Anda di halaman 1dari 26

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS

Nama : Tn. JT

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 23 tahun

Alamat : Kemaraya

Pekerjaan : Pelaut

Tanggal Masuk : 30 Mei 2018

No. Rekam Medik : 53 03 05

B. ANAMNESIS ( autoanamnesis, tanggal 30 Mei 2018 Pukul 21.35 WITA)

 KU : Nyeri pada kaki kanan

 AT : Sejak 4 jam akibat kecelakaan kerja

 MEKANISME TRAUMA :

Pasien sedang berlayar dengan menggunakan kapal kecil dan ingin

berpindah ke kapal besi yang lebih besar, namun saat berpindah kaki kanan

pasien tergelincir dan terjepit diantara kedua kapal.

- Riwayat pingsan (-) mual (-) , Muntah (-)

- Riwayat Alkohol (-), penggunaan obat- obatan (-)

- Riwayat pengobatan sebelumnya (+)


C. PRIMARY SURVEY (Pukul 21.30 WITA)

A: Clear, Servical Spine Control

B: RR: 20x/m, thoraco abdominal type, spontan, simetris, regular

C: BP: 130/80 mmHg, HR: 84 x/m, regular kuat angkat

D: GCS 15 (E4M6V5), pupil isokor diameter 2,5 mm, reflex cahaya +/+

E: T: 36,80 C/Axillar

D. SECONDARY SURVEY

1) Satus Generalisata

 Keadaan umum: Sakit sedang

 Status Gizi: Gizi baik

 Kesadaran: Composmentis

2) Tanda Vital

 Tekanan darah: 130/80mmHg

 Nadi: 84 x/m, regular, kuat angkat

 Pernapasan: 20x/m, regular, simetris

 Suhu: 36,80 C/Axillar

 VAS: 7-8

3) Status Present

Kepala : Normocephal

Mata : Konjungtiva Anemis (+/-), sclera ikterik (-/-)

Telinga : Otorrhea (-/-)

Hidung : Rinorrhea (-/-)


Mulut : Bibir kering (-), lidah kotor (-), perdarahan gusi (-)

hiperemis faring/tonsil (-)


Thorax
 Inspeksi : Simetris ki=ka, Retraksi: (-), Sela iga lebar (-)
 Palpasi : Vokal fremitus simetris kiri=kanan
Nyeri tekan (-)
 Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru (Kiri & kanan)

Batas paru heparpada ICS VI linea midklavikula


kanan

Batas paru lambung pada ICS VIII linea

 Auskultasi : axillaris anterior sinistra

Bunyi pernapasan: Vesikuler (+/+) normal,

Bunyi tambahan: rhonki -/-, wheezing -/-

Jantung
 Inspeksi : IC tidak tampak
 Palpasi : IC tidak teraba
 Perkusi : Pekak, batas jantung kesan normal
- Batas jantung kanan atas : ICS 2 linea
parasternal dextra
- Batas jantung kanan bawah : ICS 4 linea
parasternal dextra
- Batas jantung kiri atas : ICS 2 linea parasternal
sinistra
- Batas jantung kiri bawah : ICS 4 linea
midclavicularis sinistra

 Auskultasi : BJ I/II murni reguler, S3 gallop (-), murmur (-)

Abdomen
 Inspeksi : Datar, simetris ki=ka, ikut gerak napas,
 Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal
 Palpasi : Nyeri tekan(-) seluruh region abdomen, massa (-
), pembesaran organ(-), pekak hepar (+)
 Perkusi : Timpani (+)
Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
4) Status Lokalis

Regio Cruris Dekstra

Inspeksi : deformitas (+), hematoma (-), swelling (+), Wound (+)

ukuran 15 x 5 cm, tepi luka ireguler, muscle expose (+),

tendon expose (+), Bone expose (+)

Palpasi : Nyeri tekan (+)

ROM : Aktif dan pasif knee joint dan ankle joint sulit dinilai karena

nyeri,

NVD : sensibilitas (+), teraba pulsasi A. Dorsalis pedis dekstra

dan A. Tibialis posterior dekstra, CRT ≤ 2 detik.

Gambar 1. Foto Klinis pasien


E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Pemeriksaan Laboratorium (30 Mey 2018)

Darah Rutin

Hemoglobin : 12,5 g/dl (N : 12-16 g/dl)

Hematokrit : 28,2 vol% (N : 37-48 vol%)

Leukosit : 11,83 mm³ (N : 4000-10000/mm³)

Trombosit : 314 mm³ (N : 150000-400000/mm³)

 Pemeriksaan Radiologis (30 Mey 2018)

 X-Ray Cruris Dextra AP/Lat

Kesan : Fraktur segmental os


Tibia et Fibula Kanan 1/3
distal tak tampak callus

Gambar 2. X-Ray Cruris


Gambar 2. X-Ray Genu
Dekstra
Dekstra
F. RESUME

- Nn E, 23 tahun datang dengan keluhan nyeri ada regio cruris dekstra

sejak 4 jam sebelum masuk RS akibat kecelakaan kerja. Riwayat

pengobatan sebelumnya (+)

- Pada status generalisata ditemukan kesadaran komposmentis, sakit

sedang, gizi baik. Tanda-tanda vital dalam batas normal.. Status lokalis:

regio femoralis dekstra, inspeksi ditemukan deformitas (+), wound (+).

Palpasi ditemuka nyeri tekan (+). ROM: aktif dan pasif pada knee joint

dan ankle joint sulit dievaluasi. sensibilitas normal, teraba pulsasi A.

Dorsalis pedis dekstra dan A. tibialis posterior dekstra, CRT ≤ 2 detik.

Pemeriksaan lab WBC: 11,83. Pemeriksaan radiologis: Foto Cruris

Dekstra AP/Lat fraktur segmental os Tibia et Fibula kanan 1/3 distal tak

tampak callus formation.

G. DIAGNOSIS

Open Fracture Segmental 1/3 Distal Right Tibia And Fibula

H. DIAGNOSIS BANDING

 Muscle contusion Right cruris

 Neurovascular damage Right cruris

 Sindrome compartemen of Right cruris

I. RENCANA TERAPI

a) Non Farmakologi

 Istrirahat

 Imobilisasi
 Elevasi

 Edukasi

b) Farmakologi

 IVFD

 Inj Antibiotik

 Inj Analgetik

 Inj H2RA

Konsul Bedah Orthopedi

J. OPERASI PEMASANGAN EKSTERNAL FIKSASI

Gambar 3. Proses Pemasangan Eksternal Fiksasi


Gambar 2. X-Ray Genu
Dekstra Dekstra
K. FOLLOW UP

Tanggal Keadaan Klinis Penatalaksanaan

30/05/2018 S : nyeri kaki kanan  Terapi:

IVFD RL 20 tpm
O : BP : 110/70 mmHg
Ketorolac 1A/ 12 Jam/IV
HR : 84 x/m
Ranitidin 1A/12Jam/IV

RR : 20 x/m Ciprofloxacin1Vial/12Jam/Dr

ips
T : 37.0 0C

A : POH 1 / Fraktur terbuka

1/3 distal tibia et fibula

dextra

31/05/2018 S : nyeri kaki kanan  Terapi:

IVFD RL 20 tpm
O : BP : 110/80 mmHg
Ketorolac 1A/ 12 Jam/IV
HR : 88 x/m
Ranitidin 1A/12Jam/IV

RR : 20x/m Ciprofloxacin1Vial/12Jam/Dr

ips
T : 36.7 0C

A : POH 2 / Fraktur

terbuka 1/3 distal tibia et

fibula dextra
01/05/2018 S : nyeri pada kaki kanan  Terapi:

IVFD RL 20 tpm
O : BP : 120/70 mmHg
Ketorolac 1A/ 12 Jam/IV
HR : 80 x/m
Ranitidin 1A/12Jam/IV

RR : 20 x/m Ciprofloxacin1Vial/12Jam/Dr

ips
T : 36.50C
Pasien di rujuk ke Jakarta
Drain : 100cc

A : POH 3 / Fraktur terbuka

1/3 distal tibia et fibula

dextra
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Latar Belakang

Fraktur merupakan suatu kondisi dimana terjadi diskontinuitas tulang.

Penyebab terbanyak fraktur adalah kecelakaan, baik itu kecelakaan kerja,

kecelakaan lalu lintas dan sebagainya. Tetapi fraktur juga bisa terjadi akibat

faktor lain seperti proses degeneratif dan patologi (Depkes RI, 2005). World

Health Organization (WHO) mencatat pada tahun 2011-2012 terdapat 5,6 juta

orang meninggal dunia dan 1,3 juta orang menderita fraktur akibat kecelakaan

lalu lintas (WHO, 2011). Di Indonesia kematian akibat kecelakaan lalu lintas

kurang lebih 12.000 orang pertahun, sehingga dapat disimpulkan trauma dapat

menyebabkan biaya perawatan yang sangat besar, angka kematian yang tinggi,

hilangnya waktu kerja yang banyak serta menyebabkan kecacatan sementara

maupun permanen pada masyarakat.1,2

Menurut Depkes RI 2011, dari sekian banyak kasus fraktur di indonesia,

fraktur pada ekstremitas bawah akibat kecelakaan memiliki prevalensi yang

paling tinggi diantara fraktur lainnya yaitu sekitar 46,2%. Dari 45.987 orang

dengan kasus fraktur ekstremitas bawah akibat kecelakaan, 19.629 orang

mengalami fraktur pada tulang femur (Depkes RI, 2011).2

Fraktur cruris merupakan akibat terbanyak dari kecelakaan lalu lintas.

Hal ini diakibatkan susunan anatomi cruris dimana permukaan medial tibia

hanya ditutupi jaringan subkutan, sehingga menyebabkan mudahnya terjadi


fraktur cruris terbuka yang menimbulkan masalah dalam pengobatan.2

B. Anatomi Tibia dan Fibula

Tibia adalah tulang medial besar tungkai bawah. Tibia berartikulasi dengan

condylus femoris dan caput fibula di atas, dan dengan talus dan ujung distal

fibula di bawah. Ia memiliki ujung atas yang melebar, dan ujung bawah lebih

sempit. Pada ujung atasnya terdapat condylus medialis dan lateralis (kadang-

kadang disebut plateau tibialis medialis dan lateralis), yang berartikulasi

dengan condylus medialis dan lateralis femur, dipisahkan oleh cartilago

semilunaris medialis dan lateralis (meniscus medialis dan lateralis). Yang

memisahkan permukaan atas sendi condylus tibialis adalah area intercondylaris

anterior dan posterior; diantara kedua area ini terdapat eminentia

intercondylaris. Condylus lateralis memiliki facies artikularis circularis untuk

caput fibulae pada aspek lateralnya. Condylus medialis mempunyai sebuah alur

pada aspek posteriornya untuk insersio m. Semimembranosus. Corpus tibia

berbentuk segitiga pada potongan melintang, dengan tiga batas (margo) dan

tiga permukaan (facies). Yakni, facies lateralis, facies medialis dan facies

posterior. serta tiga buah tepi yaitu margo anterior , margo medialis, margo

interosseus. Pada pertemuan margo anterior dengan ujung atas tibia terdapat

tuberositas, yang menjadi tempat melekat lig. Pattelae. Margo anterior

membulat dibagian bawah, tempat ia menyatu dengan malleolus medialis.

Margo lateral atau interossea menjadi tempat perlekatan membrana interossea.

Ujung bawah tibia sedikit melebar dan pada aspek inferiornya tampak sebuah

permukaan sendi berbentuk pelana untuk talus. Ujung bawahnya memanjang


ke bawah membentuk malleolus medialis. Facies lateralis malleolus medialis

berartikulasi dengan talus. Ujung bawah tibia memiliki lekukan lebar dan kasar

pada permukaan lateralnya untuk berartikulasi dengan fibula.3

Gambar 4. Anatomi Tibia dan Fibula


Gambar 2. X-Ray Genu
Dekstra Dekstra
C. Etiologi

Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk,

gerakan puntir mendadak dan kontraksi otot yang ekstrim. Patah tulang

mempengaruhi jaringan sekitarnya mengakibatkan oedema jaringan lunak,

perdarahan keotot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf dan

pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami cedera akibat gaya yang

disebabkan oleh fraktur atau gerakan fragmen tulang (Brunner &

Suddarth,2005). Faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur:4

1. Faktor ekstrinsik yaitu meliputi kecepatan dan durasi trauma yang

mengenai tulang, arah serta kekuatan tulang.

2. Faktor intrinsik yaitu meliputi kapasitas tulang mengabsorpsi energi

trauma, kelenturan, densitas serta kekuatan tulang.

D. Diagnosis

1. Anamnesis

Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri, dan

bengkak di bagian tulang yang patah, deformitas (angulasi, rotasi,

diskrepansi), gangguan fungsi muskuloskeletal akibat rasa nyeri, putusnya

kontinuitas tulang, dan gangguan neurovaskular. Apabila gejala klasik

tersebut ada, secara klinis diagnosis fraktur dapat ditegakkan walaupun

jenis konfigurasinya belum dapat ditentukan. Anamnesis dilakukan untuk

menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan kejadian-

kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut. Riwayat cedera atau


fraktur sebelumnya, riwayat sosial ekonomi, pekerjaan, obat-obatan yang

dia konsumsi, merokok, riwayat alergi dan riwayat osteoporosis serta

penyakit lain.5

2. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik dilakukan tiga hal penting, yakni inspeksi / look:

deformitas (angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan), bengkak.

Palpasi / feel (nyeri tekan). Status neurologis dan vaskuler di bagian

distalnya perlu diperiksa. Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas tempat

fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan dibawah cedera, daerah

yang mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi Neurovaskularisasi bagian

distal fraktur meliputi : pulsasi aretri, warna kulit, pengembalian cairan

kapler, sensasi. Pemeriksaan gerakan / moving dinilai apakah adanya

keterbatasan pada pergerakan sendi yang berdekatan dengan lokasi fraktur.

Pemeriksaan trauma di tempat lain meliputi kepala, toraks, abdomen,

pelvis. Sedangkan pada pasien dengan politrauma, pemeriksaan awal

dilakukan menurut protokol ATLS. Langkah pertama adalah menilai

airway, breathing, dan circulation. Perlindungan pada vertebra dilakukan

sampai cedera vertebra dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan

radiologis.5

3. Pemeriksaan Penunjang

Walaupun penampakan dan tingkat keparahan fraktur dapat terlihat

melalui gejala-gejala klinisnya yang tampak, pemeriksaan radiologi masih

tetap dibutuhkan mendokumentasi lokasi dan luas fraktur serta


mengidentifikasi kemungkinan cedera tulang lainnya. Pemeriksaan

radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two: dua gambaran,

anteroposterior (AP) dan lateral, memuat dua sendi di proksimal dan distal

fraktur, memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas yang

cedera dan yang tidak terkena cedera (pada anak) dan dua kali, yaitu

sebelum tindakan dan sesudah tindakan.5 Radiography (X-rays) adalah

modalitas imaging trauma yang utama pada lesi traumatik yang melibatkan

tulang. Sebagian besar lesi-lesi tulang dapat terdokumentasikan cukup

dengan radiofrafi standar ini. Lokasi dan asal dari fraktur biasanya sudah

dapat didemonstrasikan pada foto polos. Walaupun demikian, perbatasan

jaringan-jaringan lunak sulit dinilai. Posisi yang sering digunakan yaitu

posisi anteroposterior (AP) dan posisi lateral.6

Secara radiologis konvensional, karakteristik tulang dapat dinilai

berdasarkan klasifikasi dibawah ini:

 Arah garis fraktur : fraktur transversal, oblik, dan spiral

 Hubungan antar fragment fraktur: displacement, angulasi, shortening,

rotasi, avulsi/ amputasi.

 Jumlah fragment fraktur: fraktur sederhana dan fraktur kominutif/

segmental

 Adanya hubungan dengan udara bebas: fraktur terbuka dan fraktur

tertutup
E. Klasifikasi

1. Berdasarkan Kerusakan Jaringan Disekitarnya1

a. Fraktur Tertutup

Fraktur tertutup adalah fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih

utuh, tulang tidak menonjol melalui kulit dan relatif lebih aman.

Derajat fraktur tertutup menurut Tscherne yaitu;

 Derajat 0 ; fraktur sederhana tanpa/ disertai dengan sedikit

kerusakan jaringan lunak

 Derajat 1 ; fraktur disertai dengan abrasi superfisial atau luka

memar pada kulit dan jaringan subkutan

 Derajat 2 ; fraktur yang lebih berat dari derajat 1 yang disertai

dengan kontusio dan pembengkakan jaringan lunak

 Derajat 3 ; fraktur berat yang disertai dengan kerusakan jaringan

lunak yang nyata dan terdapat ancaman terjadinya sindrome

komparetemen

b. Fraktur Terbuka

Fraktur terbuka adalah fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya

hubungan dengan lingkungan luar, sehingga fraktur terbuka potensial

terjadi infeksi osteomielitis.n Menurut Gustilo Anderson 1990, fraktur

terbuka dibagi menjadi 3 grade, yaitu :

 Derajat I: laserasi < 1cm, kerusakan jaringan tidak berarti dan luka

relatif bersih
 Derajat II: laserasi >1 cm tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau

avulsi dan ada kontaminasi

 Derajat III: luka lebar dan dan rusak hebat, atau hilangnya jaringan

disekitarnya, kontaminasi hebat.

 Derajat IIIA; tulang yang fraktur masih ditutupi oleh jaringan

lunak

 Derajat IIIB; terdapat periosteal stripping yang luas dan

penutupan luka dilakukan dengan flap lokal atau flap jauh

 Derajat IIIC; fraktur disertai dengan kerusakan pembuluh darah.

2. Berdasarkan Bentuk Patah Tulang

 Fraktur complete yaitu pemisahan tulang menjadi 2 fragmen

 Fraktur incomplete yaitu patah bagian dari tulang tanpa adanya

pemisahan.

 Impacted fraktur yaitu salah satu ujung tulang menancap ke tulang

didekatnya

3. Berdasarkan Garis Patahnya

 Transverse yaitu patah tulang pada posisi melintang.

 Fraktur baterfly adalah fraktur yang dengan 2 garis fraktur, dengan

ujung fraktur salah satu bertemu dan apabila bagian fraktur hilang

tidak akan menyebabkan shortening (pemendekan)

 Oblique yaitu garis patah miring

 Spiral yaitu garis patah melingkar tulang


 Fraktur comminate yaitu fraktur lebih dari 1 garis fraktur, fragmen tulang

patah menjadi beberapa bagian.

Gambar 5. Tipe fraktur

F. Penatalaksanaan

Metode pengobatan fraktur pada umumnya dibagi kedalam 1

 Konservatif

 Reduksi tertutup dengan fiksasi eksterna atau fiksasi perkutaneus dengan K-

wire

 Reduksi terbuka dan fiksasi interna atau fiksasi eksterna tulang Eksisi

fragmen tulang dengan pengganti dan protesis.

1. Penanganan Fraktur Non Bedah

Penanganan tanpa bedah dapat dilakukan :7

Gambar 6. Pengobatan traksi dan casting7


a) Traksi Tulang

Traksi tulang didasarkan pada berat badan untuk menahan tulang yang

patah dengan cara menaruh pin pada kaki yang patah.

b) Casting dan brancing

Casting dan brancing menahan tulang pada tempatnya sampai sembuh.

Namun, pada banyak kasus fraktur tidak kembali pada tempatnya

disebabkan adanya otot – otot yang menarik fragmen tulang. Hanya

fraktur yang terdiri dari dua bagian dan stabil yang dapat diobati dengan

cara seperti ini.

2. Penanganan Fraktur dengan Bedah

 External Fiksasi Sementara

Fiksasi eksternal. Dalam jenis operasi ini, pin atau sekrup logam

ditempatkan ke tulang di atas dan di bawah situs fraktur. Pin dan sekrup

melekat pada bar di luar kulit. Perangkat ini adalah bingkai penstabil

yang menahan tulang pada posisi yang tepat. Karena mereka mudah

digunakan, fiksator eksternal sering memakai ketika seorang pasien

memiliki beberapa luka dan belum siap untuk operasi yang lebih lama

untuk memperbaiki fraktur. Sebuah fixator eksternal memberikan

stabilitas yang baik dan sementara sampai pasien cukup sehat untuk

operasi terakhir.
Gambar 7. Pemasangan Eksternal Fiksasi Tibia dan Fibula
Gambar 2. X-Ray Genu
Dekstra
 Dekstra
Intramedullary Nailing

Intramedullary Nailing. Saat ini, metode yang paling ahli bedah

gunakan untuk mengobati fraktur poros tibia adalah nail intramedullar.

Selama prosedur ini, batang logam yang dirancang khusus dimasukkan

ke dalam saluran tibia. Batang melewati fraktur untuk mempertahankan

posisinya.

Gambar 8. Pemasangan Intramedullary NailingTibia dan Fibula


Gambar 2. X-Ray Genu
Dekstra Dekstra
 ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

Hingga abad terakhir, dokter mengandalkan gips dan splint untuk

mendukung dan menstabilkan tulang dari luar tubuh. Munculnya

prosedur bedah steril mengurangi risiko infeksi, memungkinkan dokter

untuk secara internal mengatur dan menstabilkan tulang yang retak.11,12

Fiksasi internal memungkinkan untuk dirawat di rumah sakit

lebih pendek, memungkinkan pasien untuk kembali ke fungsi

sebelumnya, dan mengurangi kejadian nonunion (penyembuhan yang

tidak tepat) dan malunion (penyembuhan dalam posisi yang tidak

benar) dari tulang yang patah.11,12

Implan yang digunakan untuk fiksasi internal terbuat dari

stainless steel dan titanium, yang tahan lama dan kuat. Jika sendi harus

diganti, bukannya tetap, implan ini juga bisa terbuat dari kobalt dan

krom. Implan yang cocok dengan tubuh dan jarang menyebabkan reaksi

alergi

Plate seperti splint internal yang menahan potongan tulang yang

patah bersama. Mereka melekat pada tulang dengan sekrup. Plat dapat

dibiarkan di tempat setelah penyembuhan selesai, atau mereka dapat

dilepas.

Sekrup digunakan untuk fiksasi internal lebih sering daripada

jenis implan lainnya. Meskipun sekrup adalah perangkat sederhana, ada

desain yang berbeda berdasarkan jenis fraktur dan bagaimana sekrup

akan digunakan. Sekrup datang dalam berbagai ukuran untuk


digunakan dengan tulang dengan ukuran berbeda. Sekrup dapat

digunakan sendiri untuk menahan patah tulang, serta dengan plat, nail

atau rods. Setelah tulang sembuh, sekrup mungkin dapat tanpa dibuka

ataupun dibuka. 8,9

Gambar 9. Pemasangan ORIF Tibia dan Fibula


Gambar 2. X-Ray Genu
Dekstra Dekstra
G. Prognosis10

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6

minggu), lansia (> 8 minggu).


BAB III

PEMBAHASAN

Pasien laki-laki berusia 23 tahun nyeri pada region cruris dekstra akibat

kecelakaan kerja. Fraktur merupakan suatu kondisi dimana terjadi diskontinuitas

tulang. Penyebab terbanyak fraktur adalah kecelakaan, baik itu kecelakaan kerja,

kecelakaan lalu lintas dan sebagainya. Menurut Depkes RI 2011, dari sekian banyak

kasus fraktur di indonesia, fraktur pada ekstremitas bawah akibat kecelakaan

memiliki prevalensi yang paling tinggi diantara fraktur lainnya yaitu sekitar 46,2%.

Pasien sedang berlayar menggunakan kapal kecil dan ingin berpindah ke

kapal besi yang lebih besar namun kaki kanannya tergelincir dan terjepit diantara

kedua kapal. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk,

gerakan puntir mendadak dan kontraksi otot yang ekstrim. Patah tulang

mempengaruhi jaringan sekitarnya mengakibatkan oedema jaringan lunak,

perdarahan keotot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf dan

pembuluh darah.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran komposmentis, sakit sedang,

gizi baik. Tanda-tanda vital dalam batas normal.. Status lokalis: regio femoralis

dekstra, inspeksi ditemukan deformitas (+), wound (+). Palpasi ditemuka nyeri

tekan (+). ROM: aktif dan pasif pada knee joint dan ankle joint sulit dievaluasi.

sensibilitas normal, teraba pulsasi A. Dorsalis pedis dekstra dan A. tibialis posterior

dekstra, CRT ≤ 2 detik. Pemeriksaan lab WBC: 11,83. Pemeriksaan radiologis: Foto

Cruris Dekstra AP/Lat fraktur segmental os Tibia et Fibula kanan 1/3 distal tak

tampak callus formation.


Berdasarkn teori pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada kasusu fraktur

meliputi tiga hal penting, yakni inspeksi/look: deformitas (angulasi, rotasi,

pemendekan, pemanjangan), bengkak. Palpasi/feel (nyeri tekan). Status neurologis

dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan palpasi pada daerah

ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan dibawah cedera,

daerah yang mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi Neurovaskularisasi bagian distal

fraktur meliputi : pulsasi aretri, warna kulit, pengembalian cairan kapler, sensasi.

Pemeriksaan gerakan / moving dinilai apakah adanya keterbatasan pada pergerakan

sendi yang berdekatan dengan lokasi fraktur.. Pada pemeriksaan penunjang yang

dianjurkan Foto anteroposterior (AP) dan lateral adalah hal standar yang paling

sering digunakan.

Pengobatan pada pasien ini terdiri dari dua macam yaitu non farmakologi dan

farmakologi. Non farmakologi dilakukan rest dengan mengurangi pergerakan kaki

yang sakit, imobilisasi dilakukan pemasangan elastis perban dan skin traksi. Elevasi

untuk menghindari komplikasi berupa compartemen syndrome, pemberian edukasi

penatalaksanaan selanjutnya dan komplikasi yang akan terjadi apabila tidak diobati

secara adekuat, kemudian pada pasien ini dilakukan terapi pembedahan berupa

pemasangan eksternal fiksasi. Untuk farmakologi diberikan IVFD, antibiotic,

analgesic, H2RA. Sesuai teori prinsip penanganan fraktur yaitu konservatif,

reduksi tertutup dengan fiksasi eksterna atau perkutaneus, reduksi terbuka dengan

fiksasi interna ataupun melakukan eksisi fragmen tulang dan pergantian dengan

protesis. Pada penatalaksanaan konservatif kita dalam melakukan dengan

immobilisasi contohnya pemasangan elastis perban, gips, dan skin traksi. Pada
penatalaksanaan reduksi tertutup eksterna dapat dilakukan dengan memasukkan K-

wire perkutaneus atau batang metal dengan membuat lubang kecil pada daerah

proksimal femur. ORIF (open Reduction Internal Fixtation) yaitu suatu tindakan

pembedahan dengan cara plate seperti splint internal yang menahan potongan

tulang yang patah bersama. Mereka melekat pada tulang dengan sekrup. Plat dapat

dibiarkan di tempat setelah penyembuhan selesai, atau mereka dapat dilepas.

Sekrup digunakan untuk fiksasi internal lebih sering daripada jenis implan lainnya.

Meskipun sekrup adalah perangkat sederhana, ada desain yang berbeda berdasarkan

jenis fraktur dan bagaimana sekrup akan digunakan. Sekrup datang dalam berbagai

ukuran untuk digunakan dengan tulang dengan ukuran berbeda. Munculnya

prosedur bedah steril mengurangi risiko infeksi, memungkinkan dokter untuk

secara internal mengatur dan menstabilkan tulang yang retak.


BAB IV

KESIMPULAN

1. Fraktur merupakan suatu kondisi dimana terjadi diskontinuitas tulang.

Penyebab terbanyak fraktur adalah kecelakaan, baik itu kecelakaan kerja,

kecelakaan lalu lintas dan sebagainya. Tetapi fraktur juga bisa terjadi akibat

faktor lain seperti proses degeneratif dan patologi

2. Fraktur dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti adanya kelainan

kongenital, infeksi pada tulang, neoplasma atau keganasan, trauma, dan proses

penuaan.

3. Diagnosis pada kasus-kasus fraktur ditegakkan melalui anamnesis yang terdiri

dari waktu kejadian, mekanisme trauma dan riwayat trauma, selanjutnya

melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh terhadap pasien, melakukan

pemeriksaan penunjang salah satunya adalah Foto anteroposterior (AP) dan

lateral yang merupakan golden standar pemeriksaan pada kasus-kasus yang

dicurigai fraktur.

4. Pengobatan pada pasien trauma ortopedy yaitu terdiri dari pengobatan

farmakologi dan non farmakologi. Pengobatan bedah terdiri dari medullary

nailing, pemasangan ORIF, dan pemasangan fiksasi eksternal yang sering

dipakai ketika seorang pasien memiliki beberapa luka dan belum siap untuk

operasi yang lebih lama untuk memperbaiki fraktur.