Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PERKEMBANGAN STATUS GIZI BAYI-BALITA


DI INDONESIA
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ilmu Gizi

Dosen :
Dra. Riszqie Aulia M. Kes

Disusun oleh:
Mafaza Nur A. 17511241005

Balqis Salitsa Yasmin 17511241010

Aji Nugroho 17511241024

Lutfi Cahyaningsih 17511241039

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BOGA


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK BOGA DAN BUSANA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
Ilmu Gizi tentang Perkembangan Status Gizi Bayi-Balita Di Indonesia
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam proses pembuatan penulis makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan baik dari materi maupun cara penulisannya.
Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan
pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh
karenanya, penulis dengan rendah hati dan tangan terbuka menerima
masukan,saran,dan usulan guna penyempurnaan makalah ini. Penulis berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Yogyakarta , 02 Oktober 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB I PENDAHULUAN ........................................... Error! Bookmark not defined.
A. Latar Belakang....................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 2
C. Tujuan .................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 3
A. Pengertian Stunting ............................................................................................ 3
B. Pentingnya Pemberian ASI Terhadap Gizi Bayi-Balita ..................................... 6
C. Status Perkembangan Gizi Bayi – balita Terkait Pemberian ASI di
Indonesia ................................................................................................................... 6
D. Upaya Pemerintah dalam Peningkatan Gizi Bayi-Balita ................................... 8
BAB III PENUTUP .................................................................................................... 12
A. Kesimpulan ....................................................................................................... 12
B. Saran ................................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 13

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di negara berkembang, kesakitan dan kematian pada anak balita banyak


dipengaruhi oleh status gizi (Supariasa, 2001). Status gizi balita perlu
dipertahankan dalam status gizi baik, dengan cara memberikan makanan
bergizi seimbang yang sangat penting untuk pertumbuhan (Paath, 2004).
Perkembangan masalah gizi di Indonesia semakin kompleks saat ini,
salah satunya yaitu mengenai persoalan Balita Pendek (stunting). Stunting
dapat di diagnosis melalui indeks antropometri tinggi badan menurut umur
yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca
persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi
yang tidak memadai. Stunting merupakan pertumbuhan linear yang gagal untuk
mencapai potensi genetik sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan
penyakit infeksi (ACC/SCN, 2000).
Secara umum gizi buruk disebabkan karena asupan makanan yang tidak
mencukupi dan penyakit infeksi. Terdapat dua kelompok utama zat gizi yaitu
zat gizi makro dan zat gizi mikro (Admin, 2008). Zat gizi makro merupakan
zat gizi yang menyediakan energi bagi tubuh dan diperlukan dalam
pertumbuhan, termasuk di dalamnya adalah karbohidrat, protein, dan lemak.
Sedangkan zat gizi mikro merupakan zat gizi yang diperlukan untuk
menjalankan fungsi tubuh lainnya, misalnya dalam memproduksi sel darah
merah, tubuh memerlukan zat besi. Termasuk di dalamnya adalah vitamin dan
mineral.
Di Indonesia, diperkirakan 7,8 juta anak mengalami stunting, data ini
berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNICEF dan memposisikan
Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara dengan jumlah anak yang mengalami
stunting tinggi (UNICEF, 2007). Hasil Riskesdas 2010, secara nasional
prevalensi kependekan pada anak umur 2-5 tahun di Indonesia adalah 35,6 %
yang terdiri dari 15,1 % sangat pendek dan 20 % pendek.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian stunting ?
2. Apa pentingnya pemberian ASI terhadap gizi bayi-balita?
3. Bagaimana status perkembangan gizi bayi-balita terkait pemberian ASI di
Indonesia ?
4. Apa saja upaya pemerintah dalam peningkatan gizi bayi – balita ?

C. Tujuan
1. Mengetahui stunting dan faktor penyebab stunting.
2. Mengetahui dan memahami pentingnya pemberian ASI pada bayi-balita
terhadap gizi bayi-balita.
3. Mengetahui status perkembangan gizi bayi-balita terkait pemberian ASI di
Indonesia.
4. Mengetahui upaya pemerintah dalam peningkatan gizi bayi – balita.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Balita Pendek (Stunting)


Pembangunan kesehatan dalam periode tahun 2015-2019 difokuskan
pada empat program prioritas yaitu penurunan angka kematian ibu dan bayi,
penurunan prevalensi balita pendek (stunting), pengendalian penyakit menular
dan pengendalian penyakit tidak menular. Upaya peningkatan status gizi
masyarakat termasuk penurunan prevalensi balita pendek menjadi salah satu
prioritas pembangunan nasional yang tercantum di dalam sasaran pokok
Rencana Pembangunan jangka Menengah Tahun 2015 – 2019. Target
penurunan prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak baduta
(dibawah 2 tahun) adalah menjadi 28% (RPJMN, 2015 – 2019). Oleh
karenanya Infodatin yang disusun dalam rangka Hari Anak – anak Balita
tanggal 8 April ini mengangkat data yang terkait dengan upaya penurunan
prevalensi balita pendek.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status
Gizi Anak, pengertian pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang
didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi
Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted
(pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Balita pendek (stunting) dapat
diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang atau tinggi badannya, lalu
dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada di bawah normal. Balita
pendek adalah balita dengan status gizi yang berdasarkan panjang atau tinggi
badan menurut umurnya bila dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS
(Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005, nilai z-scorenya kurang dari
-2SD dan dikategorikan sangat pendek jika nilai z-scorenya kurang dari -3SD.

Masalah balita pendek menggambarkan adanya masalah gizi kronis,


dipengaruhi dari kondisi ibu/calon ibu, masa janin, dan masa bayi/balita,

3
termasuk penyakit yang diderita selama masa balita. Seperti masalah gizi
lainnya, tidak hanya terkait masalah kesehatan, namun juga dipengaruhi
berbagai kondisi lain yang secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan.
Upaya intervensi gizi spesifik untuk balita pendek difokuskan pada
kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu Ibu Hamil, Ibu
Menyusui, dan Anak 0-23 bulan, karena penanggulangan balita pendek yang
paling efektif dilakukan pada 1.000 HPK. Periode 1.000 HPK meliputi yang
270 hari selama kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi yang dilahirkan
telah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode yang menentukan kualitas
kehidupan. Oleh karena itu periode ini ada yang menyebutnya sebagai "periode
emas", "periode kritis", dan Bank Dunia (2006) menyebutnya sebagai "window
of opportunity". Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada
periode tersebut, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan
otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme
dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat
ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar,
menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk
munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh
darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang
tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.
Upaya intervensi tersebut meliputi:
1. Pada Ibu hamil
Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik dalam
mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik,
sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah
mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), maka perlu diberikan makanan
tambahan kepada ibu hamil tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat
tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu
harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.

4
2. Pada saat bayi lahir
Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir
melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi sampai dengan usia 6
bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI Eksklusif)
3. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI
(MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun
atau lebih. Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, imunisasi dasar
lengkap.
4. Memantau pertumbuhan Balita di posyandu merupakan upaya yang sangat
strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan
Walaupun remaja putri secara eksplisit tidak disebutkan dalam 1.000
HPK, namun status gizi remaja putri atau pra nikah memiliki kontribusi
besar pada kesehatan dan keselamatan kehamilan dan kelahiran, apabila
remaja putri menjadi ibu.
5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap
rumah tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan
fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. PHBS menurunkan
kejadian sakit terutama penyakit infeksi yang dapat membuat energi untuk
pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi,
gizi sulit diserap oleh tubuh dan terhambatnya pertumbuhan.

Stunting tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja tetapi disebabkan
oleh banyak faktor, dimana faktor-faktor tersebut saling berhubungan satu
dengan yang lainnya.
Ada beberapa faktor utama penyebab stunting (UNICEF, 2007) yaitu :
a. Asupan makan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi
dalam makanan yaitu karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan
air)
b. Asupan ASI ekslusif kurang
c. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR)
d. Riwayat penyakit (UNICEF, 2007).

5
B. Pentingnya Pemberian ASI (Air Susu Ibu) Terhadap Gizi Bayi-Balita
Air Susu Ibu merupakan sumber gizi yang paling sempurna, baik
kualitas maupun kuantitasnya dengan komposisi yang seimbang dan
disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI bukan sekedar sebagai
makanan melainkan juga sebagai suatu cairan yang terdiri dari sel-sel yang
hidup (seperti darah). ASI mengandung sel darah putih, antibodi, hormon,
faktor-faktor pertumbuhan, enzim, serta zat yang dapat membunuh bakteri dan
virus. Menggunakan tata laksana menyusui yang benar, ASI sebagai makanan
tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh bayi normal sampai usia 6
bulan (Roesli, 2005).
ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan tanpa makanan tambahan
sekurang-kurangnya sampai usia 4 bulan dan jika mungkin sampai usia 6
bulan. Pemberian ASI eksklusif sejak lahir pada anak akan mempengaruhi
masukan zat gizi anak sehingga pertumbuhan anak juga akan berpengaruh.
Dengan pemberian MP-ASI (Makanan Pengganti-ASI) dini maka konsumsi
energi dan zat gizi dari ASI akan menurun yang berdampak pada kegagalan
pertumbuhan bayi dan anak (Fikawati et al., 2015). Status gizi balita
merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orangtua. Perlunya
perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa
kurang gizi yang terjadi pada usia emas ini bersifat irreversible (tidak dapat
pulih) (Marimbi, 2010).

C. Status Perkembangan Gizi Bayi-Balita Terkait Pemberian ASI di


Indonesia
Gizi merupakan suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan serta menghasilkan
energi, untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal
dari organ-organ (Proverawati A, 2009).
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat
kesehatan antara pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Tingkat
keadaan gizi normal tercapai bila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi. Salah

6
satu upaya yang ditempuh untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
yaitu dengan peningkatan status gizi masyarakat. Penilaian status gizi dapat
dilakukan secara langsung dan tidak langsung, salah satunya pengukuran
antropometri (Budiyanto, 2002).
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan
salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi
yang baik bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga
terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat
diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif
maupun kualitatif (Supariasa, 2001).
Status gizi erat kaitannya dengan pertumbuhan sehingga untuk
mengetahui pertumbuhan bayi, perlu memperhatikan status gizinya. Menurut
pendapat Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K),
status gizi Indonesia saat ini lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan
meningkatnya cakupan ASI Eksklusif dan menurunnya angka Balita pendek
(stunting) di Indonesia.
Pemberian ASI eksklusif untuk bayi yang berusia kurang dari 6 bulan
secara global dilaporkan kurang dari 40%. Secara nasional cakupan ASI untuk
bayi sampai umur 6 bulan mengalami fluktuasi, hasil Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan cakupan ASI eksklusif bayi 0-6
bulan pada tahun 2002 sebesar 40%, tahun 2007 sebesar 32%, dan tahun 2012
sebesar 42% (Roesli, 2005; Depkes, 2014).
Namun, sekarang dunia kini mengakui bahwa Lancet Breastfeeding
Series 2016 menyebutkan ASI Eksklusif kita meningkat dari sebelumnya 38%
(Riskesdas, 2013) naik menjadi 65%.
Sementara itu, keberhasilan lainnya adalah Indonesia berhasil
menurunkan angka stunting yang sebelumnya mencapai 37,2% (Riskesdas,
2013) menjadi 29,0% berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi di 496
Kabupaten/Kota dengan melibatkan 165.000 balita sebagai sampelnya. Hasil
ini diperkuat juga dengan data UNICEF yang melakukan intervensi selama tiga

7
tahun sejak 2011-2014 di tiga Kabupaten di Indonesia (Sikka, Jayawijaya,
Klaten) dan berhasil menurunkan angka stunting sebesar 6%.
Perlu diketahui, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang
disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat
pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Anak dengan
stunting memiliki kelemahan dan berkorelasi terhadap : IQ yang rendah, tinggi
badan dan berat badan tidak sesuai grafik perkembangan, serta rentan terhadap
penyakit. Oleh karena itu, masyarakat utamanya para remaja harus mengerti
dan memahami bagaimana merencanakan keluarga, utamanya mengenai
nutrisi. Bagaimana kesiapannya untuk menikah, hamil dan memiliki anak, serta
bagaimana agar dapat menjaga kecukupan nutrisi anak tersebut dan dirinya
sendiri.

D. Upaya Pemerintah Dalam Peningkatan Gizi Bayi-Balita


Upaya perbaikan gizi sebaiknya dilakukan melalui pendekatan
continuum of care dengan fokus yang diutamakan adalah 1000 hari pertama
kehidupan, yaitu mulai dari masa kehamilan sampai anak berumur 2 tahun.
Pemerintah telah mengupayakan penanggulangan masalah gizi dengan
mengembangkan suatu program yaitu usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK).
Kegiatan utama UPGK adalah penyuluhan gizi melalui pemberdayaan keluarga
dan masyarakat .
Ketiga masalah tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan,
pengetahuan, dan keterampilan keluarga. Pokok permasalahan yang
menyebabkan kurang gizi pada balita adalah kurangnya pemberdayaan wanita
dalam keluarga dan kurangnya pemanfaatana sumberdaya masyarakat
berkaitan dengan faktor penyebab langsung dan tidak langsung (Azwar A,
2004). Kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan kesehatan tentang
KADARZI akan meningkatkan pengetahuan dan peran serta ibu tentang
perilaku apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan gizi balitanya. Ibu
akan dapat meningkatkan gizi balita dan keluarganya dengan berperilaku sadar
gizi, antara lain; memantau berat badan balita secara teratur setiap bulan ke
Posyandu, mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam, hanya

8
mengkonsumsi garam beryodium, memberikan hanya Asi saja kepada bayi
sampai usia 6 bulan, serta mendapatkan dan memberikan makanan tambahan
bagi balitanya.

Kegiatan penyuluhan ini juga dilakukan untuk membantu mengatasi


masalah gizi makro. Strategi yang dilakukan untuk mengatasi masalah gizi
makro adalah melalui pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan dan gizi,
subsidi loangsung berupa dana untuk pembelian makanan tambahan dan
penyuluhan pada ibu balita gizi buruk dan ibu hamil yang mengalami kurang
gizi kronis (Depkes RI, 2006).

Di samping upaya tersebut diatas, Pemerintah juga melakukan


sosialisasi perbaikan pola asuh pemeliharaan balita, seperti promosi pemberian
ASI secara eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan dan rujukan dini kasus gizi
kurang. Karena sampai saat ini perilaku ibu dalam menyusui secara eksklusif
masih rendah yaitu baru mencapai 39% dari seluruh ibu yang menyusui bayi 0
– 6 bulan. Hal tersebut merupakan penyebab tak langsung dari masalah gizi
pada anak balita.
Menurut WHO, cara pemulihan gizi buruk yang paling ideal adalah
dengan rawat inap di rumah sakit, tetapi pada kenyataannya hanya sedikit anak
dengan gizi buruk yang di rawat di rumah sakit, karena berbagai alasan. Salah
satu contohnya dari keluarga yang tidak mampu, karena rawat inap
memerlukan biaya yang besar dan dapat mengganggu sosial ekonomi sehari-
hari. Alternatif untuk memecahkan masalah tersebut dengan melakukan
penatalaksanaan balita gizi buruk di posyandu dengan koordinasi penuh dari
puskesmas. Oleh karena itu Pemerintah membentuk Tim Asuhan Gizi yang
terdiri dari dokter, perawat, bidan, ahli gizi, serta dibantu oleh tenaga kesehatan
yang lain. Diharapkan dapat memberikan penanganan yang cepat dantepat pada
kasus gizi buruk baik di tingkat puskesmas maupun di rumah sakit, untuk
membantu pemulihan kasus gizi buruk pada anak balita.
Bidan sebagai tenaga kesehatan harus selalu memberikan konseling dan
penyuluhan tentang pentingnya pemberian gizi yang tepat sesuai dengan usia

9
dan perkembangannya. Konseling tentang gizi balita bisa dilakukan ketika
posyandu diadakan, ketika ibu balita berkunjung ke bidan desa untuk
menggunakan KB. Disamping itu hendaknya tenaga kesehatan selalu
memberikan penyadaran tentang pentingnya pemberian nutrisi tepat untuk
balitanya. Hal itu bisa dilakukan melalui penyuluhan rutin, penyebaran leaflet
dan pemasangan spanduk yang berhubungan dengan pemenuhan asupan
nutrisi. Kegiatan ini diupayakan dilakukan secara berkala dan terus menerus
agar ibu termotivasi untuk memberikan makanan tambahan sesuai dengan
kebutuhan dan jadwal pemberian makanan .

Artikel mengenai peningkatan gizi bayi – balita di Indonesia :


Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla punya banyak pekerjaan rumah
untuk mengentaskan persoalan kesehatan dan gizi masyarakat. Sebab,
persoalan ini akan berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia.

Dalam puncak peringatan Hari Gizi Nasional ke-55, sejumlah


\kementerian dan lembaga pemerintah mulai memetakan persoalan kesehatan
dan gizi masyarakat. Sejumlah program klasik seperti imunisasi, gerakan
seribu hari kehidupan pertama sampai mendorong ASI ekslusif mulai digeber
lagi.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN 2014-2019),


sejumlah target ambisius disusun. Di situ, pemerintah menargetkan menekan
angka kematian ibu per 100 ribu kelahiran dari 346 menjadi 306 pada 2019.
Lalu, angka kematian bayi per 100 ribu kelahiran dari 32 menjadi 24 pada
2019.

Pemerintah juga punya target menurunkan prevalensi anemia ibu hamil


dari 37,1 persen menjadi 28 persen. Sedangkan bayi berat lahir rendah akan
ditekan dari 10,2 persen menjadi 8 persen. Kemudian, meningkatkan bayi
mendapatkan ASI ekslusif dari 41,5 persen menjadi 60 persen.

“Pemerintah juga berkomitmen menurunkan prevalensi kekurangan gizi


pada balita dari 19,6 persen menjadi 17 persen pada 2019 mendatang.
Mengurangi angka kurus dan sangat kurus pada balita sampai 9,5 persen dari

10
tahun 2014 sebesar 12 persen. Terakhir, menurunkan prevalensi stunting
(tubuh pendek) dari 32,9 persen menjadi 28 persen,” kata Menteri Kesehatan,
Nila Farid Moeloek di Jakarta, awal pekan lalu.

Nila menambahkan, tahun ini pemerintah akan fokus pada penurunan


angka stunting, balita kurus, dan gencar sosialisasi ASI ekslusif. “Strategi
percepatan perbaikan gizi tahap awal adalah membangun komitmen dan
kerjasama antara pemangku kepentingan,” katanya.

Para pemangku kepentingan yang ikut berkontribusi dalam percepatan


perbaikan kesehatan dan gizi di antaranya pemerintah daerah sebagai
fasilitator. Lalu, dunia usaha untuk mengembangkan nilai nutrisi dalam produk,
dan organisasi masyarakat sebagai analisis sekaligus pelaksana di tingkat
masyarakat. Sayangnya, kementerian dan lembaga pemerintah selama ini
masih berjalan sendiri-sendiri sehingga menghambat percepatan perbaikan
kesehatan dan gizi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan


Puan Maharani mengatakan, penanganan kesehatan dan gizi yang terpisah-
pisah jadi persoalan di pemerintahan terdahulu. “Hari ini Pemerintahan Jokowi
menginginkan semua lembaga terkait punya satu visi. Sehingga tidak sendiri-
sendiri jalannya dan keberlanjutan,” katanya.

Ke depan, seluruh program terkait penanganan kesehatan dan gizi akan


berada di bawah koordinasi Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional (Bappenas). Pendataan termasuk konsep dan anggaran melalui pintu
Bappenas.

“Itu yang mengatur dilakukan satu pintu di Bappenas. Kemudian


kordinasikan dengan kementerian terkait. Semua program itu berbasis dengan
RPJMN,” lanjut Puan.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Indonesia memiliki berbagai macam masalah dalam perkembangan
gizi seperti stunting atau balita pendek, pemberian ASI, dan berbagai
kendala lainnya yang mengancam keselamatan dan kesehatan anak usia
bayi dan balita. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya upaya
pencegahan dari pemerintah maupun masyarakat seperti pemberian
penyuluhan akan pentingnya gizi dan sosialisasi mengenai dampak negatif
kurang gizi bagi mmasyarakat.

B. Saran
1. Pemerintah perlu gencar dalam melakukan perbaikan gizi pada bayi
dan balita
2. Pemerintah perlu meningkatkan mutu pangan pada masyarakat
khusunya bagi bayi dan balita agar berbagai masalah gizi bisa dicegah.
3. Pemerataan program bulan vitamin A di Puskesmas dan Posyandu di
seluruh Indonesia.
4. Pemberian penyuluhan kesehatan pada masa kehamilan bagi ibu hamil.
5. Meningkatkan kinerja program gizi dengan memperbaiki manajemen
perencanaan, pengadaan, distribusi, dan pengawasan bantuan 20
keranga kebijakan 1000 hari pertama kehidupan suplemen tablet zat
besi dan pemeberian makan tambahan.

12
DAFTAR PUSTAKA

http://www.varia.id/2015/02/11/upaya-pemerintah-percepat-perbaikan-kesehatan-dan-
gizi-masyarakat/#ixzz4uUz0Xi00

http://adisubagio92.blogspot.co.id/2015/01/upaya-peningkatan-status-gizi-
balita.html
Infodatin, Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI ISSN 2442-
7659

13