Anda di halaman 1dari 23

INDEKS BIAS

A. TUJUAN
1. Menentukan indeks bias berbagai larutan dengan berbagai konsentrasi.
2. Menentukan sudut kritis larutan.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi indeks bias

B. TEORI DASAR
Apabila seberkas cahaya mengenai bidang batas antara dua medium yang berbeda, maka berkas
cahaya itu akan dipantulkan (refleksi) dan biaskan (refraksi). Pada gejala refleksi maupun
refraksi tersebut berlaku hukum Snellius :
a) Apabila seberkas cahaya datang pada bidang batas antara dua medium dengan indek bias
masing-masing n dan n’ maka cahaya tersebut akan dipantulkan dan dibiaskan.
b) Berkas cahaya pantul sebidang dengan berkas cahaya dating, dan memiliki sudut pantul sama
dengan sudut datang atau dapat dituliskan (˂ i) = (˂ p), dimana (˂ i) adalah sudut datang dan (˂
p) adalah sudut pantul.
c) Sedangkan bila cahaya tersebut dibiaskan, maka berlaku:

sin 𝑖 𝑛′ [1]
=
sin 𝑟 𝑛

𝑛′
𝑛
disebut indeks bias relatif dari medium kedua terhadap medium pertama. Jika sudut bias r =
90°, sehingga sin r = 1, maka sudut datang i disebut sudut kritis (ic). Sehingga, bila seluruh
berkas cahaya yang datang pada bidang batas antara medium tersebut akan dipantulkan
semuanya/sempurna.

Gambar 1. Visualisasi fenomena pemantulan dan pembiasan

Menghitung koefisien indeks bias relatif


Berdasarkan persamaan 1) maka diperoleh: n sin i = n’ sin r. Selanjutnya perhatikan gambar 1.
𝑥 𝑛′
Berdasarkan gambar 1, maka kita akan dapatkan hubungan n 𝑎 = n’ 𝑎 sehingga nx = n’x’ atau
𝑛′ x 𝑛′
= x′ ( 𝑛 disebut indeks bias relatif).
𝑛

Refractometer
Jika berkas cahaya datang dari zat antara dengan indeks bias n dan mengenai sisi prisma (indeks
bias n) dengan sudut hampir 90° maka diperoleh persamaan berikut:
1. Pada saat cahaya masuk prisma, berdasarkan persamaan 1) berlaku:
n = n’ sin r1 [2]
2. Pada saat cahaya masuk prisma, berdasarkan persamaan 1) berlaku:
n sin r2 = n’ sin i2 [3]
3. Sedangkan
β = r1 + i2 [4]
Gambar 2. Pembiasan pada Prisma

Substitusi persamaan 2), 3) dan 4) diperoleh:


𝑛′ [5]
sin 𝑟2 = 𝑛 sin 𝛽 − 𝑟1
Pada prisma, besaran-besaran seperti n’, β dan sudut kritis prisma (r1) merupakan besaran
tertentu yang besarnya tergantung pada bahan dan jenis prisma, dan n’sin(β-r1) merupakan
suatu ketetapan (sebut saja k). Maka
𝑘
sin 𝑟2 = 𝑛 [6]
𝑘
dengan k = n’sin(β-r1) atau n = . Indeks bias n dapat dihitung jika r2 diketahui.
sin 𝑟2

C. TEORI TAMBAHAN
Indeks bias pada medium didefinisikan sebagai perbandingan antara kecepatan cahaya
dalam ruang hampa dengan cepat rambat cahaya pada suatu medium. Indeks bias suatu zat
adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam zat
tersebut. Pembiasan cahaya adalah pembelokan cahaya ketika berkas cahaya melewati bidang
batas dua medium yang berbeda indeks biasnya. Indeks bias mutlat suatu bahan adalah
perbandingan kecepatan cahaya diruang hampa dengan kecepatan cahaya dibahan tersebut.
Indeks bias relative medium kedua terhadap medium pertama adalah perbandingan indeks bias
antara medium kedua dengan indeks bias medium pertama. Pembiasan cahaya menyebabkan
kedalam semu dan pemantulan sempurna.
Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokan cahaya karena
melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya. Pembiasan cahaya dapat terjadi
dikarenakan perbedaan laju cahaya pada kedua medium. Laju cahaya pada medium yang rapat
lebih kecil dibandingkan dengan laju cahaya pada medium kurang rapat. Menurut Christian
Huggeas (1629-1695) “perbandingan laju cahaya ruag hampa dengan cahaya dalam suatu zat
dinamakan indeks bias”.
Arah pembiasan cahaya dibedakan menjadi dua macam :
1. Mendekati garis normal
Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari medium optic kurang rapat
kemudian optic lebih rapat. Contoh cahaya merambat dari udara kedalam air
2. Menjauhi garis normal
Cahaya dibiaskan menjauhi garis normal jika cahaya merambat dari medium optic lebih rapat
kemudian optic kurang rapat. Contohnya cahaya merambat dari air keudara.
Pengukuran indeks bias penting untuk :
- Menilai sifat dan kemurnian suatu medium salah satunya berupa cairan.
- Mengetahui konsentrasi larutan-larutan.
- Mengetahui nilai perbandingan komponen dalam campuran dua zat cair.
- Mengetahui kadar zat yang diekstrasikan dalam pelarut.1

1
Darmawangsa, ZA. 1980. Penuntun Praktikum Analisis Instrumental Dasar-Dasar Penggunaan. Jakarta: Grayuna
Refraktometer adalah alat ukur untuk menentukan indeks bias cairan atau padat, bahan
transparan dan refractometry. Prinsip pengukuran dapat dibedakan, oleh cayaha, penggembalaan
kejadian, total refleksi, ini adalah pembiasan (refraksi) atau reflaksi total cahaya yang
digunakan. Sebagai prisma umum menggunakan semua tiga prinsip, satu dengan insdeks bias
dikenal (Prisma). Cahaya merambat dalam transisi antara pengukuran prisma dan media sampel
(n cairan) dengan kecepatan yang berbeda indeks bias diketahui dari media sampel diukur
dengan defleksi cahaya (Wikipedia Commons, 2010).
Refraktometer abbe adalah refraktometer untuk mengukur indeks cairan, padatan dalam
cairan atau serbuk dengan indeks bias dari 1,300-1,700 dan persentase padatan 0-95%. Alat
untuk menentukan indeks bias minyak, lemak, gelas optic, larutan gula, dan sebagainya. Indeks
bias antara 1,300 -1,700 dapat dibaca langsung dengan ketelitian sampai 0,001 dan 0,0002 dari
gelas skala didalam.
Ada 4 jenis refraktometer:
1. Refraktometer genggam tradisional
2. Refraktometer genggam digital
3. Refraktometer labolatorium (refraktometer abbe)
4. Refraktometer inline
Bagian –bagian refraktometer:
a. Day light plate
Terbuat dari kaca. Fungsinya mencegah prisma tergores debu dan benda asing dan agar sampel
yang diteteskan pada prisma tidak jatuh atau tumpah
b. Prisma
Merupakan komponen sensitive terhadap goresan. Berfuingsi untuk membaca skala atau indeks
bias dari zat terlarut dan mengubah cahaya polikromatis menjadi monokromatis.
c. Knop pengatur skala
Berfungsi untuk mengkalibrasi alat menggunakan aquades. Cara kalibrasi yaitu obeng minus
diletakkan pada knop pengatur skala, lalu diputar-putar hingga rapatan jenis menunjukkan hasil
1000.
d. Lensa
Berfungsi memfokuskan cahaya yang berada pada bagian handle.
e. Handle/pegangan
Berfungsi untuk memegang refraktometer dan menjaga suhu tetap stabil
f. Biomaterial skip
Berfungsi untuk menstabilkan suhu (20 0C) dengan range suhu 15-20 0C dan berada pada
bagian dalam handle.
g. Skala
Berfungsi sebagai pembacaan specific gravity atau rapatan jenis, indeks bias, dan konsentrasi
suatu zat yang dianalisis.
h. Lensa pembesar
Berfungsi untuk melihat dan memperjelas ketajaman skala.
i. Eye places
Berfungsi untuk melihat pembacaan skala dengan menggunakan detector mata.2

Nilai indeks bias diperlukan untuk menginterpretasi suatu jenis data. Spektroskopi indeks bias
dari suatu bahan atau larutan merupakan parameter karakteristik yang sangat penting dan
berkaitan erat dengan parameter-parameter lain seperti temperatur, konsentrasi dan lain-lain
yang digunakan dalam optik, kimia dan industri obat-obatan. Refraktometer bekerja
menggunakan prinsip pembiasan cahaya ketika melalui suatu larutan. Ketika cahaya datang dari
udara ke dalam larutan maka kecepatannya akan berkurang. Refraktometer memakai prinsip ini
untuk menentukan jumlah zat terlarut dalam larutan dengan melewatkan cahaya ke dalamnya.
Metode analisis kuantitatif refraktometrik pada berbagai media cair berkembang lebih pesat dan

2
Zemansky, Sears. 1987. Fisika untuk Universitas. Jakarta: Binacitra
lebih luas, menggantikan metode yang volumetrik dan gravimetri yang lebih banyak memakan
waktu dan kurang akurat.
Refraktometer modern berbeda-beda antara satu dengan yang lain dalam berbagai aspek
jangkauan pengukuran, tingkat akurasi, metode yang digunakan untuk merekam pergeseran
cahaya, metode pengukuran indeks bias, sifat dari sumber cahaya, pembuatan perangkat
sampling, pengukuran sel dan lain-lain. Indeks bias mutlak suatu medium adalah rasio dari
kecepatan gelombang elektromagnetik dalam ruang hampa dengan kecepatannya dalam media
tersebut. Indeks bias relatif adalah rasio dari kecepatan cahaya dalam satu medium ke dalam
medium lain yang berdekatan.
Refraksi terjadi pada semua jenis gelombang tetapi umumnya terjadi pada gelombang
cahaya. Indeks bias medium memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda. Efek dispersi,
memungkinkan prisma memisahkan cahaya putih menjadi warna penyusunnya. Untuk warna
tertentu, indeks bias medium bergantung pada kerapatan medium, yang juga merupakan fungsi
dari konsentrasi. Nilai indeks bias refraktometer, juga dikenal sebagai nilai oBrix (BV), adalah
konstan untuk suatu zat pada kondisi suhu dan tekanan standar.3

D. LAT DAN BAHAN


1. Bejana pengukur indeks bias,
2. Refraktometer,
3. Berbagai larutan dengan konsentrasi yang berbeda.

E. CARA KERJA
Refractometer sederhana
1. Mengisi bejana dengan larutan dengan konsentrasi tertentu.
2. Menempatkan standar S didinding bagian belakang bejana.
3. Mengukur A dan X sebagai sudut datang.
4. Membuat S, O dan A terlihat jika diamati melalui larutan (A akan berpindah ke A jika
diamati melalui larutan).
5. Mengukur x dan x’ yang menunjukkan kedudukan titik A dan A’.
6. Mengukur sudut bias sebagai A’ dan X’.
7. Mengubah letak S dan catat kedudukan A dan A’ serta X dan X’ seperti langkah 6 dan 7.
8. Melakukan percobaan diatas untuk bermacam-macam konsentrasi, misalnya 50%, 40%, 30%,
20% dan 10%.

Refractometer Abbe
1. Mencatat temperatur di ruang kerja.
2. Mengaur lensa refractometer sehingga garis silang dan skala tampak jelas.
3. Membersihkan prisma dengan kain lunak dan bersih.
4. Meneteskan cairan yang akan diukur indeks biasnya (beberapa tetes) pada prisma penerang,
kemudian rapatkan kembali prisma penerang dan pengukur.
5. Memutar pemutar disebelah kanan sehingga batas gelap terang tepat pada garis silang.
Membaca skalanya.

E. PERTANYAAN AWAL
1. Jelaskan mengapa apabila seberkas cahaya sampai pada batas antara dua medium transparan
akan terjadi refleksi dan refraksi!
2. Jika seberkas cahaya datang dari ruang hampa menuju zat antara, apa yang terjadi? Jelaskan
berdasarkan persamaan 1)!
3. Bagaimana pendapat anda tentang hubungan antara indeks bias relatif dengan indeks bias
mutlak dalam percobaan ini?
4. Bagaimana pendapat anda pengukuran indeks bias dengan Refractometer Abbe?

3
Sodiq, Ibnu. 2004. Kimia Analitik, Malang: JICA
Jawab:
1. Seberkas cahaya ketika melewati dua medium yang tansparan maka akan dipantulkan
(direfleksikan) karena cahaya merupakan suatu gelombang yang salah satu sifatnya adalah
dipantulkan jika melewati suatu permukaan (jumlah cahaya yang dipantulkan dan diserap
bergantung jernih keruh dan halus kasar nya permukaan) dan dibiaskan (direfraksikan) karena
gelombang cahaya mngalami perubahan cepat rambat yang bergantug pada kerapatan medium
kedua terhadap medium pertama, panjang glombang dan arah cahaya juga berubah sedangkan
frekunsinya tetap.

2. Bila seberkas cahaya datang dari ruang hampa dengan sudut tertentu menuju suatu medium
maka, berkas cahaya tersebut akan dipantulkan dan dibiaskan, yaitu pembelokan gelombang
cahaya menuju garis normal karena adanya perubahan cepat rambat cahya dari medium yang
rapat masanya lebih rapat menjadi sedikit lebih lambat. Sudut bias (r) bergantung pada sudut
datang (i), keduanya diukur dari garis normal, yaitu garis yang tegak lurus permukaan antara,
𝑛′ sin 𝑖 𝑛′
dan adalah indeks bias materi. Sehingga dapat dituliskan: =
𝑛 sin 𝑟 𝑛

F. TABEL PENGAMATAN

a. Refractometer sederhana

Nama larutan Konsentrasi < datang < bias


A X A’ X’

b. Refractometer Abbe
Temperatur Larutan Konsentrasi Indeks Bias
G. PENGOLAHAN DATA
1. Glukosa 5%
a. Massa
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1000 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 𝑥 𝑉𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 ⇒ 0,05 = 180 𝑥 ⇒ 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 0,05 𝑥 36 = 1,8 𝑔𝑟𝑎𝑚
200
𝑚
̅ 1 = 1,8 𝑔𝑟𝑎𝑚
1 1
∆𝑚1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,01 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 0,005 𝑔𝑟𝑎𝑚
∆𝑚1 0,005 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,002777777778 % (4 𝐴𝑃)
𝑚1 1,8 𝑔𝑟𝑎𝑚

𝑚1 = (1,800 ± 0,005) 𝑔𝑟𝑎𝑚


b. S
 𝑆1̅ = 0,05 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑆1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑆1 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01 % (4 𝐴𝑃)
𝑆1 0,05 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑆1 = (0,050 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑆2̅ = 0,07 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑆2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑆2 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,007142857143 % (4 𝐴𝑃)
𝑆2 0,07 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑆2 = (0,070 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑆3̅ = 0,09 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑆3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑆3 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,005555555556 % (4 𝐴𝑃)
𝑆3 0,09 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑆3 = (0,090 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


c. A
 𝐴1̅ = 12°
1 1
∆𝐴1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴1 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,02083333333 % (4 𝐴𝑃)
𝐴1 12°

𝐴1 = (12,00 ± 0,250)°
 𝐴̅2 = 22,5°
1 1
∆𝐴2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴2 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01111111111 % (4 𝐴𝑃)
𝐴2 22,5°

𝐴2 = (22,50 ± 0,250)°
 𝐴̅3 = 31°
1 1
∆𝐴3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴3 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,008064516129 % (4 𝐴𝑃)
𝐴3 31°

𝐴3 = (31,00 ± 0,250)°
d. A’
 ̅ 1 = 18,5°
𝐴′
1 1
∆𝐴′1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴′1 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01351351351 % (4 𝐴𝑃)
𝐴′1 18,5°

𝐴′1 = (18,50 ± 0,250)°

 ̅ 2 = 34°
𝐴′
1 1
∆𝐴′2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴′2 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,007352941176 % (4 𝐴𝑃)
𝐴′2 34°

𝐴′2 = (34,00 ± 0,250)°

 ̅ 3 = 47°
𝐴′
1 1
∆𝐴′3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴′3 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,005319148936 % (4 𝐴𝑃)
𝐴′3 47°

𝐴′3 = (47,00 ± 0,250)°


e. X
 𝑋̅1 = 0,034 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋1 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01470588235 % (4 𝐴𝑃)
𝑋1 0,034 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋1 = (0,034 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅2 = 0,062 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋2 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,008064516129 % (4 𝐴𝑃)
𝑋2 0,062 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋2 = (0,062 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅3 = 0,083 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋3 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,006024096386 % (4 𝐴𝑃)
𝑋3 0,083 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋3 = (0,083 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


f. X’
 𝑋̅′1 = 0,051 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋′1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋′1 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,009803921569 % (4 𝐴𝑃)
𝑋′1 0,051 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋′1 = (0,051 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅′2 = 0,09 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋′2 = 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
2 2
∆𝑋′2 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,005555555556 % (4 𝐴𝑃)
𝑋′2 0,09 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋′2 = (0,090 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅′3 = 0,119 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋′3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋′3 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,004201680672 % (4 𝐴𝑃)
𝑋′3 0,119 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋′3 = (0,119 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

2. Glukosa 10%
a. Massa
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1000 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1000
𝑀 = 𝑀𝑟 𝑥 ⇒ 0,1 = 𝑥 ⇒ 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 0,1 𝑥 36 = 3,6 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑉𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 180 200
𝑚
̅ 2 = 3,6 𝑔𝑟𝑎𝑚
1 1
∆𝑚2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,01 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 0,005 𝑔𝑟𝑎𝑚
∆𝑚2 0,005
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,001388888889 % (4 𝐴𝑃)
𝑚2 3,6

𝑚2 = (3,600 ± 0,005)
b. S
 𝑆1̅ = 0,05 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑆1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑆1 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01 % (4 𝐴𝑃)
𝑆1 0,05 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑆1 = (0,050 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑆2̅ = 0,07 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑆2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑆2 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,007142857143 % (4 𝐴𝑃)
𝑆2 0,07 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝑆2 = (0,070 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
 𝑆3̅ = 0,09 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑆3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑆3 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,005555555556 % (4 𝐴𝑃)
𝑆3 0,09 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑆3 = (0,090 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


c. A
 𝐴1̅ = 11,5°
1 1
∆𝐴1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴1 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,02173913043% (4 𝐴𝑃)
𝐴1 11,5°

𝐴1 = (11,50 ± 0,250)°
 𝐴̅2 = 21,5°
1 1
∆𝐴2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴2 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01162790698 % (4 𝐴𝑃)
𝐴2 21,5°

𝐴2 = (21,50 ± 0,250)°
 𝐴̅3 = 30,1°
1 1
∆𝐴3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴3 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,008305647841 % (4 𝐴𝑃)
𝐴3 30,1°

𝐴3 = (30,10 ± 0,250)°
d. A’
 ̅ 1 = 18,5°
𝐴′
1 1
∆𝐴′1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴′1 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01351351351 % (4 𝐴𝑃)
𝐴′1 18,5°

𝐴′1 = (18,50 ± 0,250)°

 ̅ 2 = 32°
𝐴′
1 1
∆𝐴′2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴′2 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,0078125 % (4 𝐴𝑃)
𝐴′2 32°

𝐴′2 = (32,00 ± 0,250)°

 ̅ 3 = 45,5°
𝐴′
1 1
∆𝐴′3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴′3 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,005494505495% (4 𝐴𝑃)
𝐴′3 45,5°

𝐴′3 = (45,50 ± 0,250)°


e. X
 𝑋̅1 = 0,033 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋1 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01515151515 % (4 𝐴𝑃)
𝑋1 0,033 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋1 = (0,033 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅2 = 0,058 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋2 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,008620689655% (4 𝐴𝑃)
𝑋2 0,058 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋2 = (0,058 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅3 = 0,08 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋3 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,00625 % (4 𝐴𝑃)
𝑋3 0,08 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋3 = (0,080 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


f. X’
 𝑋̅′1 = 0,051 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋′1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋′1 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,009803921569 % (4 𝐴𝑃)
𝑋′1 0,051 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋′1 = (0,051 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅′2 = 0,086 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋′2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋′2 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,005813953488 % (4 𝐴𝑃)
𝑋′2 0,086 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋′2 = (0,086 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅′3 = 0,116 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋′3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋′3 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,004310344828 % (4 𝐴𝑃)
𝑋′3 0,116 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋′3 = (0,116 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

3. Glukosa 15%
a. Massa
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1000 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1000
𝑀= 𝑥 ⇒ 0,15 = 𝑥 ⇒ 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 0,15 𝑥 36 = 5,4 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑀𝑟 𝑉𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 180 200
𝑚
̅ 3 = 5,4 𝑔𝑟𝑎𝑚
1 1
∆𝑚3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,01 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 0,005 𝑔𝑟𝑎𝑚
∆𝑚3 0,005
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,0009259259259 % (4 𝐴𝑃)
𝑚3 5,4

𝑚3 = (5,400 ± 0,005)
b. S
 𝑆1̅ = 0,05 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑆1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑆1 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01 % (4 𝐴𝑃)
𝑆1 0,05 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑆1 = (0,050 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑆2̅ = 0,07 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑆2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑆2 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,007142857143 % (4 𝐴𝑃)
𝑆2 0,07 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑆2 = (0,070 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑆3̅ = 0,09 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑆3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑆3 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,005555555556 % (4 𝐴𝑃)
𝑆3 0,09 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑆3 = (0,090 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


c. A
 𝐴1̅ = 11,5°
1 1
∆𝐴1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴1 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,02173913043 % (4 𝐴𝑃)
𝐴1 11,5°

𝐴1 = (11,50 ± 0,250)°
 𝐴̅2 = 21°
1 1
∆𝐴2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴2 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,0119047619 % (4 𝐴𝑃)
𝐴2 21°

𝐴2 = (21,00 ± 0,250)°
 𝐴̅3 = 30°
1 1
∆𝐴3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴3 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,008333333333 % (4 𝐴𝑃)
𝐴3 30°

𝐴3 = (30,00 ± 0,250)°
d. A’
 ̅ 1 = 17,5°
𝐴′
1 1
∆𝐴′1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴′1 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01428571429 % (4 𝐴𝑃)
𝐴′1 17,5°

𝐴′1 = (17,50 ± 0,250)°

 ̅ 2 = 31,5°
𝐴′
1 1
∆𝐴′2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴′2 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,007936507937 % (4 𝐴𝑃)
𝐴′2 31,5°

𝐴′2 = (31,50 ± 0,250)°

 ̅ 3 = 45°
𝐴′
1 1
∆𝐴′3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,5° = 0,25°
∆𝐴′3 0,25°
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,005555555556 % (4 𝐴𝑃)
𝐴′3 45°

𝐴′3 = (45,00 ± 0,250)°


e. X
 𝑋̅1 = 0,031 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋1 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01612903226 % (4 𝐴𝑃)
𝑋1 0,031 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋1 = (0,031 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅2 = 0,056 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋2 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,008928571429% (4 𝐴𝑃)
𝑋2 0,056 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋2 = (0,056 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅3 = 0,08 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋3 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,00625 % (4 𝐴𝑃)
𝑋3 0,08 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝑋3 = (0,080 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
f. X’
 𝑋̅′1 = 0,048 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋′1 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋′1 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,01041666667 % (4 𝐴𝑃)
𝑋′1 0,048 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋′1 = (0,048 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅′2 = 0,084 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋′2 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋′2 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,005952380952% (4 𝐴𝑃)
𝑋′2 0,084 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋′2 = (0,084 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟


 𝑋̅′3 = 0,114 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
1 1
∆𝑋′3 = 2 𝑥 𝑁𝑠𝑡 = 2 𝑥 0,001 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 = 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
∆𝑋′3 0,0005 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝐾𝑆𝑅 = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 0,004385964912 % (4 𝐴𝑃)
𝑋′3 0,114 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

𝑋′3 = (0,114 ± 0,005 𝑥 10−1 ) 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

H. PERHITUNGAN
Indeks Bias Mutlak
Konsentrasi 5%
a) Jarak( S) = 5 cm
sin 𝑖 sin 12°
n' = n sin 𝑟 = 1. sin 18,5° = 0,655243113
𝜕𝑛′ 2 2 𝜕𝑛′ 2 2 2 2
∆n’= √(𝜕 sin 𝑖) (3 ∆ sin 𝑖) + (𝜕 sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑛 2 2 2
−𝑛 (sin 𝑖)(cos 𝑟) 2 2 2
= √(sin 𝑟 ) (3 ∆ sin 𝑖) + ( ) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑠𝑖𝑛2 𝑟
1 2 2 2
−1 (sin 12°)(cos 18,5°) 2 2 2
= √(sin 18,5°) (3 . 0,004331) + ( ) (3 . 0,004331)
𝑠𝑖𝑛2 18,5°

1 2 −1 (0,20791169)(0,948323655) 2
= √(0,317304656) (0,0000083367) + ( ) (0,0000083367)
0,100682245
= √0,00008280208713 + 0,00003197123234
= 0,010713231
∆𝑛′ 0,009294159207
KSR = x 100% = x 100% = 1,071323105% [3AP]
𝑛′ 0,655243113
∴(n’±∆𝑛′) = (0,65 ± 0,009)

b) Jarak (S) = 7 cm
sin 𝑖 sin 22,5°
n' = n sin 𝑟 = 1. = 0,684349586
sin 34°
𝜕𝑛′ 2 2 𝜕𝑛′ 2 2 2 2
∆n’= √(𝜕 sin 𝑖) (3 ∆ sin 𝑖) + (𝜕 sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑛 2 2 2
−𝑛 (sin 𝑖)(cos 𝑟) 2 2 2
= √(sin 𝑟 ) (3 ∆ sin 𝑖) + ( 2
) ( ∆ sin 𝑟)
𝑠𝑖𝑛 𝑟 3
1 2 2 −1 (sin 22,5°)(cos 34°) 2 2 2 2
= √(sin 34°) (3 . 0,004331) + ( 2
) ( . 0,04331)
𝑠𝑖𝑛 34° 3

1 2 −1 (0,382683432)(0,829037572) 2
= √(0,559192903) (0,0000083367) + ( ) (0,0000083367)
0,312696703

= √0,00002666065848 + 0,000008581739275
= 0,005936530785
∆𝑛′ 0,005936530785
KSR = x 100% = x 100% = 0,008674705013% [4AP]
𝑛′ 0,684349586
∴(n’±∆𝑛′) = (0,6843 ± 0,0059)

c) Jarak(S) = 9 cm

sin 𝑖 sin 31°


n' = n sin 𝑟 = 1. sin 47° = 0,704225703
𝜕𝑛′ 2 2 𝜕𝑛′ 2 2 2 2
∆n’= √(𝜕 sin 𝑖) (3 ∆ sin 𝑖) + (𝜕 sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑛 2 2 −𝑛 (sin 𝑖)(cos 𝑟) 22 2 2
= √(sin 𝑟 ) (3 ∆ sin 𝑖) + ( ) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑠𝑖𝑛2 𝑟

1 2 2 −1 (sin 31°)(cos 47°) 2 2 2 2


= √(sin 47°) (3 . 0,004331) + ( ) (3 . 0,004331)
𝑠𝑖𝑛2 47°
1 2 −1 (0,515038074)(0,68199836) 2
= √(0,731353701) (0,0000083367) + ( ) (0,0000083367)
0,534878236

= √0,0001558616418 + 0,000003595254601
= 0,0001594568964
∆𝑛′ 0,0001594568964
KSR = x 100% = x 100% = 0,022642868% [4AP]
𝑛′ 0,704225703
∴(n’±∆𝑛′) = (0,7042 ± 0,0001)

Konsentrasi 10%
a) Jarak( S) = 5 cm
sin 𝑖 sin 11,5°
n' = n sin 𝑟 = 1.sin 18,5° = 0,628317077
𝜕𝑛′ 2 2
𝜕𝑛′ 2 2 2 2
∆n’ = √(𝜕 sin 𝑖) (3 ∆ sin 𝑖) + (𝜕 sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑛 2 2 −𝑛 (sin 𝑖)(cos 𝑟) 22 2 2
= √(sin 𝑟 ) (3 ∆ sin 𝑖) + ( ) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑠𝑖𝑛2 𝑟
1 2 2 −1 (sin 11,5°)(cos 18,5°) 2 2 2 2
= √(sin 18,5°) (3 . 0,004331) + ( 2 ) ( . 0,004331)
𝑠𝑖𝑛 18,5° 3
=
1 2 −1 (0,199367934)(0,948323655) 2
√( ) (0,0000083367) + ( ) (0,0000083367)
0,317304656 0,100682245
= √0,00008280208713 + 0,00002939761998
= 0,010592436
∆𝑛′ 0,010592436
KSR = x 100% = 0,628317077 x 100% = 1,6858425% [3AP]
𝑛′
∴(n’±∆𝑛′) = (0,628 ± 0,01)

b) Jarak( S) = 7 cm
sin 𝑖 sin 21,5°
n' = n sin 𝑟 = 1. sin 32°
= 0,691617103
𝜕𝑛′ 2 2
𝜕𝑛′ 2 2 2 2
∆n’ = √(𝜕 sin 𝑖) (3 ∆ sin 𝑖) + (𝜕 sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑛 2 2 −𝑛 (sin 𝑖)(cos 𝑟) 2 2 2 2
= √(sin 𝑟 ) (3 ∆ sin 𝑖) + ( 2
) ( ∆ sin 𝑟)
𝑠𝑖𝑛 𝑟 3

1 2 2 −1 (sin 21,5°)(cos 32°) 2 2 2 2


= √(sin 32°) (3 . 0,004331) + ( ) (3 . 0,00431)
𝑠𝑖𝑛2 32°
=
1 2 −1 (0,366501226)(0,848048096) 2
√( ) (0,0000083367) + ( ) (0,0000083367)
0,529919264 0,280814426

= √0,00002968757734 + 0,00001021285521
= 0,006316678917
∆𝑛′ 0,006316678917
KSR = x 100% = x 100% = 0,91332023% [4AP]
𝑛′ 0,691617103
∴(n’±∆𝑛′) = (0,6916 ± 0,0063)

c) Jarak( S ) = 9 cm
sin 𝑖 sin 30,1°
n' = n sin 𝑟 = 1. sin 45,5° = 0,703134134
𝜕𝑛′ 2 2 𝜕𝑛′ 2 2 2 2
∆n’= √(𝜕 sin 𝑖) (3 ∆ sin 𝑖) + (𝜕 sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑛 2 2 2
−𝑛 (sin 𝑖)(cos 𝑟) 2 2 2
= √(sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑖) + ( 2
) ( ∆ sin 𝑟)
𝑠𝑖𝑛 𝑟 3

1 2 2 2
−1 (sin 30,1°)(cos 45,5°) 2 2 2
= √(sin 45,5°) (3 . 0,004331) + ( ) (3 . 0,004331)
𝑠𝑖𝑛2 45,5°

1 2 −1 (0,501510737)(0,700909264) 2
= √(0,713250449) (0,0000083367) + ( ) (0,0000083367)
0,508726203

= √0,00001616003739 + 0,000003980247055
= 0,004487830317
∆𝑛′ 0,004487830317
KSR = x 100% = x 100% = 0,638260909% [4AP]
𝑛′ 0,703134134
∴(n’±∆𝑛′) = (0,7031 ± 0,0044)

Konsentrasi 15%
a) Jarak ( S) = 5 cm
sin 𝑖 sin 11,5°
n' = n sin 𝑟 = 1. sin 17,5° = 0,662999964
𝜕𝑛′ 2 2
𝜕𝑛′ 2 2 2 2
∆n’= √(𝜕 sin 𝑖) (3 ∆ sin 𝑖) + (𝜕 sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑛 2 2 −𝑛 (sin 𝑖)(cos 𝑟)2 2 2 2
= √(sin 𝑟 ) (3 ∆ sin 𝑖) + ( ) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑠𝑖𝑛2 𝑟
1 2 2 2
−1 (sin 11,5°)(cos 17,5°) 2 2 2
= √(sin 17,5°) (3 . 0,004331) + ( ) (3 . 0,004331)
𝑠𝑖𝑛2 17,5°

1 2 −1 (0,199367934)(0,95371695) 2
= √(0,300705799) (0,0000083367) + ( ) (0,0000083367)
0,090423977

= √0,00009219567891 + 0,00003686180391
= 0,011360346
∆𝑛′ 0,011360346
KSR = x 100% = 0,662999964 x 100% = 1,713476254% [3AP]
𝑛′
∴(n’±∆𝑛′) = (0,662 ± 0,011)

b) Jarak (S) = 7 cm
sin 𝑖 sin 21°
n' = n sin 𝑟 = 1. sin 31,5° = 0,685873557
𝜕𝑛′ 2 2 𝜕𝑛′ 2 2 2 2
∆n’= √(𝜕 sin 𝑖) (3 ∆ sin 𝑖) + (𝜕 sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑛 2 2 −𝑛 (sin 𝑖)(cos 𝑟) 2 2 2 2
= √(sin 𝑟 ) (3 ∆ sin 𝑖) + ( ) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑠𝑖𝑛2 𝑟
1 2 2 −1 (sin 21°)(cos 31,5°) 2 2 2 2
= √(sin 31,5°) (3 . 0,004331) + ( 2
) ( . 0,004331)
𝑠𝑖𝑛 31,5° 3
=
1 2 −1 (0,358367949)(0,852640164) 2
√( ) (0,0000083367) + ( ) (0,0000083367)
0,522498564 0,27300475

= √0,00003053683139 + 0,00001044344207
= 0,006401583668
∆𝑛′ 0,006401583668
KSR = x 100% = x 100% = 0,933347495% [4AP]
𝑛′ 0,685873557
∴(n’±∆𝑛′) = (0,6787 ± 0,006)

c) Jarak(S) = 9 cm
sin 𝑖 sin 30°
n' = n sin 𝑟 = 1. sin 45° = 0,707106781
𝜕𝑛′ 2 2
𝜕𝑛′ 2 2 2 2
∆n’ = √(𝜕 sin 𝑖) (3 ∆ sin 𝑖) + (𝜕 sin 𝑟) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑛 2 2 −𝑛 (sin 𝑖)(cos 𝑟) 2 2 2 2
= √(sin 𝑟 ) (3 ∆ sin 𝑖) + ( ) (3 ∆ sin 𝑟)
𝑠𝑖𝑛2 𝑟

1 2 2 −1 (sin 30°)(cos 45°) 2 2 2 2


= √(sin 45°) (3 . 0,004331) + ( 2
) ( . 0,004331)
𝑠𝑖𝑛 45° 3
=
1 2 −1 (0,5)(0,707106781) 2
√( ) (0,0000083367) + ( ) (0,0000083367)
0,707106781 0,5
= √0,00001667340001 + 0,000004168349998
= 0,004565276553
∆𝑛′ 0,004565276553
KSR = x 100% = x 100% = 0,645627061% [4AP]
𝑛′ 0,707106781
∴(n’±∆𝑛′) = (0,7071 ± 0,0045)

Indeks Bias Relatif


𝑋
n’ = 𝑋′

𝜕𝑛′ 2 𝜕𝑛′ 2 1 2 −𝑋 2
∆𝑛′ = √( 𝜕𝑋 )2 ( 3 . ∆𝑋)2 + (𝜕𝑋′)2 ( 3 . ∆𝑋′)2 = √(𝑋′)2 ( 3 . ∆𝑋)2 + (𝑋′2 )2 ( 3 . ∆𝑋′)2

Konsentrasi 5%
a) Jarak (s) =5m
𝑋 0.034
n’ = 𝑋′ = 0.051 = 0.67
1 2 2 2 −𝑋 2 2 2
∆𝑛′ = √(𝑋 ′ ) ( 3 . ∆𝑋) + ( ′2
) ( 3 . ∆𝑋 ′ )
𝑋
1 2 2 −0.034 2 2
= √(0.051) (3 0.0005)2 + ( 0.0512 ) (3 0.0005)2
= √(384.4675)(0.000000112225) + (170.874)(0.000000112225)
= √(0.0000431468651875) + (0.00001917633465)
= √0.0000623231998375
= 0.0078945044
∆𝑛′ 0.0078945044
KSR = x 100 % = x 100% = 1.178% (3AP)
𝑛′ 0.67
(𝑛′ ± ∆𝑛′) = (0,667 ± 0,007)

b) Jarak (s) =7m


𝑋 0.062
n’ = 𝑋′ = 0.09 = 0.689
1 2 2 2 −𝑋 2 2 2
∆𝑛′ = √(𝑋 ′ ) ( 3 . ∆𝑋) + ( ′2
) ( 3 . ∆𝑋 ′ )
𝑋
1 2 2 −0.062 2 2
= √(0.09) (3 0.0005)2 + ( 0.092 ) (3 0.0005)2
= √(123.45679)(0.000000112225) + (58.588629)(0.000000112225)
= √(0.00001385493825775) + (0.000006575108889525)
= √0.000020430047147275
= 0.00451996
∆𝑛′ 0.00451996
KSR = x 100 % = x 100% = 0.656% (4AP)
𝑛′ 0.689

(𝑛 ± ∆𝑛′) = (0,6889 ± 0,0045)

c) Jarak (s) =9m


𝑋 0.083
n’ = 𝑋′ = 0.119 = 0.697
1 2 2 2 −𝑋 2 2 2
∆𝑛′ = √(𝑋 ′ ) ( 3 . ∆𝑋) + ( 2 ) ( 3 . ∆𝑋 ′ )
𝑋′
1 2 2 −0.083 2 2
= √(0.119) (3 0.0005)2 + ( 0.1192 ) (3 0.0005)2
= √(70.61648)(0.000000112225) + (34.35329)(0.000000112225)
= √(0.000007924934468) + (0.00000385529797025)
= √0.00001178023243825
= 0.003432234
∆𝑛′ 0.003432234
KSR = x 100 % = x 100% = 0.4924% (4AP)
𝑛′ 0.697
(𝑛′ ± ∆𝑛′) = (0,6974 ± 0,0034)

Konsentrasi 10%
a) Jarak (s) =5m
𝑋 0.033
n’ = 𝑋′ = 0.051 = 0.647
1 2 2 2 −𝑋 2 2 2
∆𝑛′ = √( ′ ) ( . ∆𝑋) + ( ′2
) ( . ∆𝑋 ′ )
𝑋 3 𝑋 3

1 2 2 −0.033 2 2
= √(0.051) (3 0.0005)2 + ( 0.0512 ) (3 0.0005)2
= √(384.46751)(0.000000112225) + (160.97082)(0.000000112225)
= √(0.00004314686630975) + (0.0000180649502745)
= √0.00006121181658425
= 0.00782379
∆𝑛′ 0.00782379
KSR = x 100 % = x 100% = 1.209% (3AP)
𝑛′ 0.647
(𝑛′ ± ∆𝑛′) = (0.647 ±0.007)

b) Jarak (s) =7m


𝑋 0.058
n’ = 𝑋′ = 0.086 = 0.674
1 2 2 2 −𝑋 2 2 2
∆𝑛′ = √(𝑋 ′ ) ( 3 . ∆𝑋) + ( 2 ) ( 3 . ∆𝑋 ′ )
𝑋′
1 2 2 −0.058 2 2
= √(0.086) (3 0.0005)2 + ( 0.0862 ) (3 0.0005)2
= √(135.20822)(0.000000112225) + (61.49816)(0.000000112225)
= √(0.0000151737424895) + (0.000006901631006)
= √0.0000220753734955
= 0.0046984
∆𝑛′ 0.0046984
KSR = x 100 % = x 100% = 0.6970% (4AP)
𝑛′ 0.674
(𝑛′ ± ∆𝑛′) = (0.6744 ± 0.0046)

c) Jarak (s) =9m


𝑋 0.08
n’ = 𝑋′ = 0.116 = 0.689
1 2 2 2 −𝑋 2 2 2
∆𝑛′ = √(𝑋 ′ ) ( 3 . ∆𝑋) + ( ′2
) ( 3 . ∆𝑋 ′ )
𝑋
1 2 2 −0.08 2 2
= √(0.116) (3 0.0005)2 + (0.1162 ) (3 0.0005)2
= √(74.31629)(0.000000112225) + (35.34663)(0.000000112225)
= √(0.00000834014564525) + (0.00000396677555175)
= √0.000012306921197
= 0.00350812
∆𝑛′ 0.00350812
KSR = x 100 % = x 100% = 0.5091% (4AP)
𝑛′ 0.689

(𝑛 ± ∆𝑛′) = (0.6896 ± 0.0035)

Konsntrasi 15%
a) Jarak (s) =5m
𝑋 0.031
n’ = 𝑋′ = 0.048 = 0.645
1 2 2 2 −𝑋 2 2 2
∆𝑛′ = √(𝑋 ′ ) ( 3 . ∆𝑋) + ( ′2
) ( 3 . ∆𝑋 ′ )
𝑋
1 2 2 −0.031 2 2
= √(0.048) (3 0.0005)2 + ( 0.0482 ) (3 0.0005)2
= √434.02778(0.000000112225) + (181.03328)(0.000000112225)
= √(0.0000487087676105) + (0.000020316459848)
= √0.0000690252274585
= 0.0083081
∆𝑛′ 0.0083081
KSR = x 100 % = x 100% = 1.28% (3AP)
𝑛′ 0.645

(𝑛 ± ∆𝑛′) = (0.645 ± 0.008)

b) Jarak (s) =7m


𝑋 0.056
n’ = 𝑋′ = 0.084 = 0.667
1 2 2 2 −𝑋 2 2 2
∆𝑛′ = √(𝑋 ′ ) ( 3 . ∆𝑋) + ( ′2
) ( 3 . ∆𝑋 ′ )
𝑋
1 2 2 −0.056 2 2
= √(0.084) (3 0.0005)2 + ( 0.0842 ) (3 0.0005)2
= √(141.72335)(0.000000112225) + (62.98815)(0.000000112225)
= √(0.00001590490295375) + (0.00000706884513375)
= √0.0000229737480875
= 0.00479309
∆𝑛′ 0.00479309
KSR = x 100 % = x 100% = 0.7186% ()
𝑛′ 0.667

(𝑛 ± ∆𝑛′) = (0.6667 ± 0.0047)

c) Jarak (s) =9m


𝑋 0.08
n’ = 𝑋′ = 0.114 = 0.701
1 2 2 2 −𝑋 2 2 2
∆𝑛′ = √(𝑋 ′ ) ( 3 . ∆𝑋) + ( 2 ) ( 3 . ∆𝑋 ′ )
𝑋′
1 2 2 0.08 2 2
= √( ) ( 0.0005)2 + ( 2 ) ( 0.0005)
2
0.114 3 0.114 3

= √(76.94675)(0.000000112225) + (37.89313)(0.000000112225)
= √(0.00000863534901875) + (0.00000425255651425)
= √0.000012887905533
= 0.00358997
∆𝑛′ 0.00358997
KSR = x 100 % = x 100% = 0.5121% (4AP)
𝑛′ 0.701
(𝑛′ ± ∆𝑛′) = (0.7017±0.0035)

Sudut Kritis
n sin i = n’ sin r
dengan n : indeks bias udara = 1 dan sin r = sin 90° = 1, maka
sin i = n’ → i = arc sin n’
i = sudut kritis
a. Konsentrasi 5%
1. Jarak 5cm
i = arc sin n’ = arc sin 0,67 = 42,067°
2. Jarak 7cm
i = arc sin n’ = arc sin 0,689 = 43,551°
3. Jarak 9cm
i = arc sin n’ = arc sin 0,697 = 44,186°
b. Konsentrasi 10%
1.Jarak 5cm
i = arc sin n’ = arc sin 0,647 = 40,315°
2. Jarak 7cm
i = arc sin n’ = arc sin 0,674 = 42,376°
3. Jarak 9cm
i = arc sin n’ = arc sin 0,689 = 43,551°
c. Konsentrasi 15%
1. Jarak 5cm
i = arc sin n’ = arc sin 0,645 = 40,165°
2. Jarak 7cm
i = arc sin n’ = arc sin 0,667 = 41,835°
3.Jarak 9cm
i = arc sin n’ = arc sin 0,701 = 44,507°
LEAST SQUARE
1. Grafik Hubungan antara Konsentrasi Larutan dengan Indeks Bias
x = Konsentrasi
y = Indeks Bias
n x x^2 y xy
1 0,05 0,0025 0,6844 0,03422
2 0,1 0,01 0,6704 0,06704
3 0,15 0,0225 0,6715 0,100725
Σ 0,3 0,035 2,0263 0,201985

a b y
n x y least square
perhitungan
0,6933 -0,129
1 0,05 0,68685 0,6844
2 0,1 0,6804 0,6704
3 0,15 0,67395 0,6715
Σ 0,3 2,0412 2,0263

0.69
0.685
0.68
y least square
0.675
0.67 y perhitungan

0.665
0.66
0.05 0.1 0.15

2. Grafik Hubungan Konsentrasi Larutan dan dan Sudut Kritis


x = Konsentrasi Larutan
y = Sudut Kritis
n x x^2 y xy
1 0,05 0,0025 43,268 2,1634
2 0,1 0,01 42,0807 4,20807
3 0,15 0,0225 42,169 6,32535
Σ 0,3 0,035 127,5177 12,69682
a b y
n x y least square
perhitungan
43,6049 -10,99
1 0,05 43,0554 43,268
2 0,1 42,5059 42,0807
3 0,15 41,9564 42,169
Σ 0,3 127,5177 127,5177

43.5

43

42.5
y least square
42
y perhitungan
41.5

41
0.05 0.1 0.15

I. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Praktikum ini berjudul indeks bias. Tujuan dari praktikum ini adalah menentukan indeks
bias berbagai larutan dengan berbagai konsentrasi, menentukan sudut kritis larutan, dan
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi indeks bias.
Indeks bias merupakan salah satu sifat optik yang banyak digunakan untuk mencirikan
keadaan suatu material transparan. Refractive index suatu material pada suatu panjang
gelombang tertentu akan mengalami perubahan bila komposisi material tersebut mengalami
perubahan. Beberapa industri karenanya menggunakan ukuran refractive index dalam penetapan
kualitas produk solid atau liquid transparannya.
Syarat-syarat terjadinya pembiasan :
1. Cahaya melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya.
2. Cahaya datang tidak tegaklurus terhadap bidang batas (sudut datang lebih kecil dari 90°).
Apabila cahaya mengenai suatu bidang pemisah antara dua medium, sebagian cahaya
dipantulkan dan sebagian lagi diteruskan. Cahaya yang diteruskan dibiaskan pada bidang
pemisah, yang berarti bahwa gelombang cahaya dibelokkan. Pembiasaan menimbulkan
beberapa pemikiran penting dalam ilmu fisika dan merupakan mekanisme dasar dibalik fungsi
lensa dan prisma.
Apabila gelombang cahaya masuk kesebuah medium tembus cahaya selain ruang hampa,
seperti kaca, gelombang itu akan merambat perlahan-lahan pada kecepatan kurang dari 3 x 108
m/detik. Konsep ini merupakan dasar dari indeks bias, n, dari suatu medium, dengan rumus :
𝑐
n=
𝑣
Dengan c adalah 3 x 108 m/detik yang merupakan kecepatan cahaya dalam ruang hampa,
dan v adalah kecepatan cahaya dalam medium yang menjadi lambat. Jadi untuk ruang hampa, n
= 1, dan untuk medium lain, n > 1.
Dalam praktikum ini, kami menggunakan system kerja refractometer sederhana. Kami
menggunakan larutan glukosa dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Hal pertama yang kami
lakukan adalah mengukur massa glukosa dengan konsentrasi 5%. Untuk mencari massanya
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1000
kami menggunakan rumus molaritas yaitu: 𝑀 = 𝑀𝑟 𝑥 𝑉𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡, dan didapatkan nilai
massanya yaitu sebesar 1,8 gram. Gula lalu ditimbang sampai seberat 1,8 gram menggunakan
neraca Ohaus. Setelah itu, gula seberat 1,8 gram tersebut dilarutkan ke dalam 200 mL air.
Setelah larut, larutan glukosa tersebut dituang ke dalam refractometer sederhana. Lalu, mulai
dilakukan pengamatan dan diukur jarak, serta sudut yang terlhat. Kemudian hasil pengamatan
dibandingkan dengan larutan glukosa dengan konsentrasi glukosa yang berbeda. Maka, didapat
hasil pengamatan berikut:

Glukosa 5% Glukosa 10% Glukosa 15%


S
A A’ X X’ A A’ X X’ A A’ X X’
(meter)
(◦) (◦) (m) (m) (◦) (◦) (m) (m) (◦) (◦) (m) (m)
0,05 12 18,5 0,034 0,051 11,5 18,5 0,033 0,051 11,5 17,5 0,031 0,048
0,07 22,5 34 0,062 0,09 21,5 32 0,058 0,086 21 31,5 0,056 0,084
0,09 31 47 0,083 0,119 30,1 45,5 0,08 0,116 30 45 0,08 0,114

Dalam table tersebut, bisa dilihat bahwa ada satu keganjalan. Yakni dalam mengukur sudut
dan panjangnya. Dalam table tersebut, untuk S = 0,05 meter. Ukuran sudut dan panjang di udara
pada konsentrasi glukosa 5%, 10%, dan 15%, terlihat berbeda-beda. Padahal, jika diamati lebih
teliti, seharusnya keganjalan tersebut tidak terjadi. Karena secara logika, jika mengukur dari
udara maka larutan tidak akan mempengaruhi pandangan kita dalam melihat bayangan tersebut.
Karena kita melihat dari udara, bukan dari dalam larutan. Kesalahan ini terjadi bisa terjadi dari
pihak praktikan yang matanya kuran awas dalam melihat bayangan. Sehingga dalam
pengukuran panjang dan sudut bayangan mengalami kekeliruan.

J. PERTANYAAN AKHIR
1. Bagaimana pendapat anda tentang hubungan antara indeks bias relative dengan indeks bias
mutlak dalam percobaan ini?
Indeks bias relatif suatu larutan adalah perbandingan nilai indeks bias mutlak dari dua
medium yang berbeda. Medium pada praktikum ini adalah udara dan cairan (larutan
glukosa).
2. Bagaimana pendapat anda tentang pengukuran indeks bias menggunakan refractometer
Abbe?
Refraktometer abbe adalah refraktometer untuk mengukur indeks cairan, padatan dalam
cairan atau serbuk dengan indeks bias dari 1.300-1.700 dan persentase adalah 0-95%. Alat
untuk menentukan indeks bias minyak, lemak, gelas optik, larutan gula dan sebagainya.
Pengukuran indeks bias menggunakan refraktometer abbe lebih akurat di bandingkan
dengan refraktometer sederhana karena refraktometer abbe dapat dibaca langsung dengan
ketelitian sampai 0,001 dan 0,0002 dari gelas skala yang ada didalamnya.

K. KESIMPULAN
1. Indeks bias larutan gula dengan berbagai konsentrasi adalah sebagai berikut
Konsentrasi Larutan Jarak (S) Indeks Bias Mutlak Indeks Bias Relatif
Gula
5 cm (0,65± 0,009) (0,667± 0,007)
5% 7 cm (0,6843± 0,0059) (0,6889± 0,0045)
9 cm (0,7042± 0,0001) (0,6974± 0,0034)
5 cm (0,628± 0,01) (0,647± 0,007)
10%
7 cm (0,6916± 0,0063) (0,6744± 0,0046)
9 cm (0,7031± 0,0044) (0,6896± 0,0035)
5 cm (0,662± 0,011) (0,645± 0,008)
15% 7 cm (0,6787± 0,006) (0,6667± 0,0047)
9 cm (0,7071± 0,0045) (0,7017± 0,0035)

2. Sudut kritis larutan adalah sebagai berikut


Konsentrasi Larutan Jarak (S) Sudut Kritis
Gula
5 cm 42,067°
5% 7 cm 43,551°
9 cm 44,186°
5 cm 40,315°
10%
7 cm 42,376°
9 cm 43,551°
5 cm 40,165°
15% 7 cm 41,835°

9 cm 44,507°

3. Cara mengukur indeks bias menggunakan refraktometer sederhana adalah dengan


membuat S,O dan garis A berada pada garis lurus, kemudian membaca sudut yang
dibentuk.

L. SARAN
1. Teliti dalam membaca skala.
2. Teliti dalam melihat garis lurus.
3. Teliti dalam membuat larutan sehingga dapat dibuat konsentrasi sesuai dengan yang
diinginkan.

M. DAFTAR PUSTAKA
i. Darmawangsa, ZA. 1980. Penuntun Praktikum Analisis Instrumental Dasar-Dasar
Penggunaan. Jakarta: Grayuna
ii. Zemansky, Sears. 1987. Fisika untuk Universitas. Jakarta: Binacitra
iii. Sodiq, Ibnu. 2004. Kimia Analitik, Malang: JICA
iv. Armando,Rochim. 2008. Memproduksi Minyak Atsiri Berkualitas. Jakarta:PS.
v. Bresnick,Stephen. 1998. Intisari Fisika. Jakarta:Erlangga.
vi. Bueche,Frederick. 2006. Fisika Universitas Edisi X. Jakarta:Erlangga.
vii. Tim Dosen Fisika Dasar Jurusan Fisika FMIPA.2006. Panduan Praktikum Fisika Dasar II.
Jakarta: Laboratorium Fisika Dasar.

Anda mungkin juga menyukai