Anda di halaman 1dari 5

LEARNING OBJECTIVE

1. Tanda dan gejala HSN1


2. Prinsip manajemen
3. Pemeriksaan genetic
4. Pencegahan

Jawab

1. a. demam (suhu badan di atas 38 derajat


b. batuk,sesak nafas, dan mengeluarkan lender bening dari hidung
c. sakit tenggorokan
d. hilang nafsu makan
e. diare dan muntah muntah
f. peradangan di paru paru (pneumonia)
g. kematian dengan cepat jika tidak diatasi

2. Penyakit flu burung (Avian Influenza) adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh virus influenza tipe A yang ditularkan oleh unggas, misalnya
ayam, bebek, burung, angsa, kalkun, atau unggas sejenis. Sebenarnya
penyakit flu burung merupakan penyakit pada hewan (zoonosis). Akan tetapi,
dalam perkembangannya virus penyebab penyakit ini mengalami mutasi yang
mengakibatkan virus ini dapat ditularkan kepada manusia.

Cara penularan
Virus flu burung dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui
makanan, minuman, dan sentuhan. Namun, virus ini akan mati dalam suhu
yang tinggi dan dapat bertahan hidup pada suhu yang dingin. Bahan makanan
yang didinginkan atau dibekukanpun dapat menyimpan virus.
Gejala Pada Manusia :
Mutasi virus ini dapat menginfeksi manusia yang berkontak langsung dengan
sekresi unggas yang terinfeksi. Manusia yang memiliki risiko tinggi tertular
adalah anak – anak, karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah,
pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas, serta pemilik
unggas peliharaan rumahan. Masa inkubasi virus adalah 1 -7 hari.
PENCEGAHAN
Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara menghindari bahan yang
mungkin sebagai sumber kontaminasi misalnya tinja dan secret unggas, yaitu :
1. Pada Unggas
a. Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung dalam radius tiga
kilometer.
b. Vaksinasi pada unggas yang sehat
c. Meningkatkan biosekuriti (tindakan pengawasan dan pengamanan yang
ketat terhadap unggas yang terinfeksi flu burung)
d. Peningkatan kesadaran masyarakat
e. Pengawasan kasus flu burung
f. Pengendalian lalu lintas keluar masuk ternak unggas dan produk unggas.
2. Pada Manusia
A. Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang atau yang
bersentuhan dengan produk unggas)
a.Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.
b.Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinsfeksi flu
burung.
c.Menggunakan alat pelindung diri. (contoh : masker dan pakaian kerja).
d. Meninggalkan pakaian kerja di tempat kerja.
e.Membersihkan kotoran unggas setiap hari.
f. Imunisasi.
B. Masyarakat Umum
a. Umumnya yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan pribadi dan
lingkungan, serta memperoleh vaksinasi.
b.Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat
cukup.
c. Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :
– Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada
tubuhnya)
– Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 80°C selama 1 menit dan
pada telur sampai dengan suhu ± 64°C selama 4,5menit.
C. Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran
cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata renang)
D. Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus
ditatalaksana dengan baik (ditanam/ dibakar) agar tidak menjadi sumber
penularan bagi orang disekitarnya.
E. Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci dengan
desinfektan

F. Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan


G. Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu 80°C selama 1
menit
H. Mengkonsumsi telur unggas perlu dipanaskan pada suhu 64°C selama 5
menit.
I. Melaksanakan kebersihan lingkungan
J. Melakukan kebersihan diri.
PENGOBATAN
Rawat inap di rumah sakit dalam ruangan isolasi untuk mendapatkan
pengobatan dan perawatan yang sesuai dengan gejala dan obat antivirus
Oseltamivir.

Avian influenza merupakan penyakit infeksi akibat virus influenza tipe A


yang biasa mengenai unggas, terdiri dari 3 tipe yaitu A, B, dan C. .Ada 2
protein petanda virus influenza A yaitu protein hemaglutinin dilambangkan
dengan H dan protein neuraminidase dilambangkan dengan N. Ada 15
macam protein H, dari H1 hingga H15, sedangkan N terdiri dari 9 macam,
N1 hingga N9. Kombinasi dari kedua protein ini bisa menghasilkan banyak
sekali varian subtipe dari virus influenza tipe A. Subtipe yang lazim
dijumpai pada manusia adalah dari kelompok H1, H2, H3, serta N1, N2 dan
disebut sebagai human influenza. Penyebab avian influenza atau flu burung
ini adalah virus influenza A subtipe H5N1, yang secara ringkas disebut virus
A(H5N1) ini. Virus avian influenza ini digolongkan dalam Highly
Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
Virus avian influenza bisa bertahan hidup dalam air selama 4 hari pada suhu
22oC dan hingga > 30 hari pada suhu 00C. Dalam feses unggas, virus ini
dapat hidup sampai 32 hari, sehingga feses unggas merupakan materi yang
berperan penting dalam penyebaran dan penularan avian influenza. Virus ini
sangat labil dan mudah bermutasi sehingga dapat terbentuk subtipe baru
yang lebih virulen dan patogen. Secara alami, pejamu dari avian influenza
ini adalah unggas liar yang secara musiman melakukan migrasi antar daerah,
antar begara, bahkan antar benua. Virus avian influenza pada unggas liar
biasanya tidak menyebabkan sakit apalagi kematian. Bahan yang infeksius
dari unggas yang tertular adalah sekresi saluran respiratorik dan sekresi
saluran gastro-intestinal, termasuk liur dan fesesnya.

Manifestasi Klinis Avian Influenza


Masa inkubasi avian influenza sangat pendek yaitu 3 hari, dengan rentang 2-
4 hari. Manifestasi klinis avian influenza pada manusia terutama terjadi di
sistem respiratorik mulai dari yang ringan sampai berat. Manifestasi klinis
avian influenza secara umum sama dengan gejala Influenza Like Illness yaitu
batuk, pilek, dan demam, sehingga sulit membedakan dengan selesma non
avian influenza. Demam biasanya cukup tinggi yaitu >38oC. Gejala lain
berupa sefalgia, nyeri tenggorokan, mialgia dan malaise.
Adapula keluhan gastro-intestinal berupa diare dan keluhan lain berupa
konjungtivitis. Spektrum klinis bisa sangat bervariasi, mulai dari
asimtomatik, selesma ringan hingga berat, pneumonia dan banyak yang
berakhir dengan ARDS (acute respiratory distress syndrome). .
Kelainan laboratorium rutin yang hampir selalu dijumpai adalah lekopenia,
limfopenia dan trombopenia. Kelainan radiologis toraks yang ditemukan
pada pasien flu burung sangat nyata, sangat progresif sesuai dengan
manifestasi klinisnya, namun tidak ada gambaran yang khas. Kelainan foto
toraks bisa berupa infiltrat bilateral luas; infiltrat difus, multifokal, atau
tersebar (patchy); atau dapat berupa kolaps lobar.

Diagnosis
Untuk memastikan diagnosis avian influenza dapat dilakukan dengan biakan
virus avian influenza. Pemeriksaan lain yang definitif adalah pemeriksaan
polymerase chain reaction (PCR). Pemeriksaan lain berupa imunofluoresen
menggunakan H5N1 antibodi monoklonal, serta uji serologi menggunakan
cara ELISA dan IFAT untuk mendeteksi antibodi spesifik.

Tatalaksana
Beberapa obat antiviral dilaporkan efektif untuk virus avian influenza ini
seperti ribavirin, amantadine, rimantadine, zanamivir, dan oseltamivir.
Namun resistensi juga dilaporkan cepat terjadi terhadap berbagai obat
antiviral tersebut kecuali terhadap obat penghambat neuominidase yaitu
oseltamivir dan zana mivir. Zanamivir diberikan secara inhalasi, sedangkan
oseltamivir diberikan secara oral. Saat ini antiviral yang direkomendasikan
penggunaannya untuk avian influenza adalah oseltamivir. Menurut American
Academy of Pediatrics, oseltamivir sebagai terapi dapat diberikan kepada
anak umur 1 tahun ke atas. Dosis untuk terapi adalah 2mg/kgBB/kali,
diberikan dua kali sehari selama 5 hari. Sedangkan untuk profilaksis
diberikan pada anak 12 tahun ke atas, diberikan sekali sehari selama 7 hari.
Untuk kasus yang berat berupa pneumonia pasien perlu perawatan di rumah
sakit dan tatalaksana pneumonia pada umumnya. Jika perjalanan penyakit
terus progresif pasien memerlukan perawatan ICU, walaupun tidak
menjamin kesembuhannya. Yang perlu menjadi perhatian adalah bila suatu
kasus dicurigai sebagai avian influenza maka sejak awal tindakan
pencegahan penyebaran infeksi harus dilakukan sesuai universal precautions
standard. Hal ini berlanjut selama perawatan, saat pemulangan pasien yang
selamat, ataupun penanganan jenazah pasien yang meninggal karena avian
influenza.

3. Perlu di lakukan pemeriksaan deteksi dini pada kedua orang tua dan mencari
riwayat penyakit terdahulu
4. Pencegahan yang di lakukan pada anak
a. Menganjurkan cuci tangan dengan disinfektan dan mandi setiap hari
b. Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas
c. Menggunakan alat pelindung seperti masker dan pakaian kerja
d. Membersihkan kotoran unggas setiap hari.

SUMBER: M.radji 2012. Pathogenesis dan pencegahan virus influenza


(H5N1).pdf