Anda di halaman 1dari 18

Pengaruh Revolusi Industri 4.

0 terhadap
Ekonomi Global dan Ekonomi Indonesia

Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Ekonomi Teknik dan Kewirausahaan

Disusun Oleh:

Aldian Ghani Rahman 21050118130114

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................ i

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 2

2.1. REVOLUSI INDUSTRI 4.0 ..................................................................... 2

2.2. Ekonomi Global di Revolusi Industri 4.0 ................................................. 5

2.3. Ekonomi Indonesia di Revolusi Industri 4.0 ............................................ 7

2.4. Analisis Revolusi Industri 4.0 terhadap Negara Indonesia .................... 10

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ekonomi sebagai pondasi bagi kedaulatan Indonesia karena pada
hakikatnya, ekonomi bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Pada era
revolusi industri 4.0, perekonomian di Indonesia perlahan mulai berubah ke
sistem digital walaupun pada kenyataannya masih belum diterapkan
sepenuhnya. Contohnya saja penggunaan uang non-tunai di tiap transaksi
seperti pembayaran pajak, transfer, pembelian barang secara daring (dalam
jaringan/online), dan sebagainya. Akan tetapi, ada suatu kondisi di mana
penggunaan uang non-tunai belum diterapkan, sebagai contoh, di pasar
tradisional.
Indonesia juga masuk anggota MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), di
mana perdagangan mulai memasuki perdagangan bebas bagi negara-negara
ASEAN. Perdagangan bebas sejatinya mempunyai dampak negatif bagi
pengusaha yang secara kemampuan belum memenuhi standar. Namun, bila
ada pengusaha yang mampu beradaptasi dengan perdagangan bebas, maka
keuntungan pengusaha tersebut sangat besar. Pemanfaatan peluang menjadi
kunci dalam keberhasilan dalam perubahan ekonomi Indonesia. Jika tidak ada
pemanfaatan tersebut, kemungkinan Indonesia menjadi penonton di negeri
sendiri bahkan berkemungkinan besar menjadi tamu di tuan rumah sendiri.
Hadirnya MEA menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha sektor
industri dalam negeri dengan mengingat adanya globalisasi revolusi industri
4.0. Peningkatan kualitas dan daya saing menjadi suatu keharusan agar bisa
bersaing dengan perusahaan multinasional bahkan internasional. MEA juga
sebagai jawaban atas tekanan globalisasi yang semakin menguat di tengah era
keterbukaan informasi dan teknologi yang semakin maju.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. REVOLUSI INDUSTRI 4.0


Pada era ini merupakan era digitalisasi yang merupakan bagian dari
revolusi industri 4.0. Sebenarnya, istilah Industri 4.0 lahir dari ide revolusi
industri ke empat. European Parliamentary Research Service (dalam Prasetyo,
Hoedi, Wahyudi Sutopo, 2018: 17) menyampaikan bahwa revolusi industri
terjadi empat kali. Revolusi industri pertama terjadi di Inggris pada tahun
1784 di mana penemuan mesin uap dan mekanisasi mulai menggantikan
pekerjaan manusia. Revolusi yang kedua terjadi pada akhir abad ke-19 di
mana mesin-mesin produksi yang ditenagai oleh listrik digunakan untuk
kegiatan produksi secara masal. Penggunaan teknologi komputer untuk
otomasi manufaktur mulai tahun 1970 menjadi tanda revolusi industri ketiga.
Saat ini, perkembangan yang pesat dari teknologi sensor, interkoneksi, dan
analisis data memunculkan gagasan untuk mengintegrasikan seluruh
teknologi tersebut ke dalam berbagai bidang industri.

Istilah Industri 4.0 sendiri secara resmi lahir di Jerman tepatnya saat
diadakan Hannover Fair pada tahun 2011. Negara Jerman memiliki
kepentingan yang besar terkait hal ini karena Industri 4.0 menjadi bagian dari
kebijakan rencana pembangunannya yang disebut High-Tech Strategy 2020.
Kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan Jerman agar selalu
menjadi yang terdepan dalam industri manufaktur. Beberapa negara lain juga
turut serta dalam mewujudkan konsep Industri 4.0 namun menggunakan
istilah yang berbeda seperti Smart Factories, Industrial Internet of Things,
Smart Industri, atau Advanced Manufacturing. Meski penyebutan istilah yang
berbeda, istilah tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu untuk
meningkatkan daya saing industri tiap negara dalam menghadapi pasar global
yang sangat dinamis. Kondisi tersebut diakibatkan oleh pesatnya
perkembangan pemanfaatan teknologi digital di berbagai bidang.

2
Secara definisi, Angela Merkel, Kanselir Jerman berpendapat bahwa
Industri 4.0 adalah transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek
produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet
dengan industri konvensional. Tetapi, secara teknis, Industri 4.0 adalah
integrasi dari Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and
Services (IoT dan IoS) ke dalam proses industri yang meliputi manufaktur
dan logistik serta proses lainnya. CPS menurut Lee (dalam Prasetyo, Hoedi,
Wahyudi Sutopo, 2018:19) adalah teknologi untuk menggabungkan antara
dunia nyata dengan dunia maya. Penggabungan ini dapat terwujud melalui
integrasi antara proses fisik dan komputasi secara close loop.

Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi ini ditandai


dengan munculnya robot, supercomputer, mobil pintar, dan sebagainya. Pada
era ini, ukuran perusahaan tidak menjadi jaminan, tetapi kelincahan adalah
kunci keberhasilan dalam waktu yang cepat. Oleh sebab itu, perusahaan harus
peka dan melakukan instropeksi diri sehingga mampu bertahan di tengah
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menawarkan sisi positif tapi juga negatif
dan mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia akan “ditelan” oleh revolusi
yang ditopang oleh teknologi-teknologi abad 21 seperti machine learning,
artificial intelligence, internet of things, hingga 3D printing. Jadi, masyarakat
harus mempersiapkan diri, merencanakan, dan menyusun strategi di tingkat
negara untuk menghadapinya.

Agar tidak “silau” oleh janji-janji Revolusi Industri 4.0, masyarakat harus
tahu “sisi gelap” dan beberapa tantangan yang harus dihadapi.

1. Efek Disruptif.
Revolusi Industri 4.0 menghasilkan perubahan yang supercepat,
eksponensial, dan disruptif. Industri-industri lama “dirusak” (creative
destruction) sehingga menghasilkan industri-industri baru dengan pemain
yang baru, model bisnis baru, dan proposisi baru.
Perubahan disruptif Industri 4.0 ini memiliki kekuatan “membilas”
industri lama: ritel tradisional dibilas oleh e-commerce; media cetak

3
dibilas oleh media online; layanan taksi tradisional dibilas layanan taksi
berbasis sharing economy; layanan telekomunikasi dibilas oleh layanan
OTT (over-the-top) seperti WhatsApp; mass manufacturing bakal dibilas
oleh additive manufacturing yang tailor-made dengan adanya teknologi
3D printing; bahkan nilai tukar negara akan dibilas oleh cryptocurrency.
Perubahan sangat mendadak ini bukannya tanpa kerugian ekonomi-
sosial. Dampak paling mendasar adalah terjadinya migrasi nilai dari
pemain inkumben ke pemain-pemain baru. Migrasi nilai ini memicu
bergugurannya pemain inkumben karena pasarnya digerogoti oleh
pemain-pemain baru dengan model bisnis baru berbasis digital. Peritel
tradisional mulai berguguran, koran dan majalah tak lagi terbit, dan
puluhan industri mengalami pelemahan permintaan.
2. Ketimpangan Ekonomi.
Tantangan paling pelik dari Revolusi Industri 4.0 adalah melebarnya
ketimpangan ekonomi antara pemilik modal baik fisik maupun
intelektual, dengan penduduk yang mengandalkan tenaga kerja murah.
Pasar di berbagai sektor Industri 4.0 mengarah ke struktur pasar yang
bersifat monopolistik sebagai dampak dari apa yang disebut platform
effect. Dalam teori ekonomi, platform digital menghasilkan increasing
return to scale bagi produsen dimana tingkat hasil semakin meningkat
seiring meningkatnya skala ekonomi.
3. Pengangguran Massal.
Di era Industri 4.0 semakin banyak pekerjaan manusia yang
tergantikan oleh robot (otomasi). Tak hanya pekerjaan-pekerjaan yang
bersifat repetitif, pekerjaan-pekerjaan analitis dari beragam profesi
seperti dokter, pengacara, analis keuangan, konsultan pajak, wartawan,
akuntan, hingga penerjemah.
4. Agile Government.
Agile governement menuntut pemerintah bisa menjalankan proses
politik, legislatif, dan regulatif yang adaptif mengikuti setiap
perkembangan Revolusi Industri 4.0. Untuk bisa melakukannya ia harus
berkolaborasi secara intens dengan seluruh elemen stakeholders (bisnis,

4
akademis, komunitas, masyarakat) dalam menuntun proses trasformasi
digital di level negara, industri, dan masyarakat secara luas.

2.2. Ekonomi Global di Revolusi Industri 4.0


Ekonomi global merupakan sebuah proses kegiatan aktivitas
perekonomian dan perdagangan dimana ada banyak negara di dunia yang
menjadi kekuatan pasar yang satu dan semakin terintegrasi tanpa hambatan
atau batasan teritorial negara. Adanya globalisasi perekonomian ini berarti
adanya keharusan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus
barang, jasa serta modal.

Sekarang ini ekonomi global atau globalisasi ekonomi erat kaitannya


dengan perdagangan bebas. Perdagangan bebas tersebut sekarang ini dikenal
dengan istilah free trade. Free trade atau perdagangan bebas berusaha
menciptakan kawasan perdagangan yang makin luas dan menghilangkan
hambatan-hambatan tidak lancarnya perdagangan internasional termasuk
Indonesia sendiri yang akan menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi
ASEAN).

Datangnya revolusi industri 4.0 berbarengan dengan kondisi ekonomi


global yang diwarnai ketidakpastian. Empat tahun terakhir, pertumbuhan
omzet perusahaan-perusahaan, baik yang berorientasi ekspor maupun pasar
domestik, melambat.

Ketika pertumbuhan pendapatan perusahaan melambat, apalagi menurun,


maka musuh utamanya adalah biaya operasional (overhead cost). Belum lagi
masalah likuiditas yang terbatas dan cost of fund-nya meningkat. Depresiasi
rupiah menambah tekanan berat bagi perusahaan yang memiliki pinjaman
dolar AS (US$) maupun bahan bakunya impor. Di satu sisi, perusahaan-
perusahaan harus mengeluarkan belanja modal (capital expenditure) yang
diarahkan ke teknologi informasi untuk menyesuaikan diri dengan ekosistem
bisnis yang sudah makin digital.

Di tengah tantangan yang begitu beragam, perusahaan-perusahaan


berusaha untuk tetap survive dan mampu mengendalikan biaya ketika

5
pendapatan tak sekencang masa sebelumnya. Begitu juga dari sisi perolehan
laba yang terus tumbuh positif. Hal ini terlihat dari hasil kajian Biro Riset
Infobank (birI) bertajuk “100 Fastest Growing Companies 2018”. Biro Riset
Infobank mengukur kinerja 566 perusahaan go public dan memilih 100
perusahaan yang secara konsisten selama lima tahun berturut-turut memiliki
kinerja terbaik dari sejumlah aspek, seperti pertumbuhan, solvabilitas,
efisiensi, dan rentabilitas.

Ternyata, perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori ini cukup


beragam, baik dari sektor industri yang sedang tumbuh maupun sektor
industri yang tengah menurun. (Lihat tabel: 100 Fastest Growing Companies
2018). Kinerja emiten yang memerah juga tersebar di berbagai sektor. Jumlah
emiten yang merugi mencapai ratusan, bahkan sebagian sudah mencatat
kerugian beberapa tahun sebelumnya sampai ekuitasnya tergerus dan menjadi
minus.

Perusahaan-perusahaan tersebut misalnya Bakrie Sumatera Plantations


Tbk yang tahun lalu merugi Rp1,64 triliun dan ekuitasnya minus Rp468,44
miliar. Kemudian, Central Proteina Prima Tbk yang bergerak di sektor pakan
ternak yang merugi Rp2,64 triliun dan ekuitasnya minus Rp1,78 triliun. Ada
pula perusahaan garmen, seperti Asia Pacific Fibers Tbk yang merugi
Rp59,81 miliar. Karena sudah lama merugi, maka ekuitasnya terus menjadi
minus Rp12,79 triliun.Perusahaan emiten yang berhasil mempertahankan
pertumbuhan dan mengendalikan biaya, labanya tetap tumbuh.

Perusahaan-perusahaan terbuka yang kinerja keuangannya moncer dan


konsisten tumbuh dari tahun ke tahun, sahamnya pun menarik bagi investor
dan akan menjadi likuid. Investor memiliki ekspektasi karena pencapaian
kinerja dengan pertumbuhan yang konsisten akan terus meningkatkan valuasi
saham perusahaan. Harga saham memang bisa dipengaruhi oleh kondisi pasar
modal maupun indeks saham di bursa global. Namun, performa yang
konsisten merupakan faktor fundamental perusahaan dan indikator dari
keberhasilan yang dilakukan manajemen dan implemen-tasi praktik good
corporate governance (GCG) secara baik.

6
Perusahaan atau emiten yang berkinerja biru memiliki kesempatan yang
lebih besar untuk mendapatkan pendanaan dari pasar modal, baik melalui
obligasi maupun penerbitan saham baru (rights issue). Berbeda dengan
perusahaan tertutup, meskipun kinerjanya mencorong, tapi lebih banyak
mengandalkan pinjaman perbankan saja. Perlu dicatat bahwa masalah
korporasi di Indonesia lebih sering di likuiditas.

Ketika dunia usaha mau ekspansi, sasaran utama yang dituju adalah
perbankan. Padahal, ketika perbankan mengucurkan kredit secara ekspansif,
loan to deposit ratio (LDR) perbankan langsung mentok. Artinya, hampir
semua dana masyarakat yang dihimpun disalurkan ke sektor riil sehingga
likuiditas yang ada di perbankan pun mengetat.

Yang menjadi tantangan saat ini adalah kendati dunia usaha menahan
ekspansi dan tidak menarik kredit, likuiditas di pasar berkurang karena
kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan bank sentral AS dan beberapa
negara maju. Belum lagi masalah persaingan ekonomi dan geopolitik negara-
negara maju yang membuat ekonomi global menjadi tidak pasti.

2.3. Ekonomi Indonesia di Revolusi Industri 4.0


Pemerintah telah menetapkan target Indonesia masuk dalam jajaran
10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia tahun 2030. Hal ini
sesuai dengan salah satu aspirasi nasional yang terdapat pada peta jalan
Making Indonesia 4.0 sebagai strategi mengimplementasikan revolusi
industri generasi keempat.

Dalam kesiapan memasuki revolusi industri 4.0, salah satu langkah


prioritas yang tengah dilakukan pemerintah adalah meningkatkan
kualitas sumber daya manusia (SDM). Sejalan upaya itu, Kemenperin
telah melaksanakan program pendidikan dan pelatihan vokasi, salah
satunya mengusung konsep link and match antara industri dengan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hingga saat ini, program
pendidikan vokasi yang diluncurkan di beberapa wilayah Indonesia
tersebut, melibatkan sebanyak 618 perusahaan dengan menggandeng

7
hingga 1.735 SMK. Tujuannya adalah menciptakan satu juta tenaga
kerja kompeten yang tersertifikasi sesuai kebutuhan dunia industri pada
tahun 2019.

Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam untuk menghadapi revolusi


industri 4.0 di Indonesia. Berikut adalah upaya pemerintah untuk menghadapi
hal tersebut.

1. Memprioritaskan pemulihan ekonomi.


Jika ingin negara memiliki SDM yang berkualitas, aspek ekonomi
menjadi prioritas utama. Bila tidak memprioritaskan hal tersebut, maka
menimbulkan inflasi tinggi, bertambahnya jumlah pengangguran,
kemiskinan yang memilukan, pertumbuhan ekonomi yang rendah, dan
konflik semakin besar.
2. Meningkatkan daya potensi nasional.
Dengan SDA dan SDM yang berlimpah, setidaknya negara mampu
memenuhi segala kebutuhannya secara mandiri. Tentunya, SDM yang
berkualitas yang mampu mengolah SDA yang dimiliki oleh negara dan
tanpa campur tangan pihak asing.
Selain meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki, pemerintah akan
mengadakan perubahan terhadap Undang Undang Nomor 13 Tahun 2013
tentang Ketenagakerjaan.
Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka
meningkatkan kemampuan tenaga kerja Indonesia yaitu mengadakan
spesialisasi melalui kursus dan pelatihan vokasi yang menjadi suatu
keharusan yang dimiliki calon pekerja untuk memenuhi kebutuhan
pekerjaan di masa depan.
3. Memasukkan kemajuan teknologi dalam pembangunan.
Sebagai contoh, menyediakan jaringan informasi yang
menghubungkan berbagai pihak dengan tujuan meningkatkan daya saing
produk dalam negeri.

8
4. Pengembangan usaha mikro.
Usaha-usaha mikro mempunyai beberapa keunggulan seperti menjadi
penyedia barang-barang murah untuk rumah tangga maupun ekspor,
efisiensi dan fleksibilitas yang tinggi, semangat usaha tinggi,
profitabilitas yang tinggi, serta kemampuan pengembalian pinjaman yang
tinggi.
5. Melakukan deregulasi dan debirokrasi.
Tujuan deregulasi dan debirokrasi adalah untuk menciptakan regulasi
baru dalam menjunjung tinggi supremasi hukum, pengakuan terhadap
hak asasi manusia, hak kepemilikan, hak kebebasan berusaha, dan hak
masyarakat sipil.
6. Memanfaatkan forum kerjasama internasional.
Tujuannya untuk memperdalam kerja sama untuk saling
menguntungkan, mendorong proses globalsasi perdagangan dan
investasi, serta kerja sama ekonomi dan teknologi.

Di samping itu, Pemerintah aktif mengajak generasi muda


Indonesia untuk melirik teknologi dan memanfaatkan peluang bisnis di
era digital yang sedang berkembang. Pemerintah menyadari, generasi
muda akan menjadi tumpuan dan harapan dalam membangun negeri ini.
Terlebih lagi, Indonesia memiliki modal besar berupa talenta dari
perguruan tinggi di dalam negeri yang jumlahnya sangat banyak.

Guna mempercepat pemanfaatan teknologi yang bisa meningkatkan


produktivitas dan efisiensi industri, Kemenperin bersama asosiasi
industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, dan akademisi, juga telah
menetapkan lima sektor industri yang akan menjadi pionir implementasi
industri 4.0 di Tanah Air.

Lima sektor manufaktur tersebut adalah industri makanan dan


minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronik. Selama
ini, dari lima sektor industri itu mampu memberikan kontribusi sebesar
60 persen untuk PDB, kemudian menyumbang 65% terhadap t otal
ekspor, dan 60% tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut.

9
Saat ini disiapkan 10 inisiatif yang akan dijalankan dalam upaya
mengakselerasi pengembangan industri nasional yang berdaya daya
saing global, yaitu:

1. Pemerintah memperbaiki alur aliran barang dan material melalui


pengembangan industri hulu.
2. Mendesain ulang zona industry di seluruh wilayah Indonesia dengan
menyelaraskan peta jalan sektor-sektor industri yang menjadi fokus
prioritas.
3. Memfasilitasi peningkatan produktivitas industri yang berbabsi teknologi
bersih, tenaga listrik, biokimia, dan energi terbarukan.
4. Memberdayakan UMKM dengan mendorong penggunaan platform e-
commerce sehingga bisa meningkatkan penjualannya.
5. Membangun infrastruktur digital nasional, termasuk jaringan internet
kecepatan tinggi, cloud, data center, security management dan
infrastruktur broadband.
6. Menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan melakukan
harmonisasi aturan dan kebijakan sehingga Indonesia tetap menarik bagi
investasi asing.
7. Peningkatan kualitas SDM.
8. Pembangunan ekosistem inovasi.
9. Pemberian insentif bagi perusahaan baru maupun yang existing, karena
berinisiatif investasi untuk mengadopsi teknologi terkini dalam
menjalankan proses produksinya.
10. Harmonisasi aturan dan kebijakan.

2.4. Analisis Revolusi Industri 4.0 terhadap Negara Indonesia

1. Strengths
Pemerintah Indonesia sudah mulai berbenah menanggapi adanya
perubahan industri dengan meluncurkan roadmap ‘Making Indonesia 4.0’
sebagai strategi untuk memuluskan langkah Indonesia menjadi salah satu
kekuatan baru di Asia pada April 2018 lalu. Roadmap ini memberikan
arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional di masa depan, termasuk

10
fokus pada pengembangan sektor prioritas yang akan menjadi kekuatan
Indonesia menuju Industri 4.0.
Pemerintah memilih sektor makanan dan minuman, tekstil, otomotif,
kimia, serta elektronik sebagai fokus dalam program revolusi Industri 4.0.
Pemilihan kelima sektor tersebut bukan tanpa alasan, selain
pelaksanaannya yang lebih mudah karena sudah lebih siap, sektor tersebut
juga dapat memberikan dampak yang besar bagi pertumbuhan industri
dan ekonomi Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri
Perindustrian Airlangga Hartanto dalam acara Obsat ke-202 bertajuk
“Menuju Indonesia 4.0” di Paradigma Cafe, Jakarta (Jumat, 11/5/2018).
Di samping itu, Airlangga menegaskan bahwa kelima sektor tersebut juga
memiliki kontribusi yang besar terhadap ekspor, tenaga kerja, dan Produk
Domestik Bruto (PDB).
2. Weaknesses
Kendati memiliki sumber daya manusia (SDM) yang banyak dan
sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki kualitas sumber
daya manusia yang rendah. Karena kualitas rendah, maka produktivitas
tenaga kerja Indonesia juga rendah.
Produktivitas tenaga kerja Indonesia berada pada urutan keempat di
tingkat ASEAN dan urutan ke-11 dari 20 anggota negara anggota
ASEAN Productivity Organisation (APO). Sedangkan, untuk daya saing,
saat ini Indonesia berada pada urutan ke-36 dari 137 negara di tingkat
ASEAN dan urutan ke-9 dari negara-negara yang tercatat dalam The
Global Competitiveness Report 2017–2018.
3. Opportunities
Dengan implementasi industri 4.0, target besar nasional dapat tercapai.
Target itu antara lain membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi
dunia pada tahun 2030, mengembalikan angka ekspor netto industri
sebesar 10 persen, dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja industri
hingga dua kali lipat dibandingkan peningkatan biaya tenaga kerja
industri dengan mengadopsi teknologi dan inovasi yang mampu
menciptakan kurang lebih 10 juta lapangan kerja baru di tahun 2030.

11
4. Threats
Revolusi industri 4.0 tidak datang tanpa membawa masalah baru. Salah
satu masalah yang mungkin ditimbulkan oleh revolusi ini yakni
terciptanya pengangguran yang dipengaruhi oleh melebarnya
ketimpangan ekonomi.
Hal tersebut bisa terjadi karena digitalisasi dapat menggeser peran
konvensional di dalam pasar. Sopir transportasi konvensional seperti sopir
ojek pangkalan, angkot, dan taksi berpeluang masuk jurang pengangguran
akibat kemunculan transportasi daring yang dinilai jauh lebih murah dan
nyaman di mata masyarakat saat ini. Tidak hanya itu, pedagang di kios-
kios tradisional dapat merugi dan akhirnya bangkrut akibat gelombang e-
commerce melalui kemunculan berbagai toko daring yang menyediakan
barang yang lebih bervariasi, murah, dan mudah diakses.
Tidak hanya digitalisasi, ke depan, penggunaan robot dalam
mendukung otonomisasi di ranah industri manufaktur dan jasa akan
semakin tidak terelakkan. Hal ini didorong keinginan perusahaan untuk
memangkas biaya yang ditimbulkan sumber daya manusia. Tuntutan
kenaikan upah yang tidak diiringi dengan produktivitas menjadi salah satu
permasalahan yang sering dialami oleh perusahaan terkait dengan sumber
daya manusia.
Perkembangan teknologi yang pesat cepat atau lambat akan
berpengaruh pada permintaan tenaga kerja di masa depan. Ke depan,
permintaan tenaga kerja bergeser. Industri akan cenderung memilih
tenaga kerja terampil menengah dan tinggi (middle and highly-skilled
labor) ketimbang tenaga kerja kurang terampil (less-skilled labor) karena
perannya dalam mengerjakan pekerjaan repetisi dapat digantikan dengan
otonomisasi robot.

12
BAB III
PENUTUP

Revolusi Industri 4.0 mempunyai kontribusi besar terhadap ekonomi


global dan ekonomi Indonesia. Ekonomi global yang dipengaruhi oleh
revolusi industri 4.0 memberikan suatu dampak signifikan yaitu salah satu
dampaknya adalah perusahaan-perusahaan multinasional harus bertahan
sekuat mungkin mengikuti perkembangan teknologi yang begitu pesat bahkan
tercatat beberapa perusahaan yang mengalami kerugian alias minus. Revolusi
Industri 4.0 juga berdampak bagi ekonomi Indonesia ke berbagai sektor
maupun bidang yang ada di Indonesia. Untuk itu, pemerintah harus berbenah
dan berberan aktif dalam upaya mengatasi kemungkinan hal-hal yang dapat
merugikan negara supaya negara dapat bersaing dengan negara lain terutama
menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), yaitu dengan
menganalisis dari berbagai bidang yang telah disesuaikan dengan kondisi
yang sesuai di lapangan. Dengan begitu, program pemerintah, yaitu roadmap
“Making Indonesia 4.0” dapat terealisasi dengan segera dan mampu bersaing
di berbagai sektor yang di pengaruhi oleh revolusi industri 4.0.

13
DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Jagad Restu. 2019. Tugas Akhir Semester Mata Kuliah Teori Sosial
Indonesia Revolusi Industri 4.0, Globalisasi, Dan Permasalahan Di
Indonesia. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta,
Yogyakarta. 16-24.

Halim, Stevani. 2018. Revolusi Industri 4.0 di Indonesia. Medium. (30 Agustus
2018). Tersedia di: https://medium.com/@stevanihalim/revolusi-industri-
4-0-di-indonesia-c32ea95033da

Kementrian Republik Indonesia. 2019. Bidik 10 Besar Ekonomi Dunia, RI


Masuki Revolusi Industri 4.0. (11 Juni 2018). Tersedia di:
http://www.kemenperin.go.id/artikel/19349/Bidik-10-Besar-Ekonomi-
Dunia,-RI-Masuki-Revolusi-Indutri-4.0

Hermansah. 2018. Berikut 10 Prioritas Pemerintah Hadapi Revolusi Industri 4.0.


Alinea.id. (27 April 2018). Tersedia di:
https://www.alinea.id/bisnis/berikut-10-prioritas-pemerintah-hadapi-
revolusi-industri-4-0-b1UxG9bm8

Putra, Dwitya. 2018. Mengarungi Ketidakpastian dan Era Industri 4.0.


Infobanknews.com. (1 November 2018). Tersedia di:
http://infobanknews.com/mengarungi-ketidakpastian-dan-era-industri-4-0/

14