Anda di halaman 1dari 5

Komplikasi

1. Ganggren
Gangrene adalah kondisi jaringan tubuh yang mati akibat tidak mendapat pasokan
darah yang cukup atau akibat infeksi bakteri yang berat. Kondisi serius ini umumnya
terjadi di tungkai, jari kaki, atau jari tangan, namun juga bisa terjadi pada otot serta
organ dalam. Gangrene adalah kondisi serius yang bisa mengarah ke amputasi hingga
kematian.
Gangrene terbagi ke dalam beberapa jenis, di antaranya adalah:
a. Gangrene kering. Kulit kering dan mengerut dengan warna kulit cokelat, biru, atau
hitam adalah ciri gangrene kering. Gangrene ini terjadi secara bertahap, dan
umumnya menimpa penderita penyakit arteri perifer.
b. Gangrene basah. Gangrene ini umumnya menimpa penderita diabetes yang tidak
sadar saat mengalami luka di kaki. Gangrene basah juga bisa terjadi pada seseorang
yang mengalami luka bakar atau frostbite. Ciri gangrene basah adalah kulit bengkak,
melepuh, dan terlihat basah. Jika tidak segera ditangani, gangrene basah bisa
menyebar dan akan berakibat fatal.
c. Gangrene gas. Gangrene gas umumnya menyerang jaringan otot. Pada awalnya,
kulit penderita gangrene gas terlihat normal. Namun seiring waktu, kulit akan
terlihat pucat lalu berubah menjadi ungu kemerahan, kemudian gelembung udara
akan terbentuk. Gangrene gas umumnya disebabkan oleh bakteri Clostridium
perfringens, yang berkembang pada luka akibat bedah atau cedera yang
mengeluarkan banyak darah. Infeksi tersebut menghasilkan racun yang melepaskan
gas dan menyebabkan kematian jaringan. Sama seperti gangrene basah, gangrene
gas juga bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
d. Gangrene internal, yaitu gangrene yang terjadi akibat terhambatnya aliran darah ke
organ dalam tubuh, seperti usus atau empedu. Gangrene internal bisa menyebabkan
demam serta nyeri hebat, dan bisa berbahaya jika tidak cepat ditangani.
e. Gangrene Fournier. Gangrene ini menyerang daerah genital atau kelamin, dan
kebanyakan penderitanya adalah Kondisi ini umumnya terjadi karena infeksi pada
area kemaluan atau saluran kemih, yang menyebabkan pembengkakan dan nyeri
pada kemaluan.
f. Gangrene Meleney. Jenis gangrene ini tergolong langka, yang terjadi 1-2 minggu
pasca operasi.
Gangrene bisa disebabkan oleh tiga hal, yaitu:
a. Kekurangan aliran darah. Darah mengandung sejumlah senyawa yang dibutuhkan
tubuh, antara lain oksigen, nutrisi, serta antibodi. Kekurangan senyawa penting
tersebut bisa membuat sel-sel tubuh mati.
b. Infeksi. Bakteri yang dibiarkan berkembang terlalu lama bisa menimbulkan infeksi
dan menyebabkan gangrene.
c. Luka. Luka parah, seperti luka akibat tembakan atau cedera akibat kecelakaan mobil,
bisa menyebabkan bakteri tumbuh dan menyerang jaringan di dalam kulit.
2. Pepsis
Sepsis adalah komplikasi yang jarang terjadi namun sangat berbahaya dari suatu
penyakit. Pada saat terjadi infeksi, tubuh kita akan menghasilkan berbagai senyawa
kimia untuk melawan infeksi tersebut. Senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan ini
akan mencetuskan suatu respon peradangan yang mengakibatkan serangkaian
perubahan pada fungsi tubuh, sehingga terjadilah kerusakan berbagai sistem organ.
Pada tahap awal, sepsis biasanya ditangani dengan pemberian antibiotik dan cairan
infus dalam jumlah banyak. Pada kondisi yang parah, suplai darah ke organ-organ vital
seperti jantung dan ginjal akan terhenti, sehingga mengakibatkan kerusakan permanen
atau bahkan kematian.
Faktor Pemicu dan Gejala Sepsis:
Sepsis dapat diderita oleh siapa saja, namun anak-anak, lansia, pasien di rumah sakit
yang mengidap penyakit serius, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah
memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami sepsis.
Berbagai macam infeksi yang tidak ditangani dengan benar bisa berujung pada
sepsis. Misalnya, infeksi paru-paru atau pneumonia, penyakit usus buntu, infeksi
saluran kemih, dan meningitis.
Mewaspadai perkembangan infeksi sangatlah penting agar tidak berlanjut pada tahap
sepsis. Gejala-gejala yang mengindikasikan sepsis antara lain demam, menggigil, dan
detak jantung serta napas yang cepat.
3. Fistula
Fistula ani adalah terbentuknya saluran kecil di antara ujung usus besar dan kulit di
sekitar anus atau dubur. Kondisi ini terbentuk sebagai reaksi dari adanya infeksi
kelenjar pada anus yang berkembang menjadi abses anus, di mana terbentuk kantung
atau benjolan berisi nanah. Fistula akan terlihat seperti saluran atau lubang kecil setelah
nanah keluar. Selain abses, fistula ani juga berisiko dialami penderita gangguan saluran
cerna bawah, seperti Crohn’s disease. Akibatnya, penderita merasakan nyeri atau rasa
tidak nyaman pada kulit sekitar anus.
Pengobatan fistula ani dilakukan setelah melalui pemeriksaan seksama, terutama
pada area anus. Pilihan utama pengobatan fistula ani adalah operasi. Terdapat beberapa
teknik bedah yang dapat dilakukan sesuai kondisi fistula ani yang terjadi. Tujuan dari
operasi adalah melindungi otot sfingter ani yang mengatur buang air besar serta
memperbaiki fistula ani dengan tuntas untuk mencegah kekambuhan.
Gejala yang ditunjukkan fistula ani, antara lain adalah:
a. Keluar darah atau nanah saat buang air besar.
b. Daerah sekitar anus membengkak dan menjadi merah.
c. Nyeri pada anus yang semakin parah saat duduk atau batuk.
d. Demam dan terasa lelah.
e. Inkontinensia alvi.
f. Iritasi kulit di sekitar anus.
g. Terdapat nanah disekitar anus.
Penyebab dan faktor risiko fistula ani terjadi akibat abses anus yang tidak sembuh
sempurna sehingga menyisakan saluran atau lubang kecil pada kulit di dekat anus.
Penyebab ini yang paling banyak terjadi pada kasus fistula ani. Sekitar 50 persen
penderita abses anus berisiko mengalami fistula ani.
Selain disebabkan abses pada anus, fistula ani juga dapat terjadi karena beberapa
kondisi, termasuk gangguan saluran cerna bagian bawah atau daerah anus. Kondisi
tersebut meliputi Crohn’s disease serta hidradenitis suppurativa. Di samping penyakit
tersebut, beberapa infeksi seperti tuberkulosis atau infeksi HIV, serta divertikulitis juga
bisa menimbulkan fistula ani. Penyebab fistula ani lainnya adalah komplikasi yang
terjadi pasca operasi di dekat anus dan pasca radioterapi untuk kanker usus besar.
4. Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi dari peritoneum (lapisan serosa yang menutupi rongga
abdomen dan organ-organ abdomen di dalamnya). Suatu bentuk penyakit akut, dan
merupakan kasus bedah darurat. Dapat terjadi secara lokal maupun umum, melalui
proses infeksi akibat perforasi usus, misalnya pada ruptur appendiks atau divertikulum
kolon, maupun non infeksi, misalnya akibat keluarnya asam lambung pada perforasi
gaster, keluarnya asam empedu pada perforasi kandung empedu. Pada wanita peritonitis
sering disebabkan oleh infeksi tuba falopi atau ruptur ovarium.
Gejala klinis peritonitis yang terutama adalah nyeri abdomen. Nyeri dapat dirasakan
terus-menerus selama beberapa jam, dapat hanya disatu tempat ataupun tersebar di
seluruh abdomen. Dan makin hebat nyerinya dirasakan saat penderita bergerak. Gejala
lainnya meliputi:
a. Demam
Temperatur lebih dari 380C, pada kondisi sepsis berat dapat hipotermia
b. Mual dan muntah
Timbul akibat adanya kelainan patologis organ visera atau akibat iritasi peritoneum
c. Adanya cairan dalam abdomen, yang dapat mendorong diafragma mengakibatkan
kesulitan bernafas.
Dehidrasi dapat terjadi akibat ketiga hal diatas, yang didahului dengan
hipovolemik intravaskular. Dalam keadaan lanjut dapat terjadi hipotensi, penurunan
output urin dan syok.
d. Distensi abdomen dengan penurunan bising usus sampai tidak terdengar bising usus
e. Rigiditas abdomen atau sering disebut ’perut papan’, terjadi akibat kontraksi otot
dinding abdomen secara volunter sebagai respon/antisipasi terhadap penekanan
pada dinding abdomen ataupun involunter sebagai respon terhadap iritasi pe
ritoneum.
f. Nyeri tekan dan nyeri lepas (+).
g. Takikardi, akibat pelepasan mediator inflamasi.
h. Tidak dapat BAB/buang angin.
5. Ileus
Ileus adalah istilah medis untuk menurunnya pergerakan pada saluran pencernaan
yang menyebabkan penumpukan atau penyumbatan zat makanan. Ileus dapat
menyebabkan obstruksi usus, di mana zat makanan, gas, atau cairan tidak dapat lewat.
Walau ileus memiliki beberapa penyebab, efek samping dari operasi adalah penyebab
paling umum dari terjadinya ileus.
Ileus adalah masalah yang serius, namun banyak orang sering kali tidak menyadari
bahwa makanan sedang menumpuk pada usus dan terus mengonsumsi makanan. Hal ini
mendorong lebih banyak zat makanan ke arah penyumbatan. Tanpa perawatan, ileus
dapat melubangi atau merobek usus. Hal ini menyebabkan isi usus, yang mengandung
banyak bakteri, bocor ke area rongga tubuh.
Hal ini dapat mematikan. Jika terjadi ileus, penting untuk segera mendapatkan
perawatan secepat mungkin.Ileus dapat berkembang menjadi kondisi yang serius dan
membahayakan nyawa. Dua komplikasi paling parah adalah necrosis dan peritonitis.
Tanda-tanda dan gejala ileus
a. Kram perut
b. Kehilangan nafsu makan
c. Merasa kekenyangan
d. Konstipasi
e. Tidak dapat buang angin
f. Pembengkakan pada perut
g. Mual
h. Muntah, seperti isi feses
D. PENCEGAHAN

1.Mengurangi mengkonsumsi makanan yang pedas

2.Tidak mengkonsumsi makanan yang asem

3.Tidak mengkonsumsi mie instant

4.Menghindari mengkonsumsi sayuran tertentu misalnya, kol, sawi

5.Menghindari melakukan aktivitas yang berat


https://www.academia.edu/35340096/Asuhan_Keperawatan_Kolik_Abdomen.docx

https://edoc.site/kolik-abdomen-pdf-free.html

https://www.slideshare.net/JafarLatzone/colic-abdomen

https://www.alodokter.com/gangrene

https://www.alodokter.com/sepsis.html

https://www.alodokter.com/fistula-ani.html

https://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-content/uploads/2016/10/PERITONITIS-DAN-ILUES.pdf