Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

STRUKTUR BETON I

“MATERIAL PENYUSUN BETON”

DI SUSUN OLEH :

 DIMAS DWI PUTRA (2016 -22-201-007)

UNIVERSITAS MUSAMUS MERAUKE


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karuniaNya

penulisdapat menyelesaikan makalah “material penyusun beton” ini tepat pada

waktu yang telah ditentukan. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-

banyaknya kepada dosen pengampuh yang telah memberikan bimbingan serta

arahan sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini. Di samping itu, penulis

juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam

pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, namun

dalam penulisan ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu,

kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan demi terciptanya

laporan yang lebih baik.

Merauke, 20 Maret 2019

DIMAS DWI PUTRA


201622201007

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………………………i

KATA PENGANTAR……………………………………………………….……ii

DAFTAR ISI………………………………………………………………….…..iii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………1

1.1. Latar Belakang……………………………………………………………..1

1.2. Rumusan Masalah…………………………………………………………2

1.3. Tujuan………………………………………………………………….…..2

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………….4

2.1.Pengertian beton …….............………........ .................................….……...4

2.2. Pengertian material-material penyusun beton.........................…………….4

BAB III PENUTUP………………………………………………………………16

3.1. Kesimpulan……………………………………………………………….16

3.2. Saran……………………………………………………………………...16

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Beton merupakan salah satu bahan bangunan yang masih sangat banyak

dipakai dalam pembangunan fisik. Harganya yang relatif murah dan kemudahan

dalam pelaksanaannya membuat beton semakin tak tergantikan dalam dunia

konstruksi. Namun selain keuntungan yang dimilikinya beton juga memiliki

beberapa kekurangan seperti tegangan tarik yang rendah, daktibilitas rendah, dan

keseragaman mutu yang bervariatif. Karena kekurangan yang dimiliknya maka

diperluakan pengetahuan yang cukup luas,antara lain mengenai sifat bahan

dasarnya, cara pembuatannya, cara evaluasi, dan variasi bahan tambahnya agar

dapat meningkatkan fungsi beton itu sendiri menjadi lebih maksimal. Dalam

pembuatannya, keseragaman kualitas beton sangat dipengaruhi oleh keseragaman

bahan dasar dan metode pelaksanaan. Oleh karena itu dengan adanya makalah ini

diharapkan pembaca dapat memahami dan mengetahui bahan-bahan penyusun

beton yang ekonomis dan berkualitas.

1.2. Rumasan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan beton?


2. Material-material apa yang menyusun beton ?

1.3. Tujuan

1. Mengetahui dan memahami pengertian beton


2. Mengetahui dan memahami material penyusun beton

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Beton

Beton adalah suatu material yang menyerupai batu yang diperoleh dengan

membuat suatu campuran yaitu semen, pasir, kerikil dan air untuk membuat

campuran tersebut menjadi keras dalam cetakan sesuai dengan bentuk dan

dimensi struktur yang diinginkan. Kumpulan material tersebut terdiri dari agregat

yang halus dan kasar. Semen dan air berinteraksi secara kimiawi untuk mengikat

partikel-partikel agregat tersebut menjadi suatu massa padat. Pada umumnya

beton terdiri dari ± 15 % semen, ± 8 % air, ± 3 % udara, selebihnya pasir dan

kerikil. Campuran tersebut setelah mengeras mempunyai sifat yang berbeda-beda,

tergantung pada cara pembuatannya. Perbandingan campuran, cara pencampuran,

cara mengangkut, cara mencetak, cara memadatkan, dan sebagainya akan

mempengaruhi sifat-sifat beton. Sifat beton meliputi: mudah diaduk, disalurkan,

dicor, didapatkan dan diselesaikan, tanpa menimbulkan pemisahan bahan susunan

pada adukan dan mutu beton yang disyaratkan oleh konstruksi tetap dipenuhi.

Material beton mempunyai beberapa keunggulan teknis jika dibanding dengan

material konstruksi lainnya. Bahan baku pembuatan beton, seperti semen, pasir

dan koral atau batu pecah, sangat mudah diperoleh. Keunggulan lain yang dimiliki

beton dibandingkan dengan material lainnya adalah mempunyai kuat tekan dan

stabilitas volume yang baik dan biaya perawatannya relatif lebih murah. Selain

itu, material beton lebih tahan terhadap pengaruh lingkungan, tidak mudah

terbakar, dan lebih tahan terhadap suhu tinggi, sehingga banyak digunakan

2
sebagai pelindung struktur baja terhadap pengaruh kebakaran pada bangunan

gedung.

Sifat dan karakter mekanik beton secara umum :

1. Beton sangat baik menahan gaya tekan (high compressive strength), tetapi

tidak begitu pada gaya tarik (low tensile strength). Bahkan kekuatan gaya

tarik beton hanya sekitar 10% dari kekuatan gaya tekannya.

2. Beton tidak mampu menahan gaya tegangan (tension) yang tinggi, karena

elastisitasnya yang rendah.

3. Konduktivitas termal beton relatif rendah. Dalam keadaan yang mengeras,

beton bagaikan batu karang dengan kekuatan tinggi. Dalam keadaan segar,

beton dapat diberi bermacam bentuk, sehingga dapat digunakan untuk

membentuk seni arsitektur atau semata-mata untuk tujuan dekoratif.

Beton juga akan memberikan hasil akhir yang bagus jika pengolahan akhir

dilakukan dengan cara khusus umpamanya diekspose agregatnya (agregat yang

mempunyai bentuk yang bertekstur seni tinggi diletakkan di bagian luar, sehingga

nampak jelas pada permukaan betonnya).

3
Faktor – faktor yang membuat beton banyak digunakan karena memiliki

keunggulan – keunggulannya antara lain :

1. Kemudahan pengolahannya.

2. Material yang mudah didapat.

3. Kekuatan tekan tinggi.

4. Daya tahan yang tinggi terhadap api dan cuaca merupakan bukti dari

kelebihannya.

Selain memiliki kunggulan-keunggulan seperti disebutkan di atas, beton juga

memiliki kekurangan seperti berikut:

1. Bentuk yang telah dibuat sulit diubah

2. Pelaksanaan pekerjaan membutuhkan ketelitian yang tinggi

3. Berat (bobotnya besar)

4. Daya pantul suara yang besar. Sebagian besar bahan pembuat beton adalah

bahan lokal (kecuali semen portland atau bahan tambah kimia), sehingga

sangat menguntungkan secara ekomoni.

Namun pembuatan beton akan menjadi mahal jika perencana tidak memahami

karakteristik bahan-bahan penyusun beton yang harus disesuaikan dengan

perilaku struktur yang akan dibuat.

2.2. Pengertian Material-Material Penyusun Beton

2.2.1. Semen

Semen adalah bahan pengikat hidrolis berupa bubuk halus yang dihasilkan

dengan cara menghaluskan klinker (bahan ini terutama terdiri dari silikat-

4
silikat kalsium yang bersifat hidrolis), dengan batu gips sebagai bahan

tambahan. Bahan baku pembuatan semen adalah bahan-bahan yang

mengandung kapur, silika, alumina, oksida besi, dan oksida-oksida lainnya.

Fungsi utama semen adalah sebagai perekat.Bahan-bahan semen terdiri dari

batu kapur (gamping) yang mengandung senyawa: Calsium Oksida (CaO),

lempung atau tanah liat (clay) adalah bahan alam yang mengandung senyawa:

Silika Oksida (SiO2), Aluminium Oksida (Al2O3), Besi Oksida (Fe2O3) dan

Magnesium Oksida (MgO). Untuk menghasilkan semen, bahan baku tersebut

dibakar sampai meleleh, sebagian untuk membentuk klinker. Klinker

kemudian dihancurkan dan ditambah dengan gips(gypsum).

Semen dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu semen hidraulik dan

semen nonhidraulik. Semen hidraulik mempunyai kemampuan untuk

mengikat dan mengeras di dalam air. Contoh semen hidraulik antara lain

kapur hidraulik, semen pozollan, semen terak, semen alam, semen

portland,semen alumina dan semen expansif. Contoh lainnya adalah semen

portland putih, semen warna, dan semen-semen untuk keperluan khusus.

Sedangkan semen non-hidraulik adalah semen yang tidak dapat mengikat dan

mengeras di dalam air, akan tetapi dapat mengeras di udara. Contoh utama dari

semen nonhidraulik adalah kapur.

2.2.1.1. Semen Portland

Semen portland adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan

dalam pekerjaan beton. Menurut ASTM C-150,1985, semen portland

didefinisikan sebagai semen hidraulik yang dihasilkan dengan

5
menggiling kliner yang terdiri dari kalsium silikat hidrolik, yang

umumnya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai

bahan tambahan yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya.

Ditinjau dari penggunaannya,menurut ASTM Semen Portland dapat

dibedakan menjadi lima tipe :

a. Tipe I ( Semen penggunaan umum )

Sifat dari semen portland tipe I yaitu MgO dan SO3 hilang pada saat

pembakaran. Kehalusan dan kekuatannya secara berturut-turut juga

ditentukan. Secara umum mempunyai sifat-sifat umum dari semen.

Digunakan secara luas sebagai semen untuk teknik

sipil dan konstruksi arsitektur misalnya pembangunan jalan, bangunan

beton bertulang, jembatan danlain-lain.

b. Tipe II ( Semen pengeras pada panas sedang )

Semen Portland tipe II mempunyai C3S kurang dari 50% dan C3A

kurang dari 8%. Kalor hidrasi 70 kal atau kurang (7 hari) dan 80 kal atau

kurang (28 hari) pada kondisi sedang. Peningkatan dari kekuatan jangka

panjang diinginkan. Seca-ra umum dipakai untuk mencegah serangan

sulfat dan lingkungan sistem drainase dengan kadar konsentrat tinggi

didalam tanah.

c. Tipe III ( Semen berkekuatan tinggi awal )

6
Semen portland tipe III mengandung C3S maksimum. Kekuatan awal (1

hari dan 3 hari) diintensifkan, ditentukan untuk mempunyai kekuatan di

atas 40 kg/cm2 selama penekanan 1 hari dan di atas 90 kg/cm2 selama

penekanan 3 hari. Kegunaannya yaitu untuk menggantikan semen

penggunaan umum untuk pekerjaan yang mendesak. Cocok untuk

pekerjaan dimusim dingin. Biasanya dipakai untuk konstruksi bangunan,

pekerjaan pembuatan jalan, dan produk semen.

d. Tipe IV ( Semen jenis rendah )

Pada semen Portland tipe IV, kalor hidrasi lebih rendah l0 kal dari pada

semen pengeras pada panas sedang, ditentukan dibawah 60 kal (7hari)

dan diba-wah 70 kal yaitu 28 hari (ASTM).Memberikan kalor hidrasi

minimum seperti semen untuk pekerjaan bendungan. Kegunaannya yaitu

digunakan pada struktur-struktur dam dan bangunan masif. Dimana

panas yang terjadi sewaktu hidrasi merupakan faktor penentu bagi

kebutuhan beton/mortar.

e. Tipe V ( Semen tahan sulfat )

Semen portland tipe V mempunyai C3S dibawah 50% dan C3A dibawah

50% (ASTM). Diusahakan agar kadar C3A minimum untuk

memperbesar ketaha-nan terhadap sulfat. Biasanya dipakai untuk

pekerjaan beton dalam tanah yang mengandung banyak sulfat dan yang

berhubungan dengan air tanah dan pelapisan dari saluran air dalam

terowongan.

7
2.2.1.2. Semen Portland Tipe I

Semen portland tipe I adalah bahan konstruksi yang paling banyak

digunakan dalam pekerjaan beton. Menurut ASTM C-150,1985,

semen portland didefinisikan sebagai semen

hidraulik yang dihasilkan dengan menggiling kliner yang terdiri dari

kalsium silikat hidrolik, yang umumnya mengandung satu atau lebih

bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling

bersama-sama dengan bahan utamanya.

Semen Portland dibuat dari serbuk halus kristalin yang komposisi

utamanya adalah kalsium dan aluminium silkat. Bahan baku utama

dalam pemnuatan semen Portland adalah sebagai berikut :

 Kapur (CaO) –daribatukapur (60 – 65 %)

 Silika(SiO2)–darilempung (17 – 25 %)

 Alumina(Al2O3)–darilempung (3 – 8 %)

Untuk Penelitian ini digunakan semen Portland Tipe I yang

diproduksi oleh PT.Semen Padang, Sumatera Barat. Semen ini

dibuat dengan standart ASTM C-150 untuk semen portland.

2.2.1.3. Semen Portland Pozzolan

Pozzolan merupakan bahan yang mengandung silica atau

senyawanya dan alumina, yang tidak memiliki sifat mengikat seperti

8
semen, tetapi dalam bentuk yang halus adanya air dapat menjadi

suatu massa padat yang tidak larut dalam air.

Semen pozzolan adalah bahan pengikat hidrolis yang terbuat dari

hasil penggilingan pozzolan dan kapur padam sesuai dengan ukuran

halus dan homogen yang mempunyai sifat semen dan memenuhi

standar yang diperlukan.

Kegunaan semen Portland pozzolan :

1. Sebagai pengganti semen Portland.

2. Bahan komponen bangunanstruktur ringanseperti lantai,

dinding dansaluran air.

3. Material untuk bangunan rumah sangat sederhana di

perkotaan dan pedesaan.

4. Material untuk jalan lingkungan pedesaan.

5. Mempertinggi kualitas beton.

Semen portland pozzolan merupakan campuran dari semen

portland biasa dengan serbuk halus trass atau pozzolan, atau benda-

benda yang bersifat pozzolan (misalnya abu terbang, fly ash).

Kadarnya adalah antara 10% - 30% dari berat.

2.2.2. Air

Air sebagai bahan pencampur smen berperan sebagai bahan perekat, sehinnga

penambahan air dalam pembuatan spesi beton merupakan unsur yang sangat

9
penting. Peranan air sebagai bahan perekat terjadi melalui reaksi hidrasi, yaitu

semen dan air akan membentuk pasta semen dan mengikatfragmen-

fragmenagregat.

Secara umum, air yang dapat diminum cocok digunakan sebagai air pencampur,

sebab telah memenuhi persyaratan teknis sebagai air pencampur. Air yang

digunakan dalam pembuatan beton pra-tekan dan beton yang akan ditanami logam

alumunium (termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat) tidak boleh

mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan. Untuk perlindungan

terhadap korosi, konsentrasi ion klorida maksimum yang terdapat dalam beton

yang telah mengeras pada umur 28 hari yang dihasilkan dari bahan campuran

termasuk air, agregat, bahan bersemen dan bahan campuran tambahan tidak boleh

melampaui nilai batas yang diberikan pada Tabel di bawah:

Jenis beton Batas

(%)

Beton pra-tekan 0,06

Beton bertulang yang selamanya berhubungan dengan klorida 0,15

Beton bertulang yang selamanya kering atau terlindung dari 1,00

Basah 0,30

Konstruksi beton bertulang lainnya

10
2.2.3. Agregat

Agregat menempati 65-80% volum total dari beton, sifat-sifatnya sangat

mempengaruhi kualitas beton. Agregat yang baik seharusnya mempunyai

sifat-sifat sebagai berikut:

1. Keras dan kuat

2. Bersih

3. Tahan lama

4. Masa jenis tinggi

5. Butir bulat

6. Distribusi ukuran butir yang cocok.

Agregat dapat diperoleh dari proses pelapukan dan abrasi atau pemecahan

massa batuan induk yang lebih besar. Oleh karena itu, sifat agregat tergantung

dari sifat batuan induk. Sifatsifat tersebut diantaranya, komposisi kimia dan

mineral, klasifikasi petrografik, berat jenis,

kekerasan (hardness), kekuatan, stabilitas fisika dan kimia, struktur pori,

warna dan lain-lain. Namun, ada juga sifat agregat yang tidak bergantung dari

sifat batuan induk, yaitu ukuran dan bentuk partikel,tekstur dan absorbsi

permukaan.

Agregat yang digunakan dalam campuran beton dapat berupa agregat alam

atau agregat buatan (artificial aggregates). Secara umum agregat dapat

dibedakan berdasarkan ukurannya, yaitu, agregat kasar dan agregat halus.

Batasan antara agregat kasar dan agregat halus berbeda antara disiplin ilmu

yang satu dengan yang lainnya. Meskipun demikian, dapat diberikan batasan

11
ukuran antara agregat halus dengan agregat kasar yaitu 4.80 mm (British

Standard) atau 4.75 mm (Standar ASTM). Agregat kasar adalah batuan yang

ukuran butirannya lebih besar dari 4.80 mm (4.75 mm). Agregat dengan

ukuran lebih besar dari 4.80 – 40 mm disebut kerikilbetonyanglebih dari

40mm disebut kerikil kasar.

Agregat yang digunakan dalam campuran beton biasanya berukuran lebih

kecil dari 40 mm. Agregat yang ukurannya lebih besar dari 40 mm digunakan

untuk pekerjaan sipil lainnya, misalnya untuk pekerjaan jalan, tanggul-tanggul

penahan tanah, bronjong atau bendungan, dan lainnya. Agregat halus biasanya

dinamakan pasir dan agregat kasar dinamakan kerikil, spilit, batu pecah,

kricak dan lainnya.

2.2.3.1. Agregat Kasar

Jenis agregat kasar yang umum adalah :

1. Batu Pecah Alami : Bahan ini di dapat dari cadas atau batu

pecah alami yang digali.batu ini dapat berasal dari gunung

api, jenis sedimen, atau jenis metamorf. Meskipun dapat

menghasilkan kekuatan yang tinggi terhadap beton, batu

pecah kurang memberikan kemudahan pengerjaan dan

pengecoran dibandingkan dengan jenis agregat kasar lainnya.

2. Kerikil Alami : Kerikil didapat dari proses alami, yaitu dari

pengikisan tepi maupun dasar sungai oleh air sungai yang

mengalir. Kerikil memberikan kekuatan yang lebih rendah

12
dari pada batu pecah, tetapi memberikan kemudahan

pengerjaan yang lebih tinggi.

3. Agregat Kasar Buatan : Terutama berupa slag atau shale yang

biasa digunakan untuk beton berbobot ringan. Biasanya

merupakan hasil dari proses lain seperti blast-furnace dan

lain-lain.

4. Agregat untuk Perlindungan Nuklir dan Berbobot Berat :

Dengan adanya tuntutan yang spesifik pada zaman atau

sekarang ini, juga untuk pelindung dari radiasi nuklir sebagai

akibat dari semakin banyaknya pembangkit atom dan stasium

tenaga nuklir, maka perlu adanya beton yang dapat

melindungi dari sinar x,sinar gamma,dan neutron.

2.2.3.2. Agregat Halus

Agregat halus atau pasir adalah material yang dapat lolos dari saringan

nomor 4, yaitu saringan yang setiap 1 inchi panjang mempunyai 4 lubang.

Material yang kasar dari ukuran ini digolongkan sebagai agregat yang kasar

atau koral.Ukurannya bervariasi antara ukuran No. 4 dan No. 100 saringan

Standar Amerika. Agregat halus yang baik harus bebas organik, lempung,

partikel, yang lebih kecil dari saringan No.100, atau bahan-bahan lain yang

dapat merusak campuran beton.

2.2.4. Bahan Tambah

Admixture adalah bahan2 yang ditambahkan ke dalam campuran beton pada

saat atau selama pencampuran berlangsung. Fungsi bahan tambah adalah

13
untuk mengubah sifat2 dari beton agar menjadi lebih cocok untuk pekerjaan

ttn,atau untuk menghemat biaya.

Jenis2 bahan tambah: - Bahan tambah kimia

 Tipe A (water reducing admixtures - faktor air semen yang rendah dan

kadar semen tetap)

 Tipe B (retarding admixtures - menghambat waktu pengerasan beton)

 Tipe C (acceleratingAdmixtures - mempercepat pengikatan awal

beton)

 Tipe D (water reducing and retarding admixtures - pengurangan air

dan pengontrolan pengeringan)

 Tipe E (water reducing and accelerating admixtures – mengurangi

jumlah air dan mempercepat pengerasan)

 Tipe F (water reducung high range admixtures – mengurangi jumlah

air pencampuran untuk menghasilkan beton dengan konsistensi

ttn,sebanyak 12% atau lebih dan juga untuk menghambat pengikatan

beton)

- Bahan tambah mineral

 abu terbang batubara

 slag (residu pembakaran tanur tinggi)

 silika fume (material pozzolan yang halus

 penghalus gradasi

- Bahan tambah lainnya.

 air entraining

14
 beton tanpa slump

 polimer

 hardener concrete

 water proofing

 bahan tambah pemberi warna

 bonding agent for concrete

15
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Pengenalan atas sifat-sifat fisik dan mekanik akan sangat membantu dalam

menentukan jenis-jenis mutu beton untuk tujuan pengunaan tertentu.

Diharapkan dengan memahami sifatsifat beton dan jenis-jenis mutu beton,

cara pembuatan, pemeliharaan, standar dalam struktur bangunan untuk

penggunaan tertentu khususnya dalam bidang teknik sipil akan semakin

membantu dalam pembangunan dibidang teknik sipil

3.2. Saran

Untuk menghindari kegagalan struktur beton, seperti keruntuhan yang

diakibatkan oleh gempa yang akhir ini sering terjadi. Maka kualitas beton

perlu direncanakan mengikuti standart, agar bisa diperoleh suatu struktur

kolom sesuai dengan yang disyaratkan, maka perlu mempergunakan mutu

beton yang lebih tinggi. Mutu beton yang lebih tidak hanya memperoleh

suatu struktur kolom beton bertulang yang kuat, tetapi juga menghasilkan

suatu struktur kolom yang sangat efisien.

16
DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/doc/170838488/Bahan-Penyusun-Beton

https://dokumen.tips/documents/bahan-penyusun-beton-56264a0b8f10f.html

17