Anda di halaman 1dari 15

ACARA I

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum : Untuk mempelajari teknik pemisahan dan pemurnian
suatu zat dari campurannya.
2. Waktu Praktikum : Sabtu, 27 Oktober 2014
3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Mataram.

B. LANDASAN TEORI
Campuran dapat dipisahkan dengan menggunakan berbagai macam metode. Metode-
metode tersebut, yaitu pengayakkan, penyaringan, sentrifugasi, evaporasi, pemisahan
campuran dengan menggunakan magnet, sublimasi, destilasi, corong pisah, dan
kromatografi. Metode dekntir digunakan untuk memisahkan campuran yang penyusunnya
berupa cairan dan padatan. Dalam hal ini, ukuran padatan cukup besar sehingga
mengendap di bagian bawah cairan. Dekantir dilakukan dengan menuang cairan ke
wadah lain secara hati-hati supaya padatan terpisah dari campuran. Untuk mempermudah
proses dekantir, dapat digunakan pengaduk pada saat menuang cairan. Dengan demikian,
cairan tidak mengalir keluar wadah dan dapat terpisah dari padatan dengan baik. Namun,
metode ini tidak dapat memisahkan cairan dan padatan secara sempurna. Hal ini
disebabkan kadang-kadang masih ada cairan yang tersisa dalam wadah semula. Bisa juga
terjadi, sebagian padatan ikut masuk ke dalam wadah baru (Mikarjudin, 2007: 195).

Pada pekerjaan di laboratorium. Sering kali diperlukan pemisahan endapan yang


tersuspensi dari suatu campuran reaksi. Salah satu metode yang dilakukan adalah
menyaring. Campuran yang mengandung zat yang tersuspensi dialirkan melalui kertas
aring (filter). Kadang-kadang kita gunakan kemampuan suspensi untuk mengendap
karena pengaruh gaya gravitasi, tetapi juga proses pengendapan ini dapat dibantu
menggunakan alat sentrifuga. Dalam suatu sentrifuga, campuran diputar dengan
2
kecepatan tinggi dan gaya sentrifugalnya mempunyai kekuatan gaya tarik buatan yang
besar yang mendorong endapan kedasar wadah (Brady, 2008: 595).

Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk
memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh.
Suatu campuran dapat dispisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa
murninya. Senyawa-senyawa yang terdapat dalam campuran akan menguap pada saat
mencapai titik didih masing-masing. Pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung
pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam campuran (Rahayu, 2011: 168-169)

Pada zaman sekarang, efisiensi merupakan factor penting dalam pemisahan.


Pemisahan harus seefisien mengkin. Factor kedua adalah waktu, bagaimana mendapatkan
hasil pemisahan yang dalam waktu yang cepat. Factor ketiga adalah kompleksitas
senyawa, semakin mirip karakter senyawa-senyawa yang dipisahkan, semakin sulit
dipisahkan. Misalnya, campuran berupa aroma makanan yang terdiri dari senyawa-
senyawa vanillin memiliki struktur molekul yang mirip (Hendayana, 2006: 5).

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM


1. Alat-alat Praktikum
a. Corong besar 100 mm
b. Corong kecil 60 mm
c. Dongkrak
d. Ember
e. Gelas arloji
f. Gelas erlenmeyer 100 mL
g. Gelas kimia 250 mL
h. Gelas kimia 50 mL
i. Gelas ukur 100 mL
j. Gelas ukur 50 mL
k. Hot plate
l. Kain lap
m. Kondensor bola

3
n. Labu alas bundar 500 mL
o. Mantel
p. Penyedot air
q. Pipet tetes
r. Rak tabung reaksi
s. Selang keluar
t. Selang masuk
u. Sentrifuge
v. Spatula
w. Statif
x. Stopwatch
y. Tabung reaksi
z. Termometer 100oC
aa. Timbangan analitik

2. Bahan-bahan Praktikum
a. Alkohol (C2H5OH)(aq) 96%
b. Aquades (H2O(l))
c. Batu didih
d. Bubuk kapur (CaCO3(s))
e. Es batu (H2O)(s)
f. Garam dapur kotor (NaCl)(s)
g. Iodium (I2)(s)
h. Kertas label
i. Kertas saring
j. Kloroform (CHCl3)(l)
k. Tembaga (II) sulfat (CuSO4(s))
l. Tissue

D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Filtrasi dan Sentrifugasi Larutan Kapur (CaCO3)

4
a. Dimasukkan 3 sendok bubuk kapur ke dalam gelas kimia dan dimasukkan 25 mL
aquades yang telah diukur dengan gelas ukur.
b. Diaduk larutan tersebut sampai bubuk kapur tercampur rata dengan aquades.
c. Diambil larutan tersebut sebanyak 10 mL dengan pipet tetes, dan dimasukkan
kedalam 2 tabung reaksi, masing-masing 5 mL.
d. Dimasukkan kedua tabung tersebut kedalam sentrifuge.
e. Diberikan tissue dibagian bibir tabung agar tidak mengalami gesekkan yang
cukup besar dengan sentrifuge.
f. Disentrifugasi selama 2 menit, dan didiamkan sampa benar-benar berhenti
berputar. Endapan dan sentrat dipisahkan dengan cara dekantasi.
g. Difiltrasi 15 mL larutan yang tersisa dan dibuang residunya, sedangkan filtrat
dibiarkan.
h. Dibandingkan filtrate dengan sentrat.

2. Rekristalisasi Garam Dapur Kotor (NaCl)


a. Dimasukkan garam dapur kotor secukupnya kedalam gelas kimia dan dilarutkan
dengan air sedikit mungkin.
b. Difiltrasi atau disaring larutan garam tersebut.
c. Dipanaskan filtrat menggunakan hotplate sampai terbentuk kristal garam kembali.
d. Dibandingkan garam setelah difiltrat dengan yang sebelum difiltrat.

3. Rekristalisasi Tembaga (II) Sulfat (CuSO4)


a. Ditimbang sebanyak 1 gram Tembaga (II) Sulfat dengan timbangan analitik.
b. Dilarutkan Tembaga (II) Sulfat dengan air 25 mL.
c. Ditambahkan 3 butir batu didih dan diuapkan hinggaterbentuk kristal.
d. Dibandingkan tembaga (II) sulfat sebelum dan sesudah proses rekristalisasi.

4. Ekstraksi Iodium (I2)


a. Diukur 5 mL aquades dengan gelas ukur dan di masukkan ke dalam tabung reaksi.
b. Di asukkan 1 butir iodium kedalam tabung reaksi dan digoyang-goyangkan.
Diperhatikan perubahan warnanya.

5
c. Ditetesi 15 tets kloroform kedalam tabung reaksi, dikocok dan diamati kembali
perubahan warna.

5. Destilasi Alkohol 96% (Etanol)


a. Diset alat destilasi biasa.
b. Diukur alkohol 15 mL atas dan di masukkan kedalam gelas kimia.
c. Diukur aquades 5 mL dan dimasukkan kedalam gelas kimia yan berisi alkohol.
d. Dipanaskan dengan alat destilasi biasa, diusahakan suhu tidak, diatas 85°C .
e. Di ukur hasil destilasi yang telah di tampung di labu ukur.

E. HASIL PENGAMATAN
1. Filtrasi dan Sentrifugasi Larutan Kapur (CaCO3)
No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan
1. Ke dalam gelas kimia yang telah diisi ± warna awal:
25 mL aquades , dimasukkan 2 atau 3 Aquades = bening
sendok bubuk kapur lalu diaduk. CaCO3 = putih
warna campuran:
Putih keruh
2. Sebagian isi (± 10 mL) dituangkan ke Cara sentrifugasi:
dalam 2 tabung reaki atau tabung - harus saling berhadapan
sentrifuga lalu disentrifugasi selama 2 - dengan kecepatan 1,5 x 1000 RPM
menit. Sentrat dipisahkan dari selama 2 menit.
endapannya dengan cara dekantasi. Hasil sentrifugasi:
Warna larutan menjadi bening dan
ada sedikit partikel-partikel CaCO3
yang masih terbawa saat dekantasi.
3. Bagian isi lainnya dalam gelas kimia Larutan CaCO3 setelah difiltrasi
disaring, filtratnya ditampung. berwarna bening.
4. Filtrat dengan sentratnya dibandingkan. Sentrat dan filtrat menghasilkan
larutan yang sama-sama tidak
berwarna (bening) namun jika
dibandingkan sentrat lebih keruh
daripada filtrat.

6
2. Rekristalisasi Garam Dapur Kotor (NaCl)
No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan
1. Garam dapur yang kotor dilarutkan NaCl awal sebelum diproses
dengan aquades sedikit mungkin. berwarna putih kotor dan berbentuk
bongkahan kasar.
2. Larutan garam disaring dan filtratnya Saat di panaskaan:
diuapkan dengan hot plate sampai Warna larutan garam kecoklatan dan
kering. Disingkirkan pembakar dan keruh kemudian secara perlahan
dibiarkan air menguap. Dan di larutan berkurang.
bandingkan hasilnya.
Hasil:
Terbentuk kristal garam halus
berwarna putih, teksturnya halus,
lebih halus dari sebelum penguapan.

3. Rekristalisasi Tembaga (II) Sulfat (CuSO4)


No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan
1. Dilarutkan 1 gram tembaga (II) sulfat Warna awal CuSO4 sebelum
dalam aquades 25 mL. Disaring bila dipanaskan adalah biru tua.
diperlukan. warna Aquades adalah bening
2. Ke dalam larutan ditambahkan batu Warna campuran biru tua
didih dan diuapkan hingga kering. Larutan CuSO4 mengkristal
berwarna biru muda.
3. Disingkirkan api dan dibiarkan dingin Warna CuSO4 setelah dipanaskan
tanpa digoyang. adalah biru muda.

4. Ekstraksi Iodium (I2)


No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan
1. Beberapa butir iodium dimasukkan ke  Iodin + aquades = bening ke
dalam tabung reaksi yang diisi aquades kuningan
sebanyak 5 mL. Dikocok dan diamati  Iodium bersifat nonpolar.
warna larutannya.  Aquades bersifat nonpolar.

7
 Iodium sukar larut dalam air.
2. Diambil 1 mL kloroform dan  Kloroform bersifat nonpolar.
dimasukkan ke dalam larutan iodium.  Iodium dan kloroform
Dikocok dengan dibenturkan dasar bercampur.
tabung dengan telapak tangan. Diamati  Warna iodium + kloroform +
warna larutannya. aquades adalah ungu pekat.
 Aquades tidak ikut bercampur.

5. Destilasi Alkohol 96% (Etanol)


No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan
1. Alat destilasi biasa dipasang. Dicampur Hasil destilat yang didapat sebanyak
15 mL etanol 96% dengan 5 mL 22 mL dengan campuran 25 mL
aquades. Dimasukkan ke dalam labu alkohol dan 5 mL aquades.
alas bundar dan ditambahkan batu
didih. Dipanaskan dengan suhu
dibawah 85oC.

F. ANALISIS DATA
a. Gambar Set Alat Destilasi

Keterangan gambar dan fungsinya:


1. Termometer 100°C

8
Berfungsi untuk mengukur suhu atau temperatur uap zat cair yang didestilasi
selama proses pemanasan berlangsung sehingga dapat diketahui saat cairan
mencapai titik didihnya ketika proses destilasi berlangsung.
2. Labu alas bundar 500 mL
Berfungsi sebagai tempat atau wadah untuk menampung campuran larutan yang
akan didestilasi.
3. Mantel
Berfungsi sebagai pemanas dalam proses destilasi.
4. Dongkrak
Berfungsi sebagai tempat meletakkan mantel yang bisa diatur ketinngiannya.
5. Statif
Berfungsi untuk menyangga labu alas bundar dan kondensor bola.
6. Klem
Berfungsi sebagai penjepit antara leher alas bundar dengan tiang statif.
7. Kondensor bola
Berfungsi sebagai tempat penguapan yang dihasilkan dalam proses destilasi
melalui proses pendinginan sehingga uap dari zat yang didestilasi dapat menjadi
air yang murni.
8. Selang air keluar
Berfungsi mengeluarkan air dari ember menuju kondensor bola sebagai pendingin
uap pada proses destilasi.
9. Selang air masuk
Berfungsi mengalirkan air dari kran menuju kondensor liebig sebagai pendingin
uap pada proses destilasi.
10. Gelas erlenmeyer 100 mL
Berfungsi sebagai wadah untuk menampung zat hasil dari proses destilasi
(destilat).
11. Ember
Berfungsi untuk menampung air dan es batu, untuk proses pendinginan.
12. Penyedot air
Berfungsi untuk menyedot air dari dalam ember menuju kondensor bola.

9
b. Perhitungan

Diketahui:
Konsentrasi alcohol = 96%
Volume awal = 15 mL
Volume awal aquades = 5 mL
Volume destilasi = 96%

1. Volume etanol murni


V = Volume awal etanol × konsentrasi etanol (%)
= 15 × 96%
96
= 15 × 100

= 14,4 mL

2. Volume campuran
V = Volume awal etanol 96% + Volume awal aquades
= 15 + 5
= 20 mL

3. Volume destilat
V = 22 mL

4. Persen (%) etanol dalam campuran


Volume etanol murni
V = × 100%
Volume campuran
14,4
= × 100%
20

= 72%

5. Persentase etanol setelah didestilasi


Volume destilat
V = Volume etanol murni × 100%
22
= 14,4 × 100%

= 152,778%

10
G. PEMBAHASAN

Pada prinsipnya pemisahan dilakukan untk memisahkan dua zat atau lebih yang
saling bercampur dan pemurnian dilakukan untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat
yang telah tercampur oleh zat lain. Proses pemisahan dan pemurnian dapat dilakukan
dengan cara, yaitu filtrasi, sentrifugasi, rekristalisasi, ekstraksi dan destilasi.
Pemisahan dan pemurnian adalah proses pemisahan dua zat atau lebih yang saling
bercampur serta untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar atau
tercampur. Campuran adalah setiap contoh materi yang tidak murni, yaitu bukan sebuah
unsur atau sebuah senyawa. Susunan suatu campuran tidak sama dengan sebuah zat, dapat
bervariasi, campuran dapat berupa homogen dan heterogen. Campuran dapat dipisahkan
melalui peristiwa fisika atau kimia. Pemisahan secara fisika tidak mengubah zat selama
pemisahan, sedangkan secara kimia, satu komponen atau lebih direaksikan dengan zat lain
sehingga dapat dipisahkan.
Pemisahan dan pemurnian bertujuan untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang
telah bercampur atau tercemar. Zat atau materi dapat dipisahkan dari campurannya karena
campuran tersebut memiliki perbedaan sifat. Itulah yang mendasari pemisahan dan
pemurnian campuran. Beberapa prinsip yang digunakan dalam proses pemisahan dan
pemurnian campuran antara lain perbedaan ukuran partikel, perbedaan titik didih,
perbedaan massa jenis, adsorbsi, absorbsi, perbedaan kelarutan, dan difusi. Pada prinsip
perbedaan ukuran partikel, jika ukuran partikel suatu zat yang diinginkan berbeda dengan
zat yang tidak diinginkan (zat pencampur) maka dapat dipisahkan dengan metode
penyaringan (filtrasi). Pada prinsip perbedaan titik didih, untuk memisahkan campuran zat
yang memiliki perbedaan titik didih dapat dilakukan dengan metode sublimasi. Zat yang
memiliki titik didih lebih rendah akan lebih dulu menguap. Pada prinsip perbedaan massa
jenis, suhu pengendapan zat akan memiliki kecepatan mengendapkan yang berbeda dalam
larutan yang berbeda. Zat yang memiliki massa jenis lebih besar daripada pelarutnya akan
mudah mengendap. Pada prinsip adsorbsi, diterapkan pada pemurnian air dari kotoran
renik atau organisme. Adsorbsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga
menempel pada permukaan dari bahan pengadsorbsi. Sedangkan absorbsi merupakan suatu
fenomena fisik atau kimiawi atau suatu proses penyerapan yang terjadi pada seluruh bagian
permukaan. Pada prinsip perbedaan kelarutan, pemisahan campuran didapatkan dengan
pelarut tertentu. Suatu zat selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, artinya suatu

11
zat mungkin larut dalam pelarut A tetapi tidak larut dalam pelarut B, atau sebaliknya. Pada
prinsip difusi, dua macam zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat berdifusi satu
sama lain. Pemisahan campuran dengan prinsip ini dapat dilakukan dengan menggunakan
bantuan listrik disebut elektrodialisis. Selain itu dikenal juga istilah elektroforesis, yaitu
pemisahan zat berdasarkan banyaknya nukleotida atau satuan penyusun DNA.
Karena perbedaan keadaan agregasi (bentuk penampilan materi) sangat
mempengaruhi metode pemisahan dan pemurnian, maka diadakan perbedaan atau
pembedaan dalam teknik-teknik pemisahan dan pemurnian. Pembedaan yang pertama
adalah memisahkan zat padat dari suspensinya. Suatu suspensi dapat dipisahkan dengan
penyaringan (filtrasi) dan sentrifugasi. Pembedaan yang kedua adalah memisahkan zat padat
dari larutannya. Zat padat terlarut dapat dipisahkan melalui penguapan, kristalisasi, dan
rekristalisasi. Pembedaan yang ketiga adalah memisahkan campuran zat cair. Zat cair dapat
dipisahkan dari campurannya melalui destilasi, dekantasi (pengendapan), corong pisah,
ekstraksi, dan sublimasi.
Penyaringan atau filtrasi adalah pemisahan endapan dari larutan induknya,
sasarannya adalah agar endapan dan medium penyaring secara kuantitatif bebas dari
larutan. Sentrifugasi adalah pemisahan suspensi dengan jumlah sedikit, sentrifugasi
digunakan untuk memutar dengan cepat hingga gaya sentrifugal beberapa kali lebih besar
daripada gorsa berat, digunakan untuk mengendapkan partikel tersuspensi. Pada
penguapan, larutan dipanaskan sehingga pelarutnya meninggalkan zat terlarut, pemisahan
terjadi karena zat terlarut mempunyai titik didih yang lebih tinggi daripada pelarutnya.
Kristalisasi adalah larutan pekat yang didinginkan sehingga zat terlarut mengkristal, hal itu
terjadi karena kelarutan berkurang ketika suhu diturunkan. Rekristalisasi merupakan teknik
pemisahan berdasarkan titik beku komponen yang berbeda-beda, perbedaan itu harus
cukup besar dan sebaiknya komponen yang akan dipisahkan berwujud padat dan yang
lainnya cair pada suhu kamar. Destilasi adalah pemisahan berdasarkan perbedaan titik
didih dua cairan atau lebih. Jika campuran dipanaskan maka komponen yang titik didihnya
lebih rendah akan menguap lebih dulu. Dekantasi (pengendapan) merupakan proses
pemisahan suatu zat dari campurannya dengan zat lain secara pengendapan didasarkan
pada massa jenis yang lebih kecil akan berada pada lapisan bagian bawah atau mengendap.
Untuk pelarut-pelarut yang lebih ringan dari air, dapat digunakan corong pemisah yang
dimodifikasi, yang dirancang untuk menyederhanakan penyingkiran fase yang lebih
ringan. Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan substansi zat dari campurannya dengan

12
menggunakan pelarut yang sesuai. Sublimasi adalah pemisahan dimana suatu padatan
diuapkan tanpa melalui peleburan dan hanya diembunkan uapnya dengan
mendinginkannya.
Pada percobaan pertama, yaitu sentrifugasi dan filtrasi larutan kapur (CaCO3). Pada
percobaan pertama ini digunakan teknik pemisahan dan pemurnian filtrasi atau
penyaringan serta sentrifugasi. Ketika bubuk kapur (CaCO3) dilarutkan dalam aquades
(H2O) sebanyak 25 mL, aquades menjadi putih pekat dan keruh. Namun, ketika larutan
tidak diaduk bubuk kapur akan mengendap. Sedangkan ketika larutan kapur diaduk maka
larutan akan menjadi keruh. Hal ini disebabkan karena bubuk kapur yang tidak larut dalam
aquades tersebar merata dalam aquades. Setelah larutan kapur disentrifugasi, bubuk kapur
mengendap di dasar tabung reaksi. Pada bagian atas, terdapat aquades yang jernih dan
disebut sentrat. Pada percobaan ini juga digunakan teknik dekantasi. Sentrat pada tabung
reaksi dipisahkan dari endapannya dengan cara atau teknik dekantasi. Sebagian larutan
kapur lainnya yang tidak disentrifugasi, difiltrasi atau disaring dengan kertas saring. Kertas
saring memiliki ciri-ciri yaitu pori-pori yang sangat kecil sehingga bubuk kapur tidak lolos
melalui kertas saring dan diperoleh filtrat yang lebih jernih. Berdasarkan pengamatan,
filtrat berwarna bening dan jerning sedangkan sentrat berwarna bening namun agak keruh
jika dibandingkan dengan filtrat. Hal ini disebabkan karena filtrasi menggunakan kertas
saring berpori-pori sangat kecil sehingga bubuk kapur tidak dapat melalui atau lolos kertas
saring sehingga didapatkan filtrat yang bebas dari bubuk kapur. Sedangkan pada
sentrifugasi digunakan pemutar atau pengaduk dengan kecepatan tinggi sehingga partikel-
partikel bubuk kapur yang berukuran besar akan mengendap namun ada kemungkinan
partikel-partikel bubuk kapur yang berukuran kecil masih mengkontaminasi aquades.
Selain itu, pemisahan sentrat dengan endapannya digunakan cara dekantasi yaitu
pemisahan campuran dengan cara menuang cairan secara perlahan-lahan sehingga padatan
tertinggal dalam wadah. Metode dekantasi lebih cepat dibandingkan dengan filtrasi namun
hasilnya kurang efektif. Cara ini efektif apabila partikel padatnya berukuran lebih besar.
Jadi, dalam percobaan ini digunakan prinsip perbedaan ukuran partikel.
Pada percobaan kedua yaitu rekristalisasi garam dapur kotor (NaCl). Pada percobaan
ini digunakan teknik pemisahan dengan cara cara filtrasi dan rekristalisasi. Sedangkan
prinsip-prinsip yang digunakan adalah perbedaan titik didih, perbedaan ukuran partikel.
Garam dapur mempunyai komponen utama natrium klorida dan berbagai pengotor yang
dapat larut dalam air. Pengotor-pengotor tersebutlah yang menyebabkan warna garam

13
menjadi putih kotor kehitaman dan berbentuk bongkahan kasar. Untuk mendapatkan garam
yang mmiliki kemurnian tinggi maka digunakan teknik rekristalisasi dengan pelarut berupa
aquades. Aquades atau air dipilih karena memberikan kelarutan yang cukup signifikan
antara NaCl dan pengotor-pengotornya. Setelah rekristalisasi diperoleh hasil bahwa NaCl
menjadi putih bersih dan berbentuk bongkahan yang lebih halus. Hal ini disebabkan karena
sebelum NaCl diuapkan, terlebih dahulu garam yang telah dilarutkan dengan air disaring
menggunakan kertas saring. Pada proses filtrasi atau penyaringan inilah kotoran-kotoran
yang ada disaring dan tertampung dalam medium penyaringan, sehingga didapatkan
larutan yang lebih bersih. Kemudian pada saat diuapkan air lebih cepat menguap sehingga
zat padat yang ada di dalam larutan mengendap sehingga terbentuk kristal garam yang
bersih.
Pada percobaan ketiga yaitu rekristalisasi tembaga (II) sulfat (CuSO4) digunakan
teknik pemisahan rekristalisasi dan digunakan prinsip perbedaan titik didih. Sebelum
proses rekristalisasi, CuSO4 berwarna biru tua. Setelah dilarutkan dalam aquades,
didapatkan larutan CuSO4 berwarna biru. Dalam proses penguapan digunakan beberapa
butir batu didih yang berfungsi untuk meratakan panas larutan agar tidak terjadi letupan
atau ledakan. Setelah penguapan, didapatkan butiran-butiran halus CuSO4 yang berwarna
biru muda. Hal ini disebabkan karena penambahan aquades yang menyebabkan warna
CuSO4 menjadi memudar. Pada saat diuapkan, air dalam larutan lebih cepat menguap
sehingga padatan CuSO4 mengendap atau tertinggal di dasar wadah.
Pada percobaan keempat yaitu ekstraksi iodin (I2) digunakan teknik pemisahan
ekstraksi dan prinsip perbedaan kelarutan. Ketika dicampurkan dengan aquades, iodium
tidak dapat larut dalam aquades. Setelah dikocok, campuran menghasilkan warna orange.
Iodium bersifat nonpolar sedangkan aquades bersifat polar sehingga menyebabkan iodium
sukar larut dalam aquades. Selain itu kerapatan molekul iodium sangat rapat dan padat
serta suhu atau temperatur aquades yang rendah juga merupakan faktor penyebab iodium
sukar larut dalam air. Tingkat keelektronegatifan aquades lebih besar dibandingkan tingkat
keelektronegatifan I2 sehingga menyebabkan I2 sukar larut dalam aquades. Kemudian
ketika larutan iodium ditambahkan dengan kloroform (CHCl3) warna larutan menjadi ungu
pekat. Kloroform juga dapat bercampur dengan iodium namun tidak dengan aquades.
Iodium dapat bercampur dengan kloroform dikarenakan kloroform merupakan pelarut
organik dan bersifat nonpolar. Berdasarkan pengamatan, terbentuk dua lapisan pada
larutan. Lapisan atas berupa air atau aquades dengan I2 dan lapisan bawahnya berupa

14
CHCl3 dan I2. Terbentuknya dua lapisan ini karena perbedaan tingkat kepolaran antara
CHCl3 dengan H2O atau aquades. CHCl3 bersifat nonpolar sedangkan H2O bersifat polar
sehingga keduanya tidak dapat bercampur.
Pada percobaan kelima yaitu destilasi alkohol atau etanol (C2H5OH) 96% digunakan
teknik pemisahan destilasi dan prinsip perbedaan titik didih. Pada percobaan ini didapatkan
volume etanol hasil destilasi sebesar 5,3 mL dari campuran 15 mL etanol dan 5 mL
aquades. Hal tersebut berarti bahwa alkohol murni yang didapat pada etanol dengan
konsentrasi 96% dan aquades hanya 5,3 mL. Dalam proses destilasi, ketika proses
penguapan larutan, suhu yang digunakan adalah di bawah 85oC. Hal tersebut dikarenakan
titik didih etanol berkisar antara 78oC. Jika suhu tidak dipertahankan di bawah 85oC maka
aquades akan ikut menguap dan bercampur dengan alkohol murni (destilat). Adapun teknik
atau cara mencairkan uap untuk menghasilkan destilat adalah dengan cara mengaliri
kondensor liebig dengan air sehingga terjadi pendinginan. Berdasarkan perhitungan pada
analisis data, didapatkan bahwa persentase etanol dalam campuran (alkohol + aquades)
adalah berkisar sekitar 72%, sedangkan persentase dari etanol setelah didestilasi yaitu
152,778% yang merupakan alkohol murni.

H. KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ada
beberapa teknik pemisahan dan pemurnian suatu zat dari campurannya antara lain
sentrifugasi (menghasilkan endapan dan sentrat melalui alat sentrifugasi yang berputar
dengan kecepatan tinggi), filtrasi (proses penyaringan dengan cara diuapkan menghasilkan
filtrat yang lebih bersih dan bening), dekantasi (pemisahan campuran dengan cara
menuangkan cairan secara perlahan dan menyisakan endapan), rekristalisasi ( pemurnian
zat padat yang dilarutkan kemudian dikristalkan kembali), ekstraksi (pemisahan suatu zat
dari berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan yang tidak saling larut), dan
destilasi (pemisahan berdasarkan perbedaan ttik didih).

15
DAFTAR PUSTAKA

Brady, James. 2008. Kimia Universitas. Jakarta: Binapura Aksara.

Hendayana, Sumar. 2006. Kimia Pemisahan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mikarjudin. 2007. Konsep Dasar Kimia. Jakarta: Erlangga.

Rahayu, Nurhayati. 2011. Kimia. Jakarta: Gagas Media.

16