Anda di halaman 1dari 10

Proses pembelajaran di sekolah tidak hanya dapat dilakukan dengan kegiatan ceramah

saja tetapi juga membutuhkan suatu proses pembelajaran yang mengedepankan pemberian

pengalaman langsung kepada peserta didik. Proses pembelajaran dengan mengedepankan

pengalaman langsung ini salah satunya dapat dilakukan dengan kegiatan praktikum. Menurut

Suardana (2010) praktikum bertujuan untuk membantu siswa mendapatkan keterampilan-

keterampilan teknis seperti memanipulasi peralatan dan bahan, observasi, pengumpulan data,

analisis data, interpretasi hasil observasi, pemecahan masalah, kerja kelompok, mendesain

eksperimen, serta keterampilan berkomunikasi. Tuysuz (2010) juga menyatakan bahwa

melalui praktikum dapat meningkatkan ketertarikan siswa terhadap materi pelajaran dan

membantu proses pembelajaran siswa.

Permasalahan yang terjadi sekarang, tidak semua sekolah dapat melaksanakan

kegiatan praktikum dengan baik. Banyak masalah yang dialami sekolah, salah satunya dan

yang paling sering terjadi adalah ketidaktersediaan alat dan bahan praktikum. Masalah ini

hampir dialami oleh semua sekolah baik yang sudah masuk kategori maju sekalipun. Masalah

ketidaktersediannya alat dan bahan praktikum di sekolah dapat bersumber dari

ketidakmampuan sekolah dalam melakukan pengelolaan. Pengelolaan alat dan bahan

praktikum termasuk dalam pengelolaan laboratorium yang mencakup juga pengelolaan

pengguna, fasilitas, dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium.

Menurut Wiratma & Subagia (2014) secara umum, persoalan pengelolaan alat dan

bahan di laboratorium kimia SMA dapat muncul pada proses pengadaan, penggunaan,

pemeliharaan, dan pemusnahan. Pada proses pengadaan masalah dapat muncul karena

ketidaktepatan pengadaan alat dan bahan, selanjutnya pada proses penggunaan masalah dapat

muncul karena kesalahan pengoperasian alat atau bahan, kemudian pada proses pemeliharaan

masalah dapat muncul akibat kesalahan pembersihan dan penempatan alat dan bahan, terakhir

pada proses pemusnahan alat dan bahan yang sudah rusak masih belum sesuai dengan aturan
yang berlaku. Berikut ini penjabaran mekanisme pengelolaan alat dan bahan praktikum

berdasarkan aspek pengadaan, penggunaan, pemeliharaan, dan pemusnahan.

1. Pengadaan Alat dan Bahan Praktikum

Menurut Lubis (1993) proses pengadaan alat dan bahan itu harus melalui beberapa

proses, diantaranya di mulai dari peninjauan kurikulum, penentuan pokok bahasan, pemilihan

eksperimen, sampai dengan pemilihan alat/bahan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa ada

beberapa cara pengadaan alat dan bahan di laboratorium yaitu:

a) Pertama, dropping alat dan bahan dilakukan oleh pemerintah melalui proyek-proyek

pengadaan. Sekolah hanya tinggal menerima dropping alat dan bahan tersebut tanpa

perlu menyusun daftar usulan alat dan bahan mana yang benar-benar diperlukan.

b) Kedua, pengadaan berdasarkan permintaan sekolah melalui daftar usulan yang

disusun berdasarkan usulan guru mata pelajaran maupun berdasarkan catatan harian

mengenai keperluan alat dan bahan. Setelah daftar usulan alat/bahan selesai disusun,

kemudian diajukan kepada wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana selaku

penanggung jawab untuk selanjutnya melakukan pengiriman daftar usulan tersebut ke

proyek pengadaan alat melalui direktorat yang terkait.

c) Ketiga, sekolah memilih dan membeli sendiri alat/bahan yang diperlukan.

Mekanismenya sama seperti pengadaan melalui pengadaan berdasarkan permintaan

sekolah yaitu melalui pengusulan dari pengelola laboratorium kemudian

menyerahkannya kepada kepala sekolah, tetapi pada tahap selanjutnya kepala sekolah

tidak menyerahkannya kepada direktorat terkait melainkan membeli sendiri

alat/bahannya.

2. Penggunaan Alat dan Bahan Praktikum

Penggunaan alat dan bahan praktikum mempunyai dua prinsip yang harus

diperhatikan yaitu: prinsip efektivitas dan prinsip efisiensi. Prinsip efektivitas berarti alat dan
bahan praktikum hanya ditujukan untuk memperlancar pencapaian tujuan pendidikan. Prinsip

efisiensi berarti penggunaan alat dan bahan praktikum harus hemat dan hati-hati sehingga

tidak mudah habis, rusak ataupun hilang. Untuk memenuhi kedua prinsip tersebut terdapat

tiga kegiatan pokok yang harus dilakukan oleh warga sekolah, yaitu, (1) memahami petunjuk

penggunaan, (2) menata, dan (3) memelihara baik secara berkelanjutan maupun berkala

semua alat dan bahan praktikum (Bafadal, 2004).

Sebelum menggunakan alat dan bahan pada saat praktikum, setiap pengguna

laboratorium harus sudah mengetahui fungsi alat dan bahan yang digunakan. Peralatan yang

ada juga harus disertai dengan buku petunjuk (manual-operation) agar apabila sewaktu-

waktu ada kerusakan kecil atau besar maka buku manual tersebut dapat digunakan sebagai

pedoman. Pada akhir praktikum, alat dan bahan yang sudah selesai digunakan, harus

dibersihkan dan dikembalikan ke ruang penyimpanan.

3. Pemeliharaan Alat dan Bahan Praktikum

Pemeliharaan alat dan bahan dalam hal ini bukan berarti alat dan bahan tersebut

disimpan dengan baik sehingga selalu dalam keadaan utuh, akan tetapi alat dan bahan

tersebut dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama. Memang tidak dapat dipungkiri jika

semua alat dan bahan praktikum lambat laun akan mengalami kerusakan, baik itu karena

dimakan usia maupun karena pemakaian atau penyimpanannya yang terlalu lama. Sumber-

sumber kerusakan alat dan bahan praktikum yang disebabkan oleh lingkungan dapat

digolongkan menjadi tujuh yaitu: (1) udara, (2) cairan: air, asam, basa, dan cairan lainnya, (3)

panas/temperatur, (4) mekanik, (5) sinar, (6) api, (7) sifat bahan kimia itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dibutuhkan suatu teknik pemeliharaan yang tepat agar alat

maupun bahan kimia bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama (Budimarwanti, 2011).
A. Pemeliharaan Alat

Pemeliharaan alat dapat berupa kegiatan pemeliharaan sehari-hari seperti

membersihkan, mengganti label yang rusak, melakukan perbaikan ringan dan lain-lain.

Pemeliharaan alat juga dapat dilakukan secara berkala yang sesuai dengan buku petunjuk alat

bersangkutan misalnya enam bulan sekali maupun setahun sekali. Selain itu, pemeliharaan

juga dapat dilakukan dengan penyimpanan yang baik dan benar. Penyimpanan alat harus

memperhatikan beberapa hal berikut ini yaitu: (1) kondisi alat, (2) frekuensi penggunaan, (3)

spesifikasi dan jenis alat (4) bahan dasar alat (5) set/kit alat (Subamia & Wiratini 2008).

Menurut Lubis (1993), dalam melaksanakan pemeliharaan alat praktikum di

laboratorium harus memperhatikan sifat-sifat dasar dari alat itu sendiri seperti:

1) Pemeliharaan alat sesuai zat atau bahan dasar pembuatannya

Bahan dasar alat harus diketahui agar peyimpanan dan penggunaannya dapat

dilakukan dengan tepat. Misalnya pada saat menggunakan alat yang terbuat dari

kaca harus menggunakan alat kaca yang tahan panas. Contoh lain misalnya alat yang

semuanya maupun sebagian terbuat dari besi, jangan disimpan berdekatan dengan

zat-zat kimia terutama yang bersifat korosif, karena akan membuat alat tersebut

menjadi lebih cepat berkarat.

2) Pemeliharaan alat sesuai berat/massa

Alat di laboratorium ada yang ringan dan ada yang berat. alat-alat yang berat jangan

ditaruh di tempat yang tinggi, melainkan di taruh di tempat yang lebih rendah agar

mudah dalam mengambil atau menyimpannya.

3) Pemeliharaan alat sesuai kepekaan terhadap pengaruh lingkungan

Banyak alat yang peka terhadap pengaruh lingkungan, misalnya peka terhadap

kelembaban. Alat yang peka terhadap kelembaban akan mudah ditumbuhi jamur

sehingga harus disimpan di tempat yang tidak lembab. Untuk menghindari keadaan
lembab dalam gudang maka sebaiknya gudang mempunyai lubang ventilasi yang

cukup.

4) Pemeliharaan alat terhadap pengaruh bahan kimia

Alat-alat di laboratorium harus disimpan di tempat yang berlainan dengan tempat

penyimpanan bahan-bahan kimia. Hal ini karena beberapa jenis zat kimia dapat

mempengaruhi bahkan merusak alat-alat tersebut. Misalnya alat yang terbuat dari

logam akan mudah rusak jika disimpan berdekatan dengan zat-zat kimia yang

korosif.

5) Pemeliharaan sesuai pengaruh alat terhadap alat lainnya

Penyimpanan alat perlu diperhatikan bahwa alat yang terbuat dari logam harus

dipisahkan dari alat yang terbuat dari gelas. Alat-alat yang mengandung medan

magnet juga jangan dismpan dekat alat yang sensitif terhadap magnet dan tidak

boleh disimpan juga dekat alat ukur listrik yang sedang dipakai.

6) Pemeliharaan alat berdasarkan nilai/harga alat

Alat-alat di laboratorium banyak yang mempunyai harga yang mahal sehingga

sebaiknya disimpan dalam lemari yang dapat dikunci di ruang penyimpanan

sedangkan untuk alat-alat yang harganya tidak begitu mahal dapat disimpan pada rak

atau tempat terbuka lainnya. Alat-alat yang memiliki nilai/harga yang tinggi

sebaiknya disimpan di dalam ruangan yang dapat dikunci sedangkan alat-alat yang

memiliki nilai/harga yang tidak begitu mahal dapat dsimpan di dalam lemari, rak

atau tempat terbuka lainnya. Jika ada lemari/rak tertutup maka sebaiknya semua alat

disimpan dalam lemari tersebut.

7) Pemeliharaan alat dalam bentuk set

Alat-alat di laboratorium juga sering terdapat dalam bentuk set, misalnya set

mekanika, elektromagnet dan lain-lain. Memelihara keawetan dan kontinuitas


pemakaian alat dalam bentuk set dapat dilakukan dengan menyimpan dan

menyusunnya kembali pada tempat semula.

B. Pemeliharaan bahan

Bahan-bahan praktikum di laboratorium juga memerlukan pemeliharaan dengan cara

yang tepat. Menurut Moran & Masciangioli (2010), pemeliharaan bahan-bahan di

laboratorium khususnya bahan-bahan kimia pada prinsipnya lebih ditekankan pada cara dan

tempat penyimpanannya. Budimarwanti (2011), menyebutkan bahwa ada beberapa syarat

dalam penyimpanan bahan praktikum yaitu:

1. Bahan beracun

Bahan-bahan kimia beracun yang sering dijumpai di laboratorium sekolah antara lain:

sublimate (HgCl2 ), persenyawaan sianida, arsen, gas karbon monoksida (CO) dari aliran gas.

Syarat penyimpanan bahan kimia yang beracun yaitu: (1) disimpan di ruangan dingin dan

berventilasi, (2) jauh dari bahaya kebakaran, (3) dipisahkan dari bahan-bahan yang mungkin

bereaksi, (4) kran dari saluran gas harus tetap dalam keadaan tertutup rapat pada saat tidak

digunakan, (5) disediakan alat pelindung diri, pakaian kerja, masker, dan sarung tangan.

2. Bahan korosif

Bahan ini dapat merusak wadah dan bereaksi dengan zat-zat beracun, contohnya

senyawa asam, anhidrida asam, dan alkali dan yang lainnya. Syarat penyimpanan bahan

kimia yang korosif yaitu: (1) ruangan dingin dan berventilasi, (2) wadah tertutup dan

beretiket, (3) dipisahkan dari zat-zat beracun.

3. Bahan mudah terbakar

Banyak bahan-bahan kimia yang dapat terbakar sendiri, terbakar jika kena udara, kena

benda panas, kena api, atau jika bercampur dengan bahan kimia lain, contohnya Fosfor putih

(P), fosfin (PH3), alkil logam, boran (BF3) dan yang lainnya. Syarat penyimpanan bahan

kimia mudah terbakar yaitu: (1) temperatur dingin dan berventilasi, (2) jauhkan dari sumber
api atau panas, terutama loncatan api listrik dan bara rokok, (3) tersedia alat pemadam

kebakaran.

4. Bahan mudah meledak

Banyak reaksi eksoterm antara gas-gas dan serbuk zat-zat padat yang dapat meledak

dengan dahsyat, contohnya ammonium nitrat, nitrogliserin, TNT dan yang lainnya.

Kecepatan reaksi zat-zat seperti ini sangat tergantung pada komposisi dan bentuk dari

campurannya. Syarat penyimpanan bahan kimia mudah meledak yaitu: (1) ruangan dingin

dan berventilasi, (2) jauhkan dari panas dan api, (3) hindarkan dari gesekan atau tumbukan

mekanis.

5. Bahan oksidator

Bahan-bahan kimia yang bersifat oksidator mempunyai beberapa syarat penyimpanan

yaitu: (1) temperatur ruangan dingin dan berventilasi, (2) jauhkan dari sumber api dan panas,

termasuk loncatan api listrik dan bara rokok, (3) jauhkan dari bahan-bahan cairan mudah

terbakar atau reduktor. Contoh bahan-bahan kimia yang bersifat oksidator yaitu: perklorat,

permanganat, peroksida organik

6. Bahan reaktif terhadap air

Bahan-bahan kimia yang bersifat reaktif terhadap air mempunyai beberapa syarat

penyimpanan yaitu: (1) temperatur ruangan dingin, kering, dan berventilasi, (2) jauh dari

sumber nyala api atau panas, (3) bangunan kedap air, (4) disediakan pemadam kebakaran

tanpa air (CO 2 , dry powder). Contoh bahan-bahan kimia yang reaktif terhadap air yaitu:

natrium, hidrida, karbit, nitrida.

7. Bahan reaktif terhadap asam

Zat-zat tersebut kebanyakan dengan asam menghasilkan gas yang mudah terbakar

atau beracun, contoh: natrium, hidrida, sianida. Syarat penyimpanan bahan kimia yang reaktif

terhadap asam yaitu: (1) ruangan dingin dan berventilasi, (2) jauhkan dari sumber api, panas,
dan asam, (3) ruangan penyimpan perlu didesain agar tidak memungkinkan terbentuk

kantong-kantong hidrogen, (4) disediakan alat pelindung diri seperti kacamata, sarung

tangan, pakaian kerja

8. Gas bertekanan

Bahan-bahan kimia yang berwujud gas contohnya gas N 2 , asetilen, H2 , dan Cl2 dalam

tabung silinder. Cara penyimpanannya yaitu: (1) disimpan dalam keadaan tegak berdiri dan

terikat, (2) ruangan dingin dan tidak terkena langsung sinar matahari, (3) jauh dari api dan

panas, (4) jauh dari bahan korosif yang dapat merusak kran dan katub-katub.

4. Pemeliharaan Alat dan Bahan Praktikum

Kegiatan praktikum yang dilakukan di laboratorium akan menghasilkan limbah, baik

yang berasal dari alat maupun yang berasal dari bahannya. Alat dan bahan praktikum yang

sudah tidak dapat lagi digunakan harus dipisahkan dengan alat dan bahan praktikum yang

masih bisa digunakan. Pembuangan alat dan bahan praktikum yang sudah tidak bisa

digunakan lagi harus mempertimbangkan beberapa hal diantaranya, biaya pembuangan,

potensi bahaya terhadap orang-orang di luar laboratorium dan potensi dampaknya terhadap

lingkungan. Masalah tersebut menjadi tanggung jawab dari pengelola laboatorium karena

pengelola laboratorium yang paling mengetahui sifat dan informasi dari limbah tersebut.

Keputusan dalam membuang limbah harus sejalan dengan kerangka kerja lembaga dan sesuai

dengan peraturan yang berlaku (Moran & Masciangioli, 2010).

Lebih lanjut Moran & Masciangioli (2010) juga menjelaskan tentang langkah-langkah

utama pengelolaan limbah yaitu: (1) mengidentifikasi limbah dan bahayanya, (2)

mengumpulkan dan menyimpan limbah dengan cara yang tepat, (3) mempertimbangkan

pengurangan bahaya jika bisa, (4) membuang limbah dengan baik. Penerapan dari langkah-

langkah ini tergantung pada sumber daya dan peraturan masing-masing laboratorium.
Terdapat beberapa opsi pembuangan yang bisa digunakan dalam menangani limbah

laboratorium diantaranya yaitu:

1) Insinerasi

Insinerasi adalah metode pembuangan limbah laboratorium yang umum. Insinerasi

biasanya dilakukan di oven berputar pada suhu tinggi (649-760°C). Opsi ini mahal karena

memerlukan volume bahan bakar yang banyak untuk mencapai suhu yang diperlukan.

2) Pembuangan di pipa drainase

Pembuangan di sistem drainase (melewati pipa pembuangan) dulunya umum

dilakukan, tetapi praktik ini telah sangat berubah. Banyak fasilitas laboratorium industri dan

akademik telah sepenuhnya melarang pembuangan ke saluran drainase. Bahan kimia yang

mungkin diizinkan untuk dibuang di pipa drainase meliputi larutan air yang terurai secara

alami dan larutan toksisitas rendah dari zat-zat anorganik.

3) Pelepasan ke atmosfer

Pelepasan uap ke atmosfer, seperti melalui saluran keluar evaporasi atau tudung asap

yang terbuka, bukan metode pembuangan yang diperbolehkan. Pasang perangkat perangkap

yang tepat di semua alat untuk pengoperasian yang diperkirakan akan melepaskan uap.

4) Pembuangan limbah yang tidak berbahaya

Limbah yang tidak berbahaya dan diperbolehkan oleh peraturan setempat, dapat

dibuang melalui pembuangan limbah biasa atau saluran drainase, hal ini dilakukan untuk

mengurangi biaya pembuangan.


DAFTAR PUSTAKA

Bafadal, I. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah: Teori dan


Aplikasinya. Jakarta: Bumi Aksara.
Budimarwanti, C. 2011. Pengelolaan Alat dan Bahan di Laboratorium Kimia. Tersedia pada:

http://uny.ac.id (diakses tanggal 19 Oktober 2016).

Lubis, M. H., dkk. 1993. Materi Pokok Pengelolaan Laboratorium IPA; PGPA3930/3SKS.

Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.

Moran, L., & Masciangioli, T. (Ed). 2010. Keselamatan dan Keamanan Laboratorium

Kimia; Panduan Pengelolaan Bahan Kimia dengan Bijak . Washington, DC: The

National Academies Press.

Suardana, I. N. 2010. Pengembangan Model Praktikum Kimia Dasar berbasis Budaya Bali

untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa Calon Guru Kimia.

Disertasi (tidak diterbitkan) Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia.

Subamia, I. D. P & Wiratini, N. M. 2008. Penataan, Penyimpanan dan Perawatan Alat dan

Bahan (P3AB) di Laboratorium IPA. Modul Pelatihan Manajemen Laboratorium bagi

Guru dan laboran SMA se Bali. Tidak diterbitkan.

Tuysuz, C. 2010. The Effect of the Virtual laboratory on Students’ Achievement and Attitude

in Chemistry. International Online Journal of Educational Sciences, 2 (1), 37-53.

Wiratma, I. G. L. & Subagia, I. W. 2014. Pengelolaan Laboratorium Kimia pada SMA Negeri

di Kota Singaraja: (Acuan Pengembangan Model Panduan Pengelolaan Laboratorium

Kimia Berbasis Kearifan Lokal