Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH MATA KULIAH AGAMA ISLAM

TATA CARA HUBUNGAN SESAMA MAKHLUK YANG SESUAI


AJARAN AGAMA ISLAM

KELOMPOK
1. ARIF SETIA WICAKSANA (12-2018-064)
2. PANJI ARIE NUGRAHA (12-2018-071)
3. RIDWAN ABDUL MUJIB (12-2018-73)

FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI


JURUSAN TEKNIK MESIN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami sehingga makalah ini ini dapat terselesaikan pada
waktunya. Ucapan terimakasih tak lupa kami berikan kepada dosen pembimbing
mata kuliah serta teman-teman yang senantiasa turut membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Dalam makalah ini berisikan tentang tugas-tugas manusia dimuka bumi,
kedudukan manusia dimata Allah dan makhluk yang lain serta proses penciptaan
manusia menurut islam.
Dalam makalah ini pasti masih banyak kekurangan dalam berbagai hal.
Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun diperlukan untuk
menyempurnakan makalah ini.

Banjarbaru, 20 Maret 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kehadiran manusia tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam
semesta. Manusia hakikatnya adalah makhluk ciptaan Alaah SWT. Pada diri
manusia terdapat perpaduan antara sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan.
Dalam pandangan Islam sebagai makhluk ciptaan Allah SWT manusia
memiliki tugas tertentu dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini. Untuk
menjalankan tugasnya manusia dikaruniakan akal dan pikiran oleh Allah SWT.
Akal dan pikiran tersebut yang akan menuntun manusia dalam menjalankan
perannya. Dalam hidup di dunia, manusia diberi tugas kekhalifahan, itu tugas
kepemimpinan, wakil Allah dimuka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan
alam.
Dalam kehidupan ini kita tahu bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT
yang paling sempurna karena memiliki akal, nafsu, panca indra yang baik, fisik
yangh baik, dan lain-lain. Dan manusia tidak begitu saja ada dimuka bumi ini
selain Allah yang menciptakan kita, tetapi ada proses dimana kita berada
dimuka bumi ini, melalui ibu kita lahir di dunia dan dengan keagungan Allah
SWT kita keluar dari lahir ibu. Pada dasarnya kita tidak menghiraukan apa dan
bagaimana kita ada dimuka bumi ini, tetapi sebagai orang yang beriman untuk
lebih menempatkan lagi keimanan kita kepada Allah SWT, maka alangkah
baiknya kita tahu asal usul kejadian manusia. Khususnya kita seorang muslim
yang tidak mau menodai dengan pemahaman-pemahaman kafir, dimana kita
dilahirkan kemuka bumi ini, prosesnya ada didalam Al-Qur’an.
BAB II

2.1 PENGERTIAN MAKHLUK


Makhluk adalah sebuah kata serapan dari bahasa Arab ( ‫ ) مخلوق‬yang
berarti "yang diciptakan", sebagai lawan kata Kholik )‫ )خالق‬memiliki arti
"Pencipta." Secara umum, kata ini merujuk pada organisme hidup yang diciptakan
oleh Tuhan.
Selain itu, makhluk juga dapat merujuk pada:
◦ Makhluk halus, adalah makhluk ciptaan Tuhan yang
bersifat ghaib seperti jin, malaikat dan lain-lainnya.
◦ Makhluk hidup, adalah kumpulan molekul-molekul yang saling
mempengaruhi.
◦ Makhluk legenda, adalah makhluk yang terdapat dalam legenda atau
cerita dongeng, misalnya naga, bijuu, atau monster.
◦ Menurut syariat Islam, semua ciptaan Allah adalah makhluk,
termasuk alam semesta beserta isinya,
yaitu 'Arsy, langit, bintang, bumi, air dan lainnya dan makhluk
yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena (‫القلم‬, al-
Qalam),[2] ia ditugasi untuk menulis semua takdir segala sesuatu
sampai datangnya hari kiamat.
Dalam dalil lain dikatakan bahwa makhluk pertama yang diciptakan oleh
Allah adalah air, berdasarkan ayat Quran Surah Hud, yang berbunyi:
“….. dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,
dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di
antara kamu yang lebih baik amalnya. (Hud 11:7) “
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa keberadaan air jauh lebih dulu
dari pada keberadaan langit dan bumi. Jadi air lebih tua umurnya dibanding
langit dan bumi. Hal ini dikuatkan oleh sabda Nabi Muhammad yang lain.
Kemudian Ibnu Hajar menjelaskan dalam Kitab Fathul Bari bahwa ayat-
ayat dan hadits-hadits tersebut digabungkan dan dikompromikan, makhluk
yang pertama diciptakan adalah air, kemudian ‘Arsy kemudian pena. Hadits
yang menjelaskan “…pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena.."
maksudnya adalah pertama kali setelah adanya air dan 'Arsy.
2.2 HUBUNGAN MANUSIA DENGAN TUHAN

1. Manusia Sebagai Hamba


Sifat hubungan antara manusia dengan Allah SWT dalam ajaran Islam bersifat
timbal-balik, yaitu bahwa manusia melakukan hubungan dengan Tuhan dan
Tuhan juga melakukan hubungan dengan manusia. Tujuan hubungan manusia
dengan Allah adalah dalam rangka pengabdian atau ibadah. Dengan kata lain,
tugas manusia di dunia ini adalah beribadah, sebagaimana firman Allah swt dalam
Al-Quran surat Adz-Dzariat ayat 56:
﴾٥٦﴿‫ون‬ ِ ‫س ِإّل ِليَ ْعبد‬ ِ ْ ‫َو َما َخلَ ْقت ْال ِجن َو‬
َ ‫اْل ْن‬
Artinya:
“Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah
kepada ku.”
Secara garis besar, ibadah kepada Allah itu ada dua macam, yaitu ibadah yang
bentuk dan tata caranya telah di tentukan oleh Allah swt, dan ibadah dan bentuk
tata caranya yang tidak di tentukan oleh Allah swt. Ibadah jenis pertama adalah
Mahdhoh, yaitu ibadah dalam arti ritual khusus, dan tidak bisa diubah-ubah sejak
dulu hingga sekarang, misalnya sholat, puasa, dan haji: cara melakukan ruku’ dan
sujud dan lafal-lafal apa saja yang harus dibaca dalam melakukan sholat telah
ditentukan oleh Allah SWT.3 Demikian pula cara melakukan thawaf dan sa’i
dalam haji beserta lafal bacaannya telah ditentukan oleh Allah SWT. Inti ibadah
jenis ini sebenarnya adalah permohonan ampun dan mohan pertolongan dari Allah
swt.
Jenis ibadah yang kedua disebut ibadah ghairu mahdoh atau ibadah dalam
pengetahuan umum, yaitu segala bentuk perbuatan yang ditujukan untuk
kemaslahatan, kesuksesan, dan keuntungan.
‫َاء َو ْالم ْنك َِر‬
ِ ‫إِن الص ََلة َ ت َ ْن َهى َع ِن ْالفَحْ ش‬
Artinya:
“Sesungguhnya salat itu pencegah perbuatan fahsya’ dan munkar.” (QS Al-
Ankabut: 45)
Melalui ayat tersebut dapat diketahui bahwa ruh salat adalah ‘inna shalati wa-
nusuki‘, salatku, ibadahku. Penyebutan salat dan nusuk dalam ayat tersebut
bertujuan untuk membedakan bahwa salat itu adalah ibadah mahdhah,
sementaranusuk adalah ibadah ghairu mahdhah. Para mufassir mengatakan kata
nusuk tersebut diterjemahkan dengan insyithatu al-hayat, artinya segala aktivitas
hidup kita. Contoh dari ibadah semacam ini adalah menyingkirkan duri dari jalan,
membantu orang yang kesusahan, mendidik anak, berusaha, bekerja, menjenguk
orang sakit, memaafkan dan sebagainya. Semua perbuatan tersebut, asalkan
diniatkan karena Allah SWT dan bermanfaat bagi kepentingan umum, adalah
pengabdian atau ibadah kepada Allah SWT.4
Jika inti hubungan manusia dengan Allah adalah pengabdian atau ibadah, maka
inti hubungan Tuhan dengan manusia adalah aturan, yaitu perintah dan larangan.
Manusia diperintahkan berbuat menurut aturan yang telah ditetapkan Allah. Jika
manusia menyimpang dari aturan itu, maka ia akan tercela, baik dalam kehidupan
di dunia maupun di akhirat. Aturan itupun ada dua macam, pertama aturan yang
dituangkan dalam bentuk hukum-hukum alam (sunnatullah) dan aturan yang
dituangkan dalam kitab suci Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad saw.
Aturan yang dituangkan dalam kitab suci Al-Quran dan hadis Nabi, misalnya
tentang perintah sholat, perintah zakat, perintah puasa, perintah haji, larangan
berzina, larangan mencuri, larangan meminum arak, larangan memakan daging
babi, dan lain-lain. Dalam hal ini, manusia diperintahkan menaati segala perintah
dan menjauhi segala larangan. Adapun aturan yang dituangkan dalam hukum alam
adalah, misalnya, api itu bersifat membakar. Oleh karena itu, jika orang mau
selamat, maka ia harus menjauhkan dirinya dari api. Sebagai contoh lain, benda
yang berat jenisnya lebih berat dari air akan tenggelam dalam air. Dengan
demikian, manusia akan celaka (tenggelam) jika masuk ke dalam air laut tanpa
pelampung, sebab berat jenisnya lebih berat dari air. Demikianlah aturan yang
dituangkan dalam kitab suci (āyah qur’āniyah) dan yang dituangkan dalam hukum
alam (āyah kawniyah). Keduanya harus dipatuhi agar orang dapat hidup selamat
dan sejahtera, baik di dunia maupun di akhirat.
Begitulah prinsip dasar ajaran Islam mengenai hubungan manusia dengan
Tuhannya. Intinya adalah pengabdian dan penyembahan kepada Allah
(ibadah).Berpegang teguh pada tali agama Allah, lebih tepatnya menyelamatkan
diri dari kemunafikan. Memegang tali agama Allah berarti kesetiaan
melaksanakan semua ajaran agama dan mendakwahkannya. Selalu meningkatkan
amal saleh, mengikatkan hati kepada Allah, serta ikhlas dalam beribadah.5
2.3 HUBUNGAN MANUSIA DENGAN MANUSIA

Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri tanpa
berhubungan dengan orang lain. Manusia memiliki naluri untuk hidup
berkelompok dan berinteraksi dengan orang lain.6 Karena pada dasarnya, setiap
manusia memiliki kemampuan dasar yang berbeda-beda dan memiliki ciri khas
tersendiri yang dapat dijadikan sebagai alat tukar menukar pemenuhan kebutuhan
hidup.
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat,
selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat
dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial,
manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat
yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk,
karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam
kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri
manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan
orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup
di tengah-tengah manusia.
Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan
tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa
berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi
kemanusiaannya.
Selain itu, manusia diciptakan dari berbagai karakteristik, bersuku-suku dan
berbangsa-bangsa agar saling mengenal satu sama lain.
َ‫ارفوا ۚ ِإن أ َ ْك َر َمك ْم ِع ْندَ ّللاِ أَتْقَاك ْم ۚ ِإن ّللا‬ َ ‫ َيا أ َ ُّي َها الناس ِإنا َخلَ ْقنَاك ْم ِم ْن ذَكَر َوأ ْنثَى َو َج َع ْلنَاك ْم شعوبًا َوقَ َبا ِئ َل ِلت َ َع‬
﴾١٣﴿‫َع ِليم َخ ِبير‬
Artinya:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)
Selain saling mengenal, manusia juga sangat dianjurkan agar dapat menjalin
hubungan yang baik antar sesamanya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran, surah
Al-Hujurat ayat 10-12:
﴾١٠﴿ َ‫ص ِلحوا بَيْنَ أَخ ََويْك ْم ۚ َواتقوا ّللاَ لَ َعلك ْم ت ْر َحمون‬ ْ َ ‫ِإن َما ْالمؤْ ِمنونَ ِإ ْخ َوة فَأ‬
‫سى أ َ ْن يَكن َخي ًْرا‬ َ ‫ساء َع‬ َ ِ‫ساء ِم ْن ن‬ َ ِ‫سى أ َ ْن يَكونوا َخي ًْرا ِم ْنه ْم َو َّل ن‬ َ ‫يَا أَيُّ َها الذِينَ آ َمنوا َّل يَ ْسخ َْر قَ ْوم ِم ْن قَ ْوم َع‬
‫ان ۚ َو َم ْن لَ ْم يَتبْ فَأولَئِكَ هم‬ ِ ‫اْلي َم‬ ْ
ِ ْ َ‫س ِاّلسْم الفسوق بَ ْعد‬ َ ْ‫ب ۖ ِبئ‬ ِ ‫ِم ْنهن ۖ َو َّل ت َْل ِمزوا أ َ ْنف َسك ْم َو َّل تَنَا َبزوا ِب ْال َ ْلقَا‬
﴾١١﴿ َ‫الظا ِلمون‬
َ
ُّ‫ض الظ ِن ِإثم ۖ َو َّل ت َ َجسسوا َو َّل َي ْغتَبْ بَ ْعضك ْم َب ْعضًا ۚ أي ِحب‬ ْ َ ‫يرا ِمنَ الظ ِن ِإن بَ ْع‬ ً ‫يَا أَيُّ َها الذِينَ آ َمنوا اجْ تَنِبوا َك ِث‬
﴾١٢﴿‫أ َ َحدك ْم أ َ ْن يَأْك َل لَحْ َم أ َ ِخي ِه َم ْيتًا فَك َِر ْهتموه ۚ َواتقوا ّللاَ ۚ ِإن ّللاَ ت َواب َر ِحيم‬
Artinya:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah
sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang
ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan
merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan
janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran
yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang
buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan
janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu
sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi
Maha Penyayang.”
Dalam menjalin hubungan baik sesama manusia, hendaknya sikap hormat-
menghormati tidak dilupakan. Mengenai hal ini, Allah sudah memperingatkan
dalam surah An-Nisa ayat 86:7
َ ‫سنَ ِم ْن َها أ َ ْو ردُّوهَا ۗ إِن ّللاَ َكانَ َعلَى ك ِل‬
﴾٨٦﴿‫ش ْيء َحسِيبًا‬ َ ْ‫َوإِذَا حيِيت ْم بِت َِحية فَ َحيُّوا بِأَح‬
Artinya:
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah
memperhitungankan segala sesuatu.”
Sebagai makhluk sosial, manusia dapat saling berinteraksi menjalin hubungan
yang baik saling menghormati dengan sesama, berkasih sayang sebagai fitrah diri
manusia.
2.4 MANUSIA DENGAN HEWAN
Al-Qur'an meletakkan hewan pada kedudukan yang lebih rendah
dibandingkan dengan manusia dan mempunyai kecenderungan
terhadap antroposentrisme. Walau begitu, al-Qur'an menyuruh setiap Muslim untuk
memperlakukan hewan dengan rasa belas kasihan dan tidak menganiaya mereka.
Hewan beserta makhluk lain dipercaya senantiasa memuji Tuhan, walau pujian ini
tidak dinyatakan sebagaimana yang manusia perbuat.
Dalam Al-Qur’an, Surah An-Nuur ayat 45
‫َّللا ُ َخ َل َق ُك هل دَابه ٍة ِم ْن َماءٍ ۖ َف ِم ْن ُه ْم َم ْن يَ ْمشِي َع َل ٰى بَ ْطنِ ِه َو ِم ْن ُه ْم َم ْن يَ ْمشِي َع َل ٰى ِرجْ َل ْي ِن َو ِم ْن ُه ْم َم ْن‬
‫َو ه‬
‫ش ْيءٍ َقدِير‬
َ ‫َّللا َ َع َل ٰى ك ُِل‬ ‫نه‬ ‫إ‬ ۚ ‫ء‬ ‫َا‬
‫ش‬ ‫ي‬
‫ٰ ْ َ ٍ َ ُ هُ َ َ ُ ِ ه‬‫ا‬‫م‬ ‫َّللا‬ ‫ق‬ ُ
‫ل‬ ْ
‫خ‬ ‫ي‬ ۚ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ر‬ َ
‫أ‬ ‫ى‬ َ
‫ل‬ ‫ع‬
َ ‫ِي‬ ‫ش‬ ‫م‬
َْ ‫ي‬
Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian
dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua
kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan
apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu. (QS. An-Nuur, 24 : 45).

 Memberinya makan-minum, jika hewan-hewan tersebut lapar dan haus,


karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah: Terhadap yang mempunyai hati
yang basah terdapat pahala, (Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah). Siapa
tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi, (Muttafaq Alaih). Sayangilah
siapa saja yang ada di bumi, niscaya kalian disayangi siapa saja yang ada
di langit(Diriwayatkan Ath-Thabrani dan Al Hakim).
 Menyayanginya, dan berbelas kasih kepadanya, karena dalil-dalil berikut:
Ketika Rasulullah melihat orang-orang menjadikan burung sebagai
sasaran anak panah, dia bersabda: Allah melaknat siapa saja yang menjadikan
sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran, (Diriwayatkan Abu Daud dengan
sanad shahih). Rasulullah melarang menahan hewan untuk dibunuh dengan
sabdanya: Barangsiapa yang menyakiti ini (burung) dengan anaknya;
kembalikan anaknya padanya, (Diriwayatkan Muslim). Rasulullah bersabda
seperti itu, karena melihat burung terbang mencari anak-anaknya yang
diambil salah seorang sahabat dari sarangnya.
 Jika ia ingin menyembelihnya, atau membunuhnya, maka ia melakukannya
dengan baik, karena Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah mewajibkan
berbuat baik kepada segala hal. Oleh karena itu, jika kalian membunuh, maka
bunuhlah dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan
baik. Hendaklah salah seorang dan kalian menenangkan hewan yang akan
disembelihnya, dan menajamkan pisaunya, (Diriwayatkan Muslim, At
Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad).
 Tidak menyiksanya dengan cara-cara penyiksaan apapun baik dengan
melaparkannya, atau meletakkan padanya muatan yang tidak mampu ia
angkut, atau membakarnya dengan api, karena dalil-dalil berikut: Rasulullah
saw. bersabda, Seorang wanita masuk neraka karena kucing. Ia menahannya
hingga mati. Ia masuk neraka karenanya, karena ia tidak memberinya makan
sebab ia menahannya, dan tidak membiarkannya makan serangga-serangga
tanah, (Diriwayatkan Al-Bukhari). Rasulullah berjalan melewati
rumah semut yang terbakar, kemudian dia bersabda, Sesungguhnya siapa pun
tidak pantas menyiksa dengan api, kecuali pemilik api itu sendiri (Allah),
(Diriwayatkan Abu Daud. Hadits ini Shahih).
 Diperbolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan,
seperti anjing penggigit, serigala, ular, kalajengking, tikus, dan lain
sebagainya, karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah, Ada lima hewan
membahayakan yang boleh dibunuh di tempat halal dan haram, yaitu ular,
burung gagak yang berwarna belang-belang, tikus, anjing yang suka
menggigit dan burung hudaya (rajawali). (Diriwayatkan Muslim).
Diriwayatkan pula bahwa diperbolehkan membunuh gagak dan melaknatnya.
Diperintahkan pula untuk membunuh cecak di manapun kita
jumpai.[6][7] Muhammad bersabda Barangsiapa yg membunuh cecak dg satu
pukulan maka baginya 100 pahala, dan bila dg dua pukulan maka terus
berkurang dan berkurang.[8] Ummu Syarik berkata: Nabi telah menyuruh
membunuh cecak.[9] Muhammad memberinya julukan Fuwaisiqa yang berarti
si kecil yang fasiq.[10]
 Diperbolehkan mengecap telinga hewan untuk kemaslahatan, karena
Rasulullah mengecap onta zakat dengan tangannya yang suci.
 Mengetahui hak Allah dengan mengeluarkan zakat hewan tersebut, jika
hewan tersebut termasuk hewan yang harus dizakati.
2.5 MANUSIA DENGAN ALAM (TUMBUHAN)

Prinsip dasar hubungan manusia dengan alam atau makhluk lain di


sekitarnya pada dasarnya ada dua:

1. pertama, kewajiban menggali dan mengelola alam dengan segala


kekayaannya; dan
2. kedua, manusia sebagai pengelola alam tidak diperkenankan merusak
lingkungan, karena pada kahirnya hal itu akan merusak kehidupan umat
manusia itu sendiri.

Mengenai prinsip yang pertama, Allah berfirman dalam Al-Quran surat Hud ayat
61:

ِ ‫شأَك ْم ِمنَ ْال َ ْر‬


‫ض َوا ْستَ ْع َم َرك ْم فِ ْي َها‬ َ ‫ه َوأَ ْن‬

Artinya: “Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan
memerintahkan kalian memakmurkannya (mengurusnya)”.

Adapun mengenai prinsip yang kedua, yaitu agar manusia jangan merusak alam,
dinyatakan oleh Allah melalui berbagai ayat dalam Al-Quran, di antaranya dalam
surat Al-A’raf ayat 56:

‫ص ََل ِح َها‬ ِ ‫َو َّلت ْفسِد ْوا فِى ْال ْر‬


ْ ِ‫ض بَ ْعدَ إ‬

Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah)


memperbaikinya”.
BAB III
KESIMPULAN

Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi
nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling
sempurna yang memiliki berbagai kemampuan. Oleh karena itu, manusia wajib
bersyukur atas karunia yang telah diberikan Allah Swt.
Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah Swt
terhadap hamba-hamba-Nya, bahwa dialah yang mencipytakan, menghidupkan dan
menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakan manusia dalam
konteks hubungan manusia dengan Allah Swt adalah dengan mengimami Allah Swt
dan memikirkan ciptaan-Nya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada
Allah Swt. Sedangkan dalam konteks hubungan manusia dengan manusia, serta
manusia dengan alam adalah untuk berbuat amal, yaitu perbuatan baik dan tidak
melakukan kejahatan terhadap sesama manusia, serta tidak merusak alam.
Manusia dipercaya Allah untuk menjadi khalifah dimuka bumi
ini.Allah.Dia pernah memberi amanat kepada bumi tapi bumi tak sanggup untuk
memikulnya,begitu juga dengan gunung.Dan akhirnya manusialah yang dipercaya
unutuk mengemban amanat itu.
Sebagai wakil Allah di bumi ini,manusia salah satu tugas manusia adalah
untuk mennjaga keseimbangan kehidupan di bumi ini.Serta menjalin hubungan
dengan Allah,dengan sesama manusia,dan dengan lingkungan kehidupannya.
Kepemimpinan adalah suatu amanah yang diberikan Allah yang suatu ketika
nanti harus kita pertanggungjawabkan.
DAFTAR PUSTAKA
 https://youchenkymayeli.blogspot.com/2016/03/etika-islam-
manusia-dengan-manusia.html
 https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_dan_hewan
 https://id.wikipedia.org/wiki/Makhluk
 https://ummisamanm.wordpress.com/2013/01/31/hubungan-
manusia-dengan-tuhan-sesama-dan-alam/