Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan kebutuhan yang penting bagi setiap manusia untuk

mempersiapkan kehidupan yang baik sebagai pribadi maupun sebagai warga

masyarakat. Selain itu pendidikan mempunyai peran yang sangat menentukan

bagi perkembangan dan perwujudan dari individu serta pembangunan kualitas

sumber daya manusia suatu bangsa. Bangsa yang ingin maju tentu menyadari

bahwa pendidikan merupakan salah satu hal penting yang diperlukan untuk

membangun dan memperbaiki keadaan masyarakat, sehingga tanpa pendidikan

usaha yang dilakukan akan mengalami hambatan.

Perkembangan teknologi dan informasi yang cepat berubah saat ini

membutuhkan manusia yang siap dan tanggap. Salah satu cara untuk

menghasilkan manusia yang dimaksud adalah melalui pendidikan. Manusia

sebagai objek pendidikan diharapkan dapat mengikuti setiap perubahan dengan

kehidupan yang berkualitas. Matematika adalah salah satu ilmu yang berperan

penting dalam penguasaan teknologi. Oleh karena itu, pembelajaran matematika

dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan, dengan harapan pendidikan

matematika dapat meningkatkan kualitas kemampuan siswa serta sikap siswa

yang sejalan dengan tuntutan perkembangan zaman.

Di dalam Permendikbud Nomor 58 Tahun 2014 menyebutkan bahwa

matematika merupakan ilmu universal yang berguna bagi kehidupan manusia dan

1
juga mendasari perkembangan teknologi modern, serta mempunyai peran penting

dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk

menguasai dan mencipta teknologi di masa depan, diperlukan penguasaan dan

pemahaman atas matematika yang kuat sejak dini.

Salah satu tujuan mata pelajaran matematika adalah agar peserta didik

dapat memahami konsep matematika. Konsep adalah satuan arti yang mewakili

sejumlah obyek yang memiliki ciri-ciri yang sama (Winkel, 1996). Pemahaman

konsep matematis adalah kompetensi yang ditunjukkan peserta didik dalam

memahami konsep dan dapat menyatakan kembali konsep yang sudah ada secara

luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah. Peserta didik

dikatakan memahami konsep jika memiliki kemampuan dalam menyatakan ulang

sebuah konsep; kemampuan mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat

tertentu sesuai dengan konsepnya; kemampuan memberi contoh dan bukan contoh

dari suatu konsep; kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk

representasi matematis; kemampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat

cukup suatu konsep; kemampuan menggunakan, memanfaatkan, dan memilih

prosedur atau operasi tertentu; kemampuan mengaplikasikan konsep atau

algoritma pada pemecahan masalah.

Pada Kurikulum 2013, tujuan pembelajaran matematika terlihat pada

kompetensi inti dan kompetensi dasar tiap satuan pendidikan. Terlihat bahwa

kemampuan pemahaman matematis perlu dimiliki siswa, karena ketika siswa

memahami konsep-konsep matematika, maka siswa tersebut mulai merintis

kemampuan-kemampuan berpikir matematis yang lainnya.

2
Dalam proses pembelajaran di kelas, selain kemampuan pemahaman

matematis, guru juga harus memperhatikan psikologis siswa dalam proses

pembelajaran. Jika siswa memiliki sikap atau psikologi yang baik, maka siswa

akan mudah untuk menerima pelajaran dan mereka juga dapat mengaplikasikan

ide-ide yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalah yang mereka alami

selama pembelajaran berlangsung maupun permasalahan yang diberikan oleh

guru.

Berdasarkan paparan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul ”Analisis Kemampuan Pemahaman dan Penalaran

Matematis Siswa Pada Kelas VII SMP Negeri 1 Siompu Barat” dan diharapkan

bermanfaat bagi para guru untuk memberikan pengetahuan dan pertimbangan

dalam proses pembelajaran di kelas.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah, bagaimanakah kemampuan pemahaman dan penalaran

matematis siswa kelas VII SMP Negeri 1 Siompu Barat?.

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan

pemahaman dan penalaran matematis siswa kelas VII SMP Negeri 1 Siompu

Barat.

3
D. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat diambil manfaatnya, antara

lain:

1. Bagi siswa, dapat menjadi acuan meningkatkan kemampuan pemahaman dan

penalaran matematis.

2. Bagi guru, dapat menjadi masukan untuk meningkatkan kualitas pemahaman

konsep matematis siswa.

4
BAB II

LANDASAN TEORI, KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN

A. Landasan Teori

1. Definisi Kemampuan Matematis

Dalam proses mengajar, hal terpenting adalah pencapaian pada tujuan

yaitu agar siswa mampu memahami sesuatu berdasarkan pengalaman belajarnya.

Kemampuan pemahaman ini merupakan hal yang sangat fundamental, karena

dengan pemahaman akan dapat mencapai pengetahuan prosedur.

Ruspiani dalam Permana & Sumarmo (2007: 117), pada hakekatnya,

Matematika sebagai ilmu yang terstruktur dan sistimatik mengandung arti bahwa

konsep dan prinsip dalam Matematika adalah saling berkaitan antara satu dengan

lainnya. Sebagai implikasinya, maka dalam belajar matematika untuk mencapai

pemahaman yang bermakna siswa harus memiliki kemampuan koneksi matematis

yang memadai. Kemampuan koneksi matematis adalah kemampuan mengaitkan

konsep konsep matematika baik antar konsep dalam matematika itu sendiri

maupun mengaitkan konsep matematika dengan konsep dalam bidang lainnya

Sumarmo dalam Bani (2011: 12), ada dua visi pembelajaran matematika,

yaitu; (1) mengarahkan pembelajaran matematika untuk pemahaman konsep-

konep yang kemudian diperlukan untuk menyelesaikan masalah dan ilmu

pengetahuan lainnya, dan (2) mengarahkan kemasa depan yang lebih luas yaitu

matematika memberikan kemampuan pemecahan masalah, sistimatik, kritis,

5
cermat, bersifat objektif dan terbuka. Kemampuan tersebut sangat diperlukan

dalam menghadapi masa depan yang selalu berubah.

Lebih lanjut, Sumarmo dalam Bani (2011: 14), menyatakan bahwa indikator

dari kemampuan pembelajaran matematika meliputi; (1) mengenal, (2) memahami,

dan (3) menerapkan konsep, prosedur, prinsip, dan ide matematika. Hal ini juga

menurut Santrock dalam Bani (2011: 14), Pemahaman konsep adalah aspek kunci

dari pembelajaran. Salah satu tujuan pengajaran yang penting adalah membantu

murid memahami konsep utama dalam suatu subjek, bukan hanya mengingat fakta-

fakta yang terpisah-pisah. Pemahaman konsep akan berkembang apabila guru dapat

mengeksplorasi topik secara mendalam dan memberi mereka contoh yang tepat dan

menarik dari suatu konsep.

Kemampuan pemahaman matematik adalah salah satu tujuan penting dalam

pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan kepada

siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu dengan pemahaman siswa

dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematik

juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru,

sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan.

Bani (2011: 13).

2. Definisi Pemahaman Matematis

Pemahaman matematis terdiri dari dua bentuk, yakni pemahaman

konseptual dan prosedural. Pemahaman konsep matematis merupakan

pemahaman eksplisit dan implisit yang mendasari struktur matematika yang

meliputi keterkaitan dan hubungan timbal balik antara ide dalam domain yang

6
menjelaskan dan memberikan pengertian terhadap prosedur matematis (Eisenhart

et al., dalam Purnomo, 2014: 29).

Di sisi lain, pemahaman prosedur matematis diartikan sebagai penguasaan

keterampilan komputasi dan pengetahuan tentang prosedur dalam

mengidentifikasi komponen matematika, algoritma, dan definisi untuk mencapai

tujuan tertentu (Eisenhart et al., dalam Purnomo: 2014: 30). Seringkali, definisi

pemahaman konsep dihubungkan dengan pertanyaan “knowing that”, sedangkan

pemahaman prosedural dihubungkan dengan pertanyaan “knowing how” (Byrnes

& Wasik dalam Purnomo, 2014: 30).

Banyak penelitian yang mengembangkan terlebih dahulu salah satu

diantara pemahaman konseptual dan pemahaman prosedural. Mengacu pada

pemahaman konsep terlebih dahulu, seseorang awalnya mengembangkan (atau

dilahirkan dengan) pengetahuan konseptual dalam domain dan kemudian

menggunakan pemahaman konseptual tersebut untuk menghasilkan dan memilih

prosedur dalam memecahkan masalah dalam domain. Sebagai contoh, memahami

sifat kerapatan pecahan diperlukan pemahaman tentang pecahan senilai. Di sisi

lain, mengembangkan prosedur terlebih dahulu dilakukan dengan belajar

mengenai prosedur untuk memecahkan masalah dalam domain dan kemudian

menggali konsep domain dari pengalaman untuk memecahkan masalah (Rittle-

Johnson et al., dalam Purnomo, 2014: 30).

Berdasarkan pengertian pemahaman diatas, dapat disimpulkan bahwa

pemahaman adalah suatu cara yang sistematis dalam memahami dan

mengemukakan tentang sesuatu yang diperolehnya.

7
Menurut Ibrahim (2003: 21) ada enam ciri dari belajar yang mengandung

pemahaman, yaitu:

a. Dipengaruhi oleh kemampuan dasar, memang kemampuan dasar atau

kemampuan potensial (intelegensi dan bakat) seseorang berbeda-beda satu

sama lain. Tidak ada individu mempunyai intelegensi ataupun bakat yang

sama dalam berbagai bidang. Meskipun kita terima pengelompokan siswa

berdasarkan kategori prestasi tinggi-sedang-rendah, itu hanyalah pendekatan

saja. Pada intinya setiap siswa berbeda secara secara individual, baik dalam

hal prestasi belajar maupun kemampuan potensialnya.

b. Dipengaruhi pengalaman belajar yang lalu yang relevan. Pembelajaran

merupakan rangkaian kompetensi yang dikembangkan berdasarkan

kompetensi sebelumnya. Oleh karena itu, semua pengalaman pembelajaran

perlu dimulai dari apa yang sudah diketahui, dapat dilakukan oleh siswa dan

mengembangkannya.

c. Tergantung pada pengaturan situasi, sebab pemahaman hanya mungkin

apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang

perlu diamati bisa tercapai.

d. Didahului oleh usaha-usaha coba-coba, sebab pemahaman bukanlah hal yang

dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan adalah hal yang harus

dicari atau diusahakan.

e. Belajar dengan pemahaman dapat diulangi, jika suatu masalah yang yang

telah dipecahkan dengan pemahaman, ketika pada kesempatan lain diberikan

kembali masalah yang sama atau serupa, maka siswa akan dapat memecahkan

8
kembali masalah tersebut. Oleh karena itu materi pembelajaran harus

memiliki makna bagi siswa, dengan kebermaknaan materi pembelajaran yang

dipelajari dapat memungkinkan seseorang mengingat dalam waktu yang

lama.

f. Suatu pemahaman dapat diaplikasikan atau dipergunakan bagi pemahaman

situasi lain, tidak terpaku hanya pada satu situasi permasalahan.

Siswa memahami ketika mereka menghubungkan pengetahuan “baru” dan

pengetahuan lama mereka. Lebih tepatnya, pengetahuan yang baru masuk

dipadukan dengan skema-skema dan kerangka-kerangka kognitif yang telah ada.

Lantaran konsep-konsep di otak seumpama blok-blok bangunan yang didalamnya

berisi skema-skema dan kerangka kognitif, pengetahuan konseptual menjadi dasar

untuk memahami. Proses-proses kognitif dalam kategori Memahami meliputi

menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan,

membandingkan, menjelaskan (Anderson & Krathwohl, 2010: 104). Pengetahuan

konseptual mencakup pengetahuan tentang kategori, klasifikasi, dan hubungan

antara dua atau lebih kategori atau klasifikasi pengetahuan yang lebih kompleks

dan bertata. (Anderson & Krathwohl, 2010: 71)

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seorang siswa

dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat menjelaskan atau menguraikan

kembali apa yang dipelajarinya ke dalam bahasanya sendiri, atau dengan kata lan

dapat menyimpulkan dan bahkan siswa dapat mengaplikasikannya ke dalam

permasalahan yang relevan dengan yang siswa pahami tersebut dan dapat

mengulanginya jika ada permasalahan yang serupa.

9
3. Pemahaman Konsep Matematika

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki

karakteristik yang mengalami berbagai kesulitan dalam mempelajari matematika,

terutama dalam memahami dan menyelesaikan masalah matematika. Akibatnya

siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep matematika dan

mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-

hari. Hal ini berakibat pada pemahaman matematika yang semakin berkurang.

Oleh karena itu, diperlukan perbaikan pembelajaran matematika untuk

meningkatkan pemahaman matematika siswa.

Matematika terdiri dari berbagai konsep yang tersusun secara hierarkis,

sehingga pemahaman matematis menjadi sangat penting. Belajar konsep

merupakan hal yang paling mendasar dalam proses belajar matematika, oleh

karena itu seorang guru dalam mengajarkan sebuah konsep harus beracuan pada

sebuah tujuan yang harus dicapai. Konsep matematika yang sangat kompleks

cukup sulit bahkan tidak bisa dipahami jika pemahaman konsep yang lebih

sederhana belum memadai. Akan sangat sulit bagi siswa untuk menuju ke proses

pembelajaran yang lebih tinggi jika belum memahami konsep. Oleh karena itu,

kemampuan pemahaman konsep matematis adalah salah satu tujuan penting

dalam pembelajaran matematika.

Kemampuan pemahaman matematik adalah salah satu tujuan penting

dalam pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan

kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu dengan

pemahaman siswa dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri.

10
Pemahaman matematik juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang

disampaikan oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai

konsep yang diharapkan.

Pemahaman konsep merupakan dasar utama dalam pembelajaran

matematika. Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 tanggal 11

November 2004 tentang Penilaian Perkembangan Anak Didik Sekolah menengah

Pertama (SMP), Depdiknas dalam Shadiq (2009: 13) menyatakan bahwa aspek

penilaian matematika dalam rapor dikelompokkan menjadi tiga aspek, yaitu:

a. Pemahaman konsep

b. Penalaran dan komunikasi

c. Pemecahan masalah

Dijelaskan pula bahwa pemahaman konsep dalam pembelajaran

matematika merupakan kompetensi yang ditunjukkan siswa dalam memahami

konsep dan dalam melakukan prosedur (algoritma) secara luwes, akurat, efisien,

dan tepat (Shadiq, 2009: 13)

Hiebert dan Carpenter dalam Vera (2014: 96) mengemukakan sejumlah

konsekuensi positif terhadap pengetahuan yang diperoleh dalam belajar

matematika dengan pemahaman, yaitu sebagai berikut:

a. Bersifat generatif, merupakan pengetahuan yang terbentuk dari hasil belajar

dengan pengertian, sewaktu-waktu dapat dimunculkan kembali (distimulasi).

Penstimulasian terjadi karena diterimanya informasi baru yang bergabung

dengan pengetahuan lama. Memahami tentang informasi baru yang diperoleh

dari hasil belajar melahirkan pengetahuan baru. Proses seperti ini akan

11
berlansung secara terus menerus apabila setiap informasi baru dari hasil

belajar selalu dipahami atau dengan kata lain selalu belajar dengan

pemahaman.

b. Bermakna, merupakan penyesuaian antara tugas-tugas belajar dengan

kemampuan berpikir siswa dapat menunjang pencapaian pemahaman yang

akan dibangun oleh siswa dalam belajar matematika.

c. Memperkuat ingatan dan mengurangi jumlah informasi yang harus dihapal.

Pengetahuan dari hasil belajar dengan pemahaman selalu dapat dimunculkan

kembali dengan baik karena pengetahuan dalam struktur kognitif tersebut

diperoleh secara bermakna. Jika suatu pengetahuan diperoleh dengan

pemahaman maka akan semakin tertanam pengetahuan tersebut dalam

struktur kognitif. hal ini menunjukkan semakin sedikitnya informasiinformasi

dalam pengetahuan yang harus dihapal. Di samping itu kebermaknaan

pemahaman yang dicapai dalam belajar memungkinkan informasi-informasi

yang telah dipelajari mudah dimunculkan kembali setiap kali diperlukan.

d. Memudahkan transfer belajar. Terjadinya transfer dalam belajar dengan

pengertian atau pemahaman karena adanya persamaan-persamaan konteks

antara pengetahuan baru yang akan dipelajari dengan pengetahuan lama yang

dengan cepat dapat dimunculkan kembali.

e. Mempengaruhi kepercayaan. Siswa yang belajar dengan pemahaman selalu

akan memunculkan pengetahuan-pengetahuan yang saling berhubungan

secara sistematis dalam struktur kognitif. Pengetahuan-pengetahuan lama

12
yang terbentuk dalam struktur kognitif diperlukan untuk memahami informasi

yang baru diterima dari hasil belajar.

Pembelajaran matematika harus ditekankan ke arah pemahaman konsep.

Suatu konsep yang dikuasai siswa semakin baik apabila disertai dengan

pengaplikasian. Siswa dikatakan telah memahami konsep apabila ia telah mampu

mengabstraksikan sifat yang sama, yang merupakan ciri khas dari konsep yang

dipelajari, dan telah mampu membuat generalisasi terhadap konsep tersebut.

Dalam setting pembelajaran, siswa dianggap dapat mengkonstruksi makna mereka

sendiri berdasarkan pengetahuan mereka sebelumnya, aktivitas kognitif dan

metakognitif mereka, dan kesempatan serta hambatan yang mereka temui dalam

setting pembelajaran tersebut, termasuk informasi yang tersedia bagi mereka.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa kemampuan

pemahaman konsep matematika menginginkan siswa mampu memanfaatkan atau

mengaplikasikan apa yang telah dipahaminya ke dalam kegiatan belajar. Jika

siswa telah memiliki pemahaman yang baik, maka siswa tersebut siap memberi

jawaban yang pasti atas pernyataan-pernyataan atau masalah-masalah dalam

belajar.

4. Indikator Pemahaman Konsep Matematika

Kemampuan pemahaman konsep dapat dicapai dengan memperhatikan

indikator-indikator, Menurut Depdiknas tahun 2004 dalam Adiati (2017: 14),

indikator yang menunjukkan pemahaman konsep antara lain:

a. Menyatakan ulang sebuah konsep.

13
b. Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan

konsepnya).

c. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis.

d. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.

e. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.

Secara umum indikator pemahaman matematika meliputi mengenal,

memahami dan menerapkan konsep, prosedur, prinsip dan ide matematika. Polya

dalam Adiati (2017: 14) merinci kemampuan pemahaman matematika pada empat

tahap, yaitu:

a. Pemahaman mekanikal yang dicirikan oleh mengingat dan menerapkan

rumus secara rutin dan menghitung secara sederhana. Kemampuan ini

tergolong pada kemampuan berfikir matematik tingkat rendah.

b. Pemahaman induktif: menerapkan rumus atau konsep dalam kasus sederhana

atau dalam kasus serupa. Kemampuan ini tergolong pada kemampuan berfikir

matematik tingkat rendah namun lebih tinggi dari pada pemahaman

mekanikal.

c. Pemahaman rasional: membuktikan kebenaran suatu rumus dan teorema.

Kemampuan ini tergolong kemampuan berfikir matematik tingkat tinggi.

d. Pemahaman intuitif: memperkirakan kebenaran suatu rumus dengan pasti

(tanpa ragu-ragu) sebelum menganalisis lebih lanjut. Kemampuan

initergolong pada kemampuan berfikir matematika tingkat tinggi.

Berbeda dengan Polya, Pollatsek dalam Adiati (2017: 15) menggolongkan

pemahaman matematika dalam dua jenis, yaitu:

14
a. Pemahaman komputasional: menerapkan rumus dalam perhitungan

sederhana, dan mengerjakan perhitungan secara algoritmik, kemampuan ini

tergolong pada kemampuan berfikir matematik tingkat rendah.

b. Pemahaman fungsional: mengkaitkan suatu konsep/prinsip dengan

konsep/prinsip lainnya dan menyadari proses yang dikerjakannya.

Kemampuan ini tergolong pada kemampuan tingkat tinggi.

Lebih lanjut menurut Skemp dalam Adiati (2017: 14) pemahaman

matematika digolongkan ke dalam dua tahap, yaitu:

a. Pemahaman instrumental: hafal konsep/prinsip tanpa kaitan dengan yang

lainnya, dapat menerapkan rumus dalam perhitungan sederhana, dan

mengerjakan perhitungan secara algoritmik. Kemampuan ini tergolong

kemampuan berfikir matematik tingkat rendah.

b. Pemahaman relasional: mengkaitkan satu konsep/prinsip dengan

konsep/prinsip lainnya. Kemampuan ini tergolong pada kemampuan tingkat

tinggi.

Menurut Skemp dalam Adiati (2017: 14) yang disebut dengan pemahaman

relasional memahami dua hal secara bersama-sama, yaitu apa dan mengapa,

sedangkan pemahaman instrumental hanya terbatas pada apa. Siswa yang

memiliki pemahaman relasional memiliki pondasi atau dasar yang lebih kokoh

dalam pemahamannya tersebut. jika siswa lupa dengan rumusnya, maka ia masih

punya peluang menyelesaikan soal dengan cara coba-coba. Sebagai tambahan

siswa dapat mengecek kebenaran hasil yang ia dapatkan dengan membalikkan

rumus. Contoh, untuk soal integral dapat dicek hasilnya benar atau salah dengan

15
mendifferensialkan hasilnya. Bagi siswa yang hanya memiliki pemahaman

instrumental, ia hanya bisa menghafalkan rumus dan tidak faham dengan konsep:

integral adalah anti differensial. Ketika ia lupa dengan rumus, maka ia tidak punya

peluang untuk mencoba-coba. Jelaslah bahwa siswa yang memiliki pemahaman

relasional akan memiliki keuntungan bagi dirinya.

Selanjutnya, Copeland dalam Sumarmo (2010: 5) menggolongkan

pemahaman matematika ke dalam dua jenis yaitu:

a. Knowing how to: mengerjakan suatu perhitungan secara rutin/algoritmik.

Kemampuan ini tergolong kemampuan tingkat rendah.

b. Knowing: mengerjakan suatu perhitungan secara sadar. Kemampuan ini

tergolong pada kemampuan berfikir matematik tingkat tinggi.

Menurut Bloom dalam Adiati (2017: 16) pemahaman matematika dibagi

menjadi tiga indikator, yaitu:

a. Mengubah (translation), yaitu kemampuan dalam merubah suatu

objek/kalimat dalam bentuk simbol dan sebaliknya. Mengubah dari konsepsi

abstrak menjadi suatu model, yaitu model simbolik untuk mempermudah

orang mempelajarinya.

b. Memberi arti (interpretation), yaitu kemampuan dalam memahami suatu

objek/simbol yang telah diubah dalam bentuk lain. Kemampuan ini lebih luas

daripada translation karena untuk mengenal dan memahami ide utama suatu

komunikasi.

c. Menafsirkan (ekstrapolation), yaitu kemampuan dalam menyimpulkan dari

sesuatu yang telah diketahui. Pemahaman tingkat ekstrapolation berarti

16
seseorang mampu melihat dibalik yang tertulis, dapat membuat estimasi,

prediksi berdasarkan pada pengertian dan kondisi yang diterangkan dalam

ide-ide atau symbol, serta membuat kesimpulan yang dihubungkan dengan

implikasi dan konsekuensinya.

5. Definisi Penalaran Matematis

Penalaran dalam matematika sulit dipisahkan dari kaidah-kaidah logika.

Penalaran-penalaran yang demikian dalam matematika dikenal dengan istilah

penalaran deduktif. Hal ini menurut Sumarmo dalam Bani (2011: 13) memberikan

indikator kemampuan yang termasuk pada kemampuan penalaran matematik,

yakitu; (1) membuat analogi dan generalisasi, (2) memberikan penjelasan dengan

menggunakan model, (3) menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis

situasi matematika, (4) menyusun dan menguji konjektur, (5) memeriksa validitas

argument, (6) menyususn pembuktian langsung, (7) menyusun pembuktian tidak

langsung, (8) memberikan contoh penyangkalan, dan (9) mengikuti aturan

inferensi.

Pada aspek penalaran, bahwa materi matematika dan penalaran

matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Materi matematika

dipahami melalui penalaran, dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui

belajar materi matematika. Siswa dapat berfikir dan menalar suatu persoalan

matematika apabila telah dapat memahami persoalan matematika tersebut. Suatu

cara pandang siswa tentang persoalan matematika ikut mempengaruhi pola fikir

tentang penyelesaian yang akan dilakukan.

17
Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan

gagasan dan pernyataan matematika meruapan hal yang sangat penting untuk

dapat meningkatkan kemampuan penalaran siswa tentang suatu materi

matematika. Dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematik

siswa, ada dua hal yang sangat berkaitan dengan penalaran yaitu secara induktif

dan deduktif, sehingga dikenal istilah penalaran induktif dan penalaran deduktif.

Penalaran induktif adalah proses berpikir yang berusaha menghubungkan fakta-

fakta atau kejadian-kejadian khusus yang sudah diketahui menuju kepada suatu

kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran deduktif merupakan proses berpikir

untuk menarik kesimpulan tentang hal khusus yang berpijak pada hal umum atau

hal yang sebelumnya telah dibuktikan (diasumsikan) kebenarannya. (Bani, 2011:

13).

Matematika merupakan suatu ilmu yang menggunakan cara bernalar

deduktif formal dan abstrak. Abstrak artinya objek-objek matematika hanya ada

dalam pemikiran manusia yang merupakan salah satu hasil karya otak manusia.

Objek matematika bersifat abstrak berarti bahwa objek-objek matematika adalah

benda-benda pikiran (Suyitno dalam Ratnasari, 2016: 30). Objek matematika tidak

hanya berupa bilangan-bilangan dan operasi hitungnya, tetapi juga tentang

hubungan, pola, struktur, dan bentuk.

Brodie (2010: 7) menyatakan bahwa “Mathematical reasoning is

reasoning about and with the objects of mathematics”. Berdasarkan pernyataan

tersebut, penalaran matematis adalah penalaran mengenai objek-objek

18
matematika. Pada dasarnya penalaran matematis diperlukan dalam setiap

penyelesaian soal matematika. Penalaran matematis berkaitan dengan proses

berpikir mengenai permasalahan-permasalahan matematika untuk memperoleh

penyelesaian. Penalaran matematis juga mensyaratkan kemampuan untuk memilih

apa yang penting dan diperlukan dalam menyelesaikan. Selain itu, penalaran

matematis juga diperlukan dalam menjelaskan atau memberikan alasan dari

sebuah penyelesaian.

Penalaran matematis merupakan tahapan berpikir matematika tingkat

tinggi yang menggunakan proses berpikir secara logis dan sistematis. Secara garis

besar, penalaran digolongkan dalam dua jenis, yaitu penalaran induktif dan

penalaran deduktif. Penjelasan tentang kedua jenis penalaran tersebut adalah

sebagai berikut:

a. Penalaran Induktif

Penalaran induktif merupakan cara bernalar untuk membuat kesimpulan

atau pernyataan baru yang bersifat umum (general) berdasarkan pada beberapa

pernyataan khusus yang telah diketahui benar. Sedangkan menurut Sumarmo

dalam Ratnasari (2016: 31) penalaran induktif diartikan sebagai penarikan

kesimpulan yang bersifat umum atau khusus berdasarkan data yang teramati, yang

nilai kebenarannya dapat bersifat benar atau salah. Kegiatan yang tergolong pada

penalaran indutif meliputi:

1) Transduktif: menarik kesimpulan dari satu kasus atau sifat khusus yang satu

diterapkan pada kasus khusus lainnya.

2) Analogi: penarikan kesimpulan berdasarkan keserupaan data atau proses.

19
3) Generalisasi: penarikan kesimpulan umum berdasarkan sejumlah data yang

teramati.

4) Memperkirakan jawaban, solusi atau kecenderungan: interpolasi dan

ekstrapolasi.

5) Memberi penjelasan terhadap modal, fakta, sifat, hubungan, atau pola.

6) Menggunakan pola hubungan untuk menganalisis situasi, dan menyusun

konjektur.

b. Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif merupakan cara bernalar yang menerapkan hal-hal

umum terlebih dahulu yang selanjutnya dihubungkan ke dalam bagian-bagian

yang lebih khusus. Penarikan kesimpulan diturunkan secara mutlak dari

premispremis. Menurut Sumarmo dalam Ratnasari (2016: 32) penalaran deduktif

diartikan sebagai penarikan kesimpulan berdasarkan aturan yang disepakati, yang

nilai kebenarannya bersifat mutlak benar atau salah dan tidak keduanya

bersamasama.

Kegiatan yang tergolong pada penalaran deduktif meliputi:

1) Melakukan perhitungan berdasarkan aturan atau rumus tertentu.

2) Menarik kesimpulan logis berdasarkan aturan inferensi, memeriksa validitas

argumen, membuktikan, dan menyusun argument yang valid.

3) Menyusun pembuktian langsung, pembuktian tak langsung, dan pembuktian

dengan induksi matematika.

Menurut Lithner dalam Ratnasari (2016: 32), penalaran matematis adalah

proses berpikir yang dilakukan untuk mengolah pernyataan dan menghasilkan

20
kesimpulan dalam menyelesaikan soal matematika. Lithner mengemukakan

pendapat lain bahwa penalaran sebagai jalan berpikir dalam mengerjakan soal,

sehingga penalaran tidak harus didasarkan pada deduktif formal atau aturan yang

menandakan prosedur singkat dalam menemukan fakta-fakta dan bukti-bukti yang

biasa digunakan untuk memecahkan masalah.

6. Indikator Penalaran Matematis

Siswa dikatakan mampu menggunakan penalaran matematis apabila

mereka telah menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

dalam membuat generalisai, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan

pernyataan matematika. Indikator kemampuan penalaran matematis yang

dijelaskan oleh Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 dalam Ratnasari,

(2016: 33) adalah:

a. Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar, dan

diagram.

b. Mengajukan dugaan (conjeectures).

c. Melakukan manipulasi matematika.

d. Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti

terhadap beberapa solusi.

e. Menarik kesimpulan dari pernyataan.

f. Memeriksa kesahihan suatu argumen.

g. Menemukan pola atau sifat gejala matematis untuk membuat generalisasi.

Sedangkan menurut Sumarmo dalam Adiati (2017: 17), indikator

penalaran matematis pada pembelajaran matematika antara lain siswa dapat:

21
a. Menarik kesimpulan logis.

b. Memberikan penjelasan dengan model, fakta, sifat-sifat dan hubungan.

c. Memperkirakan jawaban dan proses solusi.

d. Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematik.

e. Menyusun dan menguji konjektur.

f. Merumuskan lawan contoh (counter examples).

g. Mengikuti aturan interfensi, memeriksa validitas argument.

h. Menyusun argumen yang valid.

i. Menyusun pembuktian langsung, tak langsung, dan menggunakan induksi

matematika.

B. Kajian Penelitian Yang Relevan

1. Isma Hasanah (2010), dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Metode

Pembelajaran SQ3R terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematik

Siswa”. Metode penelitian quasi eksperimen dengan menggunakan metode

SQ3R pemahaman konsep kelas tersebut rataratanya lebih tinggi

dibandingkan dengan kelas kontrol yang diajarkan menggunakan

pembelajaran konvensional, rata-rata kelas eksperimen 70,83 dan rata-rata

dari kelas control adalah 63,80. Pada penelitian Isma Hasanah memiliki

kesamaan dengan penelitian skripsi ini yaitu menggunakan indikator menurut

Bloom, translasi, interpretasi dan ekstrapolasi.

2. Eva Putri Karunia (2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis

Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII Berdasarkan Gaya Belajar

22
dalam Model Knisley” menyimpulkan bahwa keterlaksanaan dengan

pembelajaran matematika Knisley tergolong sangat baik dan pemahaman

konsep matematika siswa dapat mencapai ketuntasan. Penelitian ini

menggunakan penelitian kombinasi yaitu menggunakan penelitian kuantitatif

dan penelitian kualitatif juga.teknik pengumpulan data yang digunakan

merupakan hasil Ulangan Akhir Semester Genap (UAS) dan wawancara,

pemahaman konsep yang dianalisis pada penelitian tersebut menggunakan

indikator pemahaman konsep menurut Pollatsek (1981) yaitu pemahaman

komputasional dan pemahaman fungsional .

23
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, karena

dalam penelitian ini lebih memfokuskan pada gambaran tentang kemampuan

pemahaman dan penalaran konsep matematis siswa serta data yang

dikumpulkan dan dipaparkan dalam bentuk rangkaian kalimat.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 1 Siompu Barat tahun

pelajaran 2018/2019. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-A di SMP

Negeri 1 Siompu Barat.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan tes soal dan sebuah

angket. Tes yang dipergunakan berupa tes uraian yang berjumlah 7 soal, bertujuan

untuk mendapatkan data kemampuan pemahaman dan penalaran konsep

matematis. Tes dibuat berdasarkan indikator pemahaman dan penalaran konsep

matematika merujuk pada Peraturan Dirjen Dikdasmen Nomor

506/C/Kep/PP/2004 yakni: (1) menyatakan ulang sebuah konsep, (2)

mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan

konsepnya), (3) memberikan contoh dan non contoh dari konsep, (4) menyajikan

24
konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, (5) mengembangkan syarat

perlu atau syarat cukup suatu konsep, (6) menggunakan, memanfaatkan, dan

memilih prosedur atau operasi tertentu, dan (7) mengaplikasikan konsep atau

algoritma pemecahan masalah.

D. Teknik Analisis Data

Data hasil penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui

tingkat kemampuan pemahaman dan penalaran konsep matematis siswa kelas VII

di SMP Negeri 1 Siompu Barat. Teknik analisis data yang digunakan meliputi

reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada

penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari

catatan-catatan lapangan (Miles dan Huberman, 1992: 16). Langkah-langkah yang

dilakukan adalah menajamkan analisis, menggolongkan atau pengkategorisasian

ke dalam tiap permasalahan melalui uraian singkat, mengarahkan, membuang

yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sehingga dapat ditarik dan

diverifikasi. Data yang di reduksi antara lain seluruh data mengenai permasalahan

penelitian.

Data yang di reduksi akan memberikan gambaran yang lebih spesifik dan

mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya serta mencari

data tambahan jika diperlukan. Semakin lama peneliti berada di lapangan maka

25
jumlah data akan semakin banyak, semakin kompleks dan rumit. Oleh karena itu,

reduksi data perlu dilakukan sehingga data tidak bertumpuk agar tidak

mempersulit analisis selanjutnya.

2. Penyajian Data

Setelah data di reduksi, langkah analisis selanjutnya adalah penyajian data.

Penyajian data merupakan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang

memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan

tindakan. (Miles dan Huberman, 1992: 17).

Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisaikan, tersusun

dalam pola hubungan sehingga makin mudah dipahami. Penyajian data dapat

dilakukan dalam bentuk uraian naratif, bagan, hubungan antar kategori serta

diagram alur. Penyajian data dalam bentuk tersebut mempermudah peneliti dalam

memahami apa yan terjadi. Pada langkah ini, peneliti berusaha menyusun data

yang relevan sehingga informasi yang didapat disimpulkan dan memiliki makna

tertentu untuk menjawab masalah penelitian.

Penyajian data yang baik merupakan satu langkah penting menuju

tercapainya analisis kualitatif yang valid dan handal. Dalam melakukan penyajian

data tidak semata-mata mendeskripsikan secara naratif, akan tetapi disertai proses

analisis yang terus menerus sampai proses penarikan kesimpulan. Langkah

berikutnya dalam proses analisis data kualitatif adalah menarik kesimpulan

berdasarkan temuan dan melakukan verifikasi data.

3. Penarikan kesimpulan

26
Tahap ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari semua data yang

telah diperoleh sebagai hasil dari penelitian. Penarikan kesimpulan atau verifikasi

adalah usaha untuk mencari atau memahami makna/arti, keteraturan, pola-pola,

penjelasan, alur sebab akibat atau proposisi. Sebelum melakukan penarikan

kesimpulan terlebih dahulu dilakukan reduksi data, penyajian data serta penarikan

kesimpulan atau verifikasi dari kegiatan-kegiatan sebelumnya. Sesuai dengan

pendapat Miles dan Huberman (1992: 17), proses analisis tidak sekali jadi

melainkan interaktif, secara bolak-balik diantara kegiatan reduksi, penyajian dan

penarikan kesimpulan atau verifikasi selama waktu penelitian. Setelah melakukan

verifikasi maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yang

disajikan dalam bentuk narasi. Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dari

kegiatan analisis data. Penarikan kesimpulan ini merupakan tahap akhir dari

pengolahan data.

E. Jadwal Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan selama 4 bulan terhitung

sejak konsultasi proposal hingga ujian skripsi. Adapun jadwal penelitian akan

diuraikan seperti bentuk tabel di bawah ini:

Bulan (2019)

Januari Februari Maret April


No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Penyusunan proposal

2 Kosultasi proposal

27
3 Seminar proposal a

4 Pengumpulan data

5 Pengolahan data

6 Penulisan laporan

7 Ujian skripsi

28
DAFTAR PUSTAKA

Adiati, Afni. 2017. Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa


Smp Islam Asy-Syuhada. (Skripsi). Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Anderson, Lorin W. dan David R. Krathwohl. 2010. (eds) Kerangka Landasan


Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen: Revisi Taksonomi
Pendidikan Bloom, Terj. Agung Prihantoro, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bani, Asmar. 2011. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Penalaran


Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Pembelajaran
Penemuan Terbimbing, SPS UPI, Bandung. ISSN 1412-565X. Edisi
Khusus No. 1, Agustus 2011.

Brodie, K. 2010. Teaching Mathematical Reasoning in Secondary School


Classrooms. New York: Springer. (http://link.springer.com/book/
10.1007%2F978-0-387-09742-8) [diakses 10-12-2018].

Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi Offset.


Yogyakarta.

Ibrahim, R, 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Miles, Matthew dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku
Sumber Tantang Metode-Metode Baru. Jakarta: UI Press.

Permana, Yanto dan Sumarmo, Utari. 2007. Mengembangkan Kemampuan


Penalaran dan Koneksi Matematik Siswa SMA Melalui Pembelajaran
Berbasis Masalah. ISSN : 1907 – 8838. Vol. I No. 2/Juli 2007. Balai
Penataran Guru Tertulis dan Universitas Pendidikan Indonesia.

Purnomo, Yoppy Wahyu. 2014. Assessment-Based Learning: Sebuah Tinjauan


untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Pemahaman Matematis.
ISSN: 1411-5166 No. 01, Volume VI, Juni 2014. ResearchGate. Sigma
Journal.

Ratnasari, Septi. 2016. Analisis Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Kelas


Vii Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa Pada Setting Pembelajaran
Probing Prompting. (Skripsi). Semarang: FMIPA UNS.

Shadiq, Fadjar. 2009. Kemahiran Matematika. Yogyakarta: Depdiknas PPPPTK.

29
Sumarmo, Utari. 2010. Berfikir dan Disposisi Matematik: Apa, Mengapa, dan
Bagaimana Dikembangkan Pada Peserta Didik. (Makalah Matematika)
Bandung: FPMIPA UPI.

Vera Dewi Kartini Ompusunggu, 2014. Peningkatan Kemampuan Pemahaman


Matematika dan Sikap Positif terhadap Matematika Siswa SMP 2
Medan, Jurnal Saintech vol.06 – No.04 Desember, 2014.

Winkel, 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

30