Anda di halaman 1dari 19

PERKEMBANGAN SEJARAH HUKUM INTERNASIONAL, TEORI-

TEORI DALAM HUKUM INTERNASIONAL, SUMBER HUKUM


INTERNASIONAL, SERTA SUBYEK DARI HUKUM INTERNASIONAL

Oleh
PRISCA OKTAVIANI SAMOSIR

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG


BANDAR LAMPUNG

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hukum Internasional, sebgaimana kita ketahui saat ini, merupakan


keseluruhan kaidah yang sangat diperlukan untuk mengatur sebagian besar
hubungan-hubungan antar negara-negara, tanpa adanya kaidah-kaidah ini sungguh
tidak mungkin bagi mereka untuk melakukan tetap dan terus menerus.
Sesungguhnya hukum internasional merupakan persoalan dengan keperluan
hubungan timbal balik antar negara-negara.

Pengertian hukum internasional sendiri menurut Mochtar Kusumaatmadja


adalah keseluruhan kaedah-kaedah dan azas-azas yang mengatur hubungan atau
persoalan yang melintasi batas-batas Negara-negara antara Negara dengan
Negara, Negara dengan subjek hukum lain bukan Negara atau subjek hukum
bukan Negara satu sama lain.1 Pada umumnya hukum internasional diartikan
sebagai himpunan dari peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang
mengikat serta mengatur hubungan antara Negara-negara dan subjek hukum
lainnya dalam kehidupan masyarakat internasional.2

Definisi hukum internasional yang diberikan oleh pakar-pakar hukum


terkenal di masa lalu seperti Opperheim dan Brierly terbatas pada Negara sebagai
satu-satunya pelaku hukum internasional dan tidak memasukkan subjek-subjek
hukum lainnya.3

Dengan perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi pada paruh


ke-2 abad XX, meningkatnya hubungan, kerjasama dan kesalingtergantungan
antar Negara, menjamurnya Negara-negara baru dalam jumlah yang banyak
sebagai akibat dekolonisasi, munculnya organisasi-organisasi internasional dalam
jumlah yang sangat banyak telah menyebabkan ruang lingkup hukum
internasional menjadi lebih luas. Selanjutnya hukum internasional tidak saja
mengatur hubungan antar Negara tetapi juga subjek-subjek hukum lainnya.4

Dalam hal tidak adanya suatu system hukum internasional, maka


masyarakat internasional negara-negara tidak dapat menikmati keuntungan-
keuntungan perdagangan dan komersial, saling pertukaran gagasan dan
komunikasi rutin yang sewajarnya.

1
Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional, Jakarta: Binacipta, 1997, Hlm. 3-4
2
Boer Mauna, Hukum Internasional, Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika
Global, Bandung: Alumni, 2005, Hlm. 1
3
Ibid.
4
Ibid.

2
Terdapat hubungan yang erat antara hukum internasional dengan
masyarakat internasional. Menurut Mochtar Kusumaatmaja bahwa ”untuk
menyakini adanya hukum internasional maka harus ada pula masyarakat
internasional sebagai landasan sosiologis”. Pada bagian lain dikemukakan juga
bahwa ”...Hukum internasional dalam arti luas, termasuk hukum bangsa-bangsa,
maka sejarah hukum internasional itu telah berusia tua. Akan tetapi bila hukum
internasional diartikan sebagai perangkat hukum yang mengatur hubungan antar
negara, maka sejarah hukum internasional itu baru berusia ratusan tahun...”5

Abad ini telah menjadi saksi adanya dorongan yang besar bagi
perkembangan hukum internasional di banding dengan yang terjadi pada tahun
sebelum dari sejarah hukum internasional. Hal tersebut merupakan akibat wajar
dari berkembangnya interdependensi negara-negara dan peningkatan pesat
hubungan-hubungan antara negara-negara karena berbagai macam penemuan
yang ditujukan guna menanggulangi kesulitan-kesulitan menyangkut waktu, ruang
dan komunikasi intelektual.

Apabila sebelumnya masyarakat internasional negara-negara dapat


menyandarkan diri pada proses kebiasaan yang reatif lambat untuk membentuk
kaidah hukum internasional, maka kebutuhan-kebutuhan modern menuntut suatu
metode pembuatan hukum yang lebih cepat.6

Oleh karenanya hukum internasional telah mengalami perkembangan baik


dilihat secara teori, sumber hukum internasional dan subyek hukum internasional
sendiri.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut maka penulis


merumuskan masalahnya, yaitu:

“Bagaimanakah perkembangan sejarah hukum internasional, teori-teori dalam


hukum internasional, sumber hukum internasional, serta subyek dari hukum
internasional ”.

5
Arsensius, “Sejarah Perkembangan Hukum Internasional dari Masa Klasik Hingga Masa
Moderen”, 2009, E-Journal Online, <http://jurnal.untan.ac.id/index.
php/civika/article/view/401>
6
J.G Starke, Pengantar Hukum Internasional Jilid 1, Jakarta: Sinar Grafika, 1992, Hlm. 16-17

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Perkembangan Hukum Internasional

Hukum internasional adalah lapangan hukum yang baru. Walaupun


demikian dasar-dasar proses hukum internasional telah dikenal orang sejak lama.
Berkembangnya system Negara kota di Yunani serta peranan dari hukum Romawi
di Eropa pada abad keenam belas telah memberikan dorongan yang penting
terhadap perkembangan hukum internasional.7

Pada masa abad pertengahan abad ke enam belas atau biasa disebut sebagai
the Dark Age (masa kegelapan), hukum alam mengalami kemajuan kembali
melalui transformasi di bawah gereja. Peran keagamaan mendominasi sektor-
sektor sekuler. Sistim kemasyarakatan di Eropa pada waktu itu terdiri dari
beberapa negara yang berdaulat yang bersifat feodal dan Tahta Suci.

Pada masa itu muncullah konsep perang adil sesuai dengan ajaran kristen,
yang bertujuan untuk melakukan tindakan yang tidak bertentangan dengan ajaran
gereja. Selain itu, beberapa hasil karya ahli hukum memuat mengenai persoalan
peperangan, seperti Bartolo yang menulis tentang tindakan balas yang seimbang
(reprisal), Honore de Bonet menghasilkan karya The Tree of Battles tahun 1380.8

konsepsi ahli-ahli pikir Yunani yang digabungkan dengan perkembangan


hukum Romawi, keduanya memberikan sumbangan yang penting bagi
berkembangnya hukum internasional. Pada periode kekusaan Romawi teradap
dunia kuno, muncul kaidah-kaidah yang mengatur hubungan-hubgnag antara
Romawi dan berbagai macam bangsa atau rakyat dengan siapa Romawi
mengadakan hubungan. Satu aspek penting dari kaidah-kaidah ini adalah karakter
hukumnya, jadi berlawanan dengan hakikat keagamaan dalam kaidah-kaidah
kebiasaan yang ditaati oleh negara-negara kota (city states) Yunani. Akan tetapi
sumbangan utama Romawi terhadap perkembangan hukum internasional menlalui
kadiah-kaidah tersebut hanya sedikit dibandingkan melalui pengaruh tidak
langsung hukum Romawi pada umumnya, karena pada saat dihidupkannya
kembalu studi tentang hukum Romawi di Eropa, tampak adanya analogi-analogi
dan prinsip-prinsip yang mampu menyesuaikan diri terhadap pengaturan
hubungan-hubungan antara negara-negara modern.9

7
Chairul Anwar, Hukum Internasional Pengantar Hukum Bangsa-Bangsa, (Jakarta, Djambatan,
1988), Hlm. 19
8
Tontowi Jawahir dan Pranoto Iskandar, Hukum Internasional Kontemporer, Bandung :Refika
Aditama, 2006, hlm. 34
9
J. G Starke, Op.cit, Hlm. 9

4
Hukum Internasioan mempunyai pengaruh yang kuat dari hukum Romawi
rupanya menjadi pusat perhatian. Hal ini disebut oleh seorang ahli sejarah ternama
zaman Renaissance Garret Mattingly bahwa apa yang dikatakan Hukum
Internasional dalam abad ke-15 elemennya yang paling penting adalah hukum
Romawi. Penulis-penulis awal dari hukum internasional di antaranya ialah Suarez
dan Vitoria dari Spanyol, yang menulis mengenai apa yang di sebut “perang yang
benar dan perang yang tidak benar”. 10

Pada abad kesembian belas hukum internasional berkembang lebih jauh


lagi. Hal ini adalah karena sejumlah factor yang mungkin lebih tepat untuk
dimasukkan ke dalam lingkup studi kesejahteraan, misalnya kebangkitan negara-
negara baru yang kuat baik di dalam maupun di luar lingkungan eropa,
modernisasi sarana angkutan dunia, pwnghancuran yang lebih dahsyat akibat
peperangan modern dan pengaruh-pengaruh penemua baru.

Di abad kesembilan belas ini hukum internsional berkembang dengan cepat


karena beberapa factor: (1) Negara-negara Eropa sesudah kongres Wina 1815
berjanji untuk selalu memakai prinsip-prinsip hukum internasional dalam
hubungannya satu sama lain. (2) banyak dibuat perjanjian-perjanjian (law making
treaty) sepertidi bidang perang dan netralitas, peradilan dan arbitrasi. (3)
berkembangnya perundingan-perundingan multilateral yang sering melahirkan
ketertiban-ketertiban hukum yang baru.11

Semua factor ini mengakibatkan timbulnya kebutuhan yang mendesak pada


masyarakat internasional negara-negara untuk memiliki system kaidah yang akan
mengatur secara tegas tindakan hubungan-hubungan internasional. Juga terjadi
perkembangan besar selama abad ini dalam hukum perang dan netralitas, serta
peningkatan besar dalam penyelesaian perkara-perkara oleh pengadilan-
pengadilan arbitrasi internasional menyusul Albana Claims Award tahun 1872
yang memberikan suatu sumber kadiah dan prinsip-prinsip penting. Di samping
itu negara mulai terbiasa melakukan perundingan mengenai tarktat-traktat umum
untuk mengatur hubungan-hubungan timbale balik mereka.12

Bersamaan dengan pertumbuhan ini, semakin banyaklah terbentuk


perjanjian-perjanjian bilateral antara beberapa Negara tertentu yang meliputi
berbagai hal seperti misalnya pengaturan-pengaturan di bidang perdagangan dan
arbitrase. Arbitrase, khususnya sebagai alat dari hukum internasional telah
mencapai debutnya dalam abad yang lalu. Dalam tahun 1899 pada konperensi
Den Haag, bangsa-bangsa telah bersepakat untuk mendirikan Permanent Court of
Arbitratior (Mahkamah Internasional Permanen). Walaupun mahkamah ini bukan
merupakan peradilan tetap, dan para yurist anggotanya baru bersidang kalau

10
Chairul Anwar, Op.cit, Hlm. 21
11
Boer Mauna, Op.cit, Hlm. 7
12
J. G Starke, Op.cit, Hlm.14

5
dipanggil, namun hal ini telah merupakan suatu kemajuan kea rah terbentuknya
suatu peradilan dunia.

Agar para ahli hukum dari berbagai bangsa terus dapat memperkembangkan
studi hukum internasional maka terbentuklah International Law Association.
Demikianlah factor-faktor yang diuraikan di atas. Kemajuan teknologi, desakan-
desakan humaniter, kemerdekaan bangsa-bangsa yang sebelumnya adalah koloni
Negara lain, dan lahirnya arbitrase internasional serta perhatian para cendikiawan
di bidang ini, keseluruhannya tlah memperkembangkan hukum internasional
mengikuti alunan pergaulan internasional di antara bangsa-bangsa di dunia. 13

B. Teori-Teori dalam Hukum Internasional

Para sarjana mengemukakan beberapa teori untuk menerangkan dasar


pengikat berlakunya hukum internasional di lingkungan masyarakat dunia. Di
antara beberapa teori yang ada adalah:

1. Teori Hukum Alam (Natural Law)

Penganut teori ini mendalilkan bahwa hukum internasional itu adalah


hukum alam yang merupakan hukum negara, sehingga negara-negara harus
mentaati hukum internasional. Pikiran ini kemudian dalam abad ke XVIII lebih
disempurnakan lagi, antara lain oleh seorang ahli hukum dan diplomat bangsa
Swiss Emmeric Vattel (1714-1767) dalam bukunya “Droit des Gens”, di mana ia
antara lain mengatakan “we use the term necessary Law of Nations for that law
which result from applying the natural law to nations. It is necessary, because
nations are absolutely bound to observe it. It contains these precepts which the
natural law dictates to states, and it is no less binding upon them it is upon
individuals”. 14

Teori Hukum alam ( natural law ) merupakan teori tertua . Ajaran ini
memiliki pengaruh yang sangat besarr atas hukum internasional sejak
pertumbuhannya . Menurut penganut ajaran hukum alam , hukum internasional itu
mengikat karena :
a) Hukum internasional itu tidak lain daripada “hukum alam” yang diterapkan
pada kehidupan bangsa – bangsa , atau dengan perkataan lain ,

13
Chairul Anwar, Op.cit, Hlm. 24-25
14
Mochtar Kusumaatmadja, Op.Cit., Hlm.44

6
b) Negara itu terikat atau tunduk pada hukum internasional dalam hubungan
antara mereka satu sama lain , karena hukum internasional itu merupakan
bagian dari hukum yang tertinggi yaitu hukum alam.15

Kelemahan dari konsep ini adalah konsep hukum alam teralu abstrak dan
cenderung bersidat subjektif, tergantung pada apa yang diyakini oleh masing-
masing pribadi ida.16

2. Teori Voluntaris (Kehendak Negara)

Teori ini mendalilkan bahwa hukum internasional ini berlaku karena danya
kehendak dari negara yang bersangkutan untuk tunduk pada hukum internasional
tersebut. Aliran ini menyandarkan teori mereka pada falsafah Hegel yang dahulu
mempunyai pengaruh yang luas di Jerman. Salah seorang yang paling terkemuka
dari aliran ini adalah George Jellineck yang terkenal dengan dengan “Selbst-
limitation-theori”nya. Seorang pemuka lain dari aliran ini adalah Zorn yang
berpendapat bahwa hukum internasional itu tidaklah lain dari pada hukum tata
Negara yang mengatur hubungan luar suatu Negara (auszeres Staatsrech). Hukum
internasional bukan sesuatu yang lebih tinggi yang mempunyai kekuatan
mengikat di luar kemauan Negara.

Kelemahan teori ini adalah tidak dapat diterimanya logika bahwa jika
negara-negara tidak menghendaki suatu hukum untuk berlaku, maka ketentuan itu
bukan lagi suatu “hukum” di masyarakat internasional. Kelemahan yang lain
adalah berkenaan dengan penerapannya bagi negar-negara yang baru lahir
(negara-negara bekas jajahan) yang langsung menghadapi kenyataan adanya
“hukum” dimasyarakat internasional yang harus ditaati dan mengikat (seperti
hukum kebiasaan internasional)17

3. Teori Obyektivis

Dasar pengikat hukum internasional adalah norma hukum yang lebih tinggi
yang didasarkan pada norma yang lebih tinggi lagi, dan seterusnya hingga sampai
ke tingkat norma/ kaidah dasar yang disebut grundnorm. Teori ini diserang ketika
sampai kepada apa dasar pengikat dari gundnorm tersebut.18

4. Teori Kenyatan Sosial

15
Mochtar Kusumaatmadja, Indonesia Dan Perkembangan Hukum Laut Dewasa Ini Jakarta:
Departemen Luar Negeri, Badan Penelitian dan Pengembangan Masalah Luar Negeri, 1977, hlm.
33
16
Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia, “Kedudukan
Hukum Internasional dalam Sistem Hukum Nasional”, Jurnal Hukum Internasional, Volume 5
Nomor 3 April 2008, Hlm. 506, 2008
17
Ibid.
18
Ibid.

7
Teori lain yang berusaha menerangkan kekuatan mengikatnya hukum
internasional terhadap Negara-negara adalah teori yang menghubungkan dengan
“kenyataan hidup manusia” yang disebutnya dengan mazhab Perancis. Pemuka
mashab ini antara lain Fauchile, Scelle, dan Duguit yang mendasarkan kekuatan
mengikat hukum internasional (juga pada hukum pada umumnya) pada “factor
biologis, social, dan sejarah kehidupan manusia” yang mereka namakan fakta
kemasyarakatan (fait social).

Menurut penganut nashab ini persoalannya dapat dikembalikan kepada sifat


alami manusia sebagai makhluk social, hasratnya untuk bergabung dengan
manusia lain dan kebutuhan akan solidaritas. Dengan demikian dasar kekuatan
mengikat hukum (internasional) terdapat dalam kenyatan social bahwa
mengikatnya hukum itu mutlak perlu untuk dapat terpenuhinya kebutuhan
manusia (bangsa) untuk hidup bermasyarakat.19

Kemudian dalam ada dua macam teori yang mencoba menerangkan


hubungan hukum internasional dengan hukum nasional, yaitu teori monoisme dan
dualisme. Menurut aliran Monosime Hukum internasional dan hukum nasional
merupakan dua bagian dari satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang
mengatur kehidupan manusia. Sebaliknya menurut terori dualisme hukum
internasional dan hukum nasional itu sama sekali terlepas satu sama lainnya
karena masing-masingnya mempunyai sifat yang berlainan20

C. Sumber-Sumber Hukum Internasional

Sumber-sumber hukum intenasional berupa sumber hukum formal dan


material. Sumber hukum formal menetapkan apa yang merupakan hukum
sedangkan sumber material hanya menunjukan di mana hukum itu dapat
ditemukan.21

1. Sumber Materiil Hukum Internasional


“Sumber-sumber”22 material hukum internasional dapat didefinisikan
sebagai bahan-bahan actual dari mana seorang ahli hukum menentukan kaidah

19
Moctar Kusumaatmadja dalam Abdul Muthalib Tahar, Hukum Internasional dan
Perkembangannya, (Bandar Lampung: Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2012), Hlm. 12
20
Jakarta Asosiasi Peneliti Hukum Indonesia, “Praktek pengesahan perjanjian internasional
kedalam hukum nasional: suatu analisis terhadap penggunaan doktrin monisme dan dualisme”
Jurnal penelitian hukum APHI: De Jure, Volume 10 Nomor 3, Hlm.310, 2010. E-Journal Online,
( http://isjd.pdii.lipi.go.id/) diunduh pada tanggal 15 November 2012
21
Rebecca M. M Wallace, Hukum Internasional, Semarang: Sweet & Maxwell, 1986, hlm. 9
22
Perkataan sumber hukum dipakai dalam beberapa arti. Kata-kata sumber hukum ini pertama-
tama dipakai dalam arti dasar berlakunya hukum. Dalam arti ini yang dipersoalkan adalah apa
sebabnya hukum itu mengikat? Sumber hukum dalam arti ini dinamakan sumber hukum dalam arti

8
hukum yang berlaku terhadap keadaan tertentu. Bahan-bahan ini dimasukkan
dalam lima kategori atau bentuk utama, yaitu:23

a. Kebiasaan (Custom)

Sampai saat ini, hukum internasional sebagian besar terdiri dari akidah-
kaidah kebiasaan. Kaidah-kaidah ini pada umumnya telah menjalani suatu proses
sejarah yang panjang yang berpuncak pada pengakuan oleh masyarakat
internasional. Kaidah-kaidah kebiasaan tradisional yang besar tersebut makin
menyusut sebagai akibat dari adanya sejumlah besar traktat “yang memberntuk
hukum” (lawmaking).24

b. Traktat-Traktat

Traktat-traktat mewakili sumber material yang penting dari hukum


internasional. Nilai pentingnya tersbut makin bertambah. Pengaruh dari suatu
traktat dalam member arahan pembentukan kaidah-kaidah hukum internasional
bergantung pada sifat hakikat traktat yang bersangkutan.25

c. Keputusan-Keputusan Pengadilan atau Pengadilan Arbitrasi

Satu-satunya pengadilan yudisial internasional permanen yang ada yang


memiliki yurisdiksi umum adalah International Court of Justice, yang sejak tahun
1946 menggantikan kedudukan Permanent Court of International Court of Justice
menurut Statuta sesungguhnya memuat aturan-atura organic yang sama dengan
Statuta Court of International Justice yang digantikannya.26

d. Karya-Karya Hukum

Karya-karya hukum bukan sumber hukum yang berdiri sendiri, walaupun


kadang-kadang opini hukum mengarahkan pada pembentukan hukum
internasional. Pasal 38 Statuta International Court of justice memerintahkan
Mahkamah itu unutk menerapkan “ajaran dari ahli-ahli hukum terkemuka
berbagai negar, sebagai alat tambahan untuk menentuka kadiah-kadiah hukum”.27

materiil karena menyelidiki masalah: apakah yang pada hakekatnya menjadi dasar dari pada
kekuatan mengikat hukum dalam hal ini hukum internasional. Arti kedua dari pada kata sumber
hukum adalah sumber hukum dalam arti formil yang member jawaban kepada pertanyaan: di
manakah kita mendapatkan ketentuan-ketentuan hukum yang dapat diterapkan sebagai kaidah
dalam satu persoalan yang konkrit?
23
J.G Strake, Op.cit, Hlm. 42
24
Idem, Hlm. 45
25
Idem, Hlm. 51
26
Idem, Hlm. 57
27
Idem, Hlm.62

9
e. Keputusan-Keputusan atau Penetapan-Penetapan Organ-Organ Lembaga
Internaisonal.

Keputusanpkeputusan atau ketetapan organ lembaga-lembaga internasional,


atau konferensi-konferensi internasional, dapar membawa kea rah pembentukan
kaidah-kaidah hukum internasional melalui berbagai carayang berlain-lainan.28

2. Sumber Formal Hukum Internasional

Adapun sumber hukum formal hukum internasional dapat ditemukan pada


Statuta Mahkamah Internasional Pasal 38 ayat (1) yang menentukan bahwa
“dalam mengadili perkara yang diajukan kepadanya, Mahkamah Internasional
akan mempergunakan: 29
a. Perjanian internsional, baik yang bersifat umum maupun khusus yang
mengandung ketentuan hukum yang diakui secara tegas oleh Negara-negara
yang bersengketa;
b. Kebiasaan internasional, sebagai bukti dari suatu kebiasaan umum yang telah
diterima sebagai hukum;
c. Prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab;
d. Keputusan pengadilan dan ajaran para sarjana yang terkemuka dari berbagai
Negara sebagai sumber tambahan bagi penetapan kaidah hukum.

a. Perjanjian Internasional

Perjanjian internasional merupakan suatu pernyataan dari persetujuan


antara negara-negara yang mengikatkan dirinya di dalam suatu perjanjian. Oleh
karena itu Perjanjian Internasional merupakan salah satu sumber hukum
internasional yang terpenting. Tidak semua perjanjian internasional dapat
menciptakan satu aturan hukum internasional. Misalnya perjanjian
perdagangan antara Argentina dan Brazil hanyalah mengikat kedua Negara
tersebut.
Pengertian perjanjian internasional baik berlandaskan pada pengertian
teoritis maupun yuridis, dapat dikatakan bahwa suatu perjanjian merupakan
perjanjian internasional dalam bentuk tertulis serta dalam pembuatannya
tunduk pada rejim hukum internasional.30

28
Idem, Hlm.63
29
Chairul Anwar, Op.cit, Hlm. 13-16
30
Universitas Gadjah Mada Fakultas Hukum , “Keberadaan Asas Sunt Servanda dalam Perjanjian
Internasional”, Mimbar Hukum: Jurnal Berkala Fakultas Hukum UGM, Volume 21 Nomor 1
Februari 2009, Hlm. 160, 2009. E-Journal Online, (http://isjd.pdii.lipi.go.id/) diunduh pada tanggal
15 November 2012

10
Perjanjian internasional yang dapat dipandang sebagai sumber hukum
internasional ialah yang disebut sebagai Law Making Treaty yakni perjanjian
antar Negara yang disetujui oleh sejumlah Negara atas dasar kepentingan
bersama. Contoh-contoh dalam hal ini adalah: Kongres Vienna 1814-1815;
Konperensi Perdamaian Den Haag 1899 dan 1907; Konperensi Perdamaian
Paris 1919; dan Konperensi PBB tentang organisasi internasional San
Fransisco 1945.

Di Indonesia sebagai ius constitutum, terkait dengan pemberlakuan


perjanjian internasional di wilayah Republik Indonesia, Pasal 15 ayat (1) UU
Nomor 24/2000 menegaskan: “…perjanjian internasional…disahkan dengan
undang-undang atau keputusan presiden,…” Kata Undang-Undang dan
Keputusan Presiden tersebut adalah Implementing Legislation atau tindakan
legislative. Oleh karena itu agar hukum internasional dapat diterapkan dalam
system peradilan di Indonesia, maka perjanjian tersebut harus “singgah” dulu
ke DPR untuk disahkan dalam bentuk UU atau ke Presiden untuk dibuatkan
peraturan presiden.31

b. Kebiasaan Internasional

Kebiasaan internasional sudah lama dipandang sebagai sumber hukum


internasional sebelum ditetapkan menjadi aturan statute dalam Kongres Vienna
(1815), hak-hak khusus dan kekebalan diplomatic para diplomat, dijalankan
berdasarkan kebiasaan internasional.

Menurut pasal 38 dari Piagam Mahkamah Internasional, yang dimaksud


kebiasaan internasional ialah kebiasaan yang pada umumnya diterima sebagai
hukum. Kasus The Paquette Habana and The Lola (1900) merupakan contoh
dari kebiasaan internasional, untuk mengecualikan kapal-kapal penangkap ikan
pantai beserta muatan dan awak kapal sebagai tangkapan hadiah perang, dan
Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahaw kebiasaan
internasional tersebut diakui sebagai aturan dari hukum internasional.

Pada era reformasi di Indonesia, terdapat sutu prinsip yang sangat


ditekankan oleh Indonesia yaitu bahwa perjanjian internasional harus selaras
denga hukum nasional dalam rangka mengamankan serta untuk memastikan
bahwa perjanjian yang telah disepakati tetap dalam koridor hukum nasional.32

31
Universitas Gadjah Mada Fakultas Hukum, “Status hukum internasional dalam sistem hukum di
Indonesia”, Mimbar hukum : jurnal berkala Fakultas Hukum UGM, Volume 21 Nomor 2,
Hlm.337, 2009. E-Journal Online, (http://isjd.pdii.lipi.go.id/) diunduh pada tanggal 15 November
2012
32
Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Universitas Indonesia, “Status hukum perjanjian
internasional dalam hukum nasional RI: tinjauan dari perspektif praktik Indonesia” Jurnal hukum
internasional, Volume 5 Nomor 3 Hlm.497, 2008 . E-Journal Online, (http://isjd.pdii.lipi.go.id/)
diunduh pada tanggal 15 November 2012

11
c. Asas-Asas Hukum Umum

Asas-asas hukum umum ini mwiputi spectrum yang luas, yang juga
meliputi asas-asas hukum perdata yang diterapkan oleh peradilan nasional yang
kemudian dipergunakan untuk kasus-kasus hubungan internasional. Asas-asas
hukum umum akan diterapkan oleh Mahkamah apabila sumber-sumber utama
hukum internasional tidak mencukupi untuk dijadikan landasan bagi putusan
Mahkamah.

d. Keputusan Pengadilan

Pasal 38 dari Piagam Mahkamah Internasional mengatakan bawa


keputusan pengadilan merupakan sumber tambahan untuk menentukan aturan
hukum. Di samping itu pasal 59 dari Piagam mengatakan bawa keputusan
Makamah hanya mengikat pihak-pihak yang bersangkutan untuk suatu hal
tertentu. Maksud dari pengaturan pasal 59 Piagam ini diperdebatkan oleh ahli-
ahli hukum yang duduk dalam Panitia Penyusunan Piagam, dan kemudian
mengatakan bahwa pasal 59 tidak semata-mata dimaksudkan untuk
menyatakan prinsip res judicata, tetapi untuk menghilangkan system preseden
yang mengikat.

e. Tulisan Ahli-Ahli Ternama

Tulisan ahli-ahli hukum ternama dari berbagai Negara disebut oleh pasal
38 dari Piagam Mahkamah Internasional sebagai sumber hukum tambahan
untuk menentukan aturan hukum. Pendapat-pendapat dari ahli-ahli hukum
internasional telah lama diakui oleh peradilan nasional seperti terlihat dalam
kasus The Paquette Habanaa and The Lola.

D. Subyek Hukum Internasional

Dalam arti yang sebenarnya subyek hukum internasional dalah pemegang


(segala) hak dan kewajiban menurut hukum internasiona. Di samping itu dalam
arti yang lebih luas dank arena itu lebih luwes (flexible) pengertian subyek hukum
internasional adalah mencakup pula keadaan-keadaan dimana yang dimiliki itu
hanya hak-hak dan kewajiban yang terbatas misalnya kewenangan untuk
mengadakan penuntutan hak yang diberikan oelh hukum internasional di muka
pengadilan berdasarkan suatu konvensi. 33

33
Mochtar Kusumaatmadja, Op.cit, Hlm. 91-92

12
Hukum internasional mengenal subyek-subyek sebagai berikut:34

1. Negara

Negara adalah subyek hukum internasional dalam arti yang klasik, dan telah
demikian halnya sejak lahirnya hukum internasional. Bahkan hingga sekarangpun
masih ada anggapan bahwa hukum internasional itu pada hakekatnya adalah
hukum antar negara.
Beberapa penulis berpendapat bahwa negaralah yang menjadi subyek utama
hukum internasional. Secara teoritis dapat dikemukakan bahwa subyek hukum
internasional sesunggguhnya adalah Negara. Contohnya, apabila suatu Negara
terikat pada suatu perjanjian misalnya Konvensi-konvensi Palang Merah (1949),
di mana Konvensi itu memberikan hak dan kewajiban tertentu, maka hak dan
kewajiban tersebut tidak diberikan oleh Konvensi secara langsung kepada
perorangan (individu), akan tetapi harus melalui lebi dahulu negaranya yang
menjadi peserta konvensi.

2. Tahta Suci

Tahta suci merupakan suatu contoh dari pada suatu subyek hukum
internasional yang telah ada sejak dahulu di samping negara-negar. Hal ini
merupkan peninggalan berkelanjutan sejak zaman dahulu ketika Paus bukan
hanya merupakan kepala Gereja Roma tetapi memiliki pula kekuasaan duniawi.
Hingga sekarang Tahta suci mempunyai perwakilan-perwakilan diplomatic di
banyak ibu kota terpenting di dunia yang sejajar kedudukannya dengan wakil-
wakil diplomatic negara-negara lain.

3. Palang Merah Internasional

Palang Merah Internasional yang berkedudukan di Jenewa mempunyai


tempat tersendiri (unik) dalam sejarah hukum internasional. Boleh dikatakan
bahwa organisasi ini sebagai suatu subyek hukum yang lahir karena sejarah
walaupun kemudian kedudukannya itu diperkuat dalam perjanjian-perjanjian dan
kemudia Konvensi-Konvensi perang Merah. Sekarang Palang Merah Internasional
secata umum diakui sebagai organisasi internasional yang memiliki kedudukan
sebagi subyek hukum internasional.

4. Organisasi Internasional

34
Idem, Hlm. 92-105

13
Kedudukan Organisasi Internasional sebagai subyek hukum internasional
sekarang tidak diragukan lagi, walaupun pada mulanya belum ada kepastian
mengenai hal ini.

Organisasi internasional dalam arti yang luas pada hakikatnya meliputi


tidak saja organisasi internasional public (Public International Organization)
tetapi juga organisasi privat (Privat International Organization). Organisasi
semacam itu meliputi juga organisasi regional dan organisasi sub-regional. Ada
pula organisasi yang bersifat universal (organization of universal character).35

Organisasi internasional untuk membuat perjanjian internasional harus


memenuhi beberapa syarat, yaitu: Harus jelas bahwa Organisasi Internasional itu
didirikan oleh Negara dengan didasarkan pada perjanjian internasional; Organisasi
internasional itu harus mempunyai suatu organ atau organ-organ yang
mengidentifikasikan terpisah dari kemauan Negara-negara anggota secara
individual; dan Organisasi itu harus bekerja sesuai dengan fungsi dari bidang
Organisasi Internasional tersebut dalam mengadakan hubungan dengan pihak
lain.36

Implikasi hukum dari keterlibatan Indonesia dalam organisasi perdagangan


internasional dalam globalisasi dibidang kontrak-kontrak bisnis internasional,
harus dapat member kesadaran hukum bagi pelaku bisnis bahwa asas kebebasan
berkontrak tidaklah diartikan bahwa para pihak bebas membuat undang-undang
bagi mereka, namun mereka hanya diberi kebebasan memilih hukumnya dimana
mereka bias mempergunakan sebagai dasar dari kontrak yang dubuatnya.37
5. Orang Perseorangan (Individu)

Dalam arti yang terbatas orang perseorangan sudah agak lama dapat
dianggap sebagai subyek hukum internasional. Dalam perjanjian perdamaian
Versailles tauhun 1919 yang mengakhiri Perang Dunia I antara Jerman dengan
Inggris dan Perancis, dengan masing-masing sekutunya, sudah terdapat pasal-
pasal yang memnugkinkan orang perseorangan mengajukan perkara kehadapan
mahkamah-mahkamah arbitrase internasional, sehingga dengan demikian sudah
ditinggalkan dalil lama bahwa hanya negara yang bias menjadi pihak dihadapan
suatu peradilan internasional.

6. Pemberontak dan pihak dalam sengketa (belligerent)

35
I Wayan Parthiana, Pengantar Hukum Internasional, Bandung: Mandar Maju, 1990, Hlm. 60
36
Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Lampung, “Perjanjian
Internasional yang dibuat oleh Organisasi Internasional”, Jurnal Hukum Internasional, Volume 3
Nomor 4 Juli 2006, Hlm. 497, 2006
37
Universitas Warmadewa Fakultas Hukum, “Implikasi yuridis keterlibatan Indonesia dalam
organisasi perdagangan internasional”, Kertha wicaksana : majalah ilmu hokum, Volume 18
Nomor 1, Hlm.30, 2012. E-Journal Online, (http://isjd.pdii.lipi.go.id/) diunduh pada tanggal 15
November 2012

14
Pihak-pihak yang bersengketa yang telah mencapai tingkat perang dapat
memperoleh kedudukan sebagai pihak dalam sengketa perang (belligerent) dan
kepada mereka dapat diberikan hak-hak dan kewajiban Negara dalam keadaan
perang. Kepada pihak dalam sengketa tersebut dapat pula diberikan kedudukan
sebagai subjek hukum internasional. Pihak-pihak yang bersengketa ini biasanya
mewakili kekuatan-keuatan politik yang ditujukan untuk kemerdekaan dan
pemisahan

timbulnya suatu pihak berperang (belligerent) dalam suatu negara didahului


dengan adanya insurrection (pemberontakan dengan scoup yang kecil) , yang
kemudian meluas menjadi rebellion (rebelli) selanjutnya rebelli ini untuk dapat
berubah statusnya menjadi pihak berperang harus memenuhi syarat-syarat
(obyektif).38

7. Perusahaan sebagai Badan Hukum Otorita

perusahaan sebagai badan hukum internasional Otorita merupakan subjek


hukum internasional. Sebab ia memiliki status hukum (pribadi hukum
Internasional), memiliki hak-hak istimewa dan kekebalan-kekebalan didalam
wilayah negara-negara peserta otorita, memiliki kapasitas membuat kontrak-
kontrak dan perjanjian-perjanjian dengan negara-negara dan organisasi-organisasi
internasional, serta ia dapat menjadi pihak dalam proses hukum.

Mengenai perusahaan multinasional, pada hakikatnya perusahaan


multinasional itu merupakan badan hukum (nasional) yang terdaftar di suatu
negara, maka sebenarnya perusahaan multinasional hanya merupakan subyek
hukum nasional, dan bukan subyek hukum internasional.39

Maka suatu perusahaan merupakan badan hukum otorita internasional


apabila Perusahaan bertindak sesuai dengan konvensi ini dan ketentuan-ketentuan,
peraturan-peraturan dan prosedur Otorita maupun kebijaksanaan-kiebijaksanaan
umum yang ditetapkan oleh Majelis dan tunduk pada pengarahan dan pengawasan
dewan. Dimana suatu Perusahaan otorita memiliki kantor pusat yang berada
ditempat kedudukan Otorita.

38
Abdul Muthalib, Op.cit,, hlm. 44-45
39
Abdul Muthalib Tahar, Hukum Internasional, Lampung: Percetakan Unila, 2010, hlm.32

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pertama, dalam sejarah perkembangan hukum internasional,


Berkembangnya system Negara kota di Yunani serta peranan dari hukum Romawi
di Eropa pada abad keenam belas telah memberikan dorongan yang penting
terhadap perkembangan hukum internasional.

Kedua, Terdapat beberapa teori yang dikemukakan oleh beberapa untuk


menerangkan dasar pengikat berlakunya hukum internasional di lingkungan
masyarakat dunia. Di antara beberapa teori yang ada adalah teori hukum alam
dimana negara itu terikat atau tunduk pada hukum internasional dalam hubungan
antara mereka satu sama lain , karena hukum internasional itu merupakan bagian
dari hukum yang tertinggi yaitu hukum alam; teori voluntaris diaman hukum
internasional ini berlaku karena danya kehendak dari negara yang bersangkutan
untuk tunduk pada hukum internasional tersebut; teori obyektifis dimana dasar
pengikat hukum internasional adalah norma hukum yang lebih tinggi yang
didasarkan pada norma yang lebih tinggi lagi, dan seterusnya hingga sampai ke
tingkat norma/ kaidah dasar yang disebut grundnorm; dan yang terakhir ialah teori
kenyataan social dimana dasar kekuatan mengikat hukum (internasional) terdapat
dalam kenyatan social bahwa mengikatnya hukum itu mutlak perlu untuk dapat
terpenuhinya kebutuhan manusia (bangsa) untuk hidup bermasyarakat.

Ketiga, Sumber materil hukum internasional terdiri dari Kebiasaan, Traktat-


traktat, Keputusan-keputusan pengadilan atau pengadilan arbitrasi, Karya-karya
hukum, Keputusan-keputusan atau penetapan-penetapan organ-organ lembaga
internaisonal.Sedangkan sumber formil hukum internasional terdiri dari Perjanian
internsional, Kebiasaan internasional, Prinsip hukum umum yang diakui oleh
bangsa-bangsa yang beradab, Keputusan pengadilan dan ajaran para sarjana yang
terkemuka dari berbagai Negara sebagai sumber tambahan bagi penetapan kaidah
hukum.

Dan terakhir yang Keempat, Subyek dari hukum internasional tidak hanya
Negara melainkan juga tahta suci (Vatican), palang merah internasional,
organisasi internasional, orang perorangan (individu), dan belligerent.

16
B. SARAN

Hendaknya hukum internasional yang telah ditetapkan sebagai suatu


pernyataan dari persetujuan antara negara-negara yang mengikatkan dirinya di
dalam suatu perjanjian dapat ditaati dan hendaknya hukum internasional dapat
terus meningkatkan perbaikan dalam pembentukan hukum yang mengatur
hubungan yang melewati batas-batas antara Negara dengan Negara, Negara
dengan subjek hukum internasional dan subjek hukum internasional satu sama
laiinya.

17
DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Anwar, Chairul. Hukum Internasional Pengantar Hukum Bangsa-Bangsa,


Jakarta: Djambatan. 1988.

G Starke, J. Pengantar Hukum Internasional Jilid I. Jakarta: Sinar Grafika.


1992.

Kusumaatmadja, Mochtar. Pengantar Hukum Internasional. Jakarta:


Binacipta. 1997.

Muthalib Tahar, Abdul .Hukum Internasional. Lampung: Percetakan Unila.


2010.

Muthalib Tahar, Abdul. Hukum Internasional dan Perkembangannya,


Bandar Lampung: Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2012.

Mauna, Boer. Hukum Internasional, Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam


Era Dinamika Global. Bandung: Alumni. 2005.

Jawahir, Tontowi dan Pranoto Iskandar. Hukum Internasional Kontemporer.


Bandung :Refika Aditama. 2006.

Kusumaatmadja, Mochtar. Indonesia Dan Perkembangan Hukum Laut


Dewasa Ini. Jakarta: Departemen Luar Negeri, Badan Penelitian dan
Pengembangan Masalah Luar Negeri. 1977.

M. M Wallace. Rebecca. Hukum Internasional. Semarang: Sweet &


Maxwell. 1986.

I Wayan Parthiana, Pengantar Hukum Internasional, Bandung: Mandar


Maju, 1990

18
JURNAL

Universitas Warmadewa Fakultas Hukum, “Implikasi yuridis keterlibatan


Indonesia dalam organisasi perdagangan internasional”, Kertha wicaksana
: majalah ilmu hukum, Volume 18 Nomor 1, Hlm.30, 2012. E-Journal
Online, (http://isjd.pdii.lipi.go.id/) diunduh pada tanggal 15 November
2012

Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas


Lampung, “Perjanjian Internasional yang dibuat oleh Organisasi
Internasional”, Jurnal Hukum Internasional, Volume 3 Nomor 4 Juli 2006,
Hlm. 497, 2006

Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Universitas Indonesia, “Status hukum


perjanjian internasional dalam hukum nasional RI: tinjauan dari perspektif
praktik Indonesia” Jurnal hukum internasional, Volume 5 Nomor 3
Hlm.497, 2008. E-Journal Online, (http://isjd.pdii.lipi.go.id/) diunduh pada
tanggal 15 November 2012

Universitas Gadjah Mada Fakultas Hukum , “Keberadaan Asas Sunt Servanda


dalam Perjanjian Internasional”, Mimbar Hukum: Jurnal Berkala Fakultas
Hukum UGM, Volume 21 Nomor 1 Februari 2009, Hlm. 160, 2009. E-
Journal Online, (http://isjd.pdii.lipi.go.id/) diunduh pada tanggal 15
November 2012

Universitas Gadjah Mada Fakultas Hukum, “Status hukum internasional dalam


sistem hukum di Indonesia”, Mimbar hukum : jurnal berkala Fakultas
Hukum UGM, Volume 21 Nomor 2, Hlm.337, 2009. E-Journal Online,
(http://isjd.pdii.lipi.go.id/) diunduh pada tanggal 15 November 2012

Jakarta Asosiasi Peneliti Hukum Indonesia, “Praktek pengesahan perjanjian


internasional kedalam hukum nasional: suatu analisis terhadap penggunaan
doktrin monisme dan dualisme” Jurnal penelitian hukum APHI: De Jure,
Volume 10 Nomor 3, Hlm.310, 2010. E-Journal Online,
( http://isjd.pdii.lipi.go.id/) diunduh pada tanggal 15 November 2012

Arsensius, “Sejarah Perkembangan Hukum Internasional dari Masa Klasik Hingga


Masa Moderen”, 2009, E-Journal Online, (http://jurnal.untan.ac.id/index.
php/civika/article/view/401)

Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas


Indonesia, “Kedudukan Hukum Internasional dalam Sistem Hukum
Nasional”, Jurnal Hukum Internasional, Volume 5 Nomor 3 April 2008,
Hlm. 506, 2008

19