Anda di halaman 1dari 101

BUKU BAHAN AJAR UNTUK SMK KELAS X

SEMESTER 2

ILMU UKUR TANAH 2

Disusun oleh
Tim PPPPTK BMTI

2013
PRAKATA

Buku ini diperuntukkan bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan Bidang


Keahlian Konstruksi Bangunan yang diberikan pada semester dua.

Buku ini membahas pengetahuan dasar tentang pengukuran dengan alat


sipat datar (leveling) dan alat sipat ruang (theodolit), teknik perawatan alat
ukur jenis optik, teknik pengecekan alat ukur jenis optik, dan proses
pengecekan kebenaran data pengukuran.

Melalui buku ini siswa diharapkan dapat melaksanakan praktek ilmu ukur
tanah dengan menggunakan alat ukur tanah sederhana, alat sipat datar
dan alat sipat ruang tanpa harus banyak dibantu oleh instruktur.

Buku ini terdiri dari empat materi pokok yang diharapkan dapat
diselesaikan dalam empat kegiatan pembelajaran. Setiap kali melakukan
kegiatan praktek diawali penjelasan singkat paling lama 30 menit.

Akhirul kata, mudah-mudahan buku ini dapat dipergunakan sesuai dengan


yang diharapkan. Atas kritik dan saran pembaca bagi perbaikan buku ini,
penulis ucapkan terima kasih.

Bandung, Desember 2013

Penyusun,

ii
DAFTAR ISI
P R A K A T A .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang. .................................................................. 1
B. Deskripsi Singkat ................................................................ 1
C. Tujuan Pembelajaran ......................................................... 2
BAB II KEGIATAN PEMBELAJARAN ...................................................... 3
A. Materi Pokok 1 : Melaksanakan Pengukuran dengan
Alat Sipat Datar (leveling) dan Alat sipat ruang
(theodolit) ........................................................................... 3
B. Materi Pokok 2 : Teknik Perawatan Alat Ukur Jenis
Optik. .................................................................................. 61
C. Materi Pokok 3 : Teknik Pengecekan Alat Ukur Jenis
Optik. .................................................................................. 69
D. Materi Pokok 4 : Proses Pengecekan Kebenaran Data
Pengukuran. ....................................................................... 92
Daftar Pustaka ......................................................................................... 97

iii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Mengacu pada isi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU
SPN) pasal 3 mengenai Tujuan Pendidikan Nasinal dan penjelasan
Pasal 15 yang menyebutkan bahwa lembaga pendidikan kejuruan
merupakan lembaga pendidikan menengah untuk mempersiapkan
peserta didik terutama untuk mampu bekerja dalam bidang tertentu.
Dalam pembangunan banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang
memerlukan pemetaan suatu wilayah. Untuk dapat melakukan
pemetaan suatu wilayah, maka diperlukan pengetahuan tentang Jenis
Data dan Cara Pengambilan Data, Penentuan Posisi dan ketentuan
teknis pengukuran dan cara pengolahan data.

B. Deskripsi Singkat
Melaksanakan leveling merupakan salah satu bagian yang penting
didalam pekerjaan-pekerjaan survei. Untuk mendukung itu maka kita
tidak bisa terlepas dari penggunaan alat yang memenuhi standar untuk
dapat memperoleh hasil pengukuran yang baik. Walaupun demikian
hasil ukuran tidak selamanya terlepas dari kesalahan yang diakibatkan
karena kesalahan manusia maupun karena faktor alam. Oleh karena
itu hasil pengukuran perlu juga diperiksa apakah hasil pengukuran
cukup memenuhi toleransi atau tidak. Tanpa memahami akan
pengetahuan tersebut, sangatlah mustahil bagi seseorang untuk dapat
menghasilkan pengukuran-pengukuran/pemetaan yang baik.
Materi modul ini akan dapat membantu anda mampu menjelaskan
tentang melaksanakan leveling pada pekerjaan konstruksi gedung,
Melaksanakan Leveling bangunan air dan Melaksanakan Leveling
jalan dan jembatan dengan menggunakan Alat Sipat Datar (leveling)
dan Alat sipat ruang (theodolit), menjelaskan teknik perawatan alat
ukur jenis optik, teknik pengecekan alat ukur jenis optik dan cara
pengecekan kebenaran data pengukuran.

1
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul ini diharapkan Anda dapat:
 Menjelaskan teknik Melaksanakan Pengukuran dengan Alat Sipat
Datar (leveling) dan Alat sipat ruang (theodolit).
 Menjelaskan teknik Teknik Perawatan Alat Ukur Jenis Optik.
 Menjelaskan Teknik Pengecekan Alat Ukur Jenis Optik.
 Menjelaskan Proses Pengecekan Kebenaran Data Pengukuran.

2
BAB II KEGIATAN PEMBELAJARAN

A. Materi Pokok 1 : Melaksanakan Pengukuran dengan


Alat Sipat Datar (leveling) dan Alat sipat ruang
(theodolit)
 Melaksanakan pengukuran pada pekerjaan konstruksi.
Secara umum, Pekerjaan pengukuran pada Proyek Gedung meliputi :
 Menentukan titik-titik batas area proyek, ini diperlukan untuk
pembuatan alur pagar proyek dan penentuan koordinat gedung.
 Membaca gambar dengan melihat bentuk dan ukuran bangunan
untuk diaplikasikan dilapangan.
 Menentukan elevasi kedalaman galian pondasi dan lantai
basement, kesalahan dalam penentuan elevasi ini dapat
menyebabkan pemborosan pekerjaan urugan dan galian tanah.
 Menentukan as bangunan untuk mencari lokasi titik tiang pancang
dan pile cap.
 Memantau kedataran cor beton pada pekerjaan lantai basement
atau plat lantai diatasnya.
 Marking atau menentukan as kolom gedung, pada pekerjaan ini
menggunakan istilah pinjaman as 1 m untuk mengecek apakah
pembesian dan bekisting kolom sudah terletak pada posisi yang
benar.
 Pengecekan ketegakan kolom dengan menggunakan waterpass
atau benang ukur yang diberi bandul.
 Menghitung ketinggian elevasi cor kolom beton agar pas untuk
menaruh balok dan plat lantai, kesalahan dalam pekerjaan ini
dapat menyebabkan adanya bobok beton atau cor ulang untuk
menambah ketinggia kolom.
 Pengecekan kedataran elevasi balok lantai agar sesuai dengan
gambar rencana.
 Marking perletakan stek besi tulangan struktur diatasnya.

3
 Marking perletakan void dan lobang lift gedung agar berada tepat
pada posisi rencana.
 Membuat as elevasi bangunan tiap lantai, dibuat dengan cara
membuat garis pinjaman dengan ketinggian 1 m dari lantai
gedung.
 Membuat dan Mengukur penurunan gedung setiap hari atau
seminggu sekali untuk mengetahui apakah posisi gedung yang
sudah dibangun berada pada kondisi aman.
 Marking posisi pekerjaan arsitektur seperti pemasangan dinding
batu bata, pemasangan kepalaan keramik, penentuan posisi titik
lampu, penentuan posisi sanitair toilet dll.

 Melakukan Pekerjaan Pengukuran dan Leveling Lapangan


Pekerjaan pengukuran dan leveling lapangan (Uitzet) merupakan
jenis pekerjaan yang digunakan untuk mewujudkan denah bentuk
bangunan menjadi suatu bangunan pada tanah lokasi yang telah
disediakan. Pekerjaan tersebut berupa pengukuran di lokasi
bangunan sesuai dengan gambar rencana bangunan. Hasil dari
pengukuran tersebut berupa garis-garis lurus yang menunjukkan
sumbu dinding tembok bangunan yang diperoleh dengan
menghubungakan titik-titik hasil pengukuran.
Pekerjaan pengukuran dan leveling merupakan pekerjaan yang
sangat penting karena hasil dari pekerjaan ini dapat
mempengaruhi dan menentukan baik buruknya ukuran dan bentuk
bangunan. Jenis pekerjaan ini harus dilaksanakan dengan penuh
ketelitian, setiap langkah pekerjaan harus dilakukan pengontrolan
kembali.
 Membuat Bidang Datar
Untuk membaut bidang datar ("waterpas") pada pekerjaan
pengukuran dan leveling lapangan yang berukuran besar dan
luas dapat digunakan pesawat waterpassen, sedang untuk

4
bangunan yang berukuran kecil seperti rumah tinggal, cukup
menggunakan alat bantu sederhana berupa selang plastik yang
diisi dengan air hingga dua permukaan air dalam selang plastik
membentuk bidang datar.

Gambar 1, Membuat Bidang Waterpass dengan Selang Plastik


Untuk bangunan yang berukuran kecil, alat penyipat datar
sederhana berupa selang plastik yang diisi air hasilnya cukup
akurat, namun untuk bangunan yang berukuran besar, alat
bantu tersebut kurang akurat hasilnya. Hal tersebut disebabkan
ukuran panjang selang plastik yang terbatas, sehingga dapat
mengakibatkan hasil dari pelaksanaan pengukuran kurang
akurat.
 Membuat Garis Siku-siku
Untuk membuat garis siku-siku di lapangan banyak dilakukan
dengan memanfaatkan dalil pythagoras, yaitu perbandingan sisi
miring (BC) dengan sisi datar (AC) dan sisi tegak (AB) dengan
angka perbandingan AC : AB : BC = 3 : 4 : 5.

5
Gambar 2, Membuat Garis Siku-siku
Untuk mengontrol hasil pekerjaan dapat dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
o Menarik garis dari titik B sejajar dengan AC (BD),
o Menarik garis dari titik C sejajar dengan AB (CD),
o Perpotongan dua buah garis BD dengan CD berpotongan
di titik D, dan akan membentuk bidang segi empat.
o Jarak diagonal BC harus sama panjang dengan AD.
o Bila jarak diagonal antara BC dengan AD belum sama
panjang, maka garis yang menghubungkan titik CAB belum
membentuk siku-siku, dan pekerjaan pengukuran harus
diulangi sampai jarak diagonal BC dengan AD sama
panjang.

Gambar 3, Kontrol Garis Siku-siku

6
 Melaksanakan Pekerjaan Pengukuran dan Papan Duga
Papan duga pekerjaan pasangan batu (Bouwplank) adalah
sebuah benda kerja yang terdiri dari pasangan papan-papan.
Pasangan ini dimaksudkan untuk menempatkan titik-titik hasil
pengukuran yang diperlukan dalam mendirikan suatu bangunan
dan membentuk bidang datar.
Agar menghasilkan bentuk bangunan sesuai dengan
perencanaan, pemasangan papan duga harus memenuhi
persyaratan:
 Kedudukannya harus kuat dan tidak mudah goyah.
 Berjarak cukup dari rencana galian.
 Titik hasil uitzet ditempatkan dengan tanda yang jelas.
 Sisi atas bouwplank harus terletak satu bidang (horizontal)
dengan papan bangunan (bouwplank) yang lain.
 Letak kedudukan papan bangunan harus seragam
(diusahakan menghadap ke dalam bangunan).
 Untuk bangunan besar dan banyak terdapat ruang,
pemasangan bouwplank dilaksanakan mengelilingi seluruh
area calon bangunan didirikan, sedang untuk bangunan
kecil, pemasangannya cukup pada lokasi sudut atau
pertemuan bangunan.

7
Gambar 4, Pekerjaan Uitzet dan Bouwplank

Memasang Papan Duga Pekerjaan Pasangan Batu

Gambar 5, Pemasangan Bouwplank di Sekeliling Bangunan

8
Gambar 6, Pemasangan Bouwplank di Sudut/Pertemuan Dinding

o Tanamkan secara dipancang deretan patok-patok menurut


kedudukan tarikan benang (garis BA) sebagai dasar
pengukuran bangunan.
o Pancangkan deretan patok-patok menurut kedudukan garis
CD yang dibuat tegak lurus terhadap garis BA dengan
menggunakan perbandingan dalil pythagoras (3:4:5).
o Dengan cara yang sama, pancangkan deretan patok-pa-tok
menurut garis EF dan GH.
o Pada tiap-tiap patok beri tanda letaknya titik duga ± 0,00
dengan membuat bidang datar pada setiap patok.
o Pasang bouwplank dengan berpedoman pada titik duga
tersebut.
o Tentukan letaknya titik-titik sumbu dinding tembok pada
papan bouwplank, lalu tancapkan paku dan beri tanda
dengan cat atau meni.

Titik-titik pada papan bangunan yang menunjukkan dinding tembok


dapat dijelaskan dengan tanda dari paku yang juga berfungsi untuk

9
menarik benang sebagai sumbu tembok. Untuk menghindarkan
kesalahan yang disebabkan letaknya paku, pada kedudukan paku
diberi tanda panah dengan cat/meni. Bidang atas bouwplank harus
diketam rata agar bidang atas papan dapat membentuk bidang
datar (bidang waterpas). Bidang atas papan bangunan biasanya
dipasang pada kedudukan ± 0,00 sebagai duga lantai. Sudut
pertemuan papan bouwplank harus benar-benar siku, karena hal
tersebut sebagai acuan untuk kesikuan pertemuan dinding.

Gambar 7. Pemberian Tanda pada Bowplank


Sambungan papan bouwplak diusahakan terletak pada sumbu
patok, sehingga jarak patok harus memperhitungkan terhadap
panjang papan yang akan dipergunakan sebagai bouwplank. Bila
sambungan papan bouwplank terletak di antara patok, maka
sambungan papan harus harus menggunakan klem.

Gambar 8. Sambungan Papan pada Patok

10
Gambar 9, Sambungan Papan diantara Patok

 Penentuan Titik As Kolom.


Titik-titik as kolom diperoleh dari hasil pekerjaan tim survei yaitu
berupa pengukuran dan pematokan. Pengukuran tersebut berupa
marking titik-titik atau garis yang digunakan sebagai dasar
penentuan letak kolom.
Cara pengukuran penentuan as kolom :
 Membaca gambar kerja sebagai acuan pelaksanaan pekerjaan
penentuan as bangunan.
 Menentukan satu titik pedoman untuk as bangunan, yang
diletakkan pada areal bangunan yang sekiranya tidak tergangu
oleh aktifitas pekerjaan sehingga titik acuan tidak bergerak.
 Pengukuran areal dengan menggunakan meteran manual,
sedangkan untuk menentukan rencana as bangunan
menggunakan bouwplank.
 Pada pekerjaan bouwplank, titik acuan dapat diukur dengan
waterpass manual menggunakan selang air, benang untuk
menentukan garis lurus maupun siku-siku suatu bangunan, dan
papan sebagai media dari bouwplank itu sendiri. Sehingga

11
didapatkan as bangunan sesuai dengan gambar kerja sebagai
acuan dalam penentuan as-as kolom yang lain.
 Untuk menentukan letak as kolom lainnya yang sama/ sejajar
dapat ditentukan posisinya berdasarkan kolom acuan yang
sudah ditentukan sebelumnya.
 Penentuan peil kolom lantai 2 digunakan selang air untuk
mendapatkan ketinggian yang sama antar kolom.
 Posisi as kolom dilantai 2 harus sentris kedudukannya terhadap
as kolom pada lantai sebelumnya, untuk itu dilakukan
pengecekan dengan menggunakan tali dan selang air.
Untuk mengurangi resiko kesalahan dalam penentuan as kolom,
maka sebelum pekerjaan kolom dilaksanakan, perlu dilakukan
pengukuran ulang untuk memeriksa titik-titik as kolom tersebut
sesuai dengan gambar.

 Mengukur Ketegakan Bidang.

Gambar 10, unting-unting.


Saat membuat bekisting, kolom dan sejenisnya ada satu pekerjaan
yang terlihat sederhana namun punya pengaruh yang sangat besar
terhadap kualitas dan kekuatan bangunan. Pekerjaan tersebut

12
adalah mengukur ketegakan bidang pada element tersebut.
Lalu bagaimanakah cara mengukur ketegakan bidang tersebut.
Saat ini cara yang paling mudah adalah menggunakan suatu alat
yang dinamakan unting-unting atau dalam bahasa Inggris disebut
plummet. Bentuk alat ini cukup sederhana, seperti bandul tapi pada
salah satu bagian ujungnya lancip seperti kerucut atau potlot
gambar sehabis diruncingkan. Sedangkan bagian ujung lainnya
berbentuk seperti silinder dan diberi rantai atau tali.
Tapi ada pula unting-unting atau plummet yang pada bagian ujung
atasnya dibuat seperti tabung lalu diatasnya diberi semacam tutup
atau topi yang juga lancip namun agak datar. Kemudian di bagian
tengah terdapat lubang kecil untuk meletakan tali atau benang.
Bentuk dari ujung yang digunakan untuk meletakan benang ini
memang bermacam-macam. Namun ujung yang berada dibawah
tetap sama, kerucut lancip. Ukuran besarnya sekitar satu
genggaman orang dewasa lebih sedikit.
Adapun bahan yang paling sering dipakai untuk membuat alat ini
adalah kuningan sebab dinilai sebagai logam dengan kualitas
terbaik dan tidak bisa berkarat. Namun ada pula yang terbuat dari
besi biasa atau besi putih.
Sistem kerja dan penggunaan alat ini juga tidak begitu rumit.
Pertama bagian atas bidang yang akan diukur ketegakannya diberi
balok atau kayu panjang maupun sejenisnya kemudian dipasang
secara horisontal. Lalu unting-unting diletakan atau digantungkan
pada media tersebut memakai rantai, tali atau benang. Usahakan
jarak antara media pemasangan dan unting-unting ini punya jarak
yang cukup tinggi atau jauh. Jadi talinya juga harus punya ukuran
yang agak panjang, tidak boleh terlalu pendek.
Setelah unting-unting ini menggantung, tunggu beberapa saat
hingga goyangannya berhenti dan diam tidak bergerak lagi. Setelah
itu lakukan pengecekan. Caranya yaitu dengan mengukur jarak tali

13
yang ada di bawah atau pada as dengan bidang atau dinding. Hal
yang sama juga dilakukan pada bagian atas tali yang berdekatan
dengan media penggantungan. Jika kedua jarak ini punya ukuran
yang sama, maka dipastikan bidang tersebut sudah berdiri dengan
tegak, tidak miring.

Sebaliknya apabila ukurannya tidak sama, maka kemungkinan


besar bidang tersebut belum tegak seratus persen. Jika ukurannya
lebih panjang atau besar pada bagian atas maka bidang itu miring
ke kanan. Namun bila ukuran jarak bagian atas lebih pendek maka
bidang yang sedang diukur miring ke kiri.
Selain bekisting, bidang lain yang bisa diukur ketegakannya
menggunakan alat ini yaitu dinding, kolom atau tiang, pemasangan
pintu dan jendela serta kusennya dan beberapa bidang lain yang
bentuknya selalu harus dalam kondisi yang tegak. Adapun teknik
dan caranya kurang lebih sama, tinggal menyesuaikan kondisi dan
keadaan.
Dan bukan hanya bidang yang tegak saja, namun bidang lain yang
bentuknya mendatar juga bisa memakai alat ini misalnya
permukaan lantai dan sebagainya. Untuk mengetahui apakah lantai
itu tidak miring, gunakan alat lain yang bentuknya seperti tripod.
Lalu unting-unting ini dipasang di bagian tengah atau as kemudian
diamkan beberapa saat sampai unting-unting yang menggantung
tersebut diam.
Selanjutnya ukurlah jarak antara tali unting-unting dengan masing-
masing kaki tripod. Apabila semua jarak pada ketiga kaki tripod
tersebut semuanya sama, maka permukaan lantai itu sudah benar-
benar datar dan lurus.

14
 Melaksanakan pengukuran pada pekerjaan bangunan air.
 Pengukuran sungai. (Diambil dari Konsep Pedoman Penyusunan
Spesifikasi teknis Pengukuran topografi dan pemetaan)
Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pengukuran
sungai harus memuat :
 Persiapan.
Kegiatan persiapan pekerjaan topografi dan pemetaan suangai
meliputi :
 Persiapan Administrasi
Persiapan administrasi antara lain berupa :
 surat tugas personil pelaksana, surat izin survai;
 hal-hal lain-lainnya yang diperlukan.
 Persiapan teknik
Persiapan teknik, antara lain berupa :
 penyediaan peta kerja;
 penyediaan deskripsi titik ikat planimetris dan ketinggian
yang telah ada di lokasi atau di sekitar lokasi pemetaan;
 orientasi lapangan;
 pemeriksaan kondisi fisik serta pemeriksaan kebenaran
koordinat planimetris dan ketinggian titik ikat yang akan
digunakan;
 penetapan titik ikat planimetris dan ketinggian yang akan
digunakan;
 penentuan letak base camp;
 perencanaan jalur pengukuran;
 perencanaan letak pemasangan patok tetap;
 penyediaan patok tetap utama dan patok tetap bantu;
 penyediaan patok sementara;
 perencanaan sistem pemberian nomor patok sementara
dan nomor patok tetap;

15
 penyediaan alat ukur yang sesuai dengan ketelitian yang
telah ditetapkan;
 kalibrasi alat ukur;
 penyediaaan alat hitung;
 penyediaan formulir data ukur dan formulir data hitungan,
 penyediaan tabel deklinasi untuk tahun pelaksanaan
pengamatan matahari,
 persiapan lain yang diperlukan
 Persiapan Managerial
Persiapan manajerial, antara lain berupa
 pembuatan jadwal pelaksanaan pekerjaan, dan bila
pekerjaan pengukuran dan pemetaan teristris sungai
merupakan bagian kegiatan dari satu paket pekerjaan
desain, jadwal pelaksanaan pekerjaan supaya dibuat dua
macam, yaitu jadwal pelaksanaan keseluruhan kegiatan
dan jadwal pelaksanaan kegiatan pengukuran dan
pemetaan teristris sungai;
 pembuatan struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan,
yang dilengkapi dengan status serta nama-nama personil
pelaksana;
 pemberian pengarahan dan pemahaman pada personil
pelaksana;
 penyusunan laporan pendahuluan;
 hal-hal lain yang diperlukan.
 Pengumpulan Data
 Pemasangan patok
o Patok sementara
 Semua patok sementara yang digunakan dibuat dari
kayu dengan ukuran tertentu;
 Setiap patok sementara dipasang masing-masing
dengan letak dan jarak yang diperhitungkan terhadap

16
kebutuhan pengukuran kerangka horizontal peta,
kerangka vertikal peta, detail situasi, dan penampang
melintang sungai;
 Semua patok sementara yang dipasang dicat dengan
warna merah, diberi paku di atasnya, serta diberi
nomor secara urut, jelas, dan sistematis.
 Patok tetap
o Patok tetap utama
 Semua patok tetap utama yang digunakan dibuat dari
beton bertulang dengan ukuran yang telah disepakati,
 Patok tetap utama dipasang di sepanjang tepi sungai
setiap jarak 1 km,
 Patok tetap utama cukup dipasang di sepanjang tepi
sungai jika :
· sungai yang dipetakan tidak lebar;
· kondisi tanah di sepanjang tepi sungai tidak
memungkinkan untuk dipasang patok tetap utama;
· penggunaan lahan di sepanjang tepi sungai tidak
memungkinkan untuk dipasang patok tetap utama;
· bangunan sungai hanya akan dibuat di areal di tepi
sungai.
· tidak ada masalah pembebasan tanah di areal di
sepanjang tepi sungai, dan
· berdasarkan pertimbangan lainnya.
 Patok tetap utama dipasang di sepanjang tepi kiri dan
di sepanjang tepi kanan sungai, jika
· sungai yang dipetakan cukup lebar,
· kondisi tanah di sepanjang tepi kiri dan di
sepanjang tepi kanan sungai memungkinkan untuk
dipasang patok tetap utama,

17
penggunaan lahan di sepanjang tepi kiri dan di
sepanjang tepi kanan sungai memungkinkan untuk
dipasang patok tetap utama,
· bangunan sungai akan dibuat di areal di sepanjang
tepi kiri dan di sepanjang tepi kanan sungai,
· ada masalah pembebasan tanah di areal di
sepanjang tepi kiri dan di sepanjang tepi kanan
sungai,
· berdasarkan pertimbangan lainnya.
 Letak pemasangan patok tetap utama dipilih pada
kondisi tanah yang stabil, aman, dan tidak
mengganggu atau terganggu oleh lalu lintas yang ada.
 Semua patok tetap utama diberi nama, nomor, dan
bulan serta tahun pemasangannya.
 Nama, nomor, bulan dan tahun pemasangan patok
tetap utama dibuat urut, jelas, sistematis, dan ditulis
dengan warna biru pada marmer putih atau pada
bahan lainnya.
 Pemberian nomor patok tetap utama yang terkecil
dimulai dari bagian hilir sungai, terus ke arah hulu.
 Setiap patok tetap utama dipasang dengan
memunggung sungai, dalam arti bahwa nama, nomor,
bulan dan tahun pemasangannya berada dalam posisi
membelakangi sungai.
 Setiap patok tetap utama yang telah dipasang harus
dibuat deskripsinya.
 Deskripsi patok tetap utama harus representatif,
dengan menampilkan pula nama desa, nama
kecamatan, nama kabupaten, arah utara, arah aliran
sungai, dan dilengkapi dengan sketsa serta foto patok
tetap utama.

18
 Foto patok tetap utama harus berwarna dan foto
tersebut harus menampakkan nama dan nomor patok
tetap utama.
o Patok tetap bantu
 Semua patok tetap bantu yang digunakan dibuat dari
beton bertulang dengan ukuran yang telah disepakati.
 Patok tetap bantu dipasang di sepanjang tepi sungai
setiap jarak 200 m.
o Patok tetap bantu cukup dipasang di sepanjang salah satu
tepi sungai jika :
 sungai yang dipetakan tidak lebar,
 kondisi tanah di sepanjang tepi sungai tidak
memungkinkan untuk dipasang patok tetap bantu,
 penggunaan lahan di sepanjang tepi sungai tidak
memungkinkan untuk dipasang patok tetap bantu,
 bangunan sungai hanya akan dibuat di areal salah
satu tepi sungai,
 tidak ada masalah pembebasan tanah di areal di
sepanjang tepi sungai, dan
 berdasarkan pertimbangan lainnya,
o Patok tetap bantu dipasang di sepanjang tepi kiri dan di
sepanjang tepi kanan sungai jika
 sungai yang dipetakan cukup lebar,
 kondisi tanah di sepanjang tepi kiri dan di sepanjang
tepi kanan sungai memungkinkan untuk dipasang
patok tetap bantu,
 penggunaan lahan di sepanjang tepi kiri dan di
sepanjang tepi kanan sungai memungkinkan untuk
dipasang patok tetap bantu,
 bangunan sungai akan dibuat di areal di sepanjang
tepi kiri dan di sepanjang tepi kanan sungai,

19
 ada masalah pembebasan tanah di areal di sepanjang
tepi kiri dan di sepanjang tepi kanan sungai, dan
 berdasarkan pertimbangan lainnya,
o Letak pemasangan patok tetap bantu dipilih pada kondisi
tanah yang stabil, aman, dan tidak mengganggu atau
terganggu oleh lalu lintas yang ada.
o Semua patok tetap bantu diberi nama, nomor, dan bulan
serta tahun pemasangannya.
o Nama, nomor, bulan dan tahun pemasangan patok tetap
bantu dibuat urut, jelas, sistematis, dan ditulis dengan
warna biru pada marmer putih atau pada bahan lainnya.
o Pemberian nomor patok tetap bantu yang terkecil dimulai
dari bagian hilir sungai, terus ke arah hulu.
o Setiap patok tetap bantu dipasang dengan memunggung
sungai, dalam arti bahwa nama, nomor, bulan dan tahun
pemasangannya berada dalam posisi membelakangi
sungai.
o Setiap patok tetap bantu yang telah dipasang harus dibuat
deskripsinya.
o Deskripsi patok tetap bantu harus representatif, dengan
menampilkan pula nama desa, nama kecamatan, nama
kabupaten, arah utara, arah aliran sungai, dan dilengkapi
dengan sketsa serta foto patok tetap bantu yang
bersangkutan.
o Foto patok tetap bantu harus berwarna dan foto tersebut
harus menampakkan nama dan nomor patok tetap bantu.
 Pengukuran Kerangka Horisontal Peta
Kerangka horizontal peta diukur dengan metode polygon
o Pengukuran poligon utama

20
 Jika patok tetap utama dipasang di sepanjang tepi kiri
dan di sepanjang tepi kanan sungai, jalur pengukuran
poligon utama hanya melalui patok tetap utama.
 Jika patok tetap utama hanya dipasang di sepanjang
tepi sungai, maka jalur pengukuran poligon utama di
sepanjang tepi sungai yang ada patok tetap utamanya
melalui patok tetap utama, sedangkan jalur
pengukuran poligon utamanya di sepanjang tepi
sungai yang tidak ada patok tetap utama melalui patok
sementara.
 Bentuk poligon utama harus tertutup, sehingga pada
jarak tertentu patok yang berada di tepi kiri dan di tepi
kanan sungai (berseberangan) dihubungkan sebagai
sisi penutup.
 Setiap sudut poligon utama diukur dengan universal
teodolit yang memiliki ketelitian ≤ 2 detik.
 Setiap akan melakukan pengukuran terlebih dahulu
dilakukan kalibrasi teodolit.
 Setiap sudut poligon utama diukur dengan cara
reiterasi sebanyak satu seri rangkap.
 Kesalahan penutup sudut poligon utama harus ≤
10"√n, dengan pengertian bahwa n adalah banyaknya
titik poligon utama.
 Semua sisi poligon utama diukur secara tidak
langsung, dengan menggunakan alat pengukur jarak
elektronik.
 Setiap sisi poligon utama diukur sebanyak minimal 2
kali, dan dilakukan dengan cara pergi-pulang.
 Jalur pengukuran poligon utama serta arah dan letak
tiap sudut yang diukur harus dibuat sketsanya.

21
 Sketsa jalur pengukuran poligon utama harus
dilengkapi dengan arah utara.
 Kesalahan linier poligon utama harus ≤ 1/10.000.
 Apabila pengikatan koordinat planimetris dilakukan
terhadap 2 titik ikat atau lebih, yang titik-titik ikat
tersebut berada dalam satu sistem koordinat, maka
sudut arah poligon menggunakan azimut titik ikatnya.
 Apabila di lokasi atau di sekitar lokasi pekerjaan
pengukuran dan pemetaan teristris sungai hanya ada
satu titik ikat koordinat planimetris, atau belum ada,
sudut arah poligon menggunakan azimut astronomi,
yaitu dilakukan dengan pengamatan matahari.
 Pengamatan matahari menggunakan metode tinggi
matahari, dilakukan pada pagi dan sore hari, dengan
masing-masing pengamatan minimal sebanyak empat
seri.
 Pelaksanaan pengamatan matahari sebaiknya
dilengkapi dengan prisma roulop.
 Selisih nilai azimut pusat matahari dari hasil
pengamatan biasa terhadap hasil pengamatan luar
biasa 60 detik.
 Setiap lembar formulir data ukur poligon utama dan
data pengamatan matahari harus ditulis nomor
lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat
yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang
digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan
keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran.
o Pengukuran polygon
 Jalur pengukuran poligon cabang melalui semua
patok, yaitu dimulai dari salah patok tetap utama
kemudian berakhir di patok tetap utama yang lain.

22
 Bentuk Poligon cabang adalah terbuka, dan terikat
pada kedua ujungnya.
 Setiap sudut poligon cabang diukur dengan universal
teodolit yang memiliki ketelitian 10 detik.
 Setiap akan melakukan pengukuran terlebih dahulu
dilakukan kalibrasi teodolit.
 Setiap sudut poligon cabang diukur dengan cara
reiterasi sebanyak dua seri rangkap.
 Kesalahan penutup sudut poligon cabang harus
20"√n, dengan pengertian bahwa n adalah banyaknya
titik poligon cabang.
 Semua sisi poligon cabang diukur secara langsung
dengan menggunakan pita ukur.
 Setiap sisi poligon cabang diukur sebanyak minimal 2
kali, dan dilakukan dengan cara pergi-pulang.
 Jalur pengukuran poligon cabang serta arah dan letak
tiap sudut yang diukur harus dibuat sketsanya.
 Sketsa jalur pengukuran poligon cabang harus
dilengkapi dengan arah utara.
 Kesalahan linier poligon cabang harus ≤ 1/5.000.
 Sudut arah poligon cabang menggunakan azimut
poligon utama.
 Setiap lembar formulir data ukur poligon cabang harus
ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama
pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri
alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran,
dan keadaan cuaca pada saat melakukan
pengukuran.
o Pengukuran Kerangka Vertikal Peta
Kerangka vertikal peta diukur dengan metode waterpasing
memanjang yaitu sebagai berikut :

23
 Jalur pengukuran waterpasing harus melalui semua
patok poligon.
 Jalur pengukuran waterpasing harus membentuk
sirkuit (lingkaran) sehingga pada jarak tertentu
tertentu dilakukan pengukuran waterpasing dari patok
yang berada di tepi kiri sungai ke patok yang berada
di tepi kanan sungai (berseberangan), dan sebaliknya.
 Alat ukur waterpas yang digunakan harus jenis
automatic level.
 Setiap akan melakukan pengukuran harus terlebih
dahulu dilakukan kalibrasi alat ukur waterpas.
 Jika lebar sungai yang diukur melampaui jangkauan
jarak baca alat ukur waterpas yang digunakan, maka
pengukuran waterpasing dari patok tetap utama ke
patok tetap utama yang saling berada di seberang
sungai bias dilakukan dengan bantuan permukaan air
sungai.
 Jika menggunakan bantuan permukaan air sungai,
pengukuran dari patok tetap utama yang berada di
tepi kiri sungai harus dilakukan pada saat yang sama
dengan pengukuran dari patok tetap utama yang
berada di tepi kanan sungai.
 Pelaksanaan pengukuran waterpasing harus
dilakukan secara pergi-pulang.
 Rambu ukur yang digunakan harus mempunyai
interval skala yang benar.
 Pada pengukuran setiap slag, usahakan agar alat
ukur waterpas selalu berdiri di tengah- tengah di
antara kedua rambu ukur.

24
 Setiap pembacaan rambu ukur harus dilakukan pada
ketiga benang, yaitu benang atas, benang tengah, dan
benang bawah.
 Jumlah slag dalam tiap seksi pengukuran diusahakan
genap.
 Jalur pengukuran waterpasing dan arah pembacaan
tiap slag harus dibuat sketsanya,
 Sketsa jalur pengukuran waterpasing harus dilengkapi
dengan arah utara.
 Selisih antara jumlah beda tinggi hasil pengukuran
pergi dengan jumlah beda tinggi hasil pengukuran
pulang dalam tiap seksi harus maksimal 8 √D mm ,
dengan pengertian bahwa D adalah panjang seksi
dalam satuan km.
 Setiap lembar formulir data ukur waterpasing harus
ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama
pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri
alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran,
dan keadaan cuaca pada saat melakukan
pengukuran.
o Pengukuran Situasi
Pengukuran situasi dilakukan dengan metode tachymetri,
yaitu sebagai berikut :
 Teodolit yang digunakan sebaiknya dilengkapi
dengan bousole.
 Setiap akan melakukan pengukuran harus terlebih
dahulu dilakukan kalibrasi teodolit.
 Rambu ukur yang digunakan harus memiliki interval
skala yang benar.

25
 Batas Areal di tepi kiri dan di tepi kanan sungai yang
diukur situasinya tergantung pada tujuan penggunaan
peta situasi.
 Unsur situasi yang diukur terdiri atas
· bentuk planimetris alur sungai,
· bentuk palung sungai,
· semua drainase yang masuk ke sungai,
· bentuk planimetris alur drainase,
· bentuk palung drainase,
· bentuk planimetris tanggul,
· bentuk relief areal di sepanjang tepi kiri dan tepi
kanan sungai,
· batas perubahan bentuk penggunaan lahan di areal
tepi kiri dan tepi kanan sungai,
· semua bangunan yang ada di sepanjang areal di
tepi kiri dan di tepi kanan sungai,
· semua bangunan yang ada di sungai, misalnya
jembatan, tubuh bendung, ground sill, dermaga,
pelindung tebing sungai, rumah yang menjorok ke
alur sungai, dan semua bangunan lainnya,
· catat bentuk penggunaan lahan di areal tepi kiri dan
tepi kanan sungai,
 Jumlah detail unsur situasi yang diukur harus betul-
betul representatif, oleh sebab itu kerapatan letak
detail harus selalu dipertimbangkan terhadap bentuk
unsur situasi serta skala dari peta yang akan dibuat,
 Setiap pembacaan rambu ukur harus dilakukan pada
ketiga benang, yaitu benang atas, benang tengah, dan
benang bawah,
 Semua detail situasi yang diukur harus dibuat
sketsanya,

26
 Sketsa detail situasi harus dilengkapi dengan arah
utara,
 Setiap lembar formulir data ukur detail situasi harus
ditulis nomor lembarnya,
 nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang
digunakan, merek dan nomor seri alat yang
digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan
keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran.
o Pengukuran penampang melintang sungai
Pengukuran penampang melintang sungai dilakukan
dengan metode tachymetri yaitu sebagai berikut.
 Jarak antarpenampang melintang yang diukur
bergantung pada kegunaan gambar penampang
melintang tersebut.
 Teodolit yang digunakan mempunyai ketelitian ≤ 30
detik.
 Setiap akan melakukan pengukuran terlebih dahulu
dilakukan kalibrasi teodolit.
 Rambu ukur yang digunakan harus memiliki interval
skala yang benar.
 Arah penampang melintang yang diukur diusahakan
tegak lurus alur sungai.
 Batas pengambilan detail di areal tepi kiri dan di areal
tepi kanan sungai tergantung pada kegunaan gambar
penampang melintang tersebut.
 Detail yang ukur harus dapat mewakili bentuk irisan
melintang alur sungai dan relief areal di tepi kiri serta
di tepi kanan sungai setempat.
 Apabila di areal tepi kiri atau di areal tepi kanan
sungai terdapat bangunan permanen seperti halnya
rumah, maka letak batas dan ketinggian lantai rumah

27
tersebut harus diukur, dan diperlakukan sebagai detail
irisan melintang.
 Jumlah dan kerapatan letak detail yang diukur harus
dipertimbangkan pula terhadap skala gambar
penampang melintang yang akan dibuat.
 Apabila kondisi aliran sungai tidak memungkinkan
untuk menggunakan rambu ukur, maka pengukuran
detail dasar sungai dilakukan dengan cara sounding.
 Pelaksanaan sounding dapat dilakukan dengan
menggunakan echo sounder atau dengan peralatan
lainnya.
 Ketinggian permukaan air sungai pada tiap
penampang melintang harus diukur pada saat
mengukur penampang melintang .
 Setiap detail yang diukur harus dibuat sketsanya, dan
sketsa detail penampang melintang tidak boleh
terbalik antara letak tebing kiri sungai dengan letak
tebing kanan sungai.
 Setiap pembacaan rambu ukur harus dilakukan pada
ketiga benang, yaitu benang atas, benang tengah dan
benang bawah.
 Setiap lembar formulir data ukur penampang
melintang harus ditulis nomor lembarnya, nama
pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan,
merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal
dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat
melakukan pengukuran.
 selisih antara jumlah beda tinggi hasil pengukuran
pergi terhadap jumlah beda tinggi hasil pengukuran
pulang dalam tiap seksi harus maksimal 8 √D mm ,

28
dengan pengertian bahwa D adalah panjang seksi
dalam satuan km.
 Setiap lembar formulir data ukur waterpas harus ditulis
nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur,
alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang
digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan
keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran.
 Pengolahan Data
 Pengendalian data
o Setiap lembar data ukur dan data hitungan yang telah
disetujui harus diberi paraf di bagian bawah di sebelah
kanan.
o Semua data ukur dan data hitungan harus selalu
diklasifikasikan menurut macamnya, kemudian disusun
secara urut, dan disimpan pada tempat yang aman.
 Penghitungan
o Hitungan poligon
Secara umum penghitungan poligon terdiri atas dua tahap,
yaitu tahap pertama adalah penghitungan koordinat
sementara dan tahap yang kedua merupakan penghitungan
koordinat definitif. Sistem proyeksi peta yang digunakan
adalah sistem proyeksi Universal Transfer Mercator (UTM)
 Koordinat sementara
- Sudut
· Ratakan sudut-sudut horizontal hasil pengukuran
pada tiap titik poligon utama dan tiap titik poligon
cabang,
· Periksa kesalahan penutup sudut pada setiap
sirkuit, kemudian periksa pula kesalahan penutup
sudut pada seluruh sirkuit,

29
· Untuk membawa hitungan ke sistem proyeksi
UTM, sudut hasil ukuran diberi koreksi kappa (κ)
dan koreksi jurusan horizontal Psy (Ψ).
- Jarak
· Ratakan jarak hasil ukuran pada setiap sisi
poligon utama dan poligon cabang,
· Untuk membawa hitungan ke sistem proyeksi
UTM, jarak hasil ukuran diberi reduksi ke bidang
geoid dan reduksi ke bidang proyeksi.
- Azimut
Jika azimut yang digunakan merupakan azimut
astronomi hasil pengamatan matahari, untuk
membawanya ke bidang proyeksi UTM diberi reduksi
konvergensi meridian.
- Koordinat sementara
· Jumlah sudut-sudut poligon, di hitung kesalahan
penutupnya, lalu berikan koreksi sudut,
· Hitung azimut tiap sisi poligon,
· Hitung dsin α dan dcos α,
· Berikan koreksi fx dan fy,
· Hitung koordinat titik-titik poligon,
- Koordinat definitif
Penghitungan koordinat definitif dilakukan dengan
metode least square (kwadrat terkecil).
 Hitungan waterpasing :
Secara umum penghitungan waterpasing terdiri dari
dua tahap, untuk tahap pertama adalah penghitungan
ketinggian sementara, dan tahap keduamerupakan
penghitungan ketinggian definitif.
- Ketinggian sementara :
· Hitung beda tinggi tiap slag.

30
· Periksa hasil pengukuran waterpasing denqan
menselisihkan jumlah beda tinggi hasil
pengukuran pergi terhadap jumlah beda tinggi
hasil pengukuran pulang.
· Apabila jumlah beda tinggi hasil pengukuran pergi
terhadap jumlah beda tinggi hasil pengukuran
pulang tidak memenuhi toleransi yang ditetapkan,
maka periksa beda tinggi tiap slag dari hasil
pengukuran pergi dan beda tinggi tiap slag hasil
pengukuran pulang.
· Apabila beda tinggi salah satu slag hasil
pengukuran pergi dan hasil pengukuran
pulangnya janggal, maka beda tinggi pada slag
tersebut diukur ulang.
· Hitung kesalahan penutup tiap sirkuit.
· Berikan koreksi pada tiap slag.
· Hitung ketinggian patok sementara, patok tetap
bantu, dan patok tetap utama berdasarkan
ketinggian titik ikat yang digunakan.
- Ketinggian definitif :
Penghitungan ketinggian definitif dilakukan dengan
metode least square (kwadrat terkecil).
- Hitungan detail situasi
· Jarak tiap detail terhadap patok merupakan jarak
tidak langsung (jarak optis) yang dihitung
berdasarkan fungsi goneometri sudut vertical dan
hasil bacaan rambu ukur,
· Beda tinggi tiap detail terhadap patok dihitung
dengan rumus tachymetri,
· Hitung ketinggian tiap detail berdasarkan
ketinggian definitif.

31
- Hitungan detail penampang melintang :
· Jarak tiap detail terhadap patok merupakan jarak
tidak langsung (jarak optis) yang dihitung
berdasarkan fungsi goneometri sudut vertikal dan
hasil bacaan rambu ukur,
· Beda Tinggi tiap detail terhadap patok dihitung
dengan rumus tachymetri,
· Hitung ketinggian tiap detail berdasarkan
ketinggian definitif.
 Penyajian Hasil
 Penggambaran
o Penggambaran dengan cara manual
 Peta Situasi
- Penggambaran draf
· Jenis kertas
Jenis kertas yang digunakan adalah milimeter
kalkir yang factor penyusutan dan pemuaiannya
sangat kecil.
· Skala Peta Penetapan skala peta haruslah
proporsional, misalnya skala 1 : 5000, atau skala
1 : 2000, atau skala 1 : 1000, atau skala 1 : 500.
Pemilihan nilai penyebut skala harus
mempertimbangkan lebar sungai yang dipetakan
dan unsur apa saja yang akan disajikan.
Semakin besar skala peta maka unsur-unsur yang
disajikan di peta semakin mendekati keadaan
sebenarnya. Namun bila skala peta terlalu besar
maka penggunaan peta tersebut menjadi tidak
efisien.
Semakin kecil skala peta maka unsur-unsur yang
disajikan di peta semakin banyak mengalami

32
penyederhanaan bentuk. Bila unsurunsur yang
disajikan di peta banyak mengalami
penyederhanaan bentuk, nilai geometri unsur-
unsur tersebut banyak mengalami kesalahan
·
· Kerangka Peta
Koordinat planimetris dan ketinggian yang
digunakan merupakan koordinat dan ketinggian
yang telah definitif,
Nomor patok tetap utama dan nomor patok tetap
bantu harus ditulis sama dengan nomor patok
tetap tersebut di lapangan,
Ketinggian patok tetap utama dan ketinggian
patok tetap bantu ditulis hingga tiga desimal, dan
titik desimal tersebut harus diletakkan relatif
terhadap angka-angka, contoh : 25.673.
· Detail Situasi
Mistar skala dan busur derajat yang digunakan
harus memiliki interval yang benar,
Bila jumlah detail hasil pengukuran berlebihan,
maka detail yang tidak diperlukan jangan
digambar,
Ketinggian detail cukup ditulis dua desimal, dan
titik decimal tersebut harus diletakkan relatif
terhadap angka-angka, contoh : 72.16
· Penampang Melintang
Setiap penampang melintang sungai yang diukur
harus digambarkan pada peta situasi berupa garis
irisan melintang sungai,

33
Peletakan garis irisan melintang sungai pada peta
situasi berdasarkan koordinat patok yang
dipasang di tepi kiri dan di tepi kanan sungai,
Detail irisan melintang sungai diletakkan
berdasarkan jarak horizontal dari tiap detail
terhadap patok,
Ketinggian masing-masing detail irisan melintang
sungai cukup ditulis dua desimal, dan titik desimal
diletakkan relatif terhadap angka-angka.
· Garis Kontur
Relief palung sungai dan relief areal di sepanjang
tepian sungai ditunjukkan dengan garis kontur,
Garis kontur tidak boleh bersilangan,
Angka-angka nilai garis kontur ditulis tegak lurus
terhadap garis kontur yang bersangkutan,
Nilai interval kontur ditetapkan berdasarkan relief
alur sungai dan relief areal disepanjang tepian
sungai yang dipetakan, misalnya tiap 0,5 m atau
tiap 1 m,
Indek kontur diperlihatkan pada tiap interval 5 m.
- Penggambaran Manuskrip
· Jenis Kertas
Jenis kertas yang digunakan adalah kalkir yang
faktor penyusutan dan pemuaiannya sangat kecil.
· Ukuran kertas
Ukuran kertas tergantung pada lebar sungai yang
diukur serta skala peta yang dipakai. Ukuran
kertas bisa menggunakan ukuran A1 atau A0.
· Batas muka peta
Garis tepi batas muka peta sebelah dalam
digambar dengan ketebalan 0,3 milimeter,

34
Garis tepi batas muka peta sebelah luar digambar
dengan ketebalan 0,5 milimeter,
Jarak antara garis tepi muka peta sebelah dalam
terhadap garis tepi muka peta sebelah luar
sebesar 3 cm.
· Grid
Grid digambar pada setiap 10 cm,
Panjang grid pada muka peta 10 X 10 mm,
Panjang grid pada garis tepi muka peta sebelah
dalam 5 mm,
Ketebalan grid 0,1 mm,
· Koordinat grid
Koordinat grid ditulis di luar muka peta.
· Pertampalan peta
Pertampalan antar lembar peta dibuat 10 cm.
· Garis kontur
Garis kontur digambar dengan ketebalan 0,1 mm,
Indeks kontur digambar dengan ketebalan 0,3
mm,
Angka-angka garis kontur harus ditulis tegak lurus
terhadap garis kontur yang bersangkutan,
Indeks kontur diperlihatkan pada tiap interval 5 m.
· Nama
Nama sungai, nama desa, nama gunung, bentuk
penggunaan lahan di areal sepanjang tepi kiri dan
tepi kanan sungai harus ditulis,
Semua nama tersebut ditulis dengan huruf cetak,
Nama-nama desa, nama gunung, bentuk
penggunaan lahan sepanjang tepi kiri dan tepi
kanan sungai ditulis.dengan tinggi huruf 3 mm dan
ketebalan huruf 0,3 mm,

35
Ukuran huruf untuk nama sungai dibuat
proporsional dengan lebar sungai,
Arah aliran sungai digambar dengan tanda panah,
Huruf awal dari suku kata tiap nama ditulis dengan
huruf besar,
· Patok Tetap
Nama dan nomor patok tetap yang ditulis pada
peta harus sama dengan nama dan nomor patok
tetap tersebut di lapangan dandalam deskripsinya.
· Arah utara Peta
Arah utara peta dibuat kearah atas dan harus
sejajar dengan garis tepi peta sebelah kiri dan
sebelah kanan,
Indeks arah utara peta diletakkan di bagian paling
atas pada kolom legenda.
· Legenda peta :
Legenda peta adalah macam simbol yang
disajikan sama dengan macam unsur yang
disajikan pada peta.
· Indek skala :
indeks skala dibuat dua macam, yaitu indeks
skala grafis dan indeks skala numeris,
indeks skala diletakkan di kolom legenda bagian
atas, yaitu di bawah indeks arah utara peta.
· Blok judul :
Blok judul diletakkan pada bagian bawah kolom
legenda.
· Titik ikat :
Titik ikat koordinat planimetris dan titik ikat
ketinggian yang digunakan ditulis di atas blok
judul, contoh: titik ikat koordinat planimetris dan

36
titik ikat ketinggian menggunakan patok tetap
BJ.15. Dalam hal ini BJ adalah nama patok tetap
dan 15 adalah nomor patok tetap.
· Waktu pengumpulan data
Waktu pengumpulan data ditulis di atas blok judul,
yaitu di atas tulisan mengenai titik ikat yang
digunakan, contoh : Pengumpulan data dilakukan
dari tanggal 14 Juli 2003 hingga tanggal 10
September 2003.
 Penampang melintang
- Penggambaran draf
· Jenis kertas
Jenis kertas yang digunakan adalah milimeter
kalkir yang factor penyusutan dan pemuaiannya
sangat kecil.
· Skala Peta
Penetapan skala gambar penampang melintang
bergantung pada perkiraan lebar rata-rata dan
perkiraan kedalaman rata-rata tebing sungai yang
diukur, misalnya skala horizontal 1 : 400 dan skala
vertikal 1 : 400 atau skala horizontal 1 : 200 dan
skala vertikal 1 : 200.
· Urutan gambar
Urutan susunan gambar penampang melintang
sungai pada tiap lembarnya disajikan dari atas ke
bawah dimulai dari hilir sungai ke arah hulu.
· Nomor gambar penampang melintang
Nomor dari tiap gambar penampang melintang
harus sama dengan nomor pada patok tiap
penampang melintang yang diukur di lapangan.
· Detail penampang melintang

37
Dalam membaca sketsa data ukur saat
penggambaran detail harus dilakukan dengan
hati-hati, jangan sampai terbalik antara letak tepi
kiri sungai dengan letak tepi kanan sungai.
Jarak tiap detail supaya dibaca dengan mistar
skala yang intervalnya benar.
· Tanggal pengukuran dan ketinggian muka air
sungai
Tanggal pengukuran tiap penampang melintang
dan ketinggian muka air sungai pada saat
dilakukan pengukuran penampang melintang
harus dicantumkan.
· Patok
Patok sementara dan patok tetap yang berada
pada penampang melintang digambar.
· Jarak dan ketinggian detail
Semua angka jarak ditulis dalam dua desimal,
Semua ketinggian detail ditulis dalam dua
desimal, Semua ketinggian patok tetap ditulis
dalam tiga desimal.
- Penggambaran Manuskrip
· Jenis Kertas
Jenis kertas yang digunakan adalah kalkir yang
faktor penyusutan dan pemuaiannya sangat kecil.
· Ukuran kertas
Ukuran kertas tergantung pada lebarnya
penampang melintang sungai yang diukur serta
skala yang digunakan, Ukuran kertas dapat
menggunakan ukuran A1 atau A0,

38
Garis tepi sebelah dalam digambar dengan
ketebalan 0,3 mm, dan garis tepi sebelah luar
digambar dengan ketebalan 0,5 mm,
Jarak antara garis tepi sebelah dalam terhadap
garis tepi sebelah luar sebesar 3 cm.
· Garis dan angka
Garis kolom tempat penulisan ketinggian detail,
jarak detail, dan referensi ketinggian, digambar
dengan ketebalan 0,2 mm,
Semua angka ditulis dengan tinggi 2 mm dan
ketebalan angka 0,2 mm,
Tinggi semua huruf 3 mm dan ketebalan huruf 0,3
mm,
Garis tegak yang menunjukkan ketinggian detail
dari garis referensi ketinggian digambar dengan
ketebalan 0,1 mm,
Garis yang menghubungkan ketinggian tiap detail
digambar dengan ketebalan 0,3 mm,
· Patok Sementara dan Patok Tetap
Patok sementara dan patok tetap digambar
dengan cara eksagerasi.
· Pemotongan gambar penampang melintang
Apabila penampang melintang yang digambar
terlalu lebarsehingga melebihi ukuran kertas,
maka dilakukan pemotongan gambar. Kemudian
potongan gambar penampang melintang tersebut
diletakkan dibawahnya,
Pemotongan gambar tidak boleh pada palung
sungainya.
· Indeks skala :

39
indeks skala dibuat dua macam, yaitu indeks
skala grafis dan indeks skala numeris,
indeks skala diletakkan diatas blok judul.
· Blok judul :
Blok judul diletakkan di sudut bawah sebelah
kanan tiap lembar gambar.
 Penampang memanjang
- Penggambaran draf
· Jenis kertas
Jenis kertas yang digunakan adalah milimeter
kalkir yang factor penyusutan dan pemuaiannya
sangat kecil.
· Skala
Penetapan skala gambar penampang memanjang
bergantung pada panjang bagian alur sungai yang
dipetakan dan perbedaan ketinggian dasar sungai
yang terdalam pada penampang melintangnya.
Misalnya skala horizontal 1 : 5000 dan skala
vertical 1 : 100, atau skala horizontal 1 : 2000 dan
skala vertikal 1 : 100, atau skala horizontal 1 :
1000 dan skala vertikal 1 : 100, atau skala
horizontal 1 : 500 dan skala vertikal 1:100.
· Arah penggambaran :
Penggambaran penampang memanjang dimulai
dari hilir ke hulu yang pada lembar gambar
disajikan dari kiri ke kanan.
· Nomor detail
Nomor detail penampang memanjang adalah
sama dengan nomor patok penampang melintang.
· Data ketinggian detail penampang memanjang

40
Data ketinggian dasar sungai yang terdalam,
ketinggian bagian paling atas tebing kiri sungai,
ketinggian bagian paling atas tebing kanan
sungai, ketinggian tanggul, dan ketinggian muka
air sungai saat pengukuran diturunkan dari data
penampang melintang.
· Panjang penampang memanjang
Panjang penampang memanjang sama dengan
jumlah jarak antar penampang melintang sungai.
- Penggambaran manuskrip
· Jenis kertas
Jenis kertas yang digunakan adalah kalkir yang
faktor penyusutan dan pemuaiannya sangat kecil.
· Ukuran kertas :
Ukuran kertas bisa menggunakan ukuran A1 atau
A0,
Garis tepi sebelah dalam digambar dengan
ketebalan 0,3 mm,
Garis tepi sebelah luar digambar dengan
ketebalan 0,5 mm,
Jarak antar garis tepi sebelah dalam dengan garis
tepi sebelah luar sebesar 3 cm.
· Garis dan angka :
Garis kolom tempat penulisan ketinggian detail,
jarak detail, dan referensi ketinggian, digambar
dengan ketebalan 0,2 mm,
Jarak antara garis mendatar yang membatasi
ruang penulisan sebesar 1 cm,
Semua angka ditulis dengan ketebalan 0,2 mm,
Semua huruf ditulis dengan ketebalan 0,3 mm,

41
Garis tegak yang menunjukkan ketinggian tiap
detail dari garis referensi ketinggian digambar
dengan ketebalan 0,1 mm,
Garis yang menghubungkan ketinggian titik-titik
detail penampang memanjang digambar dengan
ketebalan 0,3 mm.
· Indeks skala :
indeks skala dibuat dua macam, yaitu indeks
skala grafis dan indeks skala numeris,
indeks skala ini diletakkan di atas blok judul.
· Blok judul :
Blok judul diletakkan di sudut bawah sebelah
kanan dari setiap lembar gambar.
 Deskripsi patok tetap
- Semua deskripsi patok tetap harus digambar dengan
rapi dan jelas.
- Tiap lembar deskripsi patok tetap menyajikan
· nama dan nomor patok tetap sesuai dengan nama
dan nomor patok tetap tersebut di lapangan,
tanggal pemasangan patok tetap,
· nama personel serta nama instansi yang
memasang,
· nama desa dan nama kecamatan lokasi
pemasangan patok tetap,
· koordinat dan ketinggian tinggi definitif patok
tetap,
· titik ikat planimetris yang digunakan,
· sistem proyeksi peta yang gunakan, dan
· sketsa letak pemasangan patok tetap.

42
- Sketsa letak pemasangan patok tetap harus rinci, dan
dilengkapi dengan tanda arah utara serta tanda arah
aliran sungai.
- Setiap lembar deskripsi patok tetap harus dilengkapi
foto patok tetap, dan bukan fotokopi fotonya.
- foto tiap-tiap patok tetap harus berwarna, dan
memperlihatkan nama serta nomor patok tetap yang
bersangkutan.
o Penggambaran dengan cara digital
Penggambaran peta situasi, penampang melintang, dan
penampang memanjang sungai sangat dianjurkan dengan
cara digital. Pelaksanaan penggambaran bisa
menggunakan program yang telah tersedia. Adapun kaidah
kartografi yang digunakan mengacu pada uraian ketentuan
mengenai penggambaran manuskrip pada penggambaran
dengan cara manual.
 Pengendalian Mutu.
Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pedoman
penyusunan spesifikasi teknis pengukuran topografi dan
pemetaan harus memuat :
 Ketelitian
o Poligon
 Poligon utama
- Kesalahan penutup sudut maksimum 10”√ N , dimana
N banyaknya titik poligon
- Ketelitian azimut 15”.
- Ketelitian linear poligon 1 : 10.000
 Poligon cabang
- Kesalahan penutup sudut maksimum 20”√ N , dimana
N = banyaknya titik poligon
- Ketelitian linier poligon 1 : 5.000

43
o Pengukuran Sifat Datar (Waterpass)
Batas toleransi untuk kesalahan penutup maksimum 10 √ D
mm, dimana D = jumlah jarak dalam km.
o Pengukuran situasi detail
- Ketelitian poligon raai untuk sudut 20√ n , dimana n =
banyaknya titik sudut
- Ketelitian linier poligon raai 1 : 1.000
- Ketelitian tinggi poligon Raai 10 cm √D (D dalam km)
o Penggambaran
- Semua tanda silang untuk grid koordinat tidak boleh
mempunyai kesalahan lebih dari 0,3 mm, diukur dari titk
kontrol horisontal terdekat
- Titik kontrol posisi horisontal tidak boleh mempunyai
kesalahan lebih dari 0,3 mm diukur dari garis grid
- Sembilan puluh lima persen (95%) dari bangunan
penting seperti bendung, dan jembatan, saluran dan
sungai tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 0,6
mm diukur dari garis grid atau titik kontrol horisontal
terdekat. Sisanya 5% (lima persen) tidak boleh
mempunyai kesalahan lebih dari 1,2 mm
- Sembilan puluh persen (90%) dari penarikan garis kontur
tidak boleh menyimpang lebih dari setengah kali interval
kontur yang bersangkutan dari letak sebenarnya yang
diperhitungkan dari titik kontrol horisontal, sisanya 10%
(sepuluh persen) tidak boleh menimpang dari satu kali
interval kontur yang bersangkutan
- Pada sambungan lembar peta satu dengan yang lain,
garis kontur, bangunan, saluran, sungai, harus tepat
tersambung. Batas pergeseran yang diperbolehkan
maksimum 0,3 mm.

44
 Pengukuran saluran.
Pengukuran untuk pembuatan saluran irigasi primer dan tersier.
Langkah-langkah kerja sebagai berikut :
 Pembuatan patok BM dan CP
 Pembuatan koordinat dengan menggunakan GPS dan
Elevasi lokal.
 Cek batas pembebasan lahan dan koridor.
 Pengukuran long dan cross.
 Pengukuran MC0.
 Pengukuran menentukan patok as dengan staking out.
 Pengukuran menentukan batas area kerja.
 Pengukuran menentukan top tanggul dari lapangan, timbun
atau gali.
 Pengukuran menentukan galian bottom / penampang basah.
 Pengukuran menentukan kemiringan saluran irigasi selupan
1:1, 1:1.5, 1:2 .
 Pengukuran beda tinggi untuk menentukan batas selupan
luar.
 Cek elevasi timbunan dan galian.
 Menentukan titik as bangunan sadap, pembagi, jembatan,
gorong‐gorong dengan cara
 staking out, total station.

 Melaksanakan pengukuran pada pekerjaan jalan dan jembatan.


Profil memanjang jalan diperlukan untuk membuat trase jalan kereta
api, jalan raya dan saluran air. Dalam pembuatan jalan profil
memanjang dibuat pada sumbu atau as jalan yang akan dibuat. Profil
memanjang dan melintang jalan diperlukan untuk menghitung volume
tanah yang harus digali dan juga diperlukan untuk menghitung
penimbunan (Elias, 1999).

45
Pembuatan penampang jalan termasuk pada survei lapangan
pemeriksaan lapangan dan mempelajari sifat-sifat topografi sering
membantu untuk memperoleh keterangan yang diperlukan tentang
tanah dan kondisi air tanah dalam menentukan program pemeriksaan,
di lapangan dapat mempelajari sifat-sifat yang dapat dilakukan antara
lain: Topografi setempat, Penggalian, Pemotongan,Penggalian batu,
keadaan erosi, dan longsor tanah, ukuran, kedudukan, air sumur dan
aliran debit dan drainase (Forsblad, 1989).
Dalam pembuatan penampang memanjang jalan diperlukan
penggalian dan penimbunan. Galian-galian seperti sumur dan alur
diberi tanda dengan rambu-rambu. Ini disusun dari 2 piket atau lebih
yang di bagian atasnya dipasang sepotong papan horizontal. Bagian
atas papan tersebut ditetapkan dengan cermat terhadap permukaan
tanah atau bagain atas tengah jalan, tergantung situasi setempat.
Penempatan rambu-rambu hendaknya diatur sedemikian rupa,
sehingga semua itu saat berlangsungnya penggalian tidak
menimbulkan getaran.
Suatu penampang melintang tertentu dapat menentukan tingkat
pelayanan dimana keamanan menjadi pertimbangan utama.
Pengetahuan tentang hal-hal ini belum lengkap sehingga tidak
diketahui sampai sejauh mana unsur-unsur tersebut serta interaksinya
berpengaruh terhadap kecelakaan. Profil memanjang dan melintang
jalan diperlukan untuk menghitung volume tanah yang harus digali
dan juga diperlukan untuk menghitung penimbunan.
Pembuatan penampang memanjang jalan dibuat setelah titik A – B
bisa dihubungkan. Titik-titik profil pada pembuatan trase jalan A – B
dipindahkan pada kertas mm. Skala vertikal merupakan ketinggian
tempat (m dpl), dengan skala peta 1 : 2000. Galian harus rasional,
dengan menggali lebih baik daripada menimbun. Dari segi mekanika
tanah, tanah timbunan lebih labil. Suatu permukaan tanah yang miring
dengan sudut tertentu terhadap bidang horizontal dan tidak dilindungi,

46
kita namakan sebagai talud tak tertahankan. Talud ini dapat menjadi
secara alamiah atau buatan (Elias, 1999).
Penampang memanjang jalan diperlukan untuk membuat trase jalan
kereta api, jalan raya, sungai, saluran irigasi (saluran air) misalnya
irisan tegak penampang memanjang yang mengikuti sumbu rute.
Penampang merupakan gambaran irisan tegak. Bila pada peta
tofografi bisa dilihat bentuk proyek tegak model bangunan, maka pada
gambar penampang bisa dilihat moel potongan tegak bangunan
dalam arah memanjang ataupun melintang tegak llurus arah potongan
memanjang (Forsblad, 1989).
Pada masa lalu, kemiringan yang besar masih merupakan standar
bagi beberapa perencanaan jalan raya karena tidak terlalu banyak
melobatkan pekerjaan tanah. Tetapi, pada tahun-tahun terakhir
kemiringan biasanya diperdatar lagi agar pengoperasian kenderaan
dapat lebih aman, memungkinkan penanaman pohon serta
mengurangi erosi dimana kestabilan merupakan hal yang pokok dan
untuk mengurangi biaya perawatan. Kemiringan yang curam pad
timbunan badan jalan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan yang
serius. Kemiringan timbunan yang datar memmiliki keuntungan yang
lain yaitu dapat dilihat dari tiap kenderaan sehingga jalan akan
nampak lebih aman untuk dilalui (Purwardjo, 1986).
Galian-galian seperti sumur-sumur dan alur-alur kita berikan tanda
dengan rambu-rambu. Rambu-rambu ini disusun dari dua buah piket
atau lebih yang dibagian atasnya dipasang sepotong papan
horizontal. Bagian atas papan ini ditetapkan dengan cermat terhadap
HAP. Permukaan tanah atau bagian atas tengah jalan tergantung dari
situasi setempat. Setidak-tidaknya kita pasangkan pada semua titik
dari galian sebuah rambu dan demikian pula untuk alur-alur dengan
jarak masing-masing maksimal sekitar 20 m. Penempatan rambu-
rambu hendaknya diatur sedemikian rupa, sehingga kesemua itu

47
sewaktu berlangsungnya penggalian tidak akan menimbulkan getaran
(Forsblad, 1989).
Bila transisi diantara galian dan timbunan berada pada sisi bukit
sebanyak 5 penampang melintang mungkin diperlukan, secara teoritis
penampang melintang yang lengkap tidak memerlukan pada sudut-
sudut penampang yang mencolok ke dalam permukaan tetapi
pengoperasionalnya diperlukan untuk menentukan puncak piramida-
piramida yang mempunyai dasar akhir dengan bentuk segitiga. Jadi
penampang melintang pada tradisi menjadi 3, yaitu :
1. Pada dasar timbunan
2. Pada titik grade di garis sumbu
3. Pada titik grade di dasar galian
Ketiga penampang-penampang pada transisi sangat berdekatan,
kontur grade tersebut dianggap tegak lurus pada garis sumbu,
selanjutnya akan berbentuk baji pada sebelah-sebelah kontur grade
(Elias, 1999).
Dalam pembuatan penampang memanjang ini, terdiri dari
pembuatan galian dan timbunan. Pembuatan galian dan timbunan ini
harus disesuaikan supaya penekanan biaya dan tenaga yang
digunakan dalam pengangkutan dapat benar-benar diefisienkan.
Untuk itu pembuatan penampang memanjang jalan ini perlu dipelajari
dan harus benar-benar dipahami. Penampang umumnya merupakan
irisan tegakan, bila pada peta topografi dapat dilihat bentuk proyeksi
tegak model bangunan, maka pada gambar penampang bisa dilihat
model potongan tegak bangunan dalam arah memanjang ataupun
melintang tegak lurus arah potongan memanjang bisa dipahami
bahwa gambar penampang merupakan gambaran dua dimensi
dengan elemen unsur jarak (datar) dan ketinggian. Pada gambaran
penampang dibuat dan disajikan dalam rencana rancangan bangunan
dalam arah tegak skala horizontal pada gambar penampang
umumnya lebih kecil dari skala tegak (Irvine, 1995).

48
Pengukuran Profil Memanjang dan Melintang.
Pengukuran sipat datar profil banyak digunakan dalam perencanaan
suatu wilayah. Pengukuran ini terbagi menjadi dua macam, yaitu profil
memanjang dan profil melintang. Dengan pengukuran profil ini,
banyak manfaat yang bisa diperoleh dari data yang dihasilkan karena
beda tinggi di setiap bagian di wilayah tersebut dapat diketahui.
Informasi mengenai beda tinggi sangat berguna dalam cut dan fill
suatu permukaan tanah yang tidak rata, misalnya saja dalam
pengerjaan jalan raya atau jalur kereta api.
Mengingat begitu besarnya manfaat sipat datar profil, maka
pengukuran ini mutlak harus dikuasai oleh surveyor ataupun
mahasiswa teknik Geomatika. Salah satu cara untuk menguasai
pengukuran sipat datar profil adalah dengan pelaksanaan praktikum
secara sungguh-sungguh atau dengan memperbanyak jam terbang
pengukuran

Prosedur Lapangan Menggunakan Waterpass.

Operasi sifat datar membutuhkan kerja sama dari dua petugas, yaitu
pemegang alat dan pemegang rambu ukur pada saat pembacaan
demi dicapainya hasil yang konsisten. Ketepatan survei tergantung
dari ketelitian membuat garis bidik horizontal, kemampuan pemegang
rambu ukur dalam memegang rambu ukur secara vertical, dan presisi
rambu ukur yang dibaca. Ketepatan alat yang memakai nivo
gelembung gas juga harus memperhatikan penyetelan nivo tabung
dan presisi kesejajaran suatu garis arah nivo dan garis bidik. Tidak
boleh terjadi penurunan alat di antara waktu bidik belakang dan bidik
muka pada stasiun alat. (Wirshing, 1995)

49
Pengoperasian Alat.

Waterpass harus disetel sebelum memulai operasi sifat datar. Setelah


alat disetel, operasi waterpass terdiri dari memasang, mendatarkan,
dan melakukan pembacaan sampai ketepatan tertentu. Pembacaan
terdiri dari penentuan posisi dimana salib sumbu tampak memotong
rambu ukur dan mencatat hasil pembacaan tersebut. Tiap alat yang
dipasang memerlukan satu pembacaan bidik belakang untuk
menetapkan tinggi alat dan paling sedikit satu pembacaan bidik muka
untuk menentukan elevasi titik di sebelah muka ( sebuah titik stasiun
atau elevasi ). Pembacaan halus biasanya sampai 0,01 ft kecuali
digunakan target pada rambu ukur. Target tunggal yang dibaca dapat
menimbulkan kesalahan tak sengaja. Tambahan bidik muka dapat
dilakukan terhadap titik-titik lain yang dsapat dilihat dari tempat alat
dipasang apabila elevasi titik-titiki ini juga diperlukan. Tergantung
pada tipe survei dan alat yang dipakai, baik benang tengah, semua
ketiga benang salib sumbu, atau cara dengan mikrometer dapat
digunakan untuk melakukan pembacaan. (Wirshing, 1995)
Langkah-langkah Untuk Mengambil Pembacaan Sebuah Waterpass :
1. Waterpass dipasang dan didatarkan
2. Teropong diarahkan sedemikian rupa sehingga benang vertikal
berimpit dengan salah satu sisi rambu ukur dan alat dikunci.
3. Lensa objektif difokuskan dan paralaks dihapus.
4. Gelembung nivo diperiksa, digeser ke tengah dan disetel kalau
perlu.
5. Rambu ukur dibaca dan hasilnya dicatat.
6. Gelembung nivo diperiksa lagi apakah masih tetap di tengah-
tengah. Apabila gelembung tergeser dari tengah-tangah, ia harus
diketengahkan lagi dan pembacaan diulangi.
7. Setelah pemegang alat merasa puas bahwa gelembung tetap di
tengah-tengah ketika pembacaan dilakukan, selisih pembacaan

50
antara benang atas dan benang bawah dibaca untuk mengukur
jarak dari waterpass sampai mistar ukur. Jarak ini dipakai untuk
menyeimbangkan jarak bidik muka dan bidik belakang dan cukup
dibaca sampai ketelitian sentimeter terdekat.
8. Pemegang alat memberi tanda kepada pemegang rambu ukur
untuk maju ke posisi berikutnya.
9. Kunci teropong dibuka, teropong diputar, diarahkan ke posisi
rambu ukur berikutnya dan difokuskan. Paralaks dihapus, posisi
gelembung nivo diperiksa apakah masih di tengah-tengah, ramb u
ukur dibaca, dan posisi gelembung nivo diperiksa ulang.
10. Tahapan-tahapan ini diulangi sampai jumlah bidik muka yang
diinginkan diambil dan sebuah titik stasiun ditetapkan. Jarak
rambu ukur pada titiki stasiun diukur dan dicatat. Pemegang
rambu ukur kemudian mengambil posisi di atas stasiun.
11. Waterpass dipindahkan ke posisi pemasangan berikutnya dan
prosedur ini diulangi.
Sebelum melakukan pengukuran dengan menggunakan waterpass
maka terlebih dahulu dilakukan pengamatan koreksi garis bidik.
Kesalahan garis bidik adalah kesalahan yang timbul akibat tidak
sejajarnya garis bidik dengan garis nivo. Walaupun alat ukur
waterpass telah dirancang sedemikian rupa dan tidak dapat digerak-
gerakkan dalam arah vertical, namun kesalahan garis bidik yang
mungkin ada sebaiknya tetap di perhitungkan.

Harga kesalahan garis bidik dapat di ketahui dengan cara


pemeriksaan dan hitungan seperti berikut (perhatikan gambar 12.10)
Pada daerah pengukuran di pilih tempat mendatar dan cukup rata.
Tempatkan dan tegakkan dua rambu berjarak sekitar 100-200 m.alat
sifat datar di tempatkan diantara kedua rambu pada dua posisi yang
berbeda (double stand). Dari masing-masing stand dilakukan
pengamatan dan pembacaan rambu muka dan belakang yang di

51
tunjukkan benang atas, benang tengah, dan benang bawah diafragma
horizontal.

Gambar : 11
Data ukuran :
a. Dari stand I :
 harga bacaan skala rambu ukur belakang : bacaan benang
atas=ba1, bacaan benang bawah = bb1 dan bacaan benang
tengah = bt1
 harga bacaan skala rambu ukur muka: bacaan benang atas =
ma1, benang tengah = mt1, benang bawah= mb1
b. dari stand II
di peroleh pula bacaan skala rambu, yaitu ba2, bt2, bb2, ma2, mt2,
mb2.
( ) ( )
( ) ( )
Dimana :
Tg α = kesalahan garis bidik.
Db = jarak alat waterpass ke rambu belakang.
Dm = jarak alat waterpass ke rambu muka.

52
Kontrol dan toleransi pengukuran

Untuk menghindari kesalahan dalam menaksir skala dan pencatatan


data, maka si pencatat harus selalu mengontrol setiap satu set data
pengamatan (BT, BA dan BB), Dimana:

2 BT ≈ BA + BB
Bila perbedaan harga antara 2 BT dengan (BA+BB) lebbih besar dari
2 mm, maka pengamtan uuntuk set bersangkutan harus langsung di
ulang.
Untuk mengetahui baik tidaknya hasil pengukuran sifat datar
(terutama sifat datar memanjang), maka di tentukan batas toleransi
pengukuran sifat datar sebagai berikut:
√ ( )
Dimana:
T = toleransi pengukuran sifat datar dalam satuan mm
K = konstanta tingkat ketelitian pengukuran, pada
umumnya untuk keperluan Praktis : k = 10
D = jarak antara 2 titik yang di ukur beda tingginya dalam
satuan kilometer (km) Jadi bila diukur beda tinggi antara
2 titik secara pulang pergi, maka selisih harga beda
tinggi pergi dan pulang tidak boleh lebih dari T

Prosedur Pengukuran

a. Jika jarak A dan B sangat berjauhan dan telah di prakirakan


bahwa pengukuran sifat datar Pulang-pergi dari A ke B tidak
mampu diselesaikan dalam 1 hari. Maka bagi lah pengukuran
dalam beberapa seksi ditandai dengan patok yang kuat dan d
prakirakan setiap seksinya mampu di selesaikan dalam 1 hari.
b. Sebelum alat waterpass di gunakan untuk pengukuran dan
begitupun setelah selesai pengukuran setiap harinya, harus

53
dilakukan pemeriksaan kesalahan garis bidik alat, sehingga
diketahui kesalahn garis bidik setiap harinya.
c. Pengukuran harus di lakukan dalam jumlahslag genap untuk
setiap seksinya, dan cara perpindahan rambu harus bergantian
secara selang seling sebagai rambu muka dan belakang. Hal ini
diperlukan agar kesalahan nol rambu dapat tereliminir langsung
dan tidak berpengaruh terhadap hasil ukuran
d. Rambu harus diletakkan diatas stratpot (tatakan) atau diatas
patok yang kuat
e. Usahakan penempatan alatsedemikian rupa sehingga untuk
setiap seksinya dapat di peroleh jumlah jarak alat ke rambu
belakang hamper sama dengan jumlah jarak alat ke rambu muka
f. Jarak maksimal antara alat ke rambu usahakan tidak lebih dari
60 meter, pada waktu terik matahari jarak tersebut harus di
perpendek sampai 40 m.
g. Alat harus didirikan pada tanah yang keras dan stabil.
h. Alat harus di payungi terutama pada waktu terik matahari.
i. Sebelum dilakukan pembacaan skala rambu, harus selalu
dilakukan pemeriksaan apakah gelembung nivo tabung telah di
tengah atau(berkoisidensi). Kalau belum maka lakukan
pengaturan dulu sampai gelembung nivo tepat di tengah,
kemudian baru dilakukan pembacaan skala rambu.
j. Pembacaan skala rambu harus selalu di dahulukan ke rambu
belakang, kemudian ke rambu muka.
k. Pada sat dilakukan pembacaan rambu usahakan rambu berdiri se
vertical mungkin.
l. Pembacaan ke skala rambu sebaiknya di mulai dari pembacaan
benang tengah kemudian benang atas baru dilanjutkan benang
bawah. Usahakan urutan pembacaan selalu konsisten agar tidak
terjadi kekekliruan dalam pencatatan data.

54
Metode Penghitungan Beda Tinggi

Gambar 12 Prinsip Pengukuran Beda Tinggi


a. Hitung pembacaan benang tengah ke skala rambu belakang(∑ b
t)dan jumlah pembacaan benang tengah ke skala rambu muka
(∑m t)
b. Hitung jumlah jarak alat ke rambu belakang (∑D b) dan jumlah
jarak alatke rambu muka (∑D m).Harga Db dan D m di peroleh
dari hasil hitungan optis.
c. Beda tinggi ukuran satu seksi (= satu hari) adalah :
( )
d. Jika pengaruh kesalahan garis bidik di perhitungkan, maka
hitunglah harga rata-rata kesalahan garis bidik dari data-data
yang di peroleh pada pemeriksaan alat yang dilakukan sebelum
dan sesudah pengukuran pada hari tesebut.
e. Beda tinggi ukuran setelah di berikan koreksi garis bidik, adalah
( ) ( )
f. Jika di perhitungkan kesalahan pengaruh refraksi dan
kelengkungan bumi, maka beda tinggi ukuran adalah :
( ) ( ) .(

Penghitungan beda tinggi antara dua titik yang diukur dengan


waterpass dapat dihitung dengan rumus

55
ΔH = BTB – BTM
Keterangan :
BTB : Benang tengah belakang
BTM : Benang tengah muka
Istilah-istilah :
- 1 slag adalah satu kali alat berdiri untuk mengukur rambu
muka dan rambu belakang.
- 1 seksi adalah suatu jalur pengukuran sepanjang ± 1-2 km
yang terbagi dalam slag yang genap dan diukur pulang pergi
dalam waktu satu hari.
(Nurjati, 2004 )
Kesalahan-Kesalahan Pada Sipat-Datar.
Kesalahan-kesalahan pada sipat-datar dengan menggunakan
instrumen sipat datar diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Kesalahan Petugas :
 Pengaturan instrumen sipat datar yang tidak sempurna
(penempatan gelembung nivo yang tidak sempurna dan
sebagainya).
 Instrumen sipat datar tidak ditempatkan pada jarak yang sama
dari kedua rambu.
 Kesalahan pembacaan.
 Kesalahan pencatatan.
2. Disebabkan oleh alat.
 Penempatan rambu yang tidak betul-betul vertikal.
 Rambu tipe perpanjangan seperti misalnya rambu Sopwith
yang perpanjangannya dirasakan kurang sempurna.
 Disebabkan terbenamnya rambu, karena tidak ditempatkan
pada tumpuan yang keras.
3. Kesalahan yang disebabkan oleh alam :
 Pengaruh sinar matahari langsung : sinar matahari langsung
dapat merubah kondisi intrumen sipat datar dan karenanya

56
merubah garis kolimasi. Pada sipat datar teliti selama
observasi, instrumen sipat datar harus terlindung dari sinar
matahari. Demikian pula, pemuaian atau penyusutan skala
rambu harus dikoreksi disesuaikan dengan temperatur rambu
tersebut.
 Perubahan posisi intrumen sipat datar dan rambu-rambu :
Karena beratnya sendiri, baik instrumen sipat datar maupun
rambu akan dapat terbenam, jika ditempatkan di atas tanah
yang lunak. Pada tempat-tempat seperti itu, penyangga statif
dan rambu haruslah dibuat khusus seperti piket, patok atau
harus dipilih tempat-tempat padat. Angin yang berhembus
kencang akan menyulutkan pekerjaan pengukuran, dan untuk
menghindarinya dapat digunakan perisai pelindung atau
menggunakan rambu yang pendek.
 Pengaruh refraksi cahaya : sebagaimana dimaklumi, bahwa
berkas cahaya yang melintasi udara dengan kerapatan yang
berbeda-beda akan direfraksikan. Sedangkan dekat di atas
permukaan tanah temperatur udara sangat berubah-ubah dan
karenanya perubahan kerapatannyapun besar pula. Karena itu
pembacaan rambu menjadi sulit dan mungkin sekali tidak teliti.
Untuk meningkatkan ketelitiannya, jarak bidikan haruslah
sependek mungkin. Selanjutnya diusahakan agar posisi
instrumen sipat datar terletak di tengah-tengah antara kedua
rambu.
 Pengaruh lengkung bumi : karena permukaan bumi tidaklah
datar, akan tetapi berbentuk speris, maka lengkung permukaan
bumi haruslah diperhitungkan. Tetapi hal ini merupakan
problema yang kecil pada sipat datar. Lebih-lebih apabila
instrumen sipat datar ditempatkan di tengah-tengah antara
kedua rambu, maka pengaruhnya dapat diabaikan.
(Sosrodarsono, 1983)

57
Sipat Datar Profil.

Sipat datar profil bertujuan untuk menentukan bentuk permukaan


tanah atau tinggi rendahnya permukaan tanah sepanjang jalur
pengukuran, baik secara memanjang maupun melintang.
Pengukuran profil dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tinggi
rendahnya permukaan tanah sepanjang jalur pengukuran, yaitu
dengan mengukura ketinggian dari masing-masing titik. Hasil
pengukuran ini merupakan informasi untuk perencanaan jalan raya,
jalan kereta api, irigasi jalur pipa dan lain-lain, seperti dalam:
1. Menentukan gradien yang cocok untuk pekerjaan konstruksi.
2. Menghitung volume pekerjaan.
3. Menghitung volume galian dan timbunan yang perlu disiapkan.
Pengukuran Sipat Datar Profil dibagi menjadi dua pekerjaan yaitu
sipat datar profil memanjang dan sipat datar profil melintang
sedangkan pada tahap penggambaran, biasanya dilakukan
penggambaran situasi sepanjang jalur pengukuran sipat datar profil
memanjang maupun melintang dengan skala yang berbeda agar
kondisi tanah secara vertikal akan lebih jelas terlihat. (Nurjati, 2004 )

a. Profil Memanjang

Pelaksanaan pengukuran Sipat datar profil memanjang tidak jauh


berbeda dengan sipat datar memanjang, yaitu melalui jalur
pengukuran yang nantinya merupakan titik ikat bagi sipat datar
profil melintangnya, sehingga mempunyai ketentuan sebagai
berikut :
• Pengukuran harus dilakukan sepanjang garis tenah (as) jalur
pengukuran dan dilakukan pengukuran pada setiap perubahan
yang terdapat pada permukaan tanah.
• Data ukuran jarak dengan pita ukur dan dicek dengan jarak
optis.

58
Gambar 13 Profil Memanjang Tampak Atas
Cara Pengukuran :
 Alat di Atas Titik.

Gambar 14 Profil Memanjang Alat di Atas Titik


1. Tempatkan alat sipat datar diatas patok (A).
2. Lakukan centering, sehingga alat tepat di atas titik A.
3. Gelembung nivo ketengahkan dengan 3 skrup klap.
4. Ukur tinggi alat diatas patok.
5. Bidik rambu pada titik 1 kemudian baca BA, BT dan BB.
6. Hitung d (jarak) dari alat ke rambu, d=(BA-BB).100
7. Lakukan hal yang sama (v, vi, vii) pada setiap titik relief (ii, iii,
dst) ini pada seksi AB, untuk pengukuran pada seksi BC, maka
alat isa dipindahkan pada titik B.

59
8. Lakukan urut-urutan dari nomor i s/d vii.
9. Hitungan : H1 = HA+∆HA1
H2 = HA+∆HA2
Hn = HA+∆HAn (Nurjati, 2004 )
b. Profil Melintang
Pelaksanaan pengukuran sipat datar profil melintang dilakukan
setelah pengukuran sipat datar profil memanjang, jarak antar
potongan melintang dibuat sama, sedangkan pengukuran kearah
samping kiri dan kanan as jalur memanjang lebarnya dapat
ditentukan sesuai perencanaan dengan pita ukur misalnya pada
jalan raya, potongan melintang dibuat dari tepi yang satu ke tepi
yang lain. Arah potongan melintang tegak lurus dengan as, kecuali
pada titik tikungan (contoh pada titik B) maka potongan diusahakan
membagi sudut terseut sama besar atau bila perlu dibuatkan 2
buah potongan melintang yang masing-masing tegak lurus pada
arah datang dan arah belokan selanjutnya.

Gambar 15 Arah Potongan Melintang


Cara Pengukuran :
Alat di Atas Titik

60
1. Tempatkan alat di atas titik A.
2. Lakukan centering.
3. Gelembung nivo ketengahkan dengan 3 skrup klap.
4. Ukur tinggi alat diatas patok.
5. Bidik rambu diatas titik 1. Baca BA, BT dan BB.
6. Hitung jarak optis dari alat ke rambu 1, d =(BA-BB).100
7. Lakukan hal yang sama (v,vi,vii) pada titik-titik 2, 3, 4 dan
seterusnya sebagai titik-titik relief.
8. Demikian juga point 1 s/d 8 dilakukan pada setiap potongan
melintang.

B. Materi Pokok 2 : Teknik Perawatan Alat Ukur Jenis Optik.

Merawat dan memeriksa alat merupakan dua kegiatan yang tidak kalah
pentingnya dari membuat, memperbaiki dan menggunakannya.
Merawat alat dimaksudkan sebagai memelihara alat dengan tujuan :
a. Agar alat dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama
b. Agar alat dapat digunakan dengan lancar tidak terjadi hambatan,
seperti macet atau bagian tertentu lepas
c. Untuk mencegah terjadinya kerusakan, agar alat selalu dapat
digunakan.
Dalam melakukan perawatan alat alangkah baiknya bila sekaligus
dilakuka pemeriksaan terhadap alat tersebut apakah masih laik atau tidak
untuk digunakan. Dari hasil pemeriksaan akan diketahui selain laik atau
tidaknya untuk digunakan atau dioperasikan juga diketahui perlunya
melakukan perbaikan, agar kerusakan yang terjadi tidak lebih parah.
Beberapa kerusakan yang mengakibatkan tidak atau kurang laiknya dari
beberapa alat, antara lain seperti tersaji pada Tabel berikut
Tabel. 5 Di bawah ini menjelaskan beberapa kerusakan dan atau kurang
laiknya beberapa alat.

61
Dari hasil pemeriksaan akan diketahui selain layak atau tidaknya alat
untuk digunakan atau dioperasikan, juga diketahui perlunya dilakukan
perbaikan agar kerusakan yang terjadi tidak menjadi lebih parah.
Beberapa kerusakan yang mengakibatkan tidak atau kurang layaknya dari
beberapa alat, antara lain sebagai berikut :
Jenis Alat Jenis Kerusakan
Pita Ukur - Seluruh atau sebagian skala
angkanya sudah tidak terlihat jelas
atau terhapus
- Ujungnya awal pita ukur/ meteran
sudah terputus, hingga awalnya
tidak nol lagi
Kompas - - Jarum magnit sudah tiddak
dapat bergerak secara bebas lagi
diporosnya. Hal ini dapat terjadi
karena porosnya rusak atau
cairan yang tadinya ada di dalam
kompas sebagian atau seluruhnya
sudah habis keluar/ menguap
- - Skala angkanya sebagian atau
seluruhnya sudah tidak terlihat
jelas lagi.
Odometer - Rodanya sudah tidak bulat lagi
- Rodanya sering macet/ tidak
berputar
- Bunyi atau alat penghitungnya
sudah rusak.
Klinometer - Nivonya rusak, atau sebagian
airnya keluar, sehingga bentuk
gelembung nivonya tidak ada

62
- Kaca yang ada benang silang
untuk melakukan pembidikan
rusak atau goresan benang
silangnya sudah tidak jelas/ tidak
ada.
- Setengah lingkaran
berskala/klinometernya rusak
Sipat Datar - Garis bidik tidak sejajar dengan
garis arah nivo
- Sumbu kesatu tidak tegak
- Diafragma horizontal tidak
mendatar, atau diafragma vertical
tidak tegak
- Lensa teropong rusak atau kotor/
berjamur
- Teropong tidak bias diputar
- Nivo kotak rusak
- Bacaan sudut tidak terlihat
- Sekrup sekrup penyetel focus dan
penggerak halus horizontal tidak
berfungsi
Sipat Ruang/ Theodolite - Sumbu kesatu tidak tegak
- Sumbu kedua tidak mendatar
- Diafragma horizontal tidak
mendatar atau diafragma vertical
tidak tegak
- Lensa teropong rusak atau kotor/
berjamur
- Teropong tidak bisa diputar
- Nivo kotak dan atau nivo tabung

63
rusak
- Bacaan sudut horizontal dan atau
vertical tidak telihat
- Sekrup sekrup penyetel focus dan
gerakan halus horizontal dan atau
vertical tidak berfungsi

Adapun pemeliharaan atau perawatan yang dilakukan terhadap alat alat


di atas antara lain seperti tersaji pada Tabel berikut.
Jenis Alat Jenis Perawatan
Meteran Kain Linen - Gulungan pada rolnya diatur
serapih mungkin
- Meminyaki alat pemutar rolnya
Meteran Baja - Gulungan meteran pada rolnya
perlu diminyaki agar tidak
berkarat dan mudah digulung
kedalam atau ditarik keluar
- Meminyaki alat pemutar rolnya
- Selalu dalam keadaan bersih
Kompas - Dibersihkan
Odometer - Menjaga selalu dalam keadaan
bersih
- Meminyaki poros rodanya
Klinometer - Menjaga selalu dalam keadaan
bersih
- Selalu tersimpan pada kotak
tempatnya
- Meminyaki poros setengah
lingkarannya
Sipat Datar - Menjaga selalu dalam kedaan

64
bersih
- Bila terkena hujan segera
dikeingkan
- Tersimpan di tempat yang
kering (dilemari yang diberi
lampu agar temperaturnya
konstan)
- Meminyaki bagian gerakan
horizontal, sekrup pemfokus
dan gerakan halus horizontal
Sipat Ruang/Theodolite - Menjaga selalu dalam keadaan
bersih
- Bila terkena hujan segera
dikeringkan
- Tersimpan di tempat yang
kering (dilemari yang diberi
lampu agar temperaturnya
konstan)
- Meminyaki bagian gerakan
horizontal dan vetikal, sekrup-
sekrup pemfokus dan gerakan
halus horizontal dan vertikal

Mengelola Hasil Perawatan Beberapa Alat Survei dan Pemetaan


1. Merawat Beberapa Alat Survei dan Pemetaan
1.1. Alat :
1) Meteran Kain Linen
2) Meteran Baja
3) Kompas
4) Odometer
5) Klinometer

65
6) Sipat Datar
7) Sipat Ruang

1.2. Bahan
1) Kain Lap
2) Air dan Ember
3) Minyak Kelapa/ Sawit

1.3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Bekerjalah dengan hati-hati
1.4. Langkah Kerja
Persiapan alat dan bahan yang diperlukan
Perhatikan dan catat yang perlu dari penjelasan instruktur
Lakukan perawatan alat-alat dengan cara sebagai berikut :
a. Pita Ukur Kain Linen
- Gulungan pada rolnya diatur serapih mungkin
- Meminyaki alat pemutar rolnya
b. Pita Ukur Baja
- Gulungan pada rolnya diminyaki agar tidak berkarat
dan mudah digulung kedalam atau keluar
c. Kompas
- Dibersihkan
d. Odometer
- Menjaga selalu dalam keadaan bersih
- Meminyaki poros rodanya
f. Klinometer
- Usahakan selalu dalam keadaan bersih
- Selalu tersimpan pada kotak tempatnya
- Meminyaki poros setengah lingkarannya
g. Sipat Datar/Waterpass
- Usahakan selalu dalam keadaan bersih

66
- Bila terkena hujan segera dikeringkan
- Simpan di tempat yang kering (di lemari yang diberi lampu
minimal 10 watt)
- Minyaki bagian gerakan horizontal , skrup-skrup penyetel
fokus dan
gerakan halus horizontal
i. Sipat Ruang/Theodolite
- Usahakan selalu dalam keadaan bersih
- Bila terkena hujan segera dikeringkan
- Simpan di tempat yang kering (di lemari yang diberi lampu
minimal 10 watt)
- Minyaki bagian gerakan horizontal dan vertikal, skrup-
skrup
Penyetel fokus dan gerakan horizontal seta vertikal
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan peralatan
survei:
1. Selalu letakkan kotak plastik – pembawa pada sisinya, kemudian
buka penutupnya, bila ingin mengeluarkan atau menyimpan alat.
2. Gunakan tripod yang mempunyai sekrup tripod dengan diameter 35
mm – dengan ulir 2 mm atau 5/8 dengan 11 uliran dalam 1 inch.
3. Untuk instrument yang menggunakan tenaga baterai tombolnya
harus dalam posisi off, sesudah dan sebelum memulai pelaksanaan
pengukuran dan harus dilakukan pengisian ulang baterai (charge)
dengan menggunakan baterai charger yang sesuai secara berkala
tiap 2 minggu 1 kali selama ± 2 jam
4. Putarlah selalu sekrup penggerak dan sekrup penyetel searah
dengan arah jarum jam (mengencangkan) dan hentikan ketika dalam
pengaturan sebuah arah pandangan.
5. Untuk pelaksanaan pengukuran presisi, instrument dan tripod selalu
harus dilindungi dengan payung , guna perlindungan terhadap
penyinaran langsung sinar matahari.

67
6. Lindungi instrument dari benturan dan getaran pada saat pengiriman
dan membawa alat.
7. Setelah pengunaan instrument, bersihkan debu pada seluruh
permukaan dengan kuas, kemudian keringkan dengan kain
pembersih. Simpan didalam kotak pembawa pada lokasi yang
mempunyai ventilasi baik dan kering.
8. Bila permukaan lensa harus dibersihkan, pertama-tama bersihkan
debu atau kotoran dengan kuas atau air blower, kemudian hapus
dengan penekaan yang secukupnya. Dapat juga dilakukan dengan
kain/tissue dibasahi alkohol atau campuran alkohol dengan ether,
kemudian gosok permukaan lensa hati-hati dengan gerakan
melingkar kearah keluar dari titik pusatnya.
9. Bersihkan kotak plastik pembawa dengan air atau detergent biasa.
Jangan gunakan thinner atau bensin atau bahan kimia lainnya.
10. Jangan membongkar teleskop atau bagian lainnya dari instrument.
Bila dianggap harus diperbaiki atau diservice, hubungi agen yang
sudah memiliki tenaga ahli dan perlengkapan modern.

68
C. Materi Pokok 3 : Teknik Pengecekan Alat Ukur Jenis
Optik.
 Pengecekan Alat Pesawat Penyipat Datar.
 Pengecekan/pengaturan sumbu I.
 Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa
kelengkapannya. Catat merk, tipe dan nomor seri alat ukur
yang dipergunakan.
 Pilih tempat yang aman untuk mendirikan alat ukur
waterpass (tanah tidak rapuh; terhindar dari gangguan lalu
lintas, dsb).
 Dirikan Statif dengan aman dan sesuai dengan keadaan
setempat maupun juru ukur.
 Pasang alat ukur waterpass diatas statif dan eratkan dengan
sekrup pengunci hingga aman.
 Set up waterpass dengan melevelkan, cara ini sama dengan
leveling teodolit.
 Lindungi alat ukur waterpass dari panas langsung maupun
air (hujan).
 Pengecekan Garis Bidik sejajar Garis arah Nivo.
 Persiapkan peralatan yang dibutuhkan serta periksa
kelengkapannya. Catat nomor seri alat ukur yang
dipergunakan !
 Ukur tiga buah penggal garis lapangan yang sama panjang
(misal 30 m) dan berada dalam garis lurus, selanjutnya tiap
titik diberi notasi A, B, C dan D;
 Ukur beda tinggi antara A dan C, alat berdiri di B. catat
bacaan untuk rambu A (ba, btA1 dan bb), dan rambu C (ba,
btC1 dan bb). Karena jarak AB=BC, maka (btC1-
btA1)=(btC0-btA0); hitung beda tinggi (A-C)1=bt0-btA1

69
 Pindahkan instrument ke titik D. catat bacaan untuk rambu A
(ba, btA2 dan bb) dan rambu C (ba, btC2 dan bb), hitung
beda tinggi (A-C)2=btC2-btA2.
 Jika (btC1-btA1) tidak sama dengan (btC2-btA2) berarti garis
bidik tidak sejajar garis arah nivo;
 Langkah koreksi dapat dilaksanakan sebagai berikut :
· Hitung harga koreksi (K) dengan rumus = 3/2 {(btc2 – btA2) –
(btC1 – btA1)}
· Untuk waterpass tanpa sekrup ungkit, arahkan garis bidik
pada bacaan ((btA2) – K), pada rambu A dengan memutar
skrup koreksi diafragma atas dan bawah dengan pen koreksi
(untuk pelaksanaan kegiatan ini hanya didemonsttrasikan
oleh instruktur masing-masing).
· Setelah dikoreksi hasilnya dicatatat : untuk rambu A (ba,
btA3 dan bb) dan rambu C (ba, btC3 dan bb)
 Pengecekan : jika (btC1-btA1)=(btC3-btA3) berarti garis bidik
sejajar garis arah nivo.
 Pengecekan Alat Theodolit.
 Pengecekan Kesalahan Indeks Vertikal.
 Bidik sebuah rambu sejauh + 40 m dalam posisi biasa, dengan
sudut miring kira-kira 0°.
 Kunci gerakan vertical.
 Ketengahkan gelembung nivo skala tegak dengan skrup
pengungkit dan buat sudut miring tepat 0° dengan gerakan
halus tegak
 Baca benang tengah misal X
 Putar teropong menjadi luar biasa dan arahkan ke rambu
 Ketengahkan gelembung nivo skala tegak dan sudut miring
dibuat tepat 0°.
 Baca benang tengah rambu. Bila bacaan x berarti tidak ada
salah indek, sedang bila bacaan jadi y berarti ada salah indek.

70
 Untuk menghilangkan salah indek, geserkan bacaan rambu
menjadi 1/2(x + y) dengan skrup gerakan halus vertikal (sudut
miring tidak nol lagi).
Dengan skrup pengungkit sudut miring dibuat nol lagi, dan ini
berarti gelembung nivo tidak ditengah. Dengan skrup koreksi
nivo, gelembung nivo diketengahkan.
 Ulangi pekerjaan ini sampai salah indek betul-betul nol.

 Pengecekan Garis Bidik Tegak Lurus Sumbu II (Kesalahan


Indeks Horisontal).
Kesalahan ini diisebabkan karena garis bidik tidak tegak lurus
terhadap sumbu II. Kesalahan ini sering disebut sebagai salah
kolimasi. Besar kesalahan ini dapat dilihat/dihitung dari hasil
pembacaan biasa (B) dan luar biasa (LB).
2 β = 180° - (B – LB).
Β = [180° - (B – LB)] /2
Untuk menghilangkan pengaruh kesalahan ini, dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
 Siapkan alat ukur dan perlengkapanya. Catat nomor seri alat
ukur teodolite yang digunakan.
 Tentukan/ pilih satu titik dan dirikan alat ukur teodolite diatas
titik tersebut.
 Atur/ set up theodolit.
 Tentukan 3 (missal A, B, dan C) titik di sembarang tempat
yang akan dijadikan target pengamatan. Tandai titik-titik
tersebut dengan tanda silang atau paku payung atau spidol.
Titik A (referensi) dipilih titik yang paling kiri, titik C titik yang
paling kanan.
 Bidik target A (langkah 4) dalam posisi teropong BIASA
(piringan vertikal di sebelah kiri pengamat), kemudian baca

71
dan catat bacaan horizontalnya, serta catat bacaan
vertikalnya (gunakan formulir).
 Lakukan kegiatan langkah 5 diatas untuk titik B, dan C.
 Putar teropong menjadi LUAR BIASA (piringan vertikal
disebelah kanan pengamat).
 Bidik target yang paling “kiri” (yang dibuat dilangkah 4) dalam
posisi BIASA (piringan vertikal disebelah kiri pengamat),
kemudian baca dan catat besarnya bacaan horisontal, serta
bacaan vertikal.
 Pengecekan sentring Optis.
 Pasang patok di tempat yang aman, beri tanda silang atau
titik di bagian tengahnya, bisa ditancapkan paku seng.
 Siapkan statif, buku ketiga klemnya. Tarik kaki statif
sedemikian hingga panjangnya sesuai dengan tinggi
pengukur, kurang lebih setinggi dagu. Lalu, putar
kencangkang secukupnya klem statif dan dirikan statif;
 Pasang teodolit pada statif dan putar secukupnya sekrup
penghubung statif teodolit.
 Putar sekrup ABC (26) sehingga berposisi “normal” atau
tengah-tengah. Tidak ada kepastian mana yang skrup A, B,
atau C dari ketiga sekrup tersebut. Pilihannya relatif dan
terserah Pengamat.
 Angkat statif dan dirikan diatas patok yang telah
ditancapkan di tanah, perkirakan kaki statif membentuk
segitiga sama kaki dan tinggi teodolit sesuai dengan mata
pengukur;
 Amati patok dengan optical plument (1) sedemikian rupa
sehingga benang silang optical plumment mendekati tanda
dengan patok. Bersamaan dengan itu, perkirakan dengan
mata posisi bagian bawah teodolit mendatar;

72
 Tancapkan ketiga kaki dengan menginjak statif bagian
bawah;
 Tengahkan / impitkan kembali tanda tengah mikroskop dan
tanda tengah patok dengan memutar skrup ABC;
 Amati nivo kotanya (24), tengahkan gelembungnya dengan
menggunakan sekrup kaki-kaki statif yang paling “efektif”
secara bergantian dinaikanturunkan secara seimbang.
Leveling pendekatan dilakukan dengan bantuan sekrup kaki
statif dalam tahapan mengetengahkan gelembung nivo
kotak. Oleh karena itu, perlu dipilih sekrup mana yang
dikendorkan untuk menaikan atau menurunkan kaki statif.
Agar efektif pergeserannya, pilihlah sekrup yang sejajar
dengan gelembung nivo-tengah nivo;
 Amati nivo tabung, tengahkan gelembungnya dengan
menggunakan sekrup ABC dengan metode “penyikuan”
kemudian putar pada sembarang posisi, (lihat cara leveling).
 Amati apakah tanda tengah optikal plummet (1) apakah
masih berhimpit dengan tanda tengah patok ? Jika ya, maka
teodolit siap digunakan. Jika belum, impitkan lagi dengan
cara membuka sekrup statif-teodolit lalu geser teodolit sambil
diamati melaui optical plummet tadi.
 Amati nivo tabungnya, jika bergeser tengahkan dengan cara
seperti pada tahap 10.
Secara rinci tahapan sentering unting-unting sebagai berikut:
 Tahap 1 sampai dengan 5 sama dengan sentering optis;
 Tepatkan unting-unting yang bebas bergantung ke tengah-
tengah patok (Gb 38) denagn cara menggeser-geser kaki
statif;
 Amati nivo tabung, tengahkan sekrup ABC dengan prinsip
“siku-siku”, kemudian putar pada sembarang posisi.

73
 Jika nivo masih berada di tengah-tengah pada sembarang
posisi, teodolit telah sentering.

 Pengecekan Sumbu II.

Gambar 16
 Arahkan teropong ke P dalam posisi biasa
 Gerakkan teropong ke mistar bawah misalnya Q
 Putar teropong menjadi luar biasa dan arahkan ke Q
 Gerakkan teropong ke mistar atas bila tepat ke P berarti
sumbu II telah mendatar, sedangkan bila tidak tepat ke P
maka sumbu II miring
 Untuk membuat sumbu II mendatar, geserkan garis bidik ke
Po (tengah-tengah antara P1 dan P) dengan skrup koreksi
sumbu II yang terletak pada penyangga (bagian tengah
theodolit).

 Pengecekan/pengaturan garis jurusan nivo tegak lurus sumbu I.


 letakkan theodelit diatas statip.
 letakkan nivo tabung sejajar dengan 2 sekrup kiap.
 ketengahkan gelembung nivo tabung, kemudian putar 180° .

74
 bila gelembung nivo tetap ditengah, putar nivo 90° dan
ketengahkan gelembung nivo dengan skrup kiap ke tiga.
 bila gelembung nivo lari dari tengah maka pindahkan
gelembung nivo ketengah separuh dari perpindahannya tadi
dengan menggunakan sekrup koreksi nivo
 ulangi pekerjaan diatas sampai gelembung nivo tetap berada
ditengah walaupun teropong/nivo diputar kesegala arah.
 Pengecekan/pengaturan Garis Bidik.

Gambar 17
Untuk memeriksa apakah benang diafragma tegak maka bidiklah
unting-unting yang digantung sejauh + 25 m.
Bila benang diafragma tidak berimpit dengan benang unting-
unting maka buka skrup pengunci diafragma kemudian putar
diafragma sampai benang diafragma berimpit dengan benang
unting-unting tadi.
Untuk memeriksa apakah pusat teropong berimpit dengan titik
potong benang silang maka bidiklah sebuah rambu berjarak + 75
m dalam posisi biasa. Kunci gerakan tegak teropong dan
ketengahkan gelembung nivo skala tegak dan catat bacaan sudut
tegak misalnya 90° dan bacaan ke rambu misalnya P. Kemudian
teropong diputar menjadi luar biasa dan bidik rambu. Set bacaan
sudut tegak 90° dan baca bacaan ke rambu. Bila bacaan rambu
tetap P maka pusat teropong telah berimpit dengan titik potong
benang silang, dan bila tidak sama maka geserkan benang

75
diafragma mendatar setengah dengan skrup koreksi diafragma a
dan b.
Ulangi pekerjaan ini sampai bacaan sudut tegak sama dan
bacaan ke rambu juga sama dalam posisi teropong biasa dan luar
biasa.
Misalnya :
Posisi teropong biasa :
Bacaan sudut tegak : 90°
Bacaan ke rambu : 1,350 m
Posisi teropong luar biasa :
Bacaan sudut tegak : 90°
Bacaan ke rambu : 1,350 m
 Pengecekan Elliminasi Paralaks
Tahapan eliminasi paralaks : agar terhidar dari paralaks ini,
benang silang atau stadia hendaknya difokuskan secara hati-hati
dengan eyepiece (19); yang terletak dekat lensa okuler;
sehingga benang silang itu jelas dan tajam. Untuk membantu
melakukannya 76eri dengan mengarahkan teleskop 76eriodi
langit atau ke permukaan cerah yang seragam. Putar sekrup
eyepiece sehingga benang silang tajam-hitam, ini berarti skala
dioptrik lensa telah diset tepat, sesuai dengan mata pengamat.
Sekali terpenuhi, kondisi ini akan konstan untuk semua bidikan.
Untuk mengecek paralaks, pengamat menggerakan kepala
sedikit dari beberapa sudut pandang. Jika ada gerakan antara
target dan benang silang, lengan focusing lensa dalam (16)
digunakan untuk mengoreksinya. Jika gagal, teleskop diarahkan
lagi ke langit dan pemfokusan eyepiece dicek lagi. Umumnya,
dengan hanya sedikit gerakan lengan focusing, paralaks sudah
76eri dikoreksi.

76
Setelah pengecekan telah dilakukan, maka sebaiknya setiap alat
senantiasa dilakukan kalibrasi untuk menjamin keakuratan hasil
pengukuran.
Kalibrasi menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabulary of
International Metrology (VIM) adalah serangkaian kegiatan yang
membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh 77eriodic77t ukur
atau 77eriod pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan
nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur
dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, kalibrasi adalah kegiatan untuk
menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan
bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang
mampu telusur (traceable) ke standar nasional untuk satuan ukuran
dan/atau internasional.
Manfaat kalibrasi adalah sebagai berikut :
1. untuk mendukung 77eriod mutu yang diterapkan di berbagai
77eriodic pada peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
2. Dengan melakukan kalibrasi, 77eri diketahui seberapa jauh
perbedaan (penyimpangan) antara harga benar dengan harga yang
ditunjukkan oleh alat ukur.
Interval kalibrasi:
1. Kalibrasi harus dilakukan secara 77eriodic
2. Selang waktu kalibrasi dipengaruhi oleh jenis alat ukur, frekuensi
pemakaian, dan pemeliharaan.
3. Bisa dinyatakan dalam beberapa cara :
 Dengan waktu kalender (6 bulan sekali)
 Dengan waktu pemakaian (1.000 jam pakai, dst)
 Kombinasi cara pertama dan kedua, tergantung mana yg lebih
dulu tercapai.

77
Secara umum, kalibrasi untuk alat-alat ukur tanah jenis optik adalah :
1. Penyetelan Nivo kotak sipat datar.
 Dirikan instrument pada tripod dan seimbangkan hati-hati
gelembung nivo kontak dengan tiga sekrup penyetel.

Gambar 18

 Putar teleskop 180 0terhadap sumbu vertikal. Bila gelembung tetap


seimbang, penyetelan tidak diperlukan. Bila gelembung tergeser
dari pusatnya; penyetelan harus dilakukan.

Gambar 19
 Kencangkan sekrup penyetel nivo kontak pada sisi kearah mana
gelembung harus bergeser dengan pen koreksi. Ini akan
mengembalikan gelembung ke arah pusat, namun gerakkan
gelembung hanya setengah dari kesalahannya.
 Sisa yang setengah dihilangkan dengan menggunakan tiga sekrup
penyetel.
 Sekarang gelembung akan tetap seimbang walau teleskop diputar
terhadap sumbu vertikal. Bila tidak, ulangi pekerjaan diatas hingga
gelembung tetap seimbang walau teleskop diputar-putar terhadap
sumbu vertikal.

78
Gambar 20

2. Penyetelan nivo tabung.


Penyetelan ini diperlukan bila, sumbu nivo tabung tegak lurus sumbu
vertikal.
 Tempatkan nivo tabung sejajar garis yang melalui pusat dua sekrup
penyetel nivo, sekrup penyetel nivo, sekrup A dan B. Guna dua
sekrup penyetel saja dan seimbangkan gelembung udara nivo
tabung.
 Putarkan instrument 180 0
terhadap sumbu vertikal dan periksa
pergerakkan gelembung udara nivo tabung. Bila gelembung udara
berpindah, lakukan penyetelan selanjutnya.
 Stel sekrup nivo dengan pen koreksi dan kembangkan kembali
gelembung udara nivo tabung. Namun, koreksilah setengah dari
penyimpangan dengan metode ini.
 Setengah yang lain dari penyimpangan dikoreksi dengan sekrup
penyetel nivo A dan B.
 Putar instrument 180 0
terhadap sumbu vertikal dan periksa
pergerakkan gelembung udara. Bila gelembung udara tetap
berpindah, ulangi penyetelan ini.

79
Gambar 21

3. Penyetelan Kolimasi Instrument sipat datar.


 Pasang instrument pada tripod ditengah-tengah dua dinding, kira-
kira dengan jarak 50 meter.

Gambar 22
 Seimbangkan instrument dengan baik, dengan menyeimbangkan
gelembung nivo kontak, gunakan tiga sekrup penyetel.
 Tempatkan dua penggaris yang sama pada kedua dinding dan
baca secara bergantian kedua penggaris pada garis pandangan
horozontal, menggunakan angka yang sama pada kedua

80
penggaris. Bila perlu, atur penggaris itu naik atau turun, untuk
menyamakan angka yang sama.

Gambar 23
 Pindahkan instrument 2 atau 3 meter dari penggaris dan seimbang
sekali lagi gelembung nivo dengan tiga sekrup penyetel.

Gambar 24
 Kolimasikan sekali lagi kedua penggaris pada garis pandangan
horizontal dan baca angka pada penggaris. Bila pembacaan pada
kedua penggaris adalah sama, tidak diperlukan penyetelan.

Gambar 25
Bila pembacaannya lain, penyetelan perlu dilakukan sebagai berikut:
 Amati penggaris yang terjauh geserkan benang silang horizontal
naik atau turun hingga garis tersebut berhimpit dengan pembacaan
yang sama seperti pada pembacaan penggaris yang terdekat,
dengan sekrup penyetel benag silang, yang akan terlihat bila
penutup lensa bidik dibuka.

81
Gambar 26
Pertama, kendurkan sekrup penyetel, pada sisi arah benang silang
horizontal harus digeser, kemudian kencangkan sekrup penyetel
pada sisi yang berlawanan dengan jumlah putaran yang sama.
Pada saat melakukan penyetelan ini, jangan kendurkan atau
kencangkan terlalu banyak pada satu saat, tetapi lakukan
penyetelan sedikit demi sedikit dan usahakan tegangan sekrup-
sekrup adalah sama pada tiap saat, dengan memutar sekrup
dengan jumlah putaran yang sama. Putarlah berlawanan arah
jarum jam untuk mengendurkan dan searah jam untuk
mengencangkan.
 Setelah menyelesaikan penyetelan, periksa sekali lagi untuk
melihat apakah angka-angka yang sama terbaca pada kedua
penggaris bila diperiksa dengan cara diatas, bila tidak ulangi
pekerjaan ini.

4. Penyetelan benang silang.


 Dirikan instrument pada tripod dan seimbangkan hati-hati
gelembung nivo kontak dengan 3 sekrup penyetel.
 Amati sebuah target dengan jarak 40 meter atau pasangkan
sebuah tanda pada rambu ukur.
 Impitkan benang silang horizontal pada tanda tersebut, hingga
tanda tersebut tertutup benang silang.
 Putar sekrup penggerak halus horizontal sedemikian hingga
benang silang horizontal mengikat tanda tadi.

82
 Bila tanda target tadi berpindah dari benang silang horizontal,
penyetelan perlu dilakukan pada gelas retikul.
 Lepaskan sekrup penutup lensa bidik, dan akan terlihat tiga sekrup
pengencang, sebagai tambahan dari dua sekrup penyetel
diafragma yang digunakan pada saat kolimasi instrument.
 Kendurkan ketiga sekrup pengencang perlahan-lahan dan putar
gelas retikul dengan sangat perlahan-lahan karena tidak terlalu
banyak penyetelan yang diperlukan.
Bila putaran masih memerlukan koreksi sekali lagi, kehati-hatian
yang maksimum diperlukan pada saat melakukan penyetelan ini.
Akhirnya, kencangkan semua sekrup pengencang dengan jumlah
putaran yang sama seperti pada waktu mengendurkan.
 Periksa sekali lagi dan lihat apakah tanda target masih bergeser
dari benang silang horizontal bila teleskop diputar dengan sekrup
penggerak halus. Bila masih, ulangi pekerja diatas sekali lagi
dengan penuh kehati-hatian.

5. Penyetelan benang silang vertikal.


Penyetelan ini diperlukan bila benang silang vertical tidak terletak
pada bidang tegak lurus sumbu horizontal teleskop (sebab benang
silang ini harus memungkinkan untuk penggunaan setiap titik pada
benang guna pengukuran sudut horizontal atau pelurusan garis)
 Pasang instrument diatas tripod dan seimbangkan instrument
dengan hati-hati.
 Arahkan benang silang pada titik yang telah ditentukan titik A pada
jarak minimum 50 meter (160 feet) dan kencangkan semua
penggerak horizontal.
 Ayunkan teleskop kearah vertikal dengan sekrup penyetel vertikal
dan periksa, apakah titik bergerak sepanjang garis benang silang
vertical.

83
 Bila titik bergerak secara teratur sepanjang benang, berarti benang
silang vertikal terletak pada bidang tegak lurus sumbu horizontal
(dan penyetelan tidak diperlukan)

Gambar 27
 Namun, bila titik berpidah dari benang silang vertikal, ketika
teleskop diajunkan, penyetelan diperlukam pada bidang retikul.
 Lepaskan sekrup bagian penutup penyetel benang silang, dengan
memutar pada arah berlawanan jarum jam dan cabutlah. Akan
terlihat empat sekrup bagian penempel lensa bidik, dan juga empat
sekrup penyetel benang silang.
 Kendurkan semua keempat sekrup perlahan-lahan dengan
peralatan obeng (sambil mencatatat jumlah putaran) Kemudian,
putar bagian lensa bidik sedemikian hingga benang silang vertikal
berimpit dengan titik A. Kencangkan keempat sekrup tadi sejumlah
putaran ketika tadi mengendurkannya.
 Periksa sekali lagi dan bila titik melintas seluruh panjangan benang
silang vertikal, penyetelan lebih lanjut tidak diperlukan lagi.

6. Penyetelan benang silang horisontal


Penyetelan ini diperlukan bila garis visir tidak tegak lurus sumbu
vertikal (ketika pembacaraan lingkaran vertikal 0 0)
 Pasang instrument pada jarak sekitar 50 meter (160 feet) dari
target. Seimbangkan instrument dengan nivo tabung.
 Stel lingkaran vertikal pada 0 00 1 0 11 dan tentukan titik A.

84
 Putar teleskop terhadap sumbu horizontal dan putar instrument 180
0
terhadap sumbu vertikal. Tentukan titik B pada target dengan
pembacaan lingkaran vertikal 180 0.
 Titik A dan B seharusnya berimpit, bila tidak, ikuti penyetelan
selanjutnya.
 Pertama, lepaskan sekrup bagian penutup penyetel benang silang.
 Kemudian tentukan titik C yang ditempatkan tepat ditengah-tengah
titik A dan B. Selanjutnya geserkan garis benang silang horizontal
sedemikian hingga berimpit dengan titik C dengan menyetel sekrup
atas dan bawah penyetel benang silang menggunakan pen koreksi.

Gambar 28
Catatan: Pertama, kendurkan sekrup penyetel pada sisi mana garis
benang silang horizontal harus digerakkan. Kemudian kencangkan
sekrup penyetel pada sisi yang berlawanan dengan jumlah putaran
yang sama, guna mencegah perubahan pada tekanan sekrup
penyetel. Putar kearah berlawanan arah jarum jam guna
mengendurkan dan kearah putaran jarum jam guna mengencangkan,
tetapi putar sesedikit mungkin.

7. Penyetelan Nivo kotak theodolit.


Penyetelan ini diperlukan bila sumbu nivo kontak juga tidak tegak
lurus sumbu vertikal.

85
 Seimbangkan dengan hati-hati instrument menggunakan nivo
tabung.
 Bila gelembung udara nivo kontak sudah tepat seimbang, pada
saat ini, penyetelan tidak lagi diperlukan. Bila tidak, ikuti penyetelan
yang lebih lanjut.
 Geserkan gelembung udara ke tengah/pusat nivo kontak, dengan
menyetel tiga sekrup penyetel dibawah nivo kontak, meggunakan
pen koreksi.

Gambar 29
Catatan: Pertama, kendurkan sekrup penyetel kearah mana
gelembung udara akan digeserkan. Kemudian kencangkan sekrup
penyetel pada sisi mana gelembung udara berpindah. Kendurkan
sekrup penyetel atau sekrupkan perlahan-lahan dan catatlah jumlah
yang sama. Arah jarum jam akan mengendurkan sekrup dan putaran
berlawanan jarum jam akan mengencangkan sekrup.

8. Penyetelan Kolimasi Instrument theodolit.


Penyetelan kolimasi ini diperlukan guna, membuat garis vizir tegak
lurus sumbu horizontal instrument, bila tidak, akan memungkinkan
kesulitan untuk meluruskan garis secara langsung.
 Dirikan 86ertical86t dengan pandangan bebas pada jarak sekitar 50
– 60 meter (160 – 200 feet) pada kedua sisi 86ertical86t.
 Seimbangkan 86ertical86t dengan nivo tabung.

86
 Tempatkan titik A pada jarak kira-kira 50 meter dan kencangkan
semua klem.
 Kendurkan kelm 87ertical saja, dan putar teleskop 180 0terhadap
sumbu horizontal sedemikian hingga teleskop mengarah kearah
yang berlawanan.
 Tempatkan titik B pada jarak yang sama dengan titik A dan
kencangkan klem 87ertical.
 Kendurkan klem penggerak atas dan putar 87ertical87t 180 0

terhadap sumbu 87ertical. Tepatkan sekali lagi ke titik A dan


kencangkan klem penggerak atas.
 Kendurkan klem 87ertical saja. Putarkan sekali lagi teleskop
terhadap sumbu horizontal dan tepatkan ke titik C, yang
seharusnya berimpit dengan titik B. Kencangkan klem 87ertical.
 Bila titik B dan C tidak berimpit, stel dengan cara berikut
 Lepaskan bagian penutup penyetel benang silang.
 Tentukan titik D diantara titik C dan B, pada jarak ¼ jarak B dan C
diukur dari titik C adalah empat kali kesalahan yang sesungguhnya
karena teropong diputar balikkan dua kali selama pelaksanaan ini.
 Geserkan garis benang silang 87ertical dan impitkan dengan titik D
dengan memutar sekrup penyetel kiri dan kanan menggunakan pen
koreksi.

Gambar 30

87
Catatan: Penyetelan sekrup penyetel kiri dan kanan dilakukan dengan
cara yang sama seperti sekrup penyetel atas dan bawah pada “ 4
Penyetelan Benang Horizontal”
Setelah penyelesaian penyetelan, ulangi pelaksanaan ini sekali lagi.
Bila titik B dan C berimpit, penyetelan tidak perlu diulang, tetapi bila
sebaliknya, ulangi penyetelan ini.

9. Penyetelan teleskop centring optis.


Penyetelan ini diperlukan guna membuat garis vizir teleskop centering
optis berimpit dengan sumbu vertikal (bila tidak, sumbu vertikal tidak
akan betul-betul vertikal, ketika dilakukan centering optis pada
instrument).
 Impitkan tanda pusat dengan titik (lihat “ 6 Sentering Optis “)
 Putar instrument 180 0
terhadap sumbu vertikal dan periksa tanda
pusat. Bila titik sudah terletak pada tanda pusat, penyetelan tidak
diperlukan. Bila tidak, dengan cara berikut.
 Lepaskan penutup bagian penyetel lensa bidik teleskop sentering
optis, dengan memutar kearah berlawanan arah jarum jam dan
cabutlah.
Akan terlihat empat sekrup penyetel yang mana harus disetel dengan
pen koreksi guna menggeser tanda pusat ke titik. Namun, hanya
sentengah dari penyimpangan yang dikoreksi dengan cara ini.

Gambar 31

88
Catatan: Penyetelan dilakukan sama seperti untuk “Penyetelan
Benang Silang Horizontal”
 Selanjutnya, gunakan sekrup penyetel nivo dan impitkan titik
dengan tanda pusat.
 Putar instrument 180 0
terhadap sumbu 89ertical dan periksa tanda
pusat. Bila sudah berimpit dengan titik penyetelan lebih lanjut tidak
diperlukan. Bila tidak berimpit, penyetelan harus diulang.

10. Penyetelan benang silang Electronic Distance Meter.


Bila terjadi penyimpangan pandangan benang silang EDM dengan
benang silang dari theodolite.
 Kendurkan sekrup pengikat sumbu utama EDM (Foot Screw) yang
ada dibagian bawah dari clam adaptor.
 Letakkan diatas Theodolite dan arahkan ke target prisma bersama
dengan Theodolite dan kencangkan clamp putaran horizontalnya.
 Gunakan pen koreksi pada kedua sekrup pengikat untuk
mengarahkan benang silang EDM ketitik pusat prisma yang sama
arahnya dengan benang silang Theodolite.

Gambar 32

89
11. Pengecekan pembacaan.
 Setelah penyetelan periksalah dan pastikan bahwa kedua sekrup
pengikatnya sudah kencang, demikian juga dengan sekrup
pengikat sumbu utama yang ada dibagian bawah dari clamp
adaptor.
 Letakkan 90nstrument pada titik A dan target prisma pada titik B
yang berjarak 100 m, titik C ada pada garis lurus AB.
Maka pembacaan jarak dari AC + BC harus sama dengan AB +
konstanta instrument.

Gambar 33
Catatan pada Penyetelan :
1. Urutkan penyetelan pada suatu daftar, mengingat penyetelan ini akan
saling berkaitan satu dengan yang lain. Bila penyetelan dilakukan
dengan urutan yang salah, akan merusak penyetelan sebelumnya.

Gambar 34
2. Bila hanya “ 1 Penyetelan Benang Silang Vertical “ yang diperlukan,
penyetelan ini dapat diselesaikan bila diikuti dengan “ 4 Penyetelan
Benang Silang Horizontal ” dan “ 6 Penyetelan Kolimasi Instrument “.

90
3. Bila hanya “ 4 Penyetelan Benang Silang Horizontal “ yang diperlukan
penyetelan dapat diselesaikan bila diikuti dengan “ 6 Penyetelan
Kolimasi Instrument “.
4. Akhiri selalu penyetelan dengan mengencangkan sekrup penyetel
dengan aman (tetapi jangan kencangkan lebih dari yang diperlukan,
sebab dapat merusak uliran sekrup atau penempatan tekanan yang
tidak seharusnya pada bagian-bagian). Selanjutnya, kencangkan
selalu dengan pemutaran pada arah tekanan pengencangan.
5. Sekrup penempelan harus selalu dikencangkan secukupnya, setelah
selesainya penyetelan.
6. Selalu ulangi pelaksanaan pemeriksaan setelah penyetelan dilakukan,
guna menguji hasilnya.
7. Bila sekrup nivo menjadi kendur, kencangkan dua sekrup penyetel
diatas tiap sekrup penyetel nivo, guna mendapatkan tekanan yang
benar.
8. Bila terdapat kekenduran diantara sekrup penyetel nivo dan basisnya,
kendurkan sekrup set cincin pemegang dan kencangkan cincin
pemegang dengan pen koreksi, hingga terstel dengan baik.
Kencangkan kembali sekrup set pada penyelesaian penyetelan.

91
D. Materi Pokok 4 : Proses Pengecekan Kebenaran Data
Pengukuran.
o Pengecekan hasil bacaan pesawat sipat datar.
Walaupun bentuk dari benang diafragma pada pesawat sipat datar
bermacam-macam tetapi pada umumnya terdiri dari tiga benang yaitu :
benang atas, benang tengah dan benang bawah. Untuk benang tengah
dari pabrik dibuat sedemikian rupa sehingga letaknya ditengah-tengah
antara benang atas dan benang bawah. Pembacaan benang tengah
inilah yang dipakai untuk menentukan beda tinggi. Jadi pembacaannya
harus benar-benar teliti. Sedang benang atas dan benang bawah
diperlukan untuk mengontrol bacaan benang tengah.
Misal, bacaan benang atas = BA
bacaan benang tengah = BT
bacaan benang bawah = BB
Pada pembacaan akan benar jika terpenuhi persamaan sebagai
berikut :
BA – BT = BT – BB atau
2 BT = (BA + BB).
Jika jarak rambu ke pesawat tidak terlalu jauh, maka pembacaan
dapat dikatakan cukup baik bila tercapai :
2 BT – (BB + BA)  2 mm
o Pengecekan Pengukuran Sudut Horisontal
Untuk pengecekan kebenaran pengukuran sudut horizontal dapat
dilakukan dengan cara :
 Pengukuran sudut biasa dan sudut luar biasa.
Pengukuran sudut biasa dan sudut luar biasa pada satu titik dapat
dilakukan dengan cara mengukur sudut biasa suatu titik A dari
pesawat . Untuk pembacaan sudut luar biasa dilakukan dengan
cara memutar teropong 180o kearah vertikal, sehingga vizier pada
teropong berada di bawah. Kemudian teropong diarahkan ke titik A
selisih pembacaan sudut biasa dan sudut luar biasa adalah 180o
 Pengukuran sudut kanan dan sudut kiri.

92
Pada pesawat EDT yang digunakan dalam praktikum ini tersedia
fasilitas sudut kanan dan sudut kiri. Cara nya yaitu dengan
mengarahkan teropong pada titik A (dengan arah ke kanan ).
Kemudian dilakukan pembacaan. Hasil yang didapat adalah sudut
kanan. Untuk mendapatkan sudut kiri, lakukan pengukuran sekali
lagi dengan posisi arah ( kekiri ). Jumlah sudut kanan dan sudut kiri
yang didapatkan sama dengan 360o atau 400g.
o Pengecekan pengukuran sudut pada poligon tertutup.
Besarnya penyimpangan bergantung pada ketelitian alat yang
digunakan.
Pada sudut dalam
fβ=(n-2).180°-∑β”
Pada sudut luar
fβ=(n+2).180°-∑β”
fβ : Kesalahan ukuran sudut poligon
∑β” : Jumlah Sudut ukuran
Toleransi sudut penyimpangan hasil ukuran dinyatakan diterima
atau tidak dengan cara membandingkannya terhadap toleransi.
Jika penyimpangan lebih kecil atau sama dengan batas atas
toleransi, ukuran sudut itu diterima namun jika penyimpangannya
lebih besar dari batas atas toleransi, ukuran sudut itu ditolak.
Hitungan toleransi ukuran sudut mengikuti hukum kompensasi yaitu
total kesalahan (acak) yang terjadi adalah ketelitian alat dikalikan
dengan akar jumlah kejadiannya.

Toleransi : lfβl ≤C√n


C : Ketelitian alat, besarnya adalah separuh bacaan terkecil (least
count) alat.
N : Jumlah titik poligon.

93
o Hasil Pengukuran Poligon dihinggapi kesalahan Besar sudut atau jarak.
 Bila terjadi kesalahan besar (kekeliruan) untuk sudut.
Untuk mencari letak kesalahan, dapat dilakukan dengan :
- Dengan cara menghitung koordinat dari dua arah yakni dari titik B
ke C didapat X1,Y1; X2,Y2; X3,Y3; X'c,Y'c sedang dari titik C ke
titik B didapat koordinat titik-titik X'3,Y'3; X'2,Y'2; X'1,Y'1; X'b,Y'b.
Dari kedua hasil hitungan di atas bandingkan mana koordinat yang
hampir sama (pada titik yang sama pula) maka kemungkinan
kesalahan besar terjadi pada titik tersebut.
- Cara lain untuk menentukan letak kesalahan besar pada
pengukuran sudut adalah dengan menggunakan rumus Bronnimann
:
X'c + Xc Y'c - Yc
Xt = ------------- - { ------------} Cotg ½ f
2 2
Y'c + Yc X'c - Xc
Yt = ------------- + { ------------} Cotg ½ f
2 2
dimana :
Xc,Yc adalah koordinat titik C yang diketahui.
X'c,Y'c adalah koordinat titik C yang dihitung dari data mentah.
f adalah salah penutup sudut =( akhir-  awal) - (  - n.180)
Koordinat titik poligon yang hampir sama dengan koordinat
(Xt,Yt) adalah titik dimana terdapat kesalahan besar dalam
pengukuran sudut.
 Apabila terjadi kesalahan besar pada pengukuran jarak maka untuk
mencari letak terjadinya kesalahan besar dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
- hitung salah penutup koordinat fx ,fy.
Fx
- hitung sudut jurusan :  = arc tg -------

94
fy
- cari sisi yang sudut jurusannya sama atau hampir sama dengan
sudut berarti kesalahan besar terjadi pada sisi tersebut.
- besarnya kesalahan jarak fl =  (fx² + fy²)

Gambar 35
o Untuk pengecekan kebenaran pengukuran sudut horizontal dapat
dilakukan dengan cara :
 Pengukuran sudut biasa dan sudut luar biasa.
Pengukuran sudut biasa dan sudut luar biasa pada satu titik dapat
dilakukan dengan cara mengukur sudut biasa suatu titik A dari
pesawat (T). Untuk pembacaan sudut luar biasa dilakukan dengan
cara memutar teropong 180o kearah vertikal, sehingga vizier pada
teropong berada di bawah. Kemudian teropong diarahkan ke titik A
selisih pembacaan sudut biasa dan sudut luar biasa adalah 180°
 Pengukuran sudut kanan dan sudut kiri.
Pada pesawat EDT yang digunakan dalam praktikum ini tersedia
fasilitas sudut kanan dan sudut kiri. Cara nya yaitu dengan
mengarahkan teropong pada titik A (dengan panah ). Kemudian
dilakukan pembacaan. Hasil yang didapat adalah sudut kanan.
Untuk mendapatkan sudut kiri, lakukan pengukuran sekali lagi

95
dengan posisi panah ( ). Jumlah sudut kanan dan sudut kiri yang
didapatkan sama dengan 360° atau 400g.

96
Daftar Pustaka

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2002, Badan Penelitian


dan Pengembangan, PT-02, Persyaratan Teknis Bagian
Pengukuran Topografi, Jakarta.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2004, Pd T-10-2004-A,


Pengukuran dan Pemetaan Teristris Sungai, Jakarta.

Departemen Geodesi FTSP-ITB, (tanpa tahun) Ilmu Ukur Tanah.

Departemen Pekerjaan Umum (1986), PT 02 Standar Perencanaan


Irigasi, Jakarta.

Kusrianto A, 2013, Super Pintar Exel, Elex Media.

Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume I: Umum


Bagian–2: Pengukuran Topografi dan Pemetaan BIDANG
SUMBER DAYA AIR (tanpa tahun)

Prosedur Operasional Standar Survei Geodesi, 2009, Departemen


Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga, Direktorat
Bina Teknik.

Peraturan Pemerintah Nomor 24/1997

PMNA / KBPN No.3/1997

Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional


Tentang Ketentuan Pelaksanaan Per-Aturan Pemerintah Nomor
24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.

Russel C. Brinker and Paul K.Wolf, (tanpa tahun), Dasar-dasar


Pengukuran Tanah (Surveying)

Surianto M, 2007, Penuntun praktis menghitung data pengukuran dan


pemetaan kadastral menggunakan microsoft exel, Yogya.

Soeratman, 1982, Pr Sudibyo. Petunjuk Praktek Bangunan Gedung 2.


Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.

Suparno Sastra M, 2006, AutoCAD 2006 Untuk Pemodelan dan Desain


Arsitektur. PT Alex Media Komputindo. Jakarta.

Sulanjohadi, 1984, Gambar Konstruksi Perspektif. Widjaya. Jakarta..

Sumadi, (tanpa tahun) Konstruksi bangunan Gedung. ITB. Bandung

97
Subki F. Mulkan, Edy Sumaryanto, (1980) Ilmu Ukur Tanah Wilayah,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan
Menengah Kejuruan.

Soetomo Wongsotjitro, 1980, Ilmu Ukur Tanah, Yayasan Kanisius

Sumaryanto, E. dan Mulkan, S.F. (1980) Ilmu Ukur Tanah Wilayah,


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan
Menengah Kejuruan.

Timbul Purwoko, Bedjo, 1980, Petunjuk Praktek Batu dan Beton.


Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.

Umaryono P, (tanpa tahun), Ilmu Ukur Tanah Seri A, FTSP – ITB.

Umaryono P, (tanpa tahun), Ilmu Ukur Tanah Seri B, FTSP – ITB.

William Irvine, 1974, Surveying For Construction, Mc.Graw-Hill Book


Company United.

Yan Sudianto, 1985, Dasar-dasar Arsitektur 1. M2S. Bandung.

Yap Wie, 1994 ,Memahami AutoCAD, Andi Offset, Yogyakarta.

Zulkifli dan Sutrisno, 1994, Fisika. Pustaka Ganesha. Bandung.

Z.S. Makowski, 1988, Konstruksi Ruang Baja. ITB. Bandung.

98