Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan kebutuhan yang penting bagi setiap manusia untuk

mempersiapkan kehidupan yang baik sebagai pribadi maupun sebagai warga

masyarakat. Selain itu pendidikan mempunyai peran yang sangat menentukan

bagi perkembangan dan perwujudan dari individu serta pembangunan kualitas

sumber daya manusia suatu bangsa. Bangsa yang ingin maju tentu menyadari

bahwa pendidikan merupakan salah satu hal penting yang diperlukan untuk

membangun dan memperbaiki keadaan masyarakat, sehingga tanpa pendidikan

usaha yang dilakukan akan mengalami hambatan.

Perkembangan teknologi dan informasi yang cepat berubah saat ini

membutuhkan manusia yang siap dan tanggap. Salah satu cara untuk

menghasilkan manusia yang dimaksud adalah melalui pendidikan. Manusia

sebagai objek pendidikan diharapkan dapat mengikuti setiap perubahan dengan

kehidupan yang berkualitas. Matematika adalah salah satu ilmu yang berperan

penting dalam penguasaan teknologi. Oleh karena itu, pembelajaran matematika

dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan, dengan harapan pendidikan

matematika dapat meningkatkan kualitas kemampuan siswa serta sikap siswa

yang sejalan dengan tuntutan perkembangan zaman.

Di dalam Permendikbud Nomor 58 Tahun 2014 menyebutkan bahwa

matematika merupakan ilmu universal yang berguna bagi kehidupan manusia dan

1
juga mendasari perkembangan teknologi modern, serta mempunyai peran penting

dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk

menguasai dan mencipta teknologi di masa depan, diperlukan penguasaan dan

pemahaman atas matematika yang kuat sejak dini.

Salah satu tujuan mata pelajaran matematika adalah agar peserta didik

dapat memahami konsep matematika. Konsep adalah satuan arti yang mewakili

sejumlah obyek yang memiliki ciri-ciri yang sama (Winkel, 1996). Pemahaman

konsep matematis adalah kompetensi yang ditunjukkan peserta didik dalam

memahami konsep dan dapat menyatakan kembali konsep yang sudah ada secara

luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah. Peserta didik

dikatakan memahami konsep jika memiliki kemampuan dalam menyatakan ulang

sebuah konsep; kemampuan mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat

tertentu sesuai dengan konsepnya; kemampuan memberi contoh dan bukan contoh

dari suatu konsep; kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk

representasi matematis; kemampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat

cukup suatu konsep; kemampuan menggunakan, memanfaatkan, dan memilih

prosedur atau operasi tertentu; kemampuan mengaplikasikan konsep atau

algoritma pada pemecahan masalah.

Pada Kurikulum 2013, tujuan pembelajaran matematika terlihat pada

kompetensi inti dan kompetensi dasar tiap satuan pendidikan. Terlihat bahwa

kemampuan pemahaman matematis perlu dimiliki siswa, karena ketika siswa

memahami konsep-konsep matematika, maka siswa tersebut mulai merintis

kemampuan-kemampuan berpikir matematis yang lainnya.

2
Dalam proses pembelajaran di kelas, selain kemampuan pemahaman

matematis, guru juga harus memperhatikan psikologis siswa dalam proses

pembelajaran. Jika siswa memiliki sikap atau psikologi yang baik, maka siswa

akan mudah untuk menerima pelajaran dan mereka juga dapat mengaplikasikan

ide-ide yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalah yang mereka alami

selama pembelajaran berlangsung maupun permasalahan yang diberikan oleh

guru.

Berdasarkan paparan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul ”Analisis Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Pada

Kelas VII SMP Negeri 1 Siompu Barat” dan diharapkan bermanfaat bagi para

guru untuk memberikan pengetahuan dan pertimbangan dalam proses

pembelajaran di kelas.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah, bagaimanakah kemampuan penalaran matematis siswa kelas

VII SMP Negeri 1 Siompu Barat?.

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan

penalaran matematis siswa kelas VII SMP Negeri 1 Siompu Barat.

3
D. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat diambil manfaatnya, antara

lain:

1. Bagi siswa, dapat menjadi acuan meningkatkan kemampuan penalaran

matematis.

2. Bagi guru, dapat menjadi masukan untuk meningkatkan kualitas penalaran

konsep matematis siswa.

4
BAB II

LANDASAN TEORI, KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN

A. Landasan Teori

1. Definisi Kemampuan Matematis

Dalam proses mengajar, hal terpenting adalah pencapaian pada tujuan

yaitu agar siswa mampu memahami sesuatu berdasarkan pengalaman belajarnya.

Kemampuan pemahaman ini merupakan hal yang sangat fundamental, karena

dengan pemahaman akan dapat mencapai pengetahuan prosedur.

Ruspiani dalam Permana & Sumarmo (2007: 117), pada hakekatnya,

Matematika sebagai ilmu yang terstruktur dan sistimatik mengandung arti bahwa

konsep dan prinsip dalam Matematika adalah saling berkaitan antara satu dengan

lainnya. Sebagai implikasinya, maka dalam belajar matematika untuk mencapai

pemahaman yang bermakna siswa harus memiliki kemampuan koneksi matematis

yang memadai. Kemampuan koneksi matematis adalah kemampuan mengaitkan

konsep konsep matematika baik antar konsep dalam matematika itu sendiri

maupun mengaitkan konsep matematika dengan konsep dalam bidang lainnya

Sumarmo dalam Bani (2011: 12), ada dua visi pembelajaran matematika,

yaitu; (1) mengarahkan pembelajaran matematika untuk pemahaman konsep-

konep yang kemudian diperlukan untuk menyelesaikan masalah dan ilmu

pengetahuan lainnya, dan (2) mengarahkan kemasa depan yang lebih luas yaitu

matematika memberikan kemampuan pemecahan masalah, sistimatik, kritis,

5
cermat, bersifat objektif dan terbuka. Kemampuan tersebut sangat diperlukan

dalam menghadapi masa depan yang selalu berubah.

Lebih lanjut, Sumarmo dalam Bani (2011: 14), menyatakan bahwa indikator

dari kemampuan pembelajaran matematika meliputi; (1) mengenal, (2) memahami,

dan (3) menerapkan konsep, prosedur, prinsip, dan ide matematika. Hal ini juga

menurut Santrock dalam Bani (2011: 14), Pemahaman konsep adalah aspek kunci

dari pembelajaran. Salah satu tujuan pengajaran yang penting adalah membantu

murid memahami konsep utama dalam suatu subjek, bukan hanya mengingat fakta-

fakta yang terpisah-pisah. Pemahaman konsep akan berkembang apabila guru dapat

mengeksplorasi topik secara mendalam dan memberi mereka contoh yang tepat dan

menarik dari suatu konsep.

Kemampuan pemahaman matematik adalah salah satu tujuan penting dalam

pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan kepada

siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu dengan pemahaman siswa

dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematik

juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru,

sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan.

Bani (2011: 13).

2. Definisi Penalaran Matematis

Penalaran dalam matematika sulit dipisahkan dari kaidah-kaidah logika.

Penalaran-penalaran yang demikian dalam matematika dikenal dengan istilah

penalaran deduktif. Hal ini menurut Sumarmo dalam Bani (2011: 13) memberikan

indikator kemampuan yang termasuk pada kemampuan penalaran matematik,

yakitu; (1) membuat analogi dan generalisasi, (2) memberikan penjelasan dengan

6
menggunakan model, (3) menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis

situasi matematika, (4) menyusun dan menguji konjektur, (5) memeriksa validitas

argument, (6) menyususn pembuktian langsung, (7) menyusun pembuktian tidak

langsung, (8) memberikan contoh penyangkalan, dan (9) mengikuti aturan

inferensi.

Pada aspek penalaran, bahwa materi matematika dan penalaran

matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Materi matematika

dipahami melalui penalaran, dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui

belajar materi matematika. Siswa dapat berfikir dan menalar suatu persoalan

matematika apabila telah dapat memahami persoalan matematika tersebut. Suatu

cara pandang siswa tentang persoalan matematika ikut mempengaruhi pola fikir

tentang penyelesaian yang akan dilakukan.

Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan

gagasan dan pernyataan matematika meruapan hal yang sangat penting untuk

dapat meningkatkan kemampuan penalaran siswa tentang suatu materi

matematika. Dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematik

siswa, ada dua hal yang sangat berkaitan dengan penalaran yaitu secara induktif

dan deduktif, sehingga dikenal istilah penalaran induktif dan penalaran deduktif.

Penalaran induktif adalah proses berpikir yang berusaha menghubungkan fakta-

fakta atau kejadian-kejadian khusus yang sudah diketahui menuju kepada suatu

kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran deduktif merupakan proses berpikir

untuk menarik kesimpulan tentang hal khusus yang berpijak pada hal umum atau

7
hal yang sebelumnya telah dibuktikan (diasumsikan) kebenarannya. (Bani, 2011:

13).

Matematika merupakan suatu ilmu yang menggunakan cara bernalar

deduktif formal dan abstrak. Abstrak artinya objek-objek matematika hanya ada

dalam pemikiran manusia yang merupakan salah satu hasil karya otak manusia.

Objek matematika bersifat abstrak berarti bahwa objek-objek matematika adalah

benda-benda pikiran (Suyitno dalam Ratnasari, 2016: 30). Objek matematika tidak

hanya berupa bilangan-bilangan dan operasi hitungnya, tetapi juga tentang

hubungan, pola, struktur, dan bentuk.

Brodie (2010: 7) menyatakan bahwa “Mathematical reasoning is

reasoning about and with the objects of mathematics”. Berdasarkan pernyataan

tersebut, penalaran matematis adalah penalaran mengenai objek-objek

matematika. Pada dasarnya penalaran matematis diperlukan dalam setiap

penyelesaian soal matematika. Penalaran matematis berkaitan dengan proses

berpikir mengenai permasalahan-permasalahan matematika untuk memperoleh

penyelesaian. Penalaran matematis juga mensyaratkan kemampuan untuk memilih

apa yang penting dan diperlukan dalam menyelesaikan. Selain itu, penalaran

matematis juga diperlukan dalam menjelaskan atau memberikan alasan dari

sebuah penyelesaian.

Penalaran matematis merupakan tahapan berpikir matematika tingkat

tinggi yang menggunakan proses berpikir secara logis dan sistematis. Secara garis

besar, penalaran digolongkan dalam dua jenis, yaitu penalaran induktif dan

8
penalaran deduktif. Penjelasan tentang kedua jenis penalaran tersebut adalah

sebagai berikut:

a. Penalaran Induktif

Penalaran induktif merupakan cara bernalar untuk membuat kesimpulan

atau pernyataan baru yang bersifat umum (general) berdasarkan pada beberapa

pernyataan khusus yang telah diketahui benar. Sedangkan menurut Sumarmo

dalam Ratnasari (2016: 31) penalaran induktif diartikan sebagai penarikan

kesimpulan yang bersifat umum atau khusus berdasarkan data yang teramati, yang

nilai kebenarannya dapat bersifat benar atau salah. Kegiatan yang tergolong pada

penalaran indutif meliputi:

1) Transduktif: menarik kesimpulan dari satu kasus atau sifat khusus yang satu

diterapkan pada kasus khusus lainnya.

2) Analogi: penarikan kesimpulan berdasarkan keserupaan data atau proses.

3) Generalisasi: penarikan kesimpulan umum berdasarkan sejumlah data yang

teramati.

4) Memperkirakan jawaban, solusi atau kecenderungan: interpolasi dan

ekstrapolasi.

5) Memberi penjelasan terhadap modal, fakta, sifat, hubungan, atau pola.

6) Menggunakan pola hubungan untuk menganalisis situasi, dan menyusun

konjektur.

b. Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif merupakan cara bernalar yang menerapkan hal-hal

umum terlebih dahulu yang selanjutnya dihubungkan ke dalam bagian-bagian

9
yang lebih khusus. Penarikan kesimpulan diturunkan secara mutlak dari

premispremis. Menurut Sumarmo dalam Ratnasari (2016: 32) penalaran deduktif

diartikan sebagai penarikan kesimpulan berdasarkan aturan yang disepakati, yang

nilai kebenarannya bersifat mutlak benar atau salah dan tidak keduanya

bersamasama.

Kegiatan yang tergolong pada penalaran deduktif meliputi:

1) Melakukan perhitungan berdasarkan aturan atau rumus tertentu.

2) Menarik kesimpulan logis berdasarkan aturan inferensi, memeriksa validitas

argumen, membuktikan, dan menyusun argument yang valid.

3) Menyusun pembuktian langsung, pembuktian tak langsung, dan pembuktian

dengan induksi matematika.

Menurut Lithner dalam Ratnasari (2016: 32), penalaran matematis adalah

proses berpikir yang dilakukan untuk mengolah pernyataan dan menghasilkan

kesimpulan dalam menyelesaikan soal matematika. Lithner mengemukakan

pendapat lain bahwa penalaran sebagai jalan berpikir dalam mengerjakan soal,

sehingga penalaran tidak harus didasarkan pada deduktif formal atau aturan yang

menandakan prosedur singkat dalam menemukan fakta-fakta dan bukti-bukti yang

biasa digunakan untuk memecahkan masalah.

3. Indikator Penalaran Matematis

Siswa dikatakan mampu menggunakan penalaran matematis apabila

mereka telah menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

dalam membuat generalisai, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan

pernyataan matematika. Indikator kemampuan penalaran matematis yang

10
dijelaskan oleh Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 dalam Ratnasari,

(2016: 33) adalah:

a. Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar, dan

diagram.

b. Mengajukan dugaan (conjeectures).

c. Melakukan manipulasi matematika.

d. Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti

terhadap beberapa solusi.

e. Menarik kesimpulan dari pernyataan.

f. Memeriksa kesahihan suatu argumen.

g. Menemukan pola atau sifat gejala matematis untuk membuat generalisasi.

Sedangkan menurut Sumarmo dalam Adiati (2017: 17), indikator

penalaran matematis pada pembelajaran matematika antara lain siswa dapat:

a. Menarik kesimpulan logis.

b. Memberikan penjelasan dengan model, fakta, sifat-sifat dan hubungan.

c. Memperkirakan jawaban dan proses solusi.

d. Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematik.

e. Menyusun dan menguji konjektur.

f. Merumuskan lawan contoh (counter examples).

g. Mengikuti aturan interfensi, memeriksa validitas argument.

h. Menyusun argumen yang valid.

i. Menyusun pembuktian langsung, tak langsung, dan menggunakan induksi

matematika.

11
B. Kajian Penelitian Yang Relevan

1. Isma Hasanah (2010), dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Metode

Pembelajaran SQ3R terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematik

Siswa”. Metode penelitian quasi eksperimen dengan menggunakan metode

SQ3R pemahaman konsep kelas tersebut rataratanya lebih tinggi

dibandingkan dengan kelas kontrol yang diajarkan menggunakan

pembelajaran konvensional, rata-rata kelas eksperimen 70,83 dan rata-rata

dari kelas control adalah 63,80. Pada penelitian Isma Hasanah memiliki

kesamaan dengan penelitian skripsi ini yaitu menggunakan indikator menurut

Bloom, translasi, interpretasi dan ekstrapolasi.

2. Eva Putri Karunia (2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis

Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII Berdasarkan Gaya Belajar

dalam Model Knisley” menyimpulkan bahwa keterlaksanaan dengan

pembelajaran matematika Knisley tergolong sangat baik dan pemahaman

konsep matematika siswa dapat mencapai ketuntasan. Penelitian ini

menggunakan penelitian kombinasi yaitu menggunakan penelitian kuantitatif

dan penelitian kualitatif juga.teknik pengumpulan data yang digunakan

merupakan hasil Ulangan Akhir Semester Genap (UAS) dan wawancara,

pemahaman konsep yang dianalisis pada penelitian tersebut menggunakan

indikator pemahaman konsep menurut Pollatsek (1981) yaitu pemahaman

komputasional dan pemahaman fungsional .

12
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, karena

dalam penelitian ini lebih memfokuskan pada gambaran tentang kemampuan

penalaran konsep matematis siswa serta data yang dikumpulkan dan

dipaparkan dalam bentuk rangkaian kalimat.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 1 Siompu Barat tahun

pelajaran 2018/2019. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-A di SMP

Negeri 1 Siompu Barat.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan tes soal dan sebuah

angket. Tes yang dipergunakan berupa tes uraian yang berjumlah 7 soal, bertujuan

untuk mendapatkan data kemampuan penalaran konsep matematis. Tes dibuat

berdasarkan indikator penalaran konsep matematika merujuk pada Peraturan

Dirjen Dikdasmen Nomor 506/C/Kep/PP/2004 yakni: (1) menyatakan ulang

sebuah konsep, (2) mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu

(sesuai dengan konsepnya), (3) memberikan contoh dan non contoh dari konsep,

(4) menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, (5)

13
mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep, (6) menggunakan,

memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu, dan (7)

mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.

D. Teknik Analisis Data

Data hasil penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui

tingkat kemampuan penalaran konsep matematis siswa kelas VII di SMP Negeri 1

Siompu Barat. Teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data,

penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada

penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari

catatan-catatan lapangan (Miles dan Huberman, 1992: 16). Langkah-langkah yang

dilakukan adalah menajamkan analisis, menggolongkan atau pengkategorisasian

ke dalam tiap permasalahan melalui uraian singkat, mengarahkan, membuang

yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sehingga dapat ditarik dan

diverifikasi. Data yang di reduksi antara lain seluruh data mengenai permasalahan

penelitian.

Data yang di reduksi akan memberikan gambaran yang lebih spesifik dan

mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya serta mencari

data tambahan jika diperlukan. Semakin lama peneliti berada di lapangan maka

jumlah data akan semakin banyak, semakin kompleks dan rumit. Oleh karena itu,

14
reduksi data perlu dilakukan sehingga data tidak bertumpuk agar tidak

mempersulit analisis selanjutnya.

2. Penyajian Data

Setelah data di reduksi, langkah analisis selanjutnya adalah penyajian data.

Penyajian data merupakan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang

memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan

tindakan. (Miles dan Huberman, 1992: 17).

Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisaikan, tersusun

dalam pola hubungan sehingga makin mudah dipahami. Penyajian data dapat

dilakukan dalam bentuk uraian naratif, bagan, hubungan antar kategori serta

diagram alur. Penyajian data dalam bentuk tersebut mempermudah peneliti dalam

memahami apa yan terjadi. Pada langkah ini, peneliti berusaha menyusun data

yang relevan sehingga informasi yang didapat disimpulkan dan memiliki makna

tertentu untuk menjawab masalah penelitian.

Penyajian data yang baik merupakan satu langkah penting menuju

tercapainya analisis kualitatif yang valid dan handal. Dalam melakukan penyajian

data tidak semata-mata mendeskripsikan secara naratif, akan tetapi disertai proses

analisis yang terus menerus sampai proses penarikan kesimpulan. Langkah

berikutnya dalam proses analisis data kualitatif adalah menarik kesimpulan

berdasarkan temuan dan melakukan verifikasi data.

3. Penarikan kesimpulan

Tahap ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari semua data yang

telah diperoleh sebagai hasil dari penelitian. Penarikan kesimpulan atau verifikasi

15
adalah usaha untuk mencari atau memahami makna/arti, keteraturan, pola-pola,

penjelasan, alur sebab akibat atau proposisi. Sebelum melakukan penarikan

kesimpulan terlebih dahulu dilakukan reduksi data, penyajian data serta penarikan

kesimpulan atau verifikasi dari kegiatan-kegiatan sebelumnya. Sesuai dengan

pendapat Miles dan Huberman (1992: 17), proses analisis tidak sekali jadi

melainkan interaktif, secara bolak-balik diantara kegiatan reduksi, penyajian dan

penarikan kesimpulan atau verifikasi selama waktu penelitian. Setelah melakukan

verifikasi maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yang

disajikan dalam bentuk narasi. Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dari

kegiatan analisis data. Penarikan kesimpulan ini merupakan tahap akhir dari

pengolahan data.

E. Jadwal Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan selama 4 bulan terhitung

sejak konsultasi proposal hingga ujian skripsi. Adapun jadwal penelitian akan

diuraikan seperti bentuk tabel di bawah ini:

Bulan (2019)

Januari Februari Maret April


No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Penyusunan proposal

2 Kosultasi proposal

3 Seminar proposal a

4 Pengumpulan data

16
5 Pengolahan data

6 Penulisan laporan

7 Ujian skripsi

17
DAFTAR PUSTAKA

Adiati, Afni. 2017. Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa


Smp Islam Asy-Syuhada. (Skripsi). Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Anderson, Lorin W. dan David R. Krathwohl. 2010. (eds) Kerangka Landasan


Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen: Revisi Taksonomi
Pendidikan Bloom, Terj. Agung Prihantoro, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bani, Asmar. 2011. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Penalaran


Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Pembelajaran
Penemuan Terbimbing, SPS UPI, Bandung. ISSN 1412-565X. Edisi
Khusus No. 1, Agustus 2011.

Brodie, K. 2010. Teaching Mathematical Reasoning in Secondary School


Classrooms. New York: Springer. (http://link.springer.com/book/
10.1007%2F978-0-387-09742-8) [diakses 10-12-2018].

Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi Offset.


Yogyakarta.

Ibrahim, R, 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Miles, Matthew dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku
Sumber Tantang Metode-Metode Baru. Jakarta: UI Press.

Permana, Yanto dan Sumarmo, Utari. 2007. Mengembangkan Kemampuan


Penalaran dan Koneksi Matematik Siswa SMA Melalui Pembelajaran
Berbasis Masalah. ISSN : 1907 – 8838. Vol. I No. 2/Juli 2007. Balai
Penataran Guru Tertulis dan Universitas Pendidikan Indonesia.

Purnomo, Yoppy Wahyu. 2014. Assessment-Based Learning: Sebuah Tinjauan


untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Pemahaman Matematis.
ISSN: 1411-5166 No. 01, Volume VI, Juni 2014. ResearchGate. Sigma
Journal.

Ratnasari, Septi. 2016. Analisis Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Kelas


Vii Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa Pada Setting Pembelajaran
Probing Prompting. (Skripsi). Semarang: FMIPA UNS.

Shadiq, Fadjar. 2009. Kemahiran Matematika. Yogyakarta: Depdiknas PPPPTK.

18
Sumarmo, Utari. 2010. Berfikir dan Disposisi Matematik: Apa, Mengapa, dan
Bagaimana Dikembangkan Pada Peserta Didik. (Makalah Matematika)
Bandung: FPMIPA UPI.

Vera Dewi Kartini Ompusunggu, 2014. Peningkatan Kemampuan Pemahaman


Matematika dan Sikap Positif terhadap Matematika Siswa SMP 2
Medan, Jurnal Saintech vol.06 – No.04 Desember, 2014.

Winkel, 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

19