Anda di halaman 1dari 10

BAB I

Pendahuluan

Demokrasi adalah suatu pemikiran manusia yang mempunyai kebebasan berbicara, megeluarkan
pendapat. Demokrasi adalah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Begitulah pemahaman yang paling sederhana tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua
orang. Demokrasi juga adalah adalah bentuk pemerintahan politik dimana kekuasaan pemerintahan
berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi
perwakilan).
Berbicara mengenai demokrasi adalah memburaskan (memperbincangkan) tentang kekuasaan,
atau lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan secara beradab. Ia adalah sistem manajemen kekuasaan
yang dilandasi oleh nilai-nilai dan etika serta peradaban yang menghargai martabat manusia. Pelaku
utama demokrasi adalah kita semua, setiap orang yang selama ini selalu diatas namakan namun tak
pernah ikut menentukan. Menjaga proses demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang
kita miliki, menjaga hak-hak itu agar siapapun menghormatinya, melawan siapapun yang berusaha
melanggar hak-hak itu.
Negara Indonesia menunjukan sebuah Negara yang sukses menuju demokrasi sebagai bukti yang
nyata, dalam pemilihan langsung presiden dan wakil presiden. Selain itu bebas menyelenggarakan
kebebasan pers. Semua warga negar bebas berbicara, mengeluarkan pendapat, mengkritik bahkan
mengawasi jalannya pemerintahan. Demokrasi memberikan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat
bahkan dalam memilih salah satu keyakinan pun dibebaskan.

Tujuan
• Memberikan Penjelasan apa itu demokrasi dan bagamana demokrasi itu sendiri di indonesia
• Memberikan Penjelasan bagaiman perkembangan demokrasi di indonesia
• Meluruskan pemikiran tentang demokrasi yang terjadi di indonesia
• Memaparkan masalah-masalah yang timbul yang diakibatkan penyimpangan dari nilai-nilai
demokrasi di Indonesia
• Memaparkan sejumlah sumber hukum yang menjadi landasan demokrasi

Permasalahan
• Demokrasi di indonesia yang mengalami pasang surut sehingga menimbulkan pemikiran
negatif di masyarakat terhadap demokrasi di indonesia
• Demokrasi yang hanya memintingkan hak saja tanpa mempertanggung-jawabkan kewajibanya
• Pengetahuan yang kurang terhadap demokrasi indonesia pada masyarakat Indonesia

1
BAB II
PEMBAHASAN

2. 1 Latar Belakang
Untuk membangun suatu system demokrasi disuatu Negara bukanlah hal yang mudah karena
tidak menutup kemungkinan pembangunan system demokrasi di suatu Negara akan mengalami
kegagalan. Tetapi yang harus kita banggakan dmokrasi dinegara Indonesia sudah mengalami
kemajuan yang sangat pesat contahnya dari segi kebebasan, berkeyakinan, berpendapat atau pun
berkumpul mereka bebas bergaul tanpa ada batasan-batasan yang membatasi mereka. Tapi bukan
berarti demokrasi di Indonesia saat ini sudah berjalan sempurna masih banyak kritik-kritik yang
muncul terhadap pemerintah yang belum sepenuhnya bisa menjamin kebebasan warga negaranya.
Dalam hal berkeyakian juga pemerintah belum sepenuhnya. Berdasarkan survei tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap demokrasi semakin besar bahkan demokrasi adalah system yang terbaik
meskipun system demokrasi itu tidak sempurna.
Dengan begitu banyaknya persoalan yang telah melanda bangsa Indonesia ini. Keberhasilan
Indonesia dalam menetapkan demokrasi tentu harus dibanggaan karena banyak Negara yang sama
dengan Negara Indonesia tetapi Negara tersebut tidak bisa menegakan system demokrasi dengan baik
dalam artian gagal. Akibat demokrasi jika dilihat diberbagai persoalan dilapangan adalah
meningkatnya angka pengangguran, bertambahnya kemacetan dijalan, semakin parahnya banjir
masalah korupsi, penyelewengan dan itu adalah contoh penomena dalam suatu Negara system
demokrasi, demokrasi adalah system yang buruk diantara alternative-alternatif yang lebih buruk tetapi
demokrasi memberikan harapan untuk kebebasan, keadilan dan kesejahtraan oleh karena itu banyak
Negara-negara yang berlomba-lomba menerapkan system demokrasi ini.

2. 2 Pengertian Demokrasi
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya
mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh
pemerintah negara tersebut.

A. Demokrasi Menurut Internasional Commision of Jurits


Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan oleh rakyar dimana kekuasaan tertinggi ditangan rakyat
dan di jalankan langsung oleh mereka atau oleh wakil-wakil yang mereka pilih dibawah sistem
pemilihan yang bebas. Jadi, yang di utamakan dalam pemerintahan demokrasi adalah rakyat.

B. Demokrasi Menurut Lincoln


Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (government of the
people, by the people, and for the people).

C. Demokrasi Menurut C.F Strong

Suatu sistem pemerintahan di mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikut serta atas
dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintahan akhirnya
mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan kepada mayoritas itu.

2. 3 Sejarah dan Perkembangan Demokrasi


2
Isitilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5
SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan
dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu,
dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem
“demokrasi” di banyak negara.
Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang
berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal
sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah
kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini
disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.

2. 4 Prinsip-Prinsip Demokrasi

Setiap prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara demokrasi telah terakomodasi dalam
suatu konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prinsip-prinsip demokrasi, dapat ditinjau dari
pendapat Almadudi yang kemudian dikenal dengan "soko guru demokrasi." Menurutnya, prinsip-
prinsip demokrasi adalah: Kedaulatan rakyat;

1. Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah;


2. Kekuasaan mayoritas;
3. Hak-hak minoritas;
4. Jaminan hak asasi manusia;
5. Pemilihan yang bebas dan jujur;
6. Persamaan di depan hukum;
7. Proses hukum yang wajar;
8. Pembatasan pemerintah secara konstitusional;
9. Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik;
10. Nilai-nilai tolerensi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.

2.5 Ciri-Ciri Pemerintahan Yang Demokrasi


Istilah demokrasi diperkenalkan kali pertama oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan,
yaitu suatu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan banyak orang
(rakyat). Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh
hampir seluruh negara di dunia. Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut.
Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik langsung
maupun tidak langsung (perwakilan).

1. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.
2. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.
3. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat

Dalam International Conference of Jurists, Bangkok,1965 kriteria negara demokrasi adalah :


• Supremacy of Law (Hukum di atas segala hal)
• Equality before the Law ( Persamaan di hadapan hukum)
• Constitutional guarantee of Human Rights (Jaminan konstitusional terhadap HAM)
• Impartial Tribune (Peradilan yang tidak memihak)
• Civic Education (Pendidikan Kewarganegaraan)

2.6 Landasan-landasan Demokrasi Indonesia

3
A. Pembukaan UUD 1945
1. Alinea pertama
Kemerdekaan ialah hak segala bangsa.
2. Alinea kedua
Mengantarkan rakyat Indonesia kepintu gerbang kemerdekaan Indonesia yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
3. Alinea ketiga
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur supaya
berkehidupan dan kebangsaaan yang bebas.
4. Alinea keempat
Melindungi segenap bangsa.

B. Batang Tubuh UUD 1945


1. Pasal 1 ayat 2
Kedaulatan adalah ditangan rakyat.
2. Pasal 2
Majelis Permusyawaratan Rakyat.
3. Pasal 6
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
4. Pasal 24 dan Pasal 25
Peradilan yang merdeka.
5. Pasal 27 ayat 1
Persamaan kedudukan di dalam hukum.
6. Pasal 28
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul.

C. Lain-lain
1. Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang hak asasi
2. UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM

2.7 Sejarah dan perkembangan demokrasi di Indonesia

4
Bagi indonesia tahun 1998 adalah tonggak sejarah untuk mencicipi kebebasan dalam segmen
kehidupan; baik pilitik, ekonomi, budaya dan keprecayaan tentunya yang, sebelumnya dikuasai rejim
orede baru yang telah berkuasa selama 32 tahun yang dipimpin oleh Pak soeharto yang terkesan
dipolitisir. kondisi diktator, monolitik dan absolut kini tengah menghadapi sejarah babak baru diera
reformasi sebgai negara yang berdemokrasi.
Pangung politik diera orde baru yang sebelumnya dimonopoli hanya tiga partai - GOLKAR;
sebagai rumah nasionalis, PPP; representatif islamis dan PDI; sebagai wadah para nasionalis anak tiri,
sosialis dan kaum “marjinal”- kini 180 derajat berubah, sebagai pintu awal untuk duduk dikursi yang
berfungsi menyuarakan kehendak rakyat itu. Setelah turun kebijakan dibukanya partai politik yang
akan bergulat dalam Pemilu 98 bermunculanlah partai dari berbagai ideologi bergeliat mendaptarkan
diri.
Dunia pers pun kini tengah mendapatkan kemeredekaan, kesan tekungkung dan terbungkam yang
mengakibatkan kemandulan informasi, saat ini menemukan dunia baru diera bebas berekspresi dan
beraksi. undang-undak pers dan penentuan kehidupan jurnalis kini mendapat porsi yang sangat
instiewa ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
kebebasan diatas adalah beberapa contoh dari sekian banyak perubahan setelah kran demokrasi
dinegeri ini mengalir begitu deras, saking derasnya tak jarang kita dapati kedodoran dan kebablasan
yang akhirnya tak sedikit norma-norma yang dilabrak dengan dalih kebebasan dan reformasi, HAM
dan privatisasi. sehingga tak jarang pemandangan ambigu di tengah mayarakat pun tak dapat
dihindarkan.
pemilu tahun 2004 merupakan bukti nyata bahwa indonesia merupakan bangsa yang dinilai sukses
melaksanakan sistem demokrasi yang dewasa ini kian diagung-agungkan. sistem pemilihan presiden
langsung dan terbuka yang menobatkan SBY dan Kalla sebagai pucuk pimpinan itu telah membuka
mata dunia bahwa indonesia adalah negara yang murni penganut demokrasi.
Indonesia setidaknya telah melalui empat masa demokrasi dengan berbagai versi. Pertama
adalah demokrasi liberal dimasa kemerdekaan. Kedua adalah demokrasi terpimpin, ketika
Presiden Soekarno membubarkan konstituante dan mendeklarasikan demokrasi terpimpin. Ketiga
adalah demokrasi Pancasila yang dimulai sejak pemerintahan Presiden Soeharto. Keempat adalah
demokrasi yang saat ini masih dalam masa transisi.
Kelebihan dan kekurangan pada masing-masing masa demokrasi tersebut pada dasarnya bisa
memberikan pelajaran berharga bagi kita.

A . D e m ok r a s i L i b e r al ( 19 45 - 1 95 9 )
17 Agustus 1945 (Setelah Kemerdekaan Indonesia), Ir. Soekarno yang menjadi Ketua PPKI
dipercaya menjadi Presiden Republik Indonesia
Demokrasi liberal ternyata pada saat itu belum bisa memberikan perubahan yang berarti
bagi Indonesia. Namun demikian, berbagai kabinet yang jatuh-bangun pada masa itu telah
memperlihatkan berbagai ragam pribadi beserta pemikiran mereka yang cemerlang dalam
memimpin namun mudah dijatuhkan oleh parlemen dengan mosi tidak percaya. Sementara
demokrasi terpimpin yang dideklarasikan oleh Soekarno (setelah melihat terlalu lamanya
konstituante mengeluarkan undang-undang dasar baru) telah memperkuat posisi Soekarno
secara absolut. Di satu sisi, hal ini berdampak pada kewibawaan Indonesia di forum
Internasional yang diperlihatkan oleh berbagai manuver yang dilakukan Soekarno serta
munculnya Indonesia sebagai salah satu kekuatan militer yang patut diperhitungkan di Asia.
Namun pada sisi lain segi ekonomi rakyat kurang terperhatikan akibat berbagai kebijakan politik
pada masa itu.
Bahkan, muncul disintegrasi bangsa. Antara lain :
1) Pemberontakan PRRI, Permesta, atau DI/TII yang ingin melepaskan diri dari NKRI.
2) Konstituante tidak berhasil menetapkan UUD sehingga negara benar-benar dalam keadaan
darurat.
Hal ini menandakan bahwa Sistem demokrasi liberal tidak berhasil dilaksanakan di Indonesia,
karena tidak sesuai dengan pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia. Untuk mengatasi hal
tersebut keluarlah Dekrit Presiden 5 Juli 1959
B. Demokrasi Terpimpin(1959-1966)

5
Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka demokrasi liberal diganti dengan
demokrasi terpimpin.Situasi politik pada masa demokrasi terpimpin diwarnai tiga kekuatan politik
utama yaitu Soekarno, PKI, dan angkatan darat.
Ketiga kekuatan tersebut saling merangkul satu sama lain.Terutama PKI membutuhkan Soekarno
untuk menghadapi angkatan darat yang menyainginya dan meminta perlindungan.Begitu juga
angkatan darat,membutuhkan Soekarno untuk legitimasi keterlibatannya di dunia politik.
Dalam demokrasi terpimpin, apabila tidak terjadi mufakat dalam sidang legislatif, maka
permasalahan itu diserahkan kepada presiden sebagai pemimpin besar revolusi untuk dapat diputuskan
dalam hal anggota DPR tidak mencapai mufakat (sesuai Peraturan Tata Tertib Peraturan Presiden).
jadi, rakyat maupun wakil rakyat tidak memiliki peranan penting dalam Demokrasi Terpimpin.
Akhirnya Pemerintahan Orde Lama beserta Demokrasi terpimpinnya jatuh setelah terjadinya
Peristiwa G30S / PKI pada tahun 1965 dengan diikuti krisis ekonomi yang cukup parah hingga
dikeluarkannya Supersemar (Surat perintah sebelas Maret).

C. Demokrasi Pancasila (1966-1998)


Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang dijiwai oleh sila kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang berKetuhanan Yang Maha Esa, yang
berkemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan yang berkeadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
Berdasarkan pengalaman Orde Lama, pemerintahan Orde Baru berupaya menciptakan stabilitas
politik dan keamanan untuk menjalankan pemerintahannya. Namun kenyataannya justru mengekang
kelompok-kelompok kepentingan dan parpol lain yang menginginkan perubahan demokrasi dg
merangkul AD sbg kekuatan birokrasi dl proses politik.
Media massa dan rakyat dibayang-bayangi ketakutan apabila ingin membeberkan berita, kritik,
ungkapan realistis di masyarakat kecuali mendapat izin dari pemerintah. Akibatnya, pembangunan
mental bangsa semakin merosot. Dengan timbulnya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), kepercayaan
rakyat terhadap pemerintah hilang, unjuk rasa yang dipelopori oleh mahasiswa, pelajar, dosen,
praktisi, LSM dan para politisi.Terlebih dengan krisis ekonomi yang hampir terjadi di seluruh dunia.
Pada masa Orde Baru, krisis ekonomi yang melanda Indonesia mulai terasa pada pertengahan
1977. Hal ini menyebabkan :
1. Menurunkan legitimasi pemerintahan Orde Baru.
2. Mendorong meluasnya gerakan massa untuk menuntut perubahan tata pemerintahan.
3. Akibat adanya tuntutan massa untuk diadakan reformasi di dalam segala bidang, rezim Orde
Baru tidak mampu mempertahankan kekuasaannya. Dan terpaksa Soeharto mundur dari
kekuasaannya dan kekuasaannya dilimpahkan kepada B. J. Habibie.

D. Masa Reformasi (1998-sekarang)

Pada masa ini, Kepemimpinan rezim B. J. Habibie tidak ada legitimasi dan tida mendapat
dukungan sosial politik dari sebagian besar masyarakat.Akibatnya B. J. Habibie tidak mampu
mempertahankan kekuasaannya.Kemudian, melalui pemilu presiden yang ke-4 K. H. Abdurrahman
Wahid terpilih secara demokratis di parlemen sebagai Presiden RI. Akan tetapi, karena K. H.
Abdurrahman Wahid membuat beberapa kebijakan yang kurang sejalan dengan proses demokratisasi
itu sendiri, maka pemerintahan sipil K. H. Abdurrahman Wahid terpaksa tersingkir dengan melalui
proses yang cukup panjang serta melelahkan di parlemen.
Transisi menuju demokratisasi beralih dari K. H. Abdurrahman Wahid ke Megawati
Soekarnoputri melalui pemilihan secara demokratis di parlemen. Proses pemerintahan demokrasi pada
masa Megawati Soekarnoputri masih cukup sulit untuk dievaluasi dan diketahui secara optimal.
Akibatnya, ketidakpuasaan akan pelaksanaan pemerintahan dirasakan kembali oleh rakyat dan hampir
terjadi krisis kepemimpinan. Rakyat merasa bahwa siapa yang berkuasa di pemerintahan hanya ingin
mencari keuntungan semata, bukan untuk kepentingan rakyat.
Namun demikian, demokratisasi yang sedang berjalan di Indonesia memperlihatkan
beberapa kemajuan dibandingkan masa-masa sebelumnya. Pemilihan umum dengan diikuti
banyak partai adalah sebuah kemajuan yang harus dicatat. Disamping itu pemilihan presiden
6
secara langsung yang juga diikuti oleh pemilihan kepala daerah secara langsung adalah
kemajuan lain dalam tahapan demokratisasi di Indonesia. Diluar hal tersebut, kebebasan
mengeluarkan pendapat dan menyampaikan aspirasi di masyarakat juga semakin
meningkat. Para kaum tertindas mampu menyuarakan keluhan mereka di depan publik sehingga
masalah-masalah yang selama ini terpendam dapat diketahui oleh publik. Pemerintah pun
sangat mudah dikritik bila terlihat melakukan penyimpangan dan bisa diajukan ke pengadilan bila
terbukti melakukan kesalahan dalam mengambil suatu kebijakan publik.
Jika diasumsikan bahwa pemilihan langsung akan menghasilkan pemimpin yang mampu
membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik, maka seharusnya dalam beberapa
tahun ke depan Indonesia akan mengalami peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat. Namun
sayangnya hal ini belum terjadi secara signifikan. Hal ini sebagai akibat masih terlalu kuatnya
kelompok yang pro-KKN maupun anti perbaikan.
Demokrasi di Indonesia masih berada pada masa transisi dimana berbagai prestasi sudah muncul
dan diiringi ”prestasi” yang lain. Sebagai contoh, munculnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
dirasakan mampu menimbulkan efek jera para koruptor dengan dipenjarakannya beberapa koruptor.
Namun di sisi lain, para pengemplang dana bantuan likuiditas bank Indonesia (BLBI) mendapat
pengampunan yang tidak sepadan dengan ”dosa-dosa” mereka terhadap perekonomian.
Namun demikian, masih ada sisi positif yang bisa dilihat seperti lahirnya undang-undang
sistem pendidikan nasional yang mengamanatkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Demikian
pula rancangan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi yang masih dibahas di parlemen.
Rancangan undang-undang ini telah mendapat masukan dan dukungan dari ratusan organisasi
Islam yang ada di tanah air. Hal ini juga memperlihatkan adanya partisipasi umat Islam yang
meningkat dalam perkembangan demokrasi di Indonesia. Sementara undang-undang sistem
pendidikan nasional yang telah disahkan parlemen juga pada masa pembahasannya mendapat
dukungan yang kuat dari berbagai organisasi Islam.
Sementara itu, ekonomi di era demokrasi ternyata mendapat pengaruh besar dari kapitalisme
internasional. Hal ini menyebabkan dilema. Bahkan di tingkat pemerintah, ada kesan mereka
tunduk dibawah tekanan kapitalis internasional yang tidak diperlihatkan secara kasat mata kepada
publik namun bisa dirasakan.

BAB III
PENUTUP

7
3.1 Kesimpulan

Tantangan dan Harapan dalam Demokrasi Indonesia

Amartya Sen, penerima nobel bidang ekonomi menyebutkan bahwa demokrasi dapat
mengurangi kemiskinan. Pernyataan ini akan terbukti bila pihak legislatif menyuarakan hak-hak
orang miskin dan kemudian pihak eksekutif melaksanakan program-program yang efektif untuk
mengurangi kemiskinan. Sayangnya, dalam masa transisi ini, hal itu belum terjadi secara
signifikan.
Demokrasi di Indonesia terkesan hanya untuk mereka dengan tingkat kesejahteraan
ekonomi yang cukup. Sedangkan bagi golongan ekonomi bawah, demokrasi belum
memberikan dampak ekonomi yang positif buat mereka. Inilah tantangan yang harus dihadapi
dalam masa transisi. Demokrasi masih terkesan isu kaum elit, sementara ekonomi adalah masalah
riil kaum ekonomi bawah yang belum diakomodasi dalam proses demokratisasi. Ini adalah
salah satu tantangan terberat yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Demokrasi dalam arti sebenarnya terkait dengan pemenuhan hak asasi manusia. Dengan
demikian ia merupakan fitrah yang harus dikelola agar menghasilkan output yang baik. Setiap
manusia memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, berkumpul, berserikat dan bermasyarakat.
Dengan demikian, demokrasi pada dasarnya memerlukan aturan main. Aturan main tersebut
sesuai dengan nilai-nilai Islam dan sekaligus yang terdapat dalam undang-undang maupun
peraturan pemerintah.
Di masa transisi, sebagian besar orang hanya tahu mereka bebas berbicara, beraspirasi,
berdemonstrasi. Namun aspirasi yang tidak sampai akan menimbulkan kerusakan. Tidak sedikit
fakta yang memperlihatkan adanya pengrusakan ketika terjadinya demonstrasi menyampaikan
pendapat. Untuk itu orang memerlukan pemahaman yang utuh agar mereka bisa menikmati
demokrasi.
Demokrasi di masa transisi tanpa adanya sumber daya manusia yang kuat akan
mengakibatkan masuknya pengaruh asing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini adalah
tantangan yang cukup berat juga dalam demokrasi yang tengah menapak. Pengaruh asing
tersebut jelas akan menguntungkan mereka dan belum tentu menguntungkan Indonesia. Dominannya
pengaruh asing justru mematikan demokrasi itu sendiri karena tidak diperbolehkannya perbedaan
pendapat yang seharusnya menguntungkan Indonesia. Standar ganda pihak asing juga akan
menjadi penyebab mandulnya demokrasi di Indonesia.
Anarkisme yang juga menggejala pasca kejatuhan Soeharto juga menjadi tantangan bagi
demokrasi di Indonesia. Anarkisme ini merupakan bom waktu era Orde Baru yang meledak
pada saat ini. Anarkisme pada saat ini seolah-olah merupakan bagian dari demonstrasi yang
sulit dielakkan, dan bahkan kehidupan sehari-hari. Padahal anarkisme justru bertolak belakang
dengan hak asasi manusia dan nilai-nilai Islam.
Harapan dari adanya demokrasi yang mulai tumbuh adalah ia memberikan manfaat sebesar-
besarnya untuk kemaslahatan umat dan juga bangsa. Misalnya saja, demokrasi bisa
memaksimalkan pengumpulan zakat oleh negara dan distribusinya mampu mengurangi
kemiskinan. Disamping itu demokrasi diharapkan bisa menghasilkan pemimpin yang lebih
memperhatikan kepentingan rakyat banyak seperti masalah kesehatan dan pendidikan.
Tidak hanya itu, demokrasi diharapkan mampu menjadikan negara kuat. Demokrasi di negara
yang tidak kuat akan mengalami masa transisi yang panjang. Dan ini sangat merugikan bangsa
dan negara. Demokrasi di negara kuat (seperti Amerika) akan berdampak positif bagi
rakyat. Sedangkan demokrasi di negara berkembang seperti Indonesia tanpa
menghasilkan negara yang kuat justru tidak akan mampu mensejahterakan
rakyatnya. Negara yang kuat tidak identik dengan otoritarianisme maupun militerisme.
Harapan rakyat banyak tentunya adalah pada masalah kehidupan ekonomi mereka serta bidang
kehidupan lainnya. Demokrasi membuka celah berkuasanya para pemimpin yang peduli dengan
rakyat dan sebaliknya bisa melahirkan pemimpin yang buruk. Harapan rakyat akan adanya
pemimpin yang peduli di masa demokrasi ini adalah harapan dari implementasi demokrasi itu
sendiri.
8
Di masa transisi ini, implementasi demokrasi masih terbatas pada kebebasan dalam
berpolitik, sedangkan masalah ekonomi masih terpinggirkan. Maka muncul kepincangan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Politik dan ekonomi adalah dua sisi yang berbeda dalam
sekeping mata uang, maka masalah ekonomi pun harus mendapat perhatian yang serius dalam
implementasi demokrasi agar terjadi penguatan demokrasi.Semakin rendahnya tingkat kehidupan
ekonomi rakyat akan berdampak buruk bagi demokrasi karena kuatnya bidang politik
ternyata belum bisa mengarahkan kepada perbaikan ekonomi. Melemahnya ekonomi akan
berdampak luas kepada bidang lain, seperti masalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia
yang lemah jelas tidak bisa memperkuat demokrasi, bahkan justru bisa memperlemah demokrasi.
Demokrasi di Indonesia memberikan harapan akan tumbuhnya masyarakat baru yang
memiliki kebebasan berpendapat, berserikat, berumpul, berpolitik dimana masyarakat mengharap
adanya iklim ekonomi yang kondusif. Untuk menghadapi tantangan dan mengelola harapan ini
agar menjadi kenyataan dibutuhkan kerjasama antar kelompok dan partai politik agar demokrasi bisa
berkembang ke arah yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Fenty (2010). Demokrasi Indonesia. Kajian Substansi Makalah dalam Payung pendidikan
kewarganegaraan.
9
Prayitno, Irwan (2007). Perkembangan Demokrasi di Indonesia Cabaran dan Pengharapan. Kajian
Substansi Makalah dalam Payung pendidikan kewarganegaraan.
Taufik Rahman, Agus (2008). Catatan Perjalanan Demokrasi Indonesia. Kajian Substansi
Makalah dalam Payung pendidikan kewarganegaraan.

“http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi“

10