Anda di halaman 1dari 3

Nama : Deni Sufrianto

NIM : 031271201

1. Konsep civil society dan masyarakat madani


Civil society merupakan ruang penengah antara kekuasaan pemerintah dan
masyarakat umum. Civil society senantiasa bercirikan kebebasan serta keterlepasan dari
keterbatasan-keterbatasan oleh kekuasaan. Dalam wacana konemporer, istilah civil society
lebih kuat tekanannya terhadap lembaga-lembaga non-pemerintah atau lembaga swadaya
masyarakat di mana lembaga-lembaga ini bebas dari cengkraman kekuasan negara untuk
mengekspreksikan hak-haknya sebagai warga negara.
Ketika Nabi mengubah kota Yatrsib menjadi Madinah pada waktu itu, maka Nabi
sebenarnya mendeklarasikan terbentuknya suatu masyarakat yang bebas dari kezaliman
tirani dan taat hanya kepada hukum dan aturan-aturan untuk kesejahteraan bersama.
Masyarakat madani yang dideklarasikan oleh Nabi adalah masyarakat yang adil, terbuka dan
demokratis, dengan landasan takwa kepada Allah dan taat kepada ajaran-Nya. Masyarakat
madani adalah masyarakat berbudi luhur mengacu kepada kehidupan masyarakat berkualitas
dan beradab.

2. Prinsip-prinsip masyarakat madani meliputi :


- Keadilan
Keadilan merupakan sunnatullah di mana Allah menciptakan alam semesta ini dengan
prinsip keadilan dan keseimbangan. Dalam al-Quran keadilan itu disebut sebagai hukum
keseimbangan yang menjadi hukum jagad raya. Keadilan juga merupakan sikap yang
paling dekat dengan takwa. Karena itu setiap ketidakadilan merupakan suatu bentuk
penyelewengan dari hakikat kemanusiaan yang dikutuk keras.

- Supremasi Hukum
Dalam mewujudkan supremasi hukum, kita harus menetapkan hukum kepada siapapun
tanpa pandang bulu. Rasulullah bersabda: “Sebenarnya hancurnya mereka sebelum
kamu karena mereka menegakkan hukum atas rakyat jelata dan meninggalkan hukum
atas orang besar. Demi Dia, Allah- yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah
berbuat jahat pasti aku potong tangannya.”

- Egalitarianisme
Egalitarianisme artinya persamaan, tidak mengenal sistem dinasti geneologis. Artinya
adalah bahwa masyarakat madani tidak melihat keutamaan atas dasar keturunan, ras,
etnis, dll. Melainkan atas prestasi.

“Wahai manusia sesungguhnya aku telah menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan
perempuan kemudian kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar
kalian saling kenal, sesungguhnya semulia-mulianya kalian di sisi Allah adalah yang paling
bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujuraat: 13)

- Pluralisme
Pluralisme adalah sikap dimana kemajemukan merupakan sesuatu yang harus diterima
sebagai bagian dari realitas obyektif. Kesadaran pluralisme diwujudkan untuk bersikap
toleran dan saling menghormati di antara sesama anggota yang berbeda baik berbeda
dalam hal etnis, suku bangsa maupun agama.
“Dan apabila Tuhanmu menghendaki niscaya semua manusia akan beriman kepada
Allah, apakah engkau akan memaksa manusia sehingga beriman.”(QS. Yunus: 99)

- Pengawasan sosial
Kegiatan manusia apapun merupakan suatu konsekuensi logis dari adanya keterbukaan
di mana setiap warga memiliki kebebasan untuk melakukan tindakan. Keterbukaan itu
sebagai konsekuensi logis dari pandangan positif dan optimis terhadap manusia, bahwa
manusia pada dasarnya baik.

“Maka luruskanlah (hadapkanlah) mukamu ke arah agama, serta condong kepadanya.


Itulah fitrah Allah yang dijadikan-Nya manusia sesuai dengan dia. Tiadalah bertukar
perbuatan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya.”

3. Peran umat beragama dalam mewujudkan masyarakat madani dapat dilakukan dengan,
melalui dialog yang mengikis kecurigaan dan menumbuhkan saling pengertian, melakukan
studi-studi agama, menumbuhkan kesadaran pluralisme, dan menumbuhkan kesadaran
untuk bersama-sama mewujudkan masyarakat madani.

4. Hak-hak dalam islam

- Hak hidup
Hak hidup adalah hak dasar manusia yang harus dilindungi. Tidak ada yang berhak
mencabut hak tersebut kecuali Allah yang memberikanya. Untuk melindungi hak
tersebut Allah berfirman : “Maka barang siapa yang membunuh satu manusia tanpa
kesalahan maka ia seperti membunuh manusia seluruhnya dan barang siapa yang
menghidupkannya maka ia seperti menghidupkan seluruh manusia.” (QS. Al-Maai’dah :
32)
- Hak milik
Islam melindungi harta yang dimiliki baik secara individu maupun kolektif. Setiap usaha
pengambilan kepemilikan secara tidak sama merupakan bentuk pelanggaran.

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan
jalan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah: 188)

- Hak kehormatan
Manusia harus dihormati dan dihargai. Setiap tindakan yang menurunkan harkat dan
martabatnya adalah bentuk pelanggaran. Allah melarang manusia saling menghina,
mencela dan mencaci maki yang akan mencederai kehormatannya. Allah melarang
manusia membuka aib dan keburukan yang lain.

Allah berfirman : ‘’Hai orang-orang yang beriman, janganlah kaum laki-laki menghinakan
laki-laki (yang lain), karena boleh jadi kaum yang dihinakan itu lebih baik dari kaum yang
menghinakan, dan jangan pula kaum perempuan (menghinakan) kamu perempuan (yang
lain) karena boleh jadi perempuan yang dihinakan itu lebih baik dari perempuan yang
menghinakan. Janganlah kamu cela-mencela sesama kamu dan janganlah kamu
memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk nama adalah fasik sesudah
keimanan. Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang yang aniaya. Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan sangka-wasangka (dugaan terhadap
sesama muslim), karena sebagai sangkaan-sangkaan itu ialah dosa, dan janganlah kamu
mencari aib orang dan janganlah sebagian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah
salah seorang kamu, bahwa ia memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentu
kamu benci memakannya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Penerima
taubat lagi Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat: 11-12)

- Hak persamaan
Manusia dalam Islam dipandang sama. Manusia dilahirkan menurut fitrahnya sesuai
dengan keputusan Allah. Disi Allah, manusia tidak dilihat dari ras, gender, kulit,
kebangsaan melainkan dari ketakwaannya.

Allah berfirman :
“Wahai manusia sesungguhnya aku telah menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan
perempuan kemudian kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar
kalian saling kenal, sesungguhnya semulia-mulianya kalian di sisi Allah adalah yang paling
bertakwa di antara kalian.”(QS. Al-Hujuraat: 13).

- Hak kebebasan
Islam menyatakan bahwa setiap manusia lahir dalam kondisi fitrah atau suci. Karena itu,
manusia memiliki kebebasan yang disesuaikan dengan prinsip keadilan. Segala sesuatu
yang bersifat membatasi dan mengingkari fitrah ini lahir dari luar dan bukan dari
bawaannya. Salah satu bentuk pengingkaran terhadap kebebasan adalah perbudakan.
Perbudakan menempatkan manusia seperti binatang bahkan lebih buruk karena karena
manusia tidak memiliki hak dan pilihan untuk menentukan hidupnya.

“Yaitu orang-orang yang apabila diberi kedudukan di muka bumi, mereka menegakkan
sholat, menunaikan zakat, serta menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah keburukan.”
(QS. Al-Hajj: 41)

5. Sama halnya dengan hak asasi manusia, prinsip-prinsip demokrasi seperti kebebasan,
persamaan dll. terdapat juga dalam Islam. Beberapa ayat al-Qur’an mengonfirmasi prinsip-
prinsip tersebut. Selain itu juga, praktik Rasulullah dalam memimpin Madinah menunjukkan
sikapnya yang demokratis. Faktanya adalah kesepakatan Piagam Madinah yang lahir dari
ruang kebebasan dan persamaan serta penghormatan hak-hak asasi manusia.