Anda di halaman 1dari 22

Laporan Kasus

Fluor Albus dengan Pendekatan Dokter Keluarga

Oleh:
Jordy
10.2014.223

Dosen Pembimbing :
dr. Ernawati Tamba, MKM

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, Desember 2016
Bab I
Tinjauan Pustaka

Pendahuluan
Diperkirakan 75% wanita di Indonesia pernah mengalami keputihan sekali
dalam hidupnya. Pada vagina terdapat mekanisme pertahanan terhadap benda asing.
Kelenjar pada vagina dan serviks / leher rahim menghasilkan sekret yang berfungsi
sebagai pelindung yang alami untuk mengurangi gesekan pada dinding vagina saat
berjalan dan pada saat berhubungan seksual. 95% kasus kanker leher rahim pada
wanita indonesia ditandai dengan keputihan.1
Leukorea (white discharge, fluor albus, keputihan) adalah nama gejala yang
diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital, yang tidak berupa
darah. Dalam kondisi normal, kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih
yang keluar bercampur dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas, dan sekresi dari
kelenjar Bartolin. Selain itu, sekret vagina juga disebabkan karena aktivitas bakteri
yang hidup pada vagina yang normal. Pada perempuan, sekret vagina ini merupakan
suatu hal yang alami dari tubuh untuk membersihkan diri, sebagai pelicin, dan
pertahanan dari berbagai infeksi. Dalam kondisi normal, sekret vagina tersebut
tampak jernih, putih keruh, atau berwarna kekuningan ketika mengering pada
pakaian. Sekret ini non-iritan, tidak mengganggu, tidak terdapat darah, dan memiliki
pH 3,5-4,5. Flora normal vagina meliputi Corynebacterium, Bacteroides,
Peptostreptococcus, Gardnerella, Mobiluncus, Mycoplasma, dan Candida spp.
Lingkungan dengan pH asam memberikan fungsi perlindungan yang dihasilkan oleh
Lactobacilli.1,2
Leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada penderita
ginekologik. Dapat dibedakan antara leukorea yang fisiologik dan yang patologik.
Leukorea fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang
mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang, sedangkan pada leukorea
patologik terdapat banyak leukosit.2
Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Disini cairan
mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau,
seringkali lebih kental dan berbau. Radang vulva, vagina, serviks, dan kavum uteri
dapat menyebabkan leukorea patologik; pada adneksitis gejala tersebut dapat pula
timbul. Selanjutnya leukorea ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas, apabila
2
tumor itu dengan permukaannya untuk sebagian atau seluruhnya memasuki lumen
saluran alat-alat genital.2
Epidemiologi
Proporsi perempuan yang mengalami flour albus bervariasi antara 1-15% dan
hampir seluruhnya memiliki aktivitas seksual yang aktif, tetapi jika merupakan suatu
gejala penyakit dapat terjadi pada semua umur. Seringkali fluor albus merupakan
indikasi suatu vaginitis, lebih jarang merupakan indikasi dari servisitis, tetapi kadang
kedua-duanya muncul bersamaan. Infeksi yang sering menyebabkan vaginitis adalah
trikomoniasis, vaginosis bakterialis, dan kandidiasis. Penyebab non-infeksi dari
vaginitis tersering meliputi atrofi vagina, alergi, atau iritasi bahan kimia. Servisitis
sendiri disebabkan oleh Gonore dan Klamidia. Prevalensi dan penyebab vaginitis
masih belum pasti karena sering didiagnosis dan diobati sendiri. Selain itu vaginitis
seringkali asimtomatis dan dapat disebabkan lebih dari satu penyebab.2
Etiologi
Fluor albus fisiologik pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada
daerah porsio vagina. Sekret patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan
anterior vagina.2
Fluor albus fisiologik ditemukan pada:1
a. Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari akibat pengaruh estrogen dari
plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
b. Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen. Leukore
tersebut akan hilang sendiri, akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang
tuanya.
c. Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan
oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina.
d. Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi
lebih encer.
e. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita
dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion
porsionis uteri.
Fluor albus patologik disebabkan oleh:1-3
1. Infeksi :
- Bakteri : Gardanerrella vaginalis, Chlamidia trachomatis, Neisseria
gonorhoae, dan Gonococcus
3
- Jamur : Candida albicans
- Protozoa : Trichomonas vaginalis
- Virus : Virus Herpes dan Human papilloma irus
2. Iritasi :
- Sperma, pelicin, kondom
- Sabun cuci dan pelembut pakaian
- Deodoran dan sabun
- Cairan antiseptik untuk mandi
- Pembersih vagina
- Celana yang ketat dan tidak menyerap keringat
- Kertas tisu toilet yang berwarna
3. Tumor atau jaringan abnormal lain
4. Fistula
5. Benda asing
6. Radiasi
7. Penyebab lain:
- Psikologi : Vulvovaginitis psikosomatik
- Tidak diketahui : “ Desquamative inflammatory vaginitis”
Patogenesis
Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina
bisa dikatakan suatu yang normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan
penderita sebagai suatu infeksi, khususnya disebabkan oleh jamur. Beberapa
perempuan pun mempunyai sekret vagina yang banyak sekali.2
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang
dinamis antara Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen,
glikogen, pH vagina, dan hasil metabolit lain. Lactobacillus acidophilus
menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap bakteri patogen. Karena aksi
dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, Lactobacillus (doderlein), dan
produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8 - 4,5
dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain.2
Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh
Candida sp. terutama C. albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan kondisi
vagina. Sel ragi akan berkompetisi dengan flora normal sehingga terjadi kandidiasis.
Hal-hal yang mempermudah pertumbuhan ragi adalah penggunaan antibiotik yang
4
berspektrum luas, penggunaan kontrasepsi, kadar estrogen yang tinggi, kehamilan,
diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian pakaian ketat, pasangan seksual baru, dan
frekuensi seksual yang tinggi.2
Perubahan lingkungan vagina seperti, peningkatan produksi glikogen saat
kehamilan, peningkatan hormon esterogen dan progesteron karena kontrasepsi oral
menyebabkan perlekatan Candida albicans pada sel epitel vagina yang merupakan
media bagi prtumbuhan jamur. Candida albicans berkembang dengan baik pada
lingkungan pH 5 - 6,5. Perubahan ini bisa asimtomatis atau sampai sampai
menimbulkan gejala infeksi. Penggunaan obat imunosupresan juga menjadi faktor
predisposisi kandidiasis vaginalis. 4,5
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan
progesteron menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen, sehingga
berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari Trichomonas vaginalis.2
Vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina berubah karena
pengaruh bakteri patogen atau adanya perubahan dari lingkungan vagina sehingga
bakteri patogen itu mengalami proliferasi. Antibiotik, kontrasepsi, hubungan seksual,
stres, dan hormon dapat merubah lingkungan vagina tersebut dan memacu
pertumbuhan bakteri patogen. Pada vaginosis bakterial, diyakini bahwa faktor-faktor
itu dapat menurunkan jumlah hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh Lactobacillus
acidophilus sehingga terjadi perubahan pH dan memacu pertumbuhan Gardnerella
vaginalis, Mycoplasma hominis, dan Mobiluncus yang normalnya dapat dihambat.
Organisme ini menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH
vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab
timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bakterial.2
Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita
tuberkulosis, anemia, menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga pada
perempuan dengan keadaan umum yang buruk, higiene yang buruk, dan pada
perempuan yang sering menggunakan pembersih vagina, disinfektan yang kuat.2
Gejala Klinis
Segala perubahan yang menyangkut warna dan jumlah dari sekret vagina
meerupakan suatu tanda infeksi vagina:1
- Keputihan yang disertai rasa gatal, ruam kulit, dan nyeri
- Sekret vagina yang bertambah banyak
- Rasa panas saat kencing
5
- Sekret vagina berwarna putih dan menggumpal
- Berwarna putih kerabu-abuan atau kuning dengan bau yang menusuk
Pada vaginosis bakterial, sekret vagina keruh, encer, putih abu-abu hingga
kekuning-kuningan dengan bau busuk, atau amis. Bau semakin bertambah setelah
hubungan seksual. Pada trikomoniasis, sekret vagina biasanya sangat banyak, kuning
kehijauan, berbusa, dan berbau amis. Pada kandidiasis, sekret vagina menggumpal
dan berwarna putih kental. Gatal dari sedang hingga berat dan rasa terbakar
kemerahan, serta bengkak didaerah genital. Tidak ada komplikasi yang serius. Pada
infeksi klamidia biasanya tidak bergejala. Sekret vagina yang berwarna kuning seperti
pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang abnormal. 1
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan :1,3
- Pemeriksaan darah lengkap, - Sitologi dan biopsy jaringan
pemeriksaan biokimia dan abnormal
urinalisis. - Tes serologis untuk Brucellosis
- Kultur urin untuk dan herpes
menyingkirkan infeksi bakteri - Pemeriksaan PH vagina.
pada traktus urinarius - Penilaian swab untuk pemeriksaan
- Sitologi vagina dengan larutan garam fisiologis
- Kultur sekret vagina dan KOH 10 % .
- Radiologi untuk memeriksa - Pulasan dengan pewarnaan gram .
uterus dan pelvis - Pap smear.
- Ultrasonografi (USG) abdomen - Biopsi.
- Vaginoskopi - Test biru metilen.
DIAGNOSIS
Diagnosis fluor albus ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang: 3
- Anamnesis
Ditanyakan mengenai usia, metode kontrasepsi yang dipakai oleh akseptor KB,
kontak seksual, perilaku, jumlah, bau dan warna leukore, penyakit yang diderita,
penggunaan obat antibiotik atau kortikosteroid, dan keluhan-keluhan lain.
- Pemeriksaan Fisis dan Genital
Inspeksi kulit perut bawah, rambut pubis, terutama perineum, dan anus. Inspeksi
dan palpasi genitalia eksterna. Pemeriksaan spekulum untuk vagina dan serviks,
pemeriksaan bimanual pelvis, palpasi kelenjar getah bening, dan femoral.
6
- Laboratorium
Hasil pengukuran pH cairan vagina dapat ditentukan dengan kertas pengukur pH
dan pH diatas 4,5 sering disebabkan oleh trikomoniasis, tetapi tidak cukup spesifik.
Cairan juga dapat diperiksa dengan melarutkan sampel dengan 2 tetes larutan normal
saline 0,9% diatas objek kaca dan sampel kedua di larutkan dalam KOH 10%. Penutup
objek kaca ditutup dan diperiksa dibawah mikroskop. Sel ragi atau pseudohyphae dari
kandida lebih mudah didapatkan pada preparat KOH. Namun kultur T. vaginalis lebih
sensitif dibanding pemeriksaan mikroskopik.
Secara klinik, untuk menegakkan diagnosis vaginosis bakterial harus ada tiga dari
empat kriteria sebagai berikut, yaitu: (1) adanya sel clue pada pemeriksaan mikroskopik
sediaan basah, (2) adanya bau amis setelah penetesan KOH 10% pada cairan vagina, (3)
duh yang homogen, kental, tipis, dan berwarna seperti susu, (4) pH vagina lebih dari 4,5
dengan menggunakan nitrazine paper.
Penatalaksanaan
Untuk menghindari komplikasi yang serius dari keputihan (fluor albus), sebaiknya
penatalaksanaan dilakukan sedini mungkin sekaligus untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
penyebab lain, seperti kanker leher rahim yang juga memberikan gejala keputihan berupa sekret
encer, berwarna merah muda, coklat mengandung darah atau hitam, serta berbau busuk.6
Penatalaksanan keputihan tergantung dari penyebab infeksi seperti jamur, bakteri, atau
parasit. Umumnya diberikan obat-obatan untuk mengatasi keluhan dan menghentikan proses
infeksi sesuai dengan penyebabnya. Obat-obatan yang digunakan dalam mengatasi keputihan
biasanya berasal dari golongan flukonazol untuk mengatasi infeksi kandida dan golongan
metronidazol untuk mengatasi infeksi bakteri dan parasit. Sediaan obat dapat berupa sediaan oral
(tablet, kapsul), topikal seperti krem yang dioleskan, dan suppositoria yang dimasukkan langsung
ke dalam liang vagina. Untuk keputihan yang ditularkan melalui hubungan seksual, terapi juga
diberikan kepada pasangan seksual dan dianjurkan untuk tidak berhubungan seksual selama
masih dalam pengobatan. Selain itu, dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah intim
sebagai tindakan pencegahan sekaligus mencegah berulangnya keputihan yaitu dengan :6
1. Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olah raga rutin, istirahat cukup, hindari
rokok dan alkohol, serta hindari stres berkepanjangan.
2. Setia kepada pasangan. Gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit menular
seksual.
3. Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan
tidak lembab, misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap
7
keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat. Biasakan untuk mengganti pembalut,
pantyliner pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak.
4. Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan
ke belakang.
5. Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat
mematikan flora normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum
menggunakan cairan pembersih vagina.
6. Hindari penggunaan bedak talkum, tissue, atau sabun dengan pewangi pada daerah
vagina karena dapat menyebabkan iritasi.
7. Hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan seperti meminjam
perlengkapan mandi, dsb. Sedapat mungkin tidak duduk di atas kloset di WC umum atau
biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya.
Tujuan pengobatan:
- Menghilangkan gejala
- Memberantas penyebabrnya
- Mencegah terjadinya infeksi ulang
- Pasangan diikutkan dalam pengobatan
Fisiologis : tidak ada pengobatan khusus, penderita diberi penerangan untuk
menghilangkan kecemasannya.
Patologi : Tergantung penyebabnya
Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering :
1. Candida albicans 3
Topikal
- Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu
- Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari
- Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 – 14 hari
Sistemik
- Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari
- Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari
- Nimorazol 2 gram dosis tunggal
- Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal
- Pasangan seksual dibawa dalam pengobatan
2. Chlamidia trachomatis
- Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari
8
- Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila
- Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari
- Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari
- Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10 hari
3. Gardnerella vaginalis
- Metronidazole 2 x 500 mg
- Metronidazole 2 gram dosis tunggal
- Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari
- Pasangan seksual diikutkan dalam pengobatan
4. Neisseria gonorhoeae
- Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau
- Amoksisiklin 3 gr im
- Ampisiillin 3,5 gram im atau
Ditambah :
- Doksisiklin 2 x 100mg oral selama 7 hari atau
- Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
- Tiamfenikol 3,5 gram oral
- Kanamisin 2 gram im
- Ofloksasin 400 mg/oral
Untuk Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase
- Seftriaxon 250 mg im atau
- Spektinomisin 2 mg im atau
- Ciprofloksasin 500 mg oral
Ditambah
- Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari atau
- Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
5. Virus herpeks simpleks
- Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas
- Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari
- Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari
- Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder
9
6. Penyebab lain :
- Vulvovaginitis psikosomatik dengan pendekatan psikologi. Desquamative inflammatory
vaginitis diberikan antibiotik, kortikosteroid dan estrogen.3
Prognosis
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap
pengobatan dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan perawatan
kesehatan akan menentukan pengobatan yang lebih efektif.2

10
Bab II
Materi dan Metode

1. Materi
Dalam hal ini, materi yang digunakan adalah data riwayat keluarga atau yang dikenal
dengan Family Folder. Family Folder adalah salah satu teknik pencatatan yang digunakan untuk
mengetahui status kesehatan suatu keluarga dalam masyarakat, dengan menggunakan prinsip
dokter keluarga, yaitu seorang pasien merupakan pintu masuk menuju kesehatan keluarganya.
Jadi, melalui pengamatan pada seorang pasien, kita juga harus mengetahui status kesehatan pada
setiap individu keluarganya.
Pada Family Folder ini, kita dapat melihat adanya faktor lingkungan yang sangat
berperan pada perkembangan suatu penyakit, keadaan tempat tinggal yang kita amati,
lingkungan sekitarnya yang dapat menunjang munculnya agen maupun malah mendukung host,
sehingga penyakit tidak muncul. Selain dipengaruhi lingkungan, juga dipengaruhi oleh faktor
keturunan, mekanisme pertahanan tubuh, umur, jenis kelamin, ras, status perkawinan, macam
pekerjaan, dan kebiasaan hidup. Oleh karena itu, pada Family Folder juga dicantumkan hal
tersebut.
Puskemas adalah sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggungjawab
menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat di wilayah
kerjanya. Oleh karena itu, pengisian Family Folder dilakukan pada pasien yang datang ke
Puskesmas, guna mengetahui secara langsung kesehatan perorangan maupun masyarakat yang
berada di sekitar Puskesmas tersebut.
2. Metode
Metode yang digunakan adalah dengan wawancara terhadap pasien. Wawancara
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab
langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap narasumber atau sumber data.
Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan,
karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel
kecil teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif).
Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Wawancara
terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari
dari responden, sehingga daftar pertanyaan sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat
menggunakan alat bantu tape recorder, kamera foto, dan material lain yang dapat membantu
kelancaran wawancara. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti
11
tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara
spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.

12
Bab III
Hasil dan Data Kunjungan

Puskesmas : Puskesmas Cilamaya


I. Identitas Pasien
a) Nama : Ny. R
b) Umur : 40 tahun
c) Jenis kelamin : Perempuan
d) Pekerjaan : Ibu rumah tangga
e) Pendidikan : SMP

II. Riwayat Biologis Keluarga


a) Keadaan Kesehatan Sekarang : Cukup Baik
b) Kebersihan Perorangan : Cukup
c) Penyakit yang Sering Diderita : Tidak ada
d) Penyakit Keturunan : Tidak ada
e) Penyakit Kronis/Menular : Tidak ada
f) Kecacatan Anggota Keluarga : Tidak ada
g) Pola Makan : Baik
h) Pola Istirahat : Baik
i) Jumlah Anggota Keluarga : 4 orang

III. Psikologis Keluarga


a) Kebiasaan Buruk : Tidak ada
b) Pengambilan Keputusan : Suami dan sendiri
c) Ketergantungan Obat : Tidak ada
d) Tempat Mencari Pelayanan Kesehatan : Puskesmas
e) Pola Rekreasi : Cukup

13
IV. Keadaan Rumah/Lingkungan
a) Jenis Bangunan : Permanen
b) Lantai Rumah : Keramik
c) Luas Rumah : 80 m2
d) Penerangan : Baik
e) Kebersihan : Cukup
f) Ventilasi : Baik
g) Dapur : Ada
h) Jamban Keluarga : Ada
i) Sumber Air Minum : Air galon
j) Sumber Pencemaran Air : Tidak ada
k) Pemanfaatan Pekarangan : Ada
l) Tempat Pembuangan Sampah : Ada
m) Sanitasi Lingkungan : Baik

V. Spiritual Keluarga
a) Ketaatan Beribadah : Cukup
b) Keyakinan Tentang Kesehatan : Baik

VI. Keadaan Sosial Keluarga


a) Tingkat Pendidikan Terakhir : SMP
b) Hubungan Antar Keluarga : Baik
c) Hubungan Dengan Orang Lain : Baik
d) Kegiatan Organisasi Sosial : Tidak ada
e) Keadaan Ekonomi : Cukup

VII. Kultural Keluarga


a) Adat yang Berpengaruh : Jawa

14
VIII. Daftar Anggota Keluarga
N Nama Hubungan Umur Jenis Pendidikan Pekerjaan Agama Keadaan Keadaan
o. Kelamin Kesehatan Gizi
1. N Ayah 42 L SMA Petani Islam Baik Baik
2. F Ibu 40 P SMP IRT Islam Baik Baik
3. D Anak 9 L SD Pelajar Islam Baik Baik
4. G Anak 4 L - - Islam Baik Baik

1 2

3 4

Keterangan :
1. Ayah : Sehat
2. Ibu : Keputihan
3. Os : Sehat
4. Anak 2 : Sehat

IX. Keluhan Utama


Keputihan sejak 1 minggu yang lalu.

X. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengalami keputihan sejak 1 minggu yang lalu. Keputihan berwarna putih
kekuningan, berbau amis, dan kental. Kemaluan juga terasa gatal, namun tidak nyeri.
Tidak ada nyeri saat BAK dan berhubungan seksual. Tidak ada mual, muntah, dan nyeri
panggul Pasien rutin membersihkan kemaluannya menggunakan obat pembersih
kemaluan karena merasa gatal. Pasien sehari mandi 2-3 kali dan rutin mengganti celana
dalam.

XI. Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak ada.

15
XII. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Tinggi Badan : 156 cm
Berat Badan : 48 kg
Status Gizi : Baik
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
Frekuensi Nadi : 86 kali/menit
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Frekuensi Napas : 20 kali/menit
Suhu : 36,60C

Pemeriksaan Lokalis
Kepala
Bentuk : Normosefali
Rambut : Rambut berwarna hitam, tidak mudah dicabut
Mata : CA -/-, SI -/-
Telinga : Liang telinga lapang, sekret -/-
Hidung : Bentuk normal, sekret-/-
Bibir : Tidak kering, sianosis (-)
Mulut : Stomatitis (-), sianosis (-)
Lidah : Lidah kotor (-)
Tonsil : Tonsil T1-T1, hiperemis (-)
Faring : Hiperemis (-)

Leher
Tidak ada kelainan, tiroid dan kelenjar getah bening tidak teraba membesar.

Toraks
Paru : Sn vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : BJ I-II murni, reguler, murmur (-), gallop (-)

16
Abdomen
Inspeksi : Tampak datar, tidak tampak kelainan
Auskultasi : Bising usus (+) meningkat
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Anus dan Rectum : Tidak diperiksa

Genitalia : Tidak ada kelainan, vaginal discharge (+)


berwarna putih kekuningan, kental, berbau

Anggota Gerak :Akral hangat + + Edema - -


+ + - -

XIII. Diagnosa Penyakit : Fluor albus

XIV. Diagnosa Keluarga : -

XV. Anjuran Penatalaksanaan Masalah:


Promotif
 Memberikan edukasi kepada pasien dan suami tentang keputihan, penyebab
keputihan, dan komplikasi penyakit.
Preventif
 Pola hidup sehat.
 Setia kepada pasangan.
 Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan
tidak lembab, misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap
keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat.
 Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan
ke belakang.
 Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat
mematikan flora normal vagina.

17
Kuratif
 Medikamentosa:
o Metronidazol tab 400 mg 2 x 1 selama tiga hari.
o Nystatin 100.000 IU (1 supp sebelum tidur).
 Nonmedikamentosa:
o Menghentikan penggunaan obat pembersih kemaluan.
o Minum obat teratur.
o Gunakan celana dalam yang menyerap keringat, contohnya berbahan katun
o Makanan bergizi, buah, dan sayur agar meningkatkan imunitas tubuh.
o Jika setelah 3 hari masih terdapat keluhan yang sama, datang kembali ke
pelayanan kesehatan.
o Rajin cuci tangan, menjaga kebersihan diri, dan lingkungan.
Rehabilitatif
 Melakukan pemeriksaan IVA secara teratur untuk mendeteksi lesi prakanker leher
rahim.

XVI. Prognosis
a. Penyakit
Bonam
b. Keluarga
Bonam
c. Masyarakat
Bonam

XVII. Resume
Pasien perempuan berusia 40 tahun, sudah menikah, mengalami keputihan sejak 1
minggu yang lalu. Keputihan berwarna putih kekuningan, berbau amis, dan kental.
Kemaluan juga terasa gatal, namun tidak nyeri. Tidak ada nyeri saat BAK dan
berhubungan seksual. Tidak ada mual, muntah, dan nyeri panggul. Pasien rutin
membersihkan kemaluannya menggunakan obat pembersih kemaluan. Pada pemeriksaan
fisik, terdapat vaginal discharge berwarna putih kekuningan, berbau, dan kental. Belum
dilakukan pemeriksaan penunjang.

18
Bab IV
Analisis Masalah

Analisis Kasus
Pasien perempuan berusia 29 tahun, sudah menikah, mengalami keputihan sejak 1
minggu yang lalu. Keputihan berwarna putih kekuningan, berbau amis, dan kental. Kemaluan
juga terasa gatal, namun tidak nyeri. Tidak ada nyeri saat BAK dan berhubungan seksual. Tidak
ada mual, muntah, dan nyeri panggul. Pasien rutin membersihkan kemaluannya menggunakan
obat pembersih kemaluan. Pada pemeriksaan genitalia, terdapat vaginal discharge berwarna
putih kekuningan, berbau, dan kental. Pemeriksaan lainnya dalam batas normal. Belum
dilakukan pemeriksaan penunjang. Diagnosa saat ini yaitu fluor albus.
Analisis Kunjungan Rumah
a. Kondisi pasien
Keadaan umum pasien dalam keadaan baik, namun pada pemeriksaan genitalia terdapat
vaginal discharge berwarna putih kekuningan, berbau, dan kental.
b. Keadaan rumah
Lokasi : Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain rapat.
Kondisi : Jenis bangunan rumah pasien adalah permanen. Rumah terbuat
dari batu bata, lantainya terbuat dari keramik, dan beratap genteng.

Luas rumah : 80 m2.


c. Pembagian rumah
Rumah terdiri dari 1 tingkat, terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 dapur, dan 1
kamar mandi.
d. Ventilasi
Terdapat 2 jendela pada ruang tamu, 1 jendela kecil pada kamar mandi, serta 1 jendela
pada kamar tidur.

19
e. Penerangan
Penerangan dalam rumah pasien sudah baik dengan banyaknya jendela dan juga lampu.
f. Kebersihan
Kebersihan dalam rumah cukup.
g. Sanitasi dasar.
Sanitasi dasar baik karena terdapat pembuangan sampah, dan sampah tidak terlihat pada
pekarangan rumah.
Analisis Fungsi Keluarga
a. Keadaan Biologis
Ayah dan kedua anak dalam keadaan sehat, sementara ibu menderita fluor albus.
b. Keadaan Psikologis
Hubungan pasien dengan anggota keluarga terjalin baik.
c. Keadaan Sosiologis
Pasien memiliki hubungan baik dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya.
d. Keadaan Religius
Semua anggota keluarganya menjalankan ibadah mereka dengan baik.

20
Bab V
Penutup

Kesimpulan
Berdasarkan data riwayat keluarga diatas, kesimpulan yang dapat diambil adalah keadaan
kesehatan keluarga pasien sekarang baik, namun kebiasaan pasien untuk menggunakan
pembersih kemaluan secara berlebihan menyebabkan flora normal vagina menjadi tidak
seimbang sehingga terjadi fluor albus.
Saran
Disarankan kepada pasien untuk menghentikan penggunaan obat pembersih kemaluan.
Minum obat teratur. Gunakan celana dalam yang menyerap keringat, contohnya berbahan katun.
Makanan bergizi, buah, dan sayur agar meningkatkan imunitas tubuh. Jika setelah 3 hari masih
terdapat keluhan yang sama, datang kembali ke pelayanan kesehatan. Rajin cuci tangan, menjaga
kebersihan diri dan lingkungan sekitar tempat tinggal.

21
Daftar Pustaka
1. Wiknjosastro, H, Saifuddin, B, Rachimhadi, Trijatmo. Ilmu Kandungan. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo; 2009.
2. Amiruddin, D. Penyakit menular seksual. Jogjakarta: LKiS; 2003.
3. Manoe, I. M.S. M, Rauf, S, Usmany,H. Pedoman diagnosis dan terapi obstetri dan
ginekologi. 1999. Ujung pandang: Obstetri dn Ginekologi Fakultas Kedokteran Unhas
RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo.
4. Anindita, Wiki. Santi Martini. Faktor resiko kejadian kandidiasis vaginalis pada
akseptor KB. Surabaya: UNAIR. 2006.
5. Jarvis G.J. The management of gynaecological infections in obstetric and
gynaecology a critical approach to the clinical problems. 2004. Oxford: Oxford
University Press.
6. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri, R, Wardhani,W.I, Setiowulan, W. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi ke-3. 2011. Jakarta: Media Aesculapius.

Dokumentasi Kegiatan

22