Anda di halaman 1dari 6

76

BAB V

PEMBAHASAN

Apotek sebagai sarana kesehatan merupakan tempat dilakukannya

pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi pada masyarakat dan

juga merupakan salah satu mata rantai dalam pendistribusian obat pada

masyarakat. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah pimpinan apotek yang

mempunyai tanggungjawab untuk menetapkan berbagai kebijaksanaan di Apotek

terutama dalam peningkatan dan pengembangan Apotek. APA bertanggungjawab

dalam mengawasi pelayanan resep, memberikan pelayanan informasi obat,

menyediakan obat yang berkualitas dan terjamin keasliannya, terampil melakukan

pekerjaan kefarmasian, serta kegiatan yang berhubungan dengan administrasi dan

keuangan.

Sebagai unit pelayanan kesehatan dibidang kefarmasian Apotek Wahyu

Sehat memberikan pelayanan sediaan farmasi, alat-alat kesehatan dan perbekalan

diluar farmasi. Pelayanan dibidang obat-obatan meliputi: pelayanan obat bebas,

bebas terbatas, OWA, obat keras, narkotika dan psikotropika. Pelayanan obat

narkotika, psikotropika, berdasarkan penerimaan resep. Pada penerimaan resep

terlebih dahulu dilakukan skrining resep, dilanjutkan dengan peracikan oleh

Asisten Apoteker. Sebelum obat diserahkan kepada pasien, dilakukan pemeriksaan

akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat disertai

dengan pemberian informasi obat. Resep yang sudah dikerjakan disimpan

menurut tanggal penulisan resep, yang mengandung narkotika dipisahkan dengan

resep yang lain dengan pemberian tanda warna pada bagian nama obatnya
77

Pekerjaan kefarmasian saat ini tidak hanya drug oriented tapi sudah

berdasarkan patien oriented, seperti pelayanan kepada masyarakat dalam hal self

medication guna mengatasi masalah kesehatannya. Peran seorang apoteker sangat

dibutuhkan dengan memberikan pelayanan KIE (Komunikasi Informasi dan

Edukasi). Dalam hal ini Apotek Wahyu Sehat telah menerapkan konsep layanan

patient oriented yang mengutamakan kepentingan pasien seperti menyediakan

obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang

optimal dan sebagai institusi bisnis yang mendukung kepentingan apotek sendiri.

Apoteker harus mampu berinteraksi dengan pasien dalam hal pelayanan informasi

obat dengan cara terjun langsung / bertatap muka sehingga dapat memberikan

informasi yang jelas, memberikan saran kepada pasien berkaitan dengan manfaat

dan efek samping atau bahaya dari obat yang digunakan dengan demikian dapat

menjamin pemilihan obat yang tepat, aman dan rasional. Apotek sebagai salah

satu sarana pelayanan kesehatan tidak hanya mengutamakan keuntungan semata

tetapi juga bagaimana agar pasien yang datang ke apotek mendapat pelayanan

yang maksimal sehingga dapat membantu penyembuhan pasien.

Apotek Wahyu Sehat berlokasi di Jl. WR Supratman Baki-Sukoharjo.

Lokasi Apotek Wahyu Sehat terletak didaerah pemukiman penduduk, ramai dilalui

arus kendaraan dan mudah dijangkau dari segala arah.

Apotek Wahyu Sehat buka setiap hari Senin-Sabtu dari jam 08.00-

21.00 WIB, sedangkan hari minggu buka jam 17.00-21.00 WIB. Pelayanan resep

apotek Wahyu Sehat selalu berorientasi pada kepuasan pasien/ konsumen dengan

mengutamakan obat yang diperlukan serta pelayanan yang cepat tanpa

mengabaikan ketepatan dan ketelitian pemilihan obat.


78

Sistem penyimpanan perbekalan farmasi di apotek Wahyu Sehat

diletakkan pada rak berdasarkan bentuk sediaan, golongan, dan sistem disusun

secara alfabetis sehingga memudahkan dalam mencari obat yang dibutuhkan dan

pengawasannya. Sistem penyimpanan obat yang diterapkan di Apotek Wahyu

Sehat yaitu sistem First In First Out (FIFO), di mana barang yang baru diterima

disimpan dibelakang dari barang sebelumnya. Hal ini dilakukan dengan harapan

tidak terjadi barang rusak atau kadaluwarsa. Barang yang rusak atau kadaluwarsa

diusahakan penukarannya tiga bulan sebelumnya pada PBF yang bersangkutan

sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui.

Sumber daya manusia yang dapat mempengaruhi pelayanan

kefarmasian di apotek adalah karyawan yang cukup menunjang kegiatan

pelayanan kefarmasian, karyawanyang ramah, responsif, murah senyum, cepat,

tepat, berpakaian rapi, bersih, dapat dipercaya, mau bekerjasama, mudah

berkomunikasi dan berinteraksi dengan pasien, karyawan juga harus memiliki

pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang sesuai dengan pekerjaannya.

Sistem pelayanan Apotek Wahyu Sehat telah membawa pada suatu

penilaian yang baik. Kualitas jasa pada dasarnya terpusat pada upaya pemenuhan

kebutuhan dan kepuasan pelanggan atau pasien serta ketepatan penyampaian KIE

untuk mengimbangi harapan pelanggan. Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek

Wahyu Sehat memberi manfaat serta pengetahuan tentang pelayanan dan

manajemen apotek secara nyata. Praktek dilakukan dengan pelayanan disertai

pengarahan dan diskusi dari APA.

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang dilakukan mahasiswa

profesi Apoteker Universitas Setia Budi dimaksudkan untuk mempersiapkan


79

apoteker yang mempunyai kemampuan dalam pelayanan kefarmasian dan

pengelolaan apotek. Media yang digunakan adalah seluruh fasilitas yang ada di

apotek Wahyu Sehat. Pelaksanaan PKPA dilakukan pada tanggal 3-29 maret 2014.

Kegatan yang dilakukan selama PKPA meliputi :

a. Praktek kerja apotek

b. Pemberian Tugas

c. Bimbingan dan diskusi

A. Praktek Kerja

Praktek kerja merupakan tahap dimana mahasiswa terlibat langsung dalam

membantu pelaksanaan pekerjaan kefarmasian di apotek Wahyu Sehat yang

dibagi menjadi 2 shift yaitu pagi dimulai pukul 08.00 – 14.00 dan sore 14.00

– 21.00 selama 6 hari dan diberi tugas-tugas tertentu yang bertujuan agar

mahasiswa mampu mengerti, memahami dan dapat melaksanakan semua alur

pelayanan serta administrasi apotek.

Kegiatan yang ada di apotek Wahyu Sehat antara lain :

1. Penerimaan, penyimpanan, pelayanan OTC dan OWA

2. Administrasi pembelian, penyimpanan, etiketing, dan instruksi peracikan.

3. Pelayanan resep

4. Penyerahan Obat, Pemberian Informasi dan konseling

1. Penerimaan,penyimpanan, pelayanan OTC dan OWA

Kegiatan penerimaan barang (obat) meliputi pencocokan SP

dengan faktur yaitu mengenai jumlah, jenis sediaan waktu kedaluwarsa

dan nomor batch obat yang diterima. Faktur pembelian yang telah sesuai

ditanda tangani oleh Apoteker/AA dan diberi stempel apotek. Barang


80

tersebut diberi harga sesuai harga pembelian terbaru dari faktur,

dimasukkan di kartu stock penyimpanan barang disesuaikan dengan

etalase dimana barang tersebut seharusnya disimpan. Penyimpanan

berdaarkan kelas terapi, secara alfabetis dan menurut bentuk sediaannya.

Dalam hal pelayanan obat kepada pasien, mahasiswa juga dituntut

untuk bersikap ramah, empati, sopan, dan selalu tersenyum. Pelayanan

OTC terutama ditujukan untuk self medication. Pasien biasanya datang

dengan keluhan tertentu dan meminta saran untuk dipilihkan obat yang

sesuai dengan kondisi klinis pasien saat itu. Mahasiswa terlebih dahulu

harus mengidentifikasi masalah yang dihadapi pasien.

2. Administrasi Pembelian, Penyimpanan, Etiket, dan Instruksi

Peracikan

Mahasiswa melakukan administrasi pembelian dan etiket resep.

Pada saat detailer dari PBF atau distributor membawa barang datang,

mahasiswa melakukan pencocokan barang yang diterima dengan yang

tertera pada faktur, serta mencatat waktu kedaluwarsa, meminta tanda

tangan Apoteker/AA sebagai bukti barang telah diterima apotek.

Selanjutnya memasukkan data jumlah barang dan PBF pengirim ke dalam

kartu stock. Faktur yang telah dicatat, diarsipkan untuk tiap bulannya dan

dikelompokkan sesuai nama PBF dan disimpan pada satu tempat agar

memudahkan dalam pencarian kembali. Pada waktu jatuh tempo, pihak

PBF akan datang dan memberikan faktur asli. Kemudian faktur asli

tersebut disatukan dengan copy faktur yang disertakan pada waktu


81

penyerahan barang, diarsip dan siletakkan dalam arsip inkaso. Setelah

faktur lunas dicatat dalam buku pembelian.

Kegiatan mahasiswa juga meliputi etiketing resep yaitu resep yang

telah diserahkan oleh pasien, segera dibawa ke ruang peracikan untuk

disiapkan obatnya sesuai dengan bentuk sediaan dan jumlah yang diminta

dalam resep. Selanjutnya diberikan etiket sesuai perintah dalam resep.

3. Pelayanan resep (penerimaan resep, skrining resep, dan penyerahan

obat)

Pelayanan resep dimulai sejak penerimaan resep kemudian

dilakukan skrining terhadap resep. Hal ini bertujuan untuk melihat

keabsahan resep, perhitungan dosis, ketersediaan obat di apotek,

menentukan jumlah obat dan bentuk sediaan yang harus dipersiapkan

dalam resep. Resep yang diterima tersebut dibawa ke ruang racik, dihitung

jumlah harga yang harus dibayar psien. Apabila pasien menyatakan

sanggup untuk membayar maka resep siap untuk dikerjakan. Setelah itu,

obat diserahkan ke pasien disertai informasi penggunaan obat yang

meliputi nama obat dan aturan minum, serta menanyakan alamat tempat

tinggal dari pasien untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam

pemberian obat.

4. Penyerahan Obat, Pemberian Informasi dan Konseling

Mahasiswa menyerahkan resep yang telah dikerjakan serta

memberikan informasi yang perlu disampaikan kepada pasien. Mahasiwa

tetap berada dalam pengawasan dan bimbingan APA/AA.