Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

BOTANI FARMASI
“MORFOLOGI DAN ANATOMI AKAR”

OLEH :
KELOMPOK 2
HERLINA 17.01.063
SARWAN HAMID 17.01.064
GRACE PAYUKALLO 17.01.082
MUSDALIFAH S. 17.01.088
HUTRIVIA SANDA RANDA B 17.01.090
MARGARETHA RAIMUNDA J. 17.01.103
SILVIANA 17.01.113
MUHAMMAD ARHAM 17.01.114
SRI MUSDALIPA 17.01.115
SRI RAHMA FATIMA A. 17.01.120

KELAS STIFA B 2017


ASISTEN : DEVIYANTI NATHALIA

LABORATORIUM BIOLOGI FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI
MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Akar merupakan struktur tumbuhan yang terdapat didalam tanah.
Akar juga merupakan tempat masuknya mineral atau zat-zat hara. Dan
merupakan kelajuan sumbu tumbuhan. Tumbuhan monokotil dan
tumbuhan dikotil memiliki perbedaan sistem perakaran. Pada akar
tumbuhan monokotil tersusun dari sistem akar serabut. Panjang akar
dipengaruhi oleh factor eksternal seperti : porositas tanah, ketersediaan
air dan mineral, dan kelembaban tanah. Sedangkan pada akar tumbuhan
dikotil umumnya akar tunggang.
Akar merupakan bagian pokok pada tanaman yang nomor ketiga
(disamping batang dan daun). Akar digunakan sebagai alat pernapasan
yang disebut akar napas. Fungsi akar selain sebagai alat pernapasan
yaitu sebagai alat yang memperkokoh tanaman, menghasilkan mineral,
dan tempat masuknya unsure hara.
Keragaman bentuk dan struktur akar sering terkait dengan
fungsinya. Oleh karena itu, dikenal akar udara, akar tunjang, dan akar
yang bersimbiosis dengan jamur.
I.2. Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan
memahami jenis-jenis sistem perakaran pada tanaman, bagian-bagian
morfologi dari akar, dan bagian-bagian anatomi dari akar.
I.2.2. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan pada percobaan ini adalah
1. Untuk mengetahui dan memahami jenis-jenis sistem perakaran
2. Untuk mengetahui bagian-bagian morfologi pada akar
3. Untuk mengetahui dan memahami bagian-bagian anatomi pada
akar.
I.3. Prinsip Percobaan
Adapun prinsip percobaan pada percobaan ini adalah mengamati
bagian-bagian luar atau morfologi pada akar dengan mengamati secara
langsung sampel dan bagian-bagian dalam atau anatomi pada akar
secara melintang dan membujur dan ditetesi medium aquadest,
Flourglusin, dan kloralhidrat lalu diamati dibawah mikroskop
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Teori Umum


Sistem perakaran merupakan jenis-jenis akar yang ditinjau dari
pertumbuhan struktur akarnya.Ketika suatu tumbuhan masih dalam bentuk
lembaga di dalam biji, calon akar sudah terbentuk, dan disebut akar
lembaga (radicula). Pada perkembangan selanjutnya, saat biji
berkecambah sampai menjadi tumbuhan dewasa, akar lembaga dapat
memperlihatkan perkembangan yang berbeda. Berdasarkan hal ini, sistem
perakaran tumbuhan dibedakan atas dua macam, yaitu sistem akar
tunggang dan sistem akar serabut (Dewi, 2013).
Fungsi akar bagi tumbuhan adalah untuk memperkuat berdirinya
tumbuhan, menyerapnya air dan unsur hara yang terkandung dalam air
yang ada dalam tanah, mengangkut air dan unsur hara kebatang dan
daun, kadang-kadang sebagai tempat untuk menimbun makan, dalam
bentuk umbi kayu (Dewi, 2013)
Cabang-cabang akar merupakan bagian-bagian akar yang tidak
langsung bersambung dengan pangkal batang.Serabut akar merupakan
cabang-cabang akar yang halus dan berbentuk serabut.
Rambut-rambutakar berfungsi untuk memperluas bidang penyerapan air
dan unsur hara, sehingga air dan unsur hara yang dapat diisap lebih
banyak (Dewi, 2013).
Akar tunggang dapat dibedakan menjadi akar tunggang yang tidak
bercabang atau sedikit bercabang dan akar serabut akar pokoknya tidak
dapat dibedakan dengan jelas dari cabang-cabangnya (Dewi, 2013).
Sifat dan tugas khusus akar misalnya akar udara, akar penggerek,
akar pelekat, akar pembelit, akar napas, akar tunjang, akar lutut, dan akar
banir (Dewi, 2013).
1. Akar udara (radix aereus)
Akar udara disebut juga dengan akar gantung, yang keluar dari
bagian-bagian diatas tanah.Selama masih menggantung akar ini
hanya dapat menolong menyerap air dan zat gas dari udara dan
seringkali mempunyai jaringan khusus untuk menimbun udara dan air
setelah mencapai tanah.
2. Akar penggerek (haustorium)
Akar penggerek disebut juga akar pengisap.Akar ini merupakan
akar-akar yang terdapat pada tumbuhan yang hidup sebagai
parasit.Akar ini berfungsi untuk meyerap air atau makanan dari
inangnya.
3. Akar pelekat (radix adligans)
Merupakan akar-akar yang keluar dari biku-buku batang
tumbuhan memanjat.Akar pelekat berfungsi untuk menempel pada
penunjangnya saja misalnya pada lada (piper nigrum).
4. Akar pembelit (cirrhus radicalis)
Akar pembelit berfungsi untuk memanjat, tetapi tanpa memeluk
penunjangnya misalnya vanili (vanilla planifolia).
5. Akar napas (pneumatophora)
Struktur ini memiliki cabang-cabang akar yang tumbuh tegak
lurus keatas hingga muncul dari permukaan tanah atau air tempat
tumbuhnya tumbuhan.Tumbuhan yang memiliki akar seperti ini
biasanya hidup ditempat-tempat yang didalam tanahnya sangat
kekurangan oksingen.
6. Akar tunjang
Tumbuhan yang mepunyai akar tunjang tumbuhan yang hidup
didaerah pasang surut. Contoh akar tunjang dapat ditemukan pada
pohon bakau (rhizophora conjugata)
7. Akar lutut
Akar ini lebih tepat jika dikatakan bagian akar yang tumbuh
keatas kemudian membengkok lagi masuk kedalam tanah, sehingga
membentuk gambaran seperti lutut yang dibengkokkan.Sama seperti
akar napas, akar ini berguna pula untuk kepentingan pernapasan pada
tumbuhan yang hidup didaerah pasang surut.
8. Akar banir
Struktur akar ini berbentuk seperti papan-papan yang diletakkan
miring untuk memperkokoh berdirinya batang pohon yang tinggi besar
misalnya pada sukun (artocarpus commune) (Dewi, 2013)
Akar biasanya mempunyai sifat-sifat berikut :
1. Merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah,
dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air
(hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya.
2. Tidak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak medukung daun-
daun atau sisik-sisik maupun bagian-bagian lainnya.
3. Warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan.
4. Terus pada ujungnya, tetapi umumnya pertumbuhannya masih kalah
jika di bandingkan dengan batang.
5. Bentuknya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus
tanah (Tjitrosoepomo, 2016).
Pada akar umumnya dapat dibeda-bedakan bagian-bagian berikut :
1. Leher akaratau pangkal akar (collum), yaitu bagian akar yang
bersambungan dengan pangkal batang.
2. Ujung akar(apex radicis), yaitu bagian akar yang paling muda, terdiri
atas jaringan-jaringan yang masih dapat mengadakan pertumbuhan.
3. Batang akar (corpus radicis), yaitu bagian akar yang terdapat antara
leher akar dan ujungnnya.
4. Cabang-cabang akar (radix later), yaitu bagian-bagian akar yang tak
langsung bersambungan dengan pangkal batang, tetapi keluar dari
pokok, dan masing-masing dapat mengadakan percabangan lagi.
5. Serabut akar (fibrilla radicalis), yaitu cabang-cabang akar yang halus-
halus dan berbentuk serabut.
6. Rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (pilus radicalis), yaitu bagian
akar yang sesungguhnya hanyalah merupakan penonjolan sel-sel kulit
luar akar yang panjang (Tjitrosoepomo, 2016).
Pada tumbuhan lazimnya dibedakan dua macam sistem perakaran
1. Sistem akar tunggang, jika akar lembaga tumbuh terus menjadi akar
pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akaryang lebih kecil.
2. Sistem akar serabut, yaitu jika akar lembaga dalam perkembangan
selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang
kurang lebih sama besar dan semuanya keluar dari pangkal batang
(Tjitrosoepomo, 2016).
Melihat percabangan dan bentuknya, akar tunggang dapat
dibedakan dalam :
1. Akar tunggang yang tidak bercabang atau sedikit bercabang. Akar
tunggang yang bersifat demikian seringkali berhubungan dengan
fungsinya sebagai tempat penimbunan zak makanan cadangan lalu
mempunyai bentuk yang istimewa, misalnya :
a. Berbentuk sebagai tombak (fusiformis), pangkalnya besar
meruncing keujung dengan serabut-serabut akar sebagai
percabangan.
b. Berbentuk gasing (napiformis), pangkal akar besar membulat, akar-
akar serabut sebagai cabang hanya pada ujung yang sempit
meruncing.
c. Berbentuk benang (filiformis), jika akar tunggang kecil panjang
seperti akar serabut saja dan juga sedikit sekali bercabang
(Tjitrosoepomo, 2016).
2. Akar tunggang yang bercabang (ramosus). Akar tunggang ini
berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang-
cabang banyak, dan bercabang-cabangnya bercabang lagi, sehingga
dapat member kekuatan yang lebih besar kepada batang, dan juga
daerah perakaran menjadi amat luas, hingga dapat diserap air dan zat-
zat makanan yang lebih banyak (Tjitrosoepomo, 2016).
Mengenai akar-akar pada sistem akar serabut dapat di
kemukakan hal-hal sebagai berikut :
1. Akar yang menyusun akar serabut kecil-kecil berbentuk benang,
misalnya pada padi (Oryza sativa L.).
2. Akar-akar serabut kaku keras dan cukup besar seperti tambang
misalnya pada pohon kelapa (Cocos nucifera L.).
3. Akar serabut besar-besar, hampir sebesar lengan, masing-masing
tidak banyak memperlihatkan percabangan, misalnya pada pandan
(Pandanus tectoricus).
Akar biasanya mempunyai sifat-sifat berikut :
1. Merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah,
dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air
(hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya.
2. Tidak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak medukung daun-
daun atau sisik-sisik maupun bagian-bagian lainnya.
3. Warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan.
4. Tumbuh terus pada ujungnya, tetapi umumnya pertumbuhannya masih
kalah jika di bandingkan dengan batang.
5. Bentuknya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus
tanah (Tjitrosoepomo, 2016).
Pada kondisi kering, akar beradaptasi dengan membentuk kulit
yang tebal, sklerifikasi sel korteks, dan isolasi silinder pembuluh dengan
pembentukan periderm atau nekrosis parenkim korteks. Xilem
berkembang dengan baik sehingga dapat membantu pengangkutan air
dengan cepat. Sejumlah lapisan korteks akar primer tumbuhan gurun pasir
berkurang sehingga jarak antara tanah dengan stele semakin pendek
(Mulyani, 2006).
Sistem pembuluh primer akar dan batang berbeda struktur dan
arah perkembangan menjarinya .Protoxilem pada akar bersifat eksark,
sedangkan pada batang bersifat endark. Garis tengah daerah peralihan
biasanya lebih besar dari pada garis tengah akar maupun batang karena
di daerah ini terjadi pembelahan, perputaran, perbanyakan, dan
penggabungan untaian xilem dan floem. Beberapa bentuk perubahan dari
akar ke batang ditinjau dari struktur pembuluhnya (Mulyani, 2006)
Akar merupakan bagian tumbuhan yang biasanya berkembang
dibawah permukaan tanah, meskipun ada juga akar yang tumbuh di atas
tanah. Berdasarkan asal-usulnya, ada dua tipe akar, yaitu akar tunggang
dan akar serabut. Penyerapan air dan mineral dari tanah dilakukan oleh
ujung akar yang muda, yang banyak memiliki rambut akar sehingga
memperluas bidang penyerapan. Bagian korteks akar primer biasanya di
gunakan untuk menyimpan cadangan makanan berupa tepung, misalnya
pada wortel, lobak, bengkoang, dan sebagainya. Ficus, Rhizophora dan
Orchidaceae menghasilkan akar dari batang atau cabang yang terdapat
bebas di udara. Akar tersebut bisa menjadi akar panjat, akar lekat ataupun
akar penunjang apabila akar ini tumbuh ke dalam tanah. Tumbuhan rawa
biasanya memiliki akar nafas yang di sebut pneumatofor, sebagai
adaptasi dengan kehidupan rawa yang kurang oksigen. Angiospermae
parasit memiliki struktur khusus yaitu haustorium, yang berhubungan
dengan tumbuhan inangnya dan berfungsi sebagai saluran makanan
(Mulyani, 2006).
Di ujung akar ada meristem yang membentuk sel-sel yang akan
mengembangkan struktur akar pertama (primer). Mitosis dan meristem ini
memperbesar panjangnya akar. Karena frekuensi mitosis ini dalam darah
“embrionik”, maka ujung akar biasanya digunakan untuk memperagakan
dan mempelajari macam pembelahan sel. Meristem di lindungi dari
gesekan dan kerusakan dalam tanah oleh tudung akar (Kimball, 2006).
Setelah sel-sel akar itu sepenuhnya memanjang, maka dimulailah proses
diferensiasi. Proses ini meliputi perkembangan struktur-struktur khusus.
Sel-sel di permukaan akar berdiferensiasi membentuk sel-sel epidermis.
Kebanyakan mengembangkan dindingnya menjadi panjang, yaitu akar
rambut. Hal ini sangat meningkatkan area permukaan akar dan
merupakan tempat masuknya terutama bagi air (Kimball, 2006).
Di dalam epidermis terbentuk suatu cincin (sebagai mana tampak
pada irisan melintang) sel-sel parenkima, yaitu korteks. Jaringan ini
berfungsi sebagai area cadangan makanan. Permukaan dalamnya
dibatasi oleh selapis sel tunggal yaitu endodermis. Di dalam endodermis
terdapat silinder pusat yang berisikan berkas-berkas pembuluh. Di
sekelilingnya ialah perisikel, dan dari sinilah terbentuk cabang-cabang
akar. Di dalam perisikel akar mudah terdapat jaringan xilem, jaringan
floem, dan parenkina atau empulur. Jaringan xilem disusun dalam berkas-
berkas bercorak radial. Jaringan floem berselang seling dengan jaringan
xilem (Kimball, 2006).
Bagian-bagian morfologi (bagian luar) dari akar terdiri dari `
1. Leher akar
2. Cabang akar
3. Batang akar
4. Rambut akar
5. Ujung akar (Mulyani, 2006).
Perhatikan gambar berikut ini

Bagian-bagian anatomi (bagian dalam) dari akar, terdiri dari


1. Epidermis
2. Sklerenkim
3. Berkas pembuluh
4. Parenkim korteks
5. Endodermis
6. Bulu akar
7. Parenkim silinder pusat
8. Berkas pembuluh silinder pusat
9. Xilem
10. floem (Mulyani, 2006)
Perhatikan gambar dibawah ini
II.2. Uraian Bahan
1. Aquadest (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air suling
RM/BM : H2O/18,02 g/mol
Pemerian : Cairan jernih,tidak berwarna,dan tidak mempunyai
rasa.
Kelarutan : larut dalam semua jenis larutan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai medium pada mikroskop.
2. Flourglusin (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : TRIHIDROS
Nama Lain : Flourglusin
RM/BM : C6H6O3 / 126,11 g/mol
Pemerian : Hablur/serbuk hablur, putih atau kekuningan.
Kelarutan : larut dalam air, larut dalam etanol (95%) dan dalam
eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai medium pada mikroskop.
3. Kloralhidrat (Dirjen POM, 2014)
Nama Resmi : CHLORALIHYDRAS
Nama Lain : Kloralhidrat
RM/BM : C2H3Cl3O2 / 165,40 g/mol
Pemerian :Hablur transparan, tidak melelh basah; tidak
berwarna, bau tajam dan khas; rasa kaostik dan
agak pahit. Melebur pada suhu lebih kurang 550 dan
perlahan-lahan menguap.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air dan dalam minyak
zaitun; mudah larut dalam etanol (95 %) P, dalam
kloroform P, dan dalam eter P.
Penyimpanan : dalam wadah kacap tertutup rapat, terlindung dari
cahaya; di tempat sejuk.
Kegunaan : Sebagai medium pada mikroskop.
II.3. Klasifikasi Tanaman
1. Akar padi (Oryza sativa L.) (Napitupulu, Rumonda, 2006).
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poalaceae
Genus : Oryza L
Spesies : Oryza sativa L.
2. Akar mangga (Mangifera indica L.) (Napitupulu, Rumonda, 2006).
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Anacardiaceae
Genus : Mangifera L.
Spesies : Mangifera indica L.
3. Pandan (Pandanus dubius B.) (Napitupulu, Rumonda, 2006.)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Pandanales
Famili : Pandanaceae
Genus : Pandanus
Spesies : Phandahus dubius B.
4. Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) (Napitupulu, Rumonda, 2006.)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Famili : Convolvulacea
Genus : Ipomoea
Spesies : Ipomoea batatas L.
5. Kangkung (Ipomoea aquatica F.) (ITIS, 2018)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Famili : Convolvulacea
Genus : Ipomoea L
Spesies : Ipomoea aquatica F.
6. Bayam duri (Amaranthus spinosus L.) (ITIS, 2018)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Caryophyllales
Famili : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus L.
Spesies : Amaranthus spinosus L.
7. Pegagan (Centella asiatica L.) (ITIS, 2018)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Famili : Apiaceae
Genus : Centella L.
Spesies : Centella asiatica L.
8. Lengkuas (Alpinia galanga L.) (ITIS, 2018)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Alpinia
Spesies : Alpinia galanga L.
9. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) (ITIS, 2018)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Arachis
Spesies : Arachis hypogaea L.
10. Lombok (Capsicum annum L.) (ITIS, 2018)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum L.
Spesies : Capsicum annum L.
BAB III
METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan percobaan


III.1.1 Alat percobaan
Adapun alat yang di gunakan dalam percobaan ini adalah deg
glass, mikroskop, objek glass, pipet tetes, dan silet.
III.1.2 Bahan percobaan
Adapun bahan yang di gunakan dalam percobaan ini adalah
Aquadest, akar mangga (Mangifera indica), akar padi (Oryza sativa
L.), akar Pandan (Panhanus), akar ubi jalar (Ipomoea batatas), akar
kangkung (Ipomoea aquatica), akar bayam duri (Amaranthus
spinosus), akar pegagan (Centella asiatica), akar lengkuas (Alpinia
galanga), akar Kacang tanah (Arachis hypogaea), akar Anggrek
(Orchidaceae), akar Lombok (Capsicum annum L.), akar kaca beling
(Strobilanthes crispa), Flourglusin, dan klorolhidrat,
III.2. Cara kerja
III.2.1. Pengamatan Secara Morfologi
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Diamati masing-masing bentuk akar, sistem perakaran dan
modifikasinya dari sampel yang telah di tentukan.
3. Di gambar hasil pengamatan.
III.2.2. Pengamatan Secara Anatomi
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Dibuat preparat dari irisan tipis masing-masing sampel akar yang
telah di tentukan secara melintang dan membujur dengan
menggunakan silet.
3. Diletakkan irisan atau sayatan sampel akar diatas gelas objek dan
ditetesi dengan medium lalu ditutupi dengan degglass.
4. Diamati bagian-bagian sampel tersebut dengan menggunakan
mikroskop. Dan Digambar hasil pengamatannya dan diberi
keterangan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengamatan


IV.1.1 Tabel Pengamatan Morfolofi
No Sampel Hasil Pengamatan Keterangan

Pangkal
Mangga (Mangifera Batang akar
1
indica) Ujung akar
Rambut akar

Pangkal
2 Padi (Oryza sativa L.)
Serabut akar

3 Pangkal
Pandan (Pandanus)
Serabut akar

Ubi jalar (Ipomea Pangkal


4
batatas) Serabut akar
Pangkal
Lengkuas (Alpinia Batang akar
5
galanga) Rambut akar

Pangkal
Kacang tanah Batang akar
6
(Arachis hypogaea) Serabut akar

Anggrek Pangkal
7
(Orchidaceae) Akar

Pangkal
Lombok (Capsicum
8 Batang akar
annum L.)
Serabut akat

Pangkal
Kaca beling Batang akar
9
(Strobilanthes crispa) Serabut akar
IV.1.2 Tabel Pengamatan Anatomi
PER MEDIUM HASIL
NO SAMPEL BESARA KETERANGAN
IRISAN PENGAMATAN
N

Kloralhidrat Epidermis

4x
Irisan
melintang Korteks

Kloralhidrat Epidermis
Korteks
10x
irisan
melintang
Padi (Oryza
1
sativa L.)
Flourglusin Epidermis

4x Korteks
Irisan
membujur

Epidermis
Flourglusin
10x Korteks
Irisan
membujur

Kloralhidrat Epidermis

4x Korteks
Irisan
melintang
Ubi jalar
2 (Ipomea
batatas)
Kloralhidrat Epidermis
10x
Irisan Korteks
melintang
Epidermis
Flourglusin
4x Korteks
Irisan
membujur

Flourglusin Epidermis

10x Korteks
Irisan
membujur

Kloralhidrat Epidermis
Korteks
4x
Irisan Floem
melintang Xilem

Kloralhidrat Korteks
10x Floem
Irisan Xilem
Mangga melintang
3 (Mangifera
indica) Flourglusin Epidermis
4x
Irisan Korteks
membujur

Flourglusin Epidermid
Korteks
10x
Irisan Floem
membujur Xilem

Kloralhidrat Epidermis
Korteks
4x Floem
Irisan
melintang Xilem
Pandan
4 (Panda
nus) Korteks
Kloralhidrat
10x Floem
Irisan
melintang
Flourglusin Epidermis
4x
Irisan Korteks
membujur

Flourglusin
Korteks
10x
Irisan
membujur

Aquadest Epidermis
4x Korteks
Irisan
Mangga melintang
5 (Mangifera
indica)
Aquadest Epidermis
10x
Irisan Korteks
melintang

Aquadest Korteks

4x Floem
Irisan
membujur
Pandan
6 (Panda
nus) Korteks
Aquadest
10x Floem
Irisan
membujur
Xilem

Aquadest Epidermis
4x Korteks
Irisan
melintang
Ubi jalar
7 (Ipomea
batatas)
Aquadest Epidermis
10x Korteks
Irisan
melintang
Aquadest Epidermis
4x
Irisan Korteks
membujur
Padi (Oryza
8
sativa)
Aquadest Epidermis
10x
Irisan Korteks
membujur

Aquadest Epidermis
4x
Irisan Korteks
melintang

Aquadest Epidermis
10x
Irisan Korteks
membujur

Flourglusin Epidermis
4x
Irisan Korteks
melintang
Kangkung
9 (Ipomea Flourglusin
aquatica)
10x Korteks
Irisan
membujur

Kloralhidrat Epidermis
4x Korteks
Irisan
melintang

Kloralhidrat

10x Korteks
Irisan
membujur
Aquadest Epidermis
Korteks
4x
Floem
Irisan
Xilem
membujur

Aquadest

10x Korteks
Irisan
melintang

Flourglusin Epidermis
Korteks
4x
Irisan Floem
membujur Xilem
bayam duri
10 (Amarantus
spinosus) Flourglusin

10x Korteks
Irisan
melintang

Kloralhidrat
Epidermis
4x Korteks
Irisan Floem
membujur Xilem

Kloralhidrat

10x Korteks
Irisan
melintang
Aquadest

4x Korteks
Irisan
melintang

Aquadest

10x Korteks
Irisan
membujur

Flourglusin Epidermis

4x
Irisan Korteks

Pegagan melintang

11 (Centella
Flourglusin
asiatica)
Korteks
10x
Irisan
membujur

Kloralhidrat

4x Korteks
Irisan
melintang

Kloralhidrat

10x Korteks
Irisan
membujur
IV.2 Pembahasan
Sistem perakaran merupakan jenis-jenis akar yang ditinjau dari
pertumbuhan struktur akarnya. Ketika suatu tumbuhan masih dalam
bentuk lembaga di dalam biji, calon akar sudah terbentuk, dan disebut
akar lembaga (radicula). Pada perkembangan selanjutnya, saat biji
berkecambah sampai menjadi tumbuhan dewasa, akar lembaga dapat
memperlihatkan perkembangan yang berbeda. Berdasarkan hal ini, sistem
perakaran tumbuhan dibedakan atas dua macam, yaitu sistem akar
tunggang dan sistem akar serabut (Dewi, 2013).
Fungsi akar bagi tumbuhan adalah untuk memperkuat berdirinya
tumbuhan, menyerapnya air dan unsur hara yang terkandung dalam air
yang ada dalam tanah, mengangkut air dan unsur hara kebatang dan
daun, kadang-kadang sebagai tempat untuk menimbun makan, dalam
bentuk umbi kayu (Dewi, 2013).
Secara umum struktur anatomi akar tersusun atas jaringan
epidermis, sistem jaringan dasar berupa korteks, endodermis, dan
empulur; serta sistem berkas pembuluh. Pada akar sistem berkas
pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang tersusun berselang-seling.
Pada struktur anatomi tumbuhan dikotil dan monokotil berbeda, baik dari
segi fungsi, susunan serta bagian-bagian dari tumbuhan tersebut. Akar
merupakan organ tumbuhan yang berfungsi untuk menyerap air dan
unsur-unsur hara serta untuk menompang tegaknya tumbuhan. Akar
merupakan bagian pertama yang tumbuh dari suatu biji yang
berkecambah yang kemudian tumbuh tegak ke bawah dan kemudian
berkembang menjadi akar utama. Selanjutnya tumbuh cabang yang kecil.
Sistem perakaran ini disebut sistem akar tunggang dan merupakan salah
satu ciri kelas dikotil. Jika cabang tumbuh lebih besar dengan akar utama
atau akar utama berdegenerasi dan diganti dengan akar-akar ramping
yang keluar dari akar utama yang tidak berkembang, maka sistem akar ini
disebut sistem akar serabut dan merupakan salah satu ciri tumbuhan
monokotil.
Pada percobaan inidigunakan tiga medium yaitu medium kloralhidral,
medium Flourglusin, dan medium aquadest. Penggunaan tiga medium ini
bertujuan untuk melihat perbandingan hasil yang didapatkan pada setiap
medium.
Pada percobaan kali ini bertujuan untuk melihat struktur yang
terdapat dari beberapa tanaman diantaranya akar mangga (Mangifera
indica), akar padi (Oryza sativaL.), akar pandan (Pandanus), dan akar ubi
jalar (Ipomea batatas).Dari beberapa sampel ini diamati dengan
menggunakan alat mikroskop dengan berbagai pembesaran untuk
mengamati struktur yang terdapat dari beberapa sampel tersebut. Serta
melihat perbedaan akar monokotil dan dikotil.
Pada pengamatan morfologi akar pada mangga (Mangifera indica)
memiliki system perakaran tunggang sedikit bercabang, bentuk akar
seperti tombak, dan sifat akarnya yaitu akar nafas. Sedangkan pada
pengamatan anatomi dapat dilihat bahwa pada perbesaran 4x dengan
irisan melintang dan membujur tidak terlihat bagian-bagian akar secara
jelas, tetapi pada perbesan 10x terlihat bagian floem, xilem, korteks, dan
epidermis. Dari hasil yang didapatkan dan perbandingan literatur dapat
dikatakan bahwa mangga (Mangifera indica) termasuk akar dikotil dapat
dilihat dari letak xilem yang dikelilingi oleh floem.
Pada sampel padi (Oryza sativa L.) secara morfologi memiliki
system perakaran yaitu akar serabut berbentuk serabut-serabut kecil
seperti benang dan sifat akarnya yaitu akar tunjang. Sedangkan pada
pengamatan anatominya dapat dilihat pada perbesar 4x dengan irisan
melintang dan membujur tidak terlihat bagian-bagian secara jelas kecuali
bagian epidermis dan korteks begitupun pada perbesaran 10x, maka dari
itu dari hasil pengamatan anatomi ini tidak dapat diketauhui jenis akarnya,
tetapi dapat dilihat dari pengamatan morfologinya bahwa akar padi (Oryza
sativa L.) termasuk akar monokotil karena memiliki sistem perakaran
serabut yang mana telah sesuai dengan perbandingan literatur.
Pada sampel pandan (Pandanus) dilihat pada pengamatan
morfologi didapatkan hasil yaitu: sistem perakarannya adalah akar serabut
yang berbentuk besar-besar yang banyak memperlihatkan percabangan
yang bersifat akar tunjang. Sedangkan pada pengamatan anatomi dapat
dilihat pada perbesaran 4x dan 10x dengan irisan melintang dapat dilihat
dengan jelas bagian epidermis, korteks, floem, dan xilem, sedangkan
pada irisan membujur hanya terlihat bagian epidermis dan kotreks. Dari
hasil pengamatan anatominya dapat dikatakan bahwa pandan (Pandanus)
termasuk golongan akar monokotil dilihat dari tata letak floem dan xilem
yang saling berselang-seling dimana hasil ini telah sesuai dengan
perbandingan literatur.
Sedangkan pada sampel ubi jalar (Ipomea batatas) secara
morfologi didapatkan hasil yaitu: memiliki sistem perakaran adventif yang
berbentuk serabur-serabut kecil yang bersifat umbi (tuber). Sedangkan
pada pengamatan anatominya dapat dilihat pada perbesaran 4x dan 10x
tidak memiliki perbedaan yang spesifik hanya mengalami perbedaan yang
tipis dan hasil yang didapatkan tidak terlihat bagian-bagian yang cukup
jelas dimana hanya dapat dilihat secara jelas bagian epidermis yang
terletak paling luar dan korteks yang lerletak setelah epidermis baik pada
irisan melintang dan membujur hasil yang didapat kerang lebih sama. Dari
hasil pengamatan anatominya tiidak dapat dibedakan bahwa ubi jalar
(Ipomea batatas) termasuk golongan akar monokotil maupun dikotil.
Dari beberapa sampel diatas mempunyai struktur dari sel yang
hampir sama yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda untuk setiap
struktur dari sel tersebut digunakan untuk kelangsungan hidup dari
tanaman tersebut. Faktor-faktor kesalahan dari percobaan ini adalah cara
pengirisan baik melintang dan membujur yang terlalu tebal sehingga tidak
terlihatnya struktur dari akar tanaman tersebut. Selain itu juga cara
pengamatan pengamat pada mikroskop yang kurang teliti.
BAB V
PENUTUP

V.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah
1. Padi (Oryza sativa L.) dan ubi jalar (Ipomoae batatas) merupakan
tumbuhan yang memiliki sistem perakaran akar serabut sedangkan
mangga (Mangifera indica) dan pandan (Pandanus) merupakan
tumbuhan yang memiliki sistem perakaran akar tunggal.
2. Dari beberapa sampel akar tumbuhan yang diujikan, bagian-bagian
morfologinya hampir sama, dimana terdiri dari ujung akar, rambut
akar, cabang akar, batang akar, dan leher akar.
3. Dari beberpa sampel akar tumbuhan yang diujikan, bagian-bagian
anatominya hampir sama, dimana terdiri dari beberapa jaringan yaitu
epidermis, korteks, xilem, endodermis, dan floem.
V.2. Saran
V.2.1 Saran untuk dosen
Sebaiknya ikut serta dalam proses praktikum
V.2.2 Saran untuk laboratorium
Sebaiknya lebih memperhatikan kenyamanan praktikan
V.2.3. Saran untuk asisten
Sebaiknya tetap mendampingi praktikan agar tidak terjadi
kesalahan pada saat praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1979. ”Farmakope Indonesia


Edisi III”. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan :
Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. ”Farmakope Indonesia
Edisi V”. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan :
Jakarta.
Dewi, R. 2013. ”Morfologi Tumbuhan”. Erlangga: Jakarta
Kimbal, john. 2006. ”Biologi edisi V”. Erlangga: Jakarta.
Mulyani,S. 2006. ”Anatomi Tumbuahan”. Kanisius: Yogyakarta
Napitupulu, Rumonda. 2006. ”Taksonomi koleksi tanaman obat kebun
tanaman obat citerup”. Direktorat Obat Asli Indonesia.
Tjtrosoepomo, Gembong. 2016. ”Morfologi Tumbuhan”. UGM Press :
Yogyakarta.