Anda di halaman 1dari 11

TARI BARONG DAN KERIS

(BARONG & KRIS DANCE STAGE UMA DEWI)

Disusun Oleh:

M.Muzaiyin Putra Perdana (XI.2/21)

STUDI BUDAYA SMA NEGERI 1 BUMIAYU

Jalan P. Diponegoro 2 Bumiayu Brebes 52273, telp:0289 432312

-1-
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt atas segala rahmatnya sehingga karya tulis ini dapat
disusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan
dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan materi maupun pikirannya.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak
kekurangan dalam karya tulis ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik
dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis ini.

-2-
DAFTAR ISI

Halaman judul.................................................................................................................i

Pengantar........................................................................................................................ii

Daftar Isi……………………………………………………………….

BAB I
PENDAHULUAN..........................................................................................................1

A. Latar Belakang…………………………………………………………………..1
B. Tujuan…………………………………………………………………………...1
C. Manfaat………………………………………………………………………….1

BAB II DESKRIPSI LOKASI WISATA……………………………………………..2

A. Tempat dan waktu……………………………………………………………….2


B. Cerita umum……………………………………………………………………..2
C. Jalannya cerita barong secara lengkap…………………………………………..2

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan……………………………………………………………………...7
B. Implementasi dalam kehidupan…………………………………………………7

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………8

LAMPIRAN…………………………………………………………………………...8

-3-
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehidupan di dunia ini diciptakan oleh Allah secara sempurna seimbang antara
yang baik dengan yang buruk,yang jahat /salah dengan benar/baik/lurus. Dua sisi itu
tidak ada yang dominan. Kita manusia seharusnya menyadari hal itu agar dapat
menerima takdir dengan lapang dada tanpa syarat. Untuk itulah tarian barong ini
diciptakan untuk mengingatan kita manusia sekaligus sebagai hiburan yang mendidik.

B. Tujuan
Tujuan tari barong ini awalnya adalah untuk mengusir aura buruk, menangkal
wabah penyakit, mengusir seten. Seiring perkembangan jaman tari barong ini
dipentaskan untuk pertunjukan seni yang mengarah ke pendidikan dan hiburan.
Meskipun dalam pelaksaannya masih terikat dengan adat dan keyakinan mereka (orang
hindu) yang masih memakai sesaji dan ritual mendatangkan setan dan mengusir setan.

C. Manfaat
Manfaat pementasan tari barong adalah memberikan peringatan atau pendidikan
kepada pemirsa bahwa kehidupan itu ada dua sisi yang selalu seimbang antara setan
(leak) dengan dewa (malaikat),hitam dengan putih,buruk dengan baik, malam dengan
siang dan seterusnya, agar manusia itu tahu diri.
Manfaat yang kedua untuk hiburan mengapresiasi seni musik, seni pertunjukan drama
yang mempesona.

-4-
BAB II

DESKRIPSI TARI BARONG

A. Tempat dan waktu


Tempat pertunjukan tari barong di Stage Uma Dewi jalan Waribang 21 Kesiman
telp. (0361)285596 Denpasar, Bali.
Waktu pertunjukan tari barong pukul 09.30 sampai 10.30 WTA.

B. Cerita tari barong secara umum


Tari barong ini menceritakan pertarungan antara kebajikan dengan kebatilan.
Barong adalah makhluk mithologi yang melukiskan kebajikan dan Rangda adalah yang
melambangkan yang maha dahsyat yaitu kebatilan.

C. Cerita pertunjukan tari barong secara lengkap


Sebelum tarian dimulai dalam panggung ada sepasang panjor kanan kiri pintu
keluar pemeran tari yang berfungsi untuk menyambut pertunjukan. Panjor ini dibuat
dari bambu utuh yang dihiasi janur dan bunga. Panjor biasa dipasang di tepi jalan depan
rumah atau bangunan pure. Setiap kali ada acara adat atau perayaan agama atau
penyambutan pejabat serta kegiatan upacara, mereka memasang panjor. Selain panjor
juga sesaji yang terdiri dari tiga unsur yaitu unsur tanah atau bumi dengan bentuk hasil
bumi , unsur air berbentuk bunga, unsur api berbentuk dipa, semua ditaruh dalam wadah
yang terbuat dari janur. Sesaji dilakukan oleh seorang ibu/”memek jegek” di tengah
depan panggung dan ditempat depan pojok gamelan.

Gending pembukaan diperdengarkan dengan 11 orang penabuh. Gamelan tersebut


terdiri dari punggel 3 buah, phathus 3 buah, crenceng satu, gupek atau kendang 2 buah,
gong 2 buah, kentheng satu buah, thawo atau kenong satu buah. Gending pembuka ini

-5-
selain mengiringi tari barong berfungsi menghibur para leluhur yang sudah mati biar
mereka tenang di alam baka.

Adegan awal munculnya barong dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat,
datanglah tiga orang bertopeng yang menggambarkan sedang membuat keributan dan
merusak ketenangan hutan. Mereka bertemu dengan kera dan kemudian berkelai. Sang
kera dapat memotong hidung salah seorang dari mereka. Mereka lari meninggalkan
hutan.

-6-
Adegan kedua yaitu munculnya dua orang penari, mereka adalah pengikut-pengikut
dari Rangda sedang mencari pengikut-pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam
perjalanan untuk menemui patihnya. Pengikut- pengikut Dewi Kunti datang. Salah
seorang pengikut Rangda berubah menjadi setan (semacam Rangda) dan memasukkan
roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti yang menyebabkn mereka bisa menjadi marah.
Keduanya menemui patih dan bersama- sama menghadap Dewi Kunti.

Adegan ketiga muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sahadewa dan Dewi Kunti
telah berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan anaknya sebagai korban. Sebenarnya
Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan Sahadewa pada Rangda. Tetapi setan
jilmaan Rangda merasuki roh jahat kepadanya yang menyebabkan Dewi Kunti bisa
menjadi marah dan berniat mengorbankan anaknya serta memerintahkan kepada

-7-
patihnya untuk membuang Sahadewa ke hutan. Sang patih inipun tak luput dari
kerasukan roh jahat oleh setan. Ia mengikat Sahadewa di hutan di depan Sang Rangda.

Adegan keempat turunlah dDewa Siwa dan memberikan keabadian pada


Sahadewa. Keabadian itu tidak diketahui oleh Rangda kemudian Rangda datang untuk
mengoyak-koyak dan membunuh Sahadewa. Rangda tidak dapat membunuhnya karena
kekebalan yang dianugrahkan oleh Dewi Siwa. Rangda menyerah kepada Sahadewa
dan memohon
untuk diselamatkan agar bisa masuk surga. Permintaan ini dipenuhi oleh Sahadewa dan
Sang Rangda mendapat surga.

-8-
Adegan kelima munculnya Kalika adalah pengikut Rangda menghadap Sahadewa
ingin jadi pengikutnya,tetapi ditolak. Penolakan ini menimbulkan perkelaian dan
Kalika merubah rupa menjadi babi hutan. Dan dalam pertarungan antara Sahadewa
melawan babi hutan dimenangkan oleh Sahadewa. Kemudian babi hutan merubah
dirinya menjadi burung tetapi tetap kalah.akhirnya Kalika (burung) berubah rupa lagi
menjadi Rangda. Oleh karena saktinya Rangda maka Sahadewa tidak dapat
membunuhnya dan ia berubah rupa menjadi barong. Karena sama saktinya maka
pertempuran antara barong melawan Rangda tidak ada yang menang dengan demikian
pertarungan dan perkelaian ini berlangsung terus abadi “kebajikan melawan kebatilan”.
Muncullah pengikut-pengikut barong masing –masing dengan kerisnya hendak
memotong barong dalam pertarungan melawan Rangda. Mereka ini semua tidak
berhasil melumpuhkan kesaktian Sang Rangda.

-9-
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan
(adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan kostum
binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu
sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya.

B. Implementasi dalam kehidupan


Setiap manusia diciptakan Allah itu membawa dua sisi kebajikan dan kebatilan jadi
tidak ada yang sempurna. Terimalah ini sebagai takdir dengan lapang dada.

- 10 -
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Barong_%28mitologi%29

LAMPIRAN-LAMPIRAN

- 11 -