Anda di halaman 1dari 10

DAFTAR ISI

BAB I DEFINISI.................................................................................. 1

BAB II RUANG LINGKUP .............................................................. 3

BAB III TATALAKSANA ................................................................ 6

BAB IV DOKUMENTASI ................................................................... 10


BAB I
DEFINISI

1. PENGERTIAN TRIAGE
Triage berasal dari bahasa Perancis yaitu trier dan bahasa Inggris yaitu Triage,
diturukan dalam bahasa Indonesia yaitu Triage yang berarti sortir. Kini istilah tersebut
lazim digunakan untuk menggambarkan suatu konsep pengkajian yang cepat dan
berfokus dengan suatu cara yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia,
peralatan serta fasilitas yang paling efisien terhadap orang yang memerlukan
perawatan di IGD.
Triage adalah suatu proses yang mana pasien digolongkan menurut tipe dan
tingkat kegawatan kondisinya. Triage terdiri dari upaya klasifikasi kasus cedera secara
cepat berdasarkan keparahan cedera mereka dan peluang kelangsungan hidup
mereka melalui intervensi medis yang segera. Sistem Triage tersebut harus
disesuaikan dengan keahlian setempat. Prioritas yang lebih tinggi diberikan pada
korban yang prognosis jangka pendek atau jangka panjangnya dapat dipengaruhi
secara dramatis oleh perawatan sederhana yang intensif. Sistem Triage ini digunakan
untuk menentukan prioritas penanganan kegawat daruratan. Sehingga tenaga medis
benar-benar memberikan pertolongan pada pasien yang sangat membutuhkan dengan
penanganan secara cepat dan tepat, dapat menyelamatkan hidup pasien tersebut.

2. TUJUAN TRIAGE
a. Tujuan Utama Triage
adalah untuk mengidentifikasi kondisi mengancam nyawa.
b. Tujuan Triage Selanjutnya
adalah untuk menetapkan tingkat atau derajat kegawatan yang memerlukan
pertolongan kedaruratan serta transportasi selanjutnya.

3. KODE WARNA INTERNASIONAL DALAM TRIAGE


a. Warna Merah
adalah Kasus Berat dan Prioritas Pertama atau Emergensi.
Pasien dengan kondisi mengancam nyawa, memerlukan evaluasi dan intervensi
segera, perdarahan berat, pasien dibawa keruang resusitasi, waktu tunggu 0 (nol)
contoh kasus :
- Asfiksia, cedera cervical, cedera pada maxilla.

1
- Trauma kepala dengan koma dan proses syok yang cepat.
- Fraktur terbuka dan fraktur compound.
- Luka bakar > 30% (Extensive Burn)
- Syok tipe apapun (syok kardiogenik, syok neurogenik, syok anafilatik, syok
septic, syok hipovolemik
b. Warna Kuning
adalah Kasus Sedang dan Prioritas kedua.
Pasien dengan penyakit yang akut, mungkin membutuhkan brankar, kursi roda
dan atau jalan kaki, waktu tunggu 30 menit, area critical care contoh kasus :
- Trauma thorax non asfiksia
- Fraktur tertutup pada tulang panjang
- Luka bakar terbatas (<30% dari TBW)
- Cedera pada bagian/jaringan lunak
c. Warna Hijau
adalah Kasus Ringan atau Non Urgen dan Prioritas ketiga.
Pasien yang biasanya dapat berjalan sendiri dengan masalah medis yang minimal,
luka lama, kondisi yang timbul sudah lama, area ambulatory contoh kasus :
- Minor Injuries
- Seluruh kasus-kasus ambulantory
d. Warna Hitam
adalah Priorotas 0 (nol) atau kasus meninggal
- Tidak ada respon pada semua rangsangan
- Tidak ada respirasi spontan
- Tidak ada bukti aktivitas jantung
- Tidak ada respon pupil terhadap cahaya

2
BAB II
RUANG LINGKUP

1. SISTEM TRIAGE
a. START (Simple Triage And Rapid Treatment)
Adalah suatu sistem yang dikembangkan untuk memungkinkan paramedik
memilah korban dalam waktu yang singkat kira-kira 30 detik. Meliputi tahap pre-
hospital/lapangan dan hospital atau pusat pelayanan kesehatan lainnya.
Triage lapangan harus dilakukan oleh petugas pertama yang tiba ditempat
kejadian dan tindakan ini harus dinilai ulang terus menerus karena status Triage
pasien dapat berubah.

b. MENTAG (Triage tangging system)


Adalah sistem Triage penuntun lapangan sebagai berikut :
1. Simple Triage / Triage Sederhana / Triage Inisial.
Dalam memilah pasien, petugas melakukan penilaian kesadaran, ventilasi dan
perfusi selama kurang dari 60 detik lalu memberikan tanda dengan menggunakan
berbagai alat berwarna, seperti labeling pada lantai ruang IGD.
Adapun tanda tersebut mengartikan :

a) Hitam
Tanda untuk pasien meninggal atau cedera fatal yang tidak memungkinkan untuk
resusitasi, tidak memerlukan perhatian. Kelompok pasien dengan cedera berat
yang dapat meninggal karena cederanya, mungkin dalam beberapa jam atau hari
selanjutnya (luka bakar luas, trauma berat, radiasi dosis letal), atau kemungkinan
tidak dapat bertahan hidup karena dalam krisis yang mengancam jiwa walaupun
diberikan penanganan medis (cardiac arrest, syok berat, cedera berat kepala atau
dada). Pasien ini sebaiknya dimasukkan keruangan rawat dengan pemberian
analgetik untuk mengurangi penderitaan.

b) Merah
Tanda untuk pasien cedera berat atau mengancam jiwa dan memerlukan
memerlukan evaluasi dan intervensi segera misalnya :
- Gagal nafas
- Cedera Torako-abdominal

3
- Cedera kepala atau maksilo-fasial berat
- Syok atau perdarahan berat
- Luka bakar berat

c) Kuning
Kelompok pasien dengan kondisi yang stabil sementara waktu tetapi
memerlukan pengawasan dari tenaga medis terlatih dan perawatan rumah sakit.
Tanda untuk pasien cedera yang dipastikan tidak mengancam jiwa dalam waktu
dekat, dapat ditunda hingga beberapa jam. misalnya :
- Cedera abdomen tanpa shok
- Cedera dada tanpa gangguan respirasi
- Fraktur mayor tanpa shok
- Cedera kepala atau tulang belakang tanpa gangguan kesadaran
- Luka bakar ringan

d) Hijau
Kelompok pasien memerlukan perhatian dalam beberapa jam atau hari kemudian
namun tidak darurat, menunggu hingga beberapa jam atau dianjurkan untuk
pulang dan kembali kerumah sakit keesokan harinya. Tanda untuk pasien cedera
yang tidak memerlukan stabilisasi segera, misalnya :
- Cedera jaringan lunak
- Fraktur dan dislokasi ekstremitas
- Cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas
- Gawat darurat psikologis

2. ADVANCED TRIAGE / TRIAGE LANJUTAN


Pasien dengan harapan hidup yang kecil dengan tersedianya peralatan dan
tenaga medis yang lebih lengkap diharapkan dapat ditingkatkan harapan
hidupnya. Namun apabila tenaga medis dan perlengkapan tidak dapat memenuhi
kebutuhan dari pasien, misalnya pada bencana yang melibatkan banyak korban,
tenaga medis dapat memutuskan untuk lebih memberikan perhatian pada pasien
dengan cedera berat yang harapan hidupnya lebih besar sesuai dengan etika
profesional. Hal inilah yang menjadi tujuan dari Triage lanjutan.
Pemantauan pada Triage lanjutan dapat menggunakan Revised Trauma
Score (RVT) sebagai berikut :

4
1.Resived Trauma Score (RVT)
Mengunakan parameter kesadaran (GCS), tekanan darah sistolik (dapat
menggunakan per palpasi untuk mempercepat pantauan) dan frekuensi
pernafasan sebagai berikut :
- Skor 12 : delayed
- Skor 11 : urgent, dapat ditunda
- Skor 4-10 : Immediate, memerlukan penatalaksanaan sesegera mungkin.
- Skor 0 3 : Morgue, cedera serius yang tidak lagi memerlukan tindakan
darurat.
2.Panduan Skor RVT
GLASGOW COMA RESPIRATORY
SCALE SYSTOLIC RATE
PRESSURE

GCS POINT SBP POINT RR POINT


15-13 4 >89 4 10-30 4

12-9 3 76-89 3 >30 3

8-6 2 50-75 2 6-9 2

5-4 1 1-49 1 1-5 1


3 0 0 0 0 0

5
BAB III
TATA LAKSANA

I. PROSES TRIAGE
RSUD Muara Beliti memprioritaskan perawatan yang diberikan kepada pasien di
ruang gawat darurat. Perawat memberikan prioritas pertama untuk pasien gangguan
jalan nafas, dan atau sirkulasi terganggu. Pasien – pasien ini mungkin memiliki
kesulitan bernafas atau nyeri dada karena masalah jantung dan mereka menerima
pengobatan pertama.
Pasien yang memiliki masalah yang sangat mengancam kehidupan diberikan
pengobatan langsung bahkan jika mereka memiliki harapan hidup yang kecil
membutuhkan tindakan penunjang sebagai alat bantu penyelamatan pasien.
Pada umumnya penilaian pasien dalam Triage dapat dilakukan dengan :
a. Menilai tanda vital dan kondisi umum pasien.
b. Menilai kebutuhan medis.
c. Menilai kemungkinan bertahan hidup.
d. Menilai bantuan yang memungkinkan.
e. Memprioritaskan penanganan yang definitif.
f. Tag warna.

Dalam proses Triage seorang petugas Triage wajib memperhatikan proses Triage
seberti dibawah ini :
1. Proses Triage dimulai ketika pasien masuk ke pintu IGD. Perawat Triage harus
mulai memperkenalkan diri, kemudian menanyakan riwayat singkat dan
melakukan pengkajian, misalnya : melihat sekilas kearah pasien yang berada
dibrankar sebelum mengarahkan keruang perawatan yang tepat.
2. Pengumpulan data subyektif dan obyektif harus dilakukan dengan cepat tidak
lebih dari 5 menit karena pengkajian ini tidak termasuk pengkajian perawat
utama.
3. Perawat Triage bertanggung jawab untuk menempatkan pasien di area
pengobatan yang tepat, misalnya :
a. Bagian trauma dengan peralatan khusus dan ruangan khusus
b. Bagian jantung dengan monitor jantung dan tekanan darah dll.
4. Setiap perawat utama wajib mengkaji ulang kondisi pasien sedikitnya sekali
setiap 60 menit.

6
5. Bagi pasien yang dikatagorikan sebagai pasien gawat darurat pengkajian
dilakukan setiap 15 menit sekali / lebih bila perlu.
6. Setiap pengkajian ulang harus didokumentasikan dalam rekam medis.
7. Informasi baru dapat mengubah kategorisasi keakutan dan lokasi pasien di
area pengobatan, misalnya kebutuhan untuk memindahkan pasien yang
awalnya berada di area pengobatan minor ketempat tidur bermonitor ketika
pasien tampak mual atau mengalami sesak nafas, sinkop atau diaforesis.
8. Bila kondisi pasien ketika datang sudah tampak tanda – tanda objektif bahwa
pasien mengalami gangguan pada Airway, Breathing dan Circulation maka
pasien ditangani terlebih dahulu di IGD.
9. Pengkajian awal pasien hanya didasarkan atas data objektif dan subjektif
sekunder dari pihak keluarga, setelah keadaan pasien membaik, data
pengkajian kemudian dilengkapi dengan data subjektif yang berasal langsung
dari pasien (data primer).

II. PRINSIP & KLASIFIKASI TRIAGE

1. PRINSIP TRIAGE
a. Prinsip dalam pelaksanaan Triage.
1) Triage seharusnya dilakukan dengan segera dan tepat waktu.
Kemampuan merespon dengan cepat terhadap kemungkinan penyakit
yang mengancam kehidupan atau kerusakan adalah hal yang terpenting
di instalasi gawat darurat.
2) Pengkajian seharusnya adekuat dan akurat.
Intinya ketelitian dan keakuratan adalah elemen yang terpenting dalam
proses pengkajian.
3) Keputusan dibuat berdasarkan pengkajian.
Keselamatan dan perawatan yang efektif hanya dapat direncanakan bila
terdapat informasi yang adekuat serta data yang akurat.
4) Melakukan intervensi berdasarkan keakuratan dari kondisi.
Tanggung jawab utama seorang dokter Triage adalah mengkaji secara
akurat seorang pasien dan menetapkan prioritas tindakan untuk pasien
tersebut. Hal tersebut termasuk teraupetik, prosedur diagnostik dan
tugas terhadap suatu tempat yang dapat diterima untuk suatu
pengobatan.

7
5) Tercapainya kepuasan pasien.
- Petugas IGD seharusnya memenuhi semua yang ada diatas saat
menetapkan hasil secara serempak dengan pasien.
- Petugas IGD membantu dalam menghindari keterlambatan dalam
penanganan yang dapat menyebabkan keterpurukan status kesehatan
pada seseorang yang sakit dengan keadaan kritis.
- Petugas IGD memberikan dukungan emosional kepada pasien dan
keluarga atau temannya.
b. Prinsip Triage mengutamakan perawatan pasien berdasarkan gejala. Petugas
Triage menggunakan prinsip initial assessment sebagai berikut:
A: Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan menjaga jalan nafas
disertai kontrol servikal.
B: Breathing, mengecek pernafasan dengan tujuan mengelola pernafasan
agar oksigenasi adekuat.
C: Circulation, mengecek sistem sirkulasi disertai kontrol perdarahan.
D: Disability, mengecek status neurologis
E: Exposure, enviromental control, buka baju penderita tapi cegah
hipotermia.
c. Prinsip Triage memprioritaskan perawatan yang diberikan kepada pasien di
ruang gawat darurat. Perawat memberikan prioritas pertama untuk pasien
gangguan jalan nafas, dan atau sirkulasi terganggu. Pasien – pasien ini
mungkin memiliki kesulitan bernafas atau nyeri dada karena masalah jantung
dan mereka menerima pengobatan pertama. Pasien yang memiliki masalah
yang sangat mengancam kehidupan diberikan pengobatan langsung bahkan
jika mereka memiliki harapan hidup yang kecil atau membutuhkan tindakan
penunjang sebagai alat bantu penyelamatan pasien.
d. Prinsip Triage diberlakukan system prioritas adalah penentuan/penyeleksian
mana yang harus didahulukan mengenai penanganan yang mengacu pada
tingkat ancaman jiwa yang timbul dengan seleksi pasien berdasarkan :
1) Ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan menit.
2) Dapat mati dalam hitungan jam.
3) Trauma ringan.
4) Sudah meninggal.

8
BAB IV
DOKUMENTASI

RS.Bhayangkara Palembang didalam penanganan Pelayanan Triage Pasien


wajib menyiapkan dokumen dokumen disetiap unit kerja terkait sebagai berikut :

1. Dokumen Regulasi :
a. Panduan Triage Pasien
b. Panduan Transfer Pasien
2. Dokumen Implementasi :
a. Rekam Medis
b. Sertifikasi pelatihan Triage
3. Program :
a. Program diklat tentang pelatihan Triage
b. Program diklat tentang pelatihan transfer pasien

Demikian buku panduan ini dibuat untuk pedoman pelayanan Triage Pasien,
sehingga didalam pelayanan Triage Pasien dapat berjalan baik dan sesuai standar
yang telah ditetapkan oleh undang – undang kesehatan yang berlaku, dengan terbitnya
Buku Panduan Triage Pasien di RSUD Muara Beliti ini maka segala pelayanan Triage
pasien wajib berlandaskan buku Panduan ini terhitung setelah ditandatangani oleh
Kepala RSUD Muara Beliti.