Anda di halaman 1dari 1

Home - Issues

- Gender and Sexuality


- Jejak 'Queer' dalam Alquran
dan Hadis

February, 20 2018

Jejak 'Queer' dalam


Alquran dan Hadis
Penulis meyakini bahwa Alquran
mengakomodasi keberadaan orang
homoseksual atau aseksual.

by Aan Anshori
Issues // Gender and Sexuality

Share:

Bagi yang tidak berkecimpung


dalam isu orientasi seksual dan
ekspresi identitas gender (SOGIE),
istilah queer mungkin terasa asing.
Kata ini secara bahasa berarti
"aneh," "mencurigakan," "tidak
lazim," atau "di luar kelaziman," dan
biasanya digunakan dengan nada
miring (peyoratif). Jika kita melihat,
misalnya, ada orang sarapan
pecahan kaca, maka ia bisa kita
sebut queer, karena di luar
kelaziman.

Secara khusus, queer dipakai untuk


menggambarkan ketidaklaziman
seseorang dalam gender dan
seksualitas, misalnya, laki-laki yang
ekspresinya feminin, laki-laki
mencintai laki-laki, perempuan bisa
hamil tanpa "campur tangan" laki-
laki, atau bayi yang terlahir dengan
kelamin ganda.

Lebih jauh, queer tidak terbatas


hanya pada penjelasan di atas. Alih-
alih, ia adalah payung konsep
untuk menampung hal-hal yang
belum pernah ada di dunia namun
berpotensi ada sebelum akhirnya
bisa didefinisikan secara khusus.

Sebetulnya, dalam pandangan


saya, Alquran dan hadis
menyediakan banyak informasi
yang bisa diklasifikasikan sebagai
queer dalam ranah gender dan
seksualitas. Informasi-informasi ini
perlu diletakkan dalam lanskap
kemahakuasaan-Nya dalam
mengendalikan penciptaan, dan
sekaligus sebagai bahan penting
untuk diteliti secara ilmiah.

Isu queer pertama, tentu saja


adalah penciptaan awal, yakni
Adam. Tuhan membuat pasangan
Hawa ini dari tanah dan
meniupkan roh padanya,
sebagaimana disebutkan dalam
Surat 38:71-72. Fenomena ini sangat
tidak biasa dalam proses
penciptaan manusia sebagaimana
kita pahami saat ini. Kita pasti tidak
percaya seandainya ada orang yang
mengaku tercipta dari tanah tanpa
proses kelahiran.

Queer yang kedua adalah


menyangkut sosok Maryam, ibu
Nabi Isa (Yesus). Perempuan suci ini
diimani bisa punya anak padahal
statusnya "tak tersentuh" laki-laki.
"Bagaimana mungkin aku
mempunyai anak laki-laki, padahal
tidak pernah ada orang (laki-laki)
yang menyentuhku dan aku bukan
seorang penzina," kata Maryam
saat dikabari Jibril sebagaimana
terekam dalam Surat 19:20-21.

Kemampuan hamil dan melahirkan


tanpa proses "intervensi" laki-laki
sungguhlah sangat unik dan jarang
ditemukan dalam dunia ini,
setidaknya secara nalar ilmiah.

Jejak queer ketiga adalah


kemampuan Allah menciptakan
sosok laki-laki yang tidak punya
hasrat seksual terhadap
perempuan. Padahal, kaprahnya
laki-laki akan menyukai secara
seksual lawan jenisnya. Begitu juga
sebaliknya.

Namun, sosok seperti ini ada dan


diabadikan Allah dalam potongan
ayat panjang Surat 24:31 yang
bercerita tentang dibolehkannya
perempuan untuk membuka jilbab
di hadapan laki-laki tertentu. Dalam
tradisi pra-Islam, pria seperti ini
kerap disebut dengan eunuch
(khashi, kasim) atau sudah dikebiri.
Menurut akademisi Muslim asal
Pakistan Sayyid Abul al-Maududi
adalam tafsir Tafhim Alquran, pria
ini merujuk pada sosok Hit, pria
feminin, pembantu salah satu istri
Nabi Muhammad, sebagaimana
disebutkan dalam hadis yang
diceritakan oleh Umm Salamah
dan Aisyah.

Apakah dengan demikian Alquran


mengakomodasi keberadaan
orang homoseksual atau aseksual?
Saya meyakini demikian.


“ Alquran dan hadis
menyediakan banyak
informasi yang bisa
diklasifikasikan sebagai
queer dalam ranah
gender dan seksualitas.
Informasi-informasi ini
perlu diletakkan dalam
lanskap
kemahakuasaan-Nya
dalam mengendalikan
penciptaan, dan
sekaligus sebagai
bahan penting untuk
diteliti secara ilmiah.
ilmiah.””

Hubungan Seksual Keji dan


Perlindungan Anak

Memang benar, Alquran telah


bersikap sangat tegas menyangkut
pelampiasan hasrat seksual keji
sesama jenis dalam cerita kaum
Nabi Luth. Kisah ini antara lain
terdapat dalam Surat 7:81, 26:165-
166, 27:55, 29:28-29. Namun
sayangnya, banyak umat Islam
gagal membuat perbedaan antara
hubungan seksual keji, seperti
yang terjadi pada kaum Luth, dan
hubungan seksual berdasarkan
cinta kasih di antara orang dewasa.

Uniknya, menurut banyak peneliti,


seperti Stephen O. Murray, Norman
Roth, dan Khaled El-Rouayheb,
hasrat seksual sesama jenis dalam
bentuk pederasty, atau hubungan
pria dewasa dan anak remaja,
merupakan hal yang cukup lumrah
di tradisi Arab kala itu. Beberapa
buku mencatat hal ini, seperti The
Love of Boys in Arabic Poetry of
the Early Ottoman Period, 1500-
1800, maupun Homoeroticism in
Classical Arabic Literature karya J.
W. Wright dan Everett K. Rowson
(1998).

Namun di sisi lain, praktik ini juga


dikecam. Banyak ulama dan sufis
memperingatkan para pria agar
tidak tergoda anak laki-laki tanpa
jenggot (beardless
youth) sebagaimana tercantum
dalam buku-buku kumpulan hadis
Shahih Muslim bi sharh al-Nawawi
(9/109, 4/31), Majmoo’ al-Fataawa
Ibn Taymiyyah (21/245), maupun al-
Jawab al-Kafi (117) karya Ibn
Qayyim al-Jauziyah.

Bahkan sufi perempuan terkemuka


Rabiah Adawiyah, sebagaimana
dicatat dalam Early Sufi Women
karya Abu 'Abd ar-Rahman as-
Sulami, pernah melihat sufi lain,
Rabah al-Qaysi, mencium bocah
laki-laki dengan gairah.

"Apakah kamu mencintainya?"


tanya Rabiah. Rabah mengiyakan.
"Aku tidak menyangka ada ruang di
hatimu untuk cinta selain Allah,"
Rabiah menimpali.

Rabah berdiri dan berkata,


"Sebaliknya, justru ini adalah
rahmat yang diberikan Allah pada
hambanya."

Jejak relasi seksual dengan bocah


laki-laki juga ada dalam hadis
riwayat Bukhari, Kitab 62
(Pernikahan) bab 25, sebagaimana
disampaikan Ibnu Abbas, ".... Jika
seseorang bermain dengan anak
laki-laki dan 'memasukinya’ maka
dia tidak bisa menikahi ibunya,..."
Kata "memasukinya" merujuk pada
seks anal.

Saya sendiri menempatkan


kecaman para ulama dan sufi ini
sebagai upaya melindungi anak di
bawah umur dari tindak kekerasan
seksual. Mereka mungkin bergidik
membayangkan keberingasan
seksual pria dewasa terhadap anak
remaja yang terkadang menjurus
pada pemerkosaan, sebagaimana
pernah ditulis dalam puisi
Mamayah al-Rumi (Rouayheb,
2005).

The art of liwat is the way of


masculinity and might
So leave Laylah to Majnun, and
Azzah with Kuthayyir,
And go up to every beardless boy,
strip him, and even if he cries,
Present him with your prick and
fuck him by force.

Mungkin karena didorong oleh


semangat keadilan restoratif
terhadap pemuda-pemuda ini,
Alquran lantas mengapresiasi
keberadaan mereka dengan cara
menaruhnya sederajat dengan
bidadari di surga kelak.

"Dan mereka dikelilingi oleh para


pemuda-pemuda yang tetap
muda. Apabila kamu melihatnya,
akan kamu kira mereka mutiara
yang bertaburan," terang Surat
76:19. Bahkan di ayat lainnya,
mereka digambarkan laksana
mutiara tersembunyi (Surat 52:24,
56:17).

Ibn Kathir dalam Tafsir al-Adhim


menyatakan mereka adalah
pembantu (servant) yang memakai
anting di telinganya, bekerja
melayani kebutuhan tuannya di
surga. Dengan detil, Kathir
menggambarkan mereka sebagai
berikut:

".....wajah mereka yang tampan,


warna-warna yang indah, pakaian
dan hiasan yang bagus, Anda
akan berpikir mereka adalah
mutiara yang tersebar. Tidak ada
kualitas yang lebih baik dari ini,
juga tidak ada yang lebih bagus
untuk dilihat daripada mutiara
yang tersebar di tempat yang
indah."

Penggambaran di atas bisa


dikatakan bercorak sangat feminin,
dan memantik pertanyaan
lanjutan: apa yang sesungguhnya
diinginkan Tuhan dengan
menarasikan surga sedemikian luar
biasa dalam konteks ayat yang
turun di Madinah kala itu? Kenapa
Tuhan tidak mencukupkan diri
menggambarkan fasilitas surgawi
secara hetero, yakni dengan
mengglorifikasi keberadaan
bidadari saja? Dan yang paling
penting, jika hasrat seksual sesama
jenis dihujat sampai pada titik
terendah saat ini, apa makna
penggambaran agung ini?

Lantas siapa sebenarnya laki-laki


feminin surgawi? Isi Surat 52:26
menarik untuk
dibaca, "Sesungguhnya kami
dahulu, sewaktu berada di
tengah-tengah keluarga kami
merasa takut (akan diazab)."

Ketika menafsirkan ayat ini, al-


Maududi mengelaborasi cukup
panjang tekanan yang dihadapi
mereka dalam kungkungan norma
dan moralitas yang ditetapkan
keluarga, demi agar mereka tidak
melakukan kejahatan. Ayat ini
mengkonfirmasi kesulitan yang
dihadapi pemuda ini saat di dunia.

“ Banyak umat Islam


gagal membuat “
perbedaan antara
hubungan seksual keji,
seperti yang terjadi
pada kaum Luth, dan
hubungan seksual
berdasarkan cinta kasih
di antara orang
dewasa.
dewasa.””

Penggambaran situasi surgawi


seperti ini, jika benar, merupakan
hal yang unik (queer) dan di luar
kelaziman. Jika hal ini hendak
diperhadapkan dengan dogma
peristiwa kaum Nabi Luth, maka
hipotesis saya adalah seksualitas
sesama jenis adalah hal yang
natural sebagaimana dengan
lawan jenis. Hanya saja kemurkaan
Allah muncul saat ekspresi
seksualnya mengambil bentuk
paksaan – pemerkosaan -- seperti
halnya kaum Luth, atau terhadap
anak di bawah umur.

Ketertarikan seksual terhadap


bocah laki-laki tidak hanya
monopoli orang homoseksual,
namun juga heteroseksual. Bocah
laki-laki dan perempuan dilihat
sama, yakni sebagai obyek
pelampiasan nafsu dengan fungsi
yang berbeda. Terdapat jargon
populer di beberapa negara
semenanjung Arab yang bisa
menggambarkan situasi tersebut,
"Women for breeding, and boys for
pleasure."

Jargon tersebut kemudian, oleh


beberapa peneliti gender,
seksualitas dan Islam, misalnya
Scott Kugle, ditautkan ke Surat
42:49:

"Milik Allahlah kerajaan langit dan


bumi; Dia menciptakan apa yang
Dia kehendaki, memberikan anak
perempuan kepada siapa yang
Dia kehendaki, dan memberikan
anak laki-laki kepada siapa yang
Dia kehendaki."

Pembacaan literal dan tafsir klasik


ayat di atas menunjukkan
kekuasaan Allah untuk
memberikan anak kepada
umatnya dalam arti yang umum,
misalnya, ada orang yang
dianugerahi anak laki-laki atau
perempuan saja, atau dianugerahi
keduanya.

Namun yang jarang disadari, ayat


ini unik karena merupakan satu-
satunya ayat di mana perempuan
disebut terlebih dahulu daripada
laki-laki. Beberapa ayat seperti QS
3:195, 4:12, 4:124, 6:143-144, 16:97,
40:40, 42:50, 49:13, 53:21, 53:45, 75:39,
92:3, semuanya mendahulukan
laki-laki ketimbang perempuan.

Keunikan ayat ini lalu mendorong


pembacaan secara unik pula, yakni
alih-alih berbicara soal pemberian
anak, ayat tersebut rasanya
membahas urutan rantai obyek
pemenuhan seksual pria kala itu --
perempuan yang pertama, bocah
laki-laki yang kedua.

Lesbian dan non-prokreasi

Perempuan mendapat prioritas


bukanlah hal aneh sebab hanya ia
yang mampu mengemban "misi
utama" perkawinan, yakni
reproduksi. Dalam kultur pra-Islam
Arab, faktor kemampuan
bereproduksi menempati urutan
teratas dalam pertimbangan
memilih jodoh.

Dogma reproduksi tampaknya


menjadi problem tersendiri,
terutama bagi perempuan. Di
banyak kebudayaan,
kesempurnaannya sebagai istri
hanya diukur dari kemampuannya
menghasilkan keturunan. Bahkan,
bagi mereka yang mandul harus
rela dimadu menurut Undang-
undang Nomor 1 Tahun 1974. Hal
itu tidak berlaku bagi laki-laki yang
mandul.

Cara pandang demikian dianggap


sebagai "kebenaran umum",
menempatkan perempuan mandul
atau pilihan untuk tidak
bereproduksi sebagai sosok tidak
sempurna. Padahal Allah secara
tegas menyatakan makhluk non-
prokreasi ('aqim) merupakan
bagian dari ciptaan-Nya dan tidak
ada perintah untuk
mendiskriminasi mereka:

"Atau Dia menganugerahkan jenis


laki-laki dan perempuan, dan
menjadikan mandul ('aqim) siapa
yang Dia kehendaki. Dia Maha
Mengetahui, Maha Kuasa." (Surat
24:50)

Kata 'aqim dapat dipahami sebagai


kondisi kemandulan dalam aspek
biologis, namun juga terbuka
untuk ditafsirkan sebagai kondisi
seseorang yang meskipun mampu
bereproduksi namun memilih
untuk tidak berketurunan.
Termasuk dalam kategori ini adalah
sosok perempuan yang enggan
menikah, baik karena tidak punya
hasrat seksual (aseksual) atau tidak
memiliki kecenderungan seksual
terhadap lawan jenisnya.

Sosok queer semacam ini dipotret


Alquran, menjadi bagian dari Surat
24:60, "Wa al-qawaa'idu min al-
nisai allati laa yarjuuna
nikaakha..."

Ayat ini menginformasikan salah


satu jenis perempuan yang
diperkenankan untuk tidak
menutup aurat. Tafsir klasik dan
para penerjemah Alquran seperti
Marmaduke Pickthall atau Yusuf Ali
mengartikannya dengan
"perempuan tua menopause yang
tidak berkeinginan menikah."

Saya memilih mengartikan kata


qawaid sebagai "enggan," karena
kata tersebut memungkinkannya.
Sehingga, secara keseluruhan
berbunyi, "perempuan yang
enggan dan tidak berhasrat untuk
menikah." Frasa ini berimplikasi
terhadap kemungkinan
dimasukkannya dua jenis
perempuan queer -- mereka yang
sama sekali tidak punya hasrat
seksual, dan mereka yang tidak
tertarik pada laki-laki
(homoseksual-lesbian).

Al Maududi menafsirkan teks di


atas dengan membuka peluang
terhadap kemungkinan
pemahaman sebagaimana yang