Anda di halaman 1dari 13

2.

1 Definisi Osteoarthritis
Osteoarthritis merupakan gangguan pada satu sendi atau lebih, bersifat lokal, progresif

dan degeneratif yang ditandai dengan perubahan patologis pada struktur sendi tersebut
yaitu berupa degenerasi tulang rawan/kartilago hialin. Hal tersebut disertai dengan
peningkatan ketebalan dan sklerosis dari subchondral yang bisa disebabkan oleh
pertumbuhan osteofit pada tepian sendi, peregangan kapsul artikular, synovitis ringan
pada persendian, dan lemahnya otot-otot yang menghubungkan persendian (Fauci,2012).

2.2 Etiologi
Etiologi osteoarthritis belum diketahui secara pasti, namun faktor biomekanik dan
biokimia sepertinya merupakan faktor terpenting dalam proses terjadinya osteoarthritis.
Faktor biomekanik yaitu kegagalan mekanisme protektif, antara lain kapsul sendi,
ligamen, otot-otot persendian, serabut aferen, dan tulang-tulang. Kerusakan sendi terjadi
multifaktorial, yaitu akibat terganggunya faktor-faktor protektif tersebut. Osteoarthritis
juga bisa terjadi akibat komplikasi dari penyakit lain seperti gout, rheumatoid arthritis, dan
sebagainya.

2.5 Faktor resiko


a. Faktor resiko sistemik
1. Usia : merupakan faktor risiko paling umum pada OA. Proses penuaan
meningkatkan kerentanan sendi melalui berbagai mekanisme. Kartilago pada
sendi orang tua sudah kurang responsif dalam mensintesis matriks kartilago
yang distimulasi oleh pembebanan (aktivitas) pada sendi. Akibatnya, sendi pada
orang tua memiliki kartilago yang lebih tipis. Kartilago yang tipis ini akan
mengalami gaya gesekan yang lebih tinggi pada lapisan basal dan hal inilah
yang menyebabkan peningkatan resiko kerusakan sendi. Selain itu, otot-otot
yang menunjang sendi menjadi semakin lemah dan memiliki respon yang kurang
cepat terhadap impuls. Ligamen menjadi semakin regang, sehingga kurang
bisa mengabsorbsi impuls. Faktor-faktor ini secara keseluruhan meningkatkan
kerentanan sendi terhadap OA.
2. Jenis kelamin : masih belum banyak diketahui mengapa prevalensi
OA pada perempuan usila lebih banyak daripada laki-laki usila. Resiko
ini dikaitkan dengan berkurangnya hormon pada perempuan pasca menopause.
3. Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis. Adanya mutasi dalam
gen prokolagen atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi
seperti kolagen, proteoglikan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial
pada osteoartritis.
b. Faktor intrinsik
1. Kelainan struktur anatomis pada sendi seperti vagus dan valrus.
2. Cedera pada sendi seperti trauma, fraktur, atau nekrosis.
a. Faktor beban pada persendian
1. Obesitas : beban berlebihan pada sendi dapat mempercepat kerusakan
pada sendi.
Penggunaan sendi yang sering : aktivitas yang sering dan berulang pada sendi dapat
menyebabkan lelahnya otot-otot yang membantu pergerakan sendi (David,2006).
2.8 Diagnosis
Diagnosis osteoarthritis lutut berdasrkan klinis, klinis dan radiologis, serta klinis dan
laboratoris (Daniel, 2001)
a. Klinis:
Nyeri sendi lutut dan 3 dari kriteria di bawah ini:
1. umur > 50 tahun
2. kaku sendi < 30 menit
3. krepitus
4. nyeri tekan tepi tulang
5. pembesaran tulang sendi lutut
6. tidak teraba hangat pada sendi
b. Klinis, dan radiologis:
Nyeri sendi dan paling sedikit 1 dari 3 kriteria di bawah ini:
1. umur > 50 tahun
2. kaku sendi <30 menit
3. krepitus disertai osteofit
c. Klinis dan laboratoris:
Nyeri sendi ditambah adanya 5 dari kriteria di bawah ini:
1. usia >50 tahun
2. kaku sendi <30 menit
3. Krepitus
4. nyeri tekan tepi tulang
5. pembesaran tulang
6. tidak teraba hangat pada sendi terkena
7. LED<40 mm/jam
8. RF <1:40
9. analisis cairan sinovium sesuai osteoarthritis

2.10 Penatalaksanaan
Strategi pengelolaan pasien dan pilihan jenis pengobatan ditentukan oleh letak sendi
yang mengalami OA, sesuai dengan karakteristik masing-masing serta kebutuhannya. Oleh
karena itu diperlukan penilaian yang cermat pada sendi dan pasiennya secara keseluruhan,
agar pengelolaannya aman, sederhana, memperhatikan edukasi pasien serta melakukan
pendekatan multidisiplin atau holistic (Kasmir,2009).
Tujuan penatalaksanaan pasien dengan osteoarthritis adalah:
1. Meredakan nyeri
2. Mengoptimalkan fungsi sendi
3. Mengurangi ketergantungan kepada orang lain dan meningkatkan kualitas
hidup
4. Menghambat progresivitas penyakit
5. Mencegah terjadinya komplikasi
Penatalaksanaan pada pasien dengan osteoarthritis yaitu:
I. Nonfarmakologis:
a. Modifikasi pola hidup
b. Edukasi
c. Istirahat teratur yang bertujuan mengurangi penggunaan beban pada sendi
d. Modifikasi aktivitas
e. Menurunkan berat badan
f. Rehabilitasi medik/ fisioterapi
o Latihan statis dan memperkuat otot-otot
o Fisioterapi, yang berguna untuk mengurangi nyeri, menguatkan otot, dan
menambah luas pergerakan sendi
g. Penggunaan alat bantu
II. Farmakologis
1. Sistemik
a. Analgetik
- Non narkotik: parasetamol
- Opioid (kodein, tramadol)
b. Antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs)
- Oral
- injeksi
- suppositoria
c. Chondroprotective
Yang dimaksud dengan chondoprotectie agent adalah obat-obatan yang dapat
menjaga dan merangsang perbaikan (repair) tuamg rawan sendi pada pasien OA,
sebagian peneliti menggolongkan obat-obatan tersebut dalam Slow Acting Anti
Osteoarthritis Drugs (SAAODs) atau Disease Modifying Anti Osteoarthritis Drugs
(DMAODs). Sampai saat ini yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah:
tetrasiklin, asam hialuronat, kondrotin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin-C,
superoxide desmutase dan sebagainya.
a. Tetrasiklin dan derivatnya mempunyai efek menghambat kerja enzime MMP.
Salah satu contohnya doxycycline. Sayangnya obat ini baru dipakai oleh
hewan belum dipakai pada manusia.
b. Glikosaminoglikan, dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam
degradasi tulang rawan, antara lain: hialuronidase, protease, elastase dan
cathepsin B1 in vitro dan juga merangsang sintesis proteoglikan dan asam
hialuronat pada kultur tulang rawan sendi
c. pemakaian GAG selama 5 tahun dapat memberikan perbaikan dalam rasa sakit
pada lutut, naik tangga, kehilangan jam kerja (mangkir), yang secara statistik
bermakna.
d. Kondroitin sulfat, merupakan komponen penting pada jaringan kelompok
vertebra, dan terutama terdapat pada matriks ekstraseluler sekeliling sel.
Menurut penelitian Ronca dkk (1998), efektivitas kondroitin sulfat pada pasien
OA mungkin melalui 3 mekanisme utama, yaitu : 1. Anti inflamasi 2. Efek
metabolik terhadap sintesis hialuronat dan proteoglikan. 3. Anti degeneratif
melalui hambatan enzim proteolitik dan menghambat oksigen reaktif.
e. Vitamin C, dalam penelitian ternyata dapat menghambat aktivitas enzim
lisozim dan bermanfaat dalam terapi OA
f. Superoxide Dismutase, dapat diumpai pada setiap sel mamalia dam
mempunyai kemampuan untuk menghilangkan superoxide dan hydroxyl
radicals. Secara in vitro, radikal superoxide mampu merusak asam hialuronat,
kolagen dan proteoglikan sedang hydrogen peroxyde dapat merusak kondroitin
secara langsung. Dalam percobaan klinis dilaporkan bahwa pemberian
superoxide dismutase dapat mengurangi keluhan-keluhan pada pasien OA.
2. Topikal
a. Krim rubefacients dan capsaicin.
Beberapa sediaan telah tersedia di Indonesia dengan cara kerja pada umumnya
bersifat counter irritant.
b. Krim NSAIDs
Selain zat berkhasiat yang terkandung didalamnya, perlu diperhatikan
campuran yang dipergunakan untuk penetrasi kulit. Salah satu yang dapat
digunakan adalah gel piroxicam, dan sodium diclofenac

3. Injeksi intraartikular/intra lesi


Injeksi intra artikular ataupun periartikular bukan merupakan pilihan utama
dalam penanganan osteoartritis. Diperlukan kehati-hatian dan selektifitas dalam
penggunaan modalitas terapi ini, mengingat efek merugikan baik yang bersifat lokal
maupun sistemik. Pada dasarnya ada 2 indikasi suntikan intra artikular yakni
penanganan simtomatik dengan steroid, dan viskosuplementasi dengan hyaluronan
untuk modifikasi perjalanan penyakit. Dengan pertimbangan ini yang sebaiknya
melakukan tindakan, adalah dokter yang telah melalui pendidikan tambahan dalam
bidang reumatologi.
a. Steroid: ( triamsinolone hexacetonide dan methyl prednisolone )
Hanya diberikan jika ada satu atau dua sendi yang mengalami nyeri dan inflamasi
yang kurang responsif terhadap pemberian NSAIDs, tak dapat mentolerir NSAIDs
atau ada komorbiditas yang merupakan kontra indikasi terhadap pemberian NSAIDs.
Teknik penyuntikan harus aseptik, tepat dan benar untuk menghindari penyulit yang
timbul. Sebagian besar literatur tidak menganjurkan dilakukanpenyuntikan lebih dari
sekali dalam kurun 3 bulan atau setahun 3 kali terutama untuk sendi besar
penyangga tubuh. Dosis untuk sendi besar seperti lutut 40-50 mg/injeksi, sedangkan
untuk sendi-sendi kecil biasanya digunakan dosis 10 mg.
b. Hyaluronan: high molecular weight dan low molecular weight
Di Indonesia terdapat 3 sediaan injeksi Hyaluronan. Penyuntikan intra artikular
biasanya untuk sendi lutut (paling sering), sendi bahu dan koksa. Diberikan berturut-turut 5
sampai 6 kali dengan interval satu minggu masing-masing 2 sampai 2,5 ml Hyaluronan.
Teknik penyuntikan harus aseptik, tepat dan benar. Kalau tidak dapat timbul berbagai
penyulit seperti artritis septik, nekrosis jaringan dan abses steril. Perlu diperhatikan faktor
alergi terhadap unsur/bahan dasar hyaluronan misalnya harus dicari riwayat alergi
terhadap telur. Ada 3 sediaan di Indonesia diantaranya adalah Hyalgan, dan Osflex.

4. Pembedahan
Sebelum diputuskan untuk terapi pembedahan, harus dipertimbangkan terlebih dahulu
risiko dan keuntungannya.
Pertimbangan dilakukan tindakan operatif bila :
1. Deformitas menimbulkan gangguan mobilisasi
2. Nyeri yang tidak dapat teratasi dengan penganan medikamentosa dan
rehabilitatif

Definisi GA
Gout adalah penyakit metabolik yang bersifat heterogen, dikaitkan dengan jumlah
urat yang abnormal dalam tubuh yang awalnya ditandai oleh arthritis akut berulang,
biasanya monoarticular, dan kemudian menjadi arthritis kronis. (CURRENT Medical
Diagnosis & Treatment Hal 782)
A. ETIOLOGI
 Beberapa orang dengan gout menghasilkan asam urat terlalu banyak (10%)
 Genetik
 Jenis Kelamin
 Diet
 trauma
 Kelaparan dan dehidrasi
 IV pewarna kontras
 kemoterapi
 Obat :
o diuretik dan beberapa lain hipertensi obat,
o aspirin
o nicotinic acid
o cyclosporin A
o allopurinol and probenecidal

B. GEJALA KLINIS
I. Stadium Artritis Gout Akut
Radang sendi pada stadium ini snagat akut dan yang timbul sangat cepat dalam waktu
singkat. Pasien tidur tanpa ada gejala apa-apa. Pada saat bangun pagi terasa sakit yang
hebat dan tidak dapat berjalan. Biasanya bersifat monoartikuler dengan keluhan utama
berupa nyeri, bengkak, terasa hangat, merah dan merasa lelah. Lokasi yang paling sering
pada MTP-1 yang biasanya disebut podagra. Apabila proses penyakit berlanjut, dapat
terkena sendi lain yaitu pergelangan tangan/kaki, lutut dan siku. Serangan akut ini
dilukiskan oleh Sydenham sebagai: sembuh beberapa hari sampai minggu, bila tidak
diobati, rekuren yang multipel, interval antar serangan singkat dan dapat mengenai
beberaps sendi. Pada serangan akut yang tidak berat, keluhan-keluhan dapat hilang dalam
beberapa jam atau hari. Pada serangan akut berat dapat sembuh dalam beberapa hari
sampai beberapa minggu. Faktor pencetus serangan akut antara lain berupa trauma lokal,
diet tinggi purin, keleahan fisik, stres, tindakan operasi, pemakaian obatdiuretik atayu
penurunan dan peningkatan asam urat. Penurunan asam urat darah secara mendadak
dengan alopurinol atau obat urikosurik dapat menimbulkan kekambuhan.

II. Stadium Tnterkritikal


Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut dimana terjadi periode interkritik
asimptomatik. Walaupun secara klinik tidak didapatkan tanda-tanda radang akut, namun
pada aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hali ini menunjukkan bahwa proses peradangan
tetap berlanjut, walaupun tanpa keluhan. Keadaan ini dapat terjadi satu atau beberapa kali
pertahun, atau dapat sampai 10 tahun tanpa serangan akut. Apabila tanpa penanganan yang
baik dan pengaturan asam urat yang tidak benar, maka dapat timbul seranagn akut lebih
sering dapat mengenai beberapa sendi dan biasanya lebih berat. Manajemen yang tidak
baik, maka keadaan interkritik akan berlanjut menjadi stadium menahun dengan atrofi.

III. Stadium Artritis Gout Menahun


Stadium ini umumnya pada pasien yang mengobati sendiri (self medication) sehingga
dalam waktu lama tidak berobat secara teratur pada dokter. Artritis gout menahun
biasanya disertai atrofi yang banyak dan terdapat poliartikular. Tofi ini sering pecah dan
sulit sembuh dengan obat, kadang-kadang dapat timbul infeksi sekunder. Pada tofus yang
besar dapat dilakukan ekstirpasi, namun hasilnya kurang memuaskan. Lokasi atrofi yang
paling sering pada uping telinga, MTP-1, olekranon, tendon Achilles dan jari tangan. Pada
stadium ini kadang-kadang disertai batu saluran kemih sampai penyakit ginjal menhun.

C. DIAGNOSIS
Demgan menemukan kristal urat dalam tofi merupakan diagnosis spesifik untuk gout.
Akan tetapi tidak semua pasien mempunyai tofi, sehingga tes diagnostik ini kurang
sensitif. Oleh karena itu kombinasi dari penemuan-penemuan dibawah ini dapat dipakai
untuk menegakkan diagnosis :
- Riwayat inflamasi klasik artritis monoartikuler khusus pada sendi MTP-1
- Diikuti oleh stadium interkritik dimana bebas simptom
- Resolusi sinovitis yang cepat dengan pengobatan kolkisin
- Hiperurisemia
Kadar asam urat normal tidak dapat menghindari diagnosis gout. Logan dkk
mendapatkan 40% pasien gout mempunyai kadar asam urat normal. Hasil penelitian
penulis didapatkan sebanyak 21% artritis gout dengan asam urat normal. Walaupun
hiperurisemia dan gout mempunyai hubungan kausal, keduanya mempunyai
fenomena yang berbeda. Kriteria utuk penyembuhanakibat pengobatan dengan
kolkhisin adalah hilangnya gejala objektif inflamasi pada setiap sendi dlam waktu 7
hari. Bila hanya ditemukan artritis pada pasien dengan hiperurisemia tidak bisa
didiagnosis gout. Pemeriksaan radiografi pada serangan pertama artritis gout akut
adlah inflamsasi asimetri, artritis erosifyang kadang-kadang disertai nodul dan
jaringan lunak.
D. PENATALAKSANANAAN
Ada dua konsep kunci penting untuk mengobati asam urat. Pertama, adalah penting
untuk menghentikan peradangan akut sendi yang terkena artritis yg menyebabkan encok.
Kedua, adalah penting untuk mengatasi pengelolaan jangka panjang dari penyakit dalam
untuk mencegah serangan di masa depan yg menyebabkan encok arthritis dan deposito
menyusut yg menyebabkan encok kristal tophi dalam jaringan.
Pengobatan serangan akut artritis yg menyebabkan gout melibatkan tindakan dan
obat-obatan yang mengurangi peradangan. Mencegah serangan di masa depan gout akut
adalah sama pentingnya dengan merawat arthritis akut. Pencegahan gout akut melibatkan
menjaga asupan cairan yang cukup, penurunan berat badan, perubahan pola makan,
pengurangan konsumsi alkohol, dan obat-obatan untuk menurunkan kadar asam urat
dalam darah (mengurangi hyperuricemia).
Menjaga asupan cairan yang cukup membantu mencegah serangan gout akut. Asupan
cairan juga menurunkan resiko pembentukan batu ginjal pada pasien dengan gout..
Alkohol diketahui memiliki efek diuretik yang dapat berkontribusi terhadap dehidrasi dan
presipitat serangan gout akut. Alkohol juga dapat mempengaruhi metabolisme asam urat
menyebabkan hyperuricemia. Oleh karena itu, alkohol memiliki dua dampak utama yang
memperburuk gout oleh menghambat (memperlambat) ekskresi asam urat dari ginjal serta
dengan menyebabkan dehidrasi, yang keduanya memberikan kontribusi pada pengendapan
kristal asam urat pada sendi.

 Non-Medika-Mentosa
Jika Anda berada pada risiko untuk gout, Anda harus melakukan berikut ini:
 Diet Rendah Purin : Orang-orang dengan gout memiliki risiko lebih tinggi untuk
penyakit jantung. TDiet ini tidak hanya akan menurunkan resiko Anda untuk gout,
tetapi juga risiko penyakit jantungKontrol kolesterol Anda.
 Hindari makanan yang tinggi purin (biokimia dalam makanan yang dimetabolisme
menjadi asam urat), termasuk kerang dan daging merah.
 Perlahan-lahan menurunkan berat badan. Hal ini dapat menurunkan kadar asam
urat Kehilangan berat badan terlalu cepat kadang-kadang dapat memicu serangan
gout.
 Batasi asupan alkohol, terutama bir.
 Hidrasi
 Meningkatkan asupan produk susu, seperti susu tanpa lemak dan yogurt, karena
mereka dapat menurunkan frekuensi serangan gout.
 Hindari fruktosa, seperti dalam sirup jagung dan diet soda.

Karena bahan kimia purin dikonversi oleh tubuh menjadi asam urat, makanan yang
kaya purin dihindari. Contoh makanan kaya purin termasuk daging kerang dan organ
seperti hati, otak, ginjal, dan roti manis. Para peneliti telah melaporkan, secara umum,
bahwa konsumsi daging atau seafood meningkatkan risiko serangan gout, sedangkan susu
konsumsi pangan tampaknya mengurangi risiko. Protein asupan atau konsumsi sayuran
yang kaya purin tidak berhubungan dengan peningkatan risiko encok. Total asupan
alkohol sangat terkait dengan peningkatan risiko gout (bir dan minuman keras adalah
faktor yang sangat kuat). Fruktosa dari sirup jagung dalam minuman ringan juga
meningkatkan risiko gout.
Penurunan berat badan dapat membantu dalam mengurangi resiko serangan gout
berulang. program. Ini paling baik dicapai dengan mengurangi asupan lemak dan kalori
makanan, dikombinasikan dengan rutin latihan aerobik program

 Medika-Mentosa :
Sementara beberapa obat yang digunakan untuk mengobati panas, bengkak sendi,
obat-obat lain yang digunakan untuk mencegah serangan lebih lanjut dari gout. Obat yang
digunakan untuk mengobati asam urat akut dan / atau mencegah serangan lebih lanjut
adalah sebagai berikut:
 Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs)
o Obat yang lebih baru seperti celecoxib Aspirin tidak boleh digunakan untuk
kondisi ini.
o Dosis tinggi obat anti-inflamasi diperlukan untuk mengendalikan peradangan
dan dapat berkurang secara bertahap dalam beberapa minggu.
o Komplikasi utama obat-obat ini termasuk sakit perut, perdarahan borok, dan
penurunan fungsi ginjal.
 Colchicine
 Obat ini diberikan dalam dua cara yang berbeda, baik untuk
mengobati serangan akut radang sendi atau untuk mencegah serangan
berulang.
 Untuk mengobati sendi, panas bengkak, colchicine yang diberikan
dengan cepat (sampai satu jam sekali sampai gejala membaik, efek
samping mengembangkan, atau maksimal 10 dosis dicapai).
Meskipun pendekatan ini sering efektif, kebanyakan orang
mengembangkan mual, muntah , atau diare dan sehingga saat ini
jarang digunakan untuk tujuan ini.
 Untuk membantu mencegah serangan dari datang kembali, colchicine
bisa diberikan sekali atau dua kali sehari. Sementara penggunaan
kronis colchicine dapat mengurangi serangan gout, tidak mencegah
akumulasi asam urat yang dapat menyebabkan kerusakan sendi
bahkan tanpa serangan panas, sendi bengkak.

 Kortikosteroid
o Dosis tinggi digunakan pada awalnya dan tapered off dalam beberapa minggu.
o Beberapa komplikasi dengan penggunaan jangka panjang dari corticosteroids
termasuk suasana hati berubah, tekanan darah tinggi, dan masalah dengan
kontrol glukosa pada pasien dengan diabetes .
o Kortikosteroid juga bisa disuntikkan ke sendi bengkak. Istirahat sendi
sementara, setelah disuntik dengan steroid, dapat membantu.
o Sesekali, kortikosteroid atau senyawa terkait, kortikotropin (acth), juga bisa
disuntikkan ke dalam otot atau diberikan intravena.
o Obat-obatan di samping colchicine dosis rendah digunakan untuk mencegah
serangan lebih lanjut dari gout dan menurunkan kadar asam urat dalam darah
antara lain sebagai berikut.

 Probenesid
o Obat ini membantu tubuh menghilangkan kelebihan asam urat melalui ginjal
dan ke dalam urin.
o Anda harus minum minimal 2 liter cairan sehari saat mengambil obat ini
(untuk membantu mencegah batu ginjal asam urat dari pembentukan).
o Anda Beritahulah dokter jika Anda mengalami masalah ginjal atau riwayat
batu ginjal atau jika Anda mengambil aspirin. Anda mungkin perlu mengambil
allopurinol sebagai gantinya.
o Ada sejumlah interaksi obat dengan probenesid, sehingga Anda harus
memberitahu dokter Anda tentang obat lain. Jika Anda resep pengobatan baru,
membiarkan dokter Anda tahu bahwa Anda mengambil probenesid.

 Allopurinol
o Obat ini mengurangi pembentukan asam urat oleh tubuh dan merupakan cara
yang sangat handal untuk menurunkan kadar asam urat darah. Allopurinol saat
ini merupakan standar emas terapi pemeliharaan.
o Allopurinol bisa masih digunakan, tetapi dosis mungkin perlu disesuaikan.
o Efek samping yang umum termasuk rasa sakit perut, sakit kepala , diare, dan
ruam.
o Hentikan allopurinol jika terdapat ruam atau demam.

 Febuxostat (Uloric)
o Febuxostat adalah pengobatan baru pertama kali dikembangkan secara khusus
untuk kontrol gout di lebih dari 40 tahun.
o Febuxostat mengurangi pembentukan asam urat oleh tubuh dan merupakan
cara yang sangat handal untuk menurunkan kadar asam urat darah.
o Dapat digunakan pada pasien dengan kerusakan ginjal ringan sampai sedang.
o Febuxostat tidak boleh dikonsumsi dengan teofilin, 6-mercaptopurine (6-MP),
atau azathioprine.
o Penting untuk memahami bahwa obat ini pemeliharaan digunakan untuk
menurunkan asam urat jauh di bawah normal untuk mencegah serangan
berulang menyebabkan encok arthritis. Umumnya, dokter ingin kadar asam
urat darah berada di bawah 6,0 mg / dL.

daftar pustaka
1. Fauci, Anthony S, et al. 2012. Osteoarthritis. Dalam : Harrison’s Principles
Of Internal Medicine Eighteenth Edition. The McGraw-Hill Companies.
2. David, T. 2006. Osteoarthritis of the knee. The New England Journal of Medicine.
3. LS, Daniel, Deborah Hellinger. 2001. Radiographic Assessment of
Osteoarthritis. American Family Physician. 64(2):279–286
4. Kasmir, Yoga. 2009. Penatalaksanaan Osteoartritis. Sub-bagian Reumatologi, Bagian
Ilmu Penyakit Dalam FKUI / RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta
5. Mc. Phee, J, Stephen. Papadakis, A, Maxine. Rabow, W, Michael. Current Medical
Diagnosis & Treatment. 2011. United States of America: Mc Graw Hill.
6. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi V