Anda di halaman 1dari 11

P

royeksi memiliki dua arti, yaitu Sedangkan Lindzey pada tahun


arti umum dari proyeksi (sesuai 1961 (pada Rabin, 1981)
dengan kata proyeksi) dikaitkan menggolongkan tes proyeksi dalam lima
dengan alat yang dinamakan proyektor. jenis, yaitu teknik asosiasi (misalnya, tes
Proyeksi ialah mengeluarkan gambar asosiasi kata dan tes Rorschach), teknik
dari proyektor ke suatu layar proyeksi. konstruksi (misalnya TAT, CAT, tes
Arti lain dari proyeksi yang Blacky, dan Make Picture Story), teknik
berasal dari Freud ialah suatu proses melengkapi (misalnya, psiko-drama,
psiko-patologis. Ia mengemukakan Dragon Test, lukisan, free art expression,
bahwaa proyeksi merupakan satu dan free play).
diantara mekanisme defensif yang terjadi Apakah yang dimaksud dengan
pada kasus paranoid, yakni “tes proyeksi” atau “teknik/metode
kecenderungan melakukan eksternalisasi proyeksi”, serta dasar pemikirannya?
dari dorongan-dorongan, yang tidak Rabin (1981) menyatyakan bahwa
dapat ia terima dan tidak disadari dalam unsur-unsur yang menyusun definisi tes
dirinya. proyeksi ialah: pertama, adanya stimulus
Munster Dan Pryer pada tahun yang samar-samar atau ambigu; kedua,
1959 (dalam Rabin, 1981) membahas subyek yang mengerjakan tes tidak
proyeksi dalam arti luas yang dibedakan begitu sadar akan tujuan stimulus yang
dalam 4 golongan konsep, yakni diberikan serta apa implikasinya; ketiga,
proyeksi klasik, proyeksi atributif, tugas dari pemeriksa adalah melakukan
proyeksi autistik dan “rationalized analisis dan interpretasi holistik-
projection”. ideografis.
Sifat Teknik-Teknik Proyektif

Ciri pembeda utama dari teknik proyektif adalah pada penilaiannya atas tugas
yang relatif tak terstruktur, yaitu tugas yang memungkinkan variasi yang hampir tak
terbatas dari respon-respon yang mungkin. Hipotesis yang mendasari hal ini adalah
bahwa cara individu mempersepsi dan menginterpretasi materi tes atau
“menstrukturisasikan” situasi itu akan mencerminkan aspek-aspek dasar dari fungsi
psikologisnya. Dengan kata lain, diharapkan materi tes bisa berfungsi sebagai semacam
saringan dimana responden “memproyeksikan” proses pikiran, kebutuhan, kecemasan
dan konflik khas mereka
Instrumen proyektif juga mempersentasikan prosedur testing yang
disembunyikan, sejauh peserta tes jarang menyadari jenis interprestasi psikologis yang
akan dibuat atas respon-respon mereka. Dicirikan oleh pendekatan global terhadap
penaksiran kepribadian. Perhatian difokuskan pada gambaran komposit dari keseluruhan
kepribadian dan bukannya pada pengukuran ciri-ciri yang terpisah. Metode proyektif
berasal dari dalam lingkungan klinis dan tetap merupakan alat yang penting bagi ahli
klinis

Teknik-Teknik Noda Tinta


Rorschach. Tinta Rorschach pertama kali dideskripsikan pada tahun 1921.
Rorschach adalah yang pertama menerapkan noda tinta pada penyelidikan diagnostik atas
kepribadian secara keseluruhan. Rorschach bereksperimen dengan sejumlah besar noda
tinta, yang ia jalankan pada berbagai kelompok psikiatrik yang berbeda. Sebagai hasil
dari observasi klinis semacam ini, ciri-ciri respon yang membedakan antara berbagai
sindroma psikiatris secara bertahap dipersatukan dalam suatu sistim skoring. Prosedur-
prosedur skoring ini lebih jauh dipertajam dengan testing suplementer atas orang yang
bermental terbelakang, serta juga seniman, sarjana dan kelompok orang khas lainnya.
Metodologi Rorshach lalu mewakili aplikasi dini, informal dan relatif subyektif dari
pengujian kriteria
Masing-masing kartu Rorschach memuat cetakan noda tinta simetris bilateral
yang serupa dengan salah satu noda hitam yang diilustrasikan gambar. Lima dari noda
tinta diletakan pada bayangan abu-abu dan hitam saja; dua memuat sentuhan tambahan
dari warna merah terang; dan tiga sisanya memadukan beberapa bayangan pastel. Selama
penyelenggaraan Rorschach, responden ditunjukan masing-masing noda tinta, satu kali
setiap saat dan diminta untuk memberitahu apa yang ditampakan oleh noda tinta itu.
Selain menyimpan catatan verbal tentang respon terhadap setiap kartu, penguji umumnya
mencatat waktu reaksi dan lama espon, atau posisi dimana kartu dipegang, catatan
spontan, ungkapan emosional dan prilaku insindentil lain dari responden selama sesi tes
itu. Pada waktu tertentu setelah presentasi 10 kartu, kebanyakan penguji mengajukan
pertanyaan pada individu secara sistematik tentang bagian dan aspek tiap noda tinta
terhadap mana asosiasi diberikan. Selama penyelidikan ini, para responden juga memiliki
kesempatan untuk menguraikan serta menjernihkan respon lebih awal mereka.
Perbedaan-perbedaan utama di antara berbagai sistem Rorschach yang berkembang dari
tahun 1930-an sampai dengan 1960-an ada pada metode skoring.
Analistis lebih jauh atas respon-respon Rorschach umumnya didasarkan pada
frekuensi relatif respon-respon dalam berbagai kategori dan juga nisbah tertentu serta
antar-hubungan di antara berbagai kategori yang berbeda. Contoh-contoh jenis
interprestasi kualitatif yang umumnya digunakan bersama dengan respon-respon
Rorschach adalah asosiasi respon “keseluruhan” dengan pikiran konseptual, asosiasi
respon “warna” dengan emosionalitas dan asosiasi respon “gerakan manusia” dengan
imajinasi serta kehidupan fantasi. Dalam penerapan Rorschach yang lazim, penekanan
utama ditempatkan pada deskripsi “global” final atas individu, yang disini ahli klinis
memadukan hasil-hasil dan berbagai bagian protokol yang berbeda dan
mempertimbangkan antar-hubungan berbagai skor dan indeks yang berbeda. Dalam
praktek sesungguhnya, informasi yang ditarik dari sumber-sumber luar, seperti misalnya
tes-tes lain, wawancara dan catatan riwayat kasus juga digunakan dalam mempersiapkan
deskripsi ini

Sistem Komprehensif Exner


Pada tahun 1900-an, tes Rorschach menjadi kurang dihargai sebagai instrumen
psikometris. Para peneliti sadar bahwa diri mereka dihambat oleh kesulitan yang inheren
dalam metode itu sendiri, seperti misalnya kemungkinan variasi dalam jumlah total
respon, pengaruh dari efek penguji dan saling ketergantungan skor-skor, serta juga
perkembangan sistem penentuan skor. Keadaan ini semua menjadikan penelitian atas
rehabilitas dan validitas tes Rorschach sebagai usaha yag berjalan sedikit demi sedikit,
terganggu dengan kekurangan metodologis dan pada akhirnya memberikan hasil yang
mengecewakan.
Perbedaan yang luas telah berkembang diantara lima sistem Rorschach utama
yang digunakan di Amerika Serikat. Perbedaan ini didokumentasikan oleh John E. Exner,
Jr. (1969) yang bekerja dengan Samuel Beck dan Bruno Klopfer, dua orang dari para
pembuat sistematisasi Rorschach yang paling berfariasi.. Exner tertarik pada
kemungkinan untuk menyling semua segi yang secara empiris berguna dan dapat
dipertahankan yang dimiliki oleh metode itu, kedalam satu sistem tunggal
Pertama, exner mengembangkan sistem Rorschach kompherensif yang
memadukan unsur-unsur yang dikumpulkan dari kelima pendekatan utama. Exner
menyediakan administrasi terstandarisasi, penentuan skor dan prosedur interpretatif yang
diseleksi atas dasar perbandingan empiris siantara berbagai praktek. Penekanannya
adalah lebih pada variabel struktural ketimbang pada variabel isi. Sesunguhnya, menurut
Exner, obyek respon penentuan skor adalah asal mula dari rangkuman struktural yang ada
pada inti sistemnya serta memberikan dasar bagi kebanyakan dalil interprentif. Tiap
respon dikodifisikan pada beberapa kategori penentuan skor yang berbeda, mencakup
antara lain lokasi, determinan, kualitas bentuk, isi, aktiviyas organisasional, dan
popularitas. Respon – respon berkode ini didaftar dan frekkuensi kode dihitung; unsur-
unsur ini kemudian digunakan dalam penghitungan nisbah, presentase, dan indeks yang
melengkapi rangkuman struktural. Pernyataan interpretatif bisa berasal, dari variabel-
variabel pada berbagai tingkat kompleksitas. Sejumlah hipotesis dihubungkan dengan
frekuensi sederhana, seperti lingkup penggunaan satu determinan tunggal (misalnya,
pembentukan bayangan ); yang lain didasarkan pada munculnya dua variabel atau lebih
secara bersama-sama seperti misalnya jmlah isi manusia dan isi hewan. Tingkat analisis
yang paling kompleks adalah konstelasi dari berbagai variabel dan skor potong yang
dihasilkan secara empiris. Variabel-variabel ini dikelompokkan ke dalam indeks-indeks
(misalnya, Indeks Schizophrenia, Indeks Depresi, dan Indeks Mengatasi Kekurangan)
yang agaknya mencerminkan kemungkinan adanya gangguan atau kondisi tertentu.
TAT (Thematic Apperception Tes)
Thematic Apperception Test atau disingkat TAT diciptakan oleh H.A. Murray,
terdiri dari 36 kartu berukuran kuarto dengan gambar-gambar manusia dalam berbagai
situasi interpersonal. Gambar-gambar tersebut bernomor 1 hingga 20, dimana ada satu
kartu kosong, yaitu kartu nomor 16. Ada gambar tanpa tanda apa-apa (hanya nomor), ada
gambar dengan tanda G,F,GF,M,B,BM dibelakang nomor masing-masing untuk
menunjukkan apakah gambar itu diberikan kepada anak perempuan atau wanita dewasa
(G, F), anak laki-laki atau pria dewasa (B, M), atau dapat diberikan pada laki-laki
maupun wanita (tanpa kode huruf). Tes ini merupakan tes proyeksi dalam arti konstruktif
(artinya subyek mengkontruksi suatu cerita) atau konstitutif (artinya gambar-gambar
membentuk cerita subyek). Subyek diberi penjelasan bahwa tes ini merupakan
merupakan tes imajinasi dan ia dimintauntuk membuat sebuah cerita untuk setiap gambar
(biasanya dipilih sekitar 10 gambar) tentang tokoh-tokoh yang ada dalam gambar-gambar
itu.
Rasional TAT adalah bahwa ada kecenderungan menginterpretasi situasi
interpersonal gambar TAT dan mengekspresikan keinginan dan sentimen, baik yang
disadari maupun yang tidak disadari, sesuai dengan pengalaman subyek dimasa lalu.
Sesuai dengan teori Murray tentang kebutuhan (ada dalam diri subyek) dan press (daya
dari lingkungan yang dapat menunjang atau menghambat kebutuhan subyek), rasional
TAT ialah bahwa cerita subyek tentang kebutuhan-kebutuhan tokoh-tokoh dalam gambar
TAT serta daya lingkungan tokoh-tokoh tersebut, menggambarkan keadaan (sadar atau
tak sadar) kebutuhan dan press subyek itu sendiri. Jadi, bila dilaksanakan dengan baik
(mempunyai nilai proyektif atau telah terjadi proyeksi), maka TAT dapat memberikan
gambaran tentang dorongan, emosi, sentimen, dan konflik kepribadian subyek dari
pembuat tes atau subyek yang diperiksa.
Kapan cerita subyek dianggap “proyektif”? Murray mengajukan syarat-syarat
yang cukup berat, yakni cerita yang dibuat subyek mempunyai awal, tengah dan akhir,
dan menggambarkan perilaku, pikiran, perasaan tokoh dalam gambar tersebut. Biasanya
cerita dikategorikan proyektif apabila terdiri dari 100 hingga 300 kata, atau cerita itu
menggambarkan kepribadian tokoh dalam gambar, mempunyai awal, tengah dan akhir,
bukan sekedar deskripsi gambar dan tidak merupakan cerita klise. Interpretasi dilakukan
melalui analisis dari perilaku, persaan, serta kebutuhan, yang ada pada tokoh utama dan
tokoh lain dalam gambar, yang dirangkum dari seluruh gambar yang diberikan kepada
subyek. TAT, yakni dari Murray sendiri, Bellak, Morris I. Stein, Reuben Fine, dan
Tomkins. Namun tujuannya adalah sama.

Tes – tes Grafis


Ada beberapa jenis tes grafis atau tes gambar yang digunakan dalam pemeriksaan
psikologis, yakni tes Stimulus Drawing Relation yang diciptakan Wartegg (disebut tes
Wartegg), tes gambar manusia atau Draw A Person tes (DAP), tes menggambar pohon
atau Baum Test, dan tes menggambar rumah-pohon-orang atau House Tree Person test
(HTP).
Tes Wartegg terdiri dari selembar kertas berukuran kuarto yang berisi delapan
kotak segiempat dan di dalam masing-masingnya terdapat suatu stimulus tertentu.
Subyek diminta untuk menyelesaikan stimulus dalam setiap kotak itu menjadi suatu
gambar sesuai keinginannya. Pada awalnya Erich Wartegg menggunakannya sebagai
suatu tes perkembangan anak, melalui mana ia memperhatikan anak akan
menyelesaiakan stimulus-stimulus tersebut, kemudian membandingkannya dengan
gambar anak lain. Selanjutnya Maria Kinget membuat disertasi tentang tes ini dan ia
membuat sistim penyekoran yang khusus. Jadi sebenarnya yang digunakan selama ini
adalah tes Wartegg-Kinget.
Pada DAP, HTP, dan tes gambar pohon, subyek tidak diberi stimulus. Subyek
diminta untuk menggambar orang (DAP), menggambar rumah-pohon-orang (HTP), atau
menggambar pohon (BAUM). Sedanngkan pada tes Wartegg, ada stimulus yang harus
diselesaikan. Situasi yang berbeda ini mempunyai dampak khusus bagi subyek yang
dites, misalnya ada subyek yang lebih merasa nyaman dan bebas bila diberi kebebasan
menggambar, namun ada pula yang merasa lebih nyaman kalau diberi stimulus.
Kemahiran menggambar dan pendidikan subyek sebaiknya dipertimbangkan dalam
menginterpretasi hasil gambar subyek.
Latar belakang dari Tes grafis adalah kenyataan bahwa para artis
memproyeksikan dirinya dalam karya-karyanya, antara lain dalam lukisan. Dalam
penciptaan karya artistiknya ia mengepresikan ketidaksadaran melalui simbol-simbol,
juga melalui gaya dan pendekatannya. Reprensentasi grafis dan gambar juga
mengepresikan terlebih dahulu sebelum menulis. Gambar orang mengungkapkan lapisan-
lapisan primitif dan dini dalam kepribadian, yang telah ada sebelum pengendalian intelek
menguasai diri seseorang (Rabin, 1981).
Tes DAP semula merupakan suatu tes perkembangan kognitif (Goodenough,
dalam Marnat, 1999) dikembangkan menjadi tes kepribadian yang interpretasinya
didasarkan atas teori proyeksi dan diuji cobakan pada sejumlah kasus-kasus klinis.
Bersamaan dengan itu, Buck mengembangkan tes House-Tree-Person (HTP) dan
mengatakan bahwa selain manusia, pohon dan rumah juga mempunyai arti simbolis.
Pengembangan lain dari tes gambar proyektif yang dikaitkan dengan arti-arti simbolis
antara lain adalah tes gambar keluarga. Administrasi dan penyekoran yang dikembangkan
oleh masing-masing penciptanya ada yang menggunakan penyekoran kuantitatif dan ada
pula yang kualitatif-simbolis. Interpretasi tes-tes gambar sebagai tes kepribadian harus
dilakukan berhati-hati karena validasi yang dilakukan, misalnya oleh Machover dengan
kasus-kasus klinis, harus dikaji ulang terlebih dahulu untuk kasus-kasus di Indonesia.

Definisi

Rumah-pohon-orang test (HTP) adalah projective tes kepribadian, jenis ujian


yang menguji taruhan merespon atau menyediakan dwimakna, abstrak, atau unstructured
stimuli (seringkali dalam bentuk gambar atau gambar). Dalam HTP, ujian pembeli
diminta untuk menggambar rumah, pohon, dan orang, dan ini memberikan gambar yang
mengukur diri dari persepsi dan sikap. Seperti projective tes lainnya, memiliki fleksibel
dan administrasi dan interpretasi subyektif.

Tujuan

Tujuan utama dari HTP adalah untuk mengukur aspek kepribadian seseorang
melalui interpretasi dari gambar dan tanggapan atas pertanyaan. Ia juga kadang-kadang
digunakan sebagai bagian dari penilaian kerusakan otak atau keseluruhan neurological
berfungsi.
HTP yang dikembangkan di tahun 1948, dan diperbarui pada 1969. Tests
requiring human figure drawings were already being utilized as projective personality
tests. Tes memerlukan gambar tokoh manusia yang telah dimanfaatkan sebagai
projective tes kepribadian. Buck believed that drawings of houses and trees could also
provide relevant information about the functioning of an individual's personality. Buck
percaya bahwa gambar rumah dan pohon juga dapat menyediakan informasi yang relevan
tentang fungsi dari kepribadian seorang individu.

Precautions Kewaspadaan

Because it is mostly subjective, scoring and interpreting the HTP is difficult. Karena
kebanyakan subjektif, dan angka interpreting HTP yang sulit. Anyone administering the
HTP must be properly trained. Siapapun HTP administrasi yang harus dilatih dengan
benar. The test publishers provide a detailed 350-page administration and scoring
manual. Ujian penerbit memberikan rincian 350 halaman administrasi dan scoring
manual.

Description Keterangan

The HTP can be given to anyone over the age of three. HTP yang dapat diberikan kepada
orang yang berusia lebih dari tiga. Because it requires test takers to draw pictures, it is
often used with children and adolescents. Karena memerlukan tes takers untuk
mengambil gambar, sering digunakan dengan anak-anak dan remaja. It is also often used
with individuals suspected of having brain damage or other neurological impairment. Hal
ini juga sering digunakan dengan individu-individu yang diduga mengalami kerusakan
otak atau lainnya neurological perusakan. The test takes an average of 150 minutes to
complete; it may take less time with normally functioning adults and much more time
with neurologically impaired individuals. Ujian ini memakan waktu rata-rata 150 menit
hingga selesai; mungkin mengambil waktu kurang berfungsi normal dengan orang
dewasa dan masih banyak lagi dengan waktu neurologically diburukkan individu.

During the first phase of the test, test takers are asked to use a crayon to draw pictures,
respectively, of a house, a tree, and a person. Selama tahap pertama dari ujian, ujian
takers diminta untuk menggunakan krayon untuk mengambil gambar, masing-masing,
dari rumah, pohon, dan orang. Each drawing is done on a separate piece of paper and the
test taker is asked to draw as accurately as possible. Setiap gambar dilakukan pada bagian
yang terpisah dari kertas dan ujian pembeli diminta untuk mengambil seakurat mungkin.
Upon completion of the drawings, test takers are asked questions about the drawings.
Setelah selesai gambar-gambar, test takers diminta pertanyaan mengenai gambar. There
are a total of 60 questions that examiners can ask. Terdapat total 60 pertanyaan yang
dapat meminta examiners. Examiners can also create their own questions or ask
unscripted follow-up questions. Examiners juga dapat membuat sendiri pertanyaan atau
meminta unscripted tindak lanjut pertanyaan. For example, with reference to the house,
the test creator wrote questions such as, "Is it a happy house?" Misalnya, dengan merujuk
ke rumah, ujian pencipta wrote pertanyaan seperti, "Is it a happy rumah?" and "What is
the house made of?" dan "Apa yang terbuat dari rumah?" Regarding the tree, questions
include, "About how old is that tree?" Mengenai pohon, termasuk pertanyaan, "Berapa
lama adalah pohon?" and "Is the tree alive?" dan "Apakah pohon hidup?" Concerning the
person, questions include, "Is that person happy?" Mengenai orang, termasuk pertanyaan,
"Apakah orang yang bahagia?" and "How does that person feel?" dan "Bagaimana orang
yang merasa?"

During the second phase of the test, test takers are asked to draw the same pictures with a
pencil. Selama tahap kedua ujian, ujian takers diminta untuk mengambil gambar yang
sama dengan pensil. The questions that follow this phase are similar to the ones in the
first phase. Pertanyaan yang mengikuti tahap ini adalah serupa dengan pada tahap
pertama. Some examiners give only one of the two phases, choosing either a crayon, a
pencil, or some other writing instrument. Beberapa examiners memberikan hanya salah
satu dari dua tahapan, baik yang memilih krayon, sebuah pensil, atau alat tulis lainnya.

One variation of test administration involves asking the individual to draw two separate
persons, one of each sex. Salah satu variasi dari tes administrasi melibatkan individu
yang meminta untuk mengambil dua orang, satu dari masing-masing jenis kelamin.
Another variation is to have test takers put all the drawings on one page. Variasi lain
adalah untuk menguji takers menaruh semua gambar-gambar pada satu halaman.
Results Hasil

The HTP is scored in both an objective quantitative manner and a subjective qualitative
manner. HTP adalah angka yang baik dengan cara yang objektif kuantitatif dan kualitatif
dengan cara subjektif. The quantitative scoring scheme involves analyzing the details of
drawings to arrive at a general assessment of intelligence, using a scoring method devised
by the test creators. Kuantitatif scoring skema yang melibatkan menganalisis rincian
gambar untuk tiba pada suatu penilaian umum intelijen, dengan menggunakan metode
scoring yang dibuat oleh pencipta ujian. Research has shown this assessment of
intelligence correlates highly with other intelligence tests such as the Wechsler adult
intelligence scale (WAIS). Penelitian ini telah menunjukkan penilaian intelijen sangat
berkorelasi dengan tes lainnya intelijen seperti intelijen skala Wechsler dewasa
(WAIS).

The primary use of the HTP, however, is related to the qualitative scoring scheme in
which the test administrator subjectively analyzes the drawings and the responses to
questions in a way that assesses the test taker's personality. Utama menggunakan HTP
Namun, berhubungan dengan angka kualitatif skema yang ujian administrator subjektif
menganalisis gambar dan tanggapan atas pertanyaan dengan cara yang menilai ujian
pembeli dari pribadinya. For example, a very small house might indicate rejection of
one's home life. Misalnya, rumah yang sangat kecil mungkin menunjukkan penolakan
satu rumah hidup. A tree that has a slender trunk but has large expansive branches might
indicate a need for satisfaction. J pohon yang memiliki batang semampai tapi memiliki
luas cabang besar mungkin perlu untuk menunjukkan kepuasan. A drawing of a person
that has a lot of detail in the face might indicate a need to present oneself in an acceptable
social light. J menggambar orang yang memiliki banyak detail di wajah mungkin
menunjukkan perlu hadir dalam diri yang dapat diterima sosial ringan.

Other methods of interpretation focus on the function of various parts in each of the
drawings. Metode interpretasi lainnya berfokus pada fungsi dari berbagai komponen di
masing-masing gambar. In the house drawing, the roof might represent one's intellectual
side, the walls might represent the test taker's degree of ego strength, and the doors and
windows might represent the individual's relation to the outside world. Menggambar di
rumah, atap mungkin merupakan satu dari sisi intelektual, tembok mungkin mewakili
pengambil ujian dari tingkat ego kekuatan, dan pintu dan jendela mungkin mewakili
individu dari kaitannya dengan dunia luar. In the tree drawing, the branches might
indicate the test taker's relation to the outside world and the trunk might indicate inner
strength. Dalam menggambar pohon, cabang yang mungkin menunjukkan ujian pembeli
dari kaitannya dengan dunia luar dan trunk mungkin menunjukkan kekuatan batin.

As with other subjectively scored personality tests, there is little support for its reliability
and validity. Seperti halnya dengan angka lainnya subjektif tes kepribadian, ada sedikit
dukungan untuk validitas dan reliabilitas. However, there is some evidence that the HTP
can differentiate people with specific types of brain damage. Namun, ada beberapa bukti
bahwa HTP dapat membedakan orang-orang tertentu dengan jenis kerusakan otak. More
specifically, it has been shown to be effective when looking at the brain damage present
in schizophrenic patients. Secara khusus, ia telah ditunjukkan untuk menjadi efektif
ketika melihat kerusakan otak hadir di pasien yg menderita skizofrenia.