Anda di halaman 1dari 51

RINGKASAN EKSEKUTIF

RINGKASAN EKSEKUTIF

LATAR BELAKANG
Dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang pada pasal 6
ayat 1 huruf (a) disebutkan bahwa Penataan ruang diselenggarakan dengan
memperhatikan kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan
terhadap bencana. Secara geografis, letak Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berada di antara dua benua dan dua samudera sangat strategis, baik bagi kepentingan
nasional maupun internasional. Secara ekosistem, kondisi alamiah Indonesia sangat
khas karena posisinya yang berada di dekat khatulistiwa dengan cuaca, musim, dan iklim
tropis, yang merupakan aset atau sumber daya yang sangat besar bagi bangsa
Indonesia.

Di samping keberadaan yang


bernilai sangat strategis tersebut,
Indonesia berada pula pada
kawasan rawan bencana, yang
secara alamiah dapat
mengancam keselamatan
bangsa. Pada tahun 2010
Indonesia diguncang berbagai
bencana alam, tiga yang paling besar diantaranya adalah bencana gempa dan tsunami di
Mentawai, Sumatera Barat, bencana Letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan D.I.
Yogyakarta, dan bencana longsor di Wasior, Papua Barat. Dampak dari bencana
tersebut sangat masif, baik dari segi kerusakan infrastruktur, kehilangan mata
pencaharian masyarakat, maupun korban jiwa. Dengan keberadaan tersebut,

RINGKASAN EKSEKUTIF 1
RINGKASAN EKSEKUTIF

penyelenggaraan penataan ruang wilayah nasional harus dilakukan secara


komprehensif, holistik, terkoordinasi, terpadu, efektif, dan efisien dengan memperhatikan
faktor politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan kelestarian
lingkungan hidup. Yang termasuk kawasan rawan bencana alam, antara lain, kawasan
rawan letusan gunung berapi, kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan tanah
longsor, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir. Gunung Merapi,
yang merupakan satu dari sekitar 126 gunung api aktif di Indonesia, merupakan salah
satu gunung api yang paling aktif di Pulau Jawa. karena termasuk dalam salah satu
rangkaian gunung vulkanik yang berada pada gugusan cincin pasifik (ring of fire), yang
merupakan pertemuan berbagai lempeng benua dan samudera serta patahan dan
barisan gunung api. Letusan Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010
menghancurkan beberapa dusun dan beberapa desa, serta dampak tidak langsung
akibat banjir lahan dingin yang memiliki daya rusak sampai ke daerah hilir dari Gunung
Merapi.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, pada tahun 2011 Direktorat Jenderal Penataan
Ruang melalui Direktorat Pembinaan Penataan Ruang daerah Wilayah I akan
menyelenggarakan kegiatan Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Gunung
Merapi dalam rangka mendorong terwujudnya penyelenggaraan penataan ruang yang
berbasis mitigasi bencana.

MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari kegiatan Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Gunung Merapi
adalah untuk menyusun rencana rinci tata ruang kawasan yang terdampak bencana
letusan Gunung Merapi dalam rangka mitigasi bencana dan mendukung penyusunan
Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Gunung Merapi.

Sedangkan tujuan dari kegiatan penysunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan
Gunung Merapi ini adalah :
1. Mengoptimalkan pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati dan sosial budaya
pada Kawasan Gunung Merapi dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang
menjamin kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan berbasis
mitigasi bencana;
2. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu,
terkoordinasi, dan menyeluruh dengan memperhatikan nilai-nilai budaya lokal;
dan

RINGKASAN EKSEKUTIF 2
RINGKASAN EKSEKUTIF

3. Mewujudkan keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan.

KEBIJAKAN DAN STRATEGI


Kebijakan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Gunung Merapi meliputi:
a. pelestarian lingkungan dan peningkatan fungsi lindung Kawasan Gunung Merapi;
b. pengendalian perkembangan kawasan budidaya dalam mendukung fungsi lindung
Kawasan Gunung Merapi;
c. pengembangan Kawasan Gunung Merapi berbasis mitigasi bencana; dan
d. penguatan kelembagaan dan kerjasama antarsektor dan antardaerah dalam
penanggulangan bencana.

Strategi untuk mewujudkan pelestarian lingkungan dan peningkatan fungsi lindung


Kawasan Gunung Merapisebagaimana meliputi:
a. Mempertahankan fungsi konservasi untuk keberlanjutan hidup ekosistem dan
keanekaragaman hayati beserta habitatnya;
b. Memulihkan ekosistem TN yang mengalami kerusakan;
c. Melindungi dan mengembangkan kawasan lindung untuk menjaga keseimbangan
tata air, iklim makro, dan lingkungan alami; dan
d. Mengembangkan TN Gunung Merapi sebagai pusat penelitian, pendidikan,
pariwisata alam, serta pengembangan keanekaragaman hayati dan ekosistem.

Strategi untuk mewujudkan pengendalian perkembangan kawasan budidaya dalam


mendukung fungsi lindung Kawasan Gunung Merapi meliputi:
a. Mengintegrasikan pengembangan kawasan lindung dan kawasan budidaya;
b. Mencegah dan membatasi kegiatan pemanfaatan ruang yang berpotensi
mengurangi fungsi lindung kawasan; dan
c. Mengembangkan kegiatan pemanfaatan ruang yang mendukung fungsi lindung,
melalui pemanfaatan dan pengembangan potensi alam, keanekaragaman hayati,
keunikan vulkanik, dan kekhasan sosial budaya masyarakat lokal pada Kawasan
Gunung Merapi.

Strategi untuk mewujudkan pengembangan Kawasan Gunung Merapiberbasis mitigasi


bencana meliputi:
a. Mengembangkan kawasan lindung untuk mengurangi dampak bencana;
b. Menetapkan jalur dan ruang evakuasi bencana;
c. Menata dan meningkatkan kapasitas kawasan sepanjang jalur lahar dingin;

RINGKASAN EKSEKUTIF 3
RINGKASAN EKSEKUTIF

d. Mengembangkan sistem peringatan dini bencana; dan


e. Mewujudkan kesadaran masyarakat untuk sadar risiko bencana.
Strategi untuk mewujudkan penguatan kelembagaan dan kerjasama antar sektor dan
antar daerah dalam penanggulangan bencana meliputi:
a. mengembangkan sistem data dan informasi Kawasan Gunung Merapiyang
terintegrasi;
b. mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat sesuai dengan kondisi dan
karakteristik daerah; dan
c. mengembangkan kerajasama antar daerah dalam penyediaan dan pengelolaan
sarana dan prasarana.

KONDISI SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT


Pengertian desa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa,
adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang
untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul
dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Koentjaraningrat, suatu masyarakat desa menjadi
suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial didasarkan atas dua macam prinsip yakni:
1) prinsip hubungan kekerabatan (geneologis), 2) prinsip hubungan tinggal dekat/
teritorial. Lebih lanjut dikatakan bahwa prinsip ini tidak lengkap apabila yang mengikat
adanya aktivitas tidak diikutsertakan, yaitu: 1) tujuan khusus yang ditentukan oleh faktor
ekologis, 2) prinsip yang datang dari “atas” oleh aturan dan undang-undang. (Sumber
:Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Dian Rakyat, Jakarta: 1990)

Masyarakat pedesaan di pulau Jawa pada umumnya memiliki ikatan pada tanah asal
yang kuat. Bentuk kelompok masyarakat pada umumnya merupakan kelompok
paguyuban (gemeinschaft), yaitu bentuk kehidupan bersama dimana anggotanya diikat
oleh hubungan batin yang bersifat alamiah dan dasar dari hubungan tersebut adalah rasa
cinta dan kesatuan batin yang telah dikodratkan. Hubungan kekerabatan dalam
paguyuban ini menyebabkan lahirnya persekutuan hidup secara permanen pada suatu
tempat dan wilayah geografis tertentu. Sifat dari persekutuan hidup dalam masyarakat ini
terlihat sebagai: 1) hubungan keseharian yang kekeluargaan, 2) adanya kolektivitas
dalam pembagian dan pengerjaan lahan, 3) munculnya kesatuan ekonomi dalam
pemenuhan kehidupan sehari-hari.

RINGKASAN EKSEKUTIF 4
RINGKASAN EKSEKUTIF

Dalam relasi antar anggota masyarakat pedesaaan, terwujud struktur sosial yakni tatanan
atau susunan sosial baik vertikal maupun horizontal, yang membentuk kelompok-
kelompok sosial dalam masyarakat. Struktur sosial pada dasarnya adalah perilaku aktual
yang diperlihatkan oleh manusia, baik yang timbul karena hubungan diantara sesama
mereka, maupun karena hubungan mereka dengan lingkungan biofisik mereka.
Superstruktur ideologis meliputi cara-cara yang telah terpolakan yang dengan cara
tersebut para anggota masyarakat berpikir, melakukan konseptualisasi, menilai dan
merasa. Superstruktur ideologis terdiri dari beberapa unsur yakni ideologi umum, agama
lokal, ilmu pengetahuan, kesenian dan kesusasteraan.

Demikian pula halnya pada desa-desa di lereng gunung Merapi, secara umum warga
desa yang termasuk pada ciri kelompok paguyuban, terikat secara geneologis sekaligus
juga terikat secara teritori. Budaya dan adat-istiadat lokal merupakan suatu bentuk ikatan
sosial bersama antar warga yang menjaga harmonisasi kehidupan antar anggota
masyarakat dan antara masyarakat dengan lingkungan tempat tinggal dan tempat
mencari penghidupan.

Secara geografis letak Gunung Merapi cukup dekat dengan Kota Yogyakarta, dan
wilayah Kabupaten Magelang, Boyolali, Klaten dan Surakarta. Sejak lama lereng Gunung
Merapi telah menjadi tempat hunian sejumlah penduduk yang mendiami bangunan
pedesaan perbukitan atau dataran tinggi sampai ketinggian 1.700 meter di atas
permukaan laut. Sebagian besar penduduk pedesaan lereng Gunung Merapi hidup dari
sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan jasa pariwisata, di samping ada pula
yang berpenghidupan sebagai pengambil material pasir yang berasal dari letusan
Gunung Merapi. Secara sosiologis mereka dapat digolongkan sebagai masyarakat petani
(peasant) Jawa, dan sebagian di antaranya menjadi masyarakat agrobisnis yang hidup
di lingkungan agraris dataran tinggi yang subur dan (boleh disebut) makmur.

Sejak lama mereka telah hidup dalam ikatan kesatuan pedesaan Jawa semenjak masa
tradisional (masa kerajaan), hingga masa kolonial dan masa kemerdekaan. Pada masa
kerajaan, terutama masa kerajaan Mataram dan masa Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat dan Kesunanan Surakarta, penduduk pedesaan kawasan Gunung Merapi
termasuk menjadi kawula warga kerajaan atau keraton tersebut. Sebagai kawula warga
kerajaan mereka memiliki hak dan kewajiban, serta ikatan hubungan struktural dan
kultural dengan raja atau Sultan yang bertahtata di istana kerajaan sejak kerajaan
Mataram sampai Kasultanan Yogyakarta. Demikian pula semenjak masa pemerintahan

RINGKASAN EKSEKUTIF 5
RINGKASAN EKSEKUTIF

Vorstenlanden (PrajaKejawen) pada masa kolonial (1831-1940) sampai masa


Pemerintahan Daerah Istimewa (DIY) pada masa Republik Indonesia (sejak 1945),
hubungan struktural dan kultural tersebut tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Secara sosio-kultural pada tingkat desa masyarakat kawasan Gunung Merapi, seperti
halnya masyarakat pedesaan lainnya, terbagi atas kesatuan ikatan keluarga (family) dan
kesatuan rumah tangga yang terbagi atas kepala rumah tangga (suami), istri, dan anak-
anak (nuclear family), dan tidak jarang juga termasuk di dalamnya kakek atau nenek,
adik atau cucu, tinggal serumah (extended family). Ada petunjuk pola hubungan
kekerabatan di daerah pedesaan ini pada taraf tertentu masih cukup lekat, sehingga
ikatan kekerabatan dan trah pada satu sisi ikut menjadi pengikat pola hubungan sosial
dan kultural di kawasan ini.

Selain itu, secara administratif wilayah pedesaan di kawasan Gunung Merapi terbagi atas
kesatuan Kelurahaan dan Pedukuhan yang menyatukan ikatan rumah tangga dan
keluarga penduduk warga pedesaan menjadi satuan kesatuan ikatan sepasial-teritorial
administratif dan kesatuan sosial dan kultural yang kuat dalam kehidupan masyarakat
pedesaan kawasan Gunung Merapi. Terbentuknya ikatan kesatuan spasial-teritorial dan
sosio-kultural tersebut pada dasarnya diperkuat dengan terbentunya pola hubungan
kepemimpinan antara warga desa dengan pemimpin formalnya (lurah dan dukuh) dan
warga desa dengan pemimpin non-formal seperti pada kepemiminan keagamaan (kyai,
pedeta, atau sejenisnya) dan kepemimpinan spiritual/ kharismatik seperti yang tercermin
pada tokoh Mbah Marijan dan lainnya. Bentuk, struktur dan sistem sosial dan kultural
tersebut pada hakekatnya telah menjadi basis bangunan sistem kehidupan yang
mendasar bagi penduduk pedesaan di kawasan ini dalam membangun tata ruang dan
tata kehidupannya dalam ekologi kawasan Gunung Merapi dari masa ke masa.

Bencana letusan Gunung Merapi yang dahsyat terakhir ini pada hakekatnya dapat
dipandang telah mengakibatkan terjadinya kehancuran multidimensi, yaitu kehancuran
ekologis, kehancuran spasial teritorial, kehancural ekonomis, dan kehancuran dimensi
sosial dan kultural. Kehancuran atau kerusakan ekologis secara nyata telah terbukti.
Banyak habitat lingkungan hancur seperti hancurnya pertanahan, tumbuh-tumbuhan,
binatang, sumber mata air, aliran sungai dan sebagainya. Kehancuran atau kerusakan
spasial teritorial ditandai dengan hilangnya batas wilayah atau desa karena hilangnya
kawasan pedesaan atau pedukuhan sebagai akibat tertimbun oleh material pasir atau
lumpur lahar. Kehancuran ekonomis ditandai dengan hilangnya lahan pertanian,
perkebunan, peternakan, bangunan gedung, rumah tinggal beseta harta benda. Secara

RINGKASAN EKSEKUTIF 6
RINGKASAN EKSEKUTIF

sosiologis akibat meninggalnya sejumlah keluarga penduduk, baik yang telah ditemukan
ataupun yang hilang, baik yang luka-luka maupun cacat pada dasarnya telah membawa
keguncangan kehidupan sosial dan kultural pada masyarakat di kawasan Gunung
Merapi. Keguncangan kehidupan sosial dan kultural tersebut menjadi lebih besar setelah
diikuti dengan kehancuran multidimensional tersebut di atas.

Secara struktural dan kultural masyarakat korban bencana letusan Gunung Merapi telah
mengalami kerusakan dan kehancuran sumber kehidupan, ikatan keluarga, ikatan sosial,
ikatan spasial teritorialnya, yaitu kesatuan wilayah pedesaannya, dan keterputusan
dangan para pemimipin dan panutannya (patron). Dengan kata lain sebagian dari
masyarakat yang terkena bencana Gunung Merapi banyak yang mengalami krisis
mentalitas/spiritualitas (stress, frustration, and depression) dan krisis sosial-kultural yang
membahayakan kelangsungan kehidupan mereka di masa depan. Dimensi-dimeni
sosiologis semacam ini menjadi penting untuk dipertimbangkan dalam rehabilitasi dan
penataan ruang kawasan Gunung Merapi (Djoko Suryo, 2010).

KONDISI GEOLOGI
Geologi Gunung Merapi telah di petakan oleh Wirakusumah dkk (1989), dimana evolusi
kegiatannya dibagi dalam empat periode dari tua ke muda yakni : Purba, Tua, Menengah,
dan Muda. Deskripsi detil pengelompokan ini dapat dijumpai dalam bahar (1984),
Delmarmol (1989), dan Berthomier (1990). Keabsahan 4 periode ini dipertanyakan
karena sedikit sekali stratigrafi yang di buat dalam studi tersebut dan kurangnya kronologi
yang berhubungan. Menurut Berthomier dkk (1999), secara stratigrafi evolusi
pembentukan tubuh Gunung Merapi dapat di kelompokkan dalam 4 tahap yakni :
a. Merapi Purba (40.000 – 6.700 tahun bp)
Bukit – bukit Turgo dan pelawangan termasuk dalam tahap ini. Bukit-bukit ini di
anggap sebagai hasil erupsi samping Gunung Merapi yang menghasilkan selang
seling sekoria dan lava. Sedangkan Gunung Bibi diperkirakan berumur lebih tua dari
pada merapi purba atau Pra Merapi.
b. Merapi menengah (6700 – 2200 tahun bp)
Tahap ini di wakili oleh dua aliran lava (Batu lawang tua dan Gajah Mungkur muda)
yang berselingan endapan-endapan awan panas.
c. Merapi sekarang (2200 – 600 tahun bp)
Pada stadia ini juga meliputi perselingan antara lava dan endapan-endapan awan
panas. Selama tahap ini terjadi 2 erupsi besar freatomagmatik. Yang pertama terjadi
pada 2000 hingga 1000 tahun bp, yang kedua terjadi pada 500 tahun yang lalu.

RINGKASAN EKSEKUTIF 7
RINGKASAN EKSEKUTIF

d. Merapi dalam waktu sejarah (500 tahun – Sekarang)


Tahap ini meliputi erupsi sepanjang 600 tahun, yang di dominasi oleh perulangan
pembangunan kubah lava dan kejadian-kejadin keruntuhan kubah lava yang
menghasilkan awan panas guguran dan lahar.

Diusulkan juga bahwa tubuh Gunung Merapi saat ini didahului oleh tubuh Pra-Merapi
yaitu Gunung Bibi yang berumur 40.000 bp. Studi ini berdasarkan stratigrafi yang
mencakup bagian atas dari periode menengah dan periode Merapi waktu sejarah yang
lebih tua dari 3000 tahun hingga saat ini dari klasifikasi berthomier’s dalam Andreastuti
(1999).

Sementara itu menurut Newhall dkk (2000) bahwa pembentukan Merapi dapat di
kelompokkan menjadi 3 tahap yaitu :
a. Proto Merapi (plistosen atas Newhall dkk, 2000)
Gunung Turgo dan Gunung Lawangan diintepretasikan sebagai sisa erosi dari proto
merapi, atau setara dengan Merapi Purba (Camus dkk,2000). Umur batuan yang
diperoleh dari batuan basltis dengan metode U – Th adalah 40000 +- 1800 tahun
(berthomier dkk, 1990).
b. Merapi Tua (setara dengan permulaan tahun masehi)
Pada tahap ini diperkirakan terbentuknya Gunung Bibi setara dengan tefra sumber
(Andreastuti,2000), awal terbentuknya danau Borobudur atau setara dengan
terjadinya tefra kadisepi (Andreastuti, 2000). Pertumbuhan Merapi Tua berlanjut dan
endapan piroklastik termuda di lereng timur,pembentukan suma dan terjadinya debris
avalance. Pada pertumbuhan Merapi Tua setelah Kadisepi juga diendapkan satuan-
satuan tefra Bakalan, Jarak, Kujon, Tosari, Ngrangkah, Nglencoh, Tegalseruni,
Temusari dan terakhir Temusasri sebelum terbentuknya Merapi Muda.
c. Merapi Muda (sekarang)
Dalam pertumbuhannya Merapi Muda mengalami letusan-letusan besar. Pada tahap
ini juga merupakan masa pembangunan candi-candi besar yaitu antara tahun 732 –
928, dan pada tahun 928 peradapan Mataram menurun. Namun pada tahap ini terjadi
erupsi-erupsi besar, kemungkinan pembendungan danau Borobudur kedua, selain itu
terjadi longsoran puing vulkanik / ”volcanic debris avalanche”, banyak terjadi erupsi
bersifat esplosive dan perselingan antara pertumpuhan dan guguran kubah lava

RINGKASAN EKSEKUTIF 8
RINGKASAN EKSEKUTIF

(Newhall dkk, 2000), dan pada umumnya erupsi-erupsi yang terjadi pada abad 20 ini
relatif lemah. Erupsi - erupsi yang terjadi pada periode Merapi Muda ini juga
menghasilkan banyak tefra berurutan dari tua ke muda adalah tefra Jrakah, Selo,
Muntilan, Deles, Selokopo, Kepuharjo, dan Pasar Bubar (Andreastuti dkk, 2000).

Gunung Merapi merupakan gunung api muda yang dicirikan oleh bentuk kerucut yang
jelas, lembahnya berarah radial sentrifugal yang timbul sesudah erupsi yang begitu
dalam dan belum berhubungan. Bahan yang sering dikeluarkan ketika erupsi meliputi
rempah-rempah atau bahan lepas piroklastik. Karena erupsinya berganti-ganti antara
bahan lepas dan lava maka terjadilah bentuk yang berlapis (strato volcano). Erupsi
Gunung Merapi dibedakan menjadi dua, yaitu erupsi Merapi Tua dan erupsi Merapi
Muda. Erupsi Merapi Tua terdiri atas batuan basalt yang mengandung mineral olivin dan
pada tingkat kegiatan yang lebih akhir erupsinya terdiri atas batuan andesit dengan
mineral-mineral augit, hiperstein dan hornblende (Bemmelen, 1949). Batuannya bersifat
kedap air, sedangkan ketebalannya tidak diketahui dengan pasti. Erupsi Merapi Tua ini
berumur Pleistosen Atas.

Erupsi yang sekarang ini merupakan erupsi Merapi Muda, yang terdiri dari batuan
andesit yang mengandung mineral augit dan hiperstein. Batuan ini berumur Holosen.
Endapan volkanik Merapi Muda ini sangat jelas ukuran bahan piroklastiknya, yaitu berupa
bongkah-bongkah pada bagian atas (kerucut) Gunung Merapi, semakin ke arah selatan
semakin mengecil ukurannya dan di bagian selatan mempunyai ukuran pasir halus. Ciri
endapan gunungapi di daerah penelitian yaitu mempunyai pergantian jenis batuan baik
vertikal atau horisontal. Perbedaan ukuran butir dan kekompakan batuan akan
menimbulkan perubahan landaian (gradien) permukaan tanah (Spellman, 1979). Secara
tidak langsung juga akan menimbulkan perbedaan kesarangan (porosity), kelolosan
(permeability) dan ketahanan batuan terhadap kikisan air.

Mac Donald dan Partners (1984), melakukan pemboran yang hasilnya adalah Formasi
Sleman mempunyai susunan pada bagian atas tersusun oleh abu volkanik dan batu
lempung setebal 0 hingga 20 m, pada kedalaman 20 hingga 80 m terdapat pasir lepas
yang sering dijumpai lapisan lempung. Kemudian Formasi Yogyakarta membentuk
singkapan di hampir seluruh dataran rendah Yogyakarta. Formasi ini tersusun oleh
lapisan selang-seling antara lapisan batuan pasir, gravel, debu, dan lempung. Semakin
ke arah Selatan jumlah kandungan lempungnya semakin besar. Ketebalan Formasi ini

RINGKASAN EKSEKUTIF 9
RINGKASAN EKSEKUTIF

berkisar antara 20 hingga 80 m. Kawasan Gunung Merapi bagian Barat tersusun oleh
satuan batuan tertua berumur Eosen hingga batuan-batuan yang lebih muda, berumur
Kuarter. Urutan satuan batuan dari tua ke muda yaitu :
1. Satuan batulempung kaya fosil moluska, terdiri dari batulempung cukup tebal dan
kaya mengandung fosil moluska. Satuan ini dinamakan Formasi Nanggulan dan
berumur Eosen.
2. Satuan breksi vulkanik, terdiri dari breksi vulkanik dengan sisipan batupasir tufan.
Satuan ini dinamakan Formasi Andesit Tua, ada juga yang menyebutnya Formasi
Bemmelen.
3. Satuan batuan andesit, terdiri dari batuan beku andesit (Batuan
Terobosan).

Secara tidak selaras di atasnya, terendapkan batuan - batuan kuarter yaitu :


1. Satuan aliran andesit porfir dan lahar kasar. Satuan batuan ini dinamakan Andesit
porfir dan lahar.
2. Satuan endapan vulkanik, satuan ini merupakan hasil aktivitas Gunung
Merapi Tua.
3. Satuan tuf, breksi, aglomerat dan lelehan lava. Satuan batuan ini
merupakan hasil aktivitas Gunungapi Merapi Muda.
4. Satuan endapan Koluvium, satuan ini dinamakan Endapan Koluvium.
5. Satuan batuan Dasit, satuan ini dinamakan Batuan Dasit.
6. Satuan tuf, breksi, andesit, satuan ini dinamakan Endapan Kerucut
Gunungapi.
7. Satuan breksi vulkanik, aliran lava, tuf, batupasir tufan, dan batu lempung. Satuan
ini dinamakan Formasi Kaligetas.
8. Satuan kerikil, pasir, lanau dan lempung, dinamakan aluvium.

Kawasan Gunung Merapi bagian Timur didominasi


oleh formasi batuan Gunung Api Tak Terpisahkan dan
sedikit formasi Endapan Gunungapi Merapi Tua di
bagian lereng Gunung Merapi. Kondisi geologi
kawasan Gunung Merapi bagian Utara berdasarkan
kondisi fisik permukaan dan batu-batuan yang ada
secara umum merupakan daerah yang tertutup oleh

RINGKASAN EKSEKUTIF 10
RINGKASAN EKSEKUTIF

endapan vulkanik kwarter dari batuan phyroplastik dan terdiri dari rombakan batuan yang
lebih tua dari phyroplastik atau endapan aluvial.Formasi geologi untuk kawasan Merapi
bagian Selatan, jenis batuan dan sebarannya menurut Wartono Raharjo dkk (1977),
sebagian besar terbentuk oleh Formasi Merapi Muda yang terdiri atas lava, tuf dan
breksi. Material hasil aktivitas Gunung Merapi yang diendapkan secara bertahap dan
membentuk perlapisan dapat berfungsi sebagai media penyimpan air tanah yang penting.

KONDISI TOPOGRAFI
Secara umum kondisi topografi Gunung Merapi memiliki ketinggian ± 75 - 2.500 mdpl dan
memiliki kemiringan lereng berbeda pada tiap bagian kawasannya. Bagian Selatan
kawasan merupakan wilayah yang bervariasi yakni dari dataran rendah dengan
ketinggian 100 mdpl sampai dengan daerah lereng Gunung Merapi pada ketinggian
2.000 mdpl. Di bagian tengah terdapat dua bukit yaitu : Bukit Turgo dan Bukit Plawangan
yang merupakan bagian kawasan wisata Kaliurang. Di bagian lereng puncak Merapi II
reliefnya curam sampai sangat curam. Bagian Timur kawasan merupakan wilayah
dataran rendah sampai sampai berbukit dengan ketinggian 200 – 2.000 mdpl.

Bagian Utara kawasan sebagian besar merupakan wilayah dataran tinggi yakniberada
diantara Gunung Merapi yang masih aktif dan gunung Merbabu yang sudah tidak aktif,
dengan ketinggian 400 - 2000 mdpl. Di wilayah ini melintas 4 sungai (Serang, Cemoro,
Pepe, dan Gandul). Di samping itu ada sumber-sumber air lain berupa mata air dan
waduk. Bagian Barat merupakan wilayah dengan ketinggian yang bervariasi dari 200 –
2000 mdpl, semakin kerarah puncak Gunung Merapi kelerengan lahan semakin curam.

KEPENDUDUKAN
Karakteristik dan perilaku penduduk merupakan salah satu komponen penting yang akan
berpengaruh pada jenis dan intensitas kegiatan sosial ekonomi dan kinerja atau
pengembangan wilayah.

Sebagai dasar analisis terhadap strategi serta rencana penataan ruang Kawasan
Gunung Merapi, hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah dan kepadatan penduduk,
Pertumbuhan, dan komposisi penduduk. Selain hal tersebut juga perlu memperhatikan
perilaku penduduk dalam kegiatan sehari-hari dan tatanan sosial masyarakat di Kawasan
Gunung Merapi, dalam hal ini prilaku penduduk di Kawasan Gunung Merapi di 4
kabupaten yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal serta sistem kelembagaan
dan tatanan sosial yang ada.

RINGKASAN EKSEKUTIF 11
RINGKASAN EKSEKUTIF

Berdasarkan data statistik, jumlah penduduk di Kawasan Gunung Merapi tahun 2009
yang meliputi 4 kabupaten berjumlah 814,725 jiwa dengan jumlah penduduk tertinggi
berada di bagian barat Kawasan Gunung Merapi, yaitu di Kecamatan Muntilan
Kabupaten Magelang sebesar 73.754 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk terendah
berada di bagian utara Kawasan Gunung Merapi, yaitu Kecamatan Selo Kabupaten
Boyolali sebesar 26.845 jiwa. Jumlah penduduk masing-masing kabupaten selama kurun
waktu lima tahun terakhir cenderung meningkat, walaupun ada kabupaten yang
mengalami penurunan jumlah penduduk. Penurunan jumlah penduduk ini disebabkan
oleh bencana alam yang terjadi di daerah tersebut. Penurunan jumlah penduduk yang
cukup signifikan terjadi di Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang. Penurunannya
mencapai sekitar 4.000 jiwa dalam kurun waktu 1 (satu) tahun, yaitu dari tahun 2008 –
2009.

TABEL 1
JUMLAH PENDUDUK DI KAWASAN GUNUNG MERAPI 5 TAHUN TERAKHIR
JUMLAH PENDUDUK (JIWA)
NO KECAMATAN
2005 2006 2007 2008 2009
KABUPATEN BOYOLALI
1 Selo 26,696 26,777 26,844 26,855 26,845
2 Cepogo 51,584 51,722 52,160 52,500 53,101
3 Musuk 60,044 60,150 60,224 60,286 60,328
JUMLAH 138,324 138,649 139,228 139,641 140,274
KABUPATEN KLATEN
1 Manisrenggo 41,405 41,589 41,709 41,766 41,962
2 Karangnongko 38,162 38,266 38,298 38,157 37,995
3 Kemalang 34,943 34,428 34,559 34,681 34,940
JUMLAH 114,510 114,283 114,566 114,604 114,897
KABUPATEN SLEMAN
1 Ngemplak 48,226 53,102 53,789 54,484 51,496
2 Tempel 48,147 50,197 50,908 51,564 51,237
3 Turi 34,320 33,164 33,667 34,099 32,890
4 Pakem 32,595 31,905 32,325 32,745 34,263
5 Cangkringan 27,658 28,081 28,439 28,807 28,620
JUMLAH 190,946 198,455 199,128 201,135 198,506
KABUPATEN MAGELANG
1 Ngluwar 28,966 29,109 - 29,881 30,241
2 Salam 43,631 44,011 - 42,200 44,408
3 Srumbung 43,715 44,247 - 44,569 45,344
4 Dukun 42,252 42,598 - 43,947 44,056

RINGKASAN EKSEKUTIF 12
RINGKASAN EKSEKUTIF

JUMLAH PENDUDUK (JIWA)


NO KECAMATAN
2005 2006 2007 2008 2009
5 Muntilan 72,062 72,198 72,396 72,847 73,754
6 Mungkid 65,605 66,210 - 69,011 69,523
7 Sawangan 54,761 55,119 55,432 57,245 53,722
JUMLAH 350,992 353,492 127,828* 359,700 361,048
TOTAL 794,772 804,879 580,750* 815,080 814,725
Sumber : BPS Kabupaten dan Kecamatan, 2009
Keterangan : (-) Tidak Ada Data
(*) Data Tidak Sempurna

Luas wilayah kawasan Gunung Merapi adalah 781,64 km2. Luas wilayah terbesar berada
di Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang dengan luas sebesar72,37 km2.
Sedangkan luas wilayah terkecil berada di Kecamatan Ngluwar Kabupaten Magelang
dengan luas 22,44 km2. Kepadatan penduduk tertinggi berada di bagian barat yaitu di
Kecamatan Muntilan, yaitu 2.577,91 jiwa/km2. Sedangkan kepadatan penduduk terendah
berada di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, yaitu sebesar 478,69 jiwa/km2. Tingginya
kepadatan penduduk di Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang disebabkan oleh
jumlah penduduk tinggi dengan luas wilayah yang relatif kecil, sebaliknya kepadatan
penduduk terkecil ada di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali ,hal ini dikarenakan
rendahnya jumlah penduduk kecamatan dengan luas wilayah yang relatif luas.

TABEL 2
LUAS WILAYAH DAN KEPADATAN PENDUDUK
DI KAWASAN GUNUNG MERAPI
JUMLAH
LUAS KEPADATAN
PENDUDUK
NO KECAMATAN WILAYAH PENDUDUK
(TAHUN 2009)
JIWA KM2 JIWA/KM2
KABUPATEN BOYOLALI
1 Selo 26,845 56.08 478.69
2 Cepogo 53,101 53.00 1,001.91
3 Musuk 60,328 65.04 927.55
JUMLAH 140,274 174.12 805.62
KABUPATEN KLATEN
1 Manisrenggo 41,962 26.96 1,556.45
2 Karangnongko 37,995 26.74 1,420.91
3 Kemalang 34,940 51.66 676.35
JUMLAH 114,897 105.36 1,090.52
KABUPATEN SLEMAN
1 Ngemplak 51,496 35.71 1,442.06

RINGKASAN EKSEKUTIF 13
RINGKASAN EKSEKUTIF

JUMLAH
LUAS KEPADATAN
PENDUDUK
NO KECAMATAN WILAYAH PENDUDUK
(TAHUN 2009)
JIWA KM2 JIWA/KM2
2 Tempel 51,237 32.49 1,577.01
3 Turi 32,890 43.09 763.29
4 Pakem 34,263 43.84 781.55
5 Cangkringan 28,620 47.99 596.37
JUMLAH 198,506 203.12 982.38
KABUPATEN MAGELANG
1 Ngluwar 30,241 22.44 1,347.64
2 Salam 44,408 31.63 1,403.98
3 Srumbung 45,344 53.17 852.81
4 Dukun 44,056 53.40 825.02
5 Muntilan 73,754 28.61 2,577.91
6 Mungkid 69,523 37.42 1,857.91
7 Sawangan 53,722 72.37 742.32
JUMLAH 361,048 299.04 1,207.36
TOTAL 814,725 781.64 1,042.33
Sumber : BPS Kabupaten dan Kecamatan, 2009

RINGKASAN EKSEKUTIF 14
RINGKASAN EKSEKUTIF

GAMBAR 1
PETA ORIENTASI KAWASAN GUNUNG MERAPI

RINGKASAN EKSEKUTIF 15
RINGKASAN EKSEKUTIF

PENGGUNAAN LAHAN
Kawasan Gunung Merapi memiliki luas keseluruhan ±781,65 km2 yang terdiri dari
berbagai macam jenis penggunaan lahan. Antara tahun 2010 sampai tahun 2011 telah
terjadi perubahan yang sangat signifikan antara guna lahan sebelum erupsi dan setelah
erupsi, dimana ada beberapa jenis penggunaan lahan yang hilang sebagai akibat dari
erupsi gunung merapi.

1. PENGGUNAAN LAHAN SEBELUM ERUPSI


Ada beberapa penggunaan lahan di Kawasan Gunung Merapi sebelum terjadi erupsi, di
antaranya adalah permukiman, kebun, hutan, lapangan, lahan kosong, sawah, danau/
sungai/ kolam, dan galian C. Sawah merupakan penggunaan lahan terbesar di Kawasan
Gunung Merapi yaitu sekitar 24.770,11 Ha. Sebagian besar berada di bagian barat
Kawasan Gunung Merapi yaitu di Kabupaten Magelang. Sementara itu untuk
permukiman sebagian besar juga berada di bagian barat Kawasan Gunung Merapi yang
memiliki luas 6.681,10 Ha dengan luas keseluruhan mencapai 18.497,95 Ha. Sementara
itu untuk luasan hutan di Kawasan Gunung Merapi mencapai 1.365,54 Ha yang sebagian
besar berada di bagian selatan Kawasan Gunung Merapi yaitu di Kabupaten Sleman.
Bahan tambang atau galian C paling banyak terdapat di bagian selatan Kawasan Gunung
Merapi dengan luas 128,36 Ha yang secara keseluruhan luasnya mencapai 195,53
Ha.Selain sawah dan permukiman di Kawasan Gunung Merapi juga didominasi oleh
penggunaan lahan berupa kebun campuran yang sebagian besar berada di bagian utara
yaitu Kabupaten Boyolali yang memiliki luas sebesar
9.308,63 Ha dengan luas keseluruhan mencapai
24.628,84 Ha. Penggunaan lahan lainnya adalah
lapangan yang biasa digunakan oleh penduduk sekitar
untuk menggembala ternak mereka. Luasan areal
lapangan ini mencapai 1.682,83 Ha dengan luasan
terbesar berada di bagian barat Kawasan Gunung
Merapi (Kabupaten Magelang) yang memiliki luas 810,52 Ha.Kawasan Gunung Merapi
memmiliki lahan kosong yang cukup besar yaitu sekitar 6.634,80 Ha yang sebagian
besar berada di bagian barat dan utara Kawasan Gunung Merapi dengan luas masing-
masing 2.300,10 Ha dan 2.235,30 Ha dengan luasan keseluruhan mencapai 6.634,80
Ha. Lahan kosong ini bisa dimanfaatkan di kemudian hari guna memenuhi kebutuhan
sarana dan prasarana penduduk di Kawasan Gunung Merapi.

RINGKASAN EKSEKUTIF 16
RINGKASAN EKSEKUTIF

RINGKASAN EKSEKUTIF 17
RINGKASAN EKSEKUTIF

TABEL 3
LUAS PENGGUNAAN LAHAN SEBELUM ERUPSI TAHUN 2010 DI KAWASAN GUNUNG MERAPI
LUAS PENGGUNAAN LAHAN (HA)
NO KECAMATAN KEBUN LAHAN SUNGAI/ GALIAN JUMLAH
PERMUKIMAN HUTAN LAPANGAN SAWAH
CAMPURAN KOSONG DANAU/ KOLAM C
KABUPATEN BOYOLALI
1 Selo 611.52 2,544.50 0.00 619.31 1,236.93 382.81 0.00 0.00 5,395.07
2 Cepogo 1,555.40 2,908.62 28.60 63.10 328.53 22.87 0.00 0.00 4,907.11
3 Musuk 2,562.20 3,855.51 0.00 16.92 669.84 0.00 6.08 0.00 7,110.55
JUMLAH 4,729.12 9,308.63 28.60 699.32 2,235.30 405.68 6.08 0.00 17,412.74
KABUPATEN KLATEN
1 Manisrenggo 985.32 212.60 0.00 3.56 15.95 1565.54 4.45 21.28 2,808.69
2 Karangnongko 1,224.08 1,013.91 0.00 4.70 0.00 582.74 0.00 0.00 2,825.43
3 Kemalang 849.78 3,164.45 0.00 59.95 751.96 0.00 55.08 20.83 4,902.06
JUMLAH 3,059.18 4,390.96 0.00 68.21 767.91 2,148.28 59.53 42.11 10,536.18
KABUPATEN SLEMAN
1 Ngemplak 583.00 143.79 0.00 16.61 14.83 1,738.79 0.00 0.00 2,497.03
2 Tempel 964.29 445.10 0.00 10.58 4.99 2,013.81 4.49 128.36 3,571.62
3 Turi 895.65 1,492.32 0.00 3.70 292.14 1,590.45 1.97 0.00 4,276.23
4 Pakem 899.32 877.75 963.08 19.57 688.14 1,986.94 0.17 0.00 5,434.96
5 Cangkringan 686.29 2,146.95 0.00 54.32 331.39 1,294.61 18.65 0.00 4,532.22
JUMLAH 4,028.55 5,105.92 963.08 104.78 1331.49 8,624.60 25.28 128.36 20,312.06
KABUPATEN MAGELANG
1 Ngluwar 689.57 177.66 0.00 4.56 0.00 1,254.42 24.40 5.64 2,156.27
2 Salam 755.36 392.91 0.00 5.88 0.00 1,511.07 19.35 0.00 2,684.56
3 Srumbung 891.60 790.49 41.74 331.74 1,110.58 2,328.92 82.47 19.40 5,596.93
4 Dukun 1,016.07 1,483.69 332.13 84.43 676.84 2,100.06 35.67 0.00 5,728.90
5 Muntilan 1,399.34 59.71 0.00 0.00 0.00 1,351.17 38.20 0.00 2,848.42
6 Mungkid 1,207.35 383.48 0.00 13.55 0.00 2,183.19 85.05 0.00 3,872.62
7 Sawangan 721.80 2,535.40 0.00 370.36 512.68 2,862.72 13.94 0.00 7,016.90
JUMLAH 6,681.10 5,823.33 373.87 810.52 2,300.10 13,591.55 299.08 25.05 29,904.60
TOTAL 18,497.95 24,628.84 1,365.54 1,682.83 6,634.80 24,770.11 389.98 195.53 78,165.58
Sumber : BPN dan BPS diolah, 2010

RINGKASAN EKSEKUTIF 18
RINGKASAN EKSEKUTIF

GAMBAR 2
PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN GUNUNG MERAPI SEBELUM ERUPSI

RINGKASAN EKSEKUTIF 19
RINGKASAN EKSEKUTIF

2. PENGGUNAAN LAHAN SETELAH ERUPSI


Jenis penggunaan lahan setelah erupsi pada kenyataannya tidak banyak berbeda
dengan kondisinya pada saat sebelum erupsi. Hanya saja ada beberapa kecamatan di
Kawasan Gunung Merapi yang terkena dampak dari
letusan Gunung Merapi. Erupsi Gunung Merapi ini
telah meluluh-lantakan beberapa wilayah di sekitar
Gunung Merapi, di antaranya adalah Kecamatan
Srumbung (1.746,71 Ha), Kecamatan Dukun
(1.669,45), Kecamatan Cangkringan (1.514,80), dan
Kecamatan Pakem (1.374,60) yang berada di bagian
selatan dan barat Kawasan Gunung Merapi. Wilayah
ini yang paling parah terkena dampak dari erupsi Gunung Merapi karena wilayah ini
merupakan jalur yang dilalui aliran lahar dan awan panas dari Gunung Merapi sehingga
sudah dipastikan wilayah ini mengalami kerusakan yang paling parah. Erupsi Gunung
Merapi menyebabkan kerusakan bangunan dan alam di sekitar Gunung Merapi. Selain
keempat kecamatan tersebut, masih ada lagi kecamatan-kecamatan di sekitar Gunung
Merapi yang terkena dampak erupsi letusan Gunung Merapi.

Secara keseluruhan luas wilayah yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi sebesar
8.551,29 Ha. Sebagian besar wilayah sudah tidak dapat diidentifikasi lagi atau secara
fisik sudah hancur. Di beberapa wilayah ada yang masih bisa diidentifikasi secara fisik,
umumnya rumah atau bangunan yang ada hanya tertutup abu dari erupsi Gunung
Merapi. Begitu juga dengan lahan pertanian dan hutan meskipun tidak sekuruhnya
hancur tetapi secara fisik kondisinya tertutup oleh abu vulkanik.

RINGKASAN EKSEKUTIF 20
RINGKASAN EKSEKUTIF

TABEL 4
LUAS PENGGUNAAN LAHAN SETELAH ERUPSI TAHUN 2011 DI KAWASAN GUNUNG MERAPI
LUAS PENGGUNAAN LAHAN SETELAH ERUPSI (HA)
NO KECAMATAN SUNGAI/ JUMLAH
LAHAN GALIAN AREA
PERMUKIMAN KEBUN HUTAN LAPANGAN SAWAH DANAU/
KOSONG C TERDAMPAK
KOLAM
KABUPATEN BOYOLALI
1 Selo 604.40 2,478.94 0.00 472.34 760.58 371.18 0.00 0.00 707.63 5,395.07
2 Cepogo 1,555.40 2,908.62 28.60 46.93 266.28 22.87 0.00 0.00 78.42 4,907.11
3 Musuk 2,562.20 3,855.51 0.00 16.92 578.82 0.00 6.08 0.00 91.02 7,110.55
JUMLAH 4,722.00 9,243.08 28.60 536.19 1,605.68 394.05 6.08 0.00 877.07 17,412.74
KABUPATEN KLATEN
1 Manisrenggo 985.29 212.59 0.00 3.56 15.95 1,565.49 4.45 20.83 0.00 2,808.16
2 Karangnongko 1,224.05 1,013.88 0.00 4.70 0.00 582.72 0.00 0.00 0.00 2,825.34
3 Kemalang 841.86 2,893.65 0.00 34.59 323.48 0.00 53.00 21.28 734.82 4,902.68
JUMLAH 3,051.19 4,120.12 0.00 42.85 339.43 2,148.21 57.45 42.11 734.82 10,536.18
KABUPATEN SLEMAN
1 Ngemplak 575.39 141.97 0.00 15.65 5.80 1,725.66 0.00 0.00 32.40 2,496.86
2 Tempel 964.22 445.07 0.00 10.58 4.99 2,013.67 4.49 128.36 0.00 3,571.38
3 Turi 877.66 1,222.41 0.00 3.70 1.29 1,568.77 0.68 0.00 601.43 4,275.94
4 Pakem 899.04 792.87 252.55 16.95 112.57 1,986.80 0.15 0.00 1,374.60 5,435.54
5 Cangkringan 537.48 1,094.26 0.00 9.38 119.45 1,256.94 0.03 0.00 1,514.80 4,532.35
JUMLAH 3853.79 3,696.58 252.55 56.25 244.10 8,551.85 5.36 128.36 3,523.23 20,312.06
KABUPATEN MAGELANG
1 Ngluwar 681.06 175.47 0.00 4.51 0.00 1,238.93 24.10 5.58 0.00 2,129.64
2 Salam 746.04 388.05 0.00 5.80 0.00 1,492.41 19.11 0.00 0.00 2,651.41
3 Srumbung 867.21 528.08 41.22 54.68 7.47 2,267.28 37.23 19.16 1,746.71 5,569.05
4 Dukun 999.23 809.27 328.03 6.27 78.83 2,063.00 32.11 0.00 1,669.45 5,986.19
5 Muntilan 1,382.06 58.98 0.00 0.00 0.00 1,334.49 37.73 0.00 0.00 2,813.25
6 Mungkid 1,192.44 378.74 0.00 13.38 0.00 2,156.23 84.00 0.00 0.00 3,824.80
7 Sawangan 712.89 2,504.10 0.00 365.79 506.35 2,827.37 13.77 0.00 0.00 6,930.25
JUMLAH 6,580.92 4,842.68 369.25 450.44 592.64 13,379.71 248.05 24.74 3,416.16 29,904.60
TOTAL 18,207.90 21,902.46 650.39 1,085.72 2,781.85 24,473.81 316.93 195.21 8,551.29 78,165.58
Sumber : BPN dan BPS diolah, 2010

RINGKASAN EKSEKUTIF 21
RINGKASAN EKSEKUTIF

GAMBAR 3
PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN GUNUNG MERAPI SETELAH ERUPSI

RINGKASAN EKSEKUTIF 22
RINGKASAN EKSEKUTIF

3. PEREGESERAN GUNA LAHAN


Sebagai akibat dari erupsi Gunung Merapi maka sudah dipastikan terjadi pergeseran
guna lahan sebelum dan setelah erupsi di Kawasan Gunung Merapi. Pergeseran guna
lahan yang terjadi hanya di wilayah yang terkena dampak saja di Kawasan Gunung
Merapi seperti beberapa Kecamatan di Kabupaten Boyolalli, Kabupaten Klaten,
Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Magelang.

Pergeseran guna lahan yang dimaksud di sini adalah, perubahan guna lahan dari kondisi
sebelum terjadinya erupsi menuju kondisi setelah terjadinya erupsi, sebagai akibat dari
erupsi Gunung Merapi. Dengan demikian area yang terkena dampak erupsi tersebut
berubah menjadi lahan kosong karena sebagian besar bangunan yang ada hilang atau
tertimbun tanah dan abu Gunung Merapi. Luas pergeseran penggunaan lahan yang
terjadi sebagai akibat dari erupsi Gunung Merapi secara keseluruhan di Kawasan
Gunung Merapi sebesar 8.551,29 Ha. Di antaranya adalah :
1) Lahan kosong sebesar 3.852,95 Ha dengan luas terbesar berada di Kecamatan
Srumbung 1.103,11 Ha.
2) Permukiman sebesar 290,04 Ha dengan wilayah paling luas berada di Kecamatan
Cangkringan yang berada di selatan Gunung Merapi dengan luas wilayah
permukiman terdampak adalah sebesar 148,81 Ha.
3) Kebun sebesar 2.726,38 Ha luas area terdampak terbesar berada di Kecamatan
Cangkringan 1.052,69 Ha. Dengan demikian sudah dapat dipastikan bahwa
kecamatan yang terkena dampak erupsi terbanyak berada di selatan Kawasan
Gunung Merapi yang menjadi arah aliran awan panas dan lahar dingin.

RINGKASAN EKSEKUTIF 23
RINGKASAN EKSEKUTIF

TABEL 5
LUAS PERGESERAN PENGGUNAAN LAHAN KECAMATAN TERDAMPAK DI KAWASAN GUNUNG MERAPI TAHUN 2011
LUAS PENGGUNAAN LAHAN (HA)
NO KECAMATAN SUNGAI/ JUMLAH
LAHAN GALIAN
PERMUKIMAN KEBUN HUTAN LAPANGAN SAWAH DANAU/
KOSONG C
KOLAM
KABUPATEN BOYOLALI
1 Selo 7.12 65.56 0.00 146.97 476.35 11.63 0.00 0.00 707.63
2 Cepogo 0.00 0.00 0.00 16.17 62.25 0.00 0.00 0.00 78.42
3 Musuk 0.00 0.00 0.00 0.00 91.02 0.00 0.00 0.00 91.02
JUMLAH 7.12 65.56 0.00 163.14 629.63 11.63 0.00 0.00 877.07
KABUPATEN KLATEN
1 Manisrenggo 0.03 0.01 0.00 0.00 0.00 0.05 0.00 0.44 0.53
2 Karangnongko 0.04 0.03 0.00 0.00 0.00 0.02 0.00 0.00 0.09
3 Kemalang 7.92 270.80 0.00 25.37 428.48 0.00 2.08 0.44 735.09
JUMLAH 7.99 270.84 0.00 25.37 428.48 0.07 2.08 0.00 734.82
KABUPATEN SLEMAN
1 Ngemplak 7.61 1.83 0.00 0.97 9.03 13.13 0.00 0.00 32.57
2 Tempel 0.07 0.03 0.00 0.00 0.00 0.14 0.00 0.01 0.24
3 Turi 18.00 269.91 0.00 0.00 290.85 21.68 1.29 0.00 601.73
4 Pakem 0.28 84.88 710.53 2.61 575.57 0.14 0.02 0.00 1,374.02
5 Cangkringan 148.81 1,052.69 0.00 44.94 211.94 37.67 18.62 0.00 1,514.67
JUMLAH 174.76 1,409.34 710.53 48.53 1087.39 72.75 19.92 0.01 3,523.23
KABUPATEN MAGELANG
1 Ngluwar 8.51 2.19 0.00 0.06 0.00 15.49 0.30 0.07 26.62
2 Salam 9.33 4.85 0.00 0.07 0.00 18.66 0.24 0.00 33.15
3 Srumbung 24.39 262.41 0.52 277.06 1,103.11 61.64 45.23 0.24 1,774.59
4 Dukun 16.84 674.42 4.10 78.16 598.02 37.06 3.57 0.00 1,412.16
5 Muntilan 17.28 0.74 0.00 0.00 0.00 16.68 0.47 0.00 35.17
6 Mungkid 14.91 4.74 0.00 0.17 0.00 26.96 1.05 0.00 47.82
7 Sawangan 8.91 31.31 0.00 4.57 6.33 35.35 0.17 0.00 86.64
JUMLAH 100.17 980.65 4.62 360.09 1,707.46 211.84 51.04 0.31 3,416.16
TOTAL 290.04 2,726.38 715.15 597.11 3,852.95 296.29 73.04 0.32 8,551.29
Sumber : Hasil Analisa, 2011
RINGKASAN EKSEKUTIF 24
RINGKASAN EKSEKUTIF

BENCANA DI KAWASAN GUNUNG MERAPI


Berdasarkan UU No.24/ 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non
alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana alam
adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang
disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir,
kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi,
dan wabah penyakit. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka bencana yang terjadi di
kawasan Gunung Merapi terdiri dari beberapa bencana alam berikut ini.

1. Rawan Bencana Gerakan Tanah/ Longsor


Daerah rawan bencana gerakan tanah/ longsor sering melanda sebelah barat dan utara
Kawasan Gunung Merapi. Kawasan sebelah barat disebabkan oleh kondisi tanah yang
subur tepatnya di Kabupaten Magelang yang memicu pembukaan hutan untuk lahan
pertanian dan permukiman sehingga menyebabkan erosi tanah meningkat berakibat
tanah atau batuan tidak mampu mempertahankan kestabilannya. Tata guna lahan di
daerah rawan bencana gerakan tanah paling banyak dijumpai adalah pertanian lahan
basah dan kolam pada lereng, hutan yang gundul, hutan yang terlalu rapat, ladang
campuran yang banyak dijumpai tanaman berakar serabut, pemotongan tebing untuk
jalan, pemukiman pada daerah bantaran sungai dan pemukiman di daerah dengan
kelerengan terjal. Faktor penyebab gerakan tanah disebabkan oleh gabungan dari
kondisi geologi, kondisi hidrologi, kemiringan lahan serta perubahan tata guna lahan
menjadi persawahan atau permukiman. Titik-titik yang sering terlanda bencana tersebut
berada di Kecamatan Sawangan, Kecamatan Dukun, Kecamatan Mungkid, Kecamatan
Salam, Kecamatan Ngluwar, dan Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.

Sedangkan wilayah sebelah Utara Kawasan Gunung Merapi secara geomorfologis


berada pada lereng atas dan lereng tengah bagian utara dari Gunung Merapi yang
mempunyai jenis tanah Regosol, Andosol, dan Latosol. Titik titik rawan bencana longsor
tersebut meliputi Kecamatan Selo, Kecamatan Cepogo, dan Kecamatan Musuk di
Kabupaten Boyolali.

RINGKASAN EKSEKUTIF 25
RINGKASAN EKSEKUTIF

2. Bencana Alam Gempa Bumi


Bencana ini pernah melanda Kawasan Gunung Merapi bagian selatan pada Mei 2006.
Gempa tersebut berpusat di Bantul tapi wilayah Kabupaten Sleman juga tidak luput dari
bencana ini. Gempa bumi sangat berkaitan erat dengan zona patahan/ sesar, di wilayah
Kabupaten Sleman terdapat patahan-patahan yang tertimbun oleh sedimen dari Gunung
Merapi sehingga potensi terjadinya gempa bumi di masa yang akan datang tetap ada.
Potensi gempa ini berada di Kecamatan Turi Kabupaten Sleman.

3. Bencana Alam Banjir


Hampir setiap musim hujan, banjir terjadi di daerah yang rendah ,apalagi hujan turun
dalam waktu yang lama dengan intensitas tinggi di bagian hulu, maka banjir akan
mengancam seperti di Sungai Boyong, Krasak, Opak, Kuning dan sungai lainnya.
Hampir seluruh wilayah selatan kawasan Gunung Merapi tertutupi oleh endapan dari
Gunung Merapi yang memiliki permeabilitas dan tingkat serapan tinggi, tapi perkerasan
jalan setapak dan lingkungan permukiman yang sekarang marak tumbuh dan
berkembang di Kabupaten Sleman menghalangi inflitrasi air sehingga menyebabkan
banjir di musim hujan.

Pembangunan perumahan dan daerah urban juga kurang memperhatikan kondisi


geologi. Beberapa perumahan baru justru dibangun pada daerah-daerah dengan risiko
tinggi seperti misalnya di lembah sungai atau pada daerah yang terjal,dengan tidak
memperhatikan perhitungan terjadinya banjir atau tanah longsor. Oleh karena itu banyak
terjadi bencana sepanjang musim hujan yang berkaitan dengan banjir dan tanah longsor.
Faktanya risiko geohazard belum dijadikan pertimbangan dalam proses pengeluaran
surat ijin pendirian bangunan.

4. Bencana Angin Kencanag/ Angin Ribut


Bencana ini sering melanda bagian selatan kawasan Gunung Merapi yakni di Kecamatan
Ngemplak, Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Pakem, Kecamatan Turi, dan
Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman.

5. Kebakaran Hutan
Rawan kebakaran hutan di kawasan Gunung Merapi berada di sebelah Utara tepatnya di
Kabupaten Boyolali. Kebakaran hutan di Kabupaten Boyolali umumnya terjadi saat
musim kemarau, wilayah yang potensial terjadi kebakaran hutan yaitu pada lereng
Gunung Merapi di Kecamatan Selo, seperti yang terjadi pada tahun 2008

RINGKASAN EKSEKUTIF 26
RINGKASAN EKSEKUTIF

TABEL 6
REKAPITULASI KEJADIAN KEBAKARAN HUTAN DI KABUPATEN BOYOLALI
S/D BULAN AGUSTUS 2008
LUAS
NO. WAKTU LOKASI PENYEBAB KETERANGAN
(HA)

Petak 54 Dukuh Stabelan


8 Agustus 2008 Diduga adanya
Desa  Akasia 15 Ha.
1. Jam 09.00 30 pembuatan arang
Tlogolele, Kecamatan Selo.  Semak-semak 15 Ha
WIB oleh warga.
(Kawasan G. Merapi)
 Semak belukar,
Diduga sengaja rasamala dan hutan
Gunung Bibi, 62 Dukuh
dibakar oleh pinus, puspa dan
9 Agustus 2008 Wonopedut, Desa
2. 16 orang yang tak pasang,
08.00 WIB Wonodoyo, Cepogo
bertanggung
(Kawasan G. Merapi)  Merusak 500 meter
jawab.
pipa saluran air bersih
warga.
JUMLAH TOTAL 80.4
Sumber : Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali, 2008

RINGKASAN EKSEKUTIF 27
RINGKASAN EKSEKUTIF

GAMBAR 4
PETA RAWAN BENCANA ALAM

RINGKASAN EKSEKUTIF 28
RINGKASAN EKSEKUTIF

BENCANA ERUPSI DAN LAHAR DINGIN GUNUNG MERAPI


Selain beberapa bencana yang telah diungkapkan di atas, masih merupakan kategori
bencana alam yaitu bencana erupsi dan lahar dingin Gunung Merapi yang terjadi pada
tahun 2010 dan 2011.

1. Sejarah Kejadian
Sejarah kegiatan Merapi tercatat sejak tahun 1768 (abad 18) bahkan telah diketahui
diperkirakan sejak tahun 1006. Erupsi terlebih dahulu bersifat eksplosif dengan tipe sub-
plinian, plinian dan vulkanian yang menghasilkan awan panas letusan dan melanda
sector yang cukup luas di sekitarnya. Sedikitnya enam letusan besar terjadi pada 1587,
1672, 1768, 1822, 1849 dan 1872 (Hartmann, 1935; Zen et.al, 1980; Bertommier dan
Camus, 1991). Pada 1822, tefrah jauh di timur laut dan barat daya dan awan panas
masuk ke lembah-lembah sungai Apu, Lamat, Blongkeng, Batang, Gendol, dan Woro
(Berthommier,1990). Banyak erupsi sepanjang abad 7-19 lebih hebat dan eksplosif
dibandingkan dengan erupsi-erupsi abad 20.

Erupsi sekarang (abad 20) memproduksi kubah lava


besar, yang tidak biasanya, yang mungkin disertai
letusan mencapai jarak 13,5 km dari puncak (Kawah
Putih dan Kawah Blongkeng yang melanda daerah
berpenduduk (Kemmerling, 1931; Neumann van
Padang 1931, 1933, 1936/1937; Escher; 1933 dan
Hartmann, 1935). Awan panas letusan terakhir di
Merapi terjadi pada 1969 (Suryo, 1978). Erupsi pada abad 20 yang bercirikan guguran
kubah lava adalah pada 1984 1992, 1994,1995, 1998, dan 2001 sebarannya mencapai
jarak kurang dari 8 km dari puncak. Menurut Newhall dkk. (2000) erupsi besar dan
eksplosif terjadi rata-rata satu kali dalam 100 tahun. Di tahun 2010 tercatat beberapa kali
terjadi erupsi dan letusan pada tanggal 26 Oktober 2010 dan 5 November 2010 tercatat
sebagai salah satu letusan yang paling dahsyat dibanding dengan letusan-letusan yang
terjadi sebelumnya. Bencana ini melanda terutama di wilayah empat kabupaten dan dua
kota. Korban yang diakibatkan dari letusan ini juga tercatat sangat besar, yaitu tidak
kurang 283 jiwa meninggal, 569 jiwa luka-luka, 260 ribu warga mengungsi, dan banyak
lingkungan pedesaan beserta tempat tinggal penduduk hancur - luluh lantak diterjang
oleh lahar dan awan panas yang disemburkan oleh erupsi Gunung Merapi selama
beberapa minggu (FGD Merapi, Desember 2010).

RINGKASAN EKSEKUTIF 29
RINGKASAN EKSEKUTIF

2. Jenis Bencana
Berdasarkan rekomendasi Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi Tahun 2010
Kementerian energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi bencana Geologi, Kawasan Rawan Bencana (KRB) I & II dapat dikategorikan
kawasan rawan bencana erupsi sedangkan KRB III merupakan kawasan rawan bencana
lahar dingin. Berdasarkan tinjauan keruangan wilayah Kawasan Merapi, bencana erupsi
dan lahar dingin Gunung Merapi yang terakhir telah meluluhlantakkan kawasan. Dari
sebaran dampak yang terjadi, dapat dilihat kerusakan terparah berada di daerah Selatan
menuju Kabupaten Sleman.

3. Dampak Bencana
Erupsi Gunung Merapi yang melanda Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di
Kabupaten Sleman serta Wilayah Provinsi Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten
Magelang, Kabupaten Klaten dan Kabupaten Boyolali pada tanggal 26 Oktober 2010, 29
Oktober 2010 dan 5 Nopember 2010, telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan juga
kerusakan dan kerugian di berbagai sektor yang dapat dikelompokkan menjadi sektor
perumahan, infrastruktur, sosial, ekonomi produktif dan lintas sektor.Kejadian bencana
erupsi Gunung Merapi telah mengakibatkan 386 jiwa meninggal dunia dan 15.366 orang
mengungsi yang tersebar di titik – titik pengungsian di kabupaten/kota di Provinsi D.I.
Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Masyarakat yang mengungsi adalah mereka
yang kehilangan tempat tinggal maupun yang berada dalam radius zona bahaya awan
panas (< 20 Km). (BNPB, 12 Desember 2010)

TABEL 7
DATA KORBAN ERUPSI GUNUNG MERAPI
MENINGGAL
LUKA-
LOKASI LUKA NON LUKA PENGUNGSI
TOTAL LUKA
BAKAR BAKAR
PROVINSI D.I. YOGYAKARTA*
Sleman 190 87 277 11.468
Kulon Progo 406
Kota Yogyakarta 461
Gunungkidul 504
JUMLAH 190 87 277 12.839
PROVINSI JAWA TENGAH
Kabupaten Magelang 1.094
Kabupaten Klaten 1.363
Kabupaten Boyolali 70
JUMLAH 109 2.527
TOTAL 386 15.366
Sumber : BNPB, 12 Desember 2010

RINGKASAN EKSEKUTIF 30
RINGKASAN EKSEKUTIF

Catatan :
 Korban meninggal karena luka bakar merupakan korban yang meninggal akibat
terkena awan panas.
 Korban meninggal non luka bakar merupakan korban yang meninggal akibat sakit
jantung, ISPA, kecelakaan, penyakit bawaan sebelum mengungsi dan lain-lain.

Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 26 Oktober 2010

GAMBAR 5
GRAFIK FLUKTUASI PENGUNGSI BENCANA GUNUNG MERAPI

RENCANA DISTRIBUSI PENDUDUK


Aspek kependudukan merupakan salah satu faktor penting dalam perencanaan kawasan.
Kebijakan pengaturan kependudukan dalam perencanaan bertujuan untuk meningkatkan
tingkat kesejahteraan dan pemerataan pengembangan seluruh bagian wilayah.
Sedangkan kepadatan penduduk pada suatu kawasan akan mencerminkan
penyebarannya dalam wilayah dan akan berkembang sesuai dengan karakteristiknya.

Kawasan Gunung Merapi memiliki karakteristik yang berbeda dengan kawasan-kawasan


lainnya, hal ini dikarenakan wilayahnya yang berada di sekitar gunung berapi aktif. Oleh

RINGKASAN EKSEKUTIF 31
RINGKASAN EKSEKUTIF

karena itu perlu penanganan dan kebijakan tersendiri


terkait dengan pengembangan kependudukannya
yang berbasis mitigasi bencana. Rencana distribusi
penduduk di Kawasan Gunung Merapi diarahkan
menjauh dari kawasan rawan bencana, sehingga
dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa jika sewaktu-
waktu terjadi erupsi lagi pada Gunung Merapi.
Pendistribusian penduduk di Kawasan Gunung Merapi dilakukan berdasarkan Kawasan
Rawan Bencana yang terdiri dari KRB 3, KRB 2 dan KRB 1, serta Non KRB.

 KRB 3, untuk wilayah ini direncanakan di masa yang akan datang adalah wilayah
yang terbebas dari konsentrasi penduduk (zero population) atau dengan kata lain
tidak diperbolehkan lagi untuk membangun atau mengembangkan enclave
permukiman yang sudah ada sehingga diharapkan jumlah penduduknya tetap
atau bahkan akan berkurang sedikit demi sedikit hingga tidak ada lagi penduduk
di wilayah ini. Pengurangan jumlah penduduk di KRB 3 akan dilakukan dengan
cara memindahkan ke wilayah KRB 2 ataupun ke wilayah Non KRB.
 KRB 2 dan KRB 1, direncanakan sebagai kawasan dengan pengendalian tinggi
yang memiliki kepadatan penduduk rendah sehingga dapat meminimalisir
konsentrasi penduduk yang ada.
 NON KRB, Di wilayah ini akan menampung penduduk yang terevakuasi dari
wilayah KRB 3 maupun dari KRB 2, dengan pertumbuhan penduduk maksimal
hingga 4% dan memiliki kepadatan sedang.

Proyeksi penduduk di Kawasan Gunung Merapi pada tahun 2031 adalah 951.468 jiwa
dengan pertumbuhan penduduk maksimum sebesar 4%.

TABEL 8
RENCANA DISTRIBUSI PENDUDUK TAHUN 2031
DI KAWASAN GUNUNG MERAPI
DISTRIBUSI PENDUDUK
KRB
PERSENTASE JUMLAH
KRB 3 0% 0
KRB 2 & 1 6% 57,017
NON KRB 94% 894,451
TOTAL 100% 951,468
Sumber : Hasil Analisa, 2011

RINGKASAN EKSEKUTIF 32
RINGKASAN EKSEKUTIF

GAMBAR 6
RENCANA DISTRIBUSI PENDUDUK KAWASAN GUNUNG MERAPI

RINGKASAN EKSEKUTIF 33
RINGKASAN EKSEKUTIF

SISTEM EVAKUASI BENCANA


1. Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)
Sistem peringatan dini yang ada berupa Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) yang
berada di tempat-tempat strategis untuk memantau perkembangan Gunung Merapi. Di
Kawasan Gunung Merapi terdapat beberapa Pos Pengamatan Gunung Api, untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada TABEL 9 berikut ini.

TABEL 9
LOKASI POS PENGAMATAN GUNUNG API (PGA)
DI KAWASAN GUNUNG MERAPI
LOKASI
NO NAMA POS PGA
DESA KECAMATAN
1 PGA Kaliurang Hargobinangun Pakem
2 PGA Ngepos Ngablak Srumbung
3 PGA Babadan Krinjing Dukun
4 PGA Jrakah Jrakah
Selo
5 PGA Selo Selo
Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

Pos Pengamatan Gunung Api ini diharapkan dapat beroperasi secara maksimal yang
dalam arti dapat memberikan informasi yang akurat, Tepat, dan cepat kepada
masyarakat setempat atau pemerintah setempat sehingga dapat dilakukan penanganan
sedini mungkin jika sewaktu-waktu Gunung Merapi meletus. Adapun alur sistem
peringatan dini yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. POS PGA melakukan pemantauan terhadap Gunung Merapi. Jika terjadi
peningkatan status Gunung Merapi yang memaksa penduduk sekitar untuk
mengungsi, POS PGA akan menginformasikan sesegera mungkin (early warning
system) kepada kepala desa masing-masing desa untuk segera ditindak lanjuti.
POS PGA juga akan memberikan laporan ke pemerintah daerah setempat untuk
segera menyiapkan lokasi penampungan.
2. Informasi yang didapat oleh kepala desa dari POS PGA akan diteruskan kepada
masyarakat agar segera berkumpul di titik kumpul/ TES yang sudah ditentukan.
3. Setelah masyarakat berkumpul di TES kemudian akan diangkut menuju barak
pengungsian/ TEA secara bertahap tergantung kapasitas kendaraan pengangkut
pengungsi.

RINGKASAN EKSEKUTIF 34
RINGKASAN EKSEKUTIF

PGA
PGA

DESA
PGA
DESA DESA DESA

TES
DESA DESA

TES TES
TES

TEA

TEA

GAMBAR 7
SKEMA SISTEM PERINGATAN DINI

Berdasarkan data PGA yang ada, umumnya berlokasi


di bagian selatan, barat, dan utara Kawasan Gunung
Merapi. Sementara untuk bagian timur khususnya di
Kecamatan Kemalang dan Kecamatan Boyolali belum
ada. Untuk itu sebagai usulan perlu ditambahkan pos
penagamatan pada daerah tersebut. Lokasi yang
dirasa strategis untuk rencana penambahan POS
PGA berada di Kecamatan Kemalang dan Kecamatan Musuk yang memiliki jarak
terdekat dengan puncak Gunung Merapi dan tidak terdapat penghalang untuk melakukan
pengamatan.

RINGKASAN EKSEKUTIF 35
RINGKASAN EKSEKUTIF

2. Tempat Evakuasi Sementara


Tempat Evakuasi Sementara (TES) atau yang biasa disebut dengan titik kumpul oleh
masyarakat sekitar Gunung Merapi memiliki fungsi sebagai tempat berkumpul sementara
bagi pengungsi sebelum diangkut menuju barak pengungsian. Adapun ktirteria-kriteria
TES adalah sebagai berikut :
1. Berada pada lokasi yang mudah diakses baik oleh pengungsi maupun kendaraan
penjemput pengungsi
2. Berada pada lokasi aman bencana sebagai tempat berkumpul sementara
3. Tersedia sarana prasarana (lapangan terbuka) tempat berkumpul sementara bagi
pengungsi untuk selanjutnya diangkut menuju TEA
4. Berada di pusat permukiman
5. Berada di Jalur Evakuasi Bencana (JEB)
6. Dilengkapi rambu-rambu evakuasi

Lokasi TES ini ditentukan sendiri oleh pemerintah daerah


setempat dengan berbagai macam pertimbangan.
Umumnya lokasi TES ini berada di rumah kepala dusun
atau balai desa setempat maupun tempat-tempat yang
strategis yang memiliki cukup ruang sebagai tempat
berkumpul sementara, tergantung jaraknya dari lokasi
permukiman warga. Lokasi TES ini akan dijelaskan lebih lanjut pada skala yang lebih
rinci.

3. Tempat Evakuasi Akhir


A. Lokasi TEA
Tempat Evakuasi Akhir (TEA) atau yang biasa disebut oleh masyarakat di Kawasan
Gunung Merapi sebagai Barak Pengungsian memiliki fungsi sebagai tempat evakuasi
akhir. TEA yang ada di sekitar Kawasan Gunung Merapi berjumlah 25 lokasi. TEA ini
akan menampung pengungsi yang terevakuasi bilamana terjadi letusan pada Gunung
Merapi. Adapun kriteria-kriteria TEA adalah sebagai berikut :
1. Berada di luar KRB
2. Tersedia ruang terbuka yang dapat berfungsi sebagai ruang parkir bagi
kendaraan dan ruang pendaratan helikopter, pengangkut logistik bantuan
bencana atau korban bencana
3. Mudah diakses
4. Dilengkapi rambu-rambu evakuasi

RINGKASAN EKSEKUTIF 36
RINGKASAN EKSEKUTIF

5. Tersedia sarana prasarana tempat berkumpul akhir bagi pengungsi

TABEL 10
SEBARAN LOKASI TEA (TEMPAT EVAKUASI AKHIR)
DI KAWASAN GUNUNG MERAPI
DESA ASAL
NO LOKASI TEA KECAMATAN
PENGUNGSI
KAWASAN PERKOTAAN
1 Lapangan Mungkid Mangunsoko
Mungkid
2 KPRI Mungkid / TPA Tanjung Krinjing
3 Gedung Perikanan Muntilan Mranggen
KAWASAN PERDESAAN
Wonolelo
4 Balai Desa Wonolelo Ketep
Kapuhan
Sawangan
Sengi
5 Balai Desa Sawangan
Paten
6 Lapangan Klangon Tlogolele
7 Balai Desa Banyudono / SD Regroup Keningar
8 BP Ngadipuro Kalibening
9 Balai Desa Banyubiru / Lapangan Banyubiru Dukun Sumber
Balai Desa Dukun / KPRI Dukun / Lapangan
10 Nagargomulyo
Dukun
11 Gulon Ngargosoko
12 Bringin Tegalrandu
Salam
13 Balai Desa Jumoyo / Lapangan Jumoyo Kaliurang
14 BP Sucen / Balai Desa Salam Nglumut
15 Lapangan Srumbung Ngablak
16 Balai Desa Srumbung Srumbung Srumbung
17 BAPENDIK / GP Jeruk Agung Kemiren
Tegalmulyo
18 Balai Desa Demakijo Karangnongko Tlogowatu
Tangkil
Wonokerto
19 Balai Desa / Lapangan Turi Turi
Girikerto
20 Balai Desa / Lapangan Pakem Pakem Hargobinangun
Umbulharjo
21 Balai Desa / Lapangan Cangkringan Cangkringan Glagaharjo
Argomulyo
Balerante
22 Balai Desa / Lapangan Kebondalem Lor Prambanan Panggang
Bawukan
Sidorejo
Kendalsari
23 Lapangan / GOR Menden Kebonarum
Bumiharjo
Dompol

RINGKASAN EKSEKUTIF 37
RINGKASAN EKSEKUTIF

DESA ASAL
NO LOKASI TEA KECAMATAN
PENGUNGSI
Kemalang
Keputran
Jeruk
24 Balai Desa / Lapangan Ampel Ampel Senden
Tarubatang
Klakah
Jrakah
Lencoh
Mojongsongo,
Balai Desa / Lapangan Mojongsongo, Teras, Suroteleng
25 Teras, dan
dan Banyudono
Banyudono Desa-desa di
Kecamatan
Cepogo
Sruni
Sumber : Hasil Analisa dan Pengamatan Lapangan, 2011

B. Kebutuhan Prasarana TEA


Untuk menunjang kehidupan bagi para pengungsi di masing-masing TEA, maka perlu
disediakan beberapa prasarana, di antaranya adalah :

1. Jaringan Air Bersih dan Perkiraan Timbulan Limbah


Air bersih menjadi kebutuhan pokok manusia, untuk itu di masing-masing TEA perlu
disediakan air bersih yang sumbernya berbeda-beda tergantung letak TEA itu sendiri.
Untuk TEA yang berada di kawasan perkotaan kebutuhan air bersih disediakan oleh
PDAM setempat, sedangkan untuk TEA di kawasan perdesaan kebutuhan air bersihnya
akan disediakan oleh pemerintah dengan mendatangkan truk-truk tangki pengangkut air
bersih dan dapat juga disediakan dari mata air ataupun sumur pompa yang sudah ada di
masing-masing TEA.

Untuk timbulan air limbah di masing-masing TEA akan dikelola dengan menggunakan
jamban keluarga yang memiliki jarak sekitar 50 meter dari lokasi pengungsian dan
berjauhan dari sumber air bersih yang ada.

RINGKASAN EKSEKUTIF 38
RINGKASAN EKSEKUTIF

TABEL 11
RENCANA KEBUTUHAN AIR BERSIH DAN PERKIRAAN TIMBULAN AIR LIMBAH
DI MASING-MASING TEA KAWASAN GUNUNG MERAPI
JUMLAH KEBUTUHAN
KEBUTUHAN TIMBULAN
PENGUNGSI KEBUTUHAN MOBIL
DESA ASAL TERMINAL AIR
NO LOKASI TEA YANG AIR BERSIH TINJA /
PENGUNGSI AIR LIMBAH
DITAMPUNG (L/Hr) LIMBAH
(UNIT/Hr) (L/Hr)
(JIWA) (UNIT/Hr)
KAWASAN PERKOTAAN
Lapangan
1 3,398 Mangunsoko 50,970 17 40,776 3
Mungkid
KPRI
2 Mungkid / 2,910 Krinjing 43,650 15 34,920 3
TPA Tanjung
Gedung
3 Perikanan 4,922 Mranggen 73,830 25 59,064 5
Muntilan
KAWASAN PERDESAAN
Wonolelo,
Ketep,
Balai Desa
4 12,215 Kapuhan, 183,225 61 146,580 12
Wonolelo
Sengi, Paten,
Tlogolele
Balai Desa
5 7,540 Sengi, Paten 113,100 38 90,480 8
Sawangan
Lapangan
6 2,571 Tlogolele 38,565 13 30,852 3
Klangon
Balai Desa
7 Banyudono / 1,641 Keningar 24,615 8 19,692 2
SD Regroup
8 BP Ngadipuro 3,972 Kalibening 59,580 20 47,664 4
Balai Desa
Banyubiru /
9 3,728 Sumber 55,920 19 44,736 4
Lapangan
Banyubiru
Balai Desa
Dukun / KPRI
10 Dukun / 3,042 Ngargomulyo 45,630 15 36,504 3
Lapangan
Dukun
11 Gulon 2,622 Ngargosoko 39,330 13 31,464 3
12 Bringin 2,685 Tegalrandu 40,275 13 32,220 3
Balai Desa
Jumoyo /
13 2,894 Kaliurang 43,410 14 34,728 3
Lapangan
Jumoyo
BP Sucen /
14 Balai Desa 919 Nglumut 13,785 5 11,028 1
Salam
Lapangan
15 2,709 Ngablak 40,635 14 32,508 3
Srumbung
Balai Desa
16 4,186 Srumbung 62,790 21 50,232 4
Srumbung
BAPENDIK /
17 GP 1,369 Kemiren 20,535 7 16,428 1
Jerukagung
18 Balai Desa 8,626 Tegalmulyo, 129,390 43 103,512 9

RINGKASAN EKSEKUTIF 39
RINGKASAN EKSEKUTIF

JUMLAH KEBUTUHAN
KEBUTUHAN TIMBULAN
PENGUNGSI KEBUTUHAN MOBIL
DESA ASAL TERMINAL AIR
NO LOKASI TEA YANG AIR BERSIH TINJA /
PENGUNGSI AIR LIMBAH
DITAMPUNG (L/Hr) LIMBAH
(UNIT/Hr) (L/Hr)
(JIWA) (UNIT/Hr)
Demakijo Tlogomulyo,
Tangkil
Balai Desa /
Wonokerto,
19 Lapangan 13,786 206,790 69 165,432 14
Girikerto
Turi
Balai Desa /
20 Lapangan 10,360 Hargobinangun 155,400 52 124,320 10
Pakem
Balai Desa / Umbulharjo,
21 Lapangan 17,783 Glagaharjo, 266,745 89 213,396 18
Cangkringan Argomulyo
Balai Desa /
Balerante,
Lapangan
22 5,978 Panggang, 89,670 30 71,736 6
Kebondalem
Bawukan
Lor
Sidorejo,
Kendalsari,
Lapangan / Bumiharjo,
23 18,199 272,985 91 218,388 18
GOR Menden Dompol,
Kemalang,
Keputran
Balai Desa /
Jaruk, Senden,
24 Lapangan 7,939 119,085 40 95,268 8
Tarubatang
Ampel
Klakah,
Jrakah,
Balai Desa /
Lencoh,
Lapangan
Suroteleng,
25 Mojongsongo, 74,965 1,124,475 375 899,580 75
Sruni, dan
Teras, dan
Desa-desa di
Banyudono
Kecamatan
Cepogo
Sumber : Hasil Analisa, 2011
Ket : Asumsi Kebutuhan Air Bersih 15 l/org/hr (Perka BNPB No. 7 Tahun 2008)
Asumsi Timbulan Air Limbah 80% dari penggunaan Air Bersih
Terminal Air Kapasitas 3000 liter
Mobil Tinja 1 unit untuk 1000 Jiwa

2. Jaringan Listrik
Untuk memenuhi kebutuhan listrik pengungsi di masing-masing TEA, maka pemerintah
setempat akan menyediakan genset yang jumlahnya sesuai dengan kebutuhan
tergantung dari banyaknya pengungsi yang ditampung.

RINGKASAN EKSEKUTIF 40
RINGKASAN EKSEKUTIF

TABEL 12
RENCANA KEBUTUHAN LISTRIK DI MASING-MASING TEA
KAWASAN GUNUNG MERAPI
JUMLAH
PENGUNGSI KEBUTUHAN KEBUTUHAN
DESA ASAL
NO LOKASI TEA YANG LISTRIK GENSET
PENGUNGSI
DITAMPUNG (WATT/Hr) (UNIT)
(JIWA)
KAWASAN PERKOTAAN
Lapangan
1 3,398 Mangunsoko 33,980 3
Mungkid
KPRI Mungkid /
2 2,910 Krinjing 29,100 3
TPA Tanjung
Gedung Perikanan
3 4,922 Mranggen 49,220 5
Muntilan
KAWASAN PERDESAAN
Wonolelo,
Ketep,
Balai Desa
4 12,215 Kapuhan, 122,150 12
Wonolelo
Sengi, Paten,
Tlogolele
Balai Desa
5 7,540 Sengi, Paten 75,400 8
Sawangan
6 Lapangan Klangon 2,571 Tlogolele 25,710 3
Balai Desa
7 Banyudono / SD 1,641 Keningar 16,410 2
Regroup
8 BP Ngadipuro 3,972 Kalibening 39,720 4
Balai Desa
Banyubiru /
9 3,728 Sumber 37,280 4
Lapangan
Banyubiru
Balai Desa Dukun
10 / KPRI Dukun / 3,042 Ngargomulyo 30,420 3
Lapangan Dukun
11 Gulon 2,622 Ngargosoko 26,220 3
12 Bringin 2,685 Tegalrandu 26,850 3
Balai Desa
13 Jumoyo / 2,894 Kaliurang 28,940 3
Lapangan Jumoyo
BP Sucen / Balai
14 919 Nglumut 9,190 1
Desa Salam
Lapangan
15 2,709 Ngablak 27,090 3
Srumbung
Balai Desa
16 4,186 Srumbung 41,860 4
Srumbung
BAPENDIK / GP
17 1,369 Kemiren 13,690 1
Jerukagung
Tegalmulyo,
Balai Desa
18 8,626 Tlogomulyo, 86,260 9
Demakijo
Tangkil
Balai Desa / Wonokerto,
19 13,786 137,860 14
Lapangan Turi Girikerto
Balai Desa /
20 10,360 Hargobinangun 103,600 10
Lapangan Pakem

RINGKASAN EKSEKUTIF 41
RINGKASAN EKSEKUTIF

JUMLAH
PENGUNGSI KEBUTUHAN KEBUTUHAN
DESA ASAL
NO LOKASI TEA YANG LISTRIK GENSET
PENGUNGSI
DITAMPUNG (WATT/Hr) (UNIT)
(JIWA)
Balai Desa / Umbulharjo,
21 Lapangan 17,783 Glagaharjo, 177,830 18
Cangkringan Argomulyo
Balai Desa / Balerante,
22 Lapangan 5,978 Panggang, 59,780 6
Kebondalem Lor Bawukan
Sidorejo,
Kendalsari,
Lapangan / GOR Bumiharjo,
23 18,199 181,990 18
Menden Dompol,
Kemalang,
Keputran
Balai Desa / Jaruk, Senden,
24 7,939 79,390 8
Lapangan Ampel Tarubatang
Klakah,
Jrakah,
Balai Desa /
Lencoh,
Lapangan
Suroteleng,
25 Mojongsongo, 74,965 749,650 75
Sruni, dan
Teras, dan
Desa-desa di
Banyudono
Kecamatan
Cepogo
Sumber : Hasil Analisa, 2011
Ket : Asumsi Kebutuhan Listrik 10 watt/org/hr
Asumsi Daya Genset 10.000 watt/unit

3. Jaringan Telekomunikasi
Sistem jaringan telekomunikasi direncanakan dalam rangka menunjang sistem evakuasi
bencana terhadap layanan telekomunikasi yang terdiri atas :
a. Sistem jaringan tetap yang meliputi jaringan tetap lokal, sambungan langsung
jarak jauh, sambungan internasional dan tertutup; dan
b. Sistem jaringan bergerak meliputi jaringan bergerak terestrial, seluler, dan satelit.

4. Jaringan Persampahan
Rencana pengelolaan persampahan di lokasi TEA adalah sebagai berikut :
a. Penyediaan tempat sampah berukuran 100 liter untuk setiap 10 keluarga
b. Penyediaan TPS dengan Kapasitas 10.000 liter
c. Peningkatan kesadaran (peran serta) pengungsi dalam menjaga kebersihan
lingkungan
d. Penambahan sarana kebersihan, pengangkutan, dan petugas persampahan

RINGKASAN EKSEKUTIF 42
RINGKASAN EKSEKUTIF

TABEL 13
PERKIRAAN TIMBULAN SAMPAH DAN KEBUTUHAN SARANA PERSAMPAHAN
DI MASING-MASING TEA KAWASAN GUNUNG MERAPI
JUMLAH
KEBUTUHAN
PENGUNGSI TIMBULAN KEBUTUHAN
DESA ASAL TEMPAT
NO LOKASI TEA YANG SAMPAH TPS
PENGUNGSI SAMPAH
DITAMPUNG (L/Hr) (UNIT)
(UNIT)
(JIWA)
KAWASAN PERKOTAAN
Lapangan
1 3,398 Mangunsoko 6,796 34 1
Mungkid
KPRI Mungkid /
2 2,910 Krinjing 5,820 29 1
TPA Tanjung
Gedung Perikanan
3 4,922 Mranggen 9,844 49 1
Muntilan
KAWASAN PERDESAAN
Wonolelo,
Ketep,
Balai Desa
4 12,215 Kapuhan, 24,430 122 2
Wonolelo
Sengi, Paten,
Tlogolele
Balai Desa
5 7,540 Sengi, Paten 15,080 75 2
Sawangan
6 Lapangan Klangon 2,571 Tlogolele 5,142 26 1
Balai Desa
7 Banyudono / SD 1,641 Keningar 3,282 16 0
Regroup
8 BP Ngadipuro 3,972 Kalibening 7,944 40 1
Balai Desa
Banyubiru /
9 3,728 Sumber 7,456 37 1
Lapangan
Banyubiru
Balai Desa Dukun
10 / KPRI Dukun / 3,042 Ngargomulyo 6,084 30 1
Lapangan Dukun
11 Gulon 2,622 Ngargosoko 5,244 26 1
12 Bringin 2,685 Tegalrandu 5,370 27 1
Balai Desa
13 Jumoyo / 2,894 Kaliurang 5,788 29 1
Lapangan Jumoyo
BP Sucen / Balai
14 919 Nglumut 1,838 9 0
Desa Salam
Lapangan
15 2,709 Ngablak 5,418 27 1
Srumbung
Balai Desa
16 4,186 Srumbung 8,372 42 1
Srumbung
BAPENDIK / GP
17 1,369 Kemiren 2,738 14 0
Jerukagung
Tegalmulyo,
Balai Desa
18 8,626 Tlogomulyo, 17,252 86 2
Demakijo
Tangkil
Balai Desa / Wonokerto,
19 13,786 27,572 138 3
Lapangan Turi Girikerto
Balai Desa /
20 10,360 Hargobinangun 20,720 104 2
Lapangan Pakem

RINGKASAN EKSEKUTIF 43
RINGKASAN EKSEKUTIF

JUMLAH
KEBUTUHAN
PENGUNGSI TIMBULAN KEBUTUHAN
DESA ASAL TEMPAT
NO LOKASI TEA YANG SAMPAH TPS
PENGUNGSI SAMPAH
DITAMPUNG (L/Hr) (UNIT)
(UNIT)
(JIWA)
Balai Desa / Umbulharjo,
21 Lapangan 17,783 Glagaharjo, 35,566 178 4
Cangkringan Argomulyo
Balai Desa / Balerante,
22 Lapangan 5,978 Panggang, 11,956 60 1
Kebondalem Lor Bawukan
Sidorejo,
Kendalsari,
Lapangan / GOR Bumiharjo,
23 18,199 36,398 182 4
Menden Dompol,
Kemalang,
Keputran
Balai Desa / Jaruk, Senden,
24 7,939 15,878 79 2
Lapangan Ampel Tarubatang
Klakah,
Jrakah,
Balai Desa /
Lencoh,
Lapangan
Suroteleng,
25 Mojongsongo, 74,965 149,930 750 15
Sruni, dan
Teras, dan
Desa-desa di
Banyudono
Kecamatan
Cepogo
Sumber : Hasil Analisa, 2011
Ket : Asumsi Timbulan Sampah 2 l/org/hr
Kebutuhan Tempat Sampah Kapasitas 100 liter tiap 10 Keluarga (Perka BNPB No. 7 Tahun
2008)
Kebutuhan TPS dengan Kapasitas 10.000 liter

C. Kebutuhan Sarana TEA


Pada masing-masing TEA setidaknya harus terdapat beberapa fasilitas umum dan
fasilitas sosial yang menunjang bagi para pengungsi. Jenis fasilitas tersebut di antaranya
adalah :
1. Gedung Serba Guna/ Ruang Hunian Sementara/ Ruang Terbuka
2. MCK
3. Balai Pengobatan/ Ruang Medis
4. Tempat Ibadah
5. Dapur Umum
6. Ruang Logistik
7. Ruang Privasi
8. Ruang Kelas Darurat
9. Area Parkir Kendaraan
10. Kandang Ternak (sapi) Komunal
11. Helipad/ Lapangan Terbuka

RINGKASAN EKSEKUTIF 44
RINGKASAN EKSEKUTIF

Mengenai jumlah dan luasan masing-masing fasilitas tersebut tergantung pada jumlah
pengungsi yang ditampung dengan mempertimbangkan beberapa hal.

4. Jalur Evakuasi Bencana


Penyediaan prasarana jalur evakuasi bencana sangat diperlukan pada kawasan rawan
bencana. Hal ini dibutuhkan untuk memudahkan mobilitas penduduk ketika terjadi
bencana. Jalur evakuasi bencana dibutuhkan untuk memudahkan evakuasi penduduk
dari rumah atau permukiman menuju ke Tempat Evakuasi Sementara (TES) yang
selanjutnya akan diangkut menuju Tempat Evakuasi Akhir (TEA). Untuk memudahkan
evakuasi, maka dalam menyediakan jalur evakuasi bencana perlu memperhatikan
kriteria-kriteria yang berbasis mitigasi bencana. Adapun kriteria jalur evakuasi bencana
adalah sebagai berikut:
1. Merupakan jalan 2 arah dengan lebar yang cukup untuk kendaraan pengangkut
pengungsi
2. Memiliki perkerasan jalan yang dapat dilalui kendaraan pengangkut pengungsi
3. Dilengkapi rambu-rambu dan marka jalan evakuasi bencana

Ruas jalur evakuasi bencana yang dimaksud adalah sebagai berikut :


1. Desa Paten – Desa Sewukan – Desa Mangunsoko – TEA di Desa Banyudono,
Desa Sengi – Desa Sewukan – Desa Mangunsoko – TEA di Desa Banyudono,
dan Desa Krinjing – Desa Mangunsoko – TEA di Desa Banyudono – TEA di Desa
Banyubiru – TEA di Muntilan
2. Desa Keningar – Desa Sumber – TEA di Desa Dukun – TEA di Desa Banyudono
3. Desa Ngargomulyo – Desa Kalibening – Desa Wates – TEA di Desa Ngadipuro –
TEA di Muntilan
4. Desa Ngargosoko – Desa Tegalrandu – Desa Polengan – TEA di Desa Bringin –
TEA di Desa Gulon
5. Desa Ngablak – Desa Srumbung – TEA di Desa Srumbung
6. Desa Kaliurang – Desa Kemiren – Desa Kamongan – TEA di Desa Jeruk Agung –
TEA di Desa Jumoyo
7. Desa Girikerto – Desa Wonokerto – TEA di Kecamatan Turi
8. Desa Hargobinangun – Desa Pakembinangun – Desa Candibinangun – TEA di
Kecamatan Pakem
9. Desa Umbulharjo – Desa Kepuharjo – Desa Glagaharjo – Desa Argomulyo – TEA
di Kecamatan Cangkringan

RINGKASAN EKSEKUTIF 45
RINGKASAN EKSEKUTIF

10. Desa Balerante – Desa Panggang – Desa Bawukan – Kecamatan Manisrenggo –


TEA di Desa Kebondalem Lor
11. Desa Tegalmulyo – Desa Sidorejo – Desa Bumiharjo – Desa Kendalsari – Desa
Dompol – Desa Kemalang – Desa Keputran – Kecamatan Karangnongko – TEA
di Desa Menden
12. Desa Tegalmulyo – Desa Tlogowatu – Desa Tangkil – Kecamatan Karangnongko
– TEA di Desa Demakijo
13. Desa Tarubatang – Desa Senden – Desa Jeruk – TEA di Kecamatan Ampel
14. Desa Klakah – Desa Jrakah – Desa Lencoh – Desa Suroteleng – Desa Sruni –
TEA di Desa Mojongsongo, Desa Teras, dan Desa Banyudono.

RINGKASAN EKSEKUTIF 46
RINGKASAN EKSEKUTIF

GAMBAR 8
RENCANA STRUKTUR RUANG SISTEM EVAKUASI BENCANA
KAWASAN GUNUNG MERAPI

RINGKASAN EKSEKUTIF 47
RINGKASAN EKSEKUTIF

RENCANA POLA RUANG


Rencana pola ruang wilayah disusun berdasarkan hasil analisis fisik, sosial, ekonomi,
dan strategi dasar perencanaan yang telah ditetapkan. Rencana pola ruang ini juga
disusun berdasarkan pertimbangan dan kriteria lokasi yang membagi kriteria lokasi untuk
Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya.

Penentuan alokasi pemanfaatan ruang ini nanti diharapkan mewujudkan tata ruang
Kawasan Gunung Merapi yang sesuai dengan ketentuan dari UU No. 26 Tahun 2007,
yang antara lain memperhatikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Aspek-aspek
yang dipertimbangkan terhadap perencanaan pola ruang wilayah tersebut adalah:
1. Potensi dari pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang
tersedia dalam penentuan kegiatan,
2. Fungsi-fungsi kegiatan yang ditampung,
3. Pola dan struktur tata ruang yang sudah ada serta kecenderungan pada masa
yang akan datang,
4. Kuantitas dan kualitas ruang, meliputi keadaan ruang yang ada pada saat ini dan
tuntutan serta kebutuhan pada tahun-tahun yang akan datang,
5. Mencegah benturan penggunaan ruang,
6. Mencegah penggunaan lahan secara tidak terkendali,
7. Mitigasi bencana dan arahan penanganan kawasan rawan bencana.

Rencana pola ruang dikembangkan dengan memperhatikan area terdampak erupsi dan
lahar dingin Gunung Merapi Rencana Pola Ruang Kawasan Gunung Merapi merupakan
distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk
fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.

Kawasan Lindung Gunung Merapi meliputi Taman Nasional, Kawasan Rawan Bencana
Alam Geologi, Kawasan Rawan Bencana Alam Geologi Sempadan Sungai, dan Kawasan
Rawan Bencana Alam Geologi yang terdapat kantung (enclave) permukiman.

Kawasan Budidaya Gunung Merapi meliputi Kawasan Permukiman Perkotaan, Kawasan


Permukiman Perdesaan, Kawasan Budidaya Hortikultura/ Perkebunan, Kawasan
Budidaya Tanaman Pangan, dan Kawasan Hutan Rakyat dengan Pengendalian Tinggi.

RINGKASAN EKSEKUTIF 48
RINGKASAN EKSEKUTIF

GAMBAR 9
RENCANA POLA RUANG KAWASAN GUNUNG MERAPI

RINGKASAN EKSEKUTIF 49
RINGKASAN EKSEKUTIF

ARAHAN PERATURAN ZONASI


Peraturan Zonasi adalah aturan pada suatu zona yang berisi ketentuan pemanfaatan
ruang (kegiatan atau penggunaan lahan, intensitas pemanfaatan ruang, ketentuan tata
massa bangunan, ketentuan prasarana minimum yang harus disediakan, aturan lain yang
dianggap penting, dan aturan khusus untuk kegiatan tertentu. Penyusunan Peraturan
Teknik Zonasi merupakan tahap awal dalam menyusun Aturan Zonasi untuk suatu
kawasan, dalam Peraturan Teknik Zonasi lebih ditekankan kepada element-element fisik
buatan dari suatu kawasan yang berfungsi untuk mengawasi kegiatan atau akivitas yang
berada di atas sebuah lahan. Pembangunan dan pemanfaatan ruang yang terarah
memerlukan peraturan, panduan atau ketentuan yang jelas, mudah dipahami, logis
(dapat dipertanggungjawabkan) dan menjadi rujukan bagi pemerintah, masyarakat dan
dunia usaha.

Pengertian peraturan zonasi tidak disebutkan dalam Ketentuan Umum UU No. 26/2007
tapi disebutkan dalam penjelasan sbb: Pada penjelasan umum angka 6 disebutkan
bahwa “Peraturan zonasi merupakan ketentuan yang mengatur tentang persyaratan
pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/ zona
peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang” (definisi ini yang
digunakan dalam PP No. 26/2008 tentang RTRWN ps. 1 angka 27). Berdasarkan
penjelasan pasal 36 ayat 1 disebutkan bahwa “Peraturan zonasi merupakan ketentuan
yang mengatur pemanfaatan ruang dan unsur‐ unsur pengendalian yang disusun untuk
setiap zona peruntukan sesuai dengan rencana rinci tata ruang”. Dalam kaitannya
dengan Kawasan Merapi, peraturan zonasi yang diterapkan bertujuan sebagai acuan
dalam pengelolaan Kawasan Gunung Merapi berbasis kelestarian lingkungan dan
mitigasi bencana

Aturan teknis disusun dengan mempertimbangkan 2 aspek yang diperhatikan, aspek


yang harus di perhatikan adalah (issues of concern) dan komponen yang diatur (scope of
issues). Pada dua aspek ini mempunyai dasar dalam penyusunan aturan, dasar-dasar
tersebut antara lain :
1. Aspek yang diperhatikan (issues of concern) adalah pokok perhatian atau kriteria
yang menjadi dasar penyusunan aturan. Contoh perhatian dalam pengaturan
adalah:
 fungsional: menjamin kinerja yang tinggi dari fungsi tersebut;
 kesehatan: menjamin tercapainya kualitas (standar minimum) kesehatan yang
ditetapkan; dan

RINGKASAN EKSEKUTIF 50
RINGKASAN EKSEKUTIF

 pokok perhatian lainnya antara lain: keselamatan, keamanan, kenyamanan,


keindahan, dan hubungan aspek tersebut dengan isu lainnya.
 Komponen yang diatur (scope of issues) adalah komponen yang diatur
berdasarkan pokok perhatian yang terkait. Contoh komponen yang harus
diatur adalah, KDB, KLB, kepadatan bangunan, jarak antar bangunan, dll.

RINGKASAN EKSEKUTIF 51