Anda di halaman 1dari 25

8

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Asuhan Keperawatan

2.1.1. Pengertian Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada

praktik keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien/pasien

diberbagai tatanan pelayanan kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan

kaidah-kaidah keperawatan sebagai suatu profesi yang berdasarkan ilmu

dan kiat keperawatan, bersifat humanistic dan berdasarkan pada

kebutuhan objektif klien (Depkes RI, 2005).

Menurut Carol. V. A dalam buku Asmadi (2008), asuhan

keperawatan adalah suatu metode yang sistematis untuk mengkaji

respon manusia terhadap masalah kesehatan dan membuat rencana

keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut.

2.1.2. Tujuan

Menurut Asmadi (2008), proses keperawatan merupakan suatu upaya

pemecahan masalah yang tujuan utamanya adalah membantu perawat

menangani perawatan secara komprehensif dengan dilandasi alasan

ilmiah, keterampilan teknis, dan keterampilan interpersonal. Penerapan

proses keperawatan ini tidak hanya ditujukan untuk kepentingan klien

semata, juga profesi keperawatan itu sendiri.


7

1. Tujuan penerapan proses keperawatan bagi klien antara

lain:mempertahankan kesehatan klien, mencegah sakit yang lebih

parah/penyebaran, mengembalikan fungsi maksimal tubuh dan

membantu klien terminal untuk meninggal dengan tenang


2. Tujuan penerapan proses keperawatan bagi profesionalitas keperawatan,

antara lain:mempraktikan metode pemecahan masalah, menggunakan

standar praktek keperawatan, memperoleh metode yang baku, rasional

dan sistematis serta memperoleh hasil asuhan keperawatan dengan

efektifitas yang tinggi.

2.1.3. Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan

suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai

sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan

klien. Pengakajian yang akurat, lengkap dan sesuai dengan kenyataan,

kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa

keperawatan dan memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan respon

individu sebagaimana yang telah ditentukan dalam standar praktek

keperawatan dari ANA (American Nurses Association) (Nanda, 2012).

Pada langkah pertama ini, semua informasi yang akurat dan lengkap

dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien telah

dikumpulkan. Untuk memperoleh data, dilakukan melalui anamnesa.

Anamnesa adalah pengkajian dalam rangka mendapatkan data tentang

pasien melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan (Sunarsih dan Dewi,

2014).
8

Pada pengkajian BBLR data yang dikaji yaitu: data subjektif yang

terdiri dari identitas bayi, identitas penanggung jawabanamnesasedangkan

data objek terdiri dari pemeriksaan umum, pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang (Sudarti, 2013).

2.1.4. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis mengenai

pengalaman/respon individu, keluarga atau komunitas terhadap masalah

kesehatan yang aktual atau potensial. Diagnosa keperawatan memberi

dasar penilaian intervensi keperawatan untuk mencapai hasil akhir

sehingga perawat menjadi akuntabel (Nanda, 2012).

Diagnosa yang dapat ditemukan pada asfiksia neonatorum yaitu : (Nanda,

2016)

1. Ketidak efektifan pola napas


2. Gangguan pertukaran gas b.d gangguan aliran darah ke alveoli, alveoral

edema, alveoli perfusi.


3. Risiko ketidak seimbangan suhu tubuh.
4. Risiko syndrome kematian bayi mendadak.
5. Risiko cedera.

2.1.5.IntervensiKeperawatan

Tahap perencanaan memberi kesempatan kepada perawat, klien,

keluarga dan orang terdekat klien untuk merumuskan rencana tindakan

keperawatan guna mengatasi masalah yang dialami klien. Perencanaan

merupakan suatu petunjuk atau bukit tertulis yang menggambarkan secara

tepat rencana tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien sesuai

kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan (Asmadi, 2008). Pada


9

langka ini direncanakan asuhan yang menyelusuh berdasarkan langkah

sebelumnya. Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan

pertimbangan yang tepat, meliputi pengetahuan, teori yang up to date, serta

validasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan yang tidak

diinginkan oleh pasien. Dalam penyusunan perencanaan, sebaiknya pasen

dilibatkan karena pada akhirnya pengambilan keputusan dilaksanakannya

suatu rencana asuhan ditentukan oleh pasien sendiri (Sunarsih dan Dewi,

2014).

2.1.6. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan asuhan

keperawatan ke dalam bentuk intervensi keperawatan guna membantu

klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kemampuan yang harus

dimiliki perawat pada tahap implementasi adalah kemampuan komunikasi

yang efektif, kemampuan untuk menciptakan hubungan saling percaya dan

saling bantu, kemampuan melakukan teknik psikomotor, kemampuan

melakukan observasi sistematis, kemampuan menebarkan pendidikan

kesehatan, kemampuan advokasi dan kemampuan evaluasi (Asmadi,

2008). Implementasi yang dilakukan sesuai dengan masalah yang ada

berdasarkan perencanaan yang telah dibuat.

2.1.7. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan

perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang

teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan.
10

Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan

tenaga kesehatan lainnya. Jika hasil evaluasi menunjukan tercapainya

tujuan dan kriteri hasil, klien bisa keluar dari siklus keperawatan. Jika

sebaliknya, klien masuk kembali ke dalam siklus tersebut mulai dari

pengkajan ulang (reassessment) (Asmadi, 2008).

2.2.Konsep Berat Badan Lahir Rendah

2.2.1. Pengertian

Bayi baru lahir rendah atau Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah

berat badan bayi kurang dari 2500gr. Ada dua macam BBLR yaitu: Bayi

kurang bulan : Umur kehamilan 37 minggu, Bayi kecil masa kehamilan :

Bayi di lahirkan kurang dari percentile ke 10 kurva pertumbuhan janin,

Berdasarkan penanganan dan harapan hidup, BBLR dibedahkan dalam

Berat Badan Lahir Rendah : 1500 – 2499 gr, Berat Badan Lahir Sangat

Rendah: < 1500gr dan Berat Badan Lahir Ektrem Rendah : < 1000gr

(Sudarti, 2013).

2.2.2. Etiologi Bayi BBLR (Sudarti, 2013)


Faktor-faktor yang mempengaruhi :
1. Faktor umur ibu, paritas, ras, infertilitas, riwayat kehamilan, lahir

abnormal, jarak kelahiran terlalu dekat, BBLR pada anak


11

sebelumnya, penyakit akut dan kronis, kebiasaan tidak bayi seperti

merokok dan minum alkohol, pleeklamsia dll.


2. Faktor plasenta tumor, kehamilan ganda.
3. Faktor janin infeksi bawaan, kelainan kromosom
2.2.3. Tanda dan gejala (Sudarti, 2013)
1. Berat badan < 2500gr
2. Panjang Badan <45 cm, Lingkar Kepala <33 cm, Lingkar Dada

<30cm
3. Kepala bayi lebih besar dari badan, rambut kepala tipis dan halus,

elastisitas daun telinga.


4. Dada : diding thorax elastis, puting susu belum terbentuk.
5. Abdomen : distensi abdomen, kulit perut tipis, pembuluh darah

kelihatan.
6. Kulit : tipis, transparan, pembuluh darah kelihatan
7. Jaringan lemak subkutan sedikit, lanugo banyak.
8. Genitalia : pada Laki-laki skrotum kecil dan testis tidak teraba, pada

perempuan labia mayora hampir tidak ada dan klitoris menonjol.


9. Ekstremitas : Kadang oedema, garis telapak kaki sedikit.
10. Motorik : pergerakan masih lemah.
2.2.4. Patofisiologi
Temperatur dalam kandungan 370c sehingga bayi setelah lahir dalam

ruangan suhu temperaturruangan 28-320c. perubahan temperature ini

perlu diperhitungkan pada BBLR karena belum bisa mempertahankan

suhu normal yang disebabkan: pusat pengaturan suhu badan masih

dalam perkembangan, Intake cairan dan kalori kurang dari kebutuhan,

Cadangan energi sangat kurang.Luas permukaan tubuh relatif luas

sehingga risiko kehilangan panas lebih besar, Jaringan lemak

subcutanlebih tipis sehingga kehilangan panas lebih besar, BBLR sering

terjadi penurunan berat badan disebabkan : malas minum dan

pencernaan masih lemah, BBLR rentan infeksi sehingga terjadi sindrom


12

gawat nafas , hiportermi,tidak stabil sirkulasi (edema), hipoglikemi,

hipoklasemia dan hiperbilirubin (Sudarti,2013).


2.2.5. Pemeriksaan penunjang(Sudarti, 2013)
1. Radiologi : Torak foto, baby gram, USG kepala
2. Laboratorium : gula darah, tes kocok (shake test), dan darah rutin.

2.2.6.Manajemen Terapi Setelah bayi lahir

Umum :

1. Membersihkan jalan napas,


2. Mengusahakan napas pertama danseterusnya,
3. Perawatan tali pusar dan perawatan mata.

Khusus :

1. Suhu tubuh dijaga pada suhu aksila 36,5 – 37,50c,


2. Beri 02 sesuai dengan masalah pernapasan,
3. Pantau dengan oksimetri,
4. Sirkulasi dipantau dengan ketat,
5. Awasi keseimbangan cairan,
6. Pemberian cairan dan nutrisi,
7. Pencegahan infeksi dan Mencegah perdarahan : vitamin K

mg/pemberian.
2.2.7. Prinsip Umum Pemberian Cairan dan Nutrisi : (Sudarti, 2013)
1. Pemberian minum peroral sesegera mungkin.
2. Periksa refleks isap dan menelan.
3. Motivasi ibu dalam pemberian ASI.
4. Pemberian nutrisi intervena jika ada indikasi.
5. Berikan multivitamin jika minum enteral dapat diberikan secara

kontinyu.
2.2.8. Pencegahan Infeksi : (Sudarti, 2013)

Cara kerja aseptic, cuci tangan setiap akan memegang bayi, mencegah

terlalu banyak bayi dan petugas dalam satu ruangan, melarang petugas yang

terkena infeksi masuk ketempat bayi dirawat, antibiotik disesuaikan dengan

pola kuman dan membatasi tindakan seminimal mungkin.

2.2.9. Pengkajian
13

Pengkajian meliputi: anamnesa riwayat kehamilan. anamnesa riwayat

persalinan, anamnesa riwayat keluarga, tanda vital, ukuran tubuh dan

pemeriksaan cepalo caudal.


2.2.10. Masalah yang Sering Muncul (Sudarti, 2013)
2.2.10.1.Gangguan pola napas
Intervensi
1. Pertahankan pola napas efektif.
2. Kaji frekuensi pernapasan dan pola napas
1) Berikan posisi sedikit ekstensi.
2) Pertahankan suhu optimal
3) Berikan rangsangan taktil
3. Berikan 02 sesuai indikasi.
4. Observasi irama, kedalaman, dan frekwensi pernapasan.
5. Hisap jalan napas sesuai kebutuhan.
6. Kolaborasi pemeriksaan Analisa Gas Darah.
2.2.10.2.Hiportemi
Intervensi
1. Manajemen lingkungan
1) Berikan penghangat bertahap
2) Berikan pakaian (selimut hangat).
3) Kangaroo mother care(KMC)
2. Monitor suhu.
3. Monitor vital sign.
4. Berikan O2 terapi sesuai kebutuhan.
5. Manajemen cairan
14

2.2.10.3.Kebutuhan Nutrisi
Intervensi
1. Timbang BB tiap hari dalam waktu yang sama.
2. Berikan enteral tube feeding porsi kecil tapi sering, masukan

secara berlahan.
3. Berikan ASI/PASI per-oral jika reflek hisap baik.
4. Jika oral dan enteral kurang, berikan parenteral nutrisi sesuai

program.
5. Berikan vitamin dan mineral sesuai indikasi.
2.2.10.4.Potensial Infeksi
Intervensi
1. Observasi tanda-tanda inveksi lokal, misalnya infeksi tali

pusar
2. Observasi keadaan umum dan vital sign.
3. Jaga kebersihan bayi dengan caramandikan dan bersihkan

perinatal bila kotor.


4. Cuci tangan, gunakan sarung tangan selama kontak dengan

bayi
5. Lakukan perawatan tali pusat sesuai protocol.
6. Berikan ASI bila tersedia
7. Pantau pemeriksaan lab: darah, sputum, dan lain-lain.
8. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai program.
15

2.2.11. Perawatan BBLR (Sudarti, 2013)


1. Pearawatan segerah setelah lahir.
1) Risiko asfiksia tinggi
1. Peningkatan cairan pada alveoli
2. Resistensi vaskuler paru tinggi.
3. Usaha napas kurang.
2) Penilaian bayi yang harus dilakukan
1. Sebelum lahir:
1) Apakah bayi lahir dengan usia kehamilan 39minggu atau

kurang dari 39 minggu?


2) Apakah air ketiban ibu jernih atau bercampur meconium?
2. Setelah lahir:
1) Apakah setelah lahir bayi menagis secara spontan atau

tidak?
2) Apakah setelah lahir tonus otot bayi bergerak secara aktif

atau tidak?

2. Perawatan bayi berat lahir rendah sehat

1) BBLR sering mempunyai masalah selama minggu-minggu

pertama kehidupannya yaitu: adaptasi kehidupan di luar rahim,

bantuan untuk tetap hangat dan ASI yang cukup.


2) Asuhan BBLR sehat yaitu: menghangatkan bayi dengan

perawatan metode kanguru, Pemberian ASI dini dan eksklusif,

pencegahan infeksi, pemberian imunisasi, pemantauan tanda

bahaya dan persiapan pra rujukan jika perlu.

3. Perawatan bayi berat lahir rendah sakit.

Perawatan pada BBLR sakit yaitu: pemberian ASI dengan memakai

gelas atau sendok dan bemberian ASI dengan sonde feeding/NGT.


Masalah yang sering muncul pada BBLR sakit yaitu:asfiksia

neonatorum, sepsis, gangguan napas, gangguan minum, kejang,

hipotermi berat, infeksi mata, diare, dan icterus


16

2.3. Asfiksia
2.3.1. Defenisi
Asfiksia neonaturum suatu keadaan dimana bayi baru lahir yang

mengalami gangguan tidak segera bernafas secara spontan dan teratur

setelah lahir. Asfiksia dapat terjadi selama kehamilan atau persalinan.

Asfiksia kehamilan dapat disebabkan oleh: penyakit infeksi akut atau

kronis, keracunan obat bius, uremia, toksemia gravidarum, anemia berat,

cacat bawahan atau trauma (Nanda, 2016).


Asfiksia dalam persalinan dapat disebabkan oleh: partus lama,

rupture uteri , tekanan terlalu kuat kepala bayi pada plasenta, plolapsus,

pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya,

plasenta previa, solusia plasenta, plasenta tua/serotinus (Nanda, 2016).


17

2.3.2. Etiologi

Asfiksia dapat terjadi karena beberapa factor : (Saifudin 1991 Dalam

Nanda, 2016)

2.3.2.1. Faktor ibu :


1. Hipoksia ibu
2. Gangguan aliran darah fetus
1) Gangguan kontraksi uterus pada hipertoni,tetani uteri.
2) Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan .
3) Hipertensi pada penyakit toksemia.

3. Primi tua, DM, anemia, riwayat lahir mati, ketuban pecah

dini, infeksi.

2.3.2.2. Faktor plasenta : Abruptio plasenta,solution plasenta

2.3.2.3. Faktor fetus : Tali pusat menumbung, lilitan tali pusat,

meconium kental, prematuritas persalinan ganda.

2.3.2.4. Faktor lama persalinan : Persalinan lama, kelainan letak,

operasi cesar
2.3.2.5. Faktor neonatus
1) Anastesi/analgetik yang berlainan pada ibu secara langsung

dapat menimbulkan depresi pernapasan pada bayi’


2) Trauma lahir sehingga mengakibatkan perdarahan

intracranial
3) Kelainan kongenital seperti hernia diafragmatika,

atresia/stenosis saluran pernapasan, hipoplasi paru, dll.


2.3.3. APGAR Score
APGAR Score dapat dilihat pada table berikut ini :

Tabel: 2.1.APGAR SCORE (Nanda,2016)

NILAI
TANDA
0 1 2
A: appearance Biru/ducat Tubuh kemerahan, Tubuh dan
(color) warna ekstremitas biru ekstremitas
18

kulit kemerahan
P: pulse (heart Tidak ada <100x/m >100x/m
rate) denyut nadi
G: grimance Tidak ada Gerakan sedikit Menangis
(reflek)
A: activity (tonus Lumpuh Fleksi lemah Aktif
otot)
R: respiration Tidakada Lemah, merintik Tangisan kuat
(usaha napas)
Penilaian :
7-10 Normal (vigorous baby)
4-6 asfiksia sedang
0-3 asfiksia berat

2.3.4. Manifestasi Klinis (Nanda, 2016)

Ada dua macam kriteria yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2.2. Dua macam kriteria asfiksia

Perbedaan Asfiksia pallida Asfiksia livida


Warna kulit Pucat Kebiru-biruan
Tonus otot Sudah kurang Masih baik
Reaksi rangsangan Negatif Positif
Bunyi jantung Tak teratur Masih teratur
Prognosis Jelek Lebih baik

2.3.5. Klasifikasi klinik berdasarkan nilai APGAR (Nanda, 2016)


1. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
2. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
4. Bayi normal dengan nilaiAPGAR 10
2.3.6. Pemeriksaan penunjang : ( Saifudin,1991 dalam Nanda 2016).
1. Analisa gas darah
2. Elektrilit darah
3. Gula darah
4. Baby gran (RO Dada)
5. USG (Kepala)
2.3.7. Penatalaksanaan Asfiksia (Sudarti, 2013)
1. Langka Awal
1) Mencegah kehilangan panas, termasuk menyiapkan tempat yang

kering dan hangat untuk melakukan pertolongan.


19

2) Memposisikan bayi dengan baik, (kepala bayi setegah tengadah/

sedikit ekstensi atau mengganjal bahu bayi dengan kain).


3) Bersihkan jalan napas dengan alat pengisap yang tersedia
4) Keringkan tubuh bayi dengan kain yang kering dan hangat, setelah

itu gunakan kain kering dan hangat yang baru untuk bayi sambal

melakukan rangsangan taktil yaitu rangsangan yang dilakukan

secara lembut, gosok punggung, tubuh, kaki atau tangan

(ekstermitas) satu atau dua kali dengan lembut, tepuk atau sentil

telapak kaki bayi (satu atau dua kali )


5) Letakan kembali bayi pada posisi yang benar, kemudian nilai

usaha bernapas, frekuensi denyut jantung dan warna kulit.


6) Gunakan pengisap lendir yang telah diproses hingga tahap

desinfeksi tingkat tinggi/ steril atau bola karet pengisap yang baru

dan bersih untuk mengisap lendir dimulut, kemudian hidung bayi

secara halus dan lembut. Jika bayi lahir tidak mulai bernapas

dengan bayi (setelah tubuhnya dikeringkan dan lendirnya dihisap)

berikan rangsangan taktil secara singkat. Pastikan posisi bayi di

letakan pada posisi yang benar dan jalan napasnya telah bersih.

Rangsangan taktil harus dilakukan secara lembut dan hati-hati

sebagai berikut: dengan lembut, gosok punggung, tubuh, kaki atau

tangan (ekstremitas) satu atau dua kali dan dengan lembut, tepuk

atau sentil telapa kaki bayi (satu atau dua kali).

2. Ventilasi tekanan positif

Ventilasi tekanan positif merupakan tindakan memasukan sejumlah

udara kedalam paru-paru dengan tekanan position , membuka alveoli


20

untuk bernafas secara spontan dan teratur. Ada beberapa tindakan

yang dapat dilakukan pada ventilasi tekanan positif sebagai berikut:

1) Bila bayi tidak menangis atau megap – megap, warna kulit bayi

pucat, denyut jantung kurang dari 100 kali per menit,lakukan

langkah resusitasi dengan melakukan ventilasi tekanan positif.


2) Sebelum periksa dan pastikan bahwa alat resusitasi (balon resusitasi

dan sungkup muka) telah tersedia dan berfungsi dengan baik.


3) Cuci tangan dan gunakan sarung tangan sebelum memegang atau

memeriksa bayi.
4) Selimuti bayi dengan kain kering da hangat , kecuali muka dan

dada bagian atas, kemudian letakan pada alas dan lingkungan

yang hangat.
5) Periksa ulang posisi bayi dan pastikan kepala telah dalam posisi

setengah tengada (sedikit ekstensi).


6) Letakan sungkup melingkupi dagu, hidung dan mulut sehingga

terbentuk semacam pertautan antara sungkup dan wajah.


7) Tekan balon resusitasi dengan dua jari atau dengan seluruh jari

taanggan (bergantung pada ukuran balon resusitasi).


8) Lakukan pengujian pertautan dengan melakukan fentilasi

sebanyak 2 kali dan periksa gerakan dinding dada.


9) Bila pertautan baik (tidak bocor) dan dinding dada mengembang,

maka lakukan ventilasi dengan menggunakan oksigen (bila tidak

tersedia oksigen gunakan udara ruangan.


10) Pertahankan kecepatan ventilasi sekitar 40 kali per 60 detik

dengan tekanan yang tepat sambal melihat gerakan dada (naik

turun) selama ventilasi.


11) Bila dinding dada naik turun dengan baik berarti ventilasi berjalan

secara adekuat
21

12) Bila dinding dada tidak naik, periksa ulang dan betulkan posisi

bayi, atau terjadi kebocoran lekatan atau tekanan ventilasi kurang.


13) Lakukan ventilasi selama 2 x 30detik atau 60 detik, kemudian

lakukan penilaian segera tentang upaya bernapas spontan dan

warna kulit.Ventilasi dengan balon dan sungkup yang cukup lama

(beberapa menit) dan bila perlu bayi kelihatan membuncit, maka

harus dilakukan pemasangan pipa lambung dan pertahankan

selama ventilasi karena udarah dari orofarings dapat masuk

kedalam esofagus dan lambung kemudian menyebabkan: lambung

terisi udara akan membesar dan menekan diafragma sehungga

menghalangi paru-paru untuk berkembang, darah dalam lambung

dapat menyebabkan regurgitasi isi lambung dan mungkin terjadi

aspirasi, dan udara dalam lambung dapat masuk ke usus dan

menyebabkan diafragma tertekan.


2.4. Konsep Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi
2.4.1. Pengertian Kebutuhan Oksigenasi (Lyndon.S,2013)
Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling vital.

Oksigen dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga kelangsungan

metabolism sel sehingga dapat mempertahankan hidup dan aktifitas

berbagai sel, jaringan atau organ.


Oksigenasi merupakan penambahan oksigen (O2) kedalam sistem

kimia atau fisika. Penambahan oksigen ke dalam tubuh dapat dilakukan

secara alami dengan cara bernapas. Pernapasan atau respirasi merupakan

proses pertukaran gas antara individu dan lingkungannya. Pada saat

bernapas, tubuh menghirup udara untuk mendapatkan oksigen dari


22

lingkungan dan menghembuskan udara untuk mengeluarkan karbon

dioksida ke lingkungan.
Oksigen yang dihirup akan diangkut melalui pembuluh darah ke sel-

sel tubuh. Di dalam sel-sel tubuh oksigen akan dibakar untuk

mendapatkan energi. salah satu hasil pembakaran tersebut adalah karbon

dioksida. Karbondioksida akan diangkut melalui pembuluh darah ke

paru-paru untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh.


Terapi yang dapat di berikan untuk gawat napas adalah pemberian

terapi oksigen yang bertujun untuk stabilisasi system saturasi bayi,

penatalaksanaan pemenuhan kebutuhan oksigen pada bayi dengan

gangguan napas di anjurkan dengan pemberian O2 dengan kecepatan

aliran 2 liter/m setelah bayi mengalami perbaikan kondisi napas

diberikan 0,5-2 liter/m. sedangkan pada bayi yang menderita asfiksia

dalam kategori ringgan tidak diberikan oksigen melainkan bayi yang

mengalami asfiksia sedangan diberikan oksigen 2 liter/m dan asfiksia

berat di berikan oksigen 4-5 liter/m (Hidayat, 2006).


2.4.2. Proses Oksigenasi
Proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi tubuh terdiri atas tiga tahap,

yaitu ventilasi, difusi gas dan transportasi gasa.


1. Ventilasi
Ventilasi merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer

ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Ventilasi dipengaruhi

beberapa hai, yaitu adanya perbedaan tekanan atmosfer dengan paru,

semakin tinggi tempat maka tekanan udara semakin rendah demikian

sebaliknya semakin rendah tempat tekanan udara semakin tinggi.

Proses ventilasi selanjutnya adalah complience dan recoil. Complianc


23

emerupakan kemampuan paru untuk mengembang. Kemampuan ini

dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu adanya sulfaktan yang

terdapat lapisan alveoli yang berfungsi menurunkan tegangan

permukaan dan adanya sisa udara yang menyebabkan tidak terjadinya

kolaps serta gangguan torak.


2. Difusi Gas
Difusi gas merupakan pertukaran antra oksigen di alveoli dengan

kapiler paru dan CO² dikapiler dengan alveoli.Proses pertukaran ini di

pengaruhi beberapa faktor, yaitu luasnya permukaan paru, tebal

interstial (keduanya dapat mempengaruhi proses difusi apabila terjadi

proses penebalan), perbedaan tekanan dan konsentrasi.


3. Transportasi Gas
Transportasi gas merupakan proses pendistribusian O2kapiler

kejaringan tubuh dan CO2jaringan tubuh ke kapiler, pada

prosestransportasi, O2akan berkaitan dengan Hb membentuk

Oksihemoglobin (97%) dan larut dalam plasma (3%), sedangkan

CO2akan berkaitan dengan Hb karbomino hemoglobin (30%), larut

dalamplasma (5%),dan sebagaian menjadi HCO³ yang berada dalam

darah (65%).

2.4.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigenasi


1. Saraf Otonomik
Rangsangan simpatis dan para simpatis dari saraf otonomik dapat

mempengaruhi kemampuan untuk dilatasi dan kontriksi,sebagai hal

ini dapat terlihat simpatis maupun parasimpatis. Ketika terjadi

rangsangan, ujung saraf dapat mengeluarkan neurotransmitter


24

(untuk simpatis dapat mengeluarkan noradrenalin yang berpengaruh

pada bronkhokontriksi) karena pada saluran pernafasan terdapat

reseptor adrenergic dan reseptor kolinergik.


2. Hormon dan Obat
Semua hormone termasuk derivatecate cholamine dapat melebarkan

saluran pernafasan. Obat yang tergolong parasimpatis, seperti sulfat

atropin dan ekstrak belladona, dapat melebarkan salurannapas,

sedangkan obat yang menghambat adrenergik tipe bête (khususnya

beta-2), seperti obat yang tergolong penyakit betanon selektif, dapat

mempersempit saluran napas (bronkhokontriksi).


3. Alergi Pada Saluran Napas

Banyak faktor yang dapat menimbulkan alergi, antara lain debu

yang terdapat dalam hawa perpasang, bulu binatang, serbuk benang

sari bunga, kapuk, makanan dan lain-lain. Fakor-faktor ini

menyebabkan bersin bila terdapat rangsangan di daerah nasal, batuk

bila saluran pernafasan bagian atas, pada asma bronkiale dan rhinitis

bila terdapat disaluran bagian atas.

4. Lingkungan Perilaku

Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kebutuhan oksigenasi,

seperti faktor alergi, ketinggian tanah dan suhu. Kondisi tersebut

mempengaruhi kemampuan adaptasi.

5. Perilaku

Faktor perilaku dapat mempengaruhi kebutuhan oksigenasi adalah

perilaku dalam mengonsusmsi makanan (status nutrisi). merokok


25

dapat menyebabkan proses penyempitan pada pembulu darah dan

lain-lain.

2.4.4. Masalah Yang Terkait Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi


Masalah atau gangguan yang terkait pemenuhan kebutuhan oksigenasi

yaitu perubahan fungsi jantung dan perubahan fungsi pernapasan.

Perubahan fungsi jantung yang mempengaruhi kebutuhan oksigenasi

yaitu gangguan konduksi jantung seperti distrimia

(takikardia/bradikardia). Kerusakan fungsi katup seperti pada pasien

dekompenisasi kordi menimbulkan hipoksia jaringan kerusakan fungsi

katup seperti pada stenosis, obstruksi, miokard iskemia/infark terus

kekurangan persediaan darah dari arteri coroner ke miokardium

sedangkan pada perubahan fungsi pernapasan masalah yang biasa

mempengaruhi kebutuhan oksigenasi yaitu hiperventilasi, hipoventilasi

dan hipoksia (Tarwono, 2006).

Tabel berikut ini menjelaskan perubahan fungsi pernapasan yang berpengaruh

terhadap kebutuhan oksigenasi :


Tabel 2.3.Perubahan Fungsi Pernapasan Yang Berpengaruh Terhadap
Kebutuhan Oksigenasi
No Perubahan fungsi
Definisi Tanda dan gejala
pernapasan
1. Hiperventilasi Upaya tubuh dalam Takikardia, napas pendek, nyeri dada,
meningkatkan menurunya konsentrasi, disorientasi.
jumlah O2dalam
paru-paru agar
pernapasan lebih
cepat dan dalam.
2. Hipoventilasi Terjadi ketika Nyeri kepala, menurunya kesadaran,
ventilasi alveoli disorientasi, kardiak distremia, ketidak
tidak adekuat untuk seimbangan elektrolit, dan kejang
memenuhi
pengunaan O2
26

tubuh akan
mengeluarkan
CO2dengan cukup.
Biasanya terjadi
pada atelectasis
(kolap paru)
3. Hipoksia Kondisi tidak Kelelahan, kecemasan, menurunnya
tercukupnya kemampuan berkonsentrasi, nadi meningkat,
pemenuhan pernapasan cepat dan dalam sianosis,dan
kebutuhan O2 clubbing jari.
dalam tubuh

2.4.5. Kebutuhan Oksigen Pada Bayi BBLR dan Asfiksia

2.4.5.1 Terapi Oksigen

Terapi oksigen adalah tindakan keperawatan dengan cara

memberikan oksigen ke dalam paru melalui saluran

pernapasan dengan menggunakan alat bantu oksigen. Terapi

oksigen dapat dilakukan melalui dua cara yaitu kateter nasal

dan pengisapan lendir.

2.4.5.2 Indikasi

Menurut Standar Keperawatan ICU Depkes RI (2005) dan


Andarmoyo (2012), indikasi terapi oksigen adalah :
1. Pasien hipoksia
2. Oksigenasi kurang sedangkan paru normal
3. Oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal
4. Oksigenasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak
normal
5. Pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi
tinggi
6. Pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 )
rendah.

Indikasi terapi oksigen pada neonatus adalah :

1. Pasien asfiksia
27

2. Pasien dengan napas lebih dari 60 kali/menit


3. Pasien Takipnu
4. Pasien Febris
5. Pasien BBLR.

2.4.5.3 Kontraindikasi
Menurut Potter (2005) kontra indikasi meliputi beberapa :
a. Kanul nasal / Kateter binasal / nasal prong : jika ada
obstruksi nasal.
b. Kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur
dasar tengkorak kepala, trauma maksilofasial, dan
obstruksi nasal
c. Sungkup muka dengan kantong rebreathing : pada pasien
dengan PaCO2 tinggi, akan lebih meningkatkan kadar
PaCO2 nya lagi.

2.4.5.2 Metode pemberian oksigen


Untuk cara pemberian oksigen bermacam- macam seperti
dibawah ini (Potter, 2005):
a. Melalui inkubator
b. Head box
c. Nasal kanul ( low flow atau high flow)
d. Nasal CPAP (continuous positive airway pressure)
e. Nasal Intermittent Positive Pressure Ventilation (NIPPV)
f. Ventilator (dengan memasukkan endotracheal tube)

1) Terapi oksigen dengan kateter nasal

1. Alat dan bahan

1) Tabung oksigen lengkap dengan flowmeter dan humidifier.

2) Kateter nasal

3) Vaselin atau jeli

2. Prosedur kerja

1) Cuci tangan

2) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien.


28

3) Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang

dibutuhkan. Observasi Humidifer dengan melihat air

bergelembung.

4) Atur posisi pasien pada posisi semi fowler atau sesuai

kondisi pasien.

5) Ukur kateter nasal, dimulai dari lubang telinga sampai

hidung.

6) Buka saluran udara dari tabung oksigen.

7) Lumasi kateter dengan vaselin atau jeli.

8) Masukan kateter ke dalam hidung.

9) Cek apakah kateter sudah masuk dengan menekan lidah

pasien menggunakan spatel (posisi kateter akan terlihat di

belakang uvula).

10) Fiksasi pada daerah hidung.

11) Catat pemberian dan lakukan observasi.

12) Cuci tangan.

2.4.6. Pengisapan Lendir (Suction)

Pengisapan lendir dilakukan pada pasien yang tidak mampu

mengeluarkan sekret atau lendir.

1) Alat dan bahan

1. Alat pengisap lendir dengan botol berisi cairan desinfektan.

2. Kateter penghisap lendir

3. Sarung tangan steril


29

4. Dua baskom berisi larutan NaCl 0,9% atau aquades dan larutan

desinfektan.

5. Kasa steril

6. Tisu

2) Prosedur kerja

1. Cuci tangan

2. Jelaskan prosedur yang akan dijalankan kepada pasien.

3. Atur agar posisi pasien telentang dengan kepala miring ke arah

perawat,

4. Gunakan sarung tangan

5. Hubungkan kateter pengisap dengan slang pengisap.

6. Hidupkan mesin pengisap.

7. Sebelum melakukan pengisapan lendir, masuka kateter

pengisap ke dalam baskom berisi aquades atau larutan NaCl

0,9% untuk mencegah trauma mukosa.

8. Masukan kateter pengisap ke hidung dalam keadaan tidak

mengisap.

9. Tarik dengan memutar kateter pengisap tidak lebih dari 15

detik.

10. Bilas kateter dengan aquades attau NaCl 0,9%

11. Lakukan hingga lendir bersih.

12. Catat respon yang terjadi

13. Bereskan peralatan


30

14. Lepas sarung tangan dan cuci tangan.