Anda di halaman 1dari 10

REKAYASA IDE FILSAFAT PENDIDIDKAN

PENEGAKAN KEADILAN DIDASARKAN PADA FILSAFAT PANCASILA SILA


KE-5 DALAM PROSES BELAJAR

DOSEN PENGAMPU: SUJARWO, S. Pd., M. Pd.

KELOMPOK 5 :
AYU DIAH LESTARI
ROMI PRATAMA
SETIA SINAGA
YUSFIKA ARIATI HUTAGALUNG

PENDIDIKAN FISIKA - D
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2017

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas limpahan
Karunia, Rahmat, dan Hidayah-Nya yang berupa kesehatan, sehingga rekayasa ide yang
berjudul ‘ PENEGAKAN KEADILAN DIDASARKAN PADA FILSAFAT PANCASILA
SILA KE-5 DALAM PROSES BELAJAR‘ dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Rekayasa ide ini disusun sebagai tugas kelompok mata kuliah Filsafat Pendidikan.
Kami berusaha menyusun rekayasa ide ini dengan segala kemampuan, namun kami
menyadari bahwa rekayasa ide ini masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi
penulisan maupun segi penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun akan kami terima dengan senang hati demi perbaikan tugas selanjutnya.
Semoga rekayasa ide ini bisa memberikan informasi mengenai Pancasila Sebagai
Sistem Filsafat dan bermanfaat bagi para pembacanya. Atas perhatian dan kesempatan yang
diberikan untuk membuat rekayasa ide ini kami ucapkan terima kasih..

Medan, 5 Desemeber 2017

Tim Penulis

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Rumusan masalah
1.3 Tujuan
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
2.1 Makna dan Arti Pancasila Sila Ke-5
2.2 Butir-butir pancasila sila ke-5
2.3 Nilai yang terkandung pada pancasila sila ke-5
BAB III: IDE KREATIF
BAB IV: PENUTUP
4.1 kesimpulan

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Setiap negara atau bangsa di dunia ini mempunyai sistem nilai (filsafat) tertentu yang
menjadi pegangan bagi anggota masyarakat dalam menjalankan kehidupan dan
pemerintahannya. Filsafat negara merupakan pandangan hidup bangsa yang diyakini
kebenarannnya dan diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat yang mendiami negara
tersebut. Pandangan hidup bangsa merupakan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap bangsa.
Indonesia adalah salah satu negara yang juga memiliki filsafat seperti bangsa-bangsa lain.
Filsafat ini tak lain adalah yang kita kenal dengan nama Pancasila yang terdiri dari lima
sila. Pancasila merupakan filsafat hidup bangsa Indonesia.
Manusia adalah makhluk sosial, yang memiliki sebuah ideologi. Sebuah pemikiran
yang melandasi segala aktivitas, tingkah laku dan pola fikir, yang akhirnya tercipta
keharmonisan didalamnya. Semakin tertata dan teraturnya pola hidup seseorang, maka
akan semakin baik hidup orang tersebut. Beda negara berbeda juga ideologi yang
diterapkan, seperti Indonesia. Indonesia adalah negara yang ideologinya berasakan oleh
Pancasila. Dan sebagai warga negara, kita diharuskan untuk mengerti, menghayati,
mengamalkan dan mengamankannya. Karena, Pancasila merupakan landasan terkuat
karena tersusun dari berbagai aspek dasar kehidupan. Pancasila yang memilki sila
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradap, Persatuan Indonseia,
Kerakyatan Yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan
perwakilan serta keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah cita-cita dan tujuan
bangsa Indonesia.
Namun beberapa tahun terakhir ini, kita telah kehilangan sifat dasar dan makna yang
sebenanya dari Pancasila itu sendiri. Banyak sekali pergeseran yang telah terjadi di
negara dan bangsa tercinta ini. Beberapa contoh yang signifikan adalah dengan peristiwa
- peristiwa yang belakangan telah mencoreng dan jauh dari asas Pancasila. Dalam hal ini
salah satu sila dari Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saat ini
nilai - nilai yang tertanam di masyarakat terhadap sila tersebut sangatlah kecil, hal itu
terlihat dengan banyaknya kerusuhan yang terjadi yang berawal dari hilangnya keadilan
dalam kehidupan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, kami akan membahas apa makna
dari salah satu sila dalam Pancasila, yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia”.

1.2 Rumusan Masalah


1. Mengapa terjadi begitu banyak ketidakadilan di sekolah?
2. Mengapa pancasila pada zaman sekarang seakan-akan tidak berguna lagi dalam
menunjang kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama sila ke-5?
3. Mengapa di lingkungan sekolah sekarang ini, seringkali siswa-siswi membentuk
kelompok-kelompok dalam satu kelas?

4
1.3 Tujuan
1. Untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah filsafat pendidikan
2. Untuk memberikan ide atau gagasan tentang penyelesaian masalah ketidakadilan
3. Untuk mengetahui penyebab terjadinya ketidakadilan pada masyarakat

5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Makna dan Arti Pancasila Sila Ke-5
Pada umumnya nilai pancasila digali oleh nilai-nilai luhur nenek moyang bangsa
Indonesia termasuk nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Karena digali oleh
nilai nilai luhur bangsa Indonesia, Pancasila mempunyai kekhasan dan kelebihan, sedangkan
Prinsip keadilan yaitu berisi keharusan/tuntutan untuk bersesuaian dengan hakikat adil
(Sunarjo Wreksosuharjo,2000:35). Dengan sila ke lima ini, manusia menyadari hak dan
kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat
Indonesia. Sila Kelima dalam Dasar Negara RI mengandung makna setiap manusia Indonesia
menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam
kehidupan masyarakat Indonesia.
Untuk itu dikembangkan perbuatannya luhur yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan gotong royong. Untuk itu diperlukan sikap adil terhadap sesama, menjaga
kesinambungan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain. Nilai yang
terkandung dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia didasari dan dijiwai
oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab , Persatuan
Indonesia, serta Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan atau Perwakilan. Dalam sila ke – 5 tersebut terkandung nilai- nilai yang
merupakan tujuan Negara sebagai tujuan dalam hidup bersama.
Maka dalam sila ke – 5 tersebut terkandung nilai keadilan yang harus terwujud dalam
kehidupan bersama ( kehidupan sosial). Keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat
keadilan manusia yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia
dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat, bangsa dan negaranya serta hubungan
manusia dengan Tuhannya.

2.2 Butir-butir pancasila sila ke-5


1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan
kegotongroyongan.
2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4. Menghormati hak orang lain.
5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
9. Suka bekerja keras.
10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan
bersama.
11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan
sosial.

6
2.3 Nilai Yang Terkandung Pada Sila Ke Lima
Dalam sila ke – 5 tersebut terkandung nilai- nilai yang merupakan tujuan Negara sebagai
tujuan dalam hidup bersama. Maka dalam sila ke – 5 tersebut terkandung nilai keadilan yang
harus terwujud dalam kehidupan bersama ( kehidupan sosial). Keadilan tersebut didasari dan
dijiwai oleh hakikat keadilan manusia yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan
dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain , manusia dengan masyarakat, bangsa dan
negaranya serta hubungan manusia dengan Tuhannya.
di dalam sila ke-5 tersebut, terkandung nilai Keadilan tersebut didasari oleh hakekat
keadilan manusia yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia
dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat, bangsa dan negaranya serta hubungan
manusia dengan Tuhannya. Oleh karena itu manusia dikatakan pula sebagai makhluk
Monopruralisme. Konsekuensinya nilai-nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan
bersama adalah meliputi:
1) Keadilan Distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama
diperlukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlukan tidak sama. Keadilan
distributif sendiri yaitu suatu hubungan keadilan antara negara terhadap warganya, dalam arti
pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan membagi, dalam
bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi serta kesempatan dalam hidup bersama yang
didasrkan atas hak dan kewajiban.
2) Keadilan Legal (Keadilan Bertaat)
Yaitu suatu hubungan keadilan antara warga negara terhadap negara dan dalam masalah
ini pihak wargalah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk mentaati peraturan
perundang-undangan yang berlaku dalam negara. Plato berpendapat bahwa keadilan dan
hukum merupakan subtansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi
kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat
dasarnya paling cocok baginya. Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan untuk
yang lainnya disebut keadilan legal.
3) Keadilan Komulatif
Yaitu suatu hubungan keadilan antara warga satu dengan yang lainnya secara timbal balik.
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.
Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asan pertalian dan ketertiban dalam
masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidak adilan dan
akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
Nilai-nilai keadilan tersebut haruslah merupakan suatu dasar yang harus diwujudkan
dalam hidup bersama kenegaraan untuk mewujudkan tujuan negara yaitu mewujudkan
kesejahteraan seluruh warganya serta melindungi seluruh warganya dan wilayahnya,
mencerdaskan seluruh warganya.

7
BAB III
IDE KREATIF

Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita memilih teman karena kita
membutuhkan sesuatu atau mencari keuntungan dari dirinya. Misalnya, karena seseorang
tersebut punya skill maka kita akan mencari dan memanfaatkan kesemptan untuk meniru
seseorang tersebut. Kemudian hanya ingin berteman dengan orang yang bisa menguntungkan
dirinya saja, dan meninggalkan teman yang butuh bantuan darinya. Hal tersebut merupakan
sebuah masalah keadilan sosial dalam ruang lingkup yang kecil. Akan tetapi, hal tersebut
juga harus segera diatasi agar keadilan merata dalam setiap diri masyarakat, khususnya
siswa-siswi yang merupakan objek dalam pembuatan rekayasa ide ini. Penyearah dalam
pendidikan adalah guru, maka guru memiliki pera yang besar dalam hal ini. Beberapa
gagasan yang menurut saya dapat membantu penegakan keadilan di kalangan siswa-siswi
dalam proses belajar adalah sebagai berikut :

1. Menyisipkan pesan-pesan pada siswa saat proses pembelajaran


Guru sebagai penyearah untuk masa depan siswa adalah lebih untuk membantu
pemerataan keadilan dalam diri setiap peserta didiknya. Untuk mengatasi masalah
ketidakadilan tersebut, sebagai seorang guru dapat melakukan beberapa hal dibawah ini :
 Pada saat guru memasuki ruangan kelas, adalah lebih baik jika guru dalam proses
belajar mengajar menyelipkan beberapa pesan atau nasihat yang berhubungan
dengan keadilan sosial. contoh: “jangan melihat seseorang hanya dari
penampilannya saja”. Melalui nasihat tersebut, guru dapat menghimbau siswa
untuk saling bekerjasama satu sama lainnya dalam satu kelas, karena sekolah
adalah rumah kedua sekaligus keluarga bagi siswa. Tanpa ada yang saling
memilih-milih teman.
2. Mengubah teman kelompok belajar siswa setiap minggu dalam satu kelas
Dalam sebuah kelompok belajar siswa, seringkali dijumpai siswa-siswi hanya
terpatok pada satu kelompok belajar saja, menurut saya hal tersebut merupakan pemicu
dalam ketidakdilan yang dirasakan oleh siswa yang lain. Misalnya, yang pintar berkeompok
dengan yang pintar, sedangkan yang kurang bisa memahami pembelajaran ditinggalkan. Hal
tersebut harus diatasi dengan segera karena kemungkinan besar siswa akan mengalami
kesulitan dalam meningkatkan pemahamannya dalam proses pembelejaran. Oleh karena itu,
hal beberapa hal yang dapat dilakuka untuk mengatasi masalah seperti itu adalah sebagai
berikut :
 Untuk setiap pertemuan, terdapat pergiliran anggota kelompok beajar, sehingga
setiap siswa dapat berbaur dengan siswa yang lain dan siswa yang tadinya merasa
kesulitan dalam pembelajaran akan dapat dibantu oleh siswa yang lain karena
sudah terjadi pergiliran dalam setiap anggota kelompok. Oleh sebab itu, dalam
kelompok tersebut semua akan memiliki kesempatan untuk saling belajar baik
antara yang kurang memahami pelajaran dengan yang sudah memahami.

8
3. Memperlakukan peserta didik dengan prinsip universalime
Dalam proses belajar-mengajar, adalah lebih baik jika seorang guru tidak pandang
bulu terhadap peserta didiknya. Setiap siswa disamaratakan dalam hal belajar, nasihat,
motivasi dan inspirasi dari guru ke siswa. Sehingga hal tersebut akan memacu perasaan
adil dan menyenangkan dalam setiap diri siswa. Contohnya, pada setiap pembelajaran
seorang guru memberikan contoh soal pada setiap siswa tanpa memilih-milih siswa yang
mampu saja. Secara tidak langsung, hal tersebut merupakan penegakan keadilan di antara
siswa-siswi.

9
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah cinta
akankebijakan. Sedangkan Pancasila sebagai sistem filsafat adalah suatu kesatuan bagian-
bagian yang saling berhubungan, saling bekerjasama antara sila yang satu dengan sila yang
lain untuk tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh yang
mempunyai beberapa inti sila, nilai dan landasan yang mendasar. Sistem filsafat pendidikan
berdasarkan butir-butir pancasila perlu diberlakukan demi terciptanya keadilan sosial dalam
setiap individu.

10