Anda di halaman 1dari 13

6 KESALAHAN BISNIS ONLNE

Agus Sakti

JANUARY 1, 2019
WWW.AGUSSAKTI.COM
Casablanca, Sumbersari - JEMBER
PENGANTAR

Terimakasih sudah mendownload ebook ini.


Jika kamu belum tahu siapa saya, izinkan saya mengenalkan diri.
Saya Agus Sakti. Sejak awal 2014 hingga sekarang, fokus bisnis saya adalah
memproduksi produk digital.
Alhamdulillah, produk saya sudah dibeli sebanyak 15.000 lebih di
international marketplace bernama JVZoo.com
Lima produk saya juga mendapatkan penghargaan sebagai product of the day
oleh JVZoo. Ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
Sementara di Indonesia, saya mengembangkan beberapa produk. Ada yang
sukses dan sebaliknya, ada yang gagal.
Decinema, misalnya. Sudah dibeli oleh 1500 lebih orang Indonesia. Ini adalah
template video promosi dari powerpoint.
Sementara LandingPress dipercaya bisa meningkatkan omset bulanan 5500
lebih pebisnis online di Indonesia. Ini dikembangkan oleh Agus Muhammad,
M. Yunus Andrian dan saya.

Tetapi saya tidak ingin menceritakan bagaimana saya bisa mendapatkan


ribuan pelanggan berbayar, atau belasan ribu pembeli dari market luar
negeri.
Sebaliknya, saya ingin menceritakan bagaimana saya gagal menjalankan
beberapa bisnis online sebelum saya terjun ke produk digital.
Saya akan mengajak kamu mundur 5 tahun ke belakang. Sebab, 5 tahun
terakhir saya benar-benar fokus menjalankan bisnis produk digital, hingga
saat ini.

Selamat membaca!
Agus Sakti

1
KESALAHAN PERTAMA
2009 - Tidak Ada yang Instan

Sepuluh tahun yang lalu, saya mulai mengenal bahwa di internet saya bisa
mendapatkan uang.
Saat itu, saya mengikuti program member get member. Saya harus membayar
ratusan ribu supaya saya bisa memiliki hak akses untuk mendapatkan
referal link.
Saya bakal mendapatkan komisi sebesar 50% dari biaya orang yang
mendaftar melalui referal link saya.
Di program ini, tidak ada produk yang dijual. Ini murni bagaimana kita bisa
mendapatkan member sebanyak-banyaknya dan berharap komisi besar
sesuai kelipatan.
Karena tidak ada produk yang dijual, saya sangat kesulitan menawarkan
program ini ke orang lain.
Tahun 2009 masih jarang sekali orang yang kenal dan mengerti tentang
bisnis online, apalagi jenis bisnis member get member seperti yang saya coba.
Kajian halal dan haram tentang bisnis ini juga belum banyak yang
membahas.
Terlepas dari itu, di bisnis model ini saya benar-benar menjadi orang bodoh.
Berharap bisa mendapatkan banyak uang, malah sebaliknya, terjebak di
permainan yang, menurut saya—tidak jelas sama sekali.

Pelajaran
Saya tidak akan mengikuti lagi program seperti ini. Menurut saya tidak
masuk akal sama sekali. Tidak cocok bagi saya.
Saya memutuskan untuk bergabung saat itu hanya karena masalah ingin
mendapatkan uang secara instan.
Saya baru menyadari bahwa tidak ada bisnis yang benar-benar instan.
Semua butuh perjuangan, konsistensi, disiplin, dan keberuntungan.

2
KESALAHAN KEDUA
2010: Pentingnya Mental Positif

Jauh sebelum ada youtube adsense, saya sudah bekerjasama dengan Google
di program Adsense.
Saat itu, saya menjadi publisher yang memiliki blog dengan artikel yang
banyak serta pengunjung blog yang banyak.
Tahun 2010 saya mendaftar Adsense hanya menggunakan blogspot. Tidak
sesulit hari ini.
Saya mengenal Google Adsense dari Asian Brain. Ini sebuah sekolah online
yang berbayar bulanan.
Saya hanya bertahan 2 bulan, karena harganya cukup mahal bagi saya saat
itu.
Materi yang saya pelajari, saya praktikkan untuk mengundang pengunjung
website. Hasilnya lumayang bagus, earning di dashboard Google Adsense
juga mulai tampak.
Menjadi sangat senang sekali ketika mengambil “gajian” dari Google Adsense
di Indomaret.
Secara, selama ini kita masuk indomaret selalu belanja dan mengeluarkan
uang. Lah ini malah dikasih uang, tarik gajian dari western union.
Mata saya berubah menjadi “hijau” saat melihat earning. Sifat serakah tiba-
tiba muncul. Inilah awal dari kegagalan saya menjadi partner Google.
Saya mulai copy dan paste artikel dari beberapa sumber. Saya mix jadi satu
artikel, kemudian saya post ke blog saya.
Pengunjung website memang naik, tapi saya terkena hukuman dari Google.
Akun Google Adsense saya di-banned.

Pelajaran
Sudah terlihat jelas, kesalahan saya di bisnis ini adalah sifat serakah. Secara
psikologis, saya ingin melipatgandakan penghasilan saya dengan cepat.
Cara yang saya gunakan salah, apalagi copy dan paste artikel orang lain jelas
sekali bakal membuat artikel saya tidak unik. Ini tidak disukai Google.
Sifat serakah saat itu benar-benar saya sesali hingga saat ini. Harusnya saya
lebih sabar lagi dan terus “bermain aman” dengan tidak mengambil artikel
orang lain.
Saya menyadari bahwa menjalankan usaha bukan tentang bagaimana kita
melipatgandakan profit. Tapi ini tentang bagaimana kita menjaga mental
positif supaya tidak terjebak di kesalahan yang fatal.

3
KESALAHAN KETIGA
2011: Terlalu Percaya Robot

Sekolah online lain yang saya ikuti selain Asian Brain dalah Sekolah.In yang
saat itu menyedot banyak sekali perhatian.
Banyak sekali member sekolah.in yang menampilkan earning dari program
affiliate amazon. Ini sangat menggiurkan, apalagi buat saya. Ngiler cuy!
Singkat cerita, saya bergabung dan mencoba keberuntungan di program
affiliate toko online terbesar di dunia, Amazon.
Seperti yang dilakukan oleh teman-teman yang lain, syarat wajib supaya
mendapatkan lead (calon prospek) adalah dengan cara ternak website.
Website yang dibangun, berisi tentang produk-produk dari Amazon yang
sudah kita tentukan sebelumnya.
Saya bisa membuat website sendiri sebatas install domain dan hosting.
Selebihnya saya tidak bisa.
Ternak website saya lakukan dengan cara melakukan clone beberapa website
teman yang memang dibagikan dan diizinkan.
Saya hanya perlu mengganti link referral dan menentukan saya mau jualan
apa.
Ini saya lakukan hingga saya memiliki hampir 100 website atau toko online
Amazon.
Beberapa bulan saya mendapatkan passive income dari puluhan website
yang saya miliki.
Tetapi beberapa bulan sebelum 2011 berakhir, algoritma Google berubah dan
membuat puluhan website saya terkena deindex.
Algoritnya ini bernama Google Panda. Kedatangannya menyikat habis
website-websita hasil clone, keyword stuffing, dan skema-skema black hat.
Termasuk hampir semua website saya. Visitor website menurun drastis.
Shock rasanya.
Apalagi melihat beberapa teman masih banyak yang selamat.
Setelah saya ngobrol, ternyata mereka-mereka yang selamat melakukan
beberapa pekerjaan manual seperti merapikan judul postingan, keyword, dan
deskripsi produk.
Sementara saya, karena keterbatasan saya di masalah teknologi, saya tidak
melakukan perubahan apapun.
Alhasil, sumber pendapatan saya di program referral Amazon tidak bisa
berjalan. Alih-alih, pengunjung website hampir tidak ada.

4
Pelajaran
Alat apapun tetaplah alat. Bot, tool, atau aplikasi tetaplah alat. Tanpa
sentuhan natural dari manusia, hasilnya bakal kaku seperti robot.
Harusnya saya melakukan improvisasi saat proses cloning website. Saya
membatasi diri karena menganggap saya tidak paham apa-apa.
Padahal, jika saya melakukan sedikit perubahan sudah menjadi cerita yang
berbeda.
Harusnya saya tidak membatasi diri untuk melakukan sentuhan yang bisa
membuat pekerjaan saya saat itu menjadi lebih unik, berbeda, dan terlihat
lebih natural.

5
KESALAHAN KEEMPAT
2012: Menutup Diri

Setelah Google Panda menendang puluhan website saya, tabungan mulai


menipis. Sementara kebutuhan dapur harus tetap mengepul.
Hal yang paling masuk akal dilakukan untuk tetap mendapatkan profit
adalah dengan menjari reseller produk fisik, lokal.
Tidak perlu produksi, tidak perlu urus packaging, cuma modal promosi ke
sosial media.
Setelah perjalanan bisnis yang gagal sebelumnya, saya memiliki kemampuan
membuat website/toko online sendiri.
Saya mencoba posting beberapa produk seperti sepatu dan mukena ke toko
online saya.
Saat itu, marketplace tidak seramai sekarang. Ini adalah jaman ketika
transaksi online bakal lebih trusted ketika menggunakan rekber (rekening
bersama) yang ada di kaskus.
Saya benar-benar mengalami kesulitan di sini. Agak susah mendapatkan
pengunjung website di tahun ini. Transaksipun tidak banyak.
Ini adalah masa-masa sulit bagi saya. Sementara itu, di saat yang
bersamaan, beberapa marketplace mulai gencar melakukan promosi.
Saya tidak melirik sama sekali, karena saat itu saya belum percaya
marketplace. Maklum, sebelumnya saya sudah mengikuti program
perusahaan eCommerce besar dunia, Amazon.
Bagi saya, tidak ada yang lebih canggih dan menguntungkan dari
marketplace ini. Demikian persepsi buruk saya.
Akibatnya, usaha saya tidak lancar. Sementara beberapa pesaing saya yang
mulai rajin upload gambar produk di marketplace terus jalan.
Saya pun sedikit demi sedikit mengurangi aktivitas bisnis online dan mulai
bantu-bantu saudara menjalankan travel agent.
Saya gagal. Benar-benar merugi di bisnis online, dan tertolong karena
bergabung bersama saudara.

Pelajaran
Saya menutup diri. Tidak mau menerima perkembangan. Merasa apa yang
saya ketahui saat itu lebih kekinian dari yang lain sehingga agak susah
menerima informasi dari luar.
Mental block sudah terlalu tebal. Kondisi pikiran menjadi kebal dari informasi
baru. Akibatnya, malah terpuruk dan tertinggal.
Dari kegagalan ini saya belajar pentingnya sikap terbuka dan mau menerima
perubahan serta tidak terlalu introvert.

6
Tren terus berubah. Jika tidak mengenali perubahan bakal teringgal dan
kehilangan arah.

7
KESALAHAN KELIMA
2013: One Man Show

Bekerja di travel agent membuka relasi baru. Saya sering mengantarkan


group ke Bali, Jakarta, Bandung, Yogyakarta.
Kebetulan sekali, jika ada group anak sekolah dan mahasiswa, saya yang
selalu handle mulai persiapan hingga pelaksanaan di lapangan.
Termasuk urus reservasi rumah makan, hotel, hingga izin kunjungan ke
perusahaan.
Singkat cerita, dari pekerjaan ini saya bertemu dan mendapatkan jalan
pintas menuju “tangan pertama” yang memproduksi baju rajut.
Awalnya saya mencoba menjadi reseller sambil tetap bekerja freelance di
travel agent keluarga hingga pertengahan 2013.
Ternyata hasilnya luar biasa. Peminatnya sangat banyak sekali. Saya pun
mulai menyeriusinya.
Saya mencoba untuk mengambil barang dari Bandung. Tapi karena modal
yang kurang, saya bekerjasama dengan teman yang ada di Malang.
Saya pun berhasil menyetok barang di rumah dan mulai memasarkannya
langsung.
Tidak disangka, barangnya cepat habis.
Pelan-pelan saya bikin sistem sendiri, merapikan laporan keuangan sendiri
dari excel, membuat label sendiri dari ms word.
Bahkan saya mendapatkan layanan khusus, kurir ekspedisi mau datang ke
rumah. Tahun 2013 masih jarang ada layanan seperti ini.
Di titik ini saya mulai bisa membeli kendaraan pribadi, menyekolahkan istri
lanjut studi S2, hingga banyak menabung.
Saya pun mulai berani membuka diri, bertemu beberapa pemain bisnis
online yang lain.
Hingga pada girliran berikutnya, saya bertemu Maulana Malik yang
menyarankan saya membuat produk digital berupa video tutorial tentang
bisnis yang saya jalankan.
Saya tertarik, dan mencoba mengeksekusinya.
Saya mulai memetakan apa saja yang harus saya bikin, mulai dari cara
memilih supplier, cara promosi, membuat label supaya packaging bagus,
hingga bikin laporan keuangan sendiri dari excel.
Tidak disangka, produk ini laris manis dan terjual hampir 400 copies dalam
wktu 7 hari.
Saya pun terlena. Sedikit demi sedikit toko online saya mulai saya tinggalkan.

8
Bukan maksud hati ingin meninggalkan begitu saja, tapi karena memang
waktu banyak tersita meng-upgrade diri mempelajari digital marketing untuk
produk digital.
Saya belajar email marketing, funneling, hingga bagaimana cara merekrut
partner atau JV supaya mau bergabung memasarkan produk saya.
Tahapan berikutnya, saya mulai keteteran. Banyak calon pembeli toko online
saya jarang saya balas.
Order pun menurun dari toko online karena slow response. Istri juta
kualahan karena memang saat itu anak masih kecil.
Di sisi lain, saya semakin berapi-api menyeriusi digital product launch. Fokus
berikutnya saat itu adalah menaklukkan pasar eropa dan berjualan di JVZoo.
Alhamdulillah, qadaraullah, sepertinya saya menemukan jalan yang lebih
mulus di bisnis ini.
Sayangnya, toko online saya terbengkalai. Banyak komplain, dan stok barang
tidak terurus.

Pelajaran
Saat itu saya tidak mudah percaya orang, one man show. Sama sekali tidak
memiliki pikiran untuk mencarai karyawan.
Apalagi sebelumnya saya memiliki banyak hutang. Mau mengeluarkan
(membayar) karyawan rasanya sayang sekali, eman-eman.
Harusnya, saya tetap menjalankan toko online dengan mendelegasikan
beberapa tugas yang sebelumnya saya kerjakan sendiri.
Saya sangat menyesal kenapa saat itu tidak memutuskan mencari karyawan.
Mungkin, jika saat itu saya memiliki karyawan yang membantu, bakal lain
cerita.

9
KESALAHAN KEENAM
2015: Pentingnya Sebuah Perjanjian

Saya melewati tahun 2014 karena di tahun ini semua berjalan dengan lancar.
Mulai produk digital pertama saya, hingga produk kedua berupa template
powerpoint yang terjual 1000 lebih di JVZoo.com
Sebagaimana vendor produk digital yang lain, saya pun ingin membuat
terobosan yang baru dan berbeda.
Inilah kenapa saya pada giliran berikutnya mencari partner untuk membuat
aplikasi berbasis web yang memudahkan para penggunanya bisa mengakses
di manapun, menggunakan apapun, dan kapan pun.
Ketika produk itu sudah selesai, dan sukses dirilis, alhamdulillah saya
berhasil mendapatkan 400 lebih pembeli dengan harga yang saat itu cukup
mahal, hampir setengah juta rupiah.
Di tengah jalan, ada trouble yang mengakibatkan beberapa member tidak
bisa mengaskses produknya.
Saya pun khawatir. Sementara partner sangat susah dihubungi.
Ini cukup berlarut, hingga saya sendiri malu kepada para pengguna. Ini bakal
berpengaruh terhadap reputasi dan produk yang bakal saya jual berikutnya.
Singkat kata, saya mencari programmer lain untuk membuat produk sejenis
dalam beberapa minggu.
Saya pun keluar modal lagi, membuat produk sejenis, karena tidak tahan
dengan komplain para pelanggan.
Setelah selesai, saya mengungumkan kepada para pengguna untuk
mengganti akses produk lama ke produk baru yang sudah dibikin.
Alhamdulillah, akhirnya masalah teratasi.

Pelajaran
Saya tidak memiliki pengalaman berpartner dengan orang. Saat itu saya
tidak memahami apa-apa yang harus saya lakukan sebelum berpartner dan
bekerja bersama.
Tidak ada hitam di atas putih, tidak ada perjanjian legal, tidak ada
pembahasan klausul-klausul yang mengikat pekerjaan kita.
Saat itu, perjanjian dibuat atas dasar saling percaya. Ini kesalahan saya.
Harusnya memang ada perjanjian yang mengikat, hitam di atas putih,
apalagi menyangkut masalah uang. Ini cukup rentan dan bahaya.

10
PENUTUP

Alhamdulillah, dari banyak kesalahan di atas, saya lebih matang untuk


membuat keputusan.
Bisnis saya terus berjalan dan berkembang. Memang ada beberapa masalah
di tengah jalan, tapi bisa diselesaikan dengan lebih dewasa dari sebelumnya.

Hati-hati dalam berbisnis online. Jangan mudah percaya dan mudah dirayu,
sekalipun itu saudara sendiri.
Sebaiknya ada perjanjian resmi yang benar-benar mengikat jika itu
melibatkan banyak uang.
Kerjakan semua secara profesional dan sungguh-sungguh. Tidak perlu
mengharap seberapa besar pencapaianmu karena semua sudah digariskan.

Harapannya, setelah kamu membaca ini semua, tidak ada lagi orang yang
mengulangi kesalan saya, kecerobohan saya dan ketidaktahuan saya.
Semoga! (*)

11
Tentang Penulis

Agus Sakti, aktif menulis sejak 2006. Beberapa artikel opini pernah
dipublikasikan di KOMPAS, Media Indonesia, Jawa Pos, SURYA, Koran
Pendidikan, dan Malang Post.
Mulai menekuni bisnis produk digital sejak 2014 hingga sekarang. Pernah
belajar tentang funneling di Selangor, Malaysia 2015.
Produknya sudah terjual 15.000 lebih di JVZoo dan beberapa produknya
mendapatkan penghargaan sebagai produk of the day sebanyak 5 kali di
sana.
Sementara di Indonesia, beberapa produknya yang sudah dirilis antara lain:
Decinema (1500+ pengguna), LandingPress (5500+ pengguna) dan Eezygram
(1000+ pengguna).
Alumni Fakultas Psikologi UIN Malang tahun 2010. Saat ini sedang
meneruskan Magister Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Jember.

Agus Sakti
Follow instagram:
http://agussakti.com/instagram

12