Anda di halaman 1dari 9

RMK AKUNTANSI MANAJEMEN

“COST VOLUME PROFIT”

OLEH:

ANDI REZKY ANANDA AMALIA (A021171006)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2019
Pengertian Analisis CVP (Cost Volume Profit)

Pengertian analisis CVP (cost volume profit) adalah analisis yang digunakan untuk menentukan
bagaimana perubahan dalam biaya dan volume dapat mempengaruhi pendapatan operasional
(operating income) perusahaan dan pendapatan bersih (net income).

Analisis biaya volume laba dapat diterapkan dalam banyak hal, diantaranya adalah :
1. Menentukan harga jual produk atau jasa.
2. Memperkenalkan produk atau jasa baru.
3. Mengganti peralatan.
4. Memutuskan apakah produk atau jasa yang ada seharusnya dibuat di dalam perusahaan atau
dibeli dari luar perusahaan.
5. Melakukan analisis apa yang akan dilakukan, jika sesuatu dipilih oleh manajemen.”

Asumsi Analisis Biaya Volume Laba


Analisis biaya-volume-biaya tergantung pada sejumlah asumsi yang membatasi. Asumsi-
asumsi tersebut diantaranya :
1. Semua biaya diklasifikasikan sebagai biaya variable ataupun biaya tetap. Dianggap bahwa
biaya-biaya lainya, seperti biaya campuran, dapat dipilah-pilah menjadi unsur-unsur biaya
variabel dan tetap. Jumlah biaya tetap sifatnya konstan pada saat aktivitas berubah, dan
biaya variabel per unit itidak berganti ketika aktivitas berubah. Efisiensi dan produktivitas
proses produktif serta tenaga kerja dianggap konstan pula.
2. Fungsi jumlah biaya adalah linier dalam kisaran relavan. Asumsi ini sahih dalam kisaran
relavan kegiatan usaha normal.
3. Fungsi jumlah kegiatan pendapatan adalah linier dalam kisaran relavan. Harga jual per unit
dianggap konstan dalam kisaran volume produksi. Hal ini menyiratkan pasar yang murni
kompetitif untuk produk atau jasa akhir. Jumlah pendapatan berubah sebanding dengan
perubaha volume penjualan unit produk. Harga jual rata-rata perrunit produk adalah
konstan.
4. Analisisnya untuk sebuah produk atau bauran penjualan dari bermacam-macam produk
adalah konstan dalam kisaran relavan . Apabila produk-produk mempunyai harga jual dan
biaya yang berbeda-beda, perubahan bauran penjualan akan mempengaruhi hasil-hasil
analisis biaya-volume-laba.
5. Hanya terdapat satu pemicu biaya : volume unit produk atau rupiah penjualan
6. Dalam perusahaan pabrikasi, tingkat persediaan pada awal dan akhir periode adalah sama.
Hal ini menyiratkaan bahwa jumlah unit yang diproduksi selama periode berjalan sama
dengan unit yang dijual.

Dasar Analisis Biaya-Volume Dan Laba


Pengetahuan dasar yang sangat menentukan dalam analisis biaya volume dan laba adalah
pemahaman tentang penyusunan laporan laba rugi dengan menggunakan pendekatan variable
costing. Pendekatan ini menghasilkan suatu model laporan laba rugi dimana biaya
diklasifikasikan menurut perilakunya. Agar lebih informatif maka sebaiknya laporan laba rugi
diuraikan dalam bentuk laporan penjualan secara total, penjualan per unit, dan analisis vertikal
yang menunjukan persentase biaya variabel dan marjin kontribusi dan nilai penjualan.
Misalnya pada bulan Juni 2013 PT Jakasain menjual 150 unit produknya dengan harga Rp.
3.500 per unit. Biaya variabel per unit Rp. 2.625. biaya tetap Rp. 75.000. Berdasarkan data ini
maka terlebih dahulu dapat dibuat laporan laba rugi berdasarkan pendekatan kontribusi, seperti
pada ikhtisar berikut ini.
PT JAKSAIN
Laporan Laba Rugi Kontribusi
Bulan Juni 2013
Total Per unit %
Penjualan (150 unit) Rp525.000 Rp3.500 100
Biaya biaya variabel Rp393.750 Rp2.625 75
Marjin kontribusi Rp131.250 Rp875 25
Biaya-biaya tetap Rp75.000
Laba usaha Rp56.250
Dengan menggunakan formula:
Marjin kontribusi Rp 875 dibagi dengan penjualan Rp 3.500 dari laporan laba rugi diatas
dapat dihitung rasio marjin kontribusi per unit sebesar 25 % (Rp 875/Rp 3.500) % atau sama
dengan total rasio marjin kontribusi (Rp 131.250/Rp 525.000) %Marjin kontribusi memegang
peranan penting pada banyak keputusan dalam sebuah perusahaan, seperti produk apa yang akan
diproduksi atau dijual, kebijakan harga mana yang akan diikuti, strategi pemasaran apa yang
akan digunakan, dan jenis fasilitas produktif apa yang akan dibeli. Hubungan konsep biaya-
volume dan laba dalam perencanaan laba dapat digunakan untuk menghitung titik impas, target
laba, marjin keamanan, komposisi biaya untuk memaksimumkan marjin kontribusi, dan atau titik
penutupan usaha.

Analisis Titik Impas (Break-Even Point Analysis)


Titik impas merupakan tingkat aktivitas dimana suatu organisasi tidak mendapatkan laba
dan juga tidak mendapatkan rugi. Tujuan analisis titik impas adalah untuk mencari tingkat
aktivitas dimana pendapatan dan hasil penjualan sama dengan jumlah semua biaya variabel dan
biaya tetapnya.
Titik impas ini selanjutnya dapat dihitung dengan menggunakan metode persamaan,
metode marjin kontribusi, dan metode grafik, baik dalam hitungan unit penjualan maupun
penjualan dalam satuan mata uang tertentu yang digunakan dalam transaksi bisnis.

1. Metode Persamaan
Titik impas dengan metode ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Dari kasus diatas misalkan:
x = jumlah speaker terjual
3.500 = harga jual per unit
2.625 = biaya variabel per unit
75.000 = total biaya tetap
Karena laba pada titik impas sama dengan nol maka faktor laba dalam persamaan tersebut
dapat diabaikan. Dengan demikian titik impas dalam unit dapat dihitung sebagai berikut:

3.500x = 2625x + 75.000 + 0


3.500x – 2.625x = 75.000 + 0
875x = 75.000 + 0
x = 75.000/875
x = 85,71 unit
Dengan cara sederhana titik impas dalam rupiah selanjutnya dapat dihitung dengan
mengalikan 85,71 unit (impas dalam unit) dengan Rp. 3.500 (harga jual per unit produk) = Rp.
300.000. Namun apabila data tidak tersedia untuk menggunakan cara tersebut maka dengan
menggunakan data dari kasus di atas titik impas dalam rupiah dapat dihitung dengan prosedur
sebagai berikut:

x = 0,25x + Rp. 75.000 + Rp. 0


0,25x = Rp. 75.000
x = Rp. 75.000/0,25
x = Rp. 300.00
2. Metode Marjin Kontribusi
Metode ini merupakan penyingkatan dari formula metode persamaan dalam menghitung
titik impas. Langkah awal dalam melihat hubungan antara biaya volume dan laba suatu
perusahaan adalah dengan mengerti dan melihat besarnya marjin kontribusi yang diperoleh suatu
perusahaan pada berbagai tingkat kegiatan. Pada setiap kegiatan perusahaan akan memiliki
kemampuan menghasilkan marjin kontribusi yang berbeda-beda. Besarnya marjin kontribusi per
unit yang dapat diperoleh suatu perusahaan akan menentukan kecepatan perusahaan tersebut
menutup biaya tetapnya dan kemampuannya menghasilkan laba. Margin kontribusi digunakan
dulu untuk menutup beban tetap dan sisanya akan menjadi laba. Jika margin kontribusi tidak
cukup untuk menutup beban tetap perusahaan, maka akan terjadi kerugian untuk periode
tersebut. Ketika titik impas dicapai, laba bersih akan bertambah sesuai dengan margin kontribusi
per unit untuk setiap tambahan produk yang terjual. Untuk memperkirakan pengaruh kenaikan
penjaulan yang direncanakan terhadap biaya, manajer cukup mengalikan peningkatan dalam unit
yang terjual dengan margin kontribusi yang per unit. Hasilnya akan menggambarkan
peningkatan laba yang diharapkan. Hal itu terlihat pada formula dibawah ini yang angkanya
sama dengan baris kedua dari terakhir pada penyelesaikan dengan metode persamaan diatas.

Sehingga impas dalam unit = 75.000/875


= 85,71 unit, dan
Impas dalam Rp = 75.000/25%
= Rp. 300.000
Dalam perhitungan formula diatas perlu diperhatikan bahwa rasio marjin kontribusi per
unit produk akan selalu sama dengan rasio marjin kontribusi dari total unit penjualan. Kesamaan
tersebut disebabkan perhitungan marjin kontribusi dan rasionya hanya mempertimbangkan
biaya-biaya variabel. Dengan demikian perubahan unit penjualan akan diikuti oleh kenaikan total
pejualan, biaya variabel, dan marjin kontribusi secara proposional. Karena kenaikan penjualan
tidak akan diikuti oleh kenaikan atau perubahan rasio marjin kontribusi.
3. Metode grafik
Selain menggunakan dua pendekatan diatas analisis impas juga dapat dibuat
dengan menggunakan grafik. Grafik tersebut dapat dibuat dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Buat garis horizontal (x) untuk menunjukan jumlah unit produk dan sebuah garis vertikal (y)
untuk menunjukan nilai penjualan dan biaya.
b. Tarik sebuah garis lurus ke kanan atas dengan kemiringan 45 yang ditarik dari titik 0
perpotongan garis x dan garis y sebagai garis penjualan.
c. Buat garis horizontal untuk menujukan jumlah biaya tetap pada berbagai level unit penjualan.
d. Buat garis untuk menunjukan jumlah biaya pada berbagai level unit penjualan yang ditarik
dari perpotongan garis y dengan garis biaya tetap. Daerah yang berada di antara garis ini
dengan garis biaya tetapdi bawahnya menunjukan kisaran biaya variabel.
e. Buat titik impas pada perpotongan garis penjualan dan garis total biaya. Tarik garis ke kiri
untuk menunjukan jumlah penjualan dalam satuan uang dan tarik garis vertikal ke bawah
untuk menunjukan titik impas dalam unit penjualan.
f. Arsir tiga disebelah kanan grafik sebagai daerah laba dan sebaliknya arsir daerah segitiga di
sebelah kiri bawah titik impas sebagai daerah rugi. Daerah arsiran ini menunjukan bahwa
penjualan yang lebih kecil dari titik impas akan menimbulkan rugi dan sebaliknya penjualan
yang lebih besar akan memberikan laba.

Pemanfaatan Analisis Cost-Volume Profit untuk Perencanaan


1. Analisis Target Laba
Analisis target laba dalam aplikasi hubungan biaya volume dan laba pada dasarnya sama
dengan analisis titik impas. Perbedaannya hanya terletak pada jumlah laba yang diperhitungkan
dalam formulanya. Dalam perhitungan titik impas target laba sama dengan nol, sementara dalam
analisis target laba seperti yang dimaksudkan di atas jumlah laba yang diperhitungkan dalam
formulanya disesuaikan dengan jumlah laba yang diinginkan, biasanya lebih besar dari pada nol.
Misalkan dari komposisi biaya dan penjualan dari laporan laba rugi di atas, perusahaan
menginginkan laba Rp. 100.000 maka dengan menggunakan formula metode persamaan
selanjutnya target penjualan untuk mendapatkan laba dimaksud dapat dihitung sebagai berikut:

Misalkan:
x = jumlah unit terjual
3.500 = harga jual per unit
2.625 = biaya variabel per unit
75.000 = total biaya tetap
100.000 = laba bersih yang diinginkan
Metode persamaan: penjualan + biaya tetap + laba
Sehingga penjualan dalam unit menjadi:
3.500x = 2.625x + 75.000 + 100.000
3.500x – 2.625x = 75.000 + 100.000
875x = 175.000
X = 175.000/875
Unit penjualan (x) = 200 unit

Atau penjualan dalam rupiah:


x = 0,75x + Rp. 75.000 + Rp. 100.000
0,25x = Rp. 75.000 + Rp. 100.000
x = Rp. 175.000/0,25
x = Rp. 187.500
200 unit x Rp. 3.500 = Rp. 700.000
Metode marjin kontribusi:
Penujualan dalam unit = (biaya tetap + target laba)/CM per unit
= (75.000 + 100.000)/875
= 175.000/875
= 200 unit
Penjualan dalam Rp = (biaya tetap + target laba)/rasio marjin kontribusi
= (75.000 + 100.000)/25%
= 175.000/25%
= Rp 700.000
Impas dalam satuan waktu. Bagi sebuah perusahaan yang baru beroperasi titik impas ini
tidak selalu dapat dicapai dalam waktu yang singkat, misalnya setahun. Industri-industri berat
biasanya mencapai titik impas setelah beberapa tahun beroperasi.
2. Analisis Multi Produk
Analisis multi produk memerlukan adanya asumsi terkait dengan bauran
penjualan(sales mix), yaitu kombinasi berbagai produk yang dihasilkan/dijual
perusahaan. Dengan menentukan suatu bauran penjualan tertentu, analisis multi
produk dapat diubah ke dalam analisis produk tunggal. Namun untuk analisis CVP
kita harus menggunakan bauran penjualan dalam unit. Perusahaan dapat
menyelesaikan masalah multiproduk dengan mengkonversinya menjadi produk
tunggal, yaitu menetapkan produk-produk tersebut sebagai suatu paket, misal suatu
paket terdiri dari 3 produk A dan 2 produk B.
Berdasar titik impas sebesar 82 paket ini, maka titik impas akan terjadi pada penjualan
produk A sebanyak 246 paket (3 x 82) dan produk B sebanyak 164 paket (2 x 82).

3. Analisis Sensivitas
Analisis sensitivitas merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui akibat dari
perubahan parameter-parameter produksi terhadap perubahan kinerja sistem produksi dalam
menghasilkan keuntungan. Dengan melakukan analisis sensitivitas maka akibat yang mungkin
terjadi dari perubahan-perubahan tersebut dapat diketahui dan diantisipasi sebelumnya.

Contoh: Perubahan biaya produksi dapat mempengaruhi tingkat kelayakan

`Alasan dilakukannya analisis sensitivitas adalah untuk mengantisipasi adanya perubahan-


perubahan berikut:
a. Adanya cost overrun, yaitu kenaikan biaya-biaya, seperti biaya konstruksi, biaya bahan-
baku, produksi, dsb.
b. Penurunan produktivitas .
c. Mundurnya jadwal pelaksanaan proyek. Setelah melakukan analisis dapat diketahui
seberapa jauh dampak perubahan tersebut terhadap kelayakan proyek: pada tingkat mana
proyek masih layak dilaksanakan.