Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGELOLAAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN


(MKB 4310)

PERHITUNGAN INTENSITAS PENYAKIT BERCAK COKLAT


(Cercosporidium henningsii ) PADA DAUN UBI KAYU

Disusun oleh:

Diah Pangesti
NPM. 1710631090016
Kelompok 1

Dosen Pengampu Mata Kuliah:


Lutfi Afifah SP, M.Si

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu komoditas


penting di Indonesia karena selain untuk memenuhi kebutuhan ekspor, ubikayu
juga merupakan tanaman pangan yang pada beberapa wilayah dijadikan sebagai
bahan makanan pokok. Saat ini, Indonesia merupakan negara produsen ubikayu
terbesar keempat di dunia setelah Nigeria, Thailand dan Brasil. Ekspor ubikayu
di Indonesia pada umumnya dalam bentuk ubikayu kering (gaplek atau lainnya)
dan tepung tapioka (Widaningsih, 2015).
Ubi kayu merupakan komoditas yang cukup banyak dimanfaatkan oleh
masyarakat sebagai tanaman pangan. Umbinya dapat dimanfaatkan sebagai
bahan pangan dan bahan olahan pangan, daunnya juga seringkali dikonsumsi
oleh masyarakat luas. Hal ini membuat ubi kayu banyak dibudidadayakan
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan permintaan pasar. Rendahnya
produksi dan produktivitas merupakan masalah umum pada pertanaman ubikayu.
Hal tersebut disebabkan oleh penurunan luas areal tanam setiap tahunnya,
serangan hama dan patogen tanaman serta sedikitnya penggunaan klon-klon
ungguls. Salah satu contoh penyakit yang menyerang komoditas ini adalah
penyakit bercak coklat pada daun yang disebabkan oleh Cercosporidium
henningsii. Untuk itu, diperlukan pengetahuan tentang intensitas penyakit
serta upaya pengendalian yang efektif dan efisien.
Secara umum penyakit bercak daun coklat bukan merupakan penyakit
penting karena tidak menyebabkan tanaman mati, tetapi di lapangan
menunjukkan bahwa pada varietas rentan dan kondisi lingkungan mendukung,
penyakit bercak daun coklat akan berkembang hingga menyerang seluruh daun.
Pada kondisi demikian, penyakit tersebut dapat menyebabkan kehilangan hasil
yang besar (Saleh dan Muslikul, 2011). Kehilangan hasil yang disebabkan oleh
penyakit bercak daun coklat pada varietas tanaman yang rentan dapat mencapai
20-30% (Saleh dkk., 2013).
Gejala Penyakit akbibat Cercosporidium henningsii yang terdapat pada
daun berupa bercak di kedua sisi daun. Pada sisi atas bercak tampak berwarna
coklat dan di tengahnya terdapat warna keabu-abuan yang merupakan konidia
dari jamur. Bercak berbentuk bulat dengan garis tengah 3 – 12 mm. Jika bercak
berkembang bentuk bercak menjadi kurang teratur dan agak bersudut – sudut
karena dibatasi oleh tepi daun atau tulang – tulang daun. Jika penyakit
berkembang terus maka daun yang sakit menguning, mengering dan gugur
(Saleh dkk., 2016)
Penyebab Penyakit bercak daun coklat disebabkan oleh jamur C. henningsii.
Hifa jamur berkembang di dalam ruang antar sel dengan membentuk stroma
dengan garis tengah 20-435μm. Konidiofor berwarna coklat kehijauan, tidak
bercabang dan bulat pada ujungnya. Konidium dibentuk pada ujung konidiofor,
berbentuk tabung, lurus atau agak bengkok, kedua ujungnya membulat tumpul,
bersekat 2-8 dan berwarna coklat kehijauan (Semangun, 2008).
Pengukuran penyakit seringkali masih bersifat subjektif sehingga dalam
mengkuantitatifkan penyakit perlu dibuat standard diagram yang spesifik
untuk masing-masing jenis tanaman, patogen, penyakit, lokasi dan bagian
tanaman yang terserang, misalnya daun muda, daun tua, atau keseluruhan
daun (Semangun, 1993). Maka dari itu dibuat sistem penilaian dengan skor
dan skala pada pengukuran intensitas penyakit.
Intensitas penyakit adalah proporsi area tanaman yang rusak atau dikenai
gejala penyakit karena serangan patogen dalam satu tanaman. Intensitas
penyakit mencakup insidensi/kejadian penyakit dan severitas/keparahan
penyakit.
Insidensi Penyakit (Disease incidence atau Frequency atau Kejadian
Penyakit) merupakan: Proporsi individual inang / organ yang terserang
penyakit, tanpa memperdulikan seberapa berat penyakitnya. Biasanya
dinyatakan sebegai presentase contoh tanman yang terinfeksi (n) terhadap
seluruh contoh tanaman uang diamati (N).
Sedangkan Severitas Penyakit (Disease Severity / Keparahan Penyakit)
merupakan proporsi permukaan inang yang terinfeksi terhadap total
permukaan inang yang diamati. Berat penyakit dapat diperkirakan secara
visual langsung / in situ dari unit contoh misalkan daun atau dengan
pengamatan organ secara destruktif.
1.2 Tujuan

1. Mahasiswa dapat melihat gejala penyakit bercak coklat pada daun


akibat jamur Cercosporidium henningsii pada daun tanaman ubi kayu.
2. Mahasiswa dapat menentukan kategori serangan, skor dan presentase
kerusakan pada daun tanaman ubi kayu yang terinfeksi oleh jamur
Cercosporidium henningsii.
3. Mahasiswa dapat menghitung insidensi penyakit dan severitas
penyakit berdasarkan data skor dan presentase kerusakan dari daun
tanaman ubi kayu yang telah diamati.
BAB 2
METODE

2.1 Alat dan Bahan

Alat :
1. Alat tulis
2. Kertas kerja

Bahan :
1. Daun tanaman ubi kayu sejumlah 20 yang masing-masih sudah diberi
nomor

2.2 Langkah Kerja

1. Masing-masing mahasiswa mengamati gejala penyakit bercak cokelat


daun pada salah satu helai daun tanaman ubi kayu.
2. Skala kerusakan dan presentase serangan pada daun akibat infeksi
jamur Cercosporidium henningsii ditentukan berdasarkan diagram
skor.
Keparahan atau berat gejala dinyatakan sebagai presentase luas gejala
terhadap luas total permukaan daun dan dikategorikan dalam skala
kerusakan dengan masing-masing nilai skor sebagai berikut:

Tabel 1 Skala dan presentase kerusakan daun

Kategori serangan Skor Kerusakan (%)


Tidak ada serangan 0 0
Serangan ringan 1 1-5
Serangan sedang 2 6-10
Serangan berat 3 11-35
Serangan sangat berat 4 36-65
Kerusakan parah 5 66-100
3. Kegiatan penentuan skor dan presentase serangan tersebut dilakukan
secara berulang pada helai daun ubi kayu yang berbeda-beda sampai
dengan 20 kali.
4. Data-data hasil pengamatan dicatat pada kertas kerja.
5. Data-data yang telah terkumpul digunakan untuk menghhitung
insidensi (kejadian) penyakit dan severitas (keparahan) penyakit
dengan rumus masing-masing sebagai berikut:

𝑛
Insidensi / kejadian penyakit = × 100%
𝑁
Keterangan :
n = Presentase contoh tanaman terinfeksi
N = Seluruh contoh tanaman yang diamati

∑𝑛 × 𝑣
Severitas penyakit = × 100%
𝑁×𝑉
Keterangan :
n = Jumlah tanaman yang tergolong dalam suatu kategori serangan
v = Skor pada setiap kategori serangan
N = Jumlah tanaman diamati
V = Skor untuk kategori terberat
BAB 3
ISI DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

Tabel 2 Data pengamatan skor, presentase kerusakan daun dan Severitas penyakit
Pengamatan Kerusakan Penyakit
Daun
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Kelompok 5 Kelompok 6
ke-
% Skor % Skor % Skor % Skor % Skor % Skor
1 4 1 3 1 4 1 5 1 2 1 2 1
2 90 5 28 3 7 2 2 1 3 1 0 0
3 40 4 45 4 82 5 70 5 18 3 70 5
4 100 5 40 4 80 5 40 4 1 1 11 3
5 1 1 1 1 2 1 3 1 1 1 1 1
6 30 3 15 3 20 3 20 3 10 2 5 1
7 35 3 66 5 25 3 15 3 15 3 2 1
8 12 3 52 4 27 3 15 3 8 2 40 4
9 6 2 8 2 5 1 5 1 2 1 2 1
10 100 5 87 5 69 5 40 4 20 3 11 3
11 10 2 34 3 8 2 30 3 12 3 4 1
12 8 2 5 1 3 1 5 1 5 1 4 1
13 4 1 4 1 5 1 5 1 5 1 3 1
14 10 2 37 4 10 2 10 2 8 2 7 2
15 4 1 5 1 4 1 5 1 1 1 1 1
16 66 5 52 4 70 5 70 5 15 3 11 3
17 12 3 17 3 38 4 40 4 30 3 20 3
18 20 3 38 4 50 4 60 4 20 3 60 4
19 100 5 70 5 45 4 40 4 50 4 60 4
20 7 2 8 2 6 2 13 2 3 1 3 1
∑n×v 58 60 55 53 51 41
N×V 100 100 100 100 100 100
Severitas
58% 60% 55% 53% 51% 41%
penyakit
Rata-rata
severitas 53%
penyakit
Tabel 3 Insidensi Penyakit
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Kelompok 5 Kelompok 6
100% 100% 100% 100% 100% 95%

Contoh perhitungan Insidensi dan Severitas penyakit Kelompok 1 :

𝑛
Insidensi penyakit =
𝑁
20
= × 100%
20
= 100%

∑𝑛 × 𝑣
Severitas penyakit =
𝑁×𝑉
(4 × 1) + (5 × 2) + (5 × 3) + (1 × 4) + (5 × 5)
= × 100%
20 ×5
= 0,58 × 100%
= 58%
3.2 Pembahasan
Praktikum ini menjelaskan pengukuran penyakit serta perhitungan
intensitas penyakit bercak coklat pada daun tanaman ubi kayu yang
disebabkan oleh infeksi jamur Cercosporidium henningsii. Pengamatan
dilakukan pada sampel daun sejumlah 20 helai yang telah diberi nomor secara
berurutan. Gejala yang tampak pada daun yang terinfeksi berupa lingkaran-
lingkaran kecil beridameter antara 3 – 12 mm berwarna coklat dan di
tengahnya terdapat warna keabu-abuan yang merupakan konidia dari jamur.
Jumlah bercak ditentukan oleh keparahan infeksi jamur dan derajat kerusakan
pada daun tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan dari setiap kelompok, didapati bahwa
penilaian terhadap insidensi dan severitas penyakit pada daun tanaman ubi
kayu berada pada kisaran masing-masing 51 - 60% dan 95 – 100%.
Pemberian skor dan penentuan presentase keparahan penyakit dilakukan
berdasarkan tabel yang sudah ditentukan, tetapi data hasil pengamatan yang
didapatkan pada setiap kelompok berbeda. Hal ini dikarenakan penilaian
dilakukan secara subjektif dan setiap mahasiswa memiliki penilaian berbeda.
Presentase insidensi penyakit kelompok 6 adalah sebesar 95%,
sedangkan kelompok lainnya adalah 100%. Hal ini menandakan bahwa
hampir keseluruhan sampel daun terinfeksi jamur Cercosporidium henningsii,
tetapi tingkat keparahannya berbeda-beda.
Presentase severitas penyakit paling tinggi diperoleh pada kelompok 2,
yaitu sebesar 60%, selanjutnya secara berurutan adalah kelompok 1 sebesar
58%, kelompok 3 sebesar 55%, kelompok 4 sebesar 53%, kelompok 5
sebesar 51% dan kelompok 6 sebesar 41%. Nilai presentase dari masing-
masing kelompok jika dikalkulasikan memiliki nilai rata-rata sebesar 53%.
Hal ini menandakan bahwa infeksi jamur Cercosporidium henningsii pada
rata-rata sampel daun berada pada kategori serangan sangat berat jika dilihat
pada tabel.
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Intensitas penyakit adalah proporsi area tanaman yang rusak atau dikenai
gejala penyakit karena serangan patogen dalam satu tanaman. Intensitas
penyakit mencakup insidensi/kejadian penyakit dan severitas/keparahan
penyakit. Insidensi Penyakit (Disease incidence atau Frequency atau
Kejadian Penyakit) merupakan: Proporsi individual inang / organ yang
terserang penyakit, tanpa memperdulikan seberapa berat penyakitnya.
Sedangkan Severitas Penyakit (Disease Severity / Keparahan Penyakit)
merupakan proporsi permukaan inang yang terinfeksi terhadap total
permukaan inang yang diamati.
Diketahui dari hasil pengamatan bahwa hampir seluruh sampel terinfeksi
jamur Cercosporidium henningsii (Presentase insidensi penyakit 90 – 100%).
Didapati tingkat severitas rata-rata dari seluruh sampel sebesar 53%. Angka
ini tergolong dalam tingkat keparahan penyakit tinggi.

4.2 Saran
Usahakan praktikan lebih objektif dan menyamakan pendapat dalam
menentukan skor dan presentase keparahan penyakit agar data yang didaptkan
tidak terlalu berbeda dan perhitungan intensitas penyakit dapat lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Saleh, N., Mudji, R., Sri, W. I., Budhi, S. R., Sri, W. 2013. Hama, penyakit dan
gulma pada tanaman ubi kayu: Identifikasi dan pengendaliannya. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Saleh, N., Didik, H. I. Made, J, N. 2016. Penyakit-penyakit penting pada ubikayu


: deskripsi, bioekologi dan pengendaliannya. Balai Penelitian Tanaman
Aneka Kacang dan Umbi. Malang.

Semangun, H. 1993. Penyakit-penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. (Food crop


diseases in Indonesia). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Semangun, H. 2008. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan Di Indonesia.


Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Widaningsih, Roch. 2015. Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Ubi


Kayu. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian.
Jakarta.