Anda di halaman 1dari 77

ISSN : 1693 - 3265

BULETIN Volume 8, Nomor 3, September 2010

HUKUM PERBANKAN
DAN KEBANKSENTRALAN
Implikasi Landasan Hukum Independensi dan Posisi Dalam Sistem Ketatanegaraan Bagi Pencapaian Tujuan
dan Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral RI
Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang Bank Indonesia dan Dampaknya Pada Peranan dan
Fungsi Bank Indonesia Di Bidang Moneter, Sistem Pembayaran dan Stabilitas Keuangan
Peran Bank Sentral Dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan
Bank Indonesia: Independensi, Pengawasan Bank dan Stabilitas Sistem Keuangan
Beberapa Catatan Terhadap RUU Otoritas Jasa Keuangan
Resensi Buku: Konstitusi Ekonomi (Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH)
Cakrawala Hukum: Seminar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, RUU Otoritas Jasa Keuangan, Adakah Solusi Alternatif ?
Daftar Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Ekstern Bank Indonesia, Mei - Oktober 2010
Ringkasan Peraturan Bank Indonesia, Mei - Oktober 2010
Volume 8, Nomor 3, September 2010

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN


Direktorat Hukum Bank Indonesia

Pelindung
Deputi Gubernur Bidang Hukum Bank Indonesia

Penanggung Jawab
Ahmad Fuad, Heru Pranoto, Agus Santoso

Pemimpin Redaksi
Agus Santoso

Sekretaris Redaksi
Dyah Pratiwi

Dewan Redaksi
Zulkarnain Sitompul, Wahyudi Santoso, Sudarmaji, Bambang Djauhari, Herminingsih,
Rosalia Suci, Suprianto, Hari Sugeng Raharjo, Umi Widji. R.

Redaksi Pelaksana
Arief. R. Permana, Gufron Baehaki, Hilman Tisnawan,
Teddy Yusuf, Anton Purba, Kuwat Wijayanto

Mitra Bestari
Prof. Dr. Erman Radjagukguk, SH, LLM
Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH, LLM
Prof. Dr. Huala Adolf, SH, LLM
Dr. Inosentius Samsul, SH, LLM
Dr. Lastuti Abubakar, SH, MH

Penanggung Jawab Pelaksana dan Distribusi


Tim Perundang-undangan dan Pengkajian Hukum,
Direktorat Hukum Bank Indonesia

Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan ini diterbitkan oleh Direktorat Hukum Bank Indonesia. Isi dan hasil penelitian
dalam tulisan-tulisan dalam buletin ini sepenuhnya tanggung jawab para penulis dan bukan merupakan pandangan resmi
Bank Indonesia.

Buletin ini pada awal tahun penerbitan, tahun 2003, diterbitkan 6 (enam) bulan sekali, yaitu pada bulan Juli dan Desember.
Mulai tahun 2004 buletin ini terbit secara berkala pada bulan April, Agustus dan Desember, dan mulai tahun 2009, buletin
diterbitkan pada bulan Januari, Mei, dan September. Peminat buletin ini dapat menghubungi Bagian Administrasi Direktorat
Statistik Ekonomi dan Moneter, Gedung B Lt. 16, Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10350, telepon (021) 381 8629, facsimile
(021) 350 1931, email: buletinhukum_dhk@bi.go.id

Redaksi menerima sumbangan tulisan berupa artikel ilmiah atau semi ilmiah serta resensi buku berkenaan dengan hukum
perbankan dan kebanksentralan. Tulisan tersebut dapat disampaikan kepada Tim Perundang-undangan dan Pengkajian Hukum,
Direktorat Hukum Bank Indonesia, Gedung Tipikal Lt 9 Jl M.H Thamrin No. 2 Jakarta 10350, telepon (021) 381 7346, facsimile
(021) 380 1430. Atas dimuatnya artikel dan resensi buku dimaksud, Redaksi memberikan uang jasa penulisan.

“Buletin ini dapat diakses melalui website Bank Indonesia


di http://www.bi.go.id, pilih links riset, survey dan
publikasi, kemudian pilih publikasi”
Halaman ini sengaja dikosongkan
Dari Meja Redaksi

Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan Volume 8 Nomor 3, Edisi September 2010 kembali hadir dan menyapa
pembaca sekalian.

Pembentukan Lembaga Pengawas Jasa Keuangan (LPJK) sebagai amanat Pasal 34 UU Bank Indonesia harus dilakukan
untuk membangun industri jasa keuangan yang sehat, teratur dan mempunyai daya saing yang tinggi guna mewujudkan
perekonomian yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan stabil. Namun demikian, pembentukan Lembaga Pengawas
Jasa Keuangan (LPJK) harus dicermati dari berbagai aspek. Dari aspek filosofis, pembentukan UU mengenai LPJK harus dilihat
apakah dapat meningkatkan fungsi administratif kontrol dan manajerial kontrol terhadap otoritas jasa keuangan agar kebijakan
yang telah ditetapkan dilaksanakan secara taat asas sesuai peraturan perundang-undangan bebas dari berbagai penyimpangan
atau penyelewengan dalam rangka pencapaian tujuan. Dari aspek yuridis, RUU berkaitan LPJK tidak boleh dilihat terpisah dari
UU lain yang terkait. Dari aspek sosiologis, penyusunan RUU mengenai LPJK hendaknya secara sungguh mempertimbangkan
best practice dan dinamika perkembangan di sektor jasa keuangan.

Menyoroti hal tersebut, dalam edisi kali ini Buletin akan khusus menghadirkan artikel berkaitan dengan rencana
pembentukan OJK, yaitu: Implikasi Landasan Hukum, Independensi dan Posisi Dalam Sistem Ketatanegaraan Bagi Pencapaian
Tujuan dan Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral, yang ditulis oleh Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH, LLM;
Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang Bank Indonesia dan Dampaknya Pada Peran dan Fungsi Bank Indonesia di
Bidang Moneter, Sistem Pembayaran dan Stabilitas Sistem Keuangan, yang ditulis oleh Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, LLM;
Peran Bank Sentral Dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan, Oleh Dr. Wimboh Santoso, Kepala Biro Stabilitas Sistem
Keuangan Bank Indonesia; Independensi Bank Indonesia dan Peran Baru Dalam Stabilitas Sistem Keuangan, oleh Drs. Ec.
Abdul Mongid, MA; serta Beberapa Catatan Terhadap RUU Otoritas Jasa Keuangan, oleh Oka Mahendra, SH;

Sementara itu, dalam rubrik Cakrawala Hukum, redaksi menampilkan pula seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan
Sarjana Ekonomi Indonesia: RUU OJK, Adakah Solusi ?

Selanjutnya sebagai referensi, redaksi juga telah menyediakan resensi buku: Konstitusi Ekonomi.

Akhirnya, guna memberikan pengkinian informasi produk perundang-undangan Bank Indonesia, buletin ini akan
memuat daftar Peraturan Bank Indonesia (PBI) dan Surat Edaran (SE) Ekstern Bank Indonesia dari bulan Mei sampai dengan
Oktober 2010, yang dilengkapi dengan Ringkasan Peraturan Bank Indonesia, dengan harapan agar semakin mempermudah
pembaca dalam menelusuri dan mencari regulasi yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

Selamat membaca.

Jakarta, September 2010

Redaksi

i
Halaman ini sengaja dikosongkan
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan
Volume 8, Nomor 3, September 2010

Halaman
Dari Meja Redaksi............................................................................................................................................ i

Daftar Isi.......................................................................................................................................................... iii

Implikasi Landasan Hukum Independensi dan Posisi Dalam Sistem Ketatanegaraan Bagi Pencapaian Tujuan
dan Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral RI....................................................................... 1-9
Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH, LLM

Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang Bank Indonesia dan Dampaknya Pada Peranan dan
Fungsi Bank Indonesia Di Bidang Moneter, Sistem Pembayaran dan Stabilitas Keuangan................................... 11 - 16
Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, LLM

Peran Bank Sentral Dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan........................................................................ 17 - 22


Dr. Wimboh Santoso
(Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Bank Indonesia)

Bank Indonesia: Independensi, Pengawasan Bank dan Stabilitas Sistem Keuangan........................................... 23 - 36


Drs. Ec. Abdul Mongid, MA

Beberapa Catatan Terhadap RUU Otoritas Jasa Keuangan................................................................................. 37 - 43


Oka Mahendra, SH

Resensi Buku:
Konstitusi Ekonomi (Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH).......................................................................................... 45 - 46
Veri Dhyatmika Adhiraharja

Cakrawala Hukum:
Seminar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, RUU Otoritas Jasa Keuangan, Adakah Solusi Alternatif ?................ 47 - 49
Redaksi

Daftar Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Ekstern Bank Indonesia, Mei - Oktober 2010...................... 51 -53
Tim Informasi Hukum
(Direktorat Hukum Bank Indonesia)

Ringkasan Peraturan Bank Indonesia, Mei - Oktober 2010................................................................................ 55 - 70


Tim Informasi Hukum
(Direktorat Hukum Bank Indonesia)

iii
Halaman ini sengaja dikosongkan
Implikasi Landasan Hukum Independensi dan Posisi
Dalam Sistem Ketatanegaraan Bagi Pencapaian
Tujuan dan Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia
Sebagai Bank Sentral RI
Oleh: Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH, LLM

A. LANDASAN DAN STATUS BANK INDONESIA masih merupakan bagian dari Eksekutif. Konsekuensinya
Bank Indonesia dituntut transaparan dan memenuhi
Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 jo prinsip akuntabilitas kepada publik dalam menetapkan
Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Bank kebijakannya serta terbuka bagi pengawasan oleh
Indonesia (UUBI), Bank Indonesia adalah Lembaga masyarakat.
Negara yang independen. Sebagai Lembaga Negara
yang independen, Pemerintah dan/atau pihak-pihak Apakah sebenarnya hakekat independen itu, apakah
lainnya dilarang melakukan campur tangan terhadap independen berarti BI steril sama sekali dari segala bentuk
pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia (BI). intervensi?. Adakah batas-batas toleransinya?. Secara
Bahkan ditegaskan di dalam UUBI, BI wajib menolak teoritis, pada hakekatnya terminologi “independensi“
dan/atau mengabaikan segala bentuk campur tangan itu mempunyai cakupan yang sangat luas.
dari pihak-pihak yang disebutkan di muka.
Independence: “the state or condition of being free from
Pelanggaran terhadap larangan campur tangan maupun dependence, subjection or control. Political independence
terhadap kewajiban untuk menolak campur tangan, is the attribute of a nation or state which is enterely
diancam penjara minimal 2 (dua) tahun, maksimal 5 (lima) autonomous and not subject to government, control or
tahun serta denda minimal Rp 2 miliar, maksimal Rp 5 dictation of any exterior power“. Independence: “not
miliar. Demikian terangkum dalam Pasal 67 dan 68 UUBI. depending on autority, self governing, not depend on
something for validity or efficiency, not supported by
B. INDEPENDENSI BI public fund (for institution), unwilling to be under
obligation to others, independent of any political aprty
Sebagai Lembaga Negara yang indepedenden, BI adalah (for politician) (Riyanto Sastroadmodjo, 1999).
badan hukum yang status badan hukumnya diperoleh
melalui penetapan Undang-Undang (UU). BI adalah Jika dikaitkan dengan Independensi Bank Sentral, maka
badan hukum publik, dengan kriteria: cara pendiriannya independensi Bank Sentral seperti BI terkait hal-hal
dilakukan penguasa negara berdasarkan UU, pelaksanaan sebagai berikut: Suatu Bank Sentral yang efektif harus
tugasnya berhubungan dengan publik, diberi wewenang kuat dengan cakupan ekonomi yang luas dalam
membuat peraturan sendiri yang mengikat masyarakat. operasinya dan terlepas dari campur tangan partisan
Saat ini produk peraturan tersebut dituangkan dalam serta tekanan partai politik. Sebagai lembaga independen
Peraturan Bank Indonesia (PBI). di lingkungan pemerintahan suatu Negara, Bank Sentral
seharusnya memiliki kemampuan atau otoritas atau
Adapun wewenang yang diberikan oleh UU kepada BI kewenangan judgment dalam kaitannya dengan
antara lain wewenang mengelola kekayaan sendiri persoalan kebijakan moneter suatu negara, namun tidak
terlepas dari APBN. Independensi BI memberikan dalam arti berada dalam posisi isolasi terhadap seluruh
kewenangan yang lebih besar kepada BI dengan kebijakan perekonomian suatu negara (Paul A Volcker,
harapan akan dapat lebih besar meningkatkan efektivitas Ex Chairman Board of Governors FRS US 79-87).
pelaksanaan tugasnya. Namun di sisi lain, independensi
menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Dalam Itulah kualifikasi dan persyaratan suatu Bank Sentral
sistem ketatanegaraan Indonesia, posisi BI tampaknya yang independence. Dalam praktek negara maju,

1
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

kualifikasi dan persyaratan itu biasanya melekat dan 2. Kemandirian Fungsi


tercermin di dalam UU yang mengaturnya. Independen
diperlukan untuk pengembangan institusi dan Suatu Bank Sentral dapat dinilai mempunyai
mempertahankan jati dirinya secara bertanggung jawab. kemandirian fungsi bila ia mempunyai kebebasan
Independen sering terkait dengan prinsip politik yang dalam menggunakan instrumen-instrumen kebijakan
dianut suatu pemerintah, secara historical maupun moneter seperti: penyesuaian tingkat suku bunga
tradisional, terutama terletak pada masalah keuangan dan operasi pasar terbuka (OPT) dan pemberian
pemerintah. tingkat diskonto atau pengautan tentang kebijakan
perkreditan.
Di Amerika Serikat (United State/US ) pemberian status
independen Federal Reserve ( FDR ) atau Bank Sentral Dalam konteks ini kemandirian BI dapat diartikan
Amerika terutama untuk tujuan agar FDR dapat sebagai kemandirian instrumen yang menggambarkan
mengatur kebijakan moneter US secara bebas dari bahwa suatu bank sentral memiliki kebebasan memilih
“political presures“ (Lash, 1987: 28) instrumen yang diperlukan untuk mencapai tujuan
dan sasaran moneter yang telah ditetapkan.
C. KEMANDIRIAN BI
Hasil dari pelaksanaan kewenangan tersebut di atas,
Sebagai Lembaga Negara yang independen, maka BI sekalipun dengan biaya besar, misalnya dalam hal
dituntut mempunyai kemandirian terutama dalam 4 pelaksanaan OPT, tidak tepat jika dinilai atau dievaluasi
(empat) hal, yaitu: kemandirian institusi, kemandirian dengan tolak ukur out put yang dicapainya. Bisa jadi
fungsi, kemandirian keuangan dan kemandirian tidak sebanding, namun itulah keputusan yang
organisasi. Masing-masing kemandirian tersebut dapat diambil oleh BI yang tidak boleh diintervensi.
diuraikan sebagai berikut.
Bank Sentral yang independen harus memiliki
1. Kemandirian Institusi kebebasan untuk memutuskan kapan dan dalam
hal apa saja bantuan kredit atau fasilitas kredit
Kemandirian Institusi diartikan sebagai status BI likuiditas dapat diberikan. Pasal 10 UUBI mengatakan:
secara institusi terpisah dari kekuasaan eksekutif ”BI dalam mengendalikan kebijakan moneter
dan legislatif. BI diberi kewenangan menetapkan berwenang menggunakan instrumen-instrumen
kebijakan moneter secara independen dan bebas moneter yang telah ditetapkan dalam UU tanpa
dari campur tangan pemerintah. Demikian meminta atau memperoleh persetujuan dari
ditegaskan di dalam Pasal 4 Ayat (2) UUBI. Pemerintah”. Oleh sebab itu, jika kemandirian fungsi
ini dikaitkan dengan kebijakan Kredit Likuiditas Bank
Secara struktural kedudukan BI tidak berada di bawah Indonesia (KLBI) misalnya, seharusnya kebijakan
atau di dalam Kabinet Pemerintah, namun mempunyai seperti KLBI ini tidak boleh ditugaskan kepada BI,
kedudukan sejajar dengan Kabinet Pemerintah. karena akan mengganggu kemandirian fungsi BI.
KLBI diberikan untuk membiayai berbagai kredit
Kemandirian dalam hal menetapkan kebijakan program pemerintah. KLBI dikucurkan terutama
moneter merupakan syarat kemandirian institusi. untuk membiayai pengadaan pangan dan kegiatan
Sebagaimana ditegaskan di dalam Pasal 8 huruf a yang menyentuh secara langsung kepada usaha
UUBI: BI berwenang untuk menetapkan dan kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah.
melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan Diantaranya untuk Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit
menjaga kelancaran sistem pembayaran serta Pemilikan Rumah Sederhana dan Sangat Sederhana
mengatur dan mengawasi bank. Kewenangan ini (KPRS/SS), Kredit Kepada Koperasi Primer untuk
tidak dapat diintervensi Pemerintah. Demikian anggotanya (KKPA), Kredit Kepada Koperasi (KKOP),
ditentukan di dalam Pasal 9 Ayat (1) UUBI. Kredit Modal Kerja Kepada BPR (KMK BPR), Kredit

2
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Kepada Pengusaha Kecil dan Mikro (KPKM) (BI, 2002: atas, intervensi maupun pressure politik tersebut
20). Oleh sebab itu tepat jika kemudian oleh UUBI tidak boleh terjadi pada Bank Sentral seperti BI. Oleh
di dalam Pasal 56 KLBI telah dihapuskan, karena karena itu UUBI mengatur bahwa anggaran BI adalah
dipandang mengganggu konsep kemandirian BI. mandiri terpisah dari Pemerintah. Terpisah di sini
mengandung arti “lepas“ sama sekali dari induknya.
Kalau secara kaedah fungsi BI sebagai Lembaga Pemerintah tidak menganggarkan kebutuhan
Negara yang mandiri, independen telah diatur secara keuangan BI. Oleh sebab itulah, maka Pasal 60 UUBI
tegas dalam UU, maka seharusnya perdebatan siapa mengatakan: “anggaran BI ditetapkan oleh Dewan
yang harus bertanggung jawab atas kebijakan BLBI Gubernur. Tidak perlu approval DPR, tapi perlu
untuk mengatasi krisis tahun 1997 yang lalu tidak diinformasikan kepada DPR, sebagai bentuk kontrol
perlu terjadi. Sebagaimana diketahui BI adalah institusi tidak langsung.
yang paling disorot dalam kasus BLBI tersebut. Saat
itu terjadi perdebatan yang berkepanjangan di Panja 4. Kemandirian Organisasi
BLBI seputar apakah BI termasuk dalam jajaran
pemerintahan/Kabinet atau tidak (Mintoraharjo, Kemandirian organisasi diperlukan oleh BI karena
2001: 20). Ada satu pandangan yang mengatakan sangat erat kaitannya dengan komposisi dari organ
BI termasuk dalam jajaran kabinet. Argumennya badan hukum BI dan sistem pengangkatan dan
adalah dari segi keuangan dapat dipisahkan, namun pemberhentian pegawai BI sebagai bank sentral.
dalam kebijakan yang dilakukan BI merupakan Pihak lain dilarang melakukan campur tangan
pelaksanaan dari kebijakan pemerintah. Pada saat terhadap pelaksanaan tugas BI, sebaliknya BI wajib
itu BI tidak hanya berfungsi sebagai Bank Sentral, menolak dan atau mengabaikan segala bentuk
tapi sekaligus sebagai agent of development yang campur tangan dari pihak luar. Setiap pihak yang
punya kaitan dengan kebijakan perekonomian melakukan campur tangan dikenai sanksi yang
pemerintah secara keseluruhan. Pandangan lain tegas. Demikian dalam disimpulkan dari ketentuan
mengatakan tidak demikian. BI adalah lembaga yang Pasal 67 jo Pasal 9 UUBI.
independen, lembaga yang otonom berdasarkan UU
No. 13 Tahun 1968 Tentang Bank Sentral waktu itu. Belakangan ini independensi dan kemandirian serta
Perbedaan pandangan demikian seharusnya tidak kredibilitas BI diuji, karena ditengarai di dalam
perlu terjadi jika semua pihak benar-benar memahami pelaksanaan BI sebagai Lembaga Negara yang
fungsi Bank Sentral sebagai Lembaga Negara yang independen, ternyata BI belum mampu menempatkan
independen, mandiri dari segi fungsinya, sebagaimana dirinya sebagaimaan dikehendaki oleh UUBI. Netralitas
kami kemukakan di atas. BI sebagai bank sentral ternyata belum sepenuhnya
benar-benar mampu mandiri. Intervensi dan pressure
3. Kemandirian Keuangan politik masih sering mempengaruhi kinerja dan kebijakan
yang dijalankan oleh BI sebagai Lembaga Negara yang
Mengacu kepada peran Pemerintah dan DPR independen. Akibatnya begitu BI menjalankan tugas-
terhadap anggaran bank sentral, maka diperlukan tugasnya sebagaimana diamanatkan oleh UUBI, banyak
adanya kemandirian keuangan pada BI. Mengapa pihak kemudian mempermasalahkan landasan hukum
demikian, karena bila dalam masalah keuangan kebijakan dalam rangka pelaksanaan tugas BI, status
terdapat kontrol dari Pemerintah, hal ini akan berarti dan kewenangan BI. Tidak mustahil pula kemudian
bahwa BI tidak lagi bisa memainkan peran banyak kalangan pemerhati BI yang juga menengarai
independensinya secara optimal. Dengan adanya intervensi dan pressure politik tersebut sebagai upaya
kontrol pemerintah akan sangat rentan intervensi lain yang bertujuan merongrong pencapaian kinerja
atau pressure politik, khususnya berkaitan dengan dan pelaksanaan tugas BI.
kebijakan moneter. Secara teoritis mengacu pada
difinisi independen sebagaimana dikemukakan di

3
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

D. POSISI BI DALAM SISTEM KETATANEGARAAN

MPR Lembaga Tertinggi Negara

Menyampaikan
Laporan Keuangan BI
yang telah diperiksa

Lembaga Badan Dewan Presiden Dewan


Mahkamah
Tinggi Pemeriksa Perwakilan Kepala Kepala Agung Pertimbangan
Negara Keuangan Rakyat Agung
Negara Pemerintahan

UU BI (UUD 45) Mengambil Sumpah


Memeriksa Informasi Tertulis Informasi Pimpinan BI (UUBI) dan Janji Anggota
Laporan Triwulan/sewaktu-waktu Tahunan Dewan Gubernur
Keuangan BI Tertulis

Bank Indonesia
Lembaga Negara Lembaga Negara yang Departemen
(UU No. 23/1999 Independen dan Badan Hukum
joUU No.3/04

Publik
(Informasi Tahunan)

Sumber : Diolah kembali dari BI dan Rahbini, 2000.

Struktur Bank Indonesia


Dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia

MPR

Presiden
Bank Indonesia DPR DPA BPK MA
Kepala Kepala
Negara Pemerintahan

1. Menetapkan dan Melaksanakan


Kebijakan Moneter:
a. Inflasi
b. Nilai Tukar
2. Mengatur dan Menjaga Kelancaran Peraturan Peraturan
Sistem Pembayaran Bank Indonesia Pemerintah
3. Mengatur dan Mengawasi Bank

Sumber : Rahbini, 2000 : 166.

4
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Status BI yang independen dan mandiri sebagaimana E. TUJUAN DAN TUGAS BANK INDONESIA
diuraikan di atas, secara legal berdasarkan UUBI, dapat
dipelajari bahwa posisi BI dalam system ketatanegaraan Menurut Pasal 7 UUBI, BI hanya mempunyai satu tujuan
Indonesia terlihat tidak sejajar dengan DPR, Mahkamah yaitu: MENCAPAI & MEMELIHARA KESTABILAN NILAI
Agung, BPK maupun Presiden sebagai Lembaga Tertinggi RUPIAH
Negara ( Rahbini, 2000 : 167 ). Posisi BI juga tidak sejajar Pencapaian dan pemeliharaan kestabilan nilai Rupiah,
atau sederajat dengan Depertemen atau Kementeraian tercermin pada:
Departemen, karena posisi BI berada di luar Pemerintahan Terhadap barang dan jasa = inflasi
atau Kabinet. Secara legal menurut hemat saya, pendekatan Terhadap mata uang negara lain = kurs
demikian yang tepat, karena berdasarkan UUBI tegas
dikatakan di dalam Pasal 4 bahwa BI adalah Lembaga Menurut Pasal 8 UUBI, guna mencapai tujuan kestabilan
Negara yang independen. BI adalah Lembaga Negara bukan nilai tukar rupiah, BI memiliki tiga tugas yaitu:
Lembaga Pemerintah. Pemerintah boleh menyusun • Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
kabinetnya dan setiap saat boleh diganti atau berubah- • Mengatur dan menjaga kelancaran sistem
ubah dan oleh UU perubahan seperti itu menjadi hak pembayaran;
prerogative Presiden, namun untuk posisi BI berdasarkan • Mangatur dan mengawasi bank.
UU tidak perlu harus ikut arus perubahan seperti dalam
sistem kabinet dan/atau pemerintahan. Tugas Penetapan dan Pelaksanaan Kebijakan Moneter
Dalam rangka melaksanakan tugas menetapkan dan
Di sinilah sebenarnya posisi BI sebagai Bank Sentral yang melaksanakan kebijakan moneter, BI menetapkan sasaran
tidak boleh dicampuri oleh pihak manapun, termasuk inflasi dengan memperhatikan perkembangan dan prospek
Pemerintah. Jadi dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, ekonomi makro, terutama perkembangan harga. Untuk
BI adalah Lembaga Negara yang independen. BI tidak mencapai sasaran laju inflasi, BI menetapkan sasaran
berada dalam struktur kabinet atau struktur Pemerintahan, besaran moneter atau likuiditas perekonomian.
posisinya berada di luar strtuktur tersebut dan mandiri.
Rahbini mengatakan bahwa kedudukan BI adalah sejajar Pengendalian moneter dilakukan dengan menggunakan
dengan kedudukan Presiden. Sebagai Lembaga Negara BI berbagai instrumen a.l. Operasi Pasar Terbuka (OPT),
dikatakan mengambil sebagian peran Presiden sebagai penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib
Kepala Negara. Kedudukan seperti ini belum dipahami minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan.
oleh banyak kalangan, sehingga memerlukan sosialisasi
yang lebih mendalam (Rahbini, 2000 : 167). Dalam melaksanakan tugas menetapkan dan melaksanakan
kebijakan moneter, BI tetap mempunyai fungsi sebagai
Jika poisisi demikian dipahami kebenarannya, maka lender of the last resort yang memungkinkan BI membantu
perdebatan tentang apakah BI merupakan bagian dalam kesulitan pendanaan jangka pendek yang dihadapi bank.
Kabinet Pemerintahan atau bukan, seperti yang terjadi pada Pemberian bantuan dana kepada bank dalam rangka tugas
waktu-waktu yang lalu, seperti terkait dengan perdebatan sebagai lender of the last resort tersebut dibatasi jangka
tentang kasus BLBI di Panja BLBI yang lalu seharusnya tidak waktunya, yaitu paling lama 90 hari; Penggunaannya hanya
perlu terjadi. Jika hal ini dikaitkan dengan perbincangan untuk kepentingan mismatch dan harus dijamin dengan
tentang sudah saatnya atau belum kehadiran OJK atau LPJK surat berharga yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan.
untuk menggantikan peran BI sebagai Pengawas Perbankan, Demikian dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 11 UUBI.
barangkali memerlukan perenungan atau penyimakan lebih
mendalam, sebagaimana akan dibahas pada uraian di bawah, Berpijak dari pengalaman krisis moneter tahun 1997/98
mengingat pemahaman tentang posisi atau kedudukan, yang lalu, menurut hemat saya seyogyanya BI tidak lagi
kemandirian BI sebagai Bank Sentral saja oleh sementara masuk ke ranah pendanaan Bank yang menghadapi masalah
kalangan pemerhati di bidang perbankan belum sepenuhnya insolvency. Mengapa demikian, karena menurut hemat
benar. saya jika hal ini dilakukan oleh BI, risikonya akan terlalu

5
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

besar, jika ternyata Bank yang Insolven tersebut tidak Dalam jangka pendek, kebijakan perbankan diarahkan
kunjung dapat disehatkan bahkan bisa jadi akan semakin untuk mempercepat penyehatan bank-bank agar dapat
kolaps dan kemudian menghadapi pailit yang sudah pasti mendukung pemulihan ekonomi.
tidak mungkin dapat diharapkan mampu mengembalikan
dana bantuan tersebut. Satu-satunya jalan adalah dana Yang menjadi perhatian saat ini adalah kaitannya dengan
bantuan pendanaan tersebut kemudian hanya akan dijadikan tugas mengawasi bank. Amanat UU tugas pengawasan
penyertaan.Sementara itu kebijakan penyertaan tersebut bank tersebut akan dialihkan kepada lembaga pengawasan
tidak boleh berlangsung terus. Pada saatnya harus dijual sektor jasa keuangan yang akan dibentuk dan diharapkan
lagi kepada investor atau pihak ketiga yang berminat dan paling lambat akhir tahun 2010. Nama lembaga pengawas
memadai. Disinilah persoalan akan muncul, jika ternyata tersebut adalah Otoritas Jasa Keuangan, di mana Rancangan
hasilnya tidak juga mampu menutup dana bantuan yang Undang-undangnya sudah disiapkan baik oleh Departemen
telah dikeluarkan tersebut. Keuangan, DPR ataupun BI sendiri. Diharapkan pada saat
pengalihan tugas pengawasan bank kepada lembaga
Selanjutnya, dalam rangka menjalankan tugas menetapkan pengawas yang baru tersebut, bank-bank yang selama ini
dan melaksanakan kebijakan moneter, BI mempunyai mengalami masalah likuiditas dan masalah penyehatan
wewenang untuk melaksanakan kebijakan nilai tukar akan benar-benar telah dapat disehatkan, sehingga tidak
berdasarkan sistem nilai tukar yang ditetapkan Pemerintah menimbulkan masalah baru dikemudian hari.
atas usul BI. Tugas ini erat kaitannya dengan masalah
lalulintas devisa dan system nilai tukar sebagaimana diatur F. KEHADIRAN OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK)
dalam UU Tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. ATAU LEMBAGA PENJAMIN JASA KEUANGAN (LPJK).

Di samping itu, menurut Pasal 13 UUBI, BI juga bertugas Jika mendasarkan pada amanat Pasal 34 UUBI
mengelola cadangan devisa negara yang ada di BI. sebenarnya OJK atau LPJK tersebut diharapkan sudah
Pengelolaan cadangan devisa tersebut dilakukan dengan terbentuk pada akhir tahun 2002 .Hal tersebut berarti
memperhatikan prinsip security, liquidity, dan probity. Undang-undang OJK sudah harus lahir pada tahun 2002
tersebut. Namun pada kenyataannya sampai saat ini
Tugas Pengaturan dan Penyelenggaraan Sistem UUOJK tersebut belum juga kunjung ada. Kemudian
Pembayaran diharapkan akhir tahun 2010 UUOJK diharapkan sudah
Dalam menjalankan tugas pengaturan dan penyelenggaraan bisa disetujui dan disahkan oleh DPR bersama-sama
sistem pembayaran, menurut Pasal 15 UUBI, BI berwenang: dengan Pemerintah.
• Melaksanakan dan memberikan persetujuan serta izin
penyelenggaraan jasa sistem pembayaran Dengan hadirnya OJK, maka Lembaga keuangan Bank
• Mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran maupun bukan Bank nantinya akan diawasi oleh OJK
untuk menyampaikan laporan kegiatannya tersebut. Namun demikian, saat ini masih banyak
• Menetapkan penggunaan alat pembayaran kalangan yang mempertanyakan apakah kehadiran OJK
tersebut benar-benar sudah merupakan kebutuhan
Tugas Pengaturan dan Pengawasan Bank untuk mengawasi dalam satu atap lembaga keuangan
Selanjutnya dalam rangka tugas pengaturan dan pengawasan bank maupun non bank, termasuk pasar modal dan
bank, menurut Pasal 24 UUBI, BI berwenang: asuransi. Saat ini justru banyak kalangan juga yang
• Menetapkan peraturan di bidang perbankan mengkawatirkan kehadiran OJK tidak akan mampu
• Memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan mengambil alih fungsi pengawasan tersebut, jika fakta
kegiatan tertentu dari bank efouria saat ini tidak mencerminkan kesiapan SDM yang
• Melakukan pengawasan bank baik langsung maupun memadai untuk mendukung kehadiran OJK tersebut.
tidak langsung
• Mengenakan sanksi terhadap bank sesuai dengan Coba bandingkan dengan kasus Pajak yang
ketentuan perundang-undangan menghebohkan saat ini, banyak pihak menyatakan

6
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

bahwa kehadiran Pengadilan Pajak ternyata bukan solusi Pejabat/pensiunan BI seperti halnya pada Peradilan Pajak,
terbaik untuk mendukung reformasi sistem perpajakan maka jujur saya khawatir kasus serupa akan terjadi juga
di Indonesia. di OJK tersebut. Jika konstatasi ini benar, maka menurut
hemat saya saat ini masih perlu dikaji ulang apakah
Pernyataan yang layak direnungkan saat ini adalah, mandat Pasal 34 UUBI tersebut sudah sepenuhnya tepat
persoalan sebenarnya atau persoalan substansial terkait dan benar. Jangan-jangan mandat tersebut hanya
dengan krisis perbankan selama ini yang ditengarai didasari atau dilatarbelakangi oleh sikap emosional
antara lain karena pelaksanaan fungsi pengawasan BI karena trauma masa lalu.
kurang memadai, apakah persoalan tersebut terletak
pada lembaganya atau pada SDMnya ?. Bercermin Jika pandangan ini diterima, bukankah yang lebih
pada Peradilan Pajak sebagaimana dikemukakan di esensial dan substansial adalah persoalan reformasi
atas, bukankah hal tersebut secara substansial persoalan SDM bukan reformasi kelembagaannya. Secara sistem
mendasar adalah terletak pada SDMnya yang tidak barangkali kelembagaannya sudah benar, sudah tepat
kredibel, tidak qualified, tidak jujur dan mempunyai berada di jajaran BI, akan tetapi SDM pemegang kunci
kemampuan maupun integritas yang tinggi. Jika pengambil keputusan dan/atau kebijakan di bidang
kehadiran OJK nanti ternyata hanya akan memindahkan tugas pengawasan yang harus direformasi dan bukan
SDM Divisi Pengawasan BI ke lembaga baru yang sistemnya.
bernama OJK, jika tidak dibarengi dengan SDM yang Saya kawatir kehadiran OJK yang mengambil fungsi
memadai, kredibel, mempunyai integritas yang tinggi, pengawasan BI atas Bank-bank Umum, akan tetap
tegas dalam menjalankan fungsi pengawasan yang tumbuh atau bertabrakan dengan fungsi pengaturan
mandiri, independen, saya kawatir hal intu hanya akan BI yang secara tidak langsung akan bersinggungan
menimbulkan masalah baru dikemudian hari. dengan fungsi pengawasan (macroprudential).

Saya terus terang kawatir kehadiran OJK yang dimanatkan G. HUBUNGAN DENGAN LEMBAGA LAIN
oleh Pasal 34 UUBI tersebut, hanya dilatar belakangi
oleh sikap traumatis pembentuk UU waktu itu terhadap Dalam struktur ketatanegaraan Indonesia, hubungan
peristiwa krisis perbankan masa lalu yang satu diantaranya BI dengan Presiden dapat digambarkan sebagai berikut.
ditengarai karena pelaksanaan tugas pengawasan BI
terhadap bank-bank umum di Indonesia yang kurang Hubungan dengan Presiden sebagai Kepala Negara,
efektif. Presiden berwenang:
• Mengusulkan dan mengangkat Gubernur & Deputi
Jika konstatasi ini benar, maka kehadiran OJK sebenarnya Senior
belum tentu mencerminkan solusi tepat pengaturan dan • Mengangkat Deputi Gubernur
pembenahan tugas dan fungsi pengawasan perbankan • Mengusulkan calon Gubernur & Deputi Senior
saat ini. Bercermin pada kasus Pajak sebagaimana saya kepada DPR
kemukakan di atas, kehadiran Pengadilan Pajak yang • DPR menyampaikan hasil persetujuannya kepada
hanya diisi oleh SDM dari Pegawai Pajak dan Mantan Presiden untuk diangkat
Pegawai Pajak dan/atau Konsultan Pajak dengan dalih • Memberikan persetujuan tertulis jika anggota Dewan
merekalah yang mempunyai pengalaman dan keahlian Gubernur akan menjalani proses hukum.
dibidang pajak, ternyata tidak memberikan solusi terbaik
sistem pengelolaan perpajakan di Indonesia, ternyata Hubungan dengan Makamah Agung, Mahkamah
juga masih rentan dengan KKN yang sungguh Agung yang bertugas mengambil sumpah/janji anggota
membahayakan kepentingan publik dan keuangan negara. Dewan Gubernur.
Hubungan dengan Badan Pemeriksa Keuangan:
Jika kehadiran OJK ternyata juga hanya akan diisi oleh • Menerima dan melakukan pemeriksaan atas laporan
SDM dari BI yang dieksodus ke LPJK/OJK dan mantan keuangan tahunan BI

7
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

• Melakukan pemeriksaan khusus terhadap BI apabila • Dalam melaksanakan tugasnya, LPJK yang akan
diminta oleh DPR datang mempunyai kewajiban melakukan koordinasi
• BPK menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada & kerja sama dengan BI sebagai bank sentral. Kerja
DPR. sama tersebut akan di atur dalam UU LPJK atau OJK
yang akan datang, sebagaimana diamanatkan oleh
Hubungan dengan Pemerintah: Pasal 34 UUBI.
• Hubungan dengan Kantor Menteri Sekretaris Negara
untuk pemuatan PBI dalam Lembaran Negara RI. H. PENUTUP

Hubungan dengan Bea & Cukai dalam hal larangan Dengan mendasarkan pada UUBI sebagaimana beberapa
membawa uang rupiah ke luar atau ke dalam wilayah kaedahnya telah di bahas dalam uraian di atas, implikasi
pabean RI: terhadap independensi dan posisi dalam sistem
• BI mengelola cadangan devisa milik negara ketatanegaraan bagi pencapaian tujuan dan pelaksanaan
• Pemerintah dapat hadir dalam Rapat Dewan tugas BI sebagai Bank Sentral RI, ternyata masih
Gubernur (RDG) bulanan untuk menetapkan menyisakan perbedaan pemahaman diantara sebagian
kebijakan umum di bidang moneter dengan hak kalangan pemerhati BI sebagai Lembaga Negara yang
bicara tanpa hak suara independen. Secara kaedah pengaturan independensi
• BI sebagai pemegang kas Pemerintah BI sebagai Bank Sentral sebenarnya sudah cukup tegas,
• Untuk dan atas nama Pemerintah dapat menerima sebagaimana dapat dilihat pada ketentuan Pasal 8
pinjaman luar negeri, menatausahakan, serta UUBI. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa
menyelesaikan tagihan & kewajiban keuangan independensi tersebut masih sering tidak dapat
Pemerintah terhadap pihak luar negeri diimplementasikan secara benar di dalam praktek karena
• Pemerintah wajib meminta pendapat dan/atau adanya intervensi baik dari Pemerintah maupun pressure
mengundang BI dalam sidang kabinet yang politik.
membahas masalah ekonomi, perbankan &
keuangan, atau masalah lain yang berkatan dengan Kehadiran OJK atau LPJK sebagai salah satu solusi untuk
tugas & wewenang BI menempatkan peran pengawasan perbankan pada
• Pemerintah wajib konsultasi dengan BI & DPR dalam Institusi mandiri di luar BI, ditengarai masih menyisakan
penerbitan surat-surat utang negara problem mendasar dikemudian hari, karena kesiapan
• BI dapat membantu Pemerintah dalam penerbitan SDM untuk itu masih mengambil atau hanya
surat-surat utang negara. memindahkan saja Direktorat Pengawasan BI menjadi
• Menerima sisa surplus hasil kegiatan BI bagian dari Lembaga Pengawasan yang baru tersebut.
• Pemerintah dengan persetujuan DPR wajib menutup Kajian kritis berkaitan dengan hal itu adalah apakah
kekurangan dalam hal modal BI menjadi kurang kehadiran OJK atau LPJK itu sudah benar-benar
dari Rp 2 triliun merupakan kebutuhan atau justru hanya merupakan
efouria karena trauma masa lalu sebagai dampak dari
Hubungan Internasional, BI bertugas: krisis perbankan yang berkepanjangan yang satu
• Melakukan kerja sama dengan bank sentral negara diantaranya adalah karena fungsi pengawasan BI tidak
lain, organisasi dan lembaga internasional optimal.
• Apabila keanggotaan suatu lembaga internasional/
multilateral dipersyaratkan adalah negara, BI dapat
bertindak sebagai anggota lembaga tersebut untuk
dan atas nama Negara

Hubungan dengan Lembaga Pengawasan Jasa Keuangan


yang Independen yang akan datang.

8
Referensi

Bank Indonesia, 2002, Mengurai Benang Kusut BLBI, Bank Indonesia.

Lash, Nicholas, A.,1987, Banking Law and Regulations: An Economis Perspentive, Prentice-Hall Inc, USA.

Mintorahardjo, Sukowaluyo, 2001., BLBI Simalakama, Resi, Jakarta.

Macey, Jonathan, R and Miller, Geoffrey, P., 1992, Banking Law and Regulation, Litle Brown Company, Boston, Toronto, London.

Rahbini, Didik J; Suwidi Tono, 1987, Bank Indonesia Menuju Independensi Bank Sentral, PT. Mardi Mulyo, Jakarta.

UU No. 7 Tahun 1992 jo UU No.10 Tahun 1998 Tentang Perbankan.

UU No. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia.

UU NO. 3 Tahun 2004 Tentang Bank Indonesia.

9
Halaman ini sengaja dikosongkan
Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang
Bank Indonesia dan Dampaknya Pada Peranan dan
Fungsi Bank Indonesia Di Bidang Moneter, Sistem
Pembayaran dan Stabilitas Keuangan
Oleh: Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, LLM**

Apabila judul makalah ini didekati dari teori hukum, maka Artinya kedudukan Bank Sentral dalam struktur
teori hukum itu memberikan sarana kepada kita untuk ketatanegaraan terpatri atau memperoleh mandat dari
merangkum dan memahami masalah implementasi Pasal konstitusi yang sekaligus memberikan jaminan dari konstitusi
34 “Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank untuk Bank Sentral yang independen.
Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2004, terakhir dengan Undang-Undang Apabila diperhatikan secara mendalam, maka penafsiran
Nomor 6 Tahun 2009 tentang Bank Indonesia.” (“UUBI”). bahwa Bank Sentral ditentukan dalam pasal 23D UUD 1945
adalah Bank Indonesia, sebagaimana telah pula ditentukan
Dengan ini dapat dipahami persoalan-persoalan yang bersifat dalam pasal 4 ayat (1) UU BI. Berdasarkan hukum Bank
yang hakiki dari UUBI itu. Radbruch menyatakan, bahwa Indonesia telah ditentukan sebagai Bank Sentral dan
tugas teori hukum adalah membikin jelas nilai-nilai serta kedudukannya diakui oleh konstitusi.
postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofisnya
yang tertinggi.1 Untuk itu dapat dipahami berbagai pendapat yang mengkaji
kedudukan bank sentral yang independen dalam konstitusi.
Berdasarkan itu harus diteliti antara lain sebagai berikut.2 Seperti dikatakan oleh Arend Lijhart, bahwa “A central
Petama, mengapa UUBI itu berlaku? Kedua, apa dasar bank can be made particularly strong if us independence
kekuatan mengikatnya ? Ketiga, apa yang menjadi tujuan is enshrined not just a central bank charter but in the
UUBI.? Keempat, bagaimana seharusnya UUBI dipahami? constitution”. Sementara itu, John Elster menyatakan pula,
bahwa “…they cannot be change through the ordinary
UU BI merupakan derivatif dari ketentuan pasal 23 UUD legislative pocess but require a more stringent procedure".3
1945.
Konstitusi itulah yang menjadi desain utama dan pokok
dari keseluruhan sistem aturan yang berlaku sebagai
pegangan bersama dalam kehidupan warga Negara dalam
suatu Negara, yang keseluruhannya membentuk suatu
** Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983), Magister Hukum dari
Universitas Indonesia (1994), Doktor dari Universitas Indonesia (2001), kesatuan sistem hukum. Karena itu, hukum dan konstitusi
Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004), Dosen disuatu Negara itu haruslah menjadi sesuatu yang hidup
Fakultas Hukum USU Medan, tahun 1987-sekarang, Dosen Pascasarjana
Hukum USU Medan, tahun 1999-sekarang, Dosen Magister Manajemen dalam praktek kehidupan bernegara sehari-hari. Dari sinilah
Pascasarjana USU Medan, tahun 2002, Dosen Magister Kenotariatan
kita dapat meyakini “the rule of law” atau prinsip supremasi
Pascasarjana USU Medan, tahun 2002-sekarang, Dosen Magister
Hukum Pascasarjana Univ. Pancasila Jakarta, tahun 2001-sekarang, hukum (supremacy of law) dapat benar-benar diwujudkan
Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Krisnadwipayana Jakarta,
tahun 2001–2002, Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi
dalam kenyataan. Jika tidak, niscaya prinsip “the rule of
Hukum Militer (STHM), Jakarta, tahun 2003-sekarang. Magister Hukum law” dan “supremacy of law” itu hanya menjadi jargon
Pascasarjana Universitas Islam, Jakarta, tahun 2004-sekarang. Dosen
Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional, Jakarta, 2005. atau slogan kosong belaka.4
Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum
Universitas Indonesia, tahun 2002-sekarang. Ketua Program Studi Ilmu
Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana 3 Arend Lijphart dan jon Elster dalam Maqdir Ismail, “Independensi,
Universitas Sumatera Utara, Tahun 2006-sekarang. Akuntabilitas, dan Transparansi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral:
Studi Perbandingan Undang Undang Bank Indonesia”, Disertasi pada
1 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Alumni, 1982), hal. 224- Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2005), hal.263.
225.
4 Jimly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara dan Pilar Pilar Demokrasi, (Jakarta:
2 Bandingkan. Satjipto Rahardjo, Op. Cit, halaman. 225 Konstitusi Press, 2006), hal.79.

11
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Dalam konteks kedudukan Bank Sentral dalam konstitusi memberikan independen kepada bank sentral sebenarnya
memberikan penjelasan bahwa tata urutan atau susunan tidak berdasar. Independensi tidak berarti bank sentral bebas
hierarkis tatanan hukum berkenaan dengan kegiatan menjalankan kebijakan moneter yang mereka inginkan.
perbankan, termasuk pengawasan bank, harus bertitik Independen berarti bank sentral dapat menggunakan
tolak kepada ketentuan yang mengatur tentang Bank instrumen yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang
Sentral sebagaimana telah ditentukan dalam konstitusi. telah ditetapkan oleh sistem politik tanpa adanya campur
Sebab apabila dipostulasikan dengan norma dasar, konstitusi tangan dari pihak diluar bank sentral. Ini yang disebut
menempati urutan tertinggi dalam hukum nasional. dengan ”instrument independence” bukan ”goal
Konstitusi tidak hanya menentukan organ-organ dan independence”. Konsekwensi independen bagi bank sentral
prosedur pembentukan undang undang, tetapi juga sampai adalah harus lebih akuntabel untuk tindakan yang dilakukan
derajat tertentu, isi dari hukum yang akan datang. Konstitusi dan kebijakan moneter yang dilakukan secara transparan.
menentukan secara negatif bahwa hukum tidak boleh Menarik untuk dicermati bahwa meskipun pada awalnya
memuat isi tertentu, misalnya bahwa parlemen tidak boleh ada keraguan dalam memberikan independensi kepada
mengesahkan (rancangan) undang undang yang bank sentral pada akhirnya masyarakat sangat puas terhadap
bertentangan dengan konstitusi.5 independensi bank sentral. Tidak ada satu negara pun yang
menyesal telah memberikan independensi kepada bank
Dengan demikian, peranan dan tugas Bank Indonesia yang sentralnya.7 Terdapat kesepakatan diantara para ahli bahwa
independen sebagai Bank Sentral sebagaimana ditentukan bank sentral independen yang bebas dari campur tangan
dalam konstitusi, harus dipertahankan kedudukannya, pemerintah dapat mencapai tujuan menjaga stabilitas harga
termasuk tidak ada undang-undang yang akan datang yang dengan lebih baik. Untuk mencapai kestabilan harga
dapat mencabut fungsi dan tugas bank Indonesia. Mengingat dibutuhkan waktu lebih panjang dan komitmen tinggi
peranan dan tugas bank Indonesia sangat penting dan terhadap pengawasan moneter.
berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan berbangsa
dan bernegara, terutama yang berhubungan dengan masalah Alan S. Blinder menyatakan bahwa independensi bank
ekonomi, perbankan dan keuangan. Selanjutnya sentral dapat berarti dua hal. Pertama, bank sentral memiliki
independensi Bank Indonesia harus dipahami juga sebagai kebebasan untuk menentukan bagaimana untuk mencapai
suatu hal yang penting untuk menjamin demokrasi.6 tujuannya, dan kedua, keputusan-keputusan yang diambil
olehnya sulit untuk dibatalkan oleh cabang-cabang atau
Kedudukan Independensi Bank Indonesia lembaga pemerintahan lainnya.8 Kebebasan dalam
menentukan bagaimana untuk mencapai tujuannya bukan
Independensi merupakan salah satu isu penting dalam berarti bahwa bank sentral dapat menentukan sendiri
membahas peran Bank Sentral. Memiliki suatu bank sentral tujuannya, karena tujuan bank sentral secara umum tentu
yang independen mungkin merupakan elemen proses saja ditetapkan melalui legislasi yang disepakati bersama
reformasi moneter yang memicu perdebatan sengit dan melalui suatu sistem demokrasi. Tapi yang dimaksud adalah
dianggap sangat kontroversial pada dekade yang lalu. Secara bahwa bank sentral memiliki diskresi yang luas mengenai
alamiah para politisi merasa tidak nyaman memberikan bagaimana menggunakan instrumen-instrumennya untuk
independensi kepada bank sentral karena mengurangi mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui undang-
kewenangan dalam bidang-bidang penting yang selama ini undang.9
mereka miliki. Namun demikian keprihatinan para politisi

7 Lars Nyberg, “The Framework of Modern Central Banking”, Speech


at a Conference on Reforming the State Bank of Thailand, Hanoi,
5 Bandingkan. Hans Kelsen, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, 21 March 2006
(Bandung, penerbit Nusamedia & Penerbit Nuansa, 2006), hal. 180-
181. 8 Alan S. Blinder, Central Banking in Theory and Practice, (Cambridge:
The MIT Press, 1998), hal. 54.
6 Bandingkan. Jimly Asshiddiqie, Konstitusi & Konstitualisme Indonesia,
(Jakarta: Konstitusi Press, 2006), hal.157. 9 Ibid.

12
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Lebih jauh lagi, Blinder menegaskan mengapa independensi menetapkan tiga tugas Bank Indonesia yaitu : (1) menetapkan
bank sentral menjadi begitu penting. Kebijakan moneter dan melaksanakan kebijakan moneter; (2) mengatur dan
menurut Blinder memerlukan yang ia sebut sebagai long menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta; (3) mengatur
time horizon, atau pandangan yang jauh kedepan10. Hal dan mengawasi bank. Oleh karena itu pelaksanaan amanat
ini karena, pertama, efek-efek yang dihasilkan dari suatu Pasal 34 berpotensi menyulitkan BI dalam mencapai tujuan
kebijakan moneter, seperti yang terkait dengan inflasi baru yang diamanatkan oleh UU BI. Pasal 34 tersebut telah
dapat dilihat setelah sekian waktu lamanya, sehingga para mengamputasi instrumen penting yang dimiliki BI dalam
decision makers tidak bisa langsung melihat hasil kerja mencapai tujuannya.
mereka. Kedua, kebijakan-kebijakan moneter memiliki
karakteristik yang sama seperti halnya aktivitas investasi, Dari sejarah pembentukan UU BI diketahui bahwa
yaitu memerlukan sesuatu dibayar dimuka, dan akan keberadaan Pasal 34 dipenuhi kontroversi. Pasal tersebut
mendapatkan hasil secara berkala setelah sekian waktu.11 didasarkan pada pandangan yang keliru tentang lembaga
yang bertanggung jawab atas krisis keuangan yang terjadi
Tetapi, orang-orang politik yang duduk di pemerintahan, pada tahun 1997/98. BI dianggap tidak dapat menjalankan
bukanlah orang-orang yang memiliki kesabaran ataupun tugasnya dengan efektif sehingga menimbulkan krisis
long time horizon. Kebanyakan dari mereka hanya melihat keuangan yang parah. Pandangan ini tidak sepenuhnya
segala sesuatunya dalam short-term basis saja, tanpa beralasan. Bila diteliti struktur pengawasan perbankan
mempertimbangkan long term gains.12 Dari sini dapat pada waktu itu akan diketahui bahwa pengawasan bank
dilihat betapa bahayanya, apabila kebijakan moneter bank dilakukan oleh dua lembaga yaitu BI dan Departemen
sentral yang mempengaruhi kondisi negara secara makro Keuangan. BI bertugas mengawasi bank dalam arti sempit
diintervensi secara politis. (audit) sedangkan tugas mengatur dan memberi/mencabut
ijin usaha bank ada pada Departemen Keuangan. Oleh
Dampak Keberlakuan Pasal 34 UU BI sebab itu tidak efektifnya tugas pengawasan bank sehingga
memicu terjadi krisis pada tahun 1997/1998 tentunya
Pasal 34 UU BI mengamanatkan pembentukan Lembaga adalah tanggung jawab bersama kedua lembaga tersebut.
Pengawas Sektor Keuangan (LPJK) paling lambat pada tahun Berdasarkan latar belakang seperti itu maka penerapan
2010. Amanat Pasal 34 tersebut sejak awal penyusunannya Pasal 34 UU BI perlu dikaji ulang secara komprehensif.
telah mengandung kontroversi dan perdebatan. Berdasarkan
Pasal 34 UU BI fungsi BI dalam mengawasi bank dialihkan Secara teoritis, terdapat dua aliran (school of thought) dalam
kepada LPJK. Pengalihan fungsi pengawasan bank dari bank hal pengawasan lembaga keuangan. Di satu pihak terdapat
sentral di negara yang industri keuangannya didominasi aliran yang mengatakan bahwa pengawasan industri
oleh industri perbankan tentunya menimbulkan perdebatan keuangan sebaiknya dilakukan oleh institusi tunggal.
dan memicu kontroversi. Bank sentral yang diberikan Di pihak lain ada aliran yang berpendapat pengawasan
tanggung jawab untuk menciptakan stabilitas nilai rupiah industri keuangan lebih tepat apabila dilakukan oleh beberapa
tentu akan menemukan kesulitan untuk memenuhi tanggung lembaga. Di Inggris misalnya industri keuangannya diawasi
jawab tersebut apabila tidak memiliki kewenangan oleh Financial Supervisory Authority (FSA), sedangkan di
mengawasi bank. Itu sebabnya UU BI meletakan tujuan BI Amerika Serikat industri keuangan diawasi oleh beberapa
dalam Pasal 7 yaitu mencapai dan memelihara kestabilan institusi. SEC misalnya mangawasi perusahaan sekuritas
nilai rupiah dan untuk mencapai tujuan mencapai dan sedangkan industri perbankan diawasi oleh bank sentral
memelihara kestabilan nilai rupiah tersebut Pasal 8 UU BI (the Fed), FDIC, dan OCC. Alasan dasar yang melatarbelakangi
kedua aliran ini adalah kesesuaian dengan sistem perbankan
yang dianut oleh negara tersebut. Juga, seberapa dalam
konvergensi di antara lembaga-lembaga keuangan. Dari
10 Ibid. hal.55.
sudut sistem, terdapat dua sistem perbankan yang berlaku
11 Ibid.
yaitu commercial banking system dan universal banking
12 Ibid. hal.55-56. system. Commercial banking, seperti yang berlaku di negara

13
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

kita dan di Amerika Serikat, melarang bank dalam melakukan dalam jasa keuangan sifatnya masih sederhana dan
kegiatan usaha keuangan non bank seperti asuransi. Hal volumenya belum besar sehingga belum dapat dikatakan
ini berbeda dengan universal banking, dianut oleh antara sebagai masalah krusial yang dapat menimbulkan masalah
lain negara-negara Eropa dan Jepang yang membolehkan sistemik. Produk hybrid adalah produk yang merupakan
bank melakukan kegiatan usaha keuangan non bank perpaduan antara produk perbankan, asuransi atau pasar
seperti investment banking dan asuransi. Di samping alasan modal. Di Indonesia, produk-produk tersebut masih
sistem perbankan yang berlaku yang juga menjadi dasar merupakan produk asuransi atau pasar modal murni sehingga
pertimbangan adalah seberapa dalam telah terjadi dalam hal ini bank hanya berfungsi sebagai penjual (agent)
konvergensi pada industri keuangan. Konvergensi yang dan mendapatkan komisi (fee) dari jasanya tersebut. Ambil
dalam akan menyebabkan munculnya masalah kewenangan contoh produk hybrid yang baru dikenal di Indonesia yaitu
regulasi. Hal ini terjadi karena produk-produk yang dihasilkan bancassurance yang memiliki dua pengertian yaitu: Pertama,
lembaga-lembaga keuangan sudah sedemikian menyatunya a bank that can offer banking, insurance lending and
sehingga sulit menentukan apakah suatu produk keuangan investment product to customer, Kedua, a French term
tertentu dihasilkan oleh industri perbankan sehingga diregulasi referring to the selling of insurance through a bank’s
oleh bank sentral atau produk perusahaan sekuritas dan established distribution channel. Di negara-negara Eropa
harus tunduk pada regulasi Bapepam. Dengan diselesaikannya yang menganut universal banking system produk ini sudah
kewenangan pengawasan kepada satu institusi maka masalah lama berkembang dan dilakukan sesuai dengan pengertian
kewenangan regulasi tersebut akan terpecahkan. bancassurance yang pertama. Di Indonesia produk ini masih
murni produk perusahaan asuransi yang ditawarkan atau
Secara empiris, survey yang dilakukan Central Banking dijual melalui jalur distribusi (distribution channel) perbankan
Publication (1999) menunjukkan bahwa dari 123 negara sehingga lebih tepat dengan pengertian bancassurance yang
yang diteliti, tiga perempatnya memberikan kewenangan kedua. Hal ini sesuai dengan undang-undang perbankan
pengawasan industri perbankan kepada bank sentral. Hal yang melarang bank melakukan kegiatan asuransi. Larangan
ini lebih menonjol di negara-negara sedang berkembang. ini sesuai pula dengan sistem perbankan yang dianut oleh
Khusus untuk negara yang sedang berkembang alasannya Indonesia, yaitu commercial banking system. Keuntungan
adalah masalah sumber daya (resourches). Bank sentral bank menjual produk hybrid tersebut adalah selain menerima
dianggap memadai dalam hal sumber daya (sumber daya komisi juga sekaligus dapat memperbesar customer base
manusia dan dana). Dari kaca mata politik, dicabutnya dan menjaga loyalitas nasabah.
kewenangan pengawasan dari bank sentral sejalan dengan
munculnya kecenderungan pemberian independensi Kedua, membentuk lembaga baru seberkuasa dan sebesar
kepada bank sentral. Ada kekhawatiran bahwa dengan OJK tentunya membutuhkan sumber daya yang besar. Pada
independennya bank sentral, apabila bank sentral juga saat negara sedang ”sakit” seperti saat ini pastilah lebih
berwenang mengawasi bank bank sentral akan memiliki bijaksana apabila sumber daya yang tidak sedikit itu
kewenangan yang sedemikian besar. Bank of England digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang sudah
misalnya, pada tahun 1997 mendapatkan parah. Masalah utama yang dihadapi industri keuangan
keindependenannya, namun dua minggu kemudian khususnya perbankan saat ini bukanlah telah semakin
kewenangan pengawasan bank diambil alih dari bank menyatunya dengan industri keuangan lainnya, tetapi
sentral tersebut. lemahnya penerapan good corporate governance. Masalah
good corporate governance tidak akan selesai dengan
Menjawab pertanyaan kapan waktu yang tepat mulai beralihnya kewenangan pengawasan. Orang bijak
beroperasinya OJK dapat dilakukan dengan mengatakan don’t change your jokey in the middle of the
mempertimbangkan ketiga alasan di atas dan memperhatikan race otherwise you will lose the game. Hal ini terbukti dalam
hal-hal berikut. Pertama, data menunjukkan bahwa industri pengalaman Jepang dalam menerapkan FSA, suatu lembaga
keuangan kita 90% lebih di antaranya dikuasai oleh industri semacam OJK, pada saat industri perbankan Jepang menjadi
perbankan. Belum terjadi konvergensi yang dalam di antara lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari bangkrutnya Long-Term
industri keuangan tersebut. Kalaupun ada produk hybrid Credit Bank dan Nippon Credit Bank, dua bank besar yang

14
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

terbukti merekayasa pembukuannya. Masalah koordinasi Dengan demikian implementasi ketentuan pasal 34 UUBI
antara FSA dengan bank sentral juga muncul misalnya dapat merubah esensi sistem dari suatu kesatuan UUBI
dalam kasus Ishikawa Bank dan Masalah kredit macet dan dan berpotensi menyulitkan BI dalam mencapai tujuan
kecurangan (fraud) masih mewarnai perbankan Jepang.13 sebagaimana yang diamanatkan oleh UUBI.

Apabila pasal 34 UU BI diimplementasikan maka kewenangan Seharusnya peranan Bank Indonesia dalam menjaga
dalam mengawasi bank oleh BI tidak akan ada lagi, padahal stabilitas sistem keuangan seyogyanya tidak perlu
kewenangan mengawasi bank oleh BI merupakan tanggung diintervensi oleh lembaga manapun. Karena, tugas Bank
jawabnya dalam menciptakan nilai rupiah yang stabil. Indonesia berfungsi juga untuk menjaga stabilitas keuangan.
Selanjutnya akan mengakibatkan perubahan lainnya terhadap Hal ini sejalan dengan nafas independensi Bank Indonesia
substansi ketentuan UU BI lainnya yang pada gilirannya sebagaimana ditetapkan oleh norma dasar di Indonesia.
dapat mengganggu fungsi BI di bidang moneter, sistem
pembayaran dan stabilitas keuangan. Apabila munculnya berbagai badan atau lembaga yang
kewenangannya sudah merupakan kewenangan Bank
Ketentuan pengawasan bank oleh BI sebelum adanya Indonesia akan menjadi permasalahan dalam bidang hukum.
ketentuan pasal 34 UUBI adalah merupakan suatu ketentuan Sebab, merupakan hal yang aneh apabila berbagai undang-
yang berada dalam satu sistem hukum BI. Oleh karena itu undang melahirkan berbagai badan atau lembaga yang
tidak bisa kewenangan pengawasan bank oleh BI dipisahkan mempunyai kewenangan yang mirip.
dengan kewenangan BI lainnya.
Hal ini dapat berpotensi dibatalkannya undang-undang
Beberapa ciri dari suatu kesatuan sebagai berikut:14 yang menjadi dasar hukum pendirian badan atau lembaga
1. Sistem adalah suatu kompleksitas elemen yang terbentuk tersebut, apalagi sebagai Bank Sentral telah diatur dalam
dalam satu kesatuan interaksi (proses). UUD 1945.
2. Masing-masing elemen terikat dalam satu kesatuan
hubungan yang satu sama lain saling bergantung PENUTUP
(interdepende of its parts).
3. Kesatuan elemen yang kompleks itu membentuk satu Amanat Pasal 34 UUBI bila dilaksanakan akan mengakibatkan
kesatuan yang lebih besar, yang meliputi keseluruhan tidak efektifnya Bank Indonesia dalam menciptakan stabilitas
elemen pembentuknya itu (the whole is more than the nilai rupiah sebagaimana yang diamanatkan oleh pasal 7
sum of its parts). UUBI. Tujuan BI sebagaimana yang ditetapkan dalam pasal
4. Keseluruhan itu menentukan ciri dari setiap bagian 7 tersebut, hanya dapat dilaksanakan secara efektif apabila
pembentuknya (the whole determines the nature of its Bank Indonesia berwenang menetapkan dan melaksanakan
parts) kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem
5. Bagian dari keseluruhan itu tidak dapat dipahami jika pembayaran, serta mengatur dan mengawasi bank
ia dipisahkan, atau dipahami secara terpisah dari sebagaimana ditetapkan dalam pasal 8 UUBI.
keseluruhan itu (the parts canot be under-stood if
considered in isolation from the whole). Singkat kata, apabila amanat pasal 34 UUBI ingin dijalankan,
6. Bagian-bagian itu bergerak secara dinamis secara maka seluruh tanggung jawab dan tugas yang diembankan
mandiri atau secara keseluruhan dalam keseluruhan kepada Bank Indonesia harus dikaji ulang, karena pasal 34
(sistem) itu. UUBI tersebut dilaksanakan akan mengamputasi salah satu
pondasi Bank Indonesia dalam mencapai tujuannya.

13 The Economist, 30 Agustus 2003.

14 Lili Rasjidi dan Wyasa Saputra, Hukum Sebagai Suatu Sistem (Bandung:
Mandar Maju, tahun 2003 ,hal. 65.

15
Daftar Pustaka

Alan S. Blinder, Central Banking in Theory and Practice, Cambridge: The MIT Press, 1998.

Arend Lijphart dan jon Elster dalam Maqdir Ismail, “Independensi, Akuntabilitas, dan Transparansi Bank Indonesia sebagai Bank
Sentral: Studi Perbandingan Undang Undang Bank Indonesia”, Disertasi pada Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, 2005.

Hans Kelsen, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, Bandung, penerbit Nusamedia & Penerbit Nuansa, 2006.

Jimly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara dan Pilar Pilar Demokrasi, Jakarta: Konstitusi Press, 2006.

Jimly Asshiddiqie, Konstitusi & Konstitualisme Indonesia, Jakarta: Konstitusi Press, 2006.

Lars Nyberg, “The Framework of Modern Central Banking”, Speech at a Conference on Reforming the State Bank of Thailand,
Hanoi, 21 March 2006 .

Lili Rasjidi dan Wyasa Saputra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Bandung: Mandar Maju, tahun 2003.

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung: Alumni, 1998

The Economist, 30 Agustus 2003.

16
Peran Bank Sentral Dalam Menjaga Stabilitas
Sistem Keuangan
Oleh: Dr. Wimboh Santoso1

I. Pendahuluan (3) Bagaimana kerja sama antar otoritas untuk


mendukungnya; (4) Dengan apa kita bisa menjaga
Stabilitas sistem keuangan telah menjadi sasaran yang stabilitas sistem keuangan.
penting dalam kebijakan ekonomi keuangan selama
beberapa puluh tahun terakhir terutama paska krisis II. Apa yang dimaksud stabilitas sistem keuangan
Asia pada tahun 1998. Pada tahun 1980an, deregulasi
terhadap pasar keuangan terutama pemberian kredit Meskipun beberapa negara telah menaruh perhatian
atau pemberian fasilitas sejenisnya dari bank serta cukup besar terhadap stabilitas sistem keuangan, deskripsi
pengaturan aliran modal antar negara telah dihapuskan tentang "stabilitas sistem keuangan" tetap masih menjadi
secara bertahap di beberapa negara. Kondisi ini telah diskusi yang hangat. Agar rumah tangga dan perusahaan
menyebabkan adanya fondasi yang kuat untuk korporasi dapat secara optimal melakukan perannya
mengembangkan sektor keuangan sehingga lebih cepat yaitu mengkonsumsi barang-barang dan juga melakukan
dari pertumbuhan dari sektor-sektor ekonomi lainnya. investasi secara berkesinambungan, maka harus ada
Dalam phase ini, sistem keuangan telah berkembang sistem keuangan yang berperan secara baik dalam hal
secara struktural dan menjadi lebih komplek. Instrumen melakukan intermediasi dari para penyimpan dana
keuangan telah berkembang menjadi beraneka ragam, (surplus unit) dan peminjam dana (deficit unit),
aktivitasnya lebih terdiversifikasi dan risikonya lebih rumit memberikan layanan pembayaran transaksi, dan
dengan perubahan yang sangat dinamis. Sektor keuangan melakukan realokasi risiko secara baik.
juga menjadi lebih terintegrasi dan terkait erat satu sama
lain dari segi dimensi industri maupun secara geographis, Dalam pendekatan pemahaman yang lebih sempit atas
sehingga sulit diidentifikasi originalitasnya dan siapa stabilitas sistem keuangan dapat dilakukan dengan
yang bertanggung jawab apabila terjadi permasalahan. mendefinisikan sebaliknya yaitu menghindari adanya
Sejalan dengan pertumbuhan yang pesat di sektor "instabilitas sistem keuangan" dimana telah terjadi
keuangan, maka diikuti pula dengan berbagai gangguan terhadap perekonomian. Definisi ini lebih
permasalahan yang semakin sulit terdeteksi secara lebih melihat dari sisi kebalikannya dari kondisi yang stabil
dini. Krisis di sektor keuangan biasanya berkaitan dengan serta bagaimana mengupayakan untuk menghindari
siklus "boom" dan "bust"terhadap nilai aset dan kredit. terjadinya instabilitas.
Terjadinya perkembangan pertumbuhan yang cepat
harga property dan kredit konsumsi telah menjadi Gangguan terhadap perekonomian ditandai dengan
indikator awal permasalahan instabilitas. Pertanyaannya: timbulnya biaya yang harus dibayar oleh pemerintah.
apakah kebijakan moneter dapat digunakan untuk Beberapa tahun terakhir terlihat bahwa biaya dari krisis
memitigasi perkembangan yang pesat tersebut? Paper ini cukup besar bila dibandingkan dengan GDP suatu
ini akan mengulas beberapa pertanyaan terkait dengan: negara. Dari pengalaman juga menunjukan bahwa
(1) Apa yang disebut stabilitas sistem keuangan?; (2) krisis keuangan dapat terjadi baik dinegara berkembang
Bagaimana melakukan analisisnya agar bisa melakukan maupun di negara maju serta dapat menimbulkan
deteksi lebih dini dan mengambil kebijakan mitigasinya; dampak ikutan ke negara lain.

Begitu terdapat biaya yang menjadi beban negara untuk


1 Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia penyelamatan sistem keuangan, maka dapat dikatakan

17
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

bahwa sudah terjadi instabilitas di sistem keuangan. dapat terekspose risiko. Tanpa disadari bahwa risiko
Penyelematan oleh pemerintah dimaksudkan agar biaya sistemik akan dapat manganulir persepsi bahwa
yang ditimbulkan dari krisis dapat diminimalisir. risikonya telah dijual, sedangkan lembaga yang membeli
risiko ternyata sudah terlalu besar risiko yang dibelinya
Definisi stabilitas sistem keuangan yang banyak dipakai dan tidak bisa dimitigasi ke lembaga lain. Kalau terjadi
dibeberapa negara mengkombinasikan atas tiga hal default atas maka hanya bailout dari otoritas yang
yaitu: terjadi alokasi resources dengan baik sehingga dapat menyelesaikannya.
proses intermediasi bisa berjalan dengan normal,
berbagai indikator sistem keuangan masih memenuhi Melakukan analisis risiko yang berasal dari dalam sistem
batas stabil dan belum ada dana publik yang dipakai keuangan akan lebih jelas kalau dapat dibedakan melalui
untuk penyelamatan sistem keuangan. dua pendekatan micro dan macroprudential.

III. Bagaimana otoritas melakukan analisis stabilitas Microprudential analisis lebih mengarah kepada
sistem keuangan? perkembangan dalam individu lembaga keuangan
dengan lebih menaruh perhatian pada menghindari
Setelah pemahaman stabilitias sistem keuangan dan problem individual lembaga untuk melindungi
sasaran yang akan dicapai disepakati dan dipahami kepentingan para deposan.
oleh otoritas, maka pelaksanaan analisis simpul simpul
kerawanan yang dapat menyebabkan instabilitas akan Macroprudential analisis lebih mengarah kepada
dapat dilakukan dengan mudah dalam organisasi bank sistem keuangan secara keseluruhan dengan sasaran
sentral. Terdapat dua pendekatan yang saling agar tidak terjadi permasalahan untuk menghindari
melengkapi: biaya yang akan dibebankan kepada pemerintah
(pembayar pajak). Untuk menghindari sistemic risk
Pertama, kita perlu memfokuskan kepada berbagai dilakukan analisis risiko terhadap semua unsur di sistem
faktor risiko yang berasal dari dalam sistem keuangan keuangan. Khusus untuk lembaga keuangan, analisis
itu sendiri yaitu terdiri dari lembaga keuangan, pasar terhadap keterkaitan antar lembaga keuangan yang
keuangan dan infrastruktur keuangan seperti settlement diakibatkan oleh permasalahan likuiditas maupun
yang dilakukan oleh bank sentral (RTGS) maupun lembaga solvabilitas merupakan analisis macroprudential yang
settlement lainnya. Unsur internal sistem keuangan ini penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.
akan selalu dihadapkan kepada berbagai faktor risiko
seperti risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar dan Kedua, pendekatan dengan menekankan risiko yang
risiko operasional. Analisis atas berbagai risiko tersebut berasal dari luar sistem keuangan. Pendekatan ini telah
telah semakin sulit beberapa tahun terakhir ini sejalan dipahami oleh para pengambil kebijakan beberapa
dengan sistem keuangan yang semakin komplek dan tahun terakhir. Perkembangan yang pesat perdagangan
saling berkaitan baik antar industri maupun secara instrument derivatives atas surat hutang dan harga
geographis. assets, termasuk juga gangguan makro ekonomi seperti
turunnya harga komoditi serta terjadinya ketidak
Peningkatan kompleksitas sistem keuangan di tunjukan seimbangan dalam ekonomi dunia dan pasar keuangan
dengan pesatnya pasar di credit derivatives. Instrumen akan dapat menimbulkan risiko instabilitas. Untuk
ini relatif masih baru yang bentuknya bisa beraneka melakukan identifikasi dari sumber instabilitas, kita
ragam. Meskipun instrumen ini sangat baik untuk memerlukan berbagai indikator yang dapat memberikan
mitigasi risiko, namun terdapat kemungkinan bahwa informasi tanda-tanda terjadinya instabilitas. Dengan
tehnis penilaiannya akan rumit serta dapat menimbulkan mendasarkan perbandingan beberapa indikator pada
moral hazard atau rentan terjadinya spekulasi dan fraud. waktu tertentu dengan pada waktu normal, maka kita
Lembaga keuangan baik yang melakukan mitigasi bisa melakukan analisis seberapa besar perbedaan atas
dengan menjual risikonya kepada pihak lain masih indikator instabilitas tersebut. Kalau perbedaannya

18
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

besar dengan trend yang meningkat maka kita bisa monitor sistem keuangan. Terintegrasinya lembaga dan
mengindikasikan kondisi keuangan mengarah kepada pasar keuangan dengan pasar global telah membuat
instabilitas. Namun demikian, sering sekali mendapatkan bank sentral perlu melakukan analisis sistem keuangan
kesulitan untuk melakukan interpretasi atas berbagai global dalam laporan stabilitas sistem keuangannya yang
indikator instabilitas karena indikator normal kadang- dipublikasikan secara rutin. Pengembangan berbagai
kadang sulit untuk ditentukan mengingat perkembangan tool analisis merupakan tantangan bank sentral agar
ekonomi yang sangat dinamis. Berbagai informasi yang dapat menangkap simpul kerawanan secara lebih dini.
belum secara terintegrasi dalam sistem keuangan
merupakan faktor yang penting untuk dapat dijadikan IV. Bagaimana koordinasi antar otoritas untuk
judgment dalam melakukan analisis kondisi sistem bersama-sama menjaga stabilitas sistem keuangan
keuangan.
Koordinasi antar otoritas ini sangat diperlukan dalam
Analisis dampak negatif atas guncangan ekonomi makro menjaga agar terhindar dari krisis dan mempermudah
terhadap stabilitas sistem keuangan juga dapat dalam penyelesaian krisis apabila ternyata tidak dapat
diterapkan. Macro stress testing merupakan pendekatan dihindari. Dalam koordinasi ini, peran dan tanggung
yang biasanya digunakan dalam analisis ini dengan jawab masing-masing otoritas harus jelas dan dituangkan
tujuan untuk mengukur ketahanan bank atau lembaga dalam undang-undang. Tugas menjaga stabilitas sistem
keuangan dalam menghadapi berbagai shocks atas keuangan ini dilakukan oleh bank sentral, dengan
kondisi ekonomi dan respon kebijakan makro ekonomi berkoordinasi dengan pengawasan pasar keuangan dan
yang diperlukan dari otoritas. Berbagai skenario kondisi menteri keuangan sebagai otoritas fiskal. Di negara
makro ekonomi dapat disimulasikan untuk melakukan yang otoritas pengawasan lembaga keuangan dipisahkan
pengujian atas ketahanan bank atau lembaga keuangan dari bank sentral, maka otoritas tersebut akan menjadi
termasuk dalam kondisi ekstrim, pendekatan ini sering bagian dari otoritas yang harus melakukan koordinasi
disebut micro stress testing. Lembaga keuangan dan dibawah menteri keuangan. Untuk mencapai sasaran
pasar keuangan sudah semakin terintegrasi serta sangat dalam mencegah dan menyelesaikan krisis, maka sharing
tinggi ketergantungannya sehingga analisis keterkaitan informasi antar otoritas sangat diperlukan baik dalam
antar lembaga dan pasar keuangan sangat membantu kondisi normal maupun krisis. Dalam hal permasalahan
untuk mengukur sejauhmana permasalahan yang disektor keuangan menyangkut bank yang operasinya
mungkin timbul di lembaga atau pasar keuangan dapat secara multinasional maka koordinasi akan menyangkut
menimbulkan dampak sistemik di sistem keuangan. otoritas antar negara dengan berbagai kerangka hukum
Aliran dana masuk dan keluar di pasar keuangan telah yang berbeda. Sebagaimana yang terjadi terhadap
meningkat cukup besar aktivitasnya di beberapa tahun Lehman Brothers pada tahun 2008, otoritas di sejumlah
terkahir. Transaksi oleh para pelaku pasar antar negara negara terlena melakukan koordinasi untuk melakukan
telah meningkat cukup pesat baik di pasar saham, assessment dampak penutupan lehman brothers ini
obligasi dan juga financial instrumen lainnya seperti terhadap lembaga keuangan lain dan pasar keuangan
produk off-shore dan derivatives. Pemerintah di berbagai dinegara lain. Pandangan umum sementara ini, otoritas
negara banyak sekali mengeluarkan surat hutang untuk di suatu negara hanya bertanggung jawab pengawasan
membantu memperbaiki cash flow anggaran belanjanya terhadap bank yang didirikan dengan badan hukum
dan banyak para pelaku pasar yang melakukan di negara tersebut, sedangkan bank disuatu negara
diversifikasi risikonya dengan melakukan hedging yang didirikan dengan dasar hukum di negara lain
diberbagai pasar dunia. Analisis dengan mendasarkan (ie. Kantor cabang bank asing) maka tanggung jawab
domain domestik ternyata tidak cukup sehingga global pengawasannya ada di home supervisory authorities.
analisis tentang pasar dan lembaga keuangan sangat Permasalahan ini muncul apabila terdapat bank yang
diperlukan untuk melihat secara lebih akurat simpul beroperasi secara multinational dan mengalami
kerawanan di sistem keuangan. Bank sentral mempunyai permasalahan di kantor pusatnya sehingga harus ditutup,
tanggung jawab khusus dalam melakukan analisis dan maka secara legal seluruh kantor cabangnya harus

19
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

ditutup. Timbul permasalahan, bagaimana kalau kantor mempunyai banyak perangkat kebijakan untuk menjaga
cabangnya yang tersebar di negara lain tersebut stabilitas sistem keuangan.
sebenarnya operasinya masih bagus? Hal ini belum ada
jawabnya sampai saat ini. Pertama-tama peran lender of last resort dapat
diterapkan pada saat terjadi permasalahan likuiditas
Koordinasi secara global dalam pencegahan dan perbankan untuk mencegah terjadinya krisis yang
penyelesaian banking crisis ini masih belum secara formal bersifat sistemik;
dibentuk. G20 pada saat ini sedang mencoba untuk
merumuskan bentuk koordinasi pencegahan dan Kedua, bank sentral juga dapat melakukan operasi
penyelesaian krisis bank yang beroperasi secara monetar dalam bentuk intervensi di pasar valas maupun
multinational, namun masih banyak kendala hukum pasar likuiditas;
yang dihadapi mengingat masing-masing negara
mempunyai legal basis yang berbeda. Permasalahan lain Ketiga, secara lebih dini bank sentral juga dapat
juga muncul berkaitan dengan bank yang operasinya mengatur laju pertumbuhan kredit;
sangat besar dengan kantor diseluruh dunia baik dalam
bentuk kantor cabang maupun anak perusahaan Keempat, dalam hal pengawasan microprudential
yang jumlahnya bisa mencapai sekitar 8000, dengan berada di bank sentral, maka pengawasan micro dapat
kondisi ini akan sangat sulit bagi kantor pusatnya untuk secara mudah disinkronisasikan dengan kebijakan
melakukan monitoring dan bank sentral dinegara asalnya macroprudential.
juga mengalami kendala untuk melakukan assessment
atas dampak dari permasalahan terhadap kemungkinan Harmonisasi langkah pencegahan terhdap krisis ini
timbulnya krisis di negara lain. Dalam hal bank tersebut sangat panting dilakukan dalam kondisi masih normal.
harus dilakukan penyelamatan, permasalahan muncul Dengan demikian regulasi-regulasi yang bersifat macro
siapa yang akan bertanggung jawab untuk melakukan prudential untuk mencegah adanya sistemik risk dapat
penyelamatan. Penjaminan dana nasabah juga bentuknya dikeluarkan oleh bank sentral untuk melaksanakan
sangat beragam diantar negara, sehingga penataan tugasnya yang menyangkut kebijakan untuk menjaga
kembali sistem keuangan secara global perlu dilakukan stabilitas sistem keuangan. Dalam hal pengawasan
segera agar permasalahan krisis dapat dicegah lebih bank berada di bank sentral maka regulasi yang bersifat
dini dan penyelesaian krisis dapat dilakukan dengan microprudential juga dapat dikeluarkan oleh bank
baik. sentral secara simultan dan harmonis. Peraturan kehati-
hatian diharapkan akan dapat menurunkan risiko kepada
V. Perangkat apa yang dapat digunakan untuk level dimana bank mampu untuk menyerap dan juga
menjaga stabilitas sistem keuangan untuk meningkatkan ketahanan lembaga keuangan.
Salah satu motif penerapan risk mangement dan Basel
Dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, bank sentral II diharapkan untuk meningkatkan efisiensi industri
harus melakukan assessment atas kerentanan dan perbankan serta ketahanan industri perbankan agar
mengeluarkan regulasi apabila diperlukan agar dampak mempunyai permodalan yang sesuai dengan risiko yang
negatifnya dapat dihindari serta risiko sistemiknya dapat dihadapi. Peraturan kehati-hatian juga dapat dipakai
diminimalisir. Assessment atas kerentanan terhadap oleh otoritas untuk memperlambat pertumbuhan yang
lembaga keuangan, pasar keuangan dan infrastrukturnya terlalu cepat sehingga risikonya mudah dikendalikan
merupakan keharusan agar dapat menangkap simpul oleh bank. Buffer modal yang bervariasi juga dapat
kerawanan dan melakukan mitigasi lebih dini sebelum diterapkan untuk mengantisipasi terjadi siklus boom
permasalahan terjadi. Pertanyaannya yang sering dan burst akan meningkatkan ketahanan perbankan
muncul, bagaimana kita melakukannya dan kebijakan dalam menghadapi shocks. Namun demikian metodologi
apa yang bisa dilakukan agar stabilitas sistem keuangan menentukan permodalan yang counter cyclical ini secara
tetap terjaga. Bank sentral merupakan otoritas yang tehnik sangat bervariasi dan mengandung banyak

20
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

kelemahan, dengan kemungkinan terjadi overstated Sebagai contoh, bank sentral telah melonggarkan
tingkat modalnya. likuiditasnya dalam kondisi krisis. Hal ini tidak pernah
terjadi dalam kondisi normal. Namun demikian,
VI. Stabilitas sistem keuangan dan kebijakan moneter risiko terhadap instabilitas yang berasal dari ketidak
seimbangan di sektor keuangan (seperti capital inflow
Beberapa tahun terakhir ini hubungan antara kebijakan dan outflow melalui proses yang panjang). Dalam
moneter dan stabilitas sistem keuangan telah menarik kondisi demikian, pertanyaannya kembali menyangkut
banyak perhatian para pengambil kebijakan. Stabilitas apakah stabiltias sistem keuangan akan selalu
moneter dan sistem keuangan merupakan dua sasaran dipertimbangkan secara eksplisit dalam kebijakan
atas kebijakan publik yang dilakukan oleh bank sentral. moneter. Persoalan ini telah menjadi perdebatan
Dua sasaran ini saling melengkapi. Stabilitas sistem oleh para pengambil kebijakan di bank sentral setiap
keuangan mempunyai pengaruh yang positif terhadap kali akan mengambil kebijakan moneter. Dalam
stabilitas harga. Pertama, stabilitas sistem keuangan kenyataannya beberapa bank sentral telah menerapkan
akan menjamin adanya penawaran kredit yang lebih inflation targeting yang lebih fleksibel dalam kebijakan
stabil dan aliran modal yang stabil, dimana kedua hal moneternya dalam target horizon tertentu. Ini bukti
ini merupakan prasyarat untuk menjaga pertumbuhan bahwa terdapat kemungkinan mempertimbangkan
yang sustainable; Kedua, stabilitas sistem keuangan dampak dari ketidakseimbangan di sektor keuangan
akan membantu efektifnya transmisi kebijakan moneter. terhadap proyeksi inflasi. Namun demikian perlu digaris
Stabilitas sistem keuangan secara implicit memberikan bawahi bahwa dampak negatif dari ketidak seimbangan
jalan bahwa perubahan kebijakan moneter akan di sektor keuangan akan terjadi dalam waktu yang
mempunyai dampak terhadap suku bunga pasar relatif lama, dan kemungkinan akan jauh lebih lama
sebagaimana yang diharapkan pengambil kebijakan. dari horizon target inflasi. Dalam kondisi demikian,
Dengan demikian, perubahan kebijakan moneter akan maka perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya
mempengaruhi rumah tangga dan perusahaan korporasi risiko apabila tidak memperhitungkan dampak
dan, pada akhirnya, inflasi serta mendorong kegiatan imbalance di sektor keuangan ini terhadap inflasi untuk
ekonomi. Dilain pihak, stabilitas harga juga akan jangka waktu menengah dan panjang, terutama
mempunyai dampak positif terhadap stabilitas sistem terhadap terjadinya turbulence perekonomian dimasa
keuangan. Keberhasilan kebijakan moneter akan sangat mendatang. Dalam kondisi yang paling buruk,
mempermudah tercapainya stabilitas sistem keuangan turbulence perekonomian dapat menimbulkan krisis
dengan hilangnya mispersepsi atas singal kebijakan keuangan. Undang-undang bank sentral di New
moneter sehingga inflasi dapat dijaga pada tingkat Zealand secara eksplisit mengatakan bahwa bank
yang dikehendaki sesuai target. Inflasi yang rendah sentral dalam menetapkan kebijakan moneter harus
dan stabil akan memberikan rumah tangga dan mempertimbangkan efisiensi dan kesehatan sistem
perusahaan korporasi mendapatkan indikasi yang jelas keuangannya. Di Norwegia juga menerapkan
atas perubahan harga, sehingga bisa melakukan alokasi inflation targeting yang lebih fleksibel dengan
sumber daya yang lebih efektif. Namun demikian, mempertimbangkan stabilitas sistem keuangan dalam
stabilitas sistem keuangan dan stabilitas moneter memformulasikan kebijakan moneternya, dengan
kadang-kadang memang tidak sejalan, pertanyaannya pertimbangan bahwa ketidakseimbangan di sektor
sejauh mana sasaran stabilitas sistem keuangan bisa keuangan akan sangat berpengaruh terhadap inflasi
dipertimbangkan dalam kebijakan stabilitas moneter. dan output serta dapat menimbulkan ketidak stabilan
Kelihatannya telah terjadi kesepakatan diantara otoritas di sistem keuangan. Seluruh bank sentral telah
bank sentral bahwa dalam kondisi ekstrim, yang dapat mendirikan unit khusus yang melakukan moitoring
membahayakan stabilitas sistem keuangan, maka dan analisis terhadap kondisi sistem keuangan dan
kebijakan moneter bisa sementara diarahkan untuk sektor riil terutama perilaku rumah tangga dan
mengatasi sementara permasalahan di sektor keuangan. perusahaan korporasi sebagai input kebijakan moneter.

21
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

VII.Tantangan kedepan

Meskipun pemikiran tentang stabilitas sistem keuangan


telah berkembang dan diterapkan secara formal oleh
sebagian besar bank sentral di seluruh dunia, namun
tetap tidak ada jaminan bahwa akan terhindar dari
krisis yang bersifat sistemik. Krisis pada tahun 2008
yang baru lalu membuktikan bahwa masih banyak
tantangan kedepan untuk lebih meningkatkan berbagai
perhatian kita terhadap pencegahan untuk menghindari
terjadinya krisis dan penyelesain atas krisis itu sendiri
dengan pertimbangan bahwa sistem keuangan akan
berkembang terus sehingga dimungkinkan adanya
sumber kerawanan yang belum terdeteksi sebelumnya.
Peningkatan peraturan yang bersifat macroprudential
merupakan agenda yang penting kedepan sebagaimana
yang telah dicanangkan dari berbagai program bersama
dibawah G20. Perkembangan capital inflow ke beberapa
negara berkembang juga akan menjadi sumber
kerawanan yang perlu menjadi perhatian bersama.

22
Bank Indonesia: Independensi, Pengawasan
Bank dan Stabilitas Sistem Keuangan
Oleh Drs. Ec Abdul Mongid, MA1

A. Pengantar yang dimiliki BI sebagai bank sentral. Rencana pengalihan


kewenangan dalam pengawasan bank menunjukan
Di Inggris, pada 21 Januari 2009, pada The Economist's adanya upaya mengurangi kewenangan BI sehingga BI
Inaugural City Lecture, Adair Turner, Kepala OJK Inggris hanya berfungsi dari aspek moneter. Masalahnya adalah
menyatakan bahwa model pengawasan Inggris saat ini kalau kewenangan dalam mengawasi bank dicabut,
yang memisahkan pengawasan dari bank sentral telah maka secara otomatis kemampuan BI dalam menjalankan
membuat otoritas pengawas terlalu terfokus pada tugas moneternya terganggu karena bank merupakan
lembaga per lembaga dengan perhatian pada risiko lembaga keuangan yang sangat dominan dalam transmisi
tunggal. Sementara bank sentral terlalu fokus pada kebijakan moneter.
kebijakan moneter yang secara sempit, yaitu mencapai
target inflasi. Akibatnya semua laporan tentang kondisi Terkait dengan masalah stabilitas sistem keuangan,
sistem keuangan dan potensi risiko sistemik tidak pernah peran bank sentral sangat penting. Di tengah krisis
memberikan gambaran risiko yang seutuhnya. Bahkan keuangan global saat ini, isu tentang stabilitas keuangan
laporan IMF yaitu Global Financial Stability mengakui menjadi topik utama diskusi ekonomi baik di tingkat
secara riil mereka salah dalam menilai keadaan. Karena regional maupun global. Krisis keuangan selalu memiliki
itu disarankan agar bank sentral dan otoritas untuk konsekuensi kerugian bagi perekonomian Negara yang
mengintegrasikan analisa ekonomi makronya dengan mengalaminya makanya upaya pencegahan jangan
analisa makroprudensial dan mengintegrasikan langkah sampai krisis terjadi menjadi perhatian banyak pihak.
kebijakanya sebelum krisis terjadi. Terlebih saat ini globalisasi sudah menjadi fakta yang
tidak dapat dibantah. Globalisasi telah membawa
Independensi merupakan isu krusial bagi sebuah Bank manfaat bagi banyak negara di dunia dengan
Sentral untuk memainkan perannya secara optimal di mendorong peningkatan Gross Domestic Product (GDP).
tengah perkembangan ekonomi global yang sangat Globalisasi juga membuka akses yang lebih lebar bagi
dinamis dan seringkali bergejolak. Status kelembagaan negara-negara di dunia terhadap pasar global. Saat ini
Bank Indonesia (BI) yang independen sebagaimana hampir tidak ada Negara yang tidak memiliki hubungan
tercantum pasal 4 UU No. 23 Tahun 1999 menjamin ekonomi internasional.
BI bebas dari campur tangan pemerintah dan pihak-
pihak luar lainnya. Dari sisi kelembagaan Independensi Meski demikian, globalisasi yang terjadi bukan tanpa
BI terlihat dari kedudukan kelembagaanya yang berbeda cela. Stiglitz (2006) menyatakan aturan main globalisasi
dalam sistem dan struktur ketatanegaraan Indonesia. cenderung tidak adil dan menguntungkan negara-
Menurut UU, kedudukan BI tidak sejajar dengan DPR, negara industri maju dan hanya mengutamakan nilai-
MA, BPK atau Presiden yang merupakan Lembaga nilai material dibandingkan nilai-nilai lainnya, seperti
Tinggi Negara. Kedudukan BI juga tidak sama dengan perhatian terhadap aspek lingkungan. Sementara
departemen karena BI berada di luar pemerintah. penanganan globalisasi cenderung mengurangi
kedaulatan negara berkembang serta mengabaikan
Masalahnya adalah ternyata independensi BI diikuti kemampuan negara berkembang dalam mengambil
dengan upaya sistimatis untuk mengurangi kewenangan keputusan sendiri, khususnya terkait area utama yang
akan mempengaruhi penduduknya. Terlebih sistem
1 Dosen STIE Perbanas Surabaya ekonomi yang dipaksakan terhadap negara sedang

23
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

berkembang cenderung tidak tepat bahkan tidak untuk konvertasi mampu memanajemeni. Seperti
menguntungkan negara tersebut. Akibatnya meski diketahui arus kas investasi bisa diramalkan tetapi
mereka yang pro globalisasi mengklaim bahwa setiap ketidak sesuaian suku bunga diskonto sebagai proksi
orang akan diuntungkan secara ekonomi, namun pada inflasi tidak diketahui maka nilai riil investasi juga tidak
kenyataannya baik di negara maju maupun berkembang diketahui.
terdapat banyak pihak yang dirugikan.
Begitu pentingya stabilitas uang menjadikannya sebagai
B. Independensi Bank Sentral: Perspektif Akademis suatu fondasi dasar perekonomian untuk berjalan baik.
Karena itu terjadi konsensus secara luas bahwa
Independensi bank sentral merupakan tema utama menciptakan stabilitas uang tidak bisa diserahkan kepada
diskusi kebijakan moneter yang sangat intensif di awal proses politik keseharian. Artinya terlalu berbahaya
tahun 1990-an. Diskusi ini menjadi sangat penting dalam jangka panjang jika masalah manajemen nilai
setelah kajian akademis menunjukan Negara yang uang diserahkan oleh kekuatan politik karena kekuatan
memiliki bank sentral yang independen memiliki tingkat politik memiliki perspektif jangka pendek. Stabilitas
inflasi yang lebih rendah. Temuan ini menimbulkan arus uang juga merupakan barang publik sehingga sangat
baru penelitian yang mencoba mencari kaitan secara wajar jika pengelolaanya dilakukan oleh lembaga yang
detail kenapa inflasi dapat menjadi lebih rendah. independen dari campur tangan politik. Lembaga ini
Jawabannya terletak pada perspektif kebijakan bank harus bebas dari kepentingan lain yang dapat membuat
sentral yang berdimensi jangka panjang dan kredibilitas upaya mencapai tujuan menciptakan uang yang stabil
kebijakan yang ditempuhnya. gagal. Inilah yang menjadi latar belakang kenapa bank
sentral yang independen dibentuk.
Temuan ini menimbulkan semangat baru dalam kajian
kebanksentralan karena semua ekonom percaya bahwa Bank sentral yang independen memiliki mandat jelas dan
stabilitas harga merupakan fondasi seluruh stabilitas terbatas. Ini menjadikan mandat itu jelas dan membatasi
ekonomi yang lain. Stabilitas harga menjadi fondasi kewenangan diskresi yang dapat mengalihkan dari
bagi berjalanya ekonomi pasar yang baik. Ini berarti pencapaian tugas utama. Implikasi dari keadaan ini adalah
stabilitas harga menjadi syarat yang harus dipenuhi bank sentral harus menjadi agen masyrakat yang bertindak
agar perekonomian berjalan dengan baik. Ana Schwartz sebagai prinsipal. Proses ini menuntut bank sentral juga
(1988) menyatakan perlunya Bank Sentral menjaga akuntabel ke publik. Saat ini masalah independensi bank
inflasi dengan kebijakan moneter yang tepat. Bank sentral sudah dapat diterima secara umum baik di negara
Sentral yang dapat menjaga stabilitas dan juga menjaga maju maupun di negara berkembang. Secara umum,
likuiditas perbankan melalui lender of the last resort. termasuk di Indonesia, kinerja bank sentral dalam
Krisis keuangan pada level apapun akan diperburuk mendorong inflasi lebih rendah relatif berhasil sehingga
dengan kenaikan tingkat inflasi. Artinya mengapa manfaat bagi masyarakat relatif dapat dirasakan. Dalam
kebijakan moneter berusaha menjaga stabilitas adalah sejarah ekonomi politik di Indonesia, gejolak ekonomi
sebagai upaya tidak langsung Bank Sentral dalam selalu menjadi pemicu bagi gerakan masyarakat untuk
menjaga jangan sampai krisis keuangan terjadi. melalukan protes jalanan.

Pandangan Schwartz ini sering disebut sebagai Schwartz Diterimanya konsep independensi bank sentral tidak
Hypothesis, kebijakan moneter yang berusaha lepas dari keberhasilan Bundesbank Jerman. Seperti
membatasi inflasi cenderung mengurangi terjadinya diketahui ekonomi Jerman pernah mengalami inflasi
krisis keuangan karena kestabilan hanya akan membuat yang sangat tinggi dan itu dirasakan sebagai masalah
proses pemakaian investasi yang benar dapat dilakukan. berat dan menjadi sejarah kelam ekonomi Jerman.
Dalam bahasa lain ketidak stabilan sistem keuangan Makanya pengalaman sejarah itu menjadikan masyrakat
karena para investor, penabung dan peminjam kesulitan Jerman sangat takut inflasi tinggi terulang sehingga
dalam menilai pendapatan potensial dan tindakannya menjadikan Bundesbank sebagai penjaga inflasi sebagai

24
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

suatu yang tidak dapat ditawar lagi. Prinsip ini juga kebijakan moneter baik di negara maju dan berkembang.
menjadi dasar operasional European Central Bank (ECB), Secara umum disimpulkan bahwa peran kelompok-
yang diakui atau tidak, merupakan penjelmaan kelompok sosial dan politik, bank sentral yang independen
Bundesbank. dan preferensi sektor swasta sangat penting dalam
menentukan kebijakan bank sentral (Cukierman, Kiguel
Selain pengalaman Jerman, indpendensi bank sentral and Liviatan : 1992). Dalam sebuah makalahnya Epstein
juga dipopulerkan oleh penelitian akademsis terkait (2005) berpendapat bahwa bank sentral secara historis
dengan bias inflasi ketika kebijakan bank sentral sangat memainkan peran aktif sebagai agen pembangunan
dipengaruhi diskresi kebijakan. Dengan penerapan ekonomi karena itu nilai baru independensi bank sentral,
kebijakan target inflasi (inflation targeting) peran ini demokrasi, transparansi dan akuntabilitas (harus menjadi
makin jelas dan dapat dijalankan oleh bank sentral nilai baru bank sentral dimanapun saja.
karena prinsip dasarnya sangat jelas (Taylor Principle).
Yang diperlukan adalah konsistensi kebijakan. Di banyak negara, aspek politik yang kondusif mendukung
pencapaian inflasi yang rendah. Makanya Epstein (1992)
Teori kebjakan moneter optimal (The modern theory mengembangkan model ekonomi politik dari bank sentral
of optimal monetary policy) yang dikembangkan oleh yang memperhitungkan berbagai kepentingan yang
Kydland and Prescott (1977) serta dilanjutkan oleh saling bersaing dalam perekonomian dan efeknya pada
Barro and Gordon (1983) menempatkan posisi bank fungsi dan tujuan bank sentral. Kesimpulanya adalah
sentral sebagai perencana sosial yang berusaha politik menentukan kebijakan dan disain kelembagaan
memaksimalkan kemakmuran sosial masyarakat yang bank sentral. Dalam studi lain terkait hubungan politik
kalau diperhatikan merupakan pengembangan lebih dan kebijakan moneter, Henning (1994), menunjukkan
lanjut dari ekspektasi implisit dari kurva Philips bahwa preferensi sektor swasta memainkan peran penting
(expectations-augmented Phillips curve). Sebagai dalam formulasi kebijakan moneter dan manajemen nilai
perencana sosial dimana bank sentral juga bertanggung tukar. Preferensi sektor swasta merupakan hasil hubungan
jawab untuk menciptakan kesempatan kerja, maka struktural antara perbankan dan industri.
setiap pergeseran output riil dari output potensial akan
menimbulkan bias inflasi (inflation bias). Bias inflasi Gutiérrez (2003) menyatakan bahwa rendahnya
inilah yang harus diatasi yang menurut Rogoff (1985) hubungan antara independensi bank sentral secara
dengan mendelegasikan kebijakan moneter kepada hukum dan inflasi mungkin tergantung pada apakah
bank sentral yang independen tetapi juga banker bank independensi itu dijalankan secara benar atau tidak.
sentral yang konservatif. Artinya apakah independensi secara legal itu diterapkan
secara benar sebagaimana di Negara maju meruakan
Pandangan ini akhirnya memberi jalan pada masalah tersendiri. Karena itu memperhatikan dokumen
perkembangan studi model ekonomi politik baru bank hokum saja tidak mencukupi. Dvorsky (2000) mengukur
sentral dengan memperhitungkan tujuan fungsional derajad independensi bank sentral di Negara transisi
bank sentral sebagai kompromi antara tujuan eropa timur meliputi Czech, Hungaria, Polandia, Slovakia
menciptakan stablitas harga dan menciptkan dan Slovenia menggunkan pendekatan Cukierman,
kesempatan kerja sebagaimana dinyatakan oleh Kiguel and Liviatan menyimpulkan independensi bank
Cukierman, Kiguel and Liviatan (1992). Dalam model sentral tidak memadai untuk inflasi rendah tetapi perlu
ini independensi bank sentral cukup mampu mendorong reformasi ekonomi dan koordinasi antara sector moneter
inflasi rendah walaupun studi lebih lanjut menunjukan dan fiscal. Sturm and de Haan (2001) menemukan
variasi regional yang signifikan. bahwa bank sentral perlu bekerjasama dengan dengan
lembaga lain untuk inflasi yang rendah dan independensi
Kajian mengenai ekonomi politik terkait peran bank saja tidak cukup. Hanya negara yang inflasinya sangat
sentral dan kebijakan moneter menyimpulkan pentingnya tinggi saja independensi sangat efektif dalam jangka
aspek politik dan kelembagaan dalam penentuan pendek.

25
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Hasil empiris itu menimbulkan pertanyaan apakah instrumen dimaksudkan sebagai kemampuan bank
independensi bank sentral masih relevan bagi negara sentral dalam memilih kebijakan yang ingin dilakukan.
sedang berkembang? Jawabnya Ya. Dari berbagai
macam literature akademis tercipta konsesnus bahwa Dalam kontek Indonesia, status kelembagaan BI yang
independensi bank sentral diperlukan walaupun semua independen yang tercantum pada pasal 4 UU No. 23
sepakat bahwa independensi secara legal saja tidak Tahun 1999. Independensi artinya bebas dari campur
cukup. Perlu ada kewenangan lain untuk mengatasi tangan pemerintah dan pihak-pihak luar lainnya dalam
tekanan inflasi. Harus ada perangkat kelembagaan lain melakukan kebijakan moneter. Dengan UU yang baru
yang berfungsi mendukung peran ini. ini, pihak lain dilarang melakukan segala bentuk campur
tangan terhadap pelaksanaan tugas BI. BI dalam
Karena itu definisi independensi perlu dijelaskan lebih melaksanakan tugasnya wajib menolak dan mengabaikan
detail antara independensi secara legal dan aktual. segala bentuk campur tangan terhadap tugas BI, maupun
Secara legal independensi adalah jaminan secara dewan gubernur dan pejabat BI yang tidak menolak
konsitusional tentang fungsi bank sentral dan khususnya campur tangan pihak lain, dikenai ancaman pidana berat
terkait dengan hubungannya dengan pemerintah. dan denda yang besar. Pertimbangan mendasar BI dalam
Aktual dimaksudkan sebagai independensi dari sisi menjalankan kebijakan moneter adalah untuk tujuan
otonomi dalam hubungannya dengan pemerintah. menstabilkan nilai rupiah.
Cukierman, Kiguel and Liviatan (2007) menggunakan
istilah yang serupa yaitu independensi de jure dan de C. Pengawasan Bank
facto. De Jure adalah independensi dari sisi legalitas
dalam undang undang dan ini digunakan sebagai proksi Seperti diketahui amanat membuat lembaga pengawas
untuk independensi de facto. bank yang baru ada sejak diundangkannya UU bank
sentral nomor 23 tahun 1999. Pembentukan lembaga
Grilli, Masciandaro, dan Tabellini (1991) menfokuskan pengawas yang baru ini selain memang mengikuti
pada dua dimensi penting yaitu independensi politis dan trend pemisahan pengawasan bank di negara maju
independensi ekonomi. Sementara Debelle dan Fisher seperti Inggris dan Australia, juga didorong oleh krisis
(1994) mengkategorikan independensi dari sisi Tujuan perbankan 1998. Krisis yang membuat pemerintah
(goal) dan Perangkat (instrument). Tujuan dimaksudkan mengeluarkan dana rekapitalisasi perbankan sebesar
sebagai kemampuan menentukan tujuan tanpa campur Rp 420 triliun dipandang sebagai bukti kegagalan BI
tangan langsung dari pemerintah. Independensi dalam melakukan fungsi pegawasan.

Tabel I. Sistem Pengawasan Bank

Bentuk Ciri-Ciri Umum

Institusional Menentukan regulator mana yang akan mengawasi sebuah institusi adalah status badan hukum
dari perusahaan tersebut baik dalam hal safety dan soundness serta pelaksanaan bisnis

Functional Menentukan regulator mana yang akan mengawasi sebuah institusi adalah transaksi bisnis yang
dilakukan oleh perusahaan, tanpa mempedulikan status hukum dari perusahaan tersebut. Masing-
masing lini bisnis diawasi oleh regulator masing-masing

Integrasi Terdapat sebuah regulator tunggal yang melaksanakan pengawasan dalam hal safety dan soundness,
begitu juga conduct of business, untuk seluruh lembaga yang berada di sektor keuangan

Twin Peaks Bentuk regulation by objective, yaitu pemisahan antara fungsi regulatory menjadi dua (2) regulator:
salah menjalankan fungsi supervisi safety dan soundness, sementara yang lainnya fokus pada
conduct of business

26
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Setelah UU BI diamandemen melalui UU No. 3 tahun memiliki produk yang terkait dengan pasar modal. Ada
2004, pemikiran pembentukan OJK masih ada. semacam efisiensi pengawasan yang akan dapat
Berdasarkan Pasal 34 dinyatakan tugas mengawasi bank dinikmati karena pengawasan bank, pasar modal dan
nantinya akan dilakukan oleh lembaga pengawasan lembaga keuangan lain ada dalam satu pengendalian.
sektor jasa keuangan yang independen dan dibentuk Selain itu akan terhindar dari conflict of interest antara
dengan UU. Lembaga pengawas ini selambat-lambatnya macroprudential dan microprudential supervision.
31 Desember 2010. Sebelumnya berdasar UU 23 tahun Mengacu pada kasus Century Artaboga, konsolidasi
1999, OJK dibentuk paling lambat akhir tahun 2004. pengawasan produk bank dan non-bank menjadi lebih
Tapi kemudian pemerintah bersama DPR sepakat merevisi efektif karena tergabung dalam satu institusi.
UU 23 Tahun 1999 tentang BI menjadi UU 3/2004.
Sementara kalau pengawasan bank dibawah bank
Di dunia saat ini sebenanrya ada empat sistem sentral, koordinasi kebijakan antara sektor moneter
pengawasan lembaga keuangan yang dapat ditemui dan perbankan yang lebih lancar. Demikian juga dengan
di dunia. Pertama, sistem pengawasan institutisional akses informasi kondisi perbankan sebelum bank sentral
yaitu sistem pengawasan dimana lembaga pengawas mengambil keputusan terkait kebijakan moneter. Dari
didasarkan pada status badan hukum lembaga tersebut. sisi sistem pembayaran, akan meningkatkan reliabilitas
Secara umum ini sistem yang mayoritas dengan bank sistem pembayaran karena BI juga merupakan
sentral sebagai pengawas mendominasi diatas 70%. penyelenggara sistem pembayaran nasional. Terkait
Kedua, sistem pengawaan fungsional, dimana dengan krisis likuiditas, keberadaan BI sebagai pengawas
pengawasan lembaga keuangan dilakukan oleh berbagai akan menjamin tersedianya likuiditas bagi perbankan
lembaga yang berbeda sesuai fungsi bisnis lembaga itu. ketika terjadi liquidity shortage sehingga diharapkan
Contohnya asuransi akan diawasi lembaga pengawas mengurangi risiko sistemik karena kecepatan
asuransi. Jika bank menjalankan bisnis asuransi, maka pengambilan keputusan (crisis prevention).
bank akan diawasi lembaga pengawas asuransi juga.
Jadi sebuah lembaga keuangan akan diawasi oleh Namun bagi negara berkembang dimana perbankan
banyak pengawas tergantung aktifitas bisnisnya. adalah lembaga keuangan utama dalam sistem
keuangan, manfaat efisiensi pengawasan sepertinya
Ketiga, sistem pengawasan terintegrasi yaitu semua tidak akan diperoleh. Makanya literatur ekonomi
lembaga keuangan diawasi oleh lembaga pengawasan (Goodhard dll) menyatakan sebaiknya Negara
yang tunggal dengan cakupan pengawasan yang luas berkembang tidak menyatukan pengawasan perbankan
baik untuk aspek mikroprudensial, makroprudensial ke dalam OJK. Sayangnya pandangan pentingya bank
dan praktek bisnisnya. Konsep ini diterapkan di Inggris, sentral tetap sebagai pengawas bank kurang terdengar
Australia dan Belanda. Model pengawasan demikian akhir akhir ini.
inilah yang sedang kita gagas dengan OJK. Terakhir,
twin peak yaitu sistem pengawassan berbasis pada Apakah sistem keuangan kita sudah membutuhkan
tujuan dimana ada pemisahan antara fungsi supervisi pengawasan terkonsolidasi semua lembaga keuangan
safety dan soundness di satu sisi dengan fungsi pada dalam satu lembaga? Rasanya itu belum mendesak
praktek bisnis. karena produk keuangan kita saat ini relative sederhana.
Bahkan perbankan menguasai porsi pembiayaan lebih
Keempat sistem itu adalah selalu punya untung dan dari 80%. Demikian juga dengan integrasi perbankan
rugi. Artinya apakah pengawasan lembaga keuangan dengan pasar modal sangat rendah karena pasar modal
yang terpisah dari bank sentral atau menyatu dalam belum cukup berkembang.
bank sentral adalah sama baiknya asal semuanya berfugsi
dan menjalankan fungsinya dengan baik. Pengawasan Kita menyadari masalah otoritas dan pengawasan jasa
lembaga keuangan oleh OJK akan sangat efektif ketika keuangan bukan sekedar masalah efisiensi ekonomi saja
lembaga keuangan saling terkait seperti ketika bank tetapi lebih banyak nuansa politis. Jabaran teori ekonomi

27
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

politiknya adalah pemerintah sebagai lembaga politis sepuluh tahun kebelakang. Dari berbagai krisis ekonomi,
sebenarnya tidak rela bank sentral, yang notabene adalah ternyata sumbernya beragam baik dari sisi perbankan,
profesional terlalu menguasai keputusan ekonomi. Ingat nilai tukar, hutang luar negeri dan lainnya. Namun
profesional memperoleh kekuasaan karena keahlian. kalau diperhatikan, mayoritas krisis berasal dari lembaga
Sementara politisi memperoleh kekuasaan karena mereka keuangan atau ketika lembaga keuangan tidak sehat,
berjuang dengan kampanye dan perjuangan politis. mereka menjadi pemicu maupun pemacu (accelerator)
Politisi memiliki pendukung yang harus dipuaskan. krisis.
Sehingga kewenangan bank sentral yang besar membuat
ruang gerak politisi/pemerintah makin terbatas. Makanya D. Peran Bank Sentral dalam Stabilitas Sistem
independensi diberikan tetapi pengawasan diambil Keuangan
politisi.
Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank
Pengalaman membuktikan apapun struktur Indonesia mengatur tentang peran dan tugas Bank
pengawasannya, bank sentral atau OJK, hampir tidak Indonesia sebagai sebagai otoritas moneter. Dalam
ada pengaruhnya terhadap kinerja pengawasan. perkembanganya peran sebagai otorita moneter
Kegagalan Nothern Rock Bank di Inggris buktinya. Studi dirasakan kurang memadai karena cakupan otoritas
empiris membuktikan yang lebih penting dan lebih moneter hanya terbatas pada aspek stabilitas harga.
menentukan kinerja pengawasan adalah suprastruktur Dalam perkembngan ekonomi modern yang makin
dan lingkungan operasional pengawas seperti komplek seperti saat ini peran bank sentral dalam
independensi operasional, akuntabilitas dan transparansi stabilitas sistem keuangan makin diperlukan.
pengawas bank dalam menjalankan tugasnya. Bukan
struktur kelembagaanya. Makanya kalau partai Konsep stabilitas sistem keuangan atau stabilitas
Konservatif di Inggris menang dalam pemilu kedepan, keuangan jauh lebih luas dari stabilitas moneter. Stabilitas
pengawassan bank akan dikembalikan ke Bank Of moneter hanya mengacu pada stabilitas harga (price
England kembali. stability). Artinya merupakan salah satu konsep kestabilan
yang skopnya lebih kecil tetapi punya peranan penting
Secara tradisional tujuan pengaturan dan pengawasan adalah stabilitas moneter. Stabilitas moneter (monetary
bank adalah untuk mencapai dan menjaga agar lembaga stability) didefiniskan sebagai stabilitas harga dimana
keuangan menjadi sehat dan aman. Artinya agar perekonomian mengalami inflasi dalam jumlah yang
lembaga keuangan beroperasi dengan mengindahkan relatif kecil yaitu 1-2% setahun. Deflasi juga ancaman
prinsip pengelolaan lembaga keuangan yang sehat dan terhadap stabilitas moneter namun karena isu deflasi
berhati hati. Ini untuk menjamin kepentingan nasabah sangat jarang terjadi maka kurang menjadi perhatian.
baik deposan maupun debitur. Fungsi otoritas dalam Kalau melihat UU No 23/99 tentang Tugas Bank
hal ini adalah mewakili kepentingan nasabah (delegated Indonesia yaitu menjaga stabilitas nilai rupiah maka
monitor) dengan mengawasi prilaku lembaga keuangan. secara singkat merupakan upaya mengurangi inflasi
menjadi dasar bagi pertumbuhan ekonomi jangka
Sekarang ini terjadi pergeseran yaitu pengawasan panjang yang berkelanjutan (sustainable economic
lembaga keuangan juga diarahkan untuk mencegah growth). Pertumbuhan ekonomi menjadi isu global
jangan sampai lembaga keuangan menjadi sumber dari dan nasional saat ini secara politik penentu selalu
krisis ekonomi (systemic risk). Tujuan ini sering disebut menjalankan pertumbuhan ekonomi sebagai bukti
sebagai mencapai stabilitas sistem keuangan. Seperti keberhasilan dalam pembangunan.
diketahui krisis ekonomi merupakan situasi yang sangat
merugikan karena krisis mampu menghancurkan sendi- Sementara stabilitas sistem keuangan memiliki cakupan
sendi ekonomi yang lama dibangun suatu negara. yang luas walaupun definisi baku stabilitas sistem
Ongkos penyelesaian dan dampak krisis sangat mahal keuangan (SSK) belum disepakati. Ada banyak definisi
dan dapat menyeret ekonomi suatu negara mundur kestabilan sistem keuangan diantaranya:

28
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

John Chant (2003) menyatakan instabilitas adalah Sementara itu, Schinasi (2006) mendefinisikan stabilitas
keadaan pasar yang merugikan perekonomian yang keuangan sebagai kondisi dimana sistem keuangan:
mengancam kinerja ekonomi sehingga melumpuhkan a. Secara efisien memfasilitasi alokasi sumber daya
kondisi keuangan rumah tangga, perusahaan dan dari waktu ke waktu, dari deposan ke investor, dan
pemerintah dan membuat arus dana terbatas. Keadaan alokasi sumber daya ekonomi secara keseluruhan,
juga mengganggu fungsi dan operasi lembaga b. Dapat menilai/mengidentifikasi dan mengelola risiko-
keuangan. Crockett (1996) mendefinisikan stabilitas risiko keuangan.
keuangan sebagai ketiadaan instabilitas. Instabilitas c. Dapat dengan baik menyerap gejolak yang terjadi
sebagai situasi ekonomi yang terganggu karena fluktuasi pada sektor keuangan dan ekonomi.
harga aset keuangan yang besar atau ketika lembaga
keuangan gagal memenuhi kewajiban yang sudah Dari semua definisi diatas dapat diringkas secara
diperjanjikan. Sementara Deutsche Bundesbank (2003) sederhana kestabilan keuangan adalah tidak adanya
menggambarkan stabilitas keuangan sebagai keadaan krisis yang berarti situasi dimana ketahanan sistem
seimbang sistem keuangan sehingga berfungsi efisien keuangan terhadap guncangan perekonomian, sehingga
dalam alokasi sumber dan mengelola risiko dan fungsi intermediasi, sistem pembayaran dan penyebaran
menjalankan fungsi pembayaran, mampu mengatasi risiko tetap berjalan dengan semestinya.
kejutan ekonomi, kebangkrutan dan perubahan
struktural yang mendasar. Dari uraian diatas terlihat keterkaitan antara Stabilitas
Moneter & Stabilitas Sistem Keuangan. Stabilitas
Frederick Mishkin (1999) menyatakan instabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan ibarat dua sisi
keuangan terjadi ketika kejutan terhadap sistem dari satu koin yang saling mempengaruhi satu terhadap
keuangan karena masalah arus informasi sehingga yang lain. Namun demikian, terdapat perbedaan
sistem keuangan tidak mampu menjalankan funsinya mendasar antara keduanya.
menyalurkan dana kedalam investasi produktif.

Tabel 2. Perbandingan Stabilitas Moneter dan Stabilitas Keuangan

Stabilitas Moneter Stabilitas Keuangan

Definisi Stabilnya harga untuk mengendalikan Kestabilan institusi dan pasar keuangan dan
inflasi mengendalikan deflasi tiadanya tekanan dan pergerakan harga yang
berpotensi menyebabkan guncangan
perekonomian

Instrumen pengontrol Kebijakan moneter Sangat terbatas, dan sulit untuk disesuaikan:
Suku bunga Fasilitas Pembiayaan Darurat
Operasi pasar

Struktur Proyeksi Trend, Central tendency of distribution Tails of distribution, Extreme event

Alat Proyeksi Teknik peramalan standar Simulasi, Stress test

Sumber: Diadaptasi dari Aspach O, et. al. (2006) dan Schioppa (2002)

29
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Kalau memperhatikan UU no. 23 Tahun 1999, peran perekonomian. Sistem pembayaran dapat dikelompokan
dan fungsi Bank Indonesia dalam stabilitas sistem dalam dua kategori yaitu sistem pembayaran berbasis
keuangan yang tidak secara eksplisit tercantum dalam tunai atau kartal dan sistem pembayaran berbasis giral
Undang-Undang Bank Indonesia. Beranjak dari atau elektronik. Bank Indonesia berwenang untuk
pengalaman krisis keuangan 1997/1998 dan juga dampak mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.
krisis keuangan global pada perekonomian Indonesia Bank Indonesia mengembangkan mekanisme dan
tahun 2008 yang lalu, Bank Indonesia memegang peran pengaturan untuk mengurangi risiko timbulnya gangguan
dan fungsi sentral dalam stabilitas sistem keuangan. yang bersifat sistemik dalam sistem pembayaran yang
Karena memandang bahwa stabilitas sistem keuangan cenderung semakin meningkat. Berkaca dari kasus
sebagai suatu hal yang sangat penting untuk menunjang Herstatt Bank pengaturan dalam sistem pembayaran
stabilitas makroekonomi. diarahkan jangan sampai risiko kredit dalam sistem
pembayaan berdampak pada kekacauan sistem
Walaupun tidak secara eksplisit peran BI dalam menjaga pembayaran nasional.
stabilitas sistem keuangan, namun berdasarkan
pengalaman negara-negara maju, fungsi menciptakan Selain BI menyediakan infrastruktur sistem pembayaran
stabilitas sistem keuangan merupakan fungsi yang yang terpercaya seperti sistim kliring nasional (SKN),
melekat di bank sentral. Walaupun tidak secara eksplisit BI-RTGS dan BI-SSS, BI juga mengatur agar risiko kredit
tercantum, secara implisit peran ini juga dekat dengan dalam sistem pembayaran Nasional diminimalkan.
peran BI sebagai bank sentral secara umum. Kewajiban baik untuk menyediakan Cover Fund (Saldo)
yang cukup atau kewajiban menjalankan aset likuid
Dalam kaitan dengan tugas Bank Indonesia untuk seperti SBI dan SUN merupakan upaya BI mencegah
menjaga stabilitas moneter antara lain melalui jangan sampai krisis berawal dari kegagalan sitem
penggunaan instrumen suku bunga dalam operasi pembayaran.
pasar terbuka, maka secara implisit mengharuskan BI
untuk melakukan segala daya dan kewenanganya Dalam kaitan dengan fungsi pencegahan krisis, maka
untuk mencapai tugas itu. Dalam hal ini, Bank Indonesia prinisip mencegah lebih baik daripada mengobati harus
dituntut untuk mampu menetapkan kebijakan moneter menjadi filosofis dasar manajemen perekonomian
secara tepat dan berimbang melalui pengendalian suku nasional. Kemamapuan dalam mendeteksi risiko yang
bunga sebagai target antara (intermediate target). mungkin terjadi harus menjadi keahlian baru bank
Penerapan kebijakan moneter dengan target inflasi sentral dalam fungsinya menjaga stabilitas sistem
(inflation targeting) merupakan salah satu implementasi keuangan. Saat ini Bank Indonesia sudah melakukan
dari tugas menjaga stabilitas moneter. riset dan pemantauan macroprudential (macroprudential
surveilance) terhadap sistem keuangan dan meneliti
Sistem keuangan Indonesia secara umum didominasi potensinya dalam menyebabkan krisis. Bank Indonesia
perbankan. Artinya stabilitas sistem keuangan Indonesia dalam hal ini menganalisis dan memonitor kerentanan
sangat dipengaruhi kemampuan sistem perbankan sektor keuangan termasuk mendeteksi potensi shock
dalam menahan ancaman destabilisasi. Karena itu Bank yang berdampak sistemik terhadap sistem keuangan,
Indonesia berperan vital dalam menciptakan stabilitas selain melakukan riset untuk mengembangkan instrumen
sistem keuangan yang sehat, khususnya perbankan. dan indikator macroprudential guna mendeteksi
Peran Bank Indonesia dalam menciptakan dan kerentanan sektor keuangan. Hasil riset dan pemantauan
memelihara sistem perbankan yang sehat dilakukan ini akan diolah menjadi rekomendasi bagi otoritas terkait
melalui mekanisme kebijakan dan pengawasan yang dalam mengambil langkah-langkah yang tepat untuk
efektif, serta penegakan hukum (law enforcement). meredam gangguan dalam sektor keuangan.

Sistem pembayaran nasional merupakan tulang Untuk makin mendorong fungsi bank sentral dalam
punggung (backbone) kelancaran arus dana di menajga stabilitas sistem keuangan, maka bank sentral

30
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

melengkapi alat berupa sistem peringatan dini. Mengingat mengabaikan dampaknya terhadap perekonomian
krisis bersumber dari berbagai sebab dan pengalaman secara keseluruhan. Dengan demikian dapat diringkas
membuktikan bahwa pendekatan mikroprudensial tujuan dari makroprudensial adalah berada pada wilayah
lembaga keuangan saja tidak cukup mampu memberi ekonomi makrotradisional sementara untuk
nilai peramalan, maka dikembangkanlah konsep yang microprudential bertujuan perlindungan terhadap
dikenal dengan pengawasan makroprudensial nasabah lembaga keuangan. Dalam perspektif
(macroprudential surveillance). manajemen keuangan, makroprudensial bertujuan
mencegah terjadinya kejadian ekstrim (tail event) pada
Kita sepakat bahwa sangat penting mencegah jangan portofolio semenatara mikroprudensial diarahkan untuk
sampai krisis keuangan terjadi karena dampak dari mencegah terjadinya kejadian ekstrim pada satu
krisis sangat mahal bagi perekonomian. Pertanyaan sekuritas atau instrumen keuangan.
mendasar saat ini yang penting untuk dijawab adalah
bagaimana mencegahnya? Jawaban atas pertanyaan Karena itu bagi otoritas keuangan, macroprudential
ini sangat tergantung kepada pemahaman kita terhadap merupakan alat yang dapat membantu otoritas dalam
ketidakstabilan, sebab utamanya dan implikasi dari menjaga stabilitas sistem keuangan. Walaupun tujuanya
ketidakstabilan itu sendiri. Pertanyaan diatas selalu berbeda yaitu macroprudential bertujuan menjaga sistem
membawa kita pada suatu konsep yang dikenal dengan sementara microprudential bertujuan menjaga lembaga
”Macroprudential”. Walaupun belum ada definisi baku keuangan, namun keduanya memiliki keterkaitan yang
pengertian makroprundesial tetapi secara umum ada erat. Selama ini tangung jawab menjaga mikroprudensial
hubungan erat dengan konsep ”Microprundential” ada di lembaga pengawas jasa keuangan baik itu bank
yang selama ini kita kenal. Komparasi konsep ini ada sentral maupun lembaga diluar bank sentral. Satu hal
di table 3. yang pasti adalah dalam menjaga stabilitas sistem

Tabel 3. Perbandingan Macroprudential dan Microprudential

Attributes Macroprudential Microprudential

Proximate objective limit financial system-wide distress limit distress of individual institutions

Ultimate objective avoid output (GDP) costs consumer (investor/depositor) protection

Model of risk (in part) endogenous exogenous

Correlations and common important irrelevant


exposures across institutions

Calibration of prudential controls in terms of system-wide distress; top- in terms of risks of individual institutions;
down bottom-up

Sumber: Claudio Borio (2003)

Dari tabel 3 dapat disimpulkan bahwa macroprudential keuangan, pendekatan macroprudential dan
bertujuan membatasi risiko krisis yang terjadi pada microprudential harus menjadi kesatuan.
suatu perekonomian dengan dampak kerugian produksi
ekonomi suatu negara. Sementara microprudential Peran penting yang terkait dengan stabilitas sistem
merupakan upaya untuk mencegah terjadinya krisis keuangan adalah yang terkait dengan fungsi penyediaan
pada individu lembaga keuangan yang dapat merugikan dana likuiditas kepada perbankan. Fungsi ini merupakan
nasabah atau investor lembaga keuangan dengan bagian dari fungsi jaring pengaman sektor keuangan

31
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

selain perlindungan nasabah deposan lewar Lembaga Dari berbagai kajian teoritis dan pengukuran empiris
Penjamin Simpanan (LPS). Bank Indonesia berperan membuktikan kestabilan sistem keuangan bukan
dalam jaring pengaman sistim keuangan melalui fungsi merupakan suatu hasil yang dengan sendirinya tercipta.
bank sentral sebagai lender of the last resort (LoLR). Kestabilan sistem keuangan merupakan hasil dari
Fungsi LoLR merupakan peran tradisional Bank Indonesia suatu proses yang terencana dan merupakan hasil dari
sebagai bank sentral dalam mengelola krisis guna sinergi bank sentral, pemerintah, lembaga keuangan
menghindari terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan. dan semua perilaku alami. Untuk mencapai dan
Dalam menjalankan fungsinya sebagai LoLR, Bank mempertahankan stablitas sistem keuangan, diperlukan
Indonesia harus menghindari terjadinya moral hazard intervensi kebijakan. Disinilah peran baru bank sentral
sehingga pertimbangan risiko sistemik dan persyaratan yang memerlukan kekuasaan pengawasan bank yaitu
yang ketat harus diterapkan dalam mekanisme lender untuk memastikan kesehatan mikroprudensial. Menjaga
of last resort tersebut. agar kesehatan bank terjaga sangat penting terlebih
dengan keterkaitan perbankan dalam sistem
E. Kesimpulan dan Implikasi pembayaran dan kebijakan moneter, pengawasan
perbankan sangat penting itu untuk memastikan
Independensi bank sentral merupakan tema utama kebijakan yang tepat dalam mengatasi dan mencegah
diskusi kebijakan moneter yang sangat intensif di awal terjangkitnya ketidakstabilan.
tahun 1990-an karena negara yang memiliki bank sentral
yang independen memiliki tingkat inflasi yang lebih Kedepan peran bank sentral dalam pencegahan krisis
rendah. Temuan ini menimbulkan arus baru penelitian akan menjadi peran utama yang menuntut kewenangan
yang mencoba mencari kaitan secara detail kenapa inflasi yang lebih besar dari sisi supervisi mikro-makroprudensial
bias menjadi lebih rendah. Jawabanya terletak pada maupun dalam regulasi risiko sistemik. Apakah
perspektif kebijakan bank sentral yang berdimensi jangka kewenangan ini akan dapat diperoleh bank sentral
panjang dan kredibilitas kebijakan yang ditempuhnya. mengingat kewenangan ini diberikan oleh politisi
Temuan ini sangat penting karena stabilitas harga (DPR dan Pemerintah)? Ini pertanyaan besar kita.
merupakan fondasi seluruh stabilitas ekonomi yang lain.
Stabilitas harga menjadi fondasi bagi berjalanya ekonomi Terlebih, selama ini memang ada pendangan yang salah
pasar yang baik. Ini berarti stabilitas harga menjadi syarat terhadap fungsi BI sebagai bank sentral. Kesan ini
yang harus dipenuhi agar pereknomian berjalan dengan secara implisit diakui oleh Gubernur BI, yang sebelumnya
baik. Karena itu independensi bank sentral harus merupakan bagian pemerintah saat di Kementrian
diperkuat untuk menjamin kepentingan ekonomi jangka Keuangan. Sebagai pengusul OJK, Darmin Nasution,
panjang dijaga sebagai penyeimbang kepentingan politisi merasa paling bertanggung jawab dengan tarik ulur
yang dimensinya hanya lima tahun sesuai siklus pemilu. pembentukan OJK. Setelah menjadi petinggi BI, beliau
menyadari terjadinya kesalahan dalam mempersepsi
Trend yang terjadi pada awal tahun 2000-an yang peran bank sentral. Pemerintah selama ini melihat BI
memisahkan fungsi pengawasan lembaga keuangan dalam suasana “negatif” sehingga BI sering dipandang
dari bank sentral telah menimbulkan fenomena kebijakan sebagai “negara dalam Negara”. Akibatnya perspektif
kaca mata kuda (single focus policy). Otoritas bank negatif terhadap BI sangat kuat dan melihat isu conflict
sentral, yang sesuai mandatnya adalah bertanggung of interest dalam penataan sektor moneter dan
jawab menjaga stabilitas nilai uang, akhirnya perbankan sebagai masalah besar. Walaupun sebenarnya
memfokuskan semua kebijakanya untuk mencapai kondisi conflict of interest ini menguntungkan karena
inflasi. Bank sentral menjadi kurang peduli dengan tugas BI tidak akan menaikan suku bunga sangat tinggi. Aneh
lembaga Negara yang lain bahkan dunia usaha. Selama kalau pemisahan pengawasan ini terkesan supaya BI
ada ancaman inflasi, suku bunga akan dinaikan. Selama bisa bebas menaikan suku bunga. Di sisi lain kita selalu
inflasi rendah maka kebijakan moneter yang longgar menyerukan agar suku bunga turun.
akan dilakukan.

32
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Alasan bahwa BI membutuhkan perbankan dalam mengelola


kebijakan moneter adalah fakta dan realitas. Tanpa adanya
kewenangan untuk mengawasi maka BI akan kehilangan
salah satu kaki untuk keberhasilan pengelolaan dan kebijakan
moneter. Teori saluran kredit dalam literatur moneter masih
sangat kuat karena memang perbankan masih menguasai
80% dari porsi pembiayaan nasional. Karena itu, dengan
berbagai pertimbangan tersebut, Pengawasan Bank tetap
berada di bawah Gubernur BI dikonstruksikan sebagai jalan
tengah kepentingan stabilisasi dan efektifitas pengawasan
mikroprudensial perbankan.

Sudah seharusnya akses untuk memperoleh informasi kondisi


mikroprudensial diberikan ke otoritas yang bertanggung
jawab dalam masalah makroprudensial walaupun OJK ada.
Tanpa akses yang cepat, tepat dan mudah maka tugas
makroprudential tidak akan berhasil. Kebutuhan akan
kewenangan ini harus ada dan bukan ada karena belas
kasihan lembaga lain. Terlebih ketika krisis mulai terjadi,
maka proses tarik ulur terkait akses ini bisa menghancurkan
kepercayaan pasar dan memicu permasalahan lain yang
lebih besar yaitu distrust kelembagaan. Bagaimana mau
mengatasi krisis jika antar lembaga negara yang bertanggung
jawab masalah ekonomi saling bertikai. Kalau proses ini
tidak diatur maka sekat kelembagaan akan menjadi kendala
yang serius dalam perumusan kebijakan yang tepat dan
cepat pada kritis dan implemetasi kebijakan itu di publik.
Inilah titik kritis jika RUU OJK diundangkan tanpa memberi
jaminan akses kepada BI untuk memantau langsung kondisi
perbankan.

33
Daftar Pustaka

Barro, R and D Gordon (1983), `Rules, Discretion and Reputation in a Model of Monetary Policy', Journal of Monetary
Economics.

Borio Claudio : “Towards a macroprudential framework for financial supervision and regulation?”, Monetari and Economic
Department, February 2003

Chant, J. (2003), Financial Stability as a Policy Goal , in: J. Chant, A. Lai M. Illing and F. Daniel (eds), Essays on Financial
Stability, Bank of Canada Technical Report, No. 95. Ottawa.)

Crockett, Andrew (1997) ’Why is Financial Stability a Goal of Public Policy?’, paper presented at Maintaining Financial Stability
in a Global Economy Symposium, the Federal Reserve bank of Kansas City, August 28-30.

Cukierman, A, S Edwards and G Tabellini (1990), `Seigniorage and Political Instability', CEPR Discussion Paper No. 381.

Cukierman , Kiguel and Liviatan , (1992), How much to commit to an exchange rate rule: balancing credibility and flexibility,
No 931, Policy Research Working Paper Series , The World Bank

Davies, E Philip, (2002), A Typology of Financial Instability, Financial Stability Report, No.

Deutsche, Bundesbank (2003), Report on the stability of the german financial system, Monthly report, Frankfurt, December

Dvorsky, S, (2000), Measuring Central Bank Independence in Selected Transition Countries and the Disinflation Process ,
BOFIT Discussion Paper No. 13/2000

Epstein, GA, (19920 "Political Economy and Comparative Central Banking", Review of Radical Political Economics , vol. 24(1),
Spring, pp. 1-32.

Fischer, Stanley (1994), ‘Modern Central Banking.’ In The Future of Central Banking, Forrest Capie, Charles A. E. Goodhart,
Stanley Fischer, and Norbert Schnadt, eds., Cambridge University Press, pp. 262-308.

Goodhart, C A E (1995) ‘The Central Bank and The Financial System’, MIT Press, Cambridge, MA.

Goodhart, C A E and Huang, H (1999) ‘a Model of The Lender of Last Resort’, LSE Financial Markets Group Discoussion
Paper, dp0131.

Haldane A. (2001), The Resolution of International Financial Crises : Private Finance and

Henning, C. R. 1994. Currencies and politics in the United States, Germany and Japan, Washington, D.C: Institute for
International Economics.

34
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Hoggarth, Glenn, Peter Sinclair, and Jack Reidhill (2003) Resolution of Bank Crises Failures: A Review, Financial Stability
Review, Bank of England, December.

Hoggart, Glenn, Saporta V. (2001), Cost of Banking System Instability, Financial Stability Review, Bank of England, Junne.

Kydland, F., and E. C. Prescott (1977). "Rules Rather than Discretion: The Inconsistency of Optimal Plans". Journal of Political
Economy: 473–492.

Lopes, Melinda, Central Bank And The Sources Of Financial Stability, Paper Presented In The 12th Annual Conference On
Pacific Basin Finance, Economics, Accounting, And Business Bangkok, Thailand August 10-11, 2004.

Mishkin, Frederick (2001), ‘Financial Policies and The Prevention of Financial Crises in Emerging Market Countries’, NBER
Working Paper No. 8087, January.

-______(1999), Global Financial Instability: Framework, Events, Issues, Journal of Economic Perspectives, Vol.13, No. 4

Mongid, Abdul, (2004), ‘Roads to Achieve Financial System Stability In ASEAN’, Paper for the 16th MEA Convention on
December 9, 2004 and the 29th Conference of the Federation of ASEAN Economic Associations (FAEA), Institute
Integrity of Malaysia, Persiaran Duta, Off Jalan Duta, Kuala Lumpur, Malaysia, December 10-11, 2004

Owen, E, M. Leone, M.Gill, and P. Hilbers (2000), Macroprudential Indicators of Financial System Soundness, OC Paper 192,
INTERNATIONAL MONETARY FUND Washington DC, April 2000

Rogoff, K (1985), `The Optimal Degree of Commitment to an Intermediate Monetary Target', Quarterly Journal of Economics.

Santoso, Wimboh (2007) ‘Effective Financial System Stability Framework’, The SEACEN Centre, Occasional Paper No.45,
September

Schwarts, Anna J. (1993). “ Currency Boards: Their Past, Present, and Possible Future Role,” Carnegie-Rochester Conference
Series on Public Policy, 39, 147-187.

Sinclair, P.J.N. (2000) ‘Central Banks and Financial Stability. Bank of England Quarterly Bulletin, Vol. 40, No. 4, November,
2000.

Stiglitz, Joseph (1999), ‘Lesson from East Asia’, Journal of Policy Modeling 21 (3) pp. 311-330.

______(2002), Globalization and its Discontents, W.W. Northon & Co.

Sturm , Jan-Egbert and Jakob de Haan, (2001), Inflation in Developing Countries: Does Central Bank Independence Matter?
New Evidence Based on a New Data Set,
http://www.unikonstanz.de/monec/teaching/WS04/monpol/material/sturmdehaan2001is.pdf

Sturm , Jan-Egbert and Jakob de Haan, (2001), Inflation in Developing Countries: Does Central Bank Independence Matter?
New Evidence Based on a New Data Set,
http://www.unikonstanz.de/monec/teaching/WS04/monpol/material/sturmdehaan2001is.pdf

35
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Tommaso Padoa-Schioppa, (2002), ‘Central Banks and Financial Stability: Exploring a land in between’, Second ECB Central
Banking Conference, Frankfurt am Main, October.

Turner, Adair, 2009, The financial crisis and the future of financial regulation, The Economist’s Inaugural City Lecture , 21
January 2009

36
Beberapa Catatan Terhadap RUU Otoritas
Jasa Keuangan
Oleh Oka Mahendra, SH. 1

Saat ini Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Otoritas Jasa Keuangan sudah ditangan DPR RI. Tinggal menunggu
jadwal untuk dibahas bersama dengan Pemerintah. RUU tersebut terdiri dari 11 Bab, 53 Pasal yang disusun dengan sistimatika
sebagai berikut.

Bab I – Ketentuan Umum


Bab ini memuat pengertian beberapa istilah yang dipergunakan dalam RUU. Diantaranya memuat pengertian
istilah perbankan dan keuangan non bank:
a. Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha,
serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan/atau berdasarkan
prinsip syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang mengenai perbankan.
b. Industri Keuangan Non Bank yang selanjutnya disingkat IKNB adalah kegiatan jasa keuangan yang disediakan
oleh lembaga keuangan selain bank yang mencakup Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, Lembaga
Penjaminan, Pergadaian, Perusahaan Perasuransian, dan lembaga yang menyelenggarakan program jaminan
sosial, pensiun, dan kesejahteraan yang bersifat wajib, serta industri keuangan non bank lainnya.

Bab II – Pembentukan, Tempat Kedudukan, dan Tugas


Dalam bab ini ditentukan bahwa dengan Undang-undang ini dibentuk Otoritas Jasa Keuangan. Diatur pula
pengertian Otoritas Jasa Keuangan yaitu lembaga yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya,
bebas dari campur tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-undang ini.
Selanjutnya diatur pula tugas pengaturan dan pengertian Otoritas Jasa Keuangan.

Bab III – Dewan Komisioner, Komite Eksekutif, Organ Pendukung dan Kepegawaian
Bab ini mengatur kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan, yaitu Dewan Komisioner yang mempunyai 7 (tujuh)
orang anggota yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Susunan Dewan Komisioner terdiri atas:
a. Seorang ketuamerangkap anggota;
b. 3 (tiga) orang Kepala Eksekutif merangkap anggota; dan
c. 3 (tiga) orang anggota.
Bab III terdiri dari 21 pasal.

Bab IV – Kerahasiaan Informasi


Dalam bab ini diatur larangan untuk pejabat atau orang-orang tertentu untuk menggunakan atau mengungkapkan
informasi yang bersifat rahasia kepada pihak lain.

Bab V – Rencana Kerja, Anggaran, dan Pembiayaan


Dalam bab ini ditentukan bahwa Dewan Komisionaris menyusun rencana kerja dan anggaran Otoritas Jasa
Keuangan. Selain itu diatur pula mengenai pembiayaan sebagai berikut:

1 Ahli Perancangan Peraturan Perundang-undangan

37
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

a. Otoritas Jasa Keuangan menginformasikan kepada Lembaga Penjamin Simpanan mengenai bank bermasalah
yang sedang dalam upaya penyehatan oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan
perundang-undangan di bidang perbankan.
b. Otoritas Jasa Keuangan menyerahkan penyelesaian bank gagal yang tidak berdampak sistemik kepada Lembaga
Penjamin Simpanan sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Lembaga Penjamin Simpanan.
c. Dalam rangka penyelesaian dan penanganan bank gagal yang ditengarai berdampak sistemik, Otoritas Jasa
Keuangan wajib menginformasikan kepada forum stabilitas sistem keuangan tentang bank gagal yang ditengarai
berdampak sistemik.

Bab VI – Pelaporan dan Akuntabilitas


Otoritas Jasa Keuangan diwajibkan menyusun laporan tahunan yang terdiri atas laporan kegiatan dan laporan
keuangan. Laporan tersebut wajib disampaikan kepada DPR dan juga kepada Presiden. Laporan tersebut diaudit
oleh BPK atau akuntan publik.

Bab VII – Hubungan dengan Lembaga Lain


Dalam bab ini diatur hubungan koordinasi kerjasama Otoritas Jasa Keuangan dengan lembaga lain, seperti Bank
Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan melalui forum stabilitas sistem keuangan.
Selain itu diatur pula peluang bagi Otoritas Jasa Keuangan untuk melakukan hubungan internasional.

Bab VII – Penyidikan


Bab ini mengatur mengenai penyidik PPNS dengan kewenangannya, antara lain:
a. Pengalihan tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan di bidang Perbankan dari Bank Indonesia
kepada Otoritas Jasa Keuangan dilakukan secara bertahap dan berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam
waktu paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak tanggal Undang-undang ini diundangkan.
b. Untuk 2 (dua) tahun pertama setelah tugas dan wewenang pengaturan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) beralih, pembiayaan penyelenggaraan tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan di
bidang Perbankan berasal dari anggaran Bank Indonesia.

Bab IX – Ketentuan Pidana


Dalam bab ini dimuat beberapa perbuatan pidana dengan ancaman hukuman pidana penjara dan denda.

Bab X – Ketentuan Peralihan


Dalam bab ini diatur kondisi-kondisi dalam masa peralihan.

Bab XI – Ketentuan Penutup

RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan didusun dengan pertimbangan antara lain:
1. Untuk mewujudkan perekonomian nasional yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, diperlukan industri jasa
keuangan yang sehat, teratur, dan mempunyai daya saing yang tinggi.
2. Untuk itu diperlukan otoritas jasa keuangan yang bertugas melaksanakan pengawasan yang dapat mengeluarkan peraturan
yang berkaitan dengan tugas pengawasan tersebut.
3. Sebagai pelaksanaan Pasal 34 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan UU No. 6 Tahun 2009.

Pasal 34 UU tentang Bank Indonesia memuat pokok pikiran sebagai berikut:


1. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan dengan Undang-undang.

38
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

2. Lembaga tersebut harus bersifat independen dalam menjalankan tugasnya dan kedudukannya berada di luar pemerintah
dan berkewajiban menyampaikan laporan kepada BPK dan DPR.
3. Dalam melaksanakan tugasnya lembaga tersebut (supervisory body) melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank
Indonesia.
4. Koordinasi dan kerjasama tersebut diatur dalam Undang-undang pembentukan lembaga pengawasan dimaksud.
5. Lembaga pengawasan tersebut dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan
bank dengan koordinasi dengan Bank Indonesia dan meminta penjelasan dari Bank Indonesia, serta keterangan dan data
makro yang diperlukan.
6. Pengalihan fungsi pengawasan dari Bank Indonesia kepada lembaga pengawas sektor jasa keuangan dilakukan secara
bertahap setelah dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam Undang-undang.
7. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan akan dilaksanakan selambat-lambatnya tanggal 31 Desember
2010.
8. Sepanjang lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) belum dibentuk, menurut Pasal 35 UU
tentang Bank Indonesia maka tugas pengaturan dan pengawasan bank dilaksanakan oleh Bank Indonesia.

Batas waktu pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan tersebut tinggal 4 bulan lagi. Meskipun waktu
yang tersedia relatif pendek, namun pembahasan RUU tersebut harus dilakukan secara cermat dan mendalam. Berbagai aspek
perlu dipertimbangkan agar kondisi perbankan semakin membaik dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Keputusan politik yang diambil oleh pembentuk Undang-undang akan sangat menentukan format pengawasan terhadap bank
di masa mendatang. Pembentuk Undang-undang perlu belajar dari pengalaman sejarah pengawasan bank di tanah air dan
juga dari pengalaman sejarah negara lain dalam mengatur pengawasan terhadap bank. Sekiranya UU tentang Otoritas Jasa
Keuangan belum disahkan samapai tanggal 31 Desember 2010, berlaku ketentuan Pasal 35 UU tentang Bank Indonesia.

Sehubungan dengan pembahasan RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan bersama ini disampaikan catatan hukum
sebagai berikut:
1. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan, tidak boleh mengganggu, tetapi harus mendukung peran Bank
Indonesia sebagai Bank Sentral yang antara lain berwenang merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter mengatur
dan mengawasi perbakan, serta menjalankan fungsi sebagai “lender of the last resort”.
2. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan agar dapat menciptakan kondisi kondusif untuk tumbuhnya
industri jasa keuangan yang sehat, berkelanjutan, dan berdaya saing.
3. Materi mutan yang diatur dalam Undang-undang tidak boleh mempersempit atau memperluas mandat yang didelegasikan
oleh Pasal 34 UU tentang Bank Indonesia.
4. Terhadap hal-hal yang secara expersis verbis ditentukan dalam Pasal 34 UU tentang Bank Indonesia dan penjelasannya,
serta pasal yang terkait harus dilaksanakan secara taat asas.
5. Mengingat pelaksanaan pengawasan terhadap bank sangat erat kaitannya dengan peran Bank Indonesia sebagai penanggung
jawab kebijakan moneter maka kerjasama dan koordinasi dengan Bank Indonesia sangat penting untuk diatur secara jelas
dalam Undang-undang.
6. Mengenai nama Undang-undang
a. Pasal 34 ayat (1) UU tentang Bank Indonesia tidak secara jelas menentukan nama undang-undang, tetapi mengisyaratkan
nama Lembaga Pengawasan Jasa Keuangan (LPJK).
b. Nama Otoritas Jasa Keuangan secara etimologis bermakna otoritas tersebut diberi kewenangan yang luas.
7. Sifat lembaga
a. LPJK merupakan lembaga yang independen dalam menjalankan tugasnya.
b. Dalam Pasal 2 ayat (2) RUU ditentukan ”Otoritas Jasa Keuangan lembaga independen dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya bebas dari campur tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-
undang ini”.

39
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Dalam Penjelasan Umum antara lain dikemukakan bahwa independensi Otoritas Jasa Keuangan diwujudkan dalam 2 hal,
yaitu:
a. secara kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan tidak berada di bawah otoritas lain di dalam sistem pemerintahan RI.
b. Pimpinan Otoritas Jasa Keuangan memiliki kepastian atas jabatannya.

Independensi Otoritas Jasa Keuangan tampaknya sulit diwujudkan karena:


a. Proses pengisian anggota Dewan Komisioner sebagaimana diatur dalam Pasal 5 RUU sebagian besar diisi secara ex
officio (5 diantara 7 anggota Dewan Komisioner),yaitu 1 dari Bank Indonesia, 1 dari Kementerian Keuangan, dan 3 dari
unsur Otoritas Jasa Keuangan.
b. Karena ex officio maka masa jabatan Dewan Komisioner tersebut tergantung kepada masa jabatan pada instansi asalnya.
c. Tidak ada kesetaraan dalam proses rekrutmen. Ada yang perlu mendapat konfirmasi DPR, ada yang diusulkan melalui
Menteri Keuangan kepada Presiden dan ada yang langsung kepada Presiden, yaitu yang berasal dari Kementerian
Keuangan (periksa Pasal 6 RUU)
d. Sebagai konsekuensi proses rekrutmen seperti tersebut di atas terdapat kecenderungan bahwa anggota Dewan Komisioner
dari instansi tertentu terpengaruh oleh kebijakan instansinya.

Sehubungan dengan itu proses rekrutmen anggota Dewan Komisioner perlu diperbaiki. Ada beberpa pola yang dapat diacu,
yaitu pola rekrutmen KPK, Hakim Konstitusi, Hakim Agung, atau Komisi Yudisial.

8. Jumlah Dewan Komisioner perlu dipertimbangkan untuk merampingkan agar lebih efektif dan efisien. Kiranya Dewan
Komisione cukup 5 orang. Struktur organisasi Otoritas Jasa Keuangan perlu dipertimbangkan kembali agar tidak ada kesan
Otoritas Jasa Keuangan dalam Otoritas Jasa Keuangan. Pasal 5 ayat (4) yunto Pasal 20, dan Pasal 21, Kepala Eksekutif
mempunyai kewenangan yang luas baik dalam menetapkan kebijakan operasional pengawasan, menetapkan aturan,
melakukan pengawasan, maupun menetapkan sanksi administratif. Tiga kewenangan menumpuk di tangan Kepala Eksekutif
tanpa mekanisme kontrol yang jelas. Pasal 13 ayat (2) huruf c dan ayat (3) huruf f RUU secara sumir menentukan bahwa
Dewan Komisioner mempunyai fungsi dan wewenang untuk mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan
oleh Kepala Eksekutif. Perlu dicatat bahwa Kepala Eksekutif adalah juga anggota Dewan Komisioner. Selain itu ketentuan
pidana yang diatur dalam Pasal 43 dan Pasal 44 RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan, menambah perkasa Kepala Eksekutif.
Sebab setiap orang yang sengaja mengabaikan, tidak memenuhi atau menghambat pelaksanaan kewenangan Kepala
Eksekutif, diancam dengan pidana. Penumpukan kewenangan disatu jabatan dalam organisasi tidak sejalan dengan prinsip
pemisahan kekuasaan dengan mekanisme checks and balances yang jelas. Sifat kolektif Dewan Komisioner sebagaimana
diatur Pasal 5 ayat (2) kehilangan maknanya.

9. Kedudukan Otoritas Jasa Keuangan di luar pemerintah. Ada beberapa alternatif yang dapat dipilih selain seperti yang diatur
dalam RUU. Pilihannya antara lain kedudukannya sebagai bagian dari lembaga independen atau badan hukum publik yang
mandiri. Bila ditempatkan sebagai bagian dari lembaga independen, tentunya lembaga yang bergerak di bidang pengawasan
jasa keuangan, untuk keterpaduan pengawasan seperti yang ditentukan dalam Pasal 4 ayat (1) RUU tentang Otoritas Jasa
Keuangan dan untuk efisiensi.

10. Tugas Otoritas Jasa Keuangan


Pasal 4 ayat (1) RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan menentukan tugas Otoritas Jasa Keuangan melakukan pengaturan
dan pengawasan secara terpadu, independen, dan akuntabel terhadap:
a. kegiatan jasa keuangan di bidang perbankan;
b. ..……..
c. ……….

40
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Menurut Pasal 34 ayat (1) UU tentang Bank Indonesia menentukan tugas mengawasi bank akan dilakukan oleh lembaga
pengawasan sektor jasa keuangan yang independen. Dalam penjelasannya dikemukakan bahwa lembaga tersebut fungsinya
antara lain melakukan pengawasan terhadap bank …. dan seterusnya. Lembaga tersebut yang ditekankan sebagai supervisory
body dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank dengan koordinasi
dengan Bank Indonesia. Apakah yang dimaksud dengan tugas pengawasan terhadap bank dalam ketentuan ini? Bila
merujuk kepada UU tentang Bank Indonesia tugas pengawasan dimaksud meliputi hal-hal yang diatur dalam Pasal 27 s/d
Pasal 33 UU tentang Bank Indonesia sebagai berikut:
a. Pengawasan langsung dan tidak langsung (Pasal 27).
b. Mewajibkan bank menyampaikan laporan, keterangan, dan penjelasan sesuai dengan tata cara yang ditetapkan (Pasal
28 ayat (1)).
b. Pemeriksaan berkala maupun setiap waktu (Pasal 29 ayat (1)).
c. Memerintahkan bank untuk menghentikan sementara sebagian atau seluruh kegiatan tertentu (Pasal 31).
d. Mengatur dan mengembangkan sistem informasi antar bank (Pasal 32).
e. Melakukan tindakan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan terkait perbankan yang berlaku dalam
hal keadaan suatu bank menurut penilaian Bank Indonesia membahayakan kelangsungan usaha bank yang bersangkuta
dan atau membahayakan sistem perbankan atau terjadi kesulitan perbankan yang membahayakan perekonomian
nasional (Pasal 33).

Dalam Penjelasan Pasal 34 ayat (1) antara lain dikemukakan bahwa Lembaga pengawasan ini dapat mengeluarkan ketentuan
yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank dngan koordinasi dengan Bank Indonesia dan meminta
penjelasan dari Bank Indonesia keterangan dan data makro yang diperlukan.

Sehubungan dengan itu rumusan Pasal 4 ayat (1)dan ayat (3) RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan perlu disesuaikan dengan
ketentuan Pasal 34 ayat (1) UU tentang Bank Indonesia dan penjelasannya, serta pasal yang terkait. Demikian pula Penjelasan
Umum RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan yang beberapa kali mengulang pernyataan yang kurang tepat bahwa Pasal
34 UU tentang Bank Indonesia “memberikan otoritas pengaturan dan pengawasan kepada lembaga pengawasan sektor
jasa keuangan” atau untuk ”menyelenggarakan fungsi pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di
bidang Perbankan, Pasar Modal, dan IKNB”.

11. Secara teknis perundang-undangan apakah UU tentang Otoritas Jasa Keuangan dapat mewajibkan atau membolehkan
instansi lain untuk melaksanakan tugas atau kegiatan tertentu? Periksa Pasal 37, Pasal 46 ayat (2), Pasal 48, Pasal 49 ayat
(1) dan Pasal 50 RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan. Seharusnya subyek yang diatur UU tentang Otoritas Jasa Keuangan
adalah Otoritas Jasa Keuangan. Karena itu formulasi pasal-pasal tersebut perlu disempunakan agar tidak terkesan mengatur
instansi atau lembaga lain yang tunduk kepada Undang-undang tersendiri yang menjadi dasar hukum pembentukannya
atau yang memberi kewenangan untuk melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenang tertentu.

12. Pasal 37 ayat (2) UU tentang Otoritas Jasa Keuangan menentukan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia dapat
berkoordinasi dan bekerjasama dalam pengawasan bersama atas kegiatan jasa keuangan di bidang perbankan. Pertanyaannya
ialah apakah pengawasan disini berupa pengawasan makro atau mikro atau keduanya? Perlu dikemukakan bahwa
kewenangan pengawasan Bank Indonesia terhadap perbankan merupakan bagian dari fungsi Bank Indonesia sebagaimana
ditentukan dalam Pasal 8 UU tentang Bank Indonesia.

13. Pasal 37 ayat (4) menentukan “dalam pengawasan bersama Bank Indonesia dapat melakukan pengawasan langsung
dan/atau tidak langsung terhadap bank”. Ayat ini mengatur kembali apa yang sebetulnya merupakan kewenangan Bank
Indonesia. Bukankah kewenangan Bank Indonesia tersebut telah diatur dalam UU tentang Bank Indonesia?

41
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

14. Jenis-jenis peraturan Otoritas Jasa Keuangan.


Ada 3 jenis peraturan Otoritas Jasa Keuangan, yaitu:
a. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan yang mengikat secara umum (Pasal 1 angka 2).
b. Peraturan Dewan Komisioner yang mengikat dilingkungan internal Otoritas Jasa Keuangan (Pasal 1 angka 3).
c. Peraturan Kepala Eksekutif sebagai aturan teknis dalam rangka pelaksanaan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan/atau
Peraturan Dewan Komisioner dan mengikat secara umum (Pasal 1 angka 4).

Sesuai dengan UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Penjelasan Pasal 7 ayat (4)
memang dikenal adanya jenis peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga yang pembentukannya
berdasarkan Undang-undang. Tetapi jenis peraturan seperti itu hanya diakui dan mengikat bila diperintahkan pembentukannya
oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Jadi dalam hal ini tidak dikenal adanya atribusi kewenangan
pengaturan seperti ditentukan dalam UU tentang Otoritas Jasa Keuangan. Seharusnya hanya ada satu jenis peraturan yang
dapat dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan yang jelas-jelas didelegasikan
pembentukannya oleh UU tentang Otoritas Jasa Keuangan.

15. Pasal 30 RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan memberi kewenangan kepada Otoritas Jasa Keuangan untuk menetapkan
dan memungut biaya yang wajib dibayar oleh industri jasa keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap pasal ini, yaitu:
a. Ketentuan peraturan perundang-undangan mana yang mewajibkan industri jasa keuangan untuk membayar biaya
tertentu kepada Otoritas Jasa Keuangan? Biaya apa yang dimaksud?
b. Apakah biaya tersebut termasuk PNBP atau bukan?
c. Besaran biaya apakah ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan atau oleh instansi lain? Apa dasarnya?
d. Perlu dicek apakah peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang telah member kewenangan kepada instansi
lain untuk memungut biaya dimaksud?
Bila hal tersebut tidak jelas pengaturannya, dikawatirkan terjadi tumpang tindih/duplikasi pemungutan biaya yang akan
memberatkan industri jasa keuangan dan menimbulkan ketidakpastian hukum.

16. Pelaporan dan akuntabilitas sebagaimana diatur dalam Pasal 36 RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan perlu disesuaikan
dengan Penjelasan Pasal 34 ayat (1) UU tentang Bank Indonesia yang menentukan Otoritas Jasa Keuangan menyampaikan
laporan kepada BPK dan DPR.

17. PPNS sebagaimana diatur dalam Pasal 41 apakah dapat diangkat dari Pegawai Negeri yang dipekerjakan pada Otoritas Jasa
Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3) RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan? Ketentuan tentang PPNS
tersebut perlu diharmonisasikan dengan KUHAP dan UU tentang Kepegawaian.

18. Ketentuan peralihan terutama yang berkaitan dengan pengalihan status kepegawaian pegawai Bank Indonesia yang
melaksanakan tugas dan wewenang di bidang pengawasan bank, pengaliahan infrastruktur dan kekayaan negara pada
Bank Indonesia dalam rangka pelaksanaan tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan di bidang perbankan, untuk
digunakan sementara oleh Otoritas Jasa Keuangan agar dipertimbangkan dengan seksama. Jangan jangan tidak ada lagi
yang tersisa di Bank Indonesia karena semua hal tersebut merupakan infrastruktur dan kekayaan yang diguakan untuk
mendukung tugas pengaturan dan pengawasan Bank Indonesia terhadap perbankan. Selain itu ketentuan Pasal 46 ayat
(1) RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan perlu ditelaah dengan seksama terutama mengenai:

a. Apakah yang dialihkan dari Bank Indonesia tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan atau tugas yang secara
ekplisit ditentukan dalam Pasal 34 ayat (1)
UU tentang Bank Indonesia?

42
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

b. Apakah waktu 3 tahun cukup dan bagaimana agendanya secara rinci sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal
34 ayat (2) UU tentang Bank Indonesia?
c. Dalam Penjelasan Pasal 34 ayat (2) UU tentang Bank Indonesia dikemukakan penyerahan bertahap tersebut dilaporkan
kepada DPR, tetapi RUU tidak menyinggung hal tersebut.

Satu hal yang perlu dipertimbangkan yaitu perkembangan model pengawasan finansial dan regulasi dan peran bank central
dalam pengawasan prudential di dunia perlu dijadikan pertimbangan. Masahiro Kawai and Michael Pomerleano (ADB
Institute No. 189, January 2010, halaman 10 antara lain mengemukakan ”Of the 84 countries listed in the table, 30 have
an integrated prudential supervisor, 20 have supervisory agencies in charge of two types of financial intermediaries, and
34 have multiple sectoral supervision. The central bank of 48 countries (57% of the total) have the authority of banking
supervision, and of these 48 countries 39 (81%) are developing and emerging economies. It is informative to note that in
countries with multiple sectoral supervisors, central bank almost always have this supervisory authority.”

Sebagai catatan akhir dapat dikemukakan satu pertanyaan yang perlu dijawab pembentuk Undang-undang, yaitu siapakah
yang mengawasi Otoritas Jasa Keuangan yang memiliki kewenangan cukup besar dalam mengawasi industri jasa keuangan
yang menjadi urat nadi perekonomian nasional?

43
Halaman ini sengaja dikosongkan
Resensi Buku

Judul : Konstitusi Ekonomi


Penulis : Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Januari 2010 (ISBN: 978-979-709-465-2)
Halaman : xvi + 440 halaman
Oleh : Veri D. Adhiraharja

Sejenak setelah membaca judul buku terbaru karya Prof. dan tidak boleh dilanggar oleh penentu kebijakan ekonomi
Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, tak banyak dari pembaca yang yang bersifat operasional. Jika kebijakan-kebijakan ekonomi
bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud dari ‘konstitusi tersebut bertentangan dengan UUD, maka tidak lagi
ekonomi’. Hal ini sangat wajar karena literatur/referensi mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.
mengenai ekonomi maupun hukum yang membahas materi
‘konstitusi ekonomi (economic constitution) masih sangat Di negara-negara demokrasi konstitusional selalu terdapat
jarang baik di Indonesia maupun di dunia. Wacana tentang mekanisme peradilan untuk membatalkan atau menyatakan
konstitusi ekonomi itu sendiri dapat dikatakan memang bahwa undang-undang atau sebagian materi undang-
masih baru. Namun, usaha untuk mengaitkan konstitusi undang yang bersangkutan tidak lagi mempunyai kekuatan
dengan perekonomian di berbagai negara sebenarnya hukum yang mengikat, hal inilah yang biasa disebut judicial
sudah dimulai sejak lama. Sejak tahun 1918, Soviet-Rusia review, di Indonesia fungsi ini dilaksanakan oleh Mahkamah
yang bersifat komunis telah mencantumkan pasal-pasal Konstitusi.
perekonomian dalam undang-undangnya. Sedangkan di
Jerman yang menganut paham liberal, sejak Konstitusi Pada buku Prof.Jimly sebelumnya yang berjudul Green
Weimar 1919 telah mengadopsi ide pengaturan prinsip- Constitution: Nuansa Hijau Undang-Undang Dasar Negara
prinsip kebijakan ekonomi dalam undang-undang dasar. Republik Indonesia Tahun 1945 (2009), beliau menguraikan
Tradisi tersebut juga dikembangkan secara lebih luas oleh kecenderungan menuangkan kebijakan lingkungan hidup
Irlandia dalam Konstitusi tahun 1937 dengan memperkenalkan dalam bentuk undang-undang yang dapat dipaksakan
konsep Directive Principles of Social Policy (DPSP) yang berlakukanya secara imperatif. Namun, karena ternyata
kemudian ditiru oleh banyak Negara non-komunis. hanya diatur dengan undang-undang saja, daya paksa
kebijakan lingkungan itu tidak cukup kuat dan efektif
Pengertian dan Pentingnya menghadapi persaingan dengan kepentingan lain. Mirip
dengan hal tersebut, berbagai kebijakan ekonomi yang biasa
Prof. Jimly dalam bukunya tersebut menguraikan pengertian dituangkan dalam bentuk undang-undang sering disusun
dan pentingnya konstitusi ekonomi di suatu Negara.Suatu tanpa rambu-rambu hukum yang dapat dijadikan acuan
konstitusi disebut sebagai Konstitusi Ekonomi jika memuat yang mengikat. Sehingga berkembang kebutuhan untuk
kebijakan ekonomi. Kebijakan-kebijakan itulah yang akan menuangkan dasar-dasar kebijakan ekonomi itu dalam
memayungi dan memberi arahan bagi perkembangan konstitusi yang dapat dijadikan pegangan oleh legislatif
kegiatan ekonomi suatu negara. Pengaturannya dapat sebagai penentu kebijakan Negara dan pemerintahan (policy
bersifat rinci dan eksplisit maupun bersifat fleksibel atau maker) dalam menyusun suatu undang-undang di bidang
bahkan hanya memuat rambu-rambu filosofis yang bersifat perekonomian.
implisit (misalnya di Amerika Serikat, Kanada, Australia,
dan Jepang). Kebijakan-kebijakan ekonomi yang dituangkan Secara umum, buku karya Prof Jimly ini memusatkan
dalam konstitusi suatu Negara tersebut bersifat mutlak perhatian pada fenomena konstitusi ekonomi dengan

45
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

menguraikan aspek-aspek UUD 1945 sebagai konstitusi Namun demikian pada dasarnya semua konstitusi ekonomi
ekonomi. Isi buku terdiri atas delapan bab, yaitu (1) di dunia selalu mengatur sekurang-kurangnya (i) tentang
Kedudukan Konstitusi dalam Penyelenggaraan Negara, (2) penguasaan dan kepemilikan kekayaan sumber daya alam
Wacana Konstitusi Ekonomi, (3) Konstitusi Ekonomi Pelbagai sebagai warisan kehidupan, (ii) tentang konsepsi hak milik
Negara, (4) Konstitusi Ekonomi Indonesia Sebelum perorangan, dan (iii) mengenai peranan negara dan
Reformasi, (5) Konstitusi Ekonomi Indonesia Pascareformasi, perusahaan negara dalam kegiatan usaha. Bahkan, banyak
(6) Mahkamah Konstitusi dan UU tentang Perekonomian, juga konstitusi yang mengatur kebijakan ekonomi itu secara
(7) Realisme dan Konstitusionalisme Kebijakan Ekonomi, lebih luas dan terperinci.
dan (8) Simpulan dan Penutup.
UUD 1945: Konstitusi Ekonomi Indonesia
Tipe Konstitusi Ekonomi
Melihat keempat tipe konstitusi ekonomi sebagaimana
Dari sejumlah konstitusi yang diperbandingkan dalam buku disebutkan di atas, Indonesia lebih pas masuk dalam kategori
ini, secara umum terdapat empat tipe konstitusi ekonomi, Konstitusi Ekonomi nonkomunis.Hal ini terlihat dengan jelas
yaitu Pertama, konstitusi Liberal-Kapitalis, seperti Amerika, setelah reformasi konstitusi di Indonesia berhasil diselesaikan
Kanada, Inggris dan Australia. Pada tipe ini memandang tahun 2002, rumusan baru pasal-pasal perekonomian dalam
bahwa soal-soal perekonomian biasa dilihat sebagai UUD 1945 mencakup lingkup materi yang cukup luas dan
persoalan yang timbul dan dapat diselesaikan sendiri dalam memepertegas konsepsi dasar di bidang perekonomian
masyarakat sesuai mekanisme pasar. Sehingga dalam dan kesejahteraan rakyat. Butir-butir ketentuan tersebut
perumusan materi terkait dengan ekonomi dan keuangan mencakup (i) prinsip-prinsip dasar hak atas ekonomi dan
dalam konstitusinya hanya yang berhubungan dengan konsepsi mengenai hak milik, (ii) kebijakan dasar di bidang
moneter, fiskal dan anggaran. perekonomian untuk kesejahteraan social, (iii) kebijakan
dasar di bidang kesejahteraan social, (iv) hal keuangan
Kedua, Konstitusi Ekonomi Negara komunis, seperti China, Negara yang menyangkut kebijakan anggaran dan
Soviet-Rusia, Vietnam dan Korea Utara. Pada dasarnya pada perpajakan, (v) mata uang dan bank sentral, (vi) pemeriksaan
konstitusi ekonomi negara yang termasuk dalam tipe kedua keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan. Keenam hal
ini, menyebutkan bahwa semua sarana dan prasarana tersebut dibahas secara mendalam pada buku ini.
produksi dimiliki oleh negara, organisasi masyarakat dan
koperasi. Kekayaan milik negara merupakan hak milik seluruh Penutup
masyarakat. Sehingga pemerintah mempunyai peranan utama
dalam kegiatan ekonomi di negara-negara berpaham komunis. Sebagai pendiri dan ketua pertama Mahkah Konstitusi
(2003-2008) serta sebagai penggerak wacana literatur
Tipe konstitusi ekonomi yang ketiga, Konstitusi Ekonomi yang membahas konstitusi ekonomi, Prof. Jimly menjadikan
Negara-negara eks komunis, seperti Polandia, Hongaria dan buku ini sebagai referensi utama untuk mengkaji konstitusi
Polandia. Setelah runtuhnya komunisme, pada kelompok ekonomi. Paparan Prof. Jimly pada buku ini disampaikan
ini telah mengalami pergeseran yang sangat mendasar ke secara deskriptif dan tak sedikit bersifat evaluatif, juga
arah liberalisme. mengupas tuntas sejarah konstitusi ekonomi di dunia.
Sedikit masukan kepada buku ini dari peresensi, khususnya
Keempat, adalah Konstitusi Ekonomi negara-negara non mengenai penjelasan konstitusi di berbagai negara terdapat
komunis, seperti Perancis, Brasil, Spanyol, Filipina, dan pengulangan pembahasan mengenai pemuatan kebijakan
India. Pada tipe ini secara umum mencantumkan materi lingkungan hidup pada konstitusi di suatu negara.
perekonomian lebih lengkap dalam konstitusinya. Bahkan
pada konstitusi di beberapa negara memberikan Akhirnya, peresensi juga merekomendasikan bahwa buku
kewenangan kepada lembaga/badan independen tertentu ini sangat tepat dibaca oleh ahli dan praktisi hukum, pejabat
untuk berperan dalam pengembangan ekonomi di negara penentu kebijakan, civitas akademika dan masyarakat
negaranya, misalnya Dewan Ekonomi dan Sosial di Perancis umum.
dan Badan Perencanaan Ekonomi di Filipina.

46
Cakrawala Hukum:
Seminar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, RUU
Otoritas Jasa Keuangan, Adakah Solusi Alternatif ?

Pada tanggal 17 Juni 2010, Ikatan Sarjana Ekonomi 1. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa
Indonesia (ISEI) mengadakan seminar dengan Judul “RUU keuangan (LPJK) dibentuk dengan UU.
OJK, Adakah Solusi Alternatif” di Hotel Borobudur. Seminar
diselenggarakan dalam rangka memberikan masukan 2. Lembaga tersebut harus bersifat independen dalam
terhadap RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang saat ini menjalankan tugasnya dan kedudukannya berada di
sedang disusun oleh Pemerintah. Pembicara seminar adalah luar pemerintah dan berkewajiban menyampaikan
AA. Oka Mahendra, Dr. Dradjad H. Wibowo, Drs Sigid laporan kepada BPK dan DPR.
Pramono, MBA (Ketua Perbanas) dan Aviliani, SE, MSi.
3. Dalam melaksanakan tugasnya, lembaga tersebut
Dalam pandangannya, pembicara berpendapat bahwa RUU melakukan koordinasi dan kerja sama dengan BI.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang disusun oleh Pemerintah Koordinasi dan kerja sama tersebut diatur dalam undang-
berdasarkan amanat Pasal 34 UU BI, dilakukan dengan undang pembentukan lembaga pengawasan dimaksud.
pertimbangan untuk membangun industri jasa keuangan
yang sehat, teratur dan mempunyai daya saing yang tinggi 4. Lembaga tersebut dapat mengeluarkan ketentuan yang
guna mewujudkan perekonomian yang mampu tumbuh berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank
secara berkelanjutan dan stabil. dengan koordinasi BI dan meminta penjelasan dari BI,
keterangan dan data mikro yang diperlukan.
Namun demikian, pembentukan Lembaga Pengawas Jasa
Keuangan (LPJK) harus dicermati dari berbagai aspek. Dari Pembentukan lembaga pengawasan jasa keuangan harus
aspek filosofis, pembentukan UU mengenai LPJK harus mendukung peran BI sebagai Bank Sentral, serta tidak boleh
dilihat apakah dapat meningkatkan fungsi administratif memperluas atau mempersempit tugas, fungsi, dan
kontrol dan manajerial kontrol terhadap otoritas jasa kewenangan LPJK, khususnya berkaitan dengan pengawasan
keuangan agar kebijakan yang telah ditetapkan dilaksanakan bank. Terhadap hal-hal yang secara tegas telah ditentukan
secara taat asas sesuai peraturan perundang-undangan dalam UU BI menjadi fungsi, tugas dan wewenang lembaga
bebas dari berbagai penyimpangan atau penyelewengan pengawasan dimaksud tidak terbuka untuk ditafsirkan lain,
dalam rangka pencapaian tujuan. Dari aspek yuridis, RUU hanya hal-hal yang belum jelas arahan pengaturannya
OJK tidak boleh dilihat terpisah dari UU lain yang terkait. terbuka untuk ditafsirkan dengan menggunkan metode
Dari aspek sosiologis, penyusunan RUU OJK hendaknya peafsiran sesuai dengan doktrin hukum.
secara sungguh mempertimbangkan best practice dan
dinamika perkembangan di sektor jasa keuangan. Oleh Dalam kesempatan tersebut, salah satu pembicara yaitu
karena itu, dalam penyusunan RUU OJK perlu diperhatikan Bp. AA Oka Mahendra secara tegas mengusulkan alternatif
perkembangan model pengawasan finansial dan regulasi solusi Pasal 34 UU BI, yaitu:
dan peran bank sentral dalam pengawasan prudensial. 1. Dibandingkan “Otoritas”, nama yang lebih tepat
diusulkan adalah Lembaga Pengawasan Jasa Keuangan.
Pada dasarnya, Pasal 34 UU BI memuat janji karena baik Otoritas Jasa Keuangan seperti usulan Pemerintah
pada ayat (1) dan ayat (2) menggunakan kata “akan” memiliki makna yang sangat luas, sebagai kekuasaan,
bukan “mewajibkan”atau “mengharuskan”. Dari ketentuan wewenang, hak melakukan tindakan atau hak untuk
Pasal 34 dan penjelasannya dapat diperoleh informasi membuat peraturan untuk memerintahkan orang lain
bahwa: (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

47
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

2. Sifat kelembagaan independen, dengan status diluar 34 UU BI adalah rencana, sebagaimana frasa “akan
pemerintah. dilakukan”. Berkaitan dengan amanat tersebut, yang
direncanakan (bukan diperintahkan) oleh Pasal 34 ayat (1)
3. Fungsi: melakukan pengawasan terhadap bank dan UU BI adalah pembentukan LPJK. Batang tubuh Pasal 34
perusahaan sektor jasa keuangan lainnya yang meliputi menyebutkan kata “pengawasan” bukan Otoritas.
asuransi, dana pensiun, sekuritas, modal ventura, dan Selanjutnya disebutkan bahwa lembaga pengawasan ini
perusahaan pembiayaan serta badan lain yang dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan
menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat. pelaksanaan tugas pengawasan Bank dengan koordinasi
Bank Indonesia. Ketentuan ini tidak secara otomatis
4. Tugas dan wewenang : memberikan kekuasaan “pengaturan” tetapi hanya berupa
a. Mewajibkan bank untuk menyampaikan laporan, “dapat mengeluarkan ketentuan” yang bisa ditafsirkan
keterangan dan penjelasan sesuai dengan tata cara sebagai penjabaran peraturan.
yang ditetapkan (Pasal 28 UU BI)
b. Melakukan pemeriksaan (Pasal 29 UU BI) Dari sisi ketentuan perundang-undangan, Drajad melihat
c. Memerintahkan bank untuk menghentikan sebagian bahwa rencana pembentukan OJK bukan perintah UU BI.
atau seluruh transaksi tertentu apabila menurut Pasal 34 hanya merencanakan pembentukan LPJK, dengan
penilaian lembaga terhadap transaksi patut diduga Pasal 8 butir c menyebutkan tugas BI adalah mengatur dan
merupakan tindak pidana perbankan (Pasal 31 UU mengawasi bank. Lebih lanjut Drajad mengemukakan bahwa
BI) pengawasan Bank merupakan titik terlemah BI yang
d. Dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan membuat modal politik BI negatif. Kelemahan tersebut tidak
dengan pelaksanaan tugas pengawasan Bank terletak pada investigasi, penemuan dan diagnosis masalah
dengan koordinasi BI dan meminta penjelasan BI oleh jajaran di bawah Dewan Gubernur, namun terletak
mengenai keterangan dan data makro yang pada pengambilan keputusan oleh Dewan Gubernur BI.
dibutuhkan (Penjelasan Pasal 34 ayat (1) UU BI)
Keberadaan lembaga pengawas keuangan yang bersifat
5. Pimpinan: Dewan Gubernur/Dewan Komisioner/Dewan “integrated supervision” ataupun pengawasan oleh bank
Komisioner dan kepala Eksekutif/Dewan Direktur/Chief sentral bukan merupakan sesuatu yang superior/mutlak.
Executif Officer (CEO). Pengawasan bank yang terpisah dari bank sentralnya,
seperi FSA yang terpisah dengan Bank of England tidak
6. Rekrutmen pimpinan: pemilihan oleh panitia seleksi menjamin selamanya bahwa sistem perbankan akan aman.
independen, diajukan oleh Pemerintah atau lembaga Amerika Serikat dengan pengawasan oleh The Fed juga
Negara dengan rekomendasi atau persetujuan DPR. mengalami kebobolan, malah menjadi sumber krisis
keuangan dunia pada tahun 2008 akibat kegagalan
7. Jumlah pimpinan 5-9 orang sesuai kebutuhan organisasi mengawasi perilaku spekulatif bank dan inovasi produk
agar tugas dapat dijalankan secara efektif dan efisien. derivative berbasis subprime mortgage.

8. Pembiayaan: APBN dengan kewenangan pengelolaan Berkaitan dengan krisis perbankan yang terjadi di Inggris,
mandiri/biaya sendiri dari fee/sumber pembiayaan lain karena dianggap tidak dapat melakukan koordinasi, maka
yang sah. pengawasan bank yang semula dilakukan oleh FSA
dikembalikan kepada bank sentralnya (Bank of England).
Sementara itu Drajad Wibowo mengemukakan bahwa
kelahiran Pasal 34 UU BI merupakan kompromi politis dan Dari pertimbangan praktis, berdasarkan survey yang
melahirkan pengaturan yang bersifat abu-abu. Dalam hal dilakukan oleh perbanas, diketahui bahwa hampir 90%
ini Drajad menilai bahwa terdapat pertentangan antara bank masih menginginkan pengawasan dilakukan oleh
Pasal 8 dan Pasal 34 UU BI. Pasal 8 UU BI belum dicabut Bank Indonesia. Dalam hal ini Bank sebagai pelaku bisnis
dan bersifat definitif dan direktif, sementara itu sifat Pasal selalu mempertimbangkan cost dan efisiensi dalam

48
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

mengelola bisnisnya, sehingga sangat menghindari adanya


premi yang dibebankan kepada industri. Bank menganggap
pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia sudah
baik dan sangat ketat. Sementara itu dari pandangan
ekonom, Aviliani mengemukakan bahwa faktor koordinasi
dan integrasi pengawasan menjadi isu yang penting dalam
rangka antisipasi dan penanganan krisis, sehingga tidak
terlalu material apakah pengawasan bank ada di Bank
Sentral ataukah pada pembaga khusus yang akan dibentuk.

Dari pandangan pakar tersebut, dapat disimpulkan bahwa


tidak ada yang dapat menjamin suatu negara terluput dari
krisis apabila pengawasan bank dilakukan oleh bank sentral
maupun oleh lembaga di luar bank sentral. Namun
demikian, dalam rangka antisipasi krisis maka isu terpenting
adalah adanya koordinasi pengawasan yang dilakukan
terhadap institusi bank dan non bank.

49
Halaman ini sengaja dikosongkan
Daftar Peraturan Bank Indonesia (PBI)
Mei - Oktober 2010

Peraturan Tanggal Satker Perihal LN & TLN

12/8/PBI/2010 3-6-2010 DPU Perubahan Kedua atas PBI No.7/40/PBI/2005 tentang LN 71


Pengeluaran dan Pengedaran Uang Kertas Rupiah
Pecahan 10.000 (Sepuluh Ribu) Tahun Emisi 2005

12/9/PBI/2010 29-6-2010 DPNP Prinsip Kehati-hatian Dalam Melaksanakan Aktivitas LN 82 TLN 5139
Keagenan Produk Keuangan Luar Negeri Oleh Bank
Umum

12/10/PBI/2010 1-7-2010 DPD Perubahan Ketiga Atas PBI No. 5/13/PBI/2003 tentang LN 83 TLN 5140
Posisi Devisa Neto Bank Umum

12/11/PBI/2010 2-7-2010 DPM Operasi Moneter LN 84 TLN 5141

12/12/PBI/2010 4-8-2010 DASP Perubahan atas PBI No.10/2/PBI/2008 tentang Bank LN 93 TLN 5146
Indonesia - Scripless Securities Settlement System

12/13/PBI/2010 4-8-2010 DASP Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap LN 94 TLN 5147
Rupiah

12/14/PBI/2010 13-8-2010 DPU Pencabutan dan Penarikan dari Peredaran Uang Logam LN 96
Pecahan 25 (Dua Puluh Lima) Rupiah Tahun Emisi 1991

12/15/PBI/2010 23-8-2010 DInt Perubahan atas PBI No.10/34/PBI/2008 tentang Transaksi LN 97


Pembelian Wesel Ekspor Berjangka oleh Bank Indonesia

12/16/PBI/2010 30-8-2010 DPD Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap LN 106 TLN 5153
Rupiah

12/17/PBI/2010 30-8-2010 DPM Perubahan atas PBI No.10/36/PBI/2008 tentang Operasi LN 107
Moneter Syariah

12/18/PBI/2010 30-8-2010 DPM Perubahan atas PBI No.10/11/PBI/2008 tentang Sertifikat LN 108
Bank Indonesia Syariah

12/19/PBI/2010 4-10-2010 DPNP/DKM Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia LN 115 TLN 5158
dalam Rupiah dan Valuta Asing

12/20/PBI/2010 4-10-2010 DKBU/DPbS Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan LN 116 TLN 5159
Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Perkreditan
Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

12/21/PBI/2010 19-10-2010 DPNP/DPbS Rencana Bisnis Bank LN 120 TLN 5161

51
Halaman ini sengaja dikosongkan
Daftar Surat Edaran Ekstern (SE) Bank Indonesia
Mei - Oktober 2010

Peraturan Tanggal Satker Perihal

12/14/DKBU 1-6-2010 DKBU Pelaksanaan Pedoman Akuntansi BPR

12/15/DKBU 11-6-2010 DKBU Perubahan Kedua atas SE No.8/7/DPBPR tanggal 23 Februari 2006 perihal
Laporan Bulanan Bank Perkreditan Rakyat

12/16/DPM 6-7-2010 DPM Kriteria dan Persyaratan Surat Berharga, Peserta dan Lembaga Perantara
dalam Operasi Moneter

12/17/DPM 6-7-2010 DPM Koridor Suku Bunga (Standing Facilities)

12/18/DPM 7-7-2010 DPM Operasi Pasar Terbuka

12/19/DInt 22-7-2010 DInt Kewajiban Pelaporan Utang Luar Negeri

12/20/DPM 2-8-2010 DPM Perubahan atas SE BI No.5/29/DPD tnggal 18 November 2003 perihal
Perusahaan Pialang Pasar Uang Rupiah dan Valuta Asing

12/22/DPM 2-8-2010 DPM Perubahan atas SE BI No.12/12/DPD tanggal 8 April 2010 perihal Transaksi
Repurchase Agreement Chinese Yuan terhadap Surat Berharga Rupiah Bank
kepada Bank Indonesia

12/23/DPM 30-8-2010 DPM Perubahan atas SE BI No.11/8/DPM tanggal 27 Maret 2009 perihal Tata Cara
Transaksi Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah dalam Rupiah (FASBIS)

12/24/DPM 30-8-2010 DPM Perubahan atas SE BI No.10/44/DPM tanggal 10 Desember 2008 perihal Tata
Cara Transaksi Repurchase Agreement (Repo) Surat Berharga Syariah Negara
(SBSN) dengan Bank Indonesia

12/25/DPM 30-8-2010 DPM Perubahan Kedua atas SE BI No.10/16/DPM tanggal 31 Maret 2008 perihal
Tata Cara Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia Syariah Melalui Lelang

12/26/DPM 30-8-2010 DPM Perubahan atas SE BI No.10/17/DPM tanggal 31 Maret 2008 perihal Tata
Cara Transaksi Repo Sertifikat Bank Indonesia Syariah dengan Bank Indonesia

12/27/DPNP 25-10-2010 DPNP Rencana Bisnis Bank Umum

53
Halaman ini sengaja dikosongkan
Ringkasan Peraturan Bank Indonesia (PBI)
Mei - Oktober 2010

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/8/PBI/2010 tentang Pengeluaran dan Pengedaran uang Kertas
Rupiah Pecahan 10.000 (Sepuluh Ribu) Tahun Emisi 2005.
Ringkasan :

1. Seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi di masyarakat perlu didukung dengan ketersediaan uang rupiah yang
memadai dan mudah dikenali ciri-ciri keasliannya sehingga diharapkan dapat memperlancar kegiatan transaksi ekonomi
di masyarakat. Sehubungan dengan itu, selanjutnya dipandang perlu untuk lebih mengoptimalkan fungsi elemen pada
desain uang kertas rupiah pecahan 10.000 (sepuluh ribu) tahun emisi 2005 sebagai alat paembayaran yang sah (legal
tender) di Negara Kesatuan Republik Indonesia, melalui penyempurnaan desain uang rupiah antara lain dengan perubahan
warna dan unsure pengamanan.

2. Materi pokok yang tercantum dalam ketentuan ini meliputi :


a. Uang kertas rupiah pecahan 10.000 (sepuluh ribu) tahun emisi 2005 terbuat dari bahan serat kapas;
b. Harga uang rupiah mempunyai nilai nominal sebesar Rp. 10.000 (Sepuluh Ribu rupiah);
c. Ciri uang kertas rupiah pecahan 10.000 (sepuluh ribu) tahun emisi 2005 untuk tahun pencetakan sampai dengan
tahun pencetakan mulai tahun 2010, baik dari segi warna, gambar dan bahan;
d. UK rupiah pecahan 10.000 (sepuluh ribu) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebelum berlakunya Peraturan Bank
Indonesia ini, masih tetap berlaku sepanjang belum dicabut dan ditarik dari peredaran.

3. Ciri uang rupiah pecahan 10.000 (sepuluh ribu) untuk tahun pencetakan mulai tahun 2010 antara lain sebagai berikut:
a. Terbuat dari serat kapas dengan ukuran panjang 145 mm dan lebar 65 mm;
b. Bagian muka dan bagian belakang uang dicetak dengan warna dominan ungu kebiruan.
c. Tanda air berupa gambar Pahlawan Nasional Sultan Mahmud Baharuddin II dan electrotype berupa logo BI dan
ornamen daerah Palembang;
d. Benang pengamanan yang tertanan di dalam kertas uang yang membuat tulisan “ BI10000” berulang-ulang dan
akan memendar berwarna merah di bawah sinar ultra violet.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/9/PBI/2010 tentang Prinsip Kehati-hatian Dalam Melakukan Aktivitas
Keagenan Produk Keuangan Luar Negeri Oleh Bank Umum
Ringkasan :

Latar belakang diterbitkannya ketentuan ini

Dalam rangka meningkatkan kegiatan usaha bank dan mempertahankan nasabah bank, bank dituntut untuk meningkatkan
operasional pelayanannya kepada nasabahnya dan mengubah strategi bisnis perbankan sehingga lebih banyak memanfaatkan
kemajuan Teknologi Informasi.

Pembelian produk keuangan luar negeri oleh nasabah merupakan hal yang dipandang perlu dilayani oleh bank untuk
meningkatkan daya saing bank dan perolehan pendapatan dari fee based transactions. Penerapan Teknologi Informasi telah

55
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

meningkatkan kemampuan bank dalam kegiatan operasional serta pengelolaan data bank yang bersifat mendunia seperti
melakukan penawaran, setelmen, dan pemberian informasi atas produk keuangan luar negeri kepada nasabah secara lebih
akurat dan cepat.

Disamping berbagai manfaat dan keunggulan yang diperoleh dari aktivitas keagenan produk keuangan luar negeri, terdapat
pula risiko yang dapat merugikan bank serta nasabah seperti risiko hukum, risiko reputasi, dan risiko penyelesaian transaksi.
Untuk mengatasi risiko yang dihadapi bank dan dalam rangka memberikan perlindungan kepada nasabah, maka bank wajib
menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pelaksanaan kegiatan operasional yang terkait penjualan produk keuangan luar
negeri kepada nasabah termasuk penerapan manajemen risiko.

Dalam hubungan dengan aktivitas terkait Produk Keuangan Luar Negeri, Bank juga wajib memperhatikan ketentuan dan
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Peraturan Bank Indonesia ini, antara lain Undang-Undang No.8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, ketentuan Bank
Indonesia yang mengatur tentang Transaksi Derivatif, Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah, Transparansi Informasi Produk
Perbankan dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah, Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Terorisme Bagi
Bank Umum, Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing, dan Penyelesaian Pengaduan Nasabah.

Pokok-pokok pengaturan
1. Bank di Indonesia dapat melakukan keagenan Produk Keuangan Luar Negeri yaitu instrumen investasi yang diterbitkan
oleh penerbit asing di luar negeri yang mencakup Instrumen Investasi Asing Efek dan Instrumen Investasi Asing Selain
Efek (berupa Structured Product)

2. Aktivitas keagenan tersebut dapat dilakukan sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh otoritas yang
berwenang. Aktivitas Keagenan mencakup:
a. Menindak lanjuti permintaan nasabah Bank di DN atas Produk Keuangan LN.
b. Menawarkan Produk Keuangan LN kepada nasabah/calon nasabah baik melalui penawaran secara tatap muka maupun
melalui cara-cara penawaran lainnya.

3. Prinsip dasar pengaturan keagenan Produk Keuangan LN:


a. Manajemen Risiko
b. Kehati-hatian
c. Perlindungan Nasabah

4. Manajemen Risiko: bank wajib menerapkan manajemen risiko dalam melakukan aktivitas keagenan produk keuangan
LN yang minimal mencakup:
a. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi;
b. Kecukupan kebijakan dan prosedur;
c. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko yang timbul dari aktivitas keagenan
produk keuangan LN; dan
d. Sistem pengendalian intern atas aktivitas keagenan produk keuangan LN.

5. Perlindungan Nasabah:
a. Bank wajib melakukan analisis mengenai Produk Keuangan LN yang akan ditawarkan.
b. Bank wajib memberikan informasi yang transparan kepada nasabah sesuai ketentuan yang berlaku seperti:
• penerbit, nama, jenis, spesifikasi, karakteristik, dan fitur produk;
• fungsi dan kesesuaian produk terhadap kebutuhan nasabah;

56
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

• perhitungan pendapatan atau imbal hasil (return) dari produk;


• risiko produk yang ditawarkan termasuk kemungkinan kerugian nilai investasi Nasabah akibat fluktuasi nilai
investasi sesuai kondisi pasar (market risk), kualitas aset yang mendasari (credit risk), dan risiko operasional terutama
settlement risk;
• perhitungan perkiraan kerugian terburuk yang mungkin dapat terjadi;
• syarat dan kondisi produk yang meliputi biaya-biaya, jangka waktu, cooling off period, prosedur setelmen, penghentian
sebelum jatuh waktu (early termination); dan
• mekanisme penyelesaian sengketa.
c. Bank wajib menatausahakan dokumen penawaran produk keuangan LN secara tertulis dan berbahasa Indonesia.
d. Bank wajib menyampaikan informasi kinerja investasi kepada nasabah secara transparan termasuk memberitahukan
kepada nasabah media/sarana untuk penyampaian informasi tersebut.

6. Prinsip Kehatian-hatian:
a. Bank dilarang melakukan tindakan baik secara langsung maupun tidak langsung yang mengakibatkan nasabah
menganggap produk keuangan LN adalah produk bank;
b. Bank wajib menerapkan prinsip mengenal nasabah (KYC) sesuai ketentuan yang berlaku; dan
c. Bank Indonesia dapat sewaktu-waktu menghentikan aktivitas keagenan produk keuangan LN tertentu apabila kegiatan
tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan/atau memiliki potensi risiko yang dapat membahayakan bank.

7. Bank yang dapat mengajukan permohonan persetujuan untuk melakukan keagenan Produk Keuangan LN harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. Bank Devisa.
b. Mencantumkan rencana aktivitas keagenan produk keuangan LN dalam Rencana Bisnis bank (RBB).
c. Memiliki sistem operasi dan prosedur yang didukung oleh teknologi informasi yang memadai untuk dapat menjalankan
manajemen risiko atas aktivitas keagenan produk keuangan LN.

8. Kriteria Produk Keuangan LN yang dapat diageni oleh Bank di Indonesia paling kurang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Telah terdaftar dan/atau memenuhi ketentuan dari otoritas berwenang di negara asal penerbit.
b. Telah dilaporkan kepada Bank Indonesia.

Untuk produk keuangan LN berupa Instrumen Investasi Asing Selain Efek wajib memenuhi persyaratan berikut ini:
c. Diterbitkan oleh bank di LN yang memiliki kantor cabang di Indonesia
d. Dikaitkan dengan variabel dasar berupa nilai tukar dan/atau suku bunga.
e. Bukan merupakan kombinasi berbagai instrumen dengan transaksi derivatif valas terhadap rupiah.

9. Kriteria Penerbit produk keuangan LN yang dapat dijadikan mitra kerjasama dengan Bank dalam aktivitas keagenan
produk keuangan LN wajib memenuhi kriteria berikut ini:
a. Terdaftar dan memiliki ijin usaha dari otoritas berwenang di negara asal tempat penerbit berkedudukan.
b. Merupakan badan yang menjadi objek pengawasan dari otoritas berwenang di negara asal.

10. Kriteria Nasabah —> Bank hanya dapat menawarkan produk keuangan LN kepada nasabah non retail sepanjang tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

11. Pelaporan —> Bank wajib melaporkan kepada Bank Indonesia:


a. Setiap jenis produk keuangan LN yang akan diageni.
b. Realisasi bulanan aktivitas keagenan produk keuangan LN.

57
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

12. Ketentuan Peralihan —> Bank yang telah menjalankan keagenan produk keuangan LN sebelum ketentuan ini berlaku
wajib:
a. mengajukan permohonan ijin untuk melakukan aktivitas keagenan produk keuangan LN.
b. Melaporkan setiap produk keuangan LN yang diageni.
c. Menyesuaikan penyelenggaraan aktivitas keagenan produk keuangan LN dengan pengaturan pada regulasi ini paling
lambat 3 bulan setelah diterbitkannya ketentuan ini. Bank yang tidak menyampaikan laporan produk keuangan LN
dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan dikenakan sanksi.
d. Bank yang telah mengageni instrumen Investasi Asing Efek yang telah dipasarkan namun belum mendapat ijin dari
otoritas terkait di dalam negeri wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang di bidang
pasar modal di Indonesia.
e. Bank yang pada saat Peraturan Bank Indonesia ini dikeluarkan masih menata usahakan Produk Keuangan Luar Negeri
Nasabah yang tidak sesuai dengan ketentuan pada Peraturan Bank Indonesia ini, dapat melakukan penatausahaan
Produk Keuangan Luar Negeri sampai jatuh tempo. Dalam hal produk tersebut tidak mempunyai jatuh tempo, Bank
dapat melakukan early termination atas dasar kesepakatan dengan Nasabah.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/10/PBI/2010 tentang Perubahan Ketiga PBI No. 5/13/PBI/2003 tentang
Posisi Devisa Neto Bank Umum
Ringkasan :

Latar Belakang dan Tujuan

Dinamika perekonomian dewasa ini dan ke depan memunculkan sejumlah tantangan yang membutuhkan kestabilan moneter
dan sistem keuangan yang kokoh guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah dan jangka
panjang. Salah satu upaya untuk memperkokoh stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan adalah pendalaman pasar
keuangan, termasuk pendalaman pasar valuta asing domestik yang memungkinkan perbankan memiliki ruang gerak yang
memadai dalam pengelolaan eksposur valuta asing dengan tetap berpegang pada prinsip kehatian-hatian.

Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia melakukan penyempurnaan atas ketentuan mengenai Posisi Devisa Neto
Bank Umum dalam bentuk Perubahan Ketiga Atas PBI No.5/13/PBI/2003 Tentang Posisi Devisa Neto Bank Umum.

Materi Pengaturan

1. Penghapusan pengaturan tentang Posisi Devisa Neto untuk Neraca Bank

2. Penyempurnaan pengaturan tentang Posisi Devisa Neto setiap saat dengan memberikan tenggang waktu 30 menit dan
batasan paling tinggi sebesar 20% dari modal bank.
a. PDN setiap 30 (tiga puluh) menit adalah penjumlahan antara PDN secara keseluruhan akhir hari kerja sebelumnya
dengan posisi terbuka tresuri pada setiap akhir jangka waktu 30 (tiga puluh) menit.
b. PDN setiap 30 menit tersebut dihitung sejak sistem tresuri dibuka sampai dengan sistem tresuri ditutup.
Contoh :
• Bank A memiliki waktu pembukaan sistem tresuri pada pukul 08.00 WIB. Posisi Devisa Neto dengan batas maksimal
20% Modal setiap akhir jangka waktu 30 menit dihitung sejak pukul 08.00 WIB dengan tenggang waktu 30
menit yaitu:
i. Pukul 08.30 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal
ii. Pukul 09.00 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal
iii. Pukul 09.30 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal; dan seterusnya hingga sistem tresuri ditutup.

58
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

• Bank B memiliki waktu pembukaan sistem tresuri pada pukul 07.45 WIB. Posisi Devisa Neto dengan batas maksimal
20% Modal setiap akhir jangka waktu 30 menit dihitung sejak pukul 07.45 WIB dengan tenggang waktu 30
menit yaitu:
i. Pukul 08.15 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal
ii. Pukul 08.45 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal
iii. Pukul 09.15 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal; dan seterusnya hingga sistem tresuri ditutup.

• Posisi terbuka tresuri pada setiap akhir jangka waktu 30 (tiga puluh) menit merupakan selisih bersih antara transaksi
beli dan jual valuta asing yang terkait dengan kegiatan tresuri Bank pada posisi akhir 30 (tiga puluh) menit yang
bersangkutan.

• Perhitungan posisi terbuka tresuri tersebut termasuk transaksi valuta asing yang telah dilakukan (deal done) namun
belum dimasukkan ke dalam sistem tresuri.
Contoh :
Bank A memiliki waktu pembukaan sistem tresuri pada pukul 08.00 WIB. Apabila terjadi transaksi valuta asing
pada pukul 08.20 WIB namun belum dimasukkan ke dalam sistem tresuri sampai dengan pukul 08.30 WIB, maka
transaksi dimaksud termasuk dalam perhitungan PDN setiap 30 (tiga puluh) menit pada pukul 08.30 WIB.

3. Penyempurnaan mengenai sanksi kewajiban membayar atas pelanggaran ketentuan PDN sebesar Rp250 juta per hari
pelanggaran dengan batas paling banyak sebesar Rp5 miliar per tahun kalender.

4. Kewajiban bagi bank untuk melaporkan (self declare) atas terjadinya pelanggaran PDN, baik untuk PDN secara keseluruhan
maupun PDN setiap 30 menit secara harian.
a. Dalam hal terjadi pelanggaran kewajiban pengelolaan dan pemeliharaan atas PDN pada akhir hari dan PDN setiap
30 (tiga puluh) menit, Bank wajib menyampaikan laporan pelanggaran dimaksud kepada Bank Indonesia.
b. Laporan pelanggaran tersebut disampaikan paling lambat pukul 16.00 WIB pada 2 (dua) hari kerja setelah terjadinya
pelanggaran dan ditandatangani paling kurang oleh pejabat eksekutif Bank.

5. Pengaturan Pengenaan Sanksi


a. Pelanggaran atas ketentuan PDN akan dikenakan sanksi berupa teguran tertulis dan kewajiban membayar sebesar
Rp250 juta per hari pelanggaran dengan batas paling banyak sebesar Rp5 miliar per tahun kalender.
b. Selain bentuk sanksi di atas, terhadap jenis pelanggaran tertentu akan dikenakan tambahan berupa dilakukan proses
fit & proper test dan/atau penilaian tingkat kesehatan bank.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/11/PBI/2010 tentang Operasi Moneter


Ringkasan :

1. Pertimbangan Penerbitan Ketentuan:


Untuk meningkatkan efektivitas Operasi Moneter dalam rangka mendukung pencapaian tujuan Bank Indonesia dalam
mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.

2. Pokok-Pokok Ketentuan
a. Operasi Moneter dilakukan dalam bentuk Operasi Pasar Terbuka (OPT) dan Standing Facilities.

b. OPT dapat diikuti oleh Bank dan/atau pihak lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, sementara Standing Facilities
hanya dapat diikuti oleh Bank.

59
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

c. Kegiatan OPT meliputi:


1. Penerbitan SBI.
Terkait dengan perdagangan SBI, pemilik SBI dilarang melakukan transaksi atas SBI yang dimilikinya dengan pihak
lain selama jangka waktu tertentu sejak memiliki SBI kecuali untuk transaksi SBI oleh Peserta Operasi Moneter
dengan Bank Indonesia.
2. Transaksi repurchase agreement (repo) dan reverse repo surat berharga.
Dalam melakukan transasi repo dan reverse repo, Bank Indonesia dapat menggunakan surat berharga milik pihak
lain yang ditetapkan Bank Indonesia berdasarkan pada suatu perjanjian antara Bank Indonesia dan pemilik surat
berharga.
3. Transaksi pembelian dan penjualan surat berharga secara outright.
Transaksi pembelian dan penjualan surat berharga secara outright dilakukan terhadap SBN (SUN & SBSN) dan surat
berharga lain yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
4. Penempatan berjangka (term deposit) di Bank Indonesia.
Term deposit adalah penempatan dana rupiah milik peserta Operasi Moneter secara berjangka di Bank Indonesia.
Term deposit dapat dicairkan sebelum jatuh waktu (early redemption) sepanjang memenuhi persyaratan tertentu
dan atas pencairan tersebut dikenakan biaya.
5. Jual beli valuta asing terhadap rupiah, yang antara lain dilakukan dalam bentuk spot, forward atau swap.

d. Kegiatan standing facilities meliputi:


1. Lending Facility
Lending facility dilakukan melalui mekanisme repo SBI, SBN, dan surat berharga lain yang berkualitas tinggi dan
mudah dicairkan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
2. Deposit facility
Deposit facility dilakukan tanpa penerbitan surat berharga.

3. Ketentuan Peralihan
Transaksi atas SBI yang dilakukan setelah berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini yang merupakan bagian dari transaksi
yang telah dilakukan sebelum Peraturan Bank Indonesia ini diberlakukan, dikecualikan dari ketentuan minimum 1 month
holding period sampai dengan transaksi yang bersangkutan jatuh waktu.

4. Dengan diberlakukannya Peraturan Bank Indonesia ini, maka ketentuan dibawah ini dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,
yaitu:
a. PBI No.4/9/PBI/2002 tanggal 18 November 2002 tentang Operasi Pasar Terbuka;
b. PBI No.6/4/PBI/2004 tanggal 16 Februari 2004 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/9/PBI/2002
tentang Operasi Pasar Terbuka;
c. PBI No.6/33/PBI/2004 tanggal 31 Desember 2004 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor
4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka;
d. PBI No.7/30/PBI/2005 tanggal 13 September 2005 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor
4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka;
e. PBI No.10/14/PBI/2008 tanggal 23 September 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Bank Indonesia
Nomor 4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka;
f. PBI No.10/21/PBI/2008 tanggal 15 Oktober 2008 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor
4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka;
g. PBI No.4/10/PBI/2002 tanggal 18 November 2002 tentang Sertifikat Bank Indonesia; dan
h. PBI No.6/5/PBI/2004 tanggal 16 Februari 2004 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/10/PBI/2002
tentang Sertifikat Bank Indonesia.

60
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/12/PBI/2010 tentang Perubahan atas PBI No. 10/2/PBI/2008 tentang
Bank Indonesia Scripless Securuties Settlement System
Ringkasan :

1. Materi perubahan yang dimuat dalam Peraturan Bank Indonesia ini antara lain mencakup:
a. penyesuaian beberapa definisi antara lain: bank, operasi moneter, koridor suku bunga, fasilitas pendanaan, dan surat
berharga;
b. penambahan pialang pasar modal sebagai peserta BI-SSSS;
c. penyesuaian terhadap istilah ‘broker’.

2. Beberapa penyesuaian definisi yang dilakukan dalam Peraturan Bank Indonesia ini adalah sebagai berikut:
a. Bank adalah Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 termasuk kantor cabang bank asing di
Indonesia dan Bank Umum Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah.
b. Operasi Moneter adalah pelaksanaan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dalam rangka pengendalian moneter
melalui Operasi Pasar Terbuka dan Koridor Suku Bunga (Standing Facilities). Operasi Pasar Terbuka yang selanjutnya
disebut OPT adalah kegiatan transaksi di pasar uang yang dilakukan oleh Bank Indonesia dengan Bank dan/atau pihak
lain dalam rangka Operasi Moneter.
c. Koridor Suku Bunga (Standing Facilities) yang selanjutnya disebut Standing Facilities adalah kegiatan penyediaan dana
rupiah (lending facility) dari Bank Indonesia kepada peserta Standing Facilities dan penyediaan penempatan dana
rupiah (deposit facility) oleh peserta Standing Facilities di Bank Indonesia dalam rangka Operasi Moneter.
d. Instrumen Operasi Moneter adalah instrumen yang digunakan dalam rangka OPT dan Koridor Suku Bunga (Standing
Facilities) serta ditatausahakan pada Bank Indonesia-Scripless Securities Settlement System.
e. Fasilitas Pendanaan adalah penyediaan dana yang dapat berupa pemberian kredit atau pembiayaan dari Bank Indonesia
kepada Bank yang penatausahaannya dilakukan melalui Bank Indonesia-Scripless Securities Settlement System.
f. Surat Utang Negara yang selanjutnya disebut SUN adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam
mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik
Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang berlaku.
g. Surat Berharga Syariah Negara yang selanjutnya disebut SBSN, atau dapat disebut Sukuk Negara, adalah SBN yang
diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang
rupiah maupun valuta asing, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang berlaku.
h. Surat Berharga Negara yang selanjutnya disebut SBN adalah Surat Utang Negara dan Surat Berharga Syariah Negara.

3. Pihak-pihak yang dapat menjadi Peserta BI-SSSS adalah :


a. Bank Indonesia.
b. Kementerian Keuangan.
c. Bank.
d. Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian.
e. Perusahaan Pialang Pasar Uang Rupiah dan Valuta Asing.
f. Perusahaan Efek.
g. Pialang pasar modal.
h. Lembaga lain yang disetujui oleh Bank Indonesia.

4. Dalam rangka menjaga kelancaran penyelenggaraan BI-SSSS, Penyelenggara antara lain menyediakan aplikasi BI–SSSS,
Help Desk terkait dengan operasional BI–SSSS; dan sistem layanan informasi, serta ketentuan dan prosedur baik dalam
keadaan normal, keadaaan tidak normal maupun keadaan darurat.

61
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

5. Penyelenggara melakukan pendebetan Rekening Giro Peserta, Rekening Giro Bank yang ditunjuk oleh Peserta dan/atau
Rekening Surat Berharga Peserta untuk transaksi antara lain sebagai berikut:
a. setelmen Transaksi Dengan Bank Indonesia;
b. setelmen transaksi Surat Berharga antar Peserta;
c. pembayaran kewajiban kupon (bunga) atau imbalan dan nilai pokok/nominal Surat Berharga yang jatuh waktu;
d. pembebanan biaya penggunaan BI-SSSS;
e. sanksi kewajiban membayar terkait ketentuan operasi moneter;
f. kewajiban pelunasan Fasilitas Pendanaan;
g. eksekusi agunan/jaminan sesuai ketentuan yang berlaku mengenai Fasilitas Pendanaan dan/atau fasilitas pemerintah
kepada Peserta; dan/atau
h. biaya lainnya.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/13/PBI/2010 tentang Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing
Terhadap Rupiah
Ringkasan :

1. Materi perubahan yang dimuat dalam Peraturan Bank Indonesia ini antara lain mencakup:
a. Penyesuaian beberapa definisi seperti: surat utang negara, surat berharga negara dan surat berharga syariah negara;
b. Persyaratan bagi bank umum yang dapat menggunakan FLI.

2. Beberapa definisi yang disesuaikan dalam Peraturan Bank Indonesia ini adalah sebagai berikut:
a. Surat Utang Negara yang selanjutnya disebut SUN adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam
mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia,
sesuai dengan masa berlakunya, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang berlaku.
b. Surat Berharga Syariah Negara yang selanjutnya disebut SBSN, atau dapat disebut Sukuk Negara, adalah SBN yang
diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang
rupiah maupun valuta asing, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang berlaku.
c. Surat Berharga Negara yang selanjutnya disebut SBN adalah Surat Utang Negara dan Surat Berharga Syariah Negara.

3. Persyaratan agar Bank dapat menggunakan FLI disesuaikan sebagai berikut:


a. memiliki surat berharga yang dapat direpokan kepada Bank Indonesia berupa SBI, SBN dan/atau surat berharga lainnya
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;
b. tidak sedang dikenakan sanksi penangguhan sebagai Bank peserta BI-RTGS dan/atau penghentian sebagai Bank
peserta kliring; dan
c. berstatus aktif sebagai peserta BI-SSSS.

4. Perhitungan nilai SBI, SBN dan/atau surat berharga lainnya yang digunakan Bank dalam rangka FLI ditetapkan oleh Bank
Indonesia.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/14/PBI/2010 tentang Pencabutan dan Penarikan dari Peredaran
Uang Logam Pecahan 25 (Dua Puluh Lima) Rupiah Tahun Emisi 1991
Ringkasan :

1. Uang logam (UL) pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah tahun emisi 1991 dicabut dan ditarik dari peredaran dengan
pertimbangan sebagai berikut:
a. UL pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah sudah tidak banyak dipergunakan oleh masyarakat dalam melakukan pembayaran;

62
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

b. Nilai intrinsik dan biaya pencetakan UL pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah tahun emisi 1991 saat ini telah lebih besar
dari nilai nominalnya.

2. Materi pokok yang tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia tentang Pencabutan dan Penarikan dari Peredaran Uang
Logam Pecahan 25 (Dua Puluh Lima) Rupiah Tahun Emisi 1991 meliputi:
a. Bank Indonesia mencabut dan menarik dari peredaran UL pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah tahun emisi 1991;
b. UL pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah tahun emisi 1991 yang dicabut dan ditarik dari peredaran dinyatakan tidak
berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah sejak tanggal 31 Agustus 2010;
c. UL rupiah yang dicabut dan ditarik dari peredaran dapat ditukarkan di Bank Indonesia dan/atau Bank Umum dalam
jangka waktu tertentu;
d. Jangka waktu dan tempat penukaran ditetapkan sebagai berikut:
1. Terhitung sejak tanggal 31 Agustus 2010 sampai dengan tanggal 30 Agustus 2015 penukaran dilakukan di Bank
Indonesia dan/atau Bank Umum;
2. Terhitung sejak tanggal 31 Agustus 2015 sampai dengan tanggal 30 Agustus 2020 penukaran hanya dapat dilakukan
di Bank Indonesia.
e. Hak untuk menuntut penukaran uang logam rupiah yang telah dicabut dan ditarik dari peredaran sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 tidak berlaku lagi setelah 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak tanggal pencabutan atau tanggal 31 Agustus
2020.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/15/PBI/2010 tentang Perubahan Atas PBI No.10/34/PBI/2008 Tentang
Transaksi Pembelian Wesel Ekspor Berjangka Oleh Bank Indonesia
Ringkasan :

I. Latar Belakang Pengaturan:

Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/15/PBI/2010 tanggal 23 Agustus 2010 ini merupakan perubahan Peraturan Bank
Indonesia Nomor 10/34/PBI/2008 tanggal 5 Desember 2008 tentang Transaksi Pembelian Wesel Ekspor Berjangka Oleh
Bank Indonesia. Perubahan PBI dilakukan karena adanya penyempurnaan organisasi di Bank Indonesia membawa
konsekuensi pada perubahan satuan kerja yang bertugas melakukan transaksi pembelian wesel ekspor berjangka.

II. Pokok-Pokok Pengaturan:

Materi perubahan yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini hanya menyangkut satuan kerja pelaksana transaksi
pembelian Wesel Ekspor Berjangka (WEB) oleh Bank Indonesia dari semula Bank Indonesia cq. Direktorat Pengeloaan Devisa-
Biro Manjemen Devisa dan Nilai Tukar menjadi Bank Indonesia cq. Direktorat Pengelolaan Moneter-Biro Operasi Moneter.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/16/PBI/2010 tentang Sistem Monitering Transaksi Valuta Asing
Terhadap Rupiah
Ringkasan :

Latar Belakang dan Tujuan

Integrasi pasar keuangan domestik dengan pasar keuangan global yang berjalan cukup cepat dewasa ini memunculkan sejumlah
tantangan dan risiko bagi para pelaku pasar. Bank Indonesia selaku otoritas moneter berupaya untuk memitigasi segala risiko
tersebut dengan memberikan respon kebijakan nilai tukar yang antisipatif dan responsif sesuai dengan perkembangan pasar
valuta asing domestik.

63
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Dalam kerangka tersebut, Bank Indonesia menerbitkan ketentuan mengenai Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap
Rupiah (SISMONTAVAR) yang pada dasarnya merupakan penyempurnaan mekanisme monitoring kegiatan di pasar valuta asing
domestik, dimana informasi tentang transaksi valuta asing antarbank diperoleh melalui suatu sistem jaringan on-line. Langkah
kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap tugas Bank Indonesia dalam rangka menjaga
stabilitas moneter.

Materi Pengaturan

SISMONTAVAR diterapkan kepada Bank Devisa yang telah menggunakan Sistem Transaksi Valuta Asing. Ruang lingkup
SISMONTAVAR tersebut meliputi transaksi valuta asing terhadap rupiah yang dilakukan antarbank.
Kewajiban Bank Devisa dalam SISMONTAVAR meliputi:
Bank Devisa wajib memelihara aplikasi SISMONTAVAR dalam kondisi on-line pada saat Bank melakukan transaksi valuta asing
terhadap rupiah.
Bank Devisa wajib melakukan Prosedur Konfirmasi pada Sistem Transaksi Valuta Asing yang terhubung dengan aplikasi
SISMONTAVAR segera setelah transaksi valuta asing terhadap rupiah selesai dilakukan (deal is done). Kewajiban tersebut berlaku
pula untuk transaksi valuta asing terhadap rupiah yang dilakukan dengan menggunakan jasa Pialang Pasar Uang.
Dalam hal terdapat kesalahan dalam informasi transaksi setelah Prosedur Konfirmasi dilakukan, Bank Devisa menyampaikan
kepada Bank Indonesia koreksi atas informasi transaksi segera setelah diketahui adanya kesalahan. Koreksi transaksi yang
disampaikan kepada Bank Indonesia tersebut dapat dilakukan melalui media faksimile.

Pengaturan Pengenaan Sanksi

Bank Devisa yang tidak memelihara aplikasi SISMONTAVAR dalam kondisi on-line pada saat melakukan transaksi valuta asing
terhadap rupiah dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis.
Bank Devisa yang tidak segera melakukan Prosedur Konfirmasi setelah transaksi valuta asing terhadap rupiah selesai dilakukan
dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis.
Pengecualian terhadap sanksi di atas berlaku dalam kondisi:
a. aplikasi SISMONTAVAR terkendala;
b. jaringan data terganggu;
c. kegagalan Sistem Transaksi Valuta Asing; dan/atau
d. kejadian luar biasa (force majeure).

Ketentuan Peralihan

Ketentuan SISMONTAVAR tidak berlaku bagi Bank Devisa yang telah menggunakan Sistem Transaksi Valuta Asing namun pada
saat berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini aplikasi SISMONTAVAR belum terpasang. Kewajiban mulai berlaku pada saat
aplikasi SISMONTAVAR terpasang.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/17/PBI/2010 tentang Perubahan Atas PBI No.10/36/PBI/2008 tentang
Operasi Moneter Syariah
Ringkasan :

1. Perubahan Peraturan Bank Indonesia (PBI) dilakukan dalam rangka meningkatkan efektifitas pelaksanaan pengendalian
moneter berdasarkan prinsip syariah serta dalam rangka penyempurnaan ketentuan mengenai Operasi Moneter Syariah
(OMS) khususnya Pasal 18 ayat (1) huruf b mengenai pengenaan sanksi terhadap transaksi operasi moneter syariah yang
dinyatakan batal.

64
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

2. Bank Indonesia mengenakan sanksi kepada Peserta OMS terhadap setiap Transaksi OMS yang dinyatakan batal berupa:
1). teguran tertulis; dan
2). kewajiban membayar sebesar 0,01% (satu per sepuluh ribu) dari nilai nominal transaksi Operasi Moneter Syariah
yang batal, paling sedikit sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp100.000.000,00
(seratus juta rupiah). Selain dikenakan sanksi tersebut di atas, Peserta OMS yang melakukan transaksi OMS yang
dinyatakan batal sebanyak tiga kali dalam kurun waktu 6 (enam) bulan juga dikenakan sanksi berupa penghentian
sementara untuk mengikuti kegiatan OMS selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut.

3. Peraturan Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal 30 Agustus 2010.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/18/PBI/2010 tentang Perubahan Atas PBI No.10/11/PBI/2008 Tentang
Sertifikat Bank Indonesia Syariah
Ringkasan :

1. Perubahan Peraturan Bank Indonesia (PBI) dilakukan dalam rangka meningkatkan efektifitas pelaksanaan pengendalian
moneter berdasarkan prinsip syariah serta dalam rangka penyempurnaan ketentuan mengenai Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS) khususnya Pasal 14 ayat (2) huruf b dan ayat (3) mengenai pengenaan sanksi terhadap transaksi SBIS yang
dinyatakan batal.

2. Bank Indonesia mengenakan sanksi kepada BUS atau UUS atas Transaksi SBIS yang dinyatakan batal berupa:
1). teguran tertulis; dan
2). kewajiban membayar sebesar 0,01% (satu per sepuluh ribu) dari nilai Transaksi SBIS yang dinyatakan batal, paling sedikit
sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) untuk
setiap Transaksi SBIS yang dinyatakan batal.
Dengan tidak mengurangi sanksi tersebut diatas, dalam hal BUS atau UUS melakukan Transaksi SBIS dan/atau transaksi
operasi moneter syariah lainnya sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bank Indonesia yang mengatur mengenai
operasi moneter syariah, yang dinyatakan batal sebanyak tiga kali dalam kurun waktu 6 (enam) bulan, maka BUS
atau UUS dikenakan sanksi berupa penghentian sementara untuk mengikuti kegiatan operasi moneter syariah selama
5 (lima) hari kerja berturut-turut.

3. Peraturan Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal 30 Agustus 2010.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/19/PBI/2010 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum Pada Bank
Indonesia Dalam Rupiah dan Valuta Asing
Ringkasan :

Latar Belakang Pengaturan :

1. Tekanan inflasi serta kondisi ekses likuiditas perbankan yang tinggi dan persisten perlu dikendalikan agar tidak berdampak
pada peningkatan ekspektasi inflasi yang dapat berpengaruh pada stabilitas moneter. Selain itu, stabilitas sektor keuangan
perlu terus didukung oleh penguatan kondisi sektor perbankan dalam menghadapi berbagai risiko dan pengoptimalan
fungsi intermediasi perbankan.

2. Guna mendukung stabilitas moneter dan sektor keuangan perlu dilakukan pengelolaan ekses likuiditas perbankan secara
optimal, antara lain melalui kebijakan giro wajib minimum dengan memperhatikan kondisi likuiditas perbankan serta peran
bank dalam menjalankan fungsi intermediasi.

65
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Substansi Pengaturan :

1. Bank wajib memenuhi GWM dalam rupiah dan GWM dalam valuta asing.

2. GWM dalam rupiah yang wajib dipenuhi terdiri dari:


a. GWM Primer dalam rupiah sebesar 8% (delapan persen) dari DPK dalam rupiah;
b. GWM Sekunder dalam rupiah sebesar 2,5% (dua koma lima persen) dari DPK dalam rupiah; dan
c. GWM LDR sebesar perhitungan antara Parameter Disinsentif Bawah atau Parameter Disinsentif Atas dengan selisih
antara LDR Bank dan LDR Target dengan memperhatikan selisih antara KPMM Bank dan KPMM Insentif.

3. Ketentuan mengenai GWM Sekunder dalam rupiah dan GWM dalam valuta asing tidak mengalami perubahan.

4. GWM Primer dalam rupiah, GWM LDR dan GWM dalam valuta asing dipenuhi dalam bentuk saldo Rekening Giro Bank
pada Bank Indonesia, sedangkan GWM Sekunder dalam rupiah dipenuhi dalam bentuk SBI, SUN, SBSN, dan/atau Excess
Reserve.

5. Perhitungan GWM LDR dilakukan sebagai berikut:


a. Batas bawah LDR Target sebesar 78% dan batas atas LDR Target sebesar 100%.
b. Bank yang memiliki LDR di dalam kisaran LDR target memiliki GWM LDR sebesar 0%.
c. Bank yang memiliki LDR kurang dari batas bawah LDR Target diberikan disinsentif GWM LDR sebesar perkalian Parameter
Disinsentif Bawah (saat ini sebesar 0,1) dengan selisih LDR bank dari batas bawah LDR target.
d. Bank yang LDR-nya lebih dari batas atas LDR Target dan memiliki KPMM lebih kecil dari KPMM Insentif (saat ini 14%)
akan diberikan disinsentif GWM LDR sebesar perkalian Parameter Disinsentif Atas (saat ini sebesar 0,2) dengan selisih
LDR bank dari batas atas LDR target.
e. Bank yang memiliki LDR lebih dari batas atas LDR Target dan memiliki KPMM sama atau lebih besar dari KPMM insentif
(saat ini sebesar 14%), maka kewajiban pemenuhan GWM LDR sebesar 0%
f. Besaran dan parameter LDR Target, KPMM Insentif, Parameter Disinsentif Bawah, dan Parameter Disinsentif Atas akan
dievaluasi sewaktu-waktu apabila diperlukan.

6. Bank Indonesia memberikan jasa giro setiap hari kerja dengan tingkat bunga sebesar 2,5% (dua koma lima persen) per
tahun terhadap bagian tertentu dari pemenuhan kewajiban GWM Primer dalam rupiah.

7. Bagian tertentu sebagaimana dimaksud dalam angka 6 ditetapkan sebesar 3% (tiga persen) dari DPK dalam rupiah.

8. Jasa giro diberikan apabila Bank telah memenuhi seluruh kewajiban GWM dalam rupiah.

9. Bank yang mendapatkan insentif dalam rangka konsolidasi perbankan memperoleh kelonggaran pemenuhan GWM dalam
rupiah sebesar 1% bagi pemenuhan GWM Primer dalam rupiah.

10. Terhadap Bank yang sedang dikenakan Cease and Desist Order (CDO) terkait dengan penyaluran kredit dan penghimpunan
dana, dalam rangka supervisory action Bank Indonesia berwenang melakukan perhitungan yang berbeda dari ketentuan
GWM LDR sebagaimana diatur dalam PBI ini.

11. PBI ini mencabut PBI No. 10/19/PBI/2008 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah
dan Valuta Asing sebagaimana telah diubah terakhir dengan PBI No. 10/25/PBI/2008, namun peraturan pelaksanaan dari
PBI dimaksud tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan PBI ini.

66
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

12. Ketentuan mengenai GWM LDR beserta sanksi terhadap pelanggaran GWM LDR mulai berlaku pada 1 Maret 2011.

13. PBI ini mulai berlaku pada tanggal 1 November 2010.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Pendanaan Terorisme Bagi Bank Perkreditan
Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
Ringkasan :

Latar belakang

1. Semakin berkembangnya industri BPR dan BPRS disertai dengan perkembangan produk serta pelayanan BPR/BPRS terutama
yang berbasis teknologi informasi, maka risiko pemanfaatan BPR dan BPRS dalam pencucian uang dan pendanaan
terorisme semakin tinggi.

2. Ketentuan tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles/KYC) bagi BPR dan BPRS yang
berlaku selama ini perlu untuk disempurnakan dengan mengacu pada prinsip-prinsip umum yang berlaku secara
internasional dalam mendukung upaya pencegahan tindak pidana pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme.

Materi Pengaturan

1. BPR dan BPRS wajib menerapkan program Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme
(PPT).

2. Penggunaan istilah baru terkait dengan penerapan program APU dan PPT sebagai berikut:
a. Customer Due Diligence (CDD) adalah kegiatan berupa identifikasi, verifikasi, dan pemantauan yang dilakukan BPR
dan BPRS untuk memastikan bahwa transaksi dilakukan sesuai dengan profil pengguna jasa bank.
b. Enhanced Due Diligence (EDD) adalah CDD dan kegiatan lain yang dilakukan oleh BPR/BPRS untuk mendalami profil
calon Nasabah, Nasabah atau Beneficial Owner yang tergolong berisiko tinggi termasuk PEP terhadap kemungkinan
pencucian uang dan pendanaan terorisme.
c. Politically Exposed Person (PEP) adalah orang yang mendapatkan kepercayaan untuk memiliki kewenangan publik
diantaranya adalah Penyelenggara Negara sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan yang
mengatur mengenai Penyelenggara Negara, dan/atau orang yang tercatat sebagai anggota partai politik yang memiliki
pengaruh terhadap kebijakan dan operasional partai politik
d. Beneficial Owner adalah setiap orang yang memiliki dana, yang mengendalikan transaksi nasabah atau WIC, yang
memberikan kuasa atas terjadinya suatu transaksi dan/atau yang melakukan pengendalian melalui badan hukum atau
perjanjian
e. Walk in Customer adalah pengguna jasa BPR/BPRS yang tidak memiliki rekening pada BPR/BPRS tersebut, tidak termasuk
pihak yang mendapatkan perintah atau penugaasan dari Nasabah untuk melakukan transaksi atas kepentingan Nasabah
tersebut.

3. Pengaturan dalam rangka pelaksanaan pengawasan aktif Direksi dan Dewan Komisaris.

4. BPR dan BPRS wajib membentuk unit kerja khusus dan/atau menunjuk pegawai BPR dan BPRS yang bertanggung jawab
atas penerapan program APU dan PPT dan bertanggung jawab terhadap Direktur.

5. Pelaksanaan Customer Due Diligence (CDD) kepada calon Nasabah, Nasabah, dan WIC yang terdiri dari:

67
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

a. Permintaan informasi dan dokumen kepada calon nasabah perorangan, perusahaan berbentuk bank dan non bank
termasuk nasabah berupa yayasan, perkumpulan serta Lembaga Negara. Pengaturan termasuk untuk nasabah usaha
mikro dan kecil yang lebih sederhana.
b. Permintaan informasi dan dokumen kepada WIC baik yang melakukan transaksi di atas Rp100 juta maupun untuk
WIC yang melakukan transaksi di bawah Rp100 juta.
c. Pelaksanaan verifikasi dokumen dalam rangka meneliti dan meyakini kebenaran dokumen termasuk pelaksanaan
wawancara.
d. Pemantauan dan pengkinian data

6. BPR dan BPRS wajib memelihara Daftar Teroris berdasarkan data yang diterima dari Bank Indonesia setiap 6 bulan
berdasarkan data yang dipublikasikan oleh PBB.

7. BPR dan BPRS wajib memiliki sistem pencatatan dan memelihara profil Nasabah.

8. BPR dan BRPS wajib menatausahakan data Nasabah dan WIC dengan jangka waktu paling kurang 5 (lima) tahun sejak
berakhirnya hubungan usaha atau transaksi dengan nasabah atau WIC atau sejak ditemukanannya ketidak sesuaian
transaksi dengan tujuan ekonomis dan/atau tujuan usaha serta wajib memelihara dokumen Nasabah dan WIC dengan
jangka waktu sebagaimana diatur dalam UU yang mengatur mengenai Dokumen Perusahaan.

9. Pengaturan mengenai pemindahan dana.

10. Kewajiban BPR dan BPRs untuk menolak transaksi, membatalkan transaksi dan atau menutup hubungan usaha dengan
Nasabah dalam hal: tidak memenuhi kelengkapan informasi dan dokumen, diketahui menggunakan identitas dan/atau
memberikan informasi yang tidak benar, BPR dan BPRS ragu terhadap kebenaran informasi Nasabah atau penggunaan
rekening tidak sesuai dengan profil Nasabah.

11. Pengaturan mengenai Beneficial Owner perorangan, perusahaan, yayasan atau perkumpulan.

12. Pelaksanaan EDD untuk calon Nasabah, Nasabah dan Beneficial Owner yang memenuhi kriteria berisiko tinggi atau PEP.
Direksi BPR/BPRS atau Pejabat Eksekutif bertanggung jawab atas pelaksanaan hubungan usaha dengan calon nasabah
yang tergolong PEP tersebut.

13. Pengaturan mengenai CDD yang lebih sederhana dapat dilakukan terhadap calon Nasabah yang tingkat risiko terjadinya
pencucian uang atau pendanaan terorisme tergolong rendah.

14. BPR dan BPRS dapat menggunakan hasil CDD yang telah dilakukan oleh pihak ketiga terhadap calon Nasabah yang telah
menjadi nasabah pada pihak ketiga tersebut. Namun demikian BPR dan BPRS wajib memastikan kecukupan identifikasi
& verifikasi atas hasil CDD yang dilakukan oleh pihak ketiga dan bertanggung jawab untuk melaksanakan penatausahaan
dokumen.

15. BPR dan BPRS wajib memiliki sistem pengendalian intern yang efektif yang dibuktikan dengan adanya batasan wewenang
dan tanggung jawab yang jelas untuk unit kerja atau pegawai yang terkait dengan penerapan program APU dan PPT
serta pemisahan fungsi antara pelaksana penerapan program APU dan PPT dengan pegawai yang ditunjuk untuk
mengawasi efektivitas penerapan program tersebut.

68
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

16. BPR dan BPRS wajib melakukan penyaringan (screening) dalam rangka penerimaan pegawai baru, serta melaksanakan
pelatihan mengenai program APU dan PPT kepada SDM BPR dan BPRS.

17. BPR wajib menyampaikan Pedoman Pelaksanaan Program APU dan PPT yang telah mendapatkan persetujuan Dewan
Komisaris paling lambat 12 (dua belas) bulan sejak diberlakukannya PBI ini dan wajib menyampaikan perubahan Pedoman
Pelaksanaan Program APU dan PPT paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak perubahan tersebut kepada BI.

18. BPR dan BPRS wajib menyampaikan laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan, laporan transaksi keuangan tunai dan
laporan lain kepada PPATK sebagaimana diatur dalam UU yang mengatur mengenai Tindak Pidana Pencucian Uang.

19. Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan wajib disampaikan 3 (tiga) hari kerja setelah BPR dan BPRS mengetahui
adanya unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan yaitu sejak Direktur yang berwenang menyetujui transaksi tersebut
sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan.

20. Sanksi keuangan diberikan kepada BPR yang terlambat menyampaikan atau tidak menyampaikan Pedoman Pelaksanaan
APU dan PPT serta BPR dan BPRS yang terlambat menyampaikan Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan.

21. Peraturan ini mencabut PBI No.5/23/PBI/2003 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer
Principles/KYC) bagi BPR tanggal 23 Oktober 2003.

Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 12/21/PBI/2010 tentang Rencana Bisnis Bank

Ringkasan :

1. Tujuan pengaturan ini adalah :


a. Agar Bank memiliki Rencana bisnis yang disusun secara matang dan realistis berdasarkan prinsip kehati-hatian dan
penerapan manajemen risiko, dengan cakupan yang komprehensif.
b. Sebagai sarana bank dalam mengendalikan risiko strategik dengan memperhatikan faktor eksternal dan faktor internal
untuk mengarahkan kegiatan operasional bank sesuai visi dan misinya.
c. Selain itu rencana bisnis bank yang realistis diperlukan juga bagi otoritas moneter sebagai pertimbangan dalam
menetapkan kebijakan dan melakukan pengawasan macro prudential dan
d. Menjadi salah satu acuan bagi pengawas bank dalam menyusun rencana pengawasan berdasarkan risiko yang optimal
dan efektif.

2. Bank wajib menyusun Rencana Bisnis setiap tahun. Bagi Bank Umum yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS), Rencana
Bisnis wajib pula memuat Rencana Bisnis khusus untuk UUS yang merupakan satu kesatuan dengan Rencana Bisnis Bank
Umum.

3. Cakupan Rencana Bisnis paling kurang meliputi:


a. Ringkasan eksekutif;
b. Kebijakan dan strategi manajemen;
c. Penerapan manajemen risiko dan kinerja Bank saat ini;
d. Proyeksi laporan keuangan beserta asumsi yang digunakan;
e. Proyeksi rasio-rasio dan pos-pos tertentu lainnya;
f. Rencana pendanaan;
g. Rencana penanaman dana;

69
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

h. Rencana permodalan;
i. Rencana pengembangan organisasi dan sumber daya manusia (SDM);
j. Rencana penerbitan produk dan/atau pelaksanaan aktivitas baru;
k. Rencana pengembangan dan/atau perubahan jaringan kantor;
l. Informasi lainnya.

4. Rencana Bisnis wajib disampaikan kepada Bank Indonesia paling lambat pada akhir bulan November sebelum tahun
Rencana Bisnis dimulai. Bank Indonesia dapat meminta Bank untuk melakukan penyesuaian dalam hal Rencana Bisnis
yang disampaikan belum sepenuhnya memenuhi ketentuan ini.

5. Bank hanya dapat melakukan perubahan terhadap Rencana Bisnis apabila:


a. Terdapat faktor eksternal dan internal yang secara signifikan mempengaruhi operasional Bank. Perubahan ini hanya
dapat dilakukan 1 kali, paling lambat pada akhir bulan Juni tahun berjalan; dan/atau
b. Terdapat faktor yang secara signifikan mempengaruhi kinerja Bank, berdasarkan pertimbangan Bank Indonesia.

6. Bank wajib menyampaikan Laporan Realisasi Rencana Bisnis secara triwulanan dan Laporan Pengawasan Rencana Bisnis
secara semesteran kepada Bank Indonesia.

7. Pemberian masa transisi sebagai berikut:


a. Khusus untuk Rencana Bisnis tahun 2011, Bank wajib menyampaikan Rencana Bisnis kepada Bank Indonesia paling
lambat pada akhir bulan Desember 2010.
b. Khusus untuk Bank yang menyampaikan Rencana Bisnis tahun 2011, namun melewati akhir Desember 2010:
1). Tidak dikenakan sanksi kewajiban membayar, apabila disampaikan paling lambat akhir Januari 2011; atau
2). Dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50 juta, apabila disampaikan setelah akhir Januari 2011.

70