Anda di halaman 1dari 24

TUGAS AKHIR - RE 1599

ANALISIS SETTING RELE PENGAMAN MOTOR


BERDASARKAN METODE STARTING MOTOR.
STUDI KASUS SISTEM KELISTRIKAN PABRIK SEMEN
TONASA IV.

Nalendra Permana
2205 100 081

Dosen Pembimbing
Prof. Ir. Ontoseno Penangsang M.Sc. Ph.D.
Dimas Anton Asfani, ST, MT.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2009
FINAL PROJECT – RE 1599

Analysis of Motor’s Protective Relays Setting


Based on Its Starting Method.
Case: Electric Power Distribution System Pabrik
Semen Tonasa IV

Nalendra Permana
2205 100 081

counsellor lecturer
Prof. Ir. Ontoseno Penangsang M.Sc. Ph.D.
Dimas Anton Asfani, ST, MT.

ELECTRICAL ENGINEERING
Faculty of Technology Industry
10 November Technology of Institute
Surabaya 2009
ABSTRAK
Proses motor starting akan menyerap arus lebih hingga 600-
800% arus beban penuh. Kondisi ini dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan power quality. Beberapa metode starting motor digunakan
untuk menurunkan arus starting. Salah satu jenis metode starting yang
umum digunakan adalah metode tahanan rotor.
Metode starting dengan tahanan rotor dapat menurunkan arus
starting hingga 250% I beban penuh. Metode ini juga memperbaiki
karakteristik torka starting motor karena penambahan tahanan rotor
mengubah titik slip torka maksimum. Tahanan rotor yang digunakan
dapat berupa tahanan metal dan liquid.
Pada penelitian ini, dibahas tentang karakteristik starting
tahanan rotor dengan tahanan liquid saat starting kemudian dianalisa dan
diteliti sebagai pertimbangan menentukan setting rele pengaman motor.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tahanan rotor
berpengaruh pada setting arus dan waktu pengaman motor.
Kata Kunci : Metode Starting Motor Tahanan motor, Rele
Pengaman Motor.

v
-Halaman ini sengaja dikosongkan-

vi
ABSTRACT
During motor startup, motor will draw 600-800% full load current.
This condition will cause power quality disturbance. There are several motor
starting methods which use to reduce motor starting current. Rotor resistance
method is one of starting method which common use to startup the slip-ring
induction.
Rotor resistance starting method reduces motor starting current to
250% FLA. This method also increase motor locked-rotor torque because rotor
resistance addition will change the slip of maximum-torque. There are two kind
of resistance, metal resistance and liquid resistance.
In this research, rotor resistance characteristic will be discussed then
will be analyzed and examined as considerations to determine the motor
protective relay’s setting . Results of this research indicate that the use of rotor
resistance affect the relay’s setting.
Keyword—Rotor Resistance Starting Method, Motor Protective
Relay.

vii
-Halaman ini sengaja dikosongkan-

viii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
yang begitu besar, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir
yang berjudul :

ANALISIS SETTING RELE PENGAMAN MOTOR


BERDASARKAN METODE STARTING MOTOR STUDI KASUS
SISTEM KELISTRIKAN PABRIK SEMEN TONASA IV

Diharapkan laporan tugas akhir ini dapat digunakan sebagai referensi


berkaitan dengan proses produksi pada industri besar dan sistem
pengaman pada industri.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Ir. Ontoseno Penangsang, Msc, Ph.D sebagai dosen
pembimbing saya yang telah memberikan arahan dan perhatiannya
dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
2. Dimas Anton Asfani, ST, MT sebagai dosen pembimbing saya
yang telah memberikan kesempatan, arahan dan perhatiannya
dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

Sebagai penutup, penulis berharap agar laporan tugas akhir ini dapat
memberikan manfaat dan memperluas wacana dunia ketenagalistrikan.

Surabaya, Juli 2009

Penulis

ix
-Halaman ini sengaja dikosongkan-

x
ANALISIS SETTING RELE PENGAMAN MOTOR
BERDASARKAN METODE STARTING MOTOR.
STUDI KASUS SISTEM KELISTRIKAN
PABRIK SEMEN TONASA IV

TUGAS AKHIR

Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan


Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Pada
Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga
Jurusan Teknik Elektro
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Menyetujui :

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Prof.Ir.Ontoseno Penangsang, M.Sc,Ph.D. Dimas Anton Asfani, ST, MT.


NIP. 130 520 748 NIP. 132 311 412

SURABAYA
JULI, 2009

iii
-Halaman ini sengaja dikosongkan-

iv
LIST OF CONTENTS

TITLE i
LEGALIZATION PAGE iii
ABSTRACT (INDONESIA) v
ABSTRACT (ENGLISH) vii
FOREWORD ix
LIST OF CONTENTS xi
LIST OF FIGURES xv
LIST OF TABLES xix
CHAPTER I INTRODUCTION
1.1 Background 1
1.2 Problems and problem limitations 1
1.3 Objection 2
1.4 Methodology 2
1.5 Material Systematic 3
1.6 Relevance 4
CHAPTER II BASIC THEORIES
2.1 Induction Motor 5
2.1.1 Induction Motor Construction 5
2.1.2 Principle Work Of Induction Motor 6
2.1.3 Induction Motor Equivalence Circuit 6
2.1.4 Deciding Circuit Parameter 10
2.2 Induction Motor Starting Method 13
2.2.1 Motor Starting Characteristic 14
2.2.2 Direct On-line Starting 16
2.2.3 Autotransformer 18
2.2.4 Soft Starter 20
2.2.5 Wye-Delta Starting 22
2.2.6 Primary Resistor Winding 24
2.2.7 Secondary Resistor Starter 27
2.2.7.1 Metal Type 29
2.2.7.2 Liquid Type 29

xi
2.2.8 Adjustable Frequency Drives 29
2.3 Short Circuit Fault 29
2.3.1 Symetrical Fault 30
2.3.2 Type of Short Circuit Fault 30
2.3.3 Short Circuit Analysis 31
2.3.3.1 Per-unit Method for Short Circuit Analysis 32
2.3.3.2 Short Circuit Current Analysis 32
2.4 Protective Relay 35
2.4.1 Protective Relay Characteristic 35
2.4.2 Overcurrent Relay 36
CHAPTER III
ELECTRICAL SYSTEM AND SIMULATION OF PT
TONASA IV SOUTH SULAWESI
Electrical System Distribution of Tonasa IV Cement
3.1 41
Industry
Electrical Power Generation of Tonasa IV Cement
3.2 41
Industry
3.3 Substation SS-1 (Raw Mill + Crusher) 41
3.4 Substation SS-2 (Kiln + Coal Mill) 44
3.5 Substation SS-3 (Finish Mill) 47
3.6 Load Profile of Tonasa IV Cement Industry 50
3.7 Motor Starter in Tonasa IV Cement Industry 52
Existing Setting of Overcurrent Relay in Tonasa IV
3.8 53
Cement Industry
3.9 Analysis Steps and Final Project`s Simulation 56
Secondary Resistance Liquid Starter Modelling
3.9.1 57
and Motor Starting Simulation Using ETAP 4.0
3.9.1.1 Info Page 60
3.9.1.2 Model Page 61
3.9.1.3 Time Page 62
3.10 Protection Setting Using PowerPlot 2.5 63
3.10.1 Protective Relay Calculation 65
CHAPTER IV SIMULATION RESULT AND ANALYSIS
4.1 Motor Starting Modelling 67
4.2 Electrical System Analysis 81

xii
4.3 Short Circuit Current Analysis 81
4.4 Existing Relay Setting Analysis 87
4.4.1 Resetting Protective Relay Motor 402CR01M1 93
4.4.2 Setting of Protective Relay Motor 411FA06M1 94
Until Main Bus 70 kV
4.5 Resetting Overcurrent Relay Curves 102

CHAPTER V CONCLUSION
5.1 Conclusion 107
BIBLIOGRAPHY 109
APPENDIX A Mathlab Program for Modelling Motor Starting 111
APPENDIX B Cement Production of Tonasa IV 113

xiii
-Halaman ini sengaja dikosongkan-

xiv
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1a. Rotor sangkar bajing 5
Gambar 2.1b. Rotor belit 5
Gambar 2.2. Rangkaian ekivalen motor 7
Gambar 2.3. Rangkaian ekivalen rotor 7
Gambar 2.4. Rangkaian ekivalen motor dengan normalisasi rotor 8
Rangkaian ekivalen motor dengan penyederhanaan
Gambar 2.5.
rangkaian magnetisasi 9
Gambar 2.6. Rangkaian ekivalen motor dengan xφ diparalel 9
Gambar 2.7a. Tes tahanan stator 10
Gambar 2.7b. Rangkaian pengganti tes tahanan stator 11
Gambar 2.8a. Tes beban nol 11
Gambar 2.8b. Rangkaian pengganti tes beban nol 11
Gambar 2.9a. Tes locked rotor 12
Gambar 2.9b. Rangkaian pengganti tes locked rotor 12
Gambar 2.10. Kurva torka-kecepatan dan kurva arus-kecepatan 14
Gambar 2.11a. Respon motor f = 0.7 15
Gambar 2.11b. Respon motor f = 1 15
Gambar 2.11c. Respon motor f = 1.4 15
Gambar 2.11d. Respon motor f = 2 15
Gambar 2.12a. Starting direct on-line 17
Gambar 2.12b. Respon arus starting direct on-line 18
Gambar 2.13a. Starting autotransformer 19
Gambar 2.13b. Respon arus starting autotransformer 19
Gambar 2.13c. Respon torka starting autotransformer 20
Gambar 2.14a. Starting soft starter 20
Gambar 2.14b. Respon arus starting soft starter 21
Gambar 2.14c. Respon torka starting soft starter 21
Gambar 2.15a. Starting wye delta 22
Gambar 2.15b. Respon arus starting wye delta 23
Gambar 2.15c. Respon torka starting wye delta 24
Gambar 2.16a. Starting tahanan stator 25
Gambar 2.16b. Respon arus starting tahanan stator 26
Gambar 2.16c. Respon torka starting tahanan stator 26
Gambar 2.17a. Starting tahanan rotor 27
Gambar 2.17b. Respon arus starting tahanan rotor 28
Gambar 2.17c. Respon torka starting tahanan rotor 28

xv
Gambar 2.18. Fasor tiga komponen urutan fasa 30
Gambar 2.19. Macam-macam hubungan singkat 31
Single line diagram sebelum diubah menjadi diagram 33
Gambar 2.20.
reaktansi
Diagram reaktansi dari single line diagram Gambar 34
Gambar 2.21.
2.20
Gambar 2.22. Karakteristik arus lebih instaneous 37
Gambar 2.23. Karakteristik arus lebih definite 37
Gambar 2.24. Karakteristik arus lebih inverse 38
Gambar 2.25. Skema rele arus lebih 38
Gambar 2.26. Karakteristik operasi rele arus lebih inverse 40
Gambar 3.1. Single line diagram bus SS-1(SG2) 42
Gambar 3.2. Single line diagram bus SS-1(SG3) 44
Gambar 3.3. Single line diagram bus SS-2(SG4) 46
Gambar 3.4. Single line diagram bus SS-2(ESG1) 47
Gambar 3.5. Single line diagram bus SS-3(SG7) 48
Gambar 3.6. Single line diagram bus SS-3(SG6) 50
Gambar 3.7. Diagram alir tugas akhir 57
Gambar 3.8. Tampilan library 58
Gambar 3.9. Tampilan motor characteristic model 59
Gambar 3.10. Tampilan motor characteristic model library editor. 59
Gambar 3.11. Tampilan induction motor editor 60
Gambar 3.12. Info page 61
Gambar 3.13. Model page 61
Gambar 3.14. Time page 62
Gambar 3.15. Tampilan user curve 64
Diagram alir perhitungan respon motor dengan liquid 68
Gambar 4.1.
starter
Gambar 4.2. Respon torka starting motor dengan liquid starter 72
Gambar 4.3. Respon arus starting motor dengan liquid starter 72
Gambar 4.4. Respon Pf starting motor dengan liquid starter 73
Gambar 4.5. Respon Pf starting motor dengan liquid starter 73
Gambar 4.6. Arus starting 402CR01M1 74
Gambar 4.7. Ilustrasi durasi waktu terhadap arus 77
Gambar 4.8. Arus starting 411FA06M1 80
Gambar 4.9 Diagram reaktansi hubung singkat 30 cycle bus SG2 83

Gambar 4.10 Diagram reaktansi normalisasi hubung singkat 30 85


cycle bus SG2

xvi
Penyederhanaan rangkaian untuk penentuan reaktansi
Gambar 4.11 85
pengganti hubung singkat 30 cycle pada bus SG2
Arus starting direct on-line dan setting rele eksisting
Gambar 4.12 89
motor 402CR01M1
Arus starting liquid starter dan setting rele eksisting
Gambar 4.13 90
motor 402CR01M1
Arus starting direct on-line dan setting rele eksisting
Gambar 4.14 91
motor 411FA06M1
Arus starting liquid starter dan setting rele eksisting
Gambar 4.15 92
motor 411FA06M1
Gambar 4.16 Single line diagram rele SG2F2 93
Gambar 4.17 Single line diagram rele SG2F7 hingga rele HV SG3 95
Kurva koordinasi proteksi resetting dari rele motor
Gambar 4.18 103
402CR01M1
Kurva koordinasi proteksi resetting dari rele motor
Gambar 4.19 104
411FA06M1
Kurva koordinasi line proteksi resetting dari bus SG-
Gambar 4.20 105
2 hingga main bus HV
Gambar B.1 Proses produksi semen 113

xvii
-Halaman ini sengaja dikosongkan-

xviii
DAFTAR ISI

Judul i
Lembar Pengesahan iii
Abstrak v
Abstract vii
Kata Pengantar ix
Daftar Isi xi
Daftar Gambar xv
Daftar Tabel xix
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Permasalahan dan Batasan Masalah 1
1.3 Tujuan 2
1.4 Metode Penelitian 2
1.5 Sistematika Pembahasan 3
1.6 Relevansi 4
BAB II DASAR TEORI
2.1 Motor Induksi 5
2.1.1 Konstruksi Motor Induksi 5
2.1.2 Prinsip Kerja Motor Induksi 6
2.1.3 Rangkaian Ekivalen Motor 6
2.1.4 Penentuan Parameter Rangkaian 10
2.2 Metoda Starting Motor Induksi 13
2.2.1 Karakteristik Starting Motor 14
2.2.2 Direct On-line Starting 16
2.2.3 Autotransformer 18
2.2.4 Soft Starter 20
2.2.5 Wye-Delta Starting 22
2.2.6 Primary Resistor Winding 24
2.2.7 Secondary Resistor Starter 27
2.2.7.1 Tipe Metal 29
2.2.7.2 Tipe Liquid 29

xi
2.2.8 Adjustable Frequency Drives 29
2.3 Gangguan Hubung Singkat 29
2.3.1 Komponen Simetri 30
2.3.2 Jenis Gangguan Hubung Singkat 30
2.3.3 Analisa Hubung Singkat 31
Metode Per-unit untuk Analisa Hubung
2.3.3.1 32
Singkat
2.3.3.2 Perhitungan Arus Hubung Singkat 32
2.4 Rele Pengaman 35
2.4.1 Karakteristik Rele Pengaman 35
2.4.2 Rele Pengaman Arus Lebih 36
BAB III SISTEM KELISTRIKAN DAN SIMULASI PT
TONASA IV SULAWESI SELATAN
Sistem Jaringan Tenaga Listrik di Pabrik Semen
3.1 41
Tonasa IV
Sistem Pembangkit Tenaga Listrik di Pabrik Semen
3.2 41
Tonasa IV
3.3 Substation SS-1 (Raw Mill + Crusher) 41
3.4 Substation SS-2 (Kiln + Coal Mill) 44
3.5 Substation SS-3 (Finish Mill) 47
Pola Pembebanan pada Sistem Kelistrikan Pabrik
3.6 50
Semen Tonasa IV
3.7 Penggunaan Motor Starter di Pabrik Semen Tonasa IV 52
3.8 Peralatan Pengaman Arus Lebih 53
3.9 Langkah Analisis dan Simulasi Tugas Akhir 56
Pemodelan Resistor Sekunder Liquid dan Simulasi
3.9.1 57
Motor Starting pada Perangkat Lunak ETAP 4.0
3.9.1.1 Info Page 60
3.9.1.2 Model Page 61
3.9.1.3 Time Page 62
3.10 Setting Pengaman pada Perangkat Lunak PowerPlot 2.5 63
3.10.1 Perhitungan Setting Pengaman 65
BAB IV HASIL SIMULASI DAN ANALISIS
4.1 Pemodelan Motor Starting 67
4.2 Analisa Sistem Kelistrikan 81
4.3 Perhitungan Arus Hubung Singkat 81

xii
4.4 Analisis Setting Rele Existing 87
4.4.1 Resetting Rele Motor 402CR01M1 93
4.4.2 Setting Rele Motor 411FA06M1 hingga Main Bus 94
70 kV
4.5 Kurva Pengaman Arus Lebih Hasil Resetting 102

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan 107
DAFTAR PUSTAKA 109
LAMPIRAN A Program Matlab Pemodelan Motor Starting 111
LAMPIRAN B Proses Produksi Pabrik Semen Tonasa IV 113

xiii
-Halaman ini sengaja dikosongkan-

xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Tabel nilai X1 dan X2 terhadap jenis motor induksi 12
Tabel 2.2. Faktor pengali asymmetrical short-circuit current 34
Tabel 2.3. Konstansta kurva IEEE 39
Tabel 3.1. Data motor induksi SS-1(SG2) 42
Tabel 3.2. Data beban lump SS-1(SG2) 42
Tabel 3.3. Data motor induksi SS-1(SG3) 43
Tabel 3.4. Data beban lump SS-1(SG3) 43
Tabel 3.5. Data motor di substation SS-2(SG4) 45
Tabel 3.6. Data beban lump SS-2(SG4) 45
Tabel 3.7. Data beban lump EMDB-1 46
Tabel 3.8. Data beban lump EMDB-12 46
Tabel 3.9. Data motor induksi SS-3(SG7) 48
Tabel 3.10. Data beban lump SS-3(SG7) 48
Tabel 3.11. Data motor induksi SS-3(SG6) 49
Tabel 3.12. Data beban lump SS-3(SG6) 49
Tabel 3.13. Persen loading pada setiap beban 51
Tabel 3.14 Data tipe motor starter 53
Tabulasi setting eksisting rele pada bus high voltage
Tabel 3.15. 53
70 kv
Tabel 3.16. Tabulasi setting eksisting rele pada bus 6,3 kV 54
Tabel 4.1. Data motor 402CR01M1 67
Tabel 4.2. Plot respon motor 402CR01M1 dengan liquid starter 71
Hasil simulasi motor starting analysis motor
Tabel 4.3. 75
402CR01M1
Durasi waktu terhadap tingkat arus motor
Tabel 4.4. 78
402CR01M1
Tabel 4.5. Data motor 411FA06M1 79
Tabel 4.6. Plot respon motor 411FA06M1 dengan liquid starter 79
Tabel 4.7. Kondisi pembangkitan 81
Tabel reaktansi generator dan trafo tegangan
Tabel 4.8. menengah untuk analisis hubung singkat 30 cycle 82
SG2 Tonasa IV
Tabel 4.9. Impedansi hubung singkat sistem kelistrikan (Ω) 87
Tabel 4.10. Arus hubung singkat pada bus motor medium voltage 87

xix
- Halaman ini sengaja dikosongkan-

xx