Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KELOMPOK 7

SEJARAH MASUKNYA ISLAM di INDONESIA


Makalah ini disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Islam
Dosen Pengampu : Dr.Desmadi Saharuddin, MA

Disusun Oleh
Waldatun Thoyyiban (11180860000014)
Rihadatul Aisy Kamilah (11180860000018)
Muhammad Bilal Fadila (11180860000082)

JURUSAN EKONOMI SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barokatuh


Puji syukur kehadirat Allah Subhana Wa Ta’ala Karena
berkat rahmat dan karunianya kita masih dapat merasakan nikmat
iman, Islam, dan Ihsan, serta kesehatan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas penulisan makalah tentang “Sejarah
Masuknya Islam di Indonesia” tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam tak lupa pula kita hanturkan kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallahu ’Alaihi Wassalam yang
telah menyampaikan petunjuk yang benar untuk kita semua yakni
syariat agama Islam yang sempurna dan merupakan satu-satunya
karunia yang paling besar bagi seluruh alam semesta.
Sekaligus pula penulis menyampaikan rasa terimakasih
kepada Bapak Dr.Desmadi Saharuddin, MA. Selaku dosen
pengampu mata kuliah Studi Islam 2 yang telah menyerahkan
kepercayaannya kepada penulis guna menyelesaikan makalah ini.
Penulis berharap dengan sungguh-sungguh agar makalah ini
dapat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan sekaligus
wawasan terkait sejarahnya masuknya Islam di Indonesia. Selain
itu, kami sadar bahwa pada makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca sekalian.

Jakarta, 07 April 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................. 2
1.3 Tujuan ................................................................................ 2
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Teori-Teori Proses Masuknya Islam di Indonesia ............. 3
2.2 Saluran-Saluran Penyebaran Islam di Indonesia ............... 7
2.3 Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Proses Penyebaran
Islam di Indonesia ............................................................. 10
2.4 Pengaruh Islam di Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa,
dan Bernegara .................................................................... 18
BAB III : PENUTUP
3.1 Kesimpulan ........................................................................ 20
3.2 Saran................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Negara Indonesia telah lama dikenal sebagai negara dengan jumlah
muslim terbanyak di dunia. Hal tersebut menjadi bukti bahwa proses
islamisasi di Indonesia berhasil. Namun, keberhasilan proses islamisasi di
Indonesia tidaklah dicapai dalam waktu yang singkat. Tetapi melalui
serangkaian proses dan rintangan yang panjang.
Kedatangan agama Islam di Indonesia juga diwarnai dengan pro
dan kontra yang terjadi di masyarakat. Masyarakat Indonesia yang saat itu
merupakan penganut ajaran hindu-budha sebagian menolak kedatangan
Islam. Namun, di sisi lain kedatangan Islam memberikan dampak positif
bagi Indonesia, terutama dalam bidang perdagangan.
Kedatangan Islam di Indonesia dianggap sebagai titik terang
karena dalam ajaran Islam sangat mendukung intelektualisme. Selain itu,
para tokoh yang berperan dalam proses penyebaran agama Islam di
Indonesia saat itu juga menggunakan metode yang berbeda-beda yang
mampu menarik perhatian masyarakat. Oleh karena itu, penulis tertarik
untuk menelaah lebih lanjut mengenai sejarah masuknya agama Islam di
Indonesia. Metode yang digunakan oleh penulis dalam menyusun
makalah ini adalah analisis sejarah yang bersumber dari berbagai artikel,
jurnal, dan buku.

2. Rumusan Masalah
1. Apa saja berbagai teori yang menjelaskan proses masuknya Islam
di Indonesia?
2. Apa saja berbagai saluran yang mendukung proses penyebaran
agama Islam di Indonesia?

1
3. Siapa saja tokoh-tokoh yang berperan dalam proses penyebaran
agama Islam di Indonesia?
4. Bagaimana pengaruh agama Islam dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara?
3. Tujuan
1. Untuk mengetahui berbagai teori yang menjelaskan mengenai
prosesnya masuknya Islam di Indonesia
2. Untuk mengetahu berbagai saluran yang mendukung proses
penyebaran agama Islam di Indonesia
3. Untuk mengetahui tokoh-rokoh yang berperan dalam proses
penyebaran agama Islam di Indonesia
4. Untuk mengetahui pengaruh agama Islam dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori tentang proses masuknya Islam di Indonesia

Proses masuknya Islam di Nusantara tidak lepas dari kegiatan


perdagangan. Kepulauan nusantara yang terkenal berbagai hasil buminya,
menjadi daya tarik bagi para pedagang dari berbagai bangsa, seperti Cina,
India, Arab, Persia. Mereka berdatangan ke kepulauan nusantara untuk
berdagang. Kedatangan mereka melalui selat malaka yang lambat laun
tumbuh dan berkembang sebagai salah satu jalur perdagangan
internasional, melalui selat malaka para pedagang mengunjungi pusat-
pusat perdagangan. Antara lain di pulau Jawa, misalnya Jepara , Tuban,
Gresik. Dari sana pelayan dilanjutkan seperti ke Banjarmasin, Goa,
Ambon, dan Ternate yang dikenal sebagai pusat penghasil rempah-
rempah. Melalui hubungan dagang itulah, pedagang Persia, Arab, Gujarat
yang telah memeluk agama Islam dapat memperkenalkan agama dan
budaya Islam kepada penduduk Nusantara. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa masuknya Islam di Nusantara berlangsung secara
damai melalu hubungan perdagangan.
Tidak ada yang benar – benar tahu kapan dan darimana
tepatnya Islam masuk ke Indonesia, oleh karena itu para ahli membuat
teori-teori yang menjelaskan tentang proses masuknya islam di Indonesia
yang didukung dengan bukti-bukti yang mereka temukan di lapangan ,
teori – teori tersebut adalah teori Gujarat, teori Bengal , teori Mekkah, dan
teori Persia.
a) Teori Gujarat
Penggagas dan pencetus utama teori India adalah Pijnappel,
seorang Profesor Bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Dia
mengatakan bahwa Islam datang ke Indonesia (Nusantara) bukan berasal
dari Arab, tetapi berasal dari India, terutama dari pantai barat, yaitu
daerah Gujarat dan Malabar. Sebelum Islam samapai ke Indonesia,
banyak orang Arab bermazhab Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di
wilayah India. Dari sana, selanjutnya Islam menyebar ke Indonesia
(Nusantara).
Teori tersebut kemudian direvisi oleh Cristian Snouck Hurgronje,
menurutnya Islam yang tersebar di Indonesia berasal dari wilayah
Malabar dan Coromandel, dua kota yang berada di India selatan, setelah
Islam berpijak kuat di wilayah tersebut. Penduduk yang berasal Daccan
bertindak sebagai perantara dagang antara negeri-negeri Islam dengan
penduduk Indonesia. Selanjutnya, orang-orang dari Daccan dalam jumlah
besar menetap di kota-kota pelabuhan di kepulauan Indonesia untuk
menyemaikan benih-benih Islam tersebut. Baru setelah itu, datanglah

3
orang-orang Arab yang melanjutkan Islamisasi di Indonesia. Orang-orang
ini menemukan kesempatan baik untuk menunjukkan keahlian
organisasinya sehingga mereka banyak yang bertindak selaku ulama,
penguasa-penguasa agama dan sultan yang sering bertindak sebagai
penegak pembentukan negeri-negeri baru.
Alasan Snouck Hurgronje bahwa Islam di Indonesia berasal dari
Daccan adalah adanya kesamaan tentang paham Syafi’iyah yang kini
masih berlaku di Pantai Coromandel. Demikian pula pengaruh Syiah yang
masih meninggalkan sedikit jejaknya di Jawa dan Sumatera, yang dulunya
mempunyai pengaruh kuat sebagaimana kini berlaku di India. Snouck
Hurgronje juga menyebutkan bahwa abad ke 12 sebagai periode yang
paling mungkin dari awal penyebaran Islam di Nusantara.
Pendapat bahwa Islam di Indonesia berasal dari Anak Benua India
juga dikemukakan oleh J.P. Moquette yang berkesimpulan bahwa tempat
asal Islam di Nusantara adalah Gujarat, India. Pendapat ini didasarkan
pada pengamatan Moquette terhadap bentuk batu nisan di Pasai yang
berangka 17 Dzulhijjah 831 H/27 September 1297 M. Dia jugamengamati
bentuk batu nisan pada makam Maulana Malik Ibrahim (w.822 H/1419 M)
di Gresik, Jawa Timur. Ternyata bentuk batu nisan di kedua makam
tersebut sama dengan batu nisan di Cambay, Gujarat, sebelah selatan
India. Dari fakta ini, Moquette menginterpretasikan bahwa batu nisan di
Gujarat dihasilkan bukan hanya untuk pasar lokal, tetepi juga untuk ekspor
ke kawasan lain, termasuk Jawa dan Sumatera. Hubungan bisnis ini
memungkinkan orang-orang Nusantara mengambil Islam dari Gujarat.
Kesimpulan Moquette tersebut dibantah oleh S.Q. Fatimi yang
sama-sama mengikuti ”teori batu nisan”. Menurut Fatimi, batu nisan
Malik al-Shaleh di Pasai berbeda jauh dengan batu nisan yang terdapat di
Gujarat dan batu-batu nisan lainnya di Nusantara. Fatimi berpendapat
bahwa bentuk dan gaya batu nisan itu justru mirip dengan batu nisan yang
terdapat di Bengal (kini Bangladesh). Ini didukung oleh batu nisan yang
terdapat di makam Siti Fatimah binti Maimun (berangka tahun 475 H/1082
M) yang ditemukan di Leran, Jawa Timur. Karenanya, Fatimi
menyimpulkan bahwa semua batu nisan itu pasti diimpor dari Bengal.
Inilah yang menjadi alasan Fatimi bahwa asal-usul Islam di Kepulauan
Melayu-Indonesia berasal dari Bengal.
Tampaknya, teori Gujarat dari Moquette terlalu kuat untuk
digoyang oleh teori Bengal dari Fatimi. Beberapa sarjana lain, seperti R.A.
Kern, R.O Winstedt, G.H. Bousquet, B.H.M. Vlekke, J. Gonda, B.J.O.
Schrieke, dan D.G.E. Hall mendukung pendapat Moquette. William
Winstedt, misalnya mengemukakan tentang bentuk dan gaya batu nisan di
Bruas, sebuah kerajaan kuno Melayu di Perak, semenanjung Malaya yang
sama dengan bentuk dan gaya batu nisan di Gujarat. Karena semua batu
nisan di Pasai, Gresik dan Bruas diimpor dari Gujarat, Winstedt pun
menyimpulkan bahwa Islam pastilah dari sana. Schrieke, seorang sosiolog
Belanda juga mendukung teori tersebut dengan menekankan peranan
penting yang dimainkan oleh para pedagang muslim Gujarat dalam

4
perdagangan di Nusantara dan sumbangan mereka terhadap penyebaran
Islam.
Teori Gujarat sebagai tempat asal Islam di Nusantara dipandang
mempunyai kelemahan oleh Marisson. Alasannya, meskipun batu-batu
nisan tersebut berasal dari Gujarat atau Bengal, bukan berarti Islam berasal
dari sana. Dikatakannya, ketika Islamisasi Samudra-Pasai yang raja
pertamanya wafat 698 H/1297 M, Gujarat masih merupakan sebuah
kerajaan bercorak Hindu. Baru pada satu tahun berikutnya, Cambay,
Gujarat ditaklukkan oleh kekuasaan Muslim. Ini artinya, jika Islam di
Indonesia disebarkan oleh orang-orang Gujarat pastilah Islam telahmenjadi
agama yang mapan sebelum tahun 698 H/1297 M. Atas dasar tersebut,
Marisson menyimpulkan bahwa Islam di Indonesia bukan berasal dari
Gujarat, tetapi dibawa para pendakwah muslim dari Pantai Coromandel
pada akhir abad ke-13. Pandangan Marisson tersebut mendukung pendapat
yang dipegang oleh Thomas W. Arnold, yang mengatakan bahwa Islam
dibawa ke Nusantara antara lain berasal dari Coromandel dan Malabar.
Teori ini didasarkan pada argumen adanya persamaan mazhab fiqih di
kedua wilayah terebut. Mazhab Syafi’i yang mayoritas diikuti oleh
mayoritas Muslim di Nusantara merupakan mazhab yang dominan di
wilayah Coromandel dan Malabar. Menurut Arnold, para pedagang
Muslim dari Coromandel dan Malabar mempunyai peranan penting dalam
perdagangan antara India dan Nusantara. Kehadiran sejumlah besar
pedagang ini di pelabuhan-pelabuhan Indonesia tidak hanya berdagang,
tetapi juga menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat.
b) Teori Arab (Mekkah)
Teori yang dikemukakan oleh Marrison mendukung pendapat yang
disampaikan oleh Arnold yang menulis jauh sebelum Marrison. Arnold
berpendapat bahwa Islam dibawa ke Nusantara antara lain juga dari
Coromandel dan Malabar. Pendapatnya ini didasarkan pada persamaan
madzhab fiqh di antara kedua wilayah tersebut. Mayoritas muslim di
Nusantara adalah pengikut madzhab Syafi’i, yang juga cukup dominan di
wilayah Coromandel dan Malabar. Menurut Arnold, para pedagang dari
Coromandel dan Malabar mempunyai peranan penting dalam
perdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar pedagang ini
mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Melayu-Indonesia dimana
mereka ternyata tidak hanya terlibat dalam perdagangan, tetapi juga dalam
penyebaran Islam.
Akan tetapi, menurut Arnold, Coromandel dan Malabar bukan
satu-satunya tempat asal Islam dibawa, tetapi juga dari Arabia. Dalam
pandangannya, para pedagang Arab juga menyebarkan Islam ketika
mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad awal Hijriah
atau abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Asumsi bahwa pedagang Arab turut serta
dalam penyebaran Islam mempertimbangkan fakta yang disebutkan
sumber-sumber Cina, bahwa menjelang akhir perempat abad ketiga abad
ke-7 seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab
Muslim di pesisir pantai Sumatera. Sebagian orang-orang Arab ini

5
dilaporkan melakukan perkawinan dengan wanita lokal, sehingga
membentuk nekleus sebuah komunitas Muslim yang terdiri dari orang-
orang Arab pendatang dan penduduk lokal. Menurut Arnold, anggota-
anggota komunitas Muslim ini juga melakukan kegiatan-kegiatan
penyebaran Islam.
Pendapat bahwa Islam juga dibawa langsung oleh orang Arab
diakui oleh Crawfurd, walaupun ia menyarankan bahwa interaksi
penduduk Nusantara dengan kaum muslim yang berasal dari pantai timur
India juga merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam di
Nusantara.
Sejumlah ahli Indonesia dan Malaysia mendukung teori Arab ini
dalam beberapa kali seminar yang digelar tentang Kedatangan Islam ke
Indonesia yang diadakan pada tahu 1963 dan 1978, disimpulkan bahwa
Islam yang datang ke Indonesua langsung dari Arab, bukan dari India.
Islam datang pertama kali ke Indonesia pada abad pertama Hijriah
atauabad ke- 7 Masehi, bukan abad ke- 12 atau ke- 13 Masehi.
Uka Tjandrasasmita, pakar Sejarah dan Arkeolog Islam,
berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke- 7 atau ke- 8
Masehi. Pada abad-abad ini, dimungkinkan orang-orang Islam dari Arab,
Persia dan India sudah banyak yang berhubungan dengan orang-orang di
Asia Tenggara dan Asia Timur. Kemajuan perhubungan dan pelayaran
pada abad-abad tersebut sangat mungkin sebagai akibat persaingan di
antara kerajaan-kerajaan besar ketika itu, yakni kerajaan Bani Umayyah di
Asia Barat, kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara, dan kekuasaan China di
bawah dinasti T’ang di Asia Timur.
Pendukung teori Arab lainnya adalah Syed Muhammad Naquib
alAttas, seorang pakar Kesusasteraan Melayu dari Universiti Kebangsaan
Malaysia kelahiran Indonesia. Dia mengatakan bahwa bukti paling
penting yang dapat dipelajari ketika mendiskusikan kedatangan Islam di
kepulauan Melayu-Indonesia adalah karakteristik internal Islam itu sendiri
di kawasan ini. Dia menggagas suatu hal yang disebut sebagai teori umum
Islamisai Kepulauan Melayu-Indonesia yang umumnya didasarkan pada
sejarah literatur Islam Melayu dan sejarah pandangan dunia (worldview)
Melayu-Indonesia, sebagaimana yang dapat dilihat melalui perubahan
konsep dan istilah kunci dalam literatur Melayu (historiografi tradisional
lokal) pada abad ke-10 sampai ke-11 Hijriyah, atau abad ke-16 sampai
abad ke-17 Masehi.
c) Teori Persia

Dipelopori oleh P.A. Hoesin Djajadiningrat dari Indonesia. Titik


pandang teori ini memiliki perbedaan dengan teori Gujarat dan Mekah
mengenai masuk dan datangnya Islam di Nusantara. Islam masuk ke
Indonesia menurut Hoisen Djajadiningrat berasal dari Persia abad ke-7 M.
Teori ini memfokuskan tinjauannya pada sosio-kultural di kalangan
masyarakat Islam Indonesia yang ada kesamaan dengan di Persia.
Diantaranya adalah perayaan Tabut di beberapa tempat di ndonesia, dan

6
berkembangnya ajaran Syekh Siti Jenar zaman penyebarann Islam Wali
Sanga ada kesamaan dengan ajaran Sufi al-Hallaj dari Iran Persia. Selain
itu, persamaan selanjutnya adalah penggunaan istilah bahasa Iran dalam
sistem mengeja ataua membaca huruf Arab; Nisan pada makam Malik
Saleh pada tahun 1297 M dan makam Malik Ibrahim pada tahun 1419 di
Gresik dipesan di Gujarat; Pengakuan umat Islam di Nusantara terhadap
Madzhab Syafi’i sebagai madzhab utama di wilayah Malabar. Teori ini
banyak mendapat kritikan ketika diadakan seminar masuk dan
berkembangnya Islam di Indonesia diselenggarakan di Medan tahun 1963
M.
Kritik itu muncul dari Dahlan Mansur, Abu Bakar Atceh,
Saifuddin Zuhri, dan Hamka. Penolakan teori ini didasarkan pada alasan
bahwa, bila Islam masuk abad ke-7 M. yang ketika itu kekuasaan
dipimpin Khalifah Umayyah (Arab), sedangkan Persia Iran belum
menduduki kepemimpinan dunia Islam. Dan masuknya Islam dalam suatu
wilayah, bukankah tidak identik langsung berdirinya kekuasaan politik
Islam.

d) Teori Cina

Sebenarnya, peranan orang China terhadap Islamisasi di Indonesia


perlu mendapat perhatian khusus. Banyaknya unsur kebudayaan China
dalam beberapa unsur kebudayaan Islam di Indonesia perlu
mempertimbangkan peran orang-orang China dalam Islamisasi di
Nusantara, karenanya ”teori China” dalam Islamisasi tidak bisa diabaikan.
H.J. de Graaf, misalnya, telah menyunting beberapa literatur Jawa klasik
yang memperlihatkan peranan orang-orang China dalam pengembangan
Islam di Indonesia. Dalam tulisan-tulisan tersebut, disebutkan bahwa
tokoh-tokoh besar semacam Sunan Ampel (Raden Rahmat/Bong Swi Hoo)
dan Raja Demak (Raden Fatah/Jin Bun)merupakan orang-orang keturunan
China. Pandangan ini juga didukung oleh salah seorang sejarawan
Indonesia, Slamet Mulyana, dalam bukunya yang kontroversial,
Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya negara-negara Islam di
Nusantara. Denys Lombard juga telah memperlihatkan besarnya pengaruh
China dalam berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia, seperti
makanan, pakaian, bahasa, seni bangunan, dan sebagainya. Lombard
mengulas semua ini dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya yang
terdiri dari tiga jilid.

2.2 Saluran – Saluran yang Mendukung Masuknya Islam di


Indonesia
Kedatangan Islam ke Indonesia dan penyebarannya kepada
golongan bangsawan dan rakyat umumnya, dilakukan secara damai.
Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada enam, yaitu:

7
a) Saluran Perdagangan
Diantara saluran Islamisasi di Indonesia pada taraf permulaannya
ialah melalui perdagangan. Hal ini sesuia dengan kesibukan lalu lintas
perdagangan abad-7 sampai abad ke-16, perdagangan antara negeri-negeri
di bagian barat, Tenggara dan Timur benua Asia dan dimana pedagang-
pedagang Muslim (Arab, Persia, India) turut serta menggambil bagiannya
di Indonesia. Penggunaan saluran islamisasi melalui perdagangan itu
sangat menguntungkan. Hal ini menimbulkan jalinan di antara masyarakat
Indonesia dan pedagang.
Dijelaskan di sini bahwa proses islamisasi melalui saluran
perdagangan itu dipercepat oleh situasi dan kondisi politik beberapa
kerajaan di mana adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan diri dari
kekuasaan pusat kerajaan yang sedang mengalami kekacauan dan
perpecahan. Secara umum Islamisasi yang dilakukan oleh para pedagang
melalui perdagangan itu mungkin dapat digambarkan sebagai berikut:
mula-mula mereka berdatangan di tempat-tempat pusat perdagangan dan
kemudian diantaranya ada yang bertempat tinggal, baik untuk sementara
maupun untuk menetap. Lambat laun tempat tinggal mereka berkembang
menjadi perkampungan-perkampungan. Perkampungan golongan
pedangan Muslim dari negeri-negeri asing itu disebut Pekojan.
b) Saluran Perkawinan
Perkawinan merupakan salah satu dari saluran-saluran Islamisasi
yang paling memudahkan. Karena ikatan perkawinan merupakan ikatan
lahir batin, tempat mencari kedamaian diantara dua individu. Kedua
individu yaitu suami isteri membentuk keluarga yang justru menjadi inti
masyarakat. Dalam hal ini berarti membentuk masyarakat muslim.
Saluran Islamisasi melalui perkawinan yakni antara pedagang atau
saudagar dengan wanita pribumi juga merupakan bagian yang erat
berjalinan dengan Islamisasi. Jalinan baik ini kadang diteruskan dengan
perkawinan antara putri kaum pribumi dengan para pedagang Islam.
Melalui perkawinan inilah terlahir seorang muslim.
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial
yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk
pribumi, terutama putri-putri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri
saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin, mereka diislamkan terlebih
dahulu. Setelah setelah mereka mempunyai kerturunan, lingkungan
mereka makin luas. Akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah,
dan kerajaan-kerajaan muslim.
c) Saluran Tasawuf
Tasawuf merupakan salah satu saluran yang penting dalam proses
Islamisasi. Tasawuf termasuk kategori yang berfungsi dan
membentuk kehidupan sosial bangsa Indonesia yang meninggalkan bukti-
bukti yang jelas pada tulisan-tulisan antara abad ke-13 dan ke-18. hal itu
bertalian langsung dengan penyebaran Islam di Indonesia. Dalam hal ini
para ahli tasawuf hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu berusaha
menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di tengah-

8
tengah masyarakatnya. Para ahli tasawuf biasanya memiliki keahlian
untuk
menyembuhkan penyakit dan lain-lain. Jalur tasawuf, yaitu proses
islamisasi dengan mengajarknan teosofi dengan mengakomodir nilai-nilai
budaya bahkan ajaran agama yang ada yaitu agama Hindu ke dalam
ajaran Islam, dengan tentu saja terlebih dahulu dikodifikasikan dengan
nilai-nilai Islam sehingga mudah dimengerti dan diterima. Diantara ahli-
ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan
dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di
Aceh,Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti
ini masih berkembang di abad ke-19 bahkan di abad ke-20 ini.
d) Saluran Pendidikan
Para ulama, guru-guru agama, raja berperan besar dalam proses
Islamisasi, mereka menyebarkan agama Islam melalui pendidikan yaitu
dengan mendirikan pondok-pondok pesantren merupakan tempat
pengajaran agama Islam bagi para santri. Pada umumnya di pondok
pesantren ini diajarkan oleh guru-guru agama, kyai-kyai, atau ulama-
ulama,kitab-kitab,Mereka setelah belajar ilmu-ilmu agama dari berbagai
kitab-kitab, setelah keluar dari suatu pesantren itu maka akan kembali ke
masing-masing kampung atau desanya untuk menjadi tokoh keagamaan,
menjadi kyai yang menyelenggarakan pesantren lagi. Semakin terkenal
kyai yang mengajarkan semakin terkenal pesantrennya, dan pengaruhnya
akan mencapai radius yang lebih jauh lagi.
e) Saluran Kesenian
Saluran Islamisasi melalui seni seperti seni bangunan, seni pahat
atau ukir, seni tari, musik dan seni sastra. Misalnya pada seni bangunan
ini telihat pada masjid kuno Demak, Sendang Duwur Agung Kasepuhan
di Cirebon, masjid Agung Banten, Baiturrahman di Aceh, Ternate dan
sebagainya. Contoh lain dalam seni adalah dengan pertunjukan wayang,
yang digemari oleh masyarakat. Melalui cerita-cerita wayang itu
disisipkan ajaran agama Islam. Seni gamelan juga dapat mengundang
masyarakat untuk melihat pertunjukan tersebut. Selanjutnya diadakan
dakwah keagamaan Islam.
f) Saluran Politik
Pengaruh kekuasan raja sangat berperan besar dalam proses
Islamisasi. Ketika seorang raja memeluk agama Islam, maka rakyat juga
akan mengikuti jejak rajanya. Rakyat memiliki kepatuhan yang sangat
tinggi dan raja sebagai panutan bahkan menjadi tauladan bagi rakyatnya.
Misalnya di Sulawesi Selatan dan Maluku, kebanyakan rakyatnya masuk
Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu. Pengaruh
politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini.

9
2.3 Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran Islam di
Indonesia

Proses islamisasi di Indonesia tentu tidak terlepas dari peran


banyak tokoh. Tokoh-tokoh tersebut menyebarkan Islam dengan berbagai
caranya masing-masing. Tokoh – tokoh tersebut antara lain sebagai
berikut :
A. Wali Songo
Wali songo atau wali sanga dikenal sebagai penyebar agama Islam
di tanah Jawa pada abad ke-14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting
pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur,
Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.Wali
sanga adalah kelompok syiar dakwah Islam (mubaligh) yang kerap juga
disebut dengan Waliyullah atau ‘wakil Allah’. Adapun kata songo atau
sanga berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan. Sehingga wali
songo berarti wali sembilan. Para wali ini juga memiliki gelar “sunan”.
Sunan berasal dari kata Susuhunan yang artinya “yang dijunjung tinggi”
atau panutan masyarakat setempat. Ada juga yang mengatakan Sunan
berasal dari kata Suhu Nan, artinya Guru Besar atau orang yang berilmu
tinggi.

Adapun beberapa nama wali songo yang populer adalah sebagai


berikut:
1. Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi
Muhammad SAW. Ia disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes,
atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo. Ia diperkirakan lahir di
Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Dalam Babad
Tanah Jawi versi Meinsma disebutkan istilah Asmarakandi, mengikuti
pengucapan lidah orang Jawa terhadap kata As-Samarqandy. Dalam cerita
rakyat, ada yang menyebutnya Kakek Bantal. Maulana Malik Ibrahim
umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di
Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak
merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang
tersisihkan di akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik
hati masyarakat yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang
saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik.
Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa
Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
Kalimat yang tertulis dimakamnya ialah sebagai berikut: “inilah
makam Almarhum Almaghfur, yang berharap rahmat Tuhan,
kebanggaan para Pangeran, para Sultan dan para Menteri, penolong
para fakir miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol
negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal.
Allah meliputinya dengan Rahmat-Nya dan Keridhaan-Nya, dan

10
dimasukkan ke dalam Surga Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul
Awal tahun 822 H.”
Menurut literatur yang ada, beliau juga ahli pertanian dan ahli
pengobatan. Sejak beliau berada di Gresik, hasil pertanian rakyat Gresik
meningkat tajam. Orang-orang sakit banyak yang disembuhkannya
dengan daun-daunan tertentu. Sifatnya yang lemah lembut, welas asih,
dan ramah tamah kepada semua orang, baik sesama muslim atau non-
muslim membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang sangat
disegani dan dihormati. Kepribadiannya yang baik itulah yang menarik
hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk
agama Islam dengan suka rela dan menjadi pengikut beliau yang setia.
Sebagai contoh, beliau menghadapi rakyat jelata yang
pengetahuannya masih awam, beliau tidak menjelaskan Islam secara
rumit. Kaum awam tersebut dibimbing untuk bisa mengolah tanah agar
sawah dan ladang mereka dapat dipanen lebih banyak lagi. Sesudah itu
mereka dianjurkan bersyukur kepada yang memberikan rezeki yaitu Allah
SWT. Dan untuk mempersiapkan kader umat yang nantinya dapat
meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa
dan seluruh Nusantara, maka beliau kemudian mendirikan pesantren yang
merupakan perguruan Islam, tempat mendidik dan menggembleng para
santri sebagai calon mubaligh.
Tradisi pesantren tersebut tetap berlangsung hingga sekarang. Para
ulama menggodok calon mubaligh di Pesantren yang diasuhnya. Bila
orang bertanya suatu masalah agama kepada beliau, beliau tidak
menjawab dengan berbelit-belit melainkan dijawabnya dengan mudah dan
gamblang sesuai pesan Nabi yang menganjurkan agar agama disiarkan
dengan mudah, tidak dipersulit, umat harus dibuat gembira, tidak ditakut-
takuti.
2. Sunan Ampel ( Raden Rahmat )
Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari
Nabi Muhammad SAW. Menurut riwayat, ia adalah putra Ibrahim
Zainuddin Al-Akbar dari seorang putri Champa yang bernama Dewi
Condrowulan binti Raja Champa Terakhir dari Dinasti Ming.Sunan Ampel
umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya
bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah satu pusat
penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi
Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban
bernama Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti Ki
Kembang Kuning.
Ajaran Raden Rahmat yang terkenal adalah falsafah Moh Limo
atau tidak mau melakukan lima hal tercela yaitu:
1. Moh Maen atau tidak mau berjudi.
2. Moh Ngombe atau tidak mau minum arak atau bermabuk-mabukan.
3. Moh Maling atau tidak mau mencuri.
4. Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganja dan lain-lain.

11
5. Moh Madon atau tidak mau berzina/main perempuan yang bukan
istrinya.

Beliau adalah orang yng pertama kali menciptakan huruf pegon


atau tulisan Arab berbunyi bahasa Jawa. Dengan huruf pegon ini beliau
dapat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya. Hingga
sekarang huruf pegon tetap dipakai sebagai bahan pelajaran agama Islam
di kalangan pesantren. Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M,beliau
dimakamkan di sebelah Barat Mesjid Ampel.

3. Sunan Giri (Raden Paku)


Sunan Giri atau Raden Paku lahir pada tahun 1412 M. Ia
memerintah kerajaan Giri kurang lebih 20 tahun. Sewaktu memerintah
Giri Kedaton beliau bergelar Prabu Satmata. Pengaruh Sunan Giri sangat
besar terhadap kerajaan Islam di Jawa maupun di luar Jawa. Sebagi
buktinya adalah adanya kebiasaan bahwa apabila seorang hendak
dinobatkan menjadi raja haruslah mendapat pengesahan dari Sunan Giri.
Giri Kedaton atau Kerajaan Giri berlangsung selama 200 tahun. Sesudah
Sunan Giri meninggal dunia beliau digantikan anak keturunannya, yaitu:
1) Sunan Dalem
2) Sunan Sedomargi
3) Sunan Giri Prapen
4) Sunan Kawis Guwa
5) Panembahan Ageng Giri
6) Panembahan Mas Witana Sideng Rana
7) Pangeran Singonegoro (bukan keturunan Sunan Giri)
8) Pengeran Singosari

4. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim)


Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan
keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel
dengan Nyai Ageng Manila, putri Adipati Tuban bernama Arya Teja.
Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik
penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan sebagai
penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering
dilantunkan sampai sekarang. Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah
dengan memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan
namanya. Universitas Leiden di Belanda menyimpan sebuah karya sastra
bahasa Jawa berjudul Het Boek van Bonang atau Buku Bonang.
Menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun
mungkin saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat
pada tahun 1525. Ia dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.
Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang bernama
asli Maulana Makdum Ibrahim. Sunan Bonang diperintahkan Sunan
Ampel untuk berdakwah di daerah Lasem, Rembang, Tuban dan daerah
Sempadan Surabaya. Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering

12
mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu
berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang adalah sejenis
kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul
dengan kayulunak timbulah suara yang merdu di telinga penduduk
setempat. Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang
membunyikan alat musik itu. Beliau adalah seorang wali yang mempunyai
cita rasa seni yang tinggi serta piawai dalam memainkan alat musik.
Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Hingga
sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya sastra
yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama.
Suluk Sunan Bonang disimpan rapi diperpustakaan Universitas Leiden,
Belanda.
5. Sunan Drajat
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan
ke-23 dari Nabi Muhammad. Nama asli Sunan Drajad adalah Raden
Qosim, beliau putera Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati dan
merupakan adik dari Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.Sunan
Drajat terkenal dengan kegiatan sosialnya. dialah wali yang memelopori
penyatuan anak-anak yatim dan orang sakit. Sunan Drajat banyak
berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan
kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat,
sebagai pengamalan agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan
secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat,
Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang Macapat Pangkur disebutkan
sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di
Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat diperkirakan
wafat wafat pada 1522.
Raden Qosim yang sudah mewarisi ilmu dari ayahnya kemudian
diperintah untuk berdakwah di sebelah barat Gresik. Dakwah pertama
yang dilakukan oleh Raden Qasim adalah perjalanan menuju desa Jelag.
Di sana Raden Qosim mendirikan pesantren. Karena caranya menyiarkan
agama Islam yang unik maka banyak orang yang datang berguru
kepadanya. Setelah menetap satu tahun di desa Jelag, Raden Qosim
berdakwah menuju ke arah selatan, kira-kira berjarak 1 km, di sana beliau
mendirikan langgar atau surau untuk berdakwah.
Tiga tahun kemudian secara mantap beliau membangun tempat
berdakwah yang strategis, yaitu di tempat ketinggian yang disebut Dalem
Duwur. Di bukit yang disebut Dalem Duwur itulah yang sekarang
dibangun Museum Sunan Drajad. Adapun makam Sunan Drajad terletak di
sebelah barat Museum tersebut. Beliau mempergunakan kesenian rakyat
sebagai alat dakwah. Di museum yang terletak di sebelah timur makamnya
terdapat seperangkat bekas gamelan Jawa, hal it menunjukkan betapa
tinggi penghargaan Sunan Drajad pada kesenian Jawa.
Dalam catatan sejarah wali songo, Raden Qosim disebut sebagai
seorang wali yang hidupnya paling bersahaja, walau dalam urusan dunia
beliau juga rajin mencari rezeki. Hal itu disebabkan sikap beliau yang

13
dermawan. Di kalangan rakyat jelata beliau bersifat lemah lembut dan
sering menolong mereka yang menderita. Di bidang kesenian, di samping
terkenal sebagai ahli ukir beliau juga orang yang pertama kali menciptakan
Gending Pangkur. Hingga sekarang gending tersebut masih disukai rakyat
Jawa. Nama Sunan Drajad disematkan kepada beliau karena beliau
bertempat tinggal di sebuah bukit yang tinggi, seakan melambangkan
tingkat ilmunya yang tinggi, yaitu tingkat atau derajat para ulama
muqarrobin, ulama yang dekat dengan Allah SWT.
6. Sunan Kudus
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman
Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom
Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Nama asli beliau
adalah Ja’far as-Shadiq. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi
Muhammad. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang
besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima
perang, penasehat Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan
negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi
Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya ialah Sunan Prawoto
penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu
peninggalannya yang terkenal ialah Masjid Menara Kudus, yang
arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus
diperkirakan wafat pada tahun 1550. Di samping belajar agama kepada
ayahnya sendiri, Sunan Kudus juga belajar kepada beberapa ulama
terkenal. Di antaranya kepada Kiai Telingsing, Ki Ageng Ngerang dan
Sunan Ampel. Nama asli Kiai Telingsing ini adalah Ling Sing, beliau
adalah seorang ulama dari negeri China yang datang ke pulau Jawa
bersama Laksamana Jenderal Cheng Hoo. Sebagaimana disebutkan dalam
sejarah, Jenderal Cheng Hoo yang beragama Islam itu datang ke pulau
Jawa untuk mengadakan tali persahabatan dan menyebarkan agama Islam
melalui perdagangan. Di Jawa, The Ling Sing cukup dipanggil dengan
sebutan Telingsing, beliau tinggal di sebuah daerah subur yang terletak di
antara sungai Tanggulangin dan sungai Juwana sebelah Timur. Di sana
beliau bukan hanya mengajarkan Islam, melainkan juga mengajarkan
kepada penduduk seni ukir yang indah. Selanjutnya, Raden Ja’far Shadiq
juga berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya selama beberapa tahun.

7. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga adalah putra Adipati Tuban yang bernama
Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur
(Syaikh Subakir). Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga
menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah,
antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang
sulukIlir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya dianggap sebagai hasil
karyanya. Dalam sat riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan
Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, menikahi juga Syarifah Zainab binti
Syaikh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti RajaKediri. Sunan Kalijaga

14
bernama asli Raden Said. Ayahnya, Tumenggung Wilatikta, walaupun ia
termasuk keturunan Ranggawale yang beragama Hindu, tapi Tumenggung
Wilatikta sendiri sudah masuk agama Islam. Sejak kecil Raden Said sudah
diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama di Kadipaten Tuban.
Tetapi karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan yang kontradiksi
dengan kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said berontak. Gelora
jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek
oknum pejabat kadipaten Tuban yang kerap memeras penduduk atau
rakyat jelata. Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita lantaran
musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar
pajak yang kadangkala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan
jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah mereka untuk persediaan
menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak.
Walau Raden Said putera seorang bangsawan, ia lebih menyukai
kehidupan bebas, yang tidak terikat adat istiadat kebangsawanan. Dia
gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat,
dari yang paling bawah hingga yang paling atas. Justru karena
pergaulannya yang supel itulah ia banyak mengetahui seluk beluk
kehidupan rakyat Tuban. Selanjutnya ia bertahun-tahun berguru kepada
Sunan Bonang, dengan meninggalkan ayah dan ibunya serta adikknya.
Karena Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya,
akhirnya kedudukan Adipati Tuban diberikan kepada cucunya sendiri
yaitu putera Dewi Rasawulan dan Empu Supa. Raden Said meneruskan
pengembaraannya berdakwah di Jawa Tengah hingga ke Jawa Barat.
Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwah sehingga dapat diterima
dan dianggap sebagai guru suci se-tanah Jawa. Dalam usia lanjut beliau
memilih Kadilangu,Demak, sebagai tempat tinggalnya yang terakhir
hingga beliau wafat.

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)


Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga,
dari istrinya yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Sunan Muria
menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan Muria
adalah adik ipar dari Sunan Kudus. Nama Sunan Muria adalah Raden
Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara
halus, ibarat mengail ikan tidak sampai membuat airnya keruh. Itulah cara
yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.
Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya
bernama Colo. Letaknya di sebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah
beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliau satu-
satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang
sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang
menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif
Abdullah Umdatuddin putra Ali Nurul Alam putra Syaikh Husain

15
Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masihketurunan keraton Pajajaran
melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan
Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan
pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan
Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil
mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten,
sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.
Dalam usia yang begitu muda Syarif Hidayatullah ditinggal wafat oleh
ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja
Mesir, tapi anak yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia
dan ibunya bermaksud pulang ke tanah Jawa berdakwah di Jawa Barat.
Kedudukan ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif
Nurullah. Sewaktu berada di negeri Mesir, Syarif Hidayatullah berguru
kepada beberapa ulama besar di Timur Tengah. Dalam usia muda itu
ilmunya sudah sangat banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya di
Jawa ia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah. Syarif Hidayatullah
dan ibunya, Syarifah Muda’im, datang ke negeri Caruban Larang Jawa
Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di Gujarat dan Pasai untuk
menambah pengalaman. Kedua orang itu disambut gembira oleh Pangeran
Cakrabuana dan keluarganya. Saat itu, Syaikh Dzatul Kahfi, guru
Pangeran Cakrabuana, sudah wafat dan dimakamkan di Pasembangan.
Dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya, Syarifah
Muda’im minta diizinkan tinggal di Pasambangan atau Gunung Jati.
Syarifah Muda’im dan puteranya, Syarif Hidayatullah, lalu meneruskan
usaha dakwah Syaikh Dzatul Kahfi. Sehingga kemudian hari Syarif
Hidayatullah terkenal sebagai Sunan Gunung Jati. Tibalah saat yang
ditentukan, Pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya yaitu Nyai
Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah.
Pada tahun 1479 karena usia lanjut Pangeran Cakrabuana
menyerahkan kekuasaan negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah
dengan gelar Susuhunan, yaitu orang yang dijunjung tinggi. Mesjid Agung
Sang Ciptarasa Cirebon dibangun pada tahun 1480 atas prakarsa Nyi Ratu
Pakungwati atau istri Sunan Gunung Jati. Pembangunan masjid itu
melibatkan banyak pihak, di antaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga
ahli yang dikirim oleh Raden Fatah. Dalam pembangunan itu Sunan
Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan Soko Tatal sebagai
lambang persatuan umat. Selesai membangun masjid,diteruskan
membangun jalan raya yang menhubungkan Cirebon dengan daerah-
daerah Kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan Islam di
seluruh tanah Pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas
perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah
Pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit.
Sekitar tahun 1479, Sunan Gunung Jati pergi ke daratan China dan
tinggal di daerah Nan King. Di sana ia diberi gelar Maulana Insan Kamil.
Sunan Gunung Jati akhirnya menikah dengan Putri Ong Thien. Maka tidak
heran jika kita berkunjung ke keraton Cirebon atau ke makam Sunan

16
Gunung Jati kita akan menemukan ornamen-ornamen yang berasal dari
China.

 Pembagian Kerja Dewan Wali Songo


Mengenai pembagian kerja Dewan Wali Songo secara struktural,
menurut hasil penelitian Widji Saksono (1996: 97-100) adalah sebagai
berikut:
1. Sunan Ampel: Mengurus susunan aturan syariat dan hukum
perdata, khususnya berkenaan dengan masalah nikah, talak, rujuk.
2. Sunan Bonang: Merapikan aturan-aturan termasuk di dalamnya
kaidah ilmu, selain menggubah lagu, nyanyian maupun gamelan
Jawa.
3. Sunan Gresik: Mengubah pola dan motif batik, lurik maupun
perlengkapan berkuda.
4. Sunan Drajad: Mengurus hal ikhwal pembangunan rumah maupun
berbagai ragam alat angkut.
5. Sunan Muria: Mengurus hal ikhwal perkara masakan (makanan)
maupun alat tani dan barang pecah belah lainnya.
6. Sunan Gunung Jati: Selain bertugas memperbaiki doa, mantra bagi
pengobatan batin, firasat, jampi-jampi bagi pengobatan lahir, ia
juga mempunyai tugas untuk membuka hutan, mengurus
transmigrasi atau membuka desa baru (perluasan wilayah).
7. Sunan Giri: Bertugas menggubah perhitungan bulan, tahun, windu,
lalu menyusun dan merapikan segala perundang-undangan
kerajaan, termasuk urusan protokolernya. Secara teknis Sunan Giri
bertugas membuat kertas.
8. Sunan Kalijaga: Bertugas mengurus bidang-bidang seni-budaya,
misalkan menggubah dan menciptakan langgam maupun gending.
9. Sunan Kudus: Bertanggungjawab atas perlengkapan persenjataan,
perawatan bahan besi dan emas, juga membuat peradilan dengan
undang-undang syariat.

B. Ulama Penyebar Islam Pasca Wali Songo


Proses penyebaran Islam di wilayah Nusantara tidak dapat dilepas dari
peran aktif para ulama. Melalui merekalah Islam dapat diterima dengan baik
dikalangan masyarakat. Di antara Ulama penyebar ajaran Islam Pasca Wali
Songo tersebut adalah sebagai berikut:
1) Hamzah Fansuri
2) Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari
3) KH Shaleh Darat
4) KH Ahmad Dahlan
5) KH. M. Hasyim Asy’ari

17
2.4 Pengaruh Islam dalam Kehidupan Bermasyrakat, Berbangsa, dan
Bernegara

Sejak awal perkembangannya, agama-agama di Indonesia telah


menerima akomodasi budaya. Sebagai contoh Agama Islam, dimana Islam
sebagai agama faktual banyak memberikan norma-norma atau aturan tentang
kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain. Jika dilihat dari kaitan
Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas. Pertama,
Islam sebagai konsespsi sosial budaya dan Islam sebagai realitas budaya.
Kedua, Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan
great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut
dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga
Islamicate, bidang-bidang yang“Islamik” yang dipengaruhi Islam.Tradisi besar
Islam adalah setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada
ajaran dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi
keimanan dan syariah atau hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan
pola bertindak umat Islam. Tradisitradisi ini seringkali juga disebut dengan
center (pusat) yang dikontraskan dengan feri-feri atau pinggiran.Tradisi kecil
(local, Islamicate traditioan) adalah realm of influence, kawasankawasan yang
berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). Tradisi lokal ini mencakup
unsur-unsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang meliputi
konsep atau norma, aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karya-karya
yang dihasilkan masyarakat. Istilah lain, proses akulturasi antara agama Islam
dan budaya lokal ini kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan local
genius, yaitu kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi dan
pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai
suatu ciptaan baru yang unik, yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang
membawa pengaruh budayanya. Pada sisi lain local genius memiliki
karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap budaya luar; mempunyai
kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; mempunyai
kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asli; dan
memiliki kemampuan mengendalikan dan memberikan arah pada
perkembangan budaya selanjutnya.
Sebagai suatu norma,aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat
Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. Dalam konteks
inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat
Indonesia. Di sisi lain budaya-budaya lokal yang ada di masyarakat, tidak
otomatis hilang dengan kehadiran Islam. Budaya-budaya lokal ini sebagian
terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan ini
kemudian melahirkan”akulturasi budaya”,antara budaya lokal dan Islam.
Budaya-budaya lokal yang kemudian berakulturasi dengan Agama
Islam antara lain, acara slametan (3,7,40,100, dan 1000 hari) di kalangan suku
Jawa. Tingkeban (nujuh hari). Dalam bidang seni, juga dijumpai proses
akulturasi seperti dalam kesenian wayang di Jawa. Wayang merupakan
kesenian tradisional suku/etnis Jawa yang berasal dari agama Hindu India.
Proses Islamisasi tidak menghapuskan kesenian ini melainkan justru

18
memperkayanya,yaitu memberikan warna nilai-nilai Islam di dalamnya.tidak
hanya dalam bidang seni, tetapi juga di dalam bidang-bidang lain di dalam
masyarakat Jawa. Dengan kata lain kedatangan Islam di Indonesia dalam taraf-
taraf tertentu memberikan andil yang cukup besar dalam pengembangan
budaya lokal.
Pada sisi lain, secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material
dapat dilihat misalnya: bentuk masjid Agung Banten yang beratap tumpang,
berbatu tebal, bertiang saka, dan sebagainya benar-benar menunjukkan ciri-ciri
arsitektur local. Sementara esensi Islam terletak pada “ruh”fungsi masjidnya.
Demikian juga dua jeni pintu gerbang bentar dan paduraksa sebagai ambang
masuk masjid di Keraton Kaibon. Namun sebaliknya, “wajah asing” pun
tampak sangat jelas di kompleks Masji Agung Banten, yakni melalui pendiria
bangunan Tiamah dikaitkan dengan arsitektur buronan Portugis,Lucazs
Cardeel,dan pendirian menara berbentuk mercu suardihubungkan dengan nama
seorang Cina:Cek-ban Cut.
Dalam bidang kerukunan, Islam di daerah Banten pada masa lalu tetap
memberikan perlakuan yang sama terhadap umat beragama lain. Para penguasa
muslim di Banten misalnya telah memperlihatkan sikap toleransi yang besar
kepada penganut agama lain. Misalnya dengan mengizinkan pendirian vihara
dan gereja di sekitar pemukiman Cina dan Eropa. Bahkan adanya resimen non-
muslim yang ikut mengawal penguasa Banten. Penghargaan atau perlakuan
yang baik tanpa membeda-bedakan latar belakang agama oleh penguasa dan
masyarakat Banten terhadap umat beragama lain pada masa itu, juga dapat
dilisaksikan di kawasan-kawasan lain di nusantara, terutama dalam aspek
perdagangan. Penguasa Islam di berbagai belahan nusantara telah menjalin
hubungan dagang dengan bangsa Cina, India dan lain sebagainya sekalipun di
antara mereka berbeda keyakinan.
Sementara itu Hubungan Islam dengan pancasila adalah: Sila pertama
dari pancasila adalah mengandung dasar pertama dalam Islam yaitu Tauhid.
Sila kedua adalah konsekuensi dari ajaran Tauhid tentang pengakuan
humanitas. Sebagai rujukannya pada ayat Alquran Surah al-A’raf 189, Yunus
19, al-Hujurat 13. Sila ketiga, Islam mengajurkan cinta air “Hubb al-Wathan”.
Kemudian sila keempat menurut Harun, merupakan ajaran Islam yang
menganut persamaan di antara sesama manusia yang ditegaskan dalam Alquran
dan Hadis (Surah Ali Imran 159 dan surah al-Syuraa ayat 13). Selanjutnya sila
kelima adalah sikap Allah swt sebagai Maha Adil yang menghendaki manusia
bersikap adil,sebagaimana Harun mengutip surah An-Nahal ayat 90.
Secara filosofis kewajiban membentuk negara Islam tidak terdapat,
namun sebagai masyarakat yang bernegara hendaknya dapat membentuk
masyarakatnya yang penuh Islamis. Karena itu, masyarakat Islam adalah
masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman di bidang politik, ekonomi,
sosial budaya, bidang Hankam.

19
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perkembangan Islam di Indonesia merupakan serangkain proses
yang panjang. Meskipun banyak teori yang menjelaskan kapan, siapa, dan
dimana Islam pertama kali masuk ke Nusantara. Namun faktanya tidak
ada yang tahu pasti mengenai hal-hal tersebut. Teori-teori tersebut hanya
didasarkan pada bukti-bukti yang ditemukan di lapangan.
Islam masuk ke Indonesia dan disebarkan melalui berbagai macam
saluran yaitu saluran perdagangan, pendidikan, perkawinan, kesenian,
tasawuf, dan politik. Namun, saluran yang paling memberikan dampak
yaitu saluran perdagangan. Para pedagang muslim yang singgah di
Nusantara memperkenalkan ajaran – ajaran Islam kepada masyarakat di
sekitar pesisir pantai dan pelabuhan. Seiring berjalannya waktu Islam
mengalami perkembangan yang sangat pesat,hingga saat ini menjadi
agama mayoritas penduduk Indonesia. Tentu hal ini juga taak terlepas dari
peran para tokoh—tokoh ulama yang menyebarkan Islam di Indonesia,
seperti Wali Songo , Hamzah Fansuri Syaikh Muhammad Arsyad al-
Banjari,KH Shaleh Darat, KH Ahmad Dahlan,KH. M. Hasyim Asy’ari.
Tokoh-tokoh tersebut menyebarkan agama Islam dengan cara yang
berbeda – beda tetapi tetap dalam nilai – nilai Islam. Selain itu, tokoh-
tokoh tersebut juga memiliki perangai yang baik dan bersikap lemah
lembut kepada masyarakat yang membuat masyarakat tertarik bersedia
menerima Islam.
Sementara itu, pengaruh agama Islam dalam kehidupan
bermasyakarat, berbangsa, dan bernegara dapat kita rasakan dalam
kehidupan sehari-hari. Budaya – budaya yang dibawa oleh Islam telah
mengalami akulturasi dengan budaya-budaya Nusantara. Selain itu, dalam
kehidupan bernegara dapat kita rasakan bahwa Pancasila mengandung
nilai-nilai Islami karena dirumuskan oleh orang-orang yang memiliki
tingkat spiritual (Islam) yang tinggi.

3.2 Saran
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa agama Islam adalah
agama mayoritas di Indonesia. Oleh karena itu, saran kami sebagai penulis
sudah seharusnya masyarakat muslim Indonesia memiliki tingkat toleransi
yang tinggi terhadap agama-agama lain yang ada di Indonesia. Sudah
cukup banyak isu-isu intoleran yang terjadi di negeri ini yang disebarkan
oleh sekelompok oknum yang ingin memecah belah persatuan Indonesia,
maka mari kita bersatu untuk mencegah hal tersebut terulang kembali.

20
DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. 1995. Jaringan Ulama; Timur Tengah dan

Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan.

Abdullah, Taufik, “Islam dan Pembentukan Tradisi di Asia Tenggara” dalam

Taufik Abdullah dan Sharon Siddique (Ed.), Tradisi dan Kebangkitan

Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: LP3ES, 1989)

Abdullah, Taufik (Ed.), Sejarah Umat Islam Indonesia, (Jakarta: Majlis Ulama

Indonesia, 1991)

Edyar, Busman, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka

Asatruss, 2009).

Kemenag.2016.Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XII.


Jakarta : Kemenag.
Sugiri, Ahmad, “Proses Islamsisasi dan Percaturan Politik Umat Islam di
Indonesia”, dalam Al-Qalam, Majalah Ilmiah Bidang Keagamaan dan
Kemasyarakatan, No. 59/XI/1996, (Serang: IAIN SGD, 1996).

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008).