Anda di halaman 1dari 17

Alamat : Jl. R.E. Marthadinata, Siriwini Telp.

0984-21846,
0984 21846, Fax : 098423272,email :
bludrsudnabire@gmail.com)Kode Pos : 98817
(bludrsudnabire@gmail.com 17 Nabire Papua

PANDUAN
PELAYANAN PENGAMBILAN SAMPEL URIN

BLUD RSUD NABIRE


2018

1
Alamat : Jl. R.E. Marthadinata, Siriwini Telp. 0984-21846, Fax : 098423272,email :
(bludrsudnabire@gmail.com)Kode Pos : 98817 Nabire Papua

PERATURAN DIREKTUR BADAN LAYANAN UMUM DAERAH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH NABIRE NOMOR : 445 / /PER-DIR / I /2018
TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN PENGAMBILAN SAMPEL URIN
BADAN LAYANAN UMUM DAERAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAHNABIRE

DIREKTUR BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT


UMUM DAERAH NABIRE
Menimbang : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan BLUD
Rumah Sakit Umum Daerah Nabire, maka perlu dilakukan
Pelayanan Pengambilan Sampel Urin;
b. Bahwa agar Pelayanan Pengambilan Sampel Urin dapat
dilakukan dengan baik di BLUD Rumah Sakit Umum Daerah
Nabire, perlu adanya kebijakan direktur BLUD Rumah Sakit
Umum Daerah Nabire sebagai landasan bagi penyelenggaraan
Pelayanan Pengambilan Sampel Urin;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam a dan b, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur
BLUD Rumah Sakit Umum Daerah Nabire.

MEMUTUSKAN
Mengingat : 1. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan
2. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009
tentang Rumah Sakit
3. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 tahun 2012 tentang
Akreditasi Rumah Sakit
6. Peraturan MenteriKesehatan Nomor 269/MENKES/PER/III/2008
tentang Rekam Medis
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
2052/MENKES/PER/X/2011 tentang Izin Praktik dan
Pelaksanaan Praktik Kedokteran
8. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

1
370/MENKES/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Ahli
Teknologi Laboratorium Kesehatan;
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
298/MENKES/SK/III/2008 Tentang Pedoman Akreditasi
Laboratorium Kesehatan;
10. Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 658/Menkes/Per/VIII/2009
tentang Jejaring Laboratorium Diagnosis Penyakit Infeksi New
Emerging dan Re-Emerging
11. Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 657/Menkes/Per/VIII/2009
tentang Pengiriman dan Penggunaan Spesimen Klinik, Materi
Biologik dan Muatan Informasinya
12. Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 835/Menkes/PSK/IX/2009
tentang Pedoman Keselamatan dan Keamanan Laboratorium
Mikrobiologik dan Biomedik;
13. Peraturan Menteri Kesehatan No.657/MENKES/PER/VIII/2009
Tentang Pengiriman Penggunaan Spesimen Klinik, Materi
Biologik dan Muatan Informasinya
14. Peraturan Menteri Kesehatan No.1501/MENKES/PER/X/2010
Tentang Jenis Penyakit Tertentu yang Dapat Menimbulkan
Wabah dan Upaya Penanggulangannya
15. Peraturan Papua No ……..tentang pelayanan pasien di BLUD
RSU Nabire
16. SK Bupati tentang pengangkatan Direktur Nabire No ……
tentang pengangkatan Direktur BLUD RSUD Nabire

MEMUTUSKAN
Menetapkan : PERATURAN BLUD RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
NABIRE TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN
PENGAMBILAN SAMPEL URIN
KESATU : Pelayanan Pengambilan Sampel Urin di BLUD Rumah Sakit
Umum Daerah Nabire Keputusan Direktur No.445/VII/SK-
DIR/AP/XI/ 2018;
KEDUA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya dan apabila
dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam ketetapan ini
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Nabire
Pada tanggal : 7 November 2018
Direktur BLUD RSUD Nabire

dr. Johni Ribo Tandisau, Sp.B.KBD


NIP. 19610716 198812 1002

1
LEMBAR PENGESAHAN

PENGESAHAN DOKUMEN BLUD RSUD NABIRE

NAMA KETERANGAN TANDA TANGAN TANGGAL

Saprian Jaya, S.Kep, Ns


Pembuat Dokumen

dr. Agnes Retno Wijayanti, Sp.A


Authorized Person

dr. Johni Ribo Tandisau, Sp.B.KBD Direktur BLUD RSUD


NABIRE

1
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang menciptakan manusia dan
menambah ilmu pengetahuan bagi mereka yang berusaha mendapatkannya.
Salawat beriringkan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah SAW,
Alhamdulillah Panduan Pelayanan Pengambilan Sampel Urin telah kita miliki.
Panduan ini diharapkan menjadi acuan dalam peningkatan mutu pelayanan
di lingkungan BLUD RSUD Nabire yang kita cintai ini.
Ucapan terimakasih kepada Pokja Asesmen Pasien yang telah
menyelesaikan Panduan Pelayanan Pengambilan Sampel Urin di BLUD RSUD
N a b i r e ini. Kami percaya bahwa tidak ada yang sempurna kecuali Allah
SWT, saran dan masukan dari kita sangat diharapkan untuk kesempurnaan
Panduan ini untuk masa yang akan datang.

Nabire, 7 November 2018


Direktur BLUD RSUD Nabire

dr. Johni Ribo Tandisau, Sp.B.KBD


NIP. 19610716 198812 1002
DAFTAR ISI

Peraturan Kepala Rumah Sakit BLUD RSUD Nabire ………………………… i


Lembar Pengesahan ……………………………………………………………..
Kata Pengantar …………………………………………………………………..
Daftar Isi ………………………………………………………………………...
BAB I Definisi …………………………………………………………………
BAB II Ruang Lingkup ……………………………………………………….
BAB III Tata Laksana ………………………………………………………….
BAB IV Dokumentasi ……………………………………………………………...
BAB I
DEFINISI

Pemeriksaan urinalisis dilakukan untuk menentukan dua parameter penting


ISK yaitu leukosit dan bakteri.Pemeriksaan rutin lainnya seperti deskripsi warna, berat
jenis dan pH, konsentrasi glukosa, protein, keton, darah dan bilirubin tetap dilakukan.
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan
diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis
penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan
darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
Hasil pemeriksaan urine tidak hanya dapat memberikan informasi tentang
ginjal dan saluran kemih, tetapi juga mengenai faal berbagai organ tubuh seperti hati,
saluran empedu, pancreas, dsb.Namun, untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang
akurat, diperlukan specimen yang memenuhi syarat.Pemilihan jenis sampel urine, tehnik
pengumpulan sampai dengan pemeriksaan harus dilakukan dengan prosedur yang benar.
BAB II
RUANG LINGKUP

Adapun ruang lingkup penatalaksanaan pengumpulan sampel sputum di BLUD Rumah


Sakit Umum Daerah Nabire meliputi :
1. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
2. Instalasi Rawat Inap
3. Instalasi Rawat Jalan.
4. Instalasi Rawat Intensif
BAB III
TATA L AKSANA

A. PENGUMPULAN SAMPEL URIN


1. Tempat
Wadah untuk menampung spesimen urine sebaiknya terbuat dari bahan plastik,
tidak mudah pecah, bermulut lebar, dapat menampung 10-15 ml urine dan dapat
ditutup dengan rapat.Selain itu juga harus bersih, kering, tidak mengandung
bahan yang dapat mengubah komposisi zat-zat yang terdapat dalam urine
2. Prosedur
a. Pengambilan spesimen urine dilakukan oleh penderita sendiri (kecuali dalam
keadaan yang tidak memungkinkan). Sebelum pengambilan spesimen,
penderita harus diberi penjelasan tentang tata cara pengambilan yang benar.
b. Spesimen urine yang ideal adalah urine pancaran tengah (midstream), di
mana aliran pertama urin dibuang dan aliran urine selanjutnya ditampung
dalam wadah yang telah disediakan.Pengumpulan urine selesai sebelum aliran
urine habis.Aliran pertama urine berfungsi untuk menyiram sel-sel dan
mikroba dari luar uretra agar tidak mencemari spesimen urine.
c. Sebelum dan sesudah pengumpulan urine, pasien harus mencuci tangan
dengan sabun sampai bersih dan mengeringkannya dengan handuk, kain yang
bersih atau tissue.Pasien juga perlu membersihkan daerah genital sebelum
berkemih. Wanita yang sedang haid harus memasukkan tampon yang bersih
sebelum menampung spesimen.
d. Pasien yang tidak bisa berkemih sendiri perlu dibantu orang lain (mis.
keluarga atau perawat). Orang-orang tersebut harus diberitahu dulu mengenai
cara pengumpulan sampel urin, mereka harus mencuci tangannya sebelum
dan sesudah pengumpulan sampel, menampung urine midstream dengan baik.
e. Untuk pasien anak-anak mungkin perlu dipengaruhi/dimaotivasi untuk
mengeluarkan urine.Pada pasien bayi dipasang kantung penampung urine
pada genitalia.
f. Pada kondisi tertentu, urine kateter juga dapat digunakan.Dalam keadaan
khusus, misalnya pasien dalam keadaan koma atau pasien gelisah, diperlukan
kateterisasi kandung kemih melalui uretra.Prosedur ini menyebabkan 1 - 2 %
risiko infeksi dan menimbulkan trauma uretra dan kandung kemih.Untuk
menampung urine dari kateter, lakukan desinfeksi pada bagian selang kateter
dengan menggunakan alkohol 70%.Aspirasi urine dengan menggunakan spuit
sebanyak 10 – 12 ml. Masukkan urine ke dalam wadah dan tutup rapat.Segera
kirim sampel urine ke laboratorium.
g. Untuk mendapatkan informasi mengenai kadar analit dalam urine biasanya
diperlukan sampel urine 24 jam. Cara pengumpulan urine 24 jam adalah :
1. Pada hari pengumpulan, pasien harus membuang urin pagi pertama. Catat
tanggal dan waktunya. Semua urine yang dikeluarkan pada periode
selanjutnya ditampung.
2. Jika pasien ingin buang air besar, kandung kemih harus dikosongkan
terlebih dahulu untuk menghindari kehilangan air seni dan kontaminasi
feses pada sampel urin wanita.
3. Keesokan paginya tepat 24 jam setelah waktu yang tercatat pada wadah,
pengumpulan urin dihentikan.
4. Spesimen urine sebaiknya didinginkan selama periode pengumpulan.

B. IDENTIFIKASI URIN
1. Urine sewaktu / urine acak (random).
2. Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan setiap saat dan tidak ditentukan
secara khusus. Mungkin sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin
mengandung sel darah putih, bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan.
Jenis sampel ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin tanpa pendapat khusus.
3. Urine pagi
4. Pengumpulan sampel pada pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum
makan atau menelan cairan apapun. Urine satu malam mencerminkan periode
tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsur-unsur yang terbentuk mengalami
pemekatan. Urine pagi baik untuk pemeriksaan sedimen dan pemeriksaan rutin
serta tes kehamilan berdasarkan adanya HCG (human chorionic gonadothropin)
dalam urine.
5. Urine tampung 24 jam
6. Urine tampung 24 jam adalah urine yang dikeluarkan selama 24 jam terus-
menerus dan dikumpulkan dalam satu wadah. Urine jenis ini biasanya digunakan
untuk analisa kuantitatif suatu zat dalam urine, misalnya ureum, kreatinin,
natrium, dsb. Urine dikumpulkan dalam suatu botol besar bervolume 1.5 liter
dan biasanya dibubuhi bahan pengawet, misalnya toluene.

C. PENGERJAAN/ PEMERIKSAAN
Bahan urin untuk pemeriksaaan harus segar dan sebaiknya diambil pagi
hari. Bahan urin dapat diambil dengan cara punksi suprapubik (suprapubic
puncture=spp), dari kateter dan urin porsi tengah (midstream urine). Bahan urin
yang paling mudah diperoleh adalah urin porsi tengah yang ditampung dalam
wadah bermulut lebar dan steril.
1. Punksi Suprapubik
Pengambilan urin dengan punksi suprapubik dilakukan pengambilan urin
langsung dari kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit
dan jarum steril. Yang penting pada punksi suprapubik ini adalah tindakan
antisepsis yang baik pada daerah yang akan ditusuk, anestesi lokal pada daerah
yang akan ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu dijaga. Bila keadaan
asepsis baik, maka bakteri apapun dan berapapun jumlah koloni yang tumbuh
pada biakan, dapat dipastikan merupakan penyebab ISK.

2. Kateter
Bahan urin dapat diambil dari kateter dengan jarum dan semprit yang steril.
Pada cara ini juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang akan
ditusuk dan keadaan asepsis harus elalu dijaga. Tempat penusukan kateter
sebaiknya sedekat mungkin dengan ujung kateter yang berada di dalam
kandung kemih (ujung distal). Penilaian urin yang diperoleh dari kateter sama
dengan hasil biakan urin yang diperoleh dari punksi suprapubik.
3. Urin Porsi Tengah
Urin porsi tengah sebagai sampel pemeriksaan urinalisis merupakan teknik
pengambilan yang paling sering dilakukan dan tidak menimbulkan ketidak
nyamanan pada penderita.Akan tetapi resiko kontaminasi akibat kesalahan
pengambilan cukup besar. Tidak boleh menggunakan antiseptik untuk
persiapan pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan menyebabkan
kultur false-negative.
Cara pengambilan dan penampungan urin porsi tengah pada WANITA: :
a. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah vagina
dan muara uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua
potong kasa steril dibasahi air atau salin hangat dan sepotong lagi
dibiarkan dalam keadaan kering. Jangan memakai larutan antiseptik untuk
membersihkan daerah tersebut. Siapkan pula wadah steril dan jangan buka
tutupnya sebelum pembersihan daerah vagina selesai
b. Dengan 2 jari pisahkan kedua labia dan bersihkan daerah vagina dengan
potongan kasa steril yang mengandung sabun. Arah pembersihan dari
depan ke belakang. Kemudian buang kasa yang telah dipakai ke tempat
sampah.
c. Bilas daerah tersebut dari arah depan ke belakang dengan potongan kasa
yang dibasahi dengan air atau salin hangat. Selama pembilasan tetap
pisahkan kedua labia dengan 2 jari dan jangan biarkan labia menyentuh
muara uretra. Lakukan pembilasan sekali lagi, kemudian keringkan daerah
tersebut dengan potongan kasa steril yang kering. Buang kasa yang telah
dipakai ke tempat sampah.
d. Dengan tetap memisahkan kedua labia, mulailah berkemih. Buang
beberapa mililiter urin yang mula-mula keluar. Kemudian tampung aliran
urin selanjutnya ke dalam wadah steril sampai kurang lebih sepertiga atau
setengah wadah terisi.
e. Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan
dinding luar wadah dari urin yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita
pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium.
Cara pengambilan dan penampungan urin porsi tengah pada PRIA:
a. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah penis
dan muara uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua
potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril
dibasahi dengan air atau salin hangat dan sepotong lagi dibiarkan dalam
keadaan kering. Jangan memakai larutan antiseptik untuk membersihkan
daerah tersebut. Siapkan pula wadah steril dan jangan buka tutupnya
sebelum pembersihan selesai.
b. Tarik prepusium ke belakang dengan satu tangan dan bersihkan daerah
ujung penis dengan kasa yang dibasahi air sabun. Buang kasa yang telah
dipakai ke tempat sampah.
c. Bilas ujung penis dengan kasa yang dibasahi air atau salin hangat. Ulangi
sekali lagi, lalu keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril
yang kering. Buang kasa yang telah dipakai ke dalam tempat sampah.
d. Dengan tetap menahan prepusium ke belakang, mulailah berkemih. Buang
beberapa mililiter urin yang keluar, kemudian tampung urin yang keluar
berikutnya ke dalam wadah steril sampai terisi sepertiga sampai
setengahnya.
e. Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan
dinding luar wadah dari urin yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita
pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium.

4. Pemeriksaan Urin Empat Porsi (Meares Stamey)


Pemeriksaan ini dilakukan untuk penderita prostatitis. Pemeriksaan ini terdiri
dari urin empat porsi yaitu:
a. Porsi pertama (VB1) : 10 ml pertama urin, menunjukkan kondisi uretra.
b. Porsi kedua (VB2) : sama dengan urin porsi tengah, menunjukkan kondisi
buli-buli.
c. Porsi ketiga (EPS) : sekret yang didapatkan setelah masase prostat.
d. Porsi keempat (VB4) : urin setelah masase prostat.
5. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan urinalisis dilakukan untuk menentukan dua parameter penting
ISK yaitu leukosit dan bakteri.Pemeriksaan rutin lainnya seperti deskripsi
warna, berat jenis dan pH, konsentrasi glukosa, protein, keton, darah dan
bilirubin tetap dilakukan.

6. Pemeriksaan Dipstik
Pemeriksaan dengan dipstik merupakan salah satu alternatif
pemeriksaan leukosit dan bakteri di urin dengan cepat. Untuk mengetahui
leukosituri, dipstik akan bereaksi dengan leucocyte esterase (suatu enzim yang
terdapat dalam granul primer netrofil).
Sedangkan untuk mengetahui bakteri, dipstik akan bereaksi dengan
nitrit (yang merupakan hasil perubahan nitrat oleh enzym nitrate reductase
pada bakteri). Penentuan nitrit sering memberikan hasil false-negative karena
tidak semua bakteri patogen memiliki kemampuan mengubah nitrat atau kadar
nitrat dalam urin menurun akibat obat diuretik. Kedua pemeriksaan ini
memiliki angka sensitifitas 60-80% dan spesifisitas 70 – 98%.Sedangkan nilai
positive predictive value kurang dari 80% dan negative predictive value
mencapai 95%. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak lebih baik dibandingkan
dengan pemeriksaan mikroskopik urin dan kultur urin. Pemeriksaan dipstik
digunakan pada kasus skrining follow up. Apabila kedua hasil menunjukkan
hasil negatif, maka urin tidak perlu dilakukan kultur.

7. Pemeriksaan Mikroskopik Urin


Pemeriksaan mikroskopik dilakukan untuk menentukan jumlah leukosit
dan bakteri dalam urin.Jumlah leukosit yang dianggap bermakna adalah > 10 /
lapang pandang besar (LPB). Apabila didapat leukosituri yang bermakna, perlu
dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur. Pemeriksaan langsung kuman patogen
dalam urin sangat tergantung kepada pemeriksa. Apabila ditemukan satu atau
lebih kuman pada pemeriksan langsung, perlu dilakukan pemeriksaan kultur.
8. Pemeriksaan Kultur Urin
Deteksi jumlah bermakna kuman patogen (significant bacteriuria) dari
kultur urin masih merupakan baku emas untuk diagnosis ISK. Bila jumlah
koloni yang tumbuh > 105 koloni/ml urin, maka dapat dipastikan bahwa
bakteri yang tumbuh merupakan penyebab ISK.Sedangkan bila hanya tumbuh
koloni dengan jumlah < 103 koloni / ml urin, maka bakteri yang tumbuh
kemungkinan besar hanya merupakan kontaminasi flora normal dari muara
uretra.Jika diperoleh jumlah koloni antara 103 - 105 koloni / ml urin,
kemungkinan kontaminasi belum dapat disingkirkan dan sebaiknya dilakukan
biakan ulang dengan bahan urin yang baru. Faktor yang dapat mempengaruhi
jumlah kuman adalah kondisi hidrasi pasien, frekuensi berkemih dan
pemberian antibiotika sebelumnya.1,5 Perlu diperhatikan pula banyaknya jenis
bakteri yang tumbuh. Bila > 3 jenis bakteri yang terisolasi, maka kemungkinan
besar bahan urin yang diperiksa telah terkontaminasi.

Prosedur Tes
Ambil hanya sebanyak strip yang diperlukan dari wadah dan segera tutup wadah. Celupkan
strip reagen sepenuhnya ke dalam urin selama dua detik. Hilangkan kelebihan urine
dengan menyentuhkan strip di tepi wadah spesimen atau dengan meletakkan strip di
atas secarik kertas tisu. Perubahan warna diinterpretasikan dengan membandingkannya
dengan skala warna rujukan, yang biasanya ditempel pada botol/wadah reagen strip.
Perhatikan waktu reaksi untuk setiap item.Hasil pembacaan mungkin tidak akurat
jika membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, atau jika pencahayaan
kurang.Pembacaan dipstick dengan instrument otomatis lebih dianjurkan
untuk memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual. Pemakaian reagen
strip haruslah dilakukan secara hati-hati. Oleh karena itu harus diperhatikan cara
kerja dan batas waktu pembacaan seperti yang tertera dalam leaflet. Setiap habis
mengambil 1 batang reagen strip, botol/wadah harus segera ditutup kembali
denganrapat, agar terlindung dari kelembaban, sinar, dan uap kimia. Setiap strip
harus diamatisebelum digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada perubahan
warna.
Interpretasi
Sampel urin dilakukan untuk menentukan dan mengukur kadar urin pasien sebelum
dilakukan terapi yang berhubungan dengan ginjal

D. PEMBUANGAN
Sampel urine yang telah diperiksa: sisa urine dibuang, kemudian masukkan botol urine
ke dalam bak penampung yang telah diberi larutan desinfektan ( presept dengan
perbandingan 4 tablet presept ditambahkan aquadest 1 liter).
BAB IV
DOKUMENTASI

Data didokumentasikan kedalam form hasil pemeriksaan laboratorium