Anda di halaman 1dari 227

Vol. 1, No.

1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ANALISIS EKONOMI USAHA BUDIDAYA IKAN KERAPU


DI PULAU TIDUNG KEPULAUAN SERIBU DKI JAKARTA

Adeng Hudaya
Zainal Arifin H. Masri

Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

Email : adeng.hudaya87@gmail.com
zarifin243@yahoo.com

ABSTRAK

Indonesia dianugerahi laut yang begitu luas dengan berbagai sumber daya ikan di
dalamnya. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas
laut dan jumlah pulau yang besar. Potensi tersebut menempatkan Indonesia sebagai
negara yang dikaruniai sumber daya kelautan yang besar termasuk kekayaan
keanekaragaman hayati dan non hayati kelautan terbesar. Ikan kerapu (Groupers)
merupakan salah satu jenis ikan laut bernilai ekonomis penting yang terdapat di perairan
Indonesia. Tujan dari penelitian ini adalah Untuk menganalisis keuangan dari budidaya
ikan kerapu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan
analisis keuangan. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer dan
data sekunder yang diperoleh dari narasumber yang diperlukan yaitu Suku Dinas
Kelautan dan Perikanan Kel. Pulau Tidung Kec. Kep. Seribu Selatan Kab. Adm. Kep.
Seribu, Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi lapangan dan
dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis keuangan untuk ikan kerapu
macan nilai BEP = Rp 41.118.421, B/C = 3.1 dan ROI = 1,74 atau 174 %. Sedangkan
untuk kerapu bebek nilai BEP = 75,48 Kg, B/C = 2,8, ROI = 1,50 atau 150 %. Hasil
penelitian ini dapat disimpulkan usaha budidaya kerapu memperlihatkan perolehan
keuntungan yang sangat baik.
Kata Kunci : Indonesia, Sumberdaya Kelautan, Budidaya Ikan Kerapu dan Analisis
Keuangan.

PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 13.000
pulau, sekitar 75% (5,8 mill km persegi) dari total luas ditutupi oleh laut. Memiliki garis
pantai terpanjang di dunia berkisar 80.000 km. Diperkirakan area untuk budidaya laut di
sekitar 62.629 ha, dengan produksi tahunan sebesar 890.074 MT. Perairan Indonesia
terletak di antara dua Samudera, Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik dengan
panjang garis pantai lebih dari 80.000 km yang banyak terdiri dari perairan karang
sehingga dapat dijumpai berbagai jenis ikan karang, termasuk ikan kerapu (Serranidae).
Ikan tersebut bersifat karnifora, rakus dan dapat memangsa berbagai jenis ikan,
cephalopoda, crustacea, dan lain-lain (Munro, 1967:651).
Indonesia adalah produsen utama kerapu, dimana produksi ikan kerapu budidaya
pada tahun 1999 sebesar 759 ton, meningkat menjadi 6.493 ton pada tahun 2005

1
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

dengan nilai total sekitar Rp. 116.891.489.000. Budidaya kerapu di Indonesia tersebar
dari Sumatera sampai Papua dan terkonsentrasi di beberapa provinsi seperti Sumatera
Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Jawa Timur, Bali, Lombok dan Sulawesi Utara.
Total produksi ikan kerapu di Kepulauan Riau, Lampung, Jawa Timur dan Bali pada
tahun 2005 masing-masing sebesar 4.496 ton, 388 ton 24 ton dan 180 ton (DKP, 2006).
Ketersediaan benih merupakan komponen penting dalam pengembangan budidaya
kerapu. Sejumlah balai benih ikan dibangun baik oleh pemerintah dan swasta untuk
memenuhi permintaan benih kerapu itu.
Biaya produksi adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi profitabilitas
pada budidaya kerapu. Biaya benih, pakan dan tenaga kerja adalah pengeluaran
signifikan pada budidaya kerapu. Pomeroy et al. (2006:111-130) melaporkan bahwa
benih, pakan dan tenaga kerja mencapai 61-74% dari total biaya produksi usaha
budidaya kerapu macan dan kerapu bebek. Harga beli benih kerapu macan dan bebek
masing-masing berkisar Rp. 1.700,-/cm dan Rp.2.200/cm. Pakan merupakan biaya
terbesar kedua dan menyumbang 25% dari total biaya produksi dan ikan rucah sebagai
sumber asupan nutrisi. Biaya benih adalah biaya terbesar dan mencapai 36,5% dan
36,72% dari total biaya produksi untuk budidaya kerapu macan dan kerapu bebek
secara berurutan (DKP, 2001). Tacon et al. (1991: 165:165-182) melaporkan bahwa
ikan rucah yang umum digunakan di Indonesia adalah sarden (Sarden lemuru), kuwe
(Caranx sp.) pepetek (Leiognathus sp.), layang (Decapterus) teri (Engraulis sp.). Biaya
tenaga kerja adalah biaya terbesar ketiga dan mencapai 12,3% dari total biaya produksi
(Manadiyanto et al., 2002).
Di sisi lain laju pertumbuhan ikan kerapu yang dibudidaya sangat lambat, seperti
yang dilaporkan oleh Soni (2002:9) ikan kerapu macan laju pertumbuhannya 0,45
g/hari dan sebesar 0,60 g/hari, sedangkan kerapu lumpur sebesar 0,61 g/hari. Laju
pertumbuhan tersebut dapat menyebabkan biaya operasional menjadi tinggi sehingga
kurang menguntungkan secara ekonomis. Namun demikian sebagian pertumbuhan ikan
kerapu akhir-akhir ini sudah menunjukkan peningkatan. Akbar dan Sudaryanto
(2001:104) melaporkan bahwa ikan kerapu macan laju pertumbuhannya 2,30 g/hari,
sedangkan laju pertumbuhan ikan kerapu lumpur 3,59 g/hari.
Walaupun prospek bisnis ikan kerapu begitu cerah tetapi dalam upaya
pengembanganya masih banyak kendala yang di hadapi menyangkut teknik budidaya,
ketersediaan bibit yang berkualitas. Selain itu di bagian pengolahan, faktor pengetahuan
tentang pentingnya kulitas kerapu menjadi kendala utama.

LANDASAN TEORI
Klasifikasi Ikan Kerapu Macan
Menurut Binohlan (2010) ikan kerapu macan digolongkan pada :
kelas : Chondrichthyes subkelas
: Ellasmobranchii ordo :
Percomorphi
divisi : Perciformes
famili : Serranidae
genus : Epinephelus
spesies : Epinepheus fuscoguttatus (Forsskal, 1775)
sinonim : Brown-marbled grouper, tiger grouper; nama lokal Indonesia:
kerapu macan, balong macan.

Menurut Heemstra dan Randall (1993) tinggi ikan kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus Forsskal, 1775) lebih panjang dari panjang kepalanya. Area

2
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

interorbitalnya datar atau sedikit cekung, bagian Preoperculumnya membulat dan


bergerigi halus, ujung bagian atas operculumnya cembung, ujung bagian depan tulang
preorbital menekuk cukup dalam ke arah lubang hidung dan rahang bagian atas
memanjang dari posterior sampai mata.
Morfologi Ikan Kerapu Macan
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai bentuk badan yang
pipih memanjang dan agak membulat (Mucharie, A; et.al. 1991:34).

Gambar 2.1. Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)

Gambar 2.2 Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis)


Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai jari-jari sirip yang keras
pada sirip punggung 11 buah, sirip dubur 3 buah, sirip dada 1 buah dan sirip perut 1
buah. Jari-jari sirip yang lemah pada sirip puggung terdapat 15-16 buah, sirip dubur 8
buah, sirip dada 17 buah dan sirip perut 5 buah. Kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus) memiliki warna seperti sawo matang dengan tubuh bagian verikal agak
putih. Pada permukaan tubuh terdapat 4-6 pita vertical berwarna gelap serta terdapat
noda berwarna merah seperti warna sawo (Mucharie, et.al. 1991:34).
Ikan Kerapu (Epinephelus spp.) tergolong dalam serranidae. Tubuhnya tertutup
oleh sisik-sisik kecil. Kebanyakan tinggal di terumbu karang dan sekitarnya meskipun
adapula yang hidup di pantai sekitar muara sungai. Umumnya kerapu tidak senang pada
air dengan salinitas yang sangat rendah. Kerapu juga tergolong ikan buas (Nontji,
2002).
Ikan Kerapu merupakan ikan asli air laut yang hidup diberbagai habitat tergantung
dari jenisnya. Ada yang hidup di daerah berkarang, daerah berlumpur, daerah berpasir
ataupun daerah yang dasar perairannya merupakan campuran antara patahan karang dan
pasir.
Ikan Kerapu memiliki ciri-ciri sebagai berikut: berbadan kekar, berkepala besar
dan bermulut lebar. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh sisik-sisik kecil. Pada pinggiran
operculum bergerigi dan terdapat duri pada operculum tersebut. Dua sirip punggungnya
yang pertama, berbentuk duri-duri, jarang berpisah. Semua jenis kerapu mempunyai 3
duri pada sirip dubur dan 3 duri pada pinggiran operculum.
Ikan Kerapu dikenal sebagai predator atau piscivorous yaitu pemangsa jenis ikan-
ikan kecil, plankton hewani (zooplankton), udang-udangan, invertebrata dan hewan-
hewan kecil lainnya (Kordi, 2001:111).

3
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Habitat dan Penyebaran Ikan Kerapu Macan


Habitat ikan kerapu hidup diperairan karang pantai dengan kedalam 0,5 – 3 m,
selanjutnya menginjak dewasa baru ke perairan yang lebih dalam antara 7-40 m,
biasanya perpindahan ini berlangsung pada senja dan siang hari. Telur dan larva bersifat
pelagis sedangkan kerapu muda dan dewasa bersifat domersal. Habitat favorit larva dan
kerapu macan muda adalah pantai dekat muara sungai dengan dasar pasir berkarang
yang banyak ditumbuhi padang lamun. Kebanyakan ikan kerapu tinggal diterumbu
karang dan sekitarnya, meskipun ada pula yang hidup dipantai sekitar muara sungai.
Kerapu besar biasanya ditemukan diperairan pantai yang berlumpur di depan muara
sungai (Mucharie, et.al. 1991:34).
Penyebaran ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775).
I k a n k e r a p u terdistribusi secara luas di wilayah Indo-Pasifik, laut Merah,
kepulauan tropis India dan bagian barat-tengah Lautan Pasifik (timur Samoa dan
Kepulauan Phoenix). Ikan kerapu macan tersebar juga di sepanjang pantai timur Afrika
sampai Mozambik, Madagaskar, India, Thailand, Indonesia, ntai tropis Australia,
Jepang, Filipina, New Guinea, dan Kaledonia Baru (Heemstra & Randall 1993).

Budidaya Ikan Dalam Keramba Jaring Apung


Budidaya ikan air laut merupakan salah satu upaya pemanfaatan sumberdaya
perairan untuk memproduksi komoditas perikanan. Kegiatan memiliki perluang besar
untuk dikembangkan bagi upaya peningkatan produksi perikanan yang berkelanjutan di
masa mendatang (Sudirman dan Yusri, 2008). Tim peneliti Undana (2006) menyatakan
bahwa budidaya ikan kerapu dapat dilakukan dengan menggunakan bak semen atau pun
dengan menggunakan keramba jaring apung (KJA).
Kajian yang dilakukan oleh Pongasapan, dkk (2001) menyatakan bahwa
budidaya ikan dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) mempunyai keunggulan
diantaranya: hemat lahan, tingkat produktivitas tinggi yaitu 350 – 400 Kg/M3/musim
tanam, tidak memerlukan pengelolaan air yang khusus sehingga dapat menekan input
biaya produksi, mudah dipantau, unit usaha dapat diatur sesuai kemampuan modal,
pemanenan mudah.
Keberhasilan pengembangan dan sosialisasi tekhnologi budidaya ikan kerapu
oleh pemerintah khususnya untuk jenis macan, bebek dan lumpur serta diperkuat oleh
tinggi dan stabilnya harga jual kerapu hidup dan semakin meningkatnya permintaan
ekspor, telah mengundang para pengusaha untuk masuk dalam bisnis budidaya kerapu,
baik pada kegiatan pembenihan maupun pembesaran.
Pemilihan Benih
Kriteria benih kerapu yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit,
gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah
tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah,
mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.

Penebaran Benih
Proses penebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih.
Sebelum ditebarkan, perlu diadaptasikan terlebih dahulu pada kondisi lingkungan
budidaya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam adaptasi ini, adalah : (a) waktu
penebaran (sebaiknya pagi atau sore hari, atau saat cuaca teduh), (b) sifat kanibalisme
yang cenderung meningkat pada kepadatan yang tinggi, dan (c) aklimatisasi, terutama
suhu dan salinitas.

4
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Pendederan
Benih ikan kerapu ukuran panjang 4 – 5 cm dari hasil tangkapan maupun dari
hasil pembenihan, didederkan terlebih dahulu dalam jaring nylon berukuran 1,5x3x3 m
dengan kepadatan ± 500 ekor. Sebulan kemudian, dilakuan grading (pemilahan ukuran)
dan pergantian jaring. Ukuran jaringnya tetap, hanya kepadatannya 250 ekor per jaring
sampai mencapai ukuran glondongan (20 – 25 cm atau 100 gram). Setelah itu
dipindahkan ke jaring besar ukuran 3x3x3 m dengan kepadatan optimum 500 ekor
untuk kemudian dipindahkan ke dalam keramba pembesaran sampai mencapai ukuran
konsumsi (500 gram).
Pakan dan Pemberiannya
Biaya pakan merupakan biaya operasional terbesar dalam budidaya ikan kerapu
dalam KJA. Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan harus benar-benar tepat dengan
mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan dan harganya. Pemberian pakan
diusahakan untuk ditebar seluas mungkin, sehingga setiap ikan memperoleh kesempatan
yang sama untuk mendapatkan pakan. Pada tahap pendederan, pakan diberikan secara
ad libitum (sampai kenyang). Sedangkan untuk pembesaran adalah 8-10% dari total
berat badan per hari. Pemberian pakan sebaiknya pada pagi dan sore hari. Pakan alami
dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari jenis ikan tanjan, tembang, dan
lemuru. Benih kerapu yang baru ditebar dapat diberi pakan pelet komersial. Untuk
jumlah 1000 ekor ikan dapat diberikan 100 gram pelet per hari. Setelah ± 3-4 hari, pelet
dapat dicampur dengan ikan rucah.
Hama dan Penyakit
Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu adalah ikan
buntal, burung, dan penyu. Sedang, jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan
kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan
flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis,
(c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis, (d)
penyakit akibat serangan bakteri, (e) penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral
Neorotic Nerveus).
Panen dan Penanganan Pasca Panen
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan untuk menjaga kualitas ikan kerapu,
antara lain : penentuan waktu panen,peralatan panen, teknik panen, serta penanganan
pasca panen. Watu panen, biasanya ditentukan oleh ukuran permintaan pasar. Ukuran
super biasanya berukuran 500 – 1000 gram dan merupakan ukuran yang mempunyai
nilai jual tinggi. Panen sebaiknya dilakukan pada padi atau sore hari sehingga dapat
mengurangi stress ikan pada saat panen. Peralatan yang digunakan pada saat panen,
berupa : scoop, kerancang, timbangan, alat tulis, perahu, bak pengangkut dan peralatan
aerasi. Teknik pemanenan yang dilakukan pada usaha budidaya ikan kerapu dengan
metoda panen selektif dan panen total. Panen selektif adalah pemanenan terhadap ikan
yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai keinginan pasar terutama pada saat harga
tinggi. Sedang panen total adalah pemanenan secara keseluruhan yang biasanya
dilakukan bila permintaan pasar sangat besar atau ukuran ikan seluruhnya sudah
memenuhi kriteria jual.
Penanganan pasca panen yang utama adalah masalah pengangkutan sampai di
tempat tujuan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar kesegaran ikan tetap dalam
kondisi baik. Ini dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan terbuka dan
pengangkutan tertutup. Pengangkutan terbuka digunakan untuk jarak angkut dekat atau
dengan jalan darat yang waktu angkutnya maksimal hanya 7 jam. Wadah angkutnya
berupa drum plastik atau fiberglass yang sudah diisi air laut sebanyak ½ sampai 2/3
bagian wadah sesuai jumlah ikan. Suhu laut diusahakan tetap konstan selama perjalanan

5
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

yaitu 19-210C. Selama pengangkutan air perlu diberi aerasi. Kepadatan ikan sekitar
50kg/wadah.
Ditjen Perikanan Budidaya in Badri (2008) menyatakan dalam budidaya ikan
ini mempunyai laju pertumbuhan 2,5-3 gram/hari (hasil kajian Balai budidaya
Laut Lampung). Kerapu bebek yang dipelihara dengan berat awal 1,3 gram dan
panjang total 4 cm akan mencapai berat antara 400-500 gram selama 12- bulan,
sedangkan kerapu macan dapat dipanen pada bulan ke tujuh dengan berat 525
gram. Pertambahan berat kerapu bebek relatif lebih lambat dibanding kerapu macan
hal ini dimungkinkan karena secara genetik memang lambat tumbuh. Menurut
Effendie MI (1997:92) bahwa faktor keturunan merupakan salah satu faktor internal
yang mempengaruhi pertumbuhan ikan, dan faktor tersebut rupakan hal yang sulit
untuk dikontrol.
Pembiayaan
Pembiayaan dalam suatu usaha adalah upaya yang telah dikeluarkan dengan
prediksi nilai uang untuk mencapai tujuan tertentu, baik barang maupun jasa.Secara
umum pembiayaan suatu usaha dapat dikelompokan menjadi suatu pengeluaran pada
biaya tetap (Fixed Cost) dan seluruh pengeluaran pada biaya tidak tetap atau variabel
(Variable Cost).
Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap (Fixed Cost) adalah seluruh jenis biaya yang selama satu periode
kerja/produksi, tetap jumlahnya dan tidak mengalami perubahan. Biaya tetap tidak
berubah meskipun volume produksi berubah, sebagai contoh biaya tetap adalah
penyusutan yang ditetapkan dalam suatu aktiva dalam satu bulan per periode produksi
sebesar Rp. 100.000,- atau yang telah ditetapkan misalnya 200.000,- per bulan. Jadi
biaya tetap tersebut biasanya meliputi penyusutan, gaji, asuransi, sewa, pemeliharaan
dan biaya-biaya tidak langsung lainnya.
Biaya Tidak Tetap (Variable Cost)
Biaya tidak tetap adalah jenis biaya yang naik atau turun bersama-sama dengan
volume kegiatan, produksi bertambah maka biaya variabel pun bertambah demikian
pula sebaliknya apabila produksi turun.
Biaya Total
Biaya total merupakan gabungan dari penambahan seluruh biaya tetap dan biaya
tidak tetap, dimana biaya total ini diperhitungkan setiap periode produksi atau
berdasarkan waktu misalnya ditetapkan setiap tahun.

METODE PENELITIAN
Jenis dan Sumber Data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder
yang diperoleh dari narasumber yang diperlukan yaitu Suku Dinas Kelautan dan
Perikanan Kel. Pulau Tidung Kec. Kep. Seribu Selatan Kab. Adm. Kep. Seribu,
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi lapangan dan
dokumentasi.
Variabel Operasional
Variabel operasional yang diperlukan dalam penelitian ini adalah Teknik
budidaya yang digunakan, Biaya yang diperlukan dan Hasil yang diperoleh.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Analisis
deskriptif dilakukan dengan menganalisis data yang diperoleh dari hasil observasi dan
wawancara dengan pihak-pihak terkait. Analisis ini diharapkan dapat memberikan

6
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

gambaran tentang teknik budidaya kerapu, biaya yang diperlukan dan hasil yang
diperoleh.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Teknik Budidaya Ikan Kerapu
Keberhasilan pengembangan dan sosialisasi tekhnologi budidaya ikan kerapu oleh
pemerintah khususnya untuk jenis macan, bebek dan lumpur serta diperkuat oleh tinggi
dan stabilnya harga jual kerapu hidup dan semakin meningkatnya permintaan ekspor,
telah mengundang para pengusaha untuk masuk dalam bisnis budidaya kerapu, baik
pada kegiatan pembenihan maupun pembesaran. Jadi pada dasarnya budidaya ikan
kerapu terbagi menjadi 2 (dua) kegiatan, yaitu pembenihan dan pembesaran. Pada
Kelurahan Pulau Tidung Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan Kabupaten Administrasi
Kepulauan Seribu kegiatan pembenihan dilakukan oleh Suku Dinas Perikanan dan
Kelautan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Kegiatan pembesaran dilakukan
oleh nelayan yang berminat untuk menjadi pengusaha ikan kerapu. Proses budidaya
ikan kerapu yang dilakukan oleh Suku Dinas Perikanan dan Kelautan meliputi kegiatan
antara lain :
Pemijahan
Pemijahan merupakan proses mempertemukan sel telur dan sperma indukan untuk
menjadi larva. Pada proses pemijahan diatur suhu air laut antara 29 – 31 0C,
cahaya agak redup/tidak terang. Proses pemijahan berlangsung selama 27 jam.
Bersamaan dengan proses pemijahan disiapkan juga pertumbuhan plankton sebagai
makanan larva kerapu. Kegiatan pemijahan merupakan proses paling sulit dari
keseluruhan kegiatan budidaya ikan kerapu.
Pendederan
Larva setelah berumur 30 hari berukuran kurang lebih 1 cm dipindahkan ke kolam
pendederan. Larva yang telah menjadi benih kerapu ini diberi makanan berupa pelet
yang diimpor dari Jepang. Pertumbuhan dari larva menjadi benih bertambah ukuran 1
cm dalam 30 hari/1 bulan. Benih dijual ke pengusaha/nelayan yang melakukan usaha
pembesaran. Pada umumnya benih yang dijual berukuran antara 2 cm – 10 cm dengan
harga jual benih sebagai berikut :
a. Kerapu Macan Rp 1.700,- /cm per ekor
b. Kerapu Bebek Rp 2.200,- /cm per ekor
Pembesaran
Pembesaran yang dilakukan oleh Suku Dinas Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Adminstratif Kepulauan Seribu hanya untuk mendapatkan indukan yang
berkualitas tidak untuk diperjual belikan. Kegiatan usaha pembesaran lebih banyak
dilakukan oleh nelayan atau pengusaha yang berminat melakukan investasi. Setelah 24
bulan ikan kerapu dapat dipanen dan dijual atau diekspor dengan harga sebagai berikut :
a. Kerapu Macan Rp 370.000,- per kg
b. Kerapu Bebek Rp 600.000,- per kg
Nelayan atau pengusaha yang menjual ikan terutama untuk restoran-restoran
internasional atau untuk ekspor hanya bertanggung jawab ikan tetap hidup sampai
pelabuhan muara karang atau dalam waktu 8 (delapan ) jam. Supaya ikan tetap hidup
air laut harus diganti dengan air laut yang baru.
Kendala yang dihadapi oleh Suku Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten
Adminstratif Kepulauan Seribu dalam budidaya ikan kerapu adalah :
a. Sulit mencari indukan yang berkualitas. Baik dari hasil tangkapan di Perairan laut
maupun hasil budidaya pembesaran.

7
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

b. Mengkondisikan kolam-kolam pemijahan, pendederan dan perbesaran agar sama


persis dengan kondisi habitat asli ikan kerapu baik suhu air laut, salinitas air laut
maupun pencahayaan air laut.
c. Makanan ikan kerapu yang berupa pelet masih diimpor dari Jepang yang
menyebabkan tingginya biaya produksi.
Biaya dan Pendapatan
Penelitian biaya dan pendapatan yang dilakukan adalah biaya dan hasil kegiatan
pembesaran di tingkat nelayan/pengusaha. Biaya-biaya yang dikeluarkan pada usaha
pembesaran dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu : Biaya Investasi dan
Biaya Produsi.
Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli aktiva tetap.
Biaya Investasi hanya dikeluarkan selama usaha yang bersangkutan dijalankan .
Perhitungan investasi dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :

Tabel 1. Biaya Investasi Usaha Budidaya Ikan Kerapu


NO URAIAN JUMLAH
1. Keramba Jaring Apung (1 unit 6 kurungan) Rp 100.000.000,-
2. Peralatan Rp 20.000.000,-
3. Perahu Rp 5.000.000,-
Total Biaya Investasi Rp 125.000.000,-

Biaya Produksi
Biaya produksi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk 1 (satu) kali proses
produksi. Secara umum biaya produksi suatu usaha dapat dikelompokan menjadi biaya
tetap (Fixed Cost) dan biaya tidak tetap atau variabel (Variable Cost).

Biaya Tetap (Fixed Cost)


Biaya tetap (Fixed Cost) adalah seluruh jenis biaya yang selama satu periode
kerja/produksi, tetap jumlahnya dan tidak mengalami perubahan. Biaya tetap tidak
berubah meskipun volume produksi berubah. Biaya tetap untuk usaha budidaya kerapu
di KJA disajikan pada tabel 2 sebagai berikut :

Tabel 2. Biaya Tetap Usaha Budidaya Ikan Kerapu


NO URAIAN JUMLAH
1. Penyusutan 20 %/tahun Rp 25.000.000,-
2. Perawatan 5 % Rp 6.250.000,-
Total Biaya Tetap Rp 31.250.000,-

Biaya Tidak Tetap (Variable Cost)


Biaya tidak tetap adalah jenis biaya yang naik atau turun bersama-sama dengan
volume produksi, produksi bertambah maka biaya variabel pun bertambah demikian
pula sebaliknya apabila produksi turun. Biaya tidak tetap untuk usaha budidaya kerapu
macan maupun kerapu bebek di KJA disajikan pada table 3 dan table 4 sebagai berikut :

8
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 3. Biaya Tidak Tetap Usaha Budidaya Ikan Kerapu Macan


NO URAIAN JUMLAH
1. Benih ukuran 10 cm : 600 ekor X 10 cm X Rp Rp 10.200.000,-
1.700,-
2. Pakan : 50 Kg X 10 X Rp 8.000,- Rp 4.000.000,-
3. Tenaga Kerja : 2 X Rp 3.125.000,- X 10 Rp 62.500.000,-
4. Lain-lain Rp 13.300.000,-
5. Total Biaya Tidak Tetap Rp 90.000.000,-

Tabel 4. Biaya Tidak Tetap Usaha Budidaya Ikan Kerapu Bebek


NO URAIAN JUMLAH
1. Benih ukuran 10 cm : 600 ekor X 10 cm X Rp Rp 13.200.000,-
2.200,-
2. Pakan : 50 Kg X 24 X Rp 8.000,- Rp 9.600.000,-
3. Tenaga Kerja : 2 X Rp 3.125.000,- X 24 Rp 150.000.000,-
4. Lain-lain Rp 13.200.000,-
5. Total Biaya Tidak Tetap Rp 186.000.000,-

Biaya Total
Biaya total merupakan gabungan dari penambahan seluruh biaya tetap dan biaya
tidak tetap, dimana biaya total ini diperhitungkan setiap periode produksi. Biaya total
merupakan biaya produksi. Biaya total untuk usaha budidaya kerapu macan maupun
kerapu bebek di KJA disajikan pada table 5 dan table 6 sebagai berikut :

Tabel 5. Biaya Produksi Usaha Budidaya Ikan KerapuMacan


NO URAIAN JUMLAH
1. Biaya Tetap Rp 31.250.000,-
2. Biaya Tidak Tetap Rp 90.000.000,-
Biaya Total/Biaya Produksi Rp 121.250.000,-

Tabel 6. Biaya Total/Biaya Produksi Usaha Budidaya Ikan Kerapu Bebek


NO URAIAN JUMLAH
1. Biaya Tetap Rp 31.250.000,-
2. Biaya Tidak Tetap Rp 186.000.000,-
Biaya Total/Biaya Produksi Rp 217.250.000,-

Pendapatan
Pendapatan adalah hasil penjualan seluruh hasil produksi dikalikan dengan harga
per unit produksi. Didalam menghitung pendapatan ini terdapat beberapa kriteria yaitu
pendapatan kotor atau pendapatan marginal dan pendapatan bersih atau disebut sebagai
laba. Pendapatan marginal adalah seluruh pendapatan dikurangi biaya produksi (biaya
tetap + biaya variabel). Sedangkan pendapatan bersih adalah pendapatan marginal
dikurangi pajak penghasilan. Pendapatan bersih untuk usaha budidaya ikan kerapu
macan maupun ikan kerapu bebek di KJA disajikan pada table 7 dan tabel 8 sebagai
berikut :

9
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 7. Pendapatan Bersih Usaha Budidaya Ikan Kerapu Macan


NO URAIAN JUMLAH
1. Penerimaan : 1.000 Kg X Rp 370.000,- Rp 370.000.000,-
2. Biaya Tetap Rp 31.250.000,-
3. Biaya Tidak Tetap/Biaya Variabel Rp 90.000.000,-
4. Pendapatan Margin Rp 248.750.000,-
5. PPh (15%) Rp 37.312.500,-
6. Pendapatan Bersih Rp 211.437.500,-

Tabel 8. Pendapatan Bersih Usaha Budidaya Ikan Kerapu Bebek


NO URAIAN JUMLAH
1. Penerimaan : 1.000 Kg X Rp 600.000,- Rp 600.000.000,-
2. Biaya Tetap Rp 31.250.000,-
3. Biaya Tidak Tetap/Biaya Variabel Rp 186.000.000,-
4. Pendapatan Margin Rp 382.750.000,-
5. PPh (15%) Rp 57.412.500,-
6. Pendapatan Bersih Rp 325.337.500,-

Analisis Keuangan
Break Event Poin (BEP)
BEP merupakan suatu nilai dimana hasil penjualan produksi sama dengan biaya
produksi, sehingga pengeluaran sama dengan pendapatan dengan demikian pada saat itu
pengusaha mengalami impas. BEP ikan kerapu macan adalah Rp 41.118.421,- : Rp
370.000,- = 111,13 Kg sedangkan ikan kerapu bebek nilai BEP nya adalah Rp
45.289.855,- : Rp 600.000,- = 75,48 Kg
Benefit Cost Ration (B/C)
Dengan B/C dapat dilihat kelayakan suatu usaha. Bila nilainya satu berarti usaha
tersebut belum mendapatkan keuntungan. Semakin kecil nilai ratio ini, makin besar
kemungkinan perusahaan menderita kerugian. Nilai B/C ikan kerapu macan adalah :
3,1. Dengan nilai tersebut berarti biaya produksi Rp. 121.250.000,- diperoleh hasil
penjualan sebesar 3,1 kali, Dan nilai B/C ikan kerapu bebek : 2,8, Dengan nilai tersebut
berarti biaya produksi Rp. 217.250.000,- diperoleh hasil penjualan sebesar 2,8 kali.
Return Of Invesment (ROI)
ROI adalah nilai keuntungan yang diperoleh pengusaha dari setiap jumlah uang
yang diinvestasikan dalam periode waktu tertentu. Dengan analisis ROI dapat mengukur
sampai seberapa besar kemampuan dalam mengembalikan modal yang telah
ditananamkan. Besar ROI pada ikan kerapu macan : 1,74 atau 174 %. Artinya : dari
modal Rp 100,- yang diinvestasikan akan menghasilkan keuntungan sebesar 174 %.
Dan besar ROI ikan kerapu bebek : 1,50 atau 150 %. Artinya : dari modal Rp 100,-
yang diinvestasikan akan menghasilkan keuntungan sebesar 150 %.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Berdasarkan data yang diperoleh dan hasil analisa keuangan maka dapat ditarik
suatu kesimpulan sebagai berikut :
a. Usaha budidaya kerapu memperlihatkan perolehan keuntungan yang sangat baik.
b. Usaha budidaya kerapu yang dilakukan oleh nelayan, yaitu usaha pembesaran untuk
kemudian hasilnya dijual sangat mudah untuk dilakukan.

10
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

c. Harga benih yang murah yang dapat diperoleh dari Balai Penelitian Laut dan
Perikanan (BPLP) Suku Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Adminstratif
Kepulauan Seribu dengan harga Rp 1.700,- per cm untuk kerapu macan dan Rp
2.200,- per cm untuk kerapu bebek
d. Biaya pemasaran rendah bahkan tidak ada biaya pemasaran. Hal ini disebakan
karena pihak pembeli datang langsung ke lokasi budidaya sehingga biaya pemasaran
ditanggung oleh pihak pembeli. Nelayan hanya bertanggung jawab terhadap
kesegaran atau kehidupan ikan hanya sampai Pelabuhan Muara Karang atau selama
8 (delapan) jam.

Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat diberikan beberapa saran
sebagai berikut :
a. Ketersediaan benih kurang, untuk itu BPLP harus meningkatkan volume
ketersedian benih untuk nelayan dan lebih mengutamakan nelayan setempat dalam
penjualan benih ikan kerapu.
b. Kurangnya sumberdaya manusia yang terampil, oleh karena itu frekuensi pelatihan
dan penyuluhan budidaya kerapu yang dilakukan oleh BPLP untuk nelayan setempat
harus lebih ditingkatkan.
c. Mengingat besarnya modal yang harus disediakan oleh nelayan, maka Pemerintah
Daerah Kabupaten Adminstratif Kepulauan Seribu harus berinisiatif
menghubungkan pihak bank atau lembaga keuangan lainnya agar dapat memberikan
pinjaman/kredit dengan bunga yang ringan.

DAFTAR PUSTAKA
Akbar, S. dan Sudaryanto, 2001. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Kerapu Bebek.
Penebar Swadaya. Jakarta.

Badri A. 2008. Tehnik Budidaya Kerapu Macan. [terhubung berkala].


http://my.opera.com/indiejeans/blog/tehnik-budidaya-kerapu-macan. [11
Nopember 2014].

Binohlan CB. 2010. Epinephelus fuscoguttatus (Forsskål, 1775)..[terhubung berkala].


http://www.fishbase.org/summary/SpeciesSummary.php?genus
name=Epinephelus&speciesname=fuscoguttatus.[2 Juli 2010].

DKP. 2001. Pembesaran kerapu macan (Epinephelus fuscogutattus) dan kerapu tikus
(Cromileptes altivelis) di karamba jaring apung. Balai Budidaya Laut Lampung,
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan
Indonesia. Jakarta.

DKP. 2006. Statistik Perikanan Budidaya Indonesia 2005. Direktorat Jenderal


Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. Jakarta.

Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

Heemstra PC, Randall JE. 1993. FAO species catalogue. Vol. 16. Groupers of the
world (Family Serranidae, Subfamily Epinephelinae). An annotated and

11
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

illustrated catalogue of the grouper, rockcod, hind, coral grouper and


lyretail species known to date. FAO Fisheries Synopsis. No. 125, Vol. 16.
Rome, FAO.

Kordi, G. 2001. Usaha Pembesaran Ikan Kerapu di Tambak. Kanisius. Yogyakarta

Manadiyanto, N. Zahri, A.H. Purnomo, S.A. Pranowo, Azizi, A. Tajerin. 2002.


Pengembangan model budidaya kerapu di Batam Riau. Pusat Riset Sosial
Ekonomi dan Produk Olahan, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Mucharie, A. Sapriatna. T. Ahmad, dan kohno. 1991. Pepeliharaan Larva Kerapu


Macan,(Ephinepelus fuscoguttatu)s.pen. Perikanan. (terbitan Khusus).

Munro, I. S. R. 1967. The fishes of New Guinea, Departement of Agriculture Stock and
Fisheries Port Moresby.

Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta

Pomeroy, R.S., J.E. Parks, C.M. Balboa. 2006. Farming the reef: is aquaculture a
solution for reducing fishing pressure on coral reef? Marine Policy.

Pongasapan,S.D. Rachmansyah dan Mangawe,G.A. 2001. Penelitian Budidaya


Bandeng Intensif dalam Keramba Jaring Apung di Laut. Departemen Kelautan
dan Perikanan.

Soni, A. F. M. 2002. Penggunaan Beberapa Shelter pada Pendederan Ikan Kerapu


Macan di Tambak. Dalam: Budidaya air payau. Departemen Kelautan dan
Perikanan, Dirjen Perik. Budidaya Balai Besar Pengembangan Budidaya Air
Payau Jepara. 9 hal.

Sudirman dan Yursi, 2008. Ikan Kerapu. biologi,eksploitasi,manajemen,dan budiidaya.


Yarsif watampone. Jakarta.

Tacon, A.G.J., N. Rausin, , M. Kadari, P. Cornelis. 1991. The food and feeding of
tropical marine fishes in floating net cages: Asian seabasss, Lates calcarifer
(Bloch), and brown-spotted grouper, Epinephelis tauvina (Forskal). Aquaculture
and Fisheries Management, 22: 165-182.

Tim Peneliti Lembaga penelitian undana, 2009. Analisis Komoditas Unggulan dan
Peluang Usaha (Budidaya Ikan Kerapu). Http://google.com

12
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PERKEMBANGAN INDUSTRI PERBANKAN SYARIAH DAN


IMPLIKASINYA TERHADAP PERTUMBUHAN UMKM DI INDONESIA

Ai Annisaa Utami
Dosen Pendidikan Ekonomi Universitas Indraprasata PGRI Jakarta

Email: annisaa_utamiz@yahoo.com

ABSTRAK

Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia semakin meningkat dari tahun


ketahun, hal ini dilatarbelakangi dengan pemikiran bahwa aktivitas lembaga keuangan
syariah dapat dipandang sebagai wahana bagi masyarakat modern untuk membawa
mereka kepada dua prinsip utama yaitu prinsip At-Ta’awun, yang berarti saling tolong
menolong diantara anggota masyarakat untuk kebaikan. Kedua, prinsip menghindari Al-
iktinaz, yaitu menahan uang (dana) dan membiarkan menganggur (idle) tidak berputar
untuk transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat. Di sisi lain potret pertumbuhan dan
perkembangan UMKM di Indonesia belum sesuai dengan harapan, terutama dalam
aspek pemberian kredit oleh pihak bank, karena dianggap tidak bankable. Kajian ini
memaparkan bagaimana perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia dan
implikasinya terhadap perkembangan UMKM terutama dalam hal pengucuran dana
untuk modal usaha berdasarkan prinsip syariah, serta peraturan perbankan syariah yang
berhubungan dengan pembiayaan syariah untuk UMKM.
Kata kunci : Perbankan Syariah, UMKM,

PENDAHULUAN
Selama beberapa dekade terakhir, perkembangan keuangan Islam menunjukkan
perubahan dan dinamika dramatis yang cepat. Industri perbankan berkembang sangat
cepat, terkhusus pada perbankan syariah yang perkembangannya dalam sepuluh tahun
terakhir cukup mencengangkan, hal ini dilihat dari jumlah Bank Umum Syariah (BUS)
yang bertambah dari 5 (lima) BUS pada Tahun 2008 menjadi 12 (sebelas) BUS pada
posisi bulan Desember Tahun 2014.
Laba yang berhasil dihimpun juga cukup fantastis, yakni menembus angka Rp
1,11 triliun. Angka itu naik hampir 2 (dua) kali lipat dari Tahun 2009 yang hanya Rp
634 miliar,. Saat ini sudah ada 12 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Unit Usaha Syariah
(UUS), dan 149 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dengan Aset, Pembiayaan
dan Simpanan Dana Pihak Ketiga yang dapat dilihat pada tabel berikut :

13
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 1. Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia 1

Tahunhun 2001 2006 2010 Maret 2011


BUS 2 3 11 11
UUS 3 20 23 23
BPRS 80 105 150 152
Aset Rp. 2,7 triliun Rp.27,6 triliun Rp.100 triliun Rp.104 triliun
DPK Rp. 1,8 triliun Rp.21,2 triliun Rp.77,6 triliun Rp.81 triliun
Pembiayaan Rp 2,0 triliun Rp.21,1 triliun Rp.70,2 triliun Rp.76 triliun
Sumber: SPSI BI
Dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir, perbankan syariah di Indonesia
pertumbuhan asetnya mencapai 37,9 %, angka ini jauh di atas pertumbuhan perbankan
konvensional pada periode yang sama. Laju pertumbuhan perbankan syariah makin
kencang.
Di sisi lain, perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di
Indonesia semakin mendapat perhatian serius baik dari pemerintah maupun dari
masyarakat luas, terutama terkait dengan akses permodalan ke pihak bank. Seluruh
elemen berupaya untuk mendukung kemajuan UMKM alasannya adalah karena UMKM
menyumbang sangat banyak kesempatan kerja dan secara potensial sangat berperan
sebagai salah satu sumber pendapatan atau pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB)
dan ekspor non-migas, khususnya ekspor barang-barang manufaktur mengurangn
tingkat kemiskinan, membantu penyerapan tenaga kerja secara nasional (Sri,2005),
Berikut data lengkap terkait dengan informasi tersebut.
Tabel 1.1
Kontribusi UMKM untuk perekonomian Nasional
(Data Tahun 2013)
Kriteria Usaha Besar Menengah Kecil Mikro
Jumlah unit usaha < 0,01% < 0,08% >1% >98,00%
yang diciptakan
Serapan Tenaga 2,76% 2,72% 3,75% 90,77%
Kerja Nasional
Kontribusi 42,06% 13,49% 9,72% 34,73%
terhadap PDB
Sumber : Kemenkop dan UMKM
Data diatas merupakan sebuah realita, bagaimana UMKM sangat sentral dalam
mengatur keseimbangan perekonomian secara makro. Terutama berkaitan dengan
pengurangan jumlah pengangguran di negara kita. Sebuah ironi yang digambarkan
dalam peta perekonomian negara kita, setiap tahun angka pertumbuhan ekonomi
meningkat, akan tetapi penyerapan tenaga kerja melambat. Hal ini memcerminkan
bahwa pertumbuhan PDB yang semu karena tidak diikuti dengan peningkatan
kemakmuran rakyat.

14
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 1,2
Elastisitas Penyerapan Tenaga Kerja
Sumber : BPS-Litbang KJ.
Penyerapan Tenaga Kerja Indeks Gini
Tahun PDB Inflasi Terhadap PDB (Point)
(%) (%) Jumlah Elastisitas

2008 6,23% 7,66% 436.000 0,44% 0,3


2009 5,02% 6,98% 501.000 0,49% 0,34
2010 6,51% 3,43% 538.000 0,51% 0,381
2011 6,74% 5,95% 226.000 0,21% 0,385
2012 6,23% 4,30% 181.000 0,17% 0,41

Untuk mengatasi hal tersebut, peningkatan daya saing dan pemberdayaan


UMKM menjadi pilihan utama. UMKM perlu dibantu oleh segenap pihak sehingga
optimalisasi dalam penyerapan tenaga kerja dapat terwujud. Jika jumlah pengangguran
menurun yang diserap oleh sektor UMKM maka secara otomatis angka elastisitas
penyerapan tenaga kerja seimbang dengan pertumbuhan ekonomi, bayang-bayang
pertumbuhan PDB yang semu hanya menjadi fatamorgana tanpa harus menjadi momok
yang menakutkan.
Ironi lain dalam data diatas, terkait dengan informasi indeks gini menyadarkan
kita bahwa PDB yang tinggi tidak menjamin meningkatnya kemakmuran rakyat secara
merata. Jumlah pendapatan dan kekayaan yang tinggi hanya tersebar di beberapa
gelintir pelaku ekonomi, tingkat pemerataan tidak terjadi dengan baik. Kesenjangan dari
tahun ketahun terus meningkat, artinya pengembangan sektor UMKM menjadi solusi
alternatif yang tidak dapat dihindarkan. Jika UMKM berperan optimum dalam
penyerapan tenaga kerja maka indeks gini dengan sendirinya akan menurun karena
tingkat kesenjangan pendapatan dan kekayaan antara si kaya dan si miskin ditekan
secara real, dampak dari penyerapan tenaga kerja yang optimum oleh sektor UMKM.
Kebijakan pengembangan UMKM merupakan kebijakan publik yang pro rakyat untuk
pengembangan ekonomi domestik (Brata,2003).
Dibalik prestasi gemilang yang ditunjukkan oleh keberadaan UMKM tersebut,
terdapat seribu permasalahan yang membelenggu UMKM untuk maju dan berkembang
secara optimum, terutama masalah permodalan. Kajian ini mencoba membahas
bagaimana bank-bank syariah yang sedang berkembang pesat membantu mengatasi
masalah permodalan yang dihadapi UMKM dengan pembiayaan syariah mengunakan
prinsip-prinsip syariah tanpa mengesampingkan manajemen resiko untuk
keberlangsungan bank syariah tersebut.

KAJIAN PUSTAKA
Konsep Pembiayaan Syariah
Perbedaan antara prinsip bank syariah dengan bank umum (konvensional) adalah
terletak pada pola pembiayaan dan pemberian balas jasa, baik yang diterima oleh bank
maupun investor. Jika dilihat pada bank umum, pembiayaan disebut loan atau pinjaman,
sementara di bank syariah disebut financing atau pembiayaan (Rivai, 2009). Artinya
pada bank umum pemberian pembiayaan lebih didasarkan pada kerjasama transaksi
(untungrugi), sedangkan pada bank syariah lebih didasarkan pada kerjasama kemitraan.
Sedangkan balas jasa yang diberikan atau diterima pada bank umum berupa bunga
(interest loan atau deposit) dalam prosentase pasti. Sementara pada bank syariah dengan

15
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

sistem syariah, hanya memberi dan menerima balas jasa berdasarkan perjanjian (akad)
bagi hasil.
Dalam perbankan syariah dikenal istilah mudharabah, murabahah dan
musyarakah untuk program pembiayaan. Mudharabah yaitu jenis pembiayaan dimana
bank dapat menyediakan pembiayaan modal investasi atau modal kerja hingga 100%,
sedangkan nasabah menyediakan usaha manajemennya, keuntungan dibagi sesuai
kesepakatan bersama dalam bentuk nisbah (prosentase) dari keuntungan. Murabahah
yaitu produk perbankan Islam dalam pembiayaan pembelian barang lokal ataupun
international, keuntungan diperoleh dari harga barang yang dinaikkan (bank melakukan
suatu mark-up sebelum menjual barang tersebut kepada nasabahnya atas dasar cost plus
profit ). Musyarakah adalah pembiayaan sebagian (50%) dari modal usaha keseluruhan,
dalam jenis pembiayaan ini bank dapat dilibatkan dalam proses manajemen. Pembagian
keuntungan berdasarkan perjanjian yang disepakati bersama (Wibowo, dkk., 2005).

Produk perbankan syariah


Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain:
1. Titipan atau simpanan
 Al-Wadi'ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat
mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak
berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah.
Bank Muamalat Indonesia-Shahibul Maal.
 Deposito Mudharabah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu
yang tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan
bank akan dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.
2. Bagi hasil
 Al-Musyarakah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership
atau joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang
disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang
dimiliki masing-masing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah
dalam konsep ini ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan
mudharabah tidak ada campur tangan
 Al-Mudharabah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha.
Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang
disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian
yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan
pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
 Al-Muzara'ah, adalah bank memberikan pembiayaan bagi nasabah yang
bergerak dalam bidang pertanian/perkebunan atas dasar bagi hasil dari hasil
panen.
 Al-Musaqah, adalah bentuk lebih yang sederhana dari muzara'ah, di mana
nasabah hanya bertanggung-jawab atas penyiramaan dan pemeliharaan, dan
sebagai imbalannya nasabah berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen.
3. Jual beli
Bai' Al-Murabahah, adalah penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan
membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali ke
pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang ditetapkan
bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut.

16
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Pengertian dan Kriteria UMKM


Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah (UMKM) didefinisikan sebagai berikut :
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan / atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaiamana di atur
dalam Undang-Undang ini.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha
besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagimana dimaksud dalam Undang-
Undang ini.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha kecil atau usaha besar
yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagimana dimaksud dalam Undang-
Undang ini
Untuk kriteria UMKM Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008
tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1
Kriteria UMKM
No Uraian Kriteria
Aset Omzet
1 Usaha Mikro Maks 50 Juta Maks 300 Juta
2 Usaha Kecil 50 juta -500 juta 300 juta- 2,5 Miliar
3 Usaha Menengah 500 juta- 10 Miliar. 2,5 Miliar – 50 Miliar
Sumber : Kementrian Koperasi dan UMKM

PEMBAHASAN
Eksistensi UMKM dalam proses pembangunan ekonomi tidak perlu lagi
diragukan. Alasannya adalah : (1) masih adanya pasar yang tergolong kecil, dan (2)
produk dari usaha mikro, kecil, dan menengah masih dikonsumsi masyarakat. Usaha-
usaha demikian dapat bertahan disebabkan industri tersebut memiliki segmentasi pasar
tersendiri yang melayani kelompok pembeli tertentu (Tambunan, 2003).
Salah satu hal yang dihadapi UMKM yang sampai saat ini dan selalu
diperdebatkan adalah masalah permodalan. Dalam pendanaan kepada nasabah dalam
bentuk pemberian kredit, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan
penilaian kredit, oleh karena layak tidaknya kredit yang diberikan akan sangat
mempengaruhi stabilitas keuangan bank. Penilaian kredit harus memenuhi beberapa
kriteria sebagai berikut (Rahardja, 1997) :
1. Keamanan kredit (safety). Harus benar-benar diyakini bahwa kredit tersebut
dapat dilunasi kembali.
2. Terarahnya tujuan penggunaan kredit (suitability). Kredit akan digunakan untuk
tujuan yang sejalan dengan kepentingan masyarakat atau setidaknya tidak
bertentangan dengan peraturan yang berlaku.
3. Menguntungkan (profitable). Kredit yang diberikan menguntungkan bagi bank
maupun bagi nasabah.

17
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Berdasarkan kriteria diatas, UMKM yang memenuhi syarat (bankable) akan di


proses lebih lanjut untuk mendapatkan kucuran dana, produk yang digunakan untuk
pembiyaan UMKM adalah Mudharabah atau Musyarakah karena keduanya merupakan
pembiyaan yang bersifat produktif. Berikut informasi lengkap terkait dengan
perkembangan kucuran dana untuk sektor produktif yang dilakukan oleh perbankan
syariah mulai tahun 2008 sampai dengan 2014.

Tabel
Komposisi Pembiayaan Yang Diberikan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah

2014
Akad 2008 2009 2010 2011 2012
Nov
Akad Mudharabah 6.205 6.597 8.631 10.229 12.023 14.307

Akad Musyarakah 7.411 10.412 14.624 18.960 27.667 50.005

Akad Murabahah 22.486 26.321 37.508 56.365 88.004 115.602

Akad Salam 0 0 0 0 0 0

Akad Istishna 369 423 347 326 376 618

Akad Ijarah 765 1.305 2.341 3.839 7.345 11.464

Akad Qardh 959 1.829 4.731 12.937 12.090 6.380

Lainnya 0 0 0 0 0 0

Total 46.886 102.655 147.505


38.195 68.181 198.376

Sumber SPSI BI
Berdasarkan gambaran data diatas, nampak bahwa UMKM dan perbankan
syariah menjadi dua komposisi yang saling membantu satu sama lain. UMKM di
untungkan dengan pembiyaan yang diberikan oleh pihak bank, dan keberlangsungan
usaha bank sebagai lembaga intermediasi semakin maju, karena perputaran modal
mereka semakin berkembang. Bagi beberapa UMKM yang dianggap tidak bankable,
bank-bank syariah membantu melalui program linkage bank syariah melalui BPRS.
Berdasarkan data statistik menunjukan bahwa kucuran dana ke UMKM dari sektor
BPRS mengalami trend kenaikan yang cukup signifikan sejak tahun 2005 sampai
dengan tahun 2014. Berikut data lengkap terkait dengan perkembangan kucuran modal
yang diberikan oleh BPRS untuk UMKM.

18
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel Pembiayaan - Bank Pembiayaan Rakyat Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan


(Financing of Islamic Rural Bank based on Type of Financing)
2013 2014 TYPE
GOLONGAN OF
PEMBIAYA 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 FINA
Des Nov NCIN
AN
G

Usaha Kecil Small


dan Menengah 273. 380. 575. 657. 833. 1.11 1.54 2.08 2.62 3.00 and
212 079 028 359 076 5.96 7.20 0.09 0.26 1.52 Mediu
2 5 4 3 9 m
Enterp
rises
Selain Usaha Non
Kecil dan 144. 235. 315. 599. 753. 944. 1.12 1.47 1.81 1.97 Small
Menengah 072 392 044 291 843 475 8.72 3.42 3.23 8.78 and
5 6 0 3 Mediu
m
Enterp
rises

1.25 1.58 2.06 2.67 3.55 4.43 4.98


Total 417. 615. 890. Total
6.65 6.91 0.43 5.93 3.52 3.49 0.31
284 471 072
0 9 7 0 0 2 2
Sumber SPSI BI

SIMPULAN
Pengembangan Usaha Mikro kecil dan Menengah (UMKM) biasanya diiringi
dengan kebutuhan modal. Di sinilah pentingnya lembaga pemberi modal memainkan
peranannya, sekaligus melakukan pendampingan. Bank syariah dengan berbagai
produk-produknya membantu UMKM dalam memberikan modal berdasarkan prinsip
syariah, sedangkan BPRS lembaga penunjang linkage bank syariah membantu
menyalurkan dana untuk UMKM yang dianggap tidak bankable. Trend yang muncul
dari data statistik menunjukan bahwa terjadi kenaikan kucuran dana yang dilakukan
oleh BPRS maupun bank-bank syariah untuk UMKM

DAFTAR PUSTAKA
Brata, A. G. 2003. Distribusi SpasiaL UKM di Masa Krisis Ekonomi. Jurnal Ekonomi
Rakyat, Th. I No. 8.
Rivai, Veithzal & Andi Buchari. Islamic Economics (Ekonomi Syariah Bukan Opsi,
tetapi Solusi). Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Sri Adiningsih, 2002. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah, UGM :
yogyakarta.
Tambunan, Tulus T.H. 2003, Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia : Beberapa Isu
Penting. Jakarta : Salemba Empat.
Tambunan, Tulus T.H., 2005, ‖Perdagangan Internasional, Daya Saing, dan Kegiatan
Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia‖. Makalah dalam Kuliah Umum di
Fakultas Ekonomi Universitas HKBP Nommensen, Medan 19 Agustus 2005.

19
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Wibowo, Edy & Untung Hendy Widodo. Mengapa Memilih Bank Syariah?, Cet. I.
Bogor: Ghalia Indonesia, 2005.
www.depkop.go.id
Laporan Statistik Perbankan‖, Bank Indonesia. www.bi.go.id .

20
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DALAM


MENINGKATKAN MINAT MAHASISWA TERHADAP DUNIA WIRAUSAHA
(Studi kasus : Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI)

Achiruddin Akiel

Dosen Bimbingan dan Konseling


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

ABSTRAK

Mahasiswa merupakan gambaran generasi muda khususnya di Indonesia. Jakarta


sebagai ibu kota negara Indonesia dimana fasilitas pendidikan relatif cukup lengkap
menyebabkan Jakarta memiliki jumlah mahasiswa yang cukup besar. Permasalahan
akan datang saat jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja
yang disediakan di Jakarta. Hal ini yang menyebabkan perlunya setiap kampus untuk
mensosialisasikan dunia wirausaha kepada mahasiswanya. Penelitian ini bertujuan
mengetahui seperti apa persepsi mahasiswa terhadap dunia wirausaha. Sample yang
digunakan adalah sebanyak 30 mahasiswa yang didapatkan secara random.
Instrumenpersonal attitude, subjective norms, perceived behavioral control, dan
entrepreneurial intention.Keempat instrumen tersebut berbentuk checklistdengan
menggunakan skala Likert5-poin.Hasil penelitian menunjukan bahwa pendidikan
kewirausahaan di Universitas Indraprasta PGRI cukup dapat meningkatkan minat
mahasiwa terhadap dunia wirausaha.

Kata Kunci : Pendidikan, kewirausahaan, mahasiswa

PENDAHULUAN
Fenomena rendahnya minat dan motivasi pemuda Indonesia untuk berwirausaha
dewasa ini menjadi pemikiran serius berbagai pihak, baik pemerintah, dunia pendidikan,
dunia industri, maupun masyarakat.Berbagai upaya dilakukan untuk menumbuhkan jiwa
kewirausahaan terutama merubah mindsetpara pemuda yang selama ini hanya berminat
sebagai pencari kerja (job seeker)apabila kelak menyelesaikan sekolah atau kuliah
mereka.Hal ini merupakan tantangan bagi pihak sekolah dan perguruan tinggi sebagai
lembaga penghasil lulusan. (Lestari danTrisnadi; 2012).
Wirausaha adalah salah satu jawaban untuk menjawab ketimpangan antara
pertumbuhan penduduk usia produktif dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Disisi
lain pemahaman dan minat berwirausaha di Indonesia masih sangat minim, bahkan
jumlah wirausaha di Indonesia masih dibawah 2%.
Dunia pendidikan berkewajiban untuk dapat mencetak generasi – generasi yang
memiliki kemandirian, termasuk kemandirian secara ekonomi dengan kemampuannya
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kelak, tetapi dunia pendidikan sendiri tidak dapat
memberikan jaminan bahwa semua anak didiknya akan terserap didunia kerja.
Sekolah, kampus juga media pendidikan informal lainnya bukan hanya berfungsi untuk
berbagi ilmu dengan teori – teorinya maupun ketrampilan dengan praktek –
prakteknya.Tetapi jika dikaitkan dengan masih rendahnya pemahaman dan minat

21
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

tentang dunia wirausaha, dunia pendidikan dapat difungsikan juga sebagai media
informasi untuk meningkatakan pemahaman dan minat anak didiknya pada dunia
kewirausahaan.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk
mengukur efektifitas pendidikan kewirausahaan yang sudah diterapkan oleh Universitas
Indraprasta PGRI. Hal ini merupakan hal yang penting untuk mengevaluasi pendidikan
kewirausahaan yang sudah diterapkan agar dapat meningkatkan minat mahasiswa
terhadap dunia wirausaha.

KAJIAN PUSTAKA
Angkatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Todaro (2000) pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan
AngkatanKerja (AK) secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif
yangmemacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berartiakan
menambah tingkat produksi, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebihbesar berarti
ukuran pasar domestiknya lebih besar. Meski demikian hal tersebutmasih dipertanyakan
apakah benar laju pertumbuhan penduduk yang cepat benar- benarakan memberikan
dampak positif atau negatif dari pembangunanekonominya.
Selanjutnya dikatakan bahwa pengaruh positif atau negatif dari
pertumbuhanpenduduk tergantung pada kemampuan sistem perekonomian daerah
tersebutdalam menyerap dan secara produktif memanfaatkan pertambahan tenaga
kerjatersebut. Kemampuan tersebut dipengaruhi oleh tingkat dan jenis akumulasimodal
dan tersedianya input dan faktor penunjang seperti kecakapan manajerialdan
administrasi.
Dalam model sederhana tentang pertumbuhan ekonomi, pada
umumnyapengertian tenaga kerja diartikan sebagai angkatan kerja yang bersifat
homogen.Menurut Lewis, angkatan kerja yang homogen dan tidak terampil dianggap
biasbergerak dan beralih dari sektor tradisional ke sektor modern secara lancar
dandalam jumlah terbatas. Dalam keadaan demikian penawaran tenaga
kerjamengandung elastisitas yang tinggi.Meningkatnya permintaan atas tenaga
kerja(dari sectortradisional) bersumber pada ekspansi kegiatan sektor modern.
Dengan demikian salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
pertumbuhanekonomi adalah tenaga kerja.Menurut Nicholson W. (1991) bahwa suatu
fungsi produksi suatu barangatau jasa tertentu (q) adalah q = f (K, L) dimana k
merupakan modal dan L adalahtenaga kerja yang memperlihatkan jumlah maksimal
suatu barang/jasa yang dapatdiproduksi dengan menggunakan kombinasi alternatif
antara K dan L makaapabila salah satu masukan ditambah satu unit tambahan dan
masukan lainnyadianggap tetap akan menyebabkan tambahan keluaran yang dapat
diproduksi.Tambahan keluaran yang diproduksi inilah yang disebut dengan produk
fisikmarjinal (Marginal Physcal Product). Selanjutnya dikatakan bahwa apabilajumlah
tenaga kerja ditambah terus menerus sedang faktor produksi laindipertahankan konstan,
maka pada awalnya akan menunjukkan peningkatanproduktivitas namun pada suatu
tingkat tertentu akan memperlihatkan penurunanproduktivitasnya serta setelah mencapai
tingkat keluaran maksimal setiappenambahan tenaga kerja akan mengurangi
pengeluaran.Payaman J. Simanjuntak (1985) menyebutkan bahwa tenaga kerja
adalahmencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja, sedang mencari
pekerjaandan melakukan kegiatan lain, seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga.
Menurut BPS penduduk berumur 10 tahun ke atas terbagi sebagai
AngkatanKerja (AK) dan bukan AK.Angkatan Kerja dikatakan bekerja bila
merekamelakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu

22
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

memperolehpendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit 1 (satu)


jamsecara kontinu selama seminggu yang lalu.Sedangkan penduduk yang tidakbekerja
tetapi sedang mencari pekerjaan disebut menganggur (Budi Santosa,2001).Jumlah
angkatan kerja yang bekerja merupakan gambaran kondisi darilapangan kerja yang
tersedia. Semakin bertambah besar lapangan kerja yangtersedia maka akan
menyebabkan semakin meningkatkan total produksi di suatudaerah.

Penduduk Usia Produktif di Indonesia


Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2000 – 2010 mencapai 1,49 secara
umum berpengaruh terhadap jumlah penduduk usia kerja. Penduduk usia kerja
mengalami peningkatan terus menerus bahkan hingga mencapai 175 juta jiwa dari
keseluruhan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa pada tahun 2012.
Table 1. Penduduk Berumur 15 tahun ke atas menurut jenis kegiatan
Jenis Febuari 2012 Agustus 2012 Februari 2013
Kegiatan
Penduduk
Berumur 15
172 865 970 173 926 703 175 098 712
Tahun Ke
Atas
Angkatan
120 417 046 118 053 110 121 191 712
Kerja
a. Tingkat
Partisipasi
69,66 67,88 69,21
Angkatan
Kerja (%)
b. Bekerja 112 802 805 110 808 154 114 021 189
c.
Penganguran 7 614 241 7 244 956 7 170 523
Terbuka *)
d. Tingkat
Pengangguran 6,32 6,14 5,92
Terbuka (%)
Bukan
Angkatan 52 448 924 55 873 593 53 907 000
Kerja
a. Sekolah 14 307 802 14 084 633 14 971 720
b. Mengurus
Rumah 31 447 888 33 628 814 32 185 937
Tangga
c. Lainnya 6 693 234 8 160 146 6 749 343
Sumber : BPS (2014)

Sebuah kenyataan bahwa sebanyak 7,1 juta penduduk Indonesia pada februari
tahun 2013 tercatat sebagai pengangguran terbuka atau sebanyak 5,92 persen. Walau
mengalami penurunan secara jumlah dimana tahun sebelumnya pengangguran terbuka
sebanyak 7,6 juta pada februari tahun 2013 dan 7,2 juta pada agustus 2013, tetapi
jumlah pengangguran terbuka yang cukup besar akan memberi dampak baik secara
sosial maupun secara ekonomi baik. (Anata, 2013; Susetyo dan Amanda, 2011).
Diakui memang akan sangat sulit untuk menciptakan kondisi dimana semua penduduk
usia produktif dapat 100 persen terserap di dunia kerja. Dengan demikian

23
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

mengembangkan enterpreneurship merupakan sebuah peluang pengembangan diri dan


salah satu solusi dalam pemecahan masalah tersebut (Untari, 2014).

Pengertian UMKM
Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.
Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang
memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan
oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun
tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih
atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Dan
kriteria asset omzet usaha mikro Max 50 Jt Max 300 jt, usaha kecil > 50 jt - 500 jt > 300
jt - 2,5 M dan usaha menengah > 500 jt - 10 M > 2,5 M - 50 M

UMKM di Indonesia
Pembangunan dan pertumbuhan UMKM merupakan penggerak bagi
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Perkembangan UMKM yang
baik maka akan membawa kemajuan bagi perekonomian suatu negara.Pada tahun akhir
tahun 2010 diperkirakan ada sekitar 53.823.732 UMKM (98,85 %) dari seluruh usaha di
Indonesia. Kontribusi UMKM dalam penyerapan tenaga kerja sekitar 97,22% dan
sumbangan UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 57,83%.
Mengingat keberadaan UMKM dan perannya sangat besar dalam perekonomian
Indonesia, maka diperlukan pemerdayaan UMKM (Estiningsih dan Zaenal; 2014)
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah wirausaha per Januari 2012
mencapai 3,75 juta orang atau 1,56 persen dari total penduduk Indonesia. Pada 2010,
tercatat masih 0,24 persen. Namun angka ini masih kalah jauh dibanding negara Asia
lain, seperti Cina dan Jepang, yang memiliki wirausaha lebih dari 10 persen jumlah
populasi. Di regional Asia Tenggara, Indonesia masih kalah dibanding Malaysia (5
persen) atau Singapura (7 persen). Minimnya jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM) dinilai mengancam ketahanan perekonomian nasional. Kondisi
ekonomi menjadi kurang sehat terhadap ancaman krisis
Usaha peningkatan jumlah UMKM dilakukan dengan mendorong program-
program pengembangan wirausaha. Program penciptaan wirausaha yang diusung
Kemenkop dan UKM. Seperti Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN). Indonesia pada
tahun 2011, telah mencanangkan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN), dengan
tujuan untuk meningkatkan jumlah wirausaha Indonesia, mengingat jumlah wirausaha
Indonesia baru berkisar 0,24% dari populasi penduduk. Diharapkan dengan GKN dapat
mencapai sekurang-kurangnya 1% dari populasi penduduk Indonesia pada tahun 2014
dan akhirnya mencapai rasio ideal 2% dari populasi penduduk (Clelland,1961).
Untuk itu, pemerintah Indonesia telah menetapkan serangkaian kebijakan dan
rencana aksi untuk mendukung program-program peningkatan kualitas dan kuantitas
kewirausahaan di Indonesia, agar mampu menjadi salah satu pilar ekonomi nasional
yang tangguh menghadapi krisis ekonomi global, sekaligus solusi mengurangi
kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja.

24
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

GKN merupakan salah bentuk konkrit sebagai wujud kesungguhan Pemerintah


RI untuk memasyarakatkan kewirausahaan kepada masyarakat luas. Presiden RI dalam
berbagai kesempatan telah menekankan pentingnya mengembangkan kewirausahaan,
terutama kalangan kaum muda dan kaum terdidik di Indonesia.
Sebagai sebuah gerakan kinerja, GKN sepanjang 2012 telah menunjukkan
kondisi yang cukup menggembirakan. Pemerintah Indonesia berhasil meningkatkan
jumlah wirausaha baru yang semula 570.339 orang pada 2011 (0,24 %) menjadi
3.707.205 orang (1,56 %) pada akhir 2012.
Peningkatan rasio jumlah wirausaha terhadap jumlah populasi Indonesia sangat
diperlukan untuk meningkatkan daya saing untuk berkompetisi dengan negara lain.
Sebagai perbandingan, Singapura memiliki wirausaha 7,2 %, Malaysia 2,1 %, Thailand
4,1 %, Korea Selatan 4,0 %, dan Amerika Serikat 11,5 % dari seluruh populasi
penduduknya.
GKN juga diharapkan dapat berkontribusi positip terhadap upaya pemerintah
Indonesia dalam mencapai sasaran kinerja KIB II, yang mentargetkan turunnya tingkat
pengangguran dari 7% pada tahun 2011 menjadi 5–6% pada tahun 2014, kemudian
pertumbuhan ekonomi dari 6,5 5 pada tahun 2011 menjadi 7,7 % pada tahun 2014dan
kemiskinan turun dari 12,5 % menjadi 8–10 % pada tahun 2014. Dibutuhkan usaha
yang cukup keras dan kesinergian antar semua pemegang kepentingan untuk
memajukan sektor UMKM di Indonesia.

Perkembangan Dunia Pendidikan Di Indonesia


Pendidikan merupakan hal penting bagi agenda pembangunan Pemerintah
Indonesia.Belanja pendidikan telah meningkat secara signifikan di tahun-tahun terakhir
setelah terjadinya krisis ekonomi.Secara nyata, belanja pendidikan meningkat dua kali
dari tahun 2000 sampai 2006. Di tahun 2007, belanja untuk pendidikan lebih besar
daripada sektor lain, yang mencapai nilai US$14 miliar, atau lebih dari 16 persen dari
total pengeluaran pemerintah. Sebagai bagian dari PDB (3,4 persen), jumlah ini setara
dengan jumlah di negara lain yang sebanding (Kemendiknas).
Table 2. Data pendidikan penduduk 15 tahun ke atas
Pendidikan yang Ditamatkan Penduduk 15 Tahun Tahun 2011 Tahun 2013
ke Atas
Tidak/belum sekolah 6,41 5,88
Tidak tamat SD 14,69 13,90
SD/sederajat 28,72 28,09
SMP/sederajat 20,74 21,00
SM +/sederajat 29,44 31,13
Sumber : BPS Indonesia (2013)

Membangun keutuhan bangsa melalui pendidikan dilakukan melalui upaya


mencerdaskan kehidupan bangsa. Esensi mencerdaskan kehidupan bangsa yang
diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 dan menjadi domain utama pendidikan
adalah membangun bangsa Indonesia yang berakar pada budaya, dengan segala
keragamannya, untuk menjadi manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, demokratis, berkarakter, mandiri, berdaya saing, dan berdaya
tahan kuat di dalam percaturan hidup antar bangsa yang ditopang oleh penguasaan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni yang terarah kepada peningkatan taraf hidup dan
kesejahteraan masyrakat. (Kartadinata, 2009)

25
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Pendidikan Kewirausahaan di Indonesia


Pendidikan memiliki peran penting dalam pengembangan manusia seutuhnya
dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya.Pengembangan manusia harus
dilakukan secara utuh, yang mencakup pengembangan daya pikir, daya qolbu, daya
fisik, dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, seni serta olahraga (Slamet, 2011).
Selain itu, pengembangan manusia juga diharapkan menghasilkan manusia yang
mampu dan sanggup berperan aktif dalam membangun masyarakat Indonesia
seluruhnya.
Tugas sekor pendidikan baik formal maupun informal bukan hanya mencetak
manusia – manusia yang berpendidikan, tetapi secara lebih luas lagi, sektor pendidikan
harus mampu menciptakan manusia – manusia yang mandiri (Estiningsih dan Zaenal;
2014).Dengan kenyataan bahwa tidak semua penduduk Indonesia usia produkif dan
tergolong sebagai angkatan kerja dapat terserap didunia kerja, maka sektor pendidikan
bertanggungjawab untuk mencari solusi, bagaimana agar output yang dihasilkan tidak
hanya berorientasi untuk menjadi pekerja, disisi peran sektor pendidikan untuk
memperkenalkan dan memotivasi anak didiknya agar memahami bahwa selain menjadi
seorang pekerja ternyata bidang wirausaha juga menjadi bidang yang cukup
menjanjikan untuk didalami.
Sikap, perilaku, dan minat ke arah kewirausahaan seorang mahasiswa
dipengaruhi oleh pertimbangan atas berbagai aspek mengenai pilihan karir sebagai
wirausahawan. Pertimbangan atas pilihan karir tersebut dapat berbeda - beda tergantung
preferensi terhadap risiko yang akan mereka tanggung kemudian. Mahasiswa yang takut
untuk mengambil risiko (risk averter) cenderung untuk memilih menjadi seorang
pegawai swasta, PNS, atau pegawai BUMN sebagai pilihan karir sedangkan bagi
mahasiswa yang berani mengambil risiko (risk taker) untuk meninggalkan comfort
zonecenderung akan memilih menjadi seorang wirausahawan sebagai pilihan karirnya.
Faktor demografis (gender, latarbelakang pendidikan orang tua, dan pengalaman
bekerja) dapat mempengaruhi pilihan karir menjadiwirausahawan.
Kecenderungan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu,
seperti memilih kewirausahaan sebagai pilihan karir, dapat diprediksi oleh Teori
Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior-TPB) yang dikemukakan oleh Hannes
Leroy et all (2009). TPB menggunakan tiga pilar sebagai anteseden dari intensi,
yaitusikap terhadap perilaku, norma subyektif, dan persepsi mengenai kemampuan
mengendalikan segala sesuatu yang mempengaruhi apabila hendak melakukan perilaku
tersebut.
Pendidikan kewirausahaan dapat membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku pada
mahasiswa menjadi seorang wirausahawan (entrepreneur) sejati sehingga mengarahkan
mereka untuk memilih berwirausaha sebagai pilihan karir.Namun, pengaruh tersebut
perlu dikaji lebih lanjut apakah dengan adanya mata kuliah kewirausahaan dapat
melahirkan minat berwirausaha bagi mahasiswa.

Modal Manusia dan Pertumbuhan Ekonomi


Modal manusia dalam terminologi ekonomi sering digunakan untukbidang
pendidikan, kesehatan dan berbagai kapasitas manusia lainnya yangketika bertambah
dapat meningkatkan produktivitas. Pendidikan memainkanperan kunci dalam hal
kemampuan suatu perekonomian untuk mengadopsiteknologi modern dan dalam
membengun kapasitasnya bagi pembangunan danpertumbuhan yang
berkelanjutan.Kesuksesan dalam pendidikan bergantung jugapada kecukupan
kesehatan.Disamping itu kesehatan merupakan prasayarat bagipeningkatan
produktivitas. Dengan demikian kesehatan dan pendidikan dapatjuga dilihat sebagai

26
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

komponen vital dalam pertumbuhan dan pembangunansebagai input bagi fungsi


produksi agregat (Todaro, 2002).
Menurut Mill pembangunan ekonomi sangat tergantung pada dua
jenisperbaikan, yaitu perbaikan dalam tingkat pengetahuan masyarakat dan
perbaikanyang berupa usaha-usaha untuk menghapus penghambat pembangunan
sepertiadat istiadat, kepercayaan dan berpikir tradisional. Perbaikan dalam
pendidikan,kemajuan dalam ilmu pengetahuan, perluasan spesialisasi dan perbaikan
dalamorganisasi produksi merupakan faktor yang penting yang akan memperbaiki
mutudan efisiensi faktor-faktor produksi dan akhirnya menciptakan
pembangunanekonomi. Menurut Mill, faktor pendidikan melaksanakan dua fungsi
yaitu:mempertinggi pengetahuan teknik masyarakat dan mempertinggi ilmu,
pengetahuan umum. Pendidikan dapat menciptakan pandangan-pandangan
dankebiasaan modern dan besar perannya untuk menentukan kemajuan ekonomi
masyarakat.
Menurut Mankiw (2003) modal manusia adalah pengetahuan dankemampuan
yang diperoleh oleh para pekerja melalui pendidikan mulai dariprogram untuk anak-
anak sampai dengan pelatihan dalam pekerjaan (on the jobtraining) untuk para pekerja
dewasa.Seperti halnya dengan modal fisik, modalmanusia meningkatkan kemampuan
untuk memproduksi barang dan jasa. Untukmeningkatkan level modal manusia
dibutuhkan investasi dalam bentuk guru,perpustakaan dan waktu belajar.
Sementara itu untuk menyesuaikan dengan tingkat pertumbuhan pendudukyang tinggi,
negara-negara berkembang harus memperhatikan kualitas sumberdaya manusia, dengan
mewujudkan program-program spesifik yakni (Samuelsondan Nordhaus, 2001) :
1. Mengendalikan penyakit serta meningkatkan kesehatan dan nutrisi.Meningkatkan
standar kesehatan penduduk menyebabkan peningkatanproduktivitas mereka sebagai
tenaga kerja. Pusat kesehatan masyarakat danpenyediaan air bersih merupakan
modal sosial yang bermanfaat.
2. Meningkatkan pendidikan, menurunkan angka buta huruf dan melatihtenaga
kerja.Manusia terdidik merupakan tenaga kerja yang lebih produktif karena
mampumenggunakan modal secara lebih efektif, mampu mengadopsi teknologi
danmampu belajar dari kesalahan.
3. Di atas semua itu, tidak boleh mengestimasi secara lebih rendah (underestimate)
terhadap pentingnya sumberdaya manusia.Becker (1993) mengemukakan bahwa
teori modal manusia telah menjadipemikiran banyak pihak sejalan dengan
berhasilnya umat manusiamengendalikan tingkat pertumbuhan penduduk,
menanggapi kekhawatiranMalthus akan adanya bencana bagi umat manusia bila
penduduk terus bertambah.

Teori modal manusia pada dasarnya membahas proses merumuskan bentuk-


bentukinvestasi yang bisa ditanamkan kepada manusia, sebab manusia diakuisebagai
salah satu sumberdaya yang diperlukan dalam kegiatan produksi barangdan jasa dalam
perekonomian.Samuelson dan Nordhaus (2001) menyebutkan bahwa input tenaga
kerjaterdiri dari kuantitas dan keterampilan tenaga kerja. Banyak ekonomi
percayabahwa kualitas input tenaga kerja yakni keterampilan, pengetahuan dan
disiplintenaga kerja merupakan elemen paling penting dalam pertumbuhan
ekonomi.Suatu negara yang mampu membeli berbagai peralatan canggih tapi
tidakmempekerjakan tenaga kerja terampil dan terlatih tidak akan dapat
memanfaatkanbarang-barang modal tersebut secara efektif. Peningkatan melek huruf,
kesehatandan disiplin serta kemampuan menggunakan komputer sangat

27
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

meningkatkanproduktivitas tenaga kerja.Kubo dan Kim (1996) mengemukakan bahwa


elemen pokok dari teoripertumbuhan Neo Klasik dapat diringkas sebagai berikut :
1. Bahwa pendapatan perkapita suatu negara tumbuh pada tingkatperkembangan
teknologi yang given dari luar (eksogen)
2. Bahwa pendapatan perkapita negara-negara miskin cenderung tumbuh padatingkat
yang tinggi jika hal-hal lain tetap (konvergen).

Dalam perkembangannnya model Neo Klasik dikritik oleh ModelPertumbuhan


Endogen, yang diawali oleh Romer (1986) dan Lucas (1988) yangmengasumsikan
tingkat pengembalian yang konstan atau meningkat terhadapmodal. Teori Pertumbuhan
Endogen membangun komponen endogenperkembangan teknologi sebagai bagian
integral dari teori pertumbuhan. Teori inijuga berusaha menjelaskan observasi yang
berbeda terhadap pendapatan perkapita berbagai negara dimana model Neo Klasik gagal
ditetapkan. Faktor-faktorseperti modal manusia dan pengeluaran riset dan
pengembangan digabungkansebagai komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi
dalam model itu .Lucas (1988) berargumen bahwa akumulasi modal manusia
melaluiinvestasi (misal meningkatkan waktu belajar) mendorong pertumbuhan
endogen.Argumentasinya menekankan pada keuntungan yang disebabkan
oleheksternalitas dari modal manusia yang cenderung meningkatkan
tingkatpengembalian modal manusia. Romer (1990) menyebutkan bahwa modalmanusia
merupakan input kunci pokok untuk sektor riset karena menyebabkanditemukannya
produk baru/ ide yang disadari sebagai pendorong perkembanganteknologi. Dengan
demikian, negara-negara dengan stok awal modal manusiayang lebih tinggi,
ekonominya tumbuh lebih cepat.Dengan demikian modalmanusia disadari merupakan
sumber pertumbuhan yang penting dalam teoripertumbuhan endogen (Kubo dan Kim,
1996).

METODOLOGI
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, yaitu penelitian yang
mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat
pengumpul data yang utama. Variabel yangakan dijelaskan adalah program pendidikan
kewirausahaan di Perguruan Tinggi dan minat mahasiswa terhadap dunia wirausaha.

Populasi dan Sample


Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 30 orang mahasiswa yang sudah
mendapatkan mata kuliah kewirausahaan.Karena jumlah populasi relatif kecil maka
jumlah sampel yang diambil secara random.Sehingga metode pemilihan sampel
menggunakan metodeAccidental Samplingyaitu metode pengambilan sampel dengan
memilih siapa yang kebetulan ada/dijumpai.

Pengumpulan dan Pengolahan Data


Metode pengumpulan data sebagai berikut:
1. Kuesioner, berupa pertanyaan-pertanyaan yang disusun untuk diisi oleh responden.
Maksudnya adalah untuk memperoleh data primer berupa informasi secara tertulis
langsung dari responden mengenai variabel yang ditelti.
2. Dokumentasi, yaitu mengumpulkan informasi dengan mempelajari sumber data
tertulis untuk memperoleh data sekunder mengenai latar bela-kang dan data tertulis
lainnya yang mendukung penelitian ini.

28
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Skala pengukuran yang digunakan dalam pengukuran variabel penelitian ini


yaitu menggunakan skala likert yang menggunakan interval penilaian untuk setiap
jawaban responden adalah 1 sampai 5. Interval jawaban responden akan disesuaikan
dengan pertanyaan yang akan diajukan. Menurut Sugiyono (2008) skala likert ini
berhubungan dengan pernyataan tentang sikap seseorang terhadap sesuatu, misalnya
setuju-tidak setuju, senang-tidak senang, dan baik-tidak baik. Berikut ini akan diberikan
contoh alternatif jawaban yang akan digunakan dalam kuesioner penelitian ini serta skor
yang diberikan untuk setiap item pertanyaan:
1. Sangat tidak setuju diberi skor : 1
2. Tidak setuju diberi skor : 2
3. Ragu – ragu diberi skor : 3
4. Setuju diberi skor : 4
5. Sangat setuju diberi skor : 5

Pengolahan data akan dilakukan dengan metode staistik sederhana yaitu


menggunakan distribusi frekuensi.

Oprasionalisasi Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian terdiri beberapa aspek antara lain sebagai berikut:
1. Instrumen untuk mengukur personal attitude.
2. Instrumen untuk mengukur subjective norms.
3. Instrumenuntuk mengukur perceived behavioral control
4. Instrumenuntuk mengukur entrepreneurial intention.

Keempat instrumen tersebut berbentuk checklistdengan menggunakan skala


Likert5-poin.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Profile Responden
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan beberapa data yaitu sebagai profile responden
sebagai berikut ;
Table 3. Profile Responden
Jenis Kelamin Status Pekerjaan Status Pernikahan Lokasi Tempat
tinggal
L P
Menikah
Kategori

menikah
Bekerja

Bekerja

Jakarta

Jakarta
Diluar
Tidak

Tidak

Jumlah 12 18 5 25 4 15 19 11
Sumber : Data diolah (2014)
Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa mayoritas responden adalah
perempuan, dana status pekerjaannya saat ini adalah belum atau tidak bekerja.
Mayoritas responden single dan berdomisili di Jakarta.

Table 4. Rekapitulasi Jawaban responden


No Kategori instrumen Rata – rata skor per instrumen penelitian Total
1 2 3 4 5
1 Personal attitude 0 0 3 5 22 30
2 Subjective norms 0 1 3 11 15 30
3 Perceived behavioral control 0 0 1 9 20 30

29
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

4 Entrepreneurial intention 0 0 1 4 25 30
Sub Jumlah 0 1 8 29 82
Sumber : Data diolah (2014)
Secara keseluruhan mayoritas responden setuju dan sangat setuju terhadap
semua isi kuestioner terkait keempat instrumen yang ditanyakan. Dengan demikian
dapat dilihat bahwa mahasiswa merespon dengan cukup baik perndidikan
kewirausahaan yang ada di Universitas Indraprasta PGRI.

Respon mahasiswa terhadap instrumen personal attitude dapat dilihat pada grafik
berikut:
Grafik 1. Instrumen personal attitude

1
2
3
4
5

Sumber : data diolah (2014)

16,67 % mahasiswa setuju dan 73,33 % mahasiswa sangat setuju bahwa pendidikan
kewirausahaan yang sudah diimplementasikan pada Universitas Indraprasta PGRI sudah
cukup memberikan gambaran tentang sikap dan prilaku yang harus dikembangkan
sebagai seorang wirausaha.
Respon mahasiswa terhadap instrumen personal attitude dapat dilihat pada grafik
berikut:

Grafik 2. Instrumen subjective norms

1
2
3
4
5

Sumber : Data diolaah (2014)

30
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa 33,67 % mahasiswa setuju dan 50 %


mahasiswa sangat setuju bahwa pendidikan kewirausahaan di Universitas Indraprasta
PGRI dapat mempengaruhi persepsi mahasiswa terhadap pentingnya pengembangan
jiwa wirausaha pada mahasiswa.
Respon mahasiswa terhadap instrumen perceived behavioral control dapat dilihat pada
grafik berikut,
Grafik 3. Instrumen perceived behavioral control

1
2
3
4
5

Sumber : Data diolah (2014)

Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa 30 % mahasiswa setuju dan 66,67 %


mahasiswa sangat setuju bahwa praktek kewirausahaan di Universitas Indraprasta PGRI
sangat baik, sehingga mahasiswa dapat merasakan terjun sebagai seorang wirausaha.
Respon mahasiswa terhadap instrumen entrepreneurial intentiondapat dilihat pada grafik
berikut:
Grafik 4. Instrumen entrepreneurial intention

1
2
3
4
5

Sumber : Data diolah (2014)

Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa 13,33 % mahasiswa setuju dan 83,33 %
mahasiswa sangat setuju bahwa secara keseluruhan isi kurikulum pendidikan
kewirausahaan di Universitas Indraprasta PGRI dapat terserap dengan baik dan
mahasiswa mampu memahami pentingnya pendidikan kewirausahaan bagi mahasiswa.

31
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil penelitian dan respon mahasiswa (sample mahasiswa)
terhadap keempat instrumen yang digunakan dalam penelitian, maka dapat disimpulkan
kegiatan pendidikan kewirausahaan yang selama ini di implementasikan oleh
Universitas Indraprasta PGRI baik kegiatan pembelajaran di kelas maupun praktek
sudah cukup baik. Hanya saja berdasarkan tanyajawab secara personal terhadap
responden akan lebih baik jika kegiatan praktek lebih diintensifkan.
Dengan demikian untuk kebaikan kegiatan pendidikan kewirausahaan di
Universitas Indraprasta PGRI, maka perlu mengintensifkan kegiatan praktek dan perlu
menambah kegiatan studi banding sehingga mahasiswa mendapatkan gambaran yang
lebih luas tentang dunia kewirausahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Anata, Firdaus. (2013).Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka, PDRB Perkapita,
Jumlah Penduduk dan Index Williamson Terhadap Tingkat Kriminalitas (Studi
Pada 31 Provinsi di Indonesia tahun 2007 - 2012). Malang:Jurnal Ilmiah
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas Brawijaya.

Clelland, David MC. (1961). Entrepreneur Behavior and Characteristics of


Entrepreneurs.The Achieving Society

Dhewanto, Wawan. (2013). Kewirausahaan Berbasis Teknologi Guna Meningkatkan


Daya Saing. ITB: Sidang Terbuka Peresmian Mahasiswa Baru 2013/ 2014).

Heri, Kuswara. (2011).Strategi Perguruan Tinggi Mewujudkan Entrepreneurial


Campus. Terdapat pada situs www.dikti.go.id

Kartadinata, Sunaryo. (2009). Membangun Keutuhan Bangsa Melalui Pendidikan


dalam Bingkai Utuh Sistem Pendidikan Nasional.Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia.

Lestari, Retno Budi dan Trisnadi Wijaya, 2012, Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan
TerhadapMinat Berwirausaha Mahasiswa di STIE MDP, STMIK MDP, dan
STIE MUSI, Jurnal Ilmiah STIE MDP, Vol. 1No. 2Maret 2012, p. 112-119.

Suparno, Ono. Aji Hermawan dan M. Faiz Syuaib.(2008). Technopreneurship.


Recognition and Mentoring Program – Institut Pertanian Bogor (RAMP-IPB)

Susetyo, Heru dan Amanda,Putri Kusuma. (2011).Dampak Kependudukan Terhadap


Kriminalitas dan Keamanan Individu, Ditdamduk BKKBN 2011.

Slamet, PH. (2011). Peran Pendidikan Vokasi dalam Pembangunan Ekonomi,


Cakrawala Pendidikan, Juni 2011, Th. XXX, No. 2.

Soewardi, Biemo W dan Wirahadikusumah, Reini D (2012).Kebutuhan dan Tantangan


Pendidikan Insfrastruktur, Seminar Nasional Pembangunan Infrastruktur Untuk
Semua, Kerjasama Tiga Universitas, UI-UGM-ITB.

32
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Untari, Dhian Tyas. (2014). ECOPRENEURSHIP:Concept


ofResponsibleEntrepreneurship. Malang: Prosiding 11th International Annual
Symposium on Management.
www.Bps.go.id
www.kemennakertrans.go.id

33
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ANALISIS PEMBENTUKAN TINGKAT KEPERCAYAAN KONSUMEN


PADA USAHA PERCETAKAN DIGITAL “CV.ABC”

Ana Rusmardiana

Dosen Teknik Informatika


Fakultas Teknik dan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Email : ana.irawan@yahoo.co.id
anairawan93@gmail.com

ABSTRACT

The level of consumer confidence in a business interaction is a crucial


prerequisite as the basis for the business person in the conduct of business transactions,
as well as the opinion of some experts (Mentzer and Min,2000; Blumberg,2001; Spector
and Jones, 2004) which in essence claimed business transactions would not have
happened if a trust boundary of the verge is not achieved between the perpetrators of
the business. Given the importance of consumer confidence in the provider, then it is
important to know how the formation of consumer confidence in the digital printing
sector in Jakarta so that the service provider may be chosen by the consumer. Data
obtained from the 22 (twenty-two) of the respondents who meet the criteria as a viable
consumer by using interview techniques in subsequent semi structured dept, ditranskip
in the conversation to be analyzed with reference to the operational variables.

Keywords: Consumer confidence, Small and medium enterprises

ABSTRAK

Tingkat kepercayaan konsumen dalam sebuah interaksi bisnis merupakan


prasyarat penting sebagai dasar bagi para pelaku bisnis dalam melakukan transaksi
bisnis, sebagaimana pendapat dari beberapa pakar (Mentzer and Min, 2000; Blumberg,
2001; Spector and Jones, 2004) yang pada intinya menyatakan transaksi bisnis tidak
akan terjadi jika diambang batas suatu kepercayaan tidak tercapai diantara para pelaku
bisnis tersebut. Mengingat pentingnya kepercayaan konsumen dalam penyedia jasa,
maka sangatlah penting kiranya untuk mengetahui bagaimana terbentuknya kepercayaan
konsumen didalam sektor percetakan digital di Jakarta agar para penyedia jasa tersebut
dapat dipilih oleh konsumen. Data yang diperoleh dari 22 (duapuluh dua) responden
yang memenuhi kriteria sebagai konsumen yang layak dengan menggunakan teknik
wawancara in dept semi terstruktur, selanjutnya ditranskip dalam percakapan untuk
dianalisis dengan mengacu pada variabel operasional.

Kata Kunci: Kepercayaan konsumen, Usaha Kecil dan Menengah

34
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari, kemanapun dan dimanapun kita arahkan pandangan,
akan kita temukan produk atau barang hasil dari percetakan, misalnya: buku-buku,
nota/faktur yang biasa kita peroleh sewaktu belanja di toko atau supermarket, kwitansi,
dus-dus kemasan makanan, kartu nama, kartu undangan, kalender, label, kop surat,
amplop, sticker, poster, ID card, brosur, company profil, majalah, bulletin, tabloid,
spanduk, reklame dan lain lain. Oleh karenanya dengan persaingan bisnis yang semakin
ketat saat ini, hampir semua jenis usaha berusaha untuk memberikan kepercayaan
terhadap konsumennya agar loyal, seperti halnya dalam usaha percetakan.
Penelitian dilakukan pada sebuah usaha UKM penyedia jasa percetakan digital
yang juga menggunakan pasta, untuk nama perusahaannya disamarkan sebagai
―CV.ABC‖ berlokasi didaerah Jakarta. Adapun pengambilan tema didasarkan pada
tingkat sektor ini cukup pesat perkembangannya dan usaha percetakan dengan
menggunakan tinta pasta masih jarang, sehingga menurut pengamat penulis dapat
memungkinkan bagi konsumen untuk loyal
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah: bagaimana proses terbentuknya kepercayaan konsumen dalam
sektor usaha kecil menengah yang bergerak dibidang percetakan pada ―CV.ABC‖ di
Jakarta. Dan tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi proses dan pengujian
kepercayaan konsumen yang terdapat pada UKM yang bergerak dibidang percetakan
pada‖CV.ABC‖.
Dalam pengumpulan data menggunakan teknik wawancara in depth semi
terstuktur, dalam hal ini responden diberikan kebebasan dalam memberikan jawaban
dengan teknik panduan pertanyaan yang sama untuk tiap unit analisis. Untuk
selanjutnya dibuatkan dalam bentuk transkip permbicaraan dan dianalisis dengan
mengacu pada variabel operasional guna memetakan jawaban dari setiap responden dan
menemukan model yang menggambarkan bagaimana kepercayaan dari masing-masing
unit analisis terbentuk.

KAJIAN PUSTAKA
Kepercayaan-Loyalitas
Kepercayaan konsumen menurut Mowen (2002:312) adalah semua pengetahuan
yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat konsumen tentang
objek, atribut, dan manfaatnya. Kepercayaan ini tidak begitu saja dapat diakui oleh
pihak lain maupun mitra bisnis, melainkan harus dibangun mulai dari awal dan harus
dapat dibuktikan. Sedangkan pengertian loyalitas menurut Kotler (2009:138) merupakan
komitmen yang dipegang secara mendalam untuk membeli atau mendukung kembali
produk atau jasa yang disukai di masa depan walaupun pengaruh situasi dan usaha
pemasaran berpotensi menyebabkan pelanggan beralih.
Dalam hal ini dapat diartikan bahwa pelanggan yang loyal tidak diukur dari
berapa banyak dia memesan, tetapi dari berapa sering ia melakukan pemesanan ulang,
termasuk disini merekomendasikan orang lain untuk memesannya. Bila seseorang
merupakan konsumen loyal, ia menunjukkan perilaku pemesanan yang didefinisikan
sebagai pemesanan teratur yang dilakukan dari waktu ke waktu oleh beberapa unit
pengambilan keputusan. Loyalitas menunjukkan kondisi dari durasi waktu tertentu dan
mensyaratkan bahwa tindakan pemesanan terjadi tidak kurang dari dua kali.
Kepercayaan dianggap sebagai cara yang paling penting untuk membangun dan
memelihara hubungan dengan konsumen/pelanggan dalam jangka panjang. Semakin

35
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

tinggi tingkat kepercayaan yang diberikan kepada pelanggan, maka semakin tinggi pula
tingkat loyalitasnya, dengan demikian antara kepercayaan dan loyalitas memiliki kaitan
sebagai tampak dalam gambar sebagai berikut:

Kepercayaan Sikap terhadap Niat untuk Prilaku


produk Menjadi loyal
loyal

Gambar 1: Hubungan kepercayaan dengan loyalitas


Sumber: Sigh and Sirdeshmukh(2000)

Dari gambar tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan faktor utama


dalam membentuk komitmen dan loyalitas maka proses pembentukannya merupakan
hal yang penting untuk diketahui. Pada dasarnya pembentukan kepercayaan seorang
konsumen sudah dimulai sebelum menerima jasa dimana kadar tingkat kepercayaan
pada fase ini sangatlah kecil. Tinggi rendahnya kepercayaan setelah menerima jasa akan
mempengaruhi tinggi rendahnya loyalitas (Gambar.2)

Kepercayaan Kepercayaan
Sebelum Kepuasan/ Sesudah Loyalitas
menerima tidak kepuasan menerima
layanan layanan

Gambar 2: Model dasar proses pembentukan kepercayaan


Sumber: Sigh and Sirdeshmukh(2000)

Pembentukan kepercayaan konsumen dalam penelitian ini dielaborasi


berdasarkan beberapa litelatur yang mengungkapkan tentang konsep kepercayaan
berupa model yang menggambarkan perubahan sikap mental seorang konsumen dari
semula tidak mengenal hingga akhirnya menjadi percaya pada sebuah perusahaan,
aktivitas yang mengubah sikap mental, faktor-faktor yang dipertimbangkannya maupun
sumber informasi mengenai faktor-faktor tersebut yang digunakan oleh seorang
konsumen dalam suatu model.

Percetakan Digital
Percetakan digital umumnya digunakan untuk pencetakan dalam volume jumlah
sedikit dengan memerlukan penyelesaian waktu yang sangat cepat daripada
menggunakan cara offset. Dalam percetakan digital tidak memerlukan film dan pelat
cetak (almunium Plate) seperti dalam cetak offset. Dalam cetak offset kedua jenis
tersebut akan dimanfaatkan sebagai media transfer document yang hendak dicetak ke
permukaan media kertas, plastik, dan lain-lain. Satu pelat mewakili satu bidang
dokumen satu warna dan jenis, semakin banyak jenis dokumen dan warna yang
digunakan, jumlah biaya yang harus dibayarpun semakin besar. Selain pelat, harga
percetakan offset juga ditentukan oleh jenis kertas, paduan warna, ukuran kertas dan
kualitas warna. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan dalam tabel dibawah ini.

36
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabe1.1: Varian cetak digital

Cetak digital
Karakteristik
Tinta cair Tinta toner Tinta pasta
Luntur jika terkena luntur Tidak Tidak
air
Ukuran kertas Semua ukuran Maksimal A3 Maksimal A3
Karakteristik Hanya kertas yg Menyebabkan Kurang maksimal
lainnya memiliki daya adanya ketebalan untuk desain
serap tinggi tertentu dari hasil dengan warna
cetak abu-abu

Tabe1.2: Perbedaan cetak offset dengan cetak digital


Karaktristik Cetak Offset Cetak Digital
Jenis tinta Pasta Serbuk cair, pasta
Waktu setup Ada waktu setup Tidak ada waktu
Ketajaman warna Lebih halus dan Tergantung jenis tinta dan
tahan lama kertas dan tidak tahan lama
Tergantung jenis tinta dan
Brightness Relatif
kertas

PEMBAHASAN
―CV.ABC‖ merupakan salah satu UKM yang bergerak dalam usaha percetakan
digital maupun offset yang berada didaerah Jakarta. Dalam susunan organisasi
―CV.ABC‖ memiliki beberapa 3 devisi yaitu devisi percetakan/ devisi percetakan digital
(divisi X), divisi yang menyediakan jasa percetakan offset (Divisi Y) dan divisi yang
menyediakan jasa percetakan undangan berikut perlengkapannya (divisi Z). Guna
keperluan produksinya ―CV.ABC‖ menggunakan mesin cetak digital yaitu HP indigo
Press 1050 yang memiliki kemampuan mencetak perjam sebanyak 1500 lembar full
color A3 dan hanya 1(satu) lembar dalam mencetak poster, album foto, katalok produk.
Oleh karenanya agak sangat baik mesin digital tersebut untuk order-order pemesanan
dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan dengan menggunakan offset.
Untuk operasionalisasi dilakukan terhadap fase kepercayaan itu sendiri dalam 4
bentuk yakni:
1. Harapan,yakni pernyataan mengenai harapan yang dapat diperoleh berupa kualitas,
harga dan hal-hal yang dianggap penting oleh konsumen. Pada fase ini masih
terdapat konsumen yang meragukan akan kemampuan salah satu divisi dalam
―CV.ABC‖
2. Keyakinan, diidentifikasikan dalam permasalahan ini dengan hilangnya keraguan dan
keinginan konsumen untuk mencetak. Diprediksi, keraguan yang terjadi pada
beberapa konsumen pada ―CV.ABC‖ dikarenakan pertimbangan waktu, karena
memang ―CV.ABC‖ tidak melayani delivery order.
3. Tindakan dan loyalitas, yakni suatu aksi konsumen kepada salah satu devisi sebagai
bukti kepercayaan dan menyerahkan pekerjaan percetakan kepada salah satu devfisi
ataupun semua devisi hingga akhirnya terbentuk suatu hubungan khusus antara
konsumen dengan penyedia jasa.
Dari hasil random in dept interview dari 30 konsumen diberbagai tempat
percetakan digital di Jakarta, diperoleh informasi bahwa sektor percetakan digital di

37
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Jakarta ditandai dengan perpindahan konsumen yang tinggi, yaitu perpindahan


konsumen dari perusahaan ke perusahaan lainnya. Namum demikian dari hasil random
in dept interview/ studi eksploratif juga ditemukan bahwa peluang untuk membuat
seorang konsumen menjadi loyal cukup terbuka lebar karena alasan utama seorang
konsumen melakukan perpindahan adalah karena keinginan menemukan tempat
percetakan digital yang paling sesuai bagi dirinya

. Tabel.3. Pengetahuan responden tentang mesin pada CV.ABC

Responde Jenis Usaha Mesin cetak HP Indego dan


n sejenisnya
1 Perusahaan 3 tahun Mengetahui kualitas mesin
percetakan berdasarkan pengalaman
2 Perusahaan 2 tahun Tahu kecepatan hasil akhir dari mesin
percetakan tersebut
3 Desainer 6 tahun Tahu kegunaannya
Grafis
4 Perusahaan 1.5 Dapat membedakan hasil cetak
percetakan dan tahun dibandingkan dengan offset
deain grafis
5 Perusahaan 11 Tahu kelemahan maupun kelebihan
percetakan dan bulan mesin tersebut
grafis
6 Desain grafis 1 tahun Tahu kecepatan hasil akhir
dan Perantara
7 Desain grafis 6 bulan Tahu kualitas mesin dari pameran
dan perantara
8 Desain grafis 5 bukan Mengerti sedikit tentang mesin
dan perantara tersebut
9 Perantara 1 tahun Tahu membedakan hasil cetakan
10 Perantara 5 bulan Suka dalam cetakan warna abu-abu
11 Penerbit 3tahun Tahu kelebihan maupun kekurangan
12 Penerbit 1 tahun Puas akan hasil mesin tersebut
13 Karyawan 2 tahun Pernah bekerja diperusahan percetakan
swasta lain
14 Karyawan 1 tahun Tahu hasil dengan menggunakan
swasta mesin tersebut
15 Karyawan 1 tahun Kemampuan mesin menyamai cetak
swasta offset
16 Perusahaan 6 bulan Tidak tahu
percetakan
17 Guru gambar 4 bulan Tidak tahu
18 Perantara 1 tahun Tidak tahu
19 Perantara 7 bulan Tidak tahu
20 Penerbit 9tahun Tidak tahu
21 Karyawan 1 tahun Tidak tahu
swasta
22 Karyawan 8 bulan Tidak tahu

38
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

swasta

Tabel.4: Proses perpindahan informasi

Responden Informasi dari Responden Informasi


dari
1 Divisi X,Y dan Z serta dari pengalaman 16 Teman
2 Divisi X,Y dan Z 17 Divisi Z
3 Divisi Y dan Z 18 Divsi X,Y,Z
4 Divisi X dan divisi Y 19 Keluarga
5 Divisi Y 20 Divisi Y
6 Divisi Y dan Z 21 Brosur
7 Divisi Y dan Z 22 Kolegan
8 Teman dan keluarga
9 Divisi, X,Y dan Z serta teman
10 Pameran
11 Divisi X dan divisi Z
12 Divisi X dan divisi Z
13 Teman sejawat
14 Famili yang bekerja di CV.ABC
15 Divisi Y

Dari tabel diatas tingkat kepercayaan konsumen akan hasil output yang diberikan
―CV.ABC‖ memiliki sikap cukup positif yakni diatas 68% atau 15 responden yang
secara umum tahu dan mengerti bagaimana cara kerja mesin cetak HP indego dan
sejenisnya, sementara 32 % atau sebanyak 7 responden hanya mengetahui output yang
dihasilkan oleh CV. ABC bersama divisi-divisinya tanpa mengetahui bahwa semuanya
merupakan hasil dari mesin cetak HP indego dan sejenisnya.
Namum demikian secara keseluruhan 22 responden tersebut masih loyal dan
kondisi tersebut dapat dipahami melalui runtuntan pemesanan dan dapat dilihat dari
lamanya pengalaman dengan ―CV.ABC‖. Konsumen menyadari adanya kebutuhan dan
untuk selanjutnya melakukan proses pencarian informasi (tabel 3), melakukan evaluasi
alternatif berdasarkan informasi yang sudah konsumen miliki dan kemudian
memutuskannya. Semua proses runtutan tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor yakni
proses psikologis, faktor lingkungan dan perbedaan individu
Dari hasil wawancara dengan 22 responden yang loyal, tigkat prosentase atas
penilaian ―CV.ABC‖ adalah sebagai berikut:
1. 70% responden menyatakan bahwa mereka tidak hanya menerima brosur ataupun
price list tapi juga memperoleh pendekatan yang cukup ramah dan personal.
2. 75% responden menyatakan bahwa mereka tidak dibohongi yakni tidak hanya
sekedar tip service yang didapat/ dijajikan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi.
3. 90 % responden yang puas dan yakin atas produk dan jasa yang ditawarkan dan
bahkan mereka mendapat jaminan dengan memperoleh nomor telpon ataupun akses
email apabila akan komplain.

SIMPULAN
Pada akhirnya ―CV ABC‖ harus tetap berupaya untuk mempertahankan konsumen
sesuai pendapat dari Gaspersz (2005:142) yaitu andal, terpercaya, memikat dan
bertanggungjawab. Namum demikian kuncinya adalah tetap pada kepercayaan, apabila
konsumen/pelanggan telah sangat percaya pada mutu suatu produk atau jasa dan tidak
39
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ragu untuk menggunakannya bahkan ada suatu kebanggaan dalam menggunakan produk
dan jasa tersebut. Dalam permasalahan diatas, cukup besar responden percaya dengan
cara kerja ―CV. ABC‖ bersama para devisinya dalam upaya mempertahankan tingkat
kepercayaan akan hasil percetakan dengan menggunakan mesin cetak HP Indego.
Dalam penelitian ini ditemukan faktor yang memiliki pengaruh kuat terhadap
kepercayaan konsumen yakni proses psikologis, perbedaan pribadi dan faktor
lingkungan.
Guna menarik minat konsumen akan output yang dihasilkan CV. ABC, sebaiknya
CV ABC juga meningkatkan dalam hal promosi, hal ini mutlak diperlukan bagi suatu
perusahaan bila ingin bersaing menarik pelanggan, mengingat bisnis ini tidak pernah
sepi.

DAFTAR PUSTAKA
Bramson, Dr Rabert. (2005), Customer Loyality, Jakarta- Prestasi Pusaka.

Cravens, D.W. and Piercy, N.F. (2006), Strategic Marketing, 8th Edition, McGraw-Hill,
New York

Griffin, Jill. 2003. Customer loyalty: Menumbuhkan dan Mempertahankan Kesetiaan


Pelanggan. Erlangga: Jakarta

Kotler Philip. 2009. Manajemen Pemasaran. Edisi Milenium. Jakarta: Prenhallindo.

Mentzer, T.J. and Min, S. (2000), "The nature of interfirm partnering in supply chain
management", Journal of Retailing, Vol. 76, No. 4.

Mowen. John C dan Michael Minor. 2002. Perilaku Konsumen. Jilid satu, Jakarta:
Penerbit Erlangga.

Peter,J.Paul and Jerry C.Olson. 2000. Consumer Behavior, Perilaku Konsumen dan
Strategi pemasaran. Diterjemahkan oleh Damos Sihombing dan Peter Remy. Jakarta:
Erlangga.

Ranchhod, A. (2004), Marketing Strategies: ATwentyfirst Century Approach, Prentice


Hall.

Spector, M.D. and Jones, G.W. (2004), "Trust in the workplace: Factors affecting frust
formation between team members", The Journal of Social Psychology, Vol. 144, No.3.

Walker, O.C., Mullins, J.W. and Boyd, H.W. (2006), Marketing Strategy: A Decision-
Focused Approach, 5th Edition, McGraw-Hill

http://amarhamdani.blogspot.com/2014/12/memulai-bisnis-dengan-modal-kecil-
dan.html

40
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PENGARUH KOMPENSASI TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN:


STUDI KASUS PADA PT BPR MKS BANDUNG

Arif Yusuf Hamali


Eka Sari Budihastuti

Politeknik PIKSI GANESHA Bandung


Jl. Jend. Gatot Subroto No. 301Bandung 40274

arifyusufhamali@yahoo.co.id
budihas20mei@yahoo.com

ABSTRACT

This research was conducted at PT BPR MKS Bandung, was aimed to determine how
Compensation and job satisfaction, and also to know the influence of Compensation to
Job Satisfaction at PT BPR MKS Bandung. Respondents of this research are 50, with
census sampling techniques. The method used is descriptive and associative method,
which test the connection using Spearman rank correlation analysis, and also done to
determine the accuracy of measurement of validity and reliability test. The results of
validity and reliability test of variables X and Y are valid and reliable. Calculations
were performed using SPSS software ver. 19.The results of this study showed
compensation is in the category of enough good and Job Satisfaction is in the category
of good, based on criteria of value standard. The results showed the influence of
Compensation to Job Satisfaction at PT BPR MKS Bandung, with a correlation
coefficient = 0.576, based on the criteria Champion, this relationship is in the criteria
fairly strong relationship. The results of this calculation showed the coefficient of
determination = 33.18%, it showed that the hypothesis is proved, there is an influence
of Compensation to job satisfaction at PT BPR MKS Bandung.

Keywords: Compensation; Job Satisfaction.

PENDAHULUAN
Setiap anggota dari suatu organisasi mempunyai kepentingan dan tujuan sendiri
ketika seseorang bergabung pada organisasi tersebut. Bagi sebagian pegawai, harapan
untuk mendapatkan uang adalah satu-satunya alasan untuk bekerja, namun yang lain
berpendapat bahwa uang hanyalah salah satu dari banyaknya kebutuhan yang terpenuhi
melalui kerja. Seseorang yang bekerja akan merasa lebih dihargai oleh masyarakat di
sekitarnya, dibandingkan yang tidak bekerja. Untuk mencapai keselarasan tujuan,
pimpinan organisasi bisa memberikan perhatian dengan memberikan kompensasi,
karena kompensasi merupakan bagian dari hubungan timbal balik antara organisasi
dengan sumber daya manusia.
Kompensasi adalah penghargaan atau ganjaran kepada para pekerja yang telah
memberikan kontribusi dalam mewujudkan tujuannya, melalui kegiatan yang disebut
bekerja. Kompensasi juga merupakan penghargaan yang diberikan pegawai, baik
langsung maupun tidak langsung, finansial ataupun non-finansial yang adil kepada

41
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

pegawai atas sumbangan mereka dalam mencapai tujuan organisasi, sehingga


pemberian kompensasi sangat dibutuhkan oleh perusahaan manapun guna
meningkatkan kinerja pegawainya. Adapun bentuk kompensasi finansial adalah gaji,
tunjangan, bonus, dan komisi. Wujud dari kompensasi non-finansial adalah pelatihan,
wewenang dan tanggung jawab, penghargaan atas kinerja serta lingkungan kerja yang
mendukung.
Kepuasan kerja pegawai dapat dilihat bahwa pekerjaan tidak hanya sekedar
melakukan pekerjaan, tetapi terkait juga dengan aspek lain seperti melakukan interaksi
dengan teman sekerja, atasan, mengikuti aturan-aturan dan lingkungan kerja tertentu
yang seringkali tidak memadai atau kurang disukai.
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual, setiap
individu memiliki tingkat kepuasan kerja berbeda-beda sesuai dengan keinginan dan
sistem nilai yang dianutnya. Semakin banyak aspek dalam pekerjaannya yang sesuai
dengan keinginan dan sistem nilai yang dianut oleh individu, maka semakin tinggi
tingkat kepuasan yang didapat. Demikian pula sebaliknya, semakin banyak aspek
dalam pekerjaannya yang tidak sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianut
oleh individu, maka semakin rendah tingkat kepuasan yang didapat. Kepuasan kerja
adalah keadaan emosional yang menyenangkan dan mencerminkan perasaan seseorang
terhadap pekerjaannya yang dapat terlihat dari sikap pegawai terhadap pekerjaannya dan
segala sesuatu di lingkungan pekerjaannya.
Penelitian-penelitian terdahulu menyatakan bahwa pembayaran kompensasi,
tinggi rendahnya tingkat kompensasi dan kebijaksanaan atas jabatan tertentu berkorelasi
positif terhadap kepuasan kerja (Dubinsky, dkk, 1993). Faktor-faktor utama yang
mempengaruhi kepuasan kerja adalah kompensasi kompetitif, job security, kesempatan
bagi pengembangan, usaha tim dan pengakuan (Krepela, 1993; dan Yusriyati, 2001).
Aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu upah, pekerjaan, promosi,
penyelia, rekan kerja, pengawasan, materi pekerjaan, dan kondisi kerja yang
mendukung (Wexley dan Yukl, 1992; Gibson, dkk, 1996; Robbins, 1996). Faktor-
faktor lain yang juga mempengaruhi kepuasan kerja karyawan dalam organisasi adalah
pimpinan yang memiliki komitmen organisasional yang tinggi yang akan berdampak
pada kepuasan karyawan terhadap pekerjaannya sehingga absensinya menurun, kinerja
karyawan meningkat dan karyawan akan tetap bertahan dalam organisasi (Judge &
Watanabe, 1993; Sopiah, 2008).
Kompensasi finansial dan kompensasi non finansial secara bersama-sama
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja (Panudju, 2003). Faktor
dari variabel kompensasi yang paling mempengaruhi kepuasan kerja adalah komponen
tunjangan yang berbeda dari gaji bulanan. Hubungan kompensasi yang diterima
karyawan dan iklim organisasi secara bersama-sama menunjukkan hubungan yang
sangat kuat dan positif terhadap kepuasan kerja. Upaya menciptakan kompensasi dan
proses balas jasa yang baik terhadap karyawan lebih mendorong kepuasan kerja
karyawan dibandingkan dengan menciptakan iklim organisasi yang baik (Sari, 2009).
Kompensasi finansial juga berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja dan motivasi
kerja karyawan, artinya semakin baik persepsi karyawan terhadap kompensasi finansial
akan menyebabkan tingginya kepuasan kerja dan motivasi kerja (Haritsyah, 2013).
PT BPR (Bank Perkreditan Rakyat) MKS Bandung adalah salah satu bank
perkreditan di kota Bandung yang memiliki visi menjadi mitra bisnis utama Usaha
Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan misinya adalah menjadi BPR yang sesuai
dengan fungsi sebagai lembaga intermediasi UMKM. Perusahaan yang telah eksis dan
berkembang di bidang jasa perbankan ini memiliki pelanggan yang tersebar di wilayah
kota Bandung dan sekitarnya, selain berupaya berupaya memberikan pelayanan terbaik

42
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

kepada para pelanggannya, juga berupaya memberikan kepuasan kerja kepada


karyawannya dengan memberikan kompensasi yang memadai. Fenomena tentang
manajemen kompensasi yang terjadi di perusahaan adalah pemberian kompensasi
finansial maupun non finasial dianggap masih belum memadai bagi karyawan.
Fenomena ini dapat dilihat pada tabel 1 berdasarkan survey awal hasil pendapat 25
orang karyawan PT BPR MKS Bandung.

Tabel 1
Fenomena Pemberian Kompensasi berdasarkan Survei Awal Pendapat 25 Orang
Karyawan

No. Indikator Kompensasi Memadai Belum Memadai


1. Gaji Bulanan -- 25 orang
2. Komisi -- 25 orang
3. Bonus -- 25 orang
4. Peluang Promosi Jabatan -- 25 orang
5. Penghargaan Prestasi -- 25 orang
Sumber: Survei Awal di PT BPR MKS Bandung, 2013.

Data yang disajikan pada tabel 1 di atas menunjukkan bahwa pemberian


kompensasi finansial maupun non finansial pada PT BPR MKS Bandung dianggap
belum memadai bagi karyawan. pemberian kompensasi finansial berupa gaji bulanan,
komisi penjualan, dan bonus dianggap tidak sesuai dengan beban kerja yang diemban
karyawan dan kompensasi finansial tersebut belum cukup memenuhi kebutuhan hidup
karyawan dan keluarganya. Pemberian kompensasi non finansial berupa asuransi
kesehatan dan penghargaan prestasi kerja juga dianggap belum diterapkan sebagai
kebijakan yang menjamin kesejahteraan karyawan dan keluarganya.
Fenomena kepuasan kerja yang ditemui pada PT BPR MKS Bandung disajikan
pada tabel 2 berikut berdasarkan survey awal pendapat 25 orang karyawan.

Tabel 2
Fenomena Kepuasan Kerja berdasarkan Survei Awal Pendapat 25 Orang
Karyawan

No. Indikator Kepuasan Kerja Memuaskan Belum


Memuaskan
1. Peluang kenaikan jabatan -- 25
2. Jumlah gaji yang diterima -- 25
3. Hubungan kerja dengan pimpinan -- 25
4. Hubungan kerja dengan sesama -- 25
bawahan
5. Beban kerja -- 25
Sumber: Survei Awal di PT BPR MKS Bandung, 2013

Data yang ditunjukkan pada tabel 2 di atas, menunjukkan bahwa karyawan


merasa tidak puas terhadap peluang kesempatan untuk maju berupa kenaikan jabatan,
jumlah gaji yang diterima belum sesuai dengan tugas pekerjaan yang dijalankan,
hubungan kerja dengan pimpinan, hubungan kerja dengan sesama bawahan, dan beban
kerja yang berlebihan dan tidak sesuai dengan deskripsi kerja yang ditetapkan.

43
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Perumusan Masalah
Berdasarkan paparan dan data-data di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini yaitu bagaimana kompensasi dan
kepuasan kerja karyawan pada PT BPR MKS Bandung, dan bagaimana pengaruh
kompensasi terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT BPR MKS Bandung.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kompensasi dan kepuasan
kerja karyawan pada PT BPR MKS Bandung dan untuk mengetahui apakah ada
pengaruh kompensasi terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT BPR MKS Bandung
secara positif dan signifikan.

KAJIAN PUSTAKA
Kompensasi
Istilah kompensasi merujuk pada pemahaman terhadap manajemen imbalan
(reward management) dan sistem imbalan (reward system). Manajemen imbalan adalah
manajemen yang berkenaan dengan strategi-strategi, kebijakan-kebijakan, dan proses-
proses yang diperlukan untuk meyakinkan bahwa nilai dan kontribusi diberikan oleh
anggota organisasi dalam mencapai tujuan organisasi, departemental dan tim diakui dan
diberikan imbalan (Armstrong, 2010: 266-270). Sistem imbalan adalah proses-proses
dan praktek-praktek yang saling berhubungan dan berkombinasi, untuk meyakinkan
bahwa manajemen imbalan diterapkan secara efektif demi keuntungan organisasi dan
orang-orang yang bekerja di dalamnya. Komponen-komponen sistem imbalan terdiri
dari: a) imbalan stratejik; b) imbalan menyeluruh; c) imbalan finansial dan non
finansial; d) penilaian pekerjaan melalui evaluasi kerja dan harga pasar; e) struktur
peringkat dan pembayaran; f) kemajuan pembayaran melalui skema pembayaran
bergantung yang berhubungan dengan jasa; g) skema-skema pengakuan; dan h)
tunjangan karyawan dan pension. Kerangka kerja manajemen imbalan menurut
Armstrong disajikan dalam bagan 1.
Pengertian kompensasi menurut Veithzal Rivai (2005: 357) adalah setiap bentuk
imbalan yang diterima individu sebagai akibat dari kinerja tugas-tugas organisasional.
Kompensasi juga merupakan sesuatu yang diterima karyawan sebagai pengganti
kontribusi jasa karyawan kepada perusahaan. Kompensasi yang dikelola dengan baik
akan membantu perusahaan untuk mencapai tujuan dan memperoleh, memelihara, serta
menjaga karyawan dengan baik. Pembayaran kompensasi yang tidak cukup, akan
membuat karyawan untuk meninggalkan perusahaan dan untuk melakukan penempatan
kembali tidaklah mudah.
Dampak dari ketidakpuasan karyawan terhadap pembayaran kompensasi yang
dirasa kurang memadai, akan menurunkan kinerja, meningkatkan keluhan-keluhan,
mogok kerja, dan mengarah pada tindakan-tindakan fisik dan psikologis, seperti
meningkatnya derajat ketidakhadiran dan perputaran karyawan, yang pada gilirannya
akan menurunkan kesehatan jiwa karyawan yang semakin parah. Pembayaran
kompensasi yang berlebih, juga akan menyebabkan perusahaan dan individu berkurang
daya kompetisinya dan menimbulkan kegelisahan, perasaan bersalah, dan suasana yang
tidak nyaman di kalangan karyawan.
Dimensi kompensasi menurut Veithzal Rivai (2005: 357) terdiri dari:
1) Kompensasi finansial, terdiri dari dua, yaitu kompensasi langsung dan tidak
langsung. Yang dimaksud dengan kompensasi langsung adalah pembayaran
karyawan dalam bentuk upah, gaji, bonus, atau komisi. Kompensasi tidak langsung

44
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

(benefit) adalah semua pembayaran yang tidak tercakup dalam kompensasi finansial
seperti liburan, berbagai macam asuransi, jasa (perawatan anak, kepedulian
keagamaan).
2) Kompensasi non finansial. Yang dimaksud kompensasi non finansial seperti pujian,
menghargai diri sendiri, pengakuan yang dapat mempengaruhi motivasi kerja
karyawan, produktivitas dan kepuasan.
Dimensi kompensasi yang diteliti dalam penelitian ini adalah kompensasi
finansial dan kompensasi non finansial. Kompensasi finansial yang terdiri dari gaji,
komisi, bonus, asuransi kesehatan, dan lembur, sedangkan kompensasi non finansial
terdiri dari pelatihan manajerial, fasilitas dinas, peluang promosi jabatan, penghargaan
prestasi, dan rekreasi keluarga.

Bagan 1. Kerangka Kerja Manajemen Imbalan (The Reward Management


Framework)
Sumber: Michael Armstrong, 2010: 269

45
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Kepuasan Kerja
Istilah kepuasan kerja (job satisfaction) berhubungan dengan sikap-sikap dan
perasaan yang dimiliki oleh seseorang yang berkenaan dengan pekerjaannya. Sikap-
sikap positif dan menyenangkan terhadap suatu pekerjaan menunjukkan kepuasan kerja,
sedangkan sikap-skapi negatif dan tidak menyenangkan terhadap suatu pekerjaan
menunjukkan ketidakpuasan kerja (Armstrong, 2006: 264). Kepuasan kerja dipengaruhi
oleh faktor-faktor motivasi intrinsic dan ekstrinsik, kualitas pengawasan, hubungan
sosial dengan kelompok kerja dan derajat keberhasilan atau kegagalan individu di dalam
melaksanakan pekerjaannya. Purcel, dkk (2003) dalam Armstrong (2006: 264)
menyatakan bahwa karyawan yang dimotivasi dengan baik dan memiliki komitmen
terhadap organisasi maka karyawan tersebut akan memberikan tingkat kepuasan yang
tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja berdasarkan penelitian
Purcell, dkk, terdiri dari peluang-peluang karir, pengaruh pekerjaan, kerja tim, dan
tantangan kerja.
Kepuasan kerja memfokuskan pada sikap karyawan terhadap pekerjaannya, yang
memiliki tiga dimensi penting yaitu: a) kepuasan kerja dapat diukur melalui tanggapan
emosional terhadap situasi kerja yang tidak dapat dilihat tetapi hanya dapat diduga; b)
kepuasan kerja berhubungan dengan sesuatu yang sebenarnya didapat oleh seseorang
dan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang untuk mendapatkannya. Jika perbedaan
antara imbalan aktual dan ekspektasi minimum atau tidak berarti, maka seseorang akan
menunjukkan sikap negative terhadap pekerjaannya dan tingkat kepuasan akan rendah;
dan c) kepuasan kerja berhubungan dengan dimensi pekerjaan, yang dapat diekspresikan
dalam muatan pekerjaan, remunerasi, sikap bawahan peluang untuk maju yang
diberikan lewat promosi (Kondalkar, 2007: 89).
Faktor-faktor penting yang menentukan kepuasan kerja karyawan di dalam
organisasi menurut Kondalkar (2007: 90-91) adalah : a) Muatan kerja; b) Kebijakan
pembayaran dan promosi; c) Kondisi kerja yang mendukung; d) Kelompok-kelompok
kerja; e) Supervisi; dan f) Kecocokan kerja pribadi.
Pengertian kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat
individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan
sistem nilai yang berlaku pada dirinya (Veithzal Rivai, 2005: 475). Kepuasan kerja
merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang
atau tidak senang, puas atau tidak puas dalam bekerja. Dimensi-dimensi kepuasan kerja
menurut Veithzal Rivai (2005: 479) terdiri dari: a) supervisi; b) kesempatan untuk maju;
c) gaji; d) rekan kerja; e) kondisi pekerjaan.
Dimensi kepuasan kerja yang diteliti dalam penelitian ini adalah a) kesempatan
untuk maju terdiri dari peluang promosi jabatan, pendidikan dan pelatihan, dinas luar; b)
supervisi terdiri dari pengawasan pimpinan dan penegakan disiplin kerja; c) gaji terdiri
dari waktu pemberian gaji dan jumlah gaji yang diterima; d) rekan kerja terdiri
hubungan dengan pimpinan dan hubungan dengan sesama bawahan; dan e) kondisi
pekerjaan terdiri dari beban kerja dan fasilitas kerja.

Paradigma Penelitian
Berdasarkan uraian-uraian pada kajian literatur tentang variabel kompensasi dan
variabel kepuasan kerja yang diteliti dalam penelitian ini, maka paradigma penelitian
dapat disajikan pada bagan 2.

46
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Kompensasi Finansial (X):


 Gaji
 Komisi
 Bonus
 Asuransi kesehatan
 Lembur
Kepuasan Kerja (Y):
 Kesempatan untuk maju
 Pendidikan
 Keterampilan
Kompensasi Non Finansial (X):  Iklim kerja
 Pelatihan manjerial  Jaminan sosial
 Fasilitas dinas
 Peluang promosi jabatan
 Penghargaan prestasi
 Rekreasi keluarga

Bagan 2. Paradigma Penelitian

Hipotesis
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat dirumuskan penelitian sebagai
berikut:
―Diduga kompensasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap
kepuasan kerja karyawan pada PT BPR MKS Bandung.‖

Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
deskriptif dan penelitian asosiatif. Penelitian deskriptif pada dasarnya merupakan
proses generalisasi hasil penelitian yang didasarkan pada satu sampel, dan variabel
penelitiannya bersifat mandiri, sehingga hipotesis penelitiannya tidak berbentuk
perbandingan ataupun hubungan antar dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2006: 91).
Penelitian asosiatif adalah penelitian yang bertujuan untuk meneliti hubungan antar
variabel dalam populasi, melalui data hubungan variabel dalam sampel, dan pengujian
hipotesisnya adalah menguji koefisiensi korelasi yang ada pada sampel untuk
diberlakukan pada seluruh populasi di mana sampel diambil (Sugiyono, 2006: 209).
Populasi dari penelitian ini adalah karyawan PT BPR MKS Bandung sebanyak
50 orang, karena ukuran populasi yang terjangkau oleh peneliti maka semua anggota
populasi dijadikan sampel. Teknik pengambilan sampelnya adalah sensus atau sampel
jenuh. Teknik sensus atau sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2006: 61).
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan data
sekunder. Data primer adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung
terhadap objek yang diteliti untuk memperoleh jawaban dari responden. Data sekunder
adalah data yang diperoleh dari perusahaan, literatur, dan informasi lain yang dianggap
relevan dan menunjang dengan penelitian ini. Metode yang digunakan dalam
pengumpulan data menggunakan metode kuesioner dengan sistem tertutup, artinya
setiap pertanyaan telah disediakan jawabannya. Kuesioner yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan skala Likert. Skala dibuat dengan gradasi dari sangat tidak
setuju (skor = 1) sampai dengan sangat setuju (skor = 5).

47
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Variabel-variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen (bebas)


dan variabel dependen (terikat). Variabel independen atau variabel X adalah
kompensasi dan variabel dependen atau variabel Y adalah kepuasan kerja.
Data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner selanjutnya dilakukan
pengujian validitas dan reliabilitas. Pengujian validitas menggunakan teknik Korelasi
Pearson Product Moment dan pengujian reliabilitas menggunakan teknik Alpha
Croncbach.
Analisis yang diambil dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis
asosiatif. Analisis deskriptif menggunakan analisis pembobotan, dan untuk mencari
nilai bobot standar dapat dilakukan dengan mencari panjang rentang bobot. Nilai bobot
standar dapat ditentukan dengan mencari panjang rentang bobot kelima klasifikasi, yang
langkahnya adalah sebagai berikut:

(5 x 50) - (1x 50)


R R  40
………… (1) 5

Keterangan : R = Rentang klasifikasi

Pembobotan dibagi ke dalam lima tingkatan berdasarkan pengklasifikasian di


atas, dimulai dari tingkatan terendah ke tingkatan tertinggi dengan panjang rentang di
atas yaitu 40. Klasifikasi nilai bobot standar yang dihasilkan adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Nilai Bobot Standar

Nilai Bobot Kategori


50 – 89 Tidak Baik
90 – 129 Kurang Baik
130 – 169 Cukup
170 – 209 Baik
210 – 250 Sangat Baik
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer 2013

Analisis asosiatif dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh antara variabel


independen dengan variabel dependen, dalam hal ini pengaruh kompensasi (X) terhadap
kepuasan kerja (Y), dengan menggunakan rumus Rank Spearman sebagai berikut:

 6 d i 2 
rs  1   3  (2)
 N  N 

dimana :
di = selisih rangking kedua variabel
N = ukuran populasi

48
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Analisis data pada penelitian ini perhitungannya menggunakan bantuan


Software SPSS versi 19.
Dalam penelitian ini tidak dilakukan uji hipotesis atau uji kebermaknaan
koefisien korelasi karena penelitian bersifat sensus. Langkah selanjutnya adalah
melakukan analisis korelasi untuk melihat pengaruh motivasi terhadap produktivitas
kerja karyawan dengan menggunakan analisis Koefisien Determinasi (KD) dengan
rumus :

KD = r 2 x 100% ………………………………….. (3)

Korelasi atau keeratan hubungan antar variabel bebas maupun variabel terikat
diklasifikasikan oleh Riduwan dan Engkos Achmad Kuncoro (2007: 62) sebagai
berikut:

Tabel 4. Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r


Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,80 – 1,000 Sangat Kuat
0,60 – 0,799 Kuat
0,40 – 0,599 Cukup Kuat
0,20 – 0,399 Rendah
0,00 – 0,199 Sangat Rendah
Sumber: Riduwan dan Engkos Ahmad Kuncoro (2007: 62)

HASIL DAN PEMBAHSAN


Hasil uji validitas dan uji reliabilitas instrument variabel X yaitu kompensasi dan
variabel Y yaitu kepuasan kerja, menyatakan semuanya valid dan reliabel. Kriteria
validasi adalah jika koefisien korelasi dengan taraf signifikansi 5% ( = 5 %) dan nilai r
hitung > 0,3 maka butir dinyatakan valid. Kriteria reliabilitas atau penilaian terhadap
koefisien  - Cronbach yaitu apabila nilainya > 0,7 dikategorikan reliabel. Hasil uji
validitas dan uji reliabilitas disajikan pada tabel-tabel berikut.

Tabel 5. Uji Validitas untuk Variabel Kompensasi


Item
r
Pertanya Keterangan
hitung
an
X1 0,797 Valid
X2 0,707 Valid
X3 0.735 Valid
X4 0,528 Valid
X5 0,623 Valid
X6 0,800 Valid
X7 0,624 Valid
X8 0,640 Valid
X9 0.726 Valid
X10 0,512 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2013

49
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 6. Uji Reliabilitas untuk Variabel Kompensasi


Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.863 10
Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2013

Tabel 7. Uji Validitas untuk Variabel Kepuasan kerja


Item r
Keterangan
Pertanyaan hitung
Y1 0,783 Valid
Y2 0,886 Valid
Y3 0,886 Valid
Y4 0,881 Valid
Y5 0,766 Valid
Y6 0,750 Valid
Y7 0,810 Valid
Y8 0,894 Valid
Y9 0,835 Valid
Y10 0,725 Valid
Y11 0,794 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2013

Tabel 8. Uji Reliabilitas untuk Variabel Kepuasan Kerja


Reliability Statistics
Cronbach's N of
Alpha Items
.949 10
Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2013

Hasil analisis statistik menggunakan program software SPSS versi 19 diperoleh


deskripsi rata-rata pembobotan untuk variabel kompensasi sebagai berikut:

50
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 9. Pendapat Responden tentang Variabel Kompensasi


Penilaian Responden Bobot
No Dimensi Indikator Bobot Rata-
5 4 3 2 1
rata
 Gaji 4 19 7 20 0 157
 Komisi 2
Finansial 2 6 4 18 0 142
 Bonus 2
1 2 11 5 12 0 153 160
 Asuransi kesehatan 2
3 26 0 1 0 181
 Lembur 1
2 22 7 9 0 167
 Pelatihan manajerial 2
5 14 3 8 0 166
 Fasilitas dinas 1
4 19 5 12 0 165
Non  Peluang promosi 1
2 164
Finansial jabatan 4 14 0 22 0 150
 Penghargaan 1
prestasi 4 14 4 18 0 154
 Rekreasi keluarga 1
8 22 6 4 0 184
Rata-rata 162
Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2013

Pada tabel 9 di atas, hasil deskripsi rata-rata pembobotan untuk variabel


kompensasi menunjukkan nilai bobot rata-rata sebesar 162, berdasarkan rentang
klasifikasi dalam katagori cukup baik. Hasil ini dapat disimpulkan bahwa secara
keseluruhan pemberian kompensasi pada PT BPR MKS Bandung adalah cukup baik,
namun dimensi kompensasi finansial memiliki nilai bobot di bawah rata-rata variabel
Kompensasi, yaitu pada indikator gaji sebesar 157, indikator komisi 142, dan indikator
bonus sebesar 153. Dimensi kompensasi non finansial juga memiliki nilai di bawah
rata-rata variabel Kompensasi yaitu pada indikator peluang promosi jabatan sebesar 150
dan indikator penghargaan prestasi sebesar 154.
Pemberian kompensasi finansial berupa gaji, komisi dan bonus dianggap oleh
karyawan belum memadai. Karyawan menganggap bahwa perusahaan belum
memberikan besaran gaji yang sesuai beban pekerjaan. Karyawan yang bekerja dengan
beban kerja dan tanggung jawab yang lebih berat, memperoleh gaji yang sama besarnya
dengan karyawan yang memikul beban kerja dan tanggung jawab yang lebih ringan.
Perusahaan dianggap belum memberikan komisi kepada karyawan yang berhasil
menjual produk perbankan kepada para calon nasabah, sesuai dengan persentase komisi
yang telah dijanjikan. Pemberian bonus dianggap oleh karyawan belum memadai
karena karyawan menginginkan kebijakan pemberian bonus didasarkan pada target-
target kerja yang telah dicapai oleh karyawan, dan tidak hanya diberikan sekali di akhir
tahun.
Pemberian kompensasi finansial yang dianggap belum sesuai dengan harapan
karyawan adalah peluang promosi jabatan dan penghargaan prestasi. Karyawan

51
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

menganggap bahwa peluang untuk menduduki posisi jabatan yang lebih tinggi di
perusahaan sangat kecil karena keterbatasan posisi pada level supervisor ke atas.
Karyawan juga menganggap bahwa perusahaan belum memberikan penghargaan
prestasi kepada karyawan yang telah dinilai baik kinerjanya hasil kegiatan evaluasi
kinerja sebagai implementasi dari pemberian kompensasi non finansial.
Hasil analisis statistik menggunakan program software SPSS versi 19 diperoleh
deskripsi rata-rata pembobotan untuk variabel kepuasan kerja sebagai berikut:

Tabel 10. Pendapat Responden tentang Variabel Kepuasan Kerja


Penilaian Responden Bobo
Bobo t
No Dimensi Indikator
5 4 3 2 1 t Rata-
rata
 Pe luang promosi
jabatan 6 27 14 3 0 186
Kesempatan
1  Pendidikan dan 197
untuk maju
pelatihan 12 32 3 3 0 203
 Dinas luar 12 32 3 3 0 203
 Pengawasan pimpinan 14 24 9 3 0 199
2 Supervisi  Penegakan disiplin 198
kerja 13 24 10 3 0 197
 Waktu pemberian gaji 14 18 15 3 0 193
3 Gaji  Jumlah gaji yang 190
diterima 11 19 15 5 0 186
 Hubungan dengan
pimpinan 7 27 13 3 0 188
4 Rekan Kerja 186
 Hubungan dengan
sesama bawahan 7 23 17 3 0 184
 Beban kerja 7 25 15 3 0 186
Kondisi
Pekerjaan  Fasilitas kerja
5 9 30 8 3 0 195 191

Rata-rata 192
Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2013

Pada tabel 10 di atas, hasil deskripsi rata-rata pembobotan untuk variabel


kepuasan kerja memiliki nilai bobot rata-rata sebesar 192, berdasarkan rentang
klasifikasi dalam katagori baik. Hasil ini dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan
kepuasan kerja karyawan pada PT BPR ―MKS‖ Bandung sudah baik, namun ada
dimensi-dimensi yang memiliki nilai di bawah rata-rata variabel Kepuasan Kerja.
Dimensi-dimensi tersebut adalah kesempatan untuk maju pada indikator peluang
promosi jabatan sebesar 186; dimensi gaji pada indikator jumlah gaji yang diterima
sebesar 186; dimensi rekan kerja pada indikator hubungan dengan pimpinan sebesar 188
dan hubungan dengan sesama bawahan sebesar 184; serta dimensi kondisi pekerjaan
pada indikator beban kerja sebesar 186.
Karyawan merasa tidak puas bekerja di perusahaan karena kesempatan untuk
maju di perusahaan masih terbatas, dalam hal ini peluang karyawan untuk dipromosikan
ke jenjang jabatan yang lebih tinggi belum terealisasi dengan baik. Faktor lain yang
menyebabkan karyawan tidak puas bekerja adalah perhitungan gaji yang diberikan oleh
perusahaan belum memuaskan pegawai. Perhitungan gaji yang diterima oleh pegawai
52
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

tidak seimbang dengan beratnya jenis pekerjaan yang dibebankan kepada pegawai.
Ketidakpuasan kerja karyawan juga disebabkan oleh hubungan kerja dengan pimpinan
yang kurang komunikatif. Karyawan menganggap bahwa pimpinan yang ada tidak
menjalankan peran kepemimpinan dengan baik, yaitu memberikan pengarahan dan
bimbingan kerja kepada bawahannya. Ketidakpuasan juga disebabkan oleh hubungan
kerja dengan sesama bawahan yang belum terjalin dengan baik, karena masing-masing
karyawan lebih mengedepankan prestasi individu daripada menciptakan kerjasama tim.
Faktor terakhir yang menimbulkan ketidakpuasan kerja karyawan adalah kondisi
pekerjaan berupa beban kerja yang terlalu berat dibebankan kepada karyawan dan
terkadang tidak sesuai dengan deskripsi tugas pada jabatan yang diduduki oleh
karyawan.
Pengaruh kompensasi terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT BPR MKS
Bandung dapat diketahui dengan menggunakan analisis korelasi Spearman Rank. Hasil
analisis korelasi dengan menggunakan Software SPSS versi 19, diperoleh nilai r = 0,576
seperti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 11. Analisis Korelasi (Nonparametric Correlations)


Correlations
Motivas Produktivitas
i
Correlation
1.000 .510**
Coefficient
Motivasi
Sig. (2-tailed) . .000
Spearman's N 50 50
rho Correlation
.510** 1.000
Produktivita Coefficient
s Sig. (2-tailed) .000 .
N 50 50
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer 2013
Hasil perhitungan SPSS pada tabel 11 menunjukkan bahwa hasilnya adalah
signifikan pada taraf signifikansi  = 5 % (nilai sig. (2-tailed) = 0,000 lebih kecil dari
5%), artinya terdapat pengaruh kompensasi secara positif dan signifikan terhadap
kepuasan kerja karyawan pada PT BPR ―X‖ Bandung. Penelitian ini tidak dilakukan
Uji Hipotesis Statistik karena sampelnya menggunakan teknik sensus atau sampel
jenuh.
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat hubungan, berdasarkan kriteria pada tabel
4, dengan nilai r = 0,576 maka hubungan ini termasuk dalam kriteria hubungan yang
cukup kuat. Dari hasil r = 0,576 ini selanjutnya untuk menyatakan besarnya
sumbangan variabel X (Kompensasi) terhadap variabel Y (Kepuasan Kerja), ditentukan
dengan rumus Koefisien Determinasi (KD) sebagai berikut:

KD = r2 x 100%
= (0,576)2 x 100% = 33,18%

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, nilai 33,18% artinya pada penelitian ini
Kompensasi memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Kepuasan kerja
sebesar 33,18% sedangkan sisanya sebesar 66,82% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain
yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

53
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

SIMPULAN
Hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
tanggapan responden terhadap penilaian kompensasi menunjukkan nilai bobot rata-rata
sebesar 162, berdasarkan rentang klasifikasi termasuk dalam katagori cukup baik. Hal
ini berarti bahwa secara keseluruhan pemberian kompensasi pada PT BPR MKS
Bandung cukup baik, namun dimensi kompensasi finansial dan non finansial memiliki
nilai bobot di bawah bobot rata-rata variabel Kompensasi, hal ini disebabkan oleh faktor
ketidaksetujuan responden terhadap indikator-indikator gaji, komisi, bonus, peluang
promosi jabatan, dan penghargaan prestasi.
Hasil tanggapan responden terhadap penilaian kepuasan kerja menunjukkan nilai
bobot sebesar 192, berdasarkan rentang klasifikasi termasuk dalam katagori baik. Hal
ini berarti bahwa secara keseluruhan kepuasan kerja karyawan pada PT BPR MKS
Bandung sudah baik, namun dimensi-dimensi kesempatan untuk maju, gaji, rekan kerja,
dan kondisi pekerjaan memiliki nilai bobot di bawah bobot rata-rata variabel Kepuasan
Kerja, hal ini disebabkan oleh faktor ketidaksetujuan responden terhadap indikator-
indikator peluang promosi jabatan, jumlah gaji yang diterima, hubungan dengan
pimpinan, hubungan dengan sesama bawahan, dan beban kerja.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh kompensasi terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT BPR MKS
Bandung secara positif dan signifikan dengan koefisien korelasi r = 0,576. Berdasarkan
kriteria Champion dengan nilai 0,576 maka hubungan ini termasuk ke dalam kriteria
hubungan yang cukup kuat. Berdasarkan koefisien determinan (KD) diperoleh r 2 =
0,3318 artinya pada penelitian ini kompensasi memberikan pengaruh terhadap kepuasan
kerja karyawan sebesar 33,18% sedangkan sisanya 66,82% dipengaruhi oleh faktor-
faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil tersebut membenarkan
hipotesis yang diajukan oleh peneliti yaitu terdapat pengaruh kompensasi terhadap
kepuasan kerja karyawan pada PT BPR MKS Bandung secara positif dan signifikan.

SARAN
Saran-saran yang dapat diberikan kepada manajemen PT BPR MKS Bandung
sebagai upaya perbaikan manajemen dalam pemberian kompensasi finansial dan non
finansial kepada karyawan, serta upaya untuk memberikan kepuasan kerja kepada
karyawan adalah sebagai berikut: a) manajemen perusahaan sebaiknya menyusun
kembali kebijakan penggajian karyawan yang besarannya disesuaikan dengan berat-
ringannya beban dan tanggung jawab kerja yang diberikan kepada karyawan; b)
manajemen perusahaan sebaiknya merealisasikan pemberian komisi kepada karyawan
yang telah berhasil menjual produk perbankan perusahaan sesuai besaran persentase
yang telah dijanjikan; c) manajemen perusahaan juga sebaiknya memberikan bonus
prestasi kerja kepada karyawan berprestasi yang telah berhasil mencapai target kerja
hasil kegiatan evaluasi kinerja selain pemberian bonus di akhir tahun; d) manajemen
perusahaan sebaiknya memberikan solusi alternatif dalam memberikan kesempatan
untuk maju kepada karyawan, apabila program promosi jabatan sebagai peluang bagi
karyawan untuk mengembangkan karirnya di perusahaan masih terbatas; e) Pimpinan
yang ada sebaiknya mengoptimalkan perannya sebagai seorang pemimpin dengan
menciptakan suasana kerja yang kondusif dan hubungan kerja yang harmonis, baik
antara pimpinan dengan bawahan maupun antara sesama bawahan dalam pelaksanaan
tugas-tugas kerja; dan f) manajemen perusahaan sebaiknya menyusun deskripsi kerja
yang jelas dan dapat dipahami oleh karyawan agar tugas-tugas kerja yang dibebankan
kepada karyawan menjadi jelas batasannya.

54
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Saran-saran yang dapat diberikan kepada peneliti yang akan datang adalah
mengingat hasil penelitian menunjukkan Kompensasi memberikan peranan terhadap
Kepuasan Kerja sebesar 33,18% sedangkan sisanya 66,82% dipengaruhi oleh faktor-
faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, maka kepada peneliti yang akan
datang diharapkan dapat melakukan penelitian dengan variabel bebas (X) yang berbeda,
seperti kepemimpinan, iklim organisasi, atau budaya organisasi.
Pengukuran untuk variabel kompensasi dan kepuasan kerja diukur dengan
persepsi responden terhadap kompensasi yang diterimanya dan kepuasan kerjanya
sendiri, sehingga jawaban bisa saja menjadi bias, karena karyawan tersebut cenderung
untuk menilai dirinya sendiri baik. Penelitian mendatang diharapkan pengukuran
variabel kompensasi dan kepuasan kerja dapat menggunakan kuesioner yang tidak
hanya ditujukan kepada responden sebagai karyawan bawahan dan rekan sekerjanya,
tetapi juga kuesioner yang ditujukan kepada pimpinan atau atasan langsung dari
responden yang bersangkutan. Penelitian mendatang juga diharapkan dapat melakukan
pengujian model yang sama pada kelompok sampel yang lebih besar lagi yang masih
berada di bawah unit kerja PT. BPR MKS Bandung.

DAFTAR PUSTAKA

Agung Panudju. (2003). ―Pengaruh Kompensasi dan Karakteristik Pekerjaan terhadap


Kepuasan Kerja Karyawan Unit Produksi PT. X Palembang‖, Jurnal
Manajemen & Bisnis Sriwijaya, Vol. 1, No. 2, Oktober, hlm: 4-17.
Armstrong, Michael. (2006). A Handbook of Human Resource Management Practice.
10th edition. London: Kogan Page Limited.
--------------------------. (2010). Armstrong’s Essential Human Resource Management
Practice: A Guide to People Management. Cetakan pertama. London:
Kogan Page Limited.
Dubinsky, A.J., Masaaki K., Chae Un Lim. (1993). ―Effect of Organizational Fairness
on Japanese Sales Personal‖, Journal of International Marketing, Vol. 1,
No. 4, pp: 5-24.
Elviera Sari. (2009). ―Pengaruh Kompensasi dan Iklim Organisasi terhadap Kepuasan
Kerja‖, Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi,
Vol. 16, No. 1, Januari – April, hlm: 18-24.
Gibson, Ivancevich, & Donnelly. (1996). Organisasi, Perilaku, Struktur – Proses.
Edisi kedelapan. Jakarta: Binarupa Aksara.
Harits Syah. (2013). ―Pengaruh Kompensasi Finansial terhadap Kepuasan Kerja dan
Motivasi Kerja Karyawan pada PT. Graha Raja Empat‖, Jurnal Ilmu
Manajemen, Vol. 1, No. 2, Maret.
Judge, T.A., and Shiniciro Watanabe. (1993). ―Another Look at The Job Satisfaction –
Life Satisfaction‖, Journal of Applied Psychology, Vol. 78, No. 6.
Krepela, Rick. (1993). ―Are your Employees Satisfied?‖, Agency Sales Magazine, Vol.
23.
Kondalkar, V.G. (2007). Organizational Behaviour. New Delhi: New Age International
(P) Limited, Publishers.
Moh. Nazir. (2005). Metode Penelitian. Cetakan keenam. Bogor: Penerbit Ghalia
Indonesia.
Robbins, Stephen P. (1996). Perilaku Organisasi: Konsep – Kontroversi – Aplikasi.
Jilid II. Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Prenhallindo.

55
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Riduwan dan Engkos Achmad Kuncoro. (2007). Cara Menggunakan dan Memaknai
Analisis Jalur (Path Analysis). Cetakan pertama. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2006). Statistika untuk Penelitian. Cetakan kesembilan. Bandung:
Alfabeta.
Sopiah. (2008). Perilaku Organisasional. Edisi kesatu. Yogyakarta: CV. ANDI
OFFSET.
Yusriyati Nur Farida. (2001). Pengaruh Job Insecurity dan Kompensasi terhadap
Kepuasan Kerja. Tesis. Semarang: Program Studi magister Akuntansi
Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.
Veithzal Rivai. (2005). Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan : Dari
Teori Ke Praktik, Jakarta : Penerbit PT. Rajagrafindo Persada.
Wexley, K.N., & Yukl, G.A. (1992). Perilaku Organisasi dan Psikologi Perusahaan.
Terjemahan Shobarudin. Jakarta: Rineka Cipta.

56
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)


PADA USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM)
DI INDONESIA

Asril Basry1
Essy Malays Sari2

1) Sistem Informasi, Fakulta s Teknik U PI YAI, Jakart a


2) Teknik Informatika Fakultas Teknik UPI YAI Jakarta
Jl Salemba Raya 7/9 Jakarta Pusat
Email : basrya@hotmail.com1),
malays@yahoo.com2

ABSTRAK

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok pelaku ekonomi
terbesar dalam perekonomian Indonesia serta bisa dikatakan sebagai sumber
utama pendapatan Negara, bisa menciptakan banyak entrepreneur atau wiraswasta
dan membuka banyak kesempatan kerja dimana dapat menjadi sektor usaha yang
paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional. Dalam usaha
meningkatkan produktifitas dan efisiensi dari UMKM maka dapat memanfaatkan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK ) secara efektif memberikan pengaruh
langsung kepada UMKM. Pengaruh positif pada UMKM dapat menikmati berbagai
keuntungan dari penggunaan TIK. Dimana UMKM dapat melakukan komunikasi
secara cepat, meningkatkan produktifitas, membangun peluang bisnis baru, dan
mereka juga dapat terhubung ke jaringan global dengan jangkauan secara
internasional. Implementasi dari TIK bisa dilakukan dengan menggunakan websites
dan e-mail untuk meningkatkan kualitas layanan dan memperbanyak jaringan
pelanggan. TIK juga dapat membantu UMKM dalam penghematan pengeluaran biaya
operasional. Adapun pemanfaatan penggunakan TIK pada UMKM di Indonesia saat
ini sudah didukung oleh ketersediaan infrastruktur seperti koneksi internet, jaringan
telekomunikasi, harga yang kompetitif diantara operator dan internet provider serta
keamanan dalam penggunaan TIK dimana tidak hanya menyangkut pengamanan
secara fisik, tetapi juga pengamanan non fisik seperti lalu-lintas atau transaksi
melalui jaringan komunikasi. Menghadapi mekanisme pasar yang makin terbuka
dan kompetitif, penguasaan pasar merupakan prasyarat untuk meningkatkan daya
saing dimana salah satu yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan penggunaan TIK
pada Usaha Mikro , Kecil dan Menenah ( UMKM ).

Kata kunci: UMKM, Persaingan Bisnis ,TIK, Infrastruktur.

PENDAHULUAN
Teknologi informasi dan komputer merupakan bentuk teknologi yang digunakan
untuk menciptakan, menyimpan, mengubah, dan menggunakan informasi dalam segala
bentuknya. Melalui pemanfaatan teknologi informasi ini, perusahaan mikro, kecil

57
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

maupun menengah dapat memasuki pasar global. Bnyak perusahaan yang awalnya
kecil menggunakan teknologi informasi saat ini menjadi perusahaan raksasa hanya
dalam waktu singkat karena memanfaatkan teknologi informasi dalam mengembangkan
usahanya teknologi informasi dalam menjalankan bisnis atau sering dikenal dengan
istilah e- commerce bagi perusahaan kecil dapat memberikan fleksibilitas dalam
produksi, memungkinkan pengiriman ke pelanggan secara lebih cepat untuk produk
perangkat lunak, mengirimkan dan menerima penawaran secara cepat dan hemat, serta
mendukung transaksi cepat tanpa kertas. Pemanfaatan TIK dalam hal ini internet
memungkinkan UMKM melakukan pemasaran dengan tujuan pasar global, sehingga
peluang menembus ekspor sangat mungkin. Menurut Internet World States, pada
tahun 2010 pemakai internet dunia mencapai angka 1.245.268.000 pengguna dimana di
Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang. Jumlah pemakai terbesar di Tiongkok
dan Amerika Serikat, yaitu mencapai 61,3% dari jumlah penduduknya. Penggunaan
Komputer dalam bidang pemasaran dan penjualan dalam beberapa tahun terakhir
berkembang dengan pesatnya.
Pemanfaatan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, juga
banyak diupayakan untuk meningkatkan daya saing UMKM dengan menekankan
pada pengelolaan informasi sisi hilir (konsumen/pasar), yang disinyalir menjadi salah
satu faktor penyebab lemahnya daya saing UMKM, dan juga pada sisi hulu
(pemasok). Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam implementasi manajemen rantai
pasok adalah adanya kolaborasi antara entitasnya seperti mitra dalam sistem rantai
pasok; UMKM itu sendiri, pemasok, dan penyalur. Oleh karena itu, UMKM perlu
berkolaborasi supaya dapat memecahkan permasalahan bersama tersebut.
Meskipun peran UMKM sangat strategis, namun ketatnya kompetisi, terutama
menghadapi perusahaan besar dan pesaing modern lainnya telah menempatkan UMKM
dalam posisi yang tidak menguntungkan. Di Indonesia, sebagian besar UMKM
menjalankan usahanya dengan cara-cara tradisional, termasuk dalam produksi dan
pemasaran. Namun demikian, masalah yang dihadapi oleh UMKM di negara-negara
berkembang sebenarnya bukanlah karena ukurannya, tetapi lebih karena isolasi yang
menghambat akses UMKM kepada pasar, informasi, modal, keahlian, dan dukungan
institusional. Kurangnya pemahaman peran strategis yang dapat dimainkan oleh TIK
terkait dengan pendekatan baru pemasaran, berinteraksi dengan konsumen, dan
bahkan pengembangan produk dan layanan diduga sebagai sebab rendahnya adopsi
TIK oleh UMKM di Indonesia. Berdasar survei yang dilakukan oleh Indarti (2007)
terhadap UMKM di Yogyakarta, alasan UMKM yang belum menggunakan komputer
adalah karena tidak merasa butuh (82,2%), dukungan finansial yang terbatas (41,1%),
dan karena tidak memiliki keahlian untuk menggunakan (4,1%).
Salah satu kunci keberhasilan usaha mikro, kecil dan menengah adalah adalah
tersedianya pasar yang jelas bagi produk UMKM. Sementara itu kelemahan mendasar
yang dihadapi UMKM dalam bidang pemasaran adalah orientasi pasar rendah, lemah
dalam persaingan yang kompleks dan tajam serta tidak memadainya infrastruktur
pemasaran. Menghadapi mekanisme pasar yang makin terbuka dan kompetitif,
penguasaan pasar merupakan prasyarat untuk meningkatkan daya saing. Oleh karena
itu, peran pemerintah diperlukan dalam mendorong keberhasilan UMKM untuk
memperluas akses pasar melalui pemberian fasilitas teknologi informasi berbasis web
yang dapat digunakan sebagai media komunikasi bisnis global. Dengan adanya internet
dan TIK proses pemasaran dan penjualan dapat dilakukan kapan saja tanpa terikat ruang
dan waktu. Salah satu penerapan TIK dan internet dalam bidang bisnis dan
perdagangan adalah electronic commerce (e-commerce)..

58
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

KAJIAN PUSTAKA
Pemakaian Teknologi Informasi (IT) dalam memasarkan produk UMKM telah
berhasil dikembangkan oleh sejumlah Negara seperti Cina, Jepang, dan India. Bahkan
Konfederasi Industri India atau Confedration of Indian Industry (CII) merilis hasil
survey yang memperlihatkan bahwa peranan Teknologi Informasi (IT) telah mengubah
peruntungan segmen UMKM di India. Menurut hasil survey tersebut penggunaan IT di
kalangan UMKM telah menghasilkan peningkatan pendapatan yang signifikan, yakni 78
% dari responden mengindekasikan peningkatan pendapatan akibat penggunaan
IT(Nofie, 2007). Sementara itu Cina menerapkan TIK sebagai upaya untuk
meningkatkan daya saing penjualan produk UMKMnya. Dalam banyak literatur istilah
penguasaan teknologi (technological acquisition) didefinisikan sebagai kemampuan
dalam menghasilkan dan mengelola proses perubahan teknologi. Proses penguasaan ini
melalui tahapan memilih, mendapatkan, menerapkan, mengelola, mengadopsi,
mengimitasi, mengakuisisi, meng-up grade dan menguasai teknologi dari luar yang
sudah lebih maju secara efektif dan efisien. UMKM perlu memanfaatkan TIK
untuk meningkatkan daya saing perusahaan, mengingat di era globalisasi ini arena
persaingan menjadi sangat kompetitif, dan bersifat global/ mendunia, usaha kecil dan
menengah (UMKM) harus mampu bersaing di tengah persaingan ini, untuk itu
diperlukan strategi untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Dewasa ini TIK
menjanjikan solusi bagi banyak permasalahan di dunia usaha. Aplikasi TIK dapat
memberikan keuntungan pada proses dan transaksi bisnis baik secara internal maupun
eksternal. Meningkatkan informasi dan pengetahuan di bidang tersebut untuk mengelola
perusahaan dapat mengurangi biaya transaksi, meningkatkan kecepatan transaksi antar
bisnis begitu juga antara bisnis dan pelanggannya. TIK juga merupakan perangkat
efektif untuk meningkatkan komunikasi eksternal dan kualitas pelayanan kepada
pelanggan. Sangat disayangkan penggunaan TIK di kalangan UMKM masih sangat
terbatas. Ada beberapa alasan minimnya aplikasi di bidang ini. Alasan utama adalah
UMKM memiliki modal terbatas sehingga kemampuan untuk membeli juga terbatas.
Lainnya, beberapa UMKM masih ragu berinvestasi karena belum begitu mengerti
tentang teknologi tersebut, disamping juga tidak memiliki sumber daya manusia untuk
mengaplikasikannya.
Berbagai studi menunjukkan bahwa persepsi dan perilaku penggunaan TIK lebih
banyak dipengaruhi ketidaktahuan para pelaku usaha kecil mengenai fungsi dan
manfaatnya. Jika ketidaktahuan atau kekurangan informasi tersebut bisa diatasi maka
masih terbuka peluang pemanfaatan internet oleh pelaku usaha kecil. Disinilah peranan
sosialisasi dan pelatihan TIK terhadap pelaku usaha kecil sangat diperlukan di Indonesia.
Kebijakan penerapan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya TIK harus
bersifat sistematis, integratif, dan menyeluruh. Sistematis dalam artian didukung
dengan kerangka kerja yang menitikberatkan pada proses berorientasi pada kebutuhan
dan karakteristik usaha serta penetapan target keberhasilan kegiatan yang dilakukan.
Internet marketing adalah proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan dengan
konsumen melalui kegiatan–kegiatan online dengan memfasilitasi pertukaran ide,
produk dan jasa yang memuaskan kedua pihak Menurut Igbaria dkk (dalam Gautama,
1999), Hambatan bisnis kecil dalam mengimplementasikan IT adalah:
1. Biaya IT
2. Ketiadaan waktu untuk melakukan implementasikan dan pemeliharaan TIK
3. Tidak ada konsultan dan pemasok- pemasok eksternal
4. Perspektif manajemen yang bersifat jangka pendek
5. Kurangnya pemahaman tentang kegunaan TIK dan Bagaimana untuk mengukur
keuntungannya.

59
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

6. Kurangnya perencanaan atau kontrol prosedur

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam penggunaan TIK adalah:


1. Keterlibatan pemimpin di dalam implementasi TIK
2. Keterlibatan karyawan di dalam pengembangan TIK
3. Training kepada para pengguna
4. Pemilihan aplikasi-aplikasi komputerisasi
5. Penggunaan metodologi perencanaan dalam aplikasi pemilihan TIK

Hambatan utama yang dihadapi usaha kecil dalam mengembangkan TIK di


negara berkembang adalah kurangnya akses informasi, terutama informasi yang
digunakan di dalam pengambilan keputusan, ketiadaan sumber daya dan untuk
mendapatkan informasi yang diperlukan. Selain itu lingkungan politik dalam negeri juga
dapat mempengaruhi kemampuan suatu bisnis dalam membuat sistem untuk
mendapatkan informasi eksternal dalam pengambilan keputusan.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang penggunaan TIK di UMKM, diantaranya
adalah (a) banyaknya komputer yang dimiliki oleh UMKM, (b) bidang penggunaan TI
di UMKM, dan (c) level penggunaan internet di UMKM. Berkaitan dengan poin (a),
padadasarnya setiap UMKM telah memiliki computer untuk membantu proses usahanya
dengan komposisi1 s.d. 3 sekitar 69%, 4 s.d.10 sebesar 11%, lebih dari 10 sebesar 18%,
dan hanya 2% UMKM yang tidak memiliki komputer. UMKM yang memiliki komputer
dalam membantu sistem usahanya, berarti mereka telah memahami pentingnya TIM
untuk meningkatkan produktivitas UMKM yang nantinya akan bermuara pada
pembentukan UMKM yang berdaya saing. Persentase tentang hal ini tersaji pada gambar
1di bawah ini:

Daya saing penggunaan TIK Bidang penggunaan TIK cukup bervariasi.


Hampir seluruh UMKM telah menggunakan TIK untuk administrasi. Penggunaan
TIK untuk desain produk dan pemasaran juga cukup banyak dilakukan, sedangkan
penggunaannya untuk proses produksi masih terbilang rendah dibanding bidang
lainnya. Klasifikasi bidang yang menggunakan TIK di UMKM dapat dilihat pada
gambar 3 di bawah ini. Bidang penggunaan TIK di UMKM Dalam hal penggunaan
teknologi internet,banyak menggunakannya untuk melakukan browsing, sedangkan
UMKM subsektor kerajinan dan komponen otomotif lebih banyak menggunakan email.
Sebagian besar UMKM di setiap subsector memakai email terutama dalam
berkomunikasi dengan konsumen. Internet digunakan sebagai media komunikasi
dengan berbagai pihak. Misalnya di sini antara UMKM dengan supplier. Sebagai
contoh UMKM di bidang katering. Pemiliknya bisa menggunakan e-mail kepada

60
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

supplier bahan makanan misalnya untuk melakukan order atau sebaliknya pihak
supplier yang melakukan komunikasi dengan UMKM. Komunikasi disini bisa
bermacam- macam, salah satu yang sudah dibahas tadi misalnya penggunaan e-mail.
Internet dapat digunakan sebagai sarana promosi jasa atau produk yang ditawarkan oleh
UMKM. Sebagai contoh misalnya UMKM di bidang rent car (persewaan kendaraan)
bisa mempromosikan produk atau jasanya melalui website atau juga melalui mailing
list. Promosi melalui internet disini bisa dilakukan melalui berbagai cara yaitu:
a. Website, UMKM bisa membuat website bagi jasa atau produk yang akan dijual dan
masukkan
b. website tersebut ke dalam search engine.
c. Mailing list, UMKM bisa mengirimkan promosi jasa atau produk Anda dalam
bentuk e-mail ke mailing list yang relevan dengan yang ditawarkan.
d. Chat, UMKM bisa menggunakan sarana chattinguntuk menawarkan produk atau
jasa

E-COMMERCE UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING UMKM


Klasifikasi penggunaan TIK di UMKM dapat dilihat Transaksi perniagaan
dengan tanpa bertemu muka atau E-commerce mengacu kepada penggunaan teknologi
digital dan internet untuk menjalankan proses bisnis utama pada perusahaan. E-
commerce termasuk aktivitas untuk pengelolaan internal perusahaan dan untuk
koordinasi dengan pemasok atau rekan kerja lainnya. Hal ini juga termasuk
perniagaan elektronik atau E- commerce dimana berhubungan dengan pembelian dan
penjualan barang dan jasa melalui internet. Hal ini juga meliputi aktivitas yang
menunjang transaksi pasar tersebut, seperti periklanan, pemasaran, dukungan pelanggan,
keamanan, pengiriman, dan pembayaran. ( Laudon. 2007 ). Adapun jenis E-Bisnis yang
digunakan perusahaan jasa penerbangan adalah B2C yaitu Business to Customer. E-
commerce dapat didefinisikan sebagai aplikasi dan penerapan dari e-bisnis (e-business)
yang berkaitan dengan transaksi komersial, seperti: transfer dana secara elektronik,
pemasaran online (online marketing), pemrosesan transaksi online (Transaction Online),
promosi produk dan lain-lain.
Bagan proses dari transaksi E- Commerce seperti terlihat dari gambar 2.
dibawah ini :

Gambar 2. Transaksi E-commerce

Kemajuan Teknologi Informasi (TI) perlu dimanfaatkan para pelaku Usaha Kecil
dan Menengah (UMKM) untuk mengembangkan bisnisnya melalui e- Commerce,
peluangnya terbuka lebar dan secara teknis mudah dijalankan, Teddy Sukardi, Ketua
Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII) mengatakan dalam perbincangan
dengan Business News.

61
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Pemanfaatan teknologi informasi untuk perdagangan dan jasa atau yang


dikenal dengan e-Commerce bisa dilakukan baik untuk B2B (business to business)
misalnya antara pabrik dengan pemasok bahan baku atau antara distributor dengan
dealer; maupun untuk B2C (business to consumer) seperti perusahaan transportasi
dengan calon penumpang, antara rumah sakit dengan pasien dan antara pedagang
dengan pembeli. Selain itu ada jenis pemanfaatan untuk e-Marketplace, pasar yang
terbentuk dan secara maya mempertemukan penjual dan penjual.
Dengan memanfaatkan e-Commerce dalam operasional bisnisnya, UMKM akan
mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan berpeluang menggaet pelanggan baru. Di
sisi lain, pelanggan akan lebih mudah mendapatkan informasi yang diperlukan secara
on-line. Berbagai penghematan dan efisiensi akan dicapai seperti dalam hal biaya
transportasi, komunikasi telepon atau fax, pengiriman, dokumen, cetakan, waktu dan
tenaga kerja.
Implementasinya banyak, bisa untuk pengembangan produk, promosi, transaksi
secara online, pengiriman dan untuk layanan purna jual. Pelaksanaannya juga bisa
bertahap, misalnya dengan menggunakan computer dalam kegiatan kantor selanjutnya
komputer tersebut terhubung dengan internet dan menggunakan internet tersebut untuk
mencari informasi maupun email. Berikutnya, pelaku UMKM bisa membangun
website untuk mengenalkan usaha dan produk barang atau jasanya. Pada akhirnya,
menggunakan internet untuk transaksi bisnis dengan pelanggan.
Mengembangkan e-Commerce sebenarnya tidak sulit, yaitu mulai dari hal yang
kecil dan mulai sekarang juga, antara lain dengan belajar memakai computer dan
internet, memiliki kartu alamat yang ada emailnya, dan mempromosikan produk
melalui web.

SIMPULAN
UMKM perlu memanfaatkan TIK untuk meningkatkan daya saingnya,
mengingat di era globalisasi ini arena persaingan semakin kompetitif,dan bersifat
mendunia. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu strategi untuk meningkatkan
dayasaing UMKM adalah dengan melalui pemanfaatan TIK. Dengan pemanfaatan TIK
akan mendorong UMKM untuk mendapatkan peluang ekspor dan peluang bisnis
lainnya.
Dalam konteks bisnis, internet membawa dampak transpormasional yang
menciptakan paradigma baru dalam berbisnis, berupa digital marketing atau internet
marketing . Istilah internetisasi mengacu pada proses sebuah perusahaan terlibat dalam
aktivitas-aktivitas bisnis secara elektronik (e-commerce atau e-bisnis), khususnya dengan
memanfaatkan internet sebagai media, pasar, maupun infrastrukturpenunjang.

DAFTAR PUSTAKA

Adi, B., 2008, Penerapan TI Memperkuat UMKM India, http://bambangriadi.com


/br/2008/10/penerapan-ti- memperkuat-UMKM-india/,(23 April 2009).

Agung Adiono, Peran E-commerce dalam meningkatkan daya saing UKM

Arief Rahmana., 2009, Penerapan Teknologi Iinformasi dalam peningkatan daya saing
usaha menegah, SNATI 29 Juni 2009.

Angel, T., 2001., Information technology Usage in Canadian Small Businesses,


Thesis, Carleton University, Ontario Canada. http://www.proquest.com/ pqdweb

62
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

(27 Desember 2008).

Baldwin, J. R. dan D. Sabourin, 1998, ―Technology Adoption: A Comparison Between


Canada and the United States‖, Research Paper No.
119. Bureau Statistics Canada.

Dwiatmodjo, 2008, Kondisi implementasi E- Business di beberapa daerah di Indonesia,


http://dwiatmodjo.blogspot.com/2008/12/kondisi-implementasi -e-business-
di.html, (12 Maret 2009).

Indrajit, E., 2008, Strategi Pengembangan TIK di Indonesia Menuju


Kemandirian, http://artikelekoindrajit.blogster.com/ strategi-pengem
bangan-tik-di- indonesia-menuju-kemandirian, (12
Maret 2009).

M. Suyanto. 2005. Artikel : Aplikasi IT untuk UMKM Menghadapi Persaingan Global.


Kedaulatan Rakyat. Yogyakarta.

Kementerian Negara Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia.


2009.Kliping Digital: UMKM Perlu Memanfaatkan TI untuk mengembangkan
bisnisnya. http://www.mediacenterkopUMKM.c om/detail-
berita.php?bID=3518

Raymond McLeod,Jr.2009 .Sistem Informasi Manajemen edisi 10.Jakarta: Salemba


Empat

Samuel, Eric. 2010. Perkembangan e-commerce, http://ericsamuel.blogspot.com/2010/


06/ad-perkembangan-e- commerce.html

Sholekan. 2009. E-commerce. Telkom PDC. Bandung.

63
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

STRATEGI MEMBUMIKAN KONSEP KEWIRAUSAHAAN DI DUNIA


PENDIDIKAN

Deta Muliyani1
Khusnul Khotimah2
Perdana Afif Luthfy3
1
Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana UNJ
2
Dosen Unindra
3
Dosen UII

Email: khusnul_uul.eclair@yahoo.com
deta_mulyani@yahoo.com
perdana_afif@yahoo.com

ABSTRAK

Angka pengangguran di Indonesia menempati peringkat ke dua dibandingkan dengan


negara-negara Asean. Masalah pengangguran ini merupakan wajah baru tersendiri bagi
negara-negara berkembang. Pada tahun 2013 angka pengangguran terbuka mencapai
7,28 juta jiwa. Di Indonesia, angka pengangguran terbanyak justru diciptakan oleh
kelompok terdidik. Saat ini Konsep kewirausahaan mulai diimplementasikan dalam
pendidikan melalui pendidikan kewirausahaan. Dengan terintegrasinya subjek
kewirausahaan dalam kurikulum pendidikan, diharapkan dapat meningkatkan minat dan
motivasi siswa dan/atau mahasiswa untuk bisa menciptakan lapangan kerja baru melalui
wirausaha. Selain itu, masuknya elemen kewirausahaan dalam pendidikan diharapkan
mampu membentuk manusia secara utuh (holistik), sebagai insan yang memiliki
karakter, pemahaman dan keterampilan sebagai wirausaha. Pada dasarnya, pendidikan
kewirausahaan dapat diimplementasikan secara terpadu dengan kegiatan-kegiatan
pendidikan di sekolah. Dalam praktiknya, pendidikan kewirausahaan ini masih sebatas
konsep yang berlaku dalam dunia pendidikan sebagai diskusi kewirausahaan di dalam
kelas. Potensi lokal sebagai sumber daya yang ada di sekitar lembaga pendidikan belum
dapat dikelola dengan baik. Unit-unit bisnis yang bekerjasama dengan lembaga
pendidikan masih sebatas unit koperasi atau unit usaha sejenisnya dan belum
memaksimalkan sumber daya lainnya yang mampu menyerap potensi masyarakat.
Pekerjaan rumah yang besar adalah mensinkronkan antara lembaga pendidikan dengan
sumber daya eksternal disekitarnya agar dapat mengembangkan produk dan
menciptakan pasar sesuai dengan kebutuhannya. Dengan adanya kebijakan pemerintah
dan strategi pengelolaan sumber daya lembaga pendidikan diharapkan mampu
menyelesaikan permasalahan pengangguran ditingkat regional.

Kata Kunci: Strategi Kewiruasahaan, Pendidikan Kewirausahaan

64
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PENDAHULUAN
Tantangan baru bagi pendidikan Indonesia adalah globalisasi di segala bidang
baik industri, ideologi, politik, ekonomi, dan pendidikan. Menciptakan manusia yang
berdayasaing agar dapat mengikuti arus globalisasi merupakan beban baru bagi
pendidikan Indonesia. Pendidikan merupakan kunci pokok untuk menghadirkan
manusia Indonesia yang dapat berkompetisi disegala bidang bersama negara-negara
lainnya. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam
lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus
menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi ―budak‖ di negeri
sendiri.Globalisasi tentunya memiliki dua sisi yang saling berlawanan. Satu sisi menjadi
upaya untuk menuju kualitas yang dapat disamakan dengan negara lain, sisi lain juga
menciptakan penjajahan baru bagi negara yang tidak meningkatkan kualitas sumber
daya manusia yang dimilikinya. Persaingan globalisasi menuntut sumber daya manusia
mampu berdaya saing dengan negara lain di negara sendiri.
Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi,
sehingga dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat
membutuhkan kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan
keterampilan daya cipta yang tinggi. Berbekal kurikulum kewirausahaan yang wajib ada
di perguruan tinggi diharapkan mampu menumbuhkan semangat kewirausahaan bagi
lulusannya. Melihat angka pengangguran di Indonesia menempati peringkat ke dua
dibandingkan dengan negara-negara Asean. Masalah pengangguran ini merupakan
wajah baru tersendiri bagi negara-negara berkembang. Pada tahun 2013 angka
pengangguran terbuka mencapai 7,28 juta jiwa. Di Indonesia, angka pengangguran
terbanyak justru diciptakan oleh kelompok terdidik yang seharusnya pendidikan mampu
mengurangi angka pengangguran dengan asumsi pendidikan memberikan lulusan
perguruan tinggi mampu memiliki kompetensi untuk masuk di dunia kerja. Salah satu
cara yang bisa dilakukan adalah perlu dikembangkannya karakter kewirausahaan sedini
mungkin pada semua jenjang pendidikan formal, karena suatu bangsa akan maju
apabila. jumlah wirausahanya paling sedikit 2% dari jumlah penduduk. Maka konsep
kewirausahaan tidak haya cukup dengan adanya kurikulum kewirausahaan di perguruan
tinggi atau menjadi mata kuliah wajib yang harus ditempuh dengan tekstual
pembelajaran. Kewirausahaan membutuhkan lebih dari sekedar konsep tekstual dalam
literatur bacaan atau presentasi makalah yang pada akhirnya menjadi tacit knowledge
yang tidak dapat ditransfer menjadi explicit knowledge.
Kebijakan pemerintah dalam mendukung lahirnya wirausahawan muda mulai
nampak pada program-program UMKM atau Mahasiswa Kewirausahaan. Dalam bidang
pendidikan juga mencoba untuk diintegrasikan konsep kewirusahaan di setiap jenjang
pendidikan bahkan menjadi mata kuliah wajib di level perguruan tinggi. Upaya
pemerintah dengan pendekatan kurikulum ini diharapkan mampu untuk menciptakan
wirausaha-wirausaha muda sedini mungkin. Walaupun pada kenyataannya pendekatan
kurikulum ini masih menghasilkan konteks tekstual yang belum wujud aplikasinya.
Mengingat begitu besar potensi negara ini, jika konsep kewirusahaan tidak hanya
sekedar wacana dalam kelas maka akan menghasilkan usaha-usaha kreatif sesuai
dengan ciri khas daerah masing-masing.

Konsep Kewirausahaan
Kebanyakan orang akan menilai bahwa wirausaha itu sekedar berdagang,
mengikuti trend pasar, menghasilkan kerajinan dan kemudian melakukan perdagangan
di komunitas-komunitas. Sebagian besar lagi akan menyamakan antara entrepreneur
dengan entrepreneurship padahal secara teoritis memiliki makna yang berbeda. Ketika

65
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

berbicara kewirusahaan di mata kuliah atau di mata pelajaran sekolah yang akan
ditekankan adalah pola belajar tekstual. Praktik mahasiswa di universitas ataupun di
sekolah masih seputar koperasi dan atau dagang di wilayah kampus. Kewirusahaan
(entrepreneurship) bukan hanya sekedar menghasilkan produk yang untuk di jual.
Mengutip pendapat Jeffery Timmons (1990);
“Entrepreneurship is the ability to create and build a vision from practically
nothing. Fundamentally, it is a human, creative act. It is the application of energy
to initiating and building an enterprise or organization, rather than just watching
or analyzing. This vision requires a willingness to take calculated risks – both
personal and financial, and then to do everything possible to reduce the chances
of failure. Entrepreneurship also includes the ability to build an entrepreneurial
or venture team to complement your (the entrepreneur) own skills and talents. It is
the knack for sensing an opportunity where others see chaos, contradiction, and
confusion. It is possessing the know-how to find, marshal and control resources,
often owned by others.”

Dari padangangan Timmons dapat kita ketahui bahwa kewirausahaan


merupakan kemampuan untuk mencipta dan membangun visi dari sesuatu yang tidak
ada. Maka, melakukan sesuatu yang sudah biasa dilakukan adalah usaha untuk menjadi
pengusaha. Seperti pendapat yang dinyatakan oleh Cantilons (2001) ―entrepreneurs
made production decisions in conditions of uncertainty, thus taking on risk for which, if
successful, a return was earned.”Di masa moderen Joseph Schumpeter (2010)
menyatakan ―is perhaps the most well known exponent of the entrepreneur as the
disequilibrator par excellence, the originator of the gales of “creative destruction” that
propel the economy forward.‖
Kewirusahaan pada hakikatnya memiliki makna yang lebih luas. Konsep kewirausahaan
menurut beberapa ahli seperti yang dikutip dari Misra dan Kumar (2000):
1. Cole (1968), entrepreneurship is puposeful activity to initiate, maintain, and
develop a profit orieanted business.
2. Drucker (1985), entrepreneurship is an act of innovatioan that involves endowing
existing resources with new wealth producing capacity.
3. Gratner (1985), entrepreneurship is the creation.
4. Hisrich and Peters (1989), entrepreneurship is the process of creating something
different with value by devoting the necessary time and effort, assuming the
accompanying financial, psychic and social risk, and receiving the resulting
rewards and monetary and personal satisfaction.
5. Stevenson et. al. (1991), entrepreneurship is the pursuit of an opportunity
irrespective of existing resouces.
6. Kaish and Gilad (1991), entrepreneurship is the process of first, discovering, and
second, acting on disequilibrium opportunity.
7. Heron and Robinson (1993), entrepreneurship is the set of behaviours that initiates
and manages the reallocation of economic resourcess and whose purpose is value
creation through those means.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan memiliki makna
yang lebih luas. Terjadinya inovasi, kreasi, penemuan, profit oriented, perilaku, yang
merupakan sebuah rangkaian proses aktivitas dalam bisnis. Kewirausahaan merupakan
sesuatu yang personal ataukah dalam organisasi bisnis yang melibatkan banyak orang.
Pada dasarnya, kewirausahaan ini bisa dilakukan oleh siapa saja baik personal dan
kelompok yanag tidak membatasi hasil kreasi. Maka kewirausahaan merupakan sebuah
identifikasi dan kreasi dari sebuah organisasi untuk memanfaatkan sumber daya yang

66
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ada sebagai sebuah keuntungan atau kesempatan yang dapat dikembangkan melalui
inovasi produk.

Strategi Kewirausahaan di Dunia Pendidikan


Dalam pendidikan atau pembelajaran, pemerintah telah membuat kebijakan yang
mencoba mengintegrasikan konsep kewirausahaan dalam pembelajaran. Integrasi ini
diharapkan mampu meningkatkan semangat berwirausaha dan menguatkan ekonomi
bangsa malalui inovasi-inovasi produk yang dihasilkan. Untuk menjawab tantangan
sosial yang semakin meningkat, penganguran yang semakin berjubel, maka pendidikan
tinggi diarahkan pada pendidikan entrepreneur namun tidak menghilangkan identitas
lainnya sebagai lembaga yang menitikberatkan pada penelitan dan penemuan.
Mencari potensi dalam diri seorang peserta didik yang beragam merupakan hal
yang utama untuk kemudian dapat memberikan dorongan yang luar biasa terhadap
kreasi wirausaha yang bisa digunakan untuk membangun potensi lokal yang ada di
sekitar sekolah dan/atau lembaga pendidikan tinggi. Potensi yang luar biasa bisa kita
gunakan untuk mensinergiskan pendidikan tinggi dengan sekolah menengah untuk
melakukan karya di bidang kewirausahaan. Usia muda yang masih memiliki semangat
dan kemampuan bertindak cepat merupakan modal yang cukup kuat untuk melihat
prospek pendidikan kewirausahaan di Indonesia. Anak muda merupakan generasi yang
memiliki semangat membara dan energi prima untuk melakukan perubahan. Generasi
muda merupakan investasi bangsa yang akan member kontribusi solusi berbagai
permasalahan bangsa pada masa yang akan datang.
Proses penyiapan generasi ini menjadi penting, sebab mautidak mau yang tua
akan kehilangan kompetensinya dan harus digantikan anak-anak muda. Dalam konteks
inovasi dan kewirausahaan, dengan berbagai stimulus yang diberikan diharapkan lahir
sosok-sosok anak muda kita yang menggeluti wirausaha, karena kehadiran para
pengusaha muda di Indonesia sangat ditunggu untuk menguak rahasia kemajuan bangsa
ini.
Selain itu ribuan hasil penelitian yang dihasilkan oleh perguruan tinggi merupakan
aset yang dapat digunakan untuk membangun lingkungan wirausaha yang dapat
meningkatkan peran masyarakat sekitar. Melalui inovasi, krativitas dan keunikan dapat
dibuat model integrasi dari pendidikan tinggi yang dapat direduksi di pendidikan
menengah. Penguatan basis teknologi industri juga merupakan basis teknologi terapan
yang merupakan solusi untuk membuat produk semakin bernilai. Potensi ini jika
digunakan dan diintegrasikan sebagai sebuah model kerjasama di seluruh Indonesia
akan menguatkan basis wirausaha dengan potensi lokal yang kuat.
1. Menumbuhkan 12 Karakter Entrepeneur
Sekalipun ada yang memiliki paham bahwa kesuksesan seorang wirausaha sebagai
sesuatu yang natural atau bakat, maka dapat dipelajari beberapa karakter yang bisa
dikembangkan di tumbuhkan kepada peserta didik untuk menimbulkan potensi diri
yang belum digali. Beberapa karakteristik yang dapat mendorong kesuksesan sebuah
wirausaha adalah sebagai berikut:
a. Confidence Percaya diri
b. Feels Sense of Owner Rasa memiliki
c. Kemampuan komunikasi
d. Passionate about Learning
e. Team Player
f. System-Oriented
g. Dedicated
h. Grateful

67
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

i. Optimistic
j. Gregarious
k. A Leader by Example
l. Not Afraid of Risk or Success
2. Pendekatan Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai: tujuan, isi, dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai pendidikan tertentu. Dengan demikian
pendekatan paling mungkin untuk meningkatkan minat berwirausaha adalah melalui
kurikulum yang berbasis entrepeneruship. Minat ini bukan sesuatu yang bisa
dipaksakan untuk diikuti oleh seluruh peserta didik. Dengan pendekatan kurikulum
ini merupakan stimulus untuk mencari bibit yang berbakat dalam mengembangkan
wirausaha mandiri sejak dini. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jeff Kee et al,
mencoba untuk mendesain kurikulum kewirausahaan di dunia pendidikan. Korelasi
pendidikan keriwausahaan dengan perkembangan ekonomi menjadi keuntungan
yang diperoleh bagi suatu bangsa. Pendidikan kewirausahaan akan melahirkan
generasi muda yang memberikan kontribusi bagi negaranya. Dengan adanya
simulasi dan fasiltas kegiatan kewirausahaan dapat menghasilkan angka
pengangguran yang rendah. Selain itu dapat menguatkan perusahaan baru dan
banyak lagi keuntungan mengembangkan kosnep kewirausahan dalam pendidikan.
Maka, desain kurikulum dapat diintegrasikan dengan baik terhadap konsep
kewirausahaan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jeff Kee, kurikulum ini menhadapi
empat tantangan; (1) identifikasi dari target grup, (2) mendefiniskan dan mengukur
kewiraushaan atau mengidentifikasi karakter kewirausahaan, (3) memutuskan fakta-
fakta pedagogi dan (4) konten dari kurikulum.
Dalam pedagogi hal-hal yang perlu dilakukan adalah mencoba mereduksi
keterampilan bisnis dan karakteristik entrepreneurial ke dalam pembelajaran. Dua
kata kunci ini merupakan sebuah lingkaran untuk mempelajari perilaku
kewirausahaan.

Pendakatan utama yang digunakan adalah Experiential Learning Cycles (ELCs).


ELCs menggambarkan prinsip pendidikan berdasarkan pengalaman yang dikembangkan
oleh Jhon Dewey. Dengan pendekatan experential learning yang digunakan oleh Kolbe
(1984),

68
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Dengan pendekatan ini, kurikulum yang digunakan merupakan pendekatan yang


di desain oleh guru untuk memebrikan stimulus dan parkek aktivitas di pendidikan
menengah. Maka, pada jenjang pendidikan tinggi pengalaman ini akan memberikan
kemampuan untuk melakukan inovasi dan mengembangkan kreativitas berdasarkan
ilmu terapan yang dapat diaplikasikan untuk menambah nilai produk.
3. Pembasisan
Pembasisan ini merupakan tahapan elaborasi antara potensi sumber daya dengan
pengelolaan yang apik. Kerjasama dilakukan antara universitas dengan sekolah
dalam menerapkan pembelajaran dan laboratorium pengembangan teknologi. Unit
bisnis merupakan unit pengelola yang bersama-sama melakukan riset dan
pengembangan terhadap potensi yang bisa dikembangkan. Unit bisnis ini yang akan
menjadi operator utama bagi berkembanganya produk inovasi dan mekanisme yang
akan dibangun untuk melibatkan masyarakat luas.

Universitas Unit Bisnis


Sebagai Pengembang Riset Universitas

lajaran Berbasis
Research and
Kewirausahaan
Development

Sekolah Kerjasama Unit Bisnis


Untuk Suply Sumber Daya Sekolah

Potensi Lokal Masyarakat

69
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

SIMPULAN
1. Pendekatan kurikulum yang digunakan adalah experential learning cycles untuk
menerapkan pembelajaran kewirausahaan berdasarkan pengelaman yang
dikembangkan oleh Kolbe. Kurikulum ini merupakan desain yang dikembangkan
oleh guru untuk memberikan simulasi atau latihan terhadap praktek kewirausahaan.
2. Model kolaborasi antara unversitas sebagai pusat penelitian dengan sekolah-sekolah
yang mengembangkan konsep kewirasuahaan merupakan model yang dibangun
untuk mensinergikan teori dan aplikasi di bawah unit bisnis yang dikelola secara
profesional.
3. Pendekatan kewirausaan dalam pendidikan ini masih perlu dikembangkan dan diuji
coba untuk penegmbangan model yang lebih baik.

DAFTAR Pustaka
Jeff Kee, et al, 2006, Entrepreneurship Curriculum, Tokyo: JIP Foundation

Sasi Misra and E. Sendil Kumar, 2000, Resourcefulness: A Proximal Conceptualisation


of Entrepreneurial Behaviour, Jounal of Entrepreneurship, vol. 9,
http://joe.sagepub.com

TutikSusilowati, Susantiningrum, 2013, Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan


Dalam Upaya Menumbuhkan Budayawirausaha Pada Siswa Sekolah Menengah Atas
(SMA)Di Kabupaten Karanganyar, JKB No. 12. Th.VII. Januari 2013

http://www.actioncoach.com/_downloads/whitepaper-FranchiseRep5.pdf

http://www.utdallas.edu/~plewin/Entrepreneurial%20Paradoxes%20OS.pdf

70
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

KEJIRET (KERIPIK BIJI KARET)


SEBAGAI INOVASI PENINGKATAN PRODUK PANGAN LOKAL
DAERAH LAMPUNG

Dewi Lesatri
Ardi Kurniawan

Universitas Indraprasta PGRI

Email:dewilesatri15@yahoo.com

ABSTRAK

Aktifitas masyarakat Lampung pada umumnya berkebun dan perkebunan yang cukup
luas salah satunya adalah perkebunan karet.Dari pohon karet tersebut dapat diambil biji
karetnya kemudian diolah menjadi keripik bijij karet. Pengolahan biji karet harus
dengan cara yang benar, jika tidak biji karet akan menjadi beracun untuk dikonsumsi.
Dengan adanya keripik biji karet dari daerah lampung, akan menjadi makanan ciri khas
daerah Lampung yang diberi nama Kejiret Lampung. Tujuan dari penulisan ini adalah
untuk menjadikan biji karet yang pada awalnya bisa dikatakan limbah menjadi bahan
pangan olahan dan meningkatkan produk pangan lokal didaerah Lampung.

Kata Kunci: Keripik Biji Karet (Kejiret), inovasi, Produk Pangan Lokal

PENDAHULUAN
Lampung merupakan suatu daerah yang wilayahnya cukup luas. Lampung
memiliki luas wilayah 35.384 Km2 (Badan Pusat Statistik,2012). Aktifitas masyarakat
Lampung pada umumnya berkebun dan perkebunan yang cukup luas salah satunya
adalah perkebunan karet. Menurut data yang didapat dari Badan Pusat Statistik, Luas
perkebunan karet di mencapai 94.619 Ha dan perbulannya dapat memproduksi karet
sebanyak 50.378 Ton. Jika getah karet sudah pasti dapat diproduksi, sama halnya
dengan biji karet. Biji karet juga dapat diproduksi untuk dijadikan makanan yang layak
konsumsi, salah satunya adalah keripik biji karet atau dapat disebut dengan Kejiret
Lampung, yang artinya adalah Keripik Biji Karet yang berasal dari daerah Lampung.
Mendengar kata Kejiret pasti banyak pertanyaan dalam diri kita mengenai arti
dari Kejiret tersebut. Kejiret bukanlah makna dari bahasa jawa atau yang lainnya.
Kejiret yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Keripik Biji Karet.Jika mendengar kata
karet sudah tidak asing lagi bagi kita, karet banyak digunakan di kehidupan sehari-hari.
Bahan dasar karet yang digunakan biasanya sudah berbentuk bahan yg siap pakai seperti
karet ban, pembuatan pipa karet, pembungkus kabel dan lain-lain. Namun dalam tulisan
ini bukan membahas mengenai hasil dari karet tersebut. Dalam tulisan ini akan
membahas mengenai biji karet yang layak konsumsi. Banyak anggapan bahwa biji karet
tidak layak konsumsi dan beracun.Namun pada kenyataannya biji karet dapat dijadikan
sebuah makanan yang lezat.Banyak para penyadap karet yang membiarkan biji karet
berjatuhan dan membusuk, padahal jika mereka mau mancari biji karet tersebut banyak
keuntungan yang mereka dapat.Mereka bisa mengambil biji karet diselah-selah waktu

71
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

luang untuk menyadap karet. Menurut pernyataan salah satu penyadap karet yang ada di
daerah Lampung bernama Iyon, pagi hari mereka menyadap karet pada pukul 06.00 s.d.
10.00 WIB, setelah selesai menyadap karet mereka berhenti untuk menunggu getah
karet terisi penuh. Biasanya getah karet terisi penuh pada waktu sore hari, sedangkan
siang harinya mereka istirahat.Untuk mengisi waktu istirahatnya, mereka bisa
menggunakan waktunya untuk mengambil biji karet.Namun sayangnya mereka masih
belum mengetahui fungsi dari biji karet yang bisa dijadikan makanan layak konsumsi,
mereka beranggapan bahwa mencari biji karet hanya membuang waktu saja dan
pengolahan biji karetpun tidak mudah.Setelah menyadap karet, mereka lebih suka untuk
pulang kerumah dan istirahat sambil menunggu waktu pengambilan getah karet yang
telah terisi penuh.
Kegunaan biji karet saat ini masih banyak belum diketahui oleh masyarakat
disekitar perkebunan terutama penyadap karet itu sendiri.Saat ini biji karet masih
dianggap tidak penting bahkan bisa dikatakan sebagai limbah. Pemanfaatan dan cara
pengolahannya yang dianggap cukup sulit. Padahal jika dikembangkan, biji karet bisa
diolah menjadi makanan yang unik dan lezat.Bahkan biji karet bisa dijadikan sebagai
produk makanan lokal masyarakat Lampung itu sendiri salah satunya adalah keripik biji
karet. Oleh sebab dalam tulisan ini akan dibahas mengenai keripik biji karet sebagai
inovasi peningkatan produk pangan lokal masyarakat Lampung.

KAJIAN PUSTAKA
Keripik Biji Karet (Kejiret)
Biji karetdidapat dari pohon karet dan diambil dari biji yang sudah terjatuh.Pohon
karet merupakan salah satu pohon yang cukup tinggi dan tidak memiliki banyak ranting.
Karet adalah tumbuhan besar yang tinggnya mencapai 25 meter dan kulit batangnya
menghasilkan getah yang digunakan sebagai bahan pembuat ban, bola dan sebagainya
(KBBI:190). Namun dalam hal ini kaitannya dengan biji karet yang diolah menjadi
makanan siap saji yaitu keripik biji karet
Keripik yaitu olahan makanan yang digoreng kering sehingga teksturnya menjadi
renyah.Sering kita menedengar kata-kata keripik yang identik dengan keripik singkong
dan keripik pisang. Namun tidak hanya itu, biji karetpun bisa dijadikan sebagai keripik
karena teksturnya yang hampir sama dengan singkong ataupun pisang dan biji karet
juga dikatakan lebih mirip dengan kacang. Tekstur biji karet tersebut yaitu tidak
lembek namun tidak terlalu keras dan tidak mengandung banyak air. Oleh sebab itu, biji
karet juga dapat diolah menjadi keripik.

Kandungan Biji Karet


Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa biji karet itu beracun dan tidak
layak konsumsi.Sehingga mereka tidak mau memanfaatkan biji karet tersebut.Didalam
biji karet terdapat beberapa kandungan yang dapat menimbulkan racun.Secara umum
biji mengandung toksid linamarin (C10H17NO6). Minyak biji karet mengandung 7%
palmatik; 9% stearik; 0,3% arachidik; 30% olenik; 30 – 50% linoleik; dan 2 – 23%
asam linolenik. Kandungan ini jelas membuka peluang yang besar untuk pemanfaatan
biji karet pada bidang kesehatan, industri, dan pengolahan. Bungkil biji karet
mengandung bahan berbahaya HCN dengan kadar>50 ppm. Kandungan HCN ini dapat
diturunkan sampai batas aman bagi ternak dengan cara pemanasan atau penyimpanan.
Namun kadar racun dapat dihilangkan dengan proses pengolahan yang baik dan benar.

72
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Inovasi
Setiap manusia memiliki pemikiran yang berbeda-beda.Namun, dari pemikiran
tersebut dapat berkembang dan kemudian dapat menemukan hal-hal yang baru yang
dapat disebut dengan inovasi.Penemuan baru tersebut bisa didapat dari sebuah
pengalaman maupun pengamatan. Inovasi adalah penemuan baru yang berbeda dari
yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode atau alat)
(KBBI:538). Inovasi yang didapatkan seseorang kemudian dikembangkan dan pada
akhirnya dapat menjadi kebermanfaatan.

Produk Pangan Lokal


Pangan lokal merupakan produk yang menjadi suatu cirri khas suatu daerah
tertentu. . Arti dari kata produk adalah barang atau jasa yang dibuat dan ditambah
gunanya atau nilainya dalam proses produksi dan menjadi hasil akhir dari proses
produksi itu (KBBI:190). Pangan lokal juga penting untuk memperkenalkan nama suatu
daerah. Biasanya produk pangan lokal ini berkaitan erat dengan budaya masyarakat
setempat. Oleh karena itu, produk-produk ini kerap kali juga menyandang nama daerah,
sebagai misal, dodol garut, jenang kudus, gudek jokya, dan lain-lai. Jika melihat
dideaerah Lampung, sudah tidak asing lagi dengan ciri khasnya adalah kopi Lampung.
Dengan demikian produk pangan local yaitu barang atau jasa yang didapat dari hasil
proses produksi yang berasal dari suatu daerah tertentu.

PEMBAHASAN
Melihat berbagai wilayah di Indonesia, Indonesia memiliki wilayah yang sangat
luas.Dari berbagai wilayah tersebut tentunya memiliki ciri khas yang berbeda-beda di
setiap daerahnya.Baik dari segi adat istiadat, budaya, maupun produk pangan
lokalnya.Berbicara mengenai produk pangan lokalnya, Indonesia memiliki banyak
produk pangan lokal dari masing-masing daerah tersebut. Biasanya produk pangan lokal
membawa nama daerah itu sendiri. Seperti dodol Garut, durian Makasar, empek-empek
Palembang, kopi Lampung dan lain-lain.Banyak wilayah di Indonesia yang memiliki
sesuatu yang berharga namun belum diketahui oleh masyarakat.Contohnya biji karet
yang dapat diolah menjadi makanan yang siap saji.Untuk mendapatkan biji karet
tersebut banyak terdapat didaerah Lampung.Karena selain terkenal dengan tanaman
lada, kopi, Lampung juga terkenal dengan tanaman karet yang yang cukup luas.Dari
pohon karet tersebut, dapat menghasilkan biji karet yang kemudian diolah menjadi
makanan siap saji yaitu keripik biji karet.Biji karet memiliki tekstur yang yang tidak
keras namun juga tidak lembek jika sudah dikeluarkan dari cangkangnya.Karena yang
memiliki tekstur sangat keras itu adalah cangkang biji karet.
Banyak orang yang belum tahu bahwa biji karet itu layak dikonsumsi, mereka
menganggap biji karet itu beracun.Namun, tidak semua masyarakat beranggapan seperti
itu. Di suatu desa tepatnya desa Tanjungsari, Kecamatan Bungamayang, Kabupaten
Lampung Utara terdapat keluarga yag sudah biasa mengkonsumsi biji karet.
Berdasarkan hasil wawancara kepada salah seorang dari keluarga tersebut yang benama
Lucky, beliau memaparkan bahwa beliau sudah sering mengkonsumsi biji karet sejak
kecil.Ibunya biasa mengolah biji karet dan kemudian digoreng juga dimasak menjadi
sambal biji karet untuk lauk makan. Beliau memaparkan bahwa sesungguhnya biji karet
tersebut tidak beracun jika dimasak dengan cara yang benar. Karena didalam biji karet
tersebut terdapat kandungan yang menyebabkan keracunan. Walaupun mereka tidak
mengetahui nama kandungan racun yang terdapat pada biji karet, tetapi mereka tahu
bagaimanacara agar biji karet tersebut tidak beracun ketika dikonsumsi. Mereka
mengetaui cara menghilangkan zat beracun dari biji karet karena sejak ibu dari Lucky

73
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

masih kecil-pun sering mengkonsumsi biji karet. Lucky juga memaparkan beberapa
tahapan untuk mengolah biji karet dan menghilangkan racunnya yaitu sebagai berikut:
1. Ambil biji karet yang berjatuhan dan kemudian pecahkan cangkannya, kemudian
ambil biji karet dari cangkangnya
2. Rebus biji karet yang sudah tidak bercangkang
3. Belah bijikaret menjadi dua bagian, kemudian buang bagian tengah yang menempel
didalam biji karet. Bagian tengah tersebut yang dapat menyebabkan adanya racun
4. Rendam biji karet selama 3 hari
5. Selama proses merendam, gantilah air rendaman setiap harinya di pagi hari dan sore
hari. Agar biji karet benar-benar bersih dan juga kandungan racun dapat hilang.
6. Setelah 3 hari direndam, tiriskanlah kemudian langsung digoreng ataupun disambal
sesuai dengan selera.
Sedangkan untuk membuat keripik biji karet, setelah proses menggoreng dapat
langsung membuat bumbu keripik pedas. Caranya yaitu:
1. Tumis bumbu yang sudah dibuat, bumbu dibuat dari cabai, bawang putih, bawang
merah, tomat, penyedap rasa, garam dan gula.
2. Setelah bumbu selasai ditumis kemudian langsung masukkan biji karet yang sudah
digoreng kedalam bumbu.
3. Tambahkan gula putih dan penyedap rasa.
4. Keripik biji karet siap disantap.
Dengan melalui proses tersebut, kandungan racun dapat hilang. Dengan
memanfaatkan biji karet menjadi sebuah makanan siap saji.Bahkan keripik biji karet
dapat dijadikan sebagai produk pangan lokal ciri khas daerah lampung. Keripik biji
karet bias diberi nama Kejiret Lampung.

SIMPULAN
Keripik biji karet merupakan hasil dari olahan biji karet yang dijadikan makanan
ringan yang menjadi ciri khas daerah Lampung. Jika dalam mengolah biji karet dengan
cara yang salah, maka dari biji karet akan menyebabkan racun. Jika keracunan biji karet
biasanya akan merasakan pusing. Namun jika cara pengolahan dilakukan dengan cara
yang benar, maka biji karet aman dikonsumsi. Dengan memaksimalkan hasil olahan biji
karet, akan meningkatkan daya jual dan menambah jenis produk pangan lokal didaerah
lampung.

DAFTAR PUSTAKA
Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi Keempat. 2011. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama

Internet :
http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/pdfprosiding2/fmipa201120.pdf

https://www.scribd.com/doc/211288627/Paper-Pengertian-Pangan-Lokal-Dan-
Ketahanan-Pangan-K-1 (diakses pada: 8 Februari 2015, 12.20)

http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/commodityarea.php?ia=18&ic=4
(diakses pada: 8 Februari 2015, 13.50)

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=153&no
tab=1 (Diakses pada: 9 Februari 2015, 00.43)

74
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

http://penebar-swadaya.net/toko-ps3/kegunaan-biji-karet/ (diakses pada: 10 Februari


2015, 14.55)

Santoso, Herry.dkk. Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Biji Karet Menggunakan


Katalis Berbahan dasar Gula.

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=169140&val=3913&title=PEMBU
ATAN%20BIODIESEL%20DARI%20MINYAK%20BIJI%20KARET%20ME
NGGUNAKAN%20KATALIS%20BERBAHAN%20DASAR%20GULA
(diakses pada: 10 Februari 2015, 15.15)

75
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

STRATEGI SALURAN DISTRIBUSI


KERAJINAN KULIT TELUR UNTUK MENYAMBUT MEA

Dian Annisa

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

ABSTRAK

Masyarakat Ekonomi Asia merupakan jembatan penghubung para penggiat kerajinan di


Indonesia untuk memasarkan hasil karya mereka. Indonesia sebagai Negara yang luas
telah banyak mencetak para pengrajin dalam memanfaatkan SDA Indonesia yang
melimpah dan salah satunya adalah pengrajin kulit telur.Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengungkap strategi distribusi apa yang harus dilakukan para pengrajin untuk
menyambut MEA dan saluran distribusi yang dibutuhkan untuk menyambut MEA di
akhir tahun 2015 ini. Metode yang digunakan adalah metode library research, untuk
mengungkap strategi saluran distribusi yang tepat bagi para pengrajin cangkang/kulit
telur. Sehingga para pengrajin cangkang/kulit telur siap menghadapi MEA.

Keyword : Strategi Kerajinan Kulit Telur, Saluran Distribusi, Kerajinan Kulit Telur dan
MEA.

PENDAHULUAN
Untuk menghadapi MEA, dunia usaha di Tanah Air tentu harus mengambil
langkah-langkah strategis agar dapat menghadapi persaingan dengan negara ASEAN
lainnya, tak terkecuali sektor Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM).
Salah satu contoh UKM yang mulai merintis usaha adalah para penggiat
kerajinan kulit telur. Para pengrajin ini memiliki kemampuan mengolah sampah dapur
rumah tangga berupa cangkang kulit telur menjadi sebuah produk seni recycle dan
bernilai jual tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan dan pemberdayaan KUKM
yang diarahkan pada peningkatan kualitas dan standar produk, agar mampu
meningkatkan kinerja KUKM untuk menghasilkan produk-produk yang berdaya saing
tinggi. Pembinaan dan pemberdayaan yang dilakukan juga terkait dengan strategi
distribusi dan penetapan saluran distribusi bagi para pelaku KUKM termasuk para
pengrajin kulit telur ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap strategi saluran distribusi
yang tepat bagi UMKM kerajinan cangkang/kulit telur di Indonesia, khususnya yang
ada di Jakarta. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pelaku
UMKM kerajinan cangkang/kulit telur Indonesia khususnya di Jakarta.

76
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

TINJAUAN PUSTAKA
Kerajinan Kulit Telur
Banyak hal menarik yang bisa didapat dari sampah. Tanpa isi, cangkang/kulit
telur sejatinya adalah sampah, namun bila diberi sentuhan kreativitas dan diolah dengan
imajinasi dan ketekunan, cangkang/kulit telur pun dapat disulap menjadi karya yang
indah dan berharga. Mungkin hanya sedikit orang yang jeli melihat peluang untuk
berkarya seni sekaligus berbisnis menggunakan cangkang/kulit telur. Beberapa kulit
telur hewan yang dapat dijadikan kerajinan kulit telur antara lain: telur ayam, telur
bebek, telur burung puyuh, hingga yang terbesar telur burung onta.
Kerajinan kulit telur memiliki kelebihan tahan terhadap api, tidak akan dimakan
oleh rayap atau hama lainnya, serta tahan terhadap pergantian cuaca. Begitu pula bila
terkena sinar matahari tidak akan memudarkan warnanya. Karena cangkang/kulit telur
mudah pecah, maka proses pengerjaannya harus hati-hati.

Saluran Distribusi
Saluran distribusi adalah suatu set organisasi yang independen yang terlibat pada
proses penyediaan barang dan jasa sehingga dapat dikonsumsi konsumen. Saluran
distribusi merupakan sebuah alur produk atau jasa setelah proses produksi, dijual dan
digunakan oleh pengguna. Saluran distribusi pemasaran merupakan saluran pemasaran
yang dibutuhkan oleh perusahaan.Keputusan mengenai saluran distribusi pemasaran
merupakan salah satu keputusan yang penting yang harus dibuat oleh
manajemen.Saluran distribusi menjadi penting karena sebuah saluran distribusi tidak
hanya melayani pasar tetapi juga membuat pasar. Sehingga saluran distribusi juga
merepresentasikan opportunity cost (biaya kesempatan). Pemilihan saluran distribusi
dapat berimbas pada semua keputusan pemasaran. Memutuskan saluran distribusi apa
yang akan digunakan mungkin bukanlah sebuah masalah yang besar namun meyakinkan
bahwa perantara yang digunakan tepat dan sesuai menjadi sebuah masalah yang penting
untuk dipertimbangkan.
Pada saat ini perusahaan-perusahaan yang sukses menggunakan hybrid channel
atau saluran distribusi hybrid yang memiliki jumlah yang lebih banyak dan berlipat dari
biasanya. Perusahaan yang menggunakan hybrid channel harus yakin bahwa saluran
distribusi yang dipilih berjalan baik dan sesuai dengan target market yang dipilih.
Konsumen berharap saluran distribusi yang terintegrasi akan memungkinkan konsumen
untuk:
a. Memiliki kemampuan untuk memesan barang secara online dan mengambilnya di
toko pengecer di lokasi yang sesuai dengan pemesanan
b. Mengembalikan atau meretur barang dipesan secara online ke toko terdekat
c. Mendapatkan diskon pada pembelian online maupun offline

Menurut Nunes dan Caspede, pembeli terbagi menjadi 4 kelompok utama yakni:
a. Habitual shopper (pembeli yang rutin): pembeli ini akan membeli barang ditempat
dia biasa membeli barang (toko yang sama setiap kali membeli kebutuhannya)
b. High value deal seeker (pembeli yang mencari nilai terbaik) adalah pembeli yang
selalu tahu kebutuhannya dan mencari nilai terbaik sebelum membeli
c. Variety loving shopper adalah pembeli yang suka mendapatkan berbagai macam
informasi dari berbagai saluran pemasaran, mengambil keuntungan dari pelayanan
yang terbaik, dan membeli dari saluran pemasaran favorit mereka tanpa
memperdulikan harga
d. High involvement shopper adalah pembeli yang terlibat secara langsung dalam
mendapatkan semua informasi sehingga dapat membeli dengan harga yang rendah

77
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

dari saluran pemasaran yang tersedia tetapi juga mengambil keuntungan dari
pelayanan terbaik saluran pemasaran.

Dalam pandangan rantai penyalur (supply chain) sebuah perusahaan melihat


pasar sebagai beberapa point tujuan dan jalur searah dari berbagai gabungan sebuah
komposisi dan komponen melalui tahapan produksi awal hingga produk akhir yang
dijual kepada konsumen.Sedangkan pandangan umum melihat perusahaan berada
ditengah-tengah sebuah jaringan nilai. Jaringan nilai merupakan sebuah system
kerjasama dan alisansi yang perusahaan ciptakan untuk mencari, menambah dan
menghantarkan apa yang perusahaan tawarkan.
Fungsi Saluran Distribusi dan Alurnya
Beberapa fungsi seperti fisik, title, dan promosi memiliki alur maju ke
konsumen, sedangkan fungsi yang lain seperti pembayaran dan pemesanan memiliki
alur mundur dari konsumen. Untuk informasi, negosiasi dan keuangan dan resiko
memiliki alur dua arah. Setiap fungsi saluran memiliki tiga hal umum yaitu: mereka
menggunakan sumber yang jarang, mereka mampu berkinerja yang baik apabila fokus
pada satu hal tertentu dan mereka dapat berpindah pada anggota saluran distribusi yang
lain.
Integrasi dan Sistem Saluran Distribusi
Selain anggota saluran distribusi, system saluran distribusi juga terus
berkembang. Ada beberapa sistem yang digunakan dalam saluran distribusi yakni:
a. Sistem pemasaran vertical yaitu sistem dimana produsen, pedagang besar dan
pengecer adalah satu kesatuan dalam sebuah sistem. Sistem ini muncul sebagai
pengontrol perilaku saluran dan menghilangkan konflik yang terjadi apabila mereka
mengejar tujuan pribadi mereka. Sistem pemasaran vertical akan mencapai tingkat
ekonomis melalui ukuran, kemampuan daya tawar dan menghapus jasa yang sama.
Terdapat tiga jenis sistem pemasaran vertikal yaitu:
1) Sistem pemasaran vertikal perusahaan
2) Sistem pemasaran administrasi
3) Sistem pemasaran kontraktual
Adanya sistem pemasaran vertikal menciptakan kompetisi baru di bidang
retail, karena kompetisi tidak hanya antara perusahaan-perusahaan secara individu
tetapi kompetisi secara system dengan sistem yang lain untuk meraih biaya
ekonomis yang terbaik dan respon dari konsumen.
b. Sistem pemasaran horizontal adalah sistem dimana dua perusahaan atau lebih yang
tidak berkaitan meletakan bersama sumber-sumber atau program untuk
memanfaatkan peluang pemasaran yang muncul.
c. Sistem pemasaran multi saluran terjadi apabila perusahaan menggunakan dua atau
lebih saluran pemasaran untuk mencapai satu atau lebih segmen pasar yang dituju.
Dengan menambah saluran maka perusahaan mendapat 3 keuntungan yakni:
meningkatkan cakupan pasar, menurunkan biaya saluran dan lebih mengarah pada
penjualan yang disesuaikan dengan pelanggan.

Peran Saluran Distribusi Pemasaran


Pada umumnya perusahaan menggunakan perantara dalam menjual produk atau
jasanya kepada konsumen karena beberapa alasan yakni:
a. Banyak produsen kekurangan sumber daya keuangan untuk dapat memasarkan
produknya secara langsung

78
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

b. Produsen yang mampu membangun saluran pemasarannya dapat memperoleh


keuntungan yang lebih besar dengan meningkatkan investasi pada bisnis utama
dibandingkan bila membangun saluran distribusinya sendiri
c. Dengan menggunakan perantara, mereka membuat barang tersedia secara luas dan
mudah diperoleh dipasar secara effisien
d. Dalam beberapa situasi, pemasaran langsung tidak memungkinkan

METODOLOGI
Metode yang diambil untuk penelitian ini adalah dengan studi pustaka atau
library research dimana peneliti melakukan kajian melalui literature-literatur yang telah
ada, seperti dari kajian ilmiah, jurnal ekonomi dan bisnis, serta literature lain yang
mendukung penelitian ini.
Adapun data yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder yang sudah
dihimpun dari beberapa kajian jurnal ekonomi sehingga dapat mengangkat dan
mengungkap permasalahan yang terkait strategi saluran distribusi UMKM kerajinan
cangkang/kulit telur.

PEMBAHASAN
Teknik pemasaran boleh dikatakan sebagai kunci keberhasilan dari penjualan
produk.Kemampuan yang handal dalam memasarkan produk atau jasa bisa jadi lebih
penting dari produk itu sendiri.Teknik pemasaran yang baik didukung oleh strategi
pemasaran yang efektif. Dengan strategi tersebut, proses marketing dapat
dipertahankan, bahkan cara baru dalam memasarkan produk juga bisa kita temukan dan
membuat pelanggan semakin loyal. Tentu saja, jangan abaikan faktor kualitas produk
yang merupakan poin penting bagi pemasaran itu sendiri.
Maka, setelah dipastikan kualitas produknya, rancanglah strategi pemasaran
yang efektif agar proses pemasaran dapat berjalan secara terkontrol, dinamis, dan
kreatif.
Alternatif Pilihan Saluran Distribusi yang dapat digunakan Untuk Pemasaran
Kerajinan Cangkang/Kulit Telur
a. Distribusi Intensif, distribusi ini dapat dilakukan oleh perusahaan yang menjual
barang konvinien. Strategi yang diterapkan adalah dengan menggunakan penyalur
terutama memperbanyak pengecer untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan
konsumen (cocok untuk perusahaan industry besar).
b. Distribusi Selektif, perusahaan yang menggunakan distribusi selektif ini berusaha
memilih suatu jumlah pedagang besar/pengecer yang terbatas dalam suatu daerah
geografis. Biasanya saluran ini digunakan untuk pemasaran produk baru, barang
shopping/barang special dan jenis accessory equipment.
c. Distribusi Eksklusif, distribusi ini hanya menggunakan satu pedagang besar atau
satu pengecer saja. Saluran distribusi ini biasa digunakan untuk barang-barang
special, apabila penyalur bersedia membuat persediaan dalam jumlah besar, apabila
produk yang dijual memerlukan layanan setelah penjualan.

SIMPULAN
Dikarenakan kerajinan cangkang/kulit telur masih sedikit jumlah pengrajin yang
membuatnya, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa untuk memasarkan produk
kerajinan cangkang/kulit telur para pengrajin dapat memilih :
1. Distribusi Intensif, saluran ini dapat digunakan jika kerajinan cangkang/kulit telur
sudah menjadi barang kerajinan yang mem-booming seperti batu alam. Karena

79
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

distribusi jenis ini dapat dilakukan jika hasil produksi melimpah dan konsumen yang
tetap.
2. Distribusi selektif, tepat digunakan untuk pemasaran kerajinan cangkang/kulit telur
karena pemasaran produk dilakukan pada satu sentra wilayah saja. Sehingga produk
yang dipasarkan memiliki cirri dan corak yang khas.
3. Distribusi Eksklusif, jenis saluran distribusi ini dapat dilakukan para pengrajin untuk
memasarkan kerajinan cangkang/kulit telur jika ingin memperkenalkan produk
mereka kepada pasar luar, seperti melalui pameran kerajinan tangan ―Inacraft‖.
Sehingga memiliki pangsa pasar yang jelas, yaitu para pecinta seni craft bbaik dari
dalam maupun luar negeri.

SARAN
Saran yang dapat penulis sampaikan kepada para pelaku UMKM kerajinan
cangkang kulit telur adalah :
1. Dalam hal pemilihan saluran distribusi harus disesuaikan dengan jumlah produksi
kerajinan cangkang/kulit telur yang telah dihasilkan. Karena untuk distribusi intensif
pengrajin harus meliki stok barang produksi yang banyak dikarenakan jumlah
konsumen yang banyak pula.
2. Distribusi selektif hanya mungkin dilakukan oleh para pengrajin cangkang/kulit
telur yang mau berinovasi dan mengangkat satu corak dan cirri khas tertentu
wilayahnya sebagai identitas produknya.
3. Jika para pengrajin cangkang/kulit telur ingin menggunakan saluran distribusi
eksklusif, maka para pengrajin harus siap mengeluarkan pembiayaan yang cukup
besar untuk ikut serta dalam pameran selain itu juga untuk memperbanyak produksi.

DAFTAR PUSTAKA
Nurfarkhana, Anna dan Endah Widati. Manajemen Pemasaran 2. UNINDRA PRESS.
https://www.maxmanroe.com/6-bisnis-ukm-usaha-kecil-menengah-yang-
menjanjikan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Usaha_Kecil_dan_Menengah
http://news.liputan6.com/read/80066/karya-seni-tinggi-dari-kulit-telur
https://buletinbisnis.wordpress.com/2007/07/13/eksotika-kulit-telur/
https://anisaarahman.wordpress.com/tag/kesiapan-indonesia-menghadapi-mea/
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2014/04/28/200112/UMKM-
Rapatkan-Barisan-Hadapi-MEA-2015
http://slide123.weebly.com/tulisan-4.html
http://www.smartbisnis.co.id/insight/ekspansi-bisnis/6-strategi-pemasaran-yang-efektif-
http://ahzamedia.biz/nilai-ekonomis-dari-kreasi-seni-limbah-cangkang-telur/

80
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

MEMBANGUN JIWA KEWIRAUSAHAAN DALAM UPAYA


MENINGKATKAN MINAT DAN MOTIVASI BERWIRAUSAHA
UNTUK KEMANDIRIAN HIDUP PESERTA DIDIK

Elin Karlina

Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

Email : elinkarlina27@yahoo.com

ABSTRAK

Peserta didikmerupakan generasi muda yang nantinya menjadi generasi penerus dalam
pembangunan, oleh sebab itu para peserta didik harus memiliki cita-cita untuk menjadi
orang yang sukses. Berwirausaha merupakan salah satu cara untuk dapat meraih
keinginan yang dicita-citakannya. Namun, berdasarkan hasil pra penelitian yang
dilakukan, fenomena yang terjadi adalah setelah para peserta didik lulus nanti, baik itu
dari tingkat Sekolah Menengah Atas ataupun dari tingkat Perguruan Tinggi, mereka
cenderung lebih memilih untuk bekerja daripada menciptakan lapangan pekerjaan
sendiri. Oleh sebab itu, jiwa kewirausahaan, minat dan motivasi berwirausaha perlu
dibangun agar peserta didik memiliki kemandirian hidup sebagai bekal dalam meraih
cita-cita untuk menjadi seorang wirausaha yang sukses. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk membangun jiwa kewirausahaan dalam upaya meningkatkan minat dan motivasi
berwirausaha terhadap kemandirian hidup peserta didik. Data yang dikumpulkan adalah
data primer yang didapatkan dari penyebaran angket kepada peserta didik. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga variabel yang digunakan sebagai prediktor
kemandirian hidup peserta didik adalah variabel jiwa kewirausahaan teridentifikasi
sebagai variabel terkuat yang mempengaruhi kemandirian hidup peserta didik dibanding
dengan variabel minat dan motivasi berwirausaha, karena variabel jiwa kewirausahaan
berpengaruh langsung dengan kemandirian hidup peserta didik, sedangkan variabel
minat berwirausaha tidak berpengaruh secara langsung dengan kemandirian hidup,
karena dibutuhkan variabel motivasi berwirausaha sebagai variabel interveningnya.

Kata kunci : Jiwa Kewirausahaan, Minat Berwirausaha, Motivasi Berwirausaha,


Kemandirian Hidup.

PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dan
cepat, menuntut satiap orang untuk saling berkompetisi dalam menghadapi persaingan
hidup. Oleh karena itulah, orang yang mampu bertahan adalah mereka yang memiliki
kreatifitas dan daya inovasi yang tinggi untuk dapat mengambil semua peluang yang
ada melalui keterampilan yang dimilikinyasehingga dapat mengembangkan segala

81
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

potensi yang ada dalam dirinya untuk menciptakan suatu kreasi yang dapat memberikan
manfaat baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain.
Sesorang yang bisa mencipta dan menghasilkan sesuatuberarti orang tersebut
dapat dikatakan memiliki jiwa kewirausahaan, hal itulah yang saat ini sedang
diupayakan tertanam dalam diri peserta didik untuk dapat meraih kehidupan yang lebih
baikdimasa depan yaitu melalui kemandirian hidup. Oleh sebab itu pendidikan
kewirausahaan yang ada di sekolah sangat membantu peserta didik untuk lebih
memahami tentang kewirausahaan.
Pada kurikulum 2013 yang masih dilaksanakan dibeberapa sekolah ini
mencantumkan mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan menjadi salah satu mata
pelajaran wajib yang harus dipelajari salah satunya di tingkat SMA. Mata pelajaran
prakarya dan kewirausahaan di SMA digolongkan sebagai pengetahuan transcience-
knowledge, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan melatih keterampilan
kecakapan hidup berbasis seni, teknologi dan ekonomi.
Adapun manfaat dan tujuan mengapa peserta didik harus belajar kewirausahaan
yaitu agar dapat menerapkan perilaku tepat waktu dan tepat janji, membentuk pribadi
yang disiplin, ulet dan mau bekerja keras serta memiliki jiwa toleran dan mau
menolong sesama, mengasah keterampilan peserta didik agar mampu mencipta dan
membuat sesuatu, serta meningkatkan kreatifitas dan daya inovasi peserta didik.
Oleh sebab itu pendidikan kewirausahaan sangat penting guna merubah pola
pikir peserta didik sehingga jiwa kewirausahaan bisa tertanam sehinggadapat
meningkatkan minat dan motivasi berwirausaha untuk kemandirian hiduppeserta didik
nanti setelah mereka lulusdari SMA.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membangun jiwa kewirausahaan yang ada pada
diri peserta didik dalam upaya meningkatkan minat dan motivasi berwirausaha untuk
kemndirian hidup peserta didik.

KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Jiwa Kewirausahaan
Wirausaha merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat
dan menilai kesempatan serta mengambil peluang yang ada, mengumpulkan sumber
daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil
keuntungan dalam rangka meraih sukses di masa depan.
Menurut Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan Direktorat Jenderal
Pendidikan Nonformal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional (2010:2),
menyatakan bahwa:
Kata entrepreneurship yang dahulunya sering diterjemahkan dengan kata
kewiraswastaan akhir-akhir ini diterjemahkan dengan kata kewirausahaan. Entrepreneur
berasal dari bahasa Perancis yaitu entreprendre yang artinya memulai atau
melaksanakan. Wiraswasta/wirausaha berasal dari kata: Wira: utama, gagah berani,
luhur; swa: sendiri; sta: berdiri; usaha: kegiatan produktif.
Pendidikan kewirausahaan perlu diberikan sejak dini.Untuk menjadi seorang
wirausahawan yang tangguh, seseorang harus memiliki beberapa ciri tertentu antara lain
sebagai berikut: memiliki keberanian untuk mengambil risiko, memiliki daya kreasi,
imajinasi dan kemampuan yang tinggi untuk menyesuaikan diri dengan keadaan,
memiliki semangat dan kemauan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi,
mengutamakan efisiensi, memiliki kemampuan untuk memotivasi, sertamemiliki cara
analisis yang tepat dan sistematis.

82
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Jiwa kewirausahaan tidak muncul secara mendadak, akan tetapi melalui proses
pembelajaran, oleh karena itu pendidikan kewirausahaan penting bagi setiap orang. Jiwa
kewirausahaan dapat dibentuk, dilatih, dididik, dikembangkan dan ditingkatkan
jumlahnya.
Seorang yang berjiwa wirausaha menjadikan dirinya menjadi seorang manusia
yang berkepribadian dan berwatak unggul, memberikan kemampuan untuk
membersihkan sikap mental negatif, serta meningkatkan daya saing dan daya juang
untuk mencapai kemajuan. Jiwa kewirausahaan merupakan salah satu bekal bagi
seseorang dalam menjalani kehidupan dan jiwa kewirausahaan ini sebenarnya dimiliki
oleh setiap orang, tetapi dalam jumlah dan kadar yang berbeda-beda. Oleh karena
ituperlu dikembangkan serta harus diasah dan dipraktikkan.
Tujuan pendidikan kewirausahaan yaitu untuk menyiapkan lulusan memiliki
kemampuan untuk menyelesaikan masalah, beradaptasi dan mampu mencipta, selain itu
juga mendidik agar peserta didik menjadi generasi baru yang terbuka dan mandiri,
mampu melihat, mencari, dan menciptakan peluang dengan berpikir kritis dan kreatif
yang menghasilkan ide-ide yang inovatif.
Di masa depan, setelah lulus nanti peserta didik akan menghadapi tantangan
berat karena kehidupan dalammasyarakat selalu mengalami perubahan setiap saat.
Menghadapi hal tersebut, peserta didik perlu diberikan bekal kemampuan yang
memadai, keberanian dalam bertindak dan perlu dilatih sedini mungkin agar anak
memiliki ketrampilan yang cukup di masa depan.

Pengertian Minat
Minat merupakan suatu kesukaan, kegemaran, atau kesenangan akan sesuatu.
Menurut Slameto (2003: 180), minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan
pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Minat seseorang tidak timbul secara tiba-tiba. Minat tersebut ada karena
pengaruh dari beberapa faktor. Menurut Reber dalam Muhibbin Syah (2003: 151) 1)
Faktor dari dalam:Faktor internal adalah ‖pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi,
dan kebutuhan‖. 2) Faktor dari luar:Faktor eksternal adalah sesuatu yang membuat
siswa berminat yang datangnya dari luar diri, seperti: dorongan dari orang tua, dorongan
dari guru, rekan, tersedianya prasarana dan sarana atau fasilitas, dan keadaan
lingkungan.
Minat peserta didik untuk berwirausaha merupakan kekuatan yang akan
mendorong peserta didik untuk berwirausaha. Peserta didik yang berminat, maka akan
menunjukan sikap senang untuk berwirausaha.
Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap
sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya. Orang yang
berminat terhadap sesuatu, maka dia akan berusaha untuk mendapatkannya. Demikian
pula peserta didik yang berminat untuk berwirausaha, maka dia akan berusaha dan
berkorban semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkannya yaitu memnjadi seorang
wirausaha yang sukses.

Pengertian Motivasi
Seseorang yang mempunyai motivasi maka dia akan bertindak dengan arah dan
tujuan yang jelas.Menurut Mc. Donald (dalam Sardiman, 2007 : 73), menyatakan bahwa
Motivasi adalah perubahan energi dari dalam diri seseorang yang ditandai dengan
munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dalam
kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam
diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari

83
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang
dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Dari kutipan di atas, jika dikaitkan dengan motivasi berwirausaha, dapat disimpulkan
bahwa motivasi berwirausaha adalah daya energi yang sangat kuat yang datang dari
dalam ataupun luar diri peserta didik untuk belajar mengenai kewirausahaan dengan giat
sehingga tujuan yang akan dicita-citakan dapat tercapai, yaitu menjadi wirausaha
sukses.

Pengertian Kemandirian Hidup


Menurut Lamman (dalam Fatimah, 2006 : 44), menyatakan bahwa kemandirian
merupakan suatu kemampuan individu untuk mengatur dirinya sendiri dan tidak
tergantung kepada orang lain. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Brawer (dalam
Suprijanto, 2007:21), bahwa kemandirian merupakan perilaku yang terdapat pada
seseorang yang timbul karena dorongan dari dalam dirinya sendiri, bukan karena
pengaruh orang lain. Ciri-ciri sikap mandiri menurut Spencer dan Kass (dalam Ali,
2015: 32) adalah:
a. mampu mengambil inisiatif,
b. mampu mengatasi masalah,
c. penuh ketekunan,
d. memperoleh kepuasan dari usahanya,
e. berusaha menjalankan sesuatu tanpa bantuan orang lain.

Sedangkan menurut Antonius (dalam Fatimah, 2006:145) ciri-ciri sikap mandiri


meliputi:
a. selalu berorientasi pada kualitas dan prestasi
b. mewujudkan aktualisasi dirinya dengan kerja keras dan
memfokuskan diri,
c. memberikan sikap dan tindakan terbaik terhadap apa yang
sedang dilakukan,
d. bersinergi untuk berkontribusi dalam mencapai tujuan
e. berorientasi pada tujuan-akhir dengan memperhatikan proses.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif dengan
pendekatanpath analisys,alat pengumpulan datayang digunakan berupa kuesioner yang
diberikan pada peserta didik di SMAN 46 Jakarta yang tetap menggunakan kurikulum
2013 padatahun pelajaran 2014/2015.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Model Summary


Adjusted R Std. Error of
Model R R Square Square the Estimate
a
1 .670 .449 .384 7.685
a. Predictors: (Constant), x2, x1

84
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 2. ANOVAb
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
818.628 2 409.314 6.931 .006a
1003.922 17 59.054
1822.550 19
a. Predictors: (Constant), x2, x1
b. Dependent Variable: x3

Tabel 3. Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 52.750 19.152 2.754 .014
x1 .295 .159 .354 1.848 .082
x2 .261 .109 .460 2.398 .028
a. Dependent Variable: x3

Tabel 4. Model Summary


Adjusted R Std. Error of
R Square Square the Estimate
.391 .277 9.779
a. Predictors: (Constant), x1, x2, x3
Tabel 5. ANOVAb
Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 982.743 3 327.581 3.425 .043a
Residual 1530.207 16 95.638
Total 2512.950 19
a. Predictors: (Constant), x1, x2, x3
b. Dependent Variable: y
Tabel 6. Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 40.854 29.311 1.394 .182
x2 -.190 .160 -.285 -1.187 .253
x3 .352 .309 .299 1.139 .272
x1 .501 .222 .513 2.251 .039
a. Dependent Variable: y

85
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Penjelasan :
Sub Struktural 1
1. Secara simultan jiwa kewirausahaan dan minat berpengaruh positif dan signifikan
terhadap motivasi berwirausaha, besaran pengaruh simultan adalah sebesar 44,9%
merupakan kontribusi dari variabel jiwa kewirausahaan dan minat terhadap motivasi
berwirausaha sedangkan sisanya 53,1% dipengaruhi faktor lain di luar model.Model
simultan ini terjadi secara signifikan.
2. Pengujian secara individual melalui parameter statistik jiwa kewirausahaan (X1)
tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi berwirausaha (X3), sedangkan minat
(X2) berpengaruh signifkan terhadap motivasi berwirausaha (X3).
3. Lebih lanjut pengaruh kausal empiris antara variabel X1 dan X2 ini dapat
digambarakan melalui persamaan sub struktural 1 yaitu :
X3=0,354X1+0,460X2+0,742e1
X1 berkontribusi terhadap X3 sebesar 35,4% sedangkan sisanya sebesar 64,6%
dipengaruhi oleh faktor lain, sedangkan X2 berkontribusi terhadap X3 sebesar 46%
dan sisanya sebesar 54% depengaruhi oleh faktor lain.

Sub struktural 2
1. Secara simultan pengaruh jiwa kewirausahaan, minat dan motivasi terhadap y
kemandirian hidup sebesar 39,1 dan sisa nya sebesar 60,9
Karena signifikannya lebih kecil dari 0,05, maka X1,X2 dan X3 berpengaruh
terhadap Y
2. Setelah model simultan terbukti signifikan ,maka dilakukan penelusaran jalur
pengaruh parsial.
X1 secara langsung berpengaruh signifikan terhadap Y karena signifikannya lebih
kecil dar1 0,05, X1 menyumbang terhadap Y sebesar 51,3% sisanya sebesar 49,7%
dipengaruhi faktor lain
X3 secara tidak langsung tidak berpengaruh signifikan terhadap Y
karenasignifikannya lebih besar dari 0,05, X3 menyumbang terhadap Y sebesar
29,9% sisanya sebesar 70,1% dipengaruhi faktor lain.
X2 secara tidak langsung tidak berpengaruh signifikan terhadap Y, karena
signifikannya lebih besar dari 0,05, X2 menyumbang terhadap Y sebesar - 28,5%
sisanya sebesar 71,5% dipengaruhi faktor lain
3. Dari ketiga variabel yang digunakan sebagai prediktor kemandirian hidup, variabel
jiwa kewirausahaan teridentifikasi sebagai variabel terkuat yang mempengaruhi
kemandirian hidup dibanding dengan minat dan motivasi berwirausaha.
4. Secara keseluruhan, pengaruh yang dibentuk dari sub struktural 2 dapat
digambarkan melalui persamaan struktural 2 yaitu :
Y = 0,513X1 – 0,285X2 + 0,299X3 + 0,780el

Gambar 0,742 0,780


X1
0,534 0,513
X3 0,299
YPe
0,460 X2 mbe
-0,285

86
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

DAFTAR PUSTAKA
Ali, M.2005. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik), Jakarta: Rineka Cipta.

A.M, Sardiman. 2007. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali

.................DirektoratPembinaanKursusdanKelembagaanDirektoratJenderalPendidikanN
onformaldan Informal KementrianPendidikanNasional. 2010 . Konsep Dasar
Kewirausahaan. Jakarta

Fatimah, E. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: Pustaka Setia.

Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:


Remaja Rosdakarya

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang mempengaruhinya.Jakarta: Rineka


Cipta.

Suprijanto, H. 2007. Pendidikan orang dewasa; dari teori hingga aplikasi. Jakarta:
Bumi Aksara.

87
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

WANITA DAN BISNIS ONLINE SHOP: PELUANG DALAM


PENGEMBANGAN SEKTOR UMKM

Nur Amega Setiawati

Dosen Pendidikan Ekonomi


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

Email : nur_amega@yahoo.com

ABSTRAK

UMKM adalah sektor mikro yang memiliki potensi besar dalam pengembangannya.
Dalam perkembangannya, sektor UMKM banyak menjadi pilihan bagi wanita untuk
menunjukkan eksistensinya di bidang usaha. Banyak alasan mengapa wanita lebih
memilih menggeluti sektor UMKM daripada berkarir di luar rumah. Dan yang paling
banyak menjadi pilihan para wanita adalah onlineshop, karena lebih mudah dijalankan
di rumah. Oleh sebab itu kajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran teoritis
tentang peranan sektor UMKM dalam ikut memberdayakan wanita Indonesia. Kajian ini
berupa sebuah conseptual paper dan menggunakan sumber data sekunder berupa tema
kajian. Hasil kajian diharapkan dapat menjadi sebuah referensi bagi kajian tentang
perempuan dan sektor UMKM di Indonesia.

Kata Kunci: wanita, online shop, UMKM

PENDAHULUAN

Internet memilik iperanan yang vital dalam kehidupan saat ini di era tekhnologi
dan informasi, dimana banyak kemudahan yang dapat diperoleh melalui internet.
Banyak kegiatan yang sering dilakukan dengan menggunakan jejaring sosial, seperti
mencari informasi tentang sesuatu maupun menyampaikan informasi yang terupdate
saatini. Penggunaan jaringan internet ini kemudian dimanfaatkan juga dalam dunia
bisnis/perdagangan. Murahnya biaya akses dan kemudahan penggunaan jaringan
membuat banyak orang berlomba-lomba menjual produk barang/ jasa melalui internet
atau secara online. Dengan melakukan jualbeli melalui internet atau secara online, maka
tidak lagi terdapat batasan ruang/jarak antara penjual dan pembeli. Transaksi dapat
dilakukan dengan mudah dan singkat walaupun antara penjual maupun pembeli berbeda
wilayah/negara. Pembayaran bias dilakukan melalui transfer dan kemudahan keuangan
lainnya.

88
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Hal tersebut berlaku pula di Indonesia. Maraknya bisnis online shop di Indonesia
membuat dunia bisnis menjadi semakin ramai, sifatnya yang fleksibel dan mudah
dilakukan dimana saja dan kapan saja menambah banyaknya minat konsumen untuk
menggunakan jasa layanan tersebut. Hasil survey terakhir (December 2011)
menunjukkan bahwa 36% dari seluruh transaksi perdagangan yang terjadi di Indonesia
di lakukan secara online atau online shop. Diperkirakan 80% dari transaksi online
tersebut ternyata dilakukan oleh bisnis online berskala Mikro Kecil (UMK). Omzet dari
bisnis online berskala UMK ini mulai dari 2juta per bulan, hingga puluhan juta per
bulan, namun karena jumlahnya sangat banyak, maka omzet keseluruhan UMK online
mampu mencapai 80% dari keseluruhan transaksi online.(Bonafide Logo, 2012)

Survey yang dapat menjadi tolok ukur untuk mengetahui kecenderungan


konsumen dalam berbelanja melalui online tersebut dilakukan di 25 negara dengan
periode antara 5 Desember 2011 hingga 6 Februari 2012. Laporan untuk kawasan
Asia/Pasifik—Thailand, Cina, Jepang, Korea, Australia, Malaysia, Selandia Baru,
Taiwan, Vietnam, Hong Kong, Indonesia, Singapura, India, Filipina—juga dilengkapi
dengan wawancara mengenai perilaku berbelanja online terhadap 7.373 responden dari
14 negara—catatan: hasil survei dan laporan yang menyertainya tidak mencerminkan
kinerja keuangan MasterCard,(DuniaUKM, 2012).

Online shop di Indonesia lebih banyak dilakukan oleh para wanita usia produktif,
hal ini dikarenakan kegiatannya yang tidak menyita banyak waktu dan mudah dilakukan
di manasaja. Para wanita yang sudah berumah tanggamaupun bekerja di luar rumah juga
bias memanfaatkan online shop untuk menambah penghasilannya tanpa mengganggu

89
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

kegiatan utamanya. Dengan berjualan secara online, modal yang dibutuhkan juga tidak
terlalu besar, namun jika dijalankan dengan baik maka akan mendatangkan keuntungan
yang sanga ttinggi. Perlahan namun pasti, dengan adanya online shop maka kegiatan
perekonomian diharapkan dapat meningkat.

Online Shop

Belanja online (online shop) merupakan proses pembelian barang/jasa oleh


konsumen ke penjual realtime, tanpa pelayan dan melalui internet. Toko virtual ini
mengubah paradigma proses membeli barang/jasa dibatasi oleh tembok, pengecer, atau
mall. Sehingga dalam jual beli ini tidak perlu bertemu langsung antara penjual maupun
pembeli namun bisa dilakukan hanya melalui internet. (Didit Agus Irwantoko, 2012).

Nielsen pada tahun 2014 telah melakukan penelitian dengan mensurvey lebih dari
60 responden yang memiliki akses internet di 60 negara untuk mempelajari intensi
belanja online dari konsumen di seluruh dunia. Penelitian ini untuk mengetahui
mengenai intensi konsumen untuk membeli baik barang yang habis digunakan
(consumable) maupun yang tidak habis digunakan (non-consumable) dalam lanskap e-
commerce yang sedang tumbuh. Penemuan hasil survey ini mengungkapkan bahwa jasa
travel adalah yang paling banyak direncanakan oleh konsumen untuk dibeli secara
online, bersama dengan jasa penjualan tiket acara seperti tiket acara seperti tiket
bioskop, pertunjukkan, pameran dan pertandingan olahraga, dimana kategori-kategori
tersebut termasuk kedalam urutan lima teratas yang ingin dibeli konsumen secara
online. Sekitar setengah dari konsumen Indonesia berencana untuk membeli
secara online tiket pesawat (55%) serta melakukan pemesanan hotel dan biro perjalanan
(46%) dalam enam bulan kedepan. Empat dari sepuluh konsumen (40%) berencana
untuk membeli buku elektronik (ebook), hampir empat dari sepuluh konsumen
berencana untuk membeli pakaian/aksesori/sepatu (37%), dan lebih darisepertiga
konsumen merencanakan untuk membeli tiket acara (34%) secara online.

Grafik: Keinginan Untuk Membeli Produk/Jasa Secara Online Dalam Enam Bulan Ke
Depan (Top 5 Teratas)

Source: Nielsen Global Survey of E-Commerce, Q1 2014

90
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Di Indonesia sendiri online shop muncul di awal tahun 2000an dan baru populer di
tahun 2006, kemudian pada tahun 2008 jumlah online shop meningkat hingga puluhan
hingga ratusan persen dari sebelumnya. Meningkatnya penggunaan Internet di Indonesia
menjadi salah satu faktor pemicu menjamurnya online shop yang awalnya pengguna
internet hanya sekitar 2.000.000 orang pada tahun 2000 menjadi 25.000.000 pengguna
pada tahun 2008 (internetworldstats.com). koneksi internet yang murah dan mudah serta
banyaknya pendidikan dan pelatihan pembuatan online shop dengan harga terjangkau
juga menjadi penyebab meningkatnya online shop di Indonesia.
Online shop yang ada di Indonesia saat ini diperkirakan sudah mencapai ratusan
dengan banyaknya jumlah produk yang ditawarkan, mulai dari fashion, makanan,
keperluan rumah tangga, travel sampai gadget dll. Dengan banyaknya online shop yang
berkembang saat ini menyebabkan perubahan pola hidup masyarakat yang menjadi
lebih semakin konsumtif. Dari yang tadinya berbelanja secara konvensional kini lebih
menjadi modern hanya dengan cukup memilih melalui web/blog yang ada. Ditambah
lagi dengan selalu disajikannya informasi yang terupdate dan informasi yang jelas dari
online shop tersebut menambah ketertarikan konsumen/pengguna.

UMKM
Sektor UMKM telah terbukti mampu hidup dan berkembang dalam menghadapi
badai krisis selama lebih dari enam tahun. Keberadaannya telah dapat memberikan
kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam penyerapan tenaga kerja dan
peningkatan ekspor. Berdasarkan data Badan Produk Domestik Bruto (PDB)Pusat
Statistik (BPS) pada 2009, jumlah UMKM di Indonesia sebanyak 520.220 unit,
sedangkan jumlah koperasi sampai dengan pertengahan 2009 sebanyak 166.100 unit
yang tersebar di seluruh Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan.
(www.suaramedia.com). Prospek bisnis UMKM dalam era perdagangan bebas dan
otonomi daerah sangat tergantung pada upaya yang ditempuh oleh pemerintah dalam
mengembangkan bisnis UMKM. Untuk mencapai iklim usaha yang kondusif ini,
diperlukan penciptaan lingkungan kebijakan yang kondusif bagi UMKM. Kebijakan
yang kondusif dimaksud dapat diartikan sebagai lingkungan kebijakan yang transparan
dan tidak membebani UMKM secara finansial bicara berlebihan. Ini berarti berbagai
campur tangan pemerintah yang berlebihan, baik pada tingkat pusat maupun daerah
harus dihapuskan, khususnya penghapusan berbagai peraturan dan persyaratan
administratif yang rumit dan menghambat kegiatan UKM. (Firdausy, 2000) Tetapi
permasalahan utama yang dihadapi UMKM adalah kesulitan dalam mengakses kredit
untuk modal usaha. Hal ini disebabkan karena pihak perbankan menganggap UMKM
tidak layak untuk mendapatkan kredit, karena sektor UMKM sulit berkembang dan
adanya kekhawatiran terjadinya kredit macet.
Saat ini perkembangan UMKM jauh lebih besar daripada usaha dengan skala besar
(UB). Sehingga perhatian pemerintah terhadap perkembangan UMKM di dalam negeri
sangatlah besar. Karena UMKM lebih padat tenaga kerja dari pada usaha besar (UB),
UKM dianggap sangat penting sebagai sumber kesempatan kerja atau pendapatan. Oleh
karenanya, kelompok usaha tersebut diharapkan dapat berperan penting dalam upaya-
upaya nasional menanggulangi pengangguran, yang setiap tahunnya terus meningkat.
Online shop sangat identik dengan UMKM, baik dari segi permodalan maupun
manajemennya, perbedaan yang ada hanya di penggunaan media saja. Jika UMKM

91
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

menganut media offline, maka online shop menggunakan media online. Namun masih
ada hal yang sangat penting disini bahwa belum adanya lembaga yang mampu
mewadahi dan mampu melindungi onlie shop yang ada di Indonesia. Yang ada saat ini
baru hanyalah komunitas-komunitas online shop.

WANITA

Kontribusi UMKM dalam perekonomian nasional tidak diragukan lagi terutama


dalam penyerapan tenaga kerja, pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional,
nilai ekspor nasional, dan investasi nasional. Hasil penelitian Nur Afiah (2009)
menunjukan bahwa sektor UMKM memiliki kontribusi terhadap ekonomi dan
pembangunan Indonesia. Keberhasilan UMKM di Indonesia, di dalamnya tidak terlepas
dari peran serta perempuan. Lebih dari 50% pelaku ekonomi UMKM adalah
perempuan. Tantangan lain yang dihadapi oleh pengusaha perempuan adalah bagaimana
meningkatkan kapabilitas, dan kewirausahaan.
Forum APEC Women And The Economy Forum beberapa waktu yang lalu
mengambil tema ‗Women As Economic Drivers‘. Pasalnya, 96 persen pelaku
kewirausahaan adalah UKM, sementara 60% pelaku UKM adalah perempuan. Dengan
mel;ihat kondisi tersebut, perempuan saat ini menjadi penggerak ekonomi atau ―Women
as Economic Drivers‖demikian pernyataan Linda Amalia Sari Gumelar Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (Suara Karya
Online,2013)
Demikian juga berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM Republik
Indonesia (2010) sekitar 60% UKM dikelola oleh perempuan Indonesia. Hal ini tanpa
disadari bahwa perempuan memiliki peranan penting dalam meningkatkan
perekonomian negara. Peran perempuan dalam aktivitas ekonomi tidak hanya berperan
dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan masyarakat namun juga: -
Mengurangi efek fluktuatif ekonomi ; -Berkontribusi dalam upaya penurunan angka
kemiskinan dan -Menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Peran
perempuan di sektor UMKM umumnya terkait dengan bidang perdagangan dan industri
pengolahan seperti: warung makan, toko kecil (peracangan), pengolahan makanan dan
industri kerajinan, karena usaha ini dapat dilakukan di rumah sehingga tidak melupakan
peran perempuan sebagai ibu rumah tangga. Meskipun awalnya UMKM yang dilakukan
perempuan lebih banyak sebagai pekerjaan sampingan untuk membantu suami dan
untuk menambah penadapatan rumah tangga, tetapi dapat menjadi sumber pendapatan
rumah tangga utama apabila dikelola secara sungguh-sungguh. (Priminingtyas,2010)
Peran wanita dalam kehidupan rumah tangga bukan hanya untuk mengurus suami
dan anak-anaknya saja. Namun wanita juga bertanggung jawab dalam mengelola
keuangan keluarga. Mulai dari mengatur biaya bulanan atau uang jajan anak.Sebagai
pihak yang menentukan ke arah mana keuangan keluarga dikeluarkan, tentu wanita
harus paham bagaimana menjalankan perannya tersebut. Namun seringkali wanita
dihadapkan pada masalah keuangan, dimana pendapatan yang diterima seringkali
kurang mencukupi kebutuhan rumah tangganya.
Banyak dari para wanita yang akhirnya memilih bekerja di luar rumah, baik sebagai
karyawan sebuah perusahaan, menjalankan bisnis keluarga atau bekerja dengan orang
lain. Namun tidak sedikit juga wanita yang memilih pekerjaan yang dapat dilakukan di
dalam rumah sekaligus dapat mengurus rumah tangga/ keluarganya. Pilihan itu biasanya
jatuh kepada bisnis online shop. Dimana kegiatan ini bisa dilakukan setiap saat tanpa
menggangu kegiatan mereka di rumah. Hanya dengan bermodalkan perangkat seluler

92
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

atau computer/laptop mereka dapat menjalankan bisnisnya tanpa harus kelua rrumah
dan bertemu langsung dengan pembeli/konsumen.
Banyak pilihan produk yang akan mereka jual, kemudahan dalam pemasarannya
yang bisa menggunakan media social facebook, twitter, atau instagram, segmentasi
pasar yang jelas dan juga merupakan bisnis yang paling simple dibandingkan bisnis
lainnya menjadi alasan mengapa mereka memilih bisnis ini.

SIMPULAN
Berdasarkan kajian diatas dapat disimpulkan bahwa mayoritas bisnis yang sering
dilakukan oleh para wanita dalam menunjang kegiatan perekonomian Negara adalah
online shop. Dimana online shop ini juga merupakan bagian dari UMKM. Kegiatannya
yang mudah dilakukan kapan saja dan dimana saja membuat para wanita meras
anyaman dalam menjalankan bisinis ini. Segi permodalan yang cukup kecil juga
mendukung alas an untuk melakukan bisnis ini, dan keuntungan yang lumayan besar
juga menarik para penggiat bisnis ini. Tanpa harus keluar rumah dan bekerja sepanjang
hari wanita membuktikan bahwa mereka juga bisa berperan dalam meningkatkan
perekonomian rumah tangga dan Negara.

DAFTAR PUSTAKA
Tambunan, Tulus. 2009. Perekonomian Indonesia. Bogor: Ghalia Indonesia
(2012,June18). Retrieved July 2, 2012, from DuniaUKM:

Linda Amalia S.G, 2013, TingkatkanPeranPerempuandalamSektor UKM. SuaraKarya


Online, 9 Sepember 2013. Di unduh 15 Januari 2014

Priminingtyas,D.N, 2010. PeranPerempuanDalamPengembanganSektor Usaha mikro


Kecil Menengah (UMKM).Artikel

Afiah, N. Nunuy ,2009. Beberapaperankewirausahaandalammengatasitantangan di


UMKM.

KementerianKoperasidan UKM RepublikIndonesia ,2010. .Data UKM yang


dikelolaolehperempuanIndonesia . Jakarta

Bonafide Logo. (2012, June 6). Apakahbisnis online jugamembutuhkan logo?

Retrieved July2012,fromhttp://bonafidelogo.blogspot.com/2012/06/apakah-bisnis-
online-juga-membutuhkan.html

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dr-nahiyah-jaidi-mpd/peran-serta-
perempuan-dalam-umkm.pdf

DiditAgusIrwantoko. (n.d.).Online shopping, belanja online, amankah? Retrieved July


2, 2012,fromhttp://nevafarrell.blogspot.com/2011/07/online-shopping-belanja-
online-amankah.html

93
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Adila Ashari Partono, MAKALAH TEKNOLOGI INFORMASI BISNIS


‗MENJAMURNYA ONLINE SHOP‘(2012,Juli) from: http ://tibbersama.
blogspot.com/2012/07/makalah-tib-menjamurnya-online-shop.html

MiladinneLubis, konsumen Indonesia mulai menyukai berbelanja online.(2014, maret).


From:http://www.nielsen.com/id/en/press-room/2014/konsumen-indonesia-
mulai-menyukai-belanja-online.html

Firdausy, CM. 2010.ProspekBisnis UKM dalam Era PerdaganganBebasdanOtonomi


Daerah.

Available online with up dates at http:// www.duniaesai.com/ekonomi/eko5.html


(Verified 20 April 2010).

94
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

KESIAPAN UKM DI INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING


DAN KUALITAS DIRI DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC
COMMUNITY (AEC) 2015

Heri Susilo

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

ABSTRAK

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menjadi salah satu factor pendorong memajukan
sektor perekonomian di Indonesia, hal ini dapat terlihat pada peran UKM yang banyak
membantu mengurangi pengangguran, menekan angka kemiskinan, membantu
menyuplai dana untuk Negara, meningkatkan pendapatan masyarakat dan lain
sebagainya.Peran UKM sangatlah besar pada tahun 2007 (KOMPAS, 14 Desember
2007) disebutkan bahwa UKM membantu penyerapan kerja hampir 85 juta orang dan
membantu menambah pendapatan domestic sebesar 52,28 persen.Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui kesiapan UKM dalam daya saing dan kualitas diri
berdasarkan pengukuran Human Developmant Index (HDI).Metode penelitian yang
digunakan adalah metode deskriptif. Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini adalah
bahwa daya saing Indonesia terhadap Negara ASEAN dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan, dan hendaknya disertai peningkatan dalam HDI Indonesia.

Keyword: UKM, HDI, Daya Saing dan Kualitas Diri, AEC.

PENDAHULUAN
Usaha Kecil dan Menengah merupakan bentuk usaha yang saat ini mengalami
globalisasi dalam perekonomian Indonesia, UKM menjadi salah satu factor pendorong
memajukan sector perekonomian di Indonesia, hal ini dapat terlihat pada peran UKM
yang banyak membantu mengurangi pengangguran, menekan angka kemiskinan,
membantu menyuplai dana untuk Negara, meningkatkan pendapatan masyarakat dan
lain sebagainya. Peran UKM sangatlah besar pada tahun 2007 (KOMPAS, 14 Desember
2007) disebutkan bahwa UKM membantu penyerapan kerja hamper 85 juta orang dan
membantu menambah pendapatan domestic sebesar 52,28 persen.
Dengan segera diberlakukannya kesepakatan ASEAN Economic Community pada
tahun 2015 ini membuat seluruh sector industry perlu bersiap untuk menghadapi
prsaingan tinggi yang bakal tercipta. Oleh sebab itu pelaku usaha di Indonesia harus
segera bersiap dan meningkatkan kualitas diri, termasuk kalangan Usaha Kecil dan
Menengah yang perlu mengetahui seluk beluk dan mempelajari kondisi pasar di Negara-
negara lain dan Negara ASEAN. Ketahanan dan daya saing UKM di Indonesia menjadi
poin penting yang harus diprioritaskan dalam pelaksanaan ASEAN Economic
Community 2015. Keadaan tersebut karena UKM selama ini menjadi tulang punggung
yang banyak membantu penyerapan tenaga kerja, mengurangi pengangguran dan
kemiskinan serta meningkatkan pendapatan domestic Negara.

95
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tujuan dari penelitian tentang UKM dalam mempersiapkan kualitas diri untuk
menghadapi Asean Economic Community adalah agar para pelaku UKM yang ada di
Indonesia mempersiapkan diri dengan meningkatkan kualitas dari usaha yang sudah
dibangun sehingga para wirausahawan dapat mencermati melihat dan mendalami cara
berbisnis Negara-negara lain dalam meningkatkan kualitas diri mereka melalui cara
mereka memasarkan produk, menata manajemen perusahaan yang baik dan lain
sebagainya.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku UKM
daalam hal peningkatan kualitas diri melalui upaya daya saing ekonomi dari Negara-
negara lain.
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi ASEAN Economic Community
ASEAN Economic Community adalah suatu komunitas Negara-negara ASEAN
dalam bidang perekonomian. Pada tahun 1997 para kepala Negara yang tergabung
didalam ASEAN menyepakati sebuah visi yang di bicarakan bersama yaitu visi untuk
mewujudkan kawasan yang stabil dan berdaya saing tinggi dengan pertumbuhan
ekonomi yang merata (ASEAN Vision 2020). Komunitas tersebut sebenarnya akan
diterapkan pada tahun 2020 namun dipercepat menjadi tahun 2015 yang disesuiakan
dengan keadaan globalisasi dan melalui persetujuan Negara-negara ASEAN. (Triansah
Djani 2007:32 dalam Sholeh).
Dengan segera diberlakukan nya kesepakatan ASEAN Economic Community pada
tahun 2015 ini membuat seluruh sector industry perlu bersiap untuk menghadapi
prsaingan tinggi yang bakal tercipta. Oleh karena adanya aturan baru dari masyarakat
ekonomi ASEAN (MEA) yang menyebutkan bahwa dengan dibentuknya komunitas ini
akan semakin memudahkan kerja sama dalam peredaran barang dan jasa di seluruh
kawasan ASEAN tanpa adanya system bea masuk dan barrier lainnya. Oleh sebab itu
pelaku usaha di Indonesia harus segera bersiap dan meningkatkan kualitas diri,
termasuk kalangan UKM yang perlu mengetahui seluk beluk dan mempelajari kondisi
pasar yang di Negara-negara lain dan Negara ASEAN. Ketahanan dan daya saing UKM
di Indonesia menjadi poin penting yang harus diprioritaskan dalam pelaksanaan
ASEAN Economic Community 2015. Keadaan tersebut karena UKM selama ini
menjadi tulang punggung yang banyak membantu penyerapan tenaga kerja, mengurangi
pengangguran dan kemiskinan serta meningkatkan pendapatan domestic Negara.
Definisi Daya Saing
Pengertian daya saing sendiri menurut World Economic Forum (WEF) adalah
sebagai kemampuan perekonomian nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi
yang tinggi dan berkelanjutan. Indikator daya saing secara global diukur dari kondisi
ekonomi makro, birokrasi, serta teknologi suatu negara. Sedangkan daya saing menurut
Michael Porter adalah produktivitas yang didefinisikan sebagai output yang dihasilkan
oleh tenaga kerja.Pengertian dari Porter mengenai daya saing lebih merujuk pada daya
saing perusahaan dalam industri.
Negara ASEAN
Negara-negara anggota ASEAN adalah negara-negara yang ada di Asia Tenggara.
ASEAN adalah kepanjangan dari Association of South East Asia Nation, atau dalam
bahasa Indonesia disebut juga PERBARA yaitu singkatan dari Perhimpunan Bangsa-
bangsa Asia Tenggara. Sekretariat ASEAN berada di Kemayoran Baru, Jakarta Selatan.
ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand.
Pada 2010 ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) memiliki 10 negara
anggota, satu negara kandidat anggota, dan satu negara pengamat. Negara anggota

96
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ASEAN saat ini adalah Brunai, Filippina, Indonesia, Kamboja, Laos, Myanmar,
Malaysia, Singapure, Thailand, Vietnam.

METODOLOGI
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Teknik
pengumpulan data dalam penyusunan penelitian ini melalui studi literatur atau studi
pustaka. Studi pustaka merupakan kegiatan pengumpulan data yang berasal dari karya
ilmiah, text book, pelaporan, peraturan perundang-undangan dan tulisan-tulisan yang
berhubungan dengan penelitian. Studi pustaka atau studi literatur dimaksudkan untuk
mendapatkan gambaran mengenai permasalahan UKM Indonesia dalam hal daya saing
dan kualitas diri.
Data skunder yang digunakan dalam pengolahan data adalah datatime series daya
saing negara – negara anggota ASEAN. Dan data tersebut adalah data perbulan dari
tahun 2010 – 2012.
PEMBAHASAN
Gambaran Umum Peringkat Daya Saing Negara-negara ASEAN
Berdasarkan IMD World Competitivenes year book 2007, pada tahun 2003 daya
saing perusahaan Indonesia menempati posisi ke 49 dari 55 negara yang disurvei
kondisi ini terus turun ditahun tahun berikutnya menjadi peringkat 50 pada tahun 2005,
52 ditahun 2006, 54 ditahun 2007. Sedangkan menurut World Economic Forum laporan
daya saing global forum telah menerbitkan laporan daya saing Negara-negara ASEAN
pada tahun 2012-2013, sebagai berikut :
NAMA NEGARA PERINGKAT DAYA SAING
Indonesia 50
Malaysia 25
Singapura 2
Thailand 38
Philipina 65
Brunei 28
Cambodia 85
Laos -
Myanmar -
Vietnam 75
Table daya saing Negara-negara ASEAN 2012-2013
Pada tahun 2013 World Economic Forum kembali menerbitkan rangking daya saing
untuk tahun 2013, Indonesia berada pada posisi ke 38 dari 148 negara yang ikut serta
dan berada pada posisi ke 5 di kawasan Negara ASEAN dan Asia Selatan. sedangkan
untuk negara-negara ASEAN yang lain seperti Singapura yang berada di posisi ke-2,
Malaysia di posisi ke-24, Brunei di posisi ke-26, dan Thailand di posisi ke-37.

97
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Table HDI tahun 2010 – 2012, sebagai berikut :


NEGARA TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012
Indonesia 0,620 0,624 0,629
Malaysia 0,673 0,676 0,679
Singapura 0,892 0,894 0,895
Thailand 0,686 0,686 0,690
Philipina 0,649 0,651 0,654
Brunei 0,854 0,854 0,855
Cambodia 0,532 0,538 0,543
Laos 0,534 0,538 0,543
Myanmar 0,490 0,494 0,498
Vietnam 0,611 0,614 0,617
Sumber : jurnal kajian LEMHANAS RI : 2013
Interpretasi Hasil
Dilihat dari table dan data diatas, Indonesia mengalami kemajuan dari tahun ke
tahun yang tidak bisa diremehkan namun Indonesia tetap harus lebih giat meningkatkan
kualitas diri dalam seluruh sector ekonomi, meningkatkan daya saing yang tinggi
dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin
maju seperti saat ini. Sedangkan untuk table HDI diatas Indonesia menempati urutan
menengah dibawah Negara ASEAN yang lain yang mempunyai HDI tinggi seperti
singapura, Malaysia, Filiphina, dan Thailand. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam
hal tersebut adalah masalah pemberian upah dimana Negara Indonesia termasuk
kedalam Negara yang berada pada urutan ke-3 dalam pemberian upah yang rendah. Hal
ini akan mengakibatkan tantangan bagi negar Indonesia dimana sebagian besar
masyarakatnya bergantung pada kesesuaian dari upah yang diberikan untuk mencukupi
hidup mereka.
Mengacu pada table diatas Indonesia memiliki peluang untuk terjun meramaikan
persaingan global di pasaran internasional maupun ASEAN apabila Indonesia tetap
mempertahankan dan terus meningkatkan kualitas diri dari tahun ke tahun dan terus
meningkatkan daya saing yang tinggi, pemerintah harus terus meningkatkan kinerja
seluruh sector industry perekonomian yang dapat membantu Indonesia unggul didalam
persaingan bisnis.
Meskipun banyak yang beranggapan bahwa Indonesia belum siap menghadapi pasar
persaingan ASEAN karena banyak para pelaku usaha yang sebagian besar masih gagap
teknologi dan kurang memiliki akses serta tidak dapat menguasai bahasa internasional
untuk membuat kerjasama dengan usaha lain yang ada di luar negri. Sebagai salah satu
sector industry yang banyak berkembang ditengah masyarakat dan banyak menyumbang
pendapatan Negara serta penyerapan tenaga kerja yang besar, Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) dirasa dapat membantu Negara ini untuk bersaing dengan Negara
ASEAN yang lain.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan interpretasi hasil penelitian di atas maka, secara garis besar Indonesia
harus melakukan perubahan dan pengembangan strategi-strategi dalam memajukan
seluruh sector industry ekonomi terutama UKM Indonesia agar mampu bersaing di
dalam ASEAN Economic Community (AEC). Strategi-strategi yang dapat
dikembangkan adalah :
a. peningkatan daya saing ekonomi
b. peningkatan laju ekspor
c. reformasi regulasi

98
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

d. perbaikan infrastruktur
e. meningkatkan mutu pendidikan
f. pemberdayaan UKM
g. memanfaatkan teknologi internet
h. penguatan ketahanan ekonomi
i. peningkatan partisipasi semua unsur Negara

Saran
Dari strategi-strategi diatas yang dapat diterapkan untuk menhadapi ASEAN
Economic Community (AEC) bagi Indonesia, maka saran yang dapat peneliti
sampaikan adalah sebagai berikut :
a. Penguatan daya saing ekonomi
Penguatan daya saing ekonomi ini mengguanakan system MP3EI (Masterplan
percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia, yang mampu
meningkatkan investasi sector riil sebesar 499,5 trilliun hasilnya perekonomian
Indonesia tumbuh 65% (2011).
b. Program ACI (Aku Cinta Indonesia)
Program ini dijalankan untuk kampanye agar masyarakat mencintai produk buatan
dalam negri dan mengurangi penggunaan produk dari luar negri agar membantu
sector industry dalam mengahadapi AEC.
c. Penguatan sector UMKM
Sector UMKM yang memberikan banyak keuntungan Negara karena banyak
memberi pendapatan Negara dan mengurangi angka kemiskinan serta
pengangguran yang mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak dari sector
industry ekonomi yang lain.
d. Perbaikan infrastruktur
Perbaikan jalan, penggunaan alat transportasi yang lebih modern dan lain
sebagainya.
e. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)
Peningkatan ini dilakukan dengan menetapkan minimal 9 tahun pendidikan, melalui
pendidikan gratis yang digalangkan pemerintah Indonesia. Diharapkan seluruh
masyarakat Indonesia menyelesaikan pendidikan minimal 9 tahun agar sumber daya
manusia meningkat.

DAFTAR PUSTAKA
Barmana, M,A. 2011. Peningkatan MSS (Market Share Of Sharia) dalam Menghadapi
Mea (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015 Melalui IM (Islamic Microfinance ) dan IB
(Islamic Banking) di Indonesia. Yogyakarta.
Darwanto. 2012. Kesiapan Bank Pembangunan Daerah (Bpd) dalam Menghadapi Asean
Economic Community. Semarang.
Harjito, D, A. 2010. Perubahan Musiman (Seasonality) Pasar Modal dan Efek
Kontagion di Negara-Negara Asean. Jurnal Siasat Bisnis, Vol. 14, No. 1, Hal: 1–18.
Koesrianti. 2013. Pembentukan Asean Economic Community (Aec) 2015: Integrasi
Ekonomi Berdasar Komitmen Tanpa Sanksi. Jurnal Law Review, Volume XIII, No.
2.
Maryati, W. 2008. Peran Perguruan Tinggi dalam Pemberdayaan Entrepreneurship
untuk Mengembangkan Wirausahawan Kecil Menghadapi Persaingan Global.
Jombang.

99
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Nagel, F & Julius, P. 2012. Peluang dan Tantangan UKM Indonesia Menghadapi
Masyarakat Ekonomi Asean 2015. Surabaya.
Peningkatan Peran Indonesia dalam ASEAN Framework On Equitable Economic
Development (EED) dalam rangka Ketahanan Nasional. Jurnal Kajian Lemhannas
RI, Edisi 16, November 2013.
Ramadhani, F & Arifin, Y. 2013. Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi
Komunikasi Berbasis E-Commerce Sebagai Media Pemasaran Usaha Kecil
Menengah Guna Meningkatkan Daya Saing dalam Menghadapi Masyarakat
Ekonomi Asean 2015. Economics Development Analysis Journal, Vol. 2, No.2.
Roida, H, Y. et all. 2010. Internasionalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
(UMKM) Ditinjau Dari Tipe Kepemilikan: Studi Empiris Di Jawa Timur. Jurnal
Manajemen Teori dan Terapan, Tahun 3, No. 2.
Sholeh. 2013. Persiapan Indonesia Dalam Menghadapi Aec (Asean Economic
Community) 2015. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 1, Nomor 2, hal :
509-522.
Suparyadi. 2003. Membangun Keunggulan Bersaing Industri Kecil Gula Merah Tebu
(IKGMT) : Kiat Bersaing Di Pasar Ekspor. Jurnal Siasat Bisnis. Vol 8, No. 2.
Umar, S. 2008. Implementasi Knowledge Management pada UMKM Indonesia untuk
Meningkatkan Daya Saing UMKM dalam Dunia Internasional. Jurnal Siasat Bisnis,
Vol. 12, No. 2, Hal: 149–160.
Wahyudin, D. -. Peluang atau Tantangan Indonesia Menuju Asean Economic
Community (Aec) 2015.
Wiyadi. 2009. Pengukuran Indeks Daya Saing Industri Kecil Menengah (Ikm) Di Jawa
Tengah. Jurnal Siasat Bisnis, Vol. 13, No. 1, Hal: 77–92.
Wiyadi & Shahadan, F. 2009. Kinerja dan Kesiapan Industri Kecil dan Menengah
(IKM) Pemrosesan Makanan Di Indonesia dan Malaysia Menghadapi Tantangan
Globalisasi. Jurnal Ekonomi Manajemen Sumber Daya, Vol. 10, No. 2.

100
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

TARGET PASAR POTENSIAL PEMASARAN WISATA KULINER BETAWI DI


SETU BABAKAN

1
Maria A. Wikantari
2
Dhian Tyas Untari
1
Mahasiswa Program Doktor Universitas Pancasila, Jakarta
2
Mahasiswa Program Doktor Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat
E-mail : mwikantari@gmail.com

ABSTRAK

Wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan
kebudayaan sebagai objeknya dimana terdapat 12 unsur didalamnya, termasuk unsur
makan dan kebiasaan makan. Makanan lebih dari sekedar makan, makanan berkaitan
dengan identitas, budaya, produksi, konsumsi dan lebih luas lagi merupakan isu dari
sebuah keberlanjutan. Terkait dengan pengembangan bisnis, sistem pemasaran yang
matang merupakan suatu hal yang mutlak untuk diperhatikan. Hal yang perlu
diidentifikasikan dalam menentukan strategi pemasaran adalah segmen dan target pasar
yang potensial. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menentukan target pasar
potensial dalam pemasaran wisata kuliner di Setu Babakan. Penelitian ini bersifat field
research dengan menggunakan sampel responden sebanyak 66 orang yang didapatkan
dengan metode accidental sampling pada hari Sabtu dan Minggu. Adapun aspek yang
digunakan dalam penelitian adalah aspek sosial budaya, aspek geografis, aspek
demografis dan aspek psikologis. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan
bahwa target potensial pemasaran wisata kuliner di Setu babakan adalah wisatawan
remaja sampai remaja akhir dan dewasa yaitu usia 12 – 45 tahun, dimana mayoritas dari
mereka berstatus ekonomi menengah, status pendidikan juga menengah bahkan banyak
diantara mereka yang masih berstatus sebagai pelajar ataupun mahasiswa.
Kata kunci: Target, Pemasaran, Wisata, Kuliner, Setu Babakan

PENDAHULUAN
Jakarta sebagai tempat cikal bakal tumbuhnya budaya Betawi, memiliki
beberapa pemukiman komunitas warga Betawi. Kelompok komunitas warga asli ini
telah terbentuk dari sejak penguasaan Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sejak
tahun 1800 terjadi pemekaran pusat pemerintahan yang menyebabkan warga asli banyak
bergeser ke selatan dan beberapa membentuk konsentrat pemukiman warga asli di
tengah perkotaan. Pemukiman komunitas warga Betawi asli di Jakarta, oleh pemerintah
Daerah Khusus Ibukota Jakarta ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi dan
dikembangkan ke arah pelestarian budaya Betawi. Pemukiman Betawi terbesar di
masing-masing kotamadya antara lain: Condet - Jakarta Timur, Srengseng Sawah -
Jakarta Selatan, Kemayoran - Jakarta Pusat, Marunda - Jakarta Utara dan Srengseng -
Jakarta Barat. Diharapkan dengan dipertahankannya komunitas Betawi di lingkungan
cagar budaya, pelestarian budaya bisa berjalan dengan baik.
Pariwisata merupakan salah satu kegiatan yang menjadi kebutuhan hampir
seluruh manusia. Prospek pariwisata ke depan pun sangat menjanjikan bahkan sangat
memberikan peluang besar, terutama apabila menyimak angka-angka perkiraan jumlah

101
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

wisatawan internasional (inbound tourism) berdasarkan perkiraan World Trade


Organization (WTO) yakni 1,046 milyar orang (tahun 2010) dan 1,602 milyar orang
(tahun 2020), diantaranya masing-masing 231 juta dan 438 juta orang berada di
kawasan Asia Timur dan Pasifik. Perkiraan jumlah wisatawan internasional tersebut
akan mampu menciptakan pendapatan dunia sebesar USD 2 triliun pada tahun 2020.
Sektor pariwisata juga merupakan salah satu sektor pembangunan yang
mempunyai manfaat ganda atau multiplier effect secara ekonomi bagi pemerintah
daerah melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan ekonomi masyarakat
melalui perluasan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan (Untari, 2012; Siregar,
2004). Di Indonesia sektor wisata merupakan salah satu penyumbang devisa yang
signifikan bagi Indonesia. Secara keseluruhan, sektor pariwisata menjadi penyumbang
nomor 5 pada tahun 2008, nomor 4 pada tahun 2009 dan nomor 5 pada tahun 2010. Jika
dilihat sumbangan sektor non migas, sektor pariwisata menempati urutan 2 dan 3 (Dewi,
2011:4). Sektor pariwisata mampu memberikan nilai tambah baik secara langsung
maupun tidak langsung sebesar 8,7 persen untuk Produk Domestik Bruto (PDB),
bahkan PDB kegiatan wisata dan rekreasi meningkatkan PDB sebesar 15 persen (Franz,
2001 dalam Vanhove, 2005:1). Penerapan otonomi daerah memberikan konsekuensi
logis bagi pemerintah daerah untuk mengurus rumahtangga sendiri, dan memiliki
tanggung jawab penuh dalam meningkatkan kemakmuran rakyatnya melalui kegiatan
pembangunan pariwisata.
Sebagai ibu kota, Jakarta juga merupakan pusat bisnis, politik, dan pemerintahan
dengan demikian posisioning Jakarta sebagai kota metropolitan mempunyai magnet
tersendiri untuk mengundang masyarakat dari luar Jakarta untuk berkunjung atau
bahkan tinggal di Kota Jakarta. Jakarta sebagai salah satu destinasi wisata utama di
Indonesia memiliki beragam produk wisata. Daya Tarik Jakarta sebagai salah satu
destinasi wisata utama di Indonesia dapat dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan
mancanegara (wisman) ke Jakarta. Wisman yang berkunjung ke kota Jakarta terus
meningkat dalam kurun waktu empat tahun terakhir dengan rata-rata kenaikan 85.782
wisman pertahun pada bulan desember dan 149.504 wisman pada bulan Januari (Berita
Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta, 2013).
Wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang
menggunakan kebudayaan sebagai objeknya dimana terdapat 12 unsur didalamnya,
termasuk unsur makan dan kebiasaan makan. Makanan lebih dari sekedar makan,
makanan berkaitan dengan identitas, budaya, produksi, konsumsi dan lebih luas lagi
merupakan issu dari sebuah keberlanjutan (Hall dan Mitchell dalam Frochot, 2003:81).
Seiring dengan perubahan global, paradigma pariwisata Indonesia sudah
memperlihatkan perubahahan yang signifikan. Pada masa lalu spektrum pembangunan
pariwisata lebih diorientasikan hanya pada beberapa kawasan penting saja, sementara
dilihat dari kecenderungan perubahan pasar global yang lebih mengutamakan sumber
daya lokal sebagai destinasi pariwisata (Kardigantara dan Goeltom, 2007). Sehubungan
dengan tren wisata tersebut pengembangkan ekowisata kuliner dapat dikembangkan
sebagai salah satu produk wisata, dimana makanan dengan perspektif kelokalan menjadi
mind product dapat meningkatkan perekonomian masyarakat baik sebagai petani bahan
baku makanan, pengrajin makanan, sampai dengan mendukung program diversifikasi
pangan.
Salah satu aspek yang penting dalam pembangunan wisata adalah aspek
pemasaran. Keberhasilan pemasaran dan promosi memberikan peranan penting dalam
pengembangan sektor pariwisata (Sari, 2009; Purnama, 2008; Aprilia, 2008). Dalam
program kerja pemerintah DKI Jakarta menempatkan pemasaran dan promosi menjadi
salah satu fokus dalam program pengembangan wisata dengan menitik beratkan pada

102
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

indikator jumlah kunjungan wisman dan wisatawan nusantara (wisnus) serta rata-rata
lama tinggal. Dengan Strategi pemasaran yang baik dan dapat memaksimalkan potensi-
potensi pengembangan ekowisata kuliner yang ada di DKI Jakarta, sektor pariwisata
diharapkan dapat memberi manfaat yang baik secara ekologis, sosial dan ekonomi bagi
masyarakat DKI pada khususnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian
ini bertujuan untuk :
1. Mengidentifikasikan profil Setu Babakan sebagai objek wisata budaya Betawi
2. Mengidentifikasikan profil wisatawan ekowisata kuliner Betawi di Setu Babakan
sehingga dapat teridentifikasi target pasar yang potensial.
Dengan teridentifikasikan profil wisatawan ekowisata kuliner Betawi di Setu
Babakan, maka dapat memudahkan strategi pemasaran terkait wisata dan kuliner
Betawi, karena segmentasi wisatawan sudah terbentuk sehingga target pasar potensial
dapat teridentifikasi.

METODOLOGI PENELITIAN
Metode Pengumpulan Data
Survei Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari survei primer, yaitu melakukan studi
terhadap permasalahan yang ada dengan mengamati secara langsung kondisi eksisting
sehingga dapat diketahui kondisi yang ada pada wilayah studi. Adapun jenis data yang
diperoleh melalui survei primer pada wilayah studi yaitu pada Setu Babakan. Untuk
memperoleh data primer itu dapat dilakukan beberapa teknik pengambilan data, yaitu
sebagai berikut:
1. Observasi lapangan.
Observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan
menggunakan seluruh alat indra (Arikunto, 2002:133). Metode pengamatan/ observasi
dilakukan dengan mengamati langsung objek studi untuk mendapatkan informasi-
informasi yang akurat mengenai kondisi eksisting obyek penelitian. Metode ini
dipergunakan untuk memperoleh data dan informasi, yaitu dengan melakukan
pengamatan secara langsung dilapangan serta menyelaraskan antara informasi yang
diperoleh dari survei sekunder dengan kondisi di lapangan.
Pelaksanan observasi dilakukan pada tempat-tempat yang menjadi lokasi-lokasi objek
wisata. Pada observasi ditunjang dengan menggunakan teknik dokumentasi dalam usaha
untuk menggambil gambar dan merekam semua aktivitas yang ada di dalam objek
ekowisata kuliner Setu Babakan.
2. Kuisioner
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan
daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden. Responden dalam penelitian merupakan
sampel wisatawan yang berkunjung ke objek-objek ekowisata kuliner di Setu Babakan.
Berdasarkan bentuk pertanyaan atau pernyataan yang ada dalam kuisioner.
Penyebaran kuisioner ini dilakukan dengan teknik pendampingan dimana surveyor
mendampingi dan menunggu responden untuk mengisi kuisioner tersebut. Hal ini
dilakukan untuk menghindari terjadinya salah persepsi dari responden, dan apabila
terdapat pertanyaan-pertanyaan yang tidak dimengerti, maka responden dapat langsung
menanyakannya kepada surveyor.

Survei sekunder
Survei sekunder yang dilakukan merupakan studi kepustakaan dari buku-buku yang
berhubungan dengan pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian serta

103
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

penjelasan mengenai metode yang digunakan dalam penelitian. Mencari data melalui
instansi-instansi yang berhubungan dengan penyelengaraan kegiatan pariwisata di DKI
Jakarta. Data yang dibutuhkan misalnya jumlah wisatawan, kondisi objek wisata, dan
lain sebagainya.

Populasi dan Sampel


Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga
memiliki karakteristik tertentu, jelas, dan lengkap yang dianggap bisa mewakili populasi
(Hasan, 2002). Sedangkan populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang
memiliki karakteristik tertentu, lengkap, dan jelas yang akan diteliti. Penentuan sampel
dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Sampel wisatawan
Pengambilan sampel wisatawan yang berkunjung pada objek ekowisata kuliner Setu
Babakan menggunakan metode teknik accidential sampling, yaitu pengambilan sampel
secara acak dimana setiap elemen dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk
menjadi sampel dengan jumlah 66 orang.
Untuk penentuan jumlah sampel wisatawan, peneliti menggunakan Sample Linear Time
Function, hal ini dikarenakan jumlah wisatawan yang berkunjung ke setiap tahunnya
tidak tetap. Sample Linear Time Function adalah penentuan jumlah sampel berdasarkan
estimasi kendala waktu (Sari, 2012:58). Besarnya jumlahnya sampel (n) yang diambil
menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut:

T  t0
n
t1

Keterangan :
n = Banyaknya sampel yang terpilih
T = Waktu yang tersedia untuk penelitian (20 hari x 24 jam = 480 jam/bulan)
t0 = Waktu tetap (5 jam/hari x 30 hari = 150 jam/bulan)
t1 = Waktu yang digunakan untuk sampling unit (1/6 jam/hari x 30 hari = 5
jam/bulan)

2. Sample instansi dan akademisi


Pengambilan sampel instansi dan akademis dilakukan dengan menggunakan metode
teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan tipe pemilihan sampel
secara langsung yang informasinya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian
(Indriantoro & Supomo, 2002:131).
Sampel yang diambil pada penelitian didasarkan pada subjek yang benar-benar
mengetahui tentang kondisi lapangan maupun kebijakan terkait pengembangan
ekowisata di Setu Babakan. Adapun sampel yang dipilih adalah sebagai berikut:
- Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.
- Kepala Kepala Bagian Pengembangan Potensi Pariwisata DKI Jakarta.

Metode Analisis Data


Metode analisis merupakan suatu alat untuk membahas sasaran yang ingin diwujudkan
dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan berdasarkan hasil kompilasi dari data
primer dan data sekunder. Adapun metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif.

104
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Operasionalisasi Variabel
Dalam penelitian profil wisatawan akan dibagi menjadi bebarapa variabel, dan untuk
lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 1. Operasionalisasi Variabel


Variable Definisi Indikator
Segmentasi Pada segmentasi 1. DKI Jakarta
Geografis geografis, pasar dibagi 2. Depok
menurut tempat. Teori 3. Bekasi
dalam strategi ini adalah 4. Bogor
bahwa orang yang tinggal 5. Banten
di daerah yang sama 6. Luar Kota (........)
memiliki kebutuhan dan
keinginan yang serupa,
dan bahwa kebutuhan dan
keinginan ini berbeda dari
kebutuhan dan keinginan
orang-orang yang tinggal
di daerah-daerah lain.
Segmentasi Karakteristik demografis 1. Usia,
Demografis yang paling sering 2. Gender (jenis kelamin),
digunakan sebagai dasar 3. Status perkawinan,
untuk segmentasi pasar. 4. Pendapatan
5. Pendidikan
6. Pekerjaan

Segmentasi Karakteristik psikologis Motivasi


Psikologis merujuk ke sifat-sifat diri 1. Berwisata bersama keluarga
atau hakiki konsumen 2. Berwisata bersama teman
perorangan. Strategi 3. Berwisata sendiri
segmentasi konsumen
sering didasarkan pada Pengetahuan
berbagai variabel 1. Tahu dan pernah mencoba
psikologis khusus kuliner Betawi
2. Hanya tau kuliner Betawi
3. Tidak tau kuliner Betawi
sebelumnya

Segmentasi Sosial Berbagai variabel Suku wisatawan


Budaya sosiologis (kelompok) dan 1. Betawi asli
antropologis (budaya) 2. Betawi keturunan
yaitu variabel sosial 3. Non Betawi
budaya menjadi dasar-
dasar lebih lanjut bagi
segmentasi pasar

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Profil Setu Babakan

105
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Setu Babakan atau Danau Babakan terletak di Srengseng Sawah, kecamatan


Jagakarsa, Kotamadya Jakarta Selatan, Indonesia dekat Depok yang berfungsi sebagai
pusat Perkampungan Budaya Betawi, suatu area yang diperuntukkan untuk pelestarian
warisan budaya Jakarta, yaitu budaya asli Betawi.
Situ Babakan merupakan danau buatan dengan area 30 hektare (79 akre) dengan
kedalaman 1-5 meter dimana airnya berasal dari Sungai Ciliwung dan saat ini
digunakan sebagai tempat wisata alternatif, bagi warga dan para pengunjung. Taman
disekitarnya ditanami dengan beragam pohon buah-buahan yaitu Mangga, Palem,
Melinjo, Rambutan, Jambu, Pandan, Kecapi, Jamblang, Krendang, Guni, Nangka
Cimpedak, Nam-nam, dan Jengkol (www.wikipedia.org).
Banyak kuliner khas Betawi terdapat disini, antara lain Kerak Telor, Toge
Goreng, Arum Manis, Rujak Bebek, Soto Betawi, Es Potong, Es Duren, Bir Pletok, Nasi
Uduk, Nasi Ulam, dan lain-lain. Wisata budaya yang disajikan antara lain rumah-rumah
khas Betawi yang dibagi menjadi 3 macam, pertama rumah Betawi gudang atau
kandang, kedua rumah Betawi Kebaya atau Bapang, dan yang ketiga adalah rumah
Joglo, hampir serupa dengan rumah khas Yogyakarta. Keseniannya berupa Lenong, Tari
Topeng, Tanjidor, Marawis, Gambang Kromong, Tari Lenggang Nyai, dan Tari
Narojeng. Upacara Adat yang ada di perkampungan Betawi Setu Babakan adalah
Penganten Sunat, Pindah Rumah, Khatam Qur'an, dan Nujuh Bulan.
Mayoritas penduduk di Setu Babakan adalah Betawi, dengan program dari
pemda DKI untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang ada untuk mengakomodasi
kebutuhan ruang terbuka hijau, serta area untuk resapan air, Setu Babakan berbenah diri
dengan dukungan penuh dari pemda DKI. Fungsi dari Setu ini bukan hanya untuk
tempat melestarikan kebudayaan betawi yang makin tergerus oleh zaman, tapi
digunakan juga sebagai tempat alternatif rekreasi yang berlokasi di selatan Jakarta.
selain fungsi utamanya sebagai penampung air resapan untuk selatan Jakarta.
Perkampungan Budaya Betawi adalah satu kawasan di Jakarta Selatan dengan
Komunitas yang ditumbuhkan kembangkan budaya yang meliputi seluruh hasil gagasan
dan karya baik fisik maupun non fisik yaitu: Kesenian, Adat istiadat, Foklor, Kesastraan
dan Kebahasaan, Kesejahteraan serta bangunan yang bercirikan kebetawian
(www.lembagakebudayaanbetawi.com). Tujuan Perkampungan Budaya Betawi adalah
membina dan melindungi secara sungguh-sungguh dan terus menerus tata kehidupan
serta nilai-nilai Budaya Betawi, menciptakan dan menumbuhkembangkan nilai-nilai
Budaya Betawi sesuai dengan akar budayanya, menata dan memanfaatkan potensi
lingkungan fisik, baik alami maupun buatan yang bernuansa Betawi, mengendalikan
pemanfaatan lingkungan fisik dan non fisik sehingga saling bersinergi untuk
mempertahankan ciri khas Betawi.
Fungsi Perkampungan Budaya Betawi adalah sebagai sarana pemukiman, saran
ibadah, sarana informasi, sarana seni budaya, sarana penelitian, sarana pelestarian dan
pengembangan, serta saran pariwisata. Kawasan Perkampungan Budaya Betawi terletak
di Kelurahan Srengseng Sawah Kecamatan Jagakarsa Kota Administrasi Jakarta Selatan
dengan luas ±289 Ha. Dengan batas fisik ; sebelah utara Jl. Mochamad Kahfi II sampai
dengan Jl. Desa Putra (Jl. H. Pangkat), sebelah timur Jl. Desa Putra (H. Pangkat) Jl.
Pratama (Wika, Mangga Bolong Timur) Jl. Lapangan Merah, sebelah selatan batas
wilayah Provinsi DKI Jakarta dengan Kota Depok, sebelah barat Jl. Mohammad Kahfi
II
Sebagai kawasan wisata budaya, wisata agro dan wisata air, Perkampungan
Budaya Betawi, memiliki potensi lingkungan alam yang asri dan sangat menarik, yang
sulit ditemukan ditengah hiruk pikuknya kota Jakarta. Dua buah setu alam yakni: Setu
Babakan dan Setu Mangga Bolong yang dikelilingi hijau dan rindangnya pohon-pohon

106
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

buah khas Betawi (kecapi, belimbing, rambutan, sawo, melinjo, pepaya, pisang, jambu,
nangka, namnam) yang tumbuh sehat membumi dihalaman depan samping dan diantara
rumah-rumah penduduk Betawi menjadikan Perkampungan Budaya Betawi sebagai
obyek wisata yang paling lengkap dan menarik, serta menjadi pilihan utama bagi para
wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Profil Wisatawan Ekowisata Kuliner Di Setu Babakan


Berdasarkan kuestioner yang disebarkan kepada responden yang sejumlah 66 orang,
didapatkan hasil sebagaimana dijelaskan pada tabel-tabel berikut, dipisahkan menurut
aspek-aspek yang menjadi fokus dalam penelitian yaitu suku, geografis, demografis dan
psikologis wisatawan ekowisata kuliner di Setu Babakan.

Tabel 2. Suku asal wisatawan


Suku Betawi Non Betawi
Sub total 20 46
Pesentae 30% 70%
Sumber: Hasil diolah (2014)

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa mayoritas pengunjung ekowisata kuliner
di Setu Babakan adalah masyarakat non Betawi dengan jumlah 46 orang, lebih besar
dibanding masyarakat Betawi yang sebanyak 20 orang.
Secara georgafis, wisatawan akan diklaifikasikan menjadi tujuh klompok yaitu, DKI
Jakarta, Depok, Bekasi, Bogor, Banten, Kota lain di Indonesia dan Wisatawan asing.
Hasil dari penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Geografis wisatawan


No. Indikator Jumlah Persentase
1 DKI Jakarta 23 34,8%
2 Depok 21 31,8%
3 Bekasi 10 15,2%
4 Bogor 5 7,58%
5 Banten 2 3,03%
6 Kota Lain di Indonesia 5 7,58%
Wisatawan asing 0 0
Sumber: Hasil diolah (2014)

Sebagaimana dapat dilihat pada tabel di atas, wisatawan didominasi oleh wisatawan
berasal dari DKI Jakarta sebanyak 34,8% dan Depok 31,8%. Hal ini dikarenakan posisi
atau letak Setu Babakan yang memang terletak di Jakarta Selatan dan tidak jauh dari
Depok. Sedangkan wisatawan berasal dari Bogor juga cukup banyak yaitu 15,2%.
Sedangkan wisatawan yang berasal dari kota lain di Jakarta sangat sedikit yaitu hanya
3,03%, hal ini dikarenakan Setu Babakan sebagai pusat budaya Betawi dan
menyediakan keanekaragaman kuliner Betawi masih kurang dikenal secara luas, atau
dapat dikatakan Setu Babakan bukan menjadi tapak unggulan di DKI Jakarta.
Aspek demografi wisatawan, peneliti membagi dalam beberapa bagian yaitu usia,
gender, status perkawinan, pendapatan, pendidikan dan pekerjaan. Hasil dari
pengolahan data penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

107
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 4. Demografi wisatawan


Demografi
\
Usia Gende Status Pendapatan Pendidika Pekerjaan
r Perkawin per bulan n
an

Pelajar / Mahasiswa
Tidak Menikah

Diploma - S1

PNS/ ABRI
Wiraswasta
Karyawan
5 jt - 10 jt
Menikah

2 jt - 5 jt

Lainnya
< 2 juta

S2 - S3
12 - 25
26 - 45
46 - 65

> 10 jt
SMA
< 11

> 65

L
P

8 4 6 0 7 9 1 5 6 7 9 1 4 0
Sumber: Hasil diolah (2014)

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa mayoritas wisatawan ekowisata kuliner di Setu
Babakan berusia 12 – 25 tahun. Sedangkan menurut jenis kelamin mayoritas adalah
perempuan. Menurut status perkawinan mayoritas tidak menikah atau belum menikah,
dengan pendapatan lebih kecil dari dua juta dan antara dua juta sampai lima juta,
pendidikan terakhir adalah SMA dan status pekerjaannya saat ini mayoritas adalah
karyawan dan kemudian pelajar atau mahasiswa.
Untuk aspek psikologis, peneliti membagi dalam dua klasifikasi yaitu motivasi dan
pengetahuan. Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Psikologis wisatawan


Aspek Indikator Jumlah Persentase
Motivasi Unsur kenangan 15 22,27%
Unsur eksplorasi 12 18,18%
Unsur ekonomi 39 59,09%
Pengetahuan Tahu dan pernah mencoba kuliner Betawi 61 92.42%
Hanya tau kuliner Betawi 5 7,58%
Tidak tahu 0 0
Sumber: Hasil diolah (2014)

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa mayoritas wisatawan membeli atau


mengkonsumsi kuliner Betawi karena pertimbangan ekonomis. Hal itu terlihat dengan
jumlah responden yang memilih unsur ekonomis sebanyak 92,42%, jauh lebih tinggi
dibanding unsur kenangan dan unsur eksplorasi. Sedangkan pengetahuan wisatawan
terhadap kuliner Betawi mayoritas wisatawan sudah cukup familier dengan kuliner
Betawi.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa target potensial pasar dari ekowisata kuliner
yang ada di Setu Babakan adalah wisatawan remaja sampai remaja akhir dan dewasa
yaitu usia 12 – 45 tahun, dimana mayoritas dari mereka berstatus ekonomi menengah,

108
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

status pendidikan juga menengah bahkan banyak diantara mereka yang masih berstatus
sebagai pelajar ataupun mahasiswa.
Hanya saja dari hasil penelitian terlihat bahwa promosi Setu Babakan sebagai salah satu
tapak wisata di DKI Jakarta yang mencerminkan budaya Betawi masih dirasa sangat
kurang sehingga masyarakat di luar Jakarta khususnya Jakarta Selatan, Depok dan
Bogor dapat mengetahui keberadaan Setu Babakan tersebut, dengan demikian
diharapkan Setu Babakan akan lebih dikenal dan dapat meningkatkan jumlah
pengunjung di Setu Babakan.

DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Arikunto, Suharsimi. 2002. Metodologi Penelitian. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Allan, Derek. 2009. Art and the Human Adventure. Rodopi B.V. Amsterdam - New
York, NY.

Avenzora, Ricky. 2008. Ekoturisme Teori dan Praktek. BRR NAD dan Nias. Banda
Aceh.

Barkun, Scott. 2005. The Art of Project Management. O‘Reilly Media Inc. USA.

Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No.15/03/31/Th.XV, 1 Maret 2013.

Dewi, Ike Juwita. 2011. Implementasi dan Implikasi Kelembagaan Pemasaana


Pariwisata yang Bertanggungjawab (Responsible Tourism Marketing),
Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Dittmer, Paul R dan Keefe, J. Desmond, 2009. Principles Of Food, Beverage And Labor
Cost Control, Ninth Edition, John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jersey.

Frochot, Isabelle, 2003. An Analysis of Regional Positioning and Its Associated Food
Images in French Tourism Regional Brochures, Journal of Travel & Tourism
Marketing, Volume 14.

Frewer, Lynn dan Trijp, Hans van, 2007. Understanding Consumers of Food Product.
Woodhead Publishing Limited. Abington Hall, Cambridge.

Fintay, Robert. 2010. The Pilgrim Art: Cultures of Porcelain in World History.
University of California Press, ltd, London, England.

Gunn, Clare A. 1994. Tourism Planning, Basic, Concepts, Case. Third Edition. Taylor
& Francis, Washington.

Indriantoro, Nur dan Supomo, Bambang. 2002. Metode Penelitian Bisnis: Untuk
Akuntansi dan Manajemen. Edisi Pertama. BPFE. Yogyakarta.

Janianton, Damanik dan Helmut, F Weber. 2006. Perencanaan Ekowisata Dari Teori ke
Aplikasi, Pusat Studi Pariwisata (PUSPAR) UGM dan Penerbit ANDI
Yogyakarta.

109
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Kardigantara, Suseno dan Goeltom, Andar Danova. 2007. Pengembangan Potensi


Wisata Kuliner di Kota Bandung. Warta Pariwisata, ISSN 1410-7112, Maret 2007
Vol. 9 No. 1

Kartajaya, Hermawan. 2010. Hermawan Kartajaya on Marketing, Jakarta, Mark Plus &
Co, PT Gramedia Pustaka Utama.

Koentjaraningrat. 1996. Tourism and Heritage Management, Proceeding of the


International Conference on Tourism and Heritage Management (ICCT 1996),
Yokjakarta, Indonesia.

_____________. 1985. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Djambatan, Jakarta.

Kotler, Philip. 2005. Manajemen Pemasaran. Edisi Kesebelas. Jakarta: PT Perihallindo.

Kotler, Philip dan Armstrong, Gary. 2006. Dasar-Dasar Pemasaran. Edisi Ketujuh.
Jakarta: Salemba Empat Prentice-Hall.

McKercher, Bob and Cros, Hilary du. 2002. Cultural Tourism: the Partnership between
Tourism andCulture Heritage Management. The Haworth Hospitality Press,
NewYork.

Nugroho, Iwa. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka


Pelajar.Yogyakarta.

Purnamasari, Ika Kusuma. 2008. Industri Kreatif Salah Satu Aspek Pendukung
Kepariwisataan Nasional. Jurnal Kepariwisataan Indonesia, ISSN; 1907-9419,
Vol.3 No.3

Rais, Sri Astuti. 2004. Eksplorasi Plasma Nutfah Tanaman Pangan di Provinsi
Kalimantan Barat. Buletin Plasma Nutfah Vol.10 No.1 Th.2004

Siregar, Muhammad Arifin. 2004, Pengembangan Pariwisata Dalam Kontribusinya


Untuk Penanggulangan Kemiskinan. Warta Pariwisata, ISSN; 1410-7112, Vol. 7,
No.4.

Sumaryati, Enny. 2013. Wisata Kuliner Makanan Tradisional Sebagai Penunjang Desa
Ekowisata, Buku Panduan Seminar Nasional Ekowisata, Universitas Widyagama
Malang, 12 Nopember 2013.

Saleh, Ismail. 2012. Thesis, Sustainable Culinary Tourism in Puncak Bogor. IPB,
Bogor.

Sabudi, I Nyoman, Sukana. 2011. Klasifikasi Makanan Tradisional Bali di Perhotelan,


Jurnal Kepariwisataan Indonesia, ISSN: 1412-5498, Vol.10. No.2

Sexton, Don. 2006. Marketing 101. PT Bhuana Ilmu. Jakarta.

110
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tonfoni, Graziella dan Jain, Lakhmi, 2003. The Art and Science of Documentation
Management. Paperback, UK.

Umar, Husein. 2005. Metode Penelitian. Salemba, Jakarta.

Untari. Dhian Tyas, 2012. ―Peningkatan Sektor Pertanian Melalui Kegiatan Wisata‖.
Prosiding Lokakarya dan Seminar Nasional FKPTPI, Bogor.

Wahab, Salah. 1989. Manajemen Kepariwisataan. PT Pradnya Paramita. Jakarta.

Waller, Kaith. 1996. Improving Food and Beverage Performance. Butterworth-


Heinemann. Jordan Hill, Oxford.

Vanhove, Norbert. 2005. The Economics of Tourism Destinations. Elsevier


Butterworth-Heinemann, Oxford.

111
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PENGARUH JUMLAH TENAGA KERJA, BIAYA YANG DIKELUARKAN


UNTUK TENAGA KERJA TERHADAP NILAI OUTPUT PADA INDUSTRI
MIKRO DAN INDUSTRI KECIL (STUDY CASE; SUBSEKTOR INDUSTRI
FURNITURE)

Siti Marti’ah 1
Budi Satria 2
1
Teknik Informatika UNINDRA, Jakarta
2
Teknik Industri UNINDRA, Jakarta
Jl Nangka no 58Tanjung Barat, Jagakarsa- Jakarta Selatan
Email: martia_setiadi@yahoo.co.id, Budisatria111008@gmail.com

ABSTRAK

Industri Furnitur adalah industri yang mengolah bahan baku atau bahan setengah
jadi dari kayu, rotan, dan bahan baku alami lainnya menjadi produk barang jadi furnitur
yang mempunyai nilai tambah dan manfaat yang lebih tinggi. Industri furnitur di
Indonesia tersebar hampir di seluruh propinsi, dengan sentra-sentra yang cukup besar
terletak di Jepara, Cirebon, Sukoharjo, Surakarta, Klaten, Pasuruan, Gresik, Sidoarjo,
Jabodetabek, dan lain-lain. Penelitian ini menggunakan desain penelitian dengan metode
asosiatif dengan hubungan kausal, karena tujuan penelitian ini adalah untuk
menjelaskan hubungan sebab akibat dalam bentuk pengaruh antar variabel melalui
pengujian hipotesis. Uji yg digunakan Uji Normalitas. Dari hasil output SPSS pada
kolom Kolmogorov-Smirnov dapat diketahui bahwa nilai signifikasi untuk setiap
variable lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh variable
berdistribusi normal.Uji Multikolonearitas. Dari hasil analisis dapat diketahui nilai
variance inflation factor (VIF) kedua variable jumlah tenaga kerja dan biaya adalah
1,116 dan lebih kecil dari 5, sehingga bisa diduga bahwa antar variable independen
tidak terjadi multikolinear.Uji Heterokedastisitas. Karena nilai T hitung untuk variable
jumlah tenaga kerja 0,244 dan variable biaya tenaga kerja 1.199 dengan signifikasi 0,05
dua sisi t table 2.776, maka untuk kedua variable berlaku –T table < T hitung < T table.
Dengan demikian tidak ada gejala heterokedastisitas. Persamaan regresi yang dihasilkan
sebagai berikut, Y = 11,518 + 0,028 Jumlah tenaga kerja + 1,578 Biaya tenaga kerja

Kata kunci : Tenaga Kerja, Industri Furniture, UMKM

PENDAHULUAN
Industri Furnitur adalah industri yang mengolah bahan baku atau bahan setengah
jadi dari kayu, rotan, dan bahan baku alami lainnya menjadi produk barang jadi furnitur
yang mempunyai nilai tambah dan manfaat yang lebih tinggi. Industri furnitur di
Indonesia tersebar hampir di seluruh propinsi, dengan sentra-sentra yang cukup besar
terletak di Jepara, Cirebon, Sukoharjo, Surakarta, Klaten, Pasuruan, Gresik, Sidoarjo,
Jabodetabek, dan lain-lain.
Industri pengolahan kayu dibagi menjadi dua kelompok antara lain kelompok
industri pengolahan kayu hulu dan kelompok industri pengolahan kayu hilir. Kelompok
industri pengolahan kayu hulu merupakan industri pengolahan kayu primer yaitu

112
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

industri yang mengolah kayu bulat/log menjadi berbagai sortimen kayu. Kelompok
industri pengolahan kayu hilir merupakan industri yang menghasilkan produk-produk
kayu diantaranya dowel, moulding, pintu, jendela, wood-flooring, dan sejenisnya
(Kementrian Perindustrian, 2011).
Mengenai kinerja industri permebelan, tahun 2012 ekspor mebel Indonesia
sudah menyentuh angka US$1,8 miliar dan tahun 2013 targetnya bisa US$2 miliar, di
tambah ekspor kerajinan US$700 juta. Di awal tahun 2013, tepatnya per Januari 2013,
ekspor sudah naik tipis hanya 4% dengan realisasi US$164 juta. Meskipun nilai ekspor
naik, tapi produksi mebel di dalam negeri merosot hingga 10%. Pemicunya, ada
pergeseran karakter buyer yang cenderung memilih produk segmen menengah ke atas.
Jadi merosotnya produksi mebel banyak disumbang dari perajin mebel yang kecil-kecil.
Dengan adanya krisis, buyer ini juga terseleksi, khususnya buyer-buyer kecil (Inspirasi
Bangsa, 16 Agustus 2013).
Besarnya peluang pengembangan pasar furnitur memberikan peluang yang
cukup potensial bagi sektor usaha mikro dan usaha kecil di Indonesia, mengingat saat
ini usaha mikro dan usaha kecil merupakan sektor usaha yang cukup memberikan
kontribusi cukup besar bagi pembangunan Indonesia secara global. UMKM memiliki peran
dan kontribusi dalam ekspor nonmigas dan memiliki prospek yang cukup baik dan memiliki potensi
besar untuk dikembangkan. Tercatat terjadi peningkatan jumlah UMKM setiap tahunnya. Kelebihan
lain UMKM di Indonesia terletak pada produksinya karena sebagian besar tidak menggunakan bahan
baku dari luar/impor sehingga tidak terpengaruh kenaikan harga bahan baku impor, sehingga dapat
menjaga kelangsungan usahanya (Sidabutar, 2014).
Secara umum perkembangan UMKM yang meningkat dari segi kuantitas
tersebut belum diimbangi oleh meratanya peningkatan kualitas UMKM. Permasalahan
klasik yang dihadapi yaitu rendahnya produktivitas. Keadaan ini disebabkan oleh
masalah internal yang dihadapi UMKM yaitu: rendahnya kualitas SDM UMKM dalam
manajemen, organisasi, penguasaan teknologi, dan pemasaran, lemahnya kewirausahaan
dari para pelaku UMKM, dan terbatasnya akses UMKM terhadap permodalan,
informasi, teknologi dan pasar, serta faktor produksi lainnya. Sedangkan masalah
eksternal yang dihadapi oleh UMKM diantaranya adalah besarnya biaya transaksi akibat
iklim usaha yang kurang mendukung dan kelangkaan bahan baku (Suyahya, 2014).
Berdasarkan permasalahan terkait pengembangan UMKM, maka penelitian
menfokuskan penelitian pada pengaruh kuantitas jumlah tenaga kerja dan biaya yang
dikeluarkan untuk tenaga kerja terhadap nilai output pada industri mikro dan industri
kecil (study case: subsektor industri furnitur).

KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Industri
Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang
setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk
mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah
bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk
jasa. Industri merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejateraan penduduk.
Selain itu industrialisasi juga tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu
sumberdaya manusia dan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara
optimal. UU Perindustrian No 5 Tahun 1984, industri adalah kegiatan ekonomi yang
mengelola bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan atau barang jadi
menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya termasuk kegiatan
rancangan bangun dan perekayasaan industri. Dari sudut pandang geografi, Industri

113
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

sebagai suatu sistem, merupakan perpaduan sub sistem fisis dan sub sistem manusia
(Sumaatmaja, 1981).
Faktor Pokok Dalam Industri
Berikut ini adalah faktor-faktor pokok yang menyebabkan suatu industri atau
perindustrian dapat berkembang dengan baik apabila dimiliki, antara lain adalah :
1. Modal digunakan untuk membangun aset, pembelian bahan baku, rekrutmen
tenaga kerja, dan lain sebagainya untuk menjalankan kegiatan industri. Modal
bisa berasal dari dalam suatu negara serta dari luar negeri yang disebut juga
sebagai penanaman modal asing (PMA).
2. Tenaga Kerja dengan jumlah dan standar kualitas yang sesuai dengan kebutuhan
suatu perindustrian tentu akan membuat industri tersebut menjadi lancar dan
mempu berkembang di masa depan. Jika suatu negara kelebihan tenaga kerja,
maka salah satu solusi yang baik adalah mengirim tenaga kerja ke luar negeri
menjadi tenaga kerja asing. Contohnya Indonesia dengan tenaga kerja Indonesia
(TKI) dan tenaga kerja wanita (TKW). Jika suatu negara kekurangan tenaga
kerja maka salah satu jalan keluarnya adalah mendatangkan tenaga kerja asing
dari luar negaranya.
3. Bahan Mentah dan Bahan Baku adalah salah satu unsur penting yang sangat
mempengaruhi kegiatan produksi suatu industri. Tanpa bahan baku yang cukup
maka proses produsi dapat terhambat dan bahkan terhenti. Untuk itu pasokan
bahan mentah yang cukup baik dari dalam maupun luar negeri atau impor dapat
melancarkan dam mempercepat perkembangan suatu industri
4. Sarana transportasi sangat vitas dibutuhkan suatu industri baik untuk
mengangkut bahan mentah ke lokasi industri, mengangkut dan mengantarkan
tenaga kerja, pengangkutan barang jadi hasil output industri ke agen penyalur
atau distributor atau ke tahap produksi selanjutnya, dan lain sebagainya.
Terbayang bila transportasi untuk kegiatan tadi terputus.
5. Sumber Energi atau Tenaga Industri yang modern memerlukan sumber energi
atau tenaga untuk dapat menjalankan berbagai mesin-mesin produksi,
menyalakan perangkat penunjang kegiatan bekerja, menjalankan kendaraan-
kendaraan industri dan lain sebagainya. Sumber energi dapat berwujud dalam
berbagai bentuk seperti bahan bakar minyak atau BBM, batubara, gas bumi,
listrik, baterai, dan lain sebagainya.
6. Marketing atau Pemasaran produk hasil keluaran produksi haruslah dikelola oleh
orang-orang yang tepat agar hasil produksi dapat terjual untuk mendapatkan
keuntungan atau profit yang diharapkan sebagai pemasukan untuk pembiayaan
kegiatan produksi berikutnya, memperluas pangsa pasar memberikan dividen
kepada pemegang saham, membayar pegawai, karyawawan dan buruh, dan lain-
lain.

Pengertian UMKM
Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.
Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang
memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

114
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik
langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah
kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang ini. Dan kriteria asset omzet usaha mikro Max 50 Jt Max 300 jt, usaha kecil >
50 jt - 500 jt > 300 jt - 2,5 M dan usaha menengah > 500 jt - 10 M > 2,5 M - 50 M

Modal Manusia dan Pertumbuhan Ekonomi


Modal manusia dalam terminologi ekonomi sering digunakan untuk bidang
pendidikan, kesehatan dan berbagai kapasitas manusia lainnya yang ketika bertambah
dapat meningkatkan produktivitas. Pendidikan memainkan peran kunci dalam hal
kemampuan suatu perekonomian untuk mengadopsi teknologi modern dan dalam
membengun kapasitasnya bagi pembangunan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kesuksesan dalam pendidikan bergantung juga pada kecukupan kesehatan. Disamping
itu kesehatan merupakan prasayarat bagi peningkatan produktivitas. Dengan demikian
kesehatan dan pendidikan dapat juga dilihat sebagai komponen vital dalam
pertumbuhan dan pembangunan sebagai input bagi fungsi produksi agregat (Todaro,
2002).
Menurut Mill pembangunan ekonomi sangat tergantung pada dua jenis
perbaikan, yaitu perbaikan dalam tingkat pengetahuan masyarakat dan perbaikan yang
berupa usaha-usaha untuk menghapus penghambat pembangunan seperti adat istiadat,
kepercayaan dan berpikir tradisional. Perbaikan dalam pendidikan, kemajuan dalam
ilmu pengetahuan, perluasan spesialisasi dan perbaikan dalam organisasi produksi
merupakan faktor yang penting yang akan memperbaiki mutu dan efisiensi faktor-faktor
produksi dan akhirnya menciptakan pembangunan ekonomi. Menurut Mill, faktor
pendidikan melaksanakan dua fungsi yaitu: mempertinggi pengetahuan teknik
masyarakat dan mempertinggi ilmu, pengetahuan umum. Pendidikan dapat menciptakan
pandangan-pandangan dan kebiasaan modern dan besar perannya untuk menentukan
kemajuan ekonomi masyarakat.
Menurut Mankiw (2003) modal manusia adalah pengetahuan dan kemampuan
yang diperoleh oleh para pekerja melalui pendidikan mulai dari program untuk anak-
anak sampai dengan pelatihan dalam pekerjaan (on the job training) untuk para pekerja
dewasa. Seperti halnya dengan modal fisik, modal manusia meningkatkan kemampuan
untuk memproduksi barang dan jasa. Untuk meningkatkan level modal manusia
dibutuhkan investasi dalam bentuk guru, perpustakaan dan waktu belajar.

Angkatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi


Menurut Todaro (2000) pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan Angkatan
Kerja (AK) secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang memacu
pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambah
tingkat produksi, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti ukuran
pasar domestiknya lebih besar. Meski demikian hal tersebut masih dipertanyakan
apakah benar laju pertumbuhan penduduk yang cepat benar- benar akan memberikan
dampak positif atau negatif dari pembangunan ekonominya.
Selanjutnya dikatakan bahwa pengaruh positif atau negatif dari pertumbuhan
penduduk tergantung pada kemampuan sistem perekonomian daerah tersebut dalam
menyerap dan secara produktif memanfaatkan pertambahan tenaga kerja tersebut.
Kemampuan tersebut dipengaruhi oleh tingkat dan jenis akumulasi modal dan
tersedianya input dan faktor penunjang seperti kecakapan manajerial dan administrasi.

115
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Menurut BPS penduduk berumur 10 tahun ke atas terbagi sebagai Angkatan


Kerja (AK) dan bukan AK. Angkatan Kerja dikatakan bekerja bila mereka melakukan
pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau
keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit 1 (satu) jam secara kontinu selama
seminggu yang lalu. Sedangkan penduduk yang tidak bekerja tetapi sedang mencari
pekerjaan disebut menganggur (Budi Santosa, 2001). Jumlah angkatan kerja yang
bekerja merupakan gambaran kondisi dari lapangan kerja yang tersedia. Semakin
bertambah besar lapangan kerja yang tersedia maka akan menyebabkan semakin
meningkatkan total produksi di suatu daerah.

METODOLOGI
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian dengan metode asosiatif dengan
hubungan kausal, karena tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan
sebab akibat dalam bentuk pengaruh antar variabel melalui pengujian hipotesis.
Menurut Sugiono (2004:1) penelitian asosiatif adalah penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan penelitian ini maka dapat
dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan
mengontrol suatu gejala.

Jenis dan Sumber Data


Peneliti menggunakan data sekunder dalam penelitian ini. Data sekunder
merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik pihak
pengumpul data primer maupun oleh pihak lain (Umar, 2001: 69). Data yang diperoleh
adalah data time series yaitu data dari suatu fenomena tertentu yang didapat dari
beberapa interval waktu tertentu misalnya dalam waktu mingguan, bulanan, dan
tahunan.
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dengan cara mendownload melalui
situs www.BPS.go.id. Dengan menggunakan data time series tahun 2009. 2010, 2011.
2012 dan 2013 terkait, jumlah tenaga kerja subsektor industri furnitur baik sektor usaha
mikro maupun usaha kecil.

Metode Analisis Data


Pengujian Asumsi Klasik
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis
statistik dengan menggunakan persamaan regresi berganda. Analisis data dilakukan
dengan bantuan SPSS versi 17.
Peneliti melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu sebelum melakukan pengujian
hipotesis yaitu UjiNormalitas, Uji Multikolonearitas, Uji Heterokedastisitas, dan Uji
Autokorelasi
Metode Regresi linier Berganda
Regresi linear berganda ditujukan untuk menentukan hubungan linear antar
beberapa Variabel bebas yang biasa disebut X1, X2, X3, dan seterusnya dengan variabel
terikat yang disebut Y (Situmorang, 2008:109). Model persamaannya
adalah sebagai berikut:
Y = α + β1X1+ β2X2+ e
Keterangan:
Y = Nilai Output Industri Furniture
a = Konstanta
X1 = Jumlah Tenaga Kerja

116
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

X2 = Besaran Biaya untuk membayar tenaga kerja


β1,β2,β3 = Koefisien Regresi
e = Error (pengganggu)

Uji Signifikan Simultan(Uji-F)


Menurut Ghozali (2005:84). Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah
semua variabel independen yang dimaksud dalam model mempunyai pengaruh secara
bersama-sama terhadap variabel dependen.
Secara simultan, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji F-test. Uji F
digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan
dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen.
Bentuk pengujiannya adalah Ho: bi = b2 = ......= bk = 0, artinya semua variabel
independen bukan merupakan penjelas yang signifikan atau tidak memiliki pengaruh
terhadap variabel dependen dan Ha: b1 ≠ b2 ≠.......≠ b3= 0, artinya semua variabel
independen merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen atau
dengan kata lain semua variabel independen tersebut memiliki pengaruh terhadap
variabel dependen. Uji ini dilakukan dengan membandingkan signifikansi F hitung
dengan ketentuan
Jika signifikansi< 0,05 maka Ha diterima dan Jika signifikansi >0,05 maka Ha
ditolak Serta membandingkan nilai F hasil perhitingan dengan F menurut tabel. Bila
nilai F hitung lebih besar daripada nilai F tabel, maka Ha diterima dan sebaliknya.

Uji t (uji secara parsial)


Uji secara parsial adalah untuk menguji apakah setiap variabel bebas atau
independen memiliki pengaruh atau tidak terhadap variabel dependen. Bentuk
pengujiannya adalah Ho: bi = 0, artinya suatu variabel independen bukan merupakan
penjelas yang signifikan atau tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen dan
Ha: bi ≠ 0, artinya suatu variabel independen merupakan penjelas yang signifikan
terhadap variabel dependen atau dengan kata lain variabel independen tersebut memiliki
pengaruh terhadap variabel dependen.
Cara melakukan uji t adalah dengan membandingkan signifikansi t hitung
dengan ketentuan . Jika signifikansi < 0,05 maka Ha diterima dan Jika signifikansi
>0,05 maka Ha ditolak serta dengan membandingkan nilai statistic t dengan t tabel,
apabila nilai statistik t > t tabel maka Ha diterima sedangkan nilai statistic t < t tabel
maka Ha ditolak

HASIL DAN PEMBAHASAN


Gambaran Tenaga Kerja Sub Sektor Furniture
Dari hasil penelitian, didapatkan data jumlah tenaga kerja keseluruhan pada
industri besar dan sedang dapat dilihat dari table berikut:

Table 1. Jumlah Tenaga Kerja Industri Besar Dan Sedang Menurut Sub Sektor,
2008-2013
Subsektor 2008 2009 2010 2011 2012 2013*
10 Makanan 685507 676773 675797 742195 884602 832411
11 Minuman 36 618 37 777 38 914 43 267 46 691 45 013
346 336 329 304 324 278
12 Pengolahan Tembakau
766 178 877 243 614 953
13 Tekstil 470 450 482 477 482 427
117
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

857 956 963 387 349 083


503 510 528 561 600 473
14 Pakaian Jadi
619 112 579 908 109 594
Kulit, Barang dari Kulit dan 231 227 234 247 256 220
15
Alas Kaki 423 204 173 426 500 723
Kayu, Gabus (Tidak
Termasuk Furnitur) dan 250 224 221 212 225 221
16
Anyaman dari Bambu, Rotan 986 837 226 313 456 132
dsj
Kertas dan Barang dari 125 121 126 131 129 108
17
Kertas 011 500 438 250 359 794
Pencetakan dan Reproduksi
18 43 187 41 663 42 658 46 006 52 147 48 268
Media Rekaman
Produk dari Batu Bara dan
19 6 414 6 140 6 218 5 844 6 574 6 657
Pengilangan Minyak Bumi
Bahan Kimia dan Barang 151 159 152 162 185 182
20
dari Bahan Kimia 100 122 352 031 066 115
Farmasi, Produk Obat Kimia
21 60 000 63 562 63 415 67 632 63 529 54 226
dan Obat Tradisional
Karet, Barang dari Karet dan 342 329 357 356 353 357
22
Plastik 721 993 274 334 624 544
172 168 168 174 193 179
23 Barang Galian Bukan Logam
882 943 868 811 136 479
24 Logam Dasar 64 422 62 272 68 623 64 678 60 430 56 582
Barang Logam, Bukan Mesin 172 141 155 154 161 156
25
dan Peralatannya 329 703 473 779 861 953
Komputer, Barang 166 156 164 164 158 120
26
Elektronik dan Optik 559 157 273 247 706 771
100 108 115
27 Peralatan Listrik 96 518 99 988 95 779
442 512 488
28 Mesin dan Perlengkapan ytdl 38 333 37 738 39 471 48 621 56 905 61 188
Kendaraan Bermotor, Trailer 111 118
29 80 652 83 885 95 629 80 949
dan Semi Trailer 384 643
30 Alat Angkutan Lainnya 70 847 73 035 78 649 85 109 85 349 62 201
170 166 199 191 190 174
31 Furnitur
646 398 925 356 127 103
130 138 151 149 160 132
32 Pengolahan Lainnya
286 369 408 149 019 278
Jasa Reparasi dan
33 Pemasangan Mesin dan 20 390 10 826 18 954 18 887 17 555 6 112
Peralatan
Bukan Kelompok Industri
Manufaktur lagi di KBLI 19859 19589 - - -
2009
4 457 4 345 4 501 4 629 4 928 4 382
Jumlah
932 174 145 369 839 908
Sumber : Bps.go.id (2014)

118
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Berdasarkan data diatas terlihat bahwa jumlah tenaga kerja sub sektor furniture tidak
terlalu banyak jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan. Kontribusi tenaga kerja
sub sektor furniture dapar dilihat dari bagan berikut,
6000000

5000000

4000000

Series1
3000000
Series2
2000000 Series3

1000000

0
1 2 3 4 5 6

Bagan 1. Perbandingan jumlah tenaga kerja sub sektor furniture dengan keseluruhan
tenaga kerja
Dari bagan diatas terlihat bahwa kontribusi serapan tenaga kerja sub sektor furnitur rata
– rata pertahun hanya 0,04%.

Biaya Yang Dikeluarkan Untuk Tenaga Kerja


Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja pada setiap sub sektor industri
berbeda- beda, dari hasil temuan data dalam penelitian didapatkan hasil sebagai berikut,

Table 2. Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja pada sub sektor industri (Milyar
Rp)
Subsektor 2008 2009 2010 2011 2012 2013*
10 11 11 24 24 25
10 Makanan
486 457 952 284 167 371
1 1 1
11 Minuman 700 663 970
242 279 559
3 3 2 3 6 3
12 Pengolahan Tembakau
369 908 211 948 961 752
5 6 8 11 10 10
13 Tekstil
940 429 936 195 179 925
6 6 6 11 12 11
14 Pakaian Jadi
847 985 807 634 122 316
Kulit, Barang dari 3 3 4 10 6 8
15
Kulit dan Alas Kaki 552 590 402 628 737 650
Kayu, Gabus (Tidak
Termasuk Furnitur) 3 3 3 4 5 4
16
dan Anyaman dari 751 388 192 668 246 875
Bambu, Ro
Kertas dan Barang dari 2 3 3 5 4 5
17
Kertas 783 459 506 019 369 482

119
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Pencetakan dan
1 1 1 1 3
18 Reproduksi Media 956
112 130 277 440 403
Rekaman
Produk dari Batu Bara
19 dan Pengilangan 124 132 142 185 168 259
Minyak Bumi
Bahan Kimia dan
5 6 7 6 9 12
20 Barang dari Bahan
946 115 106 285 357 552
Kimia
Farmasi, Produk Obat
2 1 1 3 3 6
21 Kimia dan Obat
674 868 826 272 528 635
Tradisional
Karet, Barang dari 5 5 6 12 13 37
22
Karet dan Plastik 688 761 954 239 396 356
Barang Galian Bukan 3 4 5 6 8 6
23
Logam 913 466 732 100 367 132
3 4 4 3 4 7
24 Logam Dasar
908 493 038 519 006 868
Barang Logam, Bukan
4 3 3 5 5 8
25 Mesin dan
036 749 778 877 245 076
Peralatannya
Komputer, Barang 4 3 3 5 4 6
26
Elektronik dan Optik 363 261 387 307 661 912
2 2 2 5 9 6
27 Peralatan Listrik
347 369 823 176 376 785
Mesin dan 1 1 1 2 1 2
28
Perlengkapan ytdl 055 109 025 064 997 596
Kendaraan Bermotor,
3 2 3 6 6 27
29 Trailer dan Semi
497 388 624 112 595 687
Trailer
Alat Angkutan 1 1 1 3 2 2
30
Lainnya 774 718 604 089 912 904
2 2 2 3 5 3
31 Furnitur
035 192 723 970 046 564
1 1 1 3 3 3
32 Pengolahan Lainnya
858 902 982 299 682 998
Jasa Reparasi dan
33 Pemasangan Mesin 484 290 643 733 801 706
dan Peralatan
Bukan Kelompok
xx Industri Manufaktur 765 573 - - -
lagi di KBLI 2009
83 83 90 141 151 209
Jumlah
004 397 320 119 635 361
Sumber : BPS; 2014
Berdasarkan data diatas terlihat bahwa jumlah total biaya untuk tenaga kerja semakin
tahun semakin tinggi. Peningkatan biaya untuk tenaga kerja sub sektor furniture dapat
dilihat dari bagan berikut,

120
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

6,000

5,000

4,000

3,000
Series1
2,000

1,000

0
1 2 3 4 5 6

Bagan 2. Peningkatan biaya untuk tenaga kerja sub sektor furniture


Nilai Output Pada Industri Mikro dan Industri Kecil
Hasil penelitian menunjukkan nilai output industri mikro dan industri kecil
secara umum adalah sebagai berikut,

Table 3. Nilai Output (Milyar Rp)

Subsektor 2008 2009 2010 2011 2012 2013*

438 446 444 647 718 722


10 Makanan
044 558 762 344 677 022
10 12 15 12 18 23
11 Minuman
964 797 460 872 229 179
124 115 112 121 161 142
12 Pengolahan Tembakau
463 587 908 284 073 928
98 104 114 154 140 149
13 Tekstil
066 400 578 617 638 738
45 51 63 63 71 65
14 Pakaian Jadi
593 734 574 969 988 493
Kulit, Barang dari Kulit 37 33 36 50 68 39
15
dan Alas Kaki 878 003 236 096 463 888
Kayu, Gabus (Tidak
Termasuk Furnitur) dan 47 39 37 39 50 50
16
Anyaman dari Bambu, 659 125 103 720 879 253
Rotan dsj
Kertas dan Barang dari 94 105 111 130 136 115
17
Kertas 274 375 629 165 400 593
Pencetakan dan
10 15 15 24 17 28
18 Reproduksi Media
614 259 378 064 302 921
Rekaman
Produk dari Batu Bara
11
19 dan Pengilangan Minyak 7 446 6 400 5 061 6 067 3 884
487
Bumi
Bahan Kimia dan Barang 161 171 247 287 337 311
20
dari Bahan Kimia 038 486 735 593 839 813
121
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Farmasi, Produk Obat


112 161 72 70 29 100
21 Kimia dan Obat
613 850 298 402 598 847
Tradisional
Karet, Barang dari Karet 157 139 248 281 234 288
22
dan Plastik 861 614 923 309 355 735
Barang Galian Bukan 53 53 52 65 94 79
23
Logam 290 684 274 051 864 595
110 103 136 90 119 124
24 Logam Dasar
914 309 153 786 280 944
Barang Logam, Bukan 57 63 72 79 117 117
25
Mesin dan Peralatannya 629 205 109 516 095 170
Komputer, Barang 49 65 61 59 49 74
26
Elektronik dan Optik 998 834 765 651 781 069
55 63 64 72 112 96
27 Peralatan Listrik
918 343 839 418 072 323
Mesin dan Perlengkapan 15 13 20 28 38 33
28
ytdl 136 543 683 097 126 627
Kendaraan Bermotor, 87 95 148 201 196 232
29
Trailer dan Semi Trailer 767 322 699 155 221 058
85 96 83 84 106 145
30 Alat Angkutan Lainnya
742 861 451 712 835 186
18 17 18 25 22 23
31 Furnitur
564 686 449 310 569 707
20 13 18 18 16 22
32 Pengolahan Lainnya
383 925 421 542 643 465
Jasa Reparasi dan
33 Pemasangan Mesin dan 3 983 3 509 4 503 4 315 4 628 5 180
Peralatan
Bukan Kelompok Industri
xx Manufaktur lagi di KBLI 7 435 6 491 - - -
2009
1 917 2 000 2 208 2 618 2 869 2 997
Jumlah / Total
312 944 330 050 622 617
Sumber : BPS, 2014
Berdasarkan data diatas, nilai ouput pada sub sektor furniture sangat fluktuatif dan nilai
tertinggi ada pada tahun 2011 dengan nilai Rp 25.310 Milyar dan terkecil pada tahun
2009 yaitu Rp 17.686 milyar. Fluktuasi nilai output sub sektor furnitur dapat dilihat
pada bagan berikut,

122
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Nilai Output
30,000

25,000

20,000

15,000
Nilai Output
10,000

5,000

0
2008 2009 2010 2011 2012 2013

Bagan 3. Nilai output sub sektor furniture

Rekapitulasi data dari masing masing variable dapat dilihat pada table berikut,
Table 4. Rekapitulasi data
Tahun Variable X1 Variable X2 Variable Y
Jumlah T.K Biaya T.K Nilai output
2008 170.646 2 035 18.564
2009 166.398 2 192 17.686
2010 199.925 2 723 18.449
2011 191.356 3 970 25.310
2012 190.127 5 046 22.569
2013 174.103 3 564 23.707
Sumber : Data diolah , 2015
Pengolahan Data
Dengan menggunakan program SPSS dalam pengolahan data maka didapatkan
hasil sebagai berikut,

Uji Asumsi.
1. Uji Normalitas. Dari hasil output SPSS pada kolom Kolmogorov-Smirnov dapat
diketahui bahwa nilai signifikasi untuk setiap variable lebih besar dari 0,05, maka
dapat disimpulkan bahwa seluruh variable berdistribusi normal.
2. Uji Multikolonearitas. Dari hasil analisis dapat diketahui nilai variance inflation
factor (VIF) kedua variable jumlah tenaga kerja dan biaya adalah 1,116 dan lebih
kecil dari 5, sehingga bisa diduga bahwa antar variable independen tidak terjadi
multikolinear.
3. Uji Heterokedastisitas. Karena nilai T hitung untuk variable jumlah tenaga kerja
0,244 dan variable biaya tenaga kerja 1.199 dengan signifikasi 0,05 dua sisi t table
2.776, maka untuk kedua variable berlaku –T table < T hitung < T table. Dengan
demikian tidak ada gejala heterokedastisitas.
-
Regresi Linear Berganda
Regresi linear berganda ditujukan untuk menentukan hubungan linear antar
beberapa variabel jumlah tenaga kerja, biaya tenaga kerja dengan variabel terikat yaitu

123
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

variable nilai output. Berdasarkan outpun pengolahan SPSS didapatkan hasil sebagai
berikut,
Table 5. Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 11.518 19.935 .578 .604
jumlah .028 .114 .116 .244 .823
biaya 1.578 1.316 .573 1.199 .317
a. Dependent Variable: Output
Sumber : Data diolah, 2015

Persamaan regresi yang dihasilkan sebagai berikut,


Y = 11,518 + 0,028 Jumlah tenaga kerja + 1,578 Biaya tenaga kerja. Persamaan regresi
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Jika jumlah tenaga kerja dan biaya tenaga kerja nol (0) maka nilai output adalah
11,518.
- Nilai variable jumlah tenaga kerja sebesar 0,028 artinya jika variable
independent lainnya nilainya tetap dan variable jumlah tenaga kerja naik 1%
maka nilai output akan bertambah Rp 0,028.
- Nilai variable biaya tenaga kerja senilai 1,578 artinya jika variable independent
lainnya nilainya tetap dan variable jumlah tenaga kerja naik 1% maka nilai
output akan bertambah Rp 1,578.
Berdasarkan table diatas jg terlihat nilai t hitung variable jumlah tenaga kerja
adalah 0,244 dan variable biaya tenaga kerja adalah 1,199. Dengan signifikasi 0,05 dan
pengujian dua sisi didapat nilai t table adalah 3,182. Dengan demikian didapatkan
formulasi - 3,182 < 0,224 < 3,182 dan - 3,182 < 1,199 < 3,182, artinya bahwa tidak ada
pengaruh yang signifikan antara jumlah tenaga kerja dan biaya tenaga secara parsial
terhadap nilai output.
Untuk mengetahui kedua variable independent apakah berpengaruh secara
bersama – sama terhadap variable independen menggunakan uji F. Berdasarkan
perhitungan didapatkan F hitung adalah 1.88. Dan F table dengan signifikasi 0,05 dan
pengujian dua sisi didapatkan 9,552. Dengan demikian didapatkan formulasi sebagai
berikut, - 9,552 < 1,887 < 9,552, Maka dapat disimpulkan bahwa ecara bersama – sama
kedua variable tidak memberikan pengaruh terhadap variable depanden.

IMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ternyata
jumlah tenaga kerja dan biaya yang dilekuarkan untuk membayar tenaga kerja tidak
memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap nilai output pada industru
furniture di Indonesia, masih banyak variable – variable lain yang mempengaruhi nilai
output pada industri, salah satunya adalah teknologi mengingat industri forniture saat ini
banyak dikerjakan oleh mesin dari pada manusia, selain itu biaya produksi juga menjadi
variable yang akan mempengaruhi output industri, karena tingginya biaya akan
mempengaruhi kemampuan usaha dalam memproduksi. Hal inilah yang membuat faktor
manusia kurang memberi pengaruh yang signifikan terhadap nilai output pada industri
furniture di Indonesia.

124
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Saran yang dapat peneliti berikan adalah selain meningkatkan proses alih
teknologi, pengusaha sub sektor furniture hendaknya semakin memperkuat finansial
pengusaha agar mempunyai capital gain untuk bersaing dengan pengusaha lain
khususnya pengusaha asing. Hal ini tidak akan lepas dari peranan pemerintah sebagai
pengampu kebijakan.

DAFTAR PUSTAKA
sidabutar, victor tulus pangapoi , 2014, peluang dan permasalahan yang dihadapi umkm
berorientasi ekspor, balai besar pendidikan dan pelatihan ekspor indonesia
direktorat jenderal pengembangan ekspor nasional kementerian perdagangan
republik indonesia, jakarta.

suyahya, indra, 2014, kelembagaan usaha mikro kecil dan menengah dan pembangunan
ekonomi masyarakat, journal applied business and economics, vol 1, september
2014. issn 2356-4849.

Arsyad, Lincoln. 1999. Ekonomi Pembangunan. Edisi Keempat. STIE YKPN


Yogyakarta

Alkadri, 1999. Sumber-Sumber Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Jurnal Pusat Studi


Indonesia,Universitas Terbuka

Basuki, 1997. Kajian Mengenai Pengaruh Penanaman Modal Asing Langsung Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi dan Tabungan Domestik Indonesia Tahun 1969-1994.
Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol.12,2,50-65, Universitas Gajah Mada,
1997

Gujarati, Damodar. 1995. Basic Econometrics.Third Edition. McGraw Hill International


Editions.

Gunadi Brata, Aloysius.2004. Analisis Hubungan Imbal Balik Antara Pembangunan


Manusia dan Kinerja Ekonomi Daerah Tk.II di Indonesia.Lembaga Penelitian
Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Ghozali, Imam, 2005. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Badan
Penerbit Universitas Diponegoro

Kuncoro, Mudrajat. 1997. Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah dan Kebijakan. UPP
AMP YKPN Yogyakarta.

Mankiw, N.Gregory.2000. Teori Makro Ekonomi .Ed.4, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Pancawati, Neni, 2000. Pengaruh Rasio Kapital-Tenaga Kerja, Tingkat pendidikan, Stok
Kapital dan Pertumbuhan Penduduk Terhadap Tingkat lxiv Pertumbuhan GDP
Indonesia ; Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol.15, No.02, Universitas
Gajah Mada, 2000

125
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Prasasti, Diah, 2006. Perkembangan PDRB per kapita 30 Propinsi di Indonesia Periode
1993-2003: Pendekatan Disparitas Regional dan Konvergensi; Jurnal Ekonomi
dan Bisnis Indonesia Vol.21, No.4, Universitas Gajah Mada, 2006

Ranis, Gustav. et. al. 2000. Economic Growth and Human Development. World
Development Vol.28,No.2,pp.197-219,2000

Sumodiningrat, Gunawan.2002. Pengantar Ekonometrika. BPFE- UGM. Yogyakarta


Yuliarmi, Nyoman. 2008. Pengaruh Konsumsi Rumah Tangga, Investasi dan
Pengeluaran Pemerintah Terhadap PDRB Propinsi Bali ; Bulletin Studi Ekonomi
Vo.13 No.2 Tahun 2008, Universitas Udayana Denpasar.

Sukirno, Sadono.2000 Makroekonomi Modern: Perkembangan Pemikiran Dari Klasik


Hingga Keynesian Baru. Raja Grafindo Pustaka

Suryana, 2000. Ekonomi Pembangunan: Problematika dan Pendekatan. Penerbit


Salemba Empat Edisi Pertama, 2000.

Susanti, Hera, Moh.Ihsan dan Widyanti. 1995. Indikator-Indikator Makroekonomi,


Jakarta, LPEM-FE-UI Todaro , Michael. 2004.

Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Penerbit Erlangga Edisi Kedelapan, 2004

Wibisono, Yusuf. 2005. Sumber-Sumber Pertumbuhan Ekonomi Regional : Studi


Empiris Antar Propinsi di Indonesia, 1984-2000.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol.02, Universitas Gajah Mada, 2005

www.bps.go.id
www.kemenkop.go.ig

126
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

MENGEMBANGKAN USAHA MIKRO, KECIL, dan MENENGAH (UMKM)


BERBASIS KOPERASI DAN KEMITRAAN MELALUI PROGRAM ONE
VILLAGE ONE PRODUCT (OVOP) DALAM MENGHADAPI PASAR GLOBAL

Askardiya Mirza Gayatri


Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Indraprasta PGRI
mirzagayatri@yahoo.com

ABSTRAK

Kajian ini bertujuan untuk mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
(UMKM) berbasis Koperasi dan kemitraan melalui program One Village One Product
(OVOP) dalam menghadapi pasar global. Peran Usaha Mikro, Kecil, Menengah
(UMKM) berkontribusi dalam perekonomian Indonesia sangatlah besar, dengan
pertumbuhan sebesar 7% (2012 ke 2013) telah melibatkan kurang lebih 107 juta tenaga
kerja yang sudah diberdayakan, dan jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah.
Dalam membangun UMKM salah satu masalah yang menjadi penghambat kemajuan
UMKM adalah kesulitan dalam bermitra. Bentuk badan hukum yang paling tepat dalam
hal ini adalah dengan mendirikan Koperasi, sedangkan untuk mengatasi hambatan
dalam bermitra salah satunya dengan melakukan program One Village One Product
(OVOP) selain sebagai penghasil produk lokal dengan memanfaatkan produk lokal juga
sekaligus menahan arus urbanisasi. Untuk menembus pasar global diperlukan
penggunaan teknologi berupa informasi dan komunikasi.
Dengan metode deskriptif menggunakan data sekunder serta ditunjang oleh data
primer dengan survei langsung dan wawancara dengan pihak terkait, diharapkan dapat
memberikan gambaran bahwa untuk menjadikan Koperasi yang mendunia salah
satunya dengan menjalankan strategi OVOP melalui kemitraan dalam hal ini
pemerintah, swasta, dan masyarakat, sehingga mempunyai daya saing terutama terhadap
negara-negara ASEAN.
Kata kunci: UMKM, Koperasi, Kemitraan, OVOP.

PENDAHULUAN
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti yang sudah kita ketahui
sangat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika diamati di pasar
baik tradisional maupun swalayan diisi oleh produk-produk yang dihasilkan dari
UMKM, mulai produk makanan sampai produk bukan makanan. Sebagai contoh, kita
membeli camilan dengan tampilan yang menarik dari bentuk maupun rasa serta
dikemas begitu cantik, dalam benak kita pasti bukan buatan Indonesia, namun tidak kita
sangka bahwa makanan tersebut buatan dari suatu daerah di Indonesia. Sayuran, buah-
buahan, baik yang masih segar maupun olahannya, ragam produk kuliner sampai
kerajinan terutama handmade ikut meramaikan dunia usaha yang dihasilkan dari
UMKM. Hal tersebut meyakinkan kita bahwa keberadaan UMKM baik bentuk
usahanya maupun hasil produknya sudah dikenal masyarakat luas.
Menurut pakar UMKM, Budi S. Isman (Business Review. 2014: 44)
pertumbuhan UMKM sebesar 7% dari tahun 2012 ke tahun 2013, dan telah melibatkan
107 juta tenaga kerja dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar

127
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Rp.4.869.568,1 milyar atau hampir 60% dari total PDB Indonesia. Jadi pantaslah
apabila UMKM berkontribusi sangat besar terhadap perekonomian Indonesia, juga telah
terbukti bahwa UMKM tahan terhadap krisis ekonomi dan jumlah pelaku UMKM
semakin meningkat baik pada jumlah unit usahanya maupun pada pengusahanya
sehingga secara otomatis membuka lapangan pekerjaan dengan menyerap tenaga kerja
yang tidak sedikit.
Akan tetapi perkembangan jumlah UMKM yang meningkat masih belum
diimbangi dengan kualitas UMKM, yang diakibatkan dari permasalahan-permasalahan
yang dihadapi UMKM. Selain modal juga ‗mind set‘ dan sumber daya manusianya,
kesulitan bahan baku, mahalnya biaya logistik, distribusi, dan perijinan. Masalah yang
paling penting adalah mind set dan sumber daya manusianya, mind set diartikan sebagai
pola pikir yang sempit sehingga menyulitkan dalam mendapatkan mitra atau pihak lain
yang bisa membantu dalam menghadapi masalah yang menimpanya. Melihat
permasalahan yang terdapat dalam UMKM, maka bentuk badan hukum yang tepat
adalah Koperasi. Karena koperasi mempunyai tujuan dalam memenuhi kebutuhan
ekonomi dengan memajukan kesejahteraan anggota yang secara pasti bisa diketahui
jumlah anggotanya untuk jangka waktu yang lama dan berkelanjutan.
Keberhasilan dari koperasi salah satunya terletak pada kemitraan yang salah
satunya dengan memberdayakan program One Village One Product (OVOP). Dalam
dunia usaha, kemitraan sangat diperlukan terutama pada badan hukum yang didirikan
atau dibentuk oleh sekelompok orang atau individu. Kemitraan menjadi solusi dalam
memecahkan permasalahan dalam dunia usaha, yang mencakup pembinaan, pelatihan,
penyaluran, promosi, evaluasi, monitoring, keuangan, dan sebagainya. Adapun yang
pihak yang terlibat dalam hal ini antara lain: BUMN, lembaga keuangan, perguruan
tinggi, pemerintah daerah setempat, komunitas, dan sebagainya. Dengan melakukan
program OVOP yang dikembangkan terutama di wilayah perdesaan yang mempunyai
sumber daya alam potensial dan sumber daya manusia setempat yang menghasilkan
produk unggulan baik tingkat lokal maupun global, hasilnya dapat meningkatkan nilai
ekonomis terutama di bawah payung koperasi. Sehingga masyarakat kita bisa
menghargai produk sendiri selain harga yang kompetitif dan terjangkau pada lapisan
masyarakat juga kebanggaan akan produk sendiri yang tidak kalah dari produk luar
negeri terutama negara ASEAN. Semakin tinggi daya beli masyarakat maka akan
semakin tinggi juga permintaan pasar, di sinilah UMKM berbasis koperasi
dipertaruhkan dalam menghadapi pasar global.
KAJIAN PUSTAKA
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah terbagi atas 3 (tiga) ketentuan umum yang tertulis
pada Pasal 1 dan kriteria (Pasal 6), dapat dilihat pada tabel di bawah ini yang dilengkapi
jangka waktu pinjaman dan jumlah tenaga kerja.
Pengertian Kriteria Jangka Waktu Jumlah
Pinjaman/ JWP Tng
Kerja
Usaha Mikro Kekayaan bersih: Maks. Kredit: 1 – 4
Adalah produktif milik orang < Rp.50jt tidak Rp.50jt orang
perorangan dan/ atau badan usaha termasuk tanah JWP Kredit:
perorangan yang memenuhi dan bangunan Investasi maks.
kriteria usaha mikro. tempat usaha, atau 5 th
Hasil penjualan/ Modal kerja
th: maks 1 th, dpt

128
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

< Rp.300jt diperpanjang


maks. 2 kali
Usaha Kecil Kekayaan bersih: Maks. Kredit: 5 – 19
Adalah usaha ekonomi produktif Rp.50jt sampai Rp.500jt orang
yang berdiri sendiri, yang < Rp.500jt tidak JWP Kredit:
dilakukan oleh orang perorangan termasuk tanah Investasi maks.
tau badan usaha yang bukan dan bangunan 5 th
merupakan anak perusahaan atau tempat usaha, atau Modal kerja
bukan cabang perusahaan yang Hasil penjualan/ maks 1 th, dpt
dimiliki, dikuasai, atau menjadi th: diperpanjang
bagian baik langsung maupun > Rp.300jt sampai maks. 2 kali
tidak langsung dari usaha <
menengah atau usaha besar yang Rp.2.500.000.000,-
memenuhi kriteria usaha kecil.
Usaha Menengah Kekayaan bersih: Maks. Kredit: 20 – 99
Adalah usaha ekonomi produktif > Rp.500jt sampai Rp.500jt sampai orang
yang berdiri sendiri, yang Rp.10 milyar tidak Rp.5milyar
dilakukan oleh orang termasuk tanah Pada umumnya,
perseorangan atau badan usaha dan bangunan usaha menengah
yang bukan merupakan anak tempat usaha, atau dalam
perusahaan atau Hasil penjualan/ pembiayaan
cabangSperusahaan yang dimiliki, th: perbankan
dikuasai, atau menjadi bagian > masuk dalam
baik langsung maupun tidak Rp.2.500.000.000,- segmen kredit
langsung dengan usaha kecil atau sampai dengan
usaha besar. < Rp.50milyar ketentuan dari
kedua pihak

Asas UMKM (Pasal 2): a) kekeluargaan; b) demokrasi ekonomi; c)


kebersamaan; d) efisiensi berkeadilan; e) berkelanjutan; f) berwawasan lingkungan; g)
kemandirian; h) keseimbangan kemajuan; dan i) kesatuan ekonomi nasional. Sedangkan
tujuan UMKM (Pasal 3) adalah untuk menumbuhkan dan mengembangkan usahanya
dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi
yang berkeadilan.
Peranan UMKM menurut Tiktik Sartika Pratomo (2009: 9) sangat penting di
semua negara, karena jumlah UMKM yang paling besar dari kegiatan usaha suatu
negara.Tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh suatu negara antara lain menciptakan
kesempatan kerja, distribusi pendapatan yang merata, menciptakan efisiensi,
memantapkan stabilitas harga, dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sehingga sangat
tepat sasaran pada peran UMKM.
Koperasi dan Kemitraan
Menurut UU No.25 Tahun 1992, koperasi adalah badan usaha yang didirikan
oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar
atas asas kekeluargaan. Muhammad Hatta (Bapak Koperasi Indonesia) mengatakan
bahwa ―Koperasi didirikan sebagai persekutuan kaum lemah untuk membela keperluan
hidupnya. Mencapai keperluan hidupnya dengan ongkos yang semurah-murahnya,
itulah yang dituju. Pada koperasi didahulukan keperluan bersama, bukan keuntungan.‖
Tujuan koperasi menurut UU Nomor 2 Tahun 1992, untuk memajukan
kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut

129
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

membangun tatanan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Jadi dapat disimpulkan
bahwa koperasi adalah organisasi masyarakat yang dibentuk dengan aturan tertentu
dengan tujuan menyejahterakan anggotanya terlebih dahulu dan kemudian untuk
masyarakat.
Menurut Muhammad Hatta seperti yang dikutip oleh Bernhard Limbong (2010:
66), koperasi harus mengandung nilai-nilai sebagai berikut: a) rasa solidaritas; b)
menanam sifat individualita (tahu akan harga diri); c) menghidupkan kemauan dan
kepercayaan pada diri sendiri dalam persekutuan untuk melaksanakan self help dan
autoaktiva guna kepentingan bersama; d) mendidik cinta kepada masyarakat, yang
kepentingannya harus didahulukan dari kepentinrgan diri sendiri atau golongan sendiri;
dan e) menghidupkan rasa tanggungjawab moril dan sosial.
Dari 7 (tujuh) prinsip koperasi menurut UU Perkoperasian No.25 Tahun 1992
yang antara lain yaitu: 1) keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka; 2) pengelolaan
dilakukan secara demokratis; 3) pembagian SHU dilakukan secara adil dan sebanding;
4) pemberian balas jasa yang terbatas modal; 5) kemandirian; 6) pendidikan
perkoperasian; dan yang akan dibahas pada makalah ini adalah prinsip yang ke 7)
kerjasama, prinsip kerjasama antara koperasi dan kemitraan dengan perusahaan atau
pihak ketiga lainnya. Prinsip kerjasama dan kemitraan merupakan strategi bisnis antara
koperasi dan atau perusahaan non koperasi supaya dapat meningkatkan kualitas, skala
bisnis, dan volume usaha (Bernhard Limbong. 2010:73).
Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih
dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling
membutuhkan dan saling membesarkan. (Hafsah. 2003: 10). Masih menurut Hafsah
(2003: 54), kemitraan mempunyai 6 (enam) manfaat, yaitu: 1) produktivitas; 2)
efisiensi; 3) jaminan kualitas, kuantitas dan kontiunitas; 4) resiko; 5) sosial; dan 6)
ketahanan ekonomi nasional.
Maksud dan tujuan dari kemitraan adalah kesadaran dan saling menguntungkan
yang tidak diartikan bahwa partisipan dalam kemitraan harus memiliki kemampuan dan
kekuatan yang sama, akan tetapi disesuaikan dengan peran masing-masing. Untuk
menghadapi pasar bebas, koperasi harus mengembangkan kemitraan kepada pihak
terkait supaya posisi koperasi menjadi kuat dan tangguh. Adapun bentuk kerja sama
koperasi yang akan dikembangkan dengan karakteristik sebagai berikut: 1) Jaringan
Kerjasama. Upaya kerjasama tidak hanya dilakukan antara koperasi primer, tetapi juga
terjadi antar koperasi sekunder dalam kerangka menyusun suatu jaringan. 2) Kelompok
Swadaya. Mampu menyusun kekuatan sendiri secara bersama supaya kehidupan
koperasi baik sendiri maupun sektoral yang berkualitas dan tidak tergantung kepada
pihak lain. 3) Badan Usaha Permanen. Koperasi harus memiliki visi yang
kuat untuk menjadi badan usaha yang permanen. 4) Pusat Pelayanan Anggota dan
Jaringan kerjasama yang dibangun harus mampu menghadirkan koperasi yang selalu
melayani kebutuhan dan kepentingan anggota dan mayarakat sehingga benar-benar
menjadi kekuatan riel dalam tata perekonomian nasional. Dan 5) Melahirkan Para
Wirakoperasi Profesional. Koperasi dituntut untuk mendidik dan menyiapkan para
wirakoperasi yang profesional untuk mengelola berbagai jenis bisnis koperasi.
(Bernhard Limbong. 2010: 166-168).

Program One Village One Product (OVOP)


Kekuatan Hukum yang mendasari Program OVOP iantaranya: 1) Inpres No.6
Tahun 2007 tentang Percepatan Sektor Riel dan Pembangunan UMKM pada tanggal 8
Juni 2007 yang mengamanatkan pengembangan sentra melalui pendekatan OVOP. 2)

130
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Keputusan Rapat Kerja Kemenkop dan UKM dengan Komisi VI DPR-RI tahun 2008
agar OVOP dapat dikembangkan di Provinsi lain.
Tujuan utama dari OVOP adalah untuk peningkatan pendapatan, kebanggaan
dan kemandirian masyarakat.Tujuan OVOP lainnya adalah: 1) untuk menggali dan
mempromo- sikan produk inovatif dan kreatif lokal, dari sumber daya yang bersifat unik
khas daerah, bernilai tambah tinggi, dengah dan tetap menjaga kelestarian lingkungan,
memiliki imej dan daya saing tinggi; 2) pengembangan IKM yang berdaya saing tinggi
di pasar domestik dan global dengan mencari komoditas potensial di satu sentra yang
memanfaatkan potensi lokal.
Sasaran program OVOP adalah: a) pertumbuhan koperasi dan UKM yang
mandiri di daerah; b) penguatan koperasi dan UKM sebagai motor penggerak ekonomi
daerah dan nasional; c) peningkatan kemampuan pemasaran dan daya saing produk
koperasi dan UKM; d) penciptaan peran koperasi dan UKM dalam penciptaan lapangan
kerja; e) peningkatan perolehan nilai tambah produk unggulan untuk meningkatkan
pendapatan; dan f) peningkatan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan
masyarakat ke seluruh wilayah Indonesia.
Tahun 2009 dalam seminar di Bali, Hiramatsu Morihiko sebagai pelopor dan
pencipta OVOP di Jepang mengatakan bahwa dalam mengadopsi program OVOP ada 3
(tiga) aspek dasar yang harus dipenuhi, yaitu: 1) lokalitas produk mampu memenuhi
pasar global; 2) masyarakatnya mampu bekerja secara mandiri; dan 3) sumber daya
manusia memiliki mental siap didik dan dibina. Dari situlah maka program OVOP
mencetuskan 3 (tiga) prinsip gerakan OVOP: 1) Lokal tapi Global (Local yet Global);
2) Kemandirian dan Kreativitas (Self Reliance Creativity); dan 3) Pengembangan
Sumber Daya Manusia (Human Resources Development). Sehingga dengan memiliki
potensi yang sudah disebutkan di atas maka akan menghasilkan produk OVOP yang
merupakan produk unggulan dari daerah atau wilayah
dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia lokal yang memiliki
keunggulan kompetitif dan siap mengahadapi pasar global.

METODE
Kajian ini dilakukan dengan metode deskriptif dan menggunakan data sekunder
kajian, text book, media publikasi dari instansi terkait, serta ditunjang oleh data primer
dengan survei langsung dan narasumber langsung melalui telepon dengan pihak terkait.

PEMBAHASAN
Data yang diolah oleh Kemenkop dan UKM tahun 2013, jumlah UMKM di
Indonesia 56,5 juta unit atau 99,9% dari total usaha di Indonesia. Dengan perincian
sebagai berikut:
Usaha Mikro 55,856 juta unit 98,79%
Usaha Kecil 629,418 unit 1,11%
Usaha Besar 48,997 unit 0,09%
Jadi UMKM menyumbang 57,94% Produk Domestik Bruto atau senilai dengan
Rp.4.303,57 triliun, dan investasi UMKM mencapai 830,9 triliun dengan tenaga kerja
yang diserap sebanyak 110,8 juta orang. Dengan ledakan jumlah usaha mikro yang
mendominasi usaha di Indonesia sudah saatnya mempunyai wadah badan hukum yang
sesuai dengan kebutuhan yaitu dengan mendirikan koperasi, apalagi Kementrian
Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) sudah memberikan
pernyataan bahwa pendirian koperasi akan bebas biaya mulai tahun ini (2015), yang
mana kebijakan ini bertujuan agar pelaku usaha kecil dan menengah semakin mudah

131
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

untuk mendirikan koperasi, sehingga peran koperasi dapat dioptimalkan dalam


penyaluran kredit mikro ataupun peralatan penunjang
usaha.
Keberadaan koperasi di Indonesia masih dipandang sebelah mata, terutama pada
generasi muda yang lebih mengenal badan usaha lain selain koperasi. Padahal kalau
mereka jeli dan rasa keingintauannya tinggi, dapat diyakini akan mengakui keberadaan
koperasi. Pada umumnya sebagian masyarakat terutama golongan menengah ke atas
mengenal koperasi identik dengan jadul, kuno, kumuh, kumpulan orang yang sudah tua
atau pensiunan,dan sebagainya. Namun kalau mereka tahu bahwa Susu Cap Bendera
(Frisian Flag) yang mereka konsumsi berasal dari koperasinya para peternak sapi di
Belanda, maka tidak akan memandang rendah koperasi. Contoh lain, siapa yang tidak
mengenal toko perkakas pertukangan dan perlengkapan rumah tangga Ace Hardware
yang awalnya hanya sebuah toko kecil di Chicago? PT Ace Hardware Indonesia yang
60% pemegang sahamnya dimiliki oleh PT Kawan Lama sangat berkembang di kota-
kota besar di Indonesia, dengan strategi merangkul pengusaha lokal dan
mengikutsertakan produk lokal. Koperasi yang berasal dari Indonesia juga tidak kalah
hebatnya, seperti Koperasi Warga Semen Gresik yang sebelumnya bernama Koperasi
Serba Usaha Karyawan Perusahaan Negara Semen Gresik yang berdiri sejak 1963,
berada di bawah payung PT Semen Gresik (Persero) Tbk yang beromzet Rp.1,4 Triliun
dengan aset Rp.476,9 milyar dan selisih hasil usaha (SHU) yang mencapai Rp.23,66
milyar, menjadikan Koperasi Warga Semen Gresik peraih penghargaan Tingkat
Nasional ―Koperasi Award‖ pada peringatan hari Koperasi Nasional ke- 64 pada tanggal
12 Juli 2011 ini menjadi Koperasi Kelas Dunia. Jadi tidak perlu diragukan lagi
keberadaan koperasi di masyarakat Indonesia, apalagi kalau ditunjang dengan
pemberdayaan melalui program OVOP.
Di Jawa Tengah ‗Gerakan Bali nDesa mBangun Desa‘ periode 2008-2013 yang
dicanangkan oleh Bapak Bibit Waluyo (mantan Gubernur Jawa Tengah dan
mendapatkan predikat sebagai Gubernur Penggiat OVOP Terbaik Tahun 2012 karena
dinilai berhasil membimbing dan mengembangkan 70 produk unggulan Jawa Tengah)
yang mana gerakan ini mendorong pemberdayaan ekonomi kerakyatan terutama
UMKM, dan menjadikan Jawa Tengah sebagai percontohan program OVOP yang
berhasil. Gerakan tersebut menginspirasi penulis untuk melakukan survei langsung pada
bulan Sepetember 2014 ke Kabupaten Wonosobo, Kecamatan Mojotengah, di
perkebunan Carica (tanaman musiman sejenis pepaya yang tumbuh di Dataran Tinggi
Dieng), sejak 2012 produk Carica menjadi produk rintisan OVOP. Dengan sifat buah
carica yang tidak tahan lama apabila disimpan dalam keadaan segar, maka masyarakat
setempat dengan pembinaan dari kelurahan, departemen perindustrian dan pemerintah
daerah setempat menggali potensi baik potensi sumber daya
alam dalam hal ini buah carica dan sumber daya manusia yang mana buah carica ini
sudah dikenal sejak puluhan tahun, sehingga masyarakat setempat sudah terbiasa
mengolah buah ini secara turun temurun. Keberhasilan produk rintisan OVOP ini tidak
lepas dari peran kemitraan yang dibina oleh koperasi dengan pihak terkait. Perlu
diketahui, tanaman carica ini hanya ada 3 (tiga) tempat yang tumbuh di dunia, selain di
Indonesia (Dataran Tinggi Dieng), Rusia, dan Argentina.
Inspirasi lainnya adalah penulis melakukan survei langsung ke Kecamatan
Srumbung, Kabupaten Magelang pada tanggal 13 Januari 2015 yang lalu. Informasi
yang penulis dapatkan dari Bapak Daru Priyatno (Pembina UMKM dari BPR Bank
Bapas 69 Magelang) bahwa rintisan OVOP untuk saat ini ada 2 (dua) wilayah yaitu
Kecamatan Srumbung dengan produk unggulan salak, dan Kecamatan Pucang Sari
dengan produk unggulan kerajinan tanduk. Penulis tertarik dengan rintisan OVOP di

132
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Kec. Srumbung yaitu salak. Salak Indonesia mampu diekspor ke luar negeri terutama
China, namun masih dalam bentuk buah segar. Sebagai produk rintisan OVOP nantinya
buah salah akan dikembangkan menjadi produk olahan, seperti: tepung salak, manisan
salak, bahkan biji salak juga akan dkembangkan menjadi bubuk kopi salak yang dari
hasil penelitian mempunyai khasiat mengobati asam urat. Keberhasilan Kec. Srumbung
dalam melakukan program OVOP tidak lepas dari kemitraan dengan pihak pemerintah
daerah, instanti terkait, perguruan tinggi, dan lembaga keuangan setempat, melalui
pembinaan dan bimbingan.

SIMPULAN
Untuk mencapai usaha kecil atau menuju ke usaha besar masih terlihat sangat
lambat karena UMKM selama ini masih berjalan sendiri dalam menghadapi pasar
karena masih minimnya pembimbingan dan pembinaan, karena itu masalah yang
terdapat pada UMKM banyak yang belum dapat dipecahkan. Pada pembahasan di atas,
dapat disimpulkan bahwa badan hukum yang tepat adalah koperasi, untuk lebih
berkembang sehingga menguasai pasar baik domestik maupun global harus melalui
kemitraan baik dengan pemerintah pusat maupun daerah (untuk memfasilitasi,
memberikan informasi, dsb), instansi terkait seperti Kadin (Kamar Dagang dan Industri)
dsb, perguruan tinggi (penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dsb), perusahaan
besar (distributor, kemasan,dsb) dsb.
Majunya usaha rintisan OVOP tidak lepas dari sumber daya manusia setempat
yang sudah terbiasa mengolah secara turun temurun dan kalau melibatkan lebih banyak
lagi tenaga kerja maka arus urbanisasi bisa dibendung, akan tetapi untuk distribusi ke
pasar global harus didampingi oleh tenaga ahli yang membina dan membimbing dengan
memberikan informasi
yang up to date serta memperkenalkan teknologi yang sesuai, supaya produktivitasnya
meningkat baik dari sisi tenaga kerjanya maupun hasil produknya. Karena dari survei
pasar yang penulis temukan, produk carica dan salak olahan belum memenuhi pasar
domestik, hal tersebut bisa dilihat di beberapa toko dan supermarket saja yang menjual
produk rintisan OVOP tersebut.
Apabila permasalahan yang dihadapi koperasi dalam hal ini kemitraan bisa
diatasi maka akan tumbuh menjamur produk-produk rintisan OVOP yang mana andalan
Indonesia adalah dari agribisnis. Yang mana bisa dikembangkan supaya mempunyai
keunggulan kompetitif dalam mengadapi pasar global. Sesuai dengan moto OVOP: Jika
produk yang dihasilkan sama, maka produknya harus meuju Number One yang artinya
kualitas produk paling baik di daerah, di Indonesia, di antara negara ASEAN dsb. Tapi,
kalau produknya hanya berada di satu daerah saja, maka menjadi Only One, yang berarti
satu-satunya produk di daerah, di Indonesia, di Asia, dsb. Dalam hal ini seperti produk
Carica. Jadi makin tinggi lokalitasnya, semakin tinggi nilainya.

DAFTAR PUSTAKA
Buku:
............ 2009. Undang-Undang UKM. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2008, Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Yogyakarta: Pustaka
Yustisia.

Harsono, Budi. 2014. Tiap Orang Bisa Menjadi Pengusaha Sukses dan Berkelas
Dunia Melalui UMKM. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

133
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Hafsah, Mohammad Jafar. 2003. Kemitraan Usaha. Konsepsi dan Strategi. Jakarta:
PT Pustaka Sinar harapan

Larto. 2012. Koperasipreneur. Jakarta: Penerbit Naga Media.

Limbong, Bernhard. 2010. Pengusaha Koperasi. Memperkokoh Fondasi Ekonomi


Rakyat. Jakarta: Penerbit Margaretha Pustaka.

Sartika, Pratomo, Tiktik. 2009. Ekonomi Koperasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Majalah/ Tabloit/ Harian:


Business Review. Edisi 3. Tahun 13. Juni-Juli 2014.
Ide Bisnis, Inspirasi Usaha Mandiri. Edisi 33/ Februari 2013.
Kompas. 13 Desember 2014.
Kompas. 21 Juli 2012.

134
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

SIKAP DAN MINAT BELI KONSUMEN SECARA ONLINE


(Survey pada Mahasiswa Pengguna Internet di Kota Makassar)

Muhammad Aqsa
M. Risal
Mahasiswa S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran
Muhammadaqsa28@yahoo.co.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji pengaruh dari iklan online
terhadap sikap dan minat beli konsumen secara online, survey dilakukan pada
mahasiswa pengguna internet di Kota Makassar. Penelitian dilakukan pada mahasiswa
perguruan tinggi negeri dan swasta yang ada di Kota Makassar. Metode yang digunakan
adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive
sampling method dengan jumlah sampel 340 orang. Pengujian hipotesis dalam
penelitian ini menggunakan metode structural equation modeling (SEM). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa iklan online mempunyai pengaruh terhadap sikap dan
minat beli konsumen secara online. Dimensi interactivity dari iklan online memberikan
pengaruh paling tinggi terhadap sikap dan minat beli konsumen secara online.

Kata Kunci: Iklan Online, Sikap dan Minat Beli

PENDAHULUAN
Era globalisasi telah menuntut adanya perubahan paradigma lama dalam segala
bidang, salah satunya adalah bidang pemasaran. Dengan tingginya persaingan dalam
dunia bisnis ini menuntut suatu perusahaan untuk lebih kreatif dan memiliki keunggulan
kompetitif (competitive advantage) dibandingkan dengan perusahaan lain agar mampu
bersaing dalam bisnis global. Menurut Kotler (2012:96), persaingan baru bukanlah
antara apa yang diproduksi berbagai perusahaan dalam suatu pabrik, tetapi antara apa
yang ditambahkan pada hasil pabrik tersebut dalam bentuk pengemasan, pelayanan,
iklan, konsultasi bagi pelanggan, pendanaan, pengaturan pengiriman, pergudangan, dan
hal lain yang orang anggap bernilai. Persaingan antar produk di pasaran mendorong
produsen gencar berpromosi untuk menarik perhatian konsumen.
Salah satu strategi didalam pemasaran adalah iklan (advertisment). Menurut
Lee(2007:17:20) ; ―fungsi iklan menginformasikan suatu produk atau jasa ataupun
profit perusahaan, sebagai persuasif yaitu membujuk para konsumen untuk membeli
merek-merek tertentu dan sebagai media untuk mengingatkan konsumen terhadap suatu
produk ataupun jasa‖. Menurut Jefkinns (2001:96) iklan adalah : ―pesan-pesan
penjualan yang paling persuasive yang diarahkan kepada para calon pembeli potensial
pada produk barang atau jasa tertentu dengan biaya tertentu pula‖. Oleh karena itu
perusahaan harus mampu merebut kesan konsumen terhadap produk yang akan dijual
dan terus menerus menyiasati bagaimana produk ini laku dipasaran. Agar suatu produk
dapat berfungsi memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen maka keberadaan

135
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

produk tersebut harus dikomunikasikan guna diperkenalkan keberadaannya kepada


konsumen.
Iklan adalah salah satu komponen promotion mix yang umum dilakukan oleh
perusahaan yang merupakan salah satu bentuk promosi yang sangat berperan penting
dalam mengubah image, mengenalkan produk dan minat dari konsumen untuk membeli
suatu produk. Mengingat pentingnya kegiatan iklan ini maka perusahaan didalam
memperkenalkan produk baru, perusahaan menghabiskan banyak biaya untuk
pengeluaran biaya iklan. Kondisi persaingan yang semakin ketat membuat perusahaan
menggunakan strategi dalam membuat iklan untuk membangun posisi yang
menguntungkan di pasar (Stoner, 2004:12).
Dalam membuat iklan perlu memahami dengan baik tujuan langsung beriklan
adalah menciptakan efek komunikasi sebab beriklan merupakan proses komunikasi
yang pada gilirannya akan membantu terjadinya penjualan. Iklan adalah pesan suatu
brand, produk, atau perusahaan yang disampaikan kepada audiens melalui media
(Sihombing, 2010:12). Iklan yang efektif tidak hanya menyampaikan informasi saja,
tetapi juga menyampaikan pesan-pesan yang akan menimbulkan citra positif bagi
konsumen. Iklan dapat melalui berbagai media, yaitu media elektronik dan media cetak.
Dalam penelitian ini akan mengambil media elektronik, khusunya iklan pada internet.
Perkembangan dunia periklanan pada saat ini yang semakin pesat dan didukung
oleh petumbuhan teknologi yang cepat khususnya internet membuka peluang
perusahaan untuk selektif dalam membuat iklan pada internet untuk mendukung
penjualannya. Penggunaan media internet sebagai promosi iklan sekarang ini sangatlah
menarik karena didasari perkembangan pengguna internet yang sangat pesat dan
bertambah secara signifikan setiap tahunnya membuat perusahaan mulai untuk berpikir
menggunakan media internet sebagai salah media untuk mempromosikan produknya
(Taylor, 2007:55). Melalui jaringan internet perusahaan kecil, menengah atau besar
dapat menyajikan informasi produk, harga, syarat pembelian, cara pemesanan dan
pembayaran, serta pengiriman barang kepada pelanggan, calon pembeli, dan mitra usaha
di seluruh dunia (Kleinsteurber, 2002:30). Media internet berfungsi sebagai salah satu
cara menjangkau pelanggan tanpa dibatasi ruang dan waktu, dan menjadi populer
didunia bisnis saat ini.
Iklan onlinebiasanya terdapat pada sebuah websiteyang dibuat oleh perusahaan
yang bertujuan untuk kegiatan promosi. Iklan onlineharus dibuat secara menarik agar
dapat mengalihkan pandangan pengunjung situs lalu mengunjungi situs tersebut dan
mampu membuat pengunjung dapat mengunjungi kembali situs tersebut, Iklan onlineini
dapat berupa spanduk (banner), sponsorship, pop-up, iklan sela, webcasting, dan berupa
link yang tersedia di pinggir, atas, bawah ataupun yang tiba-tiba muncul pada halaman
website(Morisan, 2010:323:325).
Sehubungan dengan itu menarik untuk melihat dan diteliti lebih lanjut aspek-
aspek dalam iklan online yang mempengaruhi sikap dan minat konsumen dalam
melakukan pembelian secara online.Untuk itu dalam penelitian ini mengadopsi model
iklan online yang dikemukakan oleh Yazer Nasdini (2012:32) tentang dalam membuat
iklan online haruslah mempunyai faktor content dan communicate. Faktor content dalam
iklan online ialah bagaimana merancang isi dari iklan itu dapat menarik perhatian dari

136
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

pengguna internet baik itu dari segi tampilan dan tata letak iklan tersebut. Sedangkan
faktor communicate berisi tentang bagaimana iklan online dapat memberikan informasi
yang jelas dan tepat kepada konsumen tentang produk yang diiklankan.

TINJAUAN PUSTAKA
Pada penelitian ini membagi kedalam dua bagian yang harus dimiliki oleh iklan
online yaitu: faktor communicate dan faktor content. Faktor communicate adalah
bagaimana sebuah iklan online menampilkan suatu informasi dan komunikasi tentang
produk tersebut sehingga pengguna memperoleh informasi tentang produk yang ada di
iklan tersebut, terdiri dari interactivity dan accessibility.
Interactivity pada media iklan online adalah sejauh mana tingkat komunikasi dua
arah yang mengacu pada kemampuan komunikasi timbal balik antara pengiklan dan
konsumen, dan respon terhadap masukan yang mereka terima. (Liu dan Shrum,
2002;2003; Mc Millan, 2002; Johnson, Bruner, Kumar, 2006; Zikham 2008).
Berdasarkan beberapa definisi dari para ahli maka dapat disimpulkan bahwa variabel
interactivity merupakan komunikasi dua arah yang dilakukan melalui iklan lewat media
internet. Indikator yang digunakan pada variabel interactivity adalah: Persepsi
pengendalian, terkait dengan pengendalian yang dirasakan atas navigasi, konten dan
kecepatan interaksi.; Respon yang dirasakan, mengacu pada iklan online memberikan
respon yang diberikan.; Personalisasi, mengacu pada sejauh mana konsumen merasakan
bahwa tanggapan yang diberikan tepat dan relevan.
Accessibility adalah kemampuan pengguna untuk mengakses informasi dan
layanan yang disediakan oleh iklan online (Godwin – Jones, 2001; Hackett dan
Parmanto , 2009). Istilah accessibility umumnya berkaitan dengan bagaimana pengguna
dapat mengakses informasi dan isi dari iklan online. Misalnya, teks untuk konten
gambar dari suatu iklan , kecepatan download dan discoverability ( Godwin - Jones
2001; Hackett et al , 2004; Hackett dan Parmanto , 2009 ).
Faktor content adalah bagaimana bentuk, tata letak dan grafis yang ditampilkan
oleh iklan online sehingga menarik minat pengguna untuk melihat iklan online, terdiri
dari: entertaining, informativeness, irritation, credibility.
Entertainment merupakan kemampuan iklan untuk memberikan kesenangan atau
hiburan kepada konsumen iklan sambil menyisipkan informasi-informasi. (Ducoffe,
1996; Wang & Zhang, 2006; Wang & Sun, 2010; Mir, 2012; Yaakop, Hemsley &
Gilbert, 2011). Ini berkaitan dengan bagaimana iklan dapat mempengaruhi sikap
konsumen dengan hiburan atau tampilan yang menarik sehingga dapat membuat
konsumen tertarik terhadap iklan
Informativeness merupakan kemampuan iklan untuk menyuplai informasi
kepada konsumen, sehingga dapat memberikan gambaran yang sebenarnya tentang
sebuah produk. Sehingga konsumen mendapatkan informasi yang lengkap tentang
produk yang ada diiklan. (Zhang, 2004; Ducoffe, 1996; BrackettdanCarr,2001;
Child,2004; Yazeer 2012).
Irritation merupakan gangguan yang timbul pada iklan online, seperti adanya
manipulasi terhadap iklan tersebut sehingga lebih mengarah kepada penipuan, atau

137
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

pengalaman buruk konsumen tentang iklan online. (Ducoffe, 1996; Yazeer, 2012;
Aaker, 1986;).
Credibility pada iklan online ialah bagaimana tingkat kepercayaan konsumen
terhadap iklan online yang muncul, atau sejauh mana iklan memberikan informasi pada
mereka dapat dipercaya, tidak memihak, kompeten, kredibel dan khusus.
(Metzger,2003; Abdulla et al , 2002; . Gass dan Seiter , 1999; Johnson dan Kaye ,
1998, 2000 , Jurma , 1981; Kiousis , 2001; Meyer , 1988; Ognianova , 1998; Peng ,
2005; Perloff , 1993; Wanta dan Hu , 1994; Yoon et al , 1998).
Interactivity pada media iklan online adalah sejauh mana tingkat komunikasi
dua arah yang mengacu pada kemampuan komunikasi timbal balik antara pengiklan
dan konsumen, dan respon terhadap masukan yang mereka terima. (Liu dan Shrum,
2002;2003; Mc Millan, 2002; Johnson, Bruner, Kumar, 2006; Zikham 2008).
Berdasarkan beberapa definisi dari para ahli maka dapat disimpulkan bahwa variabel
interactivity merupakan komunikasi dua arah yang dilakukan melalui iklan lewat media
internet.
Accessibility adalah kemampuan pengguna untuk mengakses informasi dan
layanan yang disediakan oleh iklan online (Godwin – Jones, 2001; Hackett dan
Parmanto , 2009). Istilah accessibility umumnya berkaitan dengan bagaimana
pengguna dapat mengakses informasi dan isi dari iklan online. Misalnya, teks untuk
konten gambar dari suatu iklan , kecepatan download dan discoverability ( Godwin -
Jones 2001; Hackett et al , 2004; Hackett dan Parmanto , 2009 ).
Untuk mengetahui bagaimana sikap mempengaruhi minat terhadap iklan online
maka digunakan Theory Planned of Behaviour. Teori yang dikemukakan oleh Ajzen ini
banyak digunakan oleh para ahli untuk mempelajari bagaimana sikap konsumen
terhadap sesuatu dapat mempengaruhi minat konsumen. Dalam penelitian ini
bagaimana sikap konsumen terhadap iklan dapat mempengaruhi minat konsumen untuk
membeli secara online. Menurut Theory of Planned Behavior (TPB),
perilaku aktual seseorang dalam melakukan suatu tindakan tertentu secara
langsung dipengaruhi oleh niat perilakunya, yang secara bersama-sama ditentukan
pula oleh sikap (attitude), norma subjektif (subjective norm), dan kontrol perilaku
persepsian (perceived behavioral control) terhadap perilaku tersebut. Niat
perilaku merupakan ukuran dari kemauan seseorang untuk mengerahkan usaha
saat melakukan perilaku tertentu (Lee, 2008). Sementara itu, Ajzen (1991)
mendefinisikan niat merupakan faktor motivasi yang mempengaruhi perilaku yang
diindikasikan seberapa keras orang akan berusaha atau seberapa banyak usaha yang
dikeluarkan untuk melakukan suatu perilaku.
Sikap (at t it ude ) m erupakan proses pengorganisasian motivasi, emosi,
persepsi dan kognitif yang bersifat jangka panjang dan berkaitan dengan aspek
lingkungan disekitarnya. (Schiffman & Kanuk, 2008). Ini berkaitan dengan bagaimana
pandangan pelanggan tentang iklan online yang ada di internet. Yang berkaitan dengan
faktor kognitif dan afektif.
Minat pembelian secara rutin digunakan untuk ramalan penjualan produk dan
jasa (Armstrong, Morwitz & Kumar 2000). Baker, Lavy & Grewals‘ dikutip oleh
Changal (2005) menggunakan kesediaan untuk membeli (Willingness to buy) untuk

138
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

mengukur minat pembelian. Whitlark, Geurts dan Swenson (1993),


mengembangkan model pengukuran minat pembelian dengan lima tingkatan minat
yaitu: definitely will buy, probably will buy, might/might not buy, probably will not
buy, and definitely will not buy. Till et al.; Tripp et. al (1994) dalam NamHyun Um (2008)
mengukur minat pembelian konsumen, dengan empat item tujuh skala semantic
differential, "very likely/very unlikely," "very probable/very improbable," "very
possible/very impossible," dan "very existent/very non-existent.

MODEL PENELITIAN DAN HIPOTESIS


Model penelitian dalam penelitian ini teridiri dari iklan online, sikap konsumen dan minat
beli konsumen secara online. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Iklan Online
 Interactivity Sikap Konsumen
 Accessibility  Kognitif
Minat Beli
 Entertainment  Afektif
Konsumen
 Informativeness
 Irritation Gambar 1. Model Penelitian
 Credibility

Berdasarkan model penelitian tersebut maka hipotesis penelitiannya adalah:


1. Pengguna internet mempunyai persepsi yang baik terhadap iklan online.
2. Iklan online berpengaruh positif terhadap sikap konsumen.
3. Sikap konsumen berpengaruh terhadap minat beli konsumen secara online.
METODE PENELITIAN
Pengumpulan Data dan Sampel
Pengumpulan data dilakukan pada mahasiswa perguruan tinggi negeri/swasta di Kota
Makassar. Pengumpulan menggunakan teknik purposive sampling dengan mengambil
sampel adalah mahasiswa pengguna internet yang ada Kota Makassar dengan
keseluruhan jumlah sampel sebesar 340 sampel penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis Deskriptif
Untuk menjawab hipotesis pertama dalam penelitian ini tentang persepsi konsumen
terhadap iklan online, maka dilakukan analisis secara deksriptif. Berikut adalah tabel
rangkuman nilai rata-rata dari tiap dimensi dari iklan online.

139
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 1. Nilai Rata-Rata Dimensi Iklan Online


Dimensi Mean Ket
Interactivity 3.74 Tinggi
Accessibiliy 3.59 Tinggi
Entertainment 3.67 Tinggi
Informativeness 3.66 Tinggi
Irritation 2.78 Rendah
Credibility 3.60 Tinggi

Hasil pengujian secara deksriptif terhadap item pernyataaan-pernyataan yang


terdapat pada kuesioner tiap dimensi iklan online memperlihatkan bahwa rata-rata nilai
yang dihasilkan melewati nilai tengah yaitu 3. Pengolahan dan analisis secara deskriptif
memperlihatkan bahwa mayoritas pengguna internet memiliki penilaian yang tinggi
terhadap iklan online. Ini menunjukkan bahwa agar dapat membentuk persepsi yang
baik kedalam benak konsumen tentang iklan online maka dalam penyampaian iklan
online haruslah memperhatikan bagaimana penyampaian informasi dapat dimengerti
oleh konsumen, tampilan iklan yang menarik, serta bagaimana iklan tersebut dapat
menghibur konsumen. Penyampaian pesan iklan yang baik dan akurat dari sesuatu
produk merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap terciptanya pesan atau
informasi iklan yang bermanfaat bagi produk tersebut yang mencakup didalamnya
kualitas produk, harga, dan dimana produk tersebut bisa didapat serta cara penggunaan
yang baik, sehingga menjadi pertimbangan utama bagi konsumen untuk membeli.
Namun hasil pengujian secara deksriptif pada iklan online khusunya pada
dimensi irritation menunjukkan hasil yang rendah. Ini menunjukkan bahwa selain dari
segi visual baik dari segi tampilan iklan online dan informasi yang diberikan, pengguna
internet merasa bahwa tata letak iklan online yang selama ini muncul diinternet dirasa
cukup menganggu pengguna internet. Untuk itu pengguna internet mengharapkan
bahwa dalam merancang desain tata letak iklan online pada web perlu memperhatikan
bagaimana posisi tata letak iklan online agar kemunculannya tidak menganggu kegiatan
pengguna internet.

Uji Kausalitas
Setelah melakukan serangkaian pengujian data untuk memenuhi syarat
pengolahan model dengan SEM, maka melalui program SPSS Statistic AMOS 20 dapat
dianalisis dan dhitung nilai estimasi pengaruh satu variabel terhadap variabel lainnya
serta probabilitas yang menunjukkan tingkat signifikansi pengaruh dari satu variabel
terhadap variabel lainnya seperti yang ditunjukkanpada gambar dibawah ini:

140
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Gambar 2. Uji Kausalitas Variabel

Untuk melihat pengaruh iklan online terhadap sikap konsumen, sebagaimana


dihipotesiskan pada hipotesis keduabahwa iklan online berpengaruh positif terhadap
sikap konsumen. Untuk menguji hipotesis ini digunakan stastitik uji t student dengan
hasil pengujian sebagai berikut:
Tabel 2.
Pengaruh Iklan Online terhadap Sikap Konsumen

Besar Standar
Pengaruh t t-tabel Keputusan
Pengaruh Error
H0 : 1.1 ≤ 0
0,492 0,065 11,834 1,962 Tolak Hipotesis Nol
H1 : 1.1> 0

Berdasarkan uji satu pihak didapatkan nilai statitik t hitung sebesar 11,834 lebih
besar dari nilai uji t tabel sebesar 1,96 pada tingkat kekeliruan 5% sehingga dapat
disimpulkan hipotesis nol ditolak. Artinya iklan online berpengaruh secara signifikan
terhadap sikap konsumen. Besar pengaruh iklan online terhadap sikap konsumen adalah
positif sedang (49,2%). Artinya setiap peningkatan satu standar deviasi iklan online
akan meningkatkan nilai sikap konsumen, besar pengaruhnya adalah sedang dan sisanya
50,8% sikap konsumen dipengaruhi oleh variabel diluar iklan online.
Penyampaian pesan iklan yang baik dan akurat dari sesuatu produk merupakan
hal yang sangat berpengaruh terhadap terciptanya pesan atau informasi iklan yang
bermanfaat bagi produk tersebut yang mencakup didalamnya kualitas produk, harga,
dan dimana produk tersebut bisa didapat serta cara penggunaan yang baik, sehingga
menjadi pertimbangan utama bagi konsumen untuk membeli.
Berdasarkan hasil ini menunjukkan bahwa sikap konsumen terhadap iklan online
membentuk berbagai macam perasaan dan penilaian sebagai hasil dari tampilan iklan,
perasaan dan penilaian tersebut mempengaruhi sikap konsumen terhadap iklan dan
kepercayaan yang terkait dengan iklan online. Ini juga menggambarkan bahwa perilaku
konsumen sebelum bertindak, konsumen seringkali mengembangkan keinginan
berperilaku berdasarkan kemungkinan sikap atau tindakan yang dilakukan.
Iklan online yang baik dalam persepsi konsumen dapat membentuk sikap yang
baik terhadap iklan. Pengaruh iklan online terhadap sikap ketika konsumen membentuk
berbagai perasaan dan pertimbangan sebagai akibat keterbukaan terhadap iklan.

141
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Perasaan dan pertimbangan ini pada gilirannya mempengaruhi sikap konsumen terhadap
iklan. Pesan iklan yang baik mampu memberikan kontribusi terhadap sikap konsumen.
Berarti semakin bermutu pesan iklan yang disampaikan kepada para konsumen maka
akan timbul keyakinan konsumen yang kuat terhadap keberadaan produk tersebut dan
nilai produk akan menjadi lebih tinggi sehingga mampu mewujudkan sikap konsumen.
Teori iklan dan pengaruhnya terhadap sikap yang kemukakan oleh Schiffman, et
al (2008) juga menyatakan bahwa hubungan model dasar pengaruh iklan terhadap sikap
dapat ketika konsumen membentuk berbagai perasaaan (pengaruh) dan pertimbangan
(kognisi) sebagai akibat keterbukaan terhadap iklan. Perasaaan dan pertimbangan ini
pada gilirannya mempengaruhi sikap konsumen terhadap iklan dan keyakinan terhadap
merek yang diperoleh dari keterbukaan terhadap iklan. Ini menunjukkan bahwa iklan
online dapat mempengaruhi sikap konsumen. Untuk itu agar dapat menarik minat dan
membentuk persepsi yang positif sikap konsumen terhadap iklan online yang iklankan
haruslah dikemas secara menarik dan menghibur. Karena berdasarkan penelitian hal
pertama yang dilihat oleh konsumen online dari iklan adalah tampilan iklan tersebut
apakah menarik atau tidak. Selain itu bagaimana informasi yang diberikan dapat
memberi masukan dan gambaran tentang produk yang ditawarkan. Setelah persepsi
konsumen terhadap iklan online baik, maka sikap konsumen terhadap iklan juga akan
baik.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ng ka Po (2006:87),
dalam penelitiannya yang mempelajari bagaimana sikap konsumen terhadap iklan
online. Dalam penelitiannya digunakan faktor konten, faktor perasaan emosional dan
faktor merek terhadap efektivitas iklan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh
konten iklan yang berhubungan dengan isi iklan online membuat pengguna tertarik,
hasil juga menunjukkan bahwa sikap positf terhadap iklan online mengarah ke sikap
positif konsumen terhadap iklan online.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Abdul Azeem & Zia (2012), mereka meneliti
bagaimana iklan online mempengaruhi sikap konsumen, studi dilakukan pada negara
india. Mereka meneukan bahwa kesukaan mereka terhadap iklan, kepercayaan mereka
terhadap iklan online serta hiburan yang mereka anggap menarik dapat membuat sikap
konsumen terhadap iklan online menjadi baik. Yazeer & Akmal (2013) melakukan
penelitian tentang bagaimana iklan online mempengaruhi sikap konsumen terhadap
iklan online. Dalam penelitianya menggunakan variabel brand name, content, serta
keputusan pembelian konsumen. Hasilnya menemukan bahwa faktor konten atau isi dari
iklan online mempengaruhi sikap konsumen terhadap iklan secara kuat dan positif,
karena dengan informasi yang update dapat memberikan masukan kepada konsumen
dan membentuk sikap terhadap iklan online. Beberapa penelitian lainya tentang
pengaruh yang kuat dan positif iklan online terhadap sikap juga dilakukan oleh Sepstrup
(1991); Korgonkar&Walin (1999); Paparichaisi&Rubin (2000); Korgonkar&Walin
(2003); Eric, Donald & David (2004); Robert, Claire & Robin (2005); Damon & Ryan
(2008); Ping Zhang (2011); Morkeza & David (2012); Geoffrey & Lincoln (2012);
Kanbis & Amir (2012)

142
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Selanjutnya hipotesis ketiga dari penelitian ini adalahsebagaimana dihipotesiskan


bahwa sikap konsumen berpengaruh terhadap minat beli. Untuk menguji hipotesis ini
digunakan stastitik uji t student dengan hasil pengujian sebagai berikut:

Tabel 3.
Pengaruh Sikap Konsumen Terhadap Minat Beli

Besar Standar
Pengaruh t t-tabel Keputusan
Pengaruh Error
H0 : 2.1 ≤ 0
0,686 0,063 11,179 1,962 Tolak Hipotesis Nol
H1 : 2.1> 0

Tabel diatas menunjukkan hasil uji satu pihak didapatkan nilai statitik t hitung
sebesar 11,179 lebih besar dari nilai uji t tabel sebesar 1,96 pada tingkat kekeliruan 5%
sehingga dapat disimpulkan hipotesis nol ditolak. Artinya sikap konsumen berpengaruh
secara signifikan terhadap minat beli konsumen. Besar pengaruh iklan online terhadap
sikap konsumen adalah positif sedang (68,6%). Artinya setiap peningkatan satu standar
deviasi sikap konsumen akan meningkatkan nilai minat beli konsumen, besar
pengaruhnya adalah sedang dan sisanya 31,4% minat beli konsumen dipengaruhi oleh
variabel diluar sikap konsumen.
Hasil diatas juga menunjukkan bahwa ketika persepsi konsumen tentang suatu
produk yang dipromosikan baik maka akan membentuk sikap yang baik pula dalam
benak konsumen. Sikap yang baik itu akan mendorong minat dari konsumen untuk
melihat, mencari informasi tentang produk tersebut dan akhirnya akan menumbuhkan
minat untuk membeli produk tersebut. Sikap konsumen berkaitan dengan seberapa
besar konsumen menyukai sesuatu atau bagaimana perasaan mereka terhadap
sesuatu, ini akan mengungkap sikap mereka terhadap objek.
Minat beli konsumen juga dapat terbentuk karena kepercayaan dan keyakinan
konsumen akan iklan tersebut. Dengan penyampaian informasi yang tepat dan akurat
dalam tayangan iklan akan membawa kesadaran konsumen akan produk yang
diiklankan. Semakin tinggi keyakinan konsumen terhadap iklan maka akan berdampak
pada sikap konsumen terhadap iklan sehingga dapat membuat minat beli konsumen
akan meningkat. Mowen dan Minor (2001) menjelaskan hubungan kepercayaan,
sikap dan perilaku, yang menyatakan terdapat hubungan yang erat antara sikap
dan perilaku. Sikap konsumen dihubungkan dengan perspektif eksperiensial,
sehingga sikap secara langsung menimbulkan tanggapan emosional.
Hasil penelitian ini mendukung teori yang disampaikan oleh Marsden dan Litler
(2008) yang menyatakan salah satu pendekatan yang mendominasi studi tentang
perilaku adalah dalam paradigma pemrosesan informasi yaitu cara dimana konsumen
mengumpulkan, memproses, menyimpan dan memanggil kembali dan menggunakan
informasi dalam proses pembuatan keputusan. Hasil diatas juga menunjukkan bahwa
ketika persepsi konsumen tentang suatu produk yang dipromosikan baik maka akan
membentuk sikap yang baik pula dalam benak konsumen. Sikap yang baik itu akan
mendorong minat dari konsumen untuk melihat, mencari informasi tentang produk
143
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

tersebut dan akhirnya akan menumbuhkan minat untuk membeli produk tersebut. Sikap
konsumen berkaitan dengan seberapa besar konsumen menyukai sesuatu atau
bagaimana perasaan mereka terhadap sesuatu, ini akan mengungkap sikap mereka
terhadap objek (Mowen dan Minor, 2001). Sikap konsumen membentuk sebuah
kerangka kerja referensi dimana mereka menginterpretasikan dunianya. Mowen dan
Minor menjelaskan hubungan kepercayaan, sikap dan perilaku, yang menyatakan
terdapat hubungan yang erat antara sikap dan perilaku. Sikap konsumen
dihubungkan dengan perspektif eksperiensial, sehingga sikap secara langsung
menimbulkan tanggapan emosional.
Seperti diungkap secara teoritis bahwa konsumen adalah objek luar bagian
terpenting bagi setiap perusahaan. Perilaku konsumen menjadi perhatian bagi
perumus strategi perusahaan dalam setiap perusahaan. Salah satu perilaku
konsumen yang menarik bagi perusahaan adalah perilaku pembelian. Pembelian
konsumen merupakan tujuan bagi perusahaan (Siringoringo, 2004). Perilaku
pembelian akan memberikan gambaran niat untuk membeli, siapa yang dapat
mempengaruhi pembelian, siapa yang memutuskan pembelian dan siapa yang
mempengaruhi niat pembelian akan sangat bermanfaat dalam mendisain promosi
efektif yang akan digunakan. Perilaku konsumen ditentukan oleh sejauhmana
konsumen merespon terhadap strategi yang dikembangkan oleh pemasar. Beberapa
penelitian lainya terkait dengan hubungan sikap dan minat beli diantaranya,
Simamora (2002:131); Bowen dan Makens (1999:156); Peter/Olsen (2002); Schiffman
& Kanuk (2000); Zeithalm et al (1996).

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka didapatkan bahwa:
1. Iklan online yang muncul diinternet selama ini mendapat persepsi yang baik dari
pengguna internet. Ini berkaitan dengan bagaimana tampilan dan desain dari
iklan dapat membentuk persepsi yang baik terhadap iklan online. Namun,
penempatan tata letak iklan online perlu mendapat perhatian karena pengguna
internet merasa terganggu dengan tata letak iklan online di internet.
2. Iklan online mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap sikap konsumen.
Iklan oline yang didesain secara baik secara visual atau tampilan iklan yang
menarik serta pesan informasi iklan yang mencakup kualitas produk, harga serta
informasi lainnya membentuk berbagai macam perasaan dan penilaian sebagai
hasil dari tampilan iklan, perasaan dan penilaian tersebut mempengaruhi sikap
konsumen terhadap iklan dan kepercayaan yang terkait dengan iklan online. Ini
juga menggambarkan bahwa perilaku konsumen sebelum bertindak, konsumen
seringkali mengembangkan keinginan berperilaku berdasarkan kemungkinan
sikap atau tindakan yang dilakukan
3. Sikap memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat membeli secara online.
Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin baik sikap dirasakannya, maka
semakin kuat minat konsumen tersebut untuk melaksanakan pembelian yang
dimaksud. Sebaliknya minat dipandang sebagai suatu variabel penentu bagi
perilaku yang sesungguhnya, artinya semakin kuat minat konsumen untuk

144
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

melakukan pembelian atau mencapai tujuan pembeliannya, semakin besar pula


keberhasilan prediksi perilaku atau tujuan keperilakuan tersebut untuk terjadi

DAFTAR PUSTAKA
Ajzen, I. (1991), The theory of planned behavior, Organizational Behavior and Human
Decision Processes, Vol. 50, pp. 179-211.

Alan D. Smith, 2008. Online accessibility concerns in shaping consumer relationships


in the automotive industry. Online Information Review Vol. 33 No. 1, 2009 pp.
77-95.

Aaker, David A, 1986. Causes of Irritation in Advertising. Journal of Marketing (pre-


1986); Spring 1985; 49, 000002; ABI/INFORM Complete pg. 47.

Assael, Herry. 2008. Consumer Behaviour and Marketing Action, 8thedition, South-
Western College Publishing, New York University.

American Marketing Association, 2005.Marketing Mix and Strategy.Prentice Hall


International, New jersey.

Bennett, P.D., 1999. Marketing and Strategy Marketing Management.New York: The
American Marketing Association‘

Converse, William, 2001.Marketing.Third Edition, Richard D. Irwin, USA.

Corey, Cravens, 2001. Strategy Marketing.4th ed. Burr Ridge, Illinois: Richard D. Irwin,
Inc.

Chang-Yang, Lee. Advertising, Its Determinants, and Market Structure, Review of


Industrial Organization , Aug 2002; 21, 1, ABI/INFORM Complete pg. 89.

Carlos Flavia and Miguel Guinal, 2006. Consumer trust, perceived security and privacy
policy Three basic elements of loyalty to a web site. Industrial Management &
Data Systems Vol. 106 No. 5, 2006 pp. 601-620.

David S. Evans, 2009. The Online Advertising Industry: Economics, Evolution, and
Privacy. Journal of Economic Perspectives Volume 23, Number 3 Pages 37–
60.

Engel, JF., Blackwell, RD., & Miniard, PW., 1993. Consumer Behavior. Seventh
Edition. USA: The Dryden Press.

Fotini Patsioura, Maro Vlachopoulou and Vicky Manthou, 2009. A New Advertising
Effectiveness Model for Corporate Advertising Web Sites. Benchmarking: An
International Journal Vol. 16 No.3 pp.372-386.

Fotini Patsioura, Maro Vlachopoulou and Eleonara, 2011. A Relationship Marketing


Model for Brand Advertising Websites: An Analysis of Consumers’ Perceptions.
International Journal of Management Vol.28 No.4 Part 1.

145
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Ferdinand. Augusty, 2000. Structural Equation Modelling Dalam Penenelitian


Manajemen, Universitas Diponegoro Press, Semarang.

Gresi Sanje and Isil Senol, 2012. The Importance of Online Behavioral Advertising for
Online Retailers. International Journal of Business and Social Science Vol.3
No.18, 2012.

Geoffrey and Lincoln, 2012. A Model of Consumer Response to Advertising Music.


Journal of Consumer Marketing 29/1 (2012) 22-24.

Giorgio Brajnik and Silvia Gabrielli, 2010. A Review of Online Advertising Effects on
the User Experience. Intl. Journal of Human-Computer Interaction, 26(10),971-
997, 2010.

Hyunjae Yu, Hye-Jin Paek and Bumjun Bae, 2008. Cross-cultural comparison of
interactivity and advertising appeals on antismoking web sites in the United
States and South Korea. Internet Research Vol. 18 No. 5, 2008 pp. 454-476.

Hair, Yoseph F. Jr., Rolph E. Anderson, Ronald L. Tatham & William C. Black, 1998.
Multivariate Data Analysis with Readings, Fourth Edition, New Jersey
Prentince-Hall, Inc.

Haigood, T. L., and Dacin, P. A. 1999. The Impact of Involvement and Argument Type
on the Persuasiveness of Popularity Claims in Advertising. In Proceedings of the
American Marketing Association Winter Educators‘ Conference, Vol. 10.
Chicago, IL: AmericanMarketing Association, 19-20.

Henry Maria, 2008. Integrative online shopping model: The mediating role of
advertising. ProQuest Dissertations and Theses: The Humanities and Social
Sciences Collection.

Howard, John A. and Seth, Jagdisth N., 1969. The Theory of Buyer Behavior. New
York: John Willey & Sonds, Inc.

Hardesty, D. M., Carlson, J. P., and Bearden, W. O. 2002. Brand Familiarity and
Invoice Price Effects on Consumer Evaluations: The Moderating Role of
Skepticism toward Advertising. Journal of Advertising, 31(2), 1-15.

Ilham, Sermani Moh. 2005. Perilaku Konsumen dalam Pengambilan Keputusan


Pembelian Produk: Tinjauan Strategi Promosi dalam pemasaran. Penerbit
Gramedia Pustaka Jakarta.

Isbond, Peter Paul J, 2002. Consumer Behavior and Marketing Strategy. McGraw Hill
International, London.

Jae Jin Park, 2003. Understanding Consumer Intention to Shop Online. A Dissertation
presented to the Faculty of the Graduate School University of Missouri –
Columbia.

146
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

John Chandler-Pepelnjak, 2010. Modelling Conversions in Online Advertising. The


University of Montana.

James Mathew , Peter M. Ogedebe and Segun M. Ogedebe, 2013. Influence of Web
Advertising on Consumer Behaviour in Maiduguri Metropolis, Nigeria. Asian
Journal Social of Social Sciences & Humanities.

Joonghwa Lee, M.A and Mira Lee, Ph.D, 2011. Factors Influencing the Intention to
Watch Online Video Advertising. Cyberpsychology, Behavior, and Social
Networking Volume 14, Number 10.

Justin P. Johnson, 2013. Targeted Advertising and Advertising Avoidance. RAND


Journal of Economics Vol.44, No.1 pp.128-144, 2013.

Jiang, Pingjun and Rosenbloom, Bert, 2005. Customer intention to return online
European Journal of Marketing; 2005; 39, 1/2; ABI/INFORM Complete pg. 150.

Kelman, H. C. 1961. Processes of Opinion Change. Public Opinion Quarterly, 25, 57-
78.

Kaynak, Erdener;Kucukemiroglu, Orsay, Kara, Ali. Creating effective advertising


strategies in developing markets. International Journal of Commerce &
Management;1996: 6, 3/4 ABI/INFORM Complete pg. 105.

Kotler, P., 2003. Marketing Management. Elevent Edition. USA :Pearson Education,
Inc.

Kotler, P., Armstrong, G., Saunders, J., and Wong, V., 1999. Principles of Marketing.
2nd Edition. USA :Prentice-Hall, Inc.

Kotler, Philips, 2007. Marketing Strategy and Management: Analisys, Planning,


Implementation and Control. 8th ed. Englewood Cliffs, N.J: Prentice Hall
International. Inc.

Mackie, D. M. 1987. Systematic and Nonsystematic Processing of Majority and


Minority Persuasive Communications. Journal of Personalityand Social
Psychology, 53, 41-52.
Malthouse, Edward C. Calder, Bobby J. Tamhane, Ajit. The Effects Of Media Context
Experiences On Advertising Effectiveness Journal of Advertising.Fall 2007; 36,
3; ProQuest pg. 7

Pollay, R. W. 1983. Measuring der Cultural Values Manifest in Advertising.Current


Issues and Research in Advertising, 6: 71-92.

Richards, Jef Curran and Catharine M, 2002. Oracles on "advertising": Searching for a
definition. Journal of Advertising 31, 2; ProQuest pg. 63.

Stern, B. L., Krugman, D. M., & Resnik, A. 1981. Magazine Advertising: An Analysis
of Its Information Content - Do ads inform or persuade?.Journal of Advertising
Research, 21 (2): 39-44.

147
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Schiffman, Leon G. and Kanuk, Leislie Lazar, 2000. Consumer Behavior. Seventh
Edition. USA :Prentice-Hall, Inc.

Stoner, J.A.F. R.E. Freeman, 1999.Management in Marketing and Strategy


Planning.6th.ed. Englewood Cliffs, N.J: Prentice Hall International. Inc.

------------------------------------, 2003.Strategy of Promotion Mix.Englewood Cliffs, N.J:


Prentice Hall International. Inc.

Swastha, Basu, 2001. Manajemen Pemasaran. Bandung: Remaja Karya.

Sabatini and Joanna, 2000. Reebok makes its move into online marketing. Adweek; Jan
3 ; ProQuest Research Library pg. 28.

Stewart, David W. McGann, Anthony F., Speculations on the Future of Advertising


Research Journal of Advertising. Sep 1992; 21, 3. ProQuest pg. 1

Stefan Schwarzkopf., What Was Advertising? The Invention, Rise, Demise,and


Disappearance of Advertising Concepts in Nineteenth- and Twentieth-Century
Europe and America. Business and economic on-line, vol 7, 2009.
Shaffer, Greg;Zettelmeyer, Florian. Advertising in a Distribution Channel.Marketing
Science.Fall 2004; 23, 4; ProQuest pg. 619

Terry, George R., 2004.Consumer Behavior and Desainer in Taking Decision. Six
Edition, Prentice Hall, New jersey.

Terri J. Seligman, 2004. Marketing through Online Promotions. The Computer &
Internet Lawyer Volume 21 , Number 4 April 2004.

Tjiptono, Fandy, 2004. Strategi Pemasaran. PenerbitAndi, Yogyakarta.

Wilkie, Wieliam L., 1990. Consumer Behavior. 2nd. Edition. Canada: John Wiley &
Sons, Inc.

Wolin, Lori D, Korgaonkar and Pradeep, 2003. Web advertising: Gender differences in
beliefs, attitudes and behavior. Internet Research; 13, ProQuest pg. 375.
Wathen, C Nadine;Burkell, Jacquelyn, 2002. Believe it or not: Factors influencing
credibility on the Web. Journal of the American Society for Information Science
and Technology; Jan 15, 2002; 53, 2; ProQuest pg. 134.

Ying Wang and Shaojing Sun, 2009. Examining the role of beliefs and attitudes in
online advertising A comparison between the USA and Romania. International
Marketing Review Vol. 27 No. 1, 2010 pp. 87-107.

Zaltman, Gerald and Wallendorf, Melani, 1979. Consumer Behavior: Basic Findings
and Management Implications. USA : John Willey & Sons Inc.

148
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Zain-Ul-Abideen and Salman Saleem, 2010. Effective advertising and its influence on
consumer buying behavior. European Journal of Business and Management
ISSN 2222-1905 (Paper) ISSN 2222-2839 Vol 3, No.3.

149
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA YANG


BERWAWASAN LINGKUNGAN DI TAMAN ANGGREK RAGUNAN
JAKARTA SELATAN

Nur Aulinah1
Akhmad Sefudin2
1
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi
2
Dosen Pendidikan Ekonomi
Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

Email:aulinalynn@yahoo.com
akhmadsefudin@yahoo.co.id

ABSTRAK

The purpose of this study was to determine the alternative strategy that can be done in
the development of environmentally aware agro-tourism in the orchid garden of
Ragunan (TAR) with SWOT ((Strength, Weakness, Opportunities, dan Treats) analysis
approach and to determine the priority of its development strategy based on the method
QSPM. The research method used was qualitative and descriptive research method. The
result of this study showed that the combination of IFE (Internal Factor Evaluation)
matrix and EFE (External Factor Evaluation) matrix in the IE (Internal-External)
matrix showed positioning orchid garden of Ragunan (TAR) in which cells grow and
preserve IV. Based on SWOT analysis, produced 5 alternative development strategy
that be can done with QSPM (Quantitative Strategic Planning Matriks) based analysis,
a strategy that has the highest priority was to improved service and quality human
resources termsof both safety and comfort in order to achieve the level of customer
satisfaction as it offers new products in each agro product with a score of 6,996.

Keywords : The alternative strategy in the development of environmentally aware agro-


tourism

Abstrak

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui alternatif strategi yang dapat dilakukan
dalam upaya pengembangan agrowisata yang berwawasan lingkungan di Taman
Anggrek Ragunan melalui pendekatan analisis SWOT dan untuk menentukan prioritas
strategi pengembangannya berdasarkan metode QSPM. Metode penelitian yang
digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan deskriptif. Hasil dari penelitian ini
menunjukan bahwa kombinasi matriks IFEdan matriks EFEdalam matriks
IEmemposisikan Taman Anggrek Ragunan pada sel IV yaitu tumbuh dan bina.
Berdasarkan analisis SWOT, dihasilkan 5 alternatif strategi pengembangan yang dapat
dilakukan. Berdasarkan analisis QSPM, strategi yang memiliki prioritas tertinggi
adalahmeningkatkan pelayanan dan kualitas SDM (sumber daya manusia) baik dari segi

150
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

keamanan dan kenyamanan demi tercapainya tingkat kepuasan konsumen seperti


menawarkan produk baru pada setiap produk agrowisata dengan skor 6,996.

Kata kunci : Alternatif strategi pengembangan agrowisata yang berwawasan


lingkungan

PENDAHULUAN
Peluang di sektor pariwisata cukup prospektif, selain sebagai salah satu
penghasil pertumbuhan ekonomi kreatif. Objek wisata merupakan penghasil devisa non-
migas yang kini banyak dikembangkan di berbagai daerah. Pandangan masyarakat
dalam menikmati objek wisata telah mengalami perubahan ke bentuk wisata yang
spesifik misalnya agrowisata. Agrowisatamerupakan rangkaian kegiatan wisata yang
memanfaatkan potensi pertanian sebagai objek wisata, baik potensi berupa
pemandangan alam kawasan pertaniannya maupun kekhasan dan keanekaragaman
aktivitas produksi dan teknologi pertanian serta budaya masyarakat petaninya. Tanaman
hias memiliki prospek yang masih cukup cerah untuk dikembangkan baik di pasar
domestik maupun pasar mancanegara. Salah satu tanaman hias yang diminati oleh
masyarakat adalah anggrek.
Anggrek merupakan tanaman hias yang sangat populer karena memiliki jenis
yang beragam. Indonesia juga memiliki iklim yang cocok untuk budidaya anggrek. Hal
tersebut merupakan potensi dalam mengembangkan agribisnis anggrek. Anggrek dapat
diusahakan pada luas lahan yang terbatas dengan hasil yang optimal.
Taman Anggrek Ragunan (TAR) adalah salah satu objek agrowisata di DKI
Jakarta dan sudah berdiri sejak 34 tahun yang lalu. Taman anggrek Ragunan (TAR)
merupakan aset Pemda DKI Jakarta dengan luas lahan sekitar 5 ha, dikelola oleh Dinas
Pertanian DKI Jakarta. Keberadaan TAR menjadi salah satu objek agrowisata, yang
berfungsi sebagai tempat wisata, tempat berlangsungnya aktivitas agribisnis tanaman
anggrek baik dalam bentuk tanaman maupun bunga potong, dan sebagai sarana untuk
mempelajari seluk beluk pemeliharaan anggrek.Namun, dalam perkembangannya
keberadaan agrowisata Taman Anggrek Ragunan kurang dikenal dan diketahui
masyarakat. Apabila melihat potensi ekologis Taman Anggrek Ragunan, maka
mengembangkan agrowisata berwawasan lingkungan di Taman Anggrek Ragunan akan
lebih banyak manfaatnya. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik
untuk mengadakan penelitian tentang ―Analisis Strategi Pengembangan Agrowisata
yang Berwawasan Lingkungan di Taman Anggrek Ragunan Jakarta Selatan‖.
Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut : (1). Alternatif strategi apakah yang dapat dilakukan dalam upaya
pengembangan agrowisata yang berwawasan lingkungan di Taman Anggrek Ragunan
dengan pendekatan analisis SWOT? (2). Dari beberapa alternatif tersebut, strategi mana
yang harus diprioritaskan berdasarkan metode QSPM (Quantitative Strategic Planning
Matriks)?

TINJAUAN PUSTAKA
Pembangunan Pariwisata Berwawasan Lingkungan
―Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan suatu tantangan baru bagi
umat manusia yang hidup di zaman baru, yakni zaman pembangunan yang sadar dan
tanggap lingkungan‖ (Soeriaatmadja, 2000:65). Sedangkan ―konsep pembangunan
yang berwawasan lingkungan adalah konsep pembangunan yang ingin menyelaraskan
antara aktivitas ekonomi dan ketersediaan sumber daya alam (nature resources)”
(Yakin, 1997:19).

151
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Pengertian Agrowisata
―Dari perspektif pertanian, agrowisata atau agroturisme adalah suatu bentuk
pariwisata yang memanfaatkan usaha agro atau agribisnis sebagai objek wisata dengan
tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi, dan hubungan wisata di
bidang pertanian‖ (Departemen Pertanian, 2005).

Daya Tarik Agrowisata


―Agribisnis mencakup aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan kemasyarakatan
dan mencakup bidang tanaman pangan, holtikultura, peternakan, perikanan, perkebunan
dan kehutanan‖ (Saragih, 2001:1).

Aspek-Aspek dalam Pengembangan Agrowisata


Upaya pengembangan Agrowisata secara garis besar mencakup aspek
pengembangan sumberdaya manusia, sumberdaya alam, promosi, dukungan sarana dan
kelembagaan.

Perencanaan Agrowisata Berwawasan Lingkungan


Rencana pengelolaan agrowisata merupakan alat untuk menetapkan dan
pengkaji keseluruhan kebijakan yang akan diambil untuk mewujudkan agrowisata.
Dalam perencanaan agrowisata akan mencakup berbagai subyek, seperti bagaimana
pariwisata harus dikelola dengan baik, meminimalisasi dampak, menyusun pola dan
arah pengembangannya.

Proses Manajemen Strategi


―Perencanaan strategi adalah proses pemilihan tujuan-tujuan organisasi,
penentuan strategi, kebijaksanaan dan program-program yang diperlukan untuk tujuan-
tujuan tersebut dan penetapan metoda-metoda yang dperlukan untuk menjamin bahwa
startegi dan kebijaksanaan telah diimplementasikan‖ (Handoko, 2003:92).

Lingkungan Internal
Lingkungan internal menggambarkan suatu kondisi yang berada di dalam
perusahaan. Lingkungan internal terdiri dari aspek sumber daya manusia, pemasaran,
keuangan, manajemen, sistem manajemen informasi, produk, serta penelitian dan
pengembangan yang dapat diidentifikasikan menjadi faktor kekuatan dan kelemahan
perusahaan.

Lingkungan Eksternal
Lingkungan ekternal mempunyai unsur-unsur yang berpengaruh langsung
(lingkungan ekstern mikro) dan yang berpengaruh tidak langsung (lingkungan ekstern
makro). Lingkungan ekstern mikro terdiri dari para pesaing, penyedia, langganan,
lembaga-lembaga keuangan, pasar tenaga kerja dan perwakilan-perwakilan pemerintah.
―Unsur-unsur lingkungan ekstern makro mencakup teknologi, ekonomi, politik, dan
sosial yang mempengaruhi iklim dimana organisasi beroperasi dan mempunyai potensi
menjadi kekuatan-kekuatan sebagai lingkungan ekstern mikro‖ (Handoko, 2003:62).

Matriks I-E (Internal-Eksternal)


Matriks I-E merupakan gabungan dari lingkungan internal dan eksternal yang
berisikan 9 sel lengkap dengan strateginya yang memperlihatkan kombinasi dari matriks

152
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

IFE dan EFE. ―Matriks I-E juga dapat digunakan untuk mengetahui posisi perusahaan
dengan berdasarkan pada total skor internal dan eksternal‖ (Wheelen dalam Rangkuti,
2000:137).

Matriks SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, dan Treats)


Keseluruhan evaluasi tentang kekuatan, kelemahan, peluan dan ancaman
perusahaan disebut analisis SWOT. ―Analisis SWOT (Strength, Weakness,
Opportunities, dan Treats) adalah cara untuk mengamati lingkungan pemasaran
eksternal dan internal‖ (Kotler, 2008:51).―Matriks SWOT merupakan salah satu alat
pencocokan yang penting untuk manajer dalam mengembangkan 4 tipe strategi yang
akan menghasilkan alternatif strategi‖ (David, 2004:284).

QSPM (Quantitative Strategic Planning Matriks)


QSPM adalah alat yang memungkinkan penyusun strategi untuk mengevaluasi
alternatif strategi secara obyektif, berdasaran faktor internal dan eksternal yang telah
diidentifikasi sebelumnya.―Teknik ini secara obyektif mengindikasikan alternatif
strategi mana yang terbaik.

METODOLOGI
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian
kualitatif. ―Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian berdasarkan pada
filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,
(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagi instrumen kunci,
pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik
pengumpulan data dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat
induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada
generalisasi‖ (Sugiyono, 2007:14).
Selain itu, metode lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif. ―Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menganalisis data
dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul
sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum
atau generalisasi‖ (Sugiyono, 2007:206).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis Matriks IFE (Internal Factor Evaluation)
Matriks IFE disusun setelah dilakukan identifikasi faktor internal yang meliputi
kekuatan dan kelemahan dari TAR. Data dan informasi mengenai aspek internal
diperoleh dari hasil identifikasi faktor melalui kuisioner, pengamatan lapang, dan
wawancara dengan pengelola TAR untuk lebih memastikan keberadaan faktor tersebut
dan memastikan pengaruhnya secara langsung pada TAR. Bobot dari masing-masing
faktor ditentukan oleh responden yang terdiri dari 2 orang pihak internal. Hasil
pembobotan faktor-faktor internal dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

153
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 1. Bobot Faktor Internal


Bobot Bobot
No. FAKTOR KUNCI
Responden 1 Responden 2 Rata-rata
KEKUATAN
1. Kegiatan promosi yang
0,111 0,12 0,1155
dilakukan
2. Pelayanan karyawan terhadap
0,121 0,12 0,1205
pengunjung
3. Penggunaan sistem informasi
manajemen (internet, fax, 0,137 0,141 0,1390
komputer)
4. Konsep agrowisata yang
berbasis konservasi, lingkungan 0,137 0,13 0,1335
hidup dan pendidikan
5. (Adanya variasi produk)
Menawarkan produk agrowisata 0,121 0,12 0,1205
tanaman hias lainnya
6. Tersedianya sarana dan
prasarana pengunjung (tempat 0,116 0,12 0,1180
parkir, toilet, dll)
KELEMAHAN
1. Kualitas SDM dibidang promosi
0,068 0,057 0,0625
dan pemasaran
2. Pemasaran dan jalur distribusi
0,068 0,062 0,0650
yang terbatas
3. Kondisi infrastruktur yang
kurang diremajakan karena
0,111 0,062 0,0865
sudah rusak dan belum
diperbaiki
4. Sumber dana kegiatan
operasional dari modal 0,068 0,062 0,0650
sendiri/pribadi
Total 1,000 1,000 1,000
Sumber : Data Hasil Penelitian di TAR

Faktor internal yang sangat penting bagi TAR adalah penggunaan sistem
informasi manajemen (internet, fax, komputer) dengan bobot sebesar 0,1390, konsep
agrowisata yang berbasis konservasi, lingkungan hidup dan pendidikan dengan bobot
0,1335 serta pelayanan karyawan terhadap pengunjung dan (adanya variasi produk)
menawarkan produk agrowisata tanaman hias lainnya, memiliki bobot yang sama yaitu
sebesar 0,1205. Penggunaan sistem informasi manajemen (internet, fax, komputer)
merupakan faktor internal yang memperoleh bobot tertinggi karena mempunyai
pengaruh yang besar untuk mempermudah kegiatan operasional di TAR. Proses
pemberian rating dilakukan dengan melihat keefektifan strategi TAR terhadap berbagai
faktor internal. Matriks IFE menghasilkan total skor yang menggambarkan kondisi
internal TAR. Skor matriks IFE dapat dilihat pada tabel 2. Total rataan skor untuk faktor
kekuatan sebesar 2,7507 sedangkan rataan skor total faktor kelemahan sebesar 0,3872.
Hal ini menunjukkan TAR memiliki faktor kekuatan yang besar dibandingkan faktor

154
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

kelemahan, sehingga TAR dapat memanfaatkan kekuatannya dalam mengembangkan


usaha.

Tabel 2. Skor Matriks IFE


Bobot Rating
No. FAKTOR KUNCI Skor
Rata-rata Rata-rata
KEKUATAN
1. Kegiatan promosi yang dilakukan 0,1155 3,50 0,4042
2. Pelayanan karyawan terhadap
0,1205 4,00 0,4820
pengunjung
3. Penggunaan sistem informasi
manajemen (internet, fax, 0,1390 4,00 0,5560
komputer)
4. Konsep agrowisata yang berbasis
konservasi, lingkungan hidup dan 0,1335 4,00 0,5340
pendidikan
5. (Adanya variasi produk)
Menawarkan produk agrowisata 0,1205 3,00 0,3615
tanaman hias lainnya
6. Tersedianya sarana dan prasarana
pengunjung (tempat parkir, toilet, 0,1180 3,50 0,4130
dll)
Total Skor Faktor Kekuatan 2,7507
KELEMAHAN
1. Kualitas SDM dibidang promosi
0,0625 1,00 0,0625
dan pemasaran
2. Pemasaran dan jalur distribusi
0,0650 1,50 0,0975
yang terbatas
3. Kondisi infrastruktur yang kurang
diremajakan karena sudah rusak 0,0865 1,50 0,1297
dan belum diperbaiki
4. Sumber dana kegiatan operasional
0,0650 1,50 0,0975
dari modal sendiri/pribadi
Total Skor Faktor Kelemahan 0,3872
Total 1,000 3,1379
Sumber : Data Hasil Penelitian di TAR

Kekuatan utama bagi TAR adalah penggunaan sistem informasi


manajemendengan skor sebesar 0,5560, konsep agrowisata yang berbasis konservasi,
lingkungan hidup dan pendidikan dengan skor 0,5340 serta pelayanan karyawan
terhadap pengunjung yang memiliki skor sebesar 0,4820. Kelemahan utama bagi TAR
adalah kondisi infrastruktur yang kurang diremajakan karena sudah rusak dan belum
diperbaiki dengan skor 0,1297, pemasaran dan jalur distribusi yang terbatas serta
sumber dana kegiatan operasional dari modal sendiri/pribadi dengan skor sebesar
0,0975. Total skor yang dihasilkan dari matriks IFE adalah sebesar 3,1379. Hal ini
menunjukkan bahwa TAR berada dalam kondisi internal kuat.

155
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Analisis Matriks EFE (External Factor Evaluation)


Matriks EFE dihasilkan melalui pembobotan dan pemberian peringkat pada
faktor-faktor eksternal kunci. Tabel 3 merupakan hasil perhitungan dari matriks EFE.

Tabel 3. Bobot Faktor Eksternal


Bobot Bobot
No. FAKTOR KUNCI
Responden 1 Responden 2 Rata-rata
PELUANG
1. Dukungan dari pemerintah
0,119 0,122 0,1205
daerah dan swasta
Tingkat jumlah pengunjung
2. ketika musim liburan dan hari 0,119 0,064 0,0915
raya
3. Perkembangan teknologi dan
0,125 0,122 0,1235
informasi
4. Kondisi perekonomian
Indonesia yang semakin 0,119 0,064 0,0915
membaik
5. Meningkatnya laju
0,114 0,122 0,118
pertumbuhan penduduk
6. Perubahan perilaku dan gaya
0,114 0,128 0,121
hidup masyarakat
ANCAMAN
1. Adanya pesaing di kawasan
0,072 0,064 0,068
agrowisata
2. Keberadaan pedagang jasa
maupun barang disekitar 0,067 0,122 0,0945
kawasan agrowisata
3. Kondisi iklim yang tidak
0,072 0,122 0,097
dapat diprediksikan
4. Kenaikan harga dasar tarif
0,072 0,064 0,068
telepon, listrik dan BBM
Total 1,0000 1,0000 1,0000

Data tabel 3 memperlihatkan bahwa faktor eksternal yang sangat penting bagi
TAR adalah perkembangan teknologi dan informasi dengan bobot sebesar 0,1235,
dukungan dari pemerintah daerah dan swasta dengan bobot sebesar 0,1205, kondisi
iklim yang tidak dapat diprediksikan dengan bobot sebesar 0,097, serta keberadaan
pedagang jasa maupun barang disekitar kawasan agrowisata dengan bobot sebesar
0,0945.Proses peratingan terhadap faktor eksternal dilakukan dengan melihat
keefektifan strategi TAR terhadap berbagai faktor-faktor eksternal. Matriks EFE
menghasilkan total skor yang menggambarkan respon TAR terhadap berbagai peluang
dan ancaman eksternal yang terjadi. Skor dari matriks EFE disajikan pada tabel 4.

156
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 4. Skor Matriks EFE


Bobot Rating
No. FAKTOR KUNCI Skor
Rata-rata Rata-rata
PELUANG
1. Dukungan dari pemerintah
0,1205 3,50 0,4217
daerah dan swasta
2. Tingkat jumlah pengunjung
ketika musim liburan dan hari 0,0915 3,00 0,2745
raya
3. Perkembangan teknologi dan
0,1235 2,50 0,3087
informasi
4. Kondisi perekonomian
Indonesia yang semakin 0,0915 1,50 0,1372
membaik
5. Meningkatnya laju
0,1180 2,50 0,2950
pertumbuhan penduduk
6. Perubahan perilaku dan gaya
0,1210 4,00 0,4840
hidup masyarakat
Total Skor Faktor Peluang 1,9211
ANCAMAN
1. Adanya pesaing di kawasan
0,0680 2,50 0,1700
agrowisata
2. Keberadaan pedagang jasa
maupun barang disekitar 0,0945 2,50 0,2362
kawasan agrowisata
3. Kondisi iklim yang tidak dapat
0,0970 4,00 0,3880
diprediksikan
4. Kenaikan harga dasar tarif
0,0680 3,00 0,2040
telepon, listrik dan BBM
Total Skor Faktor Ancaman 0,9982
Total 1,0000 2,9193
Sumber : Data Hasil Penelitian di TAR

Peluang utama bagi TAR adalah perkembangan teknologi dan informasi dengan
bobot sebesar 0,1235, dukungan dari pemerintah daerah dan swasta dengan bobot
sebesar 0,1205. Variabel yang menjadi ancaman bagi TAR adalah kondisi iklim yang
tidak dapat diprediksikan dengan bobot sebesar 0,097, serta keberadaan pedagang jasa
maupun barang disekitar kawasan agrowisata dengan bobot sebesar 0,0945. Total skor
matriks EFE adalah sebesar 2,9193. Total skor rata-rata untuk faktor peluang adalah
sebesar 1,9211 sedangkan total skor rata-rata untuk faktor ancaman adalah sebesar
0,9982. Hal ini menunjukkan bahwa TAR memiliki faktor ancaman yang lebih kecil
dibandingkan faktor peluang, sehingga TAR dapat memanfaatkan peluang eksternal
untuk mengurangi ancaman.

Tahap Pencocokan (Matching Stage)


Analisis Matriks IE (Internal-Eksternal)
Matriks IE merupakan penggabungan dari matriks IFE dan Matriks EFE. Pada
gambar 1, total skor IFE adalah 3,1379 yang menggambarkan bahwa TAR berada pada
kondisi internal kuat dan skor total EFE adalah 2,9193 yang artinya bahwa TAR

157
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

memiliki kemampuan yang rata-rata dalam memanfaatkan peluang maupun


menghindari ancaman lingkungan eksternal. Sehingga faktor internal dapat menutupi
kekurangan dari faktor eksternal.

Total Skor Faktor IFE


Kuat Sedang Lemah
4,0 3,0 2,0 1,0

I II III
Tinggi
3,0
Total Skor
Faktor EFE IV Menengah
2,0 V VI
Rendah
1,0
VII VIII IX

Sumber : Data Hasil Penelitian di TAR

Gambar 1. Matriks IE (Internal-Eksternal)

Berdasarkan hasil matriks IE, posisi TAR saat ini, yaitu pada kotak IV di kuadran
matriks IE. Strategi yang dapat dijalankan merupakan strategi tumbuh dan bina atau
strategi pertumbuhan. Pada posisi ini strategi yang dapat dilakukan adalah penetrasi
pasar (market penetration) dan pengembangan produk (product development).

Analisis Matriks SWOT (Strenght, Weakness, Opportunities, Threat)


Matriks SWOT digunakan untuk menyusun strategi yang didapat pada matriks
IE. Penggunaan matriks SWOT ini akan menghasilkan strategi yang harus digunakan
secara lebih detail. Matriks SWOT terdiri dari pengembangan empat alternatif strategi
kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities) dan ancaman
(Threat) pada perusahaan. Hasil analisis matriks SWOT dapat dilihat pada gambar 2.

Faktor Internal KEKUATAN – S KELEMAHAN –W


1. Kegiatan promosi yang 1. Kualitas SDM dibidang
dilakukan promosi dan pemasaran
2. Pelayanan karyawan 2. Pemasaran dan jalur
terhadap pengunjung distribusi yang terbatas
3. Penggunaan sistem 3. Kondisi infrastruktur
informasi manajemen yang kurang
(internet, fax, komputer) diremajakan karena
4. Konsep agrowisata yang sudah rusak dan belum
berbasis konservasi, diperbaiki
lingkungan hidup dan Sumber pendanaan
pendidikan kegiatan operasional dari
5. (Adanya variasi produk) modal sendiri/pribadi
Menawarkan produk

158
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

agrowisata tanaman hias


lainnya
Faktor Eksternal Tersedianya sarana dan
prasarana pengunjung
(tempat parkir, toilet, dll)

PELUANG – O STRATEGI SO STRATEGI WO


1. Dukungan dari 1. Mengembangkan Memperbaiki sistem
pemerintah daerah dan potensi yang dimiliki manajemen agar sesuai
swasta perusahaan dan tetap dengan pola kerja dan
2. Tingkat jumlah mempertahankan kebutuhan perusahaan
pengunjung ketika konsep agrowisata yang sehingga dicapai efisiensi
musim liburan dan hari sudah ada. (S2, S4, S5, dan efektivitas untuk
raya S6, O2, O6) menekan biaya operasional.
3. Perkembangan 2. Mengoptimalkan sistem (WI, W2, W3, W4, O1, O2,
teknologi dan informasi manajemen O3, O4, O5, O6)
informasi baik dalam operasional
4. Kondisi perekonomian maupun promosi. (S1,
Indonesia yang S3, O1, O3, O4, O5)
semakin membaik
5. Meningkatnya laju
pertumbuhan
penduduk
6. Perubahan perilaku dan
gaya hidup masyarakat
ANCAMAN – T STRATEGI ST STRATEGI WT
1. Adanya pesaing di 1. Meningkatkan 1. Melakukan perawatan
kawasan agrowisata pelayanan dan kualitas dan perbaikan
2. Keberadaan pedagang SDM baik dari segi infrastruktur demi
jasa maupun barang keamanan dan tercapai kepuasan dalam
disekitar kawasan kenyamanan demi pelayanan. (WI, W2,
agrowisata tercapainya tingkat W3, W4, T1, T2, T3,
3. Kondisi iklim yang tidak kepuasan konsumen T4, T5, T6)
dapat diprediksikan seperti menawarkan
Kenaikan harga dasar produk baru pada setiap
tarif telepon, listrik dan produk agrowisata. (S1,
BBM S2, S3, S4, S5, S6, T1,
T2, T3, T4)

Sumber : Data Hasil Penelitian di TAR


Gambar 2. Matriks SWOT
Berdasarkan analisis SWOT pada gambar 2, terdapat beberapa alternatif strategi
yang dapat diterapkan oleh TAR sebagai berikut.

1. Strategi SO (Strength-Opportunities)

159
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Strategi S-O merupakan strategi diciptakan dengan mendayagunakan


kekuatan internal untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi S-O yang
dapat diterapkan yaitu :
a. Mengembangkan potensi yang dimiliki perusahaan dan tetap
mempertahankan konsep agrowisata yang sudah ada. (S2, S4, S5, S6, O2,
O6).
b. Mengoptimalkan sistem informasi manajemen baik dalam operasional
maupun promosi. (S1, S3, O1, O3, O4, O5)
2. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities)
Strategi W-O adalah strategi yang ditujukan untuk mengatasi kelemahan
dengan memanfaatkan peluang eksternal. Strategi yang dapat diterapkan oleh
TAR adalah :
Memperbaiki sistem manajemen agar sesuai dengan pola kerja dan kebutuhan
perusahaan sehingga dicapai efisiensi dan efektivitas untuk menekan biaya
operasional. (WI, W2, W3, W4, O1, O2, O3, O4, O5, O6).
3. Strategi ST (Strength-Threats)
Strategi S-T adalah strategi yang menggunakan kekuatan perusahaan
untuk menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman eksternal perusahaan.
Strategi S-T yang dapat diterapkan oleh TAR adalah
Meningkatkan pelayanan dan kualitas SDM baik dari segi keamanan dan
kenyamanan demi tercapainya tingkat kepuasan konsumen seperti menawarkan
produk baru pada setiap produk agrowisata. (S1, S2, S3, S4, S5, S6, T1, T2, T3,
T4).
4. Strategi WT (Weaknesse-Threats)
Strategi W-T adalah strategi yang ditujukan untuk mengurangi kelemahan
internal yang dimiliki perusahaan dan menghindari ancaman eksternal yang ada.
Strategi yang diterapkan TAR adalah :
Melakukan perawatan dan perbaikan infrastruktur demi tercapai kepuasan dalam
pelayanan. (WI, W2, W3, W4, T1, T2, T3, T4, T5, T6).

Tahap Keputusan (Decision Stage)


Tahap keputusan (decision stage) merupakan tahap ketiga atau terakhir dalam
tahap-tahap formulasi strategi. Pada tahap ini dilakukan pemilihan strategi terbaik dari
prioritas strategi yang dijalankan perusahaan.

Analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matriks)


Penggunaan QSPM bertujuan untuk memperoleh strategi alternatif terbaik yang
dapat diimplementasikan perusahaan berdasarkan dengan kondisi riil perusahaan.Hasil
analisis QSPM menunjukkan bahwa alternatif strategi meningkatkan pelayanan dan
kualitas SDM baik dari segi keamanan dan kenyamanan demi tercapainya tingkat
kepuasan konsumen seperti menawarkan produk baru pada setiap produk agrowisata
menjadi yang paling diprioritaskan dengan skor 6,996. Prioritas strategi pengembangan
Taman Anggrek Ragunan (TAR) dapat dilihat pada tabel 5.

160
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 5. Prioritas Strategi Pengembangan Taman Anggrek Ragunan (TAR)


No Prioritas Strategi Total Skor
1. Meningkatkan pelayanan dan kualitas SDM baik dari
segi keamanan dan kenyamanan demi tercapainya
6,996
tingkat kepuasan konsumen seperti menawarkan
produk baru pada setiap produk agrowisata.
2. Mengoptimalkan sistem informasi manajemen baik
dalam operasional maupun promosi. 6,948

3. Melakukan perawatan dan perbaikan infrastruktur


demi tercapai kepuasan dalam pelayanan. 6,835

4. Memperbaiki sistem manajemen agar sesuai dengan


pola kerja dan kebutuhan perusahaan sehingga dicapai
6,628
efisiensi dan efektivitas untuk menekan biaya
operasional.
5. Mengembangkan potensi yang dimiliki perusahaan dan
tetap mempertahankan konsep agrowisata yang sudah 6,498
ada.

Sumber : Data Hasil Penelitian di TAR

Manfaat yang dapat diperoleh dari peningkatan pelayanan dan kualitas SDM adalah
dapat meningkatkan jumlah pengunjung dan pembeli produk di TAR dan dapat
meningkatkan kenyamanan serta kepuasan konsumen dengan adanya berbagai macam
varietas yang ditawarkan oleh TAR, tidak hanya bunga anggrek saja tetapi juga tanaman
hias lainnya.

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik simpulan bahwa :
1. Kombinasi matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan matriks EFE (External
Factor Evaluation) dalam matriks IE (Internal-Eksternal) memposisikan Taman
Anggrek Ragunan pada sel IV yaitu tumbuh dan bina.
2. Berdasarkan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threat). dihasilkan
5 alternatif strategi yang dapat dilakukan.
3. Berdasarkan analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matriks), maka strategi
yang memiliki prioritas tertinggi adalah meningkatkan pelayanan dan kualitas SDM
baik dari segi keamanan dan kenyamanan demi tercapainya tingkat kepuasan
konsumen seperti menawarkan produk baru pada setiap produk agrowisata menjadi
yang paling diprioritaskan dengan skor 6,996.

Saran
Beberapa saran yang dapat dijadikan masukan bagi pihak manajemen di Taman
Anggrek Ragunan untuk meningkatkan kinerjanya sehingga dapat memuaskan
kebutuhan pengunjungnya adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan daya tarik, antara lain yaitu dengan menambah koleksi tanaman
dengan aneka tanaman hias yang unik dan jarang ditemui.
2. Masalah keberadaan pedagang jasa maupun barang yang dapat mengganggu akses
jalan menuju Taman Anggrek Ragunan merupakan masalah yang perlu di cari

161
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

pemecahannya. Untuk itu sebaiknya TAR melakukan pembicaraan yang lebih


intensif dengan pihak pemda setempat.
3. Melakukan survei kepuasan pengunjung secara berkala agar dapat terus
meningkatkan kepuasan pengunjungnya.
4. Meningkatkan kualitas SDM salah satunya dengan cara merekrut tenaga SDM
berdasarkan pendidikan dan keahlian sesuai dengan bidangnya. Untuk tenaga SDM
yang sudah ada, sebaiknya diberikan pembinaan dan pelatihan secara berkelanjutan
untuk meningkatkan kemampuannya.

DAFTAR PUSTAKA
Handoko Hani T. 2003. Manajemen. Edisi 2. Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta.

Kotler Philip. 2008. Manajemen Pemasaran. Jilid 1 Terjemahan dalam Bahasa


Indonesia. Jakarta : Erlangga.

Marpaung Happy. 2002. Pengetahuan Kepariwisataan. Bandung : Alfabeta.

Masriah dan Mujahid. 2011. Pembangunan Ekonomi Berwawasan Lingkungan. Malang


: Universitas Negeri Malang (UM Press).

Pendit Nyoman S. 2002. Ilmu Pariwisata. Jakarta : PT Pradnya Paramita.

Soeriaatmadja. 2000. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Pembangunan Berkelanjutan


yang Berwawasan Lingkungan. Jakarta : Depdiknas.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta.

Http://database.deptan.go.id/agrowisata. Departemen Pertanian: Strategi


Pengembangan Wisata Agro di Indonesia. Diakses pada tanggal20 Maret 2014.

Http://database.deptan.go.id. Direktorat Jendral Hortikultura: Data Ekspor Impor


Anggrek 2006-2010. Diakses pada tanggal 20 Maret 2014.

Http://www.wisatanesia.com/2010/05/tamananggrekragunan). Suasana
Taman Anggrek Ragunan.Diakses tanggal 27 Maret 2014.

162
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ANALISIS UMKM DALAM MENGHADAPI MEA 2015 melalui ANALISIS


SWOT

Nur Adillah

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis SWOT yang dihadapi oleh perusahaan
mikro, kecil dan menengah (UMKM), dan hubungannya dalam menghadapi MEA 2015.
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan data sekunder dan juga
data primer. Metode Analisis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis
Deskriptif Kualitatif. Analisis Deskriptif Kualitatif adalah metode analisis yang mencari
hubungan secara menyeluruh dan teliti dari suatu keadaan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa analisis SWOT dalam UMKM memang berpengaruh dalam
menghadapi MEA 2015. Dikarenakan dengan analisis tersebut,suatu UMKM akan
mampu mengembangkan dan menilai kemampuan usahanya. Dan memudahkan
pemerintah dalam hal memperbaiki kelemahan UMKM yang ada di Indonesia. Sehingga
mampu bersaing dalam program MEA 2015.

Kata Kunci: UMKM, SWOT dan MEA.

PENDAHULUAN
Pembangunan yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya
akibat krisis ekonomi dan moneter yang dialami oleh bangsa Indonesia sekitar tujuh
tahun yang lalu terus dilakukan. Salah satu usaha yang dilakukan oleh pemerintah
adalah memberikan ruang gerak yang proporsional kepada para pengusaha kecil dan
menengah (UKM) sekaligus memberdayakannya. Pengalaman masa lalu menunjukkan
bahwa sektor riil yang dikuasai oleh perusahaan konglomerasi yang tidak didukung oleh
kinerja yang baik, menyebabkan mereka menjadi bangkrut akibat krisis, yang
selanjutnya dalam skala yang lebih luas menjadikan negara Indonesia terpuruk karena
jumlah mereka yang sedikit ternyata menguasai sebagian besar perekonomian nasional.
Di sisi lain, perusahaan kecil dan menengah (UKM) yang jumlahnya sangat banyak
namun mempunyai porsi peranan yang kecil dalam perekonomian nasional, ternyata
mampu bertahan dalam situasi krisis. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan
perekonomian nasional Indonesia sesungguhnya berada pada UMKM yang secara masal
merupakan skala ekonomi kerakyatan. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan
UMKM, pada tahun2011 UMKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 101.722.458
orang atau 97,24% dari total penyerapan tenaga kerja yang ada.
Ketidakmaksimalan konstribusi yang diberikan UMKM adalah karena kendala–
kendala atau masalah yang dihadapi dalam menjalankan usahanya. Masalah yang
tergolong krusial dalam perkembangan UMKM sendiri adalah seperti permodalan
UMKM, wawasan masyarakat mengenai strategi pemasaran, persaingan usaha ketat,
kesulitan bahan baku, kurang teknis produksi dan keahlian, keterampilan manajerial
yang kurang, kurangnya pengetahuan manajemen keuangan dan hak intelektual.

163
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Masalah yang paling mencolok ialah masalah permodalan, permodalan menjadi masalah
yang terus membelenggu UMKM Indonesia. Keterbatasan modal menyebabkan UMKM
tidak bisa berkembang menjadi lebih besar.
Dari sini penulis menarik garis permasalahan sebagai berikut; UMKM Indonesia
pada dasarnya dapat berkembang baik apabila memiliki kemampuan untuk mengatasi
kendala-kendala yang dihadapi. Salah satu usaha yang dapat dilakukan para pelaku
UMKM adalah dengan membuat suatu analisa usaha dengan metode analisis SWOT
dengan mengenal lebih dalam produk/output yg dihasilkan dari setiap UMKM.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin penulis capai dari penelitian ini adalah untuk mengungkap
strategi yang tepat bagi UMKM untuk terus bertahan dalam kondisi saat ini dan juga
menciptakan ketahanan bagi para pelaku UMKM dalam menghadapi arus MEA dengan
mengenal kekuatan dan kelemahan UMKM dari dalam, serta mengenal ancaman bagi
UMKM dan merubahnya menjadi sebuah peluang bagi UMKM untuk terus
berkembang.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku
UMKM dalam mengembangkan usaha mereka sekaligus bahan referensi untuk
persiapan menghadapi MEA akhir tahun ini.

TINJAUAN AKADEMIS
Pengertian dan Karakteristik UMKM
Definisi UKM itu sangat berbeda di tempat yang berlainan. Berbagai negara
memiliki definisi mereka sendiri mengenai ukuran bisnis yang bisa dikategorikan
sebagai usaha kecil menengah. Dengan pengkategorian tersebut, jenis bisnis skala kecil
ini memiliki hak dan kewajiban khusus berkaitan dengan legalitas status perusahaan dan
besaran pajak yang harus dibayarkan pada pemerintah. Di Australia, batas jumlah
pekerjanya ialah 15 (lima belas) orang. Sedangkan di Amerika Serikat, bisnis jenis ini
bisa mempekerjakan hingga 500 karyawan.
Sebagai bahan perbandingan menurut Susana Suprapti (2005:48), UKM (Usaha
Kecil Menengah) adalah badan usaha baik perorangan atau badan hukum yang memiliki
kekayaan bersih (tidak termasuk tanah dan bangunan) sebanyak 200 juta dan
mempunyai omset/nilai output atau hasil penjualan rata-rata pertahun sebanyak Rp 1
Milyar dan berdiri sendiri.
Menurut (Tambunan,2009) UMKM sangat penting karena karakteristik-
karekteristik utama mereka yang berbeda dengan usaha besar, diantaranya:
1. Jumlah perusahaan sangat banyak (jauh melebihi jumlah usaha besar) terutama dari
kategori usaha mikro dan usaha kecil. Dan hal ini juga didasarkan pada karakter
usaha mikro dan usaha kecil yang tersebar diseluruh pelosok pedesaan termasuk di
wilayah-wilayah yang relatif terisolasi.
2. Karena sangat padat karya,berarti mempunyai suatu potensi pertumbuhan
kesempatan kerja yang sangat besar, pertumbuhan UMKM dapat dimasukkan
sebagai suatu elemen penting dari kebijakan-kebijakn nasional untuk meningkatkan
kesempatan kerja dan menciptakan pendapatan, terutama bagi masyarakat miskin.
3. Kegiatan-kegiatan produksi dari kelompok UMKM pada umumnya dari berbasis
pertanian. Oleh karena itu upaya-upaya pemerintah mendukung UMKM sekaligus
juga merupakan cara tak langsung, tetapi efektif untuk mendukung pembangunan
dan pertumbuhan produksi disektor pertanian.
Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam
menganalisa produk atau kegiatan usaha. Metode ini menganalisa dengan menggunakan

164
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

dua faktor penting, yaitu faktor internal yang berupa kekuatan dan kelemahan. Serta
faktor eksternal yang terdiri dari kesempatan dan ancaman. Cara ini menjadi salah satu
kunci bagi para pengusaha untuk mengetahui potensi produk mereka, sebelum akhirnya
mereka menentukan strategi pemasaran yang paling efektif untuk produknya. Beberapa
faktor SWOT yang dapat digunakan untuk menganalisa antara lain :
1. Kekuatan (Strengths)
Kekuatan yang mendukung pemasaran produk antara lain kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan produk yang berkualitas, tampilan kemasan produk yang
menarik, harga yang bersaing, serta pencantuman merek pada produk. Selain itu
support dari team maupun manajemen, serta dukungan teknologi untuk
memproduksi produk, juga menjadi kekuatan Anda untuk menciptakan produk yang
berkualitas dan mampu bersaing.
2. Kelemahan (Weakness)
Selain kekuatan, faktor internal lainnya yang dilakukan dalam analisis SWOT yaitu
dengan mengetahui kelemahan yang dimiliki produk tersebut. Misalnya saja seperti
ketahanan masa expired produk, kegiatan promosi yang belum optimal, proses
produksi dan distribusi produk yang cukup lama, kemampuan SDM yang masih
kurang, atau kurangnya minat masyarakat akan produk tersebut.

3. Peluang (Opportunities)
Peluang yang bisa digunakan untuk meningkatkan pemasaran produk yaitu, berbagai
media massa yang dapat digunakan sebagai media iklan, adanya kebijakan
pemerintah untuk mengembangkan UKM dengan mengadakan berbagai event untuk
usaha kecil menengah, serta kondisi masyarakat yang semakin konsumtif. Sehingga
mempermudah pelaku usaha untuk memasarkan produknya.
4. Ancaman (Threats)
Yang keempat yaitu adanya ancaman dari pihak luar. Seperti jumlah kompetitor
yang terus meningkat, munculnya produk baru yang lebih unggul, kenaikan harga
bahan baku karena jumlahnya semakin terbatas, serta beberapa ancaman lainnya.

METODOLOGI
Jenis data yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah data primer
yang diperoleh dari wawancara dengan para pemilik UMKM dan data sekunder. Teknik
pengumpulan data dalam penyusunan makalah ini yaitu melalui studi literatur atau studi
pustaka. Studi pustaka merupakan kegiatan pengumpulan data yang berasal dari karya
ilmiah, text book, pelaporan, peraturan perundang-undangan dan tulisan-tulisan yang
berhubungan dengan penelitian. Studi pustaka atau studi literatur dimaksudkan untuk
mendapatkan gambaran mengenai permasalahan yang dihadapi para pelaku/pemilik
UMKM.
Data skunder yang digunakan dalam pengolahan data adalah data hasil analisis
SWOT dari berbagai UMKM unggulan Indonesia yang terdapat dalam jurnal bisnis dan
ekonomi.

PEMBAHASAN
Gambaran Umum Kelebihan dan Kekurangan UMKM
Kelebihan UMKM
Dengan ukurannya yang kecil – dan tentunya fleksibilitas yang tinggi, usaha
kecil menengah memiliki berbagai kelebihan, terutama dalam segi pembentukan
dan operasional. UKM memiliki kontribusi besar bagi bergulirnya roda ekonomi suatu
negeri, bukan hanya karena ia adalah benih yang memampukan tumbuhnya bisnis besar,

165
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

melainkan juga karena ia menyediakan layanan tertentu bagi masyarakat yang bagi
bisnis besar dinilai kurang efisien secara biaya.
Berikut adalah beberapa kelebihan UKM:
1. Fleksibilitas Operasional
Usaha kecil menengah biasanya dikelola oleh tim kecil yang masing-masing
anggotanya memiliki wewenang untuk menentukan keputusan. Hal ini membuat
UKM lebih fleksibel dalam operasional kesehariannya. Kecepatan reaksi bisnis ini
terhadap segala perubahan (misalnya: pergeseran selera konsumen, trend produk,
dll.) cukup tinggi, sehingga bisnis skala kecil ini lebih kompetitif.
2. Kecepatan Inovasi
Dengan tidak adanya hirarki pengorganisasian dan kontrol dalam UKM, produk-
produk dan ide-ide baru dapat dirancang, digarap, dan diluncurkan dengan segera.
Meski ide cemerlang itu berasal dari pemikiran karyawan – bukan pemilik –
kedekatan diantara mereka membuat gagasan tersebut cenderung lebih mudah
didengar, diterima, dan dieksekusi.
3. Struktur Biaya Rendah
Kebanyakan usaha kecil menengah tidak punya ruang kerja khusus di kompleks-
kompleks perkantoran. Sebagian dijalankan di rumah dengan anggota keluarga
sendiri sebagai pekerjanya. Hal ini mengurangi biaya ekstra (overhead) dalam
operasinya.
4. Kemampuan Fokus di Sektor yang Spesifik
UKM tidak wajib untuk memperoleh kuantitas penjualan dalam jumlah besar untuk
mencapai titik balik (break even point – BEP) modal mereka. Faktor ini
memampukan usaha kecil menengah untuk fokus di sektor produk atau pasar yang
spesifik. Contohnya: bisnis kerajinan rumahan bisa fokus menggarap satu jenis dan
model kerajinan tertentu dan cukup melayani permintaan konsumen tertentu untuk
bisa mencapai laba.
Kelemahan UMKM
Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam mengelola usaha kecil menengah
antara lain:
1. Sempitnya Waktu untuk Melengkapi Kebutuhan
Sebab sedikitnya jumlah pengambil keputusan dalam usaha kecil menengah, mereka
kerap terpaksa harus pontang-panting berusaha memenuhi kebutuhan pokok
bisnisnya, yakni: produksi, sales, dan marketing.
2. Kontrol Ketat atas Anggaran dan Pembiayaan
Usaha skala kecil umumnya memiliki anggaran yang kecil. Akibatnya, ia kerap kali
dipaksakan membagi-bagi dana untuk membiayai berbagai kebutuhan seefisien
mungkin. Ketidakmampuan untuk mengumpulkan modal yang lebih besar juga
memaksa usaha kecil menengah menjalankan kebijakan penghematan yang ketat,
terutama untuk mencegah kekurangan pembiayaan operasional sekecil apapun.
Kekurangan pembiayaan operasional yang tidak dicegah bisa mengakibatkan
kebangkrutan, sebab kapasitas UKM untuk membayar hutang biasanya hampir tidak
ada.
3. Kurangnya Tenaga Ahli
Usaha kecil menengah biasanya tidak mampu membayar jasa tenaga ahli untuk
menyelesaikan pekerjaan tertentu. Hal ini merupakan kelemahan usaha kecil
menengah yang sangat serius. Akibatnya, kemampuan persaingan bisnis skala kecil
ini di pasar yang luas bisa sangat kecil.

166
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Identifikasi Analisis SWOT UMKM


KEKUATAN/STRENGTH KELEMAHAN/WEAKNES
1. Eksistensi kerjasama pelaku UMKM 1. Belum konsistennya kebijakan setiap
dengan masyarakat, unit kerja untuk melaksanakan upaya-
2. Kemampuan UMKM untuk tetap upaya kegiatan di setiap unit kerja
bertahan dengan modal yang relative (satu unit kerja menangani 2/lebih
kecil. kegiatan di unit kerja)
3. Berlimpahnya SDM yang bisa 2. Belum mantapnya pemahaman
dilibatkan untuk kegiatan produksi koordinasi dalam pelaksanaan tugas
dengan biaya operasional rendah. dan fungsi masing-masing subunit-
4. System informasi bottom-up yang UKM, terutama berkaitan dengan
memudahkan untuk inovasi produk program jangka panjang.
sekaligus akses pengawasan terhadap
pasar.
5. Komitmen bersama yang solid karena
biasanya pelaku UMKM terdiri dari
keluarga.
PELUANG/OPPORTUNITY ANCAMAN/TREATMENT
1. Komitmen yang tinggi untuk 1. Sistem administrasi UKM belum
menciptakan perkembangan UMKM tersusun dengan jelas dan rapih
2. Semakin intensifnya upaya sehingga masih banyak pengaturan-
pemberantasan kemiskinan dan pengaturan yang tumpang tindih yang
kebodohan oleh Pemerintah, hingga menyebabkan aliran dana tidak jelas.
menciptakan kontrol sosial ekonomi 2. Masih lemahnya sistem dan
yang semakin kuat di masyarakat kelembagaan sosial yang menaungi
kalangan ekonomi menengah kebawah. UKM di tingkat lapangan dalam
3. Semakin meningkatnya peran memelihara dan melindungi UKM.
serta/partisipasi masyarakat dalam 3. Belum optimalnya partisipasi
kegiatan pembangunan dan ketahanan masyarakat dalam pelaksanaan
ekonomi masyarakat. pembangunan ekonomi.
4. Peran serta pemerintah dalam 4. Terjadinya berbagai masalah di
memberikan bantuan modal dan bidang sosial seperti bencana, konflik,
peraturan perundang-undangan yang krisis ekonomi yang memerlukan
cukup mendukung perkembangan penanganan yang cepat dan intensif.
UMKM. 5. Tumpang tindihnya kegiatan
peningkatan kesejahteraan rakyat dan
penanggulangan kemiskinan oleh
berbagai instansi/perusahaan teknis.
6. Tingginya tuntutan masyarakat akan
kepuasan produk konsumsi.
7. Besarnya kompleksitas masalah
internal dan atau eksternal UKM.
8. Rendahnya kepercayaan masyarakat
terhadap kinerja pemerintah dan atau
UKM/perusahaan.

167
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

SIMPULAN
Untuk memanfaatkan kekuatan dan peluang, serta dalam rangka menanggulangi
kendala/kelemahan dan mengatasi tantangan/ancaman, maka strategi yang digunakan
dalam pelaksanaan perencanaan di bidang usaha kecil menengah adalah :
1. Koordinasi
Kegiatan koordinasi harus bersifat aktif dan tidak menunggu. Oleh karena itu, untuk
terwujudnya sinkronisasi dalam pelaksanaan dalam usaha kecil menengah, maka
koordinasi harus dilakukan.
2. Sosialisasi
Kegiatan sosialisasi ini diselenggarakan untuk mendapatkan suatu persepsi yang
sama sehingga masing-masing komponen baik pelaku UMKM maupun masyarakat
berperan serta sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.
3. Pembentukan Kelompok Kerja
Keberadaan kelompok kerja atau tim pada hakekatnya adalah membantu dalam
proses kegiatan pembangunan ekonomi rakyat. Oleh karena itu, dalam rangka
terselenggaranya kegiatan koordinasi, sinkronisasi, pengendalian dan pengawasan,
maka pembentukan kelompok kerja atau tim yang terdiri dari berbagai komponen
sangat diperlukan.
4. Kemitraan
Agar pelaksanaan koordinasi perencanaan dan penyusunan strategi usaha kecil
menengah dan penanggulangan ancaman berjalan dan mencapai sasarannya maka
diperlukan kemitraan dengan berbagai departemen/kementerian/ instansi lain terkait
dan unsur masyarakat.
5. Pengkajian
Kegiatan pengkajian dilakukan dengan menganalisis hasil pelaksanaan perencanaan
atau melalui hasil pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan program
yang diselenggarakan pihak terkait sebagai bahan masukan dalam
mengkoordinasikan dan menyusun perencanaan, serta sinkronisasi pelaksanaan
perencanaan usaha kecil menengah dan penanggulangan ancaman yang mungkin
terjadi.
6. Advokasi
Kegiatan advokasi dalam bentuk pemberian masukan, arahan, penyamaan persepsi,
kesepakatan atau pembimbingan perlu dilakukan dalam pelaksanaan operasional
program usaha kecil menengah.
7. Monitoring&Evaluasi
Dari kegiatan monitoring akan diperoleh masukan atau informasi yang sebenarnya
tentang pelaksanaan program atau kegiatan di tingkat lapangan. Dengan diketahui
hasil pelaksanaan perencanaan melalui monitoring maupun evaluasi, maka akan
mempermudah pengendalian dan pengawasan pelaksanaan perencanaan dalam
usaha kecil menengah.
8. Fasilitasi
Fasilitasi yang dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
yakni dengan memberikan dorongan dan dukungan untuk memperlancar
pelaksanaan kegiatan-kegiatan program UKM. Untuk itu, perlu dilakukan
pendekatan yang arif agar tidak terkesan atau dianggap mengintervensi tugas pokok
dan fungsi UKM yang dikoordinasikan.
9. Data dan Informasi
Data dan informasi diperlukan sebagai bahan penyusunan rencana, selain itu data
dan informasi yang akurat juga sebagai alat koordinasi. Data dan informasi usaha

168
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

kecil menengah dan penanggulangan ancaman dikomunikasikan melalui berbagai


kesempatan dan forum serta media yang ada.
10. Pemberdayaan
Upaya mensinergikan kekuatan di dalam lingkungan UKM secara intensif adalah
sebagai bentuk pemberdayaan yang perlu dilakukan untuk mengkoordinasikan dan
menyinkronkan secara internal penyelenggaraan program di lingkungannya masing-
masing.

SARAN
1. Koordinasi : Dengan legalitas yang ada maka dalam hal koordinasi, pelaksanaan
perencanaan dan kebijakan UMKM tidak lagi menimbulkan persoalan koordinasi
yang saling tumpang tindih.
2. Sosialisasi : dalam hal sosialisasi para pelaku UMKM dapat melibatkan masyarakat
sesuai kapsitas masing-masing masyarakat agar tercipta satu persepsi yang sama.
3. Pembentukan kelompok kerja : dalam pembentukan kelompok kerja, para pelaku
UMKM dapat memanfaatkan SDM sekitar lokasi produksi disesuaikan dengan jenis
kegiatan produksi UMKM.
4. Kemitraan : para pelaku UMKM hendaknya membangun kemitraan yang solid
dengan pemerintah dan para investor swasta.
5. Pengkajian : untuk pengkajian hendaknya dilakukan secara rutin setiap selesai
produksi, hal ini dilaksanakan untuk merencanakan strategi lanjutan.
6. Advokasi : dapat dilakukan dengan mendatangkan atau mengundang para pakar
ekonomi mikro guna perbaikan kinerja UMKM.
7. Monitoring dan Evaluasi : hendaknya dilakukan berkesinambungan agar
mempermudah pengawasan, control dan inovasi produk UMKM.

DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Negara Koperasi & UKM RI. 2011. Perkembangan Data Usaha Mikro,
Kecil, Menengah (UMKM) Dan Usaha Besar (UB) Tahun 2006 – 2010. Akses
tanggal 16 April 2012.
Marbun, B.N. 1997. Manajemen Perusahaan Kecil. PT Pustaka Binaman Pressindo.
Jakarta.
Meutia. 2010. Meningkatkan Daya Saing Usaha Kecil Menengah Melalui Kompetensi
Kewirausahaan dan Modal Sosial, (Sebuah Kajian Teoritis). Jurnal Ilmiah Ekonomi
Tirtayasa Ekonomi. Vol. 5 (2). Hal. 167-174.
Presiden Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah.
Rakyat Merdeka Online. (2011). Syarif Hasan: Jumlah Koperasi dan UMKM Terus
Meningkat. http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/22/49791/Syarif-
Freddy Rangkuty, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis Reorentasi Konsep
Perencanaan Strategis Untuk Menghadapi Abad ke-21, (Jakarta: Gramedia,2004)
http://infoukm.wordpress.com/2008/08/
http://id.wikipedia.org/wiki/Usaha_Kecil_dan_Menengah
http://www.danabergulir.com/layanan/skim-pinjaman-pembiayaan/pembiayaan-kepada-
koperasi-dan-usaha-kecil-dan-menengah-kukm-melalui-perusahaan-modal-ventura-pm

169
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PERAN MANAJEMEN KOPERASI DALAM MENGHADAPI TANTANGAN


MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) 2015

Riki Rianto1
1
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi
Fakultas Ilmu Pendidikan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

ABSTRAK

Koperasi ialah perkumpulan manusia seorang-seorang yang dengan sukanya sendiri


hendak bekerja sama untuk memajukan ekonominya. Dari definisi tersebut kita dapat
mengetahui tujuan koperasi yaitu untuk memajukan ekonomi guna mencapai
kesejahteraan rakyat. Koperasi merupakan suatu usaha dalam memecahkan masalah
ekonomi. Dalam mengatasi hal tersebut dibutuhkanlah sebuah manajemen yang baik
untuk dapat mengelola koperasi agar tujuan utama koperasi tercapai. Dengan
manajemen koperasi yang baik maka kelangsungan hidup koperasi dapat bertahan lama
dan juga siap dalam menghadapi setiap tantangan kedepan seperti Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap peran strategis
manajemen koperasi dalam mensejahterakan anggotanya serta mengetahui peran
strategis manajemen koperasi dalam menghadapi arus MEA 2015. Metode penelitian
yang digunakan adalah dengan metode library research, yaitu dengan mengungkap
peran strategis manajemen koperasi berdasarkan data sekunder yang tersedia.

Kata Kunci: Peran Strategis Manajemen, Manajemen Koperasi, MEA.

PENDAHULUAN
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa koperasi merupakan sebuah lembaga
ekonomi yang memiliki arti tersendiri bagi masyarakat, dimana pada koperasi terdapat
unsur kekeluargaan yang mana unsur ini merupakan dasar yang kokoh karena
berazaskan kepercayaan sesama anggota dalam mengelola koperasi. Hal tersebut yang
membedakan manajemen koperasi dengan manajemen lembaga ekonomi lainnya.
Dalam menghadapai tantangan MEA ini manajemen koperasi haruslah berpikir
cerdas dalam menentukan kebijakan yang akan diambil. Selain koperasi merupakan
lembaga ekonomi yang berwatak sosial , koperasi juga merupakan lembaga ekonomi
yang memiliki kekuatan yang patut diperhitungkan. Oleh karena itu sangat disayangkan
apabila seorang manajer koperasi tidak dapat berperan sebagaimana mestinya. Dengan
menjalankan fungsi utama manajemen yakni, perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengendalian maka seorang manajer sudah sepantasnya dapat
menentukan arah kemana akan dijalankannya koperasi tersebut.
Tujuan penulisan ini adalah mengetahui peran manajemen koperasi dalam
memepersiapkan masyarakat Indonesia dalam menghadapi persiang MEA 2015
mendatang. Manfaat penulisan ini adalah guna mempersiapkan masyarakat Indonesia
yang selalu berinovasi dan memiliki kreatifitas yang baik dibawah naungan manajemen
yang cakap agar masyarakat Indonesia dapat bersaingan dengan bangsa lain agar
kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat tercapai.

170
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Koperasi
Koperasi didasari baik dari inspirasinya maupun gerakannya yang mula-mula timbul
merupakan suatu defensive reflex (gerakan otomatis untuk bela diri) dari sekelompok
masyarakat terhadap tekanan-tekanan hidup yang dilakukan oleh sekelompok orang lain
dalam masyarakat , baik yang berupa dominasi sosial maupun yang berupa eksploitasi
ekonomi, sehingga menimbulkan rasa tidak aman bagi kehidupan mereka. Bangkit dari
permaslahan tersebut maka munculah koperasi yang mana menurut Prof. R.S
Soeriaatmadja, dalam kuliahnya pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
memberikan definisi koperasi sebagai berikut, ― koperasi ialah suatu perkumpulan dari
orang-orang yang atas dasar persamaan derajat sebagai manusia, dengan tidak
memandang haluan agama dan politik secara suka rela masuk, untuk sekedar memenuhi
kebutuhan bersama yang bersifat kebendaan dan tanggungan bersama.‖.
Perangkat Organisasi Koperasi
Menurut undang-undang No.12/1967 tentang pokok-pokok Perkoprasian perangkap
organisasi koperasi terdiri dari Rapat anggota, Pengurus dan Badan Pemeriksa
sedangkan menurut Undang-undang No.25/1992 tentang Perkoperasian perangkat
organisasi koperasi terdiri dari unsur, Rapat Anggota, Pengurus dan Pengawas. Jadi
baik menurut Undang-undang No.25/1992 maupun menurut Undang-undang
NO.12/1967, pengelola atau manajer tidak dimasukan dalam perangkat koperasi. Hal ini
dapat kita pahami mengingat adanya unsur demokrasi koperatif yang terkandung
didalam koperasi yaitu bahwa kemudi dan tanggung jawab dari pengelolaan koperasi itu
berada ditangan para anggotanya, sedangkan manajer adalah bukan anggota koperasi.
Tetapi dengan menunjuk kepada azas manajemen usaha, disamping pentingnya manajer
atas keberhasilan usaha maka wajarlah kalau manajer itu kita masukan sebagai salah
satu komponen dari manajemen koperasi.

METODOLOGI
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini melalui studi literatur atau studi pustaka. Studi
pustaka merupakan kegiatan pengumpulan data yang berasal dari karya ilmiah, text
book, pelaporan, peraturan perundang-undangan dan tulisan-tulisan yang berhubungan
dengan makalah. Studi pustaka atau studi literatur dimaksudkan untuk mendapatkan
gambaran mengenai peran manajemen koperasi.
Data skunder yang digunakan dalam pengolahan data adalah data peran strategis
manajemen koperasi yang telah diolah dari hasil wawancara.

PEMBAHASAN
PERENCANAAN (PLANNING)
Pengertian dan Arti penting
―Perencanaan‖ adalah menetapkan suatu cara untuk bertindak sebelum tindakan itu
sendiri dilaksanakan.Dengan kata lain bahwa dalam perencanaan hendaknya orang
harus berfikir dahulu tentang apa yang akan dilakukan, bagaimana cara melakukannya
serta tanggung jawab terhadap kegiatan tersebut. Oleh karena itu perencanaan sangat
penting bagi organisasi dalam rangka mencapai tujuannya.
Syarat – Syarat Perencanaan yang baik
1. Berdasarkan pada alternatif
Agar dapat menetapkan perencanaan yang baik maka sebelumnya agar disusun
berbagai alternative, misalnya untung dan rugi kelebihan dan kekurangannya,

171
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

kendala dan dukungannya, sehingga dapat menentukan perencanaan yang paling


baik.
2. Harus realistis
Bila perencanaan tidak realistis, mungkin baik diatas kertas saja akan tetapi tidak
dapat dilaksanakan dalam prakteknya.
Misalnya : keterbatasan dalam teknologi, keterbatasan sumber dana, tenaga kerja,
dsb.
3. Harus ekonomis
Disamping keterbatasan diatas, juga harus mempertimbangkan tingkat ekonomis
dalam suatu rencana.Hindarkan faktor pemborosan, biaya, waktu, tempat, dsb.
4. Harus luwes (fleksibel)
Dalam hal ini perencanaan harus fleksibel, artinya setiap saat dapat dievaluir sesuai
dengan perkembangan organisasi, situasi dan kondisi pada waktu tersebut.Pada
dasarnya perencanaan itu disusun berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, namun
dalam prakteknya sering terjadi berbagai penyimpangan yang tidak dapat
dihindarkan.
5. Didasari partisipasi
Dalam pembuatan perencanaan hendaknya dapat diikutkan berbagai pihak untuk
memperoleh masukan (input) agar lebih sempurna. Dengan adanya partisipasi,
perusahaan akan memperoleh manfaat ganda, karena disamping rencana menjadi
lebih baik, juga dapat menambah semangat kerja para karyawan.

PENGORGANISASIAN (ORGANIZING)
Pengertian Organisasi
―Organisasi adalah sekelompok manusia yang bekerjasama, dimana kerjasama
tersebut dicanangkan dalam bentuk struktur organisasi atau gambaran skematis tentang
hubungan kerja dalam rangka mencapai tujuan tertentu‖
Dwight Waldo mendefinisikan bahwa: ―Organisasi adalah struktur hubungan
antar manusia berdasarkan wewenang dan kelanggengan dalam sebuah system
administrasi‖.
Azas-azas Organisasi
Azas-azas organisasi adalah pedoman yang sejauh mungkin hendaknya dilaksanakan
agar diperoleh struktur organisasi yang baik dan aktivitas organisasi dapat berjalan
lancar.
ACTUATING (PENGGERAKAN UNTUK BEKERJA)
Koperasi hakekatnya dibangun untuk memberdayakan masyarakat dari kesulitan,
kekurangan, kelemahan dan kemiskinan.Misi ini sangat erat kaitannya dengan pola
pengaturan kelembagaan dari masyarakat itu (komunitas anggota koperasi) sendiri
membangun kesejahteraan secara bersama-sama. Untuk mencapai tujuan koperasi
tersebut maka koperasi harus menunjukkan jati dirinya yang mandiri.
PENGAWASAN (CONTROLLING)
Pengawasan adalah merupakan tindakan atas proses kegiatan untuk mengetahui
hasil pelaksanaan, kesalahan, kegagalan, kemudian dilakukan perbaikan dan mencegah
terulangnya kembali kesalahan tersebut.
H. Koontz dan CO Donnel, mengatakan bahwa : ―Perencanaan dan Pengawasan
ibarat kedua sisi dari mata uang yang sama (planning and controlling are the two sides
of the same coin).‖.

172
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Fungsi Manajemen Bagi Koperasi


1. Manajer ;
Manajer adalah seorang tenaga profesional yang memiliki kemampuan sebagai
pemimpin tingkat pengelola, yang diangkat dan diberhentikan oleh Pengurus setelah
dikonsultasikan dengan Pengawas.
2. Tugas, fungsi dan tanggung jawab Manajer ;
a. Tugas manajer adalah mengkoordinasikan seluruh kegiatan usaha, administrasi,
organisasi dan ketatalaksanaan serta memberikan pelayanan administratif
kepada Pengurus dan Pengawas,
b. Untuk melaksanakan tugas tersebut, manajer berfungsi :
1). Sebagai pemimpin tingkat pengelola,
2). Merencanakan kegiatan usaha, kepegawaian dan keuangan,
3). Mengkoordinasikan kegiatan kepala-kepala unit usaha, kepala sekretariat
dan kepala keuangan dalam upaya mengatur, membina baik yang bersifat tehnis
maupun administratif
c. Berwenang mengambil langkah tindak lanjut atas kebijaksanaan yang telah
ditetapkan oleh Pengurus
d. Bertanggungjawab kepada Pengurus melalui Ketua.
3. Hubungan Kerja Manajer :
a. Secara vertikal, Manajer mengadakan hubungan kerja keatas dengan Pengurus,
Pengawas untuk mengajukan usulan, pendapat dan segala rencana dalam upaya
pengembangan usaha dan penciptaan uaha baru.
b. Hubungan kerja kebawah, dengan seluruh jajaran pengelola untuk melakukan
kegiatan mengatur, membina dan memberikan bimbingan dan pengawasan
dalam upaya melaksanakan seluruh kebijaksanaan Pengurus dan Pengawas.
c. Secara horisontal mengadakan hubungan kerja dengan seluruh jajaran manajer
setingkat Pengelola.

4. Tata Kerja Manajer :


a. Manajer dapat menghadiri Rapat Anggota, Rapat Pengurus dan Rapat
Gabungan,
b. Manajer membantu Sekretaris dalam menyiapkan bahan-bahan yang dibahas
dalam Rapat,
c. Manajer membantu mencatat seluruh keputusan atau kebijaksanaan yang
diambil dalam rapat dan merahasiakannya,
a. d.Manajer mengatur pelaksanaan kegiatan usaha operasional atas keputusan
yang telah ditetapkan dalam rapat,
d. Manajer melaporkan seluruh pelaksanaan tugas kepada Pengurus,
e. Manajer bertanggungjawab atas seluruh pelaksanaan tugas.

SIMPULAN
Koperasi merupakan sebuah lembaga eknonomi yang berazaskan kekeluargaan
yang mana tujuan utama dari koperasi itu sendiri adalah untuk mensejahterakan
anggotanya. Sebagai lembaga ekonomi maka koperasi tidak bisa lepas dari peran
penting manajemennya dimana pada koperasi peran manajemen selain melakukan
fungsinya yakni, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian.
Manajemen koperasi juga harus paham mengenai azas dasar koperasi yang
dipegang teguh yakni kekeluargaan sehingga setiap keputusan yang diambil haruslah
berdasarkan rapat anggota yang mana setiap suara anggota patut didengar sebagai wujud
demokratis dalam koperasi, sehingga setiap permasalahan dan tantangan dapat

173
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

terselesaikan dengan cara mufakat. Berhubungan dengan tantangan koperasi sebagai


lembaga ekonomi juga tidak luput dari setiap tantangan yang menghadang baik dari
dalam negeri maupun luar negeri. Pada tahun 2015 mendatang bangsa Indonesia akan
menghadapi terobosan baru dalam pengembangan ekonomi yakni Masyarakat Eknomi
ASEAN (MEA) dimana dengan adanya MEA negara yang berada di kawasan Asia
Tenggara menjadi seperti tanpa batas. Hal tersebut dapat membawa dampak positif dan
negatif bagi Indonesia.
Oleh karena itu persiapan yang matang baik dari individu itu sendiri maupun
manajemen dari lembaga terkait haruslah memiliki perencanaan yang matang , begitu
pula dengan koperasi dimana koperasi pastinya harus siap dalam menghadapi setiap
tantangan yang ada termasuk MEA. Manajemen koperasi wajib menilai peluang emas
yang ada untuk menjadi sebuah lahan yang pastinya dapat membawa kesejahteraan para
anggotanya.Manajemen koperasi juga haruslah dapat membina anggota baik dari segi
mental maupun keahlian guna sebagai tombak dalam menghadapi MEA.

SARAN
1. Hendaknya dengan manajemen Koperasi pemerintah harus dapat melakukan
pemerataan koperasi diseluruh Indonesia agar masyarakat Indonesia dapat memiliki
wadah untuk berinovasi dan berkarya.
2. Pelatihan bagi para anggota koperasi hendaknya disesuaikan dengan peluang dan
tuntutan yang ada sesuai dengan keadaan dan kebijakan ekonomi yang berlaku.
3. Pendidikan koperasi dan UMKM hendaknya diberikan sejak dini bagi anak
Indonesia guna menciptakan generasi yang memiliki persepsi sebagai bangsa yang
produktif.
4. Hendaknya pemerintah membantu UMKM dalam meningkatkan kesadaran
masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai produk dalam negeri melalu pembinaan
yang efisien
5. Setiap UMKM hendaknya memiliki standar produk tersendiri agar produk UMKM
yang dihasilkan mampu dan layak bersaing dengan produk luar negeri.

DAFTAR PUSTAKA
Handoko, T.Hani , 2009 ,Manajemen ,BPFE, Yogyakarta.

Hendrojogi, 2002 ,Koperasi Azas-Azas dan Praktek, PT Raja Grafindo, Jakarta.

Sinaga , Pariaman & Siti Aedah , 2008 ,Koperasi dalam Sorotan Peniliti ,Pt Raja
Grafindo, Jakarta.

www.asean.org
seputarpengertian.blogspot.in/2014/08/Pengertian-karakteristik-masyarakat-ekonomi-
asean.html?m=1
http://www.merdeka.com/uang/5-ancaman-pasar-bebas-asean-2015-bagi-indonesia.html
http://asean.gunklaten.com/2013/06/Pengertian-Komunitas-ASEAN-2015.html
http://www.theglobalreview.com/content_detail.php?lang=id&id=15030&type=6#.U5g
nxPkgTE
http://www.academia.edu
www.wikipedia.com/pengertian-koperasi.html
agungwybawa.blogspot.com/program-koperasi-menghadapi-tantangan-global
abdulazizsansori40.blogspot.com/sharing-pengetahuan-koperasi

174
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PENGARUH ORIENTASI PASAR BERBASIS KEUNIKAN SUMBER DAYA


DALAM MENINGKATKAN
KINERJA PEMASARAN
Studi empiris pada: Industri Kecil Pengolahan Rumput Laut
di Provinsi Sulawesi Selatan

M. Risal1)
Salju2)
1)
Mahasiswa S3 Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran
2)
Mahasiswa S3 Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia

mrisal23@gmail.com
sljstie@yahoo.com

ABSTRACT

The purpose of this paper is to examine the marketing concept of uniqueness based
Market Orientation Resources in improving marketing performance, an empirical study
was conducted in Small Industrial Processing Seaweed in South Sulawesi province. The
approach in this study is a dimensional approach, with a review of the dimensions of the
variables contained in the uniqueness based market orientation and performance of
marketing resources on the small seaweed processing industry in South Sulawesi with a
conceptual model approach. This paper exploring the implications of academic
marketing strategic concept-based approach to market orientation uniqueness of
resources to improve marketing performance. Practical implications will give you some
ideas and suggestions in the decision to implement market-based orientation uniqueness
of resources on marketing performance on a small industrial processing of seaweed in
South Sulawesi Province. The original contribution of this paper is the creation of a
conceptual model of the dimensions of market orientation based on the uniqueness of
the resources in improving the performance of marketing in small industry in South
Sulawesi Propvinsi
Keyword: Market Orientation, uniqueness Resources, and Performance Marketing

PENDAHULUAN
Era globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan oleh hampir
seluruh negara di dunia. Dalam era ini, batas antar negara dalam ekonomi menjadi
semakin sulit sehingga dikotomi antara pasar domestik dan pasar dunia menjadi
semakin tidak relevan. Globalisasi ekonomi ini mau tidak mau mendorong persaingan
usaha yang semakin ketat. Salah satu pendekatan utama dalam mengatasi tantangan
era globalisasi yang semakin dinamis adalah peningkatan daya saing di tingkat daerah
sebagai dasar pertumbuhan nasional. Kewenangan yang dimiliki akan mendorong
daerah untuk dapat memanfaatkan potensi masing-masing daerah yang tersedia secara
optimal (KKP, 2013).
Salah satu keunggulan daerah Provinsi Sulawesi Selatan adalah rumput laut.
Rumput laut merupakan salah satu komoditi unggulan yang dibudidayakan dan
dikembangkan sebagai komoditas industrialisasi yang volume produksinya sangat besar.

175
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Pengembangan budidaya rumput laut melalui kebijakan industrialisasi disebabkan


karena permintaan pasar dunia yang terus meningkat. Industrialisasi rumput laut tidak
hanya sebatas untuk meningkatkan devisa negara, tetapi juga untuk memberikan
lapangan pekerjaan dan kesejahteraan bagi pembudidaya rumput laut yang umumnya
merupakan masyarakat yang tinggal diwilayah pesisir.
Permintaan pasar terhadap rumput laut terus meningkat setiap tahunnya.
Permintaan total rumput laut diperkirakan sekitar 40.000 ton per tahun. Total
permintaan tersebut meliputi kebutuhan dalam negeri sekitar 22.000 ton per tahun dan
untuk ekspor sekitar 18.000 ton per tahun (KKP, 2013).
Menurut Indriyono Soesilo, (2013) produksi rumput laut Indonesia tahun 2012
sudah mencapai 5,1 juta ton. Ini naik 18,6 persen dibandingkan dengan tahun 2011
sebesar 4,3 juta ton. Provinsi Sulawesi Selatan merupakan penghasil utama rumput laut
terbesar, disusul Jawa Barat dan Jawa Timur. Namun, beberapa daerah lainnya seperti
Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sudah mulai melakukan budidaya
komoditas rumput laut.

Tabel 1
Nilai dan Volume Produksi Rumput Laut di Indonesia
Tahun 2009-2013

Tahun Volume Produksi Nilai Produksi


(Ton) (Rp. Juta)
2009 2.963.556 1.801.800
2010 3.915.017 1.870.960
2011 5.170.201 2.452.940
2012 6.514.854 3.570.000
2013 9.298.474 5.250.000
Sumber: Kementerian Perikanan dan Kelautan (2014)

Produktivitas rumput laut di Provinsi Sulawesi Selatan terus mengalami


peningkatan dari tahun 2009 hingga 2013. Demikian juga dengan penjualan rumput
laut. Peningkatan produksi dan penjualan rumput laut di Tahun 2013 tidak diikuti
dengan peningkatan persetase pertumbuhan produksi dan penjualan yang mengalami
penurunan. Rincian produksi dan penjualan serta persentase pertumbuhan rumput laut di
Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel 1.2 di bawah ini.
Tabel 2
Produksi dan Penjualan Rumput Laut di Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun 2009-2013

Produksi Penjualan
Tahun
Ton % Rp (juta) %
2009 774.026 470.597
2010 1.245.771 37,87 595.345 20,95
2011 1.506.264 17,29 714.629 16,69
2012 2.104.446 28,42 1.153.191 38,03
2013 2.422.154 13,12 1.367.569 15,68
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan, 2014

176
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Berdasarkan Tabel 1.2 di atas, dapat dijelaskan bahwa produksi rumput laut
terus meningkat, dimulai pada tahun 2009 sebesar 774.024 ton hingga 2013 sebesar
2.422.154, akan tetapi persetase pertumbuhan produksi pada tahun 2013 hanya
mencapai 13,12 persen, nilai ini lebih kecil jika di bandingkan dengan persetase
pertumbuhan produski rumput laut pada tahun 2010 hingga 2012. Hal yang sama juga
terjadi pada penjualan rumput laut yang terus meningkat, dimulai pada tahun 2009
sebesar Rp. 470.597,- ton hingga 2013 sebesar Rp. 1.367.569,- akan tetapi persetase
pertumbuhan penjualan pada tahun 2013 hanya mencapai 15,68 persen, nilai ini juga
lebih kecil jika di bandingkan dengan persetase pertumbuhan penjualan rumput laut
pada tahun 2010 hingga 2012.
Prospek investasi industri rumput laut di Provinsi Sulawesi Selatan masih sangat
besar, khususnya yang dikelolah oleh industri kecil (IK) yang mengolah rumput laut
menjadi produk olahan. Selain itu, pemerintah daerah telah memberikan perhatian
kepada industri kecil lebih produktif dalam meningkatkan kualitas produksi, akan tetapi
sebagian besar industri kecil pengolahan rumput laut masih memiliki kinerja yang buruk
dan berdampak pada produk kurang diminati konsumen.
Berdasarkan hasil observasi awal, lemahnya kinerja pemasaran diduga
disebabkan karena pada umumnya industri kecil masih memiliki kelemahan dalam
menciptakan kreasi nilai (value creation), karena produk yang dihasilkan,
cenderung belum sepenuhnya mengacu kepada tuntutan pasar, belum terciptanya
keunikan produk yang lebih kompetitif dibandingkan dengan produk pesaing,
sulitnya menciptakan inovasi produk yang sulit ditiru oleh pihak pesaing, belum
kuatnya jalinan kerjasama industri dengan berbagai stakeholders yang terkait, serta
lemahnya perusahaan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis, padahal
penciptaan kreasi nilai menurut Kotler dan Keller (2012:58) memiliki tiga langkah
penting yakni penciptaan benefit bagi pelanggan, memiliki domain dalam bisnis dan
terciptanya kemitraan yang memadai dengan berbagai pihak terkait.
Barney dan Arikan (2000) dalam Purwohandoko (2009) mengungkapkan
pandangan yang berbeda mengenai keunikan sumber daya yang masih lemah dalam
membentuk atau menghasilkan keunggulan bersaingnya bila mengabaikan karateristik
pasar dan fokus kedalam perusahaan, sehingga menimbulkan resiko bagi
keberlangsungan perusahaan.
Selain itu, ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh peneliti mengenai
orientasi pasar dan keunikan sumber daya terhadap kinerja pemasaran, diantaranya John
Tokarczyk, et al, (2007), orientasi pasar dengan keunikan sumber daya seperti sumber
daya tidak berwujud, orientasi pasar berhubungan positif dengan kinerja perusahaan,
sumber daya yang unik memberikan dukungan terhadap pengelolaan perusahaan, Bulent
Menguc and Seigyoung Auc, (2007), orientasi pasar dengan inovasi berbasis sumber
daya dimana sumber daya merupakan basis keunggulan perusahaan untuk menghasilkan
kinerja yang unggul Jatin Pandey dan Darshana Pathak, (2013), orientasi pasar dan
segmentasi, target pasar dan posisi pasar merupakan strategi pemasaran yang digunakan
membagi beberapa segmen pasar yang potensial terhadap pelanggan organisasi.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
1. Bagaimana pengaruh orientasi pasar dan keunikan sumber daya pengaruhnya
terhadap kinerja pemasaran pada industri kecil pengolahan rumput laut di Provinsi
Sulawesi Selatan.
2. Bagaimana model konseptual meningkatkan kinerja pemasaran melalui keunian
sember daya pada industri kecil pengolahan rumput laut di Provinsi Sulawesi
Selatan.

177
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Pengaruh orientasi pasar dan keunikan sumber daya berpengaruh terhadap kinerja
pemasaran pada industri kecil pengolahan rumput laut di Provinsi Sulawesi Selatan.
2. Mengajukan model konseptual pada orientasi pasar dan keunikan sumber daya
dalam meningkatkan kinerja pemasaran pada industri kecil pengolahan rumput laut
di Provinsi Sulawesi Selatan.

PEMBAHASAN
Orientasi Pasar
Narver dan Slater, (1990) dalam Prakoso, (2005) menyatakan bahwa orientasi
pasar terdiri dari 3 komponen perilaku yaitu orientasi pelanggan, orientasi pesaing dan
koordinasi interfungsional. Orientasi pelanggan dan orientasi pesaing termasuk semua
aktivitasnya dilibatkan dalam memperoleh informasi tentang pembeli dan pesaing pada
pasar yang dituju dan menyebarkan melalui bisnis, sedangkan koordinasi
interfungsional didasarkan pada informasi pelanggan serta pesaing dan terdiri dari usaha
bisnis yang terkoordinasi.
Sedangkan Uncles (2000: 1) mengartikan orientasi pasar sebagai suatu proses
dan aktivitas yang berhubungan dengan penciptaan dan pemuasan pelanggan dengan
cara terus menilai kebutuhan dan keinginan pelanggan. Penerapan orientasi pasar akan
membawa peningkatan kinerja bagi perusahaan tersebut.
Berdasarkan pendapat Nerver dan Slater, (1990) tersebut di atas, maka orientasi
pelanggan memiliki 3 komponen yang dapat dilihat pada table 3 sebagai berikut:
Tabel 3 Komponen Orientasi Pasar
No Komponen Item Spesifik
1 Orientasi Pelanggan - Komitmen Pelanggan
(Market Orientation) - Penciptaan Nilai Pelanggan
- Pemahaman Kebutuhan Pelanggan
- Tujuan Kepuasan Pelanggan
- Pengukuran Keputusan Pelanggan
- Layanan Purnah Jual
2 Orientasi Pesaing - Wiraniaga Berbagai Informasi Pesaing
(competitor Orientation) - Bereaksi Cepat terhada Tindakan Pesaing
- Manajer Puncak Mendiskusikan Strategi
Pesaing
- Mentargetkan Peluang bagi Keunggulan
Kompe-
titif
3 Koordinasi - Kontak Pelanggan
Interfungsional - Informasi dibagi antar fungsi
(Interfunctional - Integrasi Fungsional dalam strategi
Coordination) - Semua Fungsi Berkontribusi terhadap nilai
pela-
nggan
- Berbagi Sumberdaya dengan unit bisnis
Sumber: Narver dan Slater, 1990

Berbagai komponen orientasi pasar yang dikembangkan oleh beberapa peneliti


pada dasarnya mengadopsi dimensi orientasi pasar yang dipopulerkan oleh Narver &

178
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Slater (1990). Dalam berbagai penelitian, para peneliti mengkombinasikan dan


memodifikasi kedua konsep tersebut disesuaikan dengan tujuan penelitian.
Keunikan Sumber Daya
Menurut Cravens dan Piercy (2009: 5) keunikan suatu sumber daya
merupakan sekumpulan aspek kompleks yang terdiri atas proses organisasi,
akumulasi pengetahuan dan keahlian, aktivitas yang terkoordinasi dan pemanfaatan
aset.
Menurut David, (2011) untuk mendapatkan keunggulan bersaing dari dalam
perusahaan, sumber daya internal perusahaan jauh lebih penting daripada
mempertahankan sumber daya eksternal untuk mempertahan keunggulan bersaing.
Untuk mendapatkan keunggulan bersaing, kinerja organisasi akan ditentukan oleh
berbagai sumber daya internal yang dapat dikelompokkan antara lain: sumber daya
fisik, sumber daya manusia, dan sumber daya organisasi. Wheelen dan Hunger
(2012:138) mengemukakan bahwa untuk mengukur apakah suatu sumber daya yang
dimiliki perusahaan merupakan kekuatan atau kelemahan dapat dilakukan dengan
cara membandingkan sumber daya itu dengan sumber daya yang dimiliki sebelumnya,
atau dengan sumber daya yang dimiliki pesaing utama dan industri keseluruhan.
Keunikan atau kompetensi sumber daya dapat diciptakan melalui tiga bentuk aset
yakni meliputi aset fisik, tanah, peralatan, dan lokasi, aset SDM, jumlah pegawai
dan keahlian, serta aset organisasi yang meliputi budaya dan reputasi.
Atas dasar pemaparan konsep mengenai keunikan sumber daya itu sendiri
berdasarkan pendapat para ahli dapat terungkap pada tabel berikut ini :

Tabel 4 Konsep Keunikan Sumber Daya


No Penulis Konsep
1 Hill dan Jones Dua kategori sumber daya perusahaan, yaitu: asset
(2004) tangible dan asset intangible
2 Collin dan Tiga kategori sumber daya perusahaan, yaitu: aset
Montgomery berwujud (asset tangible), aset tidak berwujud ( asset
(2005) intangible) dan kapabilitas organisasi (organization
capability)
3 Cravens dan Keunikan suatu sumber daya merupakan
Piercy (2009) sekumpulan aspek kompleks yang terdiri atas proses
organisasi, akumulasi pengetahuan dan keahlian,
aktivitas yang terkoordinasi dan pemanfaatan aset.
4 Hitt et al (2011 ) Pada umumnya sumber daya perusahaan
diklasifikasikan menjadi tiga kategori; meliputi
sumber daya fisik, sumber daya manusia dan sumber
daya organisasi
5 Pearce dan Ada tiga sumber daya dasar yang diperlukan oleh
Robinson (2011) pihak perusahaan yakni asset berwujud, asset tidak
berwujud dan kapabilitas organisasi.
6 Wheelen dan Keunikan atau kompetensi sumber daya dapat
Hunger (2012) diciptakan melalui tiga bentuk asset yakni meliputi
asset fisik: tanah, peralatan, dan lokasi, asset SDM:
jumlah pegawai dan keahlian, serta asset organisasi
yang meliputi
budaya dan reputasi.
Sumber: Dikembangkan oleh Peneliti

179
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Dengan pendekatan konsep tersebut di atas, strategi implementasi industri kecil


(IK) pengolahan rumput laut harus dilakukang dengan beberapa pendekatan antara lain:
Sumber daya manusia yang berpengetahuan dan terampil serta pemanfaatan teknologi
adalah modal dasar untuk melakukan proses industri, yang akan menyebabkan
terjadinya/terciptanya nilai tambah. Pembinaan dan pengembangan (IK) pengolahan
rumput laut dilakukan melalui pendekatan tersebut (proses industri dan proses bisnis)
dalam satu sistem rantai proses.
Kinerja Pemasaran
Kinerja Pemasaran adalah ukuran hasil yang dicapai oleh perusahaan dari
aktivitas-aktivitas pemasaran atau operasi perusahaan (Clark, et al 2006, Ferdinand,
2000, dan Zinkhan 2002), berupa: ukuran-ukuran pasar, dan persepsi nilai pelanggan
serta keuntungan yang diperoleh dari aktivitas pemasaran tersebut. Dijelaskan pula oleh
Egan, (2001) bahwa kinerja pemasaran dapat dicerminkan dari perolehan pangsa pasar,
pertumbuhan pangsa pasar, pertumbuhan penjualan, pertumbuhan keuntungan dan
pelanggan akhir.
Zhou et al, (2005) mengukur kinerja pemasaran bagaimana perusahaan
tersebut mampu menghasilkan keuntungan dari masing-masing pelanggan, dan posisi
perusahaan dalam persaingan. Kinerja pemasaran dapat pula diukur dari pertumbuhan
volume penjualan, pangsa pasar, keuntungan yang diperoleh dari aktivitas pemasaran,
dan nilai pemegang saham.
Sementara, (Ferdinand 2000) menjelaskan bahwa untuk mencapai kinerja
pemasaran yang berkesinambungan (sustainable marketing performance) dapat
dihasilkan dari keunggulan bersaing yang diperoleh oleh dari aktivitas-aktivitas
pemasaran. Lebih lanjut dinyatakannya (Ferdinand 2000) bahwa sasaran pemasaran
yaitu kinerja pemasaran berkelanjutan dapat dilihat dari berbagai dimensi yaitu
pencapaian volume penjualan, porsi pasar, profitabilitas baik jangka pendek maupun
jangka panjang.
Kinerja pemasaran sangat penting untuk kinerja perusahaan secara
keseluruhan, termasuk diantaranya adalah IK (Langerak, 2003; Kara et al, 2005.), yang
terwujud dalam indikator seperti brand awareness yang kuat, ekspresi preferensi
konsumen, dan tingkat saham dalam bursa pasar (Grønholdt dan Martensen, 2006).
Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli pemasaran telah mengembangkan jaringan
yang potensial untuk ditingkatkan pada kinerja pemasaran untuk pengembangan (IK).
Secara khusus, studi ini telah meneliti
berbagai perusahaan kecil yang dikelolah secara pribadi dan mengatasi kendalanya serta
menemukan tujuan untuk membangun hubungan dengan
orang lain atau jaringan pribadi (Gilmore et al, 2000).
Dengan demikian, kinerja pemasaran adalah hasil kerja yang dicapai oleh
suatu perusahaan dalam upaya mencapai tujuan pemasaran, yaitu menghasilkan
kepuasan bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, terutama pelanggan dan industri
itu sendiri.

180
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Tabel 5 Dimensi Kinerja Pemasaran


No Author Dimensi
1 Ferdinand, 2000 Achievement of sales volume, market share,
profitability both short-term and long-term
2 Ambler dan Doyle Growth in sales volume, market share, profits
2000 derived from the marketing activity and share holder
value
3 Egan, 2001 Market share, growth in market share, sales growth,
profit growth and customer end
Sumber : Dikembangkan oleh Peneliti

Model Konseptual
Dari uraian sebelumnya, untuk menghadapi beberapa tantangan pemasaran
dalam industri kecil dapat di atasi dengan pendekatan orientasi pasar dan keunikan
sumber daya. Orientasi pasar dan keunikan sumber daya berpengaruh dalam
meningkatkan kinerja pemasaran pada industri kecil pengolahan rumput laut.
Komponen orientasi pasar adalah orientasi pelanggan, orientasi pesaing, dan
koordinasi interfungsional, sedangkan komponen keunikan sumber daya antara lain
sumber daya fisik, sumber daya manusia, dan sumber daya organisasi, serta komponen
kinerja pemasaran antara lain volume penjualan, pangsa pasar, dan profitabilitas.
Untuk model konseptual meningkatkan orientasi pasar melalui keunikan sumber
daya dalam meningkatkan kinerja pemasaran industri kecil pengolahan rumput laut di
Provinsi Sulawesi Selatan sebagai berikut:

Orientasi Pasar
(X1)
Orienasi Pelanggan
Orientasi Pesaing
Koordinasi Interfungsional

Kinerja Pemasaran
(Y)
Volume Penjualan
Pangsa Pasar
Profitabilitas
Keunikan Sumber Daya
(X2)
Sumber Daya Fisik
Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Organisasi
Gambar 1. Model Konseptual

SIMPULAN
Untuk meningkatkan orientasi pasar terhadap kinerja pemasaran, maka
dilakukan pendekatan keunikan sumber daya. Dengan pendekatan tersebut, keunikan
sumber daya merupakan unsur yang paling penting di dalam meningkatkan kinerja
181
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

pemasaran dengan melalui perbaikan sumber daya fisik, sumber daya manusia, dan
sumber daya organisasi sehingga tercipta inovasi produk, proses pemasaran, serta
stategi dan organisasi.
Dengan model konseptual yang diajukan, diharapkan terjadi peningkatan
penjualan, pangsa pasar dan profitabilitas perusahaan meningkat.
Makalah ini terbatas pada konseptual model, untuk itu perlu dilakukan pengujian
secara kuantitatif agar diketahui bagaimana kekuatan model yang dibentuk.

DAFTAR PUSTAKAN
Barney dan Arikan, 2000 (dalam Purwohandoko, 2009). Integrasi Sumberdaya Internal
dan Paar sebagai Basis Stategi Bersaing Pada Perudahaan Air Minum Dalam
Kemasan (AMDK) di Jawa Timur.

Bulent Menguc and Seigyoung Auc, 2007. Creating a Firm-Level Dynamic Capability
through Capitalizing on Market Market Orientation an
Innovativeness,Academy of Marketing Science. Journal; Winter, 2006; 34, 1;
ABI/INFORM Complete pg. 63

Clark, 2006. Pension fund trustee competence: decision making in problems relevant to
investment practice. Journal of Pension Economics and Finance, 5, 91-110

Cravens, David W and Nigel. F Piercy, 2009. Strategic Marketing. 9th Edition. New
York: Mc Graw-Hill.

David. 2011. Strategic Management, Concepts and Cases, 13th Ed. Prentice Hall.

Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Selatan., 2008

Egan, 2001. Relationship Marketing. Prentice Hall.

Ferdinand, Augusty, 2002. ―Sustainable Competitive Advantage : Sebuah


Eksplorasi Model konseptual‖. Fakultas Ekonomi Universitas
Diponegoro. Semarang.
Grønholdt, L. & Martensen, 2006. Key marketing performance measures. The Marketing
Review, 3:243-252.

Gilmore, 2000. SME marketing in practice. Marketing Intelligence & Planning, 19 (1), 6-
11.

Indriyono Soesilo, 2013. Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen
Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Jatin Pandey dan Darshana Pathak, 2013. A Predictive Methodology of Rough Set
Theory Used to Analyze Market Segmentation and Competitive Environment
for Supermarket, The IUP Journal of Marketing Management, Vol. XII, No.
3, 2013

John Tokarczyk, Eric Hanson, Mark Green, dan Jon Down, 2007. A Resource-Based
View and Market Orientation Theori Examination of the role of “Familis” in
Family Business. Journal Family Busines, Vol. XX, March, 2007.

182
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Kara, 2005. The Effect of a Market Orientation on Business Performance: A Study


of Small-Sized Service Retailers Using MARKOR Scale. Journal of Small
Business Management, 43, 2, 105–118.

KKP, 2013. Media Informasi Kelautan dan Perikanan.

Kotler dan Keller, 2012. Marketing Management, Fourteenth edition. Publishing as


Prentice Hall.

Langerak, 2003. Inter-firm relations in SME clusters and the link to marketing
performance, Emerald Group Publishing Limited

Narver, J.C & Slater, S.F, 1990. ― The Effect of a Market orientation on business
profitability”, Journal of Marketing, Vol 54, October, pp 20-35

Nerver dan Slater, 1990 (dalam Prakoso, 2005). Pengaruh Orientasi PAsar, Inovasi Dan
Orientasi Pembelajaran Terhadap Kinerja PErusahaan Untuk Mencapai
Keunggulan Bersaing (Studi Empiris PAda Industri Manufaktur Di
Semarang), Ekonomi Bisnis.

Uncles, 2000. The impact of internal and external market orientations on firm
performance. Journal of Strategic Marketing, 17(1). pp. 41-53.

Wheelen, T., & Hunger, J. D. (2012). Strategic Management and Business Policy.
Toward Global Sustainability. New Jersey: Pearson.

Zhou et al, 2005. The Efeect of strategic Orientations on Technology and Market Based
Break through Innova tions. Journal of Marketing.Vol.69 (April), pp.42-60.

183
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PADA UKM INDUSTRI


BATIK INDONESIA UNTUK KESIAPAN MENGHADAPI MEA 2015

Septin Alviana Sholekhan1


Tjipto Djuhartono2
1
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi
2
Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi

Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial


Universitas Indraprasta PGRI

ABSTRAK

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran strategis dalam pembangunan
ekonomi nasional serta berperan dalam perluasan lapangan kerja. Dalam krisis ekonomi
di Indonesia beberapa tahun yang lalu UKM terbukti lebih tangguh dalam menghadapi
krisis. Salah satu UKM yang berhasil adalah UKM Industri Batik. Batik adalah warisan
budaya Indonesia yang mulia. Seiring dengan kemajuan teknologi modern menuntut
para pelaku usaha untuk terus memajukan usahanya supaya UKM siap dan mampu
bersaing diMEA 2015.Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis
deskriptif, yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh studi literature dan pustaka.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan strategi pengembangan UKM
Industri Batik menggunakan analisis SWOT dalam menghadapi MEA 2015.

Kata Kunci :UKM, Industri Batik, Analisis SWOT dan MEA

PENDAHULUAN
Permasalahan yang sedang dihadapi UKM batik Indonesia yaitu masalah pemasaran
Batik Indonesia yang kurang diminati masyarakat luas karena kurang diketahui dan
masalah keterbatasan SDM yang menyebabkan batik indonesia belum berkembang
dengan baik. Padahal batik merupakan warisan indonesia yang adi luhung. Hampir
Setiap daerah di indonesia memiliki seni dan motif batik nya sendiri .Kebanyakan batik
memang dibuat di pulau jawa. Setidaknya terdapat lebih dari 6 jenis batik berbeda yang
diproduksi di Jawa. Batik yang paling popular berasal dari Yogyakarta dan Solo. Dua
kota ini memang dikenal sebagai pusat batik untuk area jawa tengah dan sekitanya.
Masih di pulau jawa, pekalongan , rembang, tuban, ponorogo dan tegal juga memiliki
kain batik yang tak kalah unik dari dua kota pusat batik. Menurut Dwi Rachmina dan
praningrum (2011), permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha kecil dapat diatasi
apabila terjadi keseimbangan antara upaya perbaikan dari sisi intern maupun ekstern.
Sisi ekstern yaitu dengan cara peningkatan kualitas sumber daya manusia (khususnya
pengusaha), sehingga pengusaha mampu meningkatkan pengelolaan usaha. sisi ekstern
yang terpenting yaitu perlu nya diciptakan iklim usaha yang sehat,pelaksanaan
kemitraan secara seimbang dan saling menguntungkan,arus informasi secara merata dan

184
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

kontinyu,serta peningkatan peran lembaga pendukung,baik asosiasi,pemerintahan,atau


lembaga lainnya.
Dari uraian diatas, maka UKM batik di Indonesia perlu menerapkan strategi
pengembangan usaha yang tepat untuk menghadapi persaingan di Masyarakata
Ekonomi Asean (MEA) 2015 dan dapat terus dikenal masyarakat luas. Penelitian ini
hanya mencakup pengkajian alternative startegi pengembangan usaha bagi batik
Indonesia yang berdasarkan analisis bauran pemasaran yang meliputi
product,price,place, and promotion serta analisis faktor internal dan eksternal UKM
batik Indonesia . Implikasi strategi diserahkan sepenuh nya kepada pengambil
keputusan pada usaha batik Indonesia.

TINJAUAN AKADEMIS
Definisi UKM Batik
UMKM merupakan salah satu bentuk kegiatan usaha dengan skala mikro kecil dan
mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional,oleh karena
selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan
dalam pendistribusian hasil hasil pembangunan. Dalam krisis ekonomi yang terjadi di
negara kita sejak beberapa tahun yang lalu, dimana banyak usaha berskala besar yang
mengalami stagnasi bahkan berhenti aktifitasnya, sektor UMKM terbukti lebih tangguh
dalam menghadapi krisi tersebut. Tetapi ada juga kelemahan UMKM yaitu dalam
mengakses informasi diduga terkait langsung dengan kondisi faktor internal UMKM
yang dibayangi UMKM yang sebenarnya memiliki pangsa pasar yang cukup besar di
dunia internasional, belum banyak diketahui oleh konsumen.
Terdapat begitu banyak jenis UKM tersebar di wilayah Indonesia, salah satunya
adalah UKM Batik. Batik merpakan produk warisan budaya yang sangat penting untuk
dilestarikan dan dikembangkan. Menjadikan batik sebagai ikon Indonesia mensyaratkan
adanya penguatan batik sebagai warisan budaya sekaligus penggalian potensi
ekonominya sebagai industri.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari
budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama batik merupakan warisan bangsa
indonesia yang adi luhung. Hampir setiap daerah di Indonesia Memiliki seni dan motif
batik sendiri. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun,
sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu.
Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini,
beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan
Surakarta. Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia (Jawa) yang sampai saat
ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden
Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Definisi Konsep Strategi Pengembangan
Perumusan strategi merupakan proses penyusunan langkah-langkah ke depan yang
dimaksudkan untuk membangun visi dan misi organisasi, menetapkan tujuan strategis
dan keuangan perusahaan, serta merancang strategi untuk mencapai tujuan tersebut
dalam rangka menyediakan customer value terbaik. Beberapa langkah yang perlu
dilakukan perusahaan dalam merumuskan strategi :
a. Mengidentifikasikan lingkungan yang akan dimasuki oleh perusahaan di masa
depan dan menentukan misi perusahaan untuk mencapai visi yang di cita citakan
dalam lingkungan tersebut.
b. Melakukan analisis lingkungan internal dan eksternal untuk mengukur kekuatan dan
kelemahan serta peluang dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan dalam
menjalankan misi nya .

185
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

c. Merumuskan faktor-faktor ukuran keberhasilan (key success factors) dari strategi


strategi yang di rancang berdasarkan analisis sebelum nya.
d. Menentukan tujuan dan target terukur,mengevaluasi berbagai alternatif strategi
dengan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki dan kondisi eksternal yang
dimiliki dan kondisi eksternal yang dihadapi.
Definisi Konsep
1. Bauran pemasaran
Suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang yang dapat
memuaskan keinginan dan jasa baik kepada konsumen saat ini maupun konsumen
potensial.
a. Produk
Strategi yang dilakukan oleh Industri UKM Batik Indonesia dalam memproduksi
serta mengembangkan nya . Produk yang dihasilkan oleh Industri UKM Batik
Indonesia ada banyak sekali salah satu yang kita ketahui yaitu batik cap dan batik
tulis.
b. Harga
Strategi yang dilakukan Industri UKM Batik Indonesia dalam menentukan harga
serta pertimbangan pertimbangan nya agar mampu bersaing di pasar global.
c. Promosi
Strategi dan media promosi yang digunakan oleh UKM Industri Batik Indonesia
dalam memperkenal kan dan mempublikasikan batik batik Indonesia ke kalangan
masyarakat Indonesia maupun Masyarakat dunia.
d. Tempat (distribusi)
Strategi Industri Batik Indonesia dalam mendistribusikan produk kepada konsumen.
2. Faktor internal perusahaan
Faktor internal perusahaan merupakan unit-unit dalam perusahaan yang harus
diperhatikan dan mempengaruhi keputusan dan kebijakan dari perusahaan. Indicator
factor internal perusahaan, antara lain :
a. Manajemen
Suatu proses perencanaan,pengorganisasian,pengkoordinasian, dan pengontrolan
sumber daya yang dilakukan Industri UKM batik Indonesia Untuk mencapai sasaran
(goals) secara efektif dan efisien.
b. Pemasaran
Kegiatan perencanaan,menentukan promosi dan mendistribusikan barang-barang
yang dihasilkan Industri UKM Batik Indonesia untuk memuaskan keinginan dan
mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan.
c. Produksi
Kegiatan yang di kerjakan UKM Batik Indonesia untuk menambah nilai guna suatu
benda atau menciptakan benda baru (inovasi) sehinggga lenih bermanfaat dalam
memenuhi kebutuhan.
d. Sumber daya manusia
Para tenaga kerja yang ikut dalam kegiatan usaha Industri Batik Indonesia.
e. Keuangan
Terkait dengan permodalan dan pencatatan atau pembukuan keuangan yang
dilakukan oleh UKM batik di Indonesia
3. Faktor Eksternal perusahaan
Faktor eksternal perusahaan adalah pelaku dan kekuatan diluar perusahan yang
mempengaruhi kemampuan manajemen dalam perusahaan untuk mengembangkan dan
memperthankan kelangsungan perusahaan.

186
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

a. Kondisi Ekonomi dan Sosial


Keadaan Ekonomi dan Sosial Masyarakat Indonesia yang dapat memperngaruhi
Industri UKM Batik Indonesia .
b. Teknologi
Information technology (IT) adalah merupakan teknologi apapun yang membantu
UKM Batik Indonesia dalam membuat,mengubah,menyimpan,mengkomunikasikan
dan/atau menyebarkan informasi.
c. Pembeli
Setiap Orang pemakai produk dari UKM Batik Indonesia baik bagi kepentingan diri
sendiri,keluarga,orang lain dan tidak untuk di perdagangkan . Ketika pembeli
melakukan pembelian banyak,kekuatan tawar menawar mempengaruhi.
d. Pesaing
Pihak Luar negeri atau negara asing yang mempunyai usaha sejenis
e. Pemasok
Pihak yang menyediakan bahan baku untuk pembuatan batik pada Industri Batik
Indonesia.

METODOLOGI
Metode penelitian adalah salah suatu teknis dan cara mencari , memperoleh ,
mengumpulkan dan mencatat data, baik berupa primer maupun data sekunder yang
digunakan untuk keperluan menyusun suatu karya ilmiah. Metode penelitian yang
digunakan kali ini adalah pendekatan deskriptif analisis yaitu dengan cara memberikan
gambaran mengenai data atau kejadian berdasarkan data yang diperoleh dari artikel,
internet, buku, koran atau kejadian berdasarkan fakta fakta yang tampak pada situasi.
Untuk mengetahui strategi yang tepat bagi UKM batik Indonesia maka peneliti
menggunakan pengukuran berupa matriks SWOT.

PEMBAHASAN
Gambaran Umum Hasil Analisa Strategi
A. Strategi Produk
1. Kualitas Produk. Untuk Peningkatan kualitas produk dengan cara meningkat kan
kompetensi UKM memperluas pengetahuan, menambah wawasan, dan
mengembangkan sumber daya manusia serta meningkat kan kualitas alat alat
produksi. Salah satu contoh bentuk startegi produk yaitu pada UKM batik
Indonesia di Semarang yang telah menerapkan green product yang menjadi tren
terbaru dalam pasar internasional yaitu dengan cara memproduksi batik dengan
bahan bahan alami.
2. Model Produk. Untuk memenuhi kebutuhan pasar,Batik Indonesia membuat
kebijakan untuk menciptakan produk yang bervariasi dan beraneka ragam.
Selain batik dalam bentuk selembar kain, Batik Indonesia juga memproduksi
batik dalam bentuk baju sehingga menambah pilihan produk bagi konsumen
dengan model baju yang sedang trend.
3. Desain Produk. Untuk konsep desain produk Batik di Indonesia masih dari
pemilik yang kemudian diterjemahkan kedalam gambar oleh karyawan bagian
gambar desain. Untuk desain/motif batik Indonesia mempunyai ciri khas yaitu
motif-motif yang dikembangkan,berupa motif naturalis (ikan,kupu-
kupu,bunga,pohon,bukit dan rumah), Ciri itu dapat dimaknai sebagai karakter
masyarakat pesisir, yang lebih terbuka dan ekspresionis.
4. Kemasan. Dalam pengemasan Batik Indonesia telah memakai kemasan dalam
bentuk plastik dalam paper bag.

187
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

5. Jaminan Produk. Untuk memberi pelayanan terbaik demi menciptakan kepuasan


dan loyalitas pelanggan, maka UKM Batik Indonesia memberi jaminan kepada
konsumen jika produk tidak sesuai pesanan atau produk cacat,maka bisa
dikembalikan maupun ditukar dengan produk sejenis maupun lain dengan harga
yang sama. Dan jika dikembalikan maka 100% uang akan kembali.
B. Strategi Harga. Semakin rumit dan semakin banyak warna yang digunakan,maka
akan semakin lama proses pembuatan nta dan semain tinggi harga jual produk
tersebut. Untuk batik tulis harga berkisar Rp 350.000 sampai dengan Rp. 2000.000
,sedangkan batik cap berkisar Rp. 100.000 sampai dengan Rp. 500.000.
C. Tempat/distribusi (Place). Saluran distribusi dilakukan dengan distribusi langsung
maupun tidak langsung. Konsumen membeli batik langsung ke lokasi usaha maupun
pada saat pameran. Atau pun konsumen bisa memesan lewat Online.
D. Strategi Promosi. Strategi Promosi yang dilakukan UKM Batik Indonesia yaitu
dengan cara mengikuti pameran pameran ataupun event event yang diadakan pihak
swasta ataupun luar. Promosi juga bisa dengan periklanan di majalah dan media
sosial .
Analisis Matriks SWOT
Internal Faktor Kekuatan (S) Kelemahan (W)
a. Mutu produk yang a. Saluran distribusi
bagus yang kurang
b. Hubungan baik efisien
dengan pelanggan b. Promosi yang
masih kurang
efektif
c. permodalan yang
Eksternal kurang
Faktor d. SDM yang kurang
memadai
e. Manajemen yang
tidak rapi.
Peluang (O) Strategi SO Strategi WO
a. Potensi pasar a. menggunakan a. mengadakan
yang masih tekhnologi modern pelatihan pada
besar untuk meningkatkan pegawai
b. Tingkat produksi b. merekrut ttenaga
pendapat b. mempertahankan ahli
penduduk kualitas produk c. pembukuan
yang tinggi c. Mengembangkan terhadap
c. Kemajuan usaha dengan administrasi
tekhnologi menggunakan keuangan
d. Kebijakan bantuan modal dari d. meningkatkan
pemerintah pemerintah. promosi dengan
pembuatan iklan
e. bekerjasama
dengan pedagang
besar batik

188
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Ancaman (T) Strategi ST Strategi WT


a. Inflasi yang a. meningkatkan a. Menambah Modal
fluktuatif kualitas pelayanan dengan meminjam
b. persaingan terhadap pelanggan pinjaman
yang ketat b. meningkatkan desain pemerintah
melalui BUMN
b. meningkatkan
promosi
c. menambah saluran
distribusi

Interpretasi Hasil
1. Strategi memanfaatkan kekuatan untuk mengambil peluang, antara lain :
a. Mempertahan kan kualitas batik yang dimiliki, memaksimalisasi teknologi
komunikasi untuk pemasaran dan teknologi dalam bidang produksi canting
electric untuk memaksimalkan produksi.
b. Serta melakukan pengembangan usaha dengan menggunakan mengajukan
pemijaman modal yang telah di sediakan oleh pemerintah.
2. Strategi dengan memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi ancaman, antara lain :
a. Inovasi Produk, Yaitu menciptakan produk-produk baru yang inovatif sehingga
dapat menambah variasi produk yang disajikan kepada pelanggan. Dengan
membuat kain batik menjadi berbagai macam produk seperti baju,sarung bantal,
dan sebagainya.
b. Selain itu juga meningkatkan pelayanan kepada pelanggan dengan cara
memproduksi batik yang sesuai dengan pesanan konsumen, membina hubungan
baik dengan pelanggan dengan cara meminta nomer telepon dan tanggal lahir.
3. Strategi yang dapat digunakan UKM batik Indonesia dalam meminimalkan
kelemahan yang ada dan untuk menghindar ancaman yang datang, yaitu dengan
meningkatkan promosi dengan cara memanfaatkan media promosi sesuai dengan
dana yang ada,dan juga dapat dilakukan penambahan saluran distribusi seperti
agen,reseller,ataupun sales.

SIMPULAN
1. Berdasarkan dari hasil analisis lingkungan internal pada UKM Batik Indonesia,
maka setiap perusahaan batik Indonesia memiliki kelemahan dan kekuatan. Adapun
faktor-faktor strategi internal yang menjadi kekuatan bagi UKM Batik Indonesia
adalah (1) Mutu Produk yang dihasilkan dengan baik (2) Hubungan baik dengan
pelanggan. Sedangkan faktor faktor Internal yang menjadi kelemahan bagi UKM
Batik Indonesia adalah (1) Permodalan yang kuran (2) Manajemen yang tidak
memadai,
2. Berdasarkan dari analisis lingkungan eksternal pada UKM Batik Indonesia Maka
setiap perusahaan memiliki Peluang dan Ancaman. Adapun Faktor-Faktor stretegi
Eksternal yang menjadi peluang adalah : (1) Potensi pasar yang masih besar (2)
Tingkat pendapatan penduduk yang tinggi (3) Kemajuan tekhnologi (4) Kebijakan
Pemerintah. Sedangkan Faktor-faktor strategi eksternal yang menjadi ancaman
adalah (1) Inflasi yang fluktuatif (2) persaingan yang ketat.

3. Berdasarkan dari hasil analisis SWOT maka dihasilkan 12 alternatif strategi,yaitu


(1) Menggunakan teknologi modern untuk meningkatkan produksi (2) menjaga

189
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

qualty produk (3) mengembangkan usaha dengan menggunakan bantuan keuangan


dari pemerintah serta meningkatkan modal dengan pinjaman kepada pemerintah
melalui owned negara (4) memberikan pelatihan kepada karyawan (5) ahli merekrut
(6) akuntansi untuk administrasi dan keuangan (7) bekerja dengan grosir batik (8)
Meningkatkan promosi melalui internet terutama ketika kegiatan UKM BATIK
diadakan (9) menawarkan keorganisasi produk atau kelompok kerja (10)
Meningkatkan qualty layanan pelanggan (11) meningkatkan desain kreatif dan motif
yang menarik (12) peningkatan saluran distribusi.

SARAN
1. Bagi pengusaha batik diharapkan dapat mempertahanlan corak dan dan motif khas
lokal dan mampu menjaga mutu batik tulis khususnya, mulai dari proses pemilihan
kain,desain,menggores malam,proses pewarnaan dan pencelupan sehingga kualitas
pembatikan akan selelau meningkat tanpa kehilangan ciri khas daerah nya.
2. Menyikapi era globalisasi dan seiring dengan perubahan itu sendiri,perlu adanya
terobosan dalam pemasaran batik. Antara lain dengan memanfaatkan tekhnologi
informasi dalam rangka pemasaran yaitu dengan memanfaatkan internet dan media
sosial.
3. Ini adalah penelitian awal yang bersifat literatur kedepan diharapkan ada penelitian
menindaklanjuti untuk menjadi suatu penelitian yang bersifat pengamatan dan
eksploratif agar mendapatkan hasil yang lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_SWOT
http://hipni.blogspot.com/2011/09/pengertian-analisis-swot.html
https://reantoyee.wordpress.com/2010/12/22/analisis-bauran-pemasaran-marketing-mix-
batik-cap-dari-ukm-batik-kota-pekalongan/
https://www.academia.edu/7542906/KARYA_TULIS_ILMIAH_PERENCANAAN_ST
RATEGIS_PENGUATAN_DAYA_SAING_UMKM_DALAM_MENGHADA
PI_MASYARAKAT_EKONOMI_ASEAN_MEA_2015
http://bukantasbatikbiasa.blogspot.com/2013/02/macam-macam-jenis-batik-di-
indonesia.html
http://www.marketing.co.id/apa-itu-masyarakat-ekonomi-asean-mea/
http://www.pustakadunia.com/artikel-pustaka-umum/apa-sih-pengertian-ukm-umkm-
itu-2/
https://mybatik.wordpress.com/2009/01/21/contoh-proposal-ppm/
Kotler,philip dan gary aemstrong 2005 Prinsip-Prinsip Pemasaran,jakarta,Erlangga
www.depko.go.id data umkm 2006-2011

190
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PENINGKATAN KUALITAS PRODUK PERTANIAN, SEBUAH TANTANGAN


DALAM MEMBANGUN COMPARATIVE ADVANTAGE SEKTOR
PERTANIAN

Syahrudi *
Dhian Tyas Untari *
*
Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi
Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI
info@syahrudi.com

ABSTRAK

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat potensial untuk dapat
dikembangkan. Hanya saja konsep modernisasi telah menggiring persepsi bahwa sektor
primer ini tidak lagi menjadi sektor unggulan, akhirnya terjadi konversi pada lahan
pertanian. Dengan demikian konsep insifikasi diusahakan untuk dapat mempertahankan
produktifitas sektor pertanian. Tetapi secara lebih luas perlu dikaji tentang bagaimana
meningkatkan kualitas produk pertanian tersebut. Paper ini merupakan conseptual paper
dan menggunakan data-data sekunder berupa publikasi terkait tema kajian, paper ini
akan memberikan gambaran tentang bagaimana meningkatkan kualitas produk
pertanian sebagai usaha dalam membangun sebuah comparative advantage sektor
pertanian.

Kata kunci : produk, pertanian, comparative advantage.

PENDAHULUAN
Tamanan pangan di Indonesia sangat beragam. Hai itu dikarenakan adanya
keragaman Tipe agroekologi Indonesia yang tercermin oleh beragamnya sifat fisik
wilayah, kemiringan, maupun ketinggian tempat dari permukaan laut. Keragaman
tersebut menyebabkan terdapat beberapa macam tipe lahan. Indonesia juga mempunyai
iklim tropis basah yang dicirikan oleh curah hujan yang tinggi, diikuti oleh keragaman
suhu yang ditentukan oleh tinggi tempat dari permukaan laut. Keragaman wilayah,
topografi, tanah, ketersediaan air, dan iklim telah membentuk tanaman untuk tumbuh
dan beradaptasi pada lokasi yang spesifik. Kultivar yang mempunyai toleransi yang baik
pada keadaan setempat dikenal dengan varietas lokal (landrace) (Rais, 2004).
Sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan
perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang
tidak hanya berperan dalam pembentukan PDB, penciptaan kesempatan kerja,
peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan sektor pertanian
juga dapat dilihat secara lebih komperhensif, antara lain : (a) sebagai penyediaan pangan
masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan
pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan sosial
(socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan
nasional (national security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk
peningkatan sektor industri dan jasa, (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau

191
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk subtitusi impor, (d) sektor
pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk sektor industri, (e)
transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah
satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan
modal bagi pengembangan sektor-sektor lain (a net outflow of capital for invesment in
other sectors); serta (g) peran pertanian dalam penyediaan jasa-jasa lingkungan.
Terkait dengan fungsinya sebagai penyedia pangan masyarakat, dimana
Tanaman pangan di Indonesia terdiri atas padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kedelai,
kacang tanah, kacang hijau, ubi-ubian lain, dan kacang-kacangan lain sudah dikenal di
Indonesia dan telah menjadi salah satu sumber karbohidrat bagi masyarakat Indonesia.
Dalam menghadapi persaingan perlu dibuat spesifikasi terhadap industri
unggulan. Hal ini terkait dengan konsep one village one produc. OVOP merupakan
sebuah usaha untuk meningkatkan enterprenuer dari komunitas lokal dengan
memaksimalkan pengetahuan lokal, sumber daya lokal, meningkatkan nilai produk lokal
dengan meningkatkan brand lokal dan membangun Sumber daya manusia yang ada di
wilayah tersebut (Natsuda et al, 2011).
METODOLOGI
Kajian ini merupakan sebuah conseptual paper yang bersumber dari data
skunder yang diolah secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran tentang
peningkatan kualitas produk pertanian yang merupakan sebuah tantangan dalam
membangun comparative advantage sektor pertanian.
PEMBAHASAN
Potensi Pengembangan Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian nampaknya masih menjadi primadona perekonomian di
Indonesia, meskipun telah terjadi transformasi struktur ekonomi, dimana perekonomian
negara lebih ditopang pada sektor industri dan jasa. Selain dibutuhkan sebagai penyedia
pangan nasional, sektor pertanian juga menyerap sebagian besar tenaga kerja.
Sektor pertanian mencakup sub sektor tanaman bahan makanan, perkebunan,
pertanian, perikanan dan kehutanan. Hingga saat ini sektor pertanian menyumbang
penyerapan tenaga kerja baru setiap tahunnya dan masih menjadi tumpuan hidup bagi
sebagian besar angkatan kerja di Indonesia. Bahkan kebutuhan akan pangan nasional,
masih menumpukan harapan kepada sektor pertanian.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka tetap (ATAP) produksi padi
tahun 2011 sebesar 65,78 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau turun 0,71 juta ton
(1,07%) dibandingkan produksi tahun 2010. Penurunan produksi terjadi di Pulau Jawa,
yaitu sebesar 1,97 juta ton. Namun, di luar Pulau Jawa justru terjadi peningkatan sebesar
1,26 juta ton. Sementara itu, angka ramalan (ARAM) I tahun 2012 memperkirakan
adanya peningkatan produksi sebesar 2,84 juta ton (4,31%) dibandingkan tahun 2011,
menjadi sebesar 68,62 juta ton GKG. Kenaikan tersebut diperkirakan terjadi di Pulau
Jawa sebesar 1,59 juta ton dan di luar Pulau Jawa sebesar 1,25 juta ton, yang disebabkan
oleh adanya peningkatan luas panen sebesar 237.297 Ha (1,8%) dan produktivitas
sebesar 1,23 kuintal/Ha (2,47%) (BIN.go.id).
Salah satu indikator yang menunjukkan masih kurangnya produksi beras dalam
negeri, yakni adanya impor beras dan kenaikan harga beras. Hingga bulan Agustus
2012, jumlah impor beras sudah mencapai 1.033.794,255 ton. Sementara itu, rata-rata
harga beras September 2012 naik 0,22% dibanding Agustus 2012 dan naik 7,98%
dibandingkan September 2011. Pada komoditas jagung, data BPS menunjukkan ATAP
produksi jagung tahun 2011 sebesar 17,64 juta ton pipilan kering atau turun sebanyak
684,39 ribu ton (3,73%) dibandingkan tahun 2010. Penurunan produksi tersebut terjadi
di Pulau Jawa sebesar 477,290 ton dan di luar Pulau Jawa sebesar 207.100 ton. Data

192
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ARAM I tahun 2012 memperkirakan produksi jagung meningkat sebesar 18,95 juta ton
pipilan kering atau 1,30 juta ton (7,38%) dibandingkan tahun 2011. Peningkatan
produksi diperkirakan terjadi di Pulau Jawa sebesar 0,80 juta ton dan di luar Pulau Jawa
sebesar 0,51 juta ton, yang disebabkan oleh peningkatan luas panen seluas 132,78 ribu
Ha (3,44%) dan produktivitas sebesar 1,74 kuintal/Ha (3,81%).
Pada komoditas kedelai, data BPS menunjukkan ATAP produksi kedelai tahun
2011 sebesar 851.290 ton biji kering atau turun sebesar 55.740 ton (6,15%)
dibandingkan tahun 2010. Penurunan produksi terjadi di Pulau Jawa sebesar 59.090 ton,
namun sebaliknya di luar Pulau Jawa meningkat sebesar 3.350 ton. Sementara itu, pada
ARAM I tahun 2012 produksi kedelai diperkirakan sebesar 779.740 ton biji kering atau
turun 71.550 ton (8,4%) dibanding tahun 2011. Penurunan produksi diperkirakan terjadi
di Pulau Jawa sebesar 41.770 ton dan di luar Pulau Jawa sebesar 29.780 ton, yang
diperkirakan sebagai akibat penurunan luas panen sekitar 55.560 Ha (8,93%) meskipun
ada peningkatan produktivitas sebesar 0,8 kuintal/Ha (0,58%).

Sistem Usaha Tani Tanaman Pangan


Usaha Tani merupakan kemampuan dari petani dalam mengorganisasikan dan
mengkoordinir faktor-faktor produksi yang dikuasainya dengan sebaik-baiknya. Dengan
demikian petani yang kurang mampu memanfaatkan benih, pupuk, luas lahan, tenaga
kerja dan pestisida akan memiliki tingkat pendapatan yang relatif lebih rendah (Yusri,
2005).
Untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dengan penanaman beberapa komoditi
diperlukan perencanaan usaha tani. Di mana perencanaan usaha tani yang dimaksud
adalah pengaturan kembali sumber daya usaha tani melalui penetapan tujuan-tujuan,
penyusunan rencana dan program-program dengan menggunakan sumber daya yang
terbatas. Bagi seorang petani, perencanaan usaha tani adalah bagaimana seharusnya
mengalokasikan sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu tetapi juga harus dapat
meramalkan bagaimana mengalokasikan sumber daya dengan faktor-faktor tertentu
seperti harga, permintaan, teknologi dan sebagainya.
Perencanaan usaha tani sangat dipengaruhi oleh sistem usaha tani itu sendiri.
Menurut Fresco (1986) sistem usaha tani (Farming System) dapat diartikan sebagai unit
pengambilan keputusan yang melibatkan rumah tangga petani, sub sistem pertanian
(dalam arti luas tanaman, hewan atau ikan) dan sub sistem sumber daya alam dan
lingkungan yang hasilnya dapat dikonsumsi langsung oleh keluarga maupun dijual.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perencanaan usaha tani merupakan
perencanaan petani dari awal hingga akhir dengan mengkombinasikan pemanfaatan
segala potensi sumber daya yang ada dan mampu mengatasi kendala-kendala yang
dihadapi guna menghasilkan suatu produk yang yang optimum. Keadaan yang masih
dijalani oleh umumnya petani kita adalah sebagian besar masih untuk memenuhi
kebutuhan keluarga (pola subsistem) dan belum berorientasi pasar (market oriented)
seperti halnya usaha tani di negara-negara maju (Danil, 2001).

Kelembagaan Pertanian
Kelembagaan memegang peranan penting untuk menjamin suatu program
dapat berjalan terus-menerus dan mencapai tujuan. Kelembagaan pendukung sektor
pertanian di pedesaan bersifat pasang surut dan tergantung kebutuhan. Kelembagaan
dapat bersifat formal (disponsori dan dibantu pemerintah) dan non formal (terbentuk
sebagai jawaban atas tuntutan kebutuhan aktual petani). Kelembagaan yang bersifat
formal seperti penyuluh pertanian (WKBPP/WKPP, KUD) kurang berjalan karena
batasan-batasan formal yang sering bergesekan dengan pemahaman petani.

193
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Kelembagaan juga berfungsi sebagai penggerak, penghimpun, penyalur sarana


produksi, pembangkit minat dan sikap serta menjamin keberhasilan agribisnis pertanian.
Kelembagaan yang mampu berkembang adalah kelembagaan yang sesuai dengan
kondisi lokal dan bersifat multi fungsi dan luwes.

Peningkatan Kualitas SDM Sektor Pertanian


Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan sektor pertanian
adalah penguatan Sumber Daya Manusia sebagai subjek pengolah lahan pertanian
sekaligus sebagai user dari produk pertanian. Permasalahan muncul saat pada konsep
moderenisasi saat ini, sektor pertanian dianggap sebagai sektor yang kurang
menjanjikan.
Sampai saat ini sektor pertanian masih menghadapi banyak tantangan, satu di
antaranya ialah menyangkut kualitas sumberdaya manusia (SDM). Indeks kualitas SDM
pertanian tampaknya lebih rendah jika dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Hal
itu paling tidak dapat dilihat dari tingkat pendidikan sebagian besar petani yang
memang rendah. Lebih dari 70 persen petani hanya mengenyam tingkat pendidikan
dasar, itupun sebagian besar tidak menamatkannya.
Upaya perbaikan kualitas SDM pertanian perlu lebih diprioritaskan. Untuk
sektor pertanian, langkah peningkatan kualitas secara umum antara lain menyangkut
penerapan dan pengembangan konsep produktivitas dan efisiensi yang notabene sangat
ditentukan oleh kualitas SDM.
Sebagai konsekuensi dari percepatan pertumbuhan sektor industri yang perlu
diimbangi sektor pertanian, yakni menyiapkan kualitas SDM yang memadai.
Bagaimanapun pertanian yang mengacu pada produktivitas dan efisiensi yang tinggi
perlu ditunjang oleh petani-petani yang terampil dan menguasai teknologi tepat guna.
Kondisi SDM pertanian saat ini dapat dilihat dari beberapa parameter sosial dan
ekonomi. Dari segi pendidikan diketahui mayoritas petani tingkat pendidikannya
rendah. Kalaupun ada perbaikan pada generasi berikutnya, yakni mampu menyelesaikan
sekolah menengah, anak-anak petani itu sebagian besar tidak lagi meneruskan profesi
orang tuanya.

Serapan dan Aplikasi Teknologi Pada Sektor Pertanian


Kemunduran kontribusi sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia yang
terjadi sejak tahun 1990-an disebabkan oleh banyak faktor termasuk kegagalan
Indonesia melakukan pelembagaan (institusionalisasi) pengembangan dan aplikasi ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Jika di negara maju IPTEK telah menjadi satu
kesatuan utuh dengan proses pembangunan pada hampir segala bidang termasuk bidang
pertanian, maka di Indonesia sama seperti di negara berkembang lainnya, masalah yang
dihadapi masih berkutat pada seputar lemahnya tingkat penguasaan, pengembangan, dan
aplikasi IPTEK. Jurang pemisah antara hasil-hasil penelitian di laboratorium atau
stasiun percobaan dan di tingkat lapangan atau kehidupan petani terasa semakin tinggi
dan lebar karena institusi yang ada tidak mampu menjembataninya secara memadai
(Simatupang, 2006).
Teknologi dan aplikasinya sangat mendukung keberhasilan pembangunan sektor
pertanian. Dengan pengaplikasian teknologi yang tepat dapat mendukung program
intensifikasi pertanian, dimana dengan luas lahan pertanian saat ini sangat sulit untuk
mengaplikasikan program ekstensifikasi pertanian.

194
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Perluasan Pemasaran Hasil Pertanian


Pemasaran Hasil Pertanian atau Tata niaga Pertanian merupakan serangkaian
kegiatan ekonomi berturut-turut yang terjadi selama perjalanan komoditas hasil-hasil
pertanian mulai dari produsen primer sampai ke tangan konsumen. Pemasaran hasil
pertanian berarti kegiatan bisnis dimana menjual produk berupa komoditas pertanian
sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, dengan harapan konsumen akan
puas dengan mengkonsumsi komoditas tersebut. Pemasaran hasil pertanian dapat
mencakup perpindahan barang atau produk pertanian dari produsen kepada konsumen
akhir, baik input ataupun produk pertanian itu sendiri.
Konsep pemasaran berorientasikan memenuhi kebutuhan dan keinginan
konsumen dengan efektif. Empat hal berikut merupakan prinsip utama yang menjadi
tonggak konsep pemasaran:
1. Pasar sasaran – memiilih pasar sasaran yang tepat dan membentuk aktiviti
pemasaran dengan sempurna.
2. Keperluan pengguna - memahami kehendak sebenar pengguna dan
memenuhinya dengan lebih efektif.
3. Pemasaran berintegrasi - kesemua fungsi / sub-unit industri bekerjasama
memenuhi tanggungjawab pemasaran.
4. Keuntungan - mencapai keuntungan melalui kepuasan pelanggan.
Pemasaran hasil pertanian mempunyai tujuan ganda yaitu sebagai penyedia
sumber pangan dalam negri dan memperluas pasar keluar negri dengan kata lain hasil
pertanian juga mempunyai orientasi eksport. Hanya saja, pengusaha agrobisnis di
Indonesia terbentur pada kebijakan dan politik yang diterapkan oleh negara importir.
Dan disinilah seharusnya pemerintah berperan dalam meningkatkan pemasaran hasil
pertanian baik secara internal maupun ekternal.

KESIMPULAN DAN SARAN


Indonesia dengan kekayaan yang dimikinya secara teori seharusnya dapat
berkembang sebagai negara agraris, hanya saja kenyataanya produk hasil pertanian
Indonesia kurang memiliki compatitive advantege yang cukup untuk bersaing dalam
pasar global. Oleh sebab itu pemerintah harus mulai memberi perhatian penuh pada
sektor pertanian dan meningkatkan aspek – aspek pendukung peningkatan nilai sektor
pertanian dengan; peningkatkan kelembagaan sektor pertanian, meningkatkan kualitas
SDM, meningkatkan serapan teknologi dan memperluas coverage pemasaran hasil
pertanian.

DAFTAR PUSTAKA
Daryanto, Arief , 2009, POSISI DAYA SAING PERTANIAN INDONESIA DAN UPAYA
PENINGKATANNYA, Prosising Seminar Nasional, 14 Oktober 2009, Bogor.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah
Rais, Sri Astuti, 2004, Eksplorasi Plasma Nutfah Tanaman Pangan di Provinsi
Kalimantan Barat, Buletin Plasma Nutfah Vol.10 No.1 Th.2004.
Widodo, Tri, 2006, Perencanaan Pembangunan; Aplikasi Komputer (Era Otonomi
Daerah), UPP STIM YKPN, Yokjakarta.
Simatupang, Jones T, PENGEMBANGAN DAN APLIKASI IPTEK DALAM
PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA, JURNAL PENELITIAN
BIDANG ILMU PERTANIAN Volume 4, Nomor 1, April 2006: 1-6.

195
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PELUANG DAN TANTANGAN USAHA MIKRO,KECIL DAN MENENGAH


DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC)

Zahrudin

Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

ABSTRAK

Ada tiga strategi Indonesia agar bisa menjadi pemimpin dalam Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA 2015), yakni pertama Indonesia harus bisa menghasilkan kwalitas
sumber daya manusia (SDM) yang terdidik dan mempunyai inovasi, kedua Indonesia
harus mempunyai perguruan tinggi yang bisa menghasilkan riset berkwalitas
international, ketiga lulusan perguruan tinggi Indonesia harus mempunyai jiwa
kewirausahaan. Peranan Usaha Mikro, kecil dan menengah didalam perekonomian
sangat penting, disebabkan UMKM lah yang menopang perekonomian dan tahan
terhadap krisis ekonomi. Saat ini, ada 56,3 juta lebih pelaku UMKM yang memberikan
konstribusi yang sangat besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan menggerakkan roda
perekonomian bangsa ini. Merupakan tantangan yang sangat besar bagi eksistensi
UMKM Indonesia dengan kehadiran Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir tahun
2015, dimana tingkat persaingan bertambah dengan hadirnya pelaku bisnis dari negara
– negara tetangga, antara lain meningkatkan kwalitas produk dan jasa, mengurus izin
sertifikasi produk, mengurus izin usaha, menguatkan modal usaha, menambah ilmu
pengetahuan mengenai bisnis, pemasaran, meningkatkan kinerja dibidang keuangan,
membuat systemasi bisnis sampai kepada meningkatkan kwalitas sumberdaya manusia
(SDM), akan tetapi ada begitu banyak peluang usaha bagi UMKM jika mereka mampu
bersaing, mereka dapat memperluas pasar sampai ke negara - negara anggota ASEAN
tanpa dibatasi oleh bea masuk dan birokrasi dari pemerintah negara yang bersangkutan.
Kata Kunci : SDM, UKM, Pelaku Bisnis dan ASEAN
PENDAHULUAN
Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) atau lebih
dikenal dengan pasar bebas Asean atau disngkat MEA 2015 saat ini merupakan isu
yang sangat menarik untuk dibahas dan diangkat kepermukaan, betapa tidak kita saat
ini sudah berada di tahun 2015, disisi lain umumnya para pelaku UMKM (Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah ) di Indonesia belum menyadari sepenuhnya, bahkan
banyak diantara mereka yang belum mengerti apa sesungguhnya MEA 2015
tersebut.
MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN, dimana 10 negara ASEAN
termasuk Indonesia menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN atau
ASEAN Economic Community (AEC). Bermula dari konfrensi tingkat tinggi di
Kuala Lumpur pada bulan desember tahun 1997, para pemimpin ASEAN bersepakat
untuk mengubah kawasan ASEAN menjadi kawasan yang makmur dengan
persaingan yang sangat kompetitif, dengan perkembangan ekonomi yang adil dan
mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi yang lazim disebut sebagai
ASEAN Vision tahun 2020. Selanjutnya padan konfrensi tingkat tinggi di Bali tahun

196
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

2003 para pemimpin ASEAN menyatakan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN


atau MEA akan menjadi tujuan dari intergrasi ekonomi regional pada tahun 2020.
Tiga tahun kemudian tepatnya pada bulan Agustus tahun 2006 di Kuala Lumpur,
para menteri-menteri ASEAN bersepakat untuk memajukan Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) menjadi tahun 2015.
Kesiapan para pelaku bisnis umumnya, dan para pelaku UMKM Indonesia
khususnya didalam membuat strategi yang jitu menghadapi MEA 2015 antara lain
seputar memperkuat modal usaha, memperluas pasar, meningkatkan manajemen,
membuat pencatatan keuangan, mengurus perizinan usaha, membuat sertifikasi
poduk baik barang maupun jasa.
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan membentuk ASEAN sebagai
pasar dan basis produksi tunggal yang akan membuat ASEAN lebih dinamis dan
kompetitif dengan mekanisme dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan
dan terwujudnya MEA. Sebagai langkah awal Masyarakat ASEAN akan mengatasi
kesenjangan pembangunan dan mempercepat intergrasi terhadap Negara Kamboja,
Laos, Myanmar dan Vietnam melalui initiative for ASEAN integration dan initiative
regional lainnya, bentuk kerjasama yang telah disepakati yaitu menngkatkatkan
sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas, pengakuan kwalifikasi
professional, kebijakan makro ekonomi dan keuangan, langkah-langkah pembiayaan
perdagangan, menigkatkan infra struktur, pengintegrasian industry di seluruh
wilayah untuk mempromosikan sumber daerah.
Sebagaimana diketahui umumnya para pelaku bisnis UMKM di Indonesia
masih banyak yang mengalami problem – problem mendasar yang harus di carikan
jalan keluarnya, peranan pemerintah dalam hal ini sangat dibutuhkan, misalnya
membantu mendorong perbankan dalam hal memberikan pinjaman atau bantuan
yang lunak dengan bunga yang sangat ringan, agar tidak terlalu membebani bisnis
UMKM, melakukan deregulasi dan menyederhanakan pembuatan izin – izin usaha
maupun pembuatan sertifikasi produk atas barang dan jasa yang dihasilkan UMKM,
membantu memperluas pasar bagi UMKM, memberikan pelatihan – pelatihan bisnis
bekerjasama dengan perusahaan - perusahaan business firm ternama didalam hal
bagaimana meningkatkan atau memboosting cash flow dan keuangan, melejitkan
omzet penjualan, membuat systemasi bisnis, mengelola team dan lain – lain, disisi
lain para pelaku bisnis UMKM pun masih banyak yang manja dan terlalu tergantung
pada pihak lain, dalam hal ini banyak UMKM yang tradisional, program – program
pelatihan yang diberikan oleh pemerintah kepada mereka berjalan kurang
diharapakan, tujuan pelatihan kurang tercapai disebabkan banyak pelaku UMKM
tradisional tidak mau melakukan program pelatihan apabila tidak mendapatkan uang
saku dari oknum pemerintah, hal ini terjadi dikarenakan sejak dahulu para oknum
pemerintahan memanjakan mereka dengan memberikan uang saku jika mereka hadir
didalam pelatihan, bagi pemerintah yang penting melaksanakan program,
dokumentasi ada peserta yang datang, selesai.
Apabila keadaan seperti ini belangsung terus menerus, maka jangan heran
jika Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi masuknya produk barang dan jasa
dari Negara tetangga. Sebagai perbandingan pemerintah Malaysia beberapa tahun
terakhir ini gencar melaksanakan program pengembangan UMKM mereka, penulis
pada bulan April tahun 2014 yang lalu menghadiri MIHAS 2014 di Malaysia, ada
beberapa catatan penting yang bisa diambil pelajaran bagi kita, didalam pertemuan
tersebut pemerintah Malaysia mendatangkan para calon – calon BUYER dari
seluruh dunia termasuk Indonesia, para buyer yang datang dari luar negeri tersebut
melakukan diskusi dengan para pelaku bisnis UMKM dari negeri jiran tersebut head

197
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

to head, jadi kita yang hadir di forum pertemuan itu diberikan jadwal kunjungan dari
teman – teman para pelaku bisnis UMKM Malaysia, kemudian satu persatu mereka
menemui kita untuk membahas peluang – peluang apa yang bisa digarap untuk
dijadikan kerjasama yang win – win anatara pihak kita dengan mereka, ada banyak
peluang yang ditawarkan mereka yang mempunyai bisnis kuliner akan mendapat
kunjungan dari pelaku bisnis kuliner, mereka yang bisnisnya pengadaan mesin –
mesin dan alat – alat industry akan dipertemukan dengan teman – teman Malaysia
yang mempunya bisnis serupa, dan seterusnya sampai kepada mereka yang berbisnis
dibidang software.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Pada latar belakang masalah telah disebutkan mengenai Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah (UMKM), namun perlu penulis jelaskan kembali beberapa hal mengenai
UMKM tersebut. Berdasarkan Undang – Undang nomor 20 tahun 2008 tentang UMKM
(Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) adalah usaha produktif milik orang perorangan dan
atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur
dalam Undang – Undang ini.
Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan
oleh orang peroangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau
bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung
maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria
usaha kecil sebagai mana dimaksud dalam undang – undang ini.
Usaha Menengah adalah usaha usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik
langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah
kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagai mana diatur dalam Undang –
Undang ini.
Usaha Mikro adalah kegiatan usaha yang dapat memperluas lapangan pekerjaan
serta memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat dan dapat berperan
dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong
pertumbuhan ekonomi, serta berperan mewujudkan stabilitas nasional. Usaha mikro
merupakan pilar utama ekonomi nasional, betapa tidak menurut data yang penulis temukan
bahwa lebih dari 56,3 juta orang Indonesia menjadi pelaku bisnis usaha mikro ini.
Menurut departemen Tenaga Kerja (DEPNAKER) usaha mikro adalah usaha yang
memiliki kurang dari 5 orang tenaga kerja. Jadi apabila rata-rata setiap usaha mikro
menyerap 2 orang tenaga kerja, maka itu artinya usaha mikro ini sudah membantu
pemerintah dalam menyerap tenaga kerja sebanyak 56,3 juta dikalikan 2 orang yakni 112,6
juta orang, ini adalah satu angka yang sangat spektakuler, angka tersebut bisa lebih
dahsyat lagi apabila setiap usaha mikro mampu menyerap rata-rata 3 orang tenaga kerja,
itu artinya usaha ini sudah bisa mengurangi pengangguran sebanyak 168,9 juta orang.
Ada beberapa catatan penting terkait dengan perkembangan bisnis Usaha
Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) di Indonesia, baru –baru ini tepatnya pada bulan
Juli tahun 2013 pemerintah membuat Peraturan Pemerintah no 46 mengenai pajak
penghasilan badan usaha dengan peredaran usaha tertentu ( dibawah 4,8 milyar pertahun)
yang sudah harus diberlakukan pada laporan pajak SPT ( surat pemberitahuan ) tahun
2013. Didalam peraturan Pemerintah tersebut mengatur bahwa bagi pelaku bisnis yang
mempunyai omzet atau peredaran usaha bahasa perpajakannya dibawah 4,8 milyar setahun
akan dikenakan pajak penghasilan final sebesar 1% dari total omzet penjualan. Hal ini

198
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

tentu saja berdampak kepada harga pokok penjualan, harga pokok penjualan akan naik
akibatnya harga jual akan naik, ujungnya adalah margin laba akan turun, disisi lain kita
mengetahui kemampuan bersaing pelaku bisnis UMKM masih sangat rendah, tentu saja
hal ini menjadi pro kontra yang bisa diperdebatkan di dalam forum – forum diskusi dan
seminar – seminar, disebabkan kita mengetahui bahwa yang menopang perekonomian
bangsa ini adalah mereka para pelaku bisnis UMKM, disisi lain dengan peraturan
pemerintah no 46 tahun 2013 tersebut akan berdampak cukup serius terhadap
perkembangan UMKM, dikarenakan akan memberatkan mereka dalam menentukan harga
jual produk barang dan jasa yang mereka hasilkan, tentu saja akan menjadi lebih mahal
harga jualnya. Saat ini pemerintah sedang kesulitan mencari sumber-sumber penerimaan
Negara, sebagaimana kita ketahui penerimaan terbesar berasal dari penerimaan pajak, akan
tetapi jika pemerintah lebih sabar sedikit tentu hasilnya akan lebih dahsyat terhadap
penerimaan Negara, misalnya lakukan pembinaan yang berkesinambungan dengan
memperhatikan pertumbuhan mereka, bantu permodalan mereka, bantu manajemen
mereka, bantu mereka memasarkan produknya, bantu mereka dalam membuat laporan
keuangan yang efisien sehingga bisnis UMKM lebih menguntungkan dan dapat bersaing
dengan competitor, barulah dikenakan pajak kepada mereka. Tidak seperti yang terjadi
saat ini mereka tertatih tatih dalam membesarkan bisnis mereka, kesulitan mecari modal,
mereka kurang mengerti keuangan, gaptek dibidang teknologi, dan sejumlah persoalan
yang membelit bisnis mereka, masih dikenakan pajak pula, hal inilah yang menyebabkan
para pelaku bisnis UMKM kita kurang bisa bersaing.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah memiliki peran yang sangat strategis bagi
perekonomian bangsa Indonesia. Data yang kami peroleh per tahun 2012 jumlah UMKM
di Indonesia mencapai 56,53 juta unit dengan konstribusi terhadap produk domestik bruto
sebesar 59,08 persen, hebatnya lagi kemampuan UMKM dalam menyerap tenaga kerja
sekitar 97,16 persen, atau 107 juta orang, namun dengan segala peran strategis itu hanya
20 persen dari total UMKM yang sudah terakses kredit bank (http://ukm –
Indonesia.net/umkm-memiliki-peran-strategi.html )
I Wayan Dipta, Deputi Bidang Pengkajian Sumber daya UMKM kementrian
koperasi, mengatakan pertumbuhan UMKM pada kurun waktu tahun 2009-2013 sebesar
2,3 persen per tahun. Data kementrian koperasi menyebutkan lebih dari 96 persen
perusahaan di ASEAN adalah UMKM, sumbangan UMKM terhadap produk domestic
bruto sebesar 30 – 57 persen, sedangkan konstribusi penyerapan tenaga kerja sebesar 50 -
98 persen.
Di Indonesia pertumbuhan UMKM juga sangat signifikan. Tahun lalu sekitar 7
persen dari total UMKM berhasil meningkatkan statusnya, dari mikro menjadi kecil, kecil
jadi menengah dan dari menengah jadi komersial atau diluar UMKM.
Dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015,
UMKM diharapkan semakin produktif dan berdaya saing, kerjasama dengan UMKM lain
di ASEAN juga terbuka, namun UMKM Indonesia juga harus mewaspadai persaingan
yang semakin tajam.
Kepala Divisi Kerjasama dan Koordinasi Program UMKM Departemen
pengembangan Akses Keuangan dan UMKM Bank Indonesia Wini Purwanti mengatakan,
UMKM merupakan peluang untuk menciptakan wirausaha baru, saat ini pengangguran
terbuka di Indonesia sekitar 8,59 juta orang, sedangkan tingkat wirausaha hanya sekitar
0,18 persen (http://ukm – Indonesia.net/umkm-memiliki-peran-strategi.html ) namun Wini
juga mengungkapkan ada tantangan dalam pengembangan UMKM di Indonesia, antara
lain soal akses UMKM terhadap perbankan, hal ini disebabkan belm semua bank masuk
dalam kegiatan kredit UMKM.

199
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Pengertian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)


Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah adalah realisasi tujuan akhir dari
integrasi ekonomi yang dalam visi ASEAN tahun 2020, berdasarkan pada konvergensi
kepentingan Negara – Negara ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi
ekonomi melalui inisiatif yang ada dengan batas waktu yang jelas, dalam mendirikan
Masyarakat Ekonomi ASEAN harus bertindak sesuai dengan prinisip –prinsip terbuka,
berorientasi keluar, inklusif dan berorientasi pasar ekonomi yang konsisiten dengan aturan
multilateral serta kepatuhan kepada system.
Berdirinya komunitas ini diharapkan mampu membentuk ASEAN sebagai pasar
dan basis produksi tunggal yang membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan
langkah – langkah yang lebih jelas, mempercepat integrasi regional, memfasilitasi
pergerakan bisnis, tenaga kerja trampil dan berbakat serta memperkuat kelembagaan
Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Menurut Dirjen Kerja Sama ASEAN, MEA dapat dimanfaatkan untuk memperluas
pasar Indonesia di kawasan Asia Tenggara. ―Pasar Indonesia mencapai 250 juta
orang, tetapi pasar ASEAN itu mencapai 625 juta orang. Jadi, kita punya kesempatan
untuk memasuki pasar lain yang lebih luas, sebesar 275 juta,‖ ujar I Gusti.
Pada kesempatan itu, I Gusti menggaris bawahi harapan Presiden Joko
Widodo dalam menyambut pembentukan Masyarakat ASEAN, terutama Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia diharapkan dapat terlebih dulu ‗menyerbu‘
pasar-pasar di negara-negara ASEAN lain. Dengan begitu, kestabilan ekonomi dalam
negeri bisa tetap terjaga.Selain itu, Indonesia juga perlu menjadi bagian penting dari
rantai produksi regional maupun global.
Dirjen Kerja Sama ASEAN juga menyampaikan pandangan Presiden Joko
Widodo saat menghadiri KTT ke-24 ASEAN di Myanmar bulan November lalu
mengenai tiga hal utama agar dapat mewujudkan MEA. pertama, mempercepat
pembangunan infrastruktur dan konektivitas di negara ASEAN, antar negara ASEAN,
dan dengan negara mitra. Percepatan pembangunan infrastruktur ini dilakukan sesuai
koridor Master plan on ASEAN Connectivity (MPAC).
Langkah kedua, adalah dengan melakukan kerjasama investasi, industri, dan
manufaktur, yang lebih erat di antara negara-negara anggota ASEAN. Lalu yang
ketiga, adalah meningkatkan perdagangan intra negara ASEAN yang saat ini masih
rendah, baru mencapai 24,2 persen. ―Indonesia berharap dalam lima tahun ke depan
nilai perdagangan intra ASEAN setidaknya bisa mencapai 35 sampai 40%.
‖Untuk memastikan keberlanjutan pembangunan Masyarakat ASEAN,
ASEAN sedang menyusun Visi Masyarakat ASEAN Pasca 2015. Dalam hal ini,
Presiden RI juga menyampaikan dua aspirational goals sebagai elemen dari visi
dimaksud, yaitu menggandakan PDB ASEAN dari USD 2,2 triliun menjadi USD 4,4
triliun dan memangkas separuh persentase kemiskinan di kawasan ASEAN dari
18,6% menjadi 9,3% pada tahun 2030" tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Plt. Asisten Deputi Regional dan Sub Regional,
Kementerian Koordinator Perekonomian, Rizal Edwin menjelaskan, hingga saat ini
Indonesia sudah melakukan berbagai hal penting dalam rangka mempersiapkan diri
menyambut pembentukan MEA.
Terbukti, hingga Agustus 2014, capaian cetak biru MEA Indonesia di tingkat
nasional telah mencapai 85,5 persen. Sementara scorecard rata-rata ASEAN dalam
pencapaian MEA adalah 82,1%.
Menurut Rizal, Indonesia sudah meratifikasi 115 perjanjian, dari 138
perjanjian ekonomi ASEAN yang meliputi bidang perdagangan barang dan jasa serta
investasi. Kini, Indonesia dalam proses meratifikasi 23 perjanjian terkait perdagangan

200
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

jasa. Tak hanya itu. Indonesia juga sudah menggalakkan 43 proyek infrastruktur dan
logistik melalui program MP3EI, serta sistem logistik nasional. Ini termasuk
pembangunan rel kereta api di 5 pulau besar, serta sistem transportasi massal di 6
kota terbesar di Indonesia. ―Pemerintah juga mendorong Maritime Connectivity
melalui pembangunan tol laut dari kawasan barat hingga timur, dan meningkatkan
kapasitas pelabuhan di seluruh pulau,‖ kata Rizal.
Upaya koordinasi di seluruh lini pun telah dilakukan sebagai persiapan
Indonesia menangkap peluang MEA. Presiden RI dan Menko Perekonomian telah
secara rutin melakukan pertemuan koordinasi dengan para gubernur seluruh
Indonesia untuk memantapkan kesiapan Indonesia menghadapi MEA. Lalu, kantor
Menko Perekonomian sudah menyusun Road Map Daya Saing Nasional. Bank
Indonesia sudah meluncurkan program keuangan inklusif untuk meningkatkan akses
UKM terhadap permodalan perbankan.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan data sekunder, data sekunder adalah data yang
diambil dari berbagai tulisan seperti buku-buku dan dari internet yang berkaitan dengan
Usaha Mikro, Kecil dan menengah dan tulisan – tulisan mengenai Masyarakat Ekonomi
ASEAN.
Menurut analisis dan jenis data yang digunakan peneliti, maka penelitian ini
termasuk kedalam penelitian kwalitatif,
Menurut Arikunto (2006:129) sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data
diperoleh. Menurut Sugiyono (2010:193) sumber data digolongkan menjadi dua yaitu:
a. Sumber Primer, yaitu sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul
data. Dalam penelitian ini sumber primernya adalah berupa table perkembangan
UMKM pada periode 997-2012 diambil dari
http://www.bps.go.id/tab_sub/print.php?_subyek=13&notab=45
b. Sumber Sekunder, yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data. Dalam penelitian ini sumber sekunder didapatkan dari buku dan
beberapa website yang terkait dengan UMKM dan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

HASIL PENELITIAN
Deskripsi Data
Undang – Undang no 20 tahun 2008
Didalam Bab I pasal 1 Undang – Undang nomor 20 tahun 2008 dijelaskan
mengenai pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah serta kriteria – kritteria
UMKM yang tercantum pada Bab IV pasal 6 angka (1) huruf a dan b, pasal 6 angka (2)
huruf a dan b, pasal 6 angka (3) huruf a dan b,.
Hasil penelitian
Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa yang dimaksud dengan Usaha Mikro,
kecil dan Menengah adalah sebagia berikut :
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha
perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan
oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan
atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik
langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang
memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

201
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

4. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan
jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.
5. Usaha Besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha
dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari Usaha
Menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan,
dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.
6. Dunia Usaha adalah Usaha Mikro, Usaha Kecil, Usaha Menengah, dan Usaha Besar
yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia dan berdomisili di Indonesia.
Adapun kriteria yang dimaksud dalam pengertian diatas sebagai mana tertulis
pada Bab IV pasal 6 adalah sebagi berikut :
(1) Kriteria Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak
Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
(2) Kriteria Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah).
(3) Kriteria Usaha Menengah adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00
(lima puluh milyar rupiah).
Berdasarkan pengertian dan kriteria usaha diatas maka amat penting
meningkatkan omzet usaha dari usaha mikro naik menjadi usaha kecil, dari usaha kecil
naik menjadi usaha menengah, dari usaha menengah berkembang menjadi usaha besar.
Untuk mewujudkan impian tersebut, para pelaku bisnis UMKM seharusnya
mempunyai impian yang ingin dicapai terlebih dahulu, Bradley J. Sugar dalam bukunya
instant cash flow menyatakan bahwa untuk menjadi sukses dan berkembang, sebuah
usaha harus mempunyai tujuan yang jelas, rumus sukses menurut Bradley adalah BE
dikalikan DO sama dengan HAVE.
Penjabaran rumus tersebut adalah dapat diterangkan menjadi sebagi berikut :
Yang pertama seorang pelaku bisnis UMKM mestinya mempunya HAVE
terlebih dahulu, artinya mempunyai impian dan goal yang ingin dicapainya terlebih
dahulu, misalnya pada tahun 2015 ini ingin mencapai penghasilan kotor atau gross sales
sebesar Rp.100.000.000,- kemudian dia menjelaskan goalnya ini kepada team yang
terlibat, misalnya bagian penjualan, dia memberikan tugas dantanggung jawab
bagaimana caranya untuk mencapai goal tersebut, kalau dia menjual produk atau
jasanya kepada customer sebesar Rp.200.000,- /piece maka untuk mendapatkan hasil
Rp.100.000.000,- diatas dibagi Rp. 200.000,- sehingga total produk yang harus dijual
sebanyak 500 piece kemudian dibagi 12 bulan, maka rata – rata barang yang harus
dijual per bulan sebanyak kurang lebih 42 piece. Setelah itu team marketing akan
mencari strategi yang jitu untuk mencapai goal tersebut.

202
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Ada beberapa cara yang lazim dilakukan oleh penjual untuk meningkatkan
omzet penjualannya, missalnya dengan membuat brosur, pamplet, spanduk, iklan radio,
iklan di media surat kabar dan majalah, iklan melalui kunjungan ke objek penjualan
dengan cara melakukan presentasi langsung, yang penting lakukan terus dengan cara
dan strategi yang jitu yang bisa menarik dan membantu pelanggan mencari barang yang
diinginkan. Satu hal yang perlu diperhatikan didalam membuat iklan terutama brosur,
spanduk dan pamplet, yakni iklan yang dibuat harus memenuhi unsur –unsur AIDA
yang merupakan singktan dari Attention, Interest, Desire dan Action.
artinya iklan yang dibuat sedapat mungkin bisa menarik perhatian calon
customer, atau setidaknya bisa menggugah customer, sehingga calon customer merasa
interest terhadap produk barang atau jasa yang kita tawarkan, selanjutnya calon
customer harus didorong untuk segera melakukan closing atau melakukan pembelian
misalnya dengan cara memberikan kesempatan yang membeli hari ini mendapatkan
potongan harga 50% misalnya, atau untuk 20 orang pembeli pertama akan mendapatkan
potongan harga sebesar 50% dan seterusnya dan ini yang paling penting didalam
membuat iklan yakni mendorong untuk action membeli produk atau jasa kita, karena
sehebat apapun iklan yang kita buat ujungnya adalah melakukan clossing.
Setelah kita mempunyai tujuan yang jelas yang ingin dicapai dan sudah kita
informasikan kepada masing – masing team kita untuk melakukan apa yang menjadi
tugas dan fungsinya sesuai dengan job description mereka, maka tugas selanjuanya
adalah mempercayai dan meyakini bahwa goal tersebut bisa dicapai, kemudian seluruh
bagian akan berbuat (action) sesuai dengan job mereka masing –masing.
Ada empat hal penting yang harus diungkit / deleverage di dalam sebuah bisnis,
pertama adalah bagaimana mendapatkan penjualan / penghasilan sebanyak –banyaknya,
kedua memperbaiki catatan keuangan dan akuntansi, ketiga mengembangkan system
perusahaan dan keempat meleverage sumber daya manusia.
ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015.
ASEAN Economic Community atau Pasar Bebas ASEAN tahun 2015 adalah
merupakan realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang dalam visi ASEAN tahun
2020, berdasarkan pada konvergensi kepentingan Negara – Negara ASEAN untuk
memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada dengan
batas waktu yang jelas, dalam mendirikan Masyarakat Ekonomi ASEAN harus
bertindak sesuai dengan prinisip – prinsip terbuka, berorientasi keluar, inklusif dan
berorientasi pasar ekonomi yang konsisiten dengan aturan multilateral serta kepatuhan
kepada system.
Berdirinya komunitas ini diharapkan mampu membentuk ASEAN sebagai pasar
dan basis produksi tunggal yang membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan
langkah – langkah yang lebih jelas, mempercepat integrasi regional, memfasilitasi
pergerakan bisnis, tenaga kerja trampil dan berbakat serta memperkuat kelembagaan
Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Intinya adalah komunitas masyarakat bisnis dan juga warga mansyarakat
ASEAN harus siap bersaing jika ingin tetap bertahan, tantangan kedepan akan lebih
menantang dan lebih bergairah, hal ini disebabkan arus barang dan jasa juga arus
manusia bebas masuk dan keluar dikawasan ASEAN, apabila barang dan jasa serta
produk yang dihasilkan dapat bersaing dengan competitor dari Negara – Negara
ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Philipina, Thailand dan Negara ASEAN lainnya,
maka hal tersebut akan mempunyai peluang lebih besar lagi dan lebih luas keseantero
10 negara ASEAN.
I Wayan Dipta, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM, Kementerian
Koperasi dan UKM RI yang ditanyakan oleh SWA Online beberapa waktu lalu

203
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

menjelaskan beberapa data mengenai tantangan dan peluang Usaha Kecil Menengah
(UKM) khususnya di Indonesia dalam menghadapi MEA 2015.
Menurut I Wayan Dipta, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM,
Kementerian Koperasi dan UKMtotal Gross Domestic Product (GDP) ASEAN tercatat
di ASEAN Secretary di tahun 2012 lalu menembus angka US$ 2.327 miliar dengan
pasar sebesar US$ 600 juta. Angka ini akan terus bertambah apalagi ekonomi ASEAN
memiliki daya tarik yang tinggi. sebagian besar perdagangan barang intra-ASEAN
menikmati tarif 0% (zero tarif). Oleh karenanya ASEAN mampu bertahan ditengah
krisis belahan dunia lainnya.
Hasil survei Japan ASEAN Integration Fund (JAIF) pada 2012 lalu mencatat
73% para pelaku bisnis di ASEAN yang menjadi responden berpandangan bahwa
integrasi ASEAN akan memberikan manfaat peningkatan Ekonomi, dan 64% kalangan
publik meyakini bahwa integrasi ASEAN akan meningkatkan kondisi secara
keselurahan.
SIMPULAN
Dari uraian bab demi bab yang telah dipaparkan dengan menggunakan data yang
ada , maka penulis menarik kesimpulan sebagai serikut:
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah merupakan usaha yang sangat strategis bagi
Indonesia, lebih dari 56 juta orang sebagai pelaku Bisnis UMKM yang memberikan
konstribusi yang sangat besar bagi perekonomian bangsa ini. Data yang kami peroleh per
tahun 2012 jumlah UMKM di Indonesia mencapai 56,53 juta unit dengan konstribusi
terhadap produk domestik bruto sebesar 59,08 persen, kemampuan UMKM dalam
menyerap tenaga kerja sekitar 97,16 persen, atau 107 juta orang, namun dengan segala
peran strategis itu hanya 20 persen dari total UMKM yang sudah terakses kredit bank (
http://ukm – Indonesia.net/umkm-memiliki-peran-strategi.html )
Masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community tahun 2015
akan dilaksanakan oleh sepuluh Negara ASEAN dengan harapan dapat mendorong Negara
- Negara ASEAN bersaing di tingkat perdagangan International, oleh karena itu UMKM
Indonesia harus meningkatkan kwalitas sumber daya manusia dan produknya agar dapat
bersaing dengan pelaku bisnis Negara lain.
Pernanan pemerintah baik pusat maupun daeran belum memberikan bantuan dan
konstribusi yang nyata dapat dirasakan oleh pelaku bisnis UMKM, hal ini disebabkan
sampai saat ini peranan pemerintah didalam mengembangkan UMKM masih belum
merata dan nyata dirasakan oleh pelaku bisnis UMKM.

SARAN
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian maka penulis dapat memberikan
beberapa saran untuk penelitian selanjutnya, yaitu:
Mengingat ASEAN Economic Community atau pasar bebas ASEAN sudah
didepan mata, maka seyogyanya para pelaku bisnis UMKM mulai saat ini mengurus izin
usaha dan sertifikasi produk barang, meningkatkan kwalitas barang dan jasa, mempekuat
permodalan dan meningkatkan daya saing dengan cara banyak belajar dari pelaku bisnis
lain yang sudah lebih sukses, mengikuti seminar dan pelatihan – pelatihan bisnis lalu
membangun network marketing baik internet marketing maupun langsung door to door
kepada konsumen.
Bagi pemerintah baik pusat maupun pemerintah daerah hendaknya membantu
pelaku bisnis UMKM secara nyata, tidak hanya sekedar menjalankan program saja,
membantu proses perizinan usaha jika perlu selesai dalam 1 hari kerja dengan biaya yang
gratis, membantu mendorong lembaga keuangan baik bank maupun non untuk membrikan
kemudahan pembiayaan dengan bunga yang ringan.

204
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Bagi pemerintah ada baiknya untuk mempertimbangkan kembali pengenaan pajak


penghasilan final 1% kepada UMKM dengan perdaran usahanya dibawah 4,8 miliar
setahun, hal ini sangat meresahkan pelaku bisnis UMKM dan dapat mengurangi daya
saing, karena pajak yang dikenakan akan menyebabkan harga pokok dan harga jual
menjadi lebih tinggi, akibatnya barang menjadi lebih mahal. Binalah dahulu pelaku bisnis
UMKM, latih mereka membuat pembukuan yang lebh baik, ajari mereka cara membuat
laporan pajak, setelah mereka maju dan dapat bersaing barulah di kenakan pajak
penghasilan.

DAFTAR PUSTAKA
http://ukm – Indonesia.net/umkm-memiliki-peran-strategi.html

http://ukm – Indonesia.net/umkm-memiliki-peran-strategi.html

http://www.bps.go.id/tab_sub/print.php?_subyek=13&notab=45

http://ukm – Indonesia.net/umkm-memiliki-peran-strategi.html

205
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

TRANSAKSI HEDGING; USAHA DALAM MEMINIMALISASI RESIKO


FLUKTUASI KURS VALAS DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Zeinora

Dosen Pendidikan Ekonomi


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

email: zeinorazein@yahoo.com

ABSTRAK

Konsep modernisasi dan kemajuan teknologi informasi telah mengembangkan transaksi


pada pasar dunia. Transaksi dalam era global, sudah tidak tergantung pada batas wilayah
(borderless), alat angkut bahkan kekhawatiran terhadap waktu pengiriman. Salah satu
jenis perdagangan yang berkembang, tapi tidak memerlukan kondisi seperti yang
disarankan pada bisnis konvensional adalah forward trading atau perdagangan
berjangka. Menghadapi masalah ini, dalam forward trading dilakukan tindakan
antisipasi yang cermat dan cerdas untuk melindungi posisi tawar yang sudah dieksekusi,
dengan menggunakan tehnik hedging (lindung nilai) agar mampu menahan
kemungkinan kerugian yang lebih besar. Kajian ini bertujuan untuk memberikan
sebuah gambaran penggunaan teknik Hedging Contract Forward untuk mengurangi
kerugian selisih kurs Valas. Permasalahan dititikberatkan pada apakah perlu melakukan
tindakan Hedging. Kajian ini dilakukan melalui studi pustaka dengan membahas
literature dan penelitian yang relevan serta publikasi yang terkait dengan topic makalah.
Hasil kajian diharapkan dapat menjadi referensi bagi perkembangan perdagangan
internasional di Indonesia.
Kata Kunci : forward trading, hedging, forward contract, foreign exchange.

PENDAHULUAN
Kemajuan tehnologi dan informasi saat ini memberikan peluang yang besar
untuk kegiatan interaksi antar bangsa dalam berbagai dimensi, termasuk hal yang
paling mendasar yaitu kegiatan di perdagangan internasional. Hal ini mau tidak mau
membuat para pelaku perdagangan harus mengunakan valuta asing dalam melakukan
transaksi antar negara tersebut. Keragaman mata uang asing yang digunakan sebagai
akibat transaksi jual dan beli, ke dan dari banyak negara. Transaksi penjualan ekspor
berkaitan dengan penerimaan sejumlah mata uang asing di masa mendatang yang
digunakan untuk bertransaksi, di mana mata uang asing tersebut terus berfluktuasi
nilainya. Kejadian tersebut menggambarkan adanya ancaman kerugian bagi perusahaan
yang melakukan transaksi global, maka perusahaan harus memperhitungkan nilai tukar
di masa yang akan datang di mana nilai tukar ditentukan oleh inflasi dan tingkat bunga.
Risiko kerugian yang ditimbulkan oleh fluktuasi mata uang asing dapat diminimalisir
oleh perusahaan dengan melakukan hedging.

206
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Menurut Levi (2001) bahwa risiko yang ditimbulkan dalam perdagangan


internasional yaitu risiko tambahan yang paling nyata dari perdagangan internasional
dibandingkan dengan perdagangan domestik ditimbulkan oleh adanya ketidakpastian
kurs. Perubahan kurs yang tidak terduga memiliki dampak penting pada penjualan,
harga, dan laba eksportir dan importir. Keadaan ini menyebabkan ketidakpastian bagi
perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam perdagangan internasional. Secara umum
risiko nilai tukar mata uang asing berhubungan dengan perubahan. Menurut Madura
(2009) perdagangan internasional adalah pendekatan yang konservatif yang bisa
digunakan oleh perusahaan untuk penetrasi pasar luar negeri (dengan mengekspor) atau
mendapatkan bahan baku berharga murah (dengan mengimpor). Adanya transaksi
dengan mata uang yang berbeda dapat menimbulkan risiko keuangan bagi perusahaan
akibat adanya perubahan nilai tukar mata uang.
Hedging sangat bermanfaat bagi perusahaan yang kerap melakukan transaksi
dengan menggunakan mata uang asing sebagai alternatif pembayaran. Hedging contract
forward merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan perusahaan untuk
mengurangi kerugian akibat fluktuasi kurs valas, karena kontrak ini dibuat berdasarkan
kesepakatan kedua belah pihak dalam menentukan kurs forward yang dipakai pada saat
pembayaran berlangsung di masa mendatang. Melihat begitu pentingnya transaksi
perlindungan perdagangan internasional dengan hedging (lindung nilai) maka saya
sengaja mengangkat tema ini dalam kajian yang saya bahas ini, sehingga para pelaku
usaha dapat meminimalisir kerugian akibat perbedaan nilai kurs tersebut.

KAJIAN PUSTAKA
Menurut Madura (2009) hedging adalah tindakan yang dilakukan untuk
melindungi sebuah perusahaan dari exposure terhadap nilai tukar. Exposure terhadap
fluktuasi nilai tukar adalah sejauh mana sebuah perusahaan dapat dipengaruhi oleh
fluktuasi nilai tukar.
Menurut Eiteman (2003) ―hedge is the purchase of contract (including forward
foreign exchange) or tangible good that will rise in value and offset a drop in value of
another contract or tabgible good. Hedgers are undertaken to reduce risk by protecting
an owner from loss‖. Hedge merupakan pembelian suatu kontrak (termasuk forward
exchange) atau barang nyata yang nilainya akan meningkat dan kerugian dari jatuhnya
nilai tersebut dari kontrak lain atau barang nyata. Pelaku Hedging berusaha melindungi
pemilik dari kerugian.
Menurut pendapat Gallager dan Joseph yang dikutip oleh Richard a Brealey (2006)
―A hedge is a financial agreement used to offset or guard against risk‖. Artinya:
―Hedging adalah suatu perjanjian yang digunakan untuk melindungi keuangan dari
risiko kerugian‖.
Jika perusahaan multinasional memutuskan untuk melakukan lindung nilai (hedging)
sebagian atau seluruh exposure transaksinya, perusahaan dapat menggunakan
perangkat-perangkat hedging berupa kontrak futures, kontrak forward, instrumen pasar
uang, dan opsi valuta dijelaskan oleh Madura (2009) antara lain:

1. Futures Market Hedge adalah perjanjian antara 2 pihak untuk menjual atau pembeli
suatu komoditas atau instrumen (atau nilai tunainya) dengan standar harga, kualitas,
kuantitas, lokasi, dan waktu jatuh tempo tertentu yang diatur dalam bursa berjangka.
Pengaplikasian futures contract dapat dilakukan secara :
1) Futures contract finansial (menggunakan instrument keuangan) terdiri dari :
futures contract Valuta Asing adalah penjanjian antara 2 pihak untuk penjual
atau membeli valuta asing dengan harga tertentu dan waktu tertentu di masa

207
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

yang akan datang.


2) Futures contract Indeks merupakan perjanjian untuk membeli atau penjual satu
variasi portofolio saham baik dengan diwakili oleh satu index saham.
3) Futures contract interest rate biasanya menggunakan instrument debt misalnya
treasury bill, treasury bond, treasury notes, yang harganya tergantung pada
suku bunga.
4) Futures contract komoditas adalah perjanjian antara 2 pihak untuk menjual atau
membeli komoditas

2. Forward Contract Hedge adalah aktivitas lindung nilai yang dilakukan pada
transaksi jual beli dengan harga yang disetujui bersama pada saat transaksi. Sistem
kontrak forward memungkinkan dilakukannya pembelian atau penjualan valuta di
masa depan. Secara definitif, kontrak forward adalah persetujuan antara sebuah
perusahaan dengan bank untuk saling menukarkan valuta pada kurs tertentu (yaitu
kurs forward) pada suatu waktu tertentu di masa depan.
1) Periode forward yang paling umum adalah 30, 60, 90, 180, dan 360 hari,
walaupun periode-periode yang lain juga tersedia. Kurs forward dari suatu
valuta biasanya akan bervariasi menurut panjangnya periode forward. Teknik
hedging dengan menggunakan kontrak forward ini banyak digunakan oleh
perusahaan besar atau perusahaan multinasional (MNC) untuk melindungi
hutang dan piutang yang relatif besar dari kemungkinan terjadinya risiko sebagai
akibat adanya selisih kurs yang terjadi.
2) Transaksi forward dapat diartikan sebagai transaksi valuta asing dimana value
date (tanggal penyerahan valuta) berjarak lebih dari dua hari kerja dari deal date
–nya (tanggal kesepakatan transaksi) dengan kurs yng telah ditetapkan pada saat
tanggal transaksi (deal date).
3) Transaksi forward merupakan transaksi yang dilakukan di luar bursa atau lebih
dikenal dengan istilah over the counter (OTC)market, karena dilakukan di luar
bursa maka futures dari transaksi yang berlangsung adalah sepenuhnya
kesepakatan pihak–pihak yang melakukan transaksi. Berbeda dengan transaksi
yang dilakukan di bursa dimana produk yang diperdagangkan diatur sepenuhnya
oleh bursa. Transaksi over the counter mempunyai sifat yang sangat fleksibel,
sehingga futures dari transaksi ini bisa diubah sesuai dengan kesepakatan pihak–
pihak yang melakukan transaksi.

3. Money market hedge merupakan kontrak kesepakatan hutang. Perusahaan yang


mencari money market hedge meminjam dari bank dalam salah satu mata uang
lemah dengan bunga tertentu. Kemudian menukarkan apa yang diterimanya dalam
mata uang lain (mata uang kuat).
Tujuan dari kegiatan ini untuk mendapatkan nilai valuta asing yang pasti di
masa akan datang. Apabila Kecenderungan perubahan kurs sangat besar, maka dapat
dilakukan hedging sekaligus dimasa transaksi. Teknik ini melibatkan aktivitas
meminjam dan meminjami dua mata uang berbeda untuk mendapatkan nilai mata
uang tetap dimasa depan.

4. Option Market Hedge adalah opsi yang menyediakan hak untuk membeli atau
menjual asset dengan harga tertentu dan waktu tertentu di masa yang akan datang.
Call option merupakan hak untuk membeli sedangkan put option merupakan hak
untuk menjual. kontrak option, hedger atau spekulan diberikan hak untuk memilih
apakah tetap mau menggunakan kontrak futures atau tidak pada waktu hari

208
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

penyelesaian kontrak.

Jika in the money (untung), dimana kurs berjalan lebih tinggi (lebih rendah) dari
strike price dari call option (put option)maka hedger atau spekulan tetap menggunakan
kontrak futures. Jika out of the money (rugi), dimana kurs berjalan lebih rendah (lebih
tinggi) dari strike price suatu call option (put option)maka hedger atau spekulan tidak
perlu untuk terus menggunakan kontrak futures. Mereka dapat melepaskan kontrak dan
membayar premi kontrak saja.
Menurut Siahaan (2008) terdapat beberapa karakteristik dari masing-masing
instrumen keuangan derivative:
1. Forward contract yaitu tidak perlu transfer tunai pada awal transaksi dimana
transfer tunai hanya dilakukan saat jatuh tempo, mengandung risiko kredit, kontrak
dibuat sesuai dengan kebutuhan dua pihak, digunakan khusus untuk lindung nilai
dan kontrak pada umumnya untuk jangka pendek.
2. Futures contract diperlukan transfer tunai pada awal transaksi karena akan
digunakan sebagai margin (jaminan), transfer tunai juga dilakukan setiap hari.
Futures contract tidak menyediakan kontrak yang disesuaikan dengan kebutuhan
kedua belah pihak namun memiliki risiko kredit yang kecil dan untuk kontrak-
kontrak tertentu memiliki pasar yang lebih aktif dibandingkan dengan forward
contract. Futures contract yang tersedia terutama untuk jangka waktu pendek.
3. Options contract kerugian maksimum dapat dibatasi, tetapi selalu terbuka
kesempatan menguntungkan dari pergerakan harga dan untuk kebutuhan lindung
nilai kontrak dapat dibuat tailor made. Namun pembeli kontrak harus membayar
premi (harga/biaya) options di muka dan menghadapi risiko kredit dari penjual.
Sama halnya seperti forward contract dan future contract, kontrak ini opsi juga
tersedia terutama untuk jangka pendek.
4. Swaps contract merupakan kesepakatan saling mempertukarkan arus kas selama
jangka waktu tertentu. Kontrak ini juga tersedia dalam jangka waktu menengah dan
jangka panjang. Pada swaps contract mengandung risiko kredit namun tidak
diperlukan transfer uang tunai pada awal perjanjian. Untuk kebutuhan lindung nilai
juga tersedia kontrak-kontrak yang tailor made.

METODE PENELITIAN
Kajian ini merupakan sebuah conceptual paper terkait pelaksanaan kegiatan hedging
dalam perdagangan internasional melalui temuan data dan informasi yang berasal dari
data sekunder, baik yang berasal dari instansi tekait serta textbook dan publikasi ilmiah.
Tulisan ini diharapkan dapat menjadi sebuah referensi bagi pelaku dalam kegiatan
perdagangan internasional.

PEMBAHASAN
Operasi hedging adalah kontrak penjualan atau pembelian mata uang asing untuk
menghindari resiko memegang hutang dan piutang dalam mata uang asing. Untuk
menghindari resiko fluktuasi nilai mata uang asing, ada satu cara yang sering digunakan
adalah kontrak berjangka. Dalam FASB no 52 disebutkan bahwa kontrak berjangka
adalah perjanjian untuk melakukan pertukaran mata uang yang berbeda pada satu waktu
tertentu dimasa yang akan datang dan pada kurs tertentu yang disepakati (forwad rate).
PSAK no 10 menyatakan bahwa transaksi valuta berjangka adalah transaksi pertukaran
dua valuta asing melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka.
Empat situasi dimana kontrak berjangka ini digunakan adalah sebagai berikut:

209
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

1. Spekulasi
a. Bertujuan untuk berspekulasi dalam perubahan kurs
b. Keuntungan dan kerugian pertukaran diakui langsung setiap terjadi perubahan
kurs forward ( kurs tertentu yang disepakati padca masa yang akan datang oleh
perusahaan yang melakukan hedging dengan pialang )
c. Efek pendapatan sama dengan kerugian dan keuntungan pertukaran yang diakui.
4) Hedging atas posisi aktiva atau kewajiban bersih.
a. Bertujuan untuk mengimbangi eksposur posisi aktiva atau kewajiban bersih yg
ada.
b. Keuntungan dan kerugian pertukaran diakui langsung namun diimbangi oleh
keuntungan serta kerugian yang bersesuaian pada posisi aktiva dan kewajiban
bersih.
c. Premium dan diskon atas kontrak berjangka diamortisasi sebagai pendapatan
sepanjang masa kontrak berjangka.
d. Efek pendapatan sama dengan amortisasi dari premium atau diskon ( saling ofset
keuntungan dan kerugian )
5) Hedging atas komitmen yang dapat didentufikasi.
a. Hedging dapat diidentifikasi jika dianggap efektif dan mata uang tersebut
tetap/tidak berubah.
b. Bertujuan untuk mengimbangi exposure pembelian atau penjualan yang akan
direalisasikan pada masa yang akan datang dan mengunci harga dari kontrak
yang ada dalam mata uang domestic.
c. Keuntungan dan kerugian pertukaran ditangguhkan sampai komitmen
direalisasikan menjadi transaksi selanjutnya keuntungan dan kerugian yang
ditangguhkan tadi diperlakukan sebagai penyesuaian terhadap harga transaksi.
d. Pilihan premium dan diskon dapat langsung diamortisasi sebagai pendapatan
atau ditangguhkan dan diperlakukan sebagai penyesuaian terhadap
hargatransaksi.
6) Hedging atas investasi bersih dalam entitas luar negeri.
a. Bertujuan untuk mengimbangi exposure investasi bersih yang ada dalam sebuah
entitas luar negeri
b. Keuntungan dan kerugian pertukaran diakui sebagai penyesuaian ekuitas dan
akan mengimbangi penyesuaian ekuitas yang dicatat dalam investasi bersih.

Dalam perhitungan hedging atau lindung nilai , dilakukan dalam beberapa


tahapan yaitu:
1. Membuat ikhtisar aktiva dan kewajiban bersih dalam valuta asing serta kurs dalam
laporan keuangan
2. Menghitung kurs forward yang digunakan untuk meng-hedging aktiva dan
kewajiban bersih perusahaan dalam mata uang asing. Analisa hedging contract
forward dapat dihitung dengan rumus (Hamdy Hady, 2006:74) :

SR x (B-A)
Kurs Spot Rate x T
=
Forward +
100 x DB
Premium jika, forward rate > spot rate
Discount jika, forward rate < spot rate

210
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

1. Menghitung besarnya piutang kontrak (dalam mata uang asing).


2. Membandingkan keuntungan/ kerugian akibat selisih kurs.
SIMPULAN
Berdasarkan penjelasan dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Ketidakstabilan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing dapat memberikan efek
yang menguntungkan dan merugikan bagi pelaku ekspor.
2. Kebijakan yang diberlakukan dalam transaksi ekspor yaitu pelunasan piutang
memakai mata uang asing.
3. Teknik hedging contract forward sangat tepat digunakan untuk melindungi transaksi
ekspor terlihat dari kurs valas yang akan mengalami apresiasi dan nilai tukar
domestik semakin kecil.
4. Kebijakan hedging akan berdampak pada keuntungan dan kerugian, tergantung dari
kebenaran estimasi yang dilakukan eksportir dalam penetapan kurs saat jatuh tempo
piutang.
5. Sebelum memutuskan untuk menggunakan hedging, perusahaan sebaiknya
mempertimbangkan faktor-faktor yang terlibat dalam penggunaan teknik hedging
seperti nilai tukar antara mata uang asing terkait, suku bunga deposito negara-negara
terkait, suku bunga pinjaman mata uang asing terkait, dan waktu jatuh tempo
piutang.

DAFTAR PUSTAKA

Eiteman, Stonehill, Moffett. 2010. Manajemen Keuangan Multinasional Edisi kesebelas


Jilid 2, Erlangga, Jakarta.

Hady, Hamdy, 2004, Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional, Ghalia


Indonesia, Jakarta.

…………. 2006, Ekonomi Internasional Buku 1. Jakarta, Ghalia Indonesia.

Ikatan Akuntansi Indonesia, 2010, Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan (PSAK) no.
10, tentang transaksi valuta asing, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

I Nengah Andri Sutapa, Prediksi Kurs Spot dan Kurs Forward TerhadapKurs Future
Spot Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan di Kuta Badung, Jurnal Ilmiah hal
2.

Jevi Enggawati, Moch. Dzulkirom A.R, Raden Rustam Hidayat, Analisis Penggunaan
Teknik Hedging Contract Forward Untuk Mengurangi Kerugian Selisih Kurs
Valas Atas Hasil Penjualan Eksport, Jurnal Ilmiah, hal 3-4.

Levi, Maurice D. 2001. Keuangan Internasional. Yogyakarta, Andi Offset.

Madura, Jeff, 2009, Manajemen Keuangan Internasional, Ed Kedelapan (Diterjemahkan


oleh Emil Salim), Erlangga, Jakarta.

Ni Wayan Eka Mitariani, Analisis Perbandingan Penggunaan Hedging Antara Forward


Contract Dengan Currency Swap Untuk Meminimasi Risiko Foreign
Exchange,jurnal managemen strategi bisnis dan kewirausahaan vol 7, 2013.

211
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Brealey, Richard A., 2006, Dasar-dasar Manajemen Keuangan Perusahaan, Erlangga.


Jakarta

Siahaan, Hinsa, 2008, Seluk-Beluk Perdagangan Instrumen Derivatif, Cetakan Pertama,


Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

212
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

ANALISIS PENERAPAN BISNIS SOSIAL DAUR ULANG SAMPAH KORAN


TERHADAP PENURUNAN TINGKAT PENGANGURAN
DI WILAYAH KOTA BOGOR
(Studi kasus di bank sampah Rancage Bogor)

Maimunah )1
Indra Suyahya )2
1
Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI
2
Dosen Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Soasial Universitas Indrprasta PGRI

maimunah72@gmail.com
suyahyaindra@yahoo.co.id

ABSTRACT

Currently the waste problem is a very complicated issue to deal with, every day millions
of cubic garbage generated in Indonesian society and this makes the burden of the
government to manage waste. This study examines how to overcome the problems of
garbage through recycling activities are worth ekonomiesse. Purpose of the research is
to analyze the social business recycling bins to the decline in the unemployment rate in
the city of Bogor. The research method used is descriptive qualitative method. Data
collection techniques done with the completed questionnaires and interviews.
Samples taken from the population across managers and bank customers garbage
Sindang Sari Village and Tanah Baru Village by using purposive sampling. The
resultate can study that the presence of social business at the bank Rancage trash can
impact on the environment of which creates a clean and healthy environment, for
society of which can reduce the level of structural unemployment in a way that a
customer community empowerment for producing recycled paper litter. And increase
the income of its customers as well as to reduce social problems in the community,
especially the problem accumulation of garbage. As well as for government help to
environmental programs.

Keywords: Social Business, Garbage Bank, Unemployment.

PENDAHULUAN
Sampah merupakan masalah lingkungan yang belum dapat tertangani
dengan baik, terutama pada negara berkembang, karena jumlah sampah yang
dihasilkan tidak sebanding dengan kemampuan pengolahan sampah. Di Indonesia
sendiri pengolahan sampah telah dilakukan dengan cara konvensional, yaitu
pengumpulan dan pengangkutan sampah menuju tempat pembuangan akhir (TPA).
Penanganan ini masih belum dapat menyelesaikan masalah, karena hampir sebagian

213
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

besar TPA di Indonesia menggunakan jenis open dumping. Jenis TPA ini
merupakan cara penumpukan sampah di suatu lahan tanpa diberi perlakuan apapun. Di
samping itu muncul masalah baru, yaitu lahan tempat pembuangan sampah
semakin sempit, lokasi yang jauh dari kota, dan ancaman kesehatan bagi masyarakat
yang tinggal di sekitar TPA. Selain itu, pengolahan sampah juga terhambat oleh
kebiasaan manusia, dimana masih sering dapat kita temui sampah menumpuk di
tempat yang tidak seharusnya. Kebiasaan ini pulalah yang ikut ambil andil dalam
masalah sampah.
Kota Bogor merupakan salah satu kota penyangga ibu kota, jarak antara
kota Bogor dengan Jakarta kurang lebih 60 km. Kota Bogor dengan luas wilayah
11.850 Ha. Dengan
total jumlah penduduk 1.004.831 jiwa dengan penduduk terbanyak di kota Bogor
barat sebanyak 223.168 jiwa (22.21%). Diikuti penduduk kecamatan sareal sebanyak
206.028 jiwa (20.23%), Bogor selatan sebanyak 190.535 jiwa (19.05%), Bogor utara
sebanyak 180.847 jiwa (17.96%), Bogor tengah sebanyak 104.270 jiwa (10.56%)
dan Bogor timur sebanyak
99.983 jiwa (9.99%) indikator kependudukan kota Bogor tahun 2012. (sumber : bps
kota bogor, 2012)
Dari data yang dihimpun menyebutkan, jumlah pengangguran di Kota dan Kabupaten
Bogor mencetak rekor. Dan semakin tinggi pula tingkat sampah yang di hasilkan
dalam
pertahunnya.

TINJUAN PUSTAKA
Pengertian Bisnis Sosial
Kata bisnis, berasal dari bahasa Inggris business. Bisnis dapat didefinisikan
sebagai:
―segala aktivitas dari berbagai institut yang menghasilkan barang dan jasa yang perlu
untuk
kehidupan masyarakat sehari-hari‖ (M. Manulang, 2008:3)
Dengan pengertian tersebut ada sejumlah unsur penting, dalam definisi tersebut, yaitu :
1) segala aktivitas
2) institut
3) menghasilkan barang dan jasa
4) perlu untuk kehidupan masyarakat
Sedangkan menurut para ahli definisi bisnis sosial belum terlalu banyak karena
baru diperkenalkan di Indonesia baru-baru ini dengan nama Social Entrepreneur. Kata
entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, entre berarti antara prendre berarti
mengambil. Kata ini pada dasarnya digunakan untuk menggambarkan orang-
orang yang berani mengambil resiko dan memulai sesuatu yang baru.
Menurut Frederick dalam (Adie Nugroho, 2013:15) memandang bahwa entrepreneur
adalah sebagai agen perubahan yang melakukan pencarian secara sengaja, perencanaan
yang hati-hati dan pertimbangan yang seksama ketika melakukan proses
entrepreneurial atau istilah keagenannya biasa disebut dengan socioecopreneur. Untuk
itu, socioecopreneur biasanya memiliki kemampuan untuk mengetahui arah usaha yang
dijalaninya.
Visi dikembangkan sepanjang waktu yang menentukan eksistensi usahanya di
masa depan. Dibutuhkan integritas dan reliabilitas karena keduanya yang
menjadi kunci kesuksesan relasi antara usaha dan lingkungan yang membuat
socioecopreneur dapat bertahan lama dan usahanya berkelanjutan. Dengan demikian

214
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

pembangunan ekonomi berkelanjutan merupakan proses yang mendorong peningkatan


pendapatan per kapita dan menurunkan tingkat pengangguran suatu bangsa dalam
jangka panjang dengan memperhitungkan faktor keberlanjutan lingkungan dan
partisipasi aktif masyarakat.

Pengertian Sampah
Sampah merupakan ―suatu bahan atau benda padat yang sudah tidak terpakai lagi oleh
manusia atau benda padat yang sudah tidak digunakan lagi dalam suatu kegiatan
manusia dan dibuang‖ (Notoadmodjo, 2003:166). Notoadmodjo juga mengemukakan
bahwa sampah merupakan bahan yang sebelumnya berguna bagi suatu aktivitas
manusia, mamun kemudian tidak terpakai lagi. Tidak hanya itu, Notoadmdjo juga lebih
mengkhususkan sampah sebagai benda padat yang tidak terpakai lagi oleh manusia.
Definisi bahwa sampah merupakan sisa dari suatu proses kegiatan, rupanya juga
disepakati oleh khalayak umum.
Sementara itu, pengertian lain dari sampah adalah bahan yang tidak mempunyai
nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau
pamakaian barang
rusak atau bercacat dalam pembuatan manufaktur atau materi berlebihan atau ditolak
atau dibuang (Hendargo, 2000:162).
Berdasarkan berbagai pengertian di atas, dapat dilihat bahwa sampah merupakan
suatu hal yang sudah tidak berguna lagi bagi dan bahkan dapat mengganggu
kehidupan manusia,
diantaranya adalah bahwa sampah bisa mendatangkan berbagai macam penyakit. Oleh
karena itu, sampah di lingkungan manusia harus ditangani salah satu caranya
adalah dengan pengelolahan sampah. Azwar dalam (Wijayanti, 2009:12)
menyebutkan 3 langkah upaya pengolahan sampah menurut ilmu kesehatan
lingkungan, yakni penyimpanan sampah (refuse storage), pengumpulan sampah
(refuse collection), pembuangan sampah (refuse disposal) yang di dalamnya termasuk
pengangkutan sampah dan sekaligus pula pemusnahan sampah.

Pengertian Daur Ulang Sampah


Daur ulang material yang ditemukan di sampah pemukiman kota meliputi
pemulihan material dari aliran sampah, pengolahan menengah seperti pemisahan dan
pemadatan, transportasi dan pemprosesan akhir, untuk menyediakan bahan baku
bagi produsen atau produk akhir.
Beberapa jenis sampah dapat digunakan atau diolah kembali secara langsung
menjadi
produk baru melalui proses daur ulang, setelah bahan tersebut dikumpulkan dan
dibersihkan lagi. Hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan proses daur ulang
adalah mengumpulkan dan membersihkan sampah jenis tertentu, kemudian
memisahkan sesuai dengan spesifikasinya yang dibutuhkan. (Tchobanoglous, 2000:715)
Dalam proses daur ulang berbagai jenis sampah ini memang tidak bisa diharapkan
menghasilkan produk dengan kualitas seperti aslinya, namun dengan proses daur ulang
dapat membantu mengatasi permasalahan sampah yaitu dalam hal pengurangan
sampah.
Manfaat utama dari daur ulang sampah adalah konservasi sumber daya alam
dan lahan di TPA. Di sampang itu, daur ulang juga dapat meningkatkan tingkat
ekonomi para pelaku daur ulang. Dalam pabrik atau perusahaan yang dapat melakukan
proses daur ulang diperhatikan penambahan tahapan proses pada awal produksi, seperti

215
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

penghancuran, pemisahan, dan pembuangan bagian tertentu agar produksi berjalan


dengan baik.

Pengertian Tingkat Pengangguran


Pengangguran atau orang yang menganggur adalah mereka yang tidak
mempunyai pekerjaan dan sedang aktif mencari pekerjaan. Kategori orang yang
menggangur adalah
mereka yang tidak memiliki pekerjaan pada usia kerja dan pada masa kerja. Usia
kerja biasanya adalah usia yang tidak dalam masa sekolah tapi di atas usia anak-anak
(relatif di atas 6 – 18 tahun, yaitu masa pendidikan dari SD – tamat SMU). (Iskandar
Putong, 2013: 426).
Pengangguran selalu menjadi masalah, bukan saja karena pengangguran
berarti pemborosan dana. Akan tetapi juga memberikan dampak sosial yang tidak
baik misalkan akan semakin meningkatnya tindakan kriminalitas dan pelanggaran
moral. Akan tetapi di sisi lain pengangguran atau menganggur umumnya dilakukan
dengan suka rela, baik karena memilih pekerjaan, menunggu pekerjaan yang sesuai,
keluar dari pekerjaan dan perusahaan, dan berbagai macam alasan lainya.
Menurut Iskandar Putong (2013:427) Berdasarkan kenyataan yang ada,
pengangguran
di bagi menjadi tiga jenis yaitu :
1) Pengangguran Siklis
2) Pengangguran Friksional
3) Pengangguran Struktural

Sedangkan menurut Mulyadi (2014:72-73) pengangguran dibagi menjadi :


1) Pengangguran terbuka (Open Unemployment)
2) Setengah menganggur (Underemployment)
3) Setengah menganggur yang kentara (Visible Underemployment)
4) Setengah menganggur yang tidak kentara (Invisible Underemployment)
5) Pengangguran tidak kentara (Disguised Unemployment)

Tabel 1
Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia Tahun 2008 – 2010 (Agustus)

Jenis Perkotaan Pedesaan Kota + Desa


Kelamin 2008 2009 2010 2008 2009 2010 2008 2009 2010
Laki-Laki 10.41 10.23 8.21 5.51 5.52 4.61 7.59 7.51 6.15
Perempuan 11.78 11.34 11.25 8.16 6.31 6.88 9.69 8.47 8.74
Laki - Laki
& 10.94 10.66 9.37 6.52 5.82 5.48 8.39 7.87 7.14
Perempuan
Sumber : Badan Pusat Statistik (2010)

Pemilihan sampah koran untuk di daur sebagai produk jadi ini sangat bermanfaat
bagi masyarakat karena akan mengurangi masalah penumpukan sampah dan juga
masalah ekonomi keluarga. Jika sampah yang didaur ulang semakin banyak
jenisnya maka akan semakin mengurangi masalah dalam kehidupan masyarakat.
Pada bank sampah Rancage ini memilih sampah kertas dengan jenis koran
sebagai bahan dasar pengolahan produk-produk siap pakai untuk memenuhi kebutuhan

216
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

rumah tangga. Terdapat kelebihan dalam pemilihan sampah kertas ini salah satunya
sangat mudah di dapat dan mudah dalam pengolahannya. Sehingga memudahkan
masyarakat dalam memproduksi. Dan dapat dijadikan bisnis sosial dalam masyarakat.
METODOLOGI
Metode Pengumpulan Data
Pada kegiatan pengumpulan data langkah-langkah yang harus ditempuh bertujuan
untuk mendapatkan data dan informasi yang lebih lengkap. Pengumpulan data
dilakukan menggunakan teknik pengumpulan data baik dengan data primer
maupun data sekunder dalam rangka mendeskripsikan variabel-variabel penelitian.
Adapun teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Studi Kepustakaan
2. Wawancara
3. Pengamatan (Observasi)
4. Dokumentasi
5. Kuesioner (Angket)

Dengan menggunakan skala Likert yang dikembangkan oleh Ransis Likert


untuk mengetahui pengaruh penerapan bisnis sosial daur ulang sampah koran dengan
menentukan skor pada setiap pertanyaan. Skala likert merupakan skala yang dipakai
untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang / sekelompok orang tentang
fenomena sosial (Sugiyono, 2008:105). Skala ini banyak digunakan karena mudah
dibuat, bebas memasukkan pernyataan yang relevan, realibilitas yang tinggi dan
aplikat if pada berbagai aplikasi. Penelitian ini menggunakan sejumlah statement
dengan skala 5 yang menunjukan setuju atau tidak setuju terhadap statement tersebut
yaitu SS (Sangat Setuju), S (Setuju), R (Ragu-ragu), TS (Tidak Setuju), STS (Sangat
Tidak Setuju).

HASIL PEMBAHASAN
Analisis Dampak Penerapan Bisnis Sosial Daur Ulang Sampah Koran di Wilayah
Kota
Bogor
Dari penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa bisnis sosial daur ulang
sampah koran memiliki dampak sebagai berikut :
a. Lingkungan
1) Lingkungan yang bersih dan sehat
Dengan adanya bank sampah Rancage ini lingkungan di desa Tanah Baru dan
desa Sindang Sari lebih bersih dan terbebas dari beberapa jenis penyakit, yang
sumbernya berasal dari bakteri yang terdapat pada sampah. Selain itu
dilingkungan sekitar banyak di tanami tumbuhan hijau atau sayuran yang
manfaatnya langsung dapat dirasakan oleh keluarga untuk kebutuhan memasak
setiap hari. Dan potnya berasal dari limbah sampah plastik baik kantong bekas
isi minyak goreng atau dari sampah botol air mineral.
2) Menyeimbangkan ekosistem makhuk hidup
Dengan demikian lingkungan yang sehat dan terbebas dari cemaran limbah
sampah dapat menjaga keseimbangan ekosistem makhluk hidup yang ada,
khususnya makhluk hidup yang ada di darat.
3) Menjaga kelestarian lingkungan
Sedangkan air tanah tetap terjaga keasliannya karena terbebas dari cemaran
limbah lindi dan udara pun menjadi lebih bersih dan segar karena terbebas dari
bau yang tidak sedap yang berasal dari tumpukan sampah yang telah

217
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

membusuk. Sehingga warga di lingkungan desa memiliki hidup yang sehat.

b. Masyarakat
1) Penurunan tingkat pengangguran struktural
Sedikitnya dapat membantu menurunkan tingkat pengangguran di wilayah
kota Bogor. Banyak warga yang terserap sebagai tenaga kerja untuk
memproduksi produk daur ulang sampah koran ini. Yang sebelumnya telah
dilatih terlebih dahulu. Umumnya pekerjaan keseharian mereka adalah ibu rumah
tangga yang usianya masih produktif tetapi sudah tidak bekerja.
Selain ibu rumah tangga, bapak-bapak diwilayah Sindang Sari dan Tanah Baru
ini pun ikut ambil bagian menjadi nasabah bank sampah untuk menabung
sampah dan memproduksi produk daur ulang sampah tersebut. Banyak
dari mereka yang sebelumnya adalah pengangguran maupun pekerja serabutan
sebagai buruh bangunan ataupun tukang ojek dan pencabut benang diban bekas
oleh salah satu home industri yang terdapat disana.
2) Peningkatan pendapatan
Dengan demikian bisnis yang berlandaskan social preneur ini dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat. Contohnya banyak ibu-ibu rumah
tangga yang telah mandiri untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-harinya
dari hasil pendapatan menabung sampah dan mengayam produk daur ulang
sampah koran tersebut.
3) Meningkatkan sumber daya manusia yang lebih baik
Masyarakat telah terlatih dan terdidik untuk membuat produk daur ulang
sampah koran dan dituntut untuk mengembangkan produknya. Membuat inovasi
produk baru dengan berbagai bentuk dan beragam fungsinya. Dan tak sedikit pula
nasabah bank sampah ini tengah menjadi tutor bagi mahasiswa yang datang
untuk belajar memdaur ulang sampah dan juga yang sedang melakukan
penelitian. Serta meningkatkan percaya diri yang besar bagi warga karena sering
di liput oleh stasiun televisi, yang ingin mengekspos kegiatan bisnis sosial di
bank sampah sebagai inspirasi untuk warga di desa lain.
4) Meningkatkan rasa kekeluargaan antar warga
Dengan adanya rutinitas yang terjadi setiap hari di bank sampah, warga
menjadi lebih sering bertemu. Sehingga meningkatkan keakrab dan menjalin
hubungan yang baik antar warga.

c. Pemerintah
1) Membantu program pemerintah dalam hal lingkungan hidup
Membantu meringankan tugas Badan Pengelola Lingkungan Hidup
Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat dalam misinya dengan point sebagai
berikut :
a. Meningkatkan Kualitas Lingkungan (Air, Udara, dan Tanah).
b. Menjaga Keselarasan dan Keseimbangan Pemanfaatan SDA Untuk
Kesejahteraan
c. Rakyat.
d. Meningkatkan Kinerja Pengelolaan Lingkungan dunia Usaha dan Industri. d)
Membangun Kewaspadaan dan Partisipasi Masyarakat yang Responsif.
e. Membangun Masyarakat Peduli Lingkungan (Green Society).
2) Menurunkan tingkat kemiskinan
Dari program Reduce, Reuse dan Recycle (3R) yang terdapat di bank

218
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

sampah Rancage sedikitnya telat membantu penanggulangan kemiskinan.

Hasil ini dapat terlihat dalam tabel berikut :

Tabel 2
Data mengurangi masalah pengangguran

Penghasilan Frequency Percent


Sangat setuju 16 44,44
Setuju 11 30,56
Cukup setuju 6 16,67
Tidak setuju 3 08,33
Sangat tidak setuju 0 00,00
Total 36 100,00

Berdasarkan tabel 4.1 maka dapat dilihat bahwa bisnis sosial di bank
sampah dapat mengurangi masalah pengangguran dengan jumlah yang menjawab
sangat setuju sebesar 44,44 %, yang menjawab setuju sebesar 30,56 %, yang menjawab
cukup setuju sebesar 16,67 % dan yang menjawab tidak setuju sebesar 08,33 %. Besar
kemungkinan bisnis sosial di bank sampah dapat membantu mengurangi masalah
pengangguran dilingkungan masyarakat. Alasanya karena banyak sumber daya
manusia atau masyarakat yang terserap sebagai tenaga kerja untuk memproduksi
produk daur ulang sampah koran.

SIMPULAN
Berdasarkan analisis penelitian yang dilakukan, maka dapat di simpulkan bahwa
penerapan bisnis sosial daur ulang sampah koran dapat berpengaruh terhadap
penurunkan tingkat pengangguran di wilayah kota Bogor. Sekaligus dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat dan dapat memecahkan masalah sosial
khususnya masalah penumpukan sampah.

DAFTAR PUSTAKA

Adie Nugroho. 2013. Menumbuh Kembangkan SOCIO ECOPRENEUR Melalui


Kerja Sama Stategis. Penerbit Jakarta: Penebar Swadaya.

Hendargo, I. 2000. Kamus Istilah Lingkungan. Penerbit Jakarta: PT. Bina Pariwara.

Iskandar Putong. 2013. Economics Pengantar Mikro dan Makro. Penerbit Jakarta:
Mitra Wacana Media.
M. Manulang. 2008. Pengantar Bisnis. Penerbit Yogyakarta: Gadjah Mada Universit y
Press. Mulyadi S. 2014. Ekonomi Sumber Daya Manusia Dalam
Perspektif Pembangunan.

Penerbit Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Notoadmojo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Penerbit


Jakarta: Rineka Cipta.

219
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Bisnis. Penerbit Bandung: Alfabeta.

Tchobanoglous, G, Hilary Theisen, & Samuel A. Vigil. 2000. Integrated Solid


Wasted Management Engineering Principles and Management Issues. New
York: Mc Graw Hill.

Wijayanti. 2009. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Penerbit Jakarta: Mutiara.

220
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

PERAN KOPERASI SEBAGAI AKSES MODAL DAN PUSAT


PENGEMBANGAN KEAHLIAN MANAJEMEN UMKM

Endah Widati

Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi


Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial
Universitas Indraprasta PGRI

Email: endahwidati82@gmail.com

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak ke-4 didunia dengan


persebaran ekonomi yang tidak merata di setiap daerah. Hal ini menyebabkan
banyaknya penduduk yang pindah ke kota-kota besar dan mengakibatkan kosongnya
beberapa wilayah tertentu dan padatnya kota-kota besar yang menjadi tujuan penduduk.
Peningkatan jumlah ini tidak serta meningkatkan jumlah perusahaan yang menyerap
tenaga kerja sehingga banyak penduduk yang datang dari desa menjadi pengangguran.
Era globalisasi membuka peluang bagi perkembangan bisnis dan juga ketatnya
persaingan dalam hal mencari pekerjaan sehingga setiap individu dituntut untuk dapat
mandiri dengan mendirikan usaha sendiri atau menjadi entrepreneur. Namun untuk
menjadi entrepreneur tidaklah mudah, kendala terbesar adalah modal dan keahlian
dalam pengelolaan bisnis. Saat ini banyak lembaga keuangan baik bank maupun
nonbank memberikan perhatian besar pada pengembangan UMKM begitu pula
pemerintah melalui koperasi. Kajian ini merupakan sebuah conceptual paper yang
bertujuan untuk mengetahui bagaimana koperasi dapat berperan serta sebagai lembaga
nonbank untuk dapat memberikan akses modal pada para entrepreneur terutama
pengusaha UMKM dan membantu para pengusaha UMKM menambah keahlian untuk
pengelolaan bisnis yang dijalankan. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan mengunakan analisis deskripsi
kualitatif dalam mengkaji setiap data dan informasi yang dimiliki. Hipotetik solution
dari kajian ini diharapkan dapat menjadi salah satu masukan bagi pengembangan
operasional Koperasi dan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah.

Kata kunci: UMKM, koperasi, modal kerja, keahlian manajemen

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak ke-3 didunia dengan
persebaran ekonomi yang tidak merata di setiap daerah. Hal ini menyebabkan
banyaknya penduduk yang pindah ke kota-kota besar dan mengakibatkan kosongnya
beberapa wilayah tertentu dan padatnya kota-kota besar yang menjadi tujuan penduduk.
Peningkatan jumlah ini tidak serta meningkatkan jumlah perusahaan yang menyerap

221
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

tenaga kerja sehingga banyak penduduk yang datang dari desa menjadi pengangguran.
Era globalisasi membuka peluang bagi perkembangan bisnis dan juga ketatnya
persaingan dalam hal mencari pekerjaan sehingga setiap individu dituntut untuk dapat
mandiri dengan mendirikan usaha sendiri atau menjadi entrepreneur. Namun untuk
menjadi entrepreneur tidaklah mudah, kendala terbesar adalah modal dan keahlian
dalam pengelolaan bisnis. Saat ini banyak lembaga keuangan baik bank maupun
nonbank memberikan perhatian besar pada pengembangan UMKM begitu pula
pemerintah melalui koperasi.
Menurut UU No. 25 tahun 1992 pasal 2 Koperasi merupakan bentuk usaha
berdasarkan azas kekeluargaan serta berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar. Saat ini terdapat 209.488 koperasi diseluruh Indonesia, dan beberapa diantaranya
sudah dalam proses pembekuan operasional yang disebabkan oleh berbagai hal. Sejak
masa lalu sampai saat ini koperasi memiliki peran sangat penting bagi perekonomian
Indonesia khususnya bagi masyarakat diwilayah pedesaan dimana akses modal sangat
terbatas. Di era globalisasi saat ini, akses akan modal sangat mudah karena sudah
banyak lembaga keuangan baik bank dan nonbank berdiri dan memberikan layanan
pemberian pinjaman modal kepada konsumennya.Bagi seseorang yang baru memulai
usaha (start-up) terkadang memiliki banyak kendala baik dari segi sumber daya manusia
(manpower), metode (method), keuangan (money), peralatan dan mesin (machine) dan
bahan baku (material)
Sejak pemerintah mencanangkan Gerakan Kewirausahaan Nasional, Pemerintah
mulai mendukung perkembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan
berbagai cara, baik dari segi permodalan dan peningkatan kemampuan sumber daya
manusia. Pemerintah bekerja sama dengan lembaga-lembaga keuangan baik bank dan
nonbank guna meningkatkan kemudahan akses akan modal bagi para pengusaha
UMKM yang baru memulai usahanya dan mengembangkan usahanya.
Koperasi merupakan salah satu lembaga yang dipercaya pemerintah untuk
menyaluran dana tersebut bagi para pengusaha mikro di Indonesia. Namun sayangnya
usaha pemerintah ini belum menunjukkan hasil yang maksimal karena masih banyak
pengusaha mikro dan perorangan yang masih dalam posisi sama seperti saat memulai
bisnisnya dan bahkan merasakan kegagalan karena kekurangan modal dan juga
kurangnya pengetahuan bagaimana menjalankan bisnis dengan benar agar bisnisnya
dapat berjalan dan berkembang pesat. Berdasarkan hal ini lah, penulis mencoba meneliti
bagaimana peranan koperasi sebagai salah satu lembaga dimana para start up
entrepreneur dan UMKM dapat menjadikan koperasi sebagai akses modal dan pusat
pengembangan keahlian manajemen bagi UMKM.

KAJIAN PUSTAKA
KOPERASI
Berdasarkan UU No. 25 tahun 1992 koperasi adalah usaha yang beranggotakan
orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas
kekeluargaan. Koperasi didirikan karena adanya anggota dan diperuntukan untuk
mensejahterakan anggotanya. Sebagai salah satu badan hukum yang berazaskan
kekeluargaan koperasi memiliki peranan penting dalam perekonomian bangsa
Indonesia. Peranan koperasi tidak hanya tercantum dalam UU No. 25 tahun 1992
tentang Perkoperasian tetapi juga sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, bersamaan
dengan pergerakan Indonesia saat itu.
Pada saat itu, struktur perekonomian di Indonesia terbagi menjadi 3 (tiga)
lapisan yaitu: (1) lapisan atas, lapisan perekonomian yang dimiliki oleh bangsa Belanda

222
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

yang menguasai produksi pertanian, industri, perhubungan, ekspor impor, perbankan


dan asuransi; (2) lapisan kedua, merupakan lapisan perantara masyarakat Indonesia dan
Belanda yang 90% merupakan orang Tionghoa dan orang asia lainnya; dan (3) lapisan
ketiga yang terdiri dari masyarakat ekonomi serba kecil, pertanian kecil, perindustrian
kecil, perdagangan kecil dan lain sebagainya yang merupakan wilayah bagi bangsa
Indonesia saat itu. (Sholihin, 2010: 23). Sehingga koperasi menjadi pilihan tepat bagi
rakyat Indonesia.
Seiring perkembangan jaman, koperasi juga tumbuh menjadi sebuah organisasi
kerakyatan yang diandalkan dipelosok negeri. Berbagai jenis koperasi berdiri dan ada
untuk memperbaiki serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Adapun
jenis-jenis koperasi menurut UU No. 25 tahun 1992, koperasi terbagi menjadi 2 jenis
yakni (a) Koperasi Primer dan (b) Koperasi Sekunder. Sedangkan menurut jenis
usahanya koperasi terbagi menjadi 4 (empat) yakni: Koperasi simpan-pinjam, koperasi
konsumsi, koperasi produsen dan koperasi jasa (UU No. 17 tahun 2012 pasal 84)
MODAL KERJA
Dalam mendirikan sebuah usaha seorang calon pengusaha memerlukan modal
baik modal finansial maupun modal nonfinansial. Modal nonfinansial meliputi:
keahlian, mental, cara berpikir dan juga kepercayaan. Sedangkan modal secara finansial
tentunya berupa uang yang dapat dijadikan investasi awal untuk memulai usaha. Modal
Kerja adalah dana yang ditanamkan dalam aktiva lancar, berupa kas, piutang, surat –
surat berharga, persediaan dan lain-lain. (Wasis, 1991:63).
Menurut Wasis (1991: 63) Modal kerja terbagi 2 (dua) yakni (a) Modal kerja
bruto adalah keseluruhan dari aktiva / harta lancar yang terdapat dalam sisi debet
neraca. (b) Modal kerja neto adalah keseluruhan harta lancar dikurangi utang lancar.
Dengan perkataan lain modal kerja neto adalah selisih antara aktiva lancar dikurangi
dengan hutang lancar. Sedangkan menurut WB. Taylor (dikutip oleh Riyanto, 1992: 61)
Modal kerja dapat digolongkan menjadi 2 (dua) golongan yakni: (1) modal kerja
permanen (permanent working capital) yaitu: modal kerja yang harus tetap ada pada
perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya. Modal kerja permanen terdiri dari
modal kerja primer, yaitu modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk
menjamin keberlangsungan perusahaan, dan modal kerja normal, yaitu modal kerja
yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal. (2) modal kerja
variable (variable working capital) adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah,
terdiri dari: (a) modal kerja musiman (seasonal working capital) yaitu modal kerja yang
berubah-ubah karena fluktuasi musim; (b) modal kerja siklis (cyclical working capital)
adalah modal kerja yang berubah disebabkan oleh fluktuasi konjungtur; (c) modal kerja
darurat (emergency working capital) adalah modal kerja yang berubah karena adanya
keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.
KEAHLIAN MANAJEMEN
Keahlian atau kompetensi adalah suatu sifat dasar seseorang yang dengan
sendirinya berkaitan dengan pelaksanaan suatu pekerjaan secara efektif (Mitrani,
1995:21 dikutip dalam Ardiana, 2010:44). Menurut Mitrani (1995) keahlian atau
kompetensi dapat berupa tujuan, perangai, konsep diri, sikap atau nilai, penguasaan
masalah atau keterampilan kognitif atau keterampilan perilaku (dikutip dalam Ardiana,
2010:44)
Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan yang dilakukan oleh anggota-anggota organisasi dan penggunaan sumber
daya organisasi lain guna mencapai tujuan organisasi. Kemampuan manajerial yang
harus dimiliki oleh setiap pelaku usaha terbagi menjadi 3 yakni kemampuan teknis,
kemampuan human dan kemampuan konseptual. Adapun kemampuan manajerial yang

223
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

sebaiknya dimiliki adalah kemamapuan dalam manajemen pemasaran, manajemen


keuangan, manajemen operasional, manajemen sumber daya manusia sertta manajemen
strategik.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah


Menurut UU No. 20 tahun 2008, yang dimaksud UMKM adalah Usaha Mikro,
Usaha Kecil dan Usaha Menengah. Adapun usaha mikro adalah usaha produktif milik
orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria sebagai
berikut:
1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000.- (lima puluh juta rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau
2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta
rupiah)

Sedangkan usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung usaha menengah atau usaha besar yang
memenuhi kriteria dibawah ini (UU No. 20 tahun 2008):
1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000.- (lima puluh juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau
2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000.- (tiga ratus juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.2.500.000.000.- (dua milyar lima ratus juta
rupiah)

Usaha menengah merupakan usaha usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung usaha menengah atau usaha besar dengan jumlah
kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta) dan paling banyak Rp.
10.000.000.000,- (sepuluh milyar) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
atau hasil penjualan tahunan diatas Rp. 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta) dan
paling banyak sebesar Rp. 50.000.000.000,- (lima puluh milyar) (UU No. 20 tahun
2008)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitan konseptual dimana proses penelitian ini
dijalankan dengan mengembangkan konsep dan teori yang dapat dipertanggung
jawabkan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan menggunakan data
sekunder.
PEMBAHASAN
Sejak terjadinya krisis ekonomi 1997-1998 terbukti bahwa usaha mikro, kecil
dan menengah mampu membuat ekonomi Indonesia kembali kuat. Oleh karena itu
pemerintah memberikan perhatian khusus bagi para pengusaha mikro, kecil dan
menengah untuk dapat mengembangkan bisnisnya. Per 31 Desember 2012 data
kementerian UMKM dan koperasi menunjukkan bahwa terdapat 55.856.176 usaha
mikro, 629.418 usaha kecil dan 48.997 usaha menengah. Jumlah ini terus berkembang
selama 10 tahun terakhir. Peningkatan jumlah UMKM yang ada di Indonesia

224
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

dikarenakan adanya dukunaan pemerintah terhadap iklim perekonomian bagi UMKM.


UMKM terbukti memberikan kontribusi sebesar 57.12% terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB). Sektor ini juga terbukti telah menyerap 101,72 tenaga kerja atau 97,3%
dari total tenaga kerja Indonesia. Namun itu hanyalah gambaran keseluruhan secara
Nasional tidak demikian apabila menelisik lebih detail pada permasalahan bagaimana
sebuah UMKM dapat berkembang. Setidaknya terdapat beberapa masalah yang menjadi
rintangan dan hambatan UMKM untuk berkembang diantaranya adalah: (1) rendahnya
produktifitas (2) terbatasnya akses UMKM terhadap sumber daya produktif, dan (3)
kurang kondusifnya iklim usaha. Ke-3 masalah ini merupakan tantangan besar yang
harus dihadapi oleh UMKM agar dapat berkembang terutama bagi start up UMKM.
Hubeis dalam Lupyoadi (2004, dikutip dalam Agustina, 2011:67) menjelaskan
bahwa 80% dari perusahaan pemula (start up company) gagal di tahun pertama. Hal ini
disebabkan bahwa pada usaha baru terdapat peluang yang sangat besar namun tidak
diimbangi dengan kemampuan finansial dan tim manajemen yang cukup sehingga
menimbulkan resiko dan ketidakpastian atas usaha yang besar (Timmons, 2003 dikutip
dalam Agustina, 2011: 67). Agar dapat terhindar dari kegagalan, maka sebuah UMKM
perlu mendapatkan dukungan baik secara finansial dan pelatihan guna meningkatkan
kemampuan dalam hal pengelolaan usaha dan manajemen. Sriyana (2010: 91)
menunjukkan beberapa hal yang diinginkan oleh para pelaku UMKM. Adapun hal-hal
tersebut seperti yang ditunjukkan table 1.

Tabel 1 Harapan Kemudahan dari Pemerintah


No. Kemudahan yang diharapkan dari pemerintah
1. Bantuan modal usaha dengan persyaratan ringan
2. Jaminan dalam meningkatkan kredit ringan
3. Promosi iklan gratis, memberikan orderan gratis
4. Kemudahan memperoleh kredit, pengurusan administrasi bisnis
5. Pajak dikurangi, fasilitas kredit
6. Kredit lunak dan cepat
7. Memberikan perhatian kepada industry
8. Dana UKM terealisasi dengan merata
9. Menjadi mitra pemerintah dalam pengadaan barang, dipasarkan oleh
pemerintah
10. Bunga stabil dan tidak mati lampu
11. Bantuan KUR dipermudah
12. Agar dapat pesanan proyek dari pemerintah
13. Lebih memperhatikan sector kecil
14. Bantuan dana dari pemerintah
15. Pemerinta bekerja sama dengan bank untuk mempermudah usaha
Sumber: Sriyana (2011:97)
Seperti yang terlihat pada table 1 bahwa para pelaku UMKM mengharapkan
kemudahan dalam hal finansial, seperti bantuan modal dengan persyaratan ringan,
realisasi dana UKM serta dipermudahnya bantuan KUR.
Koperasi merupakan salah satu pilar ekonomi nasional yang memiliki peran dan
fungsi untuk membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi
anggota pada khusunya dan masyarakat pada umumya untuk meningkatkan
kesejahteraan sosialnya. Selain itu koperasi juga berperan secara aktif dalam upaya
meningkatkan kualitas kehidupan anggota dan masyarakat. Koperasi melalui bidang
usaha yang dijalankan dapat membantu mengatasi permasalahan UMKM terutama dari
aspek keuangan dan pengembangan kemampuan sumberdaya manusia. Dalam aspek
225
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

keuangan, Koperasi memiliki modal usaha dari modal sendiri yang bersumber dari
anggota berupa simpanan wajib, simpanan pokok, dana cadanagn dan hibah. Selain itu
koperasi juga dapat memiliki modal pinjaman dari anggota, koperasi lain, bank dan
lembaga keuangan lain dan penerbitan obligasi.
Untuk dapat mempermudah para pelaku UMKM mewujudkan harapannya
kepada pemerintah, para pelaku UMKM dapat bergabung menjadi anggota sebuah
koperasi sesuai dengan bidang usahanya sehingga dapat merasakan manfaat dari
keanggotaan koperasi. Melalui koperasi pelaku UMKM dapat mendapatkan bantuan
modal dengan persyaratan ringan, kemudahan memperoleh kredit lunak dan cepat,
bunga yang cenderung stabil. Hal ini karena koperasi merupakan badan usaha yang
didirikan atas dasar kebersamaan dan kekeluargaan. Kemudahann ini diakui oleh
sebagian besar pelaku UMKM yang merasakan manfaat dari pinjaman yang diberikan
koperasi kepada anggotanya. Berdasarkan hasil penelitian Carolina (2013) sebanyak
95% UMKM yang diteliti mengemukakan bahwa pinjaman dari koperasi sangat
bermanfaat bagi keberlangsungang usaha dan kegiatan operasional. Sedangkan sisanya
berpendapat sebaliknya, hal ini dikarenakan tingginya bunga pinjaman yang diberikan
oleh koperasi. Sedangkan dari aspek produktifitas, sebuah UMKM juga tidak mungkin
memiliki produktifitas tinggi tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang handal
dan memiliki kapabilitas.
Dengan memiliki kapabilitas dan kemampuan maka sumber daya manusia
UMKM maka akan mempengaruhi produktifitas individual yang berkecimpund di
UMKM, hal ini juga berimbas pada produktifitas UMKM tersebut. Untuk dapat
meningkatkan produktifitas UMKM maka seorang pelaku UMKM perlu mempelajari
dan memahami bagaimana pengelolaan usaha yang efektif dan efisien. Hal ini
menekankan bahwa SDM yang terdapat pada UMKM memerlukan pengembangan dari
segi kemampuan manajerial, koperasi dapat menyelenggarakan pendidikan dan latihan
manajemen sebagai salah satu program kegiatan untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia UMKM. Koperasi dapat menyelenggarakan berbagai pelatihan baik
keterampilan maupun pengelolaan manjamen seperti pelatihan dasar manajerial1 dan
berjenjang. Serta melakukan pendampingan terhadap penerapan ilmu manajemen di
UMKM yang bersangkutan. Lemahnya peranan sebagai lembaga pengembangan bisnis
dikarenakan biasanya koperasi tidak fokus dalam melakukan aktifitas pelatihan dan
pengembangan kemampuan dibidang manajemen. Untuk meminimalisir kelemahan
tersebut, koperasi dapat menjadi fasilitator dan penyedia ahli agar para anggotanya
mendapat pelatihan dan pendampingan dalam usahanya. Sebuah penelitian
mengemukakan bahwa 98.33% pelatihan dan pendidikan sangat bermanfaat bagi
peningkatan kemampuan SDM UMKM guna menjalankan bisnisnya. Sedangkan
sisanya yakni 1,67% tidak bermanfaat dan tidak berperan dalam peningkatan
kemampuannya (Carollina, 2013) hal ini menunjukkan bahwa koperasi berperan penting
dalam meningkatkan kemampuan SDM UMKM baik dari segi kemampuan manajerial
maupun operasional.

SIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa koperasi sebagai badan usaha dan soko guru
perekonomian Indonesia memiliki peranan penting dalam mewujudkan cita-cita
mensejahterakan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Koperasi
dapat menyalurkan bantuan modal dengan bunga lunak dan persyaratan yang mudah
tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian. Selain itu koperasi dapat berperan sebagai
lembaga pengembangan bisnis dan pusat keahlian manajemen dengan mengadakan

226
Vol. 1, No. 1 Februari 2015 ISSN : 2442-5532

pelatihan dan pendampingan ilmu manajemen bagi anggotanya secara berjenjang.


Adapun beberapa saran yang diberikan adalah:
1. Sebaiknya para pendiri koperasi mempelajari jiwa koperasi secara menyeluruh
sehingga paham benar peran strategis koperasi
2. Adanya proses pemberian atau akses kemudahan modal tanpa meninggalkan prinsip
kehati-hatian.
3. Adanya program pelatihan dan pendidikan serta pendampingan terjadwal dan
berkelanjutan bagi setiap anggota dalam menjalankan bisnisnya

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Tri Siwi. 2011. Peran Inkubator Bisnis Perguruan Tinggi Dalam
Meminimalkan Resiko Kegagalan Bagi Wirausahaan Baru Pada Tahap Awal
(Start Up). Majalah Ekonomi. Tahun XXI. No. 1. Hal 64-74
Carollina, Monica. Ag. Edi Sutarta. 2013. Peran Credit Union Sebagai Lembaga
Pembiayaan Kredit Mikro. Studi Kasus: UMKM di Desa Tumbang Manggo
Kecamatam Sanaman, Mantikel, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Artikel

I.D.K.R. Ardiana, I.A. Brahmayanti, Subaedi. 2010. Kompetensi SDM UKM dan
Pengaruhnya terhadap Kinerja UKM di Surabaya. Jurnal Manajemen dan
Kewirausahaan. Vo. 12. No. 1. Maret. Hal 42-55

Riyanto, Bambang. 1992. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi 3. Yayasan


Penerbit Gajah Mada (BPFE). Yogyakarta

Sholihin, Shofwan Azhar. 2010. Peran Koperasi Dalam Perekonomiaan Nasional


(antara Komitmen dan Pelaksanaannya). Coopetition, Vol. 1, No. 1, Maret, hal
22-31

Sriyana, Jaya. 2010. Strategi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) : Studi
Kasus di Kabupaten Bantul. Simposium Nasional 2010: Menuju Purworejo
Dinamis dan Kreatif.

Wasis. 1991. Manajemen Keuangan Perusahaan. Edisi 2. Satya Wacana. Semarang

http://www.sindotrijaya.com/news/detail/3910/sektor-umkm-menyerap-973-dari-total-
tenaga-kerja-indonesia#.VOy-TvmUeF8

227