Anda di halaman 1dari 23

What is apolitic ? and What is a political science ?

Politik adalah berbagai macam kegiatan di dalam suatu sistem politik yang
menyangkut proses penentuan tujuan dan bagaimana melaksanakan tujuan-
tujuanya.

Istilah sistem politik seperti dikatakan David Easton, bicara tentang STATE.

Apa itu sistem?

Sistem adalah suatu kesatuan yang di dalamnya terdapat sub-sub sistem,


elemen-elemen, bagian-bagian, komponen-komponen yang saling kait-
mengkait dan bekerja secara fungsional.

Dalam sistem selalu terkait : proses , struktur dan fungsi.

Proses adalah pola-pola (patterns) ulangan yang menyangkut masalah-masalah


(social – politik) yang dibuat oleh manusia menyangkut hubungan yang satu
dengan yang lainnya ( in put – output)

Negara sebagai sebuah sistem :


1.Yang berkuasa atau disebut Government /pemerintah, yaitu orang atau
sekelompok orang yang diberikan “sebagian”kekuasaan” untuk melaksanakan
kekuasaan . disebut juga struktur politik yang superior(supra struktur politik),
juga merupakan suatu wilayah kehidupan politik pemerintah.

2. Yang dikuasai atau disebut dengan People/rakyat (masyarakat),seseorang


atau sekelompok orang yang karena keradaannya dalam wilayah tertentu.
Disebut juga sebagai struktur politik yang inferior (infra struktur politik), atau
disebut juga Wilayah kehidupan politik rakyat.

Politik sebagai sebuah proses di dalam penentuan tujuan serta bagaimana


melaksanakan tujuan-tujuannya harus dilihat :

Pertama, dalam pembuatan keputusan (decision making), mengenai


apa yang menjadi tujuan dari sistem politik atau negara tidak dapat dipisahkan
dari pemilihan/ sebagai suatu proses memilih dan memilah berbagai alternatif
tentang baik, benar dan penting, dan penentuan skala prioritas atau
mendahulukan yang utama.
Kedua, menyangkut kebijakan-kebijakan umum (public policies) yang mengatur
atau menyangkut pengaturan, pembagian atau alokasi dari sumber-sumber
yang ada ( alokasi dan distribusi “Values”.)

Ketiga, bahwa untuk menentukan kebijakan umum, pengaturan, pembagian


maupun alokasi sumber-sumber yang ada diperlukan kekuasaan atau
wewenang (authority). Kekuasaan dan wewenang ini memainkan peranan
penting untuk menyelesaikan konflik yang mungkin muncul dalam proses
pencapaian tujuan. Dalam tradisi politik dapat dipergunakan cara-cara
persuasi (meyakinkan ) maupun cara-cara koersi (paksaan).
Konsep-konsep pokok yang mendasari perumusan definisi Ilmu Politik
melibatkan beberapa aspek : (a) .State (b) Power (c) Decision Making (d) Policy
(e) Distribution and Allocation “Values” termasuk di dalamnya adalah “ (f)

Political Development.( studi ini meneropong akibat dari pembangunan yang


cepat di bidang sosial-ekonomi atas tata masyarakat ; mempelajari peranan
dari lembaga – lembaga politik dalam mempengaruhi perkembangan dan
pembangunan ini. Pembangunan politik erat hubungannya dengan negara
yang baru memerdekakan diri. Jadi, proses dekolonisasi dan proses mencapai
kemerdekaan sangat relevan dengan studi Pembangunan ‘Politik’

Terdapat 2(dua) pandangan yang melihat ilmu politik sebagai disiplin ilmu,
Pertama, yang melihat ilmu politik sebagai merupakan pengetahuan yang
tertua diantara ilmu pengetahuan social lainnya, Kedua, pandangan yang
menganggap bahwa ilmu politik baru lahir pada abad ke-19.

Dalam perkembangannya ilmu politik banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu sosial


yang lain seperti, sosiologi, psikologi maupun ilmu hokum.
Dewasa ini terdapat 5 (lima) kajian utama Ilmu Politik , yakni ; (1). Teori
politik, (2) . Lembaga-lembaga politik. (3). Partai-partai, golongan-golongan
dan pendapat umum,; (4) hubungan internasional; dan relative yang baru,
(5). Pembangunan politik.

Negara (State )
Merupakan suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan
tertinggi yang sah yang ditaati oleh rakyatnya. Sarjana-sarjana yang melihat

negara sebagai aspek utama Ilmu Politik menaruh perhatian terhadap


Lembaga-lembaga kenegaraan dan bentuk formal lembaga-lembaga itu.
pendekatan kelembagaan dan bersifat tradisional).

Seperti dikatakan oleh Roger F. Soltau dlm Introduction to Politic,


Ilmu Politik mempelajari negara, tujuan-tujuan negara, lembaga-lembaga yang
akan melaksanakan tujuan-tujuan itu, hubungan antara negara dan warga
negara serta hubungan antar negara.

Kekuasaan (Power)

Adalah kemampuan seseorang atau suatu sekelompok untuk mempengaruhi


tingkah laku seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan keinginan si pelaku.

Seperti dikatakan oleh Harold D Laswell & A. Kaplan, bahwa Ilmu


Politik mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan. Sedangkan
W . A. Robson, mengatakan bahwa Ilmu Politik mempelajari kekuasaan
dalam masyarakat ..... yaitu sifat hakiki kekuasaan.... ( the state of nature by
Thomas Hobbes or by Machiavelly ‘ Homo homini Lupus, Hans J.
Mourgenthau “ struggle for Power ), dasar kekuasaan, proses-proses
kekuasaan, ruang lingkup dan hasil-hasilnya.

Para sarjana yang melihat kekuasaan sebagai aspek utama Ilmu Politik tertuju
pada perjuangan untuk mencapai kekuasaan, mempertahankan kekuasaan ,
melaksanakan kekuasaan atau pengaruh atas orang lain, atau sekaligus
menentang pelaksanaan kekuasaan itu. Sedangkan Ossip K. Flechtheim
dalam Fundamentals of Polical science , mengatakan bahwa Ilmu Politik adalah
ilmu sosial yang khusus mempelajari sifat dan tujuan dari negara sejauh negara
merupakan organisasi kekuasaan, beserta sifat dan tujuan dari gejala-gejala
kekuasaan lain yang tidak resmi yang dapat mempengaruhi negara.

Para sarjana yang menjadikan aspek kekuasaan sebagai Ilmu Politik, berasumsi
bahwa politik adalah semua kegiatan yang melibatkan berbagai usaha untuk
mempertahankan atau merebut kekuasaan.
Pembuatan (pengambilan) Keputusan (Decision Making)

Pembuatan keputusan sebagai konsep pokok ilmu politik, melibatkan


keputusan-keputusan yang diambil secara kolektif dan mengikat seluruh
warga masyarakat. Ruang lingkup keputusan itupun dapat terbatas hanya
pada penentuan tujuan masyarakat, namun dapat pula menjangkau pada
kepada keputusan-keputusan untuk mencapai tujuan tersebut. Pengambilan
keputusan sebagai aspek utama Ilmu Politik, juga harus dilihat sebagai suatu

proses memilih alternatif yang terbaik dan


juga melibatkan masalah pembagian. Seperti
dikatakan oleh Harold D. Laswell, yang dirumuskan sebagai Who

gets what( siapa memperoleh apa),


When( kapan), dan How (bagaimana). Kemudian
kajian mengenai pembuatan keputusan sering memusatkan perhatian kepada

, Siapa yang mengambil keputusan’


pertanyaan

dan untuk siapa keputusan itu dibuat?. Seperti


dikatakan Jocye Mitchell dalam Political Analysis and Public Policy,

Politik adalah pengambilan keputusan


kolektif atau pembuatan kebijakan umum
untuk masyarakat. Juga Karl W. Deutsch,
mengatakan bahwa politik adalah
pengambilan keputusan melalui sarana
umum.
Keputusan itu berbeda dengan pengambilan keputusan – keputusan pribadi
oleh seseorang, dan keseluruhan dari keputusan itu merupakan sektor umum
atau sektor publik dari suatu negara.

Kebijakan Umum (publik policy)


Kebijakan (policy) merupakan suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh
seorang pelaku atau kelompok politik, dalam rangka memilih tujuan dan cara
untuk mencapai tujuan itu.

Pada prinsipnya, pihak yang membuat kebijakan itu mempunyai kekuasaan


untuk melaksanakan kebijakan – kebijakan yang dibuatnya.

Para sarjana yang Ilmu Politik yang memusatkan perhatian Pada aspek
kebijakan, berasumsi bahwa masyarakat memiliki beberapa tujuan bersama
yang ingin dicapai secara bersama pula. Untuk itu diperlukan rencana yang
mengikat dan dirumuskan ke dalam kebijakan – kebijakan oleh pihak yang
Maka Ilmu Politik adalah kebijakan
memiliki wewenang.

pemerintah, proses terbentuknya, serta akibat –


akibatnya. Seperti dikatakan Hoogerwerf, kebijakan umum
ditafsirkan sebagai kebijakan untuk membangun masyarakat secara terarah
melalui pemakaian kekuasaan.

Seperti juga yang dikemukakan oleh David Easton dalam bukunya The
Political System, bahwa kehidupan politik mencakup bermacam – macam
kegiatan yang mempengaruhi cara untuk melaksanakan kebijakan.

Pembagian (distribution)

Yang dimaksud dengan pembagian (distribution) atau alokasi ialah pembagian

Politik
dan penjatahan nilai – nilai (values) dalam masyarakat. Jadi

adalah pembagian dan pengalokasian nilai –


nilai secara mengikat. Nilai (value) dalam ilmu sosial diartikan
saebagai sesuatu yang dianggap baik dan benar, sesuatu yang diinginkan, atau
sesuatu yang mempunyai harga. Dan oleh karena itu selalu dikejar oleh
manusia untuk dimilki. Nilai tidak saja bersifat konkrit seperti; rumah, tanah
maupun bentuk kekayaan materiil yang lain ; tetapi juga bersifat abstrak
seperti penilaian atasan kepada bawahan, kebebasan berpendapat atau
kebebasan berorganisasi.

Para Sarjana yang menitik beratkan pada aspek Pembagian ini, pada umumnya
juga menelusuri bagaimana interaksi yang terjadi dalam masyarakat
mempengaruhi dinamika Politik. Harold D. Laswell mengemukakan bahwa
Politik adalah masalah siapa mendapat apa , kapan dan bagaimana.
Sedangkan David Easton dalam bukunya A System Analysis of Political Life,
menyatakan bahwa Sistem Politik adalah keseluruhan interaksi yang mengatur
pembagian nilai – nilai secara autoritatif (berdasarkan wewenang) untuk dan
atas nama masyarakat.

Demikianlah, ilmu politik memang dapat dilihat dari berbagi aspek, sesuai
dengan penajaman yang dinginkan oleh seorang sarjana ilmu politik. Meskipun
demikian tentu lebih bijaksana apabila kita berpijak pada anggapan bahwa
definisi - definisi yang telah dikemukakan saling melengkapi satu terhadap
yang lain. Bagi sarjana ilmu Politik banyak pilihan, yang terpenting adalah
bagaimana mempergunakan definisi yang sesuai untuk titik pijak dalam
mengamati gejala – gejala politik yang dikehendaki.

Perbedaan antara berbagai definisi Ilmu Politik disebabkan karena trends bagi
setiap sarjana untuk menekankan pada aspek tertentu. Aspek yang dianggap
paling penting itulah kemudian menjadi titik pijak untuk meneropong aspek –
aspek lain . Secara umum dapat dikatakan bahwa Ilmu Politik ialah ilmu
pengetahuan sosial yang mempersoalkan negara, kekuasaan, pengambilan
keputusan, kebijakan , pembagian atau alokasi. Plus Political development
(pembangunan Politik)

KONSEP –KONSEP POLITIK


Konsep, adalah unsur penelitian yang terpenting dan merupakan
sesuatu yang digunakan oleh para peneliti atau sarjana untuk
menggambarkan dan mengerti dunia sekelilingnya, khususnya
yang berhubungan dengan dunia politik. Dunia kita penuh
dengan benda - benda, kejadian - kejadian dan ide – ide yang
masing –masing mempunyai ciri yang berbeda satu sama lain.
Akan tetapi diantaranya ada benda – benda, kejadian – kejadian
dan ide – ide yang menunjukan satu ciri karakteristik yang sama,
yang sama – sama dimilki , disebut KONSEP.
contoh

Betapa seorang anak merasa segan terhadap orang tuanya; Bagaimana


seorang pesuruh mematuhi majikannya; Bagaimana seorang pemimpin mampu
menggerakkan massa rakyat untuk mencapai tujuannya, ... Semua ini
merupakan Gejala – Gejala nyata. Tetapi kita dapat mengajukan pertanyaan
apakah yang sebenarnya terjadi dibalik KEPATUHAN itu ? Apabila kita
renungkan berbagai gejala diatas, kita menyadari bahwa terdapat satu unsur di
dalamnya yaitu Kekuasaan.

Kekuasaan ini menjelaskan mengapa seorang anak menyegani orang tuanya,


seorang pesuruh mematuhi majikannya, dan massa rakyat mengikuti ajakan
pemimpinnya. Dapat dikatakan bahwa kekuasaan adalah suatu konsep.

Dalam Ilmu Politik kita juga mengenal beberapa konsep, yang dinamakan
konsep politik. Dengan sendirinya konsep semacam ini menyangkut gejala
politik.

Pertama, yang dikemukakan oleh Para Filusuf Politik yang mencari esensi dari
konsep politik seperti : Kebenaran (truth), hukum dan keadilan
(Justice).
Kedua, yang dikemukakan oleh Para Sarjana Politik Modern lebih
Masyarakat, Negara
cenderung meneropong konsep - konsep seperti :

atau Sistem Politik, Pemerintah, Kekuasaan Politik,


Legitimasi.
Masyarakat.
Yang membedakan Ilmu-Ilmu sosial, termasuk Ilmu Politik adalah Obyek yang
dipelajarinya. Dalam ilmu sosial, pusat perhatian adalah kehidupan manusia
dalam kelompok. Manusia memiliki naluri untuk berkawan dan hidup
berdampingan bersama dengan manusia lain ( memilki Kebutuhan). Hubungan
- hubungan dengan orang lain dapat mengambil bentuk bermacam-macam,
mulai keluarga ( yang sederhana) maupun perkumpulan-
dari
perkumpulan, asosiasi-asosiasi, himpunan-himpunan (yang rumit).
Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi misalnya kita dapat bekerjasama
dengan orang melalui koperasi ; kebutuhan spiritual dapat dipenuhi
melalui perkumpulan agama atau aliran kepercayaan ; kebutuhan
untuk mempertahankan tradisi, dipenuhi dengan membentuk perkumpulan-
perkumpulan kekerabatan. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan
melalui sekolah maupun kursus. Berbagai contoh diatas menunjukan
bahwa pada saat yang sama, dalam rangka memenuhi kebutuhannya,
seseorang dapat menjadi anggota dari berbagai kelompok . Dipihak
lain, asosiasi-asoasiasi itu juga berperan untuk mengendalikan
pertentangan-pertentangan yang mungkin terjadi antara manusia
yang satu dengan lainnya ketika mereka berusaha untuk memenuhi
kebutuhan yang diinginkannya. Ini menunjukan bahwa suatu
himpunan dapat melakukan penertiban terhadap para anggoutanya
menurut norma-norma tertentu ; penertiban itu sendiri hanya
mungkin terpenuhi apabila norma-norma yang diterapkan adalah
norma-norma yang dianggap adil dan benar serta disepakati oleh
para anggoutanya.

Negara
Sesungguhnya seseorang tidak mungkin melepaskan diri dari peraturan-
pertaturan negara. Secara umum dalam kehidupan masyarakat seseorang tidak
mungkin terhindar dari kehidupan bernegara. Berbeda dengan organisasi
kemasyarakatan lainnya, dalam bernegara ada ‘Paksaan’ bagi kita untuk
senantiasa mematuhi karena negara
ketentuan yang berlaku,

memang merupakan bagian dari tata kehidupan


masyarakat yang memaksakan kehendaknya. Negara
merupakan Agen masyarakat untuk mengatur hubungan-hubungan di dalam
masyarakat agar ketertiban terpelihara. Semua ini dimaksudkan untuk
meminimalisir kekalutan yang mungkin terjadi dalam masyarakat ; hal ini
disebabkan .... karena manusia cenderung membutuhkan kerjasama , namun
seringkali pula mereka terjebak dalam perbedaan kepentingan. Sehingga
mengendalikan kekuatan-kekuatan yang
negara disamping

bertentangan satu sama lain , negara juga


mengintegrasikan kegiatan warga masyarakat ke arah
tercapainya tujuan-tujan nasional.

Definisi mengenai negara yang selama ini dikenal dalam Ilmu Politik juga
mencerminkan beberapa hal yang telah dikemukakan diatas.

Robert M.C Iver mendefinisikan negara sebagai “ asosiasi yang


menyelenggarakan penertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah,
dengan berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu

pemerintah yang untuk maksud tersebut diberikan kekuasaan untuk


memaksa.
Max Weber, seorang sosiolog menyatakan bahwa negara adalah”
masyarakat yang mempunyai monopoli untuk menggunakan kekerasan fisik
secara sah dalam suatu wilayah tertentu” tentu dengan catatan bahwa
pengaturan itu dilakukan atas nama masyarakat.

Robert H Soltau negara adalah


menyatakan bahwa

instansi (agency) atau pihak yang berwenang


(authority) yang mengatur atau mengendalikan
persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat.
(Menyeluruh)

Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas, terlihat bahwa negara memiliki


beberapa sifat (memaksa ; monopoli; menyeluruh) yang tidak
dimiliki oleh organisasi lain dan sekaligus merupakan pengejawatahan dari
kekuasaan yang dimilikinya.

Memaksa diartikan negara dapat menggunakan kekerasa fisik secara


sah, agar para warganya mematuhi peraturan atau perundang-
undangan, demi ketertiban dalam masyarakat.

Monopolidimiliki oleh negara dalam menetapkan tujuan


bersama masyarakat, meskipun monopoli tersebut
diselenggarakan sesuai dengan persetujuan bersama
masyarakat; sehingga tidak mengherankan apabila
negara berhak untuk melarang praktek ideologi
tertentu yang dianggap bertentangan dengan tujuan
masyarakat.

Menyeluruh dalam pengertian bahwa semua ketentuan atau


peraturan yang dikeluarkan oleh negara, adalah berlaku untuk setiap warga
negara tanpa kecuali. Ini penting, sebab apabila seseorang dibiarkan terlepas
dari jangkauan kekuasaan negara, maka tidak mustahil cita-cita bersama yang
telah dirumuskan tidak dapat terwujud.

Pertanyaannya ? dimana dan kepada siapakah sifat-sifat negara itu dapat


dikenakan ? oleh siapakah sifat-sifat negara itu dikelola ? dan persyaratan
apakah yang diperlukakan agar sifat-sifat itu dapat diejawantahkan ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat ditemukan apabila kita menelaah


unsur-unsur negara.

Wilayah, prinsipnya merupakan batas geografis di dalam mana negara


masih dapat memaksakan kekuasaannya....baik menggunakan kekerasan fisik
secara sah.........jangkauan monopoli, maupun memberlakukan ketentuan-
ketentuan perudang- undangan yang mengikat. Mudah dipahami bahwasanya
yang berkaitan dengan kewilayahan adalah tapal batas. Perlu dipahami bahwa
wilayah suatu negara tidak terbatas pada daratan,tapi juga udara diatasnya dan
laut disekelilingnya. ( willter hkm laut int ; 12 mil dari pantai, 200 mil adalah
ZEE yang berarti “IND” mempunyai hak eksklusif untuk menyelenggarakan
kegiatan ekonomi, termasuk menangkap ikan dan penambangan minyak bumi.
Wilayah sebagai jenis mempengaruhi kemampuan negara. Pada umumnya
negara yang memiliki luas wilayah lebih besar, juga memiliki kemampuan yang
lebih besar. Tetapi sesungguhnya masih ada faktor lain yang perlu
diperhitungkan misalnya : cadangan sumber daya alam ; posisi strategisnya
dalam perdagangan dan politik internasinal.

Penduduk, merupakan seseorang atau sekelompok orang yang karena


keberdaannya dalam wilayah tertentu, diwajibkan untuk mematuhi segenap
ketentuan perundangan-undangan yang berlaku dalam suatu wilayah tertentu.
Faktor penduduk juga diperhitungkan dalam hubungan antar negara. Negara
yang lebih sedikit penduduknya seringkali lebih lemah kedudukannya
dibandingkan dengan negara lain yang penduduknya lebih besar (kwantitatif),
namun juga faktor kualitatif harus menjadi perhitungan.

Pemerintah, merupakan organisasi yang berwenang untuk memutuskan


dan melaksanakan keputusan-keputusan yang mengikat bagi seluruh penduduk
yang berada dalam suatu wilayah.

Kedaulatan, merupakan kekuasaan tertinggi untuk membuat dan


melaksanakan undang-undang dengan semua cara yang tersedia termasuk
cara-cara kekerasan. Kedaulatan kedalam, negara mempunyai kekuasaan
tertinggi untuk melaksanakan segenap peraturan dan perudangan-undangan
agar penduduk yang mendiami suatu wilayah mematuhinya. Kedaulatan
keluar, untuk mempertahankan dari ATHG negara lain.

Demikianlah, Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik. Dalam


pengertian yang lebih umum, Negara dapat dilihat sebagai asosiasi manusia
yang hidup bersama dan bekerjasama untuk mencapai terkabulnya keinginan
bersama ( bonum publicum , common good, and common weal ). Sepeti di
katakan oleh Roger H Soltau, bahwa tujuan negara adalah
memungkinkan rakyatnya berkembang serta menyelenggarakan daya ciptanya
sebebas mungkin. Sedangkan Harold J Lasky , bahwa tujuan negara adalah
menciptakan keadaan dimana rakyat dapat mencapai terkabulnya keinginan-
keinginan secara maksimal.

Seperti yang dirumuskan oleh kedua sarjana, Negara INDONESIA juga


mempunyai tujuan, seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 “
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kepada.......
“PANCASILA”.

Setiap negara terlepas dari idelogi yang dianut, memiliki beberapa minimum
fungsi yaitu : 1. Menyelenggarakan penertiban (law and order) untuk
mencapai tujuan bersama dan mencegah pertentangan dalam masyarakat ; 2.
Mengusahakan kesejahteraan rakyatnya (Walfare) seperti terlihat dari usaha
pembangunan yang selama ini dilakukan ; 3. Menyelenggarakan pertahanan
(defence/security) terhadap kemungkinan adanya ancaman yang datang dari
luar maupun dari dalam, sehingga tujuan pertahanan adalah menjaga
kelestarian dari unsur-unsur negara. 4. Menegakan keadilan ( justice),
terutama oleh karena selama dalam proses untuk mencapai tujuan bersama
yang telah dirumuskan itu, senantiasa terbuka kemungkinan munculnya
persaingan ; pertikaian atau bahkan bentrokan antara satu pihak dengan pihak
lain ; lembaga – lembaga peradilan akan mengatur dan mengendalikan agar
uasaha-usaha pencapaiuan tujuan itu berlangsung dalam suasana adil.

KEKUASAAN “politik”

Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelomp[ok untuk


mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain, sehingga orang atau
kelompok lain itu bertingkah laku sesuai dengan keinginan atau tujuan pihak
yang memilki kemampuan.

Kekuasan seperti tercermin dalam tingkah laku orang tua terhadap anaknya;
tingkah laku majikan terhadap pesuruh atau tingkah laku seorang pemimpin
terhadap massa rakyat...... memerlukan beberapa persyaratan.

Pertama, ialah Pengaruh (influence) sebagai bentuk lunak dari kekuasaan.


Kedua, ialah Kekuatan (force) yang sering disebut pula sebagai kekuatan dalam
bentuk keras.

Pengaruh dan kekuatan mempunyai hubungan yang sangat erat, umumnya


seseorang yang mempunyai kekuasaan juga mempunyai pengaruh. Kendatipun
orang yang mempunyai kekuasaan yang sama tidak selalu mempunyai
pengaruh yang sama. Contoh dua kepala desa.

Pengaruh senantiasa berkaitan dengan pribadi seseorang. Faktor ini pula yang
menyebabkan bahwa pengaruh tidak selalu harus dikaitkan dengan kekuasaan.

Jika pengaruh dan kekuatan seperti diuraikan ....lebih berurusan dengan


sumber daya yang dapat dipergunakan sebagai landasan kekuasaan , tentu
mudah dipahami. Persoalannya adalah, siapakah dalam suatu masyarakat
yang dapat menggunakan kekuasaan dan mengapa mereka memilki
kekuasaan? KONSEP penting untuk menjelaskan ini adalah : Wewenang
(authority) dan Keabsahan (legitimacy).

Wewenang (authority) berurusan dengan pertanyaan ‘siapakah yang


mempunyai hak untuk mengendalikan tingkah laku masyarakat dengan
Paksaan. Dikatakan bahwa wewenang adalah kekuasaan formal, sedangkan
Keabsahan (legitimacy) lebih menjelaskan ‘ mengapa kedudukan seseorang
dapat diterima oleh masyarakat. Contoh : pemimpin informal seperti tokoh
atau pemuka agama, betapapun mempunyai pengaruh besar dilingkungan
masyarakatnya, tetapi ia tidak mempunyai wewenang atau kekuasaan formal.

Bagi kita, diantara berbagai bentuk kekuasaan, yang paling penting ialah
kekuasaan politik, yaitu kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan umum
(pemerintah), baik terbentuknya maupun akibat-akibatnya sesuai dengan
tujuan pemegang kekuasaan sendiri.

Dari segi ruang lingkup, kekuasaan politik lebih sempit dibanding kekuasaan
sosial. Oleh Ossip K. Flechtheim, kekuasaan sosial ini dimaksudkan sebagai ‘
keseluruhan dari kemampuan hubungan – hubungan dan proses - proses yang
menghasilkan ketaatan dari pihak lain......untuk tujuan –tujuan yang telah
ditetapkan oleh pemegang kekuasaan.

Terlihat bahwa kekuasaan politik hanya merupakan bagian dari kekuasaan


sosial ; kekuasaan politik adalah kekuasaan sosial yang terutama ditujukan
pada negara sebagai satu-satunya pihak yang berwenang dan berhak
mengendalikan tingkah laku sosial dengan menggunakan paksaan.

Dalam hubungan ini, kekuasaan politik dapat dibedakan menjadi dua macam;
pertama, bagian dari kekuasaan sosial yang terwujud dalam negara, seperti
Presiden, Mahkamah Agung, Dewan Perwakilan Rakyat dsb, kedua, bagian
dari kekuasaan sosial yang ditujukan kepada negara.... baik kekuasaan sosial itu
berasal dari organisasi politik maupun organisasi ekonomi, organisasi agama,
organisasi minoritas, mapun organisasi kekerabatan yang secara langsung
maupun tidak langsung mempengaruhi kebijakan umum.

Negara atau SISTEM POLITIK


SISTEM POLITIK istilah yang sering dipakai untuk menggantikan kata
“NEGARA”, berasal dari sarjana-sarjana yang menggunakan pendekatan
perilaku. Mereka mencoba mempelajari gejala-gejala politik melalui
pengamatan terhadap tingkah laku atau perilaku dalam masyarakat dan
mereka berpendapat bahwa perilaku politik adalah bagian dari perilaku
sosial.

Menurut pemikiran mereka, masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang


terdiri dari berbagai macam proses. Diantara berbagai proses itu dapat dilihat
gejala-gejala politik sebagai suatu kumpulan proses tersendiri yang berbeda
dengan proses –proses lainnya. Dengan kata lain dalam masyarakat ada
berbagai sistem misalnya : sistem ekonomi, sistem budaya, sistem kepercayaan,
sistem teknologi dsb.

Yang membedakan sistem-sistem ini adalah kegiatan-kegiatan yang


mendukung proses-proses masing-masing sistem. Berbagai sistem ini saling
mempengaruhi dan saling melengkapi seperti halnya organisme dalam
teknologi.
Sistem politik menyangkut proses-proses dan kegiatan-kegiatan politik,
sementara sistem ekonomi adalah proses – proses yang melibatkan kegiatan-
kegiatan ekonomi yaitu kegiatan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan.

Setiap sistem ini mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang ditujukan untuk


menjaga kelangsungan hidup masyarakat tersebut dan pencapaian tujuan –
tujuan masyarakat yang bersangkutan.

Konsep sistem dipinjam dari ilmu biologi. Dianggap bahwa suatu sistem politik
seperti halnya organisme dalam biologi, terdiri dari bagian-bagian atau
komponen-komponen yang bergatung sama lainnya (interdependensi).
Keseluruhan interaksi perlu diamati apabila seluruh organisme ingin
dipahami. Untuk itu perlu diperhatikan, pertama bahwa setiap perubahan
dalam suatu bagian dalam sistem akan berpengaruh terhadap keseluruhan
sistem, kedua, sistem itu bekerja dalam suatu lingkungan (environment)
tertentu yang lebih luas dan ada perbatasan antara masing – masing sistem.

Sistem politik disebut juga dengan sistem terbuka, karena ia terbuka dari
pengaruh-pengaruh yang berasal dari lingkungannya seperti sistem ekonomi,
sistem budaya, sistem kepercayaan.

Sistem pada hakekatnya mengadakan interaksi dengan lingkungannya dan


dipengaruhi oleh lingkungan itu.

Oleh sebab itu seorang sarjana politik harus peka terhadap pengaruh sistem-
sistem lainnya terhadap sistem politik apabila ia ingin mengerti lebih jauh
tentang keadaan politik suatu negara. Keadaan politik suatu negara “IND” akan
bisa lebih dimengeri apabila ia dikaitkan dengan sistem ekonomi yang
diselenggarakan oleh pemerintah.

Oleh sebab itu dari seorang sarjana politik dituntut pemahaman disiplin –
disiplin ilmu lainnya dalam analisisnya (‘ GENERALIS).

Pada dasarnya konsep sistem dipakai untuk keperluan analisis. Dimana suatu
sistem bersifat abstrak pula. Dalam konteks ini sistem terdiri berbagai variable.
Konsep sistem dapat pula diterapkan pada suatu situasi konkrit, misalnya
negara atau kesatuan yang lebih kecil seperti kota, suku bangsa dan lebih
besar lagi pada situasi internasional dimana komponen-komponennya atau
unit-unit politiknya adalah negara.

Dalam konsep sistem politik selalu akan ditemukan istilah-istilah : PROSES,


STRUKTUR dan FUNGSI. Proses adalah pola-pola ( sosial – politik) yang
dibuat oleh manusia yang mengatur hubungan – hubungan antara satu sama
lainnya. Dalam suatu negara, lembaga-lembaga seperti parlemen, partai,
birokrasi tidak lain adalah proses – proses yang pola ulangnya sudah ajeg atau
mantap. Mereka mencerminkan struktur perilaku ( structure of behavior).
Struktur ini mencakup baik lembaga –lembaga formal seperti parlemen ,
kepala negara maupun informal seperti jaringan komunikasi lain dsb.

Proses dalam suatu sistem pada dasarnya dapat dijelaskan sbb, dalam proses
terkait adanya INPUT dan OUTPUT. Dalam situasi konkrit seperti negara
terdapat juga INPUT dan OUTPUT. INPUT datang dari lingkungan berupa
tuntutan dan dukungan

Sistem politik menyelenggarakan fungsi tertentu dalam masyarakat. Fungsi


tersebut adalah antara lain, membuat keputusan-keputusan yang mengikat
seluruh masyarakat seperti : kebijakan-kebijakan umum (POLICIES) dan
pengalokasian nilai-nilai dalam masyarakat (ACTIONS). Keputusan – keputusan
ini disebut OUTPUT dalam sistem politik. Setiap negara menerima tututan agar
ada dinamika terus menerus dalam kehidupan bernegara. Contoh dari
tuntutan : agar harga BBM diturunkan. Pemerintah perlu dukungan agar ia
dapat melaksanakan segala hal yang ditugaskan dalam rangka mengemban
tugas-tugas negara. Contoh dari dukungan : kepatuhan membayar pajak,
patriotisme.

Setelah diolah melalui proses politik, baik dukungan maupun


tuntutan itu muncul dalam bentuk kebijakan pemerintah yang mengikat
(output) contoh : masyarakat menuntut perluasan kesempatan belajar.
(Input) ini dikonversi menjadi ketentuan wajib belajar sebagai (output).

Tetapi karena sistem politik memiliki kecenderungan untuk selalu bertahan


(persistence), maka kebijakan politik pun berperan sebagai tuntutan dan
dukungan baru. Pola itu dikenal sebagai umpan balik (feedback) yang
selanjutnya akan menjadi pertimbangan atau bahkan menentukan kebijakan
politik yang datang kemudian.

Pada dasarnya kelangsungan hidup sistem politik ditentukan oleh kemampuan


sistem itu untuk menanggapi masukan-masukan( input) yang diterimanya .
Tanpa adanya perimbangan antara kebijakan yang mengikat bagi seluruh
masyarakat dengan tuntutan serta dukungan , kehidupan politik yang sehat,
akan terancam.

Salah satu aspek penting dalam sistem politik adah Budaya politik (political
culture) yang mencerminkan faktor – faktor subyektif masyarakat.

Budaya Politik ini merupakan keseluruhan pandangan- pandangan politik ,


norma – norma, orientasi maupun tingkah laku politik. Budaya Politik
bertolak dari dimensi psychologis masyarakat seperti : sikap, sistem
kepercayaan, simbol-simbol yang dimiliki individu, maupun
harapan-harapan. ..... Artinya....

Kegiatan - kegiatan politik seseorang tidak saja ditentukan oleh tujuan – tujuan
politiknya sendiri, melainkan juga didorong oleh harapan - harapan politik
sesuai dengan pengalaman dan pandangannya terhadap sistem politik yang
sedang berlangsung serta dipengaruhi oleh kegiatan politik pihak lain.

4 (empat ) variable penting dalam sistem politik diantaranya adalah (a)


KEKUASAAN, sebagai cara untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam alokasi
sumberdaya diantara kelompok – kelompok dalam masyarakat (b)
KEPENTINGAN, sebagai tujuan - tujuan yang ingin dikejar oleh pelaku – pelaku
politik. (c) KEBIJAKAN, sebagai hasil interaksi antara kekuasaan dan
kepentingan, biasanya dalam bentuk perundang – undangan dan, (d) BUDAYA
POLITIK, sebagai orientasi subyektif individu terhadap sistem politik.

Konsep sistem politik dipergunakan untuk keperluan analisis. Untuk maksud itu
pula , maka suatu sistem politik dianggap terdiri dari masukan ( input ) , Proses
dan keluaran ( output ). Mata rantai antara aspirasi dan dukungan masyarakat ,
kerjasama pemerintah dan parlemen untuk mengeluarkan undang – undang,
dan undang – undang itu sendiri Adalah merupakan sistem perilaku politik yang
teratur ( terstruktur ).

Ciri utama yang mendasari sistem politik ialah bahwa ada interdependensi
( saling ketergantungan ) antara komponen – komponen ; dan bahwa suatu
sistem sebenarnya bekerja dalam lingkungan yang lebih luas.

Demokrasi

Demokrasi sebagai suatu konsep yang mendasari sistem politik suatu negara,
secara formal telah dijadikan dasar bagi kebanyakan negara di dunia. Meski ia
telah menjadi umum dan digunakan oleh kebanyakan negara, namun dalam
dirinya sebenarnya terdapat sejumlah perbedaan – perbedaan dan aliran aliran
pikiran. Gagasan demokrasi ada sejak abad ke 6 SM bermula dan dipraktekan di
Yunani Kuno dan menemukan bentuk konkritnya pada abad ke 19 dan
20. DEMOKRASI abad 19, kedudukan individu memperoleh posisi sentral
sementara negara hanya sebagai penjaga malam ( nachtwatenstaats) yang
hanya mengatur masalah bersama seperti bencana alam dan pertahanan, agar
individu dibiarkan mengatur diri sendiri. Akan tetapi penempatan kebebasan
individu pada posisi yang paling atas ini tampaknya justru membuka peluang
bagi penindasan hak dan kebebasan oleh sesamanya. Demokrasi abad 20
ditandai oleh pemberian peran negara yang lebih besar dalam mewujudkan
negara kesejahteraan ( walfare state) )

Pengertian Demokrasi dan Sejarah Perkembangannya.

Istilah demokrasi berasal dari kata Yunani kuno Demos yang berarti rakyat dan
kratos/kratein yang berarti kekuasaan/berkuasa. Artinya rakyat berkuasa
atau “ government or rule by the people”. Sebagai suatu konsep yang
mendasari sistem politik suatu negara, demokrasi secara formal telah dijadikan
dasar bagi kebanyakan negara – negara di dunia. Gejala ini mulai tampak
sesudah Perang Dunia Ke 2, seperti yang dinyatakan Oleh UNESCO berdasarkan
penelitian yang dilakukannya tahun 1949, yaitu “ mungkin untuk pertama
kalinya dalam sejarah, DEMOKRASI dinyatakan sebagai nama yang paling
baik dan wajar untuk semua sistem organisasi politik dan sosial yang
diperjuangkan oleh pendukung – pendukung yang berpengaruh. Unesco
berkesimpulan bahwa ide demokrasi dianggap Ambiguous atau mempunyai
arti dua, sekurang – kurangnya ada Ambiguity atau ketidaktentuan
‘mengenai lembaga – lembaga atau cara – cara yang dipakai untuk
melaksanakan ide demokrasi atau mengenai keadaan kultur serta sejarah
yang mempengaruhi istilah, ide dan praktek demokrasi.

Dari penelitian dan pernyataan UNESCO di atas, tampak pada kita bahwa
meskipun demokrasi telah menjadi umum dan digunakan sebagai dasar bagi
sistem politik dan kebanyakan negara – negara di dunia, namun sebenarnya
terdapat perbedaan – perbedaan dan aliran – aliran.

Contoh : Istilah –istilah seperti Demokrasi Parlementer, Terpimpin, Pancasila,


Rakyat, Soviet (Rusia), Nasional dsb, semuanya menggunakan istilah demokrasi
meskipun sebenarnya terdapat perbedaan-perbedaan dan aliran-aliran
pikiran di dalamnya.

Meskipun terdapat beraneka ragam aliran pemikiran dan perbedaan –


perbedaan di dalamnya, namun kita secara sederhana dapat mengelompokan
dalam dua aliran yang paling penting yaitu Demokrasi Konstitusional dan
kelompok aliran yang menamakan dirinya ‘Demokrasi meskipun pada
hakekatnya mendasarkan diri pada Komunisme’

Meskipun demikian secara umum perbedaan yang fundamental dari kedua


aliran di atas adalah bahwa demokrasi konstitusional yaitu Limited or
Restrained Power yaitu mencita-citakan suatu pemerintah yang terbatas
kekuasaannya , Rechsstaat yaitu Negara hukum, Rule of Law yaitu yang
tunduk pada aturan-aturan hukum. Sedangkan ‘Demokrasi’ yang mendasarkan
diri pada kominisme yaitu mencita-citakan suatu pemerintahan yang tidak
demokratis, yang bersifat totaliter.

Ciri khas demokrasi konstitusional ialah gagasan bahwa pemerintah yang


demokratis adalah pemerintah yang terbatas kekuasaannya dan tidak
dibenarkan bertindak sewenang-wenang terhadap warga negara.Dan
pembatasan-pembatasan atas kekuasaan pemerintah tersebut tercantum
dalam undang-undang. Oleh karena itu pemerintah yang demokratis adalah
‘pemerintah berdasarkan konstitusi’ ( constitutional government ). Dengan
demikian constitutional government sebenarnya mempunyai makna yang sama
dengan Limited government atau Restrained government.

Demokrasi konstitusional ini muncul sebagai suatu program dan sistem politik
yang konkrit pada akhir abad ke -19. Meskipun demikian ia sebenarnya sudah
mulai berkembang di Eropa Barat pada abad ke 15 dan 16. Oleh karena itu
wajah dari demokrasi konstitusional abad ke -19 ditandai oleh beberapa asas
yang merupakan pantulan dari kemenangan-kemenangan abad sebelumnya,
misalnya kebebasan manusia terhadap segala bentuk kekangan dan
kekuasaan sewenang-wenang. Jaminan terhadap kebebasan manusia serta
hak-hak asasi Manusia yang sangat ditekankan itu dilakukan dengan
membatasi kekuasaan negara melalui suatu konstitusi . Disamping itu
kekuasaan dibagi sedemikian rupa sehingga kesempatan penyalahgunaan
dapat diperkecil yaitu dengan cara menyerahkan kepada beberapa orang
atau badan dan tidak memusatkan pemerintahan dalam tangan satu orang
atau satu badan, perumusan yuridis dari prinsip-prinsip itu terkenal dengan
istilah Rechsstaat dan Rule of Law.

Pada abad ke-6 sampai abad ke -3 SM demokrasi telah digunakan di negara


kota ( city state ) Yunani Kuno. Sistem demokrasi yang digunakan adalah
demokrasi langsung (direct democracy ), yaitu suatu bentuk pemerintahan di
mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara
langsung oleh warga negara yang bertindak berdasarkan prosedur
mayoritas.

Ada beberapa faktor yang menopang sehingga sifat langsung dari demokrasi
(direct democracy) yunani dapat diselenggarakan secara efektif, antaras lain
karena berlangsung dalam kondisi yang sederhana (1). Wilayahnya terbatas
( negara terdiri dari kota dan daerah sekitar ) (2). Jumlah penduduknya sangat
sedikit (dalam satu negara kota terdapat kurang lebih 300.000 penduduk, (3).
terlebih lagi tidak semua warga negara mempunyai hak untuk ikut
menentukan keputusan – keputusan politik. (budak dan pedagang).

Gagasan demokrasi abad Yunani kuno lenyap setelah dikalahkan oleh suku
bangsa Eropa Barat pada abad Pertengahan (600 - 1400). Abad pertengahan
inimasyarakat dicirikan oleh struktur sosial yang feodal yaitu hubungan
antara Vassal dan Lord

Selanjutnya dalam masyarakat seperti ini terjadi dualisme kekuasaan, yaitu


antara Paus sebagai pemimpin ( sistem hirarki kependetaan agama kristen )
dan para pejabat agama lainnya. Oleh karena itu, dalam praktek kenegaraan
telah berlaku dua hukum, yaitu hukum duniawi dibawah kepala kekuasaan
negara dan hukum Tuhan dibawah kekuasaan Paus.

Meskipun masing-masing hukum mempunyai wilayahnya sendiri dan setiap


orang harus tunduk pada penguasa yang bersangkutan namun dalam
prakteknya seringkali menimbulkan pertikaian.

Pertikaian ini dapat terjadi karena wilayah hukum ini kadang –kadang tidak
dapat dipisahkan satu sama lainnya. Bahkan pertikaian ini sering berlanjut
dengan perebutan kekuasaan antara kepala negara dan kepala agama.
Akibatnya sering terjadi penindasan terhadap hak-hak asasi manusia baik
dipihak raja maupun dipihak paus. Oleh karena itu abad ini kerapkali disebut
abad kegelapan (abad Pertengahan).
Namun dilihat dari perkembangan demokrasi pada abad ini terdapat peristiwa
penting yaitu awal pertama adanya pengakuan dam jaminan terhadap
beberapa hak dan perlakuan khusus dari raja John dari Inggris terhadap para
bangsawan bawahannya. Pengakuan dan jaminan tersebut terwujud dalam
sebuah dokumen Magna Charta ( Piagam Besar) pada tahun 1215 yang
kontrak antara raja dengan para bangsawan Yang dianggap
isinya terjadi
sebagai tonggak dalam perkembangan demokrasi.

Menjelang berakhirnya masa abad pertengahan, di Eropa muncul negara-


negara nasional dalam bentuknya yang modern, yaitu terjadi serangkaian
perubahan sosial dan kultural dari dua kelompok aliran yaitu, Renaissance
(1350 - m1600) dan Reformasi ( 1500 - 1650).

Renaissance adalah aliran yang menghidupkan kembali minat kepada


kesusasteraan dan kebudayaan Yunani kuno, yaitu aliran yang membelokan
perhatian yang tadinya semata-mata diarahkan kepada tulisan-tulisan
keagamaan kearah soal-soal keduniawian. Hal ini menimbulkan pandangan-
pandangan baru.

Reformasi adalah suatu aliran pembaharuan dalam bidang keagamaan (kristen)


yang bertujuan membersihkan agama dari pengaruh-pengaruh lain.