Anda di halaman 1dari 16

TUGAS FITOKIMIA

Dosen : IKA MARUYA, M.Si

DISUSUN OLEH :
PUJI LESTARI 16334080
HERLANY OCTAVIA 16334
RIZKY AMELIA 16334076
YOVI ADE ANITA 16334
RESTU SIPANGKAR
KELAS :

FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2018
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak dahulu masyarakat Indonesia mengenal dan memakai tumbuhan sebagai
salah satu upaya dalam penanggulangan masalah kesehatan yang dihadapinya.
Namun hal ini dilakukan berdasarkan pengalaman yang turun temurun dan bukan
melalui kajian yang sistematis dan terencana, sehingga komponen kimia yang
aktif dari tumbuhan tersebut belum banyak ditemukan (Harborne, 1987).
Senyawa kimia dalam tumbuhan merupakan hasil metabolisme sekunder dari
tumbuhan itu sendiri. Senyawa metabolit sekunder sangat bervariasi jumlah dan
jenisnya dari setiap tumbuh-tumbuhan. Beberapa dari senyawa tersebut telah
diisolasi, sebagian diantaranya memberikan efek fisiologi dan farmakologis yang
lebih dikenal sebagai senyawa kimia aktif (Kusuma, 1988).

Salah satu metabolit sekunder pada tumbuhan adalah golongan kumarin.


Senyawa kumarin dan turunannya banyak memiliki aktifitas biologis diantaranya
sebagai anti koagulan darah, antibiotik dan ada juga yang menunjukkan aktifitas
menghambat efek karsinogenik. Selain itu kumarin juga digunakan sebagai bahan
dasar pembuatan parfum dan sebagai bahan fluorisensi pada industri tekstil dan
kertas (Murray, 1982). Kumarin banyak terdapat pada tumbuhan Angiospermae
dan tidak jarang pada Gymnospermae serta tumbuhan tingkat rendah. Pada
umumnya terdapat pada famili Rutaceae, Leguminoceae, Umbelliferae dan
Graminae. Kumarin ditemukan hampir di setiap bagian tumbuh-tumbuhan mulai
dari akar, batang, daun sampai bunga dan juga buah (Robinson, 1995).
Jeruk purut (Citrus hystrix DC) merupakan salah satu jenis jeruk dari famili
Rutaceae. Penggunaan buah dan daun jeruk purut telah dikenal oleh masyarakat
sejak dahulu sebagai obat tradisional. Bagian daun biasanya digunakan untuk
mengatasi badan letih dan lelah sehabis sakit berat dan juga untuk penyedap
masakan. Sedangkan kulit buah jeruk purut digunakan sebagai obat bisul, panas
dalam, radang kulit, radang payudara, kulit bersisik dan kulit mengelupas
(Setiawan, 2000). Buah jeruk purut juga sering digunakan dalam pengobatan
magik. Selain itu kulit buah jeruk purut digunakan untuk penyedap masakan,
pembuatan kue dan dibuat manisan (Setiadi dan Parmin, 2004). Dari penelusuran
literatur, tumbuhan jeruk purut mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu
kumarin, flavonoid, steroid, fenolik dan minyak atsiri (Setiawan, 2000).
Berdasarkan uji fitokimia yang dilakukan pada kulit buah jeruk purut banyak
terdapat senyawa golongan kumarin, juga adanya senyawa lain yaitu flavonoid
dan steroid.

1.2 Tujuan
Untuk memahami tahapan biosintesis kumarin

Untuk memahami fungsi kumarin

Untuk mengetahui distribusi kumarin pada tanaman

1.3rumusan masalah
apakah pengertian dari kumarin dan sumbernya?
Bagaimana tahapan biosintesisnya?
Apakah fungsi dari kumarin?
BAB II

ISI

2.1 Fenil Propanoid

Fenilpropanoid mewakili kelompok besar produk alamiah yang diturunkan


dari asam aminofenilalanin dan tirosin atau dalam beberapa kasus, di tengah jalur
biosintesisnya melalui biosintesis asam sikimat. Seperti yang terlihat dari
namanya, kebanyakan senyawa yang terkandung dalam strurkturnya adalah
cincin fenil yang terletak dalam tiga sisi rantai karbon propana. Karena
kebanyakan fenlipropaoid di alam merupakan fenolik dengan satu atau lebih
kelompok hidroksil dalam cincin aromatis, maka sering disebut sebagai
tumbuhan fenolik.

Berbagai macam kategori fenilpropaoid memasukkan asam


hidroksisinamat sebgai asam p-kumarat dan asam kafeat, fenilpropen yang
muncul dari diehidrasi sinnamil alcohol yang dihasilkan oleh reduksi asama
sinamat, kumarin, yang merupakan lakton yang diturunkan dari asam o-
hidroksisinamat, dan kromon yang merupakan isomer dari kumarin. Beberapa
senyawa dianggap sebgai penyingkatan fenilpropanoid baik tanpa rantai samping
seperti katekol atau dengan cincin samping dengan satu atom karbon seperti asam
gallat, asam benzoalt, sacicin, metal salisilat, dan vanillin, atau dua atom karbon
seperti 2-feniletanol. Dalam beberapa kasus rantai sisi dari dua fenil propanoid
saling berinteraksi membentuk turunan bisfenilpropanoid yang disebut lignan
atau neolignan. Dengan flavonoid satu cincin aromatis dan rantai smping C3 nya
mempunyai asal usul fenilpropanoid dari p-kumarol KoA yang dirutunkan dari
fenilalanin, dan cincin aromtis lain dalam molekul adalah sebagai hasil dari
kondnesasi dengan tiga molekul malonil KoA melalui biosintesis poliketida.
Fenilpropanoid juga bertindak sebagai unit pembangun dalam pembentukan
polimer dengan berat molekul besar dalam tumbuhan.

2.2 Kumarin

Kumarin merupakan golongan senyawa fenilpropanoid yang memiliki


cincin lakton lingkar enam dan memiliki inti 2H-l-benzopiran-2-on dengan rumus
molekul C9H5O2. Kumarin dan banyak memiliki aktifitas biologis dapat
menstimulasi pembentukan pigmen kulit, mempengaruhi kerja enzim,
antikoagulan darah, antimikroba dan menunjukkan aktifitas menghambat efek
karsinogen.3 Di sisi lain senyawa turunan kumarin polisiklik aktif sebagai
antikarsinogen yang disebabkan hidrokarbon aromatik polisiklik karsinogen
seperti 6-metil (a) piran.

Kumarin adalah lakton asam o-hidroksisinamat. Nama kumarin berasal


dari bahasa Karibia coumarou untuk pohon tonka. Coumarin tidak berwarna,
kristal prismatik, dan mempunyai karakteristik bau yang wangi dan rasa pahit,
aromatis, rasa yang panas, larut dalam alkohol. Kumarin juga dapat disintesis
dengan cepat. Beberapa turunan kumarin memiliki sifat antikoagulan. Kumarin
juga mempunyai aktivitas sebagai antispasmodik.

Bis-hidroksikumarin atau dikumarol merupakan obat yang berhubungan


dengan kumarin. Dicumarol didapatkan secara alami dari dedaunan dan pucuk-
pucuk bunga Melilous officinalis (Linne) Pall (Fam. Lamiaceae). Dikumarol
digunakan sebagai antikoagulan, termasuk garam-garam warvarin juga
digunakan untuk efek ini. Derivat kumarin yang merupakan antikoagulan yang
berfungsi secara langsung dan digunakan untuk juga untuk pencegahan dan
pengobatan venous trombosis dan pulmonary embolism / radang paru-paru.
Senyawa-senyawa ini juta berfungsi mengobati penyakit liver dengan melibatkan
pada aksi vitamin K yang dibutuhkan ada karboksilasi gamma pada residu asam
glutamik dalam protein pembentuk faktor-faktor koagulasi II, VII, IX, dan X .
Kumarin cukup banyak tersebar di alam. Senyawa ini banyak terdapat di
kacang tonka, Diperyx odorata (Aublet) Wissdenow dan D. Opositifolia (Aublet)
Willdenow, Fam. Lamiaceae. Pada mulanya kumarin digunakan sebagai zat
pemberi rasa, namun adanya interaksi kumarin dengan obat atau zat terapetik,
FDA telah menghentikan kumarin sebagai penyedap. Kumarin dapat diisolasi
dari sweet vernal grass (Antrhoxanthum odoratum L, Fam. Poaceae), semanggi
manis (Melilotus albus Medicus dan M. officinalis (Linne) Lamarck, Fam.
Laminaceae, dan semanggi erah (Trifolium pretense L, Fam Lamiaceae).

2.3 Jeruk Purut (Citrus hystrix DC)

Jeruk purut (Citrus hystrix DC) merupakan salah satu jenis jeruk dari famili
Rutaceae. Penggunaan buah dan daun jeruk purut telah dikenal oleh masyarakat
sejak dahulu sebagai obat tradisional. Bagian daun biasanya digunakan untuk
mengatasi badan letih dan lelah sehabis sakit berat dan juga untuk penyedap
masakan. Sedangkan kulit buah jeruk purut digunakan sebagai obat bisul, panas
dalam, radang kulit, radang payudara, kulit bersisik dan kulit mengelupas
(Setiawan, 2000). Buah jeruk purut juga sering digunakan dalam pengobatan
magik. Selain itu kulit buah jeruk purut digunakan untuk penyedap masakan,
pembuatan kue dan dibuat manisan (Setiadi dan Parmin, 2004).

Dari penelusuran literatur, tumbuhan jeruk purut senyawa metabolit


sekunder yaitu kumarin, flavonoid, steroid, fenolik dan minyak atsiri (Setiawan,
2000). Berdasarkan uji fitokimia yang dilakukan pada kulit buah jeruk purut
banyak terdapat senyawa golongan kumarin, juga adanya senyawa lain yaitu
flavonoid dan steroid. Senyawa kumarin yang berasal dari buah jeruk purut juga
telah dilaporkan oleh Murakami (1999). Jeruk purut mengandung 3 senyawa
kumarin yaitu bergamottin (1), oksipeucedanain (2) dan 5- [(6’,7’-dihidroksi-
3’,7’-dimetil-2-oktenil)oksi] psoralen (3) yang berfungsi sebagai inhibitor dan
penghambat pembentukan gas NO dalam sel. Gas NO merupakan radikal bebas
yang dapat mengakibatkan mutagenesis deaminasi basa DNA. Strukturnya dapat
dilihat pada Gambar 1(Murakami, 1999).

2.4 Taksonomi Jeruk Purut

Indonesia: Jeruk purut

Inggris: Caffir lime

Melayu: Limau purut

Thailand: Luuk makruut

Pilipina: Kabuyaw

Cina: Ma feng cheng

Jepang: Kobu mikan

Klasifikasi:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Sub kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida(berkepingdua/dikotil)

Sub Kelas : Rosidae

Ordo : Sapindales

Famili : Rutaceae (suku jeruk-jerukan)

Genus : Citrus

Spesies : Citrus hystrix Dc


BAB III

PEMBAHASAN

3.1 BIOSINTESIS

Biosintesis kumarin pada tanaman

Enzim dan gen utama terlibat dalam kumarinbiosintesis dan yang telah cukup
didokumentasikan disajikan pada Tabel 1.Asam sinamat menjadi kumarinJalur
biosintesis kumarin telahsebagian besar diuraikan selama ‘60an dan ‘70an,
denganbantuan percobaan pelacakan makanan (Brown 1981).Asam sinamatik
radiolabel dimasukkanmenjadi kumarin dan 7-hidroksikoumarin (Brownet al.
1960). Eksperimen pelacak lainnya dilakukandengan Lavandula officinalis,
tanaman yang menghasilkankumarin serta kumarin 7-
terhidroksilasi,mengungkapkan bahwa dalam contoh terakhir para-hidroksilasi
mendahului orto-hidroksilasi yang diperlukan untuk laktonisasi (Brown 1962).
Inimenunjukkan bahwa umbelliferone (Gbr. 1) diturunkandari asam cis-p-
coumaric, sedangkan coumarinberasal dari asam cis-cinnamic (Gbr. 2),
dandapat menyiratkan berbagai enzim untuk ortohidroksilasi / laktonisasi
kumarin dibandingkanumbelliferone.Ortho-hydroxylation adalah langkah
kuncibiosintesis kumarin, yang kurang mendapat perhatian. Dalam percobaan
awal, berlabel ganda (orto3H, cincin-1-14C) asam sinamat adalahdiumpankan
ke pucuk Melilotus alba atau daun Gaultheria procumbens, dan retensi
labelnyadimonitor setelah konversi menjadi asam o-coumaric(Ellis dan
Amrhein 1971). Pergeseran NIH adalahdiusulkan karena penurunan signifikan
dari3Rasio H: 14C, yang merupakan indikasi mekanisme reaksi sitokrom P450
monooksigenase. Laporan berikut membahas formasikumarin dengan ekstrak
dari Melilotus alba, atanaman yang menghasilkan kumarin tingkat tinggi.
IniStudi mengalokasikan orto-hidroksilasi asam sinamat ke kloroplas dan
kembali menyarankanmekanisme hidroksilasi tergantung P450(Gestetner dan
Conn 1974). Sayangnyahasil in vitro tidak dapat direproduksi, dankelas enzim
yang terlibat serta situs subselularnya masih harus ditentukan. Sebagaiterungkap
kemudian, percobaan awal mungkin adamenderita masalah analitis
mendasar,sejak kromatografi dan rekristalisasiteknik yang digunakan cenderung
tidak memadaipisahkan berbagai asam sinamat. Namun,konversi yang
diusulkan dari asam sinamat ke asam o-coumaric menerima beberapa dukungan
oleh prekursorstudi makan dilakukan dengan Petunia chloroplasts,yang
dianggap sinamat 2-hidroksilase, termasuk pembentukan kumarin, dan
kekurangansinamat 4-hidroksilase pada organel ini(Conn 1984; Ranjeva et al.
1977). MengingatPenelitian dilakukan sejak dengan Ammi majus
microsom(Hamerski dan Matern 1988a, b; Stanjek et al.1999a) tentang
biosintesis furanocoumarin itumuncul kemungkinan bahwa ‘ortho-hydroxylase’
adalahEnzim CYP yang sangat labil, berbeda denganasam CYP
menghidroksilasi asam sinamat dalam meta-posisi paraor (Gbr. 2). Secara
keseluruhan, ortohidroksilasi asam sinamat (atau 4-koumarat),menjadi sangat
penting bagi semua kumarin,tetap merupakan mata rantai yang hilang dalam
jaringan biosintesis fenilpropanoid.

Asam sinamat untuk umbelliferone dan lainnya

kumarin terhidroksilasiPembentukan umbelliferone berasal dariAsam 4-


koumarat atau turunan esternya (Gbr. 2).Konversi asam sinamat menjadi 4-
coumaricasam dikatalisis oleh sinamat 4-hidroksilase, asitokrom P450
monooxygenase dariKeluarga CYP73A (Teutsch et al. 1993). IniEnzim
merupakan enzim P450 yang paling banyak dipelajaritanggal dan mengatur
panggung untuk beberapa cabangjalur, seperti lignifikasi (Anterola danLewis
2002) atau biosintesis flavonoid (Harborne1999) (lihat Ehlting et al. 2006 dalam
edisi ini untuk aulasan).Mengikuti literatur yang berkaitan, 4-coumaricasam
orto-terhidroksilasi menjadi asam 2,4-dihydroxycinnamic. Aktivitas enzim
masing-masing adalahdilaporkan secara eksklusif dari Hydrangea macrophylla
dan ditugaskan ke kloroplas (Kindl 1971).Fraksi enzim ini ditunjukkan secara
perlahanmengubah asam sinamat menjadi asam o-coumaric tetapi dululebih
aktif untuk mengubah asam p-coumaric danTabel 1asam ferulic masing-masing
menjadi umbelliferone dan scopoletin. Meskipun laporan ini unik
dimenggambarkan orto-hidroksilasi dari kumarin terhidroksilasi in vitro dan
menyarankan satu fraksi plastidic untuk o-hidroksilasi keduanyaasam p-
coumaric dan ferulic serta benzoicacid, konversi asam ferulic menjadi
scopoletintelah didalilkan sebelumnya dari studi pemberian makanan awal
dalam kultur jaringan tembakau (Fritig et al.1970). Kursus biosintetik ini dari
scopoletin /scopolin baru-baru ini didirikan di Arabidopsis thaliana (Kai et al.
2006). Penyisipan T-DNAmutan dalam gen yang menyandi CYP98A3,yang
mengkatalisasi 3-hidroksilasi p-coumarate,mengungkapkan penurunan dramatis
dalam kedua scopoletindan konten scopolin, mengkonfirmasi asal dariasam
ferulic dalam Arabidopsis. Ini berbeda denganhasil yang diperoleh untuk
biosintesis puberulin (Gambar 1) di Agathosma puberula (Brown et al.1988). Di
sini, juga di Daphne mezereum,asam ferulic tidak mudah dimasukkan
sebagaimenentang umbelliferone, oleh karena itu membuatesculetin (Gbr. 1)
kemungkinan prekursor untuksintesis scopoletin (Brown 1986).
Rinciannyatelah dibahas sebelumnya (Murray et al. 1982), danjalur yang
berbeda dapat beroperasi secara berbedatanaman.
Pembentukan esculetin (Gbr. 1; 6,7-dihydroxy coumarin) diperiksa di
Cichorium intybus (Brown 1985). Studi-studi ini mengungkapkan hal
ituumbelliferone adalah prekursor yang efisien tetapi bukan asam caffeic,
menunjukkan 6-hidroksilasi umbelliferone, mungkin oleh aksi P450
monooxygenase. Ini layak disebutkan, karenakonversi asam caffeic menjadi
esculetin sudah siapdilakukan secara in vitro dengan berbagai ekstrak
tumbuhanmengandung aktivitas fenoloksidase (Kneusel 1987;Sato 1967), tetapi
belum dikonfirmasi di planta.Mirip dengan esculetin, daphnetin (Gbr. 1, 7,8-
dihydroxycoumarin) dalam Daphne mezereum, ditunjukkanberasal dari
umbelliferone daripadaasam caffeic.

Ortho-hydroxylation: rute yang umumdengan asam salisilat Analog dengan


C2H, langkah ortho-hidroksilasi utama lainnya dalam metabolisme fenolik
masih kontroversial.

Asam salisilat adalah sinyal pentingmolekul dalam mekanisme pertahanan


tanaman (Shah2003) tetapi jalur biosintesis masih pentingperdebatan. Dua rute
telah diusulkan. SEBUAHjalur sudah terbukti terjadi pada bakteritelah
diusulkan dalam tembakau melalui chorismate danisochorismate, melalui asam
shikimic umummetabolisme (Wildermuth et al. 2001). Lainrute telah
didokumentasikan dalam tembakau (Coquozet al. 1998; Yalpani et al. 1993) dan
beras (Silverman et al. 1995), melalui dekarboksilasi asam transinamatik
menjadi asam benzoat dan selanjutnya2-hidroksilasi. Asam benzoat 2-
hidroksilase inidikarakterisasi sebagai enzim P450 tetapi karakteristik biokimia
penting untuk atipikalP450 eucaryotic karena tampaknya larut danitu
menunjukkan berat molekul yang luar biasa tinggi(Leon et al. 1995). Gen P450
yang sesuaibelum dilaporkan sejauh ini. Asam benzoat ini2-hidroksilase tidak
dapat mengubah sinamatasam menjadi asam o-coumaric (Yalpani et al.
1993)dan akibatnya tidak akan mengganggujalur kumarin.

3.2 distribusi tanaman

3.3. FUNGSI KUMARIN


Kumarin adalah senyawa kimia yang ditemukan secara alami pada beberapa
tanaman, walaupun dapat juga diproduksi secara sintetis. Senyawa ini memiliki
bau khas, sehingga orang menggunakannya sebagai bahan tambahan makanan
dan ramuan parfum. Karena kekhawatiran tentang kumarin sebagai racun hati dan
ginjal yang potensial, penggunaannya sebagai makanan tambahan sangat
dibatasi, meskipun sangat aman untuk makan makanan yang secara alami
mengandung senyawa tersebut.
Kumarin sering di jumpai dalam parfum
Nama kimia untuk kmarin adalah benzopyrone. Bau manis yang khas
mengingatkan banyak orang akan rumput dan jerami yang baru dipotong, dan
telah digunakan dalam parfum sejak akhir 1800-an. Dalam bentuk murni,
senyawa ini memiliki struktur kristal, dan konon rasanya agak mirip
vanilla. Ketika tertelan, ia bertindak sebagai pengencer darah, dan tampaknya
efektif dalam mengobati beberapa tumor. Kumarin memiliki khasiat fungisida
juga. Namun, zat lain yang lebih aman dapat digunakan untuk semua tujuan ini,
walaupun senyawa ini kadang-kadang digunakan dalam kombinasi dengan
pengencer darah lainnya untuk perawatan medis.
Kumarin digunakan sebagai pengganti vanila, misalnya pada tembakauPada
tanaman, kumarin nampak sebagai pestisida alami, mengurangi tanaman jadi
bisa tumbuh tanpa gangguan.Beberapa bahan kimia dalam keluarga ini telah
digunakan untuk penggunaan pestisida mereka, dan beberapa bahan kimia yang
digunakan untuk hama yang lebih banyak digunakan pada tikus. Konsumen
mungkin membeli satu zat kimia dalam keluarga warfarin adalah antikoagulan
yang populer yang bisa dicerna atau disuntikkan, tergantung kebutuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.plantamor.com/index.php?plant=345

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Terbitan kedua.Terjemahan Padmawita,


K dan I. Sudiro. Penerbit ITB. Bandung.
Kusuma, T.S. 1988. Kimia Lingkungan. Pusat Penelitian Universitas Andalas.
Padang.

Murakami, A. 1999. Identification of Coumarins from the Fruit of Citrus hystrix


DC as Inhibitors of Nitric Oxide Generation in Mouse Macrophage RAW,
264,7, J.Agric Food Chem (47) : 333-339

Murray, R.D.H., J. Mendez, and S.A. Brow. 1982. The Natural Cumarins. Jhon
Willey and Sons Ltd. New York.

Setiawan, D. 2000. Atlas Tumbuhan Organik Indonesia. Persi,co.id

Setiadi dan Parmin. 2004. Jeruk Asam. Penebar Swadaya. Jakarta.

Biosynthesis of coumarins in plants: a major pathway still to be unravelled for


cytochrome P450 enzymes F. Bourgaud Æ A. Hehn Æ R. Larbat Æ S. Doerper
Æ E. Gontier Æ S. Kellner Æ U. Matern Received: 12 February 2006 /
Accepted: 11 October 2006 / Published online: 15 November 2006 Springer
Science+Business Media B.V. 2006