Anda di halaman 1dari 14

REGENERASI

LAPORAN PRAKTIKUM
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Struktur dan Perkembangan Hewan

yang Dibina oleh Dr. H. Abdul Gofur, M.Si.

Oleh :
Kelompok 5 / Offering A
Bela Mulia Wati (170341615024)
Fadillah Eka Wulandari (170341615061)
Faisal Falah (170341615090)
Noviansyah Kusmahardhika (170341615112)
Titania Arenda (170341615044)
Wachidah Hayuana (170341615105)
Windhi Agustin R. (170341615089)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
DESEMBER 2018
A. TOPIK
Regenerasi
B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum adalah diharapkan mahasiswa memiliki
pemahaman yang lebih baik mengenai konsep-konsep perkembangan pada
hewan dewasa, regenerasi dan proses regenerasi.
C. DASAR TEORI

Regenerasi merupakan pengaktifan kembali jarangan postemrbyonic


untuk memulihkan kembali jaringan yang hilang atau rusak,yang berarti
jaringan yang rusak tersebut dapat dipulihkan kembali,jaringan yang
mengalami kerusakan di hilangkan dan diganti dengan jaringan yang baru
(Gilbert et al,2016). Kemampuan regenerasi pada setiap individu
berbeda,sehingga waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan jaringan yang
rusak atau hilang tersebut berbeda-beda waktunya,hal ini juga dapat
dipengaruhi oleh tipe jaringan yang rusak atau hilang tersebut (Gilbert et
al,2016).
Kemampuan menumbuhkan kembali bagian tubuh yang hilang ini
disebut regenerasi. Kemampuan setiap hewan dalam melakukan regenerasi
berbeda-beda. Hewan avertebrata mempunyai kemampuan regenerasi yang
lebih tinggi dari pada hewan vertebrata (Majumdar, 1985). Menurut Balinsky
(1981),suatu organisme khususnya hewan memiliki kemampuan untuk
memperbaiki struktur atau jaringan yang mengalami kerusakan akibat
kecelakaan yang tidak disengaja karena kondisi natural atau kerusakan yang
disengaja oleh manusia untuk keperluan penelitian atau experimen. Hilangnya
bagian tubuh yang terjadi ini setiap saat dapat muncul kembali, dan dalam
kasus ini proses memperbaiki diri ini kita sebut sebagai regenerasi.
Proses regenerasi dalam banyak hal mirip dengan proses
perkembangan embrio. Pembelahan yang cepat, dari sel-sel yang belum
khusus timbullah organisasi yang kompleks dari sel-sel khusus. Proses ini
melibatkan morfogenesis dan diferensiasi seperti perkembangan embrio akan
tetapi paling tidak ada satu cara proses regenerasi yang berbeda dari proses
perkembangan embrio.
Kemampuan regenerasi dari hewan-hewan yang berbeda dapat
dibedakan, hal ini tampak dengan adanya beberapa hubungan antara
kompleksitas dengan kemampuan untuk regenerasi. Daya regenerasi spons
hampir sempurna. Regenerasi pada manusia hanya terbatas pada perbaikan
organ dan jaringan tertentu. Kemampuan hewan untuk meregenerasi bagian-
bagian yang hilang sangat bervariasi dari spesies ke spesies. Hewan
avertebrata seperti cacing tanah, udang, ikan, salamander dan kadal tidak
mempunyai daya regenerasi yang dapat meregenerasi seluruh organisme,
melainkan hanya sebagian dari organ atau jaringan organisme tersebut
(Kimball, 1992).
Regenerasi yang terjadi pada hewan dapat dilakukan dengan tiga cara.
Pertama regenerasi epimorfosis, yang mana pada regenerasi ini melibatkan
dediferensiasi struktur dewasa untuk membentuk masa sel yang belum
terdiferensiasi yang kemudian direspesifikasi. Regenerasi ini khas pada
membra, contohnya regenerasi pada kaki kecoa. Tipe regenerasi yang kedua
adalah regenerasi morfolaksis yang terjadi lewat pemulihan kembali jaringan
yang masih ada (tersisa), yang tidak disertai dengan pembelahan sel.
Contohnya adalah hydra. Regenerasi yang ketiga yaitu regenerasi intermediet,
yang diduga sebagai regenerasi kompensatori. Regenerasi ini sel-selnya
membelah, tetapi mempertahankan fungsi yang telah terdiferensiasi. Mereka
memproduksi sel-sel serupa pada dirinya sendiri dan tidak membentuk masa
jaringan yang belum terdiferensiasi. Tipe regenerasi kompensatori ini khas
pada hati manusia (Soeminto, 2000).
D. ALAT DAN BAHAN
Alat
- Akuarium
- Papan seksi
- Penggaris
- Gunting
- Skapel
- Kaca Pembesar
Bahan
- Ikan cupang (Betta sp.) berekor panjang
- Pakan ikan
- Air ledeng
E. PROSEDUR KERJA
Pemotongan Ekor Ikan :

Meletakkan ikan dengan hati- hati diatas papan bedah

Menghitung panjang ekor

Memotong tiga ekor ikan dengan gunting dengan pola dipotong pada bagian ujung,
bagian tengah, dan secara lurus dari atas hingga bawah

Mengembalikan ikan ke akuarium, dan memelihara dengan baik.

Pengamatan Tahap Regenerasi :

Melakukan pengamatan terhadap proses regenerasi dari ekor yang dipotong setiap
hari hingga dua minggu

Mencatat perkembangan yang berkaitan dengan proses regenerasi ekor ikan

F. HASIL PENGAMATAN
1. Perlakuan I Pemotongan bagian ujung atas ekor ikan cupang (Betta
trifasciata)
Waktu Panjang awal sebelum Panjang setelah
(Hari) dipotong (cm) dipotong (cm)
0 1,7 1
1 1,7 1
2 1,7 1
3 1,7 1,1
4 1,7 1,2
5 1,7 1,2
6 1,7 1,3
7 1,7 1,4
8 1,7 1,5
9 1,7 1,5
10 1,7 1,6
11 1,7 1,6
12 1,7 1,7
13 1,7 1,7
14 1,7 1,7

2. Perlakuan II Pemotongan bagian tengah ekor ikan cupang (Betta


trifasciata) secara melengkung
Waktu Panjang awal sebelum Panjang setelah
(Hari) dipotong (cm) dipotong (cm)
0 2 1,3
1 2 1,3
2 2 1,3
3 2 1,3
4 2 1,4
5 2 1,4
6 2 1,5
7 2 1,5
8 2 1,6
9 2 1,6
10 2 1,6
11 2 1,6
12 2 1,7
13 2 1,7
14 2 1,8

3. Perlakuan III Pemotongan ekor ikan cupang secara lurus dari atas hingga
bawah (Betta trifasciata)
Waktu Panjang awal sebelum Panjang setelah
(Hari) dipotong (cm) dipotong (cm)
0 1,5 0,9
1 1,5 0,9
2 1,5 1
3 1,5 1,1
4 1,5 1,1
5 1,5 1,2
6 1,5 1,2
7 1,5 1,3
8 1,5 1,4
9 1,5 1,4
10 1,5 1,5
11 1,5 1,5
12 1,5 1,5
13 1,5 1,6
14 1,5 1,7

G. ANALISIS DATA
1. Perlakuan I pada praktikum regenerasi ekor ikan cupang (Betta
trifasciata)
Dilakukan dengan memotong ekor di bagian ujung atas sehingga
potongan ekornya membentuk segitiga. Pada perlakuan ini ikan memiliki
panjang ekor sebelum dipotong 1,7 cm. Setelah dipotong bagian ujung
atasnya menjadi 1 cm. Hasil pengamatan menunjukan, satu hari setelah
pemotongan ekor ikan belum mengalami perubahan panjang.
Pertumbuhan kembali ekor ikan ditunjukkan pada hari ke tiga setelah
pemotongan. Pada hari ke tiga ekor ikan bertambah 0,1 cm sehingga
menjadi 1 cm. Pertambahan panjang 0,1 cm ini terlihat berbeda dengan
warna ekor sebelumnya, yaitu lebih putih dan lebih tipis dari
sebelumnya. Pada hari ke dua. Hari ke-4 setelah pemotongan ekor ikan
bertambah panjang menjadi 1,2 dan kembali bertambah menjadi 1,3 pada
hari ke-6. Hari ke-7 bertambah 0,1 cm lagi menjadi 1,4 cm. Pada hari ke-
8 panjang ekor ikan menjadi 1,5 dan pada bertambah 0,1 cm lagi pada
hari ke 10. Selanjutnya pertambahan panjang ekor ikan bertambah
menjadi 1,7 pada hari ke-12. Pada hari ke-12 ini ekor ikan yang baru
telah memiliki warna yang sama dengan ekor sebelumnya, namun ekor
ikan tidak lagi bertambah panjang sampai pada hari ke 14. Dari data hasil
pengamatan tidak setiap hari ekor ikan yang telah dipotong mengalami
pertambahan panjang. Pengamatan menunjukan bahwa pemotongan ekor
ikan pada bagian ujung atas menghasilkan pangjang ekor yang sama
dengan pangjang ekor sebelumnya yaitu 1,7 cm.
2. Perlakuan II Pemotongan bagian tengah ekor ikan cupang (Betta
trifasciata) secara melengkung
Ikan cupang yang diberi perlakuan kedua yaitu pemotongan bagian
tengah ekor ikan secara lengkung memiliki panjang ekor awal 2
cm.Setelah dipotong bagian tengah ekor ikan menjadi 1,3 cm. Hari
pertama setelah dipotong secaar melengkung bagian tengahnya, belum
terjadi pertambahan panjang ekor. Pada hari ke-4 setelah pemotongan
terdapat selaput dengan warna lebih putih dan transparan pada bagian ekor
ikan yang dipotong sehingga panjang ekor bertambah 0,1 cm menjadi 1,4
cm. pertambhan panjang selanjutnya terjadi pada hari ke-6 setelah
pemotongan menjadi 1,5 cm. Hari ke 8 ekor ikan bertambhan panjang
menjadi 1,6 cm, hingga hari ke-11 ekor ikan tetap 1,6 cm. Pada hari ke 12
ekor kembali bertambah menjadi 1,7 cm dan hari ke-14 ekor ikan
bertambah panjang menjadi 1,8 cm. Sebelum dipotong ikan memiliki
panjang ekor 2 cm dan pada hari ke-14 setelah pemotongan ekor ikan
memiliki panjang 1,8 cm. Berdasarkan data hasil pengamatan tersebut
regenerasi pada ekor ikan dengan pola pemotongan melengkung di bagian
ekor ikan hingga dua minggu setelah pemotongan panjang ekor belum
dapat kembali seperti panjang ekor sebelum dipotong.
3. Perlakuan III Pemotongan ekor ikan cupang secara lurus dari atas hingga
bawah (Betta trifasciata)
Pada perlakuan III ekor ikan dipotong lurus dari ujung atas sampai
bawah secara rata. Sebelum dipotong ekor ikan berukuran 1,5 dan setelah
dipotong panjang ekor ikan menjadi 0,9 cm. Hari pertama setelah
pemotongan tidak terjadi perubahan panjang. Perubahan panjang terjadi
pada hari ke-2 setelah pemotongan. Ekor ikan bertambah 0,1 cm denagn
warna yang putih dan terlihat lebih tipis dari ekor sebelumnya. Hari ke-5
setelah pemotongan panjang ekor mengalami pertambahan panjang 0,1 cm
lagi, sehingga panjang ekor ikan menjadi 1,2 cm. Pada hari ke-7 ekor ikan
bertambah panjang menjadi 1,3 cm. pada hari ke-8 panjang ekor ikan
bertambah panjang menjadi 1,4 cm. dan kembali bertambah pada hari ke-
10 menjadi 1,5 cm dan warna ekor yang baru telah sama dengan ekor
sebelumnya. Pada hari ke-11 dan 12 tidak terjadi pertambahan panjang.
Hari ke-13 ekor ikan bertambah panjang menjadi 1,6 cm dan bertambah
lagi pada hari ke 14 menjadi 1,7 cm. Data hasil pengamatan menunjukkan
bahwa pemotongan ekor ikan dengan pola lurus dari atas ke bawah secara
merata, pada hari ke-14 setelah pemotongan panjang ekor yang mengalami
regenerasi lebih dari panjang ekor awal sebelum dipotong.
H. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini mengenai regenerasi ekor ikan cupang
(Betta trifasciata), ekor akan dipotong pada tipe potongan yang berbeda.
Pada perlakuan pertama ekor ikan cupang akan dipotong pada bagian
ujung atas, pada perlakuan kedua ekor akan dipotong pada bagian tengah
dan pada perlakuan tiga ekor akan dipotong lurus dari atas hingga ke
bawah. Pada perlakuan ini berdasarkan hasil yang diperoleh rata-rata
pertumbuhan ekor baru sekitar 0,1 cm. Pada dasarnya Menurut Kimbal
(1993), regenerasi melalui beberapa tahapan, yaitu :
1. Luka akan tertutup oleh darah yang mengalir, lalu membeku
membentuk scab yang bersifat sebagai pelindung.
2. Sel epitel bergerak secara amoeboid menyebar di bawah permukaan
luka, di bawah scab. Proses ini membutuhkan waktu selama dua hari,
dimana pada saat itu luka telah tertutup oleh kulit.
3. Diferensiasi sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi bersifat
muda kembali dan pluripotent untuk membentuk berbagai jenis
jaringan baru. Matriks tulang dan tulang rawan akan melarut, sel-
selnya lepas tersebar di bawah epitel. Serat jaringan ikat juga
berdisintegrasi dan semua sel-selnya mengalami diferensiasi.
Sehingga dapat dibedakan antara sel tulang, tulang rawan, dan
jaringan ikat. Setelah itu sel-sel otot akan berdiferensiasi, serat
miofibril hilang, inti membesar dan sitoplasma menyempit.
4. Pembentukan kuncup regenerasi (blastema) pada permukaan bekas
luka. Pada saat ini scab mungkin sudah terlepas. Blastema berasal
dari penimbunan sel-sel diferensiasi atau sel-sel satelit pengembara
yang ada dalam jaringan, terutama di dinding kapiler darah. Pada
saatnya nanti, sel-sel pengembara akan berproliferasi membentuk
blastema.
5. Proliferasi sel-sel berdiferensiasi secara mitosis, yang terjadi secara
serentak dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu
blastema mempunyai besar yang maksimal dan tidak membesar lagi.
6. Rediferensiasi sel-sel dediferensiasi, serentak dengan berhentinya
proliferasi sel-sel blastema tersebut. Sel-sel yang berasal dari
parenkim dapat menumbuhkan alat derifat mesodermal, jaringan
saraf dan saluran pencernaan. Sehingga bagian yang dipotong akan
tumbuh lagi dengan struktur anatomis dan histologis yang serupa
dengan asalnya.
Regenerasi pada ikan merupakan regenerasi epimorfik karena
melibatkan penutupan permukaan luka yang rusak oeh sel epitel. Pada
saat regenrasi akan terbentuk sel-sel blastema sebagai penanda adanya
regenerasi. Timbulnya sel-sel balstema tergantung pada bagian yang
mengalami pemotongan. Pada perlakuan pertama akan muncul pada
bagian ujung atas dari ekor ikan sedangkan pada perlakuan dua akan
muncul pada bagian tengah. Cepat lambatnya proses regenerasi
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain temperatur, sistem saraf,
asupan makanan, dan faktor umur (Nambiar et al., 2008). Pada
pengamatan kali ini, pertumbuhan ekor pada perlakuan cukup baik dan
konstan yaitu berkisar 0,1 cm setiap hari. Selanjutnya yaitu temperatur,
menurut Soeminto (2000) kenaikan temperatur akan mempercepat proses
regenerasi. Regenerasi menjadi lebih cepat pada suhu 29,70C. Pada
praktikum kali ini kami tidak mengukur temperatur yang ada pada ruang
penyimpanan dan ruang memiliki suhu berkisar pada suhu ruang saja.
Kecepatan regenerasi juga dipengaruhi oleh umur organisme, semakin
organisme makin tua, maka daya regenerasi makin berkurang (Soeminto,
2000). Pada praktikum kali ini, ikan yang digunakan merupakan ikan yang
masih muda sehingga daya regenerasi dapat masih tinggi. Pada akhir
pengamatan yaitu hari ke 14, pada perlakuan satu dan dua, panjang ekor
kembali seperti semula saat ekor belum dipotong.

Pada pemotongan secara lurus dari atas hingga bawah pada awal
pemotongan panjang ekor 0,9mm setelah dipotong dan setelah dua
minggu terjadi perbaikan panjang ekor pada ikan dengan rata- rata
pertambahan panjang sepanjang 0.1 mm. Pada awal tahapan regenerasi
menurut (Katogi, R, et al. 2004) terjadi proses penyembuhan luka. Dalam
waktu satu jam pertama setelah ekor dipotong, sel epitel mulai berimigrasi
sebagai lembar dan mulai menutupi pada jaringan mesenchymal. Selama
proses ini banyak yang rusak dan sel-sel yang terluka menjadi apoptosis
dan dihilangkan dari lokasi amputasi. Setelah itu, pada lokasi yang
dipotong akan menjadi meradang dan proses penyembuhan dimulai dan
akan terbentuk blastema (Katogi, R, et al. 2004).

Setelah pembentukan blastema makan akan terjadi pertumbuhan


regenerative yaitu pembentukan pembuluh darah yang berkumpul pada
ujung jari- jari. (Izza, 2010). Pada saat ini pula blastema akan
berdiferensiasi menjadi sel skleroblas dan sel fibroblast didahului dengan
pemenjangan pada posisi awal. Pada pengamatan tiga panjang akhir
melebihi panjang sebelum pemotongan hal ini bisa saja terjadi karena
dimungkinkan ikan yang dipotong masih dalam tahap pertumbuhan.

Faktor- faktor yang mempengaruhi regenerasi adalah faktor


internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi gen dan hormon,
sedangkan faktor eksternal adalah air, makanan, dan cahaya.

I. JAWABAN DISKUSI

Soal Diskusi :
1. Jelaskan bagaimana ekor ikan dapat kembali utuh bentuk dan warnanya
setelah di potong!
2. Berapa lamakah ekor ikan (akan) mencapai ukuran dan bentuk seperti
semula?
3. Proses manakah yang terjadi lebih awal, pertumbuhan ataukah
diferensisasi bagian yang baru terbentuk? Sertai penjelasan anda dengan
bukti!
Jawaban :
1. Ekor ikan dapat kembali utuh bentuk dan warnanya setelah dipotong
disebabkan adanya mekanisme proses regenerasi dimana regenerasi
merupakan pengaktifan kembali jarangan postembryonic untuk
memulihkan kembali jaringan yang hilang atau rusak, yang berarti
jaringan yang rusak tersebut dapat dipulihkan kembali, jaringan yang
mengalami kerusakan di hilangkan dan diganti dengan jaringan yang baru.
Tipe regenerasi dari ekor ikan adalah epimorfik dimana memiliki
mekanisme regenerasi yang diawali penutupan luka yang rusak oleh sel
epitel, kemudian terbentuk blastema plurinutrien, selanjutnya melalui
tahap perkembangan regenerative, dan dilanjutkan dengan rediferensiasi
organ
2. Lama ekor ikan (akan) mencapai ukuran dan bentuk seperti semula adalah
menurut (Sari.N.K, 2010) waktu regenerasi yang dibutuhkan sirip ekor
hingga pulih seperti semula pada suhu 22-31°C adalah 22,25 ± 1,63 hari
untuk model pemotongan vertikal dan 23,67 ± 0,94 hari untuk model
pemotongan diagonal. Hal ini menandakan bahwa pola potongan dapat
mempengaruhi lama regenerasi ekor ikan. Selain itu faktor faktor seperti
temperature dan nutrisi makanan juga mempengaruhi lama dari regenerasi
ekor ikan
3. Proses yang terjadi lebih awal adalah diferensiasi hal ini karena proses
regenerasi diawali dengan peristiwa penyembuhan luka yang kemudian
diikuti dengan pembentukan blastema dan bakal jari-jari dan dilanjutkan
diferensiasi yang ditandai dengan terjadinya proses angiogenesis. Steleha
itu baru adanya pertumbuhan denganadanya perkembangan regeneratif
dimulai dengan pembentukan jari-jari dan pertumbuhan daerah perifer
sirip ekor. Hal ini menunjukkan bahwa proses regenerasi sirip ekor untuk
mencapai bentuk semula adalah membentuk struktur sirip ekor sejak awal
proses regenerasi. Proses akhir regenerasi sirip ekor ikan yang termasuk
dalam perkembangan regeneratif adalah pembentukan ruas jari-jari

J. KESIMPULAN
Regenerasi merupakan suatu proses pembentukan kembali atau
memperbaiki bagian tubuh yang hilang atau rusak pada organisme. Ikan
cupang mampu mengganti bagian sirip yang rusak hingga terbentuk sirip yang
utuh lagi. Proses regenerasi pada sirip ikan cupang adalah dengan tetap
mempertahankan polaritas tubuh. Bagian yang rusak akan terus berkembang
hingga tahapan pembentukan selesai. Tahapan regenerasi pada ikan cupang
adalah penyembuhan luka, penutupan luka, diferensiasi jaringan, serta
regenerasi jaringan.
DAFTAR PUSTAKA

Balinsky, B.I. 1976. An Introduction Embryology 4 th ed, W.B. saunders Co.


Philadelphia, London.
Izza,N. 2010. Ikan gatul ( poecilla sp). Sebagai Kadidat Hewan Model: Proses
Regenerasi Sirip Kaudal. Skripsi. FMIPA.Malang: Universitas Negeri
Malang.
Katogi, R, et al. 2004. Large-scale Analysis of The Genes in Fin-Regeneration
and Blastema Formation in Te Medaca. Oryzia latipes : Development,
4529:226-501
Kimball, John W. 1992. Biology. New York: Addison-Wishley Publishing
Company Inc.
Majumdar, N.N. 1985. Text Book of Vertebrae Embriology. New Delhi: Mc
Graw-Hill Pusblishing Company Limited
Nambiar,V.V., I.Y Bhatt., P.A. Deshmukh., R.R.Jape., H.R.Kacale,S.S.Prakashka
dan A.V Ramachandran. 2008. Assessment of Extracellular Matrix
Remodeling During Tail Regeneration in the Lizard Hemidactylus
flaviviridis. Journal of Endocrinol Reproduction, 12(2):67-72.
Scott F. Gilbert,Michael J.F. Barresi.2016.Developmental biology 11th
edition.Sinauer Associates
Soeminto. 2000. Embriologi Vertebrata. Purwokerto: Fakultas Biologi UNSOED.
Tenzer, A., Handayani, N., Lestari, U., Listyorini, D., Judani, T., Gofur A. 2001.
Petunjuk Praktikum Perkembangan Hewan. Malang: Universitas Negeri
Malang.
LAMPIRAN

Perlakuan I, pemotongan bagian ujung


atas ekor ikan cupang (Betta
trifasciata)

Perlakuan II, pemotongan bagian


tengah ekor ikan cupang (Betta
trifasciata) secara melengkung

Perlakuan III, pemotongan ekor ikan


cupang secara lurus dari atas hingga
bawah (Betta trifasciata)