Anda di halaman 1dari 6

Fisiologi pubertas pada wanita

Pubertas pada wanita

Pubertas adalah tahapan maturasi fisik di mana individu menjadi mampu secara fisiologis
untuk reproduksi. Perubahan yang terjadi selama pubertas dipengaruhi oleh faktor
neurohormonal yang memodulasi pertumbuhan somatis dan pembentukan organ seksual.
Semua mekanisme yang terjadi selama pubertas merupakan hasil dari aktivasi sumbu (jalur)
hipotalamus-hipofisis-gonad. Aktivasi sumbu ini bertanggung jawab terhadap perubahan-
perubahan biologis, morfologis, dan psikologis selama pubertas.

Tanner membagi tahapan yang terjadi selama pubertas. Tahapan ini dibagi menjadi dari T1
sampai T5, di mana T1 identik dengan perkembangan masa anak-anak dan T5 identik dengan
maturitas penuh.

Pada wanita, pubertas diawali dengan munculnya karakter seks sekunder pada usia sekitar
10,5 tahun. Terkadang pubertas bisa muncul lebih awal dan bisa juga lebih cepat. Pubertas
dikatakan prekoks (prematur) apabila tanda-tanda seks sekunder muncul pertama kali
sebelum usia 8 tahun dan dikatakan terlambat jika muncul pada saat menginjak usia lebih dari
13 tahun.

Perkembangan karakter seks sekunder pada wanita meliputi pembesaran ovarium, uterus,
vagina, labia, payudara, serta tumbuhnya rambut pubis dan aksila. Di antara semuanya, yang
pertama kali muncul adalah pembesaran payudara (telarche) dan diikuti tumbuhnya rambut
pubis-aksila 6 bulan setelahnya. Sedangkan uterus mencapai ukuran sesuai T4 menurut
Tanner (hampir matur) ketika menstruasi pertama kali (menarche). Beberapa hal penting lain
yang terjadi selama pubertas wanita antara lain adanya pacu tumbuh adolesen (suatu
percepatan pertumbuhan tinggi badan) dan munculnya jerawat (acne vulgaris) pada usia
sekitar 11-14,5 tahun. Menarche sendiri muncul antara usia 12,5-13 tahun. Pada pubertas
prekoks, menarche terjadi pada usia 10 tahun sedangkan pada pubertas terlambat menarche
baru muncul hingga usia 15 tahun. Siklus ovulasi pada wanita terjadi sekitar 9-10 bulan
setelah menarche.

Pubertas dapat dikatakan telah lengkap dalam 3-4 tahun setelah onset pertama, dan
pertumbuhan somatik (tinggi badan) masih bisa berlangsung 2 tahun setelahnya (jadi kira-
kira 5-6 tahun setelah onset pertama pubertas).

Beberapa istilah yang sering digunakan dalam tanda-tanda seks sekunder pada wanita antara
lain (1) telarche, yaitu pembesaran payudara, (2) pubarche, yaitu tumbuhnya rambut pubis,
(3) menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali terjadi, dan (4) adrenarche, yaitu
tumbuhnya rambut aksila sebagai akibat peningkatan androgen dari adrenal.

Inisiasi pubertas pada wanita

Sistem reproduksi wanita belum aktif sampai usia pubertas. Hal ini disebabkan adanya
penekanan (supresi) aktifitas GnRH hipotalamus pada fase prepubertas (anak-anak).
Penekanan terhadap aktifitas GnRH ini menghilang (diinhibisi) ketika memasuki usia
pubertas. Mekanisme apa yang mengatur sehingga penekanan tersebut diinhibisi masih belum
dipahami sepenuhnya.
Perubahan fisik yang terjadi selama pubertas pada wanita

Untuk mempermudah pemahaman mengenai perubahan fisik yang terjadi selama pubertas
pada wanita, Tanner menggolongkannya menjadi beberapa tahapan yang ditandai dengan dari
T1 (Tanner 1) sampai T5.

Tanner Perkiraan usiaTelarche Pubarche Kecepatan Lain-lain


(T) pertumbuhan
tinggi
badan/tahun
1 10 tahun atau Elevasi puting susu,Tidak ada 5-6 cm Adrenarche
kurang areola masih sejajarrambut, atau ada
dengan permukaan rambut namun
dada bentuknya seperti
vilus
2 10-11,5 tahun Tunas payudara bisa Rambut jarang, 7-8 cm Pembesaran
teraba, areola sedikit klitoris,
membesar berpigmentasi pigmentasi
labia
3 11,5-13 tahun Payudara melebar Menjadi lebih 8 cm Acne vulgaris,
melebihi batas areola kasar, gelap, dan rambut aksila
keriting
4 13-15 tahun Putting susu berada Tipe dewasa, <7cm Menarche
di atas bukit areola namun
penyebarannya
sebatas pubis
5 15 tahun atau Integrasi puting susu Tipe dewasa dan Mencapai Organ genital
lebih penyebarannya tinggi dewasa
hingga ke paha maksimal pada
sebelah dalam usia 16 tahun

Pengaruh hormonal

Perubahan yang terjadi selama pubertas, baik pemunculan karakter seks primer maupun
sekunder, semuanya diregulasi neurohormon. Ada banyak hormon yang mengatur hal
tersebut, dan cara kerjanya saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Secara garis besar terdapat tiga hirarki hormonal yang berperan saat pubertas pada wanita
yaitu (1) Gonadotopin-releasing hormone (GnRH) yang dihasilkan oleh hipotalamus, (2)
Follicle-stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH) yang dihasilkan oleh
hipofisis anterior sebagai respons atas GnRH, dan (3) Estrogen dan progesteron yang
dihasilkan oleh ovarium sebagai respons atas FSH dan LH.

1. Gonadotopin-releasing hormone (GnRH)

GnRH adalah hormon peptida yang dihasilkan oleh hipotalamus, yang menstimulasi sel-sel
gonadotrop pada hipofisis anterior. Di hipotalamus sendiri pengeluaran GnRH diatur oleh
nukleus arkuata. Neuron pada nukleus arkuata memiliki kemampuan untuk memproduksi dan
melepas gelombang GnRH ke hipofisis.
2. Gonadotopin

Gonadotropin pada wanita meliputi Follicle-stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing


hormone (LH). Baik FSH dan LH disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior pada usia
antara 9-12 tahun. Efek dari sekresi hormon tersebut adalah siklus menstruasi yang terjadi
pada usia sekitar 11-15 tahun. Periode ini dikatakan pubertas sedangkan siklus menstruasi
pertama disebut menarche.

FSH dan LH bekerja menstimulasi ovarium dengan berikatan pada reseptor FSH dan reseptor
LH. Reseptor yang teraktivasi akan meningkatkan laju sekresi sel, pertumbuhan, dan
proliferasi sel. Aktivitas ini diperantarai oleh cAMP.

• Follicle-stimulating hormone (FSH)

FSH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein, diproduksi di sel gonadotrop
hipofisis, distimulasi oleh hormon aktivin dan dihambat oleh hormon inhibin. FSH berfungsi
dalam pertumbuhan, perkembangan, maturasi saat pubertas, dan reproduksi.

Pada wanita, FSH menstimulasi maturasi sel-sel germinal, menstimulasi pertumbuhan folikel
terutama pada sel-sel granulosa dan mencegah atresia folikel. Pada akhir fase folikular kerja
FSH dihambat oleh inhibin dan pada akhir fase luteal aktivitas FSH kembali meningkat untuk
mempersiapkan siklus ovulasi berikutnya, demikian seterusnya.

Kerja FSH juga dihambat oleh estradiol (estrogen) yang dihasilkan oleh folikel matang
sehingga menyebabkan folikel tersebut dapat mengalami ovulasi sedangkan folikel lainnya
mengalami atresia.

• Luteinizing hormone (LH)

LH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein heterodimer, diproduksi di sel


gonadotrop hipofisis dan kerjanya tidak dipengaruhi oleh aktivitas aktivin, inhibin, dan
hormon seks.

Pada saat FSH menstimulasi pertumbuhan folikel, khususnya sel granulosa, maka
pengeluaran estrogen akan memicu munculnya reseptor untuk LH. LH akan berikatan pada
reseptornya tersebut dan estrogen akan mengirim umpan balik positif untuk mengeluarkan
lebih banyak lagi LH. Dengan semakin banyaknya LH, maka akan memicu ovulasi
(pengeluaran ovum) dari folikel sekaligus mengarahkan pembentukan korpus luteum. Korpus
luteum yang terbentuk akan menghasilkan progesteron yang berguna pada saat implantasi.

3. Estrogen dan progestin

Estrogen

Pada wanita yang sedang tidak hamil, estrogen diproduksi di ovarium dan korteks adrenal,
sedangkan pada wanita hamil estrogen juga diproduksi di plasenta. Ada tiga macam estrogen
yang terdapat dalam jumlah signifikan: β-estradiol, estrone, dan estriol. β-estradiol banyak
diproduksi di ovarium sedangkan estrone lebih banyak diproduksi di korteks adrenal dan sel-
sel teka. Adapun estriol adalah turunan β-estradiol dan estrone yang sudah dikonversi di hati.
Karena β-estradiol memiliki potensi estrogenik 12 kali lebih kuat dibanding estrone dan 80
kali lebih kuat dari estriol, maka β-estradiol dikatakan sebagai estrogen mayor.

Efek dari estrogen adalah menstimulasi proliferasi seluler dan pertumbuhan organ seks dan
jaringan lainnya terkait reproduksi. Berikut adalah efek estrogen secara spesifik:

• Uterus dan organ seks eksternal

Pada masa pubertas, estrogen diproduksi sekitar 20 kali lipat lebih banyak dibanding masa
prepubertas. Peningkatan kadar hormon ini, bersamaan dengan penimbunan lemak,
menyebabkan perubahan-perubahan spesifik yaitu pembesaran ovarium, tuba fallopi, uterus
dan vagina.

Estrogen juga mengubah epitel vagina dari epitel kuboid menjadi epitel bertingkat yang lebih
resisten terhadap trauma dan infeksi.

• Tuba fallopi

Estrogen menyebabkan proliferasi jaringan pada lapisan mukosa tuba fallopi. Selain itu
estrogen juga meningkatkan jumlah dan aktivitas sel-sel silia, yang penting dalam pergerakan
ovum yang telah difertilisasi.

• Payudara

Estrogen menyebabkan perkembangan jaringan stromal pada kelenjar payudara, pertumbuhan


sistem duktus, serta deposisi lemak. Lobulus-lobulus dan alveoli berkembang menjadi lebih
luas.

• Sistem rangka

Estrogen menghambat aktivitas osteoklas sehingga mengurangi penyerapan osteosit dan


meningkatkan pertumbuhan tulang. Estrogen juga menyebabkan penyatuan epifisis pada
tulang-tulang panjang. Diketahui bahwa efek estrogen pada wanita lebih kuat dibandingkan
efek testosteron pada pria, namun penghentiannya yang cepat menyebabkan wanita
cenderung lebih pendek dibanding pria.

• Deposisi protein

Estrogen menyebabkan peningkatan protein total tubuh, hal ini dibuktikan oleh
keseimbangan nitrogen yang lebih positif setelah pemberian estrogen. Namun jika
dibandingkan dengan testosteron, efek deposisi protein yang ditimbulkan oleh testosteron
lebih kuat dibandingkan estrogen.

• Metabolisme tubuh dan deposisi lemak

Estrogen meningkatkan laju metabolik tubuh, namun lebih lemah jika dibandingkan dengan
efek yang sama oleh testosteron pria. Selain itu estrogen juga meningkatkan jumlah lemak
subkutan dan mendeposisinya pada daerah-daerah tertentu seperti payudara, bokong, dan
paha sehingga memunculkan gambaran melekuk wanita yang khas.
• Distribusi rambut

Estrogen tidak memiliki efek besar terhadap pendistribusian rambut. Adapun tumbuhnya
rambut di daerah pubis dan aksila merupakan peran dari androgen adrenal.

• Kulit

Estrogen menyebabkan kulit wanita memiliki tekstur yang lembut dan halus namun lebih
tebal jika dibandingkan dengan kulit anak-anak. Selain itu estrogen juga menyebabkan kulit
menjadi lebih vaskular. Hal ini sering diasosiasikan dengan peningkatan suhu pada kulit dan
perdarahan yang lebih banyak jika terjadi sayatan pada kulit wanita dibandingkan dengan
kulit pria.

• Kesetimbangan elektrolit

Estrogen menyebabkan retensi air dan sodium oleh tubulus-tubulus ginjal.

Progestin

Progestin terpenting adalah progesteron. Pada wanita yang sedang tidak hamil, progesteron
diproduksi oleh korpus luteum pada paruh terakhir siklus ovarium. Fungsi progesteron
berdasarkan organ yang dipengaruhinya adalah:

• Uterus

Fungsi terpenting progesteron adalah meningkatkan perubahan sekretorik pada endometrium


uterin selama paruh akhir siklus seksual sehingga mempersiapkan uterus untuk implantasi
ovum. Selain itu progesteron juga mengurangi frekuensi dan intensitas kontraksi uterine,
sehingga dengan demikian mengurangi risiko terjadinya peluruhan ovum yang telah
diimplantasi.

• Tuba fallopi

Progesteron meningkatkan sekresi lapisan mukosa yang ada pada tuba fallopi. Sekresi ini
diperlukan untuk nutrisi ovum yang telah difertilisasi sebelum mengalami implantasi.

• Kelenjar payudara

Progesteron memicu perkembangan lobulus dan alveoli pada payudara, menyebabkan sel-sel
alveolar berproliferasi, membesar, dan menjadi sekretorik. Namun progesteron tidak berperan
dalam sekresi ASI.

Progesteron juga menyebabkan pembesaran kelenjar payudara karena peningkatan cairan di


jaringan subkutan.

4. Hormon lain

Selain dari hormon yang sudah disebutkan di atas, terdapat hormon lain yang juga berperan
dalam pubertas. Namun tidak seperti hormon di atas, hormon lain ini kurang/tidak
mempengaruhi perkembangan seks primer dan hanya mempengaruhi perkembangan karakter
seks sekunder.

• Prolaktin

Pada perkembangan kelenjar payudara di masa pubertas, hormon estrogen menstimulasi


perkembangan duktus sedangkan progesteron merangsang pembentukan lobulus-alveolus.
Keduanya tidak ada hubungannya dengan pengeluaran air susu. Maka untuk pengeluaran air
susu distimulasi oleh hormon ketiga, prolaktin.

Prolaktin merupakan hormon yang disekresikan oleh hipofisis anterior. Fungsi dari prolaktin
adalah menstimulasi ekskresi air susu. Selama paruh pertama kehamilan, kelenjar payudara
sebenarnya telah siap untuk memproduksi air susu, namun dihambat oleh estrogen dan
progesteron kehamilan. Setelah kehamilan selesai, barulah kelenjar payudara bisa
memproduksi air susu.

• Steroid adrenal

Steroid adrenal dihasilkan di korteks adrenal. Ada tiga hormon steroid adrenal, yaitu (1)
mineralkortikoid, terutama aldoseteron, untuk kesetimbangan mineral, (2) glukokortikoid,
terutama kortisol, untuk metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, serta (3) hormon seks
yang identik dengan yang dihasilkan oleh gonad (ovarium pada wanita).

Pada wanita, hormon seks yang dihasilkan oleh korteks adrenal ialah estrogen. Namun
jumlahnya jauh lebih sedikit daripada estrogen yang dihasilkan di ovarium sehingga tidak
terlalu bermakna. Selain itu, di korteks adrenal juga dihasilkan androgen
dehidroepiandrosteron (DHEA). Pada pria, DHEA ini tidak bermakna karena dikalahkan oleh
testosteron. Namun pada wanita (yang kurang memiliki androgen), DHEA ini memiliki
makna fisiologis yaitu pertumbuhan rambut pubis dan aksila, pacu tumbuh pubertas serta
perkembangan dan pemeliharaan dorongan seks wanita.

• Growth hormone (GH)

GH, selain berfungsi sebagai hormon pertumbuhan, juga memiliki efek pada pubertas. GH
menstimulasi diferensiasi sel granulosa yang diinduksi oleh FSH, meningkatkan level IGF-1
di ovarium dan meningkatkan respons ovarium terhadap gonadotropin

• Insulin-like growth factor-1 (IGF-1)

IGF-1 meningkatkan efek gonadotropin pada sel granulosa dan bekerja secara sinergis
dengan GH untuk maturasi ovarium postmenarche.

• Insulin

Pada waktu pubertas terjadi lonjakan kadar insulin plasma. Diketahui insulin memiliki
korelasi positif kuat dengan IGF-1