Anda di halaman 1dari 58

” PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM

MENUNJANG KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI


DENGAN STRATEGI PROBLEM BASED LEARNING

PENDAHULUAN
“Perubahan tidak selalu menjadikan sesuatu lebih baik,tetapi untuk menjadi lebih baik,
sesuatu harus berubah (?)”
Penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan strategi pendekatan
problem based learning (PBL) merupakan sebuah inovasi pendidikan kedokteran yang
sedang dikembangkan di Indonesia. Fakultas kedokteran universitas Riau (FK Unri) telah
mulai menerapkan kurikulum ini pada tahun ajaran 2007. Dari pengalaman beberapa
institusi pendidikan kedokteran yang telah menerapkan KBK dengan strategi PBL,
menyatakan bahwa penerapan kurikulum baru ini memerlukan sumber daya manusia
(SDM), fasilitas dan dana yang besar. Pengalaman institusi yang telah dahulu
menerapkan kurikulum ini juga mulai dirasakan oleh FK Unri, seperti kekurangan
sumber daya manusia dan kekurangan fasilitas pembelajaran serta memerlukan dana yang
besar.
Fakultas kedokteran Unri sebagai institusi pendidikan kedokteran yang baru
berumur enam tahun dari sejak pendiriannya, harus segera tanggap dan belajar untuk
menghadapi hambatan dan tantangan dalam penerapan kurikulum baru ini. Dalam tulisan
ini penulis akan mencoba menjabarkan sebuah strategi inovasi untuk menghadapi
masalah di atas, yaitu inovasi teknologi informasi dalam menunjang proses pembelajaran
KBK dengan strategi PBL. Dalam tulisan ini, penulis akan menjabarkan bagaimana
besarnya peran teknologi informasi dalam menjawab hambatan dan tantangan di atas.
Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan
berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat serta menghemat
dana operasional, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas.
ISI
Pengertian teknologi informasi pendidikan adalah suatu teknologi yang digunakan
untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan,
memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas,
yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan
proses pendidikan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah
data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang
lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data
dapat disebar dan diakses secara global.
Gallupe (2003) menemukan beberapa tujuan pemanfaatan TI, yaitu (1)
memperbaiki competitive positioning; (2) meningkatkan brand image; (3) meningkatkan
kualitas pembelajaran dan pengajaran; (4) meningkatkan kepuasan siswa; (5)
meningkatkan pendapatan; (6) memperluas basis siswa; (7) meningkatkan kualitas
pelayanan; (8) mengurangi biaya operasi; dan (9) mengembangkan produk dan layanan
baru.
Mason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan lebih ditentukan
oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya
gedung sekolah. Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan
kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan.
Berdasarkan pendapat para pakar ini maka timbulah pemikiran penulis untuk
mendeskripsikan peran teknologi informasi dalam KBK dengan strategi PBL. Dalam
tulisan ini, penulis akan memfokuskan pada dua contoh penerapan teknologi informasi
yaitu :
1. Learning management system (LMS) / sistem manajemen pembelajaran
2. Digital Library / perpustakaan digital
3.Learning management system

1. Learning management system adalah sebuah software yang mampu


memanajemen proses pembelajaran seperti menyimpan, mengelola dan mendistribusikan
berbagai informasi pendidikan seperti material perkuliahan, jadwal kuliah, pengumuman,
dan ujian/test yang telah disiapkan. LMS juga mampu menampilkan jadwal kegiatan
perkuliahan baik untuk satu blok, satu semester, satu tahun bahkan untuk empat tahun.
Learning management system yang akan diterapkan di FK Unri adalah LMS yang
bersifat free atau tidak diperlukan dana untuk membeli software LMS tersebut. Moodle
merupakan contoh LMS gratis yang dapat dipakai. Selain gratis dan dapat dimodifikasi,
Moodle mudah dipelajari dan mudah digunakan. Moodle telah teruji di berbagai institusi
di banyak negara. Moodle digunakan di 150.000 institusi pada 160 negara dan telah
diterjemahkan ke dalam 70 bahasa. Jumlah pengguna Moodle terbesar adalah UK open
university yang memiliki 180.000 mahasiwa Dalam kontek KBK dengan strategi PBL,
Moodle sebagai LMS dapat memberikan fasilitas untuk menunjang kelancaran proses PBL,
antara lain :
1. Para dosen sering bertanya tentang jadwal perkuliahan, tutorial dan kegiatan skill lab.
Walaupun jadwal ini telah dibagikan melalui surat tetapi para dosen masih bertanya
tentang jadwal dikarenakan surat pemberitahuannya terlambat sampai, hilang atau
merasa tidak menerima. Dengan fasilitas tampilan jadwal di LMS, maka para dosen
dengan mudah mengetahui jadwal mereka masing-masing melalui LMS online yang
aktif 7x24 jam karena tersambung secara internet dan LAN. Fasilitas ini juga akan
menampilkan pengumuman perubahan jadwal, pengumuman rapat dan forum diskusi
antar sesama dosen, antar dosen dan staf administrasi.
2. Kuliah pakar kadang kala tidak cukup waktu untuk memaparkan/mengklarifikasi
semua learning outcome. Mahasiswa merasa waktu yang disediakan kurang sehingga
banyak hal-hal yang ingin mereka tanyakan tidak terjawab karena keterbatasan
waktu. LMS dengan fasilitas forum diskusinya akan memfasilitasi antara dosen pakar
dan mahasiswa untuk berdiskusi lanjut secara online. Online disini tidak hanya just in
time, namun bisa saja mahasiswa meninggalkan pertanyaan di forum diskusi dan akan
dijawab oleh dosen pakar pada keesokan harinya.
3. Mahasiswa sering mengeluhkan referensi-referensi yang menunjang pembelajaran
selama perkuliahan, tutorial dan skill lab. Hal ini disebabkan keterbatasan perpustakaan FK
Unri dalam menyediakan referensi tersebut. Untuk mengatasi masalah ini maka LMS akan
menyediakan fasilitas referensi yang mengacu pada linklink website kesehatan dan jurnal
kedokteran dan juga terhubung dengan digital library. Fasilitas ini akan sangat memudahkan
mahasiswa dalam mencari referensi belajar.
4. Learning management system ini juga akan menyediakan konten materi kuliah yang
dapat didownload oleh mahasiswa. Materi-materi perkuliahan yang bersifat fact/ recall of
knowledge yang berupa hapalan lebih baik ditampilkan dalam LMS sehingga waktu
pemberian kuliah dapat diefektifkan untuk pemberian kuliah yang bersifat pembentukkan
konsep dan diskusi kasus penyakit. Bagi mahasiswa yang belum jelas mengenai materi
tersebut dapat mengajukan pertanyaan melalui fasilitas komentar dibawahnya.
5. Learning management system juga menyediakan fasilitas chatting bagi dosen dan
mahasiswa yang ingin melakukan diskusi online (just in time). LMS juga menyediakan
fasilitas web conference apabila ada kuliah pakar yang narasumbernya berasal dari luar
institusi atau terhubung jauh.
6. Masalah peer learning merupakan isu baru dalam pendidikan kedokteran Indonesia
yang perlu diterapkan. Penerapan peer learning ini melalui LMS dapat dilakukan melalui
forum diskusi yang dimoderator oleh seorang moderator/ketua forum diskusi. Dalam satu
topik forum diskusi dapat beranggotakan 10 orang mahasiswa dengan 1 orang moderator
termasuk didalamnya. Forum dimulai dengan pengajuan satu kasus/skenario penyakit.
Kemudian dilakukan tahap-tahap diskusi seperti tahapan tutorial seven jumps. Mahasiswa
akan belajar secara kolaborasi untuk menganalisa scenario yang diajukan. Fasilitas ini tepat
dilakukan untuk memperdalam skenarioyang didapat dari tutorial PBL. Skenario yang
diajukan dalam forum ini harus relevan dengan tema blok yang sedang dihadapi mahasiswa.
Untuk ketua forum atau moderator dapat diperankan oleh kakak tingkat.

2. Digital Library
Mahalnya harga buku kedokteran dan sulitnya mencari buku kedokteran yang up
to date merupakan kendala bagi mahasiswa dalam mencari referensi PBL. Belum lagi
koleksi perpustakaan yang tidak mencukupi kebutuhan mahasiswa. Banyak mahasiswa
yang mengeluh karena mereka tidak dapat referensi untuk menyelesaikan masalah diskusi
tutorial mereka. Dari segi tenaga administrasi perpustakaan, FK Unri masih kekurangan
jumlah dan juga kualitas tenaga perpustakaan. Dari masalah ini maka FK Unri akan
membangun digital library dengan keuntungan yang didapat sebagai berikut :
1. Pengorganisasian buku-buku tidak rumit karena bentuknya dalam format
elektronik dan dapat disimpan dalam sebuah komputer dengan koleksi yang
dapat berjumlah beratus ribu.
2. Ruangan yang diperlukan tidak luas
3. Biaya pengandaan murah
4. Mahasiswa dalam melakukan pencarian lebih cepat dan dapat langsung dibaca
5. Jumlah tenaga pustaka yang dibutuhkan tidak banyak.
6. Dapat sharing koleksi dengan perpustakaan institusi kedokteran lain melalui
jaringan internet.
Digital library (DL) atau perpustakaan digital adalah suatu perpustakaan yang
menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan
mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan
komputer. Istilah digital library sendiri mengandung pengertian sama dengan electronic
library dan virtual library. Sebenarnya, alasan utama pembangunan Digital Library adalah
agar supaya koleksi perpustakaan tersebut cepat dan mudah diakses, ringkas dalam
penyimpanan serta mudah dalam hal penggandaan.
Contoh koleksi sebuah digital libary sebagai berikut:
1 Skripsi, thesis maupun disertasi ataupun jurnal yang telah dirubah formatnya menjadi
format digital.
2 Bahan-bahan perpustakaan yang tidak dipublikasikan pada jalur formal atau tidak
tersedia secara komersial. Sebagai contoh: Laporan penelitian karya ilmiah, hasil
seminar, majalah ilmiah, ataupun tulisan staf akademika yang terpublikasi secara
lokal.
3 Video, Clip dan sejenisnya yang biasanya digunakan pada proses belajar mengajar.
Seperti koleksi dari Discovery-Channel, History-Channel dan lainnya.
4 Electronic-Book (eBook), yaitu buku-buku yang memang sudah dalam format
elektronik saat diproduksi.
5 electronic-Journal (eJournal), yaitu jurnal-jurnal yang bertaraf nasional dan
internasional yang sudah tersedia dalam bentuk elektronik.
6 Lain-lain seperti: brosur-brosur, foto-foto, kliping Koran atau majalah serta
dokumendokumen
sebagai arsip lembaga yang memungkinkan untuk dipublikasikan secara
digital.
Prinsip manajemen dalam penerapan inovasi teknologi informasi dalam menunjang
KBK dengan strategi PBL di fakultas kedokteran universitas riau. Penerapan teknologi
informasi ini bukan hal yang mudah. Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan manajerial
yang diperlukan dalam perencanaan, implementasi hingga evaluasi program. Langkah-
langkah manajemen dalam membangun inovasi teknologi di atas adalah:
1 Penyusunan proposal, termasuk didalamnya penjelasan latar belakang, tujuan, rumusan
aturan main, rumusan kebutuhan hardware dan software, rumusan kebutuhan sumber
daya manusia, rumusan jadwal proyek, dan rumusan anggaran proyek.
2 Tahap konseptual, dimana pada tahap ini terdiri dari beberapa kegiatan awal seperti
penyusunan dan perumusan ide, analisa dari studi kelayakan yang biasanya menjelaskan
analisis berbagai aspek seperti kondisi organisasi, sarana dan prasarana, dan dukungan
manajemen.
3 Tahap perencanaan, dimana pada tahap ini terdiri dari beberapa kegiatan perencanaan
yang menghasilkan rencana kerja, rencana pembiayaan, rencana penyediaan barangbarang
yang dibutuhkan, rencana penyediaan sumber daya manusia, disain system dan
prosedur serta produk - produk yang akan dihasilkan.
4 Tahap pengembangan, dimana pada tahap ini terdiri dari kegiatan-kegiatan yang harus
dikerjakan sesuai dengan hal-hal yang telah direncanakan, seperti penulisan program,
instalasi hardware dan software pendukung, serta pengadaan training bagi sumber daya
manusia yang akan menggunakannya.
5 Tahap implementasi, tahap ini meliputi implementasi dilapangan dan memonitor serta
mencatat hal-hal yang menjadi masalah selama implementasi program ini.
6 Tahap evaluasi, tahap ini meliputi evaluasi efektifitas dan efisiensi program ini.
Prinsip leadership dalam penerapan inovasi teknologi informasi dalam menunjang
KBK dengan strategi PBL di fakultas kedokteran universitas riau.
Penerapan inovasi ini merupakan suatu perubahan baru dalam pendidikan kedokteran
FK Unri. Sebagaimana layaknya sebuah perubahan, maka pasti akan menemui
resistance/penolakan/hambatan, baik yang berasal dari sumber daya manusia, organisasi
maupun teknologi itu sendiri. Hambatan yang datang dari SDM meliputi kesiapan tenaga ahli
untuk menjalankan LMS dan digital library dan juga respon kesiapan mahasiswa dalam
menggunakan teknologi informasi ini. Hambatan dari organisasi meliputi masalah
kebijaksanaan dan peraturan dalam mengorganisasi inovasi ini. Sedangkan hambatan dari
teknologi itu sendiri meliputi ketersediaan teknologi ini dan ketersediaan dukungan
pengembangan teknologi ini kedepannya. Oleh karena itu untuk menghadapi resistance di
atas diperlukan prinsip leadership/kepemimpinan dalam menerapkan inovasi ini agar dapat
berjalan lancar.
Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi,
memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki
kelompok dan budayanya. Menurut teori kepemimpinan ada tiga gaya kepemimpinan yaitu
gaya otokrasi, demokrasi dan gaya kepemimpinan kendali bebas.
Penerapan inovasi teknologi ini akan menggunakan gaya kepemimpinan demokrasi.
Gaya ini ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan
pengambilan keputusan yang kooperatif. Di bawah kepemimpinan demokratis cenderung
bermoral tinggi dapat bekerjasama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri
sendiri.
KESIMPULAN
Penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan strategi pendekatan
problem based learning (PBL) di FK Unri memerlukan sumber daya dan dana yang besar.
Penerapan inovasi teknologi informasi seperti learning management system dan digital
library dalam menunjang kurikulum berbasis kompetensi dengan strategi problem based
learning, diharapkan dapat memberikan efisiensi dan efektifitas. Penerapan inovasi ini
memerlukan manajerial dan leadership agar berjalan lancar. Dimana inovasi baru ini dapat
memberikan keunggulan, agar tidak teringgal di masanya sekarang ini. Inovasi ini sangat bi
digunakan untuk para guru dan siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan pendidikan yang
ayak, diatas harga-harga buku yang tidak terjangkau oleh beberapa kalangan masyarakat
ataupun siswa,
DAFTAR PUSTAKA
1. Modul Manajemen Strategik Di Perguruan Tinggi. IKM FK UGM
2. Laporan Evaluasi Diri Fakultas Kedokteran Universitas Riau, 2006.
3. Wawan Wardiana. Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia.
http://www.persimpangan.com.
4. Romi Satria Wahono. Menengok Proyek Digital Library di Dunia. Pusat dokumentasi
dan Informasi Ilmiah (PDII) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).2007.
http://www.pdii.lipi.go.id/index.php/2007/03/30/menengok-proyek-digital-library-didunia/
Memanfatkan Internet Sebagai Sumber Belajar

PENDAHULUAN

Didunia ini sudak tidak asing lagi mendengar kata internet, dimana semua
kalangan mengetahui tentang keberadaan internet, walaupun di Indonesia msih ada beberapa
daera yang tidak dapat menjangkau jaringan tersebut. Apalagi dalamm dunia pendidikan
sekarag ini, di zaman globalisasi ini tentunya internet sudah menjadi makanan sehari-hari
daam kalangan pelajar. Banyak sekolah-sekolah yang menggunakan internet sebagi sumber
pembelajaran mereka, bahkan internet pun dibahas dalam salah satu materi muatan lokal.
Bahkan tidak sedikit guru meyuruh siwa mengerjakan tugas, dan siswa tersebut mencari
materi-materi sebagai referensi dari internet. Melihat hal seperti ini membuat setiap orang
dan kalangan menjadikan internet sebagai kebutuhannya sehari-hari, bahkan mungkin setelah
maraknya teknologi ponsel yang mudah dijangkau, internetpun akan menjadi suatu
kebutuhan yang primer bagi masyaraat modern saat ini. Apalagi dalam dunia pendidikaan,
semakin pesatnya pengetahuan, maka orang aka berbondong-bondong mencari
pengetahuantersebut dengan cepat menggunakan internet. Di era globalisasi ini IPTEK sudah
menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat.
ISI

Internet merupakan suatu inovasi yang dikemukan oleh manusia agar


manusia dengan mudah mengakses informasi dan pengetahuan tentang dunia, selain menjadi
sumber pengetahuan, internet pun dapat menjadi alat komunikasi. Internet kini telah
menjaring semua kalangan untuk menggunakan internet sebagi kebutuhan dalam kehiduan
sehari-hari, dunia pendidikan pun ikut terjaring, kita dapat melihat bahwa di dunia pendidikan
internet sudah menjadi suatu keharusan yang harus diketahui oleh siswa maupun oleh guru.
Selain memiliki sisi piositif internet pula memiliki banyak seali sisi negatifnya, ini yang
menjadi kehawatiran para guru. Inovasi teknologi ini pun perlu sangat diperhatikn oleh guru,
agar siswanya maupun ggurunya sendiri tidak tejerumus dalam sisi negatif penggunaan
internet tersebut.

Kemudahan yang diberikan internet tidalah seerta merta membuat para peaku
pendidikan menjadikan internet ini sebagai salah satu sarana yang mampu megakselerasi
proses tranfer ilmu pada pesera didik. Tetai justr memunculkan masalah baru. Banyaknya
waktu yang terbuang oleh guru, siswa, dan pelaku pendidik lainnya, justru membalikan
fungsi internet yang sedianya sebagai sumber belajar, menjadi hanya sebagai sarana hiburan
semata. Sangatlah wajar jika badan statistika dunia menematkan Indonesia sebagi negara
yang paling boros bandwidthdan waktu hanya sekedar untuk mencari sesuatu hal yang
tidaklah penting dan bahkan apa yang dilakukan di depan internet tidak adda kaitannya
dengan profesi yang tidak dimiliki.

Beberapa tips bagi para pendidika agar tidak terjerumus dalam marannya
dunia internetdengan harapan akan mampu memanfaatkan internet secara maksimal sebagai
sumber belajar.

1. Buatlah jadwal khusus untuk bermain internet. Jadwal aka memaksa kita untuk
melakukan suatu kegiatan menjadi seefektif dan seefisien mungkin, serta mengurangi
perilaku negatif yang akan membuat jadwal iternet kita menjadi membengak,
2. Kumpulkan, susun, dan pilihlah kata kunci pesifik yang akan kita gunakan dalam
mencari sumber belajar. Maraknya situs sampah akhr-akhir ini membuat proses
pencarian menjadi sulit ditemukan, maka hidarilah menggunaan kata kunci umum
untuk mencari suatu sumber belajar,
3. Belajar dan batlah blog sebagai salah satu catatan untuk menyimpan arsip-arsip dan
atau sebagai administrasi dalam menjalankan profesi guru. Pengarsipan administrasi
dalam bentuk hardcopy memiliki banyak kelemahan, diantaranya : a) memmerlukan
tempat yang relatif luas, b) sulit dan lama jika ingin membuka0buka arsip, c) mudah
hilang. Jika arsip tersebut disimpan di media blog, orang lain juga berkesempatan
untuk, membaca sebagai bahan kaian mereka sekedar referensi dan ikut membantu
menemukan kekurangannya.
4. Bergabunglah di group, forum, atau milis guru sebagai sarana diskusi antarpara
pedidik. Dengan begitu, guru akan mudah untuk menyampaikan masalah, pengalaman
dan idenya selama menjalankan profesinya. Dan bahan mampu membuka wawasan
guru tentang dunia pendidikan secara luas ketika terhubung dengan guru-guru lain
yang datang dari berbagai latar belakang permasalahan dan pengalaman.
5. Buatlah review untuk siswa terhadap suatu ssitus yang pernah guru kunjungi. Hal ini
sangat bermanfaat bagi guru ataupun siswa dalam belajar suatu materi yang mungkin
saja hal itu sangatlah sulit disampaikan dikelas dan hanya mampu dujabarkan melalui
penelitian siswa sendiri dengan referensi yang kiat berikan melalui review situs yang
guru berikan tersebut,
6. Buatlah grup khiusus mata pelajjaran yang guru ajarkan sebagai sarana diskusi
bersama. Ini untuk memfasilitasi siswa-siswa yang sulit mengungkapkan pemasalahan
secara langsung melalui pertanyaan dikelas atau untuk menyelesaikan pertanyaan dan
atau masalah yang kemudian ditemukan ketika siswa belajar di luar kelas.

Jadilah guru yang benar-benar profesiaonal dengan mampu menggunakan


berbagai fasilitas yag sudah tersedia seperti halnya internet sebagai sumber belajar, sehingga
proses transfer ilmu menjadi lebih efektif dan efisien. Tentunya dengan harapan tujuan mulia
ppendidikan akan tercapai waktu relatif singkat tnpa harus mengeluarkan biaya mahal.
KESIMPULAN

Maraknya inovasi teknologi yang masuk dalam dunia endidkan megharuskan


guru memperhatikanya, dalam hal ini internet mmenjadi salah satu inovasi yang masuk dan
mempengaruhi dunia pendidikan bagi siswa, guru, maupun masyarakat luas. Agar siswa dan
guru tidak terjerumus pada sisi negatif tersebut maka beberapa cara yang elah disajikan di
atas sangatlah perlu dilakukan oleh guru. Agar internet menjadi suatu yng bermanfaat bagi
guru, siswa dan masyarakat lua, bukan hanya sekedar hiburan semata saja.

Daftar pustaka

forumguru@pikiran-rakyat.com
Inovasi Pendidikan di Era Reformasi Yang Mengaharukan dan
Kemengapaan Inndovasi Pemebelajaran

Pendahuluan

Perkembangan pendidikan secara nasional di era reformasi, yang sering disebut-sebut


oleh para pakar pendidikan maupun oleh para birokrasi di bidang pendidikan sebagai sebuah
harapan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini dengan berbagai strategi
inovasi, ternyata sampai saat ini masih belum menjadi harapan. Bahkan hampir dikatakan
bukan kemajuan yang diperoleh, tapi “sebuah kemunduran yang tak pernah terjadi selama
bangsa ini berdiri”.

Kalimat tersebut mungkin sangat radikal untuk diungkapkan, tapi inilah kenyataan
yang terjadi dilapangan, sebagai sebuah ungkapan dari seorang guru yang mengkhawatirkan
perkembangan pendidikan dewasa ini.

Tidak dapat dipungkiri, berbagai strategi dalam perubahan kurikulum, mulai dari
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sampai pada penyempurnaannya melalui Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), merupakan sebuah inovasi kurikulum pendidikan yang
sangat luar biasa, bahkan sangat berkaitan dengan undang-undang nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni yang menyatakan bahwa pengelolaan satuan
pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, dilaksanakan berdasarkan
standar pelayanan minimal dengan prinsip MBS.

Namun kenyataannya apa yang terjadi di lapangan..?

Berikut ini penulis akan paparkan, mengapa penulis berani mengatakan bahwa inovasi
pendidikan di era reformasi merupakan sebuah kemunduran yang tak pernah terjadi selama
bangsa ini berdiri..?
ISI

Ketika penulis menjadi pengawas dalam EBTANAS dengan sistem pengawasan


silang antar sekolah , hampir semua komponen, baik Panitia maupun Pengawas Ruangan
EBTANAS begitu disiplin dan sangat tertib, serta sangat menjaga kerahasiaan dalam
pelaksanaannya, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar murni dan tanpa sedikitpun
kecurangan.

Namun, setelah diberlakukannya kebijakan tentang Ujian Nasional (UN) sebagai


penentu kelulusan seorang siswa pada jenjang satuan pendidikan. Sekolah merasa takut, jika
banyak siswanya tidak bisa memperoleh nilai sesuai dengan standar minimal kelulusan.
Mengapa demikian...?

1. Sekolah akan dianggap gagal jika banyak siswanya tidak lulus. Bahkan mungkin orang tua
tidak akan mempercayai sekolah tersebut untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut.

2. Di era reformasi, dengan temperamen emosional masyarakat yang masih labil bahkan tak
terkendali. Jika banyak orang tua yang anaknya tidak lulus, akan menimbulkan suatu gerakan
emosional sosial yang tak terkendali dan kemungkinan sekolah akan menjadi sasaran amuk
masa.

3. Guru sebagai orang tua di sekolah yang selama 3 tahun membimbing siswa, tidak akan
tega jika ternyata banyak siswanya tidak bisa lulus, hanya karena dengan sebuah penilaian
sesaat.

Dari ke tiga alasan tersebut, akhirnya dengan berbagai cara, sekolah melakukan
sebuah usaha untuk bisa membantu siswanya lolos dari jeratan Ujian Nasional. Semuanya
dilakukan dengan penuh suka-rela tanpa paksaan, walaupun seluruh batin Guru merintih
sedih dan penuh haru.

“Inilah salah satu kecurangan di dunia pendidikan khususnya sekolah, yang belum pernah
terjadi selama bangsa ini berdiri”, dan semuanya dilakukan sebagai perlawanan sekolah
terhadap kebijakan pemerintah.

Yang paling menyedihkan lagi, ketika aparat birokrat dengan bangga menyatakan
keberhasilannya dengan menyebutkan sekolah-sekolah yang meluluskan siswanya sampai
100%, dan akan diberikan penghargaan. (Jika menggunakan akal manusia, tidak mungkin
seluruh siswa pada sebuah sekolah bisa lulus sampai 100%. Bebek saja ada yang tidak
bertelurnya. Benar khan Bapak/Ibu Guru..??).

Sebelum era-reformasi, siswa yang lulus akan segera memproses ijasahnya untuk bisa
dibawa dan digunakan, baik untuk melanjutkan sekolahnya maupun untuk dijadikan syarat
mencari pekerjaan.

Namun apa yang terjadi sekarang..?

Setelah dinyatakan lulus, siswa dihadapkan kepada proses menunggu ijasah yang
begitu lama dan tak tentu kapan Izasah tersebut dapat diterima. Untuk tahun ajaran 2005-
2006, blanko ijasah baru diterima oleh sekolah setelah lebih dari sebulan dari semenjak
siswa dinyatakan lulus, sehingga tak heran jika di setiap sekolah masih banyak tumpukan
ijasah yang belum diambil oleh pemiliknya, dengan alasan, siswa tersebut sudah berada di
luar kota dan belum membutuhkan ijasah tersebut.

1. Kemengapaan Inovasi Pembelajaran

Masalah pendidikan kita memang kompleks. Faktor geografis (kondisi alam, penduduk
yang sebagian besar tinggal di pedesaan, bahkan terpencil, sehingga sulit dijangkau
transportasi) merupakan contoh sebab terjadinya kesenjangan mutu pendidikan antara daerah
perkotaan dengan pedesaan/terpencil. Masalah lain diantaranya adalah susahnya akses
komunikasi dan informasi di daerah, rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan
anak (karena masalah kesejahteraan hidup), guru yang kurang memadai, serta sarana dan
prasarana sekolah yang sangat mini.

Masalah tersebut dapat terbantu teratasi melalui penggunaan teknologi, khususnya ICT
(Information and Communication Technology). Sudah saatnya kita harus mulai
menggunakan ICT untuk mempercepat pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan.
Dalam hal ini dituntut adanya political will dari pemerintah, sehingga bisa tercipta suasana
yang kondusif. Melalui ICT, kita dapat melaksanakan pendidikan dengan materi/bahan ajar
yang di samping memenuhi standar mutu pemerintah juga tersedia merata dan mudah diakses
di seluruh wilayah Indonesia.
Di sisi lain, peserta didik harus diberikan fasilitas untuk kemudahan akses materi/bahan
ajar, tanpa harus dibatasi oleh kendala ruang dan waktu, juga kendala sosial ekonomi. Di
daerah terpencil yang tidak dapat menerima siaran radio dan televisi, misalnya, pemerintah
dapat menyediakan secara cuma-cuma antena parabola untuk akses pendidikan melalui
satelit, sehingga mereka dapat belajar melalui siaran radio, TV pendidikan, internet, dan dari
modul dan kaset audio/video (e-Learning). E-Learning perlu untuk digalakkan mengingat
dari beberapa survey di internet menunjukkan bahwa e-Learning terbukti mampu
meningkatkan mutu pendidikan dibanding cara-cara konvensional.

Semua itu harus dilakukan secara sinergi oleh beberapa pihak terkait. Pemerintah pusat
sebagai motor penggerak, diharapkan akan mampu untuk melibatkan pihak swasta dan
Pemerintah Daerah, untuk dapat terlaksananya pendidikan yang bermutu, tersebar merata ke
seluruh wilayah Indonesia (mudah diperoleh) dan murah (terjangkau). Pendidikan yang maju
dan tersebar merata serta mudah diakses akan mampu meningkatkan mutu SDM yang pada
gilirannya akan mampu memajukan bangsa dan negara Indonesia sekaligus akan
meningkatkan kemampuan kita untuk menang bersaing di era global sekarang ini.

2. Pengertian Inovasi Pembelajaran

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention


dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya
manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada
sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru
dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim
(1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang,
kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok
orang (masyarakat). Maka dapat ditarik kesimpulan Ibahwa Inovasi pendidikan adalah
penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai
sesuatu hal yang baru bagi dunia pendidkan. Contoh bidangnya adalah Managerial,
Teknologi, dan Kurikulum

Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan


kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang
dihadapi dalam kegiatan pendidikan. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalam
melaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu
upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Sementara itu inovasi dalam teknologi juga perlu diperhatikan mengingat banyak hasil-
hasil teknologi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seperti
penggunaannya untuk teknologi pembelajaran, prosedur supervise serta pengelolaan
informasi pendidikan yang dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan pendidikan

3. Konsep Belajar dan Pembelajaran

1. Konsep Belajar Menurut Tokoh - Tokoh Islam

Banyak tokoh - tokoh Islam yang memiliki kepedulian dan menyumbangkan


pemikirannya tentang aktivitas belajar, diantara tokoh tersebut adalah Al-Ghazali dan Al-
Zarnuji. Kedua tokoh - tokoh ini pemikiran - pemikirannya mewarnai dunia pendidikan di
Indonesia terutama pendidikan Islam.

A. Menurut Al-Ghazali

Konsep belajar dalam mencari ilmu dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu
ta’lim insani dan ta’lim robbani. Ta’lim insani adalah belajar dengan bimbingan manusia.
Konsep ini biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya, dan biasanya dilakukan dengan
menggunkan alat - alat indrawi.

Proses ta’lim insani dibagi menjadi dua. Pertama, dalam proses belajar mengajar
hakikatnya terjadi aktivitas mengekplorasi pengetahuan sehingga menghasilkan perubahan -
perubahan prilaku. Seorang pendidik mengeksplor ilmu yang dimilikinya untuk diberikan
kepada peserta didik, sedangkan peserta didik menggali ilmu dari pendidik agar ia
mendapatkan ilmu. Al-Ghazali menganalogikan menuntut ilmu dengan menggunakan proses
belajar mengajar.

Dalam proses ini, peserta didik akan mengalami proses mengetahui, yaitu proses
abtraksi. Suatu objek dalam wujudnya tidak terlepas dari aksiden - aksiden dan atribut -
atribut tambahan yang menyelubungi hakikatnya. Ketika subjek berhubungan dengan objek
yang ingin diketahui, hubungan suatu terkait dengan ukuran, cara, situasi, tempat.
Kemudian Al-Ghazali membagi tahap - tahap abstraksi pada dua tahapan, yaitu :

 Indra menangkap suatu objek, ia harus pada jarak terten tu dari objek dan situasi
tertentu
 Terjadi alkhayyal menangkap objek tanpa melihat,tetapi tangkapan - tangkapan masih
meliputi aksiden - aksiden dan atribut-atribut tambahan seperti kualitas dan kuantitas

Agar proses belajar mengajar dapat efektif dan mendapatkan hasil yang optimal ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh peserta didik, antara lain :

 Mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak yang kotor. Karena hati sebagai sentral
dalam jasad manusia dan sangat berpengaruh terhadap segala aktivitas
pekembangannya
 Mengurangi kesenangan duniawi agar hati terpusat pada ilmu dan pelajaran.
 Sederhana dalam hal makanan, karena bila terlalu kenyang dapat mengakibatkan
keras hati, mengganggu ketangkasan dan kecerdikan serta malas, dan lain sebagainya
 Belajar ilmu sampai tuntas.
 Bersikap rendah diri jangan meremehkan orang lain termasuk kepada gurunya.
 Mengenal nilai - nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang
bermanfaat, membahagiakan, mensejahterakan dan memberi keselamatan dunia dan
akhirat

Kedua yang terkait dengan ta’lim insani adalah tafakur. Tafakur diartikan sebagai proses
belajar dengan mengamati kejadian alam dan peristiwa - peristiwa yang terjadi di alam ini.
Tafakur ini dapat dilakukan dengan mengosongkan jiwa dan hati yang suci.

Selanjutnya konsep belajar dengan pendekatan ta’lim robbani. Pada tahapan ini seorang
manusia belajar dengan bimbingan tuhan

B. Menurut Al-Zarnuji

Konsep belajar mengajar adalah meletakan hubungan pendidik dan peserta didik pada
tempat sesuai porposinya, seorang siswa adalah seorang yang harus selalu tekun dalam
belajar, senantiasa menghormati ilmu pengetahuan dan menghormati pendidik, karena kalau
siswa sudah menghormati guru dan menghormati ilmunya.
2. Konsep belajar Behaviorisme

Studi secara sistematis tentang belajar relatif baru. Sampai abad 19, belajar masih
dianggap masalah dalam dunia keilmuan. Dengan menggunakan teknologi yang digunakan
oleh ilmu fisika , para peneliti mencoba menghubungkan pengalaman untuk memahami
bagaimana manusia belajar. Beberapa peneliti yang melakukan studi tentang belajar, antara
lain :

A. Ivan paviov.

Konsep belajar yang ditawarkan oleh ivan pavlov adalah proses perubahan tingkah
laku manusia atau hewan disebabkan adanya stimulus atau ransangan diberikan secara
kontinyu serta terus menerus

B. Woolfolk

Konsep belajar yang lebih efektif dan tepat agar siswa dapat menyerap semua materi
pelajaran yang telah diajarkan maka seorang pendidik harus melakukan hal - hal sebagai
berikut :

 Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas - tugas belajar.


 Menekankan pada kerja sama dan kompetisi antarkelompok daripada individu.
Banyak siswa yang akan memiliki respon emosional secara negatif terhadap
kompetisi individu, yang memungkinkan akan digeneralisasikan dengan pelajaran-
pelajaran yang lain.
 Membuat kegiatan membaca yang menyenangkan dengan cara menyediakan ruang
baca yang menarik, nyaman dan menyenangkan, tidak bising dan lain sebagainya.
 Membantu siswa dalam mengatasi secara bebas dan sukses situasi - situasi yang
menegangkan dan mencemaskan
 Mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkan siswa lain cara memahami materi
pelajaran
 Membuat tahapan jangka pendek untuk menuju pencapaian tujuan jangka panjang,
seperti ulangan harian, mingguan, dan mid semester agar siswa memiliki
pembendaharaan soal untuk persiapan menghadapi ujian atau ulangan semester
 Membantu siswa untuk mengnal perbedaan dan persamaan terhadap situasi - situasi
sehingga mereka dapat membedakan dan mengeneralisasikan secara tepat. Misalnya
menyakinkan siswa yang cemas ketika menghadapi ujian nasional dan lain - lain.

C. Edward Lee Throndike

Edward mengatakan bhawa prilaku belajar manusia ditentukan oleh stimulus yang ada
dilingkungan sehingga menimbulkan respon secara reflek. Stimulus yang terjadi setelah
sebuah prilaku terjadi akan mempengaruhi perilaku selanjutnya.

Beberapa konsep belajar di atas telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia
pendidikan. Terlepas dari kelebihan konsep belajar behavioristik ini memiliki kelemahan -
kelamahan antara lain :

 Proses belajar dipandang sebagai kegiatan yang diamati langsung, padahal belajar
adalah kegiatan yang ada dalam sistem saraf manusia yang tidak terlihat kecuali
melalui gejala
 Proses belajar dipandang bersifat otomatis-mekanik sehingga terkesan seperti mesin
atau robot, padahal manusia mempunyai sel control dan self regulatif yang bersifat
kognitif yang terkadan tidak respon karena kegiatan itu tidak sesuai dengan
keinginannya
 Proses belajar dianalogikan manusia seperti kegiatan belajar hewan sangat sulit
diterima, mengingat terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara manuisa dengan
hewan.

3. Konsep Belajar Kognitivisme

Kegiatan belajar tidak hanya sekedar stimulus dan respon tetapi lebih dari itu,
kegiatan belajar juga melibatkan sikap mental yang aktif untuk mencapai, mengingat dan
menggunkan pengetahuan. Sehingga perilaku yang tampak pada manusia tidak diukur dan
diamati tanpa melibatkan proses mental seperti motivasi, kesengajaan dan keyakinan.

Pada tataran belajar kognitivisme mencakup beberapa konsep antara lain :

A. Teori Gestalt
Gestalt memandang belajar adalah proses yang didasarkan pada pemahaman, karena dasarnya
setiap tingkah laku seseorang selalu didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal dan
memikirkan situasi di mana tingkah laku itu tersebut terjadi. Pada situasi belajar, keterlibatan
seseorang secara langsung akan menghasilkan pemahaman yang dapat membantu individu
memecahkan masalah.

Proses belajar yang menggunakan insigh mempunyai ciri - ciri sebagai berikut :

 Tergantung pada kemampuan dasar individu


 Tergantung pada pengalaman masa lalu yang relevan
 Tergantung pada penagturan situasi belajar
 Didahului dengan periode mencari dan mencoba-coba
 Solusi problem dengan insigh dapat diulangi dengan mudah, dan akan berlaku secara
langsung
 Jika insight sudah terbentuk, maka problem - problem akan mudah diatasi

B. Model mengelola inormasi

Dalam aliran kognisi ada berberapa teori memori yang pada umumnya menjelaskan
tentang bagaimana mengelola innformasi antara lain ;

 Pentingnya pengetahuan dalam belajar,


 Macam - macam pengetahuan,
 Memproses informasi
KESIMPULAN

Perkembangan pendidikan secara nasional di era reformasi, yang sering disebut-sebut


oleh para pakar pendidikan maupun oleh para birokrasi di bidang pendidikan sebagai sebuah
harapan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini dengan berbagai strategi
inovasi, ternyata sampai saat ini masih belum menjadi harapan. Sebelum era-reformasi, siswa
yang lulus akan segera memproses ijasahnya untuk bisa dibawa dan digunakan, baik untuk
melanjutkan sekolahnya maupun untuk dijadikan syarat mencari pekerjaan.

Dengan proses inovasi pembelajaran pendidikan yang ada diera reformasi tersebut
dapat diatasi dengan baik, walaupun hasilnya msih belum dapat dirasakan sampai saat ini,
dikarenakan masih banyak pelaku pendidikan yang bertindak tidak sesuai dengan kaidah
yang ada, dengan melihat keinovatifan pembelajaran, mungkin dapat menjadikan para pelaku
pendidikan menjalankan tugasnya dengan baik, agar tercapai semua sita-cita bamgsa ini.
Pendidikan

Pendahuluan

Percepatan penuntasan program Wajar Dikdas 9 tahun untuk provinsi jawa Barat
adalah wajib. Hal ini perlu di kemukakan dan harus benar-benar dituntaskan, karma program
tersebut sebenar nya sudah selesai 9-10 tahun lalu. Kususnya untuk Jawa Barat, tidak boleh
tidak, lebih kurang setahun kedepan program wajar dikdas 9 tahun benar-benar tidak bersisa
lagi. Jika meniru ungkapan sebuah iklan, dikatakan nya”…tuntas-tas –tas-tasss!”

Sesuai dengan visi Jawa Barat;, salah satu nya dibidang pendidikan sebagai propinsi
termaju di Indonesia tahun 2008. jadi dari sekarang hanya tiga tahun lagi untuk pencapaian
hal itu. Menuju 3 tahun adalah waktu yang relative singkat oleh sebab itu, dengan gebrakan
pimpinan dinas Jawa Barat, sudah selayak nya didukung dan diantisifikasi seluruh afarat
dijajaran kependidikan. Dan sudah barang tentu dikomandoi oleh kepala pemerintah sejak
gubernur sampai aparat paling bawah.

Memulai pelaksanaan garapan yang cukup besar pada tahun yang baru, 2005, barang
kali tepat sekali momentum itu dilakukan. Mudah-mudahan tahun 2005 ini membawa
barokah. Dan sekaligus dengan tahun 2005 ini, kepala dinas pendidikan Jawa barat dan
seluruh staf mengucapkan”selamat tahun baru 2005”semoga Allah senantiasa melindungi kita
semua.Amin.

Ditahun 2005 ini BKW akan terus”eksis” dalam memberikan informasi yang cukup
perlu diketahui oleh pembaca yang setia baik dilingkungan pendidikan mau pun masyarakat
umum. Satu-satu nya media komunikasi cetak dilingkungan kependidikan Jawa Barat adalah
Bineka Karya Winaya. Maka seyogya nya media ini tetap terpelihara dan dipertahan kan
keberadaan nya. Karena bisa di ibarat kan setitik air sebagai penawar haus, sebagai penambah
ilmu pengetahuan dan wawasan.
ISI

Sejak Indonesia ,merdeka telah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya


pendidikan. Pendidikan sudah menjadi kebutuhan dan telah menyadarkan masyarakat penting
nya pembanguan untuk mengisi kemerdekan. Agar pembangunan lancar diperlukan tenaga
yang cakap dan terampil, baik tenaga kerja dan pemikir, perencana maupun warga Negara
yang bertanggung jawab. Sekolah ditungtut untuk melakukan inovasi agar menghasilkan
lulusan yang di butuhkan dengan jumlah dan mutu yang memadai. Karena itulah diperlukan
akselerasi dan inovasi.

Inovasi adalah perubahan, tetapi hanya mengandung sesuatu yang baru. contoh
perubahan yang bukan inovasai adalah: perubahan kembali kekeadaan semula. Alasan nya
ialah karena tidak ada yang baru atau yang inovatif. Walau terjadi perubahan. Contoh
perubahan yang inovasi adalah walau pun sudah mengenal CBSA dan muatan local. Tetapi
kalau kedua gagasan ini belum pernah dilakukan disuatu sekolah maka kedua nya adalah
inovasi, karena merupakan gagasan baru untuk menjawab harapan dan tang tangan.
Belakang inovasi pendidikan diperlukan berkaitan dengan tuntutan relevansi. Mutu lulusan,
efisiensi, efektifitasidan struktur pendidikan guru. Setidak nya ada dua hal yang perlu
dilakukan untuk inovasi pendidikan yaitu: perubahan, perbaikan , pengembangan dan
pembaharuan kurikulum pendidikan disebut inovasi meliputi: relevansi, kualitas lulusan,
efisiensi, efektifitas serta struktur pendidikan guru. Mutu pendidikan bukan hanya ditentukan
oleh guru, melainkan oleh mutu siswa, sarana, dan intrumental lain nya. Tetapi semua itu
pada akhir nya tergantung kepada mutu pengajaran, dan mutu pengajaran tergantung pada
kualitas guru, mutu SDM –nya.

Setiap inovasi akan melalui proses sosialisasi sebelum diputuskan untuk diterima atau
ditolak. Untuk proses sosialisasi itu perlu penyebaran inovasi melalui saluran tertentu pada
jangka waktu tertentu kepada komunitasa tertentu. Apakah inovasi akan di terima atau ditolak
tergantung dari antara lain saluran penyebaran nya, karakterristik inovasi, struktur lembaga,
dan norma kemasyarakatan penerima inovasi. Andai kata inovasi disebarkan kepada orang,
lembaga atau masyarakat yang telah memiliki pengetahuan atau telah mengenal nya, maka
penyebaran nya relative tidak banyak menghadapi hambatan inovasi bisa pula disebar-
luaskan oleh teman sejawat guru agar lebih lancar.
Cepat dalam kamus bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka mengundang arti “dalam
waktu singkat”, sedangkan percepatan adalah suatu perbuatan untuk mempersingkat waktu
dalam memperlakukan sesuatu. Program percepatan penuntasan Wajib Belajar Pendidikan
Dasar 9 tahun (Wajar Digdas 9 tahun) mengandung maksud mempersingkat waktu dalam
upaya membereskan atau menetapkan Wajar Digdas 9 tahun di Jawa Barat. Mengapa
Program Wajar Digdas 9 tahun di Jawa Barat, mesti dipersingkat atau dipercepat? Karena
sebagai respon terhadap Visi Pemda Tahun 2003-2008 yang melakukan akselerasi
peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat dalam rangka pencapaian Visi Jawa Barat
dengan Iman dan Taqwa sebagai propinsi termaju di Jawa Barat dan mitra terdepan Ibu kota
Negara tahun 2010”.

Termaju mengandung arti ketergantungan propinsi lain terhadap Jabar setinggi


mungkin, dan ketergantungan Jawa Barat terhadap propinsi lain sekecil mungkin. Terdepan
maksudnya posisi Jawa Barat tidak lagi menjadi penyanggga Ibu kota dalam arti
terekploitasinya sumber daya oleh DKI Jakarta. Namun menjadi mitra sejajar yang paling
menguntungkan dan terdepan dalam menjalin bersama dengan Ibu kota Negara. Sedangkan
yang dimaksud dengan Iman dan Taqwa ialah segala penyenggaraan pemerintahan dan
pembangunan didasari oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Iman
dan Taqwa para meternya adalah kasalehan social berlandaskan agama dan budaya!”, kata
Gubernur Jawa Barat Drs. H. Danny setiawan M. Si. Dalam acara rapat evaluasi kegiatan
tahun 2004 dan perencanaan Program Pembangunan Pendidikan di Jawa Barat tahun 2005
yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan Jawa Barat di hotel Green Hill Resort Cipanas
Cianjur baru-baru ini, yang dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota dan Kepala
Kandespag se-Jabar. Bappeda Jabar. Pra kepala Sub Dinas/UPTD dan lain-lain.

VISI Menurut Gubernur Jawa Barat, biasanya kualitatif tidak bisa kuantitatif karena
profesi kita, namun obsesi itu bukan tanpa dasar karena kita mencermati sumber daya alam
dan sumber daya manusia yang lebih banyak dibanding dengan propinsi lain. Oleh karena itu
menjadi propinsi termaju di Indonesia bukan suatu mustahil . diakuinya bahwa selama 2
tahun dalam menjalani pemerintahannya 7 misi yang dicanangkannya masih kualitatif dalam
hal tersebut ada 5 misi yang harus di selerasi. Yaitu meningkatkan kualitas dan produktivitas
SDM Jawa Barat. Mengembangkan system perekonomian daerah yang tangguh.
Memanfaatkan kinerja pemerintah daerah. Meningkatkan implementasi pembangunan
berkelanjutkan dan meningkatkan kualitas kehidupan sosial yang berlandasan agama dan
budaya daerah. “Dari 5 misi yang diakselerasi ini mari kita fokuskan kepada dunia
pendidikan terutama dalam upaya penuntasan Wajar Digdas 9 tahun , Kata Gubernur tandas
serta penuh harap .

Lalu, strategi apakah yang harus ditempuh untuk menigkatkan sumber daya manusia
itu? Strategi yang harus ditempuh adalah melaksanakan pembangunan pendidikan melalui
upaya pemerataan pendidikan di seluruh daerah Jawa Barat. Indikatir kinerja yang menandai
keberhasilan pendidikan di Jawa Barat dinyatakan dengan rata-rata Lama Sekolah (RLS)
sebesar 8.7 tahun dan angka Merek Huruf (AMH) sebesar 97,6 persen, pada tahun 2008
nanti, kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Drs. H. Dadang Dally M. Si dalam acara
Rapat Evaluasi kegiatan Tahun 2004 dan penyususnan perencanaan program pendidikan
Tahun 2005 yang dibuka secara resmi oleh Wakub Jabar H. Nu’man A Hakim di hotel Green
Hill Resort Cipanas Cianjur belum lama ini.

Menanggapi pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Jabar tersebut. Gubernur Jawa


Barat Drs.H.Danny Setiawan M.Si. pada saat berlangsungnya penutupan Raker (rapat kerja)
mengharapkan agar angka melek huruf di Jawa Barat bisa mencapai 100 persen dan untuk
mencapai target tersebut para Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota dan Para Kepala Kandepag
Kab/Kota seJawa Barat bersama instansi terkait lainnya di intruksikan untuk lebih
meningkatkan pelaksanaan fungsional di dearah-daerah dengan cara mengajak masyarakat
supaya mengikuti pendidikan formal dan pendidikan luar sekolah. Usia sekolah SD/MI yang
belum mau sekolah diusahakan dengan cara memberikan pengertian kepada para orang
tuanya dan bila meraka menolak dengan alasan tak mampu kita harus berusaha dengan cara
memberikan bea siswa. Begitu pula para lulusan SD/MI dan SMP/MTs diusahakan agar
mereka terhindar dari drop out (DO) denganmelakukan cara yang sama.
Menyinggung tentang adanya kekurangan guru dibeberapa daerah. Selain akan mengangkat
guru Bantu Daerah sementara, juga di intruksikan agar menggabungkan SD terus dilakukan
karena hal itu akan bisa memecahkan solusi kekurangan Guru. “suka atau tidak suka para
Guru didaerah harus mau menggabungkan sekolahnya”ungkap Gubernur Jawa Barat dengan
tandas. Terhadap guru-guru yang bertugas di daerah terpencil yang jauh dari kota Kabupaten.
Gubernur berjanji akan memberikan stimulasi sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).
Namun jatahnya baru bisa masuk 1000 orang Gurdacil. Dalam Acara Rapat Anggota Komisi
pada rapat kerja tersebut, para anggota Komisi yang membahas Wajar Diknas 9 Tahun
mengusulkan agar stimulasi yang besarnya 1 juta itu di pertimbangkan lagi. Dan para anggota
Komisi mengusulkan supaya stimulant yang besarnya Rp. 1 juta itu dipertimbangkan lagi dan
para anggota Komis mengusulkan supaya stimulant diberikan Rp. 750.000,- per guru
sehingga jatah yang tadinya untuk 1.000,- orang bisa menjadi 1.500,- orang Gurdacil
Tentang Guru di daerah terpencil ini kita tak bisa menutup mata, dan kita aku bahwa selama
ini mereka banyak yang tidak betah bertugas di daerah yang terpencil jauh dari kota. Factor
yang menyebabkan mereka tidak betah, selain gaji mereka tidak mencukupi juga karena tidak
kekurangan tenaga pengajar sehingga banyak terjadi satu sekolah hanya ditangani oleh
seorang guru yang merangkap sebagai kepala dan penjaga sekolah. Namun ada pula guru
yang didaerah terpencil ada juga yang berhasil dan bisa menghidupi keluarga serta
membangun rumah yang bagus di dekat lokasi SD tempat mengajar karena guru berhasil
membudidayakan pohon salak bali di daerah Lengkong kabupaten sukabumi sebagai mana
diungkapkan oleh gubernur Jawa Barat saat menjelang penutupan Rapat kerja tersebut.

Kita akui pula bahwa bukan menjadi rahasia umum lagi soal kekurangan guru di Jawa
Barat ini sehingga menunjukan angka tertinggi. Adapun yang menjadi penyebab kekurangan
Guru selain banyak para Guru senior yang telah menjalani pensiun juga mengalami akibat
adanya pembatasan anggaran pemerintah pusat dalam pangkat guru baru. tahun 2003 lalu
Jawa Barat kekurangan guru sebanyak 48.376 orang dan baru bisa diatasi oleh pusat dengan
mengangkat guru Bantu sementara (GBS) sebanyak 27.500 orang. Tahun 2004 ini untuk
Jawa Barat diangkat 4.484 orang, dan pengangkat tersebut lebih banyak dibandingkan dengan
propinsi lain yang hanya 1.000 atau 2.000 orang guru saja sebagaimana dijelaskan oleh
kepala Lembaga Pengkajian mutu Pendidik (LPMP) Jawa Barat Dra. Hj. Teres.

Adapun perbandingan pendidikan mempunyai batasan pengertian tersendiri.


Pengertian tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Hakekat Ilmu Perbandingan Pendidikan

Sebagai ilmu Perbandingan Pendidikan tidaklah hanya membahas mas’alah-mas’alah


pendidikan dan pengajaran yang ada pada suatu Negara, juga tidak hanya membahas tentang
pemikiran pendidikan yang ada dalam suatu masyarakat dalam suatu Negara atau teori-teori
kependidikan yang diamalkan oleh suatu masyrakat sebagai suatu landasan pembahasan
tentang system pendidikan nya. Bukanlah ilmu perbandingan Pendidikan bila hanya menitik
beratkan pembahasan pada perbandingan antara teori-teori kependidikan dalam suatu
masyarakat.
Juga belum cukup berbobot bila Ilmu Perbandingan Pendidikan hanaya
membandingkan antara dua system atau lebih dari Negeri atau disuatu masyarakat. Karena
dengan cara demikian kita hanya akan mengetahui latar belakang yang menyebabkan
timbulnya persaman dan perbedaan tersebut.
Ilmu Perbandingan Pendidikan juga tidak hanya sekedar mengamati sejarah pendidikan
disuatu Negara atau beberapa Negara dengan dengan tujuan untuk mengetahui pokok-pokok
permasalahannya.

Semua yang tersebut diatas hanya merupakan aspek-aspek dari Ilmu Perbandingan
Pendidikan saja, sedangkan hakekatnya masih belum terungkap. Hakekatnya terletak pada
latar belakang yang menimbulkan aspek-aspek yang saling berkaitan.
Jadi Ilmu Perbandingan Pendidikan itu mengandung pengertian yang lebih komplek oleh
karena harus mencakup berbagai latar belakang yang mempengaruhi perkembangan bangsa
disuatu Negara. Sedangkan dalam perkembangan suatu bangsa itu terdapat aspirasi-aspirasi
dan idée idée (cita-cita) yang mendorong perkembangan dalam kurun waktu yang lama.
Aspirasi dan cita cita itulah yang memberi corak dan bentuk kebudayaan atau peradaban
bangsa itu.

Oleh karena itu pembatasan pengertian Ilmu Perbandingan Pendidikan harus bersifat
komprehesif sebagai berikut :
1. Ilmu Perbandingan Pendidikan adalah studi tentang system pendidikan dan pengajaran
beserta problematika problematikanya dalam Negara-negara yang berbeda Masing-masing
system dan probmatika tersebut diusut sampai kepada sebab-sebab sebenarnya yang berada
dibalik system dan problematikanya.
2. Ilmu Perbandingan Pendidikan juga diartikan sebagai studi tentang system pendidikan dan
pengajaran dinegara yang berbeda-beda serta factor-faktor yang mempengaruhinya.
3. Ilmu Perbandingan Pendidikan juga diartikan sebagai studi tentang teori-teori
kependidikan dan pengajaran serta bagaimana pengalaman atau pengetrapannya antara teori-
teori tersebut sehingga diketahui persamaandan perbedaannya serta mengembalikan kepada
latar belakang sumber yang mempengaruhinya.

Jadi yang menjadi inti pokok Ilmu Perbandingan Pendidikan itu adalah studii tentang
sebab sebab yang menimbulkan problematika kependidikan dan pengajaran serta sebab sebab
yang dapat menimbulkan persamaa dan perbedaan antara system sistemyang ada di Negara
Negara yang berbeda beda itu.
Oleh karena itu dalam hubungan dengan pembatasan pengertiantersebut orang yang
melakukan studi Perbandingan Pendidikan harus mampu menjawab pertanyaan : “ Mengapa
ada persamaa dan perbedaan”.

Dalam hubungan ini ada beberapa tokoh ahli Perbandingan Pendidikan yang memberi
pembatasan pengertian sebagai berikut :
1. Carter V. Good memberikan pembatasan :
“ Perbandingan Pendidikan adalah studi yang bertugas mengadakan perbandingan teori dan
praktek kependidikan yang ada di dalam beberapa Negara denganmaksud unutk memperluas
pandangan dan pengetahuan diluar batas negerinya sendiri.
2. I.L Kandel memberikan pembatasan pengertian sebagai berikut :
“Pendidikan Perbandingan adalah studi tentang teori dan praktek pendidikan masa sekarang
sebagaimana dipengaruhi oleh berbagai macam latar belakang yang merupakan kelanjutan
sejarah pendidikan”

Pembatasan yang diberikan oleh kedua orang ahli diatas menunjukan bahwa Ilmu
Perbandingan Pendidikan mengarahkan studinya kepada masalah teori dan pengalaman atau
pengeterapannya dalam masyarakat yang sekarang dengan tidak melupakan latar belakang
yang mempengaruhinya termasuk sejarah pendidikan dalam masyarakat yang bersangkutan.
Sejarah mempunyai arti penting karena didalamnya terdapat teori teori dan pengamalannya
dari waktu kewaktu.

Konsep konsep kependidikan yang berkembang menjadi teori teori kependidikan itu
pada hakekatnya tidak terlepas dari inspirasi bangsa yang hidup pada masanya. Aspirasi
nasional itulah yang membentuk corak dan watak bangsa yang bersangkutan.
Persamaan dan perbedaan system kependidikan dan pengajaran yang terdapat dinegara
Negara manapun didunia ini, baik di Barat maupun di Timur, pada hakekatnya ditentukan
oleh aspirasi bangsa bangsa yang berjuang untuk mencapai cita cita masing masing.
Seperti halnya dinegara Negara yang bercita cita dengan lamdasan falsafah Komunisme
seperti Negara Negara Rusia, Bulgaria, RRC, Cekoslowakia, Rumania dsb, menetapkan
system system kependidikan dan pengajarannya yang dapat dijadikan suatu perangkat sarana
mencapai cita cita masing masing. Begitu juga dinegara Negara Kapasitas Barat, system
system pendidikan dan pengajaran sitetapkan sesuai dengan cita cita mereka untuk mencapai
masyarakat yang demokratis liberal yang bertumpu kepada hak asasi manusia.
Adapun tentang sejauh mana system system tersebut mampu berperan dalam masyarakat
sebagai sarana mencapai cita citanya adalah banyak bergantung pada berbagai factor yang
mendukungnya. Faktor factor itu berupa antara lain kesesuaian organisasi dan
administrasinya denga para pelaksana yang mendukungnya. Disamping sarana dan prasarana
kependidikan yang disediakan.

Dan satu hal yang sangat penting dalam system tersebut ialah politik pendidikan yang
dijadikan arah dan landasan pelaksanaan sisitem itu, Politik kependidikan yang kurang tegas
memberikan arah terhadap jalannya proses kependidikan yang terjadi dalam system itu, akan
mengakibatkan berobah obahnya system itu sendiri. Juga dapat mengakibatkan strategi
kependidikan mengalami ketidak mantapan. Ketidak mantapan strategi demikian dapat
minimbulkan kerugian kerugian tidak saja materil dan financial akan tetapi juga mental
psikologis anak didik, karena sering dilakukan perobahan-perobahan dibidang kurikulum
dam metoda.

Tidak jarang dalam suatu masyarakat Negara, strategi yang tidak maton (mantap)
dalam pelaksanaan kependidikan mudah menimbulkan kemerosostan mutu produk
kependidikan yang diharapkan, sebagaimanan halnya yang banyak dialami di Negara Negara
yang sedang berkembang. Oleh karena pemilihan prioritas prioritas programnya tidak
dilakukan secara tepat dan akurat (teliti), maka anak didik harus menempuh proses
kependidikan yang overloaded (terlalu banyak beban ) dan tidak konsisten sehingga mereka
hampir tidak dapat mendekati aspirasi yang dijadikan tumpuan politik kependidikan, apalagi
mencerminkan aspirasi yang dijadikan tumpuan politik kependidikan, akan jauh panggang
dari api.
KESIMPULAN

Dinegara Negara manapun bekas jajahan di Asia dan Afrika, kenyataan demikian
menjadi problematika yang cukup rumit untuk diatasi. Lebih lebih bila Negara itu tidak
memiliki falsafah nasional yang kuat seperti dikehendaki oleh bangsa itu sendiri. Ditambah
lagi dengan kondisi ekonomisnya yang lemah dan rapuh dan kekurangan tenaga ahli.
Faktor factor demikian itu merupakan problematika kependidikan yang sangant penting untuk
distudi oleh Ilmu Perbandingan Pendidikan, disamping factor factor lain yang mungkin
terjadi dan berkaitan dengannya.

Satu factor yang sangat penting untuk dicatat adalah bahwa semua bangsa manapun
didunia modern saat ini selalu mendambakan pendidikan sebagai sarana pembudayaan
meraka yang harus berwatak lentur (fleksibel) terhadap perkembangan kemajuan zamanya.
Suatu bangsa tanpa pendidikan adalah bangsa yang tidak mampu mengaembangkan dirinya
sendiri, terutama bila dikaitkan dengan bangsa bangsa lain yang telah maju tekhnologinya.
KEINOVATIVAN DENGAN MENGGUNKAN ANALISIS
SWOT

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Hampir semua lembaga maupun pengamat bisnis dalam pendekatannya banyak


menggunakan analisis SWOT. Hal tersebut di lakukan oleh semua lembaga maupun
pengamat bisnis, untuk mengkaji kekuatan dan kelemahannya pada lembaga tersebut,
sebelum menentukan tujuan dan menggariskan tindakan pencapaian tujuan, yang merupakan
konsekuensi logis yang perlu di tempuh perusahaan agar supaya lancar didalam
operasionalnya.
Lingkungan eksternal mempunyai dampak yang sangat berarti pada sebuah lembaga
pendidikan. Selama dekade terkhir abad ke dua puluh, lembaga-lembaga ekonomi,
masyarakat, struktur politik, dan bahkan gaya hidup perorangan dihadapkan pada perubahan-
perubahan baru.
Perubahan masyarakat industri ke masyarakat informasi dan dari ekonomi yang
berorientasi manufaktur ke arah orientasi jasa, telah menimbulkan dampak yang signifikan
terhadap permintaan atas program baru pendidikan kejuruan yang ditawarkan (Martin, 1989).
Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opprtunities, and Threats) telah menjadi
salah satu alat yang berguna dalam dunia industri. Namun demikian tidak menutup
kemungkinan untuk digunakan sebagai aplikasi alat bantu pembuatan keputusan dalam
pengenalan program-program baru di lembaga pendidikan.
Proses penggunaan manajemen analisis SWOT menghendaki adanya suatu survei
internal tentang Strengths (kekuatan) dan Weaknesses (klemahan) program, serta survei
eksternal atas Opportunities (ancaman) dan Thterats (peluang/kesempatan) .Pengujian
eksternal dan internal yang struktur adalah sesuatu yang unik dalam dunia perencanaan dan
pengembangan kurikulum lembaga pendidikan.
Para pendidik harus berperan sebagai penggagas atau innovator dalam merancang
masa depan lembaga yang mereka kelola. Strategi-strategi baru yang inovatif harus
dikembangkan harus memastika bahwa lembaga pendidikan akan melaksanakan tanggung
jawab untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mendatang khususnya pada abad 21 dan
setelahnya. Untuk melakukan hal ini, antara lain dibutuhkan sebuah pengujian mengenai
bukan saja lingkungan lembaga pendidikan itu sendiri tetapi juga lingkungan eksternalnya
(Brodhead,1991). Analisis kekuatan, kelemahan, kesempatan/peluang, dan ancaman atau
SWOT (juga di kenal sebagai analisis TWOS dalam beberapa buku manajemen),
menyediakan sebuah kerangka pemikiran untuk para administrator pendidikan dalam
memfokuskan secara lebih baik pada layanan kebutuhan dalam masyarakat.
Meskipun sebenarnya analisa ini banyak di tujukan untuk penerapan dalam bisnis, ide
penggunaan perangkat ini dalam bidang pendidikan bukanlah hal yang sama sekali baru.
Sebagai contoh, Gorski (1991) menyatakan pendekatan ini untuk meningkatkan minat dalam
masyarakat untuk memasuki sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan. Perangkat
manajemen yang sedianya ditujukan untuk bidang industri sering kali bisa diolah untuk
diterapkan dalam bidang pendidikan, karena adanya kemiripan yang fundamental dalam
tugas-tugas administraitf .
SWOT adalah teknik yang sudah sederhana, mudah dipahami, dan juga bisa digunakan dalam
merumuskan strategi-strategi dan kebijakan-kebijakan untuk pengelolaan pegawai
administrasi (administrator). Sehingga, SWOT di sini tidak mempunyai akhir, artinya akan
selalu berubah sesuai dengan tuntutan jaman.
Sehubungan dengan penjelasan tersebut di atas penulis akan menyoroti tentang
permasalahan yang berkaitan dengan Analisis SWOT dalam Merancang Inovasi.

B. Rumusan Masalah

Untuk mencapai suatu kesuksesan tidak begitu mudah tetapi tentunya melalui proses
yang optimal, seperti halnya di dalam merancang inovasi dalam lembaga pendidikan, faktor
yang mempengaruhi analisis SWOT, di antaranya faktor internal dan faktor eksternal. Dari
beberapa faktor tersebut, penulis sangat tertarik untuk mengetahui tentang Analisis SWOT
dalam Merancang inovasi. Masalah tersebut cukup menarik untuk di teliti, dengan ilmu
pengetahuan yang dimiliki penulis. Sesuai dengan tugas yang diberikan, maka penulis akan
membatasi pada pokok masalah, yaitu “Analisis SWOT dalam Merancang Inovasi”.

C. Tujuan Penulisan
Maksud dan tujuan penulisan makalah Analisis SWOT dalam Mearancang Inovasi ini
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Proses Perencanaan Strategi Mutu

2. Untuk mengetahui berapa banyak lingkungan yang dapat mempengaruhi satu lembaga
Pendidikan

3. Untuk mengetahui lebih dalam masalah lingkungan eksternal dan internal

4. Untuk mengetahiu sejauh mana ancaman yang dihadapi oleh suatu lembaga pendidikan
baik ancaman dari lembaga itu sendiri maupun dari luar lembaga

5. Untuk mengetahui secara detail tentang Analisis SWOT

D. Manfaat penulisan
Semoga makalah ini dapat, memperoleh gambaran dan pemahaman tentang Analis
SWOT dalam Merancang Inovasi, serta dapat mengetuk hati para pejabat, guru-guru dan
orang-orang yang bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas pendidikan di negara
Indonesia.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Analisis SWOT


ANALISIS SWOT (Analisis Tingkat Kesiapan Fungsi Perluasan Kesempatan dan
Pmerataan Pendidikan) :
a. Kekuatan / Potensi (Strengths)
1. Tersedianya dan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan.
2. Tersedianya perundang-undangan pendidikan.
3. Keamanan aparat untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan.
4. Tersedianya fasilitas sarana dan prasarana pendidikan.
5. Adanya promosi pendidikan.
- UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
- UU RI No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
- UU RI No. 25 Tahun 2000 s/d 2004 tentang Program Pembangunan Nasional.
6. Adanya Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
7. Adanya Dunia Usaha dan Industri.
b. Kelemahan/Kekurangan (Weaknesses)
1. Tugas rangkap pemberi pelayanan pendidikan.
2. Kurangnya dedikasi dan mutu sebagian tenaga pendidikan (SDM)
3. Belum optimalnya fungsi tim perencanaan.
4. Kurangnya informasi di bidang pendidikan, khususnya tentang SMK.
5. Input SMK BERSAL dari NEM SLTP yang relative rendah serta dilatarbelakangi oleh
ekonomi yang rendah.
6. Kurangnya kepedulian pihak swasta terhadap pendidikan.
c. Peluang /Kesempatan (Opportunities)
1. Adanya partisipasi dukungan masyarakat di bidang pendidikan.
2. Adanya dukungan pemerintah kabupaten.
3. Adanya dunia usaha/industri yang bersedia kerja sam dengan sekolah.
4. Kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan.
5. Adanya pelayanan pendidikan swasta.
6. Adanya kebijakan pengembangan SMK dari Direktorat Dikmenjur.
d. Ancaman (Threats)
1. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikkan.
2. Masih adanya krisis ekonomi yang melemahkan kemampuan masyarakat secara finanasial.
3. Belum mempunyai pemerintahan kabupaten untuk membantu biaya penyelenggaraan
pendidikan sepenuhnya.
4. Image Masyarakat bahwa SMK tidak menjanjikan masa depan yang lebih baik.
Peningkatan Mutu dan Relevan Pendidikan
a. Kekuatan/Potensi (Strengths)
1. Adanya dukungan pemerintah kabupaten dalam mendaya gunakan peraturan perundangan
di bidang pendidikan.
2. Adanya komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan
3. Adanya program Ivent kompetensi tentang kompetensi siswa , baik tingkat daerah,
regional, nasional, maupun intrnasional.
4. Adanya lembaga-lembaga Diklat Kejuruan
b. Kelemahan/Kekurangan (Weaknesses)
1. Rendahnya dedikasi sebagian guru terhadap tugasnya.
2. Rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
3. Terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada di beberapa sekolah.
4. Rendahnya motivasi belajar pada sebagian siswa
5. Rendahnya tingkat pendapatan/ekonomi masyarakat.
c. Peluang/Kesempatan (Opportunities)
1. Dengan mendayagunakan peraturan perundangan di bidang pendidikan, pelayanan
pendidikan yang bermutu, merata dan terjangkau.
2. Adanya partisipasi masyarakat dibidang pendidikan.
3. Adanya Kebijakan Diklat Wirausaha yang melatih kemandirian siswa
4. Mendayagunakan sarana prasarana yang ada dalam rangka pelayanan pendidikan yang
bermutu.
5. Adanya penghargaan/beasiswa bagi siswa yang kurang mampu dan berprestasi baik dalam
melanjutkan pendidikan maupun yang bekerja.
d. Ancaman (Threts)
1. Kurangnya dukungan masyarakat terhadap program sekolah.
2. Tidak tercapainya upaya mewujudkan kemandirian sekolah.
3. Kurang pedulinya DU/DI terhadap pendidikan.
4. Adanya kebijakan sistem pendidikan yang sering berubah.
5. Berlakunya Era Pasar Bebas Asean dan Asia 2010 memiliki konsekuensi tumbunya
persaingan yang amat ketat dalam segala aspek kehidupan.
Analisis SWOT merupakan salah satu analisis pilihan (strategic chice) yang sudah
sangat populer. Dlam bahasan ini, analisis SWOT akan digunakan sebagai instrument analisis
yang dapat memkaiinstrumen lain yang lebih sesuai atau memadai dengan lokus-lokus yang
telah di tentukan dalam simulasi sub kelompok atau kelompok.
Tahapan ini merupakan kelanjutan dari tahapan sebelumnya maka metode evaluasi
dan analisis pada tahapan ini harus dapat mengakomodasikan hasil analisis sebelumnya. Oleh
karena itu, analisis yang digunakan pada tahapan sebelumnya, juga digunakan pada tahapan
ini.
SWOT adalah singkatan dari Strengths, Weaknsses, Opportunuities, and THREATTS
(kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman). Analisis SWOT sudah menjadi alat yang
umum dugunakan dalam perencanaan strategis pendidikan, namun ia tetap merupakan ala.
Efektif dalam menempatkan potensi institusi. SWOT dapat dibagi ke dalam dua elemen,
analisa internal yang berkonsentrasi pada prestasi institusi itu sendiri dan analisa lingkungan.
Uji kekuatan dan kelemahan pada dasarnya merupakan audit internal tentang seberapa
efektif performa institusi. Sementara peluang dan ancaman berkonsentrasi pada konteks
eksternal atau lingkungan tempat sebuah institusi beroperasi.
Analisa SWOT bertujuan untuk menemukan aspek-aspek penting dari hal-hal tersebut
di atas: kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Tujuan pengujian ini adalah untuk
memaksimalkan kekuatan, meminimalkan kelemahan, mereduksi ancaman dan membangun
peluang.
Aktivitas SWOT dapat diperkuat dengan menjamin analisa tersebut berfokus pada
kebutuhan pelanggan dan konteks kompetitif tempat institusi beroperasi. Ini adalah dua
variable kunci dalam membangun atau mengembangkan strategi jangka panjang institusi.
Strategi ini harus dikembangkan dengan berbagai metode yang dapat memungkinkan institusi
mampu mempertahankan diri dalam menghadapi kompetisi serta mampu memaksimalkan
daya tariknya bagi para pelanggan.
Jika pengujian tersebut dipadukan dengan pengaduan visi dan nilai, maka akan
ditemukan sebuah identitas yang berbeda dari para pesaingnya. Begitu sebuah identitas
disitingtif mampu dikembangkan dalam sebuah institusi, maka karakteristik mutu dalam
institusi tersebut akan menjadi lebih mudah diidentifikasi.
Analisis SWOT secara sederhana mudah dipahami sebagai pengujian terhadap
kekuatan dan kelemahan internal sebuah organisasi, serta kesempatan dan ancaman
lingkungan eksternalnya. SWOT adalah perangkat umum yang didesain dan digunakan
sebagai langkah awal dalam proses pembuatan keputusan dan sebagai perencanaan strategis
dalam berbagai terapan (Johnson, dkk., 1989; Bartol dkk., 1991).
Jika hal ini digunakan dengan benar, maka dimungkinkan bagi sebuah sekolah untuk
mendapatkan sebuah gambaran menyeluruh mengenai situasi sekolah itu dalam hubungannya
dengan masyarakat, lembaga-lembaga pendidikan yang lain, dan lapangan industri yang
dimasuki oleh murid-muridnya.
Sedangkan pemahaman mengenai faktor-faktor eksternal, (terdiri atas ancaman dan
kesempatan), yang digabungkan dengan suatu pengujian mengenai kekuatan dan kelemahan
akan membantu dalam mengembangkan sebuah visi tentang masa depan.
Prakiraan seperti ini diterapkan dengan mulai membuat program yang kompeten atau
mengganti program-program yang tidak relevan dengan program yang lebih inovatif dan
relevan

B. Pengrtian Inovasi
Inti dari setiap upaya pembangunan yang disampaikan melalui kegiatan penyuluhan,
pada dasarnya ditujukan untuk tercapainya perubahan-perubahan perilaku masyarakat demi
terwujudnya perbaikan mutu hidup yang mencakup banyak aspek, baik: ekonomi, sosial,
budaya, ideologi, politik maupun pertahanan dan keamanan.
Karena itu, pesan-pesan pembangunan yang disuluhkan haruslah mampu mendorong
atau mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan yang memiliki sifat “pembaharuan”
yang biasa disebut dengan istilah “inovativensess”.
Rogers dan Shoemaker (1971) mengartikan inovasi sebagai ide-ide baru, praktek-
praktek baru, atau objek-objek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu
atau masyarakat sasaran penyuluhan.
Sedang Lionberger dan Gwin (1982) mengartikan inovasi tidak sekadar sebagai
sesuatu yang baru, tetapi lebih luas dari itu, yakni sesuatu yang dinilai baru atau dapat
mendorong terjadinya pembaharuan dalam masyarakat atau pada lokalitas tertentu.
Pengertian “baru” disini, mengandung makna bukan sekadar “baru diketahui” oleh
pikiran (cognitive), akan tetapi juga baru karena belum dapat diterima secara luas oleh
seluruh warga masyarakat dalam arti sikap (attitude), dan juga baru dalam pengertian belum
diterima dan dilaksanakan/diterapkan oleh seluruh warga masyarakat setempat.
Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil produksi saja,
tetapi mencakup ideologi, kepercayaan, sikap hidup, informasi, perilaku, atau gerakan-
gerakan menuju kepada proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, pengertian inovasi dapat semakin diperluas menjadi (Mardikanto,
1988): Sesuatu ide, produk, informasi teknologi, kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan
praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan
digunakan/diterapkan/dilaksanakan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu
lokalitas tertentu yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di
segala aspek kehidupan masyarakat demi selalu terwujudnya perbaikan-perbaikan mutu
hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan.
Pengertian “baru” yang melekat pada istilah inovasi tersebut bukan selalu berarti baru
diciptakan, tetapi dapat berupa sesuatu yang sudah “lama” dikenal, diterima, atau
digunakan/diterapkan oleh masyarakat di luar sistem sosial yang menganggapnya sebagai
sesuatu yang masih “baru”. Pengertian “baru” juga tidak selalu harus datang dari luar, tetapi
dapat berupa teknologi setempat (indegenuous technology) atau kebiasaan setempat (kearifan
tradisional) yang sudah lama ditinggalkan.
Sifat-sifat intrinsik inovasi itu mencakup:

1) informasi ilmiah yang melekat/dilekatkan pada inovasinya,


2) nilai-nilai atau keunggulan-keunggulan (teknis, ekonomis, sosial budaya, dan politis) yang
melekat pada inovasinya,
3) tingkat kerumitan (kompleksitas) inovasi,
4) mudah/tidaknya dikomunikasikan (kekomunikatifan) inovasi,
5) mudah/tidaknya inovasi tersebut dicobakan (trialability),
6) mudah/tidaknyaa inovasi tersebut diamati (observability).
Sedang sifat-sifat ekstrinsik inovasi meliputi:
1) kesesuaian (compatibility) inovas dengan lingkungan setempat (baik lingkungan fisik,
sosial budaya, politik, dan kemampuan ekonomis masyarakatnya).
2) tingkat keunggulan relatif dari inovasi yang ditawarkan, atau keunggulan lain yang
dimiliki oleh inovasi dibanding dengan teknologi yang sudah ada yang akan diperbaharui/
digaantikannya; baik keunggulan teknis (kecocokan dengan keadaan alam setempat, tingkat
produktivitasnya), ekonomis (besarnya biaya atau keuntungannya), manfaat non-ekonomi,
maupun dampak sosial budaya dan politis yang ditimbulkannya.
Sehubungan dengan ragam sifat inovasi yang dikemukakan di atas, Roy (1981) dari
hasil penelitiannya berhasil memberikan urutan jenjang kepentingan dari masing-masing sifat
inovasi yang perlu diperhatikan di dalam kegiatan penyuluhan.
Jenjang Kepentingan Sifat Inovasi
1. Tingkat Keuntungan (profitability)
2. Beaya yang diperlukan (cost of innovation)
3. Tingkat kerumitan/kesederhanaan (complexity-simplicity)
4. Kesesuaian dengan lingkungan fisik (physical compatibility)
5. Kesesuaian dengan lingkungan budaya (cultural compatibility)
6. Tingkat mudahnya dikomunikasikan (communcicability)
7. Penghematan tenaga kerja dan waktu (saving of labour and time)
8. Dapat/tidaknya dipecah-pecah/dibagi (divisibility),sumber: Crouch and CHAMALA, 1981
Golongan yang inovatif, biasanya banyak memanfaatkan beragam sumber informasi,
seperti: lembaga pendidikan/perguruan tinggi, lembaga penelitian, dinas-dinas yang terkait,
media masa, tokoh-tokoh masyarakat (petani) setempat maupun dari luar, maupun lembaga-
lembaga komersial (pedagang, dan lain-lain). Berbeda dengan golongan yang inovatif,
golongan masyarakat yang kurang inovatif umumnya hanya memanfaatkan informasi dari
tokoh-tokoh (petani) setempat, dan relatif sedikit memanfaat informasi dari media masa.

a) Saluran komunikasi yang digunakan


Secara konseptual, pada dasarnya dikenal adanya tiga macam saluran atau media
komunikasi, yaitu saluran antarpribadi (interpersonal), media masa (mass media), dan forum
media yang dimaksudkan untuk menggabungkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh
saluarn antar-pribadi dan media-masa.
Tentang hal ini, media masa biasanya lebih efektif dan lebih murah untuk
mengenalkan inovasi pada tahap-tahap penyadaran dan menumbuhkan minat. Sebaliknya,
media antarpribadi biasanya lebih efektif untuk diterapkan pada tahapan yang lebih lanjut,
sejak menum-buhkan minat sampai pada penerapannya. Berkenaan dengan itu, semakin
banyak media yang digunakan oleh masyarakat, akan memberikan pengaruh yang semakin
baik. Sebab, selain jumlah informassi menjadi lebih lengkap, biasanya juga lebih bermutu
atau semakin memberikan kejelasan terhadap inovasi yang diterimanya.
Jika inovasi dapat dengan mudah dan jelas dapat disampaikan lewat media masa, atau
sebaliknya jika kelompok sasarannya dapat dengan mudah menerima inovasi yang
disampaikan melalui media masa, maka proses adopsi akan berlangsung relatif lebih cepat
dibanding dengan inovasi yang harus disampaikan lewat media antar pribadi.
Sebaliknya, jika inovasi tersebut relatif sulit disampaikan lewat media masa atau
sasarannya belum mampu (dapat) memanfaatkan media masa, inovasi yang disampaikan
lewat media antar pribadi akan lebih cepat dapat diadopsi oleh masyarakat sasarannya.

b) Status Sosial-ekonomi Penerima atau Pengguna Inovasi


Rogers (1971) mengemukakan hipotesisnya bahwa setiap kelompok masyarakat
terbagi menjadi 5 (lima) kelompok individu berdasarkan tingkat kecepatannya mengadopsi
inovasi, yaitu:

(1) 2,5 % kelompok perintis (innovator),

(2) 13,5 % kelompok pelopor (early adopter),

(3) 34,0 % kelompok penganut dini (early mayority),

(4) 13,5 % kelompok penganut lambat (late majority),

(5) 2,5 % kelompok orang-orang yang tak mau berubah laggard).


Menurut Joseph Schumpeter definisi inovasi dalam ekonomi, 1934:
Mengenalkan barang baru dimana para pelanggan belum mengenalnya atau kualitas baru dari
sebuah barang;
1. Mengenalkan metoda produksi baru yang dibutuhkan, ditemukan melalui serangkaian uji
coba ilmiah;
2. Membuka pasar baru, dimana perusahaan sejenis tidak memasukinya, baik pasar tersebut
ada atau belum ada ketika perusahaan memasukinya;
3. Menguasai sumber bahan baku baru untuk industri barang;
4. Menjalankan organisasi baru, seperti menciptakan monopoli, atau membuka monopoli
perusahaan lain.

Dalam OECD, (1995) definisi Inovasi Teknologi adalah: Mengimplementasikan


produk dan proses teknologi baru yang dapat meningkatkan pangsa pasar. Penciptaan proses
dan produk baru melibatkan penelitian ilmiah, teknologi, organisasi, finansial dan aktifitas
periklanan.
Menurut Regis Cabral (1998, 2003) bahwa Inovasi adalah elemen baru yang
diperkenalkan dalam jaringan yang dapat mengubah, meskipun hanya sesaat, baik harganya,
pelakunya, elemennya atau simpul dalam jaringan.

1) Tipe Inovasi
Ada 5 tipe inovasi menurut para ahli, yaitu:
1. Inovasi produk; yang melibatkan pengenalan barang baru, pelayanan baru yang secara
substansial meningkat. Melibatkan peningkatan karakteristik fungsi juga, kemampuan teknisi,
mudah menggunakannya. Contohnya telepon genggam, komputer, kendaraan bermotor, dsb;
2. Inovasi proses; melibatkan implementasi peningkatan kualitas produk yang baru atau
pengiriman barangnya;
3. Inovasi pemasaran; mengembangkan metoda mencari pangsa pasar baru dengan
meningkatkan kualitas desain, pengemasan, promosi;
4. Inovasi organisasi; kreasi organisasi baru, praktek bisnis, cara menjalankan organisasi atau
perilaku berorganisasi;
5. Inovasi model bisnis; mengubah cara berbisnis berdasarkan nilai yang dianut.
Inovasi karakteristiknya ditentukan oleh pasar dan bisnis. Inovasi yang mengikuti
kondisi, memungkinkan pasar dapat dijalankan seperti biasanya. Inovasi yang terpisah, dapat
mengubah pasar atau produk contohnya penemuan barang murah, tiket pesawat murah.
Inovasi inkrementasi (penambah) muncul karena berlangsungnya evolusi dalam berpikir
inovasi, penggunaan teknologi yang memperbesar peluang keberhasilan dan mengurangi
produk yang tidak sempurna.

2) Sumber inovasi
Terdapat dua sumber utama inovasi , yaitu:

1. Secara tradisional, sumbernya adalah inovasi fabrikasi. Hal tersebut karena agen (orang
atau bisnis) berinovasi untuk menjual hasil inovasinya.
2. Inovasi pengguna; hal tersebut dimana agen (orang atau bisnis) mengembangkan inovasi
sendiri (pribadi atau di rumahnya sendiri), hal itu dilakukan karena produk yang dipakainya
tidak memenuhi apa yang dibutuhkannya.
3) Tujuan Inovasi
Tujuan utama inovasi adalah:

· meningkatkan kualitas;

· menciptakan pasar baru;

· memperluas jangkauan produk;

· mengurangi biaya tenaga kerja;

· meningkatkan proses produksi;

· mengurangi bahan baku;

· mengurangi kerusakan lingkungan;

· mengganti produk atau pelayanan;

· mengurangi konsumsi energi;

· menyesuaikan diri dengan undang-undang;

1) Kegagalan Inovasi
Hasil survei menunjukkan, bahwa dari 3000 ide tentang sebuah produk, hanya satu
yang sukses di pasaran. Kegagalan inovasi mengakibatkan hilangnya sejumlah nilai investasi,
menurunkan moral pekerja, meningkatkan sikap sinis, atau penolakan produk serupa di masa
datang. Padahal produk yang gagal seringkali memiliki potensis ebagai ide yang baik,
penolakan terjadi karena kurangnya modal, keahlian yang kurang, atau produk tidak sesuai
kebutuhan pasar. Kegagalan harus diidentifikasi dan diseleksi ketika proses berlangsung.
Penyeleksian dini memungkinkan kita dapat menghindari uji coba ide yang tidak cocok
dengan bahan baku, sehingga dapat menghemat biaya produksi.
Penyebab umum gagalnya suatu proses inovasi, dapat disaring kedalam 4 macam,
yaitu definisi tujuan yang buruk
1. buruknya mensejajarkan aksi untuk mencapai tujuan;
2. buruknya partisipasi anggota tim;
3. buruknya pengawasan produk;
4. buruknya komunikasi dan akses informasi.

2) Siklus Inovasi
Siklus inovasi berlangsung seperti kurva difusi dimana pada tahap awal, tumbuh
relatif lambat, ketika kemudian pelanggan merespon produk tersebut sebagai sebuah
kebutuhan maka pertumbuhan produk meningkat secara eksponensial. Pertumbuhan produk
akan terus meningkat bila dilakukan inkrenetori inovasi atau mengubah produk. Di akhir
kurva pergerakannya melambat kembali dan cenderung menurun.
Perusahaan yang inovatif akan bekerja dengan cara inovasi baru, yang menggantikan
cara lama untuk mempertahankan tumbuhnya kurva melalui pembaharuan teknologi, bila
teknologi tidak dilakukan pembaharuan pertumbuhan akan cenderung stagnan atau bahkan
menurun.

3) Inovasi Manajemen
Inovasi manajemen adalah inovasi dalam proses pengaturan organisasi. Langkah
pertama adalah menghasilkan ide perubahan mengenai produk atau proses. Dalam beberapa
kasus ide muncul dari observasi masalah sekarang atau masa depan. Untuk menghasilkan ide
bisa melalui pengamatan masalah atau membaca buku, internet, majalah, dan diskusi dengan
teman sejawat secara informal.
Bila kita dapat melihat kesempatan untuk mengembangkan sebuah ide, maka hal
tersebut dinamakan menghasilkan ide. Proses menghasilkan ide berupa memoles ide yang
asli, atau menggabungkan ide, kemudian dilakukan pengujian untuk mengetahui mana yang
sesuai dengan tujuan, bahan baku, kebutuhan pengguna, dan tentunya biaya produksi.
Bila kesempatan telah terbuka, maka ide masuk pada tahapan berikut yaitu
mengembangkan ide. Proses pengembangan bertumpu pada prototipe ide dan pengujian
kebutuhan pasar. Banyak ide baru bermunculan pada fase pengembangan ini sesuai
kebutuhan yang berlangsung dinamis dalam masyarakat.
Fase akhir dalam proses inovasi adalah realisasi dan pada banyak kasus dinamakan
eksploitasi dimana para pelanggan melakukan evaluasi akhir.

4) Inovasi Sarana dan Prasarana


novasi sarana dan prasarana harus mengacu pada mengacu pada tupoksi lembaga dan
peraturan perundangan yang berlaku yaitu UUSPN NO. 20 tahun 2003 dan Standar Nasional
Pendidikan PP 19 tahun 2005 yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar,
tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat
bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran (termasuk diklat) termasuk penggunaan teknologi informasi
dan komunikasi.
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan
pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta
perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan.

5) Restrukturisasi Kelas Berbasis Teknologi


Pembelajaran tidak hanya terpaku pada kegiatan yang lebih dari hanya berbicara dan
transfer pengetahuan, seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi dilklat
mencari bentuk baru dalam proses pembelajaran anak.
Pembelajaran yang dimaksudkan adalah perkembangan teknologi dimasa kini dan
mendatang murid butuh untuk persiapan dirinya trutama kaitanyya dengan pengembangan
projek-projek yang harus dikerjakan baik secara individual maupun kelompok. Hal ini
tentunya mendorong guru untuk lebih bertindak sebagai coaching daripada hanya sekedar
telling dan spending ilmu pengetahuan.
Pemanfaatan teknologi informasi adalah basis dalam pengembangan pembelajaran di
dalam kelas, baik dalam pengaturan kelas dengan alat teknologi tersebut (praktik), maupun
kelas yang diatur dengan alat teknologi yang memungkinkan anak dapat mempelajari apa
yang diinginkannya dengan bantuan alat teknologi tersebut.

Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa teknologi memberikan dan nenuntut hal-hal berikut :
1. Menuntut guru melakukan pekerjaan dan alat yang lebih rumit;
2. Mengarah kepada peran guru sebagai pelatih dari pada sebagai penyalur pengetahuan;
3. Menyediakan kesempatan kepada guru untuk mempelajarai isi pembelajaran kembali dan
menggunakan metode yang tepat berdasarkan kurikulum yang ada;
4. Dapat memberikan dorongan kepada murid untuk bekerja lebih keras dan lebih berhati-hati
dalam belajar;
5. Membangun budaya nilai dan mutu pekerjaan dalam diklat secara signifikan.
A. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam restrukturisasi kelas dengan basis teknologi
Adalah hal yang penting bagi guru ketika memikirkan bahwa pembelajaran berbasis
teknologi tidak hanya terpfokus pada teknologi komputer, walaupun memang pada saat ini
komputer adalah salah satu alat yang sedang digemari oleh dilklat dalam mendukung
kegiatan anak didiklat walaupun baru sampai pada tarap kegiatan ekstrakurikuler saja.
Ada alat lainnya yang juga bisa dimanfaatkan dalam melaksanakan kegaiatan
pembelajaran dan tidak hanya sebagai alat Bantu akan tetapi memang sebagai kegiatan
belajar yang dijalani oleh siswa, seperti telepon, fax, video teknologi, dan lain-lain.
Yang harus dipikirkan dan menjadi bahan pertanyaan bagi guru ketika membuat
perencanaan pengajaran dengan berbasiskan teknologi adalah : 1) What general role do these
technologies play in the class room?, 2) What are the implications of using technology for me
as a teacher?, 3) Will the use of technology help my students learn?, and 4) How do I
integrate them into my teaching?
1. Beberapa hal yang menjadi hal perlu ada dalam teknologi yang kita gunakan adalah:
Teknologi itu bisa menyediakan informasi
2. Membangun pengetahuan dan keterampilan murid
3. Bisa mengakses sumber belajar lainnya.
Guru berkepentingan untuk memilih dan menetukan teknologi yang digunakan
terutama kaitannya dengan kepentingan spesifikasi kegiatan belajar yang harus dilakukan
oleh siswa dan hasil yang diharapkan. Oleh karena itu hal-hal berikut ini perlu diperhatikan
oleh guru:
1. The depth and quality of the information provide may vary;
2. Different technologies and their application have direct implication on the number in
which the classroom is organized;
3. Tecnologies differ on cost and amount of integration needed to use them;
4. Tecnologies vary in the flexibility of use.
Implikasinya bagi guru dalam pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran adalah
memperlancar kegiatan dan memudahkan dalam proses pembelajaran karena sebagai berikut:
1. Menuntut banyak kegiatan dari siswa dan menuntut murid untuk banyak berhati-hati untuk
menyiapkan pekerjaanya
2. Dapat menyajikan bahan ajar yang kompleks
3. Mempercayai murid dapat memahami konsep-konsep yang berat
4. Dapat mempertemukan kebutuhan individual murid yang paling baik
5. Dapat lebih memokuskan pada kegiatan murid sebagai senter dalam proses
pembelajaraannya
6. Membuka lebih luas perbedaan-perbedaan individual dan permasalahan-permasalahan
yang muncul dalam pembelajaran
7. Membuka kesempatan yang lebih luas dalam perbedaan pengalaman belajar bagi murid
8. Merasa lebih professional, karena diantara alat yang ada dapat mengurangi waktu dalam
memberikan instruksi dan lebih kepada membantu anak dalam belajar.

Pertanyaan lainnya bagi guru ketika memulai pembelajaran dengan basis teknologi
adalah:

1. Bagaimana murid mereaksi terhadap teknologi yang dipergunakan dalam belajarnya?


2. Bagaimana teknologi memberikan dampak terhadap pengetahuan yang akan diberikan
kepada murid dan bagaimana murid dapat menangkapnya?
3. Bagaimana teknolgi dapat merubah ruang dan waktu dalam kegiatan belajar mengajar?
4. Keterampilan baru apa yang harus dimiliki murid ketika akan memulai berlajar?
5. Bagaimana teknologi dapat merubah kelas dan hubungan guru dengan murid?
6. Bagaimana teknolgi memberikan dampak terhadap prestasi di kelas?
7. Bagaimana teknologi ini berkerja/dijalankan?
8. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan teknologi dalam
pembelajaran di kelas?
9. Apakah teknologi dapat merubah gaya mengajar?
10. Permasalahan-permasalahan apa yang dapat ditemukan bila memanfaatkan teknologi
terutama dalam pengelolaan kelas?

B. Lingkungan untuk efektivitas Penggunaan Teknologi


Teknologi di dalam kelas membantu memperlancar kegiatan belajar yang harus dilalui
oleh murid dan memberikan kemudahan bagi guru dalam proses mentransfer ilmu
pengetahuan kepada muridnya. Oleh karena itu lingkungan kelas harus memberikan
dukungan kepada kegiatan belajar yang menyenangkan bagi murid dan guru mengajar
dengan nyaman pula. Hal esensial yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

· Perlengkapan teknologi harus tepat sesuai dengan kebutuhan pembelajaran


· Akan membutuhkan banyak waktu dan mempelajarinya ketika teknologi masuk dalam
program instruksional
· Unsur-unsur pendukung sangat dibutuhkan seperti, keselamatan, kenyamanan, dan
keindahan
· Tenaga pendukung juga diperlukan ketika penggunaan teknologi lebih kompleks.
C. Pentingnya Guru yang Inovatif dalam Restrukturisai Kelas Berbasis Teknologi
Setiap guru menghendaki muridnya dapat belajar dan sukses dalam belajarnya.
Keberhasilan dalam belajar murid akan bergantung kepada usaha-usaha guru memberikan
arahan dan memberikan bantuan dalam kegiatan belajar tersebut.
Dengan perbedaan yang dimiliki oleh murid teknologi memungkinkan secara
individual projek-projek perorangan dapat dilakukan dengan maksimal, tentunya dengan
bantuan dan dorongan dari guru.
Guru yang inovatif sangat dibutuhkan dalam memanfaatkan teknologi sebagai alat
bantu dalam pembelajaran yang akan dilakukannya, dimulai dari kegiatan merencanakan
pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sampai kepada penilaian hasil belajar akan
membutuhkan energi yang tinggi.
Oleh karena itu orang kreatif itu akan mudah dalam menemukan inovasi-inovasi yang
memungkinkan kegiatan pembelajarannya lebih cepat, lebih berhasil dan lebih bermanfaat
bagi murid.

D. Pendekatan
1. Orang dan keterampilan
Inovasi sarana dan prasarana diarahkan kepada peningkatan kemampuan orang
sebagai penyelenggara dan ilmu pengetahuan serta keterampilan output yang diharapkan

2. Alat dan bahan


Inovasi melekat pada alat dan bahan diklat yang akan dipergunakan untuk
melaksanakan program-program pendidikan dan latihan

3. Teknologi manual
Inovasi sarana dan prasarna diklat terdiri atas alat dan bahan yang bersifat manual
yang akan dipergunakan oleh pelaksana dan peserta

4. Teknologi Komputerisasi
Teknologi komputerisasi merupakan bagian dari inovasi pengembangan sarana dan
prasarna diklat

5. Teknologi informasi
Teknologi informasi merupakan bgian dari inovasi pengembangan sarana dan
prasarana diklat guna menunjang kelancaran dalam transfer ilmu pengetahuan dan
keterampilan dari pelaksana kepada peserta pendidikan dan latihan

E. Prinsip-Prinsip

1. Relevance
Inovasi sarana dan prasarana diklat harus berkesuaian dengan kebutuhan dalam
penyelenggaraan diklat, terutama dalam penyesuaian-penyesuaian dengan kebutuhan
pengembangan pengetahuan dan keterampilan ketenagaan.

2. Manageable
Inovasi sarana dan prasarana diklat merupakan bagian dalam pengembangan fungsi-
fungsi manajemen kelembagaan

3. Sustainability
Inovasi sarana dan prasarana diklat harus dapat dilihat dari keberlanjutan program
4. Efficiency
Inovasi sarana dan prasarna diklat memperhatikan unsur efisiensi dalam program
kelembagaan, tidak menyebabkan penghamburan-penghamburan dalam pembiayaan dan
waktu

5. Productivity
Inovasi sarana dan prasarana diklat mengacu kepada peningkatan produktivitas
kelembagaan diklat dan output

6. Innovative
Inovasi sarana dan prasarana diklat merupakan bentuk-bentuk hasil pemikiran dan
pengembangan-pengembangan yang inovatif
7. Up to date
Sarana dan prasarana program yang dikembangkan merupakan hal yang terbaru dalam
penyelenggaraan diklat.

C. Perencanaan Strategi Mutu


Mutu tidak terjadi begitu saja. Ia harus direncanakan. Mutu harus menjadi bagian
penting dari strategi institusi, dan harus didekati secara sistematis dengan menggunaka proses
perencanaan strstegis. Perencanaan strategis merupakan salah satu bagian penting dari TQM.
Tanpa arahan jangka panjang yang jelas, sebuah institusi tidak dapat merencanakan
peningkatan mutu. Poin pertama dari 14 poin Deming adalah ‘menciptakn tujuan secara
konstan’.
Proses perencanaan strategis dalam konteks pendidikan tidak jauh berbeda dengan
yang biasanya dipergunakan dalam dunia industri dan komersial. Alat-alat yang digunakan
untuk menentukan misi tujuan akhir serta untuk menganalisa kekuatan, kelemahan, peluang,
dan ancaman juga hampir sama, hanya perlu penerjamahan yang baik. Alat-alat itu sendiri
harus sederhana dan mudah dipergunakan. Kekuatan alat-alat tersebut berasal dari fokus yang
mereka berikan terhadap proses berpikir institusi.
Perencanaan strategis memungkinkan formulasi prioritas-prioritas jangka panjang dan
perubahan institusional berdasarkan pertimbangan rasional. Tanpa strategis, sebuah institusi
tidak akan bisa yakin bagaimana mereka bisa memanfaatkan peluang-peluang baru.
Rencana strategis kadangkala disebut dengan rencana pengembangan usaha atau
instiusa, yang merinci tolok ukur yang kelak digunakan insti dalam mencapai misinya.
Rencana strategis biasanya disususun dalam jangka waktu menengah, di atas tiga tahun.
Tujuannya adalah untuk memberi sebuah pedoman dan arahan kepada institusi. Akan tetapi,
rencana tersebut bukan rencana instrumen yang kaku. Dalam sebuah pasar pendidikan yang
kompetitif, produksi rencana strategis adalah hal yang sangat penting. Tanpa rencan tersebut
institusi akan tidak terarah.
Ketika analisis misi, nilai-nilai, SWOT dan faktor penting kesuksesan telah dilakukan,
maka rencana strategis harus segera mengarahkan sejumlah isu-isu kunci yang muncul.
BAB III

ANALISA PEMBAHASAN

A. Analisis Lingkungan
Lingkungan adalah salah satu faktor terpenting untuk menunjang keberhasilan
perusahaan dalam persaingan. Berpuluh-puluh kegagalan dalam bisnis adalah disebabkan
karena karena kegagalan untuk memahami dan mengidentifikasi secara benar lingkungan di
mana mereka berada.
Dalam salah satu proses manajemen strategik adalah penilaian lingkungan organisasi
melalui proses analisis lingkungan organisasi. Yang dimaksudkan di sini meliputi kondisi,
situasi, keadaan, peristiwa dan pengaruh-pengaruh di dalam dan di keliling organisasi yang
berdampak pada kehidupan organisasi berupa kekuatan internal, kelemahan internal, peluang
eksternal, dan tantangan eksternal.
Lingkungan internal meliputi:
1. Kekuatan (Strengths) adalah situasi dan kemamapuan internal yang bersifat positif yang
memungkinkan organisasi memenuhi keuntungan stategik dalam mencapai visi dan misi.
2. Kelemahan internal (Weaknesses) adalah sitasi dan faktor-faktor luar organisasi yang
bersifat negatif yang memahami organisasi mencapai atau mampu melampaui pencapaian visi
dan misi.
Lingkungan eksternal meliputi :

1. Peluang (Opportunity) adalah situasi dan faktor-faktor luar organisasi yang bersifat positif,
yang membantu organisasi mencapai atau mampu melampaui pencapaian visi dan misi.
2. Tantangan/Ancaman (Threat) adalah faktor-faktor luar organisasi yang bersifat negatif,
yang dapat mengakibatkan organisasi gagal dalam mencapai visi dan misi.
Linkungan eksternal terdiri dari 3 (tiga) macam lingkungan yaitu : (1) Lingkungan Umum
(Gneral Environment), (2) Lingkunga Industri, dan (3) Lingkungan Internasional.
Salah satu tugas manajer adalah menganalisis kekuatan persaingan di lingkungan industri di
mana perusahaannya beroperasi agar dapat diketahui peluang dan ancaman.

B. Analisis Strategik dan Kunci Keberhasilan


Analisis Lingkungan Strategik dan kunci keberhasilan merupakan langkah-langkah
lanjutan setelah tahapan PLI-PLE-KAFI, KAFE dan akan diikuti dengan tahapan penetapan
Tujuan, Sasaran, dan Strategik dan Strategik Organisasi. Mata pelatihan Analisis Lingkungan
Strategik dan Faktor Kunci Keberhasilan terdiri dari dua langkah, yaitu:

1. Analisis Pilihan Asumsi Strategi.


Analisis Pilihan Asumsi Strategi merupakan analisis lebih lanjut dari informasi yang
telah dikembangkan pada tahap-tahap sebelumnya. Informasi tersebut sangat diperlukan
dalam menentukan kegiatan yang harus dilaksanakan dan harus berorientasi pada Misi
organisasi dalam usaha mencapai Visi.
Misi organisasi secara tegas menyatakan apa yang harus dicapai oleh organisasi da
kegiatan-kegiatan spesifik apa yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi.
Faktor-faktor kunci keberhasilan antara lain berupa potensi, peluang, kekuatan, tantangan,
dan kendala serta kelemahan yang dihadapi termasuk sumber daya, dana, sarana dan
prasarana, peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang digunakan instansi pemerintah
dalam kegiatan-kegiatannya.
Pada umumnya jumlah FKK tidak lebih dari 10 dan bahkan banyak perencanaan yang
mempunyai empat sampai tujuh FKK. FKK ini sangat membantu para pimpinan organisasi
dalam mengembangkan suatu perencanaan strategik agar lebih mudah dikomunikasikan dan
dilaksanakan.
FKK ini memfokuskan dan memeantapkan perencanaan sebagai jembatan antara misi
dan visi organisasi. Alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan
adalah matrik SWOT. Matrik SWOT ini dapat mengambarkan secara jelas bagaimana
peluang dan ancaman eksternal yng dihadapi lembaga sekolah dapat disesuaikan dengan
kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.
Matrik ini dapat mnghasilkan 4 (empat) set kemungkinan alternatif strategis.

Strengths

· fisiensi

· Inovasi

· Kualitas
· Respon terhadap pelanggan

Weakness

· Satuan distribusi

· Posisi keuangan

· Posisi glonal

· Fasilitas manufaktur

Opportunities

· Kondisi demografi

· Pembangunan ekonomi

· Kualitas

· Hubungan dengan Negara lain

Threats

· Peraturan Pemerintah

· Persaingan semakin ketat

· Globalisasi

2. Faktor-faktor Kunci Keberhasilan.


a. Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan lembaga, yaitu dengan memanfaatkan seluruh
kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
b. Strategi ST
Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk
mengatasi ancaman.
c. Strategi WO
Strategi diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara
meminimalkan kelemahan yang ada.
d. Strategi WT
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defisit dan berusaha
meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Tidak ada satu cara terbaik
untuk melakukan analisa SWOT. Yang paling utama adalah membawa berbagai macam
pandangan/perspektif bersama-sama sehingga akan terlihat keterkaitan baru dan implikasi
dari hubungan tersebut.
Jika analisa bersifat menyeluruh maka menentukan tujuan, sasaran, dan strategi akan
mudah untuk dilakukan. Banyak strategi yang dapat dihasilkan dan dikembangkan dari hasil
analisisa SWOT karena para perencana dibekali dengan kerangka kerja yang luas da
terstruktur. Ada empat faktor utama yang menentukan strength dan weaknesses, yaitu:

1. Efisiensi
Efisiensi adalah ratio output/ input. Efisiensi ditentukan terutam oleh produktivitas
SDM yang biasanya diukur dari output pekerja. Produk bermutu adalah produk yang
berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Meningkatkan mutu meningkatkan nilai produk di
mata kostumer. Meningkatkan efisiensi dicapai dengan menurunkan biaya produksi.

2. Inovasi
Inovasi adalah menemukan sesuatu yang baru dalam operasi atau pembuatan produk,
meliputi kemajuan dalam pembuatan produk, sistem manajemen, struktur organisasi, dll.
Inovasi merupakan pilar keunggulan kompetitif paling penting, karena menciptakan keunikan
perusahaan. Inovasi menciptakan monopoli temporer.

3. Kualitas
Kualitas di sini baik kualitas internal maupun eksternal. Apakah kualitas internal
seperti sumber daya manusia, keuangan, produksi, peralatan, dll, baik atau tidak. Begitu juga
kualitas eksternal, apakah produknya bisa bersaing atau tidak, bisa diterima di negara lain.

4. Respon terhadap pelanggan (customer responsiveness)


Costomer responsiveness (CR) adalah kemampuan mengenali dan memuaskan
keinginan pelanggan. Superior quality dan inovasi adalah bagian integral dari superior
kostumer responsiveness. Salah satu aspek penting dari CR ialah CR-Time yaitu waktu yang
diperlukan untuk menyediakan/mengantar barang atau melaksanakan layanan. Aspek lain
dari CR yang semakin berkembang ialah customization, yaitu memproduksi barang sesuai
dengan keinginan individu atau kelompok pelanggan.

e. Faktor Penentu Keberhasilan


Faktor penentu keberhasilan dari analisis SWOT dalam merancang inovasi ada hal-hal
yang harus berjalan dengan baik untuk menjamin keberhasilan suatu lembaga, di antaranya:

1. Adanya sumber daya manusia


Sumber daya manusia merupakan faktor dominan dan penentu keberhasilan program
pendidikan dan pelatihan. Sumber daya yang profesional, memiliki komitmen terhadap visi
dan misi pendidikan dan pelatihan.
Rumtini Iksan (2004) dalam bidang pendidikan, seiring dengan upaya pembaharuan
yang dilakukan, bentuk kepemimpinan juga penting untuk diformulasikan. Kepemimpinan
transformasional berdasarkan kekayaan konseptual melalui kharisma, konsideran individual,
dan stimulasi intelektual diyakini akan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran yang
mengandung jangkauan ke depan, azas kedemokrasian, dan ketransparanan, yang oleh
karenanya perlu diadopsi ke dalam kepemmpinan kepala sekolah, khususnya dalam rangka
menunjang manajemen berbasis sekolah atau bentuk-bentuk pembaharuan pendidikan
lainnya.
Berikutnya Yohana (2003:26), “Maju mundurnya suatu organisasi sangat beruntung
atas kemampuan sang pemimpin dalam mengelola dan membina para anggotanya untuk
mencapai tujuan organisasi.”
2. Adanya sarana dan prasarana berstandar nasional dan internasional yang berdaya guna dan
behasil guna.
3. Terwujudnya iklim kerja yang kondusif, komunikatif dan harmonis sesuai dengan prosedur
kerja yang disepakati semua pegawai.
4. Adanya nilai-nilai pelayanan prima yang direalisasikan oleh seluruh pegawai
5. Adanya sistem organisasi yang mampu menjalankan program kerja lembaga
6. Adanya anggaran berdasarkan DIK/ DIP untuk melaksanakan program kerja secara efektif
dan efisien.
7. Adanya evaluasi kinerja yang dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan
untuk menciptakan akuntabilitas kinerja lembaga.
Dari faktor penentu-penentu keberhasilan dapat dilihat dari beberapa faktor.
Strategi S-O, Strategi S-T, Strategi W-O, dan Strategi W-T, yang diperoleh dari hasil analisis
SWOT, selanjutnya dilakukan pengujian terhadap visi, misi, nilai-nalai dan asumsi. Dari
pengujian tersebut, selanjutnya diperoleh strategi- strategi yang merupakan faktor kunci
keberhasilan berdasarkan rangking dan dipilih sebagai berikut:

1. Bersama dengan mitra kerja meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan

2. Meningkatkan kemitraan dengan PTN dan PTS serta mengembangkan program studi baru

3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan manajemen pendidikan

4. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan

5. Melakukan evaluasi dan pembenahan kedalam atas kinerja.


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Analisis SWOT merupakan alat analisis yang cukup baik, efektif, dan efisien sebagai
alat yang cepat dalam menemukan kemungkinan-kemungkinan yang berkaitan dengan
program-program inovasi baru.
Analisis SWOT sebagai alat bantu untuk memeperluas dan mengembangkan visi dan
misi suatu organisasi, juga dapat melihat kemungkinan perubahan masa depan sebuah
institusi.
Kunci keberhasilan didukung oleh sumber daya manusia, dukungan manajemen yang baik,
kualitas produk yang baik, pelayanan yang memuaskan, serta harga produk yang cukup
bersaing.
Analisis lingkungan internal dan eksternal merupakan faktor terpenting dalam
mempengaruhi suatu keberhasilan. Matrik SWOT dipakai untuk menyusun faktor-faktor
strategis pada suatu lembaga. Empat komponen utama yaitu efisiensi, inovasi, kualitas serta
respon terhadap pelanggan yang menentukan keunggulan kompetitif.

B. Saran
Dengan analisis SWOT diharapkan dapat memeberikan gambaran tahap-tahap
perumusan tujuan di mulai dari visi dan misi yang menghasilkan nilai-nilai. Visi dan misi dan
nilai-nilai tersebut secara bersamaan dianalisis dengan mempetimbangkan faktor-faktor
lingkungan yang mempengaruhi, baik lingkungan internal yaitu lingkungan eksternal.
SWOT sangat praktis dan tidak boros terhadap waktu, serta efektif karena
kesederhanaannya. Penggunaannya agar lebih efektif hendaknya analisis SWOT harus
bersifat fleksibel. Mengingat situasi dan kondisi yang cepat berubah seiring dengan
berjalannya waktu, maka analisis SWOT harus sesering mungkin dibuat dan disesuaikan.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita
tentang analisis SWOT dalam merancang inovasi.
DAFTAR PUSTAKA

Bartol, K.M., & Martin, D.C., Manajement, New YORK : McGraw Hill,Inc.

Broadhead, C.W., (1991). Image 2000 : A Vision For Votional

Education. To Look Good, We’ve got to Be Good. Vocationnal Education

Glass, N.M., (1991),Pro –active Manajement : How to Improve Your

Management Performance. East Brunswick, NJ: Nichols Publishing.

Gorski,S.E.,(1991),The SWOT Team-Focusing on Minorities. Community,

Martin, W.R.,(1989),Handbook on Marketing Vocational Education.

Akdon (2007) Strategik Management For Educational Management : Alfabeta:Bandung

Sallis Edward (2008) Total Quality Managemen in Education. IRCISoD: Jogjakarta.

email from : dianaazhar@yahoo.com

Sudarman Damin (2002) INOVASI PENDIDIKAN Dalam Upaya Profesionalisme Tenaga

Kependidikan CV Pustaka Setia: Bandung.

http://all-abaut-frih.blogspot.com/2009/OS/Makalah–inovasi-pendidikan.html