Anda di halaman 1dari 10

#amanbertransaksi

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN TRANSAKSI E-


COMMERCE LINTAS NEGARA DALAM HUKUM NASIONAL DAN
INTERNASIONAL

A. Konsumen dalam Transaksi E-Commerce Lintas Negara Memerlukan


Perlindungan Hukum
Pentingnya perlindungan hukum bagi konsumen disebabkan posisi tawar
konsumen yang lemah. Perlindungan hukum terhadap konsumen mensyaratkan adanya
pemihakan kepada posisi tawar yang lemah (konsumen).
Perlindungan hukum bagi konsumen adalah suatu masalah yang besar, dengan
persaingan global yang terus berkembang. Perlindungan hukum sangat dibutuhkan dalam
persaingan dan banyaknya produk serta layanan yang menempatkan konsumen dalam
posisi tawar yang lemah. Perlindungan hukum bagi konsumen dalam bentuk
perlindungan hukum yang diberikan oleh negara.
Berhubungan dengan itu, mengingat tujuan negara untuk menjaga dan
memelihara tata tertib, diharapkan negara memberi perhatian. Perhatian negara terhadap
hukum perlindungan konsumen ini, dinamakan politik hukum negara.
Pentingnya suatu negara mengatur perlindungan hukum terhadap konsumen,
umumnya didasarkan pada pertimbangan aktualitas dan urgensinya. Dalam pertimbangan
aktualitasnya, perlindungan hukum bagi konsumen perlu ditegakkan pada sebuah
pemerintahan berdasarkan rumusan situasi yang sedang dan akan berkembang terhadap
“nasib” masyarakat konsumen. Pertimbangan ini biasanya ditempuh dengan
memperhatikan:
#amanbertransaksi

Tingkat
pembangunan
masing-masing
negara

Pertumbuhan
industri dan
teknologi

Filosofi dan
kebijakan
pembangunan

Dalam memberikan perlindungan hukum bagi konsumen dengan cara intervensi


negara untuk melindungi hak-hak konsumen dalam bentuk peraturan perundang-
undangan. Terhadap posisi tawar konsumen yang lemah tersebut, maka ia harus
dilindungi oleh hukum. Hal itu dikarenakan salah satu sifat, sekaligus tujuan hukum
adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. Perlindungan
hukum kepada masyarakat tersebut harus diwujudkan dalam bentuk kepastian hukum
yang menjadi hak konsumen.
Mengingat peran penting ini dan kenyataan bahwa konsumen biasanya individu
dan dalam posisi yang lemah, maka perlu diberikan kepada mereka perlindungan hukum
yang cukup. Kebijakan perlindungan hukum bagi konsumen akan mendorong
kepercayaan konsumen sehingga memajukan partisipasi mereka dalam transaksi dan
meningkatkan bisnis.
W.J. Brown mengungkapkan bahwa salah satu alasan untuk melindungi
konsumen adalah:
“. . .that due the technical development of consumer goods, the ordinary
consumer cannot be expected to know if the goods are fit for the purpose for which they
were bought, or if the are of good or bad quality.”
Tumbuhnya kesadaran negara untuk memberikan perlindungan hukum bagi
konsumen yang berada dalam posisi tawar yang lemah, dimulai dengan memikirkan
berbagai kebijakan. Di Masyarakat Eropa misalnya, gerakan awal perlindungan bagi
konsumen ditempuh melalui 2 tahap program, yaitu program pertama pada tahun 1973
dan program kedua pada tahun 1981.
#amanbertransaksi

Kecurangan produsen terhadap konsumen seperti bentuk kontrak standar,


ketentuan perkriditan, dan penjualan yang bersifat memaksa, perlindungan
hukum terhadap konsumen yang menderita kerugian akibat mengkonsumsi
produk cacat, kasus iklan yang menyesatkan.

❖ Tahun 1973

Masyarakat Eropa menekankan kembali hak-hak dasar konsumen, yang


kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah Komisi Eropa mengeluarkan
kerangka acuan perlindungan hukum bagi konsumen, yaitu: Pertama, produk
yang dipasarkan harus memenuhi standar kesehatan dan keselamatan
konsumen. Kedua, Konsumen harus selalu diperhitungkan dalam setiap
kebiijakan-kebijakan yang dikeluarkan Masyarakat Eropa.

❖ Tahun 1981

Tiga Hak yang Menjadi Prinsip Dasar Hak-hak Konsumen:

Hak untuk
mencegah konsumen
dari kerugian.

Hak untuk
memperoleh Hak untuk
penyelesaian memperoleh
yang patut barang/jasa
terhadap dengan harga
permasalahan wajar.
yang dihadapi.
#amanbertransaksi

Dalam Pasal 2 UUPK, dinyatakan bahwa perlindungan hukum bagi konsumen


diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 prinsip dalam pembangunan nasional,
yaitu:

Prinsip Manfaat

Prinsip
Prinsip Keadilan
Keseimbangan

Prinsip
Prinsip
Keamanan dan
Kepastian
Kesalamatan
Hukum
Konsumen

Dalam transaksi e-commerce lintas negara yang menempatkan konsumen dalam


posisi tawar yang lemah, memerlukan pengaturan hukum. Pengaturan hukum dalam transaksi e-
commerce adalah untuk menciptakan tingkat kepastian yang diperlukan dalam transaksi bisnis
dan melindungi konsumen transaksi e-commerce yang mempunyai posisi tawar yang lemah.
Tidak diragukan bahwa dengan pesatnya e-commerce, pengembangan infrastruktur hukum dan
pengawasan sangat diperlukan. Dengan demikian, mekanisme hukum perlu dikembangkan untuk
menjadikan transaksi e-commerce efisien dan aman, serta terbina secara hukum.

Perlindungan hukum bagi konsumen menghadapi tantangan besar dari revolusi


transaksi e-commerce misalnya, komunikasi perdagangan dan kontrak yang dilakukan jarak jauh
lintas negara. Applicability dan effectiveness aturan perlindungan konsumen “tradisional” dalam
lingkungan online adalah terbatas. Kebijakan “tradisional” tidak mudah diterapkan pada
transaksi e-commerce lintas negara yang merupakan pasar global.

Dengan berkembangnya konsumen dalam transaksi e-commerce, yang merupakan


partisipan penting dalam transaksi. Undang-undang memberikan perlindungan bagi konsumen
terhadap penipuan dan kasus perdagangan yang curang oleh pelaku usaha. Sistem transaksi e-
commerce menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi untuk memastikan bahwa kedua belah pihak
tidak melanggar aturan hukum.
#amanbertransaksi

Penciptaan dan pemberlakuan komitmen yang mengikat dalam lingkungan digital


bergantung pada langkah-langkah pengawasan yang memadai dan aturan hukum yang mengakui
dan mendukung langkah-langkah ini. Hukum dan peraturan yang mengatur suatu transaksi e-
commerce antara lain:

1. Praktik transaksi yang diterima dan sah menurut hukum di bidang transaksi e-commerce;
2. Ketentuan kesepakatan antara konsumen dan pelaku usaha;
3. Aturan perundangan dan regulasi untuk melindungi hak-hak konsumen transaksi e-
commerce lintas negara;
4. Aturan yurisdiksi.

Masing-masing negara berbeda-beda dalam memberikan perlindungan hukum bagi


konsumen dalam transaksi e-commerce lintas negara. Hasil penelitian menunjukkan jika dilihat
dari perlindungan hukum yang diberikan dapat dibagi kepada 5 bagian, yaitu:

Perlindungan Lembaga
Sistem Tanggung
Hukum dalam Perlindungan
Jawab Produk
Transaksi Konsumen

Sengketa Konsumen
dalam Transaksi e-
Privacy Policy
commerce lintas
negara

B. Lembaga Perlindungan Konsumen dan Badan Perlindungan Konsumen Nasional


Lembaga perlindungan konsumen merupakan lembaga yang diberi wewenang oleh
negara atau swadaya masyarakat untuk memberikan perlindungan hukum bagi konsumen
dan menerima keluhan konsumen jika menemui permasalahan dalam transaksi serta
memperjuangkan hak-hak konsumen, dan memberikan pendidikan serta informasi yang
memadai untuk melindungi konsumen.
#amanbertransaksi

Lembaga perlindungan konsumen memberikan perlindungan hukum bagi konsumen


minimal dalam hal:

FTC (Federal Trade Commission) telah mengambil tiga langkah untuk mencegah
kecurangan dalam transaksi e-commerce:

FTC telah mengajukan hampir 200 kasus pengaduan konsumen internet ke


pengadilan dan telah menindaklanjuti ratusan keluhan. Tindakan-tindakan yang diberikan
adalah sebagai respon atau keluhan konsumen, yang dapat disampaikan secara elektronik
dalam situs Web FTC.
#amanbertransaksi

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)


Mempunyai fungsi memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam
upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia. BPKN ini berkedudukan di
ibu kota negara Republik Indonesia dan bertanggung jawab kepada presiden.

Tugas BPKN
a. Memberika saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan
kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen;
b. Melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan
yang berlaku di bidang perlindungan konsumen;
c. Melakukan penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut
keselamatan konsumen;
d. Mendorong berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat;
e. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen,
dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen;
f. Melakukan survey yang menyangkut kebutuhan konsumen.

Penyelesaian Sengketa/Perselisihan
Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen dalam pasal 23 mengatakan bahwa
apabila pelaku usaha pabrikan dan/atau pelaku usaha distributor menolak dan/atau tidak
memberi tanggapan dan/atau tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen, maka
konsumen diberikan hak untuk menggugat pelaku usaha, dan meyelesaikan perselisihan
yang timbul melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen(BPSK), atau dengan cara
mengajukan gugatan kepada badan peradilan di tempat kedudukan konsumen.
Berikut tabel penyelesaian sengketa perlindungan konsumen mulai dari konsumen
mengajukan permintaan ganti rugi, pengajuan gugatan ke BPSK, sampai dengan
penyelesaian akhir melalui Mahkamah Agung.

PASAL DESKRIPSI(URAIAN) POINTER HARI


A 23 Permintaan ganti rugi pasal 19 A 7
Penyelesaian melalui BPSK
B Pengajuan gugatan kepada BPSK
C 55 Putusan oleh BPSK B + 21 21
D 56(1) Pelaksanaan putusan BPSK oleh pelaku usaha C+7 7
E 56(2) Pengajuan keberatan atas putusan BPSK C + 14 14
Penyelesaian melalui Pengadilan
F 58(1) Putusan atas keberatan oleh PN E +21 21
G 58(2) Kasasi ke Mahkamah Agung F + 14 14
Penyelesaian akhir oleh Mahkamah Agung
H 58(3) Putusan Oleh Mahkamah Agung G + 30 30
TOTAL HARI 107
#amanbertransaksi

C. Usulan dari Institusi Internasional


1. PBB (United Nations)
United Nation atau PBB adalah institusi antar pemerintah internasional
yang terbesar. Selain menjadi institusi umum (general organization), PBB juga
merupakan universal organization di mana keanggotaannya terbuka bagi semua
negara di dunia. Piagamnya, sebuah kontrak multilateral yang ditetapkan tahun
1945, menetapkan tujuan-tujuan PBB sebagai pemelihara perdamaian dan
keamanan di dunia, peningkatan kerjasama ekonomi dan sosial, dan perlindungan
hak-hak manusia. Badan utama PBB meliputi General Assembly, Securty Council,
Secretariat, International Court of Justice, dan Economic and Social Council.
Selain itu, ada sejumlah komisi, komite, kelompok kerja, dan badan-badan
tambahan lainnya. Di antaranya adalah UN Commission on International Trade
Law dan UN Conference on Trade and Development.
United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL)
bertugas memajukan perkembangan hukum perdagangan internasional.

2. Organization for Economic Co-operation and Development


Salah satu institusi yang paling aktif memusatkan perhatian pada
persoalan-persoalan e-commerce internasional adalah Organization for Economic
Co-operation and Development (OECD). OECD adalah suatu institusi konsultatif
yang membantu negara-negara anggotanya untuk memajukan pertumbuhan
ekonomi, pekerjaan, dan standar hidup melalui koordinasi hukum, regulasi dan
kebijakan mereka.

3. World Trade Organization


WTO adalah suatu lembaga perdagangan multilateral yang permanen.
Sebagai suatu organisasi permanen, peranan WTO akan lebih kuat daripada
GATT.
Fungsi WTO adalah melancarkan pelaksanaan perjanjian WTO,
pengadministrasian, serta lebih meningkatkan tujuan dan perjanjian pembentukan
WTO, dan akan menjadi forum negosiasi bagi para anggota di bidang yang
menyangkut perdagangan multilateral, forum penyelesaian sengketa, serta
melaksanakan peninjauan atas kebijakan perdagangan.
#amanbertransaksi

WTO dilengkapi dengan sejumlah organ, sebagai berikut:

General Ministerial
Council Conference

Council for Trade


Council
Related Aspects of
Trade in
International
Goods
Property Rights

Dispute
Trade Policy Review
Settleme
Body
nt Body

Pengaruh WTO dalam perdagangan bebas juga berpengaruh terhadap


konsumen e-commerce. Ada dua asumsi dalam melihat posisi konsumen e-
commerce di era pasar bebas. Pertama, posisi konsumen yang diuntungkan dan
Kedua, posisi konsumen khususnya di negara berkembang, seperti Indonesia
dengan adanya perdagangan bebas yang dirugikan. Alasannya, masih lemahnya
pengawasan di bidang standarisasi barang, lemahnya produk perundang-
undangan, akan menjadikan konsumen negara dunia ketiga menjadi “sampah”
berbagai produk di negara maju yang tidak memenuhi persyaratan untuk
dipasarkan. Contoh, kasus buah impor, di negara maju ditolak karena
kandungan/residu pestesida di atas ambang batas yang membahayakan kesehatan,
sementara di negara berkembang bebas masuk karena belum ada standardisasi
mutu buah impor. Permasalahannya, prasyarat-prasyarat apa yang harus ada
dalam pranata hukum Indonesia, agar era perdagangan bebas bagi konsumen e-
commerce lintas negara benar-benar menjadi anugerah, bukan sebaliknya justru
menjadi musibah.
#amanbertransaksi

Konklusi

Berbicara mengenai perlindungan konsumen berarti berbicara tentang


salah satu sisi dari korelasi antara lapangan perekonomian dan lapangan etika. Di
sinilah peran sektor yuridis sebagai faktor penjamin agar arus transformasi etika
serta ke dalam batang tubuh perekonomian tetap dapat terpelihara.
Dengan demikian, seluruh hak-hak konsumen, serta semua instrumen yang
dapat dipergunakan untuk menegakkan hak-hak tersebut, diharapkan dapat diakui
sepenuhnya.
Dalam era globalisasi , pembangunan perekonomian nasional harus dapat
mendukung tumbunya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka
barang dan/atau jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak. Dengan semakin terbukanya
pasar nasional sebagai akibat dari proses globalisasi ekonomi tersebut, konsumen
harus tetap memperoleh jaminan kesejahteraan , serta kepastian ats mutu, jumlah,
dan keamanan barang dan/atau jasa yang diperolehnya di pasar.
Salah satu faktor utama yang menjadi kelemahan konsumen adalah tingkat
kesadaran akan haknya memang masih sangat rendah. Hal ini terutama
disebabkan oleh kurangnya kesadaran dari pihak konsumen itu sendiri akan
rendahnya pendidikan konsumen yang ada. Oleh karena itu, Undang-undang
tentang Perlindungan Konsumen dimaksudkan menjadi landasan hukum yang
kuat bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat
untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan
pendidikan konsumen.