Anda di halaman 1dari 26

Makalah

SISTEM PEMBIAYAAN NASIONAL

Oleh:

Ririn Puspita, S.Ked 04054821820064

Humairoh Okba V.Putri, S.Ked 04054821820070

M. Ali Ridho 04054821820135

Robertus Erik Kantona 04084821820018

Pembimbing:

Mariana, S.K.M, M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


ILMU KEDOKTERAN KELUARGA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Makalah

SISTEM PEMBIAYAAN NASIONAL

Oleh:
Ririn Puspita, S.Ked 04054821820064

Humairoh Okba V.Putri, S.Ked 04054821820070

M. Ali Ridho 04054821820135

Robertus Erik Kantona 04084821820018

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat-Ilmu Kedokteran
Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 4 Februari 2019 – 15
April2019.

Palembang, Februari 2019

Mariana, S.K.M.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................3
2.1 Definisi Pembiayaan Kesehatan .............................................................3
2.2 Jenis Biaya Kesehatan ............................................................................5
2.3 Tujuan Pembiayaan Kesehatan ..............................................................5
2.4 Strategi dan Sumber Dana Biaya Kesehatan ..........................................7
2.5 Faktor yang Memengaruhi Biaya Kesehatan .........................................9
2.6 Model Sistem Pembiayaan ...................................................................11
2.7 Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia ............................................13
2.8 Permasalahan dalam Pembiayaan Kesehatan.......................................16
2.9 Analisis – Rencana Pembiayaan Kesehatan .........................................16
2.10 Jenis Pelayanan Kesehatan .................................................................18
BAB III KESIMPULAN .....................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................22

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Pelayanan kesehatan masyarakat pada prinsipnya mengutamakan


pelayanan kesehatan promotif dan preventif. Pelayanan promotif adalah upaya
meningkatkan kesehatan masyarakat ke arah yang lebih baik lagi dan yang
preventif mencegah agar masyarakat tidak jatuh sakit agar terhindar dari penyakit.
Sebab itu pelayanan kesehatan masyarakat itu tidak hanya tertuju pada
pengobatan individu yang sedang sakit saja, tetapi yang lebih penting adalah
upaya-upaya pencegahan (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif).
Sehingga, bentuk pelayanan kesehatan bukan hanya puskesmas atau balkesmas
saja, tetapi juga bentuk-bentuk kegiatan lain, baik yang langsung kepada
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, maupun yang secara tidak
langsung berpengaruh kepada peningkatan kesehatan. (Juanita, 2002).
Pelayanan kesehatan dibedakan dalam dua golongan, yaitu :
1. Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan kesehatan
masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali
diperlukan masyarakat pada saat mereka mengalami ganggunan kesehatan atau
kecelakaan.
2. Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier (secondary and tertiary health care),
adalah rumah sakit, tempat masyarakat memerlukan perawatan lebih lanjut atau
rujukan. Di Indonesia terdapat berbagai tingkat rumah sakit, mulai dari rumah
sakit tipe D sampai dengan Rumah sakit kelas A. (Juanita, 2002).
Untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap kesehatan
banyak hal yang harus dilakukan, salah satunya adalah penyelenggaraan
pelayanan kesehatan. Secara umum dapat dibedakan 9 syarat penyelenggaraan
pelayanan kesehatan yang baik, yakni tersedia (available), menyeluruh
(comprehensive), berkesinambungan (continues), terpadu (integrated), wajar
(appropiate), dapat diterima (acceptable), bermutu (quality), tercapai (accessible)
serta terjangkau (affordable) (Azwar Azrul ,1999).

1
Dampak krisis ekonomi di Indonesia sampai saat ini meluas ke seluruh
bidang kehidupan, termasuk bidang pelayanan kesehatan. Dilema yang dihadapi
pelayanan kesehatan, disatu pihak pelayanan kesehatan harus menjalankan misi
sosial, yakni merawat dan menolong yang sedang menderita tanpa memandang
sosial, ekonomi, agama dan sebagainya. Namun dipihak lain pelayanan kesehatan
harus bertahan secara ekonomi dalam menghadapi badai krisis tersebut. Oleh
sebab itu pelayanan kesehatan harus melakukan reformasi, reorientasi dan
revitalisasi. (Juanita, 2002).
Reformasi kebijakan pembangunan kesehatan telah selesai dilakukan
sebagaimana telah tertuang dalam Visi, Misi, Strategi dan Paradigma baru
pembangunan kesehatan yang populer dengan sebutan Indonesia Sehat. Reformasi
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah memberi arah baru pembangunan
kesehatan di Indonesia. Jika diperhatikan kebijakan dan sistem baru hasil
reformasi tersebut tampak banyak perubahan yang akan dilakukan, dua
diantaranya yang terpenting adalah perubahan pada subsistem upaya kesehatan
dan perubahan pada subsistem pembiayaan kesehatan. (Gotama I, Pardede D,
2010).
Penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan sumber daya keuangan
dalam subsistem pembiayaan kesehatan dilakukan untuk membiayai UKM dan
UKP penduduk miskin dengan mobilisasi dan dari masyarakat, pemerintah dan
public-private mix. Sedangkan untuk penduduk mampu, pembiayaan kesehatan
masyarakat terutama dari masyarakat itu sendiri dengan mekanisme jaminan
kesehatan baik wajib maupun sukarela. (Gotama I, Pardede D, 2010).

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pembiayaan Kesehatan


Proses pelayanan kesehatan tidak bisa dipisahkan dengan pembiayaan
kesehatan. Biaya kesehatan ialah besarnya dana yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang
diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berdasarkan pengertian ini, maka biaya kesehatan dapat ditinjau dari
dua sudut yaitu berdasarkan:
1. Penyedia Pelayanan Kesehatan (Health Provider), adalah besarnya
dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya
kesehatan, maka dilihat pengertian ini bahwa biaya kesehatan dari
sudut penyedia pelayanan adalah persoalan utama pemerintah dan
ataupun pihak swasta, yakni pihak-pihak yang akan menyelenggarakan
upaya kesehatan. Besarnya dana bagi penyedia pelayanan kesehatan
lebih menunjuk kepada seluruh biaya investasi (investment cost) serta
seluruh biaya operasional (operational cost).
2. Pemakai Jasa Pelayanan (Health consumer), adalah besarnya dana
yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa pelayanan.
Dalam hal ini biaya kesehatan menjadi persoalan utama para pemakai
jasa pelayanan, namun dalam batas-batas tertentu pemerintah juga
turut serta, yakni dalam rangka terjaminnya pemenuhan kebutuhan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkannya.
Besarnya dana bagi pemakai jasa pelayanan lebih menunjuk pada
jumlah uang yang harus dikeluarkan (out of pocket) untuk dapat
memanfaatkan suatu upaya kesehatan. (Azwar, A. 1999).
Pembiayaan kesehatan yang kuat, stabil dan berkesinambungan
memegang peranan yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan
kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan penting dari pembangunan

3
kesehatan di suatu negara diantaranya adalah pemerataan pelayanan kesehatan
dan akses (equitable access to health care) dan pelayanan yang berkualitas
(assured quality). Oleh karena itu reformasi kebijakan kesehatan di suatu
negara seyogyanya memberikan fokus penting kepada kebijakan pembiayaan
kesehatan untuk menjamin terselenggaranya kecukupan (adequacy),
pemerataan (equity), efisiensi (efficiency) dan efektifitas (effectiveness) dari
pembiayaan kesehatan itu sendiri. (Departemen Kesehatan RI, 2009).
Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan yang memadai
(health care financing) akan menolong pemerintah di suatu negara untuk
dapat memobilisasi sumber-sumber pembiayaan kesehatan,
mengalokasikannya secara rasional serta menggunakannya secara efisien dan
efektif. Kebijakan pembiayaan kesehatan yang mengutamakan pemerataan
serta berpihak kepada masyarakat miskin (equitable and pro poor health
policy) akan mendorong tercapainya akses yang universal. Pada aspek yang
lebih luas diyakini bahwa pembiayaan kesehatan mempunyai kontribusi pada
perkembangan sosial dan ekonomi. Pelayanan kesehatan itu sendiri pada
akhir-akhir ini menjadi amat mahal baik pada negara maju maupun pada
negara berkembang. Penggunaan yang berlebihan dari pelayanan kesehatan
dengan teknologi tinggi adalah salah satu penyebab utamanya. Penyebab yang
lain adalah dominasi pembiayaan pelayanan kesehatan dengan mekanisme
pembayaran tunai (fee for service) dan lemahnya kemampuan dalam
penatalaksanaan sumber-sumber dan pelayanan itu sendiri (poor management
of resources and services). (Departemen Kesehatan RI, 2009).
Pelayanan kesehatan memiliki beberapa ciri yang tidak memungkinkan
setiap individu untuk menanggung pembiayaan pelayanan kesehatan pada saat
diperlukan:
1. Kebutuhan pelayanan kesehatan muncul secara sporadik dan tidak
dapat diprediksikan, sehingga tidak mudah untuk memastikan bahwa
setiap individu mempunyai cukup uang ketika memerlukan pelayanan
kesehatan.

4
2. Biaya pelayanan kesehatan pada kondisi tertentu juga sangat mahal,
misalnya pelayanan di rumah sakit maupun pelayanan kesehatan
canggih (operasi dan tindakan khusus lain), kondisi emergensi dan
keadaan sakit jangka panjang yang tidak akan mampu ditanggung
pembiayaannya oleh masyarakat umum.
3. Orang miskin tidak saja lebih sulit menjangkau pelayanan kesehatan,
tetapi juga lebih membutuhkan pelayanan kesehatan karena rentan
terjangkit berbagai permasalahan kesehatan karena buruknya kondisi
gizi, perumahan.
4. Apabila individu menderita sakit dapat mempengaruhi kemampuan
untuk berfungsi termasuk bekerja, sehingga mengurangi kemampuan
membiayai. (Departemen Kesehatan RI, 2009).

2.2 Jenis Biaya Kesehatan


Dilihat dari pembagian pelayanan kesehatan, biaya kesehatan dibedakan atas:
a. Biaya pelayanan kedokteran yaitu biaya untuk menyelenggarakan dan
atau memanfaatkan pelayanan kedokteran, tujuan utamanya lebih ke
arah pengobatan dan pemulihan dengan sumber dana dari sektor
pemerintah maupun swasta.
b. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat yaitu biaya untuk
menyelenggarakan dan/atau memanfaatkan pelayanan kesehatan
masyarakat, tujuan utamanya lebih ke arah peningkatan kesehatan dan
pencegahan dengan sumber dana terutama dari sektor pemerintah.

2.3 Tujuan Pembiayaan Kesehatan


Berdasarkan karakteristik tersebut, sebuah sistem pembiayaan
pelayanan kesehatan haruslah bertujuan untuk:
1. Risk spreading, pembiayaan kesehatan harus mampu meratakan
besaran resiko biaya sepanjang waktu sehingga besaran tersebut dapat
terjangkau oleh setiap rumah tangga. Artinya sebuah sistem
pembiayaan harus mampu memprediksikan resiko kesakitan individu

5
dan besarnya pembiayaan dalam jangka waktu tertentu (misalnya satu
tahun). Kemudian besaran tersebut diratakan atau disebarkan dalam
tiap bulan sehingga menjadi premi (iuran, tabungan) bulanan yang
terjangkau.
2. Risk pooling, beberapa jenis pelayanan kesehatan (meskipun resiko
rendah dan tidak merata) dapat sangat mahal misalnya hemodialisis,
operasi spesialis (jantung koroner) yang tidak dapat ditanggung oleh
tabungan individu (risk spreading). Sistem pembiayaan harus mampu
menghitung dengan mengakumulasikan resiko suatu kesakitan dengan
biaya yang mahal antar individu dalam suatu komunitas sehingga
kelompok masyarakat dengan tingkat kebutuhan rendah (tidak
terjangkit sakit, tidak membutuhkan pelayanan kesehatan) dapat
mensubsidi kelompok masyarakat yang membutuhkan pelayanan
kesehatan. Secara sederhana, suatu sistem pembiayaan akan
menghitung resiko terjadinya masalah kesehatan dengan biaya mahal
dalam satu komunitas, dan menghitung besaran biaya tersebut
kemudian membaginya kepada setiap individu anggota komunitas.
Sehingga sesuai dengan prinsip solidaritas, besaran biaya pelayanan
kesehatan yang mahal tidak ditanggung dari tabungan individu tapi
ditanggung bersama oleh masyarakat.
3. Connection between ill-health and poverty, karena adanya keterkaitan
antara kemiskinan dan kesehatan, suatu sistem pembiayaan juga harus
mampu memastikan bahwa orang miskin juga mampu pelayanan
kesehatan yang layak sesuai standar dan kebutuhan sehingga tidak
harus mengeluarkan pembiayaan yang besarnya tidak proporsional
dengan pendapatan. Pada umumnya di negara miskin dan berkembang
hal ini sering terjadi. Orang miskin harus membayar biaya pelayanan
kesehatan yang tidak terjangkau oleh penghasilan mereka dan juga
memperoleh pelayanan kesehatan di bawah standar.

6
4. Fundamental importance of health, kesehatan merupakan kebutuhan
dasar dimana individu tidak dapat menikmati kehidupan tanpa status
kesehatan yang baik.

Organisasi kesehatan se-dunia (WHO) memberi fokus strategi pembiayaan


kesehatan yang memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama kebijakan dan
program itu pada umumnya adalah:
1. Meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang kesehatan
2. Mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan
permeliharaan
kesehatan masyarakat miskin
3. Pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya
asuransi
kesehatan social.
4. Penggalian dukungan nasional dan internasional
5. Penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional
6. Pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan pada
data dan fakta ilmiah
7. Pemantauan dan evaluasi.

2.4 Strategi dan Sumber Dana Biaya Kesehatan


Implementasi strategi pembiayaan kesehatan di suatu negara diarahkan kepada
beberapa hal pokok yakni:
1. Kecukupan/adekuasi dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pada
tingkat pusat dan daerah yang dilakukan dalam langkah-langkah:
a. mobilisasi sumber-sumber pembiayaan baik sumber-sumber
tradisional maupun non tradisional
b. kesinambungan fiscal space dalam anggaran kesehatan nasional
c. peningkatan kolaborasi intersektoral untuk mendukung
pembiayaan kesehatan,

7
2. Pengurangan pembiayaan Out Of Pocket (OOP) dan meniadakan
hambatan pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
terutama kelompok miskin dan rentan (pengembangan asuransi
kesehatan sosial) yang dilakukan melalui:
a. promosi pemerataan akses dan pemerataan pembiayaan dan
utilisasi
pelayanan
b. pencapaian universal coverage dan penguatan jaminan kesehatan
masyarakat miskin dan rentan
3. Pemerataan dalam akses pelayanan
4. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan yang
dilakukan melalui:
a. Kesesuaian tujuan kesehatan nasional dengan reformasi
pembiayaan yang diterjemahkan dalam instrument anggaran
operasional dan rencana pembiayaan
b. Penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan
pemberi
pelayanan kesehatan (providers)
c. Pengembangan best practices.

Sumber dana biaya kesehatan berbeda pada beberapa negara, namun


secara garis besar berasal dari:
1. Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
(propinsi dan kabupaten/kota) dengan dana berasal dari pajak (umum
dan penjualan), deficit financial (pinjaman luar negeri) serta asuransi
sosal.
2. Swasta, dengan sumber dana dari perusahaan, asuransi kesehatan
swasta, sumbangan sosial, pengeluaran rumah tangga serta communan
self help.

8
2.5 Faktor yang Memengaruhi Biaya Kesehatan
Kecenderungan meningkatnya biaya pemeliharaan kesehatan
menyulitkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
dibutuhkannya. Keadaan ini terjadi terutama pada keadaan dimana
pembiayaannya harus ditanggung sendiri ("out of pocket") dalam sistim tunai
("fee for service").
Kenaikan biaya kesehatan terjadi akibat penerapan teknologi canggih,
karakter supply induced demand dalam pelayanan kesehatan, pola pembayaran
tunai langsung ke pemberi pelayanan kesehatan, pola penyakit kronik dan
degeneratif, serta inflasi. Kenaikan biaya pemeliharaan kesehatan itu semakin
sulit diatasi oleh kemampuan penyediaan dana pemerintah maupun
masyarakat. Peningkatan biaya itu mengancam akses dan mutu pelayanan
kesehatan dan karenanya harus dicari solusi untuk mengatasi masalah
pembiayaan kesehatan ini.
Tingginya biaya kesehatan disebabkan oleh beberapa hal, beberapa
yang terpenting diantaranya sebagai berikut:
1. Tingkat inflasi
Jika terjadi kenaikan harga di masyarakat, maka secara otomatis biaya
investasi dan juga biaya operasional pelayanan kesehatan akan meningkat
pula, yang tentu saja akan dibebankan kepada pengguna jasa.
2. Tingkat permintaan di bidang kesehatan
Tingkat permintaan dipengaruhi sedikitnya oleh dua faktor, yaitu
meningkatnya kuantitas penduduk yang memerlukan pelayanan kesehatan,
yang karena jumlahnya lebih atau bertambah banyak, maka biaya yang harus
disediakan meningkat pula. Faktor kedua adalah meningkatnya kualitas
penduduk. Dengan tingkat pendidikan dan penghasilan yang lebih baik,
mereka akan menuntut penyediaan layanan kesehatan yang baik pula dan hal
ini membutuhkan biaya pelayanan kesehatan yang lebih baik dan lebih besar.
3. Kemajuan ilmu dan teknologi
Sejalan dengan adanya kemajuan ilmu dan teknologi dalam penyelenggaraan
pelayanan kesehatan (penggunaan peralatan kedokteran yang modern dan

9
canggih) memberikan konsekuensi tersendiri, yaitu tingginya biaya yang harus
dikeluarkan dalam berinvestasi. Hal ini membawa akibat dibebankannya biaya
investasi dan operasional tersebut pada pemakai jasa pelayanan kesehatan.
4. Perubahan Pola Penyakit
Meningkatnya biaya kesehatan juga dipengaruhi adanya perubahan pola
penyakit, yang bergeser dari penyakit yang sifatnya akut menjadi penyakit
yang bersifat kronis. Dibandingkan dengan berbagai penyakit akut, perawatan
berbagai penyakit kronis ternyata lebih lama. Akibatnya biaya yang
dikeluarkan untuk perawatan dan penyembuhan penyakit ini akan lebih besar.
Hal ini akan sangat mempengaruhi tingginya biaya kesehatan.
5. Perubahan pola pelayanan kesehatan
Perubahan pola pelayanan kesehatan ini terjadi akibat perkembangan
keilmuan dalam bidang kedokteran sehingga terbentuk spesialisasi dan
subspesialisasi yang menyebabkan pelayanan kesehatan menjadi
terkotakkotak (fragmented health service) dan satu sama lain seolah tidak
berhubungan. Akibatnya sering terjadi tumpang tindih atau pengulangan
metoda pemeriksaan yang sama dan pemberian obat-obatan yang dilakukan
pada seorang pasien, yang tentu berdampak pada semakin meningkatnya
beban biaya yang harus ditanggung oleh pasien selaku pengguna jasa layanan
kesehatan ini. Selain itu, dengan adanya pembagian spesialisasi dan
subspesialisasi tenaga pelayanan kesehatan, menyebabkan hari perawatan juga
akan meningkat.
6. Perubahan Pola Hubungan Dokter-Pasien
Sistem kekeluargaan yang dulu mendasari hubungan dokter-pasien seakan
sirna. Dengan adanya perkembangan spesialisasi dan subspesialisasi serta
penggunaan berbagai peralatan yang ditunjang dengan kemajuan ilmu dan
teknologi, mengakibatkan meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan oleh
pasien, hal ini tentu saja membuat pasien menuntut adanya kepastian
pengobatan dan penyembuhan dari penyakitnya. Hal ini diperberat dengan
semakin tingginya tingkat pendidikan pasien selaku pengguna jasa layanan
kesehatan, yang mendorong semakin kritisnya pemikiran dan pengetahuan

10
mereka tentang masalah kesehatan. Hal tersebut diatas mendorong para dokter
sering melakukan pemeriksaan yang berlebihan (over utilization), demi
kepastian akan tindakan mereka dalam melakukan pengobatan dan perawatan,
dan juga dengan tujuan mengurangi kemungkinan kesalahan yang dilakukan
dalam mendiagnosa penyakit yang diderita pasiennya. Konsekuensi yang
terjadi adalah semakin tingginya biaya yang dibutuhkan oleh pasien untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan.
7. Lemahnya mekanisme pengendalian biaya
Kurangnya peraturan perundang-undangan yang ditetapkan untuk mengatur
dan membatasi pemakaian biaya pelayanan kesehatan menyebabkan
pemakaiannya sering tidak terkendali, yang akhirnya akan membebani

2.6 Model Sistem Pembiayaan


Terdapat beberapa model sistem pembiayaan pelayanan kesehatan
yang dijalankan oleh beberapa negara, berdasarkan sumber pembiayaannya:
1. Direct Payments by Patients
Ciri utama model direct payment adalah setiap individu menanggung
secara langsung besaran biaya pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat
penggunaannya. Pada umumnya sistem ini akan mendorong penggunaan
pelayanan kesehatan secara lebih hati-hati, serta adanya kompetisi antara para
provider pelayanan kesehatan untuk menarik konsumen atau free market.
Meskipun tampaknya sehat, namun transaksi kesehatan pada umumnya
bersifat tidak seimbang dimana pasien sebagai konsumen tidak mampu
mengenali permasalahan dan kebutuhannya, sehingga tingkat kebutuhan dan
penggunaan jasa lebih banyak diarahkan oleh provider. Sehingga free market
dalam pelayanan kesehatan tidak selalu berakhir dengan peningkatan mutu
dan efisiensi namun dapat mengarah pada penggunaan terapi yang berlebihan.
2. User payments
Dalam model ini, pasien membayar secara langsung biaya pelayanan
kesehatan baik pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta.
Perbedaannya dengan model informal adalah besaran dan mekanisme

11
pembayaran, juga kelompok yang menjadi pengecualian telah diatur secara
formal oleh pemerintah dan provider. Bentuk yang paling kompleks adalah
besaran biaya yang bebeda setiap kunjungan sesuai dengan jasa pelayanan
kesehatan yang diberikan (biasanya terjadi untuk fasilitas pelayanan kesehatan
swasta). Namun model yang umum digunakan adalah ’flat rate’, dimana
besaran biaya per-episode sakit bersifat tetap.
3. Saving based
Model ini mempunyai karakteristik ‘risk spreading’ pada individu
namun tidak terjadi risk pooling antar individu. Artinya biaya kesehatan
langsung, akan ditanggung oleh individu sesuai dengan tingkat
penggunaannya, namun individu tersebut mendapatkan bantuan dalam
mengelola pengumpulan dana (saving) dan penggunaannya bilamana
membutuhkan pelayanan kesehatan. Biasanya model ini hanya mampu
mencakup pelayanan kesehatan primer dan akut, bukan pelayanan kesehatan
yang bersifat kronis dan kompleks yang biasanya tidak bisa ditanggung oleh
setiap individu meskipun dengan mekanisme saving. Sehingga model ini tidak
dapat dijadikan model tunggal pada suatu negara, harus didukung model lain
yang menanggung biaya kesehatan lain dan pada kelompok yang lebih luas.
4. Informal
Ciri utama model ini adalah bahwa pembayaran yang dilakukan oleh
individu pada provider kesehatan formal misalnya dokter, bidan tetapi juga
pada provider kesehatan lain misalnya: mantri, dan pengobatan tradisional;
tidak dilakukan secara formal atau tidak diatur besaran, jenis dan mekanisme
pembayarannya. Besaran biaya biasanya timbul dari kesepakatan atau banyak
diatur oleh provider dan juga dapat berupa pembayaran dengan barang. Model
ini biasanya muncul pada negara berkembang dimana belum mempunyai
sistem pelayanan kesehatan dan pembiayaan yang mampu mencakup semua
golongan masyarakat dan jenis pelayanan.
5. Insurance Based
Sistem pembiayaan dengan pendekatan asuransi mempunyai
perbedaan utama dimana individu tidak menanggung biaya langsung

12
pelayanan kesehatan. Konsep asuransi memiliki dua karakteristik khusus yaitu
pengalihan resiko kesakitan pada satu individu pada satu kelompok serta
adanya sharing looses secara adil. Secara sederhana dapat digambarkan
cbahwa satu kelompok individu mempunyai resiko kesakitan yang telah
diperhitungkan jenis, frekuensi dan besaran biayanya. Keseluruhan besaran
resiko tersebut diperhitungkan dan dibagi antar anggota kelompok sebagai
premi yang harus dibayarkan. Apabila anggota kelompok, maka keseluruhan
biaya pelayanan kesehatan. Sesuai yang diperhitungkan akan ditanggung dari
dana yang telah dikumpulkan bersama. Besaran premi dan jenis pelayanan
yang ditanggung serta mekanime pembayaran ditentukan oleh organisasi
pengelola dana asuransi.

2.7 Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia


Sistem pembiayaan kesehatan Indonesia secara umum terbagi dalam 2
sistem yaitu:
1. Fee for Service ( Out of Pocket )
Sistem ini secara singkat diartikan sebagai sistem pembayaran
berdasarkan layanan, dimana pencari layanan kesehatan berobat lalu
membayar kepada pemberi pelayanan kesehatan (PPK). PPK (dokter atau
rumah sakit) mendapatkan pendapatan berdasarkan atas pelayanan yang
diberikan, semakin banyak yang dilayani, semakin banyak pula pendapatan
yang diterima.
Sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini masih bergantung pada
sistem pembiayaan kesehatan secara Fee for Service ini. Dari laporan World
Health Organization di tahun 2006 sebagian besar (70%) masyarakat
Indonesia masih bergantung pada sistem, Fee for Service dan hanya 8,4%
yang dapat mengikuti sistem Health Insurance (WHO, 2009). Kelemahan
sistem Fee for Service adalah terbukanya peluang bagi pihak pemberi
pelayanan kesehatan (PPK) untuk memanfaatkan hubungan Agency
Relationship , dimana PPK mendapat imbalan berupa uang jasa medik untuk
pelayanan yang diberikannya kepada pasien yang besar-kecilnya ditentukan

13
dari negosiasi. Semakin banyak jumlah pasien yang ditangani, semakin besar
pula imbalan yang akan didapat dari jasa medik yang ditagihkan ke pasien.
Dengan demikian, secara tidak langsung PPK didorong untuk meningkatkan
volume pelayanannya pada pasien untuk mendapatkan imbalan jasa yang lebih
banyak.

2. Health Insurance
Sistem ini diartikan sebagai sistem pembayaran yang dilakukan oleh
pihak ketiga atau pihak asuransi setelah pencari layanan kesehatan berobat.
Sistem health insurance ini dapat berupa system kapitasi dan system Diagnose
Related Group (DRG system).
Sistem kapitasi merupakan metode pembayaran untuk jasa pelayanan
kesehatan dimana PPK menerima sejumlah tetap penghasilan per peserta
untuk pelayanan yang telah ditentukkan per periode waktu. Pembayaran bagi
PPK dengan system kapitasi adalah pembayaran yang dilakukan oleh suatu
lembaga kepada PPK atas jasa pelayanan kesehatan dengan pembayaran di
muka sejumlah dana sebesar perkalian anggota dengan satuan biaya (unit cost)
tertentu. Salah satu lembaga di Indonesia adalah Badan Penyelenggara JPKM
(Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat). Masyarakat yang telah
menajdi peserta akan membayar iuran dimuka untuk memperoleh pelayanan
kesehatan paripurna dan berjenjang dengan pelayanan tingkat pertama sebagai
ujung tombak yang memenuhi kebutuhan utama kesehatan dengan mutu
terjaga dan biaya terjangkau.
Sistem kedua yaitu DRG (Diagnose Related Group) tidak berbeda jauh
dengan system kapitasi di atas. Pada system ini, pembayaran dilakukan
dengan melihat diagnosis penyakit yang dialami pasien. PPK telah mendapat
dana dalam penanganan pasien dengan diagnosis tertentu dengan jumlah dana
yang berbeda pula tiap diagnosis penyakit. Jumlah dana yang diberikan ini,
jika dapat dioptimalkan penggunaannya demi kesehatan pasien, sisa dana akan
menjadi pemasukan bagi PPK.

14
Kelemahan dari system Health Insurance adalah dapat terjadinya
underutilization dimana dapat terjadi penurunan kualitas dan fasilitas yang
diberikan kepada pasien untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.
Selain itu, jika peserta tidak banyak bergabung dalam system ini, maka resiko
kerugian tidak dapat terhindarkan. Namun dibalik kelemahan, terdapat
kelebihan system ini berupa PPK mendapat jaminan adanya pasien (captive
market), mendapat kepastian dana di tiap awal periode waktu tertentu, PPK
taat prosedur sehingga mengurangi terjadinya multidrug dan multidiagnose.
Dan system ini akan membuat PPK lebih kea rah preventif dan promotif
kesehatan.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai, pembiayaan kesehatan dengan
sistem kapitasi dinilai lebih efektif dan efisien menurunkan angka kesakitan
dibandingkan sistem pembayaran berdasarkan layanan (Fee for Service) yang
selama ini berlaku. Namun, mengapa hal ini belum dapat dilakukan
sepenuhnya oleh Indonesia? Tentu saja masih ada hambatan dan tantangan,
salah satunya adalah sistem kapitasi yang belum dapat memberikan asuransi
kesehatan bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali seperti yang disebutkan dalam
UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
Sampai saat ini, perusahaan asuransi masih banyak memilah peserta asuransi
dimana peserta dengan resiko penyakit tinggi dan atau kemampuan bayar
rendah tidaklah menjadi target anggota asuransi. Untuk mencapai terjadinya
pemerataan, dapat dilakukan universal coverage yang bersifat wajib dimana
penduduk yang mempunyai resiko kesehatan rendah akan membantu mereka
yang beresiko tinggi dan penduduk yang mempunyai kemampuan membayar
lebih akan membantu mereka yang lemah dalam pembayaran. Hal inilah yang
masih menjadi pekerjaan rumah bagi sistem kesehatan Indonesia.
Memang harus kita akui, bahwa tidak ada sistem kesehatan terutama
dalam pembiayaan pelayanan kesehatan yang sempurna, setiap sistem yang
ada pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun
sistem pembayaran pelayanan kesehatan ini harus bergerak dengan
pengawasan dan aturan dalam suatu sistem kesehatan yang komprehensif,

15
yang dapat mengurangi dampak buruk bagi pemberi dan pencari pelayanan
kesehatan sehingga dapat terwujud sistem yang lebih efektif dan efisien bagi
pelayanan kesehatan di Indonesia.

2.8 Permasalahan dalam Pembiayaan Kesehatan


Kecenderungan meningkatnya biaya pemeliharaan kesehatan
menyulitkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
dibutuhkannya. Keadaan ini terjadi terutama pada keadaan dimana
pembiayaannya harus ditanggung sendiri ("out of pocket") dalam sistim tunai
("fee for service").
Kenaikan biaya kesehatan terjadi akibat penerapan teknologi canggih,
karakter supply induced demand dalam pelayanan kesehatan, pola pembayaran
tunai langsung ke pemberi pelayanan kesehatan, pola penyakit kronik dan
degeneratif, serta inflasi. Kenaikan biaya pemeliharaan kesehatan itu semakin
sulit diatasi oleh kemampuan penyediaan dana pemerintah maupun
masyarakat. Peningkatan biaya itu mengancam akses dan mutu pelayanan
kesehatan dan karenanya harus dicari solusi untuk mengatasi masalah
pembiayaan kesehatan ini.

2.9 Analisis – Rencana Pembiayaan Kesehatan


Pokok utama dalam pembiayaan kesehatan adalah:
1. Mengupayakan kecukupan/adekuasi dan kesinambungan pembiayaan
kesehatan pada tingkat pusat dan daerah
2. Mengupayakan pengurangan pembiayaan Out of Pocket dan meniadakan
hambatan pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama
kelompok miskin dan rentan melalui pengembangan jaminan
3. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan.

Suatu biaya kesehatan yang baik haruslah memenuhi beberapa syarat pokok
yaitu:

16
1. Jumlah
Syarat utama dari biaya kesehatan haruslah tersedia dalam jumlah yang
cukup. Yang dimaksud cukup adalah dapat membiayai penyelenggaraan
semua upaya kesehatan yang dibutuhkan serta tidak menyulitkan masyarakat
yang ingin memanfaatkannya.
2. Penyebaran
Berupa penyebaran dana yang harus sesuai dengan kebutuhan. Jika
dana yang tersedia tidak dapat dialokasikan dengan baik, niscaya akan
menyulitkan penyelenggaraan setiap upaya kesehatan.
3. Pemanfaatan
Sekalipun jumlah dan penyebaran dana baik, tetapi jika
pemanfaatannya tidak mendapat pengaturan yang optimal, akan banyak
menimbulkan masalah, yang jika berkelanjutan akan menyulitkan masyarakat
yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Untuk dapat melaksanakan syarat – syarat pokok tersebut perlu


dilakukan beberapa hal, antara lain :
1. Peningkatan efektifitasnya.
Peningkatan efektifitas dilakukan dengan mengubah penyebaran atau
alokasi penggunaan sumber dana. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki,
maka alokasi tersebut lebih diutamakan pada upaya kesehatan yang
menghasilkan dampak yang lebih besar, misalnya mengutamakan upaya
pencegahan, bukan pengobatan penyakit.
2. Peningkatan efisiensi.
Peningkatan efisiensi dilakukan dengan memperkenalkan berbagai
mekanisme pengawasan dan pengendalian.
Mekanisme yang dimaksud untuk peningkatan efisiensi antara lain:
a. Standar minimal pelayanan
Tujuannya adalah menghindari pemborosan.

17
Pada dasarnya ada dua macam standar minimal yang sering
dipergunakan yakni:
1. Standar minimal sarana, misalnya standar minimal rumah sakit dan
standar minimal laboratorium.
2. Standar minimal tindakan, misalnya tata cara pengobatan dan
perawatan penderita, dan daftar obat-obat esensial. Dengan adanya
standard minimal pelayanan ini, bukan saja pemborosan dapat
dihindari dan dengan demikian akan ditingkatkan efisiensinya,
tetapi juga sekaligus dapat pula dipakai sebagai pedoman dalam
menilai mutu pelayanan.
b. Kerjasama
Bentuk lain yang diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi ialah
memperkenalkan konsep kerjasama antar berbagai sarana pelayanan
kesehatan. Terdapat dua bentuk kerjasama yang dapat dilakukan yakni:
1. Kerjasama institusi, misalnya sepakat secara bersama-sama
membeli peralatan kedokteran yang mahal dan jarang
dipergunakan. Dengan pembelian dan pemakaian bersama ini dapat
dihematkan dana yang tersedia serta dapat pula dihindari
penggunaan peralatan yang rendah. Dengan demikian efisiensi juga
akan meningkat
2. Kerjasama sistem, misalnya sistem rujukan, yakni adanya
hubungan kerjasama timbal balik antara satu sarana kesehatan
dengan sarana kesehatan lainnya.

2.10 Jenis Pelayanan Kesehatan


Jenis pelayanan kesehatan antara lain:
1. Penataan Terpadu (managed care)
Merupakan pengurusan pembiayaan kesehatan sekaligus dengan
pelayanan kesehatan. Pada saat ini penataan terpadu telah banyak dilakukan di
masyarakat dengan program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat atau

18
JPKM. Managed care membuat biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan
bisa lebih efisien.
Persyaratan agar pelayanan managed care di perusahaan dapat
berhasil baik, antara lain:
a. Para pekerja dan keluarganya yang ditanggung perusahaan harus sadar
bahwa kesehatannya merupakan tanggung jawab masing-masing atau
tanggung jawab individu. Perusahaan akan membantu upaya untuk
mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Hal ini perlu untuk
menghidari bahaya moral hazard.
b. Para pekerja harus menyadari bahwa managed care menganut sistem
rujukan.
c. Para pekerja harus menyadari bahwa ada pembatasan fasilitas berobat,
misalnya obat yang digunakan adalah obat generik kecuali bila keadaan
tertentu memerlukan life saving.
d. Prinsip kapitasi dan optimalisasi harus dilakukan

2. Sistem Reimbursement
Perusahaan membayar biaya pengobatan berdasarkan fee for services.
Sistem ini memungkinkan terjadinya over utilization. Penyelewengan biaya
kesehatan yang dikeluarkan pun dapat terjadi akibat pemalsuan identitas dan
jenis layanan oleh karyawan maupun provider layanan kesehatan.

3. Asuransi
Perusahaan bisa menggunakan modal asuransi kesehatan dalam upaya
melaksanakan pelayanan kesehatan bagi pekerjanya. Dianjurkan agar asuransi
yang diambil adalah asuransi kesehatan yang mencakup seluruh jenis
pelayanan kesehatan (comprehensive), yaitu kuratif dan preventif. Asuransi
tersebut menanggung seluruh biaya kesehatan, atau group health insurance
(namun kepada pekerja dianjurkan agar tidak berobat secara berlebihan).

19
4. Pemberian Tunjangan Kesehatan
Perusahaan yang enggan dengan kesukaran biasanya memberikan
tunjangan kesehatan atau memberikan lumpsum biaya kesehatan kepada
pegawainya dalam bentuk uang. Sakit maupun tidak sakit tunjangannya sama.
Sebaiknya tunjangan ini digunakan untuk mengikuti asuransi kesehatan
(family health insurance). Tujuannya adalah menghindari pembelanjaan biaya
kesehatan untuk kepentingan lain, misalnya untuk membeli rokok, minuman
beralkohol, dan hal – hal lain yang malah merugikan kesehatannya.

20
BAB III
KESIMPULAN

Ada empat sumber utama untuk membiayai pelayanan kesehatan:


Pemerintah (APBN, APBD Prov, Kab/Kota), Swasta (investasi langsung oleh
pihak swasta), masyarakat melalui pembayaran langsung (fee for service) atau
yang terhimpun oleh perusahaan asuransi, Hibah atau pinjaman luar negeri.
Peningkatan biaya pelayanan kesehatan yang makin tidak terkendali serta
mengantisipasi ketidakmampuan masyarakat dalam mengakses pelayanan
kesehatan sehingga perkembangan penyakit semakin tidak terkendali, maka
pilihan yang tepat untuk pembiayaan kesehatan adalah asuransi kesehatan.
Mengingat kondisi ekonomi negara dan masyarakat serta keterbatasan sumber
daya yang ada, maka perlu dikembangkan pilihan asuransi kesehatan dengan suatu
pendekatan yang efisien, efektif dan berkualitas agar dapat menjangkau
masyarakat luas.
Untuk itu sudah saatnya dikembangkan asuransi kesehatan nasional
dengan managed care sebagai bentuk operasionalnya. Dengan cakupan asuransi
yang semakin luas, maka diperlukan jaringan pelayanan (Rumah Sakit) yang
semakin luas pula. Tuntutan terhadap pelayanan yang berkualitas baik terhadap
penyelenggaraan asuransi kesehatan maupun penyelenggaraan pelayanan
kesehatan akan semakin meningkat, upaya peningkatan yang berkesinambungan
tidak hanya menjadi tanggungjawab pemberi pelayanan kesehatan saja tetapi juga
bagi penyelenggaraan asuransi. Sebaiknya mengikuti program asuransi kesehatan
sejak umur yang masih dini. Hal ini untuk mengantisipasi terhadap penolakan
keikutsertaan asuransi kesehatan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A. (1999). Pengantar Administrasi Kesehatan Edisi Ketiga: Binarupa


Aksara. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. (2009) Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI, 2009, Rancangan Final: Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Bidang Kesehatan 20052025, Jakarta, Diakses tanggal 8
Februari 2019, (http://www.depkes.go.id/downloads/ newdownloads/
rancangan_RPJPK_2005-2025.pdf).
Ekalora, N. (2012) Pembiayaan Kesehatan. (online).
http://www.academia.edu/12159387/MAKALAH_PEMBIAYAAN_KESEHA
TAN, diakses pada tanggal 07 Februari 2019.
Gotama I, Pardede D. (2010). Reformasi Jaminan Sosial Kesehatan: Pembiayaan
Kesehatan, Agenda dan IsuIsu Jaminan Kesehatan, Pusat Pembiayaan dan
Jaminan Kesehatan Depkes R.I. Diakses tanggal 7 Februari 2019,
(http://www.litbang.depkes.go.id/ download/ seminar/ desentralisasi6-80606/
makalah indra.pdf)
Juanita. (2002). Peran Asuransi Kesehatan dalam Benchmarking Rumah Sakit
dalam Menghadapi Krisis Ekonomi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Jurusan
Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Universitas Sumatera Utara, Diakses
tanggal 7 Februari 2019, (www. repository.usu.ac.id/ bitstream/
123456789/3747/1/ fkm-juanita5.pdf).
Laksono. (2015). Manajemen Pembiayaan Kesehatan Nasional. Jakarta, Diakses
tanggal 7 Februari 2019, (http://manajemen-
pembiayaankesehatan.net/index.php/usingjoomla/extensions/components/conte
nt-component/article-categories/101-proposal-bpjs-2015/1475-ii-a-monev-
kebijakan-2)
Pusparina, Anugraini dkk. (2017). Modul: Konsep Pembiayaan Kesehatan.
Universitas Negeri Malang. Malang
Setyawan, Febri Endra Budi. (2015). Sistem Pembiayaan Kesehatan. Fakultas
Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Malang, Diakses tanggal 7 Februari

22
2019,(https://www.researchgate.net/profile/Febri_Setyawan/publication/32634
8054_SISTEM_PEMBIAYAAN_KESEHATAN/links/5b96844aa6fdccfd543af
2aa/SISTEMPEMBIAYAAN KESEHATAN . pdf ? origin = publication _
detail).
WHO. (2009). Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat. Geneva: World Health
Organization.
WHO. (2008). Health System Financing. (Online)
http://www.who.int/healthinfo/statistics/toolkit_hss/EN_PDF_Toolkit_HSS_Fi
nancing.pdf (diakses 07 Februari 2019)

23