Anda di halaman 1dari 8

2

PENGENALAN ALAT
SAMBUNG KAYU

Karena alasan geometri, pada konstruksi kayu sering diperlukan sambungan yang
berfungsi untuk memperpanjang batang kayu (overlapping connection) atau menggabungkan
beberapa batang kayu pada satu buhul/joint. Secara umum, sambungan merupakan bagian
terlemah dari konstruksi kayu. Kegagalan konstruksi kayu sering diakibatkan oleh gagalnya
sambungan daripada kegagalan material kayu itu sendiri. Kegagalan pada sambungan dapat
berupa: pecahan kayu diantara dua alat sambung, bengkoknya alat sambung itu sendiri, atau
lendutanya (efek kumulatif dari sesaran alat sambung) sudah melampaui nilai konsentrasi.
Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kekuatan sambungan pada konstruksi
kayu menurut Awaludin (2002) adalah sebagai berikut:
1. Terjadinya pengurangan luas penampang
Pemasangan alat sambung seperti baut, pasak, dan gigi, menyebabkan berkuarangnya
luas efektif penampang kayu yang disambung sehingga kuat dukung batangnya menjadi
lebih rendah bila dibandingkan dengan batang yang berpenampang utuh.
2. Terjadinya penyimpangan arah serat
Pada buhul seringkali terdapat gaya yang sejajar serat pada satu batang, tetapi tidak
sejajar serat dengan batang yang lain. Karena kekuatan kayu kayu yang tidak sejajar serat
lebih kecil daripada yang sejajar serat, maka kekuatan sambungan harus didasarkan pada
kekuatan kayu yang tidak sejajar serat (kekuatan yang kecil)
3. Terbatasnya luas sambungan
Kayu memiliki kuat geser sejajar serat yang kecil sehingga mudah pecah apabila
beberapa alat sambung dipasang berdekatan. Oleh karena itu, dalam penempatan alat
sambung disyaratkan jarak minimal antar alat smabung agar kayu terhindar dari
kemungkinan pecah. Dengan adanya ketentuan jarak tersebut, maka luas efektif
sambungan (luas yang dapat digunakan untuk penempatan alat sambung) menjadi
berkurang dengan sendirinya.
Efektifitas suatu alat sambung dapat diukur berdasarkan kuat dukung yang
disumbangkan oleh sambungan dibandingkan dengan kuat ultimit kayu yang disambungkan.
Sebagai contoh, sebatang kayu dengan ukuran b/h memiliki kuat tarik ultimit 10 ton, pada
bagian sambungan digunakan alat sambung A dan kekuatan tarik sambungan adalah 2,5 ton.
Maka efektifitas alat sambung A adalah 25% (2,5ton/10ton).

I. Ciri-ciri alat sambung yang baik


 Pengurangan luas kayu yang digunakan untuk menempatkan alat sambung relatif
kecil atau bahkan nol.
 Memiliki nilai banding antara kuat dukung sambungan dengan kuat ultimit batang
yang disambungyang tinggi.
 Menunjukan perilaku pelelehan sebelum mencapai keruntuhan (daktail).
 Memiliki angka penyebaran panas (thermal conductivity) yang rendah.
 Murah dan mudah di dalam pemasangannya.

II. Jenis-jenis sambungan


Sambungan dapat dibedakan menjadi sambungan satu irisan (menyambungkan
dua batang kayu), dua irisan (menyambungkan tiga batang kayu), dan seterusnya seperti pada
gambar 4. Menurut sifat gaya yang bekerja pada sambungan, sambungan juga dapat
dibedakan menadi sambungan desak, sambungan tarik, dan sambungan momen. Pada
sambungan desak atau tarik, apabila pusat kelompok alat sambung tidak terletak pada garis
kerja gaya maka akan terbentuk momen selain gaya aksial.

Gambar 4. Sambungan satu irisan dan dua irisan

III. Jenis-jenis alat sambung


Dari berbagai macam alat sambung kayu yang pernah dipergunakan, salah satu
sifat atau karakteristik yang dapat dibandingkan adalah kurva beban vs sesaran/slip. Kurva
ini menunjukan besarnya dukungan sambungan dan sesaran yang terjadi antara alat sambung
dengan kayu yang disambungnya. Hasil pengujian yang dilakukan oleh Racher (1995) untuk
beberapa macam alat sambung dapat dilihat pada Gambar 5. Secara umum, sifat atau
karakteristik masing-masing alat sambung akan diuraikan pada bahasan berikut ini.

Gambar 5. Kurva beban-sesaran alat sambung (Racher, 1995)


1. Lem
Bila dibandingkan dengan alat sambung yang lain, lem termasuk alat sambung
yang bersifat getas seperti dilihat pada Gambar 5(kurva a). Keruntuhan sambungan dengan
alat sambung lem terjadi tanpa adanya peristiwa pelelehan. Alat sambung lem umumnya
digunakan pada struktur balok susun, atau produk kayu laminasi (glue-laminated timber).

2. Alat sambung mekanik (Mechanical connector)


Berdasarkan interaksi gaya-gaya yang terjadi pada sambungan, alat sambung mekanik
dapat dikelompokan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok alat
sambung yang kekuatan sambungan berasal dari interaksi antara kuat lentur alat sambung
dengan kuat desak atau kuat geser kayu. Kelompok yang kedua adalah kelompok alat
sambung yang kekuatan sambungannya ditentukan oleh luas bidang dukung kayu yang
disambungnya. Alat sambung paku dan baut termasuk pada kelompok alat sambung jenis
pertama, sedangkan pasak kayu koubler, cincin belah (split ring), pelat geser, spikes grid,
single atau double sided toothed plate, dan toothed ring termasuk pada kelompok alat
sambung jenis yang kedua. Pada kelompok alat sambung jenis kedua, umumnya baut masih
tetap dipergunakan dengan maksud agar sambungan dapat rapat sehingga alat sambung
seperti cincin belah, pasak kayu koubler, dan lain-lain dapat berfungsi dengan baik.
a. Paku
Alat sambung paku sering dijumpai pada struktur dinding, lantai, dan rangka. Paku
tersedia dalam bentuk dan ukuran yang bermacam-macam seperti pada Gambar 6(a). Paku
bulat merupakan jenis paku yang mudah diperoleh meskipun kuat dukungannya relatif lebih
rendah bila dibandingkan dengan paku ulir (deform nail). Umumnya diameter paku berkisar
antar 2,75 mm sampai 8 mm dan panjangnya antara 40 mm sampai dengan 200 mm. Angka
kelangsingan paku (nilai banding antara panjang terhadap diameter) sangat tinggi
menyebabkan mudahnya paku untuk membengkok saat dipukul.

Gambar 6. Jenis-jenis paku dan pemasangan paku dengan mesin penekan (Hoyle,1978)
Agar terhindar dari pecahnya kayu, pemasangan paku dapat didahului oleh
lubang penuntun yang berdiameter 0,9D untuk kayu dengan berat jenis di atas 0,6 dan yang
berdiameter 0,75D untuk berat jenis dibawah atau sama dengan 0,6 (D adalah diameter paku).
Pemasangan paku dapat dilakukan secara cepat dengan menggunakan mesin penekan (nail
fastening equipment) seperti pada Gambar 6(b).

b. Baut
Alat sambung baut umumnya terbuat dari baja lunak ( mild steel). Dengan kepala
berbentuk hexagonal, square, dome, atau flat seperti pada Gambar 7. Diameter baut
berkisar antara ⁄ ” sampai dengan 1,25”. Untuk kemudahan pemasangan, lubang baut diberi
kelonggaran 1 mm. Alat sambung baut biasanya digunakan pada sambungan dua irisan
dengan tebal minimum kayu samping adalah 30 mm dan kayu tengah adalah 40 mm dan
dilengkapi cincin penutup.

Gambar 7. Bentuk-bentuk alat sambung baut (ASCE,1997)

c. Timber Connectors
Walaupun nama alat sambung ini adalah timber connectors, hampir semua alat
sambung terbuat dari besi (metal). Jenis alat sambung timber connectors yang terbuat dari
kayu hanyalah pasak kayu koubler. Alat sambung timber connectors berkembang di Eropa
pada tahun 1916 sampai 1922. Beberapa jenis alat sambung yang tergolong timber connector
adalah:
 Pasak kayu koubler
Pasak kayu koubler berasal dari Jerman. Pasak koubler merupakan pasak yang
terbuat dari kayu yang sangat keras, berbentuk silinder dengan diameter bagian tengah
lebih besar (lihat Gambar 8). Diameter pasak kayu koubler relatif lebih besar sekitar 10
cm dan tebalnya sekitar 5 cm.
 Cincin belah (Split ring)
Alat sambung cincin belah terbuat dari besi dengan diameter 2,5 dan 4 inchi.
Disebut cincin belah karena cincin besi ini tidak utuh sehinggah menyebabkan
mudahnya cincin belah untuk mengikuti kembang atau susut kayu yang disambungnya.
Alat sambung cincin belah dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Alat sambung pasak kayu koubler dan cincin belah (Hoyle,1978)

 Plat geser (Sher plate)


Pelat geser terbuat dari pressedsteeldengan bentuk lingkaran.
Tidak cicin belah, pelat geser ditempatkan pada masing-masing kayu yang di sambun g
sehingga pemindahan gaya dilakukan sepenuhnya oleh baut pengaku.

Gambar 9. Alat sambung pelat geser (Design wood Structures, 2003)

 Ske grids
Alat sambung ini sudah tidak di produksi lagi pada saat ini. Spike grids terdiri dari
tiga bentuk yaitu flat, single curve, dan circular.

Gambar 10. Alat sambung Spike grids (Hoyle, 1978)


 Toothed ring
Alat sambung ini terbuat dari lembaran besi yang di bentuk melingkar seperti cincin
dengan permukaan di kedua isinya tajam atau runcing.

Gambar 11. Alat sambung Toothed plate

 Singel atau double sided toothed plate


Alat sambung ini umumnya berbentuk lingkaran dan segi empat dengan lubang
tengah (berguna untuk penempatan baut pengaku). Pada kelilingnya tedapat gigi berbentuk
segi tiga.Diameter alat sambung ini sekitar 38mm sampai dengan 165 mm.
Alat sambung ini sangat mudah di gunakan untuk kayu lunak, sedangkan untuk kayu
yang keras harus di bantu dengan pali/hammer.Contoh dari alat sambung ini adalah kokot
Buldog, dan Geka.

Gambar 12. Alat sambung kokot Buldog (Hoyle, 1978)

3. Metal plate connectors


Alat sambung ini berkembang pada tahun 1960an sampai saat ini.
Secara umum metal plateterbuat dari plate alvanise dengan ketebalan antara 0,9 mm
sampai 2,5 mm. Beberapa alat sambung yang termasuk metal plateconnectors adalah
punched plat, nail plate, dan joist hanger seperti pada Gambar 13 dan 14.
Gambar 13. Alat sambung metal plate connectors (Wood Design Structures, 2003)

Gambar 14. Alat sambung joist hangers (Hoyle,1978)

IV. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada sambungan

1. Eksentrisitas
Pada sambungan dengan beberapa alat sambung, maka titik berat kelompok alat
sambung harus terletakpada garis kerja gaya, apabila tidak maka akan timbul gaya momen
(secondary moment) yang dapat menurunkan kekuatan sambungan.

2. Sesaran/slip
Sesaran yang terjadi pada sambungan kayu terbagi menjadi dua. Sesaran yang
pertama adalah sesaran awal yang terjadi akibat adanya lubang kelonggaran yang
dipergunakan untuk mempermudah penempatan alat sambung. Selama sesaran awal, alat
sambung belum memberikan perlawanan terhadap gaya sambungan yang bekerja. Pada
sambungan dengan beberapa alat sambung, kehadiran sesaran awal yang tidak sama diantara
alat sambung dapat menurunkan kekuatan sambungan secara keseluruhan. Setelah sesaran
awal terlampaui, maka sesaran berikutnya akan disertai oleh gaya perlawanan (tahanan
lateral) dari alat sambung. Kurva tahanan lateral versus sesaran ini, sering diidealisasikan
dengan bentuk elastik-plastik (elasto-plastic). Pada umumnya, perilaku sesaran elasto-plastic
sesungguhnya akan sangat dipengaruhi oleh perilaku rangkak/creep material kayu. Pengaruh
creep dapat dicontohkan dengan terjadinya recovery (pengembalian pada kondisi awal) yang
tidak seketika manakala proses pembebanan dihilangkan pada fase elastik.
3. Mata kayu
Keberadaan mata kayu menurunkan kuat tarik dan kuat tekan sejajar serat. Adanya mata
kayu dapat dianggap sebagai pengurangan luas tampang batang kayu. Pada Gambar 15(a),
penurunan kekuatan tarik kayu disebabkan oleh perlemahan mata kayu dan pengurangan luas
kayu akibat dua alat sambung. Sedangkan pada Gambar 15(b), salah satu alat sambung
diletakan segaris dengan mata kayu sehingga penurunan kekuatan disebabkan oleh
perlemahan mata kayu dan pengurangan luas kayu oleh satu alat sambung. Dengan demikian,
penempatan alat sambung seperti Gambar 15(b), menyebabkan pengurangan luas tampang
kayu yang lebih sedikit daripada Gambar 15(a).

Gambar 15. Pengurangan luas tampang akibat mata kayu dan alat sambung (Hoyle, 1978)