Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN LENGKAP

PRAKTIKUM BIOKIMIA KLINIK

PERCOBAAN

“PEMERIKSAAN FUNGSI HATI: GLUTAMAT PIRUVAT

TRANSMINASE (GPT) & GLUTAMAT OXALOACETATE

TRANSMINASE (GPT)”

OLEH :

KELAS FARMASI B

ASISTEN PENANGGUNG JAWAB:

ANDI AFIFAH HIJRIYAH ARHAM

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

SAMATA-GOWA

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hati merupakan organ padat yang terbesar yang letaknya di rongga perut

bagian kanan atas.Organ ini mempunyai peran yang penting karena merupakan

regulator dari semua metabolisme karbohidrat, protein dan lemak.Tempat sintesa

dari berbagai komponen protein, pembekuan darah, kolesterol, ureum dan zat-zat

lain yang sangat vatal.Selain itu, juga merupakan tempat pembentukan dan
penyaluran asam empedu serta pusat pendetoksifikasi racun dan penghancuran

(degradasi) hormon-hormon steroid seperti estrogen.

Tes fungsi hati atau lebih dikenal dengan liver panel atau liver function

test adalah sekelompok tes darah yang mengukur enzim atau protein tertentu di

dalam darah anda. Tes fungsi hati umumnya digunakan untuk membantu men-

deteksi, menilai dan memantau penyakit atau kerusakan hati.Biasanya jika untuk

memantau kondisi hati, tes ini dilakukan secara berkala.Atau dilakukan juga

ketika Anda memiliki risiko perlukaan hati, ketika Anda memiliki penyakit hati,
atau muncul gejala-gejala tertentu seperti jaundice (ikterus).

Amino transferase adalah sekelompok enzim yang bekerja sebagai

katalisator dalam proses pemindahan gugus amino dari suatu asam alfa amino

kepada suatu asam alfa keto Transaminase termasuk enzim plasma non fungsional

dengan tidak melakukan fungsi fisiologik di dalam darah. Dua macam enzim

aminotransferase yang sering digunakan dalam diagnosis klinik kerusakan sel hati

adalah Aspartat Aminotransferase (AST) yang disebut SGOT (Serum Glutamic

Oxaloasetic Transaminase) dan Alanin Aminotransferase (ALT) yang juga disebut

SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase ).


AST/SGOT adalah enzim yang sebagian besar terdapat dalam otot jantung

dan hat, sebagian lagi ditemukan dalam otot rangka, ginjal dan pancreas.Pelepasan

enzim yang tinggi dalam serum menunjukkan adanya kerusakan terutama pada

jaringan jantung dan hati.ALT/SGPT adalah suatu enzim yang ditemukan

terutama pada sel-sel hepar, efektif dalam mendiagnosa kerusakan hepatoseluler.

Karena faal hati dalam tubuh mempunyai multifungsi maka tes faal hati

pun beraneka ragam sesuai dengan apa yang hendak dinilai. Dan ketika sel-sel

atau jaringan hati mengalami kerusakan dapat dilakukan pemeriksaan SGOT

(Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamic Piruvic

Transaminase). Kedua enzim ini terdapat dalam sel-sel hati, otot jantung, ginjal,

otot rangka dan otak.

B. Maksud dan Tujuan Percobaan

1. Maksud percobaan

Mengetahui dan memahami pemeriksaan SGOT dan SGPT dalam serum

serta menginterpretasikan kemungkinan penyakit yang diderita.

2. Tujuan percobaan

Untuk menentukan nilai kadar SGOT dan SGPT dalam serum darah

dengan metode spektrofotometer.

C. Prinsip Perobaan

1. Preparasi sampel darah

Penentuan preparasi sampel darah dimasukkan dalam tabung tutup merah,

dicentifuge setelah itu diambil serum darah.

2. Identifikasi SGOT/SGPT

Penentuan identifikasi SGOT/SGPT yaitu dengan cara serukm

ditambahkan reagen SGOT/SGPT selama 5 menit (35º C), ditambahakan reagen II


SGOT/SGPT dinkubasi selama 1 menit lalu diukur absorbansinya (λ = 340 nm)

pada menit ke 1, 2 dan 3.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Fungsi utama hati yaitu untuk pembentukan dan eksresi empedu,

metabolisme karbohidrat, metabolisme protein, metabolisme lemak, penimbunan

vitamin dan mineral, metabolisme steroid, detoksifikasi, gudang darah dan filtrasi

(Pearce, 2013: 476).

SGOT merupakan singakatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic

Transminase. Beberapa laboratorium sering juga memakai istilah AST (Aspartate

Aminotransferase). SGOT merupakan enzim yang tidak hanya terdapar di hati,

melainkan juga terdapat di otot jantung, otak, ginjal dan otot rangka (Bastiansyah,

2008: 53).

SGOT merupakan enzim hati yang terdapat di dalam sel parenkim hati.

SGOT akan meningkat kadarnya di dalam darah apabila terdapat kerusakan hati.

Tujuan dari pengamatn SGOT adalah untuk mengetahui seberapa besar kerusakan

hati yang disebabkan oleh diabetes mellitus dan penyakit lainnya (Firdaus, 2017:

117)

Adanya kerusakan pada hati, otot jantung, otak, ginjal dan rangka bisa

dideteksi dengan mengukur kadar SGOT. Pada kasus seperti alkohol, radang

pankreas, malaria, infeksi lever stadium akhir, adanya penyumbatan pada saluran

empedu, kerusakan otot jantung, orang-orang yang selalu mengomsumsi obat-

obatan seperti antibiotik dan obat TBC. Kadar SGOT bisa meninggi bahakan bisa

menyamai kadar SGOT penderita hepatitis. Kadar SGOT dianggap abnormal jika

nilainya 2-3 kali lebih besar dari nilai normalnya (Bastianyah, 2008: 53).

Aspartat aminotransferase (AST) atau glutamate oksalo-asetat transferase

(SGOT). Reaksi antara asam aspartat dan asam alfaketoglutamat membentuk


ASAT. Enzim ini lebih banyak digunakan dijantung dari pada dihati, juga otot

rangka, ginjal dan otak. Apabila terjadi kerusakan pada hati, enzim ini akan masuk

ke sirkulasi darah sehingga bahan pemeriksaan dapat berupa serum (Kurniawan,

2014: 76).

Pada kelainanan saluran empedu yang terlihat mencolok adalah peninggian

fosfatase alkali gamma GT. Peninggian SGOT dan SGPT dapat terlihat pada

penyumbatan akut atau apabila terdapat bendungan yang sudah lama sehingga

terjadi kerusakan parenkim hati. Pada kelainan batu empedu biasanya tdak akan

ditemukan peninggian SGOT dan SGPT (Sudoyo, 2015: 642)

SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamik Piruvat Transaminase ,

SGPT atau juga dinamakan ALT (Alanin Aminotransferase) merupakan enzim

yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi

hepatoselular. Enzim ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung,

ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada

SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan pada proses kronis

didapat sebaliknya (Raymond, 2008: 10-11).

Enzim Transaminase atau disebut juga enzim aminotransferase adalah

enzim yang mengkatalisis reaksi transaminasi.Terdapat dua jenis enzim serum

transaminase yaitu serum glutamat oksaloasetat transaminase dan serum glutamat

piruvat transaminase (SGPT).Pemeriksaan SGOT adalah indikator yang lebih

sensitif terhadap kerusakan hati dibanding SGPT. Hal ini dikarenakan enzim GOT

sumber utamanya di hati, sedangkan enzim GPT banyak terdapat pada jaringan

terutama jantung, otot rangka, ginjal dan otak (Cahyono, 2009 :11-15).

Enzim SGOT dan SGPT mencerminkan keutuhan atau intergrasi sel-sel

hati.Adanya peningkatan enzim hati tersebut dapat mencerminkan tingkat


kerusakan sel-sel hati. Makin tinggi peningkatan kadar enzim SGOT dan SGPT,

semakin tinggi tingkat kerusakan sel-sel hati (Cahyono, 2009: 11-15).

SGOT atau AST harga normalnya pada laki-laki 5-17 U/L, pada

perempuan 5-15 U/L. SGOT dalam darah meninggi biasanya karena ada hemolisis

dan pada bayi baru lahir. Kenaikan 10-100 kali lipat dari normal bila terjadi Infark

yang disebabkan oleh otot jantung, Hepatitis yang disebabkan oleh virus, Nekrosis

yang disebabkan oleh sel hati karena keracunan dan sirkulasi darah terganggu

sehingga dapat terjadi shock atau hipoksemia (Darmanto, 2001: 60)

SGPT dalam darah harga normalnya pada laki-laki 5-23 U/L, pada

perempuan 5-19 U/L. SGPT dalam darah meningkat biasanya karena ada hepatitis

yang disebabkan oleh virus, nekrosis sel hati karena keracunan, dan shock atau

hipoksemia (Darmanto,2001: 61)

B. Uraian Bahan

1. Aquadest (Dirjen POM, 2014:63)

Nama resmi : AQUA DESTILLATA

Nama lain : Aqua depurata, air murni, air suling, purified water

Rumus molekul : H2O

Rumus struktur : H-O-H

Berat molekul : 18,02

Pemerian : cairan bening, tidak berasa dan tidak berbau

Kegunaan : Sebagai pelarut

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

2. Serum darah (Pearce, 2013: 158)


Air : 91,0%
Protein : 8,0% (albumin, globulin, protromblin dan
fibrinigen)
Mineral : 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat,
garam kalsium, fosfor, magnesium, besi dan
seterusnya).
Bahan Organik : Glukosa, lemak, urea, asam urat, kreatinin,
kolesterol dan asam amino.

3. Reagen SGOT (Chakravarti, 2005: 106)

Reagen I (buffer/substrate)

a. Phospate buffer (Ph 7,4) 80 mmol/L

b. L-Aspartate 200 mmol/L


Reagen II (enzyme/ substrate)

a. MDH 0,6 U/ml

b. LDH 1,2 U/ml

c. NADH 0,18 mmol/L

d. 𝛼-oxaloglutamate 12mmol/L

4. Reagen SGPT (Chakravarti, 2005: 107)

Reagen I (buffer/sustrate)

a. Phospate buffer (ph 7,4) 80 mmol/L


b. L-Alanine 0,8 mmol/L

Reagen II (Enzyme/substrate)

a. LDH 12 U/ml

b. NADH 0,18 U/ml

c. 𝛼-oxaloglutarate 12 mmol/L
BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan adalah centrifuge, erlenmeyer, gelas ukur, pipet

mikro, spoit, spektrofotometer UV-Vis, stopwatch, tabung centifuge dan tabung

tutup merah.

2. Bahan

Bahan yang digunakan adalah aquadest, reagen SGOT/SGPT dan serum

darah

B. Cara Kerja

1. Preparasi sampel darah

a. Disipakan alat dan bahan

b. Diambil darah probandus

c. Dimasukkan dalam tabung tutp merah

d. Dicentrifuge (300 rpm) selama 15 menit

e. Diambil serum darah sebanyak 100 𝜇𝑙

2. Identifikasi SGOT/SGPT

a. Disiapkan alat dan bahan

b. Ditambahakn 1000 𝜇𝑙 reagen I SGOT/SGPT

c. Diinkubasi selama 5 menit (35º C)

d. Ditambahkan reagen II SGOT/SGPT 250 𝜇𝑙

e. Dinkubasi selama 1 menit

f. Diukur absorbansi pada panjang gelombang (λ) 340 nm dengan blanko

aquadest

g. Diukur absorbansi setiap menit 1, 2 dan 3


h. Dihitung aktivitas SGOT/SGPT
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Tabel pengamatan

a. SGOT
Absorbansi
Sampel
1 2 3

Raffiu I 0,519 0,519 0,517

Raffiu II 0,681 0,674 0,673

Raffiu III 0,742 0,741 0,736

Ade IV 0,721 0,718 0,717

Ade V 1,733 1,709 1,688

b. SGPT
Absorbansi
Sampel
1 2 3

Raffiu I 0,232 0,230 0,225

Raffiu II 0,590 0,589 0,588

Raffiu III 0,626 0,625 0,625

Ade IV 0,669 0,663 0,663

Ade V 1,397 1,381 1,377

2. Reaksi

a. SGOT
𝐺𝑂𝑇
𝛼-oxaloacetate + L-aspartate ↔ L-glutamat + oxaloacetat
𝑀𝐷𝐻
oxaloacetat + NADH ↔ L-malate + NAD
b. SGPT
𝐺𝑃𝑇
𝛼-oxoglutarate + L-alanin ↔ L-glutamat + pyruvate
𝐿𝐷𝐻
Pyruvate + NADH ↔ L-lactate + NAD

3. Perhitungan

a. SGOT

1) Raffiu I

∆𝐴1 = A1-A2

= 0,519 – 0,519

=0

∆𝐴2 = A3-A2

= 0,517 – 0,519

= 0,002

Aktivitas GOT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)


(0+0,002)
= x 952
2

= 0,952 IU/L

2) Raffiu II

∆𝐴1 = A1-A2

= 0,674 – 0,681

= 0,007

∆𝐴2 = A3-A2

= 0,673 – 0,674

= 0,001

Aktivitas GOT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)

(0,007+0,001)
= x 952
2
= 3,808 IU/L

3) Raffiu III

∆𝐴1 = A1-A2

= 0,742 – 0,742

= 0,001

∆𝐴2 = A3-A2

= 0,736 – 0,742

= 0,006

Aktivitas GOT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)


(0,001+0,006)
= x 952
2

= 3,332 IU/L

4) Ade IV

∆𝐴1 = A1-A2

= 0,718 – 0,721

= 0,003

∆𝐴2 = A3-A2

= 0,717 – 0,718

= 0,001

Aktivitas GOT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)


(0,003+0,001)
= x 952
2

= 1,904 IU/L

5) Ade V

∆𝐴1 = A1-A2

= 1,709 – 1,733

= 0,024

∆𝐴2 = A3-A2
= 1,688 – 1,709

= 0,021

Aktivitas GOT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)


(0,024+0,021)
= x 952
2

= 21,42 IU/L

b. SGPT

1) Rafiiu I

∆𝐴1 = A1-A2

= 0,230 – 0,232

= 0,002

∆𝐴2 = A3-A2

= 0,225 – 0,230

= 0,005

Aktivitas GPT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)


(0,002+0,005)
= x 952
2

= 3,332 IU/L

2) Raffiu II

∆𝐴1 = A1-A2

= 0,590 – 0,589

= 0,001

∆𝐴2 = A3-A2

= 0,588 – 0,589

= 0,001

Aktivitas GPT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)


(0,001+0,001)
= x 952
2

= 0,952 IU/L
3) Raffiu III
∆𝐴1 = A1-A2

= 0,626 – 0,625

= 0,001

∆𝐴2 = A3-A2

= 0,625 – 0,625

=0

Aktivitas GPT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)


(0,001+0)
= x 952
2

= 0,476 IU/L

4) Ade IV

∆𝐴1 = A1-A2

= 0,669 – 0,663

= 0,006

∆𝐴2 = A3-A2

= 0,663– 0,663

=0

Aktivitas GPT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)


(0,006+0)
= x 952
2

= 2,856 IU/L

5) Ade V

∆𝐴1 = A1-A2

= 1,397 – 1,381

= 0,016

∆𝐴2 = A3-A2

= 1,377 – 1,381

= 0,004
Aktivitas GPT (IU/L) = ∆𝐴/min x 952 (340 nm)
(0,016+0,004)
= x 952
2

= 9,52 IU/L

B. Pembahasan

Enzim SGOT dan SGPT mencerminkan keutuhan atau intergrasi sel-sel

hati.Adanya peningkatan enzim hati tersebut dapat mencerminkan tingkat

kerusakan sel-sel hati. Makin tinggi peningkatan kadar enzim SGOT dan SGPT,

semakin tinggi tingkat kerusakan sel-sel hati (Cahyono, 2009: 11-15).

Sebelum dilakukan pengujian dilakukan terlebih dahulu darah dicentrifuge

selama 15 menit dengan kecepatan 300 rpm, hal ini bertujuan untuk memisahkan

antara serum dan plasma darah. Alasan serumd igunakan karena di serum terdapat

SGOT dan SGPT serta serum tidak mengandung fibrinigen dimana dapat

meningkatkan pengukuran absorban meningkat 35%.

Selanjutnya serum ditambahkan 1000 𝜇𝑙 reagen I SGOT/SGPT dan

diinkubasi selama 5 menit pada suhu 35º C. Kemudian ditmabahkan 250 𝜇𝑙

reagen II SGOT/SGPT. Alasannya dilakukan inkubasi agar reagen dan sampel

dapat bercampur dengan baik. Reagen I yang digunkana berisi tris Ph 7,6, L-

asparatate, MDH (malat dehindrogenase), LDH (laktat dehidrogenase), tris pH 7,6

berfungsi sebagai dapar yang menjaga pH serum selama reaksi pemeriksaan ini

supaya menjaga kestabilan aktivitas GPT karena enzim sangat sensitif terhadap

perubahan pH. L-aspartate berfungsi sebagai asam aminoyang akan diubah

menjadi L-glutamat dengan dikatalis oleh enzim glutamat oxaloacetat transminase

(GOT). MDH dan LDH juga merupakan enzim yang kan mengkatalis reaksi

selanjutnya dari produk yang dihasilkan dari reaksi dengan katalisator GPT tadi.

Reagen II yang digunakan mengandung 𝛼-oxoglutarate dan NADH. 𝛼-

oxoglutarat akan bereaksi dengan L-aspartate dan oxaloacetat dengan dikatalis

oleh enzim GOT. Enzim GOT ini akan mengkatalis pemindahan gugus asam
amino pada L-aspartate ke gugus keto dari 𝛼-ketogelutarate membentuk glutamat

dan oksalat. Selanjutnya oksaloasetat akan direduksi menjadi malat. Reaksi

tersebut dikatalis oleh MDH yang membutuhkan NADH dan H+. Banyaknya

NADH yang dioksidasi menjadi NAD+ sebanding dengan banyaknya enzim GOT.

Hal itulah yang akan diukur secara fototmetri.

Selanjutnya sampel dimasukka dalam kuvet untuk diukur absorbansinya

menggunakan spektrofotometer UV-vis pada panjang gelombang 340 nm karena

pada anjang gelombang tersebut sampel akan memberikan serapan maksimal.

Alasan penggunaan spektrofotometer UV-Vis karena mempunyai sensitivitas

yang relatif tinggi, pengerjaannya mudah sehingga pengukuran yang dilakukan

cepat, dan mempunyai spesitivitas yang baik. Pengukuran dilakukan pada interval

waktu satu menit selama tiga menit untuk dapat mengukur ∆𝐴.

Adapun hasil yang didapatkan yaitu pada sampel pertama (raffiu I) kadar

aktivitas SGOT sebesar 0,952 IU/L. Pada sampel kedua (raffiu II) kativitas SGOT

sebesar 3,808 IU/L. Pada sampel ketiga (raffiu III) aktivitas SGOT sebesar 3,332

IU/L. Pada sampel keempat (ade IV) aktivitas SGOT sebesar 1,904 IU/L. Pada

sampel kelima aktivitas SGOT sebesar 21,42.

Pada pengukuran aktivitas SGPT, untuk sampel raffiu I hasilnya adalah

3,332 IU/L, sampel rafiu II sebesar 0,952 IU/L, sampel rafiu III sebesar 0,476

IU/L, sampel ade IV sebesar 2,856 IU/L dan sampel ade V sebesar 9,52 IU/L.

Berdasarkan literatur (Firdaus, 2017: 19) menyatakan bahwa nilai normal

SGOT pada pria <37 U/L kadar SGPT normal pada pria adalah <42 U/L. Hal ini

menunjukkan bahwa kadar SGOT/SGPT pada probandus Ade normal. Nilai

SGOT normal pada wanita yaitu <31 U/L dan kadar normal SGPT adalah <32

U/L. Hal ini menunjukkan kadar SGOT/SGPT pada Probandus raffiu normal.
Dalam dunia kesehatan dan farmasi, nilai SGOT/SGPT pada pasien

dijadikan rujukan untuk pemeriksaan fungsi hati dan penyakit lainnya serta untuk

menentukan rekomendasi terapi yang sesuai.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa nilai

SGOT pada sampel Rafiu I= 0,952 IU/L; Raffiu II= 3,808; Raffiu III= 3,332 IU/L;

Ade IV = 1,904 dan Ade V= 21,42 (normal).

Sedangkan nilai SGPT pada sampel Raffiu I= 3,332 IU/L; Raffiu II= 0,952

IU/L; Raffiu III= 0,476 IU/L; Ade IV= 2,856 IU/L dan Ade V= 9,52 IU/L

(normal).

B. Saran

1. Untuk laboratorium

Sebaiknya melakukan perbaikan sarana dan prasarana yang rusak

2. Untuk asisten

Sebaiknya tetap semangat dalam membimbing praktikan.


DAFTAR PUSTAKA

Bastiansyah, Eko. Panduan Lengkap: Membaca Hasil Tes Kesehatan. Jakarta:


Penebar Plus. 2008

Cahyono, J. Hepatitis A. Yogyakarta: Kanisius. 2009.

Chakravarti. A Handbook of Clinical Pathology. Academic Publisher. 2005.

Chang, Raymond. Kimia Dasar : Konsep – Konsep Inti Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
2005.

Darmanto, D. Seluk-Beluk Pemeriksaan Kesehatan (General Medical Check Up) :


Bagaimana Menyikapi Hasilnya. Jakarta: Pustaka Populer Obor. 2001.

Dirjen POM. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: KEMENKES. 2014

Firdaus, Muhammad. Diabetes dan Rumput Laut Cokelat. Malang: UB Press.


2017

Kurniawan, F. B. Kimia Klinik Praktikum Analisis Kesehatan. Jakarta: EGC.


2014.

Pearce, E. C. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia


Pustak Utama. 2013

Sudoyo, W. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing. 2015


LAMPIRAN
A. Skema kerja

1. Preparasi sampel darah

Diambil darah probandus 5 ml

Tabung tutup merah

Centrifuge (300 rpm) 15’

Ambil serum darah 100 𝜇𝑙

2. Identifikasi SGOT/SGPT

Diambil serum

+ 1000 𝜇𝑙 reagen I SGOT/SGPT

Inkubasi 5’ (35ºC)

+ reagen II SGOT/SGPT 250𝜇𝑙

Inkubasi 1’

Ukur Abs. 𝜆 = 340 𝑛𝑚

Blanko aquadest

Ukur Abs. Setiap 1’ 2’ 3’

Hitung aktivitas SGOT/SGPT


B. Gambar Pengamatan

Gambar Keterangan

Pengambilan sampel darah probandus

Raffiu

Pengambilan sampel darah probandus

Ade

Sampel darah probandus Raffiu

Sampel darah probandus Ade


Diambil darah 5 ml, dimasukkan

dalam tabung centrifuge

Diambil darah 5 ml, dimasukkan


dalam tabung centrifuge

dicentrifuge

Plasama dan serum terpisah setelah

dicentrifuge

Dipipet mikro serum darah


Dimasukkan dalam tareks

Ditambahankan reagen I

Ditambahkan reagen II

Anda mungkin juga menyukai