe (kanal Σ) dan side lobe
(kanal Δ).
Blok diagram sederhana dari SSR seperti pada gambar I-5 di bawah ini :

Gambar I-5. Global Sistem SSR

I-6
2. Prinsip Transmitter
Pada gambar I-6a merupakan blok diagram Transmitter dari RS870.

Gambar I-6a. Blok Diagram Transmitter

I-7
Gambar I-6b. Diagram Transmitter SSR

I-8
a. Pembangkitan Trigger
Trigger SSR So dibangkitkan dari trigger internal (Station SSR berdiri
sendiri) atau trigger external dari station SSR (Station SSR digabungkan
dengan station PSR).
b. Encoding
Encoder berfungsi membangkitkan 3 deretan pulsa P1, P2 & P3 yang
ditrigger oleh So.Jarak pulsa P1 dan P2 adalah tetap (2 μs) sedangkan
jarak P1 dan P3 adalah menentukan mode yang dipancarkan (pertanyaan
ketinggian dan/atau identifikasi).
Pulsa P2 digunakan dan dipancarkan untuk menghilangkan jawaban dari
side lobe.
c. Oscillator
Oscillator berfungsi membangkitkan signal dengan frekuensi 1030 MHz,
kemudian signal ini dimodulasi, diperkuat dan dipancarkan ke antena.
d. Modulator
Modulator berfungsi untuk memodulasi signal 1030 MHz dengan pulsa
P1, P2 an P3. Pulsa RF hasil modulasi tersebut diperkuat dan dikirimkan
ke “Pattern Switch”.
e. Pattern Switch
Switch ini berfungsi untuk memisahkan pulsa P2 (kanal Δ) dan pulsa P1-
P3 (kanal Σ).
Pulsa P2 yang disebut sebagai pulsa kontrol dipancarkan dengan beam
yang lebar dan overlap dengan side lobnya, sedangkan pulsa P1-P3 yang
diperlukan oleh transponder pesawat. Dari pesawat, transponder
membandingkan pulsa P1-P2-P3, jika amplitudo P1-P3 lebih besar P2,
maka pesawat di dalam beam utama antena, sebaliknya jika amplitudo P1-
P3 lebih kecil dari P2, maka pesawat di dalam beam side lobe antena
(gambar I-3).

I-9
f. Control Switch P’2
Pulsa P’2 dihasilkan setelah timbulnya P1 dan berfungsi sebagai control
switch dari Pattern Switch untuk mengarahkan pulsa P1-P3 dan P2
(gambar I-6a).

3. Prinsip Receiver
Blok diagram Receiver dapat dilihat pada gambar I-7a.

Gambar I-7a. Blok Diagram Receiver

I-10
Gambar I-7b. Diagram Receiver SSR

a. Recetion Kanal Σ
Signal dari transponder pesawat diterima lewat kanal Σ berupa deretan
pulsa yang termodulasi dengan frekuensi 1090 MHz dimixer dengan local
oscillator 1030 MHz, hasilnya IL 60 MHz yang akan diproses oleh
Receiver.
b. Reception Kanal Δ
Jika kanal ini ditambahkan, maka seperti pada kanal Σ di atas.
c. Time Variable Base Clipping (TVBC)
Sistem threshold TVBC ini dibangkitkan dari receiver, berfungsi untuk
memperlemah amplitudo jawaban dari transponder yang dekat station
radar dan menghilangkan efek pantulan dari obstacle.
Signal video Σ dibandingkan dengan threshold TVBC, jika signal Σ lebih
kecil dari TVBC, maka signal tersebut dihilangkan seperti gambar I-8.

I-11
Gambar I-8. Timing Diagram Sistem Receiver

I-12