Anda di halaman 1dari 24

1.

Kualitas Tanah
Kualitas tanah adalah kapasitas dari suatu tanah dalam suatu lahan untuk
menyediakan fungsi-fungsi yang dibutuhkan manuasia atau ekosistem alami dalam
waktu yang lama. Fungsi tersebut adalah kemampuannya untuk mempertahankan
pertumbuhan dan produktivitas tumbuhan serta hewan atau produktivitas biologis,
mempertahankan kualitas udara dan air atau mempertahankan kualitas lingkungan,
serta mendukung kesehatan tanaman, hewan dan manusia. Tanah berkualitas
membantu hutan untuk tetap sehat dan menumbuhkan tumbuhan yang baik atau
lansekap menarik. Sedangkan degradasi tanah adalah penurunan kualitas tanah
(Wander,et al. 2002 cit Plaster, 2003)

Pengukuran kualitas tanah dibidang pertanian hendaknya tidak hanya


terbatas pada tujuan produktivitas, sebab ternyata penekanan pada produktivitas
megakibatkan degradasi tanah. Pada umumnya, hasil panen dipengaruhi oleh
banyak faktor yang tidak terkait dengan kualitas tanah. Kualitas tanah juga
dianggap sebagai unsur kunci pertanian berkelanjutan (Larson and Piece, 1991 : hal
4).

Kualitas tanah memadukan unsur fisik, kimia dan biologi tanah beserta
interaksinya. Agar tanah dapat berkemampuan efektif, ketiga komponen tersebut
harus disertakan. Semua parameter tidak mempunyai keterkaitan yang sama pada
semua tanah dan pada semua kedalaman. Suatu satuan data minimum sifat tanah
atau indikator dari masing-masing ketiga unsur tanah dipilih berdasarkan
kemampuannya sebagai tanda berfungsinya kapasitas tanah pada
suatu penggunaan lahan khusus, iklim dan jenis tanah (Soil Quality Institute, 1999;
Ditzler and Tugel, 2002 : hal 27).
Bahan organik tanah merupakan indikator dari kualitas tanah, karena
merupakan sumber dari unsur hara esensial dan memegang peranan penting untuk
kestabilan agregat, kapasitas memegang air dan strutur tanah (Handayani, 1991 cit
Handayani, 2001 : hal 2). Oleh karena itu bahan organik tanah erat kaitannya
dengan kondisi tanah baik secara fisik, kimia dan biologis yang selanjutnya turut
menentukan produktivitas suatu lahan (Warder et al, 1994 cit Handayani, 2001 : hal
3). Walaupun bahan organik tanah sangat penting, tetapi hingga kini belum ada
informasi pengelolaan kualitas bahan organik tanah secara ekplisit dan mendasar.
Salah satu penyebabnya adalah belum adanya nilai atau ukuran kualitas bahan
organik tanah secara kualitatif yang dapat mencerminkan bioaktifitas tanah
sekaligus merupakan refleksi dari tingkat kesuburan tanah (Handayani, 2001 : hal
3).

Penilaian kualitas tanah dapat melalui penggunaan sifat tanah kunci atau
indikator yang menggambarkan proses penting tanah. Selain itu
juga, penilaiannnya dengan mengukur suatu perubahan fungsi tanah sebagai
tanggapan atas pengelolaan, dalam konteks peruntukan tanah, sifat-sifat bawaan
dan pengaruh lingkungan seperti hujan dan suhu (Dittzler and Tugel, 2002 cit
Andrew et al. 2004 : hal 5).

Dalam penilaian atau interpretasi kulaitas tanah harus


mempertimbangkan proses evaluasi sumberdaya lahan berdasar fungsinya dan
perubahan fungsi tanah sebagai tanggapan alami khusus atau cekaman dan juga
praktek pengelolaan. Lima fungsi tanah yaitu : (1) menopang aktivitas biologi,
keanekaragaman, dan produktivitas; (2) mengatur dan memisahkan air dari larutan;
(3) menyaring, menyangga, mendegradasi, imobilisasi dan mendetoksifikasi bahan-
bahan organik dan an organik, termasuk hasil samping industri dan kota serta
endapan atmosfer; (4) menyimpan dan mendaur hara dan unsur-unsur lain dalam
biosfer bumi; serta (5) memberikan dukungan bagi bangunan struktur sosial-
ekonomi dan perlindungan kekayaan arkeologis yang berhubungan dengan
pemukiman manusia (Allan, dkk., 1995 : hal 1).

Dampak negatif dari ketidakmampuan tanah untuk memenuhi fungsinya


adalah terganggunya kualitas tanah sehingga menimbulkan bertambah luasnya
lahan kritis, menurunnya produktivitas tanah dan pencemaran lingkungan. Dampak
tersebut membuat kita untuk mencari indikator dari segi tanah yang dapat
digunakan untuk memonitor perubahan kualitas tanah agar tetap memenuhi
fungsinya. Penurunan kualitas tanah akan memberikan kontribusi yang besar akan
bertambah buruknya kualitas lingkungan secara umum (Suriadi dan Nazam, 2005 :
hal 16).
Kandungan bahan organik tanah telah terbukti berperan sebagai kunci utama
dalam mengendalikan kualitas tanah baik secara fisik, kimia maupun biologi.
Bahan organik mampu memperbaiki sifat fisik tanah seperti menurunkan berat
volume tanah, meningkatkan permeabilitas, menggemburkan tanah, memperbaiki
aerasi tanah, meningkatkan stabilitas agregat, meingkatkan kemampuan tanah
memegang air, menjaga kelembaban dan suhu tanah, mengurangi energi kinetik
langsung air hujan, mengurangi aliran permukaan dan erosi tanah. Bahan organik
mampu memperbaiki sifat kimia tanah seperti menurunkan pH tanah, dapat
mengikat logam beracun dengan membentuk kelat komplek, meningkatkan
kapasitas pertukaran kation dan sebagai sumber hara bagi tanaman (Tisdall and
Oades, 1982 cit Stevenson, 1994 : 56). Dari sifat biologi tanah, bahan organik tanah
mampu mengikat butir-butir partikel membentuk agregat dari benang hyphae
terutama dari jamur mycorrhiza dan hasil eskresi tumbuhan dan hewan lannya
(Soegiman, 1982; Addiscott, 2000 cit Suriadi dan Nazam, 2005 : 21)
Doran and Parkir (1996) dalam Purwanto (2002 : hal 6) berpendapat bahwa
indikator kualitas tanah harus mencakup kisaran situasi ekologi dan sosioekonomi
yaitu :

1. Mempunyai korelasi yang erat dengan proses-proses alami dalam ekosistem


(dan bermanfaat dalam modeling berorientasi proses).

2. Mengintegrasikan sifat dan proses fisik, kimia dan biologi dan bermanfaat
sebagai input untuk memperkirakan sifat atau fungsi tanah yang sukar untuk diukur
secara langsung.

3. Relatif murah dan mudah digunakan untuk memperkirakan kualitas tanah pada
kondisi lapangan, baik oleh spesiais/ilmuwan maupun petani.

4. Harus cukup peka untuk menggabarkan pengaruh iklim dan pengelolaan


terhadap kualitas tanah dalam jangka panjang, namun tidak begitu peka terhadap
pola cuaca jangka pendek.
5. Bersifat universal, namun menggambarkan pola spasial dan temporal.
6. Apabila mungkin, juga merupakan komponen dari database tanah saat ini.

2. Pengertian Tanah Masam dan Basa


Tanah Asam atau Masam adalah tanah yang memiliki nilai pH kurang dari
5,5 baik terdapat pada tanah kering maupun tanah basah.
Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen yang ada
didalam tanah. Jika kadar kepekatan ion hidrogen terlalu tinggi maka tanah akan
bereaksi menjadi asam atau masam. Sedangkan tanah basa adalah tanah yang
memiliki nilai pH lebih dari 5,5 baik pada tanah kering maupun tanah basah dan
jika kepekatan ion hidrogen yang terdapat didalam tanah terlalu rendah maka tanah
akan bereaksi menjadi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion
H+.

3. Metode Perbaikan Kondisi Tanah


Dalam praktek usaha perbaikan tanah sering dijumpai dari cara yang
tradisional sampai cara yang modern. Kedua cara tersebut dapat diterima tetapi
secara ekonomi pada prinsipnya adalah stabilitas tanah ini untuk mencari alternatif
perbaikan tanah yang termurah dan berkonsidi cukup stabil. Hampir selalu usaha
perbaikan tanah menjadi mahal karena menyangkut perbaikan tanah dalam volume
yang sangat besar.
Ada beberapa metode perbaikan tanah dibahas secara ilmiah yaitu :
1. Perbaikan tanah secara mekanis/energi :
Perbaikan secara mekanis adalah metode perbaikan yang sering digunakan
dalam usaha-usaha perbaikan tanah. Perbaikan secara mekanis ini
merupakan perbaikan tanah dengan usaha pemaksan terhadap perubahan masa
tanah.
Secara alamiah tanpa disadari sering melakukan perbaikan tanah secara
tradisonal dengan menumbuk/ memadatkan tanah secara rutin, misalnya terhadap
beban lalulintas, kereta api, bangunan-bangunan, akan menimbulkan pemadatan
tanah yang berujung pada perbaikan secara tidak langsung yang akhirnya tanah
tersebut menjadi lebih kuat.

Beberapa metode perbaikan tanah secara mekanis :

Metode gilasan
Perbaikan tanah dengan gilasan diutamakan untuk tanah yang berkohesif. Model
perbaikan tanah dengan gilasan diutamakan untuk tanah yang berkohesif. Cara
kerjanya adalah butiran tanah ditekan secara langsung sehingga orientasinya
berubah dan memaksa rongga udara dalam tanah berkurang. Peralatan lapangan
yang dipakai untuk perbaikan dengan tipe gilasan yang banyak dalam praktek
adalah:
· Steel whell roller.
· Roda ban pneumatik : alat berat gilasan/beroda angin dengan
· berat kotor w = 13 ton dst.
· Roda baja bergigi : alat berat gilas dengan berat kotor w = 8,10 dan 12 ton

Metode tumbukan
Perbaikan tanah dengan tumbukan dilakukan secara dinamis untuk lapisan
permukaan dan lapisan dalam tanah. Cara tumbukan ini juga disebut tipe
kompaksi. Tumbukan dengan berat khusus dan getar yang bekerja simultan
dinamakan tumbukan dinamis atau dynamic konsolidation. Cara ini diutamakan
untuk tanah yang berbutir agar kasar, sangat tebal lapisannya dan basah, misalnya
pada suatu deposit pasir atau tanah berpasir. Prinsip cara kerja pemadatan dengan
tumbukan adalah pemadatan secara paksa dimana akan terjadi pemampatan
seketika. Caranya adalah dengan menjatuhkan beban seberat 3 sampai 20 ton dari
ketinggian 4 sampai 20 m. Sehingga energi yang besar memaksa terjadinya
kepadatan langsung. Beban dapat dibuat dari baja atau beton bertulang yang
dikatrol dengan mekanisme khusus sehingga mampubekerja efisien dan cepat.

Metode Getaran
Metoda tekanan, tumbukan dan getaran seringdisebut metoda energi yang
mana pada prinsipnya akan mendorong udara dan air tanah serta rongga tanah akan
mampat dan rongga tersebut akan mengecil atau bahkan hilang.
Proses pemampatan tanah juga merubah orientasi butir menjadi tersusun. Besar
energi yang timbul akan tergantung pada besar beban dan besar usaha dari alat yang
digunakan dan tentu disesuaikan dengan kebutuhan dalam praktek.

2. Perbaikan Tanah dengan Cara Perkuatan


Beberapa metode perbaikan dengan cara perkuatan sebagai berikut :
Pemasangan Vertical Drain
Tanah lempung lunak jenuh adalah tanah dengan rongga kapiler yang sangat
kecil sehingga proses konsolidasi saat tanah dibebani memerlukan waktu cukup
lama, sehingga untuk mengeluarkan air dari tanah secara cepat adalah dengan
mebuat vertical drain pada radius tertentu sehingga air yang terkandung dalam
tanah akan termobilisasi keluar melalui vertical drain yang telah terpasang.
Vertical drain ini dapat berupa stone column atau menggunakan material
fabricated lainnya. Pekerjaan vertical drain ini biasanya dikombinasikan dengan
pekerjaan pre-load berupa timbunan tanah, dengan maksud memberikan beban
pada tanah sehingga air yang terkandung dalam tanah bisa termobilisasi dengan
lebih cepat.
Menggunakan Cerucuk Bambu atau Corduroy
Prinsip kerjanya sebelum dilakukan penimbunan terlebih dahulu memasang
bantalan baik yang terbuat dari bambu (cerucuk) atau dari kayu
gelondongan (corduroy) sehingga saat tanah dihampar tidak bercampur dengan
tanah asli dibawahnya dan tanah timbunan tersebut membentuk satu kesatuan yang
mengapung diatas tanah aslinya semacam ponton yang mengapung diatas air.
Biasanya digunakan kayu bakau, terutama pada tanah lunak. Metode ini sebagai
perkuatan yang
termurah. Sistem ini lebih sesuai untuk tanah yang selalu basah atau muka air selalu
dipermukaan, misal pada proyek didaerah pantai. Jenis kayu bakau setempat yang
kuat dan bulat diameter sekitar 5 sampai 10 cm dengan panjang 2 samapi 5 meter.
Pemancangan tiang cerucuk secara manual biasanya.

Menggunakan Tiang Pancang


Tiang pancang adalah beton prategang yang digunakan untuk pondasi
dalam, tiang pancang sangat efektif digunakan pada tanah jenis tanah yang lunak.

Metode Perbaikan Tanah Dengan Geosintetik


Metode perbaikan dengan cara ini adalah metode perbaikan tanah dengan
menggunakan material buatan berupa polymer sintesis jenis-jenisnya adalah
sebagai berikut :

 Geotekstil
 Geomembrane
 Geogrid
 Geonet
 Geomat
 Geosynthetic Clay Liner Atau GCL
 Geopipe
 Geocomposit dan
 Geocell

6. Tanaman dan Karakteristik Tanaman Tersebut Dapat Tumbuh

 JAGUNG
Tanaman jagung (Zea mays L.) berasal dari benua Amerika. Menurut
Linnaeus dalam Warisno (1998), klasifikasi tanaman jagung adalah sebagai
berikut:

Divisio : Spermathophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonena
Ordo : Graminae
Famili : Graminaceae
Subfamili : Ponicoidae
Genus : Zea
Species : Zea mays L.

Bunga pada tanaman jagung terdiri dari bunga jantan dan bunga betina yang
letaknya terpisah, sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Biji
jagung tersusun dalam janggel adalah tongkol yang dibentuk pada bunga betina
setelah terjadi pembuahan terjadi perkembangan biji 7 hari sampai 10 hari, yang
pertama perkembangannya lambat. Suhu yang dikehendaki tanaman jagung
berkisar antara 21ºC – 30ºC. Akan tetapi untuk pertumbuhan yang baik tanaman
jagung khususnya jagung hibrida suhu yang optimal adalah 23ºC – 27ºC. Suhu
sekitar 25ºC akan mengakibatkan perkecambahan biji jagung lebih cepat dan suhu
tinggi lebih dari 40ºC akan mengakibatkan kerusakan embrio sehingga tanaman
tidak jadi berkecambah.
Kondisi pH yang baik untuk pertumbuhan jagung hibrida berkisar antara 5,5
– 7,0 dan pH optimal 6,8 terutama pada saat berbunga dan pengisian biji. Curah
hujan yang normal untuk pertumbuhan tanaman jagung yang ideal adalah sekitar
250 mm/tahun sampai 2000 mm/tahun. Jagung hibrida akan tumbuh dengan baik di
daerah yang ketinggiannya lebih dari 5000 m di atas permukaan laut. (Supapto,
1999).

Syarat Tumbuh
Curah hujan yang terjadi selama bulan penanaman cukup tinggi sebesar 309
mm dan 501 mm (rata-rata 427 mm/bulan), nilai curah hujan yang cukup tinggi
apabila dibandingkan dengan distribusi hujan yang ideal bagi pertumbuhan jagung
yaitu 200 mm/bln (Sutoro et al., 1988) dan berpotensi menyebabkan pencucian pada
unsur hara yang terdapat di tanah.
Dalam suatu langkah budidaya ada hal-hal yang perlu diperhatikan
diantaranya syarat tumbuh, adapun syarat tumbuh tanaman jagung yaitu ketinggian
5-1.200 m dpl, kelembaban 80%, pH 2,3 dan suhu 15 – 20 C.

 GANDUM
Iklim
· Ketinggian diatas lahan yang sesuai 800 m dpl
· Suhu Optimum 20 25° C
· Curah hujan 600 825 mm/tahun
· Kelembapan ratarata 80 - 90%
· Intensitas penyinaran 9 -12 jam/hari
Tanah
· Jenis tanah adalah Andosol, Regosol kelabu, Latosol dan Aluvial
· pH tanah berkisar 6 -7
· Syarat tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman gandum adalah :
a). hara yang diperlukan cukup tersedia,
b). tidak ada zat toksit,
c). kelembaban mendekati kapasitas lapang,
d). suhu tanah rata-rata berkisar 15-28° C,
e). aerasi tanah baik,
f).Tidak ada lapisan padat yang menghambat penetrasi akar gandum untuk
menyusuri tanah.

 BAWANG MERAH.
Bawang merah (Allium cepa) merupakan salah satu komoditas hortikultura
yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Agar sukses budidaya bawang merah
dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko) di lapangan. Diantaranya cara
budidaya, serangan hama dan penyakit, kekurangan unsur mikro, dll yang
menyebabkan produksi menurun.

Syarat Tumbuh
Bawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, tekstur sedang
sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol, pH 5.6 – 6.5, ketinggian
0-400 mdpl, kelembaban 50-70 %, suhu 25-320 C.

 KACANG TANAH
Cara Budidaya Kacang Tanah
Syarat Tumbuh
Iklim
a. Curah hujan antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan
mengakibatkan bunga sulit terserbuki oleh serangga dan akan meningkatkan
kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.
b. Suhu udara sekitar 28-320C. Bila suhunya di bawah 100C, pertumbuhan tanaman
akan terhambat, bahkan kerdil.
c. Kelembaban udara berkisar 65-75 %.
d.Penyinaran matahari penuh dibutuhkan, terutama kesuburan daun dan
perkembangan besarnya kacang.
Media Tanam
a. Jenis tanah yang sesuai adalah tanah gembur / bertekstur ringan dan subur.
b. pH antara 6,0-6,5.
c. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya
mati.
d. Drainase dan aerasi baik, lahan tidak terlalu becek dan kering baik bagi
pertumbuhan kacang tanah.
Ketinggian Tempat
Ketinggian penanaman optimum 50 – 500 m dpl, tetapi masih dapat tumbuh di
bawah ketinggian 1.500 m dpl.

5. Pengertian pH Tanah, KPK Tanah, Tekstur Tanah.


 pH di definisikan sebagai kemasamam atau kebasaan relatif suatu bahan.
Skala pH mencakup dari nilai nol (0) hingga 14. Nilai pH 7 dikatakan netral. Di
bawah pH 7 dikatakan asam, sedangkan di atas 7 dikatakan basa. Asam menurut
teori adalah suatu bahan yang cenderung untuk memberi proton (H+) ke beberapa
senyawa lain, demikian sebaliknya apabila basa adalah suatu bahan yang cenderung
menerimanya.
Pengaruh utama pH di dalam tanah adalah pada ketersediaan dan sifat meracun
unsur seperti Fe (besi), Al (Alumunium), Mn (Mangan), B (Boron), Cu (seng). Di
dalam tanah pH sangat penting dalam menentukan aktifitas dan dominasi
mikroorganisme, dalam hubungannya dengan peoses proses yang sangat erat
hubungannya dengan mikroorganisme seperti siklus hara (nitrifikasi, denitrifikasi),
penyakit tanaman, dekomposisi dan sintesis senyawa kimia organik dan transport
gas ke atmosfer.
 Kapasitas pertukaran kation (KPK) dalam ilmu tanah diartikan sebagai
kemampuan tanah untuk menjerap dan menukar atau melepaskan kembali ke dalam
larutan tanah. Di dalam tanah, komponen yang mempunyai muatan
adalah lempung dan bahan organik tanah (senyawa organik). Muatan negatif
lempung / bahan organik biasanya mengikat kation (ion bermuatan positif) yang
ada disekitarnya (dalam larutan tanah) sehingga terjadi reaksi elektronetralitas yang
menghasilkan keseimbangan kimia.
 Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena
terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang
terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). dari ketiga jenis fraksi
tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0.05 mm,
debu dengan ukuran 0.05 – 0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm
(penggolongan berdasarkan USDA). keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh
terhadap keadaan sifat-sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas
tanah, porositas dan lain-lain.

Butir-butir yang paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu (silt),
pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang terdiri dari batu-batu. Tekstur
tanah dikatakan baik apabila komposisi antara pasir, debu dan liatnya hampir
seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah lempung. Semakin halus butir-butir
tanah (semakin banyak butir liatnya), maka semakin kuat tanah tersebut
memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan liatnya terlalu tinggi akan
sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah maka akan menjadi lengket. Tanah
jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga bila tanahnya datar akan cenderung
tergenang dan pada tanah berlereng erosinya akan tinggi. Tanah dengan butir-butir
yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat menahan air dan unsur hara. Dengan
demikian tanaman yang tumbuh padatanah jenis ini mudah mengalami kekeringan
dan kekurangan hara.

Pembagian Ukuran Fraksi-Fraksi Tanah ( Tekstur) Menurut Sistem


Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) Tahun 1938
Partikel Diameter fraksi (mm)
Pasir sangat kasar (Very coarse sand) 2,00 – 1,00
Pasir kasar (Coarse sand) 1,00 – 0,50
Pasir sedang (medium sand) 0,50 – 0,25
Pasir halus (fine sand) 0,25 – 0,10
Pasir sangat halus (very fine sand) 0,10 – 0,05
Debu (silt) 0,05 – 0,002
Liat (Clay) Kurang dari 0,002
Tabel Tekstur Tanah (Saefudin, 1989)

Klasifikasi Tekstur Tanah menurut USDA


1. Liat (Clay)
2. Liat Berdebu (Silty Clay)
3. Liat Berpasir (Sandy Clay)
4. Lempung Liat berdebu (silty Clat Loam)
5. Lempung berliat (Clay Loam)
6. Lempung (loam)
7. Lempung liat berpasir (sandy clay loam)
8. Lempung berpasir (sandy lam)
9. Lempung berapasir (sandy loam)
10. Debu (silt)
11. Pasir Berlempung (loamy sang)
12. Pasir (sand)

6. Unsur Hara Makro


Unsur Hara Makro adalah unsur-unsur hara yang dibutuhkan tumbuhan dalam
jumlah yang relatif besar. Daftarnya adalah sebagai berikut :
Unsur Hara Makro Utama :
1. Nitrogen (N)
Unsur Nitrogen dengan lambang unsur N, sangat berperan dalam pembentukan
sel tanaman, jaringan, dan organ tanaman. Nitrogen memiliki fungsi utama
sebagai bahan sintetis klorofil, protein, dan asam amino. Oleh karena itu unsur
Nitrogen dibutuhkan dalam jumlah yang cukup besar, terutama pada saat
pertumbuhan memasuki fase vegetatif. Bersama dengan unsur Fosfor (P),
Nitrogen ini digunakan dalam mengatur pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
Terdapat 2 bentuk Nitrogen, yaitu Ammonium (NH4) dan Nitrat (NO3).
Berdasarkan sejumlah penelitian para ahli, membuktikan Ammonium sebaiknya
tidak lebih dari 25% dari total konsentrasi Nitrogen. Jika berlebihan, sosok tanaman
menjadi besar tetapi rentan terhadap serangan penyakit. Nitrogen yang berasal dari
amonium akan memperlambat pertumbuhan karena mengikat karbohidrat sehingga
pasokan sedikit. Dengan demikian cadangan makanan sebagai modal untuk
berbunga juga akan minimal. Akibatnya tanaman tidak mampu berbunga.
Seandainya yang dominan adalah Nitrogen bentuk Nitrat , maka sel-sel tanaman
akan kompak dan kuat sehingga lebih tahan penyakit. Untuk mengetahui
kandungan N dan bentuk Nitrogen dari pupuk bisa dilihat dari kemasan.
 Kekurangan Nitrogen
Ciri-ciri tanaman yang kekurangan Nitrogen dapat dikenali dari daun bagian
bawah. Daun pada bagian tersebut menguning karena kekurangan klorofil.
Pada proses lebih lanjut, daun akan mengering dan rontok. Tulang-tulang di
bawah permukaan daun muda akan tampak pucat. Pertumbuhan tanaman
melambat, kerdil dan lemah. Akibatnya produksi bunga dan biji pun akan
rendah.

 Kelebihan Nitrogen
Kelebihan jumlah Nitrogen pun perlu diwaspadai. Ciri-ciri tanaman apabila
unsur N-nya berlebih adalah warna daun yang terlalu hijau, tanaman rimbun
dengan daun. Proses pembuangan menjadi lama. Adenium bakal bersifat
sekulen karena mengandung banyak air. Hal itu menyebabkan tanaman
rentan terhadap serangan jamur dan penyakit, serta mudah roboh. Produksi
bunga pun akan menurun.

2. Fosfor atau Phosphor (P)


Unsur Fosfor (P) merupakan komponen penyusun dari beberapa enzim, protein,
ATP, RNA, dan DNA. ATP penting untuk proses transfer energi, sedangkan RNA
dan DNA menentukan sifat genetik dari tanaman. Unsur P juga berperan pada
pertumbuhan benih, akar, bunga, dan buah. Pengaruh terhadap akar adalah dengan
membaiknya struktur perakaran sehingga daya serap tanaman terhadap nutrisi pun
menjadi lebih baik.
Bersama dengan unsur Kalium, Fosfor dipakai untuk merangsang proses
pembungaan. Hal itu wajar sebab kebutuhan tanaman terhadap fosfor meningkat
tinggi ketika tanaman akan berbunga.

 Kekurangan Phosphor (P)


Ciri-ciri dimulai dari daun tua menjadi keunguan dan cenderung kelabu. Tepi
daun menjadi cokelat, tulang daun muda berwarna hijau gelap. Hangus,
pertumbuhan daun kecil, kerdil, dan akhirnya rontok. Fase pertumbuhan
lambat dan tanaman kerdil.
 Kelebihan Phosphor (P)
Kelebihan P menyebabkan penyerapan unsur lain terutama unsur mikro seperti
besi (Fe) , tembaga (Cu) , dan seng (Zn) terganggu. Namun gejalanya tidak
terlihat secara fisik pada tanaman.

3. Kalium (K)
Unsur Kalium berperan sebagai pengatur proses fisiologi tanaman seperti
fotosintetis, akumulasi, translokasi, transportasi karbohidrat, membuka
menutupnya stomata, atau mengatur distribusi air dalam jaringan dan sel.
Kekurangan unsur ini menyebabkan daun seperti terbakardan akhirnya gugur.
Unsur kalium berhubungan erat dengan kalsium dan magnesium. Ada sifat
antagonisme antara kalium dan kalsium. Dan juga antara kalium dan magnesium.
Sifat antagonisme ini menyebabkan kekalahan salah satu unsur untuk diserap
tanaman jika komposisinya tidak seimbang. Unsur kalium diserap lebih cepat oleh
tanaman dibandingkan kalsium dan magnesium. Jika unsur kalium berlebih
gejalanya sama dengan kekurangan magnesium. Sebab , sifat antagonisme antara
kalium dan magnesium lebih besar daripada sifat antagonisme antara kalium dan
kalsium. Kendati demkian , pada beberapa kasus , kelebihan kalium gejalanya mirip
tanaman kekurangan kalsium.
 Kekurangan Kalium
Kekurangan K terlihat dari daun paling bawah yang kering atau ada bercak
hangus. Kekurangan unsur ini menyebabkan daun seperti terbakardan
akhirnya gugur. Bunga mudah rontok dan gugur. Tepi daun ‘hangus’, daun
menggulung ke bawah, dan rentan terhadap serangan penyakit.

 Kelebihan Kalium
Kelebihan K menyebabkan penyerapan Ca dan Mg terganggu. Pertumbuhan
tanaman terhambat. sehingga tanaman mengalami defisiensi.

4. Magnesium (Mg)
Magnesium adalah aktivator yang berperan dalam transportasi energi beberapa
enzim di dalam tanaman. Unsur ini sangat dominan keberadaannya di daun ,
terutama untuk ketersediaan klorofil. Jadi kecukupan magnesium sangat
diperlukan untuk memperlancar proses fotosintesis. Unsur itu juga merupakan
komponen inti pembentukan klorofil dan enzim di berbagai proses sintesis protein.
Kekurangan magnesium menyebabkan sejumlah unsur tidak terangkut karena
energi yang tersedia sedikit. Yang terbawa hanyalah unsur berbobot ‘ringan’ seperti
nitrogen. Akibatnya terbentuk sel-sel berukuran besar tetapi encer. Jaringan
menjadi lemah dan jarak antar ruas panjang. Ciri-ciri ini persis seperti gejala
etiolasi-kekurangan cahaya pada tanaman.
 Kekurangan Magnesium
Muncul bercak-bercak kuning di permukaan daun tua. Hal ini terjadi karena
Mg diangkut ke daun muda. Daun tua menjadi lemah dan akhirnya mudah
terserang penyakit terutama embun tepung (powdery mildew).
 Kelebihan Magnesium
Kelebihan Mg tidak menimbulkan gejala ekstrim.

5. Kalsium (Ca)
Unsur ini yang paling berperan adalah pertumbuhan sel. Ia komponen yang
menguatkan , dan mengatur daya tembus , serta merawat dinding sel. Perannya
sangat penting pada titik tumbuh akar. Bahkan bila terjadi defiensi Ca ,
pembentukan dan pertumbuhan akar terganggu , dan berakibat penyerapan hara
terhambat. Ca berperan dalam proses pembelahan dan perpanjangan sel , dan
mengatur distribusi hasil fotosintesis.
 Kekurangan Kalsium
Gejala kekurangan kalsium yaitu titik tumbuh lemah , terjadi perubahan
bentuk daun , mengeriting , kecil , dan akhirnya rontok. Kalsium
menyebabkan tanaman tinggi tetapi tidak kekar. Karena berefek langsung
pada titik tumbuh maka kekurangan unsur ini menyebabkan produksi bunga
terhambat. Bunga gugur juga efek kekurangan kalsium.
 Kelebihan Kalsium
Kelebihan kalsium tidak berefek banyak , hanya mempengaruhi pH tanah.

6. Belerang atau Sulfur (S)


 Kelebihan Sulfur
Pada umumnya belerang dibutuhkan tanaman dalam pembentukan asam
amino sistin, sistein dan metionin. Disamping itu S juga merupakan bagian
dari biotin, tiamin, ko-enzim A dan glutationin. Diperkirakan 90% S dalam
tanaman ditemukan dalam bentuk asam amino, yang salah satu fungsi
utamanya adalah penyusun protein yaitu dalam pembentukan ikatan
disulfida antara rantai-rantai peptida. Belerang (S) merupakan bagian
(constituent) dari hasil metabolisme senyawa-senyawa kompleks. Belerang
juga berfungsi sebagai aktivator, kofaktor atau regulator enzim dan berperan
dalam proses fisiologi tanaman
 Kekurangan Sulfur
Jumlah S yang dibutuhkan oleh tanaman sama dengan jumlah fosfor (P).
Kekahatan S menghambat sintesis protein dan hal inilah yang dapat
menyebabkan terjadinya klorosis seperti tanaman kekurangan nitrogen.
Kahat S lebih menekan pertumbuhan tunas dari pada pertumbuhan akar.
Gejala kahat S lebih nampak pada daun muda dengan warna daun yang
menguning sebagai mobilitasnya sangat rendah di dalam tanaman
(Haneklaus dan Penurunan kandungan klorofil secara drastis pada daun
merupakan gejala khas pada tanaman yang mengalami kahat S . Kahat S
menyebabkan terhambatnya sintesis protein yang berkorelasi dengan
akumulasi N dan nitrat organik terlarut.

7. Unsur Hara Mikro


Unsur mikro adalah unsur yang diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit .
Walaupun hanya diserap dalam jumlah kecil , tetapi amat penting untuk menunjang
keberhasilan proses-proses dalam tumbuhan. Tanpa unsur mikro , bunga adenium
tidak tampil prima. Bunga akan lunglai , dll. Unsur mikro itu , adalah: boron , besi
, tembaga , mangan , seng , dan molibdenum.

1. Boron (B)
Boron memiliki kaitan erat dengan proses pembentukan , pembelahan dan
diferensiasi , dan pembagian tugas sel. Hal ini terkait dengan perannya dalam
sintetis RNA , bahan dasar pembentukan sel. Boron diangkut dari akar ke tajuk
tanaman melalui pembuluh xylem. Di dalam tanah boron tersedia dalam jumlah
terbatas dan mudah tercuci. Kekurangan boron paling sering dijumpai pada
adenium. Cirinya mirip daun variegeta.
 Kekurangan Boron
Daun berwarna lebih gelap dibanding daun normal , tebal , dan mengkerut.
 Kelebihan Boron
Ujung daun kuning dan mengalami nekrosis

2. Tembaga (Cu)
Fungsi penting tembaga adalah aktivator dan membawa beberapa enzim. Dia
juga berperan membantu kelancaran proses fotosintesis. Pembentuk klorofil , dan
berperan dalam funsi reproduksi.
 Kekurangan Tembaga (Cu)
Daun berwarna hijau kebiruan , tunas daun menguncup dan tumbuh kecil ,
pertumbuhan bunga terhambat.
 Kelebihan Tembaga (Cu)
Tanaman tumbuh kerdil , percabangan terbatas , pembentukan akar
terhambat , akar menebal dan berwarna gelap.

3. Seng atau Zinc (Zn)


Hampir mirip dengan Mn dan Mg , sengat berperan dalam aktivator enzim ,
pembentukan klorofil dan membantu proses fotosintesis. Kekurangan biasanya
terjadi pada media yang sudah lama digunakan.
 Kekurangan Seng (Zn)
Pertumbuhan lambat , jarak antar buku pendek , daun kerdil , mengkerut ,
atau menggulung di satu sisi lalu disusul dengan kerontokan. Bakal buah
menguning, terbuka, dan akhirnya gugur. Buah pun akan lebih lemas
sehingga buah yang seharusnya lurus membengkok.
 Kelebihan Seng (Zn)
Kelebihan seng tidak menunjukkan dampak nyata.

4. Besi atau Ferro (Fe)


Besi berperan dalam proses pembentukan protein , sebagai katalisator
pembentukan klorofil. Besi berperan sebagai pembawa elektron pada proses
fotosintetis dan respirasi , sekaligus menjadi aktivator beberapa enzim. Unsur ini
tidak mudah bergerak sehigga bila terjadi kekurangan sulit diperbaiki. Fe paling
sering bertentangan atau antagonis dengan unsur mikro lain. Untuk mengurangi
efek itu , maka Fe sering dibungkus dengan Kelat (chelate) seperti EDTA (Ethylene
Diamine Tetra-acetic Acid). EDTA adalah suatu komponen organik yang bersifat
menstabilkan ion metal. Adanya EDTA maka sifat antagonis Fe pada pH tinggi
berkurang jauh. Di pasaran dijumpai dengan merek Fe-EDTA.
 Kekurangan Besi
Kekurangan besi ditunjukkan dengan gejala klorosis dan daun menguning
atau nekrosa. Daun muda tampak putih karena kurang klorofil. Selain itu
terjadi karena kerusakan akar. Jika adenium dikeluarkan dari potnya akan
terlihat potongan-potongan akar yang mati.
 Kelebihan Besi
Pemberian pupuk dengan kandungan Fe tinggi menyebabkan nekrosis yang
ditandai dengan munculnya bintik-bintik hitam pada daun.

5. Molibdenum (Mo)
Mo bertugas sebagai pembawa elektron untuk mengubah nitrat menjadi enzim.
Unsur ini juga berperan dalam fiksasi nitrogen.
 Kekurangan Molibdenum
Ditunjukkan dengan munculnya klorosis di daun tua , kemudian menjalar
ke daun muda
 Kelebihan Molibdenum
Kelebihan tidak menunjukkan gejala yang nyata pada adenium.

6. Mangan (Mn)
 Kelebihan Mangan
Mangan merupakan unsur mikro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah
yang tidak terlalu banyak. Mangan sangat berperan dalam sintesa klorofil
selain itu berperan sebagai koenzim, sebagai aktivator beberapa enzim
respirasi, dalam reaksi metabolisme nitrogen dan fotosintesis. Mangan juga
diperlukan untuk mengaktifkan nitrat reduktase sehingga tumbuhan yang
mengalami kekurangan mangan memerlukan sumber N dalam bentuk
NH4+. Peranan mangan dalam fotosintesis berkaitan dengan pelepasan
elektron dari air dalam pemecahannya menjadi hidrogen dan oksigen.
Fungsi unsur hara Mangan (Mn) bagi tanaman ialah:
a. Diperlukan oleh tanaman untuk pembentukan protein dan vitamin
terutama vitamin C
b. Berperan penting dalam mempertahankan kondisi hijau daun pada daun
yang tua
c. Berperan sebagai enzim feroksidase dan sebagai aktifator macam-macam
enzim
d. Berperan sebagai komponen penting untuk lancarnya proses asimilasi
Mn diperlukan dalam kultur kotiledon selada untuk memacu pertumbuhan
jumlah pucuk yang dihasilkan. Mn dalam level yang tinggi dapat
mensubstitusikan Mo dalam kultur akar tomat. Mn dapat menggantikan
fungsi Mg dalam beberapa sistem enzym tertentu seperti yang dibuktikan
oleh Hewith pada tahun 1948.
 Kekurangan Mangan
Defisiensi unsur hara, atau kata lain kekurangan unsur hara, bisa
menyebabkan pertumbuhan tanaman yg tidak normal dapat disebabkan oleh
adanya defisiensi satu atau lebih unsur hara, gangguan dapat berupa gejala
visual yang spesifik.
Mn merupakan penyusun ribosom dan juga mengaktifkan polimerase,
sintesis protein, karbohidrat. Berperan sebagai activator bagi sejumlah
enzim utama dalam siklus krebs, dibutuhkan untuk fungsi fotosintetik yang
normal dalam kloroplas, ada indikasi dibutuhkan dalam sintesis klorofil.
Defisiensi unsure Mn antara lain : pada tanaman berdaun lebar, interveinal
chlorosis pada daun muda mirip kekahatan Fe tapi lebih banyak menyebar
sampai ke daun yang lebih tua, pada serealia bercak-bercak warna keabu-
abuan sampai kecoklatan dan garis-garis pada bagian tengah dan pangkal
daun muda, split seed pada tanaman lupin.
Identifikasi Gejala defisiensi mangan bersifat relatif, seringkali defisiensi
satu unsur hara bersamaan dengan kelebihan unsur hara lainnya. Di
lapangan tidak mudah membedakan gejala-gejala defisiensi. Tidak jarang
gangguan hama dan penyakit menyerupai gejala defisiensi unsur hara
mikro. Gejala dapat terjadi karena berbagai macam sebab.
Gejala dari defisiensi mangan memperlihatkan bintik nekrotik pada daun.
Mobilitas dari mangan adalah kompleks dan tergantung pada spesies dan
umur tumbuhan sehingga awal gejalanya dapat terlihat pada daun muda atau
daun yang lebih tua.. Kekurangan mangan ditandai dengan menguningnya
bagian daun diantara tulang-tulang daun. Sedangkan tulang daun itu sendiri
tetap berwarna hijau.

7. Khlor (Cl)
 Kelebihan Khlor
Terlibat dalam osmosis (pergerakan air atau zat terlarut dalam sel),
keseimbangan ion yang diperlukan bagi tanaman untuk mengambil elemen
mineral dan dalam fotosintesis.
 Kekurangan Khlor
Dapat menimbulkan gejala pertumbuhan daun yang kurang normal terutama
pada tanaman sayur-sayuran, daun tampak kurang sehat dan berwarna
tembaga. Kadang-kadang pertumbuhan tanaman tomat, gandum dan kapas
menunjukkan gejala seperti di atas.

8. Natrium (Na)
 Kelebihan Natrium
Terlibat dalam osmosis (pergerakan air) dan keseimbangan ion pada
tumbuhan. Salah satu kelebihan efek negatif Na adalah bahwa dapat
mengurangi ketersediaan K.
 Kekurangan Natrium
Daun-daun tenaman bisa menjadi hijau tua dan tipis. Tanaman cepat
menjadi layu.

9. Cobalt (Co)
 Kelebihan Cobalt
Cobalt berperan penting dalam fiksasi Nitrogen (Witte et al., 2002), namun
bila berlebih bisa menghambat proses asimilasi di daun.
 Kekurangan Cobalt
Mengurangi dan menghambat fiksasi Nitrogen

10. Silicone (Si)


 Kelebihan Silicone
Si dapat meningkatkan hasil melalui peningkatan efisiensi fotosintesis dan
menginduksi ketahanan terhadap hama dan penyakit Ditemukan sebagai
komponen dari dinding sel. Tanaman dengan pasokan silikon larut
menghasilkan tanaman yang lebih kuat, meningkatkan panas dan
kekeringan tanaman, toleransi silikon dapat disimpan oleh tanaman di
tempat infeksi oleh jamur untuk memerangi penetrasi dinding sel oleh jamur
menyerang.
 Kekurangan Silicon
Dapat mengakibatkan tanaman mudah terserang penyakit.

11. Nikel (Ni)


 Kelebihan Nikel
Diperlukan untuk enzim urease untuk menguraikan urea dalam
membebaskan nitrogen ke dalam bentuk yang dapat digunakan untuk
tanaman. Nikel diperlukan untuk penyerapan zat besi. Benih perlu nikel
untuk berkecambah. Tanaman tumbuh tanpa tambahan nikel akan
berangsur-angsur mencapai tingkat kekurangan saat mereka dewasa dan
mulai pertumbuhan reproduksi
 Kekurangan Nikel
Kekurangan dari unsur Nikel pada tanaman akan menimbulkan kegagalan
dalam menghasilkan benih yang layak.

8. Unsur Hara Penunjang/Toksik


Unsur-unsur hara selain hara mikro yg esensiil seperti : Si, Na, Co, I, Al, F,
dan V ternyata berpengaruh terhadap peningkatan produksi tanaman-tanaman
tertentu.
Penambahan insur-unsur ini memberikan pengaruh yg menguntungkan thd
pertumbuhan tanaman.

Silikon = Si mengurangi efek racun elemen yang lain

Natrium = Na 1. Berperan dlm akumulasi asam oksalat


2. Berperan dlm pembukaan stomata, sbg pengganti K
3. Berperan dlm aktivitas nitrat reduktase
4. Dibutuhkan oleh tanm yg memiliki lintasan
fotosintetik C4
5. Menginduksi metabolisme Crassulacean
6. Mengatur keseimbangan air

Cobalt = Co 1. Berperan dlm fiksasi N


2. Berperan dlm metabolisme leghemoglobin
3. Berperan dlm reduktase ribonukleotida

Iodine = I Hasil penelitian pada konsentrasi iodin 0,1 ppm 


berpengaruh thd peningkatan pertumbuhan tan ; khusus pd
tan buah-buahan terlihat peningkatan hasil ketika
diperlakukan iodin konsentarsi 0,5 sampai 1,0 ppm . Iodin
tidak berpengaruh pada konsentrasi rendah, ttp
menunjukkan gejala keracunan pd konsentrasi > 0,5 sampai
1 ppm.

Aluminium = Al Berkaitan erat dg kemasaman tanah (pH).

Fluor = F jumlah fluorine yg diangkut tanaman dari tanah biasanya


tidak ada hubungannya dg kandungan fluorida tanah. Tipe
tanah, kandungan Ca dan P, serta reaksi tanah (pH)
merupakan faktor kontrol yg menonjol.
Percobaan penambahan kalsium fluorida pada tanah masam
atau tanah kapur  menggagalkan usaha serapan fluorida
oleh tanaman  pertumbuhan tan terganggu.

Vanadium = V Tersedia bagi tanaman dlm jumlah relatif banyak pada


tanah2 yg terpengaruh air laut. Dalam bentuk mineral,
keberadaannya tidak tersedia bagi tan. Proses pelapukan
mineral yg mengandung V menghasilkan senyawa V
sederhana yg dapat dimanfaatkan tanaman. V diserap
tanaman dalam bentuk anion, yaitu ion vanadat.